MENU

Ads

Rabu, 11 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 018

Malahan kemudian dengan sisa-sisa tenaganya yang terakhir, Mahisa Agni masih mampu untuk mengenainya beberapa kali. Dengan sebuah sambaran kaki mendatar, Mahisa Agni berhasil menghantam lambung orang timpang itu. Empu Pedek tidak menyangka bahwa hal demikian masih bisa terjadi. Karena itu, tiba-tiba ia terdorong beberapa langkah surut.

Mahisa Agni tidak melepaskan kesempatan itu. Betapa pun kakinya terasa berat, namun dipaksanya juga ia meloncat dua loncatan, kemudian tangan kanannya terayun deras sekali mengenai dagu Empu Pedek. Terdengarlah sebuah rintihan yang patah, dan wajah itu pun terangkat dan sekali lagi sebuah sentakan tangan Agni mengenai perutnya. Kini Empu Pedek sekali lagi terdorong surut, dan kepalanya tertarik ke depan. Namun orang timpang itu tidak mau mukanya jadi hancur sama sekali. Ketika ia melihat tangan Mahisa Agni menyambar sekali lagi, orang itu sempat memiringkan kepalanya, sehingga tangan itu meluncur di samping telinganya.

Demikian kerasnya Agni mengayunkan tangannya dengan sisa-sisa tenaganya maka kini ia terhuyung-huyung oleh tarikan tenaganya sendiri. Empu Pedek pun tak membiarkannya memperbaiki keseimbangannya. Sebuah pukulan menyentuh tengkuk Mahisa Agni. Tidak terlalu keras, karena tenaga orang timpang itu telah hampir habis pula, namun sentuhan itu telah cukup mendorongnya, sehingga Mahisa Agni jatuh terjerembab. Mahisa Agni yang telah kehilangan sebagian besar dari tenaganya itu, tidak mampu lagi untuk segera melenting berdiri, sehingga karena itu, maka segera ia berguling dan melihat apa yang akan dilakukan oleh Empu Pedek itu. Empu Pedek yang melihat Agni terjerembab, dan kemudian berguling menengadah, tiba-tiba menyeringai mengerikan sambil tertawa liar. Katanya hampir berteriak,

“Akhirnya aku pun berhasil membunuhmu.”

Mahisa Agni masih menyadari keadaannya sepenuhnya. Ia mendengar orang timpang itu berkata demikian. Karena itu, maka segera Agni pun mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, dan menanti apakah yang akan dilakukan oleh Empu Pedek itu.

Ternyata Empu Pedek itu segera bersikap, kedua tangannya terjulur ke depan dengan jari-jari mengembang. Dengan dahsyatnya ia berteriak. Kemudian dengan satu loncatan panjang ia menerkam Mahisa Agni. Tetapi loncatannya telah tidak sedemikian garang. Namun Agni pun tidak setangkas semula, sehingga ia tidak mampu menghindari terkaman itu.

Dengan jari-jari tangannya Empu Pedek berusaha untuk mencekik leher Mahisa Agni. Namun Mahisa Agni tidak membiarkannya kuku-kuku orang timpang itu menembus kulit lehernya. Dengan secepat yang dapat d lakukan, Agni memasukkan kedua tangannya di antara tangan-tangan Empu Pedek. Dengan satu gerak yang menyentak ia mengembangkan tangannya.

“Setan!” teriak Empu Pedek. Dengan serta-merta tangannya itu pun terlepas, sehingga hampir saja wajahnya terjerembab menghantam wajah Mahisa Agni.

Meskipun demikian, Empu Pedek tak mau melepaskan Mahisa Agni. Dengan serta-merta pula, orang timpang itu melingkarkan tangannya ke leher Agni, sehingga dengan sebuah tekanan yang kuat, leher anak muda itu terjepit di antara kedua bagian tangan lawannya. Dengan kedua tangannya Agni mencoba melepaskan jepitan itu. Namun sia-sia Bahkan terasa tangannya seakan-akan telah lenyap. Karena itu, maka kemudian Agni pun berbuat serupa. Dilingkarkannya tangannya ke leher Empu Pedek, dan dengan sisa-sisa tenaganya, ia pun menjepit leher itu dengan kedua bagian tangannya.

Kini mereka berdua berguling-guling di tanah yang lembab becek itu. Tangan mereka masing-masing seakan-akan telah terkunci di leher lawan. Dengan segenap tenaga-tenaga yang dikenal sehari-hari, tenaga ungkapan dari ilmu-ilmu mereka, serta tenaga-tenaga cadangan telah mereka kerahkan. Seandainya peristiwa itu terjadi pada saat-saat mereka baru mulai, mungkin kedua-duanya tak akan mampu untuk meneruskan perkelahian itu, sebab nafas-nafas mereka akan terputus karenanya. Tetapi kini mereka telah kelelahan, sehingga tenaga mereka pun telah jauh berkurang.

Dalam keadaan yang demikian itu, dalam keadaan yang seakan-akan tak berakhir itu, Agni sempat menyentakkan tangannya. Terdengar lawannya berdesah, namun tiba-tiba lawannya itu memekik keras, dan dengan sebuah sentakan ia menggeliat, dan melepaskan diri dari jepitan tangan Agni setelah tangannya sendiri dilepaskannya.

Mahisa Agni terkejut. Ia berusaha menangkap kembali orang timpang itu, namun Empu Pedek segera berguling-guling. Mahisa Agni pun segera menggulingkan dirinya pula. Tetapi ia terlambat beberapa saat. Dengan terhuyung-huyung Empu Pedek berdiri dan dengan serta-merta ia berlari tertatih-tatih masuk ke dalam semak-semak yang rimbun.

Mahisa Agni pun segera berdiri pula. Tetapi kakinya serasa seberat timpah. Beberapa langkah ia maju mengejar Empu Pedek, tetapi ketika kakinya terperosok sebuah lekukan tanah yang kecil, ia kehilangan keseimbangan dan hampir saja ia jatuh kembali. Namun ia masih mendengar Empu Pedek itu berkata dari balik rimbunnya daun-daun belukar,

“Sekarang kau memenangkan perkelahian ini anak muda. Namun jangan mengharap kau dapat kembali. Aku akan menunggumu sampai kau turun dari gua itu.”

“Kenapa kau licik?” teriak Agni yang marah, “marilah kita selesaikan persoalan kita sekarang. Jangan besok atau lusa atau kapan pun.”

Tetapi Empu Pedek tidak menyahut. Yang terdengar kemudian adalah nafas Mahisa Agni sendiri. Terengah-engah dan serasa hampir putus di dadanya. Bahkan kembali terasa Mahisa Agni kehilangan keseimbangan. Kepalanya menjadi pening dan dunia ini seakan-akan berputar. Ternyata anak muda itu telah memeras habis segenap tenaganya, sehingga ia hampir-hampir menjadi pingsan karenanya.

Mahisa Agni menyadari keadaannya. Segera ia duduk di atas tanah yang becek di samping bungkusannya. Dipejamkannya matanya, dan dipusatkannya kekuatan batinnya untuk menemukan kembali setiap tenaga yang ada di dalam tubuhnya. Perlahan-lahan Mahisa Agni mencoba mengatur pernafasannya. Ditenangkannya getaran-getaran di dalam dadanya yang bergelora

Akhirnya, meskipun lambat sekali, namun Mahisa Agni berhasil menguasai kesadarannya sepenuhnya. Nafasnya perlahan-lahan menjadi teratur kembali dan getaran-getaran di dadanya pun menjadi berkurang. Darahnya kini telah tersalur sewajarnya. Namun betapa lemahnya ia setelah dengan matian-matian ia mengerahkan segenap kemampuannya.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia bersyukur atas karunia Yang Maha Agung. Ternyata ia telah dapat membebaskan dirinya dari orang yang menamakan dirinya Empu Pedek itu. Seandainya, ya seandainya Empu Pedek mampu bertahan untuk sesaat saja, maka keadaannya pasti akan sangat berbeda. Sesaat lagi, apabila ia masih harus memeras tenaganya, mungkin ia akan menjadi benar-benar pingsan. Apabila demikian, betapa pun lemahnya Empu Pedek, tetapi ia akan dapat membunuhnya tanpa perlawanan. Namun agaknya orang timpang itu pun telah kehabisan tenaga seperti dirinya. Karena itu, nasibnya menjadi lebih baik dari nasib orang dari Gunung Merapi yang datang tiga hari sebelumnya.

Ketika getar di dadanya telah benar-benar menjadi tenang, Mahisa Agni menggeliat. Digerak-gerakkannya tangan dan kakinya perlahan-lahan untuk menyalurkan darahnya secara wajar. Dengan hati-hati ia berjongkok, kemudian dijulurkannya kaki-kakinya berganti-ganti.



Apabila tubuhnya terasa sudah wajar kembali, meskipun kekuatannya sama sekali belum pulih, maka kembali Mahisa Agni duduk di samping bungkusannya. Di dalam bungkusan itu masih ditemukannya beberapa buah-buahan segar. Dengan buah-buahan itu Mahisa Agni berusaha untuk menyegarkan tubuhnya kembali. Tubuhnya yang seakan-akan telah dilolosi segala tulang belulangnya.

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas.

Buah-buahan itu terasa betapa segarnya dan tubuhnya pun terasa semakin segar pula. Namun demikian keringatnya masih saja mengalir tanpa henti-hentinya. Dari dahi dan keningnya, menitik di pangkuannya. Dari punggungnya, dari seluruh wajah kulitnya. Belum pernah Mahisa Agni bertempur seperti apa yang baru saja dilakukannya. Bahkan ia menjadi heran atas tenaganya sendiri. Dengan tekad yang menyala-nyala, serta taruhan yang sangat berharga, ia telah berjuang seakan-akan melampaui kemampuan yang wajar. Seakan-akan dorongan tekadnya telah menambah kemampuannya bahkan berlipat-lipat.

Kini Mahisa Agni sempat mengenangkan orang timpang itu kembali sambil beristirahat. Orang itu bertempur kasar dengannya. Untunglah ia mampu bertahan, meskipun ia tidak dapat mengalahkan lawannya dengan mudah. Dan kini lawannya itu sempat melarikan dirinya.

“Ke manakah larinya?” ia bertanya kepada diri sendiri.

Ia menyesal bahwa orang itu tidak dikejarnya. Namun ketika disadarinya keadaannya, maka hal itu tak akan mungkin dilakukannya. Apalagi mengejarnya, bahkan berdiri pun ia hampir tidak mampu lagi. Tetapi kemudian timbullah beberapa pertanyaan lain di dalam benaknya. Orang timpang itu mungkin pergi mendahuluinya ke gua tempat penyimpanan akar wregu putih itu.

“Orang itu adalah orang ketiga setelah gurunya dan aku sendiri yang mengetahui persoalan akar wregu putih itu. Mungkin orang dari Gunung Merapi itu pun mengetahuinya pula, namun orang itu kini telah tidak ada lagi,” gumamnya seorang diri. Tetapi tiba-tiba ia menjadi cemas.

“Apakah akar wregu itu benar-benar masih berada di dalam gua itu? Mungkin orang yang bernama Empu Pedek itu telah mengambil lebih dahulu.”

“Hem,” Mahisa Agni menggeram. Kalau demikian maka perjalanannya yang panjang, serta segala macam kesulitan-kesulitan yang pernah dilampauinya itu akan menjadi tanpa arti.

“Aku harus membuktikannya dahulu,” gumamnya, “apabila di dalam gua itu telah tidak dapat aku temukan akar wregu putih itu, maka pekerjaanku akan berganti. Aku harus menemukan orang timpang yang bernama Empu Pedek itu. Dan bernama Empu Pedek itu. Dan akan kembali ke Panawijen tanpa akar wregu putih itu. Biar pun puluhan tahun, bahkan sepanjang umurku sekali pun.”

Tiba-tiba saja dada Mahisa Agni bergelora kembali. Meskipun tubuhnya masih lemah sekali, serta persendian tulang-tulangnya masih terasa sakit, dan bahkan pedih-pedih di hampir segenap tubuhnya, namun dengan susah payah ia berdiri. Diikatkannya bungkusan kecilnya pada pundaknya, serta dengan tongkat di tangannya. Mahisa Agni melangkah meneruskan perjalanannya. Tertatih-tatih, bertelekan tongkat dalam malam yang gelap.

Namun Mahisa Agni sama sekali tidak menyesal, bahwa ia telah menempuh perjalanannya yang berat itu. Apapun yang akan terjadi adalah satu akibat yang wajar dari perjuangannya. Karena itu, maka betapa pun beratnya, betapa perasaan sakit dan nyeri menjalar hampir di seluruh tubuhnya, betapa penat dan lelahnya, bahkan betapa jiwanya dipertaruhkan, namun hatinya telah bulat. Akar wregu putih itu harus ditemukan.

Kini ia berjalan setapak demi setapak maju. Dalam kelamnya daun-daunan hutan. Dengan tongkatnya Mahisa Agni meraba-raba jalan, dan dengan pandangan matanya yang tajam ia mencari arah. Untunglah, meskipun belum sempurna, namun Mahisa Agni telah cukup terlatih, sehingga ia dapat membedakan, tanah yang gembur berlumpur, tanah yang rapuh dan tanah yang cukup keras. Dalam perjalanannya yang sangat lambat itu, Mahisa Agni selalu mencoba untuk menduga-duga, apakah akar wregu putih itu masih berada di tempatnya, atau telah hilang diambil oleh orang timpang yang menamakan dirinya Empu Pedek itu.

Demikianlah, setiap kegelisahannya melonjak di dadanya, maka kakinya pun seakan-akan ingin meloncat berlari. Namun Agni tak dapat melakukannya. Kakinya masih lemah, selemah tangkai bunga yang kehabisan air. Lesu. Sedang jalan yang terbentang di hadapannya sangat gelapnya. Batang-batang pohon liar. Perdu berduri dan segala macam tumbuh-tumbuhan yang buahnya dapat dimakan, sampai tumbuh-tumbuhan beracun dan buah-buahan makanan ular.

Tetapi Mahisa Agni pantang mundur. Ia berjalan terus dalam gelapnya malam. Di selatan ia masih melihat bintang Gubug Penceng yang dapat menuntunnya mencari arah. Ia harus berjalan lurus ke barat apabila ia tidak ingin tersesat. Apa pun yang ada di jalan yang akan dilampauinya. Binatang buas, orang-orang jahat atau apa pun, meskipun seandainya hantu-hantu yang menghadangnya, maka ia pun tak akan dapat digentarkan.

Jalan itu pun semakin lama menjadi semakin sulit. Setelah lapangan yang sempit. Mahisa Agni sampai ke daerah yang berlereng curam. Dengan demikian ia harus lebih berhati-hati. Kadang-kadang Mahisa Agni merangkak, kadang-kadang bahkan berjalan sambil berjongkok. Dan bahkan kadang-kadang ia terduduk dengan nafas terengah-engah.

Di kejauhan masih terdengar auman harimau berebut mangsa, dan sekali-kali salak anjing-anjing hutan menyobek sepi malam. Dan setiap suara yang terdengar, rasa-rasanya menyentuh sampai ke ulu hati. Tetapi semuanya itu sama sekali tidak menarik perhatian Mahisa Agni. Pikirannya bulat-bulat ditelan oleh gua, akar wregu putih dan orang timpang. Meskipun sangat lambat namun Mahisa Agni semakin lama menjadi semakin dekat pula dengan lereng gundul yang ditujunya. Ketika embun malam menitik setetes di tubuhnya, terasa betapa segarnya.

Ketika Mahisa Agni menengadahkan wajahnya, dilihatnya cahaya semburat merah membayang di timur. Bintang Gubug Penceng kini telah berguling ke barat dan hampir hilang dibalik cakrawala.

“Hampir fajar,” desis Mahisa Agni.

Namun kemudian ia menjadi ragu-ragu. Apakah ia dapat meneruskan perjalanannya di siang hari? Gurunya berpesan mewanti-wanti kepadanya, supaya ia berjalan di malam hari sejak batu padas di tengah rawa-rawa itu. Baru setelah sampai di lereng gundul ia boleh mendakinya di siang hari. Karena itu, sebelum hari menjadi terang, Mahisa Agni berusaha mempercepat langkahnya. Tetapi kecepatan yang dapat dicapainya sangat terbatas. Dengan demikian Mahisa Agni menjadi cemas, seakan-akan takut dikejar oleh matahari yang segera akan timbul di timur. Tetapi Mahisa Agni tidak dapat mencegah matahari itu. Bahkan ternyata bahwa matahari itu datang terlampau cepat dari yang diharapkan.

Ketika cahayanya yang pertama terlempar di atas daun-daun pepohonan dan menyangkut di atas ujung-ujung batang-batang raksasa, Mahisa Agni menarik nafas. Sekali ia menggeliat dan kemudian ia menguap. Lelah dan sakit-sakit di punggungnya masih terasa. Namun kesegaran fajar telah menyegarkannya pula. Ketika ia memandang ke selatan, ia masih melihat di antara pepohonan yang tidak begitu pekat dan dari atas ujung-ujung pepohonan yang tumbuh di lereng-lereng, jurang-jurang yang dalam. Kemudian tampaklah sebuah dataran hutan yang lebat.

Mahisa Agni menarik nafas. Alam di sekitarnya adalah alam yang dipenuhi oleh warna-warna hijau segar. Daun yang hijau, rumput-rumput yang hijau dan batang-batang perdu yang hijau. Tetapi ketika kemudian ia berpaling ke barat, ke arah yang akan ditujunya, Mahisa Agni terkejut bukan kepalang. Dari balik kabut pagi, Mahisa Agni melihat seakan-akan muncul di hadapannya sebuah dinding raksasa yang berwarna kemerah-merahan. Dinding batu padas dan tanah liat yang terbentang sedemikian luas. Mahisa Agni tegak seperti tonggak. Dilihatnya dinding itu dengan dada yang bergelora. Ternyata dinding yang dicarinya itu seolah-olah tiba-tiba saja muncul tidak jauh lagi di hadapannya.

Karena itulah, maka tiba-tiba Mahisa Agni menjadi sangat gembira. Ia tidak usah menunggu sampai besok. Tidak usah menunggu malam datang. Apakah jarak yang sudah tinggal beberapa langkah lagi itu harus ditempuhnya malam nanti dan membiarkannya hari ini lewat? Tidak. Jarak yang pendek itu akan segera dicapainya.

Mahisa Agni pun kemudian melangkah pula. Semakin cepat yang dapat dilakukan. Kini ia dapat melihat jalur-jalur yang dapat dilewatinya, sehingga dengan demikian perjalanannya pun benar-benar menjadi semakin cepat. Kakinya yang luka-luka oleh bermacam-macam duri dan batu-batu yang runcing sama sekali tak terasa. Yang ada di dalam hatinya adalah gua itu. Selebihnya tak dihiraukannya. Karena itu maka apapun yang terjadi padi tubuhnya seakan-akan tak terjadi padanya. Ketika matahari telah menjadi semakin tinggi, dan ketika hari menjadi semakin terang, Mahisa Agni kini dapat melihat, sebuah lubang yang hitam pada dinding raksasa itu. Kini dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Gua di lereng yang gundul itulah yang harus didaki.

Mahisa Agni itu pun berhenti sejenak. Sekali lagi ditatapnya seluruh permukaan dinding raksasa itu. Alangkah besar kekuasaan yang mampu membangunkannya. Ketika kemudian Mahisa Agni memandang kepada dirinya sendiri, maka ia tidak lebih dari sebuah anak-anakan yang sangat kecil dibanding dengan kebesaran alam yang dihadapinya. Apalagi dengan Maha Penciptanya.

Tetapi tiba-tiba disadarinya pula, bahwa dirinya adalah sebagian dari alam itu, justru merupakan ciptaan yang paling berharga di antara segenap isi alam ini. Ia adalah manusia. Dan Maha Pencipta telah menciptakan manusia untuk memelihara dan memanfaatkan alam yang diciptakannya pula. Bahkan sebagai wadah dan sekaligus dikuasainya. Maka sebenarnyalah Maha Pencipta menciptakan alam dan manusia di dalamnya dengan sifat Maha Cintanya seolah-olah menempatkan seorang juru taman dalam pertamanan yang indah.

Namun bukan pertamanan sendiri. Apa yang dilakukan seharusnya berdasarkan atas kehendak pemilik taman itu, bukan atas kehendak juru taman itu sendiri, meskipun juru taman itu wenang melakukan apa pun atas pertamanan yang diserahkan kepadanya. Ia dapat melakukan pekerjaan yang bermanfaat, namun ia dapat juga mengkhianati dan merusak taman yang diserahkan kepadanya. Ia dapat mempergunakan hasil taman itu untuk melakukan hal-hal yang menggembirakan pemiliknya, namun ia dapat juga berbuat sebaliknya. Akibatnya, pemilik taman itu dapat berterima kasih dan bersenang hati kepadanya, atau sebaliknya pula.

Dan kini Mahisa Agni tegak di hadapan dinding raksasa itu seperti seorang juru taman tegak di antara tanaman-tanaman yang maha luas. Ialah yang wenang melakukan apa pun atas tanaman-tanaman itu, bukan sebaliknya. Dan kini Mahisa Agni pun merasakan dirinya sebagai manusia yang berhadapan dengan alam. Alam itu harus ditundukkannya. Demikianlah, maka kini Mahisa Agni memandang lereng yang curam gundul dan berbatu-batu itu sebagai suatu tantangan yang harus diatasinya. Betapa pun sulitnya, ia tidak boleh menyerah melawan kesulitan-kesulitan, namun kesulitan itu harus ditundukkannya.

Tiba-tiba terasa sesuatu bergetar di dada Mahisa Agni. Tekadnya yang bulat kini menjadi semakin mantap. Dengan dada tengadah ia berdoa di dalam hatinya, semoga Yang Maha Agung memberkahinya. Karena itu, maka seakan-akan menjalarlah suatu kekuatan baru di dalam tubuhnya. Kekuatan yang mengalir dari pusat kehendaknya. Dari pusat kehendaknya, dari pusat tekad yang menyala di dalam dadanya. Sehingga dengan demikian segera Mahisa Agni melangkahkan kakinya kembali. Kini lebih mantap dan lebih cepat. Apa pun yang akan dihadapinya kelak, Empu Pedek, atau apa saja. Meskipun seandainya Empu Pedek itu datang bersama seorang kawannya, dua orang, sepuluh atau berapa pun.

Mahisa Agni kini seolah-olah berlari-lari mengejar tantangan yang dihadapinya. Lereng yang terjal itu akan didakinya. Sekarang. Mahisa Agni tidak memerlukan waktu terlalu lama untuk mencapai lereng yang curam itu. Sebelum matahari sampai ke pusat langit, Mahisa Agni telah sampai di bawah tebing gundul itu. Sekali lagi ia mengagumi dinding raksasa itu. Ditengadahkannya wajahnya, memandang jauh ke atas. Tinggi, tinggi sekali. Demikian tingginya seakan-akan dinding itu akan roboh menimpanya. Ketika tangan Mahisa Agni meraba dinding itu, terasa di tangannya betapa dinding itu sekeras batu. Tetapi beberapa ujung yang runcing menjorok seperti tonggak kayu yang aus.

Sekali-kali Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa tahun lampau ia pernah mengagumi dinding itu pula. Bahkan saat itu ia lebih kagum lagi. Kini ia sudah semakin dewasa. Dan kini ia telah berkeyakinan, bahwa betapapun curam dan terjalnya, namun dinding harus ditaklukkannya. Sekali lagi Mahisa Agni meraba-raba lereng yang gundul itu. Kemudian dilepasnya bungkusan yang tersangkut di pundaknya. Disangkutkannya pada batang-batang perdu beserta tongkat kayunya.

Mahisa Agni kemudian tegak seperti seseorang yang siap menunggu seorang lawan yang akan menerkamnya. Kedua kakinya merenggang dan tangannya tergantung lurus di samping tubuhnya. berpegangan pada pahanya, seakan-akan takut kakinya akan terlepas. Ditatapnya batu-batu padas, batu-batu yang hitam kemerah-merahan serta sebuah lubang yang hitam hampir di tengah-tengahnya. Kemudian dipandangnya matahari yang kini telah tegak di atas kepalanya.

“Hem,” bergumam Agni seorang diri, “aku akan menjadi silau karenanya. Biarlah aku menunggu sampai matahari itu lewat di balik dinding ini.”

Namun Mahisa Agni masih tegak di tempatnya. Ia menunggu matahari condong sedikit, sehingga matanya tidak menjadi silau pada saat ia mendakinya. Tetapi tiba-tiba saja Mahisa Agni itu terloncat seperti didorong hantu. Langsung ia berjongkok di bawah tebing yang curam dan tinggi itu. Dengan mata terbelalak ia mengamati sesuatu yang sangat menggetarkan hatinya. Telapak kaki manusia.

“Apakah artinya ini?” geramnya.

Dan sekali lagi ia mengamati telapak kaki itu. Satu, dua dan beberapa lagi dapat ditemukannya di sekitar tempat itu. Apalagi akhirnya Mahisa Agni melihat, telapak kaki itu hilang timbul di kaki lereng gundul itu. Pada tanah yang agak liat ia melihat telapak itu condong ke atas. Dan sekali lagi Mahisa Agni menggeram. Dari sini seseorang pasti pernah naik ke gua ini.

“Pasti bukan telapak guru beberapa tahun yang lalu,” katanya di dalam hati.

“Pasti,” ulangnya. Dan Mahisa Agni pun memang pasti seperti apa yang sebenarnya, telapak itu masih agak baru.

Dada Mahisa Agni menjadi semakin berguncang karenanya. Kini ia pasti bahwa seseorang telah naik ke gua itu. Dugaannya yang pertama adalah Empu Pedek.

“Kalau orang itu memanjat setelah kami bertempur, maka orang itu pasti masih berada di dalam gua ini,” pikirnya, “karena itu aku harus mendaki sekarang juga.”

Mahisa Agni kini tidak mau menunggu apapun lagi. Kegelisahannya telah mendorongnya untuk segera mendaki tebing itu. Dengan tergesa-gesa ia meloncat meraih bungkusannya. Diambilnya keris pusaka peninggalan ayahnya, yang kemudian diselipkannya di pinggangnya. Dengan keris itu ia sudah siap menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi. Mungkin ia harus membunuh, meskipun karena terpaksa apabila ia tidak mau dibunuh. Mungkin ia harus berbuat hal-hal yang belum pernah dilakukannya. Dan kemungkinan yang paling pahit, ia tidak akan keluar lagi dari gua itu.

Bungkusan dan tongkat kayu Mahisa Agni itu pun ditinggalkannya. Selain keris dan tubuhnya, tidak ada lagi yang perlu dalam perjalanannya yang berbahaya itu. Ketika tubuh dan jiwanya telah siap benar-benar, maka mulailah Mahisa Agni dengan pendakian itu. Kini ia telah sampai pada taraf terakhir dari ujiannya. Mendaki tebing, menghadapi orang yang telapak kakinya telah ditemukannya. Namun mungkin belum yang sebenarnya terakhir. Di perjalanan pulang pun masih mungkin pula ditemuinya berbagai kesulitan-kesulitan.

Kini Mahisa Agni telah mulai dengan pendakian itu. Seperti seekor semut ia merayap-rayap berpegangan dari satu batu yang menjorong ke batu yang lain. Dengan hati-hati kakinya setiap kali mencari pancadan yang kuat. Setapak demi setapak. Untunglah bahwa matahari segera melampaui titik tertinggi di pusat langit, sehingga kini Mahisa Agni telah tidak sedemikian silaunya. Dengan pemusatan tenaga lahir batin, Mahisa Agni merambat terus di tebing yang hampir tegak itu. Beberapa kali kakinya telah menginjak batu yang salah, sehingga batu-batu itu berguguran jatuh ke bawah. Namun Mahisa Agni cukup berhati-hati, sehingga ia sendiri selalu dapat menghindarkan kakinya sebelum terlambat.

Tetapi batu-batu itu ada yang terlalu runcing dan tajam, sehingga kaki-kaki Mahisa Agni pun kemudian menjadi sakit dan pedih Tangannya telah luka di beberapa tempat. Meskipun demikian Mahisa Agni masih tetap mendaki terus. Ia harus mencapai mulut gua itu sebelum malam menjadi terlalu kelam.

Mahisa Agni yang muda itu ternyata memiliki kekuatan melampaui manusia kebanyakan. Meskipun tenaganya hampir terperas habis setelah ia bertempur melawan orang timpang yang menamakan dirinya Empu Pedek, namun dengan waktu istirahat yang pendek itu, ia telah mampu membawa dirinya pada suatu pendakian yang berbahaya. Bahkan di sana sini batu-batu padas yang menjorok itu menjadi basah oleh tetesan-tetesan mata-mata air yang kecil di dinding terjal itu. Dengan demikian maka pekerjaan Mahisa Agni menjadi semakin berbahaya.

Sekali-kali Mahisa Agni pun melihat pula, batu-batu padas yang patah di atas kepalanya. Dengan melihat bekas-bekasnya, Mahisa Agni mengetahui, bahwa bekas-bekas itu masih sangat baru. Dengan demikian maka ia menjadi semakin pasti, bahwa seseorang telah mendaki tebing ini sampai ke gua di atas itu. Mahisa Agni menjadi semakin gelisah karenanya. Tetapi kegelisahannya itu mendorongnya untuk merayap semakin cepat. Tetapi Mahisa Agni tidak membiarkan dirinya kehilangan pengamatan atas alam yang sedang dihadapinya.

Tubuh Mahisa Agni itu pun semakin lama menjadi semakin tinggi melekat padat tebing yang curam itu. Apabila ia sekali-kali menengok ke bawah, dilihatnya pohon-pohon sudah berada di bawah kakinya. Sekali-kali ia terpaksa berhenti merapatkan tubuhnya pada lereng yang terjal itu untuk sekedar beristirahat. Betapapun besar hasratnya untuk segera sampai ke mulut gua itu, namun tenaganya pun terbatas. Dan Mahisa Agni tidak bisa mengingkarinya apabila ia ingin selamat sampai ke mulut gua itu.

Demikianlah perjalanan Mahisa Agni itu menjadi lambat, tetapi ia tetap maju menuju sasaran. Matahari di langit semakin lama menjadi semakin condong juga. Sinarnya yang putih tampak berkilat-kilat menampar wajah mega-mega yang putih pula. Di kejauhan tampak berbagai warna bertebaran di permukaan bumi. Warna-warna hijau segar, padang rumput yang kekuning-kuningan dan hutan belantara yang menyeramkan. Beberapa batang sungai tampak seperti ular-ular raksasa yang menjalar ke pegunungan.

Mahisa Agni masih merambat terus. Perlahan-lahan namun pasti. Betapa lelahnya dan betapa sulit perjalanan itu. Seluruh tubuhnya telah basah oleh keringat. Dan tangan dan kakinya pun berkeringat pula. Sekali-kali ia merasakan pula kaki dan tangannya menjadi pedih. Namun hanya sesaat, kemudian apabila teringat olehnya akar wregu putih dan telapak-telapak kaki di bawah lereng ini serta beberapa bekas batu-batu yang berguguran, maka perasaan pedih dan lelahnya itu seperti lenyap disapu angin dari selatan yang bertiup perlahan-lahan.

Semakin dekat Mahisa Agni dengan mulut gua itu, hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Kalau orang itu masih di dalam gua, dan menunggunya di mulut gua itu, maka keadaan itu akan sangat berbahaya baginya. Apalagi kalau orang itu, orang timpang yang baru saja bertempur melawannya. Dengan satu sentuhan kecil, maka ia sudah akan terpelanting jatuh ke bawah yang tingginya beberapa puluh depa itu.

Dengan demikian, dengan kemungkinan-kemungkinan yang tak menyenangkan itu, maka Mahisa Agni tidak langsung menuju ke mulut gua itu. Ia menuju beberapa depa di sampingnya, untuk kemudian mendekati gua itu dari arah samping. Dengan demikian ia dapat menghindari atau setidak-tidaknya mengurangi kemungkinan yang dapat sangat menyulitkannya.

Sebelum Mahisa Agni mendekati gua itu, ia berhenti pula untuk beristirahat. Ketika didapatinya bongkahan batu yang baik, maka ia pun berdiri di atas batu itu untuk beberapa saat sambil bersandar lereng itu. Dicobanya untuk mengumpulkan kembali sisa-sisa tenaganya. Mungkin masih akan dihadapinya bahaya yang lebih besar lagi justru di mulut gua itu. Mungkin seseorang menunggunya dan menyentuhnya, supaya ia terlempar jatuh.

Kini Mahisa Agni tidak perlu tergesa-gesa lagi. Ia telah berdiri beberapa langkah di samping mulut gua itu. Baru ketika kekuatannya terasa telah tumbuh kembali meskipun lambat, ia merayap pula semakin dekat semakin dekat. Mahisa Agni itu pun kemudian telah berdiri dekat di samping mulut gua itu. Sekali lagi ia berhenti. Dicobanya untuk menangkap setiap suara yang ada di dalam gua. Namun yang didengarnya hanyalah siul angin yang bertiup semakin kencang.

Dengan sangat hati-hati Mahisa Agni berusaha untuk melihat gua itu. Alangkah gelapnya. Namun mulut gua itu tidak terlalu gelap. Cahaya yang tidak langsung betapa lemahnya, yang bertebaran di mulut gua itu telah cukup untuk meneranginya. Dan Mahisa Agni tidak melihat apa pun. Apalagi seseorang. Kembali dada Mahisa Agni berdebar-debar. Dan kembali ia memusatkan segenap panca inderanya. Namun ia tetap tidak menangkap sesuatu yang mencurigakan. Gua itu tetap sepi.

Maka Mahisa Agni itu pun segera bersiap. Diaturnya segenap geraknya untuk menghadapi setiap kemungkinan. Dengan gerak yang cepat Mahisa Agni menggeser dirinya, sehingga tiba-tiba ia telah berada di dalam gua itu bersandar dinding tepinya, dengan penuh kesiagaan untuk menghadapi setiap kemungkinan.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ternyata tak seorang pun yang berada di mulut gua itu. Dengan demikian ia bergeser semakin dalam. Tetapi ia belum berani untuk langsung masuk ke dalam gelapnya gua itu. Sebab firasatnya mengatakan kepadanya bahwa sesuatu pasti akan dihadapinya. Dan firasat itu telah diperkuat oleh telapak-telapak kaki yang ditemukan di bawah tebing ini.

Kini Mahisa Agni duduk tepekur. Dicobanya untuk memulihkan tenaganya lebih dahulu. Sebab kemungkinan yang dihadapinya adalah sama gelapnya dengan gua itu sendiri. Mungkin ia harus bertempur mati-matian, dan mungkin pula, ia harus berkubur di dalam gua ini. Ketika nafasnya telah teratur kembali dan tenaganya telah sebagian besar dimilikinya, maka Mahisa Agni pun bersiap pula. Sekali lagi ia berdoa kepada yang Maha Agung, semoga perjalanannya kali ini akan berhasil.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar