MENU

Ads

Kamis, 12 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 022

“Aku akan berjalan kembali ke Wangon,” jawab orang bongkok itu, “Dan sekali lagi aku ingin mempersilakan Ki Sanak untuk datang ke padukuhan itu. Mudah-mudahan kedatangan Ki Sanak akan sangat menggembirakan kami.”

Kembali terasa debar jantung Mahisa Agni bertambah cepat. Sebenarnya betapa ia ingin melihat, orang-orang sakit di Wangon menjadi sembuh kembali. Ia hanya ingin melihatnya, dan sama sekali ia tidak ingin mendapat penghormatan apapun dari mereka. Namun ketika kemudian terbayang wajah gurunya yang sayu seperti pada saat gurunya itu melepaskannya pergi, maka segera ia mengurungkan niatnya. Katanya,

“Ki Buyut. Sayang aku tak dapat memenuhi permintaan Ki Buyut. Aku harus segera kembali kepada guruku. Melaporkan apa yang terjadi, dan menunggu apa yang akan ditentukan bagiku karena aku tidak berhasil membawa akar wregu putih itu untuknya.”

“Oh,” desis Buyut Ing Wangon, “kalau demikian, biarlah akar ini aku serahkan kembali kepadamu.”

“Tidak. Tidak!” sahut Agni cepat-cepat, “bukan maksudku demikian. Biarlah orang-orangmu menjadi sembuh dan aku pun akan ikut berbahagia karenanya.”

“Terima kasih,” terdengar suara Buyut Wangon itu bergetar, “kalau demikian, biarlah Ki Sanak pergi ke Wangon setiap saat yang kau kehendaki.”

“Biarlah demikian,” jawab Agni, “suatu saat apabila ada kesempatan, aku akan mengunjungi Wangon.”

“Baiklah aku memberimu beberapa petunjuk.”

“Jangan sekarang,” pinta Agni.

Buyut Wangon itu menjadi heran. Namun terdengar Agni berkata, “Setiap saat pendirianku dapat berubah-ubah. Karena itu biarlah aku tidak tahu, di manakah letak padukuhan itu, supaya apabila kelak hatiku digelapkan oleh persoalan-persoalan yang timbul kemudian, aku tidak pergi ke padukuhan itu untuk merampas kembali akar wregu itu dari tanganmu. Seandainya aku akan berbuat demikian, maka aku akan memerlukan waktu yang panjang untuk menemukan padukuhan itu, sehingga aku akan terlambat karenanya.”

“Jangan berpikir begitu,” sahut Buyut Ing Wangon, “Ki Sanak seharusnya mempunyai kepercayaan kepada diri. Dan Ki Sanak sebenarnya seorang yang sebaik-baiknya yang pernah aku temui.”

“Pergilah Ki Buyut!” potong Mahisa Agni, “Pergilah! Supaya aku tidak mengubah pendirianku.”

Buyut Wangon itu mengerutkan keningnya. Sambil menganggukkan kepalanya ia berkata, “Baiklah Ki Sanak, baiklah. Sebentar lagi akan datang fajar. Tetapi biarlah aku pergi meninggalkan tempat ini dengan penuh kekaguman di dalam hati. Aku tak akan melupakan kau.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Namun terasa kepalanya menjadi pening dan tubuhnya seakan-akan menjadi lemah sekali. Betapa pikirannya menjadi bergolak. Akar wregu itu ternyata tidak berhasil dimilikinya. Meskipun demikian ketika Buyut Wangon itu berjalan ke arah timur sempat juga ia berkata,

“Jangan tempuh perjalanan itu. Kau akan bertemu dengan Empu Pedek. Biarlah aku lewat jalan itu. Dan biarlah Empu Pedek mencegatku. Dengan demikian kau akan selamat dari tangannya.”

Buyut Wangon itu berhenti sesaat, kemudian ia berpaling. Dari matanya memancar sebuah pertanyaan. Namun sebelum pertanyaan itu terucapkan berkatalah Mahisa Agni,

“Ki Buyut, carilah jalan yang lain. Di jalan itulah kemarin aku bertempur dengan Empu Pedek. Adalah suatu kemungkinan bahwa ia mencoba mencegat aku pula untuk merampas akar wregu itu. Karena itu, ambillah jalan yang lain.”

Buyut dari Wangon itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi Mahisa Agni mendengar suara Buyut tua itu bergetar, “Luar biasa. Apakah Angger masih akan mengorbankan diri sekali lagi untuk kepentinganku? Ki Sanak, kenapa kita tidak bersama-sama saja mencari jalan lain?”

“Tidak,” sahut Mahisa Agni, “kalau Empu Pedek itu tidak melihat aku lewat, maka ia pasti akan mencari aku di segenap sudut hutan ini. Tetapi apabila sudah ditemukannya aku, maka ia tidak akan mencari orang lain.”

“Terima kasih. Terima kasih Ki Sanak,” desis Buyut ing Wangon yang kemudian dengan tersuruk-suruk ia membelok menyelinap di antara batang alang-alang sambil berkata, “Biarlah aku menempuh jalan ini. Mudah-mudahan aku tidak akan tersesat. Besok kalau matahari sudah terbit aku akan tahu dengan pasti, ke mana aku harus pergi. Sebab Wangon terletak tepat pada garis antara matahari terbit dan ujung Gunung Semeru itu pada bulan ini.”



Mahisa Agni tidak menjawab. Ia melihat Buyut Ing Wangon itu hilang di antara batang-batang ilalang dan gerumbul-gerumbul perdu. Namun pada saat itu pula terasa dadanya bergelora. Akar wregu putih itu pun lenyap pula bersama lenyapnya Buyut Ing Wangon. Mahisa Agni itu pun kemudian dengan lemahnya duduk di atas batu padas di kaki lereng gundul itu. Kembali kedua tangannya yang kokoh kuat itu menutupi wajahnya. Perlahan-lahan terdengar anak muda itu menggeram,

“Maafkan aku, Guru. Aku tidak dapat membawa akar wregu itu kembali, karena aku tidak berhasil dalam perjuanganku melawan perasaanku.”

Angin yang basah bertiup di antara daun-daun perdu dan batang-batang ilalang yang liar. Terdengar di kejauhan suara-suara burung malam bersahut-sahutan. Namun Mahisa Agni masih duduk tepekur di atas batu padas itu. Berbagai persoalan datang pergi di dalam kepalanya. Riuh seperti angin yang kencang bertiup berputaran. Sekali-kali tampak kabut yang lebat bergulung-gulung, namun di kali lain beterbanganlah daun-daun yang berguguran dari batang-batangnya. Semakin lama semakin kencang, semakin kencang. Dan Mahisa Agni terkejut ketika tiba-tiba di kejauhan terdengar aum harimau lapar.

Mahisa Agni mengangkat wajahnya. “Hem,” ia menarik nafas dalam-dalam, “Bagaimanakah kalau Buyut Ing Wangon itu bertemu dengan harimau itu?”

“Ah,” pertanyaan itu dijawabnya sendiri, “ia sudah selamat sampai ke tempat ini. Ia pun akan selamat juga sampai ke padukuhannya kembali” Perlahan-lahan terdengar anak muda itu menggeram, “Maafkan aku, Guru. Aku tidak dapat membawa akar wregu itu kembali, karena aku tidak berhasil dalam perjuanganku melawan perasaanku.”

Dan kini kembali Mahisa Agni merenungi dirinya sendiri. Terasalah kini betapa penat dan lelahnya setelah ia menempuh pendakian dan kemudian turun kembali dalam ketinggian yang cukup besar. Juga kini mulai terasa, betapa lapar dan hausnya. Perlahan-lahan Mahisa Agni berdiri dan berjalan ke tempat ia menyimpan bungkusannya. Ia menarik nafas lega, ketika bungkusannya masih ditemukannya utuh seperti pada saat ditinggalkan. Ketika bungkusan itu dibukanya, maka masih didapatinya beberapa macam buah-buahan. Tetapi sebagian besar di antaranya telah tidak dapat dimakannya lagi. Meskipun demikian, satu dua ia masih juga menemukan di antaranya, yang masih baik untuk mengurangi hausnya.

Ketika Mahisa Agni kemudian menengadahkan wajahnya, dilihatnya warna merah telah membayang di wajah langit. Tanpa sesadarnya, tiba-tiba saja ia mengharap supaya fajar lekas menyingsing. Namun agaknya ia tidak sabar lagi menunggu di tempat yang sesepi itu. Setelah selesai dengan membenahi bungkusannya, kembali Mahisa Agni menyangkutkan bungkusannya itu di ujung tongkat kayunya. Dan kembali Mahisa Agni melangkahkan kakinya.

Namun kini ia berjalan dengan lesunya. Menempuh perjalanan yang berlawanan dengan jalan yang telah dilaluinya dengan gairah dan tekad yang bulat untuk menemukan akar wregu putih sebagai pelengkap pusakanya, untuk menjadikannya seorang manusia yang sakti pilih tanding. Tetapi kini ia berjalan kembali masih seperti pada saat ia berangkat. Ia sama sekali tidak akan menjadi seorang yang sakti. Apalagi maha sakti.

Namun apabila diingatnya, bahwa dengan demikian ia telah berusaha untuk menegakkan kemanusiaan, maka hatinya menjadi tenteram. Biarlah ia melepaskan cita-citanya untuk menjadi seorang yang pilih tanding, namun keseimbangan dari kegagalannya itu pun cukup memadainya. Demikian maka Mahisa Agni berjalan terus. Kini kerisnya tidak lagi dimasukkan ke dalam bungkusannya. Bahkan sekali-sekali tangannya melekat di hulu kerisnya itu sambil berbisik,

“Akhirnya aku mempercayakan diriku kepada tuntunan Yang Maha Agung, kepada karunia yang telah aku miliki sampai kini. Biarlah dimiliki yang menjadi hak orang lain, dan biarlah aku miliki yang menjadi hakku.”

Tetapi Kini Mahisa Agni harus berhati-hati. Ia hampir sampai ke tempat di mana Empu Pedek kemarin mencegatnya. Mungkin orang timpang itu kini telah bergeser maju dari tempatnya semula. Mungkin pula ia telah pergi. Namun sebagai seorang yang telah berbulan-bulan menunggu, pasti ia sampai saat ini menunggunya pula. Mungkin tidak sendiri.

Dan tiba-tiba langkah Mahisa Agni itu pun terhenti. Ia mendengar suara gemeresik daun di sekitarnya. Karena itu segera ia mempertajam telinganya. Dan ternyata pendengarannya itu telah meyakinkannya, bahwa seseorang berada dibalik daun-daunan yang rimbun. Mahisa Agni itu pun segera mempersiapkan dirinya. Diletakkannya bungkusan serta tongkat kayunya, dan ditengadahkannya dadanya. Meskipun tempatnya berbeda, namun yang pertama-tama terlintas di otak adalah Empu Pedek.

Beberapa saat Mahisa Agni menanti. Dengan penuh kewaspadaan diamat-amatinya setiap gerumbul yang ada di sekitarnya. Tetapi suara itu pun lenyap, seolah-olah hanyut dibawa angin malam. Meskipun demikian, namun telah diketahuinya, bahwa seseorang telah mengintip perjalaannya. Karena itu ia harus sangat berhati-hati. Timbul niatnya untuk menunggu sampai matahari memancarkan wajahnya di pagi yang cerah nanti. Namun Mahisa Agni justru menjadi gelisah. Karena itu, meskipun lambat dan penuh dengan kewaspadaan ia berjalan juga. Namun firasatnya telah menuntunnya untuk menjauhi setiap daun-daun yang rimbun dan setiap pohon-pohon yang besar.

Kini Mahisa Agni tidak membawa bungkusannya di ujung tongkatnya, namun disangkutkannya bungkusan itu di pundak kirinya, sedang tangan kanannya memegangi tongkatnya. Setiap saat tongkat kayu itu dapat diayunkannya untuk mempertahankan diri apabila seseorang dengan tiba-tiba menyerangnya. Tetapi untuk beberapa saat Mahisa Agni tidak mendengar suara apapun lagi. Betapa ia mempertajam pendengarannya yang telah terlatih baik, namun yang didengarnya hanyalah gemeresik angin. Meskipun demikian Mahisa Agni sama sekali tidak lengah seandainya bahaya dengan tiba-tiba datang menerkamnya.

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam ketika dilihatnya samar-samar warna-warna yang cerah di balik dedaunan. Ketika ia berpaling, alangkah cerahnya ujung Gunung Semeru itu. Hijau kemerah-merahan oleh sinar-sinar yang pertama dari matahari yang bangkit dari tidurnya. Langkah Mahisa Agni pun terhenti. Dipandanginya puncak Gunung Semeru itu dengan penuh kekaguman. Dan terasa pula kesegaran pagi mengusap tubuhnya yang letih.

Kini Mahisa Agni itu pun benar-benar ingin beristirahat. Hutan itu sudah tidak terlalu sepi. Hampir di setiap dahan Mahisa Agni melihat burung-burung bermain dan bernyanyi. Betapa riangnya. Tetapi apabila diingat akan dirinya, maka Mahisa Agni itu pun mengeluh di dalam hatinya. Namun dicobanya juga melupakan segala-galanya dan dicobanya menikmati kecerahan pagi yang segar itu. Sesaat lagi ia akan sampai ke sebuah dataran yang agak luas. Namun hatinya berdesir ketika sekali lagi diingatnya orang timpang yang bernama Empu Pedek.

Dan dada Mahisa Agni itu pun berdesir ketika sekali lagi ia mendengar gemeresik halus di sampingnya. cepat-cepat ia tegak berdiri di atas kedua kakinya yang kokoh kuat. Diletakkannya bungkusannya dan tongkatnya sekali. Dengan cermat diamatinya setiap lebar daun di sekitarnya. Dan sekali lagi desir di dadanya itu menyentuh jantungnya, ketika dilihatnya daun-daun yang bergoyang-goyang dengan kerasnya. Kini Mahisa Agni menjadi pasti, di balik daun itulah seseorang telah mengintipnya. Karena itu ia tidak mau berteka-teki lagi. Ia ingin segera menyelesaikan persoalannya. Mungkin dengan Empu Pedek, mungkin dengan orang lain. Maka terdengarlah anak muda itu berkata lantang,

“He, siapakah kau. Marilah, aku telah menunggumu.”

Suara Mahisa Agni itu pun kemudian terpantul oleh dinding-dinding batu padas di lereng gunung dan oleh batang-batang pohon yang rapat, seakan-akan melingkar-lingkar di dalam hutan. Namun sesaat kemudian suara gemanya berangsur-angsur lenyap. Namun tak seorang pun yang menjawab.

Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni itu pun terkejut bukan buatan. Hampir ia tidak percaya akan telinganya. Didengarnya dari balik gerumbul itu suara batuk-batuk beberapa kali. Suara yang telah dikenalnya baik-baik. Sehingga dengan demikian dada Mahisa Agni itu pun menjadi berdebar-debar. Dan apa yang disangkanya itu ternyata benar-benar terjadi. Dari balik gerumbul itu muncullah seorang tua dengan wajah dalam yang bening. Dari bibirnya terbayanglah senyumnya yang segar.

Sesaat Mahisa Agni terpaku di tempatnya. Sama sekali tak disangka-sangkanya bahwa akan dijumpainya orang itu di tempat itu. Terasa seakan-akan seluruh isi dadanya bergelora, dan hampir segenap tubuhnya bergetar. Ketika orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya, Mahisa Agni segera meloncat maju sambil berlutut di hadapannya. Desahnya,

“Guru.”

Orang itu adalah Empu Purwa. Diangkatnya Mahisa Agni untuk berdiri. Katanya, “Ya Agni. Bagaimana dengan keadaanmu?”

“Baik Empu,” jawab Agni, “aku selalu mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung.”

Empu Purwa itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dituntunnya Mahisa Agni seperti anak-anak yang sedang belajar berjalan. Diajaknya ia duduk di atas batu padas.

“Kau tampak letih sekali Agni,” berkata gurunya.

Mahisa Agni mengangguk, jawabnya, “Ya, Guru.”

“Tetapi aku bergembira bahwa kau selamat. Aku ingin melihatmu ke dalam gua. Sebab aku menjadi cemas, ketika kau terlalu lama belum juga kembali. Tetapi ternyata aku berpapasan denganmu hampir sampai di kaki lereng gundul itu. Dan aku mengikutimu sampai di sini.”

Perkataan gurunya itu telah menggores jantung Mahisa Agni. Segera disadarinya, bahwa ia tidak berhasil membawa kembali akar wregu putih itu. Karena itu, kini segenap tubuhnya menjadi basah oleh peluh yang dingin. Namun ia masih belum dapat mengatakan sesuatu.

“Agni,” berkata gurunya kemudian, “aku menjadi lebih bergembira lagi ketika aku melihat bahwa kau telah pergi meninggalkan gua itu. Bukankah dengan demikian aku akan dapat membanggakanmu?”

Kini wajah Mahisa Agni tertunduk lesu. Dikenangnya segalanya yang pernah terjadi dalam perjalanannya. Ditentangnya jurang dan ngarai. Dilawannya alam yang keras dan dilawannya pula semua rintangan yang menghalanginya. Orang-orang jahat dan binatang buas. Semuanya berhasil diatasinya. Namun, lawan yang tak dapat ditundukkan adalah perasaannya sendiri. Karena itu, maka gelora di dalam dadanya itu pun menjadi semakin gemuruh.

Apakah yang akan dapat dikatakan kepada gurunya? Ternyata ia lebih mementingkan perasaan sendiri daripada perintah gurunya itu. Namun kemudian timbul pula niatnya untuk berkata berterus terang. Gurunya adalah seorang manusia yang baik, seperti apa yang selalu diajarkan kepadanya. Apa yang harus dilakukan dalam hidupnya. Kasih mengasihi antara sesama, sebagai pancaran kasih dari Yang Maha Agung. Meskipun demikian getaran di dadanya menjadi semakin deras, ketika ia mendengar gurunya itu bertanya,

“Agni, apakah benar dugaanku bahwa kau telah berhasil mendaki gua itu?”

Sesaat Agni memandang wajah gurunya. Wajah yang dalam dan bening. Karena itu timbullah harapannya, bahwa gurunya tidak akan marah kepadanya. Perlahan-lahan Mahisa Agni menundukkan wajahnya kembali, dan dengan lemahnya ia mengangguk sambil menjawab lirih,

“Ya, Guru.”

“Syukur, Syukurlah kalau kau telah berhasil mendaki gua itu,” gumam gurunya sambil menepuk pundak muridnya.

Namun dada Mahisa Agni itu pun menjadi semakin tegang. Dan berdesirlah dadanya seolah-olah sebuah goresan sembilu menyentuh hatinya, ketika ia mendengar gurunya itu bertanya,

“Apakah akar wregu putih itu masih kau temukan?”

Mulut Mahisa Agni itu serasa terbungkam oleh gelora yang berkecamuk di dalam dadanya. Dan karena itu maka tiba-tiba tubuhnya menjadi gemetar. Wajah yang tunduk menjadi semakin dalam menekuri batu-batu di bawah kakinya. Karena itu ia tidak segera menjawab, sehingga Empu Purwa mengulanginya,

“Bagaimanakah anakku. Apakah kau masih menemukan akar wregu itu?”

Gemuruh di dada Mahisa Agni serasa akan memecahkan jantungnya. Hampir saja Mahisa Agni berdusta. Ingin ia mengatakan bahwa akar wregu putih itu sudah tidak ada di tempatnya. Namun kejujurannya telah melawannya sehingga betapapun beratnya, ia harus mengatakan apa yang dilihat dan dialaminya. Maka dengan tegangnya ia menjawab,

“Ya, Guru.”

“Oh,” sahut gurunya, “Syukurlah, Syukurlah. Jadi kau masih menemukan akar wregu itu di dalam gua?” Mahisa Agni mengangguk.

“Pasti!” berkata gurunya, “Akar itu pasti masih di sana. Sebab tak seorang pun yang mengetahui, selain aku, bahwa akar itu ada di dalam gua.”

Empu Purwa itu terkejut ketika Mahisa Agni menjawab, “Tidak, Guru. Ternyata ada orang lain yang mengetahuinya pula.”

“Orang lain?” ulang Empu Purwa.

“Ya,” jawab Agni, “seorang dari Gunung Merapi, seorang bernama Empu Pedek dan seorang Buyut dari Wangon.”

Empu Purwa itu mengangkat keningnya. Tampaklah beberapa kerut di dahinya semakin nyata. Namun agaknya ia tidak ingin mempersoalkan orang-orang yang juga mengetahui akar wregu putih itu. Karena itu katanya,

“Ah, biarlah orang-orang itu mengetahuinya. Namun asal kau masih sempat menemukan akar wregu putih itu.”

Kata-kata itu benar-benar menampar dada Mahisa Agni. Sebuah getaran yang keras telah mengguncangkan jantungnya. Kini ia harus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Mahisa Agni itu pun kemudian menangkupkan kedua telapak tangannya di muka dadanya. Sambil membungkukkan badannya ia berkata dengan suara yang gemetar,

“Maafkan Guru. Aku ternyata tidak dapat memenuhi perintah guru. Membawa akar wregu putih itu kembali ke padepokan Panawijen.”

Sesaat mereka berdua tenggelam dalam kesepian. Mahisa Agni masih menundukkan wajahnya. Ia menunggu apa yang akan dikatakan oleh gurunya. Apa saja. Ia akan menerima keputusan itu dengan ikhlas. Baru kemudian akan dikatakannya, alasan-alasan yang telah memaksanya untuk menyerahkan akar wregu itu kepada orang lain. Bukan karena kekerasan, dan bukan pula karena ketakutannya menghadapi bahaya. Ia telah mengalahkan semua rintangan, kecuali satu yang justru datang dari dirinya sendiri.

Perlahan-lahan ia mendengar gurunya bertanya, “Kenapa Agni?”

Mahisa Agni menjadi heran. Ketika ia mencoba mencuri pandang wajah gurunya, ia pun menjadi semakin heran. Wajah itu masih saja dalam dan bening. Ia tidak mendapat kesan bahwa gurunya terkejut dan marah kepadanya. Dan ia tidak tahu, keadaan apakah yang sebenarnya sedang dihadapinya. Apakah gurunya sedang mempertimbangkan alasan-alasan yang harus dikemukakan, ataukah gurunya sedang mencoba menahan diri. Namun kini gurunya itu bertanya, kenapa.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk mengatur perasaannya supaya ia dapat mengatakan segala sesuatu dengan teratur dan dimengerti. Baru kemudian setelah hatinya menjadi tenang, maka diceritakannya kepada gurunya itu, apa yang dialaminya sejak ia meninggalkan padukuhan Panawijen. Perjalanan yang berat, namun penuh dengan gairah untuk menyelesaikannya. Ditantangnya kekerasan alam dan ditantangnya kekerasan manusia.

Akhirnya sampailah cerita Mahisa Agni kepada seseorang yang datang dari Wangon, yang menyebut dirinya Buyut dari Wangon. Seorang tua yang bongkok dan berjalan tersuruk-suruk. Namun tekadnya jauh melalui keadaan jasmaniahnya. Betapa teguhnya kemauan yang tersimpan di dalam dada orang itu, sehingga betapapun ia merasa dirinya tidak mampu melawan dalam tindak kekerasan, namun orang itu dengan beraninya telah memeluk kakinya untuk mencoba menahannya.

“Aku mengaguminya,” berkata Mahisa Agni, “mengagumi tekadnya dan hasrat kemanusiaannya, di samping tanggung jawabnya atas kewajibannya. Hidup dan mati beribu-ribu orang tergantung kepadanya. Kepada akar wregu putih itu. Dan ternyata orang itu telah memasuki gua tempat penyimpanan akar itu. Beberapa langkah lagi ia akan berhasil menyelamatkan beribu-ribu orang itu. Pada saat harapannya telah memenuhi dadanya, bukan saja harapan baginya, namun harapan bagi beribu-ribu orang itu, maka datanglah Mahisa Agni itu. Aku. Guru, aku tidak sampai hati merampas harapan itu. Merampas harapan beribu-ribu orang untuk memperpanjang hidupnya.”

Mahisa Agni berhenti sesaat. Terasa seluruh tubuhnya menjadi basah, dan detak jantungnya menjadi semakin cepat. Namun ia tidak dapat meraba, bagaimanakah tanggapan gurunya atas peristiwa itu. Ketika sekali lagi ia mencoba memandang wajah gurunya, wajah itu masih saja sebening semula.

Dengan nafas yang terengah-engah Mahisa Agni meneruskan, “Itulah, Bapa. Buyut Ing Wangon telah berhasil merampas akar wregu putih itu tidak dengan kekerasan. Hatiku luluh ketika aku mendengar ia bertanya, apakah kekerasan yang dapat menentukan segala-galanya. Apakah hanya dengan kekerasan kita harus menilai semoa persoalan?

Bapa, Buyut Ing Wangon itu bertanya, apakah kepentinganku dengan akar wregu putih itu? Seandainya akar itu mempunyai nilai yang lebih besar padaku, maka dengan ikhlas Buyut Ing Wangon itu akan menyerahkannya, namun apabila nilai akar itu lebih bermanfaat padanya, maka ia minta akar itu untuk dibawanya. Aku diajaknya untuk menilainya dengan wajar. Manfaatnya bagi manusia dan kemanusiaan. Dan manfaat itulah yang akan menentukan. Bukan kekerasan, bukan kemenangan jasmaniah. Bukan perkelahian dan pertempuran.”

Kembali Mahisa Agni berhenti. Dan peluh yang dingin masih saja mengalir membasahi tubuhnya, pakaiannya dan batu padas tempat duduknya. Angin yang lembut masih juga mengalir perlahan-lahan. Dan jauh di sebelah selatan dilihatnya awan yang putih seputih kapas terbang di atas kehijauan hutan dan lembah. Yang terdengar kemudian adalah kata-kata lembut Empu Purwa, selembut angin dari lembah,

“Agni, jadi kau tidak berhasil mendapatkan akar wregu itu?”

“Ampun, Guru,” jawab Agni, “aku gagal menjalankan tugasku kali ini. Aku tidak sampai hati.”

Empu Purwa menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya awan yang bertebaran di langit dan di pandangnya puncak Gunung Semeru yang menjadi semakin cerah. Kemudian terdengarlah ia bertanya,

“Apakah kau masih akan dapat mengenal Empu Pedek dan Buyut Ing Wangon itu apabila kau bertemu?”

Mahisa Agni berpikir sejenak. Kemudian jawabnya, “Kedua-duanya memiliki kekhususannya, Bapa. Empu Pedek itu ternyata timpang dan Buyut Ing Wangon itu bongkok.”

“Apakah kau tahu letak padukuhan Wangon?”

Mahisa Agni menggeleng. Namun hatinya menjadi berdebar. Apakah gurunya akan pergi sendiri mengambil akar itu dari Wangon? Maka terdengar ia menjawab,

“Tidak guru. Aku menghindari petunjuk tentang padukuhan itu. Aku takut kalau pendirianku akan berubah. Dan beribu-ribu orang itu tidak tertolong lagi karenanya.”

Kembali mereka berdua terdiam. Dan kembali suara burung-burung di dahan-dahan menjadi semakin nyata. Melengking dengan riangnya. Seriang daun-daun yang menari-nari ditiup angin pagi. Namun hati Mahisa Agni tidak ikut serta menari-nari bersama angin pagi.

“Agni,” berkata Empu Purwa kemudian, “apakah kausangka Empu Pedek itu masih belum melepaskan keinginannya untuk mendapatkan akar wregu putih itu?”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya, maka jawabnya, “Ya Empu, aku menyangka demikian.”

“Dan bagaimanakah dengan Buyut dari Wangon itu?”

Mahisa Agni tidak segera dapat mengetahui maksud gurunya. Buyut dari Wangon itu telah membawa serta akar wregu putih itu pulang ke padukuhannya. Karena itu ia bertanya,

“Apakah maksud guru dengan Ki Buyut Ing Wangon?”

Mahisa Agni menjadi bingung ketika dilihatnya gurunya itu tersenyum. Dan terjadilah kemudian hal yang sama sekali tak disangka-sangka, sehingga Mahisa Agni itu pun terkejut bukan kepalang. Sejengkal ia bergeser surut, dan dengan sinar mata yang penuh dengan berbagai persoalan bercampur baur dipandanginya wajah gurunya seolah-olah baru dikenalnya saat itu. Dan tebersitlah kata-katanya,

“Guru, apakah guru telah mendapatkannya?”

Empu Purwa masih tersenyum. Katanya kemudian masih sesareh semula, “Agni, bukankah akar wregu ini yang kaucari?”

Kini pandangan mata Agni tertancap kepada sebuah benda di tangan gurunya. Akar wregu putih yang diperebutkannya dengan Buyut Ing Wangon. Dan ternyata akar itu kini berada di tangan gurunya. Aneh. Apakah gurunya telah berhasil mencegat Buyut Ing Wangon dan merampas dari tangannya? Demikianlah beribu-ribu persoalan bergulat di dalam dada Mahisa Agni. Namun karena itu, maka tak sepatah kata pun yang dapat diucapkannya. Yang terdengar kemudian adalah kata-kata Empu Purwa pula mendesaknya,

“Benarkah pengamatanku ini Agni. Apakah benda ini pula yang kau lihat di dalam gua itu?”

“Ya. Ya Empu,” sahut Agni terbata-bata. Namun terloncat pula pertanyaannya, “Tetapi bagaimanakah benda itu dapat sampai di tangan Empu?”

Empu Purwa tersenyum. Katanya, “Kepada siapa benda ini kau berikan?”

“Kepada orang bongkok dari Wangon. Buyut Ing Wangon,” sahut Mahisa Agni.

Empu Purwa menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Sudahlah, jangan kau risaukan orang lain. Kau sekarang akan berhasil memiliki benda ini. Akar wregu putih. Rangkapan pusakamu yang kecil itu. Bukankah dengan akar ini kau dapat membuka tangkai trisula kecil itu?”

Mahisa Agni itu pun menjadi semakin bingung. Bagaimanakah jadinya dengan Buyut dari Wangon? Apakah yang akan dilakukannya seandainya akar wregu itu lenyap dari tangannya? Dan bagaimanakah dengan beribu-ribu orang yang hampir mati karena penyakitnya? Dan kini tiba-tiba tubuh Mahisa Agni itu pun bergetar kembali. Betapa ia menjadi gelisah. Ia tidak tahu apakah sebenarnya yang terjadi. Tetapi yang dilihatnya akar wregu putih itu sudah di tangan gurunya.

“Guru,” terdengar Mahisa Agni bertanya dengan suara yang gemetar, “Di manakah Buyut Ing Wangon itu sekarang?”

Empu Purwa itu tidak segera menjawab. Namun ditatapnya Mahisa Agni itu dengan pandangan yang sejuk. Dan kediamannya itu telah membuat hati Mahisa Agni menjadi semakin tegang. Sehingga diulanginya pertanyaannya,

“Guru, apakah guru bertemu dengan Buyut Ing Wangon dan mendapatkan akar wregu itu daripadanya?”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar