MENU

Ads

Kamis, 12 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 023

Dan jantung Mahisa Agni menjadi semakin bergolak ketika ia melihat gurunya tersenyum. Timbullah berbagai sangkaan di dalam hatinya. Apakah gurunya telah mencederai Buyut dari Wangon itu? Tak mungkin. Buyut dari Wangon bukan seorang yang mampu untuk berkelahi, apalagi melawan gurunya. Sehingga dengan mudahnya akar itu akan dapat diambilnya. Mahisa Agni menjadi semakin tidak mengerti ketika kemudian gurunya itu menepuk bahunya, dan dengan lembut berkata,

“Kenapa kau prihatin atas Buyut yang bongkok itu?”

“Ya, kenapa?” Mahisa Agni mengulang pertanyaan itu di dalam hatinya. Namun ia tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Karena itu maka dengan lemahnya ia menggeleng. Jawabnya, “Entahlah, Bapa. Mungkin aku menjadi iba kepadanya, kepada orang-orangnya yang menantinya dengan penuh kecemasan dan penderitaan.”

“Buyut Ing Wangon itu kini telah tidak ada lagi.”

“He?” Agni terkejut sehingga ia bergeser. Ditatapnya wajah gurunya dengan pancaran pertanyaan dari bola matanya. Ketika ia melihat gurunya memandangnya dengan iba, maka desahnya di dalam hati, “Betapa aneh persoalan yang aku hadapi.”

“Agni,” berkata gurunya, “Buyut Ing Wangon itu benar-benar sudah tidak ada lagi. Yang ada kini adalah aku gurumu.”

Nafas Mahisa Agni menjadi semakin terengah-engah, melampaui pada saat ia mendaki lereng yang gundul itu. Dan ketika ia mendengar gurunya menjelaskan, serasa ia sedang dibuai oleh mimpi yang aneh. Didengarnya gurunya itu berkata,

“Kau serahkan akar ini kepada orang yang menamakan diri Buyut Ing Wangon, Agni. Dan sekarang kau lihat akar wregu ini berada di tanganku. Tak ada perjuangan yang terjadi, tak ada perampasan dan pemerkosaan. Aku terima akar ini langsung dari tanganmu.”

“He?” kini Mahisa Agni benar-benar terkejut bukan buatan. Ia mendengar kata demi kata dengan jelas. Ia mendengar dan mengerti maksud gurunya. Meskipun demikian dengan wajah yang tegang ia bertanya, “Jadi, apakah mataku yang kurang wajar, atau apa akukah yang tidak pada tempatnya. Apakah maksud guru mengatakan, bahwa yang bertemu dengan aku di dalam gua itu guru sendiri?”

Empu Purwa mengangguk. Tampaklah kebeningan matanya memancarkan keibaan hatinya. Karena itu ia berkata seterang-terangnya, “Agni. Sadarilah. Akulah yang menamakan diri Buyut Ing Wangon.”

Sekali lagi Mahisa menangkupkan kedua telapak tangannya, di muka dadanya sambil membungkukkan badannya dalam-dalam sehingga wajahnya hampir menyentuh tanah. Dengan suara gemetar ia berkata,

“Ampun, Bapa. Aku tidak tahu, apakah yang sudah aku lakukan. Aku tidak tahu, bagaimana Bapa menilai diriku.”

Seterusnya Mahisa Agni itu menekurkan wajahnya. Ia tidak berani memandang gurunya. Bahkan ujung kakinya pun tidak. Ditatapnya tanah padas yang berlapis-lapis di bawah kakinya. Namun hatinya sibuk dengan persoalan yang tak dapat dimengertinya. Ia melihat seorang bongkok yang berjalan tersuruk-suruk di dalam gua itu. Namun betapa gelapnya. Ia hanya melihat bayangan yang hitam dan garis-garis tubuh yang bongkok itu. Tetapi apakah ia pernah melihat wajah orang itu dengan jelas? Tidak. Ia tidak melihatnya. Dan bagaimanakah dengan pakaiannya? Pakaian ini pun tak jelas diketahuinya. Tetapi yang dilihatnya sekarang, gurunya tidak mengenakan jubah putih dan tidak pula mengenakan kain kelengan seperti kalau gurunya itu sedang bepergian, tidak dalam kedudukannya sebagai seorang pendeta. Tetapi gurunya itu mengenakan kain lurik yang dibalutkan di tubuhnya. Mahisa kemudian memejamkan matanya. Dicobanya untuk mengingat-ingat bentuk tubuh orang yang ditemuinya di dalam gua itu. Namun ia tidak berhasil.

Dalam pada itu terdengarlah gurunya berkata, “Agni, jangan menyesal. Kau telah berbuat sesuatu yang sebenarnya aku harapkan. Kau dihadapkan pada persoalan yang tak mudah kau pecahkan. Di sinilah watak seseorang yang sebenarnya dapat dilihat. Apabila ia dihadapkan pada kepentingan diri dan kepentingan manusia, namun di luar dirinya. Betapa ia harus melihat kepentingan-kepentingan itu dengan wajar. Apakah seseorang akan mementingkan dirinya sendiri, apakah ia akan mementingkan manusia dan kemanusiaan di luar dirinya, namun kepentingan itu jauh lebih besar.

Dan ternyata kau berhasil melihatnya dengan mata hatimu yang bersih. Kau berhasil menyingkirkan nafsu diri sendiri untuk kepentingan manusia dan kemanusiaan di luar dirimu. Bahkan kau telah sanggup mengorbankan kepentinganmu itu, namun kepentingan sendiri, seorang Mahisa Agni, untuk kepentingan yang lebih besar. Meskipun ternyata kepentingan yang lebih besar itu sebenarnya tidak ada, namun itu tidak akan mengurangi nilai pribadimu. Tidak akan mengurangi kejernihan mata hatimu. Sebenarnyalah bahwa Yang Maha Agung telah berkuasa di dalam hatimu dengan cinta kasihnya, sehingga dari dalam hatimu itu pun memancar pula cinta kasih itu.”

Kini dada Mahisa Agni itu pun bergelora. Namun dalam bentuknya yang lain. Setelah sekian lama ia ditegangkan oleh teka-teki tentang orang bongkok itu, tiba-tiba kini ia mendengar kata-kata gurunya itu. Jelas dan hatinya pun menjadi terang. Gurunya itu ternyata membenarkan sikapnya. Dan karenanya, maka ia pun menjadi terharu. Betapa ia bersyukur di dalam hatinya, bahwa Tangan Yang Maha Besar telah menuntunnya untuk memilih sikap yang dibenarkan oleh gurunya dan benar pula menurut keyakinannya.

Dan didengarnya gurunya itu berkata seterusnya, “Meskipun demikian Mahisa Agni. Apa yang terpuji pada saat ini bukan berarti untuk seterusnya tak akan terkena salah. Jangan menjadi lupa diri. Akar wregu itu akan dapat menjadi alat untuk mengenangkan masa ini. Sebenarnyalah hanya itu manfaat yang dapat kau ambil daripadanya.”

Sekali lagi Mahisa Agni dikejutkan oleh kata-kata gurunya itu. Akar wregu putih itu hanya akan bermanfaat baginya untuk mengenangkan masa ini. Suatu masa di mana ia harus berjuang untuk menumbangkan nafsu yang menyala-nyala untuk menjadikan dirinya orang pilih tanding, karena suatu pengabdian pada kemanusiaan memanggilnya. Meskipun kemudian ternyata, bahwa perjuangan yang terjadi di dalam dirinya itu adalah hasil ciptaan gurunya untuk mengetahui kematangan sifat dan wataknya sebagai manusia, namun apakah itu mempunyai suatu pengaruh yang langsung atas khasiat akar wregu putih itu?

Karena itu maka Mahisa Agni itu memberanikan diri untuk bertanya, “Guru, apakah maksud guru dengan mengecilkan arti akar wregu putih itu?”

Empu Purwa tertawa pendek. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Agni, aku sama sekali tidak mengecilkan arti akar wregu putih ini. Sebab sebenarnyalah demikian. Lihatlah. Akar ini tidak lebih dari sebuah akar wregu biasa. Apakah bedanya? Kau melihat akar ini agak keputih-putihan. Demikianlah sebenarnya warna akar wregu itu apabila kau sayat kulit arinya.”



Mahisa Agni menjadi semakin bingung. Jadi apakah artinya perjuangan yang selama ini dilakukan, sejak ia meninggalkan padepokan Panawijen dan menempuh perjalanan yang sedemikian jauh, melawan kegarangan alam dan melawan berbagai kejahatan manusia dan kebuasan binatang-binatang?

Empu Purwa melihat beribu-ribu persoalan bergelut di dalam dada Mahisa Agni. Karena itu maka katanya kemudian, “Mahisa Agni. Jangan menilai akar wregu ini berlebih-lebihan. Meskipun demikian itu bukan salahmu. Aku memang mengatakan kepadamu, bahwa akar ini akan mampu menjadikan kau seorang yang pilih tanding. Dan ternyatalah demikian. Kau telah berjuang dengan tekad yang membara di dalam hatimu. Kau telah melakukan apa saja yang jarang dapat dilakukan oleh orang lain. Dan yang jarang dapat aku temui pada masa kini, masa-masa yang lampau dan bahkan mungkin masa-masa yang akan datang, adalah kesediaanmu berkorban.

Bukankah dengan demikian kau telah menemukan nilai-nilai yang sangat berharga bagi dirimu. Bukankah perjalanan yang kau lakukan itu adalah suatu penempaan jasmaniah yang tak ada taranya dan bukankah penyerahan akar ini kepada orang lain itu pun akan merupakan penempaan rohaniah yang tak kalah nilainya dari seluruh perjalananmu itu, sebab hasil perjalananmu itulah yang telah kau korbankan bahkan masa depan yang panjang telah kau serahkan pula. Karena itu ketahuilah anakku, akar wregu ini sebagai suatu benda tak memiliki nilai apapun.”

Bergetarlah dada Mahisa Agni mendengar keterangan gurunya itu. Benar-benar persoalan yang tak disangka-sangkanya. Apakah ini yang dimaksud oleh gurunya suatu ujian baginya? Dan gurunya sendiri telah hadir untuk mengujinya? Dan inilah sebabnya, maka pada saat gurunya memerintahkannya pergi mencari akar wregu itu terasa beberapa kejanggalan pada pesannya. Gurunya yang dalam masa-masa yang lewat, selalu memandang hampir setiap persoalan dari segala segi, keseimbangan antara lahir dan batinnya, namun pada saat-saat ia berangkat meninggalkan Panawijen, gurunya seolah-olah sama sekali tak menghiraukan masalah-masalah yang lebih dalam dari masalah-masalah lahiriah. Yang disebut-sebut oleh gurunya itu tidak lebih dari akar wregu putih yang akan mampu menjadikannya manusia yang sakti. Lebih dari itu tidak. Namun gurunya itu kemudian berkata bahwa ‘Hitam putih namamu, tergantung kepadamu sendiri’.

Kini ternyata, bahwa gurunya dengan sengaja berbuat demikian. Gurunya sengaja memberinya persoalan, dan diserahkannya kepada dirinya, bagaimana ia akan memecahkannya. Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Terasalah sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni itu menyadari, bahwa tidak hanya seorang gurunya sajalah yang menginginkan akar itu, meskipun dengan maksud yang berbeda-beda. Apakah orang lain percaya bahwa akar itu memiliki nilai yang dapat mempengaruhi seseorang. Karena itu maka dengan serta-merta ia bertanya kepada gurunya,

“Bapa, seandainya akar itu dalam ujudnya sebagai benda tak memiliki nilaianya yang khusus. Apakah artinya perjuangan Empu Pedek untuk mendapatkannya. Berbulan-bulan ia berada di tempat ini untuk menunggu seseorang yang akan lewat dengan membawa sebuah trisula rangkapan dari akar wregu itu.”

Empu Purwa itu tertawa, namun dari sepasang matanya memancarlah keibaan hatinya kepada muridnya itu. Sekali lagi Empu Purwa menepuk bahu Mahisa Agni. Dengan lembut ia berkata, “Anakku. Tak seorang pun di dunia ini yang pernah mendengar tentang akar wregu putih itu. Bukankah sudah aku katakan.”

“Tetapi Bapa,” bantah Agni, “Empu Pedek itu menyebut-nyebutnya pula. Tepat diketahui nama dan kegunaan dari akar wregu itu.”

“Agni,” sahut gurunya, “ada dua kemungkinan. Aku yang salah sangka tentang akar itu bahwa tak seorang pun yang mengetahuinya, atau akar itu benar-benar hanya diketahui oleh seseorang saja. Sehingga setiap orang yang menyebut nama akar wregu putih itu adalah orang yang sama.”

“Guru,” potong Agni, “jadi juga yang menamakan diri Empu Pedek dan Buyut Ing Wangon itu guru sendiri?”

Empu Purwa mengangguk-angguk. Sambil tersenyum ia berkata, “Benar Agni. Dan telah aku korbankan sebagian janggutku tersayang untuk kepentingan itu.”

“Oh,” Agni itu pun tertunduk kembali. Berbagai masalah yang simpang siur, hilir mudik di dalam di kepalanya. Sehingga kemudian ia berkata, “Jadi bagaimanakah dengan orang dari Gunung Merapi yang datang tiga hari sebelum kedatanganku.”

“Itulah aku,” jawab gurunya.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini semuanya menjadi jelas. Itu pulalah sebabnya gurunya berpesan kepadanya supaya ia berjalan dari batu karang itu pada malam hari, supaya gurunya dapat mengganggunya. Sesaat mereka berdua itu pun berdiam diri. Matahari yang cerah telah semakin tinggi memanjat di kaki langit,dan pagi itu pun menjadi semakin bening. Namun masih ada satu soal yang ingin diketahui oleh Mahisa Agni, bagaimanakah akar wregu itu berada di dalam gua.

Maka kemudian diberanikannya pula untuk bertanya kepada gurunya, “Bapa, bagaimanakah maka akar wregu putih itu berada di dalam gua ini. Apakah guru telah meletakkannya tiga tahun yang lampau?”

Kembali Empu Purwa tersenyum. Jawabnya, “Bukankah Buyut dari Wangon itu telah memasuki gua lebih dahulu? Alangkah mudahnya meletakkan akar wregu itu di sana, kemudian berbaring kembali di tikungan dalam gua itu.”

Mahisa menggigit bibirnya. “Sederhana sekali,” pikirnya. Sehingga anak muda itu tanpa sesadarnya telah mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kini semuanya sudah jelas bagi Mahisa Agni Apa yang dilakukan gurunya sebelum ia berangkat sampai saat ini. Ternyata gurunya telah menjajaki kebulatan tekadnya dengan orang timpang yang menamakan dirinya Empu Pedek. Apakah ia benar-benar pantang surut dalam perjuangannya mencapai masa depannya dengan cita-cita yang diletakkan di hatinya. Namun dengan Buyut Ing Wangon gurunya ingin mengetahui, apakah ia mampu memandang kepentingan kemanusiaan yang lebih besar dengan mengorbankan kepentingan diri sendiri.

Dalam pada itu kembali Empu Purwa itu bertanya, “Mahisa Agni, apakah kau menjadi kecewa, setelah kau mengetahui bahwa akar wregu putih itu sama sekali tak berarti bagimu dalam olah kanuragan?”

Sebenarnya, di dalam hati Mahisa Agni walau pun betapa kecilnya, ada juga rasa kecewa itu. Namun demikian, dapat juga ia mengurangi keadaan, sehingga kemudian ia menjawab,

“Tidak guru. Kalau ada maka kekecewaan itu tak akan berarti, dibandingkan dengan kebanggaan yang aku dapatkan karena Bapa telah membenarkan sikap dan tanggapanku atas persoalan-persoalan yang Guru berikan.”

Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya pula, “Nah, meskipun demikian simpanlah akar wregu ini. Sudah aku katakan, bahwa akar ini akan bermanfaat pula bagimu. Akan selalu memberimu peringatan, bahwa menurut pendapat gurumu, kau telah melakukan sesuatu yang terpuji. Karena itu, setiap kau menghadapi persoalan yang serupa, maka akar wregu ini akan membantumu memecahkan persoalanmu. Namun, kau adalah manusia biasa Agni. Suatu ketika kau akan menghadapi persoalan-persoalan yang lebih sulit dan suatu ketika kau akan mungkin melakukan pilihan yang salah. Namun kau harus berusaha mengurangi kesalahan-kesalahan itu. Sadarilah ini, supaya untuk seterusnya kau tidak menganggap bahwa pilihanmu selalu benar, dan apabila ada perbedaan pikiran dan pendapat dengan orang lain, kau selalu merasa bahwa kau sendirilah yang benar.”

Mahisa Agni kini menundukkan wajahnya. Kata-kata gurunya itu menyentuh hatinya dan menumbuhkan suatu pengertian yang mendalam. Mahisa Agni itu pun kemudian menjadi sadar akan keadaannya. Manusia yang lemah, jasmaniah maupun rohaniah. Manusia yang selalu diliputi oleh kesalahan-kesalahan dan kebodohan-kebodohan.

“Marilah Agni,” berkata gurunya pula, “terimalah akar wregu ini. Jangan kau nilai benda itu berlebih-lebihan. Namun jangan kau abaikan pula hikmah yang telah kau letakkan sendiri pada benda itu.”

Mahisa Agni itu pun mengangkat wajahnya. Dipandangnya akar wregu itu dengan perasaan yang aneh. Namun dimengertinya pula nasihat gurunya. Karena itu, maka akar itu pun diterimanya dengan hasrat yang mantap untuk mencoba memenuhinya. Meskipun demikian terasa juga kehambaran di dalam dadanya.

Kembali mereka berdua terlempar dalam kesenyapan. Dan kembali mereka membiarkan tubuh mereka dibelai angin yang mengalir dari lembah. Namun angan-angan Mahisa Agni terbang melambung ke daerah-daerah yang aneh. Ke masa-masa yang lewat dan ke masa-masa yang akan datang. Seperti orang tersentak dari mimpinya ia mendengar gurunya berkata kepadanya,

“Mahisa Agni. Aku tahu, bahwa kau dengan peristiwa ini merasa kehilangan sesuatu, meskipun kau dapat mengerti dan memahami artinya. Karena itu Anakku, sebenarnyalah bahwa kau akan mendapatkannya sesuatu yang bermanfaat bagi hidupmu kelak. Bukan dari akar wregu itu, tetapi dari dirimu sendiri.”

Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Terasa debar yang halus menyentuh hatinya. Dan didengarnya gurunya berkata, “Agni, ada sesuatu yang ingin aku beri tahukan kepadamu. Bahwa aku telah mendapat ilmu yang turun temurun mengalir dari guru ke muridnya yang tepercaya. Itulah sebabnya, setiap guru yang akan memberikan kepada muridnya, maka guru itu harus yakin akan sifat dan watak muridnya itu. Itulah yang memaksa aku membuat cerita tentang akar wregu putih, karena aku ingin mengetahui, apakah sudah masanya aku menurunkan ilmu itu kepadamu. Apakah ilmu itu akan bermanfaat bagimu dan bagi bebrayan manusia. Sebab seandainya ilmu itu kau terima, namun penggunaannya tidak seperti yang diharapkan, maka ilmu itu akan kehilangan artinya, bahkan akan menjadi sangat berbahaya. Namun kini aku telah menemukan suatu keyakinan, bahwa ilmu itu padamu akan menemukan sasaran pengamalan seperti yang diharapkan.”

Debar yang halus di dalam dada Mahisa Agni itu pun menjadi semakin tajam. Bahkan kemudian terasa tubuhnya bergetar. Kata-kata gurunya itu seperti tetesan embun yang menyentuh ubun-ubunnya. Namun kemudian seperti menyalanya bara harapan di dalam hatinya.

Dan didengarnya gurunya itu berkata seterusnya, “Mahisa Agni. Ilmu itu adalah ilmu yang didasari pada kekuatan-kekuatan yang tersimpan di dalam dirimu sendiri. Karena itu kau harus selalu ingat kepada sumbernya. Setiap penggunaan ilmu itu pun harus diperuntukkan bagi sumber itu sendiri. Sumber kekuatan-kekuatan di tubuhmu itu, dan lebih jelas lagi, adalah sumber hidupmu itu, Yang Menciptakanmu. Yang Menciptakan manusia.”

Semuanya kini menjadi semakin terang bagi Mahisa Agni. Dengan cepat ia dapat menghubungkan setiap peristiwa yang pernah dialami dengan kata-kata gurunya itu. Sekali lagi terucapkan puji dan sukur di dalam hati Mahisa Agni. Dan apa yang dikecewakannya atas akar wregu putih itu, seakan-akan telah larut dihanyutkan oleh harapan-harapan baru yang tumbuh di dalam hatinya. Harapan baru tentang ilmu yang disebut oleh gurunya, namun dilandasi oleh semua penjelasan dan nasihat-nasihat gurunya itu. Maka kini ternyatalah baginya, bahwa gurunya telah menganggapnya lulus dari ujian yang dibebankan di atas pundaknya.

Sesaat kemudian gurunya meneruskan pula, “Agni. Untuk menerima ilmu itu, maka kau tidak cukup memerlukan waktu sehari dua hari. Namun sebenarnya sebagian besar dari dasar-dasarnya, dan persiapan-persiapan jasmaniah telah kau miliki. Karena itu, kau tinggal harus bekerja tidak lebih dari sebulan dua bulan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Waktu itu tidak terlalu lama. Perjalanan yang ditempuhnya itu pun telah memakan waktu lebih dari sebulan. Dan kalau ia harus bekerja keras sebulan dua bulan lagi, maka waktu itu tak akan berarti baginya dibandingkan dengan waktu yang panjang yang terbentang di hadapannya.

Dan berkata pulalah gurunya, “Agni. Ilmu yang akan kau terima adalah ilmu yang harus kau tekuni untuk seterusnya. Ilmu itu tidak sekaligus menjadi sempurna. Aku hanya akan memberikan beberapa petunjuk dan membuka pintu saja bagimu. Seterusnya terserah kepadamu sendiri.”

Gurunya berhenti sebentar, seakan-akan menunggu kata-kata itu dicernakan oleh muridnya. Kemudian sambungnya, “Anakku. Ilmu itu aku terima dari guruku dengan sebuah nama yang dibuat oleh guruku sendiri. Nama ilmu itu tidak penting bagimu. Yang penting adalah isi dan pengamalannya. Aku terima ilmu itu dengan nama Gundala Sasra. Nah, sebaiknya kau sebut juga nama ilmu itu dengan nama Gundala Sasra.”

Dada Mahisa menjadi berdebar-debar mendengar nama itu. Gundala Sasra. Nama itu tidak segarang nama-nama ilmu yang pernah didengarnya. Bajra Pati, Guntur Geni, Sapu jagat, dan lain-lainnya. Nama-nama yang pernah didengarnya dari gurunya itu pula, sebagai senjata-senjata pamungkas dari beberapa orang sakti. Memang sejak ia mendengar nama-nama ilmu itu, terbelit pula pertanyaan di dalam dadanya, apakah gurunya sendiri tidak memiliki aji yang dapat dibanggakan?

Namun ia tidak pernah berani menanyakannya. Mungkin gurunya tidak akan senang mendengar pertanyaan itu. Apalagi seandainya gurunya itu benar-benar tidak memilikinya. Tetapi kini ternyata pertanyaan itu telah terjawab. Gurunya pun memiliki ilmu yang disimpannya baik-baik. Dan ilmu itu bernama Gundala Sasra, yang kini akan diturunkannya kepadanya. Karena itu dengan penuh harapan ia menyambut kata-kata gurunya itu. Bahkan telah dibayangkannya, bahwa ia harus memeras tenaga, mesu diri untuk mendapatkan jalan menerima kesaktian gurunya.

Yang didengarnya kemudian gurunya itu berkata, “Mahisa Agni, namun ilmu harus kau terima dengan kerja dan usaha. Aku tidak dapat meniup tengkukmu, dan kemudian ilmu ini telah meresap dengan sendirinya ke dalam tubuhmu. Atau mengusap ubun-ubunmu atau menghembus hidungmu. Namun aku sendirilah yang harus menempatkan dirimu dalam keadaan yang memungkinkan bagimu untuk menerima ilmu ini.”

Kembali gurunya itu berhenti sesaat. Sedang dada Mahisa Agni pun menjadi semakin berdebar-debar. Dan didengarnya gurunya itu berkata pula, “Agni. Marilah kita hidup di tengah-tengah hutan ini untuk beberapa lama, supaya kau leluasa memperkembangkan dirimu dalam ilmu yang akan kau terima. Prihatin dan mesu diri, menguasai tindak tanduk dan angan-angan adalah sumber dari kekuatan ilmu ini. Namun kita manusia hanya dapat berusaha, sedang ketentuan terakhir adalah di tangan Yang Maha Agung. Karena itu jangan menyesal apabila kekuatan ilmu itu tidak seperti apa yang kau harapkan, namun jangan sombong dan takabur apabila ilmumu akan berkembang menjadi ilmu yang dahsyat. Sedahsyat seribu guntur yang menyala di langit.”

Debar di dada Mahisa Agni menjadi semakin bergelora. Kini titik-titik keringatnya menetes satu-satu dari keningnya. Apa yang harus dihadapinya ternyata tidak lebih ringan dari perjalanannya yang telah dilakukannya. Meskipun demikian, dihadapinya masa-masa yang berat itu dengan penuh tekad. Dengan penuh gairah, segairah pada saat ia berangkat untuk menemukan akar wregu putih itu. Ternyata yang akan didapatnya bukan khasiat dari akar wregu itu, namun ilmu yang tak akan kalah dahsyatnya.

Ternyata Empu Purwa tidak menyia-nyiakan waktu. Setelah ia memberi kesempatan Mahisa Agni berburu sesaat dan mendapatkan makanan secukupnya setelah berhari-hari ia menahan lapar, maka Empu Purwa segera mulai dengan pekerjaannya, mengolah Mahisa Agni untuk dapat mewarisi ilmunya.

Yang dilakukan oleh Empu Purwa adalah membuka setiap kemungkinan pada setiap urat dan syaraf di dalam tubuh Mahisa Agni. Dihilangkannya setiap simpul-simpul yang dapat mengganggu mengalirnya kekuatan-kekuatan di dalam tubuhnya. Kekuatan-kekuatan yang tersimpan dan kekuatan-kekuatan yang tersembunyi.

Dan sejak hari itu, mulailah Agni melewati hari-hari yang maha berat. Setiap hari, bahkan siang dan malam. Dipelajarinya beberapa unsur-unsur gerak pokok. Dan dilatihnya untuk dapat menguasai tubuhnya dengan baik. Dilatihnya untuk dapat mengenal, memerintah menurut kehendak setiap gumpal daging di dalam tubuhnya. Dilatihnya untuk dapat merasakan setiap titik darah yang mengalir di dalam nadinya dan dilatihnya untuk mengatur setiap tarikan nafas di dalam dadanya. Dan ternyatalah bahwa sejak lama Empu Purwa telah menyiapkannya untuk pada suatu saat akan mengalami masa-masa yang amat berat ini. Karena itu, maka betapapun beratnya, namun jasmaniah dan rohaniah Mahisa Agni telah masak untuk melakukannya.

Namun bukan masalah lahiriah yang paling berat harus diatasinya. Sebagai seorang manusia yang mendapatkan kekuatan-kekuatan dari sumbernya, maka setiap hasrat dan angan-angannya pun harus dikuasainya pula. Ditekuninya dirinya dalam setiap tindak tanduk dan perbuatan, ditekuninya pula setiap pikiran, perasaan dan angan-angan. Dipanjatkannya setiap hakikat dari gerak rohaniahnya, melambung tinggi mencapai inti dari hidup dan kehidupan. Terpisahnya dan terpadunya dunia yang besar di luar dirinya dengan dunia yang sempit di dalam dirinya. Sehingga terbenamlah Mahisa Agni dalam suatu perjuangan, untuk menemukan keserasian gerak timbal balik dalam hubungan antara dirinya dan sumbernya, antara dirinya dengan wadaknya dan wadak yang tergelar di sekitarnya.

Sebenarnya apa yang dilakukan Mahisa Agni sangat beratnya. Namun Mahisa Agni mampu untuk melakukannya. Menerima ilmu gurunya itu ternyata tidak semudah seperti dongeng-dongeng yang pernah didengarnya. Seorang murid menundukkan kepalanya, kemudian dengan meniup ubun-ubunannya maka menjalarlah ilmu itu lewat hembusan gurunya dan hadir di dalam diri murid itu. Ternyata yang dilakukan adalah jauh lebih berat daripada itu. Ia harus bekerja keras siang dan malam. Menirukan unsur-unsur gerak yang baru dan memahami sampai ke tujuan dan alasan-alasan gerak itu. Mempelajari segenap guratan-guratan di dalam tubuhnya, urat darah dan nadi, urat-urat daging dan segala macam unsur penggerak, unsur penguat dan unsur perangsangnya.

Dan ternyata pula apa yang pernah dimiliki, kekuatan-kekuatan di sisi-sisi telapak tangannya, hanyalah sekedar kekuatan lahiriah yang sangat kecil dibandingkan dengan ungkapan-ungkapan kekuatan yang tersimpan dalam-dalam di dalam dirinya.

Demikianlah, maka di dalam hutan di kaki Gunung Semeru itu telah terjadi suatu peristiwa yang penting bagi perguruan Panawijen. Di balik dinding-dinding yang seakan-akan membatasi daerah itu, dengan pohon-pohonnya yang lebat, Mahisa Agni sedang berjuang untuk menampakkan dirinya pada keadaan yang memungkinkan baginya, untuk menerima ilmu gurunya.

Sehari dua hari, seminggu dua minggu dan lambat laun, terasalah beberapa perubahan di dalam diri Mahisa Agni itu. Setelah dengan penuh tekad ia berusaha di bawah tuntunan gurunya, maka akhirnya ditemukannya juga dasar-dasar yang dalam dari ilmu itu. Gundala Sasra.

Pada taraf terakhir dari masa penempaannya itu, Mahisa Agni benar-benar memeras segenap tenaga yang mungkin di dalam tubuhnya. Setelah segenap petunjuk, tuntunan dan latihan-latihan dengan gurunya dilakukan, maka akhirnya Mahisa Agni pun sampai pada taraf menunjukkan hasil perjuangannya. Hasil perjuangan yang memiliki nilai kembar yang saling bersangkut paut. Apa yang dicapainya adalah hasil hubungannya timbal balik dengan sumbernya.

Cinta kasih yang memancar dari Sumbernya yang telah dapat dihayatinya, dan kemudian terpancarlah cinta kasih dari dalam dirinya, dalam kesetiaan dan pengabdiannya, maka Yang Maha Agung telah mengizinkannya, mengungkapkan semua kekuatan-kekuatan yang memang dianugerahkan dalam dirinya untuk melakukan hubungan timbal balik yang kedua dengan sesamanya. Hubungan cinta kasih antara sesama titah dalam pengamalan ilmunya.

Sehingga akhirnya sampailah saatnya kini Mahisa Agni diliputi oleh getaran-getaran yang terakhir dari penerapan ilmunya itu. Getaran-getaran yang seakan-akan menusuk-nusuk tubuhnya dari segenap arah. Seakan-akan dunia ini pun kemudian ikut bergetar pula dalam suatu gerak yang beraneka warna. Getaran-getaran yang kasar, yang halus, yang tajam dan dalam segala bentuk. Kemudian menyusullah getaran-getaran yang seakan-akan mengguncang-guncang tubuhnya. Seperti gempa yang melandanya bertubi-tubi.

Namun Mahisa Agni sadar, bahwa ia harus menyelesaikan taraf yang terakhir ini. Karena itu dengan memejamkan matanya ia duduk bersila. Kedua tangannya bersilang dan telapak-telapak tangannya terletak di kedua pundaknya yang berlawanan. Dengan sepenuh tenaga lahir dan batin Mahisa Agni menghayati masa-masa terakhir itu.

Getaran-getaran itu pun semakin lama menjadi semakin terasa, dan bahkan kemudian, meskipun Agni telah memejamkan matanya, namun seolah-olah dilihatnya dunia ini dengan jelasnya. Semua warna yang ada, berputar-putar di dalam rongga matanya. Hijau, merah, hitam, kuning, ungu, biru dan segala macam warna. Namun itu sendiri tidak membawa arti apapun bagi Mahisa Agni. Yang kemudian dilihatnya adalah watak dari warna-warna seakan-akan wajah-wajah yang bengis, pucat, licik, suram dan segala macam. Namun akhirnya warna-warna itu berputaran dalam satu pusat. Bercampur baur menjadi satu. Segala macam warna dengan wataknya masing-masing. Semakin lama semakin cepat semakin cepat. Dan akhirnya luluhlah segala warna itu menjadi warna yang tunggal. Putih.

Warna putih itu pun berputar dengan cepatnya, Semakin lama menjadi semakin cepat. Dan seakan-akan dari pusat warna itu memancarlah cahaya yang terang semakin terang semakin terang. Akhirnya warna itu pun menjadi gemerlapan. Di dalam warna yang terang itulah Mahisa Agni seolah-olah melihat dirinya sendiri. Betapa lemahnya dirinya. Hanyut dalam pusaran warna yang putih dan gemerlap itu. Semakin cepat semakin cepat. Namun Agni yang berputar itu pun telah berusaha untuk menahan dirinya.

Dengan segala usaha akhirnya gambaran dirinya yang berputar itu pun semakin dapat menguasai keadaannya. Sehingga akhirnya Agni itu pun kemudian berhasil tegak di atas kedua kakinya. Tegak dalam pancaran cahaya yang putih. Sehingga putaran cahaya yang putih itu pun menjadi semakin lambat, semakin lambat. Namun demikian cahaya itu berhenti, kembali tampak segala macam warna seolah-olah melanda warna yang putih itu. Namun cahaya yang memancar dari dalam diri Agni itu pun kemudian berhasil mengusirnya.

Kini dilihatnya bayangan dirinya itu membentangkan tangannya. Kemudian bersilang di muka dadanya sudut menyudut, kedua telapak tangannya terbuka dengan keempat jarinya merapat tegak. Dan dengan satu loncatan maju bayangan itu telah mengayunkan tangannya. Betapa dahsyat akibatnya. Seolah-olah angin Yang Maha Dahsyat melanda dirinya. Demikian dahsyatnya sehingga kepala Mahisa Agni itu serasa berputar dalam saat-saat yang terakhir itu, dunia telah menjadi gelap semakin gelap. Dan tubuh Mahisa Agni yang lemah itu pun kemudian terjatuh di tanah.

Gurunya, yang duduk di belakang Mahisa Agni, melihat perkembangan keadaan muridnya dengan tegang. Namun terasa olehnya, bahwa muridnya telah berhasil memusatkan segenap panca inderanya dalam satu karya. Bergabungnya segenap kekuatan, dan terungkitnya kekuatan-kekuatan itu, telah membebani muridnya dengan keadaan yang sangat berat. Demikian beratnya, sehingga akhirnya Mahisa Agni itu menjadi seolah-olah pingsan. Namun itu adalah pertanda, bahwa muridnya telah berhasil membuka hatinya dalam satu pemusatan pikiran yang akan dapat melandasi ilmu Gundala Sasra dalam pelaksanaannya.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar