MENU

Ads

Kamis, 12 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 021

PdLS-05
SEKALI LAGI MAHISA AGNI MEMANDANGI AKAR WREGU itu, dan kemudian dibalutnya dengan rapi. Diselipkannya akar itu di ikat pinggangnya di bawah bajunya. Kini tangannya sekali-kali meraba hulu kerisnya. Seakan-akan ia berkata kepada pusaka itu. Kita akan menghadapi setiap kemungkinan bersama-sama untuk melindungi akar wregu putih ini.

Perlahan-lahan Mahisa Agni melangkah keluar dari ujung gua itu. Setelah sekali ia membelok maka ia sampai pada daerah yang gelap. Sekali ia masih menemui lubang udara lagi, namun sesaat kembali ia terlempar ke daerah yang kelam. Dengan sangat hati-hati dan penuh kewaspadaan Mahisa Agni berjalan sambil meraba-raba dinding. Dengan hati-hati pula ia menuruni tangga dan kemudian menyusur daerah yang lembab. Di kejauhan Mahisa Agni melihat remang-remang sinar jatuh ke dalam gua. Sinar yang masuk lewat lubang-lubang seperti yang beberapa kali telah dilihatnya.

Namun tiba-tiba langkah Mahisa Agni terhenti. Di muka sinar yang samar-samar itu ia telah melemparkan Buyut Ing Wangon. Karena ini tiba-tiba ia menjadi berdebar-debar. Apakah orang itu masih di sana? Pertanyaan itu timbul di dalam hatinya. Namun dijawabnya sendiri,

“Aku telah memiliki akar ini. Biarlah aku tidak menghiraukannya lagi.”

Kemudian Mahisa Agni itu pun bahkan mempercepat langkahnya. Ia ingin segera melampaui orang bongkok dari Wangon itu. Karena itu, maka Mahisa Agni itu pun kemudian berjalan semakin cepat pula. Tetapi sekali lagi langkahnya terhenti. Lamat-lamat ia telah mendengar suara orang itu merintih.

“Gila!” desahnya, “Kenapa orang itu masih belum pergi juga?”

Ketika sekali lagi Mahisa Agni mendengar rintihan itu terasa dadanya berdesir. Namun sambil mengatupkan giginya rapat-rapat sambil menggeram ia melangkah maju. Ia ingin melompati orang itu untuk kemudian dengan cepat meninggalkannya. Namun, desir di dadanya itu semakin lama menjadi semakin tajam. Bahkan kemudian Mahisa Agni itu terpaku di tempatnya. Ia tidak dapat maju lagi. Kini Mahisa Agni harus berjuang melawan perasaannya. Suara orang dari Wangon itu terdengar sangat memelas. Tetapi apakah yang dapat dilakukan?

Tiba-tiba Mahisa Agni itu pun berteriak sekeras-kerasnya untuk menindas perasaan yang semakin menggelora di dalam dadanya. Katanya, “He, Buyut Ing Wangon. Menepilah! Aku akan lewat, supaya kau tidak terinjak karenanya.”

“Oh,” terdengar orang itu berdesis. Tidak terlalu keras, namun Mahisa Agni dapat mendengarnya, “kaukah Empu dari Gunung Merapi itu?”

“Ya,” sahut Mahisa Agni pendek. Tetapi kemudian ia berteriak, “Aku akan membunuh siapa saja yang menghalangi aku!”

“Apakah kau sudah berhasil menemukan akar wregu itu?” terdengar Buyut itu bertanya.

“Sudah!” jawab Agni kasar, “Apakah maumu?”

“Syukur. Syukur,” gumam orang itu.

Sekali lagi dada Mahisa Agni berdesir. Dan sekali lagi ia berusaha menindas perbuatannya. Ia berteriak-teriak untuk mengusir setiap bisikan di dalam hatinya, “Pergilah supaya aku tidak membunuhmu!”

“Kau tak usah melakukannya, Ki Sanak,” terdengar suara itu semakin lemah, “sebentar lagi aku akan mati dengan sendirinya. Tidak hanya aku, tetapi beribu-ribu orang lain.”

“Persetan! Persetan!” Mahisa Agni itu berteriak-teriak seperti orang gila. Katanya seterusnya, “Pusaka ini sangat penting bagiku. Matilah orang Wangon. Matilah bersama segenap keluarga dan orang-orangmu.”

“Ya,” jawab Buyut Ing Wangon itu, “aku memang akan mati. Dan sebelum mati aku akan mengucapkan selamat kepadamu, Ki Sanak. Namun, apakah aku boleh mendengar kegunaan akar itu padamu? Biarlah aku mengetahuinya .Mungkin pengetahuan itu akan mempermudah perjalananku ke alam yang langgeng.”

Terasa dada Mahisa Agni itu bergelora. Namun seperti orang gila ia berteriak-teriak pula, “Ketahuilah, he, Buyut Ing Wangon. Pusaka ini akan menjadikan aku seseorang yang sakti pilih tanding.”

“Oh,” desah orang itu, “hanya itu?”



“Kenapa hanya itu?” ulang Mahisa Agni, “dengan kesaktianku aku akan dapat berbuat apa saja. Aku akan berbuat kebajikan dan menjunjung kebenaran. Kau dengar?”

“Ya, ya. Aku dengar. Syukurlah apabila demikian. Mudah-mudahan kau akan dapat mengamalkannya,” sahut Buyut dari Wangon. Dan perlahan-lahan orang itu berkata pula, “Tetapi Ki Sanak, apakah aku dapat menitipkan satu pesan kepadamu?”

Gelora di dalam dada Mahisa Agni semakin lama menjadi semakin keras. Setiap kata yang terpancar dari mulut orang bongkok itu serasa sebuah tusukan yang menghunjam dadanya. Meskipun demikian Mahisa Agni menyahut juga,

“Apakah pesan itu?”

“Ki Sanak,” berkata Buyut Ing Wangon yang sudah menjadi semakin lemah, “terima kasih.”

“Jangan berterima kasih kepadaku!” bentak Mahisa Agni, “aku belum menyatakan kesediaanku. Aku ingin mendengar dulu pesan itu.”

“Oh,” desah Buyut Wangon, “baiklah. Aku ingin kau menyampaikan pesanku. Katakanlah kepada orang-orang Wangon, bahwa Buyut Ing Wangon telah berusaha untuk mendapatkan obat itu. Namun ia tidak berhasil. Sampaikan permintaan maafku yang sebesar-besarnya kepada mereka, bahwa aku mati di dalam gua di mana akar wregu itu disimpan. Dengan demikian..”

“Cukup!” bentak Agni semakin keras, “jangan lanjutkan supaya aku tidak menjadi semakin marah.”

“Oh,” sekali lagi Buyut Wangon itu berdesah, “kenapa Ki Sanak menjadi marah. Atau barangkali Ki Sanak berkeberatan untuk singgah di Wangon.”

“Aku belum pernah mendengar nama padukuhan Wangon,” jawab Mahisa Agni.

“Aku dapat memberimu ancar-ancar.”

“Tidak! Tidak!” dan tiba-tiba Mahisa Agni tersandar di dinding gua. Dan tiba-tiba pula kedua telunjuk tangannya menyumbat telinganya. Teriaknya, “Jangan berbicara lagi! Jangan berbicara lagi! Aku harus memenuhi perintah guruku. Akar wregu ini harus aku bawa pulang.”

Terdengar Buyut Wangon itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengar ia berkata. Meskipun Mahisa Agni telah menyumbat kedua lubang telinganya namun suara itu masih terdengar,

“Ya. Ya. Bawalah Ki Sanak bawalah akar itu pulang.”

Mahisa Agni tiba-tiba terbungkam. Tubuhnya pun kemudian bergetar secepat getaran di dadanya. Tanpa sesadarnya Mahisa Agni itu berkata, “Bagaimanakah caramu mempergunakan akar ini untuk mengobati sakitmu itu?”

“Tak ada gunanya,” jawab orang bongkok itu.

Mahisa Agni dapat mendengar kata-katanya dengan jelas. Meskipun kedua ujung telunjuknya masih melekat di telinganya, namun ia berusaha untuk mendengar jawaban Buyut Wangon itu.

“Bukankah Ki Sanak ingin menolongku dengan mempergunakan akar itu dahulu kemudian akar itu tetap kau miliki? Tidak bisa. Tidak bisa Ki Sanak. Sebab kami harus menyayat akar itu lumat-lumat. Kemudian setiap orang yang sakit harus menelan meskipun hanya sebagian kecil dari akar itu. Akar itu akan kami lumatkan dan kami aduk dengan air sebanyak-banyaknya sehingga setiap orang dapat minum air itu sebagai obat penyakitnya.”

“Gila!” teriak Mahisa Agni, “Jadi kau ingin merampas akar ini?”

“Tidak,” sahut orang itu cepat-cepat, “aku hanya mengatakan demikian.”

“Jangan berbicara lagi!” perintah Mahisa Agni.

“Tidak. Aku tidak akan berbicara lagi. Tetapi aku ingin menjelaskan. Aku sama sekali sudah tidak bernafsu lagi memiliki akar wregu itu. Milikilah, karena padamu pun wregu itu memiliki nilai kegunaan yang tinggi. Dengan kesaktian yang akan kau peroleh, kau akan dapat melakukan pengabdian pada kemanusiaan. Kau akan dapat menolong sesama yang mengalami kesulitan-kesulitan dan kau akan melakukan tindakan perikemanusiaan. Karena itu aku sekali lagi mengucapkan selamat padamu. Kalau kau tak mau pergi ke Wangon pun tak apa pula. Sebab di sana kau mungkin juga tinggal akan menemui mayat-mayat mereka.”

Kembali Mahisa Agni terdiam. Dan tiba-tiba perjuangan di dalam dadanya menjadi dahsyat. Mahisa Agni telah mengalami berbagai rintangan dalam perjalanannya. Ia harus bertempur dengan orang-orang jahat, dengan binatang-binatang buas sampai yang terakhir dengan Empu Pedek. Semuanya dapat di atasi dengan penuh tekad dan hasrat untuk melaksanakan perintah gurunya dan demi masa depannya.

Namun ketika ia harus berhadapan dengan lawan yang terakhir maka Mahisa Agni menjadi seakan-akan lumpuh. Kini ia tidak bertempur melawan orang-orang sakti dan binatang-binatang buas. Tetapi ia harus bertempur melawan perasaan sendiri. Sebagai seorang anak yang prihatin sejak masa kecilnya, yang merasakan duka derita manusia-manusia yang sedang mengalami kesulitan-kesulitan, yang telah menerima banyak pelajaran dan pendidikan mengenai manusia dan kemanusiaan dari gurunya, yang pernah mendengar cerita tentang ibunya yang membuang diri karena tekanan perasaan yang menghimpit hati, maka kini Mahisa Agni tidak dapat mengelak lagi dari cengkeraman perasaannya.

Dengan akar wregu putih itu ia masih harus melakukan pengabdian. Ia masih harus mencari persoalan. ia masih harus menemukan ketidak adilan dan pelanggaran atas sendi-sendi kemanusiaan untuk ditegakkan dan dibelanya. Ia masih harus mencari lawan, betapa lawan yang dicarinya itu adalah orang-orang jahat. Dan sekarang kesempatan pengabdian yang nyata telah ada di hadapannya. Bukankah dengan memberikan akar wregu putih itu ia telah melakukan pengabdian kepada kemanusiaan dalam bentuk yang nyata dan langsung. Beribu-ribu orang akan terbebas dari kematian yang mengerikan.

Sakit, semakin lama menjadi semakin lemah, dan akhirnya kematian menerkamnya. Apakah dengan memiliki akar wregu putih itu kelak ia akan mendapat kesempatan untuk membela, melindungi atau tindak apapun yang dapat menyelamatkan jiwa sampai lebih dari seribu orang? Atau malahan dengan akar wregu itu ia akan menjadi takabur dan menyombongkan diri?

Pertempuran di dada Mahisa Agni itu pun menjadi semakin dahsyat. Sekali-kali terbayang wajah gurunya yang tenang sejuk dan dalam, namun sekali-kali terbayang mayat yang membujur lintang di antara pekik anak-anak dan bayi yang mencari susu ibunya. Namun ibunya telah mati, dan perlahan-lahan bayi itu akan mati pula. Gambaran-gambaran yang mengerikan semakin lama semakin jelas hilir mudik di kepala Mahisa Agni. Dan kini ia benar-benar tidak mampu lagi untuk mengelakkan diri dari terkaman-terkaman peristiwa-peristiwa yang membayanginya.

Mahisa Agni yang perkasa, yang mampu bertempur melawan orang-orang sakti dan binatang-binatang buas itu kini terduduk dengan lemahnya bersandar dinding. Sekali-sekali ia menggelengkan kepalanya untuk mengusir perasaannya yang telah melumpuhkannya. Namun perasaan itu telah melekat dengan eratnya pada dinding hatinya.

Ketika terngiang kembali pesan Buyut Ing Wangon itu kepadanya supaya disampaikan permintaan maafnya kepada orang-orang Wangon, maka Mahisa Agni menundukkan kepalanya, bahkan tiba-tiba sepasang tangannya yang kokoh seperti baja itu menutupi wajahnya. Sebab di dalam dadanya, pesan itu diperpanjangnya sendiri, katanya kepada diri sendiri di dalam hati,

“Buyut Ing Wangon itu gagal dalam usahanya, dan beribu-ribu orang mengalami bencana, karena seorang anak muda yang bernama Mahisa Agni telah merampas akar wregu itu untuk membuat dirinya sakti tiada bandingnya.”

“Oh,” Mahisa Agni mengeluh. Kini ia tidak tahan lagi melawan perasaannya, sehingga tiba-tiba dari mulutnya terdengar kata-katanya gemetar, “Ki Buyut Wangon, apakah kau yakin bahwa akar wregu ini akan dapat menyembuhkan orang-orangmu yang sakit itu?”

“He,” Buyut Wangon itu terkejut. Namun kemudian terdengar suaranya lemahnya, “aku yakin.”

Sekali lagi mereka berdua berdiam diri. Dan kembali gua itu dicengkam oleh kesepian yang mengerikan.

“Ki Buyut,” berkata Mahisa Agni kemudian, “apakah Ki Buyut ingin membuktikannya, bahwa akar wregu ini akan bermanfaat bagi penyakitmu itu?”

“Tidak Ki Sanak,” jawab Buyut Wangon itu.

“Kenapa tidak?” Mahisa Agni menjadi heran.

“Ki Sanak,” jawab orang bongkok itu, “aku bukan mencari akar wregu itu untukku sendiri. Tak ada gunanya seandainya aku dapat sembuh karenanya, namun beribu-ribu orang lain akan mati juga. Karena itu biarkanlah aku di sini.”

Tiba-tiba Mahisa Agni itu menggeleng. Dan terloncatlah dari bibirnya, “Tidak. Aku tidak dapat membiarkan kematian-kematian itu.”

“He,” sekali lagi Buyut Wangon itu terkejut, “apa maksudmu. Ki Sanak?”

Mahisa Agni menarik nafas panjang. Terdengarlah ia berkata lirih, “Ki Sanak. Bawalah akar ini kembali ke Wangon. Mudah-mudahan kalian akan benar-benar sembuh karenanya.”

“Apa katamu? Apa katamu?” orang bongkok itu tiba-tiba bergeser dan dengan susah payah ia berteriak terbata-bata, “Kau ingin memberikan akar itu kepadaku?”

“Ya,” sahut Agni pendek.

“Oh,” tiba-tiba orang itu menjadi lemah kembali. “Jangan!” katanya, “jangan. Aku ternyata terlalu mementingkan kepentinganku sendiri. Milikilah, masa depanmu masih panjang. Mudah-mudahan jagat yang gumelar ini akan dapat kau miliki dengan kesaktian itu.”

Tetapi hati Mahisa Agni menjadi semakin pedih mendengar kata-kata Buyut Wangon itu, jawabnya, “Tidak Ki Buyut. Betapapun aku akan dapat menggulung dunia seisinya, namun aku tidak akan dapat melupakan, bahwa aku telah berdiri di atas beribu-ribu mayat yang seharusnya dapat diselamatkan. Aku akan selalu ingat, bahwa kematian-kematian itu disebabkan karena keinginanku untuk menjadi seorang yang paling sakti di dunia. Dan bagiku tebusan itu terlalu mahal, sedangkan manfaatnya masih belum dapat dipastikan.”

“Oh,” orang itu pun terdengar menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Apabila demikian Ki Sanak, maka aku akan mengucapkan terima kasih yang tak ada batasnya. Juga orang-orang Wangon dan sekitarnya akan berterima kasih pula kepadamu. Karena itu, apabila benar kau ingin menyerahkan akar wregu itu. Marilah. Aku antarkan kepadanya. Serahkanlah sendiri akar wregu milikmu itu. Dan kau akan diangkat menjadi pelindung mereka, atau tetua mereka atau apa saja yang dapat diberikan kepadamu.”

Mahisa Agni menggeleng lemah. Jawabnya, “Tidak Ki Sanak. Kau adalah tetua di daerahmu. Bawalah akar ini kepada mereka.”

“Kenapa kau tak mau singgah ke Wangon?”

“Tidak. Bawalah. Marilah, terimalah akar ini.”

Mahisa Agni dengan lemahnya merangkak maju. Dan dengan tangan yang gemetar dicabutnya akar wregu itu dari dalam bajunya. Ketika teraba benda itu, kembali ia menjadi ragu-ragu. Namun ketika kembali bayangan mayat-mayat yang bergelimpangan hadir di dalam rongga matanya, maka betapapun beratnya, akar wregu putih itu diserahkannya pula.

“Inilah,” katanya.

Ternyata Buyut Ing Wangon itu telah benar-benar menjadi sedemikian lemahnya. Tidak saja karena ia terbanting di lantai gua dan membentur batu-batu padas, namun katanya,

“Penyakitku telah hampir sampai ke otakku. Sesaat lagi aku sudah akan mati.”

“Tidak!” sahut Agni, “Karena itu cepat, terimalah akar ini. Dan kaulah yang pertama-tama akan tahu khasiatnya, apakah akar ini benar-benar bermanfaat bagi penyakitmu.”

“Oh,” jawab Buyut bongkok itu, “kau benar. Marilah, aku terima akar itu dengan mengucap syukur kepada Yang Maha Agung.” Tangan Buyut Wangon yang sangat lemah itu pun bergerak-gerak menggapai akar yang diberikan Mahisa Agni kepadanya. Demikian ia menyentuh benda itu, maka katanya, “Tolong Ki Sanak, uraikan pembalutnya.”

Mahisa Agni pun memenuhi permintaan itu. Dan diberikannya kemudian akar wregu putih itu kepada Buyut Wangon yang sudah sedemikian lemahnya. Dengan serta-merta, tangan yang lemah dan gemetar itu telah membawa akar wregu putih itu ke mulutnya. Digigitnya ujung akar itu sedikit. Dan bergumamlah Buyut Ing Wangon itu,

“Alangkah pahitnya.”

Mahisa Agni tidak menyahut sepatah kata pun. Dibiarkannya Buyut Ing Wangon itu mengunyah sepotong serat yang kecil, sekecil sebutir beras. Dengan berdebar-debar ia menunggu, apakah akar itu benar-benar akan berpengaruh bagi penyakit yang aneh itu. Sesaat kemudian Mahisa Agni dicengkam oleh ketegangan. Kali ini bukan karena ia takut kehilangan akar wregu putih itu, namun ia ingin menyaksikan, apa yang akan terjadi dengan Ki Buyut Wangon itu.

Perlahan-lahan Mahisa Agni mendengar Buyut Ing Wangon itu berdesis, kemudian terdengar ia bergumam, “Perutku dan seluruh tubuhku terasa dijalari oleh arus yang panas.”

Mahisa Agni tidak menyahut. Ia tidak tahu, apakah arus panas di dalam tubuh Buyut Wangon itu menguntungkan atau bahkan sebaliknya. Karena itu ia masih berdiam diri dan memandangi bayangan Buyut Ing Wangon itu dengan wajah yang tegang. Sesaat kemudian terdengar Buyut Wangon itu berdesis. Tetapi kemudian, kembali ia mengeluh,

“Alangkah panasnya.”

Mahisa Agni ikut menjadi gelisah karenanya. Namun ia ikut pula berdoa di dalam hatinya, “Mudah-mudahan akar wregu itu benar-benar dapat menolongnya.”

Gua itu kemudian seakan-akan telah tenggelam ke dalam kesepian yang tegang. Hanya kadang-kadang Mahisa Agni melihat Buyut Ing Wangon itu menggeliat, namun kemudian diam kembali. Hanya nafasnya sajalah yang terdengar berkejaran dari lubang hidungnya. Dengan demikian Mahisa Agni itu pun menjadi bertambah cemas. Jangan-jangan akar wregu putih itu telah menambah sakit Buyut dari Wangon menjadi bertambah parah. Tetapi kemudian Mahisa Agni terkejut, ketika terdengar Buyut itu menarik nafas dalam-dalam. Dan terdengarlah ia berkata,

“Alangkah segarnya tubuhku kini.”

Mahisa Agni menggeser maju. Terdengar ia bertanya, “Apakah keadaan Ki Buyut menjadi berangsur baik?”

“Ya,” jawab Ki Buyut, “aku menjadi baik kembali. Setidak-tidaknya sakitku tidak menjadi bertambah parah. Tetapi aku rasa bahwa sebagian kekuatanku justru telah pulih kembali.”

“Syukurlah,” desis Mahisa Agni, “mudah-mudahan akar itu bermanfaat bagi Ki Buyut. Nah, selagi masih ada kesempatan. Pulanglah ke Wangon dan selamatkanlah orang-orang di daerah itu.”

“Terima kasih,” sahut Ki Buyut, “terima kasih. Namamu akan tetap kami kenangkan, Empu Pedek dari Gunung Merapi.”

“Oh,” Mahisa Agni menggeleng, “Aku bukan Empu Pedek dan Gunung Merapi.”

Buyut Ing Wangon itu terkejut. Katanya, “Bukankah kau sebut namamu Empu Pedek? Dan bukankah kau katakan kau datang dari kaki Gunung Merapi?”

“Bukan Ki Buyut,” sahut Mahisa Agni, “aku adalah Mahisa Agni dari kaki Gunung Kawi.”

“Oh,” orang yang bongkok itu menjadi heran, “jadi siapakah Empu Pedek dari kaki Gunung Merapi?”

“Aku tidak tahu, “ jawab Mahisa Agni. Namun dengan demikian teringatlah olehnya seorang yang timpang yang mungkin telah menunggunya di kaki lereng gundul ini. Karena itu maka katanya, “Ki Buyut, yang kuketahui dengan Empu Pedek itu adalah, bahwa ia telah berusaha untuk menahan perjalananku. Aku bertempur dengan orang itu di bawah lereng gua ini.”

“Jadi kau bahkan telah bertempur dengan orang itu?”

“Ya.”

“Kalau demikian, maka nama Mahisa Agni akan tetap terpatri di dalam setiap hati penduduk Wangon. Seorang tukang yang paling cakap akan menulis nama itu di gapura-gapura padukuhan dan seorang pujangga yang paling baik akan menulis nama itu di lontar-lontar yang akan disimpan di pura-pura di seluruh daerah Wangon dan sekitarnya.”

“Jangan!” jawab Mahisa Agni, “Aku akan bergembira apabila beribu-ribu orang itu akan sembuh. Dan aku akan bergembira apabila mereka dapat melangsungkan hidup keturunan mereka seterusnya.”

“Mengagumkan,” desah Buyut dari Wangon itu.

Mahisa Agni terkejut ketika ia mendengar Buyut Wangon itu tiba-tiba berkata dengan gemetar, “Sungguh tak ada duanya. Kau benar-benar manusia yang terpuji.”

“Jangan memuji,” sahut Mahisa Agni, dan kemudian dilanjutkannya, “Nah, sebaiknya, apabila Ki Buyut telah dapat menempuh perjalanan pulang, pulanglah sebelum terlambat.”

“Baik,” jawab Buyut itu, “aku akan segera pulang. Mudah-mudahan aku tidak terlambat. Apabila aku terlambat, maka aku akan mengembalikan akar wregu putih ini kepadamu. Aku cari kau ke kaki Gunung Kawi. Apakah nama padukuhanmu?”

“Panawijen,” jawab Mahisa Agni tanpa sesadarnya.

Buyut Wangon itu pun perlahan-lahan mencoba untuk berdiri. Dan ternyata ia berhasil. Bahkan kemudian katanya, “Aku telah dapat berjalan seperti pada saat aku datang kemari.”

“Syukurlah,” sahut Mahisa Agni.

Buyut dari Wangon itu pun kemudian berjalan terbongkok-bongkok ke arah mulut gua. Seperti orang yang kehilangan kesadaran, Mahisa Agni mengikutinya dari belakang. Mereka berjalan-jalan menyusur jalan yang mereka lalui semula. Namun kini perlahan-lahan sekali. Sebab orang bongkok itu benar-benar tak dapat berjalan lebih cepat dari seekor siput. Meskipun demikian Mahisa Agni dengan telatennya berjalan saja di belakangnya.

Perjalanan itu benar-benar makan waktu yang panjang sekali. Ketika mereka telah sampai di mulut gua, maka yang mereka lihat hanyalah warna-warna hitam melulu. Hari telah malam. Ketika Mahisa Agni melihat orang bongkok itu akan menuruni tebing, maka dicobanya untuk mencegahnya,

“Ki Buyut, adalah lebih baik Ki Buyut menuruni lereng ini besok pagi, apabila hari telah menjadi terang Adalah berbahaya untuk melakukannya sekarang.”

Ki Buyut itu menggeleng. “Tidak,” jawabnya, “aku tidak mau terlambat. Biarlah aku menuruni tebing ini perlahan-lahan, namun aku tidak banyak kehilangan waktu.”

Buyut itu benar-benar tak mau dicegah lagi. Karena itu, justru Mahisa Agni tidak sampai hati membiarkannya turun sendiri. Betapapun sulitnya, maka Agni itu pun turut serta menuruni lereng yang curam itu pada saat itu juga. Apalagi perjalanan menuruni tebing ini. Buyut Ing Wangon itu dengan hati-hatinya merayap setapak demi setapak. Tubuhnya yang bongkok itu ternyata menambah perjalanannya menjadi semakin sulit.

Mahisa Agni yang merayap di belakangnya kadang-kadang sangat cemas, dan seakan-akan ingin ia mendukungnya. Tetapi Mahisa Agni itu terperanjat ketika dengan gembiranya Buyut dari Wangon itu berkata,

“Ki Sanak, tubuhku benar-benar telah pulih kembali. Perjalananku menjadi sangat menggembirakan. Aku tidak menemui kesulitan-kesulitan apapun.”

“Syukurlah,“ sahut Mahisa Agni.

Namun ternyata perjalanan itu tidak bertambah cepat. Dalam kegelapan mereka hanya dapat mengenal jalan dengan meraba-raba dan kadang-kadang mereka terpaksa berhenti untuk beberapa lama. Menuruni tebing yang curam di malam hari adalah pekerjaan yang cukup berbahaya. Namun untunglah mata Mahisa Agni yang terlatih itu cukup tajam untuk melihat batu-batu padas yang menjorok di sekitarnya sehingga betapapun sulitnya, tetapi ia dapat juga mempergunakan setiap keadaan untuk mempermudah penurunan itu.

Meskipun demikian, Mahisa Agni tidak dapat turun lebih cepat lagi. Buyut Ing Wangon itu benar-benar merayap lambat sekali. Tetapi Mahisa Agni pun dapat menyadari keadaannya. Seorang yang telah lanjut usia, bertubuh bongkok dan baru saja ia kehilangan hampir segenap kekuatannya. Apalagi orang itu sama sekali tidak memiliki kelebihan apapun dari manusia biasa. Ia tidak mempelajari apapun tentang keterampilan jasmaniah, sehingga untuk melakukan pekerjaannya itu, ia harus bekerja, dengan penuh ketekunan dan tekad.

Inilah yang mengagumkan Mahisa Agni. Ternyata tekad yang tersimpan di dalam dada orang Wangon itu pun tidak kalah bulatnya dari tekad yang tersimpan di dalam dadanya. Sehingga betapapun sulitnya perjalanan, namun Buyut dari Wangon itu sampai juga ke dalam gua. Dan tekad itu ternyata juga pada saat mereka menuruni tebing itu. Perjalanan itu pun memerlukan waktu yang sangat panjang. Tetapi Buyut dari Wangon itu berjalan terus, seakan-akan ia tidak mengenal lelah dan tidak menemui kesulitan-kesulitan apapun.

Demikian, meskipun lambat, akhirnya mereka sampai juga di bawah lereng gundul itu. Mengagumkan sekali. Bahkan hampir-hampir Mahisa Agni tidak percaya, bahwa orang bongkok itu telah berhasil melampaui perjalanan yang sedemikian sulitnya di malam hari. Sehingga dengan demikian Mahisa Agni bergumam,

“Luar biasa, Ki Buyut. Ternyata Ki Buyut memiliki tenaga yang luar biasa pula.”

“Tidak Ki Sanak. Untunglah bahwa aku mencoba memperhatikan setiap lekuk dan batu-batu padas yang menjorok, sehingga aku dapat memilih jalan meskipun malam begini gelap.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian terdengar ia berkata, “Nah, apakah yang akan Ki Buyut lakukan?”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar