BAGIAN II – Bunga Kembang Di Angin Kencang
Ketika Matahari menjenguk dari punggung cakrawala di timur, maka warna-warna yang kelam di dalam hutan di kaki Gunung Semeru itu pun menjadi cair pula karenanya. Mahisa Agni perlahan-lahan menggeliat. Kemudian memandang berkeliling. Dilihatnya gurunya duduk menunggunya seperti seorang yang sedang bersemadi. Namun ketika dilihatnya Mahisa Agni terbangun maka orang tua itu pun kemudian tersenyum.
“Tidur yang nyenyak, Agni. Apakah kau bermimpi?”
Mahisa Agni pun tersenyum pula. Perlahan-lahan ia bangkit dan duduk di muka gurunya. Diamat-amatinya tubuhnya seperti ada sesuatu yang tidak dikenalnya pada dirinya. Namun demikian, sebelum ia bertanya kepada gurunya, dicobanya untuk mengetahuinya sendiri, perubahan-perubahan apakah yang telah terjadi pada dirinya itu. Tubuhnya kini terasa betapa segar dan ringan. Darahnya yang hangat serta detak jantungnya, tarikan nafasnya dan simpul-simpul sarafnya seakan-akan menjadi semakin teratur dan dikenalnya dengan sempurna.
Ketika kemudian dikenangnya apa yang telah terjadi kemarin, maka segera disadarinya, bahwa pasti ada perubahan di dalam dirinya itu. Empu Purwa itu melihat betapa muridnya menjadi heran atas keadaan diri. Karena itu maka katanya,
“Agni, adakah sesuatu yang lain kau rasakan dalam dirimu?”
“Ya, Guru,” jawab Mahisa Agni.
Gurunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dirabanya tubuh muridnya. Dipijatnya setiap simpul-simpul syaraf dan nadinya pada punggung dan tengkuk muridnya. Sebagai seorang yang telah mengenal setiap simpul-simpul tubuh manusia, maka segera Empu Purwa mengetahui, bahwa tubuh Mahisa Agni pun telah terbuka. Maka katanya,
“Agni, apakah yang terjadi pada dirimu?”
Mahisa Agni mencoba mengingat semua peristiwa yang tampak olehnya dalam pemusatan pikiran, perasaan dan angan-angannya. Satu demi satu, sehingga akhirnya semuanya menjadi gelap.
“Mahisa Agni,” berkata gurunya, “peristiwa yang terjadi dalam dunia yang tak kasatmata itu, tidak sama bagi setiap orang yang menjalani pemusatan pikiran, perasaan dan angan-angan seperti yang kau lakukan. Semuanya itu tergantung atas tanggapannya terhadap dunia besar dari dunia kecilnya. Juga sikap yang kau lihat itu pun tergantung pada unsur-unsur gerak yang paling merangsang dalam dirimu. Namun, adalah satu persamaan, bahwa kau telah diizinkan oleh Yang Maha Agung, untuk menguasai cara-cara yang sebaik-baiknya untuk mengungkapkan setiap kekuatan di dalam tubuhmu.”
Terasa dada Mahisa Agni berdesir halus. Sekali lagi ia mengucap syukur di dalam hatinya atas karunia itu. Dan karena itu maka betapa ia menjadi terharu. Dengan demikian, maka tak sepatah pun yang dapat diucapkannya, karena kerongkongannya tiba-tiba serasa tersumbat.
Apalagi ketika kemudian gurunya itu berkata kepadanya, “Agni. Berdirilah. Lihatlah ke sekelilingmu. Dan cobalah, apakah kau benar-benar mampu menyalurkan kekuatan-kekuatan di dalam tubuhmu.” Dada Mahisa Agni kini menjadi berdebar-debar. Ditatapnya wajah gurunya seakan-akan minta penjelasan. Sehingga kemudian gurunya itu pun berkata, “Berdirilah. Bersikaplah menurut ungkapan indramu dalam unsur-unsur gerak yang paling merangsang dalam dirimu. Salurkanlah kekuatan di dalam tubuhmu ke bagian-bagian tubuh yang kau kehendaki. Niscaya kau akan berhasil.”
Perlahan-lahan Mahisa Agni itu pun berdiri. Meskipun dengan agak ragu-ragu, namun ia melangkah pula agak menjauh. Dipandangnya keadaan di sekelilingnya. Yang ada hanyalah pokok-pokok kayu dan gumpalan-gumpalan batu padas yang berbongkah-bongkah.
“Mulailah Agni,” berkata gurunya.
Mahisa Agni mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “Akan aku coba, Guru.”
Mahisa Agni itu pun kemudian berdiri tegak. Dipusatkannya segenap kekuatan batinnya, diaturnya jalan pernafasannya seperti yang telah dipelajarinya. Ketika terasa di dalam dadanya getaran-getaran yang bergerak-gerak, maka dicobanya untuk mengaturnya dan menyalurkannya ke telapak tangannya.
Tiba-tiba seakan-akan digerakkan oleh tenaga yang tak dikenalnya, Mahisa Agni itu pun mengangkat kedua tangannya, kemudian disilangkannya kedua tangannya itu di muka dadanya, sedang keempat jari-jarinya tegak merapat. Satu kakinya pun kemudian terangkat ke depan. Dan ketika getaran yang mengalir dari pusat dadanya dan dari bagian-bagian tubuhnya yang lain seakan-akan telah mengendap di telapak tangannya, maka Mahisa Agni itu pun meloncat maju. Dengan telapak tangannya ia memukul sebongkah batu padas yang telah menjadi kehitam-hitaman. Betapa dahsyat tenaganya. Batu itu pun seolah-olah meledak dan pecah berserakan. Mahisa Agni sendiri terkejut melihat akibat dari pukulannya. Namun ketika ia berpaling kepada gurunya, dilihatnya gurunya tersenyum.
“Bagus Agni,” berkata gurunya, “sekarang lepaskanlah kekuatan-kekuatan itu dan salurkan kembali ke tempatnya.”
Mahisa Agni menarik nafas. Diangkatnya kedua tangannya merentang. Dan terasa otot-ototnya seakan-akan mengendur kembali.
“Kau harus melatihnya setiap kali Agni,” berkata gurunya, “namun ingatlah bahwa ilmu itu, yang kau sebut untuk seterusnya aji Gundala Sasra, bukan seperti permainan kanak-kanak yang dapat kau pamerkan setiap saat. Tekunilah dan dalamilah. Namun aku akan bergembira kalau kau tidak perlu mempergunakannya.”
Gurunya itu berhenti sesaat, kemudian katanya pula, “Agni, kelak apabila ilmu itu telah mapan di dalam tubuhmu, maka kau tidak akan memerlukan waktu lagi untuk melepaskannya. Sesaat saja, setiap kau kehendaki. Namun mudah-mudahan itu tidak akan terjadi.”
Mahisa Agni itu pun perlahan-lahan duduk kembali. Betapa dadanya seakan-akan bergolak. Berbagai perasaan merayap-rayap tak menentu. Bangga, gembira namun disadarinya pula tanggung jawabnya atas ilmunya itu. Dan wajah Mahisa Agni pun tertunduk karenanya. Namun pekerjaannya yang berat kini telah lampau. Masa pengasingan di hutan yang sepi itu pun telah lampau pula. Karena itu, maka akan datang masa berikutnya, kembali ke Panawijen dalam pergaulan antar manusia untuk mendapatkan kesempatan mengamalkan ilmunya dengan wajar dan bertanggung jawab.
Matahari yang merayap di kaki langit itu semakin lama menjadi semakin tinggi pula. Empu Purwa yang masih saja duduk di atas batu padas itu pun kemudian berdiri. Diamatinya beberapa coretan pisau di sebatang pokok kayu. Dihitungnya setiap goresan dan kemudian katanya,
“Empat puluh dua. Ya, kau telah tinggal di dalam hutan ini selama empat puluh dua hari Agni, selain hari-hari yang pernah kau tempuh untuk sampai ke tempat ini. Hari ini adalah hari yang keempat puluh tiga.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Telah cukup lama ia meninggalkan padepokan Panawijen. Meninggalkan sahabatnya Wiraprana. Ibunya dan gadis momongan ibunya, Ken Dedes. Dan tiba-tiba tumbuhlah perasaan rindu kepada padukuhannya itu. Meskipun demikian, Mahisa Agni menunggu apa yang akan dikatakan oleh gurunya. Ia mengharap bahwa gurunya itu akan membawanya pulang ke padepokan.
Ternyata gurunya itu pun kemudian berkata, “Mahisa Agni. Kita telah terlalu lama meninggalkan padepokan. Karena itu, apabila telah memungkinkan, pulanglah kau ke Panawijen. Padepokan itu telah hampir tiga bulan kesepian.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya, jawabnya, “Guru. Aku sebenarnya memang telah rindu pada padukuhan itu. Tetapi bukankah kita akan kembali bersama-sama?”
Empu Purwa menggeleng lemah. Katanya, “Berjalanlah dahulu Agni. Aku masih akan singgah beberapa hari di tempat sahabat-sahabatku yang telah lama tak pernah aku kunjungi. Mumpung aku sampai di tempat ini pula. Namun tak ada soal yang penting. Aku hanya akan sekedar mengunjunginya. Bukankah kau berani berjalan sendiri?”
Mahisa Agni tersenyum mendengar pertanyaan gurunya. Empu Purwa itu tersenyum pula. Hari itu adalah hari terakhir. Mahisa Agni seolah-olah berada di dalam pengasingan. Bersama gurunya mereka berdua pergi meninggalkan tempat itu. Tempat yang tak akan terlupakan bagi Mahisa Agni. Tempat ia menerima anugerah yang tak ternilai harganya bagi masa depannya. Tetapi mereka berdua tidak seterusnya berjalan bersama-sama. Gurunya itu pun kemudian memisahkan diri. Ia masih ingin mengunjungi sahabat-sahabatnya yang telah lama tidak pernah ditemuinya.
Kini kembali Mahisa Agni berjalan seorang diri. Ditempuhnya jalan yang hampir dua bulan yang lalu dilewatinya. Menyusur tepi rawa-rawa ke arah timur. Dan Mahisa Agni itu pun tidak takut lagi bertemu dengan orang timpang yang menamakan dirinya Empu Pedek. Menggelikan sekali. Betapa ia tidak mengenal orang yang timpang itu. Ia bergaul dengan gurunya hampir setiap saat. Namun dengan berjalan seakan-akan timpang ia telah menjadi pangling.
Kini Mahisa Agni dapat berjalan jauh lebih cepat daripada saat ia datang. Jalan-jalan yang dilampauinya seakan-akan telah dikenalnya baik-baik, sehingga ia tidak perlu lagi bertanya-tanya kepada diri dan memilih-milih supaya tidak tersesat. Karena itu, maka waktu yang diperlukannya pun jauh lebih pendek dari waktu yang dipergunakannya dahulu.
Maka karena itu pula, Mahisa Agni sebelum senja telah sampai ke padukuhan kecil yang dahulu dilewatinya pula. Padukuhan yang oleh penduduknya disebut padukuhan Kajar. Tetapi ketika Mahisa Agni sampai di ujung padukuhan, ia menjadi heran. Matahari masih tampak di langit, walaupun sudah amat rendahnya, seakan-akan hinggap di punggung gunung. Namun padukuhan itu tampaknya sudah terlalu sepi. Tak seorang pun yang dapat ditemui oleh Mahisa Agni sebagaimana ia melihatnya dahulu. Penduduk padukuhan kecil yang rajin itu kini seakan-akan telah lenyap ditelan hantu. Rumah-rumah yang kecil di padukuhan itu pun tampaknya tertutup rapat, seakan-akan menolak kedatangannya.
Tetapi karena itu justru sangat menarik perhatian Mahisa Agni. Dalam waktu hampir dua bulan ia tidak melihat perubahan apapun di padukuhan kecil itu, namun perubahan suasananya terasa sekali. Mahisa Agni masih saja berjalan menyusuri jalan berbatu-batu di tengah-tengah padukuhan itu. Ia menjadi berdebar-debar ketika dilihatnya sebuah pondok kecil di tepi jalan itu. Di dekat pondok itu dahulu ia bertanya kepada seorang tua yarg ramah. Seorang tua yang berjanggut putih dan berambut putih.
“Apakah rumah itu rumah orang tua yang baik itu?” berpikir Mahisa Agni.
Sesaat ia menjadi ragu-ragu. Namun kemudian katanya di dalam hati, “Ah, aku sama sekali tak bermaksud jelek. Bukankah orang tua itu dahulu mengajak aku singgah ke rumahnya?”
Maka kemudian dengan ragu-ragu Mahisa Agni memasuki regol halaman itu dan perlahan-lahan berjalan melintasi beberapa pokok pohon samboja dan tempat-tempat sesaji, langsung menuju ke pintu rumah. Perlahan-lahan pula Mahisa Agni mengetuk pintu rumah itu. Sekali, dua kali bahkan sampai tiga kali, suara ketukannya tidak mendapat sambutan. Namun telinga Mahisa Agni yang tajam mendengar langkah orang di dalam rumah itu. Gemeresik dinding pintu dan nafas orang di balik pintu itu.
“Ah, seseorang telah mengintip dari balik pintu,” katanya di dalam hati.
Karena itu ia tidak mengetuk lagi. Ia menunggu, apakah kehadirannya akan diterima, atau tidak. Sesaat kemudian ternyata pintu itu terbuka. Benarlah dugaannya, rumah itu adalah rumah orang tua yang dahulu pernah memberinya beberapa keterangan. Namun ia menjadi heran ketika dengan tergesa-gesa orang itu bertanya,
“Ngger, siapakah Angger ini?”
“Aku Mahisa Agni, Bapak. Hampir dua bulan yang lalu aku pernah lewat di padukuhan ini. Bukankah Bapak pernah memberi aku beberapa petunjuk untuk mencapai rawa-rawa di sebelah selatan?”
Orang tua itu mengingat-ingat sebentar. Kemudian katanya, “Oh, ya. Aku ingat sekarang. Angger datang dari Gunung Kawi?”
Mahisa mengangguk sambil menjawab, “Ya, Bapak.”
“Marilah, marilah masuk,” ajak orang itu.
Dan sebelum Mahisa Agni menjawab, dengan serta-merta orang tua itu menarik lengan Mahisa Agni. Mahisa Agni tidak menolak. Dan demikian ia melangkah pintu, demikian orang tua itu dengan tergesa-gesa menutup pintunya kembali. Mahisa Agni pun menjadi semakin heran. Seolah-olah di luar rumah itu sedang berkeliaran hantu-hantu, sehingga orang tua itu menjadi ketakutan. Dengan nafas yang terengah-engah seperti orang baru saja berlomba lari orang itu mempersilakan Mahisa Agni duduk di atas selembar tikar anyaman,
“Silakan Ngger, silakan duduk.”
Mahisa Agni itu pun duduk pula. Diletakkannya tongkat kayu serta bungkusannya. Dan dengan sebuah anggukan Mahisa Agni menjawab, “Terima kasih, Bapak.”
“Ah,” desah orang tua itu, “hampir aku melupakan Angger. Bukankah Angger pernah lewat di jalan di muka rumah ini? Ah, Angger ternyata sekarang menjadi kurus. Jauh lebih kurus dari saat Angger lewat dahulu.”
Tanpa sesadarnya Mahisa Agni mengamat-amati tangannya. Memang ia menjadi bertambah kurus. Meskipun demikian ia menjawab, “Tidak Bapak. Aku tidak menjadi kurus.”
Orang itu tertawa. Tetapi tampaklah kegelisahan membayang di wajahnya. Namun demikian Mahisa Agni masih belum menanyakan sesuatu kepadanya. Orang tua itu pun kemudian pergi sesaat ke belakang. Ketika ia kembali dibawanya dua bumbung legen. Diserahkannya,
“Marilah Ngger, barangkali Angger haus.”
Mahisa Agni menerima bumbung itu. Alangkah segarnya setelah hampir tiga bulan tak pernah dihirupnya minuman, selain air. Air dingin. Kini legen yang manis. Namun kegelisahan orang tua itu ternyata mempengaruhi perasaan Mahisa Agni. Ia pun menjadi gelisah pula. Apakah kehadirannya itu tidak berkenan di hati orang tua itu. Atau ada sesuatu yang lain. Karena, itu, akhirnya Mahisa Agni tidak dapat menahan diri lagi, sehingga kemudian katanya,
“Bapak, alangkah sepi padukuhan ini. Masih jauh menjelang senja, rumah-rumah sudah tertutup rapat. Di jalan padukuhan ini, aku sudah tidak menjumpai seorang pun yang berjalan. Jangan berjalan, di halaman pun tak aku lihat seseorang.”
Orang tua itu mengerutkan keningnya. Kemudian setelah berdiam diri beberapa saat ia menjawab, “Untunglah Angger tak bertemu seseorang?”
Mahisa Agni menjadi semakin heran. Karena itu ia menyahut, “Kenapa?”
Orang itu dengan gelisahnya memandangi pintu rumahnya. Setelah sesaat ia berdiam diri, maka jawabnya perlahan-lahan sekali seakan-akan ia sedang mengucapkan sebuah rahasia yang tak boleh didengar oleh orang lain, katanya,
“Padukuhan ini sebenarnya tidak sesepi sekarang ini, Ngger.”
Mahisa Agni mengangguk. Memang pada saat ia lewat dahulu, dilihatnya penduduknya yang rajin dan ramah. Rumah-rumah terbuka lebar dan anak-anak bermain-main di halaman. Maka didengarnya orang tua itu berkata selanjutnya,
“Namun saat ini padukuhan yang kecil ini sedang mengalami ketakutan.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia sudah menyangka bahwa sesuatu yang tidak wajar pasti sudah terjadi. Maka Mahisa Agni itu pun kemudian bertanya,
“Apakah yang mencemaskan penduduk padukuhan ini?”
“Terkutuklah anak itu!” desis orang tua itu. Tetapi dengan cemasnya ia berkali-kali menatap daun pintu leregnya. Katanya selanjutnya, “bersedihlah ibunya yang telah melahirkannya dan menyesallah padukuhan ini, yang telah memberinya kesempatan untuk dibesarkan. Karena akhirnya, terkutuklah anak itu.”
“Kenapa?” bertanya Mahisa Agni mendesak.
“Anak itu sebenarnya bukan anak yang jahat,” sahut orang tua itu, “ia adalah salah satu dari anak-anak keluarga padukuhan ini. Seperti anak-anak yang lain, ia adalah anak yang rajin dan bekerja dengan tekun membantu orang tuanya. Tetapi ketika ia menginjak umur sebelas dua belas tahun, anak itu dibawa oleh pamannya ke rantau. Ternyata di sana bertemulah anak itu dengan seorang guru. Terkutuk pulalah guru itu. Itulah sebabnya maka anak itu menjadi jahat.
Diajarinya oleh gurunya ilmu-ilmu yang kasar. Berkelahi dan bertempur. Oh, alangkah jahatnya ilmu itu. Kenapa seseorang mesti belajar berbuat hal-hal semacam itu. Kenapa seseorang mesti melatih diri untuk berbuat kekasaran antara sesama. Aku benar-benar tidak mengerti. Dan beberapa orang ternyata telah melakukannya. Di antaranya anak itu. Dan ia kemudian menjadi sakti pula karenanya. Dan kesaktiannya itulah yang menjadikan anak itu seperti anak yang gila.”
Mahisa Agni mendengar kata demi kata itu dengan wajah yang tunduk. Inilah salah satu contoh dari seorang anak muda yang lepas kendali. Anak muda yang memiliki kesaktian, namun kesaktiannya itu akhirnya telah menakut-nakuti orang di sekitarnya. Tiba-tiba ia merasa bahwa ia telah dihadapkan pada satu cermin di mana ia dapat melihat dirinya sendiri.
Dalam pada itu orang itu berkata seterusnya, “Siang malam aku berdoa mudah-mudahan dilenyapkanlah ilmu-ilmu semacam itu dari dunia ini, sehingga kami, orang-orang lemah ini akan dapat menikmati hidup kami dengan tenteram.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia sadar bahwa kata-kata itu sama sekali tidak ditunjukkannya kepadanya, namun ia merasa perlu juga untuk menjawab. Katanya,
“Bapak. Yang salah menurut hematku bukan ilmunya. Tetapi karena ilmu itu dimiliki oleh seseorang, maka segala sesuatu tergantung sekali kepada orang itu. Ia dapat memanfaatkan ilmunya untuk tujuan-tujuan yang sebaliknya. Mempergunakan ilmunya untuk tujuan-tujuan yang baik.”
“Apakah tujuan yang baik itu? Dapatkah tujuan yang baik itu dilandasi oleh kekerasan dan kekasaran semacam itu?”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun sebelum ia sempat menjawab, ia pun menjadi terkejut. Seorang perempuan yang telah melampaui umur setengah abad, berlari terjingkat-jingkat dari ruang dalam. Kemudian dengan cemasnya ia berbisik,
“Kiai, o Kiai, jangan sekali-kali menyebut-nyebut tentang anak itu. Lihatlah, ia lewat di jalan di muka rumah kita. Aku telah mengintipnya dari dapur.”
Orang tua itu pun tiba-tiba menjadi pucat. Dengan gemetar ia merangkak ke dinding rumahnya. Setelah ditemukannya sebuah lubang di antara anyaman dindingnya, maka ia pun mengintip pula.
“Oh, apakah ia anak hantu?” desisnya.
“Jangan Kiai,” potong perempuan tua, yang ternyata adalah istrinya, “ia tahu apa yang diucapkan oleh setiap orang tentang dirinya.”
Orang itu masih mengintip dari lubang dinding. Dan tiba-tiba Mahisa Agni pun ingin mengintip pula. Ia ingin melihat orang yang telah menakut-nakuti seluruh padukuhan ini. Karena itu pun segera Mahisa Agni mencari lubang pula di antara anyaman. Dan sebenarnyalah, dilihatnya seorang laki-laki lewat di jalan di muka rumah itu. Meskipun tidak begitu jelas, namun Mahisa Agni dapat melihatnya, seorang anak muda yang bertubuh tinggi tegap berdada bidang. Namun ia tidak dapat mengenal wajah anak muda itu dengan cermat.
“Oh, ampun,” tiba-tiba orang tua itu berdesis.
Mereka melihat orang yang mereka takuti itu berhenti di depan regol halaman. Sesaat diamat-amatinya regol itu, kemudian dilontarkannya pandangan matanya yang tajam itu ke pintu rumah. Mahisa Agni yang ikut serta mengintip itu pun ikut berdebar-debar pula. Didengarnya dengan jelas, nafas orang tua itu tersengal-sengal, bahkan perempuan tua di belakangnya itu pun telah menjadi semakin pucat. Tetapi orang tua itu kemudian menarik nafas dalam-dalam. Ternyata anak muda yang mereka takuti itu tidak masuk ke halaman. Setelah ia berhenti dengan ragu-ragu, maka kemudian anak muda itu meneruskan langkahnya menyusuri jalan-jalan padukuhan tempat kelahirannya.
“Oh,” desis orang tua itu pula, “diselamatkannya kita oleh dewa-dewa.”
Meskipun demikian, seakan-akan ia masih belum percaya pada penglihatannya, sehingga untuk beberapa lama masih saja ia berjongkok mengintip. Baru setelah ia yakin, bahwa orang yang mereka takuti itu telah pergi, maka beringsutlah orang tua itu dari tempatnya, kembali duduk di atas tikar anyaman sambil mempersilakan Mahisa Agni,
“Duduklah, Ngger.”
Mahisa Agni pun kemudian duduk kembali di tempatnya. Dilihatnya laki-laki tua itu masih gelisah dan cemas. Namun ia mencoba tersenyum. Katanya, “Sudahlah Nyai, pergilah ke dapur. Anak itu telah pergi.”
Perempuan itu menyahut, “Jangan membicarakannya. Ia akan mendengarnya. Dan ia akan datang kemari.”
Laki-laki itu tidak menjawab. Dipandanginya istrinya sampai di balik dinding. Kemudian setelah istrinya itu tidak kelihatan lagi, maka katanya, “Semua orang menjadi sedemikian ketakutan sampai orang tidak berani menyebut namanya. Ternyata istriku juga dan aku agaknya akan menjadi takut pula.”
“Siapakah namanya,” tiba-tiba saja Mahisa Agni melontarkan pertanyaan itu.
Orang tua itu terkejut mendengar pertanyaan Mahisa Agni. Jawabnya, “Jangan bertanya namanya Angger.” Mahisa Agni tersenyum. Dan orang itu menjadi heran melihat senyum itu. Katanya, “Aku tidak sedang berolok-olok, Ngger. Aku berkata sebenarnya.”
“Bapak tadi telah mengutuknya. Kalau ia mengetahui setiap orang yang memerkarakan dirinya, kenapa ia tidak singgah kemari dan mempersoalkannya?”
Laki-laki itu menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Mungkin Angger benar.”
“Aku tahu pasti Bapak,” sahut Mahisa Agni, “ia tidak akan mendengar.”
Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Hampir saja ia menyebut nama itu, namun diurungkannya ketika ia melihat istrinya datang untuk menyalakan lampu minyak yang melekat di dinding. Namun kemudian dengan selembar daun, nyala lampu itu pun ditutupnya supaya tidak tampak terlalu terang dari luar.
Baru ketika perempuan itu telah pergi, berkatalah orang tua itu, “Aku mengenalnya pada masa kanak-kanaknya dengan nama Pasik. Tetapi kemudian nama itu diubahnya. Ketika ia datang untuk pertama kalinya mengunjungi padukuhan ini sesudah berguru, maka namanya berganti menjadi Waraha. Aku tidak tahu, mana yang lebih baik namun Waraha benar-benar mempunyai kesan yang menakutkan.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kesan nama itu benar-benar menakutkan. Dan bukanlah tanpa maksud bagi Pasik untuk mengubah namanya. Perubahan nama itu telah menunjukkan, nafsu yang tersembunyi pada anak itu. Nafsu untuk menang dan nafsu untuk menguasai. Maka bertanyalah Mahisa Agni kemudian,
“Apakah yang kemudian dilakukan di tempat kelahirannya ini, sehingga semua orang menjadi takut kepadanya?”
“Oh, benar-benar terkutuk anak itu!” jawab laki-laki tua itu, “Setiap kali ia kehabisan uang, harta dan benda, selalu ia datang ke rumahnya. Mula-mula ayahnyalah yang diperas habis-habisan. Namun setelah ayahnya tidak memiliki apapun lagi, maka menjalarlah kepada tetangga-tetangganya. Apa saja yang diinginnya, diambilnya tanpa menghiraukan orang yang memilikinya. Perhiasan dan kekayaan-kekayaan lain yang kami kumpulkan sedikit-sedikit dengan kerja keras. Bahkan kemudian apabila diinginnya, sampai juga akhirnya pada anak-anak gadis dan perempuan-perempuan yang telah bersuami sekali pun.”
Mahisa Agni benar-benar tertarik pada cerita itu. Karena itu maka katanya pula, “Tidak adakah seorang pun yang dapat mencegah perbuatan itu?”
“Oh Ngger, Ngger. Ia adalah seorang yang sakti. Dan ia tidak selalu datang sendiri. Pernah ia datang bertiga dengan saudara-saudara seperguruannya. Dan bahkan kali ini ia datang bersama-sama dengan gurunya.”
Orang tua itu berhenti sesaat. Sekali lagi ia menatap pintu rumahnya, kemudian katanya melanjutkan perlahan-lahan sekali, “Ayahnya sendiri hampir saja dibunuhnya, ketika ayahnya itu mengutuknya. Kata ayahnya itu, kalau Pasik itu mati saja, maka ayahnya akan menyembelih tiga ekor kambing sebagai ucapan terima kasihnya. Tetapi ayahnya itu dipukulnya sambil berteriak, ‘Biarlah kau mati dahulu tua bangka’. Dan ibunya pun pernah juga dicekiknya hampir mati.” Orang tua itu berhenti sejenak. Sekali-kali ia berpaling ke arah pintu dengan cemasnya. Kemudian katanya, “Ah. Sudahlah. Marilah kita berbicara tentang hal-hal yang lain, yang dapat menggembirakan hati kita.”
“Baiklah, Bapak,” jawab Mahisa Agni, “namun aku masih ingin bertanya sedikit tentang anak muda itu. Apakah Pasik itu juga mengenal Bapak dengan baik?”
“Oh tentu, tentu,” jawab orang tua itu, “ia mengenal aku seperti mengenal bapaknya sendiri pada masa kanak-kanaknya. Ia adalah kawan bermain anak gadisku. Dan ibumu di sini pun senang juga kepada anak itu dahulu. Apabila ia bermain-main kemari, diberinya anak itu makanan dan dibuatkannya permainan-permainan yang mengasikkan.”
“Sudah barang tentu sekarang tidak bukan bapak?” sela Mahisa Agni.
“Terkutuklah anak itu!” umpat orang tua itu perlahan-lahan sekali, “Ibunya, ya ibunya sendiri pernah dicekiknya hampir mati. Tetapi baik ayahnya maupun ibunya itu masih juga hidup sampai sekarang.”
“Apakah yang sudah dilakukannya sejak ia pulang kali terakhir ini, Bapak?” bertanya Mahisa Agni.
Orang tua itu menggeleng. “Belum ada,” jawabnya, “dan karena kami selalu berdebar-debar. Ketika ia pulang yang terakhir sebelum kali ini, diambilnya gadis anak tetangga sebelah untuk seorang saudara seperguruannya. Ketika orang tuanya mencoba untuk mencegahnya, maka orang itu diancamnya. Dan akhirnya tak seorang pun yang mampu untuk mengurungkan niat itu.”
Cerita itu pun terhenti pula ketika perempuan tua, istri laki-laki itu, masuk kembali sambil berbisik, “Sudahlah, Kiai. Sudahlah. Jangan sebut-sebut lagi anak muda itu. Akan celakalah nasib kita karenanya.”
Laki-laki tua itu menganggukkan kepalanya. Katanya, “Baik, baiklah, Nyai. Aku memang sudah akan berhenti bercerita, namun Angger Agni ini masih bertanya pula.”
Perempuan tua itu memandang wajah Mahisa Agni. Dari matanya memancar suatu permintaan, seakan-akan berkata, “Sudahlah Ngger, jangan bertanya tentang anak itu lagi.”
Mahisa Agni pun memaklumi permintaan itu. Dan ia pun menjadi iba juga kepada perempuan yang ketakutan itu. Karena itu maka ia tidak bertanya-tanya lagi. Dan laki-laki tua itu pun tidak bercerita lagi tentang anak muda yang menakutkan itu. Kini laki-laki itu mulai bercerita tentang anak perempuannya. Anak yang diperistri oleh tetangga sebelah. Oleh kakak dari gadis yang dilarikan Pasik.
“Mudah-mudahan anak itu menjadi bahagia,” desahnya, “dan mudah-mudahan anak itu tidak diganggu oleh anak muda yang durhaka itu, atau oleh saudara-saudara seperguruannya.”
“Sst!” desis istrinya, “Kiai sudah akan mulai lagi?”
“Oh, tidak, tidak,” sahutnya cepat-cepat.
Dan sesaat orang itu berdiam diri. Istrinya pun tidak berkata-kata pula. Dengan demikian maka ruang itu menjadi sepi. Namun betapa terkejutnya mereka itu bertiga, lebih-lebih lagi laki-laki tua beserta istrinya, ketika tiba-tiba didengarnya di muka pintu rumahnya suara tertawa perlahan-lahan, namun terasa getarannya memukul-mukul dada. Suara tertawa itu seolah-olah menyusup ke dalam rumah kecil itu dan melingkar-lingkar bergelombang.
“Mati aku!” desis laki-laki tua itu.
Ketika Matahari menjenguk dari punggung cakrawala di timur, maka warna-warna yang kelam di dalam hutan di kaki Gunung Semeru itu pun menjadi cair pula karenanya. Mahisa Agni perlahan-lahan menggeliat. Kemudian memandang berkeliling. Dilihatnya gurunya duduk menunggunya seperti seorang yang sedang bersemadi. Namun ketika dilihatnya Mahisa Agni terbangun maka orang tua itu pun kemudian tersenyum.
“Tidur yang nyenyak, Agni. Apakah kau bermimpi?”
Mahisa Agni pun tersenyum pula. Perlahan-lahan ia bangkit dan duduk di muka gurunya. Diamat-amatinya tubuhnya seperti ada sesuatu yang tidak dikenalnya pada dirinya. Namun demikian, sebelum ia bertanya kepada gurunya, dicobanya untuk mengetahuinya sendiri, perubahan-perubahan apakah yang telah terjadi pada dirinya itu. Tubuhnya kini terasa betapa segar dan ringan. Darahnya yang hangat serta detak jantungnya, tarikan nafasnya dan simpul-simpul sarafnya seakan-akan menjadi semakin teratur dan dikenalnya dengan sempurna.
Ketika kemudian dikenangnya apa yang telah terjadi kemarin, maka segera disadarinya, bahwa pasti ada perubahan di dalam dirinya itu. Empu Purwa itu melihat betapa muridnya menjadi heran atas keadaan diri. Karena itu maka katanya,
“Agni, adakah sesuatu yang lain kau rasakan dalam dirimu?”
“Ya, Guru,” jawab Mahisa Agni.
Gurunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dirabanya tubuh muridnya. Dipijatnya setiap simpul-simpul syaraf dan nadinya pada punggung dan tengkuk muridnya. Sebagai seorang yang telah mengenal setiap simpul-simpul tubuh manusia, maka segera Empu Purwa mengetahui, bahwa tubuh Mahisa Agni pun telah terbuka. Maka katanya,
“Agni, apakah yang terjadi pada dirimu?”
Mahisa Agni mencoba mengingat semua peristiwa yang tampak olehnya dalam pemusatan pikiran, perasaan dan angan-angannya. Satu demi satu, sehingga akhirnya semuanya menjadi gelap.
“Mahisa Agni,” berkata gurunya, “peristiwa yang terjadi dalam dunia yang tak kasatmata itu, tidak sama bagi setiap orang yang menjalani pemusatan pikiran, perasaan dan angan-angan seperti yang kau lakukan. Semuanya itu tergantung atas tanggapannya terhadap dunia besar dari dunia kecilnya. Juga sikap yang kau lihat itu pun tergantung pada unsur-unsur gerak yang paling merangsang dalam dirimu. Namun, adalah satu persamaan, bahwa kau telah diizinkan oleh Yang Maha Agung, untuk menguasai cara-cara yang sebaik-baiknya untuk mengungkapkan setiap kekuatan di dalam tubuhmu.”
Terasa dada Mahisa Agni berdesir halus. Sekali lagi ia mengucap syukur di dalam hatinya atas karunia itu. Dan karena itu maka betapa ia menjadi terharu. Dengan demikian, maka tak sepatah pun yang dapat diucapkannya, karena kerongkongannya tiba-tiba serasa tersumbat.
Apalagi ketika kemudian gurunya itu berkata kepadanya, “Agni. Berdirilah. Lihatlah ke sekelilingmu. Dan cobalah, apakah kau benar-benar mampu menyalurkan kekuatan-kekuatan di dalam tubuhmu.” Dada Mahisa Agni kini menjadi berdebar-debar. Ditatapnya wajah gurunya seakan-akan minta penjelasan. Sehingga kemudian gurunya itu pun berkata, “Berdirilah. Bersikaplah menurut ungkapan indramu dalam unsur-unsur gerak yang paling merangsang dalam dirimu. Salurkanlah kekuatan di dalam tubuhmu ke bagian-bagian tubuh yang kau kehendaki. Niscaya kau akan berhasil.”
Perlahan-lahan Mahisa Agni itu pun berdiri. Meskipun dengan agak ragu-ragu, namun ia melangkah pula agak menjauh. Dipandangnya keadaan di sekelilingnya. Yang ada hanyalah pokok-pokok kayu dan gumpalan-gumpalan batu padas yang berbongkah-bongkah.
“Mulailah Agni,” berkata gurunya.
Mahisa Agni mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “Akan aku coba, Guru.”
Mahisa Agni itu pun kemudian berdiri tegak. Dipusatkannya segenap kekuatan batinnya, diaturnya jalan pernafasannya seperti yang telah dipelajarinya. Ketika terasa di dalam dadanya getaran-getaran yang bergerak-gerak, maka dicobanya untuk mengaturnya dan menyalurkannya ke telapak tangannya.
Tiba-tiba seakan-akan digerakkan oleh tenaga yang tak dikenalnya, Mahisa Agni itu pun mengangkat kedua tangannya, kemudian disilangkannya kedua tangannya itu di muka dadanya, sedang keempat jari-jarinya tegak merapat. Satu kakinya pun kemudian terangkat ke depan. Dan ketika getaran yang mengalir dari pusat dadanya dan dari bagian-bagian tubuhnya yang lain seakan-akan telah mengendap di telapak tangannya, maka Mahisa Agni itu pun meloncat maju. Dengan telapak tangannya ia memukul sebongkah batu padas yang telah menjadi kehitam-hitaman. Betapa dahsyat tenaganya. Batu itu pun seolah-olah meledak dan pecah berserakan. Mahisa Agni sendiri terkejut melihat akibat dari pukulannya. Namun ketika ia berpaling kepada gurunya, dilihatnya gurunya tersenyum.
“Bagus Agni,” berkata gurunya, “sekarang lepaskanlah kekuatan-kekuatan itu dan salurkan kembali ke tempatnya.”
Mahisa Agni menarik nafas. Diangkatnya kedua tangannya merentang. Dan terasa otot-ototnya seakan-akan mengendur kembali.
“Kau harus melatihnya setiap kali Agni,” berkata gurunya, “namun ingatlah bahwa ilmu itu, yang kau sebut untuk seterusnya aji Gundala Sasra, bukan seperti permainan kanak-kanak yang dapat kau pamerkan setiap saat. Tekunilah dan dalamilah. Namun aku akan bergembira kalau kau tidak perlu mempergunakannya.”
Gurunya itu berhenti sesaat, kemudian katanya pula, “Agni, kelak apabila ilmu itu telah mapan di dalam tubuhmu, maka kau tidak akan memerlukan waktu lagi untuk melepaskannya. Sesaat saja, setiap kau kehendaki. Namun mudah-mudahan itu tidak akan terjadi.”
Mahisa Agni itu pun perlahan-lahan duduk kembali. Betapa dadanya seakan-akan bergolak. Berbagai perasaan merayap-rayap tak menentu. Bangga, gembira namun disadarinya pula tanggung jawabnya atas ilmunya itu. Dan wajah Mahisa Agni pun tertunduk karenanya. Namun pekerjaannya yang berat kini telah lampau. Masa pengasingan di hutan yang sepi itu pun telah lampau pula. Karena itu, maka akan datang masa berikutnya, kembali ke Panawijen dalam pergaulan antar manusia untuk mendapatkan kesempatan mengamalkan ilmunya dengan wajar dan bertanggung jawab.
Matahari yang merayap di kaki langit itu semakin lama menjadi semakin tinggi pula. Empu Purwa yang masih saja duduk di atas batu padas itu pun kemudian berdiri. Diamatinya beberapa coretan pisau di sebatang pokok kayu. Dihitungnya setiap goresan dan kemudian katanya,
“Empat puluh dua. Ya, kau telah tinggal di dalam hutan ini selama empat puluh dua hari Agni, selain hari-hari yang pernah kau tempuh untuk sampai ke tempat ini. Hari ini adalah hari yang keempat puluh tiga.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Telah cukup lama ia meninggalkan padepokan Panawijen. Meninggalkan sahabatnya Wiraprana. Ibunya dan gadis momongan ibunya, Ken Dedes. Dan tiba-tiba tumbuhlah perasaan rindu kepada padukuhannya itu. Meskipun demikian, Mahisa Agni menunggu apa yang akan dikatakan oleh gurunya. Ia mengharap bahwa gurunya itu akan membawanya pulang ke padepokan.
Ternyata gurunya itu pun kemudian berkata, “Mahisa Agni. Kita telah terlalu lama meninggalkan padepokan. Karena itu, apabila telah memungkinkan, pulanglah kau ke Panawijen. Padepokan itu telah hampir tiga bulan kesepian.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya, jawabnya, “Guru. Aku sebenarnya memang telah rindu pada padukuhan itu. Tetapi bukankah kita akan kembali bersama-sama?”
Empu Purwa menggeleng lemah. Katanya, “Berjalanlah dahulu Agni. Aku masih akan singgah beberapa hari di tempat sahabat-sahabatku yang telah lama tak pernah aku kunjungi. Mumpung aku sampai di tempat ini pula. Namun tak ada soal yang penting. Aku hanya akan sekedar mengunjunginya. Bukankah kau berani berjalan sendiri?”
Mahisa Agni tersenyum mendengar pertanyaan gurunya. Empu Purwa itu tersenyum pula. Hari itu adalah hari terakhir. Mahisa Agni seolah-olah berada di dalam pengasingan. Bersama gurunya mereka berdua pergi meninggalkan tempat itu. Tempat yang tak akan terlupakan bagi Mahisa Agni. Tempat ia menerima anugerah yang tak ternilai harganya bagi masa depannya. Tetapi mereka berdua tidak seterusnya berjalan bersama-sama. Gurunya itu pun kemudian memisahkan diri. Ia masih ingin mengunjungi sahabat-sahabatnya yang telah lama tidak pernah ditemuinya.
Kini kembali Mahisa Agni berjalan seorang diri. Ditempuhnya jalan yang hampir dua bulan yang lalu dilewatinya. Menyusur tepi rawa-rawa ke arah timur. Dan Mahisa Agni itu pun tidak takut lagi bertemu dengan orang timpang yang menamakan dirinya Empu Pedek. Menggelikan sekali. Betapa ia tidak mengenal orang yang timpang itu. Ia bergaul dengan gurunya hampir setiap saat. Namun dengan berjalan seakan-akan timpang ia telah menjadi pangling.
Kini Mahisa Agni dapat berjalan jauh lebih cepat daripada saat ia datang. Jalan-jalan yang dilampauinya seakan-akan telah dikenalnya baik-baik, sehingga ia tidak perlu lagi bertanya-tanya kepada diri dan memilih-milih supaya tidak tersesat. Karena itu, maka waktu yang diperlukannya pun jauh lebih pendek dari waktu yang dipergunakannya dahulu.
Maka karena itu pula, Mahisa Agni sebelum senja telah sampai ke padukuhan kecil yang dahulu dilewatinya pula. Padukuhan yang oleh penduduknya disebut padukuhan Kajar. Tetapi ketika Mahisa Agni sampai di ujung padukuhan, ia menjadi heran. Matahari masih tampak di langit, walaupun sudah amat rendahnya, seakan-akan hinggap di punggung gunung. Namun padukuhan itu tampaknya sudah terlalu sepi. Tak seorang pun yang dapat ditemui oleh Mahisa Agni sebagaimana ia melihatnya dahulu. Penduduk padukuhan kecil yang rajin itu kini seakan-akan telah lenyap ditelan hantu. Rumah-rumah yang kecil di padukuhan itu pun tampaknya tertutup rapat, seakan-akan menolak kedatangannya.
Tetapi karena itu justru sangat menarik perhatian Mahisa Agni. Dalam waktu hampir dua bulan ia tidak melihat perubahan apapun di padukuhan kecil itu, namun perubahan suasananya terasa sekali. Mahisa Agni masih saja berjalan menyusuri jalan berbatu-batu di tengah-tengah padukuhan itu. Ia menjadi berdebar-debar ketika dilihatnya sebuah pondok kecil di tepi jalan itu. Di dekat pondok itu dahulu ia bertanya kepada seorang tua yarg ramah. Seorang tua yang berjanggut putih dan berambut putih.
“Apakah rumah itu rumah orang tua yang baik itu?” berpikir Mahisa Agni.
Sesaat ia menjadi ragu-ragu. Namun kemudian katanya di dalam hati, “Ah, aku sama sekali tak bermaksud jelek. Bukankah orang tua itu dahulu mengajak aku singgah ke rumahnya?”
Maka kemudian dengan ragu-ragu Mahisa Agni memasuki regol halaman itu dan perlahan-lahan berjalan melintasi beberapa pokok pohon samboja dan tempat-tempat sesaji, langsung menuju ke pintu rumah. Perlahan-lahan pula Mahisa Agni mengetuk pintu rumah itu. Sekali, dua kali bahkan sampai tiga kali, suara ketukannya tidak mendapat sambutan. Namun telinga Mahisa Agni yang tajam mendengar langkah orang di dalam rumah itu. Gemeresik dinding pintu dan nafas orang di balik pintu itu.
“Ah, seseorang telah mengintip dari balik pintu,” katanya di dalam hati.
Karena itu ia tidak mengetuk lagi. Ia menunggu, apakah kehadirannya akan diterima, atau tidak. Sesaat kemudian ternyata pintu itu terbuka. Benarlah dugaannya, rumah itu adalah rumah orang tua yang dahulu pernah memberinya beberapa keterangan. Namun ia menjadi heran ketika dengan tergesa-gesa orang itu bertanya,
“Ngger, siapakah Angger ini?”
“Aku Mahisa Agni, Bapak. Hampir dua bulan yang lalu aku pernah lewat di padukuhan ini. Bukankah Bapak pernah memberi aku beberapa petunjuk untuk mencapai rawa-rawa di sebelah selatan?”
Orang tua itu mengingat-ingat sebentar. Kemudian katanya, “Oh, ya. Aku ingat sekarang. Angger datang dari Gunung Kawi?”
Mahisa mengangguk sambil menjawab, “Ya, Bapak.”
“Marilah, marilah masuk,” ajak orang itu.
Dan sebelum Mahisa Agni menjawab, dengan serta-merta orang tua itu menarik lengan Mahisa Agni. Mahisa Agni tidak menolak. Dan demikian ia melangkah pintu, demikian orang tua itu dengan tergesa-gesa menutup pintunya kembali. Mahisa Agni pun menjadi semakin heran. Seolah-olah di luar rumah itu sedang berkeliaran hantu-hantu, sehingga orang tua itu menjadi ketakutan. Dengan nafas yang terengah-engah seperti orang baru saja berlomba lari orang itu mempersilakan Mahisa Agni duduk di atas selembar tikar anyaman,
“Silakan Ngger, silakan duduk.”
Mahisa Agni itu pun duduk pula. Diletakkannya tongkat kayu serta bungkusannya. Dan dengan sebuah anggukan Mahisa Agni menjawab, “Terima kasih, Bapak.”
“Ah,” desah orang tua itu, “hampir aku melupakan Angger. Bukankah Angger pernah lewat di jalan di muka rumah ini? Ah, Angger ternyata sekarang menjadi kurus. Jauh lebih kurus dari saat Angger lewat dahulu.”
Tanpa sesadarnya Mahisa Agni mengamat-amati tangannya. Memang ia menjadi bertambah kurus. Meskipun demikian ia menjawab, “Tidak Bapak. Aku tidak menjadi kurus.”
Orang itu tertawa. Tetapi tampaklah kegelisahan membayang di wajahnya. Namun demikian Mahisa Agni masih belum menanyakan sesuatu kepadanya. Orang tua itu pun kemudian pergi sesaat ke belakang. Ketika ia kembali dibawanya dua bumbung legen. Diserahkannya,
“Marilah Ngger, barangkali Angger haus.”
Mahisa Agni menerima bumbung itu. Alangkah segarnya setelah hampir tiga bulan tak pernah dihirupnya minuman, selain air. Air dingin. Kini legen yang manis. Namun kegelisahan orang tua itu ternyata mempengaruhi perasaan Mahisa Agni. Ia pun menjadi gelisah pula. Apakah kehadirannya itu tidak berkenan di hati orang tua itu. Atau ada sesuatu yang lain. Karena, itu, akhirnya Mahisa Agni tidak dapat menahan diri lagi, sehingga kemudian katanya,
“Bapak, alangkah sepi padukuhan ini. Masih jauh menjelang senja, rumah-rumah sudah tertutup rapat. Di jalan padukuhan ini, aku sudah tidak menjumpai seorang pun yang berjalan. Jangan berjalan, di halaman pun tak aku lihat seseorang.”
Orang tua itu mengerutkan keningnya. Kemudian setelah berdiam diri beberapa saat ia menjawab, “Untunglah Angger tak bertemu seseorang?”
Mahisa Agni menjadi semakin heran. Karena itu ia menyahut, “Kenapa?”
Orang itu dengan gelisahnya memandangi pintu rumahnya. Setelah sesaat ia berdiam diri, maka jawabnya perlahan-lahan sekali seakan-akan ia sedang mengucapkan sebuah rahasia yang tak boleh didengar oleh orang lain, katanya,
“Padukuhan ini sebenarnya tidak sesepi sekarang ini, Ngger.”
Mahisa Agni mengangguk. Memang pada saat ia lewat dahulu, dilihatnya penduduknya yang rajin dan ramah. Rumah-rumah terbuka lebar dan anak-anak bermain-main di halaman. Maka didengarnya orang tua itu berkata selanjutnya,
“Namun saat ini padukuhan yang kecil ini sedang mengalami ketakutan.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia sudah menyangka bahwa sesuatu yang tidak wajar pasti sudah terjadi. Maka Mahisa Agni itu pun kemudian bertanya,
“Apakah yang mencemaskan penduduk padukuhan ini?”
“Terkutuklah anak itu!” desis orang tua itu. Tetapi dengan cemasnya ia berkali-kali menatap daun pintu leregnya. Katanya selanjutnya, “bersedihlah ibunya yang telah melahirkannya dan menyesallah padukuhan ini, yang telah memberinya kesempatan untuk dibesarkan. Karena akhirnya, terkutuklah anak itu.”
“Kenapa?” bertanya Mahisa Agni mendesak.
“Anak itu sebenarnya bukan anak yang jahat,” sahut orang tua itu, “ia adalah salah satu dari anak-anak keluarga padukuhan ini. Seperti anak-anak yang lain, ia adalah anak yang rajin dan bekerja dengan tekun membantu orang tuanya. Tetapi ketika ia menginjak umur sebelas dua belas tahun, anak itu dibawa oleh pamannya ke rantau. Ternyata di sana bertemulah anak itu dengan seorang guru. Terkutuk pulalah guru itu. Itulah sebabnya maka anak itu menjadi jahat.
Diajarinya oleh gurunya ilmu-ilmu yang kasar. Berkelahi dan bertempur. Oh, alangkah jahatnya ilmu itu. Kenapa seseorang mesti belajar berbuat hal-hal semacam itu. Kenapa seseorang mesti melatih diri untuk berbuat kekasaran antara sesama. Aku benar-benar tidak mengerti. Dan beberapa orang ternyata telah melakukannya. Di antaranya anak itu. Dan ia kemudian menjadi sakti pula karenanya. Dan kesaktiannya itulah yang menjadikan anak itu seperti anak yang gila.”
Mahisa Agni mendengar kata demi kata itu dengan wajah yang tunduk. Inilah salah satu contoh dari seorang anak muda yang lepas kendali. Anak muda yang memiliki kesaktian, namun kesaktiannya itu akhirnya telah menakut-nakuti orang di sekitarnya. Tiba-tiba ia merasa bahwa ia telah dihadapkan pada satu cermin di mana ia dapat melihat dirinya sendiri.
Dalam pada itu orang itu berkata seterusnya, “Siang malam aku berdoa mudah-mudahan dilenyapkanlah ilmu-ilmu semacam itu dari dunia ini, sehingga kami, orang-orang lemah ini akan dapat menikmati hidup kami dengan tenteram.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia sadar bahwa kata-kata itu sama sekali tidak ditunjukkannya kepadanya, namun ia merasa perlu juga untuk menjawab. Katanya,
“Bapak. Yang salah menurut hematku bukan ilmunya. Tetapi karena ilmu itu dimiliki oleh seseorang, maka segala sesuatu tergantung sekali kepada orang itu. Ia dapat memanfaatkan ilmunya untuk tujuan-tujuan yang sebaliknya. Mempergunakan ilmunya untuk tujuan-tujuan yang baik.”
“Apakah tujuan yang baik itu? Dapatkah tujuan yang baik itu dilandasi oleh kekerasan dan kekasaran semacam itu?”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun sebelum ia sempat menjawab, ia pun menjadi terkejut. Seorang perempuan yang telah melampaui umur setengah abad, berlari terjingkat-jingkat dari ruang dalam. Kemudian dengan cemasnya ia berbisik,
“Kiai, o Kiai, jangan sekali-kali menyebut-nyebut tentang anak itu. Lihatlah, ia lewat di jalan di muka rumah kita. Aku telah mengintipnya dari dapur.”
Orang tua itu pun tiba-tiba menjadi pucat. Dengan gemetar ia merangkak ke dinding rumahnya. Setelah ditemukannya sebuah lubang di antara anyaman dindingnya, maka ia pun mengintip pula.
“Oh, apakah ia anak hantu?” desisnya.
“Jangan Kiai,” potong perempuan tua, yang ternyata adalah istrinya, “ia tahu apa yang diucapkan oleh setiap orang tentang dirinya.”
Orang itu masih mengintip dari lubang dinding. Dan tiba-tiba Mahisa Agni pun ingin mengintip pula. Ia ingin melihat orang yang telah menakut-nakuti seluruh padukuhan ini. Karena itu pun segera Mahisa Agni mencari lubang pula di antara anyaman. Dan sebenarnyalah, dilihatnya seorang laki-laki lewat di jalan di muka rumah itu. Meskipun tidak begitu jelas, namun Mahisa Agni dapat melihatnya, seorang anak muda yang bertubuh tinggi tegap berdada bidang. Namun ia tidak dapat mengenal wajah anak muda itu dengan cermat.
“Oh, ampun,” tiba-tiba orang tua itu berdesis.
Mereka melihat orang yang mereka takuti itu berhenti di depan regol halaman. Sesaat diamat-amatinya regol itu, kemudian dilontarkannya pandangan matanya yang tajam itu ke pintu rumah. Mahisa Agni yang ikut serta mengintip itu pun ikut berdebar-debar pula. Didengarnya dengan jelas, nafas orang tua itu tersengal-sengal, bahkan perempuan tua di belakangnya itu pun telah menjadi semakin pucat. Tetapi orang tua itu kemudian menarik nafas dalam-dalam. Ternyata anak muda yang mereka takuti itu tidak masuk ke halaman. Setelah ia berhenti dengan ragu-ragu, maka kemudian anak muda itu meneruskan langkahnya menyusuri jalan-jalan padukuhan tempat kelahirannya.
“Oh,” desis orang tua itu pula, “diselamatkannya kita oleh dewa-dewa.”
Meskipun demikian, seakan-akan ia masih belum percaya pada penglihatannya, sehingga untuk beberapa lama masih saja ia berjongkok mengintip. Baru setelah ia yakin, bahwa orang yang mereka takuti itu telah pergi, maka beringsutlah orang tua itu dari tempatnya, kembali duduk di atas tikar anyaman sambil mempersilakan Mahisa Agni,
“Duduklah, Ngger.”
Mahisa Agni pun kemudian duduk kembali di tempatnya. Dilihatnya laki-laki tua itu masih gelisah dan cemas. Namun ia mencoba tersenyum. Katanya, “Sudahlah Nyai, pergilah ke dapur. Anak itu telah pergi.”
Perempuan itu menyahut, “Jangan membicarakannya. Ia akan mendengarnya. Dan ia akan datang kemari.”
Laki-laki itu tidak menjawab. Dipandanginya istrinya sampai di balik dinding. Kemudian setelah istrinya itu tidak kelihatan lagi, maka katanya, “Semua orang menjadi sedemikian ketakutan sampai orang tidak berani menyebut namanya. Ternyata istriku juga dan aku agaknya akan menjadi takut pula.”
“Siapakah namanya,” tiba-tiba saja Mahisa Agni melontarkan pertanyaan itu.
Orang tua itu terkejut mendengar pertanyaan Mahisa Agni. Jawabnya, “Jangan bertanya namanya Angger.” Mahisa Agni tersenyum. Dan orang itu menjadi heran melihat senyum itu. Katanya, “Aku tidak sedang berolok-olok, Ngger. Aku berkata sebenarnya.”
“Bapak tadi telah mengutuknya. Kalau ia mengetahui setiap orang yang memerkarakan dirinya, kenapa ia tidak singgah kemari dan mempersoalkannya?”
Laki-laki itu menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Mungkin Angger benar.”
“Aku tahu pasti Bapak,” sahut Mahisa Agni, “ia tidak akan mendengar.”
Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Hampir saja ia menyebut nama itu, namun diurungkannya ketika ia melihat istrinya datang untuk menyalakan lampu minyak yang melekat di dinding. Namun kemudian dengan selembar daun, nyala lampu itu pun ditutupnya supaya tidak tampak terlalu terang dari luar.
Baru ketika perempuan itu telah pergi, berkatalah orang tua itu, “Aku mengenalnya pada masa kanak-kanaknya dengan nama Pasik. Tetapi kemudian nama itu diubahnya. Ketika ia datang untuk pertama kalinya mengunjungi padukuhan ini sesudah berguru, maka namanya berganti menjadi Waraha. Aku tidak tahu, mana yang lebih baik namun Waraha benar-benar mempunyai kesan yang menakutkan.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kesan nama itu benar-benar menakutkan. Dan bukanlah tanpa maksud bagi Pasik untuk mengubah namanya. Perubahan nama itu telah menunjukkan, nafsu yang tersembunyi pada anak itu. Nafsu untuk menang dan nafsu untuk menguasai. Maka bertanyalah Mahisa Agni kemudian,
“Apakah yang kemudian dilakukan di tempat kelahirannya ini, sehingga semua orang menjadi takut kepadanya?”
“Oh, benar-benar terkutuk anak itu!” jawab laki-laki tua itu, “Setiap kali ia kehabisan uang, harta dan benda, selalu ia datang ke rumahnya. Mula-mula ayahnyalah yang diperas habis-habisan. Namun setelah ayahnya tidak memiliki apapun lagi, maka menjalarlah kepada tetangga-tetangganya. Apa saja yang diinginnya, diambilnya tanpa menghiraukan orang yang memilikinya. Perhiasan dan kekayaan-kekayaan lain yang kami kumpulkan sedikit-sedikit dengan kerja keras. Bahkan kemudian apabila diinginnya, sampai juga akhirnya pada anak-anak gadis dan perempuan-perempuan yang telah bersuami sekali pun.”
Mahisa Agni benar-benar tertarik pada cerita itu. Karena itu maka katanya pula, “Tidak adakah seorang pun yang dapat mencegah perbuatan itu?”
“Oh Ngger, Ngger. Ia adalah seorang yang sakti. Dan ia tidak selalu datang sendiri. Pernah ia datang bertiga dengan saudara-saudara seperguruannya. Dan bahkan kali ini ia datang bersama-sama dengan gurunya.”
Orang tua itu berhenti sesaat. Sekali lagi ia menatap pintu rumahnya, kemudian katanya melanjutkan perlahan-lahan sekali, “Ayahnya sendiri hampir saja dibunuhnya, ketika ayahnya itu mengutuknya. Kata ayahnya itu, kalau Pasik itu mati saja, maka ayahnya akan menyembelih tiga ekor kambing sebagai ucapan terima kasihnya. Tetapi ayahnya itu dipukulnya sambil berteriak, ‘Biarlah kau mati dahulu tua bangka’. Dan ibunya pun pernah juga dicekiknya hampir mati.” Orang tua itu berhenti sejenak. Sekali-kali ia berpaling ke arah pintu dengan cemasnya. Kemudian katanya, “Ah. Sudahlah. Marilah kita berbicara tentang hal-hal yang lain, yang dapat menggembirakan hati kita.”
“Baiklah, Bapak,” jawab Mahisa Agni, “namun aku masih ingin bertanya sedikit tentang anak muda itu. Apakah Pasik itu juga mengenal Bapak dengan baik?”
“Oh tentu, tentu,” jawab orang tua itu, “ia mengenal aku seperti mengenal bapaknya sendiri pada masa kanak-kanaknya. Ia adalah kawan bermain anak gadisku. Dan ibumu di sini pun senang juga kepada anak itu dahulu. Apabila ia bermain-main kemari, diberinya anak itu makanan dan dibuatkannya permainan-permainan yang mengasikkan.”
“Sudah barang tentu sekarang tidak bukan bapak?” sela Mahisa Agni.
“Terkutuklah anak itu!” umpat orang tua itu perlahan-lahan sekali, “Ibunya, ya ibunya sendiri pernah dicekiknya hampir mati. Tetapi baik ayahnya maupun ibunya itu masih juga hidup sampai sekarang.”
“Apakah yang sudah dilakukannya sejak ia pulang kali terakhir ini, Bapak?” bertanya Mahisa Agni.
Orang tua itu menggeleng. “Belum ada,” jawabnya, “dan karena kami selalu berdebar-debar. Ketika ia pulang yang terakhir sebelum kali ini, diambilnya gadis anak tetangga sebelah untuk seorang saudara seperguruannya. Ketika orang tuanya mencoba untuk mencegahnya, maka orang itu diancamnya. Dan akhirnya tak seorang pun yang mampu untuk mengurungkan niat itu.”
Cerita itu pun terhenti pula ketika perempuan tua, istri laki-laki itu, masuk kembali sambil berbisik, “Sudahlah, Kiai. Sudahlah. Jangan sebut-sebut lagi anak muda itu. Akan celakalah nasib kita karenanya.”
Laki-laki tua itu menganggukkan kepalanya. Katanya, “Baik, baiklah, Nyai. Aku memang sudah akan berhenti bercerita, namun Angger Agni ini masih bertanya pula.”
Perempuan tua itu memandang wajah Mahisa Agni. Dari matanya memancar suatu permintaan, seakan-akan berkata, “Sudahlah Ngger, jangan bertanya tentang anak itu lagi.”
Mahisa Agni pun memaklumi permintaan itu. Dan ia pun menjadi iba juga kepada perempuan yang ketakutan itu. Karena itu maka ia tidak bertanya-tanya lagi. Dan laki-laki tua itu pun tidak bercerita lagi tentang anak muda yang menakutkan itu. Kini laki-laki itu mulai bercerita tentang anak perempuannya. Anak yang diperistri oleh tetangga sebelah. Oleh kakak dari gadis yang dilarikan Pasik.
“Mudah-mudahan anak itu menjadi bahagia,” desahnya, “dan mudah-mudahan anak itu tidak diganggu oleh anak muda yang durhaka itu, atau oleh saudara-saudara seperguruannya.”
“Sst!” desis istrinya, “Kiai sudah akan mulai lagi?”
“Oh, tidak, tidak,” sahutnya cepat-cepat.
Dan sesaat orang itu berdiam diri. Istrinya pun tidak berkata-kata pula. Dengan demikian maka ruang itu menjadi sepi. Namun betapa terkejutnya mereka itu bertiga, lebih-lebih lagi laki-laki tua beserta istrinya, ketika tiba-tiba didengarnya di muka pintu rumahnya suara tertawa perlahan-lahan, namun terasa getarannya memukul-mukul dada. Suara tertawa itu seolah-olah menyusup ke dalam rumah kecil itu dan melingkar-lingkar bergelombang.
“Mati aku!” desis laki-laki tua itu.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar