Sedang istrinya tiba-tiba saja menjadi gemetar seperti orang kedinginan. Terbata-bata ia berkata, ”Oh Kiai, Kiai, kau telah membunuh diri dan membunuh seluruh keluarga kita. Aku sudah bilang, jangan kau memperkatakannya.”
Laki-laki itu pun menjadi gemetar. Mulutnya seakan-akan tersumbat. Ketika didengarnya pintu rumah itu diketuk perlahan-lahan, perempuan tua itu dengan lemahnya terduduk di lantai sambil gemetar.
“Selamat sore Kiai,” terdengar sapa halus di belakang pintu rumah itu. Namun suami istri itu benar-benar seperti orang yang kehilangan tenaga. “Kiai,” sekali lagi terdengar suara di belakang pintu, “bukalah!”
Laki-laki tua itu masih terduduk di tempatnya. Mulutnya bergerak-gerak tetapi suaranya tak terdengar.
“Bukalah, Kiai!” suara di luar menjadi semakin keras.
Dan orang tua itu pun terkejut. Jawabnya terbata-bata,” Ya, ya Ngger. Ya. Ya aku buka.” Namun ia masih belum bergerak juga.
Tiba-tiba terdengarlah pintu rumah itu berderak. Dan sebelum orang tua itu membuka pintunya, maka pintu rumah itu pun telah terbuka. Ternyata orang yang berdiri di luar rumah itu sama sekali tidak sabar lagi menunggu laki-laki itu membuka pintunya, Mahisa Agni pun menggeser duduknya pula menghadap pintu. Karena itu dilihatnya dalam cahaya lampu yang remang-remang seorang anak muda yang gagah masuk ke dalam rumah itu.
“Selamat sore, Kiai,” sapanya sambil membungkukkan kepalanya.
Suami istri itu benar-benar telah menjadi gemetar. Meskipun demikian laki-laki itu menjawab dengan kata-kata yang parau dan bergetar, “Selamat malam Ngger, selamat sore.”
Anak muda itu tersenyum. Diraihnya selembar daun yang menutup cahaya lampu minyak di dinding. Karena itu maka ruangan itu pun menjadi semakin terang. Kini Mahisa Agni dapat melihat anak muda itu dengan jelas. Dilihatnya setiap garis di wajahnya. Wajah yang keras, namun tidak sedemikian bengis seperti yang disangkanya. Bahkan anak itu kelihatan tampan pula. Dengan tersenyum ia maju beberapa langkah dan kemudian ikut duduk pula di antara mereka. Kemudian anak muda yang mengubah namanya sendiri menjadi Waraha itu tersenyum. Katanya,
“Ah, sudah lama aku tidak berkunjung kemari Kiai.”
Orang tua itu menjadi semakin gemetar. Namun ia menjawab pula, “Ya, ya Ngger.”
Anak muda itu tertawa. Katanya, “Tetapi Kiai dan Nyai ternyata awet muda.” Laki-laki tua itu pun mencoba untuk tertawa. Namun tampaklah betapa masamnya. Dan wajah-wajah yang pucat itu menjadi semakin pucat ketika anak muda itu berkata, “Ah. Ternyata Kiai dan Nyai selama ini tidak pernah melupakan aku. Setiap pembicaraan Kiai selalu masih menyebut-nyebut namaku.”
Kata-kata itu seolah-olah ledakan petir di atas rumah yang kecil itu. Laki-laki tua dan istrinya menjadi semakin menggigil karenanya, sehingga mereka tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun lagi. Anak muda itu kemudian memandang berkeliling ruangan itu. Ketika matanya hinggap di wajah Mahisa Agni, maka anak muda itu tersenyum. Dengan ramah ia bertanya kepada laki-laki tua itu,
“Kiai, siapakah tamu Kiai ini?”
Laki-laki itu terkejut. Sesaat ia menjadi bingung, namun kemudian ia menjawab, “Mahisa Agni Ngger, namanya Mahisa Agni.”
Pasik yang menamakan diri Waraha itu mengangkat alisnya. Katanya, “Nama yang baik. Mahisa Agni.” Kemudian kepada Mahisa Agni ia bertanya, “Ki Sanak. Dari manakah Ki Sanak datang?”
Mahisa Agni menjadi heran. Anak muda ini tampaknya cukup sopan. Karena itu ia menjawab dengan sopan pula.
“Aku datang dari Gunung Kawi, Ki Sanak.”
Waraha mengernyitkan alisnya. Kemudian katanya, “Jauh sekali. Apakah keperluan Ki Sanak?”
“Aku adalah seorang perantau,” sahut Mahisa Agni.
Anak muda itu tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ditatapnya bungkusan Mahisa Agni di samping tongkat kayunya. Katanya pula, “Ya. aku percaya kalau Ki Sanak seorang perantau. Apakah yang Ki sanak simpan di dalam bungkusan itu?”
“Oh,” desah Agni, “bukan apa-apa. Hanya sekedar kain usang.”
Laki-laki muda yang gagah itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dengan sopan pula ia berkata, “Apakah aku boleh melihatnya?”
Mahisa Agni menjadi terkejut dan heran. Anak muda itu mengucapkan kata-katanya dengan sopan, namun apa yang akan dilakukan benar-benar bukan suatu pekerjaan yang sopan. Kini tahulah Mahisa Agni, bahwa anak muda itu melakukan perbuatan-perbuatan yang menakutkan penduduk Kajar dengan tingkah laku yang sopan dibuat-buat. Karena itu Mahisa Agni menjawab,
“Tak ada apa-apa di dalamnya, Ki Sanak.”
Waraha tersenyum. Ia tidak berbicara lagi. Beberapa langkah ia berjalan sambil berjongkok, dan dengan sopannya ia berkata kepada laki-laki tua itu, “Maafkan aku Kiai.”
Dan sebelum Mahisa Agni dapat mencegahnya, Waraha telah meraih bungkusannya. Mahisa Agni hanya dapat menarik nafas. Namun ia harus memperhatikan setiap perbuatan Pasik. Karena itu, Mahisa Agni itu pun kemudian bergeser beberapa cengkang, mendekati Pasik yang asyik membuka bungkusannya itu. Anak muda itu terkejut ketika di dalam bungkusan itu dilihatnya sebilah keris.
“Ah,” katanya, “keris yang bagus.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Keris itu adalah keris pusaka peninggalan ayahnya dan dibuat oleh pamannya. Meskipun demikian masih dibiarkannya Pasik mengamat-amati keris itu.
Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Pasik itu bergumam, “Keris yang bagus. Bagus sekali. Dari manakah kau dapat keris ini Ki Sanak?”
Mahisa Agni mengangkat keningnya jawabnya, “Aku menerimanya dari Ayah, Ki Sanak.”
“Apakah kau seorang yang ahli mempergunakan senjata, khususnya keris?”
Mahisa Agni cepat-cepat menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Keris pusaka. Aku bawa ke mana saja aku pergi. Mudah-mudahan keris itu dapat memberi aku keselamatan.”
Waraha itu tiba-tiba tertawa. Katanya, “Ah kau aneh Ki Sanak. Apakah kerismu ini juga dapat memberimu keselamatan? Kau agaknya kurang dapat memahami kata-kata itu. Keris ini akan dapat memberi keselamatan apabila kau mampu mempergunakannya. Apakah kau mampu bertempur dengan keris?”
Mahisa Agni menggeleng pula. Jawabnya, “Mudah-mudahan keris itu bermanfaat bagiku.”
Pasik itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia berkata menyentak, “Hai perantau. Apakah kau seorang petualang yang sakti?”
Mahisa Agni terkejut ketika tiba-tiba ia melihat Waraha menarik kerisnya dari wrangkanya. Ujung keris itu tiba-tiba telah terayun ke dadanya. Mahisa Agni itu pun kemudian bergeser surut. Ia tidak mau membuat perselisihan sejauh mungkin. Karena itu ia menjawab,
“Jangan Ki Sanak, jangan.”
Namun Waraha itu pun beringsut maju pula. Kerisnya masih terarah ke dada Mahisa Agni. Sambil membentak sekali lagi ia berkata, “Ayo, lawanlah!”
Mahisa Agni pun bergeser pula mundur. Katanya, “Jangan Ki Sanak. Jangan.”
Tiba-tiba Waraha itu tertawa. Tertawa sepuas-puasnya. Katanya, “Hem. Sebaiknya kau tidak usah membawa senjata. Senjata ini akan berbahaya bagimu sendiri seandainya kau tidak mampu mempergunakannya.”
Mahisa Agni itu pun menjadi heran. Apakah maksud Waraha dengan kata-katanya. Tetapi ia tidak boleh lengah. Ketika ia berpaling ke arah sepasang orang-orang tua itu, maka Mahisa Agni menjadi iba. Keduanya telah menggigil seperti orang kedinginan. Demikian takutnya sehingga perempuan tua itu berpegangan suaminya erat-erat. Waraha itu pun kemudian menyarungkan keris itu ke dalam wrangkanya. Kemudian dengan rapi keris itu dikembalikan ke dalam bungkusannya pula. Dan kini kembali wajah Pasik itu menjadi jernih. Dengan sopan ia berkata,
“Ki Sanak. Ternyata keris itu sedemikian bagusnya. Aku belum pernah melihat keris sebagus itu. Apakah Ki Sanak benar-benar memerlukannya?”
“Tentu, tentu,” sahut Mahisa Agni cepat-cepat, “keris itu adalah pusaka peninggalan ayahku. Dan keris itu akan dapat memberi aku ketenangan.”
Waraha itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dipandangnya wajah Mahisa Agni yang tunduk. Ketika Waraha itu berpaling ke arah laki-laki tua dan istrinya, ia tertawa. Katanya,
“Maafkan aku Kiai dan Nyai. Aku tidak ingin menakut-nakuti kalian. Aku hanya bermain-main saja.” Dan tiba-tiba kepada Mahisa Agni ia berkata, “Ki Sanak. Aku ingin kerismu itu.”
Mahisa Agni sudah menyangka bahwa Pasik itu menginginkan kerisnya. Karena itu ia tidak terkejut. Meskipun demikian ia menjawab, “Jangan Ki Sanak. Keris itu keris pusaka.”
Namun Waraha itu pun beringsut maju pula. Kerisnya masih terarah ke dada Mahisa Agni. Sambil membentak sekali lagi ia berkata, “Ayo, lawanlah!”
Mahisa Agni bergeser pula mundur Katanya, “Jangan Ki Sanak. Jangan.”
Waraha tertawa. Sekali lagi ia memandang ke wajah laki-laki tua dan istrinya. Katanya, “Jangan takut, Kiai. Aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku sebenarnya hanya ingin berkunjung saja. Bukankah Kiai dan Nyai telah banyak berbuat kebaikan kepadaku?”
Laki-laki tua itu mengangguk-angguk kosong. Dari mulutnya terloncat kata-kata, satu-satu, “Ya Ngger. Terima kasih, terima kasih.”
“Kenapa terima kasih?” bertanya anak muda itu.
Orang tua itu menjadi bingung, sedemikian bingungnya sehingga ia menjawab, “Terima kasih Ngger, karena Angger tidak akan berbuat apa-apa.”
“He?” jawab Pasik, “Apakah aku selalu mengganggu orang? Sehingga apabila aku tidak berbuat demikian, maka itu dapat dianggap suatu kebaikan?”
Orang tua itu menjadi semakin bingung. Terbata-bata ia menjawab, “Tidak, tidak. Maksudku tidak sedemikian.”
Pasik itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak sehingga tubuhnya berguncang-guncang. Semakin lama semakin tampaklah bahwa kesopanan yang berlebih-lebihan itu adalah dibuat-buatnya saja. Ternyata apa yang dilakukan semakin menjadi kasar dan memuakkan.
Kepada Mahisa Agni kemudian anak muda itu berkata, “Anak muda. Aku ingin kerismu itu. Besok kau harus menyerahkannya kepadaku di rumahku. Ingat besok. Aku tidak akan merampas keris itu di sini supaya aku tidak menakut-nakuti penghuni rumah yang baik ini, meskipun sekarang sudah menganggap aku sebagai anak durhaka, seperti orang seluruh padukuhan ini menganggap aku demikian pula. Tetapi tak apa. Aku dapat hidup tanpa orang-orang di padukuhan ini. Nah, ingat. Besok pagi. Jangan mencoba melarikan diri malam nanti. Sebab nyawamu pasti akan melayang.”
Mahisa Agni itu pun mencoba bertanya, “Kenapa aku mesti menyerahkan keris ini kepada Ki Sanak.”
Pasik mencibirkan bibirnya. “Jangan banyak bertanya,” jawabnya, “Malanglah kau, karena kau telah bertemu dengan aku. Nah kini aku akan pergi.”
Ketika Mahisa Agni akan berkata sesuatu, maka Pasik itu segera membentaknya, “Jangan bertanya dan berkata apapun! Kau hanya dapat melakukan. Datanglah besok ke rumahku. Serahkan keris itu kepadaku. Aku juga sedang menunggu beberapa orang yang akan memberi aku bekal perjalanan dua tiga hari yang akan datang. Mereka adalah sahabatku yang baik, yang dapat mengerti keadaanku.”
Dan Mahisa Agni pun kemudian tidak berkata-kata pula. Dan bahkan timbullah keinginannya untuk melihat rumah Pasik besok dan melihat apa saja yang akan dilakukannya dan siapa sajakah yang besok harus datang pula ke rumahnya.
Pasik itu pun kemudian berdiri. Namun ia tidak segera pergi. Dilepaskannya ikat pinggangnya beserta timang perak murni yang berkilat-kilat kena sinar lampu minyak. Heranlah Mahisa Agni ketika Pasik itu memberikan timang itu kepada orang tua penghuni rumah itu. Katanya,
“Ah, Barangkali aku perlu memberikan sesuatu kepada Kiai. Bukan apa-apa, hanya sekedar tanda mata, supaya untuk seterusnya Kiai tidak melupakan aku, anak nakal yang pernah menerima kebaikan hati dari Kiai berdua.”
Orang tua itu pun menjadi tercengang. Karena itu untuk sesaat ia diam mematung. Dipandangnya Pasik dengan mata tak berkedip. Sehingga Pasik itu menyerahkannya sekali lagi,
“Inilah Kiai, terimalah tanda mata yang tak berarti.”
Seperti kena pukau, maka orang tua itu pun berdiri. Selangkah maju sambil menerima pemberian yang tak disangka-sangkanya.
“Terima kasih,” katanya lirih, hampir tak terdengar.
“Jangan berterima kasih Kiai,” jawab Pasik, “kenang-kenangan yang tak seberapa nilainya.”
Orang tua itu pun menganggukkan kepalanya. Diamatinya timang perak itu dengan seksama. Baik juga buatannya. Meskipun orang tua itu sebenarnya tak memerlukan timang itu, namun tak habis juga herannya, kenapa pada suatu ketika orang yang bernama Pasik itu sedemikian baik hati kepadanya.
“Sudahlah, Kiai,” Pasik itu minta diri.
“Ya, ya Ngger,” sahut laki-laki tua itu.
“Selamat malam, Nyai,” katanya pula sambil melangkah ke pintu.
“Terima kasih Ngger, terima kasih,” jawab perempuan tua yang kemudian menjadi bertambah berani.
Apalagi ketika ia melihat anak yang ditakuti itu justru memberikan timang dan ikat pinggang kepada suaminya. Suatu hal yang tak disangkanya, setelah suaminya tidak habisnya mengumpat dan mengutuk anak itu di hadapan tamu mereka.
Pasik itu pun kemudian membuka pintu, dan satu kakinya melangkahi tlundak. Tetapi tiba-tiba ia berhenti di tengah-tengah pintu. Sambil berpaling ia berkata,
“Besok aku harap Kiai datang juga ke rumah mengantarkan anak muda itu. Salam buat gadis kiai. Tolong ajak juga ia serta. Jangan lupa, Kiai. Dan masih ada permintaanku kepada Kiai. Aku juga ingin mendapat tanda mata barang sedikit. Apapun asal dapat memberi aku kesan, bahwa Kiai pernah memberi aku kesenangan di masa kecilku.”
Orang tua itu menjadi berdebar-debar. Besok ia harus datang ke rumah anak itu dengan gadisnya. Ah, bukankah ia sudah bukan gadis lagi? Namun sebelum ia sempat menjelaskan, Pasik itu sudah berkata pula,
“Kiai, barangkali Kiai tidak usah berpikir terlalu repot tentang tanda mata itu. Apapun jadilah. Misalnya ikat pinggang Kiai yang terbuat dari kulit kerbau itu bersama timangnya sekali.”
Kini orang tua itu benar-benar merasa seakan-akan disambar petir. Timangnya itu yang dimintanya. Timang emas bersalut permata. Satu-satunya kekayaan yang ada padanya, yang dikumpulkannya sejak mudanya. Karena itu, maka kembali tubuh suami istri itu menggigil. Bahkan lebih keras dari semula, sehingga timang perak murni itu terjatuh dari tangannya.
“Oh, oh,” berkata Pasik yang dengan tergopoh-gopoh melangkah mengambil timang itu, “Jangan dibuang Kiai. Simpanlah meskipun tak bernilai. Tetapi ingat, besok aku menunggu Kiai di rumahku. Dan Kiai akan datang membawa tanda mata yang aku minta itu, selain gadis kiai yang cantik dan anak muda tamu kiai itu.”
Pasik tidak menunggu orang tua itu menjawab. Dikalungkannya ikat pinggangnya di leher orang tua itu. Dan dengan langkah yang tegap tenang ia berjalan keluar dari rumah yang pernah menjadi tempatnya bermain pada masa kanak-kanaknya. Sepeninggal Pasik, sesaat orang tua itu masih berdiri saja seperti patung. Baru kemudian ketika ia menyadari keadaannya, diambilnya ikat pinggang yang tersangkut di lehernya itu. Kemudian dibantingnya ikat pinggang itu sambil mengumpat,
“Anak setan! Sampai hati juga ia minta timang itu.”
Istrinya ternyata sudah tidak dapat memberi sambutan apapun atas kejadian itu. Agaknya kepalanya menjadi pening, dan tanpa berkata apapun juga, perempuan itu berjalan bergegas masuk ke dalam biliknya.
Orang tua itu masih saja gelisah. Bahkan kemudian ia berjalan mondar-mandir sambil mengumpat tak habis-habisnya. Namun kata-kata Pasik itu merupakan perintah baginya selama ia masih sayang akan dirinya. Dipertimbangkannya keadaannya sebaik-baiknya. Berulang-ulang. Namun tak dilihatnya jalan apapun selain menyerahkan kekayaannya itu. Tetapi apabila diingatnya, Pasik minta ia datang bersama anaknya yang ternyata bukan gadis lagi, maka otaknya menjadi semakin pening, dan detak jantungnya seakan-akan memecahkan dadanya yang sudah menjadi semakin tipis.
Mahisa Agni menjadi kasihan juga melihat orang tua itu menjadi bingung. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Meskipun demikian dicobanya juga untuk mengurangi penderitaan perasaan itu. Katanya bertanya,
“Kiai, apakah setiap perintah itu harus dipenuhi?”
Orang tua itu mengerutkan keningnya. “Hem,” desahnya, “kalau tidak, maka aku tidak akan menjadi gila seperti ini.”
“Bagaimanakah kalau sekali-kali permintaan itu ditolak?” bertanya Mahisa Agni pula.
“Belum pernah seseorang berbuat demikian sejak Carub terbunuh.”
Dada Mahisa Agni berdesir mendengar jawaban itu. Kalau demikian maka Pasik itu sudah melangkah terlalu jauh sehingga telah jatuh korban karena tangannya.
“Jadi Pasik itu pernah membunuh orang?” bertanya Agni
Orang tua itu mengangguk. Jawabnya, “Tidak sendiri. Bertiga dengan saudara-saudara seperguruannya.”
“Dikerubut?” desak Agni
Orang tua itu menggeleng. Jawabnya, “Salah seorang dari mereka telah cukup untuk membunuh Carub. Namun mereka melakukannya bertiga. Beramai-ramai seperti membunuh tupai. Mula-mula Pasik itu tidak akan melakukannya. Carub adalah kawannya bermain sejak kecil. Ketika orang itu menolak memberikan seluruh simpanannya sepuluh keping emas, maka Carub itu dipukul oleh Pasik. Namun kawan-kawannya tidak puas melihatnya. Karena itu, maka mereka pun ikut serta. Dan tubuh Carub itu kemudian seperti pisang busuk.”
Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam. Katanya di dalam hati, “Apakah Pasik itu termasuk salah seorang tokoh sakti. Namun aku belum pernah mendengar namanya. Waraha pun belum pernah didengarnya. Mungkin nama gurunya.”
Karena itu maka Agni pun bertanya, “Siapakah gurunya itu?”
“Tak seorang pun yang mengetahuinya. Ia datang dari jauh. Dan disebutnya namanya seperti nama daerah asalnya. Menurut Pasik nama gurunya itu adalah Bahu Rekso Kali Elo.”
Sekali lagi dada Mahisa Agni berdesir. Nama itu belum pernah didengarnya, tetapi gurunya pernah menyebut-nyebut bahwa di sekitar Tumapel ada seorang guru yang datang dari daerah pusat Pulau Jawa. Namun sayang, tabiatnya kurang menyenangkan, sehingga orang itu tak begitu dikenal, dan bahkan agak terpencil dari pergaulan para sakti. Murid-muridnya tidak hanya dua tiga orang. Hampir semuanya adalah para penjudi dan penjahat. Apakah orang ini yang dimaksudkan, atau orang lain. Apabila benar orang itu, alangkah jauh daerah pengaruhnya, sehingga orang di kaki Gunung Semeru pun berguru pula kepadanya.
Dan ternyata orang itu kini ikut serta dengan muridnya yang bernama Pasik itu berkunjung ke padukuhan kecil ini. Dengan demikian kedatangan orang itu pasti akan mempunyai pengaruh yang sangat jelek terhadap penduduk Kajar. Namun betapapun juga, Mahisa Agni terpaksa menilai diri dan orang-orang yang belum dikenalnya itu. Apalagi gurunya, sedangkan muridnya pun belum diketahui tingkat ilmunya. Seandainya, ya seandainya, Pasik memaksa untuk memiliki keris peninggalan ayahnya itu, apakah ia harus tetap berdiam diri?
Malam itu, hampir tidak ada di antara mereka bertiga, orang tua itu, istrinya dan Mahisa Agni yang sempat memejamkan matanya. Orang tua suami istri itu selalu diganggu oleh ketakutan dan kebingungan menghadapi permintaan Pasik. Sedang Mahisa Agni tak dapat melepaskan perasaan ibanya kepada orang tua itu. Ingin ia menjanjikan sesuatu kepada mereka namun apakah ia akan dapat memenuhinya, belumlah pasti. Sebab kalau benar, Bahu Reksa Kali Elo itu adalah orang yang dikatakan gurunya, maka ia tidak tahu apakah ia akan dapat meninggalkan padukuhan ini dengan selamat apabila ia ingin mempertahankan kerisnya.
Tetapi malam berjalan terus tanpa menghiraukan kegelisahan, ketakutan, kecemasan yang mencengkam Padukuhan Kajar. Tidak hanya orang tua itu saja yang ternyata tidak dapat tidur semalaman. Namun banyak yang lain. Banyak di antara mereka yang tidak dapat tidur karena harus menyerahkan cincin mereka, kalung mereka atau apa saja yang diinginkan oleh Pasik itu, yang sebagian besar adalah benda-benda berharga. Emas, permata dan sebagainya. Dan malam itu pun berjalan menurut iramanya sendiri. Sekejap demi sekejap dilampauinya dengan ajeg menuju kepada akhirnya,
Ketika ayam jantan berkokok menjelang fajar, orang tua yang malang itu telah tidak dapat bertahan lagi berbaring di pembaringannya. Perlahan-lahan ia berjalan keluar dan duduk di tlundak pintu. Sedang Mahisa Agni yang tidur di lantai, di atas alas selembar tikar itu pun kemudian bangkit pula. Sekali ia menggeliat, kemudian kedua belah tangannya ia menutupi mulutnya yang sedang menguap.
Orang tua itu berpaling kepada Agni. Perlahan-lahan ia berkata, “Aku sudah hampir menjadi gila. Apakah Ki Sanak tidak sayang kepada keris itu?”
“Tentu, Bapa, tentu,” sahut Mahisa Agni terbata-bata.
“Pagi ini keris itu sudah harus Angger serahkan kepada si Pasik gila itu,” sambung orang tua itu.
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian tiba-tiba ia berkata, “Bagaimanakah kalau aku melarikan diri sekarang, Bapa?”
Orang tua itu mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Hampir tak ada gunanya Ngger. Pasik itu pasti segera akan mengejarmu. Ke mana saja kau pergi, maka pasti akan dapat ditemukannya. Kalau Angger lari, itu hanyalah seakan-akan menunda mala petaka untuk sesaat. Namun Pasik pasti akan menebus susah payahnya itu dengan kegembiraan-kegembiraan yang gila. Ia mungkin juga untuk menyiksa seseorang demi kesenangannya, atau karena kejengkelannya.”
“Tetapi aku masih mempunyai cukup waktu sampai ia yakin aku tidak datang ke rumahnya.”
Orang tua itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian jawabnya, “Mungkin juga. Angger juga seorang perantau, sehingga Angger dapat berjalan lebih cepat dan mencari jalan-jalan yang sulit.” Orang itu berhenti sejenak, nampaklah ia berpikir. Sesaat kemudian ia meneruskan, “Mungkin bagi Angger. Tetapi…….” Orang tua itu berhenti.
“Tetapi….?” ulang Mahisa Agni.
Orang tua itu menggeleng, “Tidak apa-apa Ngger. Namun kalau Angger ingin mencoba, cobalah, Biarlah aku tinggal di sini. Aku sudah tua.”
Mahisa Agni menjadi berdebar-debar mendengar kata-kata itu. Tetapi segera ia menangkap maksud kata-kata itu, meskipun orang tua itu berusaha untuk menyimpannya di dalam hati. Orang tua itu ternyata sedang membayangkan, apakah akibat yang akan terjadi, kalau tamunya itu melarikan diri. Maka segala persoalan pasti akan ditimpakan kepadanya. Dan sebenarnyalah Agni tidak ingin melarikan diri. Bahkan ia ingin melihat, apa saja yang akan terjadi di rumah Pasik itu.
Sementara itu pun, langit menjadi semakin lama semakin terang. Warna yang kelam seakan-akan sedikit demi sedikit larut dihanyutkan oleh angin pagi. Bintang-bintang yang masih gemerlapan, semua tenggelam dalam cahaya yang semakin terang. Dan bintang pagi pun kemudian sinarnya menjadi pudar dan lenyap ditelan cerahnya sinar matahari pagi.
Demikian akhirnya malam itu pun lenyaplah. Padukuhan Kajar itu kini kembali ditimpa oleh sinar matahari. Namun padukuhan itu tidak segera terbangun. Seakan-akan seseorang yang sedang sakit parah, yang tetap tinggal di pembaringannya meskipun matahari telah mencapai tinggi sepenggalah.
Tetapi akhirnya, beberapa orang Kajar itu harus ke luar juga dari rumah-rumah mereka. Mereka adalah orang-orang yang telah dikunjungi oleh Pasik serta diminta untuk datang ke rumahnya mengantarkan barang-barang yang dikehendakinya.
Laki-laki itu pun menjadi gemetar. Mulutnya seakan-akan tersumbat. Ketika didengarnya pintu rumah itu diketuk perlahan-lahan, perempuan tua itu dengan lemahnya terduduk di lantai sambil gemetar.
“Selamat sore Kiai,” terdengar sapa halus di belakang pintu rumah itu. Namun suami istri itu benar-benar seperti orang yang kehilangan tenaga. “Kiai,” sekali lagi terdengar suara di belakang pintu, “bukalah!”
Laki-laki tua itu masih terduduk di tempatnya. Mulutnya bergerak-gerak tetapi suaranya tak terdengar.
“Bukalah, Kiai!” suara di luar menjadi semakin keras.
Dan orang tua itu pun terkejut. Jawabnya terbata-bata,” Ya, ya Ngger. Ya. Ya aku buka.” Namun ia masih belum bergerak juga.
Tiba-tiba terdengarlah pintu rumah itu berderak. Dan sebelum orang tua itu membuka pintunya, maka pintu rumah itu pun telah terbuka. Ternyata orang yang berdiri di luar rumah itu sama sekali tidak sabar lagi menunggu laki-laki itu membuka pintunya, Mahisa Agni pun menggeser duduknya pula menghadap pintu. Karena itu dilihatnya dalam cahaya lampu yang remang-remang seorang anak muda yang gagah masuk ke dalam rumah itu.
“Selamat sore, Kiai,” sapanya sambil membungkukkan kepalanya.
Suami istri itu benar-benar telah menjadi gemetar. Meskipun demikian laki-laki itu menjawab dengan kata-kata yang parau dan bergetar, “Selamat malam Ngger, selamat sore.”
Anak muda itu tersenyum. Diraihnya selembar daun yang menutup cahaya lampu minyak di dinding. Karena itu maka ruangan itu pun menjadi semakin terang. Kini Mahisa Agni dapat melihat anak muda itu dengan jelas. Dilihatnya setiap garis di wajahnya. Wajah yang keras, namun tidak sedemikian bengis seperti yang disangkanya. Bahkan anak itu kelihatan tampan pula. Dengan tersenyum ia maju beberapa langkah dan kemudian ikut duduk pula di antara mereka. Kemudian anak muda yang mengubah namanya sendiri menjadi Waraha itu tersenyum. Katanya,
“Ah, sudah lama aku tidak berkunjung kemari Kiai.”
Orang tua itu menjadi semakin gemetar. Namun ia menjawab pula, “Ya, ya Ngger.”
Anak muda itu tertawa. Katanya, “Tetapi Kiai dan Nyai ternyata awet muda.” Laki-laki tua itu pun mencoba untuk tertawa. Namun tampaklah betapa masamnya. Dan wajah-wajah yang pucat itu menjadi semakin pucat ketika anak muda itu berkata, “Ah. Ternyata Kiai dan Nyai selama ini tidak pernah melupakan aku. Setiap pembicaraan Kiai selalu masih menyebut-nyebut namaku.”
Kata-kata itu seolah-olah ledakan petir di atas rumah yang kecil itu. Laki-laki tua dan istrinya menjadi semakin menggigil karenanya, sehingga mereka tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun lagi. Anak muda itu kemudian memandang berkeliling ruangan itu. Ketika matanya hinggap di wajah Mahisa Agni, maka anak muda itu tersenyum. Dengan ramah ia bertanya kepada laki-laki tua itu,
“Kiai, siapakah tamu Kiai ini?”
Laki-laki itu terkejut. Sesaat ia menjadi bingung, namun kemudian ia menjawab, “Mahisa Agni Ngger, namanya Mahisa Agni.”
Pasik yang menamakan diri Waraha itu mengangkat alisnya. Katanya, “Nama yang baik. Mahisa Agni.” Kemudian kepada Mahisa Agni ia bertanya, “Ki Sanak. Dari manakah Ki Sanak datang?”
Mahisa Agni menjadi heran. Anak muda ini tampaknya cukup sopan. Karena itu ia menjawab dengan sopan pula.
“Aku datang dari Gunung Kawi, Ki Sanak.”
Waraha mengernyitkan alisnya. Kemudian katanya, “Jauh sekali. Apakah keperluan Ki Sanak?”
“Aku adalah seorang perantau,” sahut Mahisa Agni.
Anak muda itu tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ditatapnya bungkusan Mahisa Agni di samping tongkat kayunya. Katanya pula, “Ya. aku percaya kalau Ki Sanak seorang perantau. Apakah yang Ki sanak simpan di dalam bungkusan itu?”
“Oh,” desah Agni, “bukan apa-apa. Hanya sekedar kain usang.”
Laki-laki muda yang gagah itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dengan sopan pula ia berkata, “Apakah aku boleh melihatnya?”
Mahisa Agni menjadi terkejut dan heran. Anak muda itu mengucapkan kata-katanya dengan sopan, namun apa yang akan dilakukan benar-benar bukan suatu pekerjaan yang sopan. Kini tahulah Mahisa Agni, bahwa anak muda itu melakukan perbuatan-perbuatan yang menakutkan penduduk Kajar dengan tingkah laku yang sopan dibuat-buat. Karena itu Mahisa Agni menjawab,
“Tak ada apa-apa di dalamnya, Ki Sanak.”
Waraha tersenyum. Ia tidak berbicara lagi. Beberapa langkah ia berjalan sambil berjongkok, dan dengan sopannya ia berkata kepada laki-laki tua itu, “Maafkan aku Kiai.”
Dan sebelum Mahisa Agni dapat mencegahnya, Waraha telah meraih bungkusannya. Mahisa Agni hanya dapat menarik nafas. Namun ia harus memperhatikan setiap perbuatan Pasik. Karena itu, Mahisa Agni itu pun kemudian bergeser beberapa cengkang, mendekati Pasik yang asyik membuka bungkusannya itu. Anak muda itu terkejut ketika di dalam bungkusan itu dilihatnya sebilah keris.
“Ah,” katanya, “keris yang bagus.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Keris itu adalah keris pusaka peninggalan ayahnya dan dibuat oleh pamannya. Meskipun demikian masih dibiarkannya Pasik mengamat-amati keris itu.
Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Pasik itu bergumam, “Keris yang bagus. Bagus sekali. Dari manakah kau dapat keris ini Ki Sanak?”
Mahisa Agni mengangkat keningnya jawabnya, “Aku menerimanya dari Ayah, Ki Sanak.”
“Apakah kau seorang yang ahli mempergunakan senjata, khususnya keris?”
Mahisa Agni cepat-cepat menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Keris pusaka. Aku bawa ke mana saja aku pergi. Mudah-mudahan keris itu dapat memberi aku keselamatan.”
Waraha itu tiba-tiba tertawa. Katanya, “Ah kau aneh Ki Sanak. Apakah kerismu ini juga dapat memberimu keselamatan? Kau agaknya kurang dapat memahami kata-kata itu. Keris ini akan dapat memberi keselamatan apabila kau mampu mempergunakannya. Apakah kau mampu bertempur dengan keris?”
Mahisa Agni menggeleng pula. Jawabnya, “Mudah-mudahan keris itu bermanfaat bagiku.”
Pasik itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia berkata menyentak, “Hai perantau. Apakah kau seorang petualang yang sakti?”
Mahisa Agni terkejut ketika tiba-tiba ia melihat Waraha menarik kerisnya dari wrangkanya. Ujung keris itu tiba-tiba telah terayun ke dadanya. Mahisa Agni itu pun kemudian bergeser surut. Ia tidak mau membuat perselisihan sejauh mungkin. Karena itu ia menjawab,
“Jangan Ki Sanak, jangan.”
Namun Waraha itu pun beringsut maju pula. Kerisnya masih terarah ke dada Mahisa Agni. Sambil membentak sekali lagi ia berkata, “Ayo, lawanlah!”
Mahisa Agni pun bergeser pula mundur. Katanya, “Jangan Ki Sanak. Jangan.”
Tiba-tiba Waraha itu tertawa. Tertawa sepuas-puasnya. Katanya, “Hem. Sebaiknya kau tidak usah membawa senjata. Senjata ini akan berbahaya bagimu sendiri seandainya kau tidak mampu mempergunakannya.”
Mahisa Agni itu pun menjadi heran. Apakah maksud Waraha dengan kata-katanya. Tetapi ia tidak boleh lengah. Ketika ia berpaling ke arah sepasang orang-orang tua itu, maka Mahisa Agni menjadi iba. Keduanya telah menggigil seperti orang kedinginan. Demikian takutnya sehingga perempuan tua itu berpegangan suaminya erat-erat. Waraha itu pun kemudian menyarungkan keris itu ke dalam wrangkanya. Kemudian dengan rapi keris itu dikembalikan ke dalam bungkusannya pula. Dan kini kembali wajah Pasik itu menjadi jernih. Dengan sopan ia berkata,
“Ki Sanak. Ternyata keris itu sedemikian bagusnya. Aku belum pernah melihat keris sebagus itu. Apakah Ki Sanak benar-benar memerlukannya?”
“Tentu, tentu,” sahut Mahisa Agni cepat-cepat, “keris itu adalah pusaka peninggalan ayahku. Dan keris itu akan dapat memberi aku ketenangan.”
Waraha itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dipandangnya wajah Mahisa Agni yang tunduk. Ketika Waraha itu berpaling ke arah laki-laki tua dan istrinya, ia tertawa. Katanya,
“Maafkan aku Kiai dan Nyai. Aku tidak ingin menakut-nakuti kalian. Aku hanya bermain-main saja.” Dan tiba-tiba kepada Mahisa Agni ia berkata, “Ki Sanak. Aku ingin kerismu itu.”
Mahisa Agni sudah menyangka bahwa Pasik itu menginginkan kerisnya. Karena itu ia tidak terkejut. Meskipun demikian ia menjawab, “Jangan Ki Sanak. Keris itu keris pusaka.”
Namun Waraha itu pun beringsut maju pula. Kerisnya masih terarah ke dada Mahisa Agni. Sambil membentak sekali lagi ia berkata, “Ayo, lawanlah!”
Mahisa Agni bergeser pula mundur Katanya, “Jangan Ki Sanak. Jangan.”
Waraha tertawa. Sekali lagi ia memandang ke wajah laki-laki tua dan istrinya. Katanya, “Jangan takut, Kiai. Aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku sebenarnya hanya ingin berkunjung saja. Bukankah Kiai dan Nyai telah banyak berbuat kebaikan kepadaku?”
Laki-laki tua itu mengangguk-angguk kosong. Dari mulutnya terloncat kata-kata, satu-satu, “Ya Ngger. Terima kasih, terima kasih.”
“Kenapa terima kasih?” bertanya anak muda itu.
Orang tua itu menjadi bingung, sedemikian bingungnya sehingga ia menjawab, “Terima kasih Ngger, karena Angger tidak akan berbuat apa-apa.”
“He?” jawab Pasik, “Apakah aku selalu mengganggu orang? Sehingga apabila aku tidak berbuat demikian, maka itu dapat dianggap suatu kebaikan?”
Orang tua itu menjadi semakin bingung. Terbata-bata ia menjawab, “Tidak, tidak. Maksudku tidak sedemikian.”
Pasik itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak sehingga tubuhnya berguncang-guncang. Semakin lama semakin tampaklah bahwa kesopanan yang berlebih-lebihan itu adalah dibuat-buatnya saja. Ternyata apa yang dilakukan semakin menjadi kasar dan memuakkan.
Kepada Mahisa Agni kemudian anak muda itu berkata, “Anak muda. Aku ingin kerismu itu. Besok kau harus menyerahkannya kepadaku di rumahku. Ingat besok. Aku tidak akan merampas keris itu di sini supaya aku tidak menakut-nakuti penghuni rumah yang baik ini, meskipun sekarang sudah menganggap aku sebagai anak durhaka, seperti orang seluruh padukuhan ini menganggap aku demikian pula. Tetapi tak apa. Aku dapat hidup tanpa orang-orang di padukuhan ini. Nah, ingat. Besok pagi. Jangan mencoba melarikan diri malam nanti. Sebab nyawamu pasti akan melayang.”
Mahisa Agni itu pun mencoba bertanya, “Kenapa aku mesti menyerahkan keris ini kepada Ki Sanak.”
Pasik mencibirkan bibirnya. “Jangan banyak bertanya,” jawabnya, “Malanglah kau, karena kau telah bertemu dengan aku. Nah kini aku akan pergi.”
Ketika Mahisa Agni akan berkata sesuatu, maka Pasik itu segera membentaknya, “Jangan bertanya dan berkata apapun! Kau hanya dapat melakukan. Datanglah besok ke rumahku. Serahkan keris itu kepadaku. Aku juga sedang menunggu beberapa orang yang akan memberi aku bekal perjalanan dua tiga hari yang akan datang. Mereka adalah sahabatku yang baik, yang dapat mengerti keadaanku.”
Dan Mahisa Agni pun kemudian tidak berkata-kata pula. Dan bahkan timbullah keinginannya untuk melihat rumah Pasik besok dan melihat apa saja yang akan dilakukannya dan siapa sajakah yang besok harus datang pula ke rumahnya.
Pasik itu pun kemudian berdiri. Namun ia tidak segera pergi. Dilepaskannya ikat pinggangnya beserta timang perak murni yang berkilat-kilat kena sinar lampu minyak. Heranlah Mahisa Agni ketika Pasik itu memberikan timang itu kepada orang tua penghuni rumah itu. Katanya,
“Ah, Barangkali aku perlu memberikan sesuatu kepada Kiai. Bukan apa-apa, hanya sekedar tanda mata, supaya untuk seterusnya Kiai tidak melupakan aku, anak nakal yang pernah menerima kebaikan hati dari Kiai berdua.”
Orang tua itu pun menjadi tercengang. Karena itu untuk sesaat ia diam mematung. Dipandangnya Pasik dengan mata tak berkedip. Sehingga Pasik itu menyerahkannya sekali lagi,
“Inilah Kiai, terimalah tanda mata yang tak berarti.”
Seperti kena pukau, maka orang tua itu pun berdiri. Selangkah maju sambil menerima pemberian yang tak disangka-sangkanya.
“Terima kasih,” katanya lirih, hampir tak terdengar.
“Jangan berterima kasih Kiai,” jawab Pasik, “kenang-kenangan yang tak seberapa nilainya.”
Orang tua itu pun menganggukkan kepalanya. Diamatinya timang perak itu dengan seksama. Baik juga buatannya. Meskipun orang tua itu sebenarnya tak memerlukan timang itu, namun tak habis juga herannya, kenapa pada suatu ketika orang yang bernama Pasik itu sedemikian baik hati kepadanya.
“Sudahlah, Kiai,” Pasik itu minta diri.
“Ya, ya Ngger,” sahut laki-laki tua itu.
“Selamat malam, Nyai,” katanya pula sambil melangkah ke pintu.
“Terima kasih Ngger, terima kasih,” jawab perempuan tua yang kemudian menjadi bertambah berani.
Apalagi ketika ia melihat anak yang ditakuti itu justru memberikan timang dan ikat pinggang kepada suaminya. Suatu hal yang tak disangkanya, setelah suaminya tidak habisnya mengumpat dan mengutuk anak itu di hadapan tamu mereka.
Pasik itu pun kemudian membuka pintu, dan satu kakinya melangkahi tlundak. Tetapi tiba-tiba ia berhenti di tengah-tengah pintu. Sambil berpaling ia berkata,
“Besok aku harap Kiai datang juga ke rumah mengantarkan anak muda itu. Salam buat gadis kiai. Tolong ajak juga ia serta. Jangan lupa, Kiai. Dan masih ada permintaanku kepada Kiai. Aku juga ingin mendapat tanda mata barang sedikit. Apapun asal dapat memberi aku kesan, bahwa Kiai pernah memberi aku kesenangan di masa kecilku.”
Orang tua itu menjadi berdebar-debar. Besok ia harus datang ke rumah anak itu dengan gadisnya. Ah, bukankah ia sudah bukan gadis lagi? Namun sebelum ia sempat menjelaskan, Pasik itu sudah berkata pula,
“Kiai, barangkali Kiai tidak usah berpikir terlalu repot tentang tanda mata itu. Apapun jadilah. Misalnya ikat pinggang Kiai yang terbuat dari kulit kerbau itu bersama timangnya sekali.”
Kini orang tua itu benar-benar merasa seakan-akan disambar petir. Timangnya itu yang dimintanya. Timang emas bersalut permata. Satu-satunya kekayaan yang ada padanya, yang dikumpulkannya sejak mudanya. Karena itu, maka kembali tubuh suami istri itu menggigil. Bahkan lebih keras dari semula, sehingga timang perak murni itu terjatuh dari tangannya.
“Oh, oh,” berkata Pasik yang dengan tergopoh-gopoh melangkah mengambil timang itu, “Jangan dibuang Kiai. Simpanlah meskipun tak bernilai. Tetapi ingat, besok aku menunggu Kiai di rumahku. Dan Kiai akan datang membawa tanda mata yang aku minta itu, selain gadis kiai yang cantik dan anak muda tamu kiai itu.”
Pasik tidak menunggu orang tua itu menjawab. Dikalungkannya ikat pinggangnya di leher orang tua itu. Dan dengan langkah yang tegap tenang ia berjalan keluar dari rumah yang pernah menjadi tempatnya bermain pada masa kanak-kanaknya. Sepeninggal Pasik, sesaat orang tua itu masih berdiri saja seperti patung. Baru kemudian ketika ia menyadari keadaannya, diambilnya ikat pinggang yang tersangkut di lehernya itu. Kemudian dibantingnya ikat pinggang itu sambil mengumpat,
“Anak setan! Sampai hati juga ia minta timang itu.”
Istrinya ternyata sudah tidak dapat memberi sambutan apapun atas kejadian itu. Agaknya kepalanya menjadi pening, dan tanpa berkata apapun juga, perempuan itu berjalan bergegas masuk ke dalam biliknya.
Orang tua itu masih saja gelisah. Bahkan kemudian ia berjalan mondar-mandir sambil mengumpat tak habis-habisnya. Namun kata-kata Pasik itu merupakan perintah baginya selama ia masih sayang akan dirinya. Dipertimbangkannya keadaannya sebaik-baiknya. Berulang-ulang. Namun tak dilihatnya jalan apapun selain menyerahkan kekayaannya itu. Tetapi apabila diingatnya, Pasik minta ia datang bersama anaknya yang ternyata bukan gadis lagi, maka otaknya menjadi semakin pening, dan detak jantungnya seakan-akan memecahkan dadanya yang sudah menjadi semakin tipis.
Mahisa Agni menjadi kasihan juga melihat orang tua itu menjadi bingung. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Meskipun demikian dicobanya juga untuk mengurangi penderitaan perasaan itu. Katanya bertanya,
“Kiai, apakah setiap perintah itu harus dipenuhi?”
Orang tua itu mengerutkan keningnya. “Hem,” desahnya, “kalau tidak, maka aku tidak akan menjadi gila seperti ini.”
“Bagaimanakah kalau sekali-kali permintaan itu ditolak?” bertanya Mahisa Agni pula.
“Belum pernah seseorang berbuat demikian sejak Carub terbunuh.”
Dada Mahisa Agni berdesir mendengar jawaban itu. Kalau demikian maka Pasik itu sudah melangkah terlalu jauh sehingga telah jatuh korban karena tangannya.
“Jadi Pasik itu pernah membunuh orang?” bertanya Agni
Orang tua itu mengangguk. Jawabnya, “Tidak sendiri. Bertiga dengan saudara-saudara seperguruannya.”
“Dikerubut?” desak Agni
Orang tua itu menggeleng. Jawabnya, “Salah seorang dari mereka telah cukup untuk membunuh Carub. Namun mereka melakukannya bertiga. Beramai-ramai seperti membunuh tupai. Mula-mula Pasik itu tidak akan melakukannya. Carub adalah kawannya bermain sejak kecil. Ketika orang itu menolak memberikan seluruh simpanannya sepuluh keping emas, maka Carub itu dipukul oleh Pasik. Namun kawan-kawannya tidak puas melihatnya. Karena itu, maka mereka pun ikut serta. Dan tubuh Carub itu kemudian seperti pisang busuk.”
Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam. Katanya di dalam hati, “Apakah Pasik itu termasuk salah seorang tokoh sakti. Namun aku belum pernah mendengar namanya. Waraha pun belum pernah didengarnya. Mungkin nama gurunya.”
Karena itu maka Agni pun bertanya, “Siapakah gurunya itu?”
“Tak seorang pun yang mengetahuinya. Ia datang dari jauh. Dan disebutnya namanya seperti nama daerah asalnya. Menurut Pasik nama gurunya itu adalah Bahu Rekso Kali Elo.”
Sekali lagi dada Mahisa Agni berdesir. Nama itu belum pernah didengarnya, tetapi gurunya pernah menyebut-nyebut bahwa di sekitar Tumapel ada seorang guru yang datang dari daerah pusat Pulau Jawa. Namun sayang, tabiatnya kurang menyenangkan, sehingga orang itu tak begitu dikenal, dan bahkan agak terpencil dari pergaulan para sakti. Murid-muridnya tidak hanya dua tiga orang. Hampir semuanya adalah para penjudi dan penjahat. Apakah orang ini yang dimaksudkan, atau orang lain. Apabila benar orang itu, alangkah jauh daerah pengaruhnya, sehingga orang di kaki Gunung Semeru pun berguru pula kepadanya.
Dan ternyata orang itu kini ikut serta dengan muridnya yang bernama Pasik itu berkunjung ke padukuhan kecil ini. Dengan demikian kedatangan orang itu pasti akan mempunyai pengaruh yang sangat jelek terhadap penduduk Kajar. Namun betapapun juga, Mahisa Agni terpaksa menilai diri dan orang-orang yang belum dikenalnya itu. Apalagi gurunya, sedangkan muridnya pun belum diketahui tingkat ilmunya. Seandainya, ya seandainya, Pasik memaksa untuk memiliki keris peninggalan ayahnya itu, apakah ia harus tetap berdiam diri?
Malam itu, hampir tidak ada di antara mereka bertiga, orang tua itu, istrinya dan Mahisa Agni yang sempat memejamkan matanya. Orang tua suami istri itu selalu diganggu oleh ketakutan dan kebingungan menghadapi permintaan Pasik. Sedang Mahisa Agni tak dapat melepaskan perasaan ibanya kepada orang tua itu. Ingin ia menjanjikan sesuatu kepada mereka namun apakah ia akan dapat memenuhinya, belumlah pasti. Sebab kalau benar, Bahu Reksa Kali Elo itu adalah orang yang dikatakan gurunya, maka ia tidak tahu apakah ia akan dapat meninggalkan padukuhan ini dengan selamat apabila ia ingin mempertahankan kerisnya.
Tetapi malam berjalan terus tanpa menghiraukan kegelisahan, ketakutan, kecemasan yang mencengkam Padukuhan Kajar. Tidak hanya orang tua itu saja yang ternyata tidak dapat tidur semalaman. Namun banyak yang lain. Banyak di antara mereka yang tidak dapat tidur karena harus menyerahkan cincin mereka, kalung mereka atau apa saja yang diinginkan oleh Pasik itu, yang sebagian besar adalah benda-benda berharga. Emas, permata dan sebagainya. Dan malam itu pun berjalan menurut iramanya sendiri. Sekejap demi sekejap dilampauinya dengan ajeg menuju kepada akhirnya,
Ketika ayam jantan berkokok menjelang fajar, orang tua yang malang itu telah tidak dapat bertahan lagi berbaring di pembaringannya. Perlahan-lahan ia berjalan keluar dan duduk di tlundak pintu. Sedang Mahisa Agni yang tidur di lantai, di atas alas selembar tikar itu pun kemudian bangkit pula. Sekali ia menggeliat, kemudian kedua belah tangannya ia menutupi mulutnya yang sedang menguap.
Orang tua itu berpaling kepada Agni. Perlahan-lahan ia berkata, “Aku sudah hampir menjadi gila. Apakah Ki Sanak tidak sayang kepada keris itu?”
“Tentu, Bapa, tentu,” sahut Mahisa Agni terbata-bata.
“Pagi ini keris itu sudah harus Angger serahkan kepada si Pasik gila itu,” sambung orang tua itu.
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian tiba-tiba ia berkata, “Bagaimanakah kalau aku melarikan diri sekarang, Bapa?”
Orang tua itu mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Hampir tak ada gunanya Ngger. Pasik itu pasti segera akan mengejarmu. Ke mana saja kau pergi, maka pasti akan dapat ditemukannya. Kalau Angger lari, itu hanyalah seakan-akan menunda mala petaka untuk sesaat. Namun Pasik pasti akan menebus susah payahnya itu dengan kegembiraan-kegembiraan yang gila. Ia mungkin juga untuk menyiksa seseorang demi kesenangannya, atau karena kejengkelannya.”
“Tetapi aku masih mempunyai cukup waktu sampai ia yakin aku tidak datang ke rumahnya.”
Orang tua itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian jawabnya, “Mungkin juga. Angger juga seorang perantau, sehingga Angger dapat berjalan lebih cepat dan mencari jalan-jalan yang sulit.” Orang itu berhenti sejenak, nampaklah ia berpikir. Sesaat kemudian ia meneruskan, “Mungkin bagi Angger. Tetapi…….” Orang tua itu berhenti.
“Tetapi….?” ulang Mahisa Agni.
Orang tua itu menggeleng, “Tidak apa-apa Ngger. Namun kalau Angger ingin mencoba, cobalah, Biarlah aku tinggal di sini. Aku sudah tua.”
Mahisa Agni menjadi berdebar-debar mendengar kata-kata itu. Tetapi segera ia menangkap maksud kata-kata itu, meskipun orang tua itu berusaha untuk menyimpannya di dalam hati. Orang tua itu ternyata sedang membayangkan, apakah akibat yang akan terjadi, kalau tamunya itu melarikan diri. Maka segala persoalan pasti akan ditimpakan kepadanya. Dan sebenarnyalah Agni tidak ingin melarikan diri. Bahkan ia ingin melihat, apa saja yang akan terjadi di rumah Pasik itu.
Sementara itu pun, langit menjadi semakin lama semakin terang. Warna yang kelam seakan-akan sedikit demi sedikit larut dihanyutkan oleh angin pagi. Bintang-bintang yang masih gemerlapan, semua tenggelam dalam cahaya yang semakin terang. Dan bintang pagi pun kemudian sinarnya menjadi pudar dan lenyap ditelan cerahnya sinar matahari pagi.
Demikian akhirnya malam itu pun lenyaplah. Padukuhan Kajar itu kini kembali ditimpa oleh sinar matahari. Namun padukuhan itu tidak segera terbangun. Seakan-akan seseorang yang sedang sakit parah, yang tetap tinggal di pembaringannya meskipun matahari telah mencapai tinggi sepenggalah.
Tetapi akhirnya, beberapa orang Kajar itu harus ke luar juga dari rumah-rumah mereka. Mereka adalah orang-orang yang telah dikunjungi oleh Pasik serta diminta untuk datang ke rumahnya mengantarkan barang-barang yang dikehendakinya.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar