PdLS-06
MAHISA AGNI PUN KEMUDIAN membenahi diri. Mencuci muka di sumur di belakang rumah. Memperbaiki letak pakaiannya dan kemudian bersama-sama dengan orang tua yang ramah itu, duduk di atas tikar anyaman menghadapi air jahe hangat dan sebongkah gula kelapa.
“Minumlah Ngger,” orang tua itu mempersilakan, namun ia sendiri tidak mau minum. Lehernya yang telah berkeriput itu seakan-akan telah tersumbat. Meskipun demikian, Mahisa Agni minum juga beberapa teguk. Alangkah segarnya. “Sebentar lagi kita harus pergi memenuhi permintaan anak setan itu. Istriku sedang menjemput gadisnya di rumah sebelah. Mudah-mudahan kita dijauhkan dari malapetaka yang lebih besar. Biarlah aku serahkan timang itu, asal anakku itu tidak diganggunya.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Alangkah sedihnya orang tua itu. Sesaat kemudian istrinya yang telah tua pula itu pun datang bersama anak perempuan beserta suaminya. Sekilas Agni segera dapat melihat air mata yang membasahi mata yang jernih bulat itu. Sedang suaminya, tidak lebih seorang petani biasa. Bertubuh kecil dan berhati kecil. Sehingga dengan gemetar ia bertanya,
“Apakah yang akan dilakukan oleh Pasik, Kiai.”
Orang tua itu menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak tahu. Mudah-mudahan tak akan dilakukan sesuatu.”
“Aku telah membawa semua perhiasan dan kekayaan yang aku miliki. Mudah-mudahan istriku tidak diganggunya.”
Orang tua itu tidak menyahut. Namun istrinya menangis terisak-isak, sehingga anaknya menangis pula. Katanya, “Biarlah aku tinggal di rumah. “
Ayahnya menarik nafas. Tak sepatah kata pun dapat diucapkan, sehingga anaknya itu berkata pula, “Ayah, aku lebih baik mati daripada disentuhnya.”
Ayahnya masih terbungkam. Dan bahkan matanya pun menjadi basah pula. Mahisa Agni benar-benar tak dapat menahan perasaan harunya. Karena itu tiba-tiba ia berkata,
“Biarlah anak bapa tinggal di rumah bersama suaminya.”
Yang mendengar kata-kata Mahisa Agni itu terkejut. Orang tua itu berpaling kepadanya sambil berkata, “Aku tidak dapat membayangkan akibatnya.”
“Mudah-mudahan Pasik melupakannya setelah ia melihat timang bapa dan kerisku ini,” jawab Agni.
Orang tua itu berpikir sejenak. Tetapi kemudian ia menjawab, “Hampir tak ada gunanya, Ngger. Ia tidak dapat melihat keinginannya sepotong-sepotong terpenuhi. Ia ingin semuanya.”
“Tetapi apakah anak bapa itu juga terpaksa dikorbankan seandainya nanti dikehendaki oleh Pasik itu?”
Orang tua itu terdiam. Istrinya pun terdiam. Namun anak perempuannyalah yang menangis. Dan bahkan suaminya pun menangis.
“Jangan menangis,” minta Mahisa Agni kepada laki-laki itu, “seharusnya laki-laki tidak menangis.”
Tetapi laki-laki itu menangis terus. Katanya di sela-sela tangisnya, “Ki Sanak tidak merasakan apa yang aku rasakan. Itulah Ki Sanak dapat berkata demikian.”
Mahisa Agnilah kini yang terdiam. Ia tidak tahu bagaimana mencoba menghibur mereka. Namun ia menjadi semakin kasihan juga melihat keadaan keluarga yang sedang berduka itu.
Tiba-tiba perempuan tua itu berkata, “Kiai biarlah suaminya saja pergi bersama-sama Kiai. Biarlah anak ini tinggal bersama aku di rumah. Bawalah semua kekayaan yang ada sebagai tebusannya.”
Laki tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Akhirnya ia pun berkata, “Biarlah ia tinggal di rumah. Marilah kita pergi apa pun yang terjadi.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Marilah. Kita tebus putri bapa itu dengan kekayaan. Mungkin Pasik akan bergembira karenanya.”
Orang tua itu tidak menjawab. Ditatapnya wajah anaknya dan istrinya berganti-ganti. Kemudian kepada menantunya ia berkata, “Marilah supaya Pasik tidak menjadi kesal menunggu kedatangan kita.”
Maka pergilah mereka bertiga ke rumah Pasik. Dengan wajah tunduk menantu orang tua itu berjalan di sampingnya, sedang Mahisa Agni berjalan di belakang mereka.
Sekali orang tua itu berpaling sambil bertanya kepada Mahisa Agni, “Apakah Angger sudah ikhlas akan keris itu?”
Mahisa Agni menarik nafas. Jawabnya, “Keris ini keris peninggalan Bapa.”
“Jadi?”
“Entahlah,” sahut Agni.
Kembali mereka berdiam diri. Mereka berjalan menyusur jalan-jalan padukuhan yang sempit, menuju ke rumah Pasik. Akhirnya sampai jugalah mereka ke rumah itu. Rumah yang tidak begitu besar, namun berhalaman luas. Di halaman itu Mahisa Agni melihat beberapa orang telah berkumpul dengan berbagai bungkusan di tangan mereka. Namun tampaklah wajah mereka yang suram dan bersedih. Mereka harus menyerahkan beberapa macam benda bagian dari kekayaan mereka.
Ketika orang tua itu sampai di halaman rumah Pasik, maka semua orang yang sudah berada ditempai itu, menjadi heran dan saling berpandangan. Sebagian dari mereka menjadi heran, kenapa orang tua itu pula telah dijadikan korban oleh Pasik ? Dan sebagian lagi heran melihat kehadiran orang yang belum pernah mereka kenal sebelumnya.
Seseorang yang telah setengah umur segera mendekati orang tua itu sambil berbisik, “Kenapa Kakang datang kemari?”
“Seperti juga kau datang kemari,” jawab orang tua itu.
“Oh, apakah Pasik itu sampai hati juga berbuat demikian kepada Kakang?”
“Ternyata demikianlah.”
Kemudian mereka itu terdiam ketika mereka melihat Pasik keluar dari rumahnya. Dengan wajah yang cerah anak muda itu tersenyum. Kemudian menganggukkan kepala kepada semua orang yang telah berada di halaman. Namun seleret ia, memandang ke seberang halamannya. Dan ternyata di kejauhan, beberapa orang dengan diam-diam ingin melihat apa yang terjadi di halaman rumah Pasik itu. Namun Pasik itu masih saja tersenyum. Kemudian dengan ramah ia berkata,
“Alangkah senangnya aku, bahwa kalian masih juga suka berkunjung ke rumah ini. Meskipun belum kalian nyatakan, tetapi aku sudah tahu bahwa kalian telah bersusah payah datang untuk memberikan bekal perjalananku lusa. Sebenarnyalah aku memang hendak bepergian. Jauh, ke Tumapel mengikuti guruku yang hari ini datang juga ke padukuhan ini.” Pasik itu diam sesaat, namun orang yang datang di halamannya mengumpat di dalam hati mereka. Sesaat kemudian Pasik itu berkata, “ Sayang, guruku pagi ini tidak dapat menerima kalian. Mungkin sebentar lagi setelah guru datang dari melihat-lihat daerah terpencil ini.”
Kembali Pasik itu berdiam diri. Ditebarkannya pandangan matanya sekali lagi. Ketika ia melihat Mahisa Agni, maka anak muda itu tersenyum, “Selamat datang Ki Sanak. Ternyata Ki Sanak sudi juga berkunjung ke rumah ini.”
Mahisa Agni pun menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Tentu. Bukankah Ki Sanak yang minta kepadaku untuk datang pagi ini?”
Pasik mengerutkan keningnya, dan orang-orang yang mendengar jawaban itu pun menjadi terkejut. Alangkah beraninya orang itu menjawab pertanyaan Pasik. Namun kemudian mereka menyadari bahwa orang itu belum mengenal siapakah Pasik itu.
Pasik pun kemudian tersenyum pula, “Memang, aku kemarin telah mempersilakan kau datang. Bukankah lebih baik apabila kita memperbanyak sahabat?”
Mahisa Agni tidak menjawab. Dan dibiarkannya Pasik tersenyum puas. Ia ingin melihat apa saja yang akan terjadi seterusnya di halaman itu. Ternyata Pasik itu pun tidak memperpanjang perkataannya. Dengan singkat kemudian ia berkata,
“Nah, aku akan sangat berterima kasih atas pemberian kalian. Karena itu, marilah berikanlah apa yang ingin saudara-saudara berikan itu.”
Suasana kemudian menjadi hening sepi. Tampaklah beberapa orang menjadi ragu-ragu. Sehingga Pasik itu pun berkata, “Marilah. Satu demi satu, supaya aku dapat melihat barang-barang yang kalian berikan itu. Marilah!”
Maka, sesaat kemudian mulailah orang yang pertama berdiri. Melangkah maju dan menyerahkan bungkusannya kepada Pasik. Dengan tersenyum puas, Pasik membuka bungkusan itu. Sepotong cula berukir berbentuk sebuah golek yang sangat manis. Namun wajah Pasik itu tiba-tiba menjadi gelap. Katanya,
“Apakah benda ini sama sekali tidak bersalut emas?”
Orang yang membawa cula berukir itu terkejut. Dandengan ketakutan ia menjawab, “Tidak, tidak Pasik.”
“He?” potong Pasik, “Sebutlah namaku!”
“Oh,” orang itu semakin ketakutan, “maksudku Angger Waraha.”
Pasik menarik napas. Tetapi tiba-tiba ia membentak “Bohong! Benda-benda serupa ini biasanya bersalut emas.”
“Tetapi yang ini tidak Ngger,” jawab orang itu, “ini adalah peninggalan Bapakku. Dibuatnya benda ini dengan tangannya sebagai kenang-kenangan pada masa mudanya, ketika Bapak itu berhasil menangkap seekor badak yang jarang terdapat di daerah ini dalam perburuannya. Sehingga sudah tentu kami tidak dapat memberinya emas. Sebab sebenarnya kami tidak pernah melihat, apalagi memiliki emas. Maka …”
“Cukup!” bentak Waraha, orang itu sedemikian terkejutnya sehingga tubuhnya tiba-tiba menjadi gemetar, “Aku tidak perlu sesorah itu.”
Orang itu ternyata masih ingin memberi beberapa penjelasan, namun mulutnya sajalah yang bergeletar, tetapi tak sepatah kata pun yang dapat lolos dari tenggorokannya. Apalagi ketika kemudian ia mendengar Waraha membentaknya sekali lagi,
“Pulang! Jangan menghina aku! Ambil yang lain!”
“Itu, itu…,” sahut orang itu terbata-bata, “itu adalah milikku yang paling berharga Ngger.”
“Pulang, dan ambil yang lain! Dengar?”
“Aku, aku sudah tidak punya apa-apa lagi.”
Waraha itu kemudian menjadi marah. Dengan serta-merta golek cula yang amat manis itu dibantingnya pada sebuah batu.
“Pasik!” teriak orang itu.
Tetapi ia hanya dapat melihat golek itu pecah berserakan. Bahkan Pasik itu masih bertambah marah lagi, karena orang itu menyebut nama aslinya. Karena itu, dengan kakinya yang kokoh kuat Pasik mendorong orang itu sehingga terpental beberapa langkah dan jatuh berguling di tanah.Halaman itu menjadi tegang dan sepi. Sesepi perkuburan.
Tak seorang pun yang berani memandang wajah Pasik. Namun tiba-tiba mereka yang berada di halaman itu terkejut ketika mereka mendengar Pasik itu tertawa. Kemudian ia berkata lemah,
“Ah. Maafkan aku. Aku tidak biasa berlaku kasar. Namun aku sebenarnya tidak mau dihina. Aku tidak mau dihina. Aku tidak akan sakit hati seandainya kalian tidak ingin memberi aku bekal apa pun. Namun aku tidak mau dihina dengan benda-benda serupa itu.”
“Hem,” orang tua di samping Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tiba-tiba ia terkejut ketika Pasik itu tiba-tiba memandangnya sambil tersenyum. Kemudian dengan hormatnya ia berkata, “Ah, Kiai. Agaknya Kiai datang juga ke tempat yang kotor ini.” Orang tua itu menjadi berdebar-debar. Apalagi kemudian Pasik itu berkata, “Sebenarnya aku akan sangat gembira apabila Kiai datang bersama gadis Kiai itu.” Orang tua itu tidak menjawab. Namun debar di dadanya menjadi semakin cepat. Karena ia tidak menjawab,maka Pasik itu berkata pula, “Kiai, tidakkah Kiai datang dengan gadis Kiai itu?”
Orang tua itu menjadi bertambah gelisah. Keringat dinginnya telah mulai membasahi bajunya. Dengan tergagap ia menjawab, “Tidak Ngger. Aku datang bersama suaminya.”
“Suaminya?” tiba-tiba mata Pasik itu terbelalak. “Apakah yang Kiai katakan?”
Orang tua itu telah benar-benar menjadi gemetar. Sehingga kembali mulutnya terbungkam. yang menjawab kemudian adalah Mahisa Agni.
“Ya Ki Sanak. Kiai ini datang bersama menantunya.”
Mata Pasik itu kemudian menjadi merah. Dengan liar ia menatap Mahisa Agni dan laki-laki tua itu berganti-ganti. Kemudian katanya lantang “Kiai, buat apa menantumu itu bagiku?”
Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Karena itu ia pun kemudian berdiam diri. Dibiarkannya Pasik menggeram dan kemudian berkata, “Aku sudah mengatakan, seharusnya Kiai datang dengan anakmu, bukan menantumu. Buat apa aku minta menantumu datang?” Pasik berhenti sejenak. Kemudian pandangan matanya jatuh kepada menantu orang tua itu. “Ha, kau agaknya menantunya bukan? Jangan ingkar! Gadis itu memang cantik. Bukankah gadis itu kawan kita bermain sejak anak-anak?”
Tiba-tiba Pasik itu tertawa. Suaranya menggelegar memenuhi halaman. Karena itu setiap orang yang mendengar menjadi ngeri karenanya. Kemudian katanya meneruskan,
“Aku kenal kau sejak kecil dan kau kenal aku sejak kecil pula. Karena itu, marilah kita berbaik hati sesama kita. Tolonglah aku, panggillah istrimu itu!”
Kata-kata itu benar-benar tak dapat dimengerti oleh Mahisa Agni. Dan ia menjadi semakin tidak mengerti, ketika menantu orang tua itu menangis, “Bagaimana Kiai? Apakah aku harus memanggilnya?”
Orang tua itu pun terdiam. Dan suasana di halaman itu menjadi beku. yang terdengar kemudian adalah suara Pasik tertawa sambil berkata lembut. “Bukankah kita bersahabat?” katanya, “Nah, tolonglah aku.”
Tetapi tiba-tiba Pasik itu terkejut ketika seorang perempuan menggamitnya. Ketika ia menoleh, maka katanya “Oh, Ibu. Apakah ada sesuatu?”
“Pasik,” berkata ibunya.
Namun segera Pasik memutus, “Sebut namaku!”
“Oh,” desah ibunya “Waraha. Apa pun yang akan kaulakukan, namun jangan diganggu tetua padukuhan kami itu.”
Pasik mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berpaling kepada menantu orang tua yang disebut sebagai tetua padukuhan itu. Katanya “Lekas, tolonglah aku.”
“Waraha,” panggil ibunya.
Namun Pasik itu seakan-akan tidak mendengar, bahkan ia berteriak lebih keras “Cepat! Panggil istrimu itu sekarang!”
“Angger,” berkata orang tua itu dengan gemetar, “aku telah membawa timang yang Angger kehendaki, dan menantuku telah membawa perhiasan yang dimilikinya. Sedang tamuku pun telah merelakan kerisnya untuk Angger. Apakah Angger masih memerlukan anakku itu?”
Pasik sama sekali tidak mau mendengar kata-kata itu. Ia kemudian berteriak tinggi, “Lekas, panggil ia sekarang!”
Menantu tetua Padukuhan Kajar itu masih terpaku di tempatnya dengan tubuh gemetar. Sedang mata Pasik itu telah menjadi semakin merah. Namun ketika ia akan berteriak kembali, sekali lagi ibunya menggamitnya dan berkata,
“Jangan Waraha, jangan ganggu anak itu.”
Tetapi Waraha itu masih saja tidak mau mendengar kata-kata ibunya itu, sehingga kemudian ibunya itu menarik tangannya, “Orang tua itu kami hormati seperti orang tua kami sendiri. Dan bukankah orang tua itu terlalu baik kepadamu pada masa kecilmu. Kini seharusnya….”
“Diam!” tiba-tiba Waraha itu membentak.
Ibunya menjadi sangat terkejut dan bahkan semua orang menjadi terkejut pula. Meskipun demikian ibunya itu meneruskan, “Waraha, aku minta sekali lagi, jangan.”
Waraha menarik tangannya, dan bahkan tangan ibunya itu didorongnya. Kini ia menunjuk kepada orang tua beserta menantunya itu, “Cepat! Panggil perempuan itu! Aku menghendaki timang, keris, dan perempuan itu. Jangan dikurangi!”
Kini ibunya tidak lagi hanya menarik tangannya, tetapi anaknya itu dipeluknya sambil meminta, “Ingatlah, Waraha. Orang itu terlalu baik buat kita. Jangan nodai dengan kekasaran dan nafsu.”
Waraha itu kini menjadi benar-benar marah. Tiba-tiba digetarkannya tubuhnya keras-keras, dan perempuan yang memeluknya itu, ibunya, terpelanting beberapa langkah. Kemudian jatuh terbanting di tanah. Terdengar ia memekik kecil. Namun pekiknya sama sekali tidak mempengaruhi kekerasan hati anaknya. Waraha itu hanya berpaling sesaat, kemudian dengan tanpa memandang ibunya yang masih terbaring itu berkata,
“Aku tak mau dihalangi oleh siapa pun juga. Semua kehendakku harus terjadi!”
Kini kesan keramahan, kesopanan dan kelembutan benar-benar telah lenyap dari Pasik. Matanya semakin lama bahkan menjadi semakin liar. Sekali lagi ia berpaling ketika seorang laki-laki dengan gemetar menolong perempuan yang terbanting itu. Dengan lantang ia berkata,
“Ayah, bawalah perempuan celaka itu pergi. Kalau tidak maka tidak ada keberatan apa pun bagiku untuk memaksa kalian pergi. Jangan campuri urusanku. Uruslah sendiri kepentingan Ayah dan Ibu!”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Alangkah buasnya anak muda itu. Menilik wajahnya, keluarganya dan keadaan di sekitarnya maka mustahillah bahwa lingkungan itu dapat membentuk orang sekasar Waraha itu. Tetapi kemudian Mahisa Agni pun memperhitungkan pula kepergian Waraha itu beserta pamannya, kemudian berguru kepada gurunya itu selama ia di rantau. Dengan demikian, menurut kesimpulan Mahisa Agni, pasti lingkungan perguruannya yang telah merusak hidup anak muda itu.
Kini kembali Pasik itu memandangi orang tua beserta menantunya. Sekali lagi ia berteriak, “Aku ingin memberi kalian kesempatan sekali lagi. Panggil perempuan itu. Aku menghendaki semuanya. Tidak sebagian-sebagian dari permintaanku itu.”
Orang tua itu menjadi semakin gemetar, dan menantunya menangis lebih deras lagi sambil bertanya, “Kiai, bagaimana Kiai?”
“Jangan bertanya lagi! Berdiri dan pergi!” bentak Pasik.
Laki-laki itu menjadi seperti orang kehilangan kesadaran. Dengan demikian ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Diguncang-guncangnya tangan mertuanya. Namun mertuanya itu pun telah menjadi sangat bingung pula.
Dalam keadaan yang demikian, maka halaman itu benar-benar dicengkam oleh suasana yang mengerikan. Semua dada seakan-akan berdentingan. Mereka yang melihat tetua mereka itu menjadi sangat kasihan. Namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Nasib mereka masing-masing pun masih belum mereka ketahui. Dengan diam-diam mereka mencoba menilai apa-apa yang sudah dibawanya. Jangan-jangan benda-benda itu tidak menyenangkan hati Pasik, kecuali mereka yang sudah mendapat pesan untuk membawa benda-benda tertentu. Memang kali ini Pasik berbuat lebih jauh dari masa-masa yang lampau. Kali ini Pasik ingin memperlihatkan kepada gurunya, apa yang dapat dilakukannya di kampung halamannya. Karena itu, maka apa yang dilakukannya kali ini benar-benar mengejutkan dan sangat menakutkan bagi penduduk Kajar.
Pasik itu pernah datang bersama-sama beberapa orang saudara seperguruan. Pernah diambilnya seorang gadis untuk saudara seperguruan itu. Pernah dibunuhnya seorang anak muda kawannya bermain semasa kanak-kanak. Pernah juga dilakukan hal-hal yang mengerikan. Namun belum pernah Pasik mengundang orang sebanyak ini untuk datang di halaman rumahnya. Apabila termasuk tetua padukuhan mereka. Bahkan anak perempuannya pula dikehendakinya. Kali ini Pasik benar-benar ingin memperlihatkan kekuasaannya di antara penduduk tempat ia dilahirkan.
Ketika Pasik itu masih melihat menantu tetua padukuhan itu masih belum beranjak dari tempatnya, maka ia pun menjadi semakin marah. Dengan nada yang tinggi ia berteriak,
“He, apakah yang kau tunggu? Apakah kau ingin kepalamu bengkak dahulu?”
Laki-laki itu benar-benar menjadi ketakutan. Karena itu dengan gemetar ia berdiri untuk pergi memanggil istrinya. Tetapi laki-laki itu terkejut, ketika Mahisa Agni menggamitnya. Dengan isyarat ia mencegah laki-laki itu. Namun laki-laki itu tidak segera dapat menangkap isyaratnya, sehingga perlahan-lahan Mahisa Agni berbisik,
“Jangan pergi! Lindungilah istrimu itu.”
Laki-laki itu menjadi bertambah bingung. Ia sependapat dengan Mahisa Agni. Namun ia tidak berani menentang kehendak Waraha. Ketika Waraha melihat orang itu berhenti, maka sekali lagi ia berteriak,
“Apakah kau benar-benar bosan hidup?”
Dengan gemetar orang itu melangkah kembali. Namun sekali lagi Mahisa Agni mencegahnya. Bahkan kali ini ia menahan tangannya.
“Jangan!” katanya.
Kali ini Pasik melihat tangan Mahisa Agni menarik tangan laki-laki itu. Karena itu betapa ia menjadi sangat marah. Dengan serta-merta ia mengumpat sambil berkata,
“Setan! Apakah yang kau lakukan itu?”
“Tidak apa-apa,” jawab Mahisa Agni, “aku hanya ingin memperingatkannya, biarlah istrinya berada di rumah.”
Wajah Pasik itu seakan-akan menjadi menyala mendengar jawaban Mahisa Agni, sehingga agaknya ia perlu meyakinkan pendengarannya.
“He, apa katamu?” Ia bertanya.
Sekali lagi Mahisa Agni menjawab, “Aku hanya ingin memperingatkannya, sebaiknya istrinya tetap berada di rumah.”
Tubuh Pasik itu kemudian menjadi gemetar. Kini ia mendengar dengan jelas, apa yang dikatakan oleh orang yang baru saja dikenalnya itu. Katanya, “Ki Sanak, jangan membuat keributan di sini. Apakah kau belum pernah mendengar nama Waraha, setidak-tidaknya dari orang tua tempat kau menginap itu?”
“Sudah,” jawab Mahisa Agni singkat.
“Setan!” Waraha itu mengumpat, “sekarang berikan kerismu itu.”
Mahisa Agni masih tetap berada di tempatnya. Ia sama sekali tidak bergerak, apalagi memberikan kerisnya, sehingga sekali lagi Pasik berteriak, “Berikan kerismu perantau, atau kau akan berkubur di padukuhan yang asing bagimu ini?”
“Kedua-duanya tidak menyenangkan Pasik,” jawab Mahisa Agni.
“He?” teriak Pasik, “Sebut namaku!”
“Ya. Bukankah namamu Pasik?”
“Diam! Sebut namaku sepuluh kali!”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Pasik itu benar-benar telah memuakkan. Karena itu ia justru berdiam diri. Bahkan dengan acuh tak acuh ia menarik tangan menantu tetua Padukuhan Kajar sambil berkata,
“Marilah! Duduklah di sini.”
Semua yang melihat, apa yang telah dilakukan Mahisa Agni itu pun menjadi semakin tegang. Kini mereka melihat Waraha menggertakkan giginya. Seseorang yang duduk di samping Mahisa Agni itu menggamitnya sambil berbisik,
“Angger. Jangan membuat Angger Waraha itu marah.”
Tetapi sebelum Mahisa Agni sempat menjawab, terdengar kata-kata Pasik, “He, perantau yang malang. Sebentar lagi guruku pasti datang. Karena itu cepat berikan keris itu, lalu kau boleh meninggalkan tempat ini. Tetapi kalau kau mengganggu pertemuan ini, maka terpaksa aku membunuhmu, meskipun Guru ada di sini. Sebenarnya bukanlah suatu suguhan yang baik. Mayat seorang perantau. Tetapi apa boleh buat.”
Mahisa Agni mengambil kerisnya yang terselip diikat pinggangnya. Kemudian dengan tenangnya keris itu diamat-amatinya. Dan dengan tenang pula ia berkata,
“Ki Sanak. Kerisku adalah keris peninggalan ayahku. Karena itu, alangkah sayangnya kalau keris ini aku berikan kepada seseorang. Apalagi seseorang yang tak memerlukannya lagi seperti Ki Sanak. Tanpa senjata pun Ki Sanak adalah seorang yang sakti. Tetapi bagiku, keris ini akan sangat berguna. Sebab…”
“Cukup!” bentak Pasik, “Berikan sekarang. Dan biarlah laki-laki cengeng itu menjemput istrinya.”
“Jangan!” sahut Agni, “keris ini tak akan aku berikan kepada siapa pun, dan laki-laki ini tak akan menjemput istrinya.”
“Angger,” desis laki-laki tetua padukuhan itu. Tubuhnya yang kurus itu semakin berkerut, “jangan membuat Angger Waraha menjadi semakin marah. Maka akibatnya, seluruh penduduk Kajar akan mengalami bencana.”
Kini Mahisa Agni sudah tidak melihat kesempatan lain. Ia tidak dapat membiarkan kelaliman itu berjalan terus. Ia sudah cukup melihat kenyataan yang berlaku di hadapan hidungnya. Dan ini harus dihentikan. Apakah ia akan berhasil atau tidak, bukanlah menjadi soal. Tetapi ia mengharap, bahwa usahanya akan berhasil. Karena itu, maka Mahisa Agni itu pun kemudian berdiri. Ditariknya kerisnya dari wrangkanya. Kemudian diangkatnya di atas kepalanya. Katanya
“Minumlah Ngger,” orang tua itu mempersilakan, namun ia sendiri tidak mau minum. Lehernya yang telah berkeriput itu seakan-akan telah tersumbat. Meskipun demikian, Mahisa Agni minum juga beberapa teguk. Alangkah segarnya. “Sebentar lagi kita harus pergi memenuhi permintaan anak setan itu. Istriku sedang menjemput gadisnya di rumah sebelah. Mudah-mudahan kita dijauhkan dari malapetaka yang lebih besar. Biarlah aku serahkan timang itu, asal anakku itu tidak diganggunya.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Alangkah sedihnya orang tua itu. Sesaat kemudian istrinya yang telah tua pula itu pun datang bersama anak perempuan beserta suaminya. Sekilas Agni segera dapat melihat air mata yang membasahi mata yang jernih bulat itu. Sedang suaminya, tidak lebih seorang petani biasa. Bertubuh kecil dan berhati kecil. Sehingga dengan gemetar ia bertanya,
“Apakah yang akan dilakukan oleh Pasik, Kiai.”
Orang tua itu menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak tahu. Mudah-mudahan tak akan dilakukan sesuatu.”
“Aku telah membawa semua perhiasan dan kekayaan yang aku miliki. Mudah-mudahan istriku tidak diganggunya.”
Orang tua itu tidak menyahut. Namun istrinya menangis terisak-isak, sehingga anaknya menangis pula. Katanya, “Biarlah aku tinggal di rumah. “
Ayahnya menarik nafas. Tak sepatah kata pun dapat diucapkan, sehingga anaknya itu berkata pula, “Ayah, aku lebih baik mati daripada disentuhnya.”
Ayahnya masih terbungkam. Dan bahkan matanya pun menjadi basah pula. Mahisa Agni benar-benar tak dapat menahan perasaan harunya. Karena itu tiba-tiba ia berkata,
“Biarlah anak bapa tinggal di rumah bersama suaminya.”
Yang mendengar kata-kata Mahisa Agni itu terkejut. Orang tua itu berpaling kepadanya sambil berkata, “Aku tidak dapat membayangkan akibatnya.”
“Mudah-mudahan Pasik melupakannya setelah ia melihat timang bapa dan kerisku ini,” jawab Agni.
Orang tua itu berpikir sejenak. Tetapi kemudian ia menjawab, “Hampir tak ada gunanya, Ngger. Ia tidak dapat melihat keinginannya sepotong-sepotong terpenuhi. Ia ingin semuanya.”
“Tetapi apakah anak bapa itu juga terpaksa dikorbankan seandainya nanti dikehendaki oleh Pasik itu?”
Orang tua itu terdiam. Istrinya pun terdiam. Namun anak perempuannyalah yang menangis. Dan bahkan suaminya pun menangis.
“Jangan menangis,” minta Mahisa Agni kepada laki-laki itu, “seharusnya laki-laki tidak menangis.”
Tetapi laki-laki itu menangis terus. Katanya di sela-sela tangisnya, “Ki Sanak tidak merasakan apa yang aku rasakan. Itulah Ki Sanak dapat berkata demikian.”
Mahisa Agnilah kini yang terdiam. Ia tidak tahu bagaimana mencoba menghibur mereka. Namun ia menjadi semakin kasihan juga melihat keadaan keluarga yang sedang berduka itu.
Tiba-tiba perempuan tua itu berkata, “Kiai biarlah suaminya saja pergi bersama-sama Kiai. Biarlah anak ini tinggal bersama aku di rumah. Bawalah semua kekayaan yang ada sebagai tebusannya.”
Laki tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Akhirnya ia pun berkata, “Biarlah ia tinggal di rumah. Marilah kita pergi apa pun yang terjadi.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Marilah. Kita tebus putri bapa itu dengan kekayaan. Mungkin Pasik akan bergembira karenanya.”
Orang tua itu tidak menjawab. Ditatapnya wajah anaknya dan istrinya berganti-ganti. Kemudian kepada menantunya ia berkata, “Marilah supaya Pasik tidak menjadi kesal menunggu kedatangan kita.”
Maka pergilah mereka bertiga ke rumah Pasik. Dengan wajah tunduk menantu orang tua itu berjalan di sampingnya, sedang Mahisa Agni berjalan di belakang mereka.
Sekali orang tua itu berpaling sambil bertanya kepada Mahisa Agni, “Apakah Angger sudah ikhlas akan keris itu?”
Mahisa Agni menarik nafas. Jawabnya, “Keris ini keris peninggalan Bapa.”
“Jadi?”
“Entahlah,” sahut Agni.
Kembali mereka berdiam diri. Mereka berjalan menyusur jalan-jalan padukuhan yang sempit, menuju ke rumah Pasik. Akhirnya sampai jugalah mereka ke rumah itu. Rumah yang tidak begitu besar, namun berhalaman luas. Di halaman itu Mahisa Agni melihat beberapa orang telah berkumpul dengan berbagai bungkusan di tangan mereka. Namun tampaklah wajah mereka yang suram dan bersedih. Mereka harus menyerahkan beberapa macam benda bagian dari kekayaan mereka.
Ketika orang tua itu sampai di halaman rumah Pasik, maka semua orang yang sudah berada ditempai itu, menjadi heran dan saling berpandangan. Sebagian dari mereka menjadi heran, kenapa orang tua itu pula telah dijadikan korban oleh Pasik ? Dan sebagian lagi heran melihat kehadiran orang yang belum pernah mereka kenal sebelumnya.
Seseorang yang telah setengah umur segera mendekati orang tua itu sambil berbisik, “Kenapa Kakang datang kemari?”
“Seperti juga kau datang kemari,” jawab orang tua itu.
“Oh, apakah Pasik itu sampai hati juga berbuat demikian kepada Kakang?”
“Ternyata demikianlah.”
Kemudian mereka itu terdiam ketika mereka melihat Pasik keluar dari rumahnya. Dengan wajah yang cerah anak muda itu tersenyum. Kemudian menganggukkan kepala kepada semua orang yang telah berada di halaman. Namun seleret ia, memandang ke seberang halamannya. Dan ternyata di kejauhan, beberapa orang dengan diam-diam ingin melihat apa yang terjadi di halaman rumah Pasik itu. Namun Pasik itu masih saja tersenyum. Kemudian dengan ramah ia berkata,
“Alangkah senangnya aku, bahwa kalian masih juga suka berkunjung ke rumah ini. Meskipun belum kalian nyatakan, tetapi aku sudah tahu bahwa kalian telah bersusah payah datang untuk memberikan bekal perjalananku lusa. Sebenarnyalah aku memang hendak bepergian. Jauh, ke Tumapel mengikuti guruku yang hari ini datang juga ke padukuhan ini.” Pasik itu diam sesaat, namun orang yang datang di halamannya mengumpat di dalam hati mereka. Sesaat kemudian Pasik itu berkata, “ Sayang, guruku pagi ini tidak dapat menerima kalian. Mungkin sebentar lagi setelah guru datang dari melihat-lihat daerah terpencil ini.”
Kembali Pasik itu berdiam diri. Ditebarkannya pandangan matanya sekali lagi. Ketika ia melihat Mahisa Agni, maka anak muda itu tersenyum, “Selamat datang Ki Sanak. Ternyata Ki Sanak sudi juga berkunjung ke rumah ini.”
Mahisa Agni pun menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Tentu. Bukankah Ki Sanak yang minta kepadaku untuk datang pagi ini?”
Pasik mengerutkan keningnya, dan orang-orang yang mendengar jawaban itu pun menjadi terkejut. Alangkah beraninya orang itu menjawab pertanyaan Pasik. Namun kemudian mereka menyadari bahwa orang itu belum mengenal siapakah Pasik itu.
Pasik pun kemudian tersenyum pula, “Memang, aku kemarin telah mempersilakan kau datang. Bukankah lebih baik apabila kita memperbanyak sahabat?”
Mahisa Agni tidak menjawab. Dan dibiarkannya Pasik tersenyum puas. Ia ingin melihat apa saja yang akan terjadi seterusnya di halaman itu. Ternyata Pasik itu pun tidak memperpanjang perkataannya. Dengan singkat kemudian ia berkata,
“Nah, aku akan sangat berterima kasih atas pemberian kalian. Karena itu, marilah berikanlah apa yang ingin saudara-saudara berikan itu.”
Suasana kemudian menjadi hening sepi. Tampaklah beberapa orang menjadi ragu-ragu. Sehingga Pasik itu pun berkata, “Marilah. Satu demi satu, supaya aku dapat melihat barang-barang yang kalian berikan itu. Marilah!”
Maka, sesaat kemudian mulailah orang yang pertama berdiri. Melangkah maju dan menyerahkan bungkusannya kepada Pasik. Dengan tersenyum puas, Pasik membuka bungkusan itu. Sepotong cula berukir berbentuk sebuah golek yang sangat manis. Namun wajah Pasik itu tiba-tiba menjadi gelap. Katanya,
“Apakah benda ini sama sekali tidak bersalut emas?”
Orang yang membawa cula berukir itu terkejut. Dandengan ketakutan ia menjawab, “Tidak, tidak Pasik.”
“He?” potong Pasik, “Sebutlah namaku!”
“Oh,” orang itu semakin ketakutan, “maksudku Angger Waraha.”
Pasik menarik napas. Tetapi tiba-tiba ia membentak “Bohong! Benda-benda serupa ini biasanya bersalut emas.”
“Tetapi yang ini tidak Ngger,” jawab orang itu, “ini adalah peninggalan Bapakku. Dibuatnya benda ini dengan tangannya sebagai kenang-kenangan pada masa mudanya, ketika Bapak itu berhasil menangkap seekor badak yang jarang terdapat di daerah ini dalam perburuannya. Sehingga sudah tentu kami tidak dapat memberinya emas. Sebab sebenarnya kami tidak pernah melihat, apalagi memiliki emas. Maka …”
“Cukup!” bentak Waraha, orang itu sedemikian terkejutnya sehingga tubuhnya tiba-tiba menjadi gemetar, “Aku tidak perlu sesorah itu.”
Orang itu ternyata masih ingin memberi beberapa penjelasan, namun mulutnya sajalah yang bergeletar, tetapi tak sepatah kata pun yang dapat lolos dari tenggorokannya. Apalagi ketika kemudian ia mendengar Waraha membentaknya sekali lagi,
“Pulang! Jangan menghina aku! Ambil yang lain!”
“Itu, itu…,” sahut orang itu terbata-bata, “itu adalah milikku yang paling berharga Ngger.”
“Pulang, dan ambil yang lain! Dengar?”
“Aku, aku sudah tidak punya apa-apa lagi.”
Waraha itu kemudian menjadi marah. Dengan serta-merta golek cula yang amat manis itu dibantingnya pada sebuah batu.
“Pasik!” teriak orang itu.
Tetapi ia hanya dapat melihat golek itu pecah berserakan. Bahkan Pasik itu masih bertambah marah lagi, karena orang itu menyebut nama aslinya. Karena itu, dengan kakinya yang kokoh kuat Pasik mendorong orang itu sehingga terpental beberapa langkah dan jatuh berguling di tanah.Halaman itu menjadi tegang dan sepi. Sesepi perkuburan.
Tak seorang pun yang berani memandang wajah Pasik. Namun tiba-tiba mereka yang berada di halaman itu terkejut ketika mereka mendengar Pasik itu tertawa. Kemudian ia berkata lemah,
“Ah. Maafkan aku. Aku tidak biasa berlaku kasar. Namun aku sebenarnya tidak mau dihina. Aku tidak mau dihina. Aku tidak akan sakit hati seandainya kalian tidak ingin memberi aku bekal apa pun. Namun aku tidak mau dihina dengan benda-benda serupa itu.”
“Hem,” orang tua di samping Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tiba-tiba ia terkejut ketika Pasik itu tiba-tiba memandangnya sambil tersenyum. Kemudian dengan hormatnya ia berkata, “Ah, Kiai. Agaknya Kiai datang juga ke tempat yang kotor ini.” Orang tua itu menjadi berdebar-debar. Apalagi kemudian Pasik itu berkata, “Sebenarnya aku akan sangat gembira apabila Kiai datang bersama gadis Kiai itu.” Orang tua itu tidak menjawab. Namun debar di dadanya menjadi semakin cepat. Karena ia tidak menjawab,maka Pasik itu berkata pula, “Kiai, tidakkah Kiai datang dengan gadis Kiai itu?”
Orang tua itu menjadi bertambah gelisah. Keringat dinginnya telah mulai membasahi bajunya. Dengan tergagap ia menjawab, “Tidak Ngger. Aku datang bersama suaminya.”
“Suaminya?” tiba-tiba mata Pasik itu terbelalak. “Apakah yang Kiai katakan?”
Orang tua itu telah benar-benar menjadi gemetar. Sehingga kembali mulutnya terbungkam. yang menjawab kemudian adalah Mahisa Agni.
“Ya Ki Sanak. Kiai ini datang bersama menantunya.”
Mata Pasik itu kemudian menjadi merah. Dengan liar ia menatap Mahisa Agni dan laki-laki tua itu berganti-ganti. Kemudian katanya lantang “Kiai, buat apa menantumu itu bagiku?”
Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Karena itu ia pun kemudian berdiam diri. Dibiarkannya Pasik menggeram dan kemudian berkata, “Aku sudah mengatakan, seharusnya Kiai datang dengan anakmu, bukan menantumu. Buat apa aku minta menantumu datang?” Pasik berhenti sejenak. Kemudian pandangan matanya jatuh kepada menantu orang tua itu. “Ha, kau agaknya menantunya bukan? Jangan ingkar! Gadis itu memang cantik. Bukankah gadis itu kawan kita bermain sejak anak-anak?”
Tiba-tiba Pasik itu tertawa. Suaranya menggelegar memenuhi halaman. Karena itu setiap orang yang mendengar menjadi ngeri karenanya. Kemudian katanya meneruskan,
“Aku kenal kau sejak kecil dan kau kenal aku sejak kecil pula. Karena itu, marilah kita berbaik hati sesama kita. Tolonglah aku, panggillah istrimu itu!”
Kata-kata itu benar-benar tak dapat dimengerti oleh Mahisa Agni. Dan ia menjadi semakin tidak mengerti, ketika menantu orang tua itu menangis, “Bagaimana Kiai? Apakah aku harus memanggilnya?”
Orang tua itu pun terdiam. Dan suasana di halaman itu menjadi beku. yang terdengar kemudian adalah suara Pasik tertawa sambil berkata lembut. “Bukankah kita bersahabat?” katanya, “Nah, tolonglah aku.”
Tetapi tiba-tiba Pasik itu terkejut ketika seorang perempuan menggamitnya. Ketika ia menoleh, maka katanya “Oh, Ibu. Apakah ada sesuatu?”
“Pasik,” berkata ibunya.
Namun segera Pasik memutus, “Sebut namaku!”
“Oh,” desah ibunya “Waraha. Apa pun yang akan kaulakukan, namun jangan diganggu tetua padukuhan kami itu.”
Pasik mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berpaling kepada menantu orang tua yang disebut sebagai tetua padukuhan itu. Katanya “Lekas, tolonglah aku.”
“Waraha,” panggil ibunya.
Namun Pasik itu seakan-akan tidak mendengar, bahkan ia berteriak lebih keras “Cepat! Panggil istrimu itu sekarang!”
“Angger,” berkata orang tua itu dengan gemetar, “aku telah membawa timang yang Angger kehendaki, dan menantuku telah membawa perhiasan yang dimilikinya. Sedang tamuku pun telah merelakan kerisnya untuk Angger. Apakah Angger masih memerlukan anakku itu?”
Pasik sama sekali tidak mau mendengar kata-kata itu. Ia kemudian berteriak tinggi, “Lekas, panggil ia sekarang!”
Menantu tetua Padukuhan Kajar itu masih terpaku di tempatnya dengan tubuh gemetar. Sedang mata Pasik itu telah menjadi semakin merah. Namun ketika ia akan berteriak kembali, sekali lagi ibunya menggamitnya dan berkata,
“Jangan Waraha, jangan ganggu anak itu.”
Tetapi Waraha itu masih saja tidak mau mendengar kata-kata ibunya itu, sehingga kemudian ibunya itu menarik tangannya, “Orang tua itu kami hormati seperti orang tua kami sendiri. Dan bukankah orang tua itu terlalu baik kepadamu pada masa kecilmu. Kini seharusnya….”
“Diam!” tiba-tiba Waraha itu membentak.
Ibunya menjadi sangat terkejut dan bahkan semua orang menjadi terkejut pula. Meskipun demikian ibunya itu meneruskan, “Waraha, aku minta sekali lagi, jangan.”
Waraha menarik tangannya, dan bahkan tangan ibunya itu didorongnya. Kini ia menunjuk kepada orang tua beserta menantunya itu, “Cepat! Panggil perempuan itu! Aku menghendaki timang, keris, dan perempuan itu. Jangan dikurangi!”
Kini ibunya tidak lagi hanya menarik tangannya, tetapi anaknya itu dipeluknya sambil meminta, “Ingatlah, Waraha. Orang itu terlalu baik buat kita. Jangan nodai dengan kekasaran dan nafsu.”
Waraha itu kini menjadi benar-benar marah. Tiba-tiba digetarkannya tubuhnya keras-keras, dan perempuan yang memeluknya itu, ibunya, terpelanting beberapa langkah. Kemudian jatuh terbanting di tanah. Terdengar ia memekik kecil. Namun pekiknya sama sekali tidak mempengaruhi kekerasan hati anaknya. Waraha itu hanya berpaling sesaat, kemudian dengan tanpa memandang ibunya yang masih terbaring itu berkata,
“Aku tak mau dihalangi oleh siapa pun juga. Semua kehendakku harus terjadi!”
Kini kesan keramahan, kesopanan dan kelembutan benar-benar telah lenyap dari Pasik. Matanya semakin lama bahkan menjadi semakin liar. Sekali lagi ia berpaling ketika seorang laki-laki dengan gemetar menolong perempuan yang terbanting itu. Dengan lantang ia berkata,
“Ayah, bawalah perempuan celaka itu pergi. Kalau tidak maka tidak ada keberatan apa pun bagiku untuk memaksa kalian pergi. Jangan campuri urusanku. Uruslah sendiri kepentingan Ayah dan Ibu!”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Alangkah buasnya anak muda itu. Menilik wajahnya, keluarganya dan keadaan di sekitarnya maka mustahillah bahwa lingkungan itu dapat membentuk orang sekasar Waraha itu. Tetapi kemudian Mahisa Agni pun memperhitungkan pula kepergian Waraha itu beserta pamannya, kemudian berguru kepada gurunya itu selama ia di rantau. Dengan demikian, menurut kesimpulan Mahisa Agni, pasti lingkungan perguruannya yang telah merusak hidup anak muda itu.
Kini kembali Pasik itu memandangi orang tua beserta menantunya. Sekali lagi ia berteriak, “Aku ingin memberi kalian kesempatan sekali lagi. Panggil perempuan itu. Aku menghendaki semuanya. Tidak sebagian-sebagian dari permintaanku itu.”
Orang tua itu menjadi semakin gemetar, dan menantunya menangis lebih deras lagi sambil bertanya, “Kiai, bagaimana Kiai?”
“Jangan bertanya lagi! Berdiri dan pergi!” bentak Pasik.
Laki-laki itu menjadi seperti orang kehilangan kesadaran. Dengan demikian ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Diguncang-guncangnya tangan mertuanya. Namun mertuanya itu pun telah menjadi sangat bingung pula.
Dalam keadaan yang demikian, maka halaman itu benar-benar dicengkam oleh suasana yang mengerikan. Semua dada seakan-akan berdentingan. Mereka yang melihat tetua mereka itu menjadi sangat kasihan. Namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Nasib mereka masing-masing pun masih belum mereka ketahui. Dengan diam-diam mereka mencoba menilai apa-apa yang sudah dibawanya. Jangan-jangan benda-benda itu tidak menyenangkan hati Pasik, kecuali mereka yang sudah mendapat pesan untuk membawa benda-benda tertentu. Memang kali ini Pasik berbuat lebih jauh dari masa-masa yang lampau. Kali ini Pasik ingin memperlihatkan kepada gurunya, apa yang dapat dilakukannya di kampung halamannya. Karena itu, maka apa yang dilakukannya kali ini benar-benar mengejutkan dan sangat menakutkan bagi penduduk Kajar.
Pasik itu pernah datang bersama-sama beberapa orang saudara seperguruan. Pernah diambilnya seorang gadis untuk saudara seperguruan itu. Pernah dibunuhnya seorang anak muda kawannya bermain semasa kanak-kanak. Pernah juga dilakukan hal-hal yang mengerikan. Namun belum pernah Pasik mengundang orang sebanyak ini untuk datang di halaman rumahnya. Apabila termasuk tetua padukuhan mereka. Bahkan anak perempuannya pula dikehendakinya. Kali ini Pasik benar-benar ingin memperlihatkan kekuasaannya di antara penduduk tempat ia dilahirkan.
Ketika Pasik itu masih melihat menantu tetua padukuhan itu masih belum beranjak dari tempatnya, maka ia pun menjadi semakin marah. Dengan nada yang tinggi ia berteriak,
“He, apakah yang kau tunggu? Apakah kau ingin kepalamu bengkak dahulu?”
Laki-laki itu benar-benar menjadi ketakutan. Karena itu dengan gemetar ia berdiri untuk pergi memanggil istrinya. Tetapi laki-laki itu terkejut, ketika Mahisa Agni menggamitnya. Dengan isyarat ia mencegah laki-laki itu. Namun laki-laki itu tidak segera dapat menangkap isyaratnya, sehingga perlahan-lahan Mahisa Agni berbisik,
“Jangan pergi! Lindungilah istrimu itu.”
Laki-laki itu menjadi bertambah bingung. Ia sependapat dengan Mahisa Agni. Namun ia tidak berani menentang kehendak Waraha. Ketika Waraha melihat orang itu berhenti, maka sekali lagi ia berteriak,
“Apakah kau benar-benar bosan hidup?”
Dengan gemetar orang itu melangkah kembali. Namun sekali lagi Mahisa Agni mencegahnya. Bahkan kali ini ia menahan tangannya.
“Jangan!” katanya.
Kali ini Pasik melihat tangan Mahisa Agni menarik tangan laki-laki itu. Karena itu betapa ia menjadi sangat marah. Dengan serta-merta ia mengumpat sambil berkata,
“Setan! Apakah yang kau lakukan itu?”
“Tidak apa-apa,” jawab Mahisa Agni, “aku hanya ingin memperingatkannya, biarlah istrinya berada di rumah.”
Wajah Pasik itu seakan-akan menjadi menyala mendengar jawaban Mahisa Agni, sehingga agaknya ia perlu meyakinkan pendengarannya.
“He, apa katamu?” Ia bertanya.
Sekali lagi Mahisa Agni menjawab, “Aku hanya ingin memperingatkannya, sebaiknya istrinya tetap berada di rumah.”
Tubuh Pasik itu kemudian menjadi gemetar. Kini ia mendengar dengan jelas, apa yang dikatakan oleh orang yang baru saja dikenalnya itu. Katanya, “Ki Sanak, jangan membuat keributan di sini. Apakah kau belum pernah mendengar nama Waraha, setidak-tidaknya dari orang tua tempat kau menginap itu?”
“Sudah,” jawab Mahisa Agni singkat.
“Setan!” Waraha itu mengumpat, “sekarang berikan kerismu itu.”
Mahisa Agni masih tetap berada di tempatnya. Ia sama sekali tidak bergerak, apalagi memberikan kerisnya, sehingga sekali lagi Pasik berteriak, “Berikan kerismu perantau, atau kau akan berkubur di padukuhan yang asing bagimu ini?”
“Kedua-duanya tidak menyenangkan Pasik,” jawab Mahisa Agni.
“He?” teriak Pasik, “Sebut namaku!”
“Ya. Bukankah namamu Pasik?”
“Diam! Sebut namaku sepuluh kali!”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Pasik itu benar-benar telah memuakkan. Karena itu ia justru berdiam diri. Bahkan dengan acuh tak acuh ia menarik tangan menantu tetua Padukuhan Kajar sambil berkata,
“Marilah! Duduklah di sini.”
Semua yang melihat, apa yang telah dilakukan Mahisa Agni itu pun menjadi semakin tegang. Kini mereka melihat Waraha menggertakkan giginya. Seseorang yang duduk di samping Mahisa Agni itu menggamitnya sambil berbisik,
“Angger. Jangan membuat Angger Waraha itu marah.”
Tetapi sebelum Mahisa Agni sempat menjawab, terdengar kata-kata Pasik, “He, perantau yang malang. Sebentar lagi guruku pasti datang. Karena itu cepat berikan keris itu, lalu kau boleh meninggalkan tempat ini. Tetapi kalau kau mengganggu pertemuan ini, maka terpaksa aku membunuhmu, meskipun Guru ada di sini. Sebenarnya bukanlah suatu suguhan yang baik. Mayat seorang perantau. Tetapi apa boleh buat.”
Mahisa Agni mengambil kerisnya yang terselip diikat pinggangnya. Kemudian dengan tenangnya keris itu diamat-amatinya. Dan dengan tenang pula ia berkata,
“Ki Sanak. Kerisku adalah keris peninggalan ayahku. Karena itu, alangkah sayangnya kalau keris ini aku berikan kepada seseorang. Apalagi seseorang yang tak memerlukannya lagi seperti Ki Sanak. Tanpa senjata pun Ki Sanak adalah seorang yang sakti. Tetapi bagiku, keris ini akan sangat berguna. Sebab…”
“Cukup!” bentak Pasik, “Berikan sekarang. Dan biarlah laki-laki cengeng itu menjemput istrinya.”
“Jangan!” sahut Agni, “keris ini tak akan aku berikan kepada siapa pun, dan laki-laki ini tak akan menjemput istrinya.”
“Angger,” desis laki-laki tetua padukuhan itu. Tubuhnya yang kurus itu semakin berkerut, “jangan membuat Angger Waraha menjadi semakin marah. Maka akibatnya, seluruh penduduk Kajar akan mengalami bencana.”
Kini Mahisa Agni sudah tidak melihat kesempatan lain. Ia tidak dapat membiarkan kelaliman itu berjalan terus. Ia sudah cukup melihat kenyataan yang berlaku di hadapan hidungnya. Dan ini harus dihentikan. Apakah ia akan berhasil atau tidak, bukanlah menjadi soal. Tetapi ia mengharap, bahwa usahanya akan berhasil. Karena itu, maka Mahisa Agni itu pun kemudian berdiri. Ditariknya kerisnya dari wrangkanya. Kemudian diangkatnya di atas kepalanya. Katanya
OBJEK WISATA MANCA NEGARA



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar