“Pasik. Bagi seorang laki-laki, keris atau curiga adalah lambang dari kelaki-lakiannya. Karena itu, betapa aku menilai kerisku ini seperti aku sendiri.”
Semua hati yang tersimpan di dalam dada setiap orang di halaman itu tergetar karenanya. Orang yang masih asing bagi mereka itu, agaknya benar-benar belum mengenal Waraha. Karena itu, mereka pun menjadi berdebar-debar. Apabila ada kesempatan bagi mereka, mereka pasti akan memperingatkannya. Tetapi kini hal itu telah terjadi. Dan wajah Waraha itu telah menjadi semerah darah.
“Hem,” Waraha menggeram. Tetapi tiba-tiba ia tertawa. Di antara suara tertawanya itu ia berkata “He, para tetangga yang baik. Sediakanlah sebuah lubang untuk mengubur orang gila ini. Aku ingin mematahkan tulang belakangnya. Kemudian sebelum ia mati, biarlah ia menikmati sejuknya tanah perkuburan.”
Mahisa Agni mendengar kata-kata itu dengan kerut-kerut di keningnya. Agaknya Pasik itu benar-benar dapat berbuat sebuas itu. Karena itu maka kemudian jawabnya
“Jangan marah Pasik.”
Suara Mahisa Agni itu terputus karena Pasik berteriak, “Sebut namaku, orang gila!”
“Ya. Pasik. Pasik. Sebenarnyalah nama itu baik sekali. Tidak sebuas nama Waraha.”
Pasik itu kini benar-benar telah menjadi gemetar menahan kemarahannya. Matanya yang liar menjadi semakin liar. Dan tiba-tiba ia meloncat, melanggar satu dua orang sehingga jatuh berguling-guling, mendekati Mahisa Agni. Dengan gemetar pula ia menggeram,
“Setan! Bersiaplah untuk mati!”
Mahisa Agni itu pun kemudian bergeser selangkah surut. Kerisnya itu pun kemudian disarungkannya. Dan dengan tenang ia berkata “Pasik. Aku tidak akan memberikan kerisku ini. Apakah kau akan memaksa?”
Pasik itu menggeram seperti seekor harimau. Orang-orang yang berada di halaman itu pun kemudian berloncatan menepi. Mereka kini melihat Pasik dan Mahisa Agni telah berdiri berhadap-hadapan. Pasik memandang mata Mahisa Agni dengan buasnya. Kini Pasik itu dapat melihat, bahwa sikap Mahisa Agni bukanlah sikap dari seorang yang ingin membunuh diri. Namun sikap Mahisa Agni adalah sikap seekor banteng yang siap melawan seekor harimau yang betapa pun garangnya dengan tanduk-tanduknya yang runcing tajam. Kini Pasik tidak mau berbicara lagi. Dengan garangnya ia meloncat maju menerkam wajah Mahisa Agni yang masih saja tetap tenang dan teguh.
Orang tua, tetua Padukuhan Kajar, ketika ia melihat Pasik meloncat menyerang Mahisa Agni, terdengar mengeluh pendek, sedang menantunya benar-benar telah menjadi seakan-akan membeku. Bukan saja mereka berdua, tetapi seluruh penduduk Kajar yang menyaksikan peristiwa itu menahan nafasnya.
Tetapi Mahisa Agni tidak membiarkan wajahnya disobek oleh Pasik. Selangkah ia mundur sambil berkata, “Pasik. Apakah kau benar-benar ingin memaksa aku untuk berkelahi?”
Gerak Pasik itu terhenti juga oleh kata-kata Mahisa Agni. Sekali lagi ia memandang wajah Mahisa Agni yang masih tetap tenang. Sehingga karena itu maka Pasik mulai menyadari, dengan siapa ia berhadapan. Maka katanya kemudian,
”Sejak semula aku sudah menyangka, bahwa kau bukan sekedar seorang perantau dungu. Kerismu telah mengatakan kepadaku, bahwa kau sebenarnya seorang yang menyimpan ilmu di dalam dirimu. Tetapi meskipun demikian, kau sekarang berhadapan dengan Waraha, andel-andel Padukuhan Kajar. Karena itu jangan menyangka bahwa kau akan dapat meninggalkan padukuhan ini dengan selamat.”
Mahisa Agni seakan-akan tidak mendengar kata-kata Pasik itu. Bahkan ia berkata, “Pasik. Apakah kau tidak menyadari,bahwa perbuatanmu itu telah menimbulkan bencana, justru di tanah kelahiranmu sendiri?”
Pasik mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Apa pedulimu?”
“Kalau kau seorang yang sakti, Pasik, maka sudah wajar bahwa kau akan menjadi andel-andel padukuhan tempat kelahiranmu. Tetapi apakah benar kau andel-andel Padukuhan Kajar?”
Tampak Pasik itu mengerutkan keningnya. Dan pertanyaan Agni itu sekali lagi terngiang di telinganya, “Apakah benar kau andel-andel Padukuhan Kajar?” Pertanyaan itu benar-benar mengetuk hati Pasik. Namun tiba-tiba kembali nafsunya melonjak sampai ke ubun-ubunnya. Karena itu ia berteriak,
“Tutup mulutmu perantau yang malang. Ternyata umurmu akan segera berakhir di padukuhan ini.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, “Pasik, aku bukan seorang yang biasa mencari pertentangan. Tetapi kalau kau hendak memaksakan kehendakmu, maka aku terpaksa akan menghadapimu dengan berperisai dada.”
“Tataplah langit dan ciumlah bumi untuk kesempatan yang terakhir sebelum kau kehilangan setiap kesempatan untuk melakukannya.”
Mahisa Agni tidak mendapat kesempatan untuk menjawabnya. Sekali lagi Pasik meloncat dan menyerang segarang harimau lapar. Namun sekali lagi Mahisa Agni mundur selangkah untuk menghindarinya. Tetapi Pasik itu kini tidak membiarkan lawannya mempunyai kesempatan lebih banyak lagi. Dengan cepatnya ia meloncat maju untuk dengan berturut-turut melontarkan serangan berganda dengan kedua kakinya berganti-ganti. Tetapi Mahisa Agni pun telah bersiap sepenuhnya. Karena itu, serangan yang datang bertubi-tubi itu sama sekali tidak mengejutkan Mahisa Agni. Dengan tangkasnya pula ia menghindari setiap bahaya yang akan menyentuhnya.
Untuk beberapa saat sengaja Mahisa Agni tidak segera membalas setiap serangan dengan setangan. Ia ingin meyakinkan dirinya dalam penilaiannya terhadap lawannya itu.
Orang-orang Kajar menyaksikan perkelahian itu dengan tubuh gemetar. Mereka belum pernah melihat seseorang berani melawan kehendak Pasik, sejak Caruk terbunuh. Kini datang orang yang belum mereka kenal dan melakukan perlawanan terhadap Pasik. Dahulu Pasik berhasil dengan sekali pukul melumpuhkan anak muda yang bernama Caruk, yang mencoba melawan kehendaknya. Apalagi pada waktu itu dua saudara seperguruan Pasik ikut campur, sehingga Caruk itu terbunuh.
Kini Pasik itu tidak datang bersama saudara-saudara seperguruannya. Tetapi ia dalang tersama gurunya. Karena itu, maka setiap dada orang-orang Kajar itu diliputi oleh kecemasan dan ketegangan. Mereka cemas akan nasib orang yang belum mereka kenal itu, dan mereka cemas juga akan nasib mereka sendiri. Kemarahan Pasik pasti akan menimpa mereka pula. Apalagi kemarahan gurunya.
Tetapi mereka tidak dapat terbuat apa pun juga. Perkelahian itu telah berlangsung. Kini mereka melihat Mahisa Agni itu beberapa kali melangkah mundur. Meskipun demikian, di sudut hati mereka sebenarnya tersiratlah keinginan mereka, bahwa sekali-sekali biarlah Pasik itu mendapat pelajaran tentang cara-cara yang baik bagi hidup berkeluarga dalam lingkungan yang kecil itu. Karena itu sebenarnya mereka pun berdoa, semoga orang yang belum mereka kenal itu dapat menolong mereka, membebaskan dari ketamakan Pasik. Tetapi yang mereka lihat sekarang, orang itu selalu terdesak surut.
Dalam pada itu, Mahisa Agni semakin lama semakin melihat nilai dari lawannya. Sebenarnya Pasik bukanlah seorang sakti yang perlu dicemaskan. Mahisa Agni meyakini dirinya, bahwa ia akan dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Namun, kalau Pasik telah mampu berbuat demikian, maka gurunyalah yang perlu mendapat perhatiannya. Tetapi sampai saat itu, ia belum melihat kehadiran guru Pasik. Karena itu, ia harus berhati-hati. Setiap tindakan perlu diperhatikannya dengan seksama.
Pasik itu masih menyerang terus-menerus dengan buasnya. Tangannya, kakinya dan bahkan seluruh tubuhnya bergerak-gerak dengan kasarnya, sehingga tampaklah betapa garangnya. Namun gerakan-gerakan itu adalah gerakan-gerakan yang masih mentah. gerakan-gerakan yang sebenarnya sangat sederhana.
Meskipun demikian, Mahisa Agni melihat, bahwa nilai-nilai dari inti gerak itu adalah sangat berbahaya. Apabila guru Pasik yang melakukannya dengan unsur-unsur yang sama, maka akibatnya pasti akan sangat berlainan. Dan sebenarnyalah dalam penilaian Mahisa Agni, bukanlah Pasik itu yang perlu diperhitungkan, tetapi gurunya. Karena itu, setelah Mahisa Agni menemukan nilai-nilai yang diperlukan, serta kemungkinan-kemungkinan yang akan dihadapi atas guru Pasik itu, maka sampailah ia pada kesimpulan, bahwa ia harus menyelesaikan perkelahian yang pertama ini secepat-cepatnya. Apabila guru Pasik benar-benar belum ada di sekitar tempat itu, maka ia akan mempunyai waktu untuk mempersiapkan dirinya lebih dahulu.
Demikianlah maka Mahisa Agni kemudian tidak membiarkan Pasik itu menyerangnya terus menerus. Kini Mahisa Agni telah siap untuk segera menyelesaikan permainan Pasik yang kasar itu. Namun Pasik yang kurang menyadari keadaan lawannya itu, menyerangnya dengan garangnya. Bertubi-tubi, karena ia pun segera ingin menyelesaikan perkelahian itu secepatnya. Ia ingin segera mengambil barang-barang berharga dari orang-orang yang sudah berkumpul di halaman itu. Perlawanan seorang tolol ini akan dijadikannya contoh, bahwa tak seorang pun boleh melawan kehendaknya. Tetapi Pasik itu menjadi semakin marah, ketika serangan-serangannya seolah-olah tak pernah menyentuh sasarannya. Meskipun lawannya itu selalu terdesak surut.
Namun tiba-tiba pertempuran itu pun segera berubah. Mahisa Agni tiba-tiba tidak menghindari lagi serangan Pasik. Dengan hati-hati Mahisa Agni mencoba untuk menangkis serangan lawannya, sehingga terjadilah suatu benturan di antara mereka. Namun, alangkah terkejutnya Pasik itu. Serangannya kali ini serasa menghantam batu karang. Dan bahkan batu karang itu telah mendorongnya dengan satu kekuatan raksasa. Pasik yang kurang dapat menilai diri dan lawannya itu terlempar beberapa langkah surut, kemudian jatuh terbanting di tanah.
Bukan saja Pasik, tetapi semua yang melihat peristiwa itu terkejut bukan buatan. Dan bahkan bukan saja mereka, tetapi Mahisa Agni itu pun terkejut sekali melihat akibat dari dorongan tenaganya. Sejak ia menekuni ilmunya di kaki Gunung Semeru, agaknya ia telah terlepas dari setiap kemungkinan yang tersimpan di dalam dirinya sendiri, sehingga karena itu, Mahisa Agni belum dapat mengukur kekuatan-kekuatan yang dilontarkannya dengan baik.
Kali ini Mahisa Agni hanya ingin sekedar memunahkan serangan Pasik yang melanda dirinya, namun akibatnya betapa dahsyatnya. Pasik itu terlempar surut dan terguling di tanah. Apalagi ketika Mahisa Agni itu melihat akibatnya kemudian. Dengan tertatih-tatih Pasik itu mencoba berdiri, namun sekali lagi ia terjerembab jatuh dan sesaat kemudian ia tidak sadarkan dirinya.
Halaman rumah Pasik itu kemudian seakan-akan diterkam oleh kesenyapan yang tegang. Mahisa Agni masih berdiri tegak di tempatnya. Sedang orang-orang Kajar melihat peristiwa itu seperti melihat kisaran kejadian di dalam mimpi. Mereka tidak akan menyangka bahwa Waraha yang ganas itu dapat dengan mudahnya dilumpuhkan oleh seorang yang sama sekali belum mereka kenal.
Tetapi sesaat kemudian kesepian itu dipecahkan oleh jerit seorang perempuan. Dengan berlari-lari ia melintasi halaman untuk kemudian menjatuhkan dirinya memeluk tubuh Pasik yang masih terbaring diam di halaman itu.
“Pasik. Pasik,” panggil perempuan itu.
Sekali lagi semua orang di halaman itu terkejut. Juga Mahisa Agni terkejut. Perempuan itu adalah ibu Pasik. Seorang ibu yang menangis karena melihat anaknya cedera.
“Pasik. Pasik,” perempuan ini masih memanggil-manggil. Diguncang guncangnya tubuh anaknya yang masih pingsan itu dan disiram wajahnya dengan air mata. Namun Pasik itu masih berdiam diri. Seorang laki-laki, ayah Pasik itu pun kemudian berjalan mendekati istrinya dan berjongkok di sampingnya. Dengan wajah sedih ia memandangi wajah anaknya. Kemudian diangkatnya kepala anaknya itu sambil bergumam, “Pasik. Sadarlah Anakku.”
Orang-orang yang berada di halaman itu masih tetap tak beranjak dari tempat mereka. Hanya Mahisa Agnilah kemudian yang melangkah setapak maju. Betapa pun juga, ia terharu melihat seorang ibu yang sedang menangisi anaknya. Satu-satunya anaknya.
Sesaat kemudian, Pasik itu pun membuka matanya. Perlahan-lahan ia mulai bergerak-gerak dan mencoba menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia membuka matanya, yang pertama-tama dilihatnya adalah wajah ayah dan ibunya. Pasik itu mengerutkan keningnya. Ia ingin melepaskan diri dari tangan ayahnya. Namun ketika ia mencoba bergerak, terdengar ia mengaduh perlahan.
“Jangan bergerak anakku,” desis ibunya.
Pasik mencoba mengangguk. Punggungnya, tangannya dan hampir segenap sendi-sendi tulangnya terasa sakit bukan buatan. Sehingga nafas Pasik itu pun menjadi terengah-engah.
“Sakit,” desisnya.
“Jangan bergerak dahulu Pasik,” gumam ayahnya.
Terdengar Pasik itu mengerang. Dan kemudian dengan susah payah Pasik itu berkata, “Air, Air, aku haus sekali.”
“Air,” ayahnya mengulangi sambil memandang ke sekeliling, seakan-akan ia minta kepada seseorang untuk mengambil air. Tetapi orang-orang yang sedang terpukau oleh peristiwa yang tak mereka duga-duga sebelumnya itu sama sekali tak ada yang beranjak dari tempatnya, sehingga ayah Pasik itu terpaksa mengulangi, “Air.”
Sementara belum seorang pun yang menyadari keadaannya, maka yang mula-mula bergerak adalah Mahisa Agni. Dengan tergesa-gesa ia pergi ke belakang rumah Pasik, dan setelah ia berputar-putar beberapa saat, ditemukannya sebuah kendi di atas grobogan. Ketika ia menyerahkan kendi itu kepada ibu Pasik, dilihatnya setetes darah mengalir dari mulut Pasik. Sekali lagi ibu Pasik itu menjerit.
“Darah!” katanya.
Tetapi ayah Pasik ternyata lebih tenang dari istrinya. Diilingnya air dari dalam kendi itu setetes demi setetes. Dan karena itulah maka nampaknya nafas Pasik menjadi lebih teratur.
“Sakit,” terdengar sekali lagi Pasik itu mengeluh.
“Jangan bergerak-gerak dahulu, Pasik,” minta ayahnya.
Perlahan-lahan Pasik mengangguk. Namun darah dari mulutnya masih mengalir terus. Betapa ibunya menjadi bertambah cemas melibat keadaan anaknya. Dan bahkan kemudian dengan nanar ditatapnya wajah Mahisa Agni. tiba-tiba dengan serta-merta, tanpa diduga-duga ibu Pasik itu berdiri sambil menunjuk wajah Mahisa Agni dengan jarinya. Katanya dengan suara gemetar,
“Kau, Kau yang telah membunuh Anakku. Lihat, betapa aku melahirkan dan memeliharanya sejak kecil. Melahirkan dengan menahan sakit dan menantang maut. Membesarkannya. Kini kau datang membunuhnya.”
Mahisa Agni berdiri tegak seperti patung. Ditatapnya wajah perempuan itu dan wajah Pasik berganti-ganti. Dalam pada itu tampaklah Pasik bergerak-gerak. Tetapi ia masih sedemikian lemahnya.
“Kalau kau mau membunuh,” berkata ibu Pasik itu, “bunuhlah aku!”
“Aku sama sekali tidak ingin membunuhnya, Bibi,” jawab Mahisa Agni.
“Bohong!” teriak perempuan itu, “Kau lihat, akibat dari kejahatanmu itu?”
“Aku tidak sengaja,” sahut Agni, “bukankah Bibi melihat apa yang telah terjadi?”
“Ya. Aku lihat. Kau mencoba menghinanya. Dan karena itu aku pun merasa terhina pula.”
Mahisa Agni kini tidak menjawab lagi. Seharusnya ia berdiam diri menghadapi perempuan yang sedang marah. Dalam keadaan demikian maka perempuan itu tidak akan dapat mempergunakan pikirannya, namun perasaannya sajalah yang berbicara. Tetapi perempuan itu berhenti berbicara ketika ia mendengar Pasik bergumam. cepat-cepat ia berjongkok dan bertanya
“Apa Pasik? Apakah yang kau minta?”
Pasik itu memandang wajah ayah dan ibunya dengan pandangan mata yang aneh. Tiba-tiba ia berdesah “Bukankah ayah akan menyembelih tiga ekor kambing kalau aku mati?”
“Tidak. Tidak Pasik,” sahut ayahnya cepat-cepat, “aku akan menyembelih tiga ekor kambing kalau kau sembuh.”
Pasik itu menarik nafas. Baru saja ia mendorong ibunya sampai terbanting di tanah. Beberapa saat yang lampau ayahnya itu hampir dibunuhnya dan ibunya itu telah dicekiknya pula. Tetapi kini, ketika seseorang melukainya, maka ia mendengar ibunya itu berkata, ‘Betapa aku melahirkan dan memeliharanya sejak kecil. Melahirkan dengan menahan sakit menentang maut. Memeliharanya dan membesarkannya. Kini kau datang membunuhnya’. Kemudian ibunya itu berkata pula, ‘Kalau kau mau membunuh, bunuhlah aku’.
Dalam penderitaan karena luka-luka di dalam dadanya, karena pantulan tenaganya sendiri serta dorongan tenaga Agni itu, Pasik sempat memperbandingkan kasih ibu serta ayahnya kepadanya dengan apa yang pernah dilakukannya. Alangkah jauh perbedaannya. Seandainya, ya seandainya ayah atau ibunya yang mengalami bencana itu, maka Pasik itu tak akan bersedih. Tetapi kini ayah serta ibunya itu meratap untuknya.
Tiba-tiba terasa sesuatu bergetar di dalam dadanya. Sesuatu yang tumbuh karena keadaan yang sedang dialaminya. Dan tiba-tiba terasa bahwa kasih sayang ibu serta ayahnya telah memberinya ketenteraman. Ketika Pasik itu menggeser kepalanya, dilihatnya Mahisa Agni tegak seperti batu karang. Tetapi orang itu tidak menyerangnya terus, dan benar-benar tidak berusaha membunuhnya. Dengan demikian, maka berbagai perasaan bergolak di dalam dadanya. Beberapa keanehan kini sedang bergolak di dalam dirinya. Ibunya, ayahnya yang telah pernah hampir dibunuhnya dan orang yang belum dikenalnya itu.
Beberapa orang yang menyaksikan peristiwa itu pun menjadi berdiam diri seperti patung. Mereka kini melihat orang yang mereka takuti terbaring dalam pelukan ayahnya. Betapa pun mereka membenci Pasik, namun Pasik adalah anak yang dilahirkan di padukuhan mereka, yang sejak kecilnya mereka lihat bermain-main di sepanjang jalan padukuhan, di sawah bersama anak-anak mereka.
“Mudah-mudahan anak itu menyadari keadaannya,” gumam tetua Padukuhan Kajar.
Namun tiba-tiba halaman itu dikejutkan oleh kehadiran seorang yang bertubuh pendek kekar dan hampir di seluruh kulit wajahnya dijalari oleh otot-ototnya yang kukuh kuat. Orang itu terkejut ketika ia melihat Pasik terbaring diam di tangan ayahnya. Cepat-cepat ia meloncat seperti seekor kijang, dan dengan tangkasnya ia segera berjongkok di samping Pasik.
“Apa yang terjadi Waraha?” suaranya kecil melengking-lengking.
Halaman itu menjadi tegang. Tiba-tiba pula seluruhnya yang berada di halaman itu menjadi cemas. Orang ini adalah guru Pasik. Apakah ia akan berdiam diri melihat muridnya terluka?
Mahisa Agni pun melihat orang itu pula. Segera ia mengetahuinya bahwa pasti orang ini guru Pasik. Namun ia pun menjadi heran, guru Pasik itu masih sangat muda. Kalau demikian, pasti orang ini bukan yang dikatakan oleh gurunya. Menurut gurunya orang itu sudah agak lanjut umurnya,meskipun lebih tua dari Agni, namun tidak terpaut banyak.
Ketika Pasik melihat gurunya datang, sesaat wajahnya menjadi cerah, namun sesaat kemudian wajah itu menjadi suram kembali. Yang terdengar kemudian adalah suara guru Pasik,
“Waraha, apakah yang terjadi atas dirimu?”
Kembali halaman itu menjadi sunyi. Orang-orang yang ada di halaman itu seakan-akan tinggal menunggu nasib mereka. Kalau Pasik itu mengatakan sebab-sebabnya, maka gurunya itu pasti akan marah. Dan kemarahannya pasti akan menimpa mereka. Pasik menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba terdengarlah jawabnya yang sama sekali tak disangka-sangka,
“Aku tidak apa-apa, Guru.”
Guru Pasik itu menjadi heran. Wajahnya yang keras itu terangkat. Kemudian diedarkannya pandangan matanya berkeliling. Ketika ia memandang Mahisa Agni yang masih berdiri tegak, maka tampaklah keningnya berkerut.
“Waraha,” katanya kemudian “katakan apa sebabnya kau terluka?”
Sekali lagi Waraha menggeleng. Kemudian katanya “Seseorang menyerangku guru. Tetapi itu bukan salahnya.”
“He?” guru Pasik itu terkejut, “kenapa bukan salahnya?”
“Aku menyerangnya lebih dahulu,” jawab Pasik.
Sekali lagi guru Pasik itu mengerutkan keningnya. Betapa anehnya kelakuan muridnya ini. Selama ini belum pernah terjadi, salah seorang muridnya merasa bersalah dalam suatu perkelahian. Di samping itu, timbul juga herannya, bahwa di padukuhan kecil itu ada juga orang yang dapat mengalahkan muridnya. Karena itu tiba-tiba sekali lagi ia memandang Mahisa Agni. Dan dengan serta-merta ia berkata,
“Kau, kaukah itu?”
Mahisa Agni tidak menjawab pertanyaan Bahu Reksa Kali Elo itu. Ia sudah bersedia untuk menerima tuduhan itu. Sebab di antara sekian banyak orang-orang yang berada di halaman itu, maka sikap Mahisa Agni tampaknya agak berbeda dengan orang-orang yang lain. Guru Pasik itu pun kemudian berdiri. Dengan wajah yang merah membara ia bertanya pula,
“He, anak muda. Apakah kau yang telah berani melukai muridku?”
Mahisa Agni masih belum menjawab. Namun terdengar Pasik itu berkata perlahan-lahan, “Biarkan anak itu, Guru.”
Tetapi guru Pasik itu sudah tidak mau mendengar kata-kata muridnya. Karena itu, tiba-tiba ia menyambar lengan salah seorang yang berjongkok paling dekat. Dengan satu tangannya orang itu ditariknya, sehingga kedua kakinya terangkat.
“Ampun,” teriak orang itu.
Guru Pasik itu memandangnya dengan bengis. Namun kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Katanya, “Jangan takut tikus kecil. Aku hanya ingin bertanya kepadamu. Siapakah yang telah melukai Waraha?”
Orang itu menjadi ragu-ragu, sesaat ia memandang wajah Mahisa Agni, dan sesaat pula ia memandang wajah guru Pasik. Tiba-tiba orang itu terkejut ketika guru Pasik itu membentak,
”jawab!”
“Bukan aku. Bukan aku,” jawabnya tergagap,
Mata guru Pasik itu menjadi semakin menyala. Bentaknya, “Aku sudah tahu, pasti bukan kau tikus yang malang. Tetapi siapa? Kalau kau yang melakukan itu, maka aku akan menyembahmu sepuluh kali.” Kembali orang itu terdiam. Tetapi kembali guru Pasik itu membentak-bentaknya. Bahkan kemudian dipegangnya leher orang itu sambil menggeram, “Katakan! Siapa yang melukai Waraha?”
Mahisa Agni akhirnya tidak sampai hati melihat orang itu hampir mati ketakutan. Karena itu, maka segera ia melangkah maju sambil berkata, “Lepaskan orang itu. Ia sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan luka Pasik.”
“Apa?” teriak guru Pasik, “Kau memerintah aku? Dan coba sekali lagi, sebutlah nama muridku itu!”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Agaknya ia benar-benar berhadapan dengan seorang yang keras kepala. Meskipun demikian Mahisa Agni menjawab, “Aku sama sekali tidak ingin memerintah seseorang. Tetapi aku ingin kau berlaku bijaksana. Orang itu sama sekali tidak tahu menahu tentang luka muridmu yang bernama Pasik itu.”
“Diam!” bentak Bahu Reksa Kali Elo.
“Kau bertanya, dan aku menjawab,” sahut Mahisa Agni.
Guru Pasik itu pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Terdengar ia tertawa parau. Katanya, “Hem, ternyata kau benar-benar menyadari apa yang kau lakukan. Agaknya kau menepuk dada setelah kau berhasil melukai muridku. Lihat, aku adalah gurunya. Aku tidak akan dapat membiarkan kau melukai muridku.”
Sebelum Mahisa Agni menjawab, terdengarlah lamat-lamat suara Pasik, “Guru, biarkan anak itu.”
“Hem,” guru Pasik itu menarik nafas, tetapi seakan-akan kata-kata itu tak didengarnya. Bahkan kini ia melangkah mendekati Mahisa Agni sambil menarik orang yang masih digenggam lengannya itu. Katanya, “He, anak muda. Siapa namamu?”
“Mahisa Agni,” jawab Mahisa Agni pendek.
Guru Pasik itu mengerutkan keningnya. Gumamnya, “Nama yang bagus. Tetapi kenapa kau berlaku kasar?”
“Bertanyalah kepada muridmu,” sahut Mahisa Agni.
Guru Pasik itu menggeram. Ditariknya orang yang masih dipegangnya itu dekat-dekat ke dadanya, “Ayo bilang. Siapa yang bersalah di antara mereka?”
Orang itu menjadi gemetar. Dengan tergagap ia menjawab, “Pasik. Pasik yang bersalah.”
“Apa? Apa?” guru Pasik itu membentak-bentak sambil mengguncang-guncang tubuh orang yang sama sekali tidak berdaya itu. Bahkan demikian takutnya, sehingga semua tulang-tulangnya seakan-akan telah terlepas dari segenap persendiannya. Apalagi ketika ia mendengar guru Pasik membentaknya kembali, “Ayo jawab, siapakah yang bersalah di antara mereka?”
Kembali orang itu tergagap. Dan seperti orang kehilangan akal ia menjawab, “Oh, anak itu. Anak itulah yang bersalah. Mahisa Agni.”
“Ha,” guru Pasik itu tiba-tiba tertawa. “Dengar,” katanya, “dengar. Kau dengar kesaksian orang ini. Orang-orang Kajar adalah orang yang jujur. Mereka tak pernah berbohong seperti kau. Bukankah kau bukan orang Kajar? Nah, apa katamu sekarang?” Mahisa Agni menggeretakkan giginya. Ia melihat suatu permainan yang benar-benar memuakkan. Apalagi ketika guru Pasik itu berkata, “He, Mahisa Agni, Apakah kau perlu saksi yang lain?”
“Tidak!” jawab Mahisa Agni, “Apapun yang dikatakan tentang diriku, aku tidak peduli. Tetapi apakah maksudmu sebenarnya?”
Mata guru Pasik itu pun menjadi redup. Katanya, “Aku tidak biasa menghukum orang yang tak bersalah. Kini bukti-bukti akan mengatakan bahwa kau bersalah. Karena itu jangan menyangkal dan jangan mencoba membela diri. Setiap kesalahan harus mendapat hukuman tanpa kecuali. Meskipun kau tamu di padukuhan ini, namun kau telah melakukan kesalahan.”
“Cukup!” potong Mahisa Agni. Ia telah benar-benar menjadi muak mendengar kata orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu.
Guru Pasik itu terkejut sehingga dengan demikian kata-katanya pun terhenti. Ditatapnya wajah Mahisa Agni dengan tajamnya, kemudian katanya, “Kau berani membentak aku, he?”
Mahisa Agni tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi ia berkata, “He, Ki Sanak. Jangan berbuat aneh-aneh di padukuhan ini .Pergilah dan biarlah Pasik menerima ketenteraman hidup di antara keluarga dan sanak kadangnya. Jangan meracuni hidupnya dengan perbuatan-perbuatan aneh seperti perbuatan-perbuatan orang-orang yang kehilangan akal budi.”
Guru Pasik itu terkejut mendengar kata-kata Mahisa Agni sehingga matanya terbelalak karenanya. Kemudian dengan geramnya ia berkata, “Sekarang aku yakin bahwa ternyata kau benar-benar anak yang sombong anak yang tak tahu diri. Maka bagiku tak ada pilihan lain daripada mengajarimu sedikit sopan santun supaya kau dapat sedikit menghargai orang lain.”
“Aku pun sedang berpikir demikian juga atasmu,” sahut Mahisa Agni.
Semua hati yang tersimpan di dalam dada setiap orang di halaman itu tergetar karenanya. Orang yang masih asing bagi mereka itu, agaknya benar-benar belum mengenal Waraha. Karena itu, mereka pun menjadi berdebar-debar. Apabila ada kesempatan bagi mereka, mereka pasti akan memperingatkannya. Tetapi kini hal itu telah terjadi. Dan wajah Waraha itu telah menjadi semerah darah.
“Hem,” Waraha menggeram. Tetapi tiba-tiba ia tertawa. Di antara suara tertawanya itu ia berkata “He, para tetangga yang baik. Sediakanlah sebuah lubang untuk mengubur orang gila ini. Aku ingin mematahkan tulang belakangnya. Kemudian sebelum ia mati, biarlah ia menikmati sejuknya tanah perkuburan.”
Mahisa Agni mendengar kata-kata itu dengan kerut-kerut di keningnya. Agaknya Pasik itu benar-benar dapat berbuat sebuas itu. Karena itu maka kemudian jawabnya
“Jangan marah Pasik.”
Suara Mahisa Agni itu terputus karena Pasik berteriak, “Sebut namaku, orang gila!”
“Ya. Pasik. Pasik. Sebenarnyalah nama itu baik sekali. Tidak sebuas nama Waraha.”
Pasik itu kini benar-benar telah menjadi gemetar menahan kemarahannya. Matanya yang liar menjadi semakin liar. Dan tiba-tiba ia meloncat, melanggar satu dua orang sehingga jatuh berguling-guling, mendekati Mahisa Agni. Dengan gemetar pula ia menggeram,
“Setan! Bersiaplah untuk mati!”
Mahisa Agni itu pun kemudian bergeser selangkah surut. Kerisnya itu pun kemudian disarungkannya. Dan dengan tenang ia berkata “Pasik. Aku tidak akan memberikan kerisku ini. Apakah kau akan memaksa?”
Pasik itu menggeram seperti seekor harimau. Orang-orang yang berada di halaman itu pun kemudian berloncatan menepi. Mereka kini melihat Pasik dan Mahisa Agni telah berdiri berhadap-hadapan. Pasik memandang mata Mahisa Agni dengan buasnya. Kini Pasik itu dapat melihat, bahwa sikap Mahisa Agni bukanlah sikap dari seorang yang ingin membunuh diri. Namun sikap Mahisa Agni adalah sikap seekor banteng yang siap melawan seekor harimau yang betapa pun garangnya dengan tanduk-tanduknya yang runcing tajam. Kini Pasik tidak mau berbicara lagi. Dengan garangnya ia meloncat maju menerkam wajah Mahisa Agni yang masih saja tetap tenang dan teguh.
Orang tua, tetua Padukuhan Kajar, ketika ia melihat Pasik meloncat menyerang Mahisa Agni, terdengar mengeluh pendek, sedang menantunya benar-benar telah menjadi seakan-akan membeku. Bukan saja mereka berdua, tetapi seluruh penduduk Kajar yang menyaksikan peristiwa itu menahan nafasnya.
Tetapi Mahisa Agni tidak membiarkan wajahnya disobek oleh Pasik. Selangkah ia mundur sambil berkata, “Pasik. Apakah kau benar-benar ingin memaksa aku untuk berkelahi?”
Gerak Pasik itu terhenti juga oleh kata-kata Mahisa Agni. Sekali lagi ia memandang wajah Mahisa Agni yang masih tetap tenang. Sehingga karena itu maka Pasik mulai menyadari, dengan siapa ia berhadapan. Maka katanya kemudian,
”Sejak semula aku sudah menyangka, bahwa kau bukan sekedar seorang perantau dungu. Kerismu telah mengatakan kepadaku, bahwa kau sebenarnya seorang yang menyimpan ilmu di dalam dirimu. Tetapi meskipun demikian, kau sekarang berhadapan dengan Waraha, andel-andel Padukuhan Kajar. Karena itu jangan menyangka bahwa kau akan dapat meninggalkan padukuhan ini dengan selamat.”
Mahisa Agni seakan-akan tidak mendengar kata-kata Pasik itu. Bahkan ia berkata, “Pasik. Apakah kau tidak menyadari,bahwa perbuatanmu itu telah menimbulkan bencana, justru di tanah kelahiranmu sendiri?”
Pasik mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Apa pedulimu?”
“Kalau kau seorang yang sakti, Pasik, maka sudah wajar bahwa kau akan menjadi andel-andel padukuhan tempat kelahiranmu. Tetapi apakah benar kau andel-andel Padukuhan Kajar?”
Tampak Pasik itu mengerutkan keningnya. Dan pertanyaan Agni itu sekali lagi terngiang di telinganya, “Apakah benar kau andel-andel Padukuhan Kajar?” Pertanyaan itu benar-benar mengetuk hati Pasik. Namun tiba-tiba kembali nafsunya melonjak sampai ke ubun-ubunnya. Karena itu ia berteriak,
“Tutup mulutmu perantau yang malang. Ternyata umurmu akan segera berakhir di padukuhan ini.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, “Pasik, aku bukan seorang yang biasa mencari pertentangan. Tetapi kalau kau hendak memaksakan kehendakmu, maka aku terpaksa akan menghadapimu dengan berperisai dada.”
“Tataplah langit dan ciumlah bumi untuk kesempatan yang terakhir sebelum kau kehilangan setiap kesempatan untuk melakukannya.”
Mahisa Agni tidak mendapat kesempatan untuk menjawabnya. Sekali lagi Pasik meloncat dan menyerang segarang harimau lapar. Namun sekali lagi Mahisa Agni mundur selangkah untuk menghindarinya. Tetapi Pasik itu kini tidak membiarkan lawannya mempunyai kesempatan lebih banyak lagi. Dengan cepatnya ia meloncat maju untuk dengan berturut-turut melontarkan serangan berganda dengan kedua kakinya berganti-ganti. Tetapi Mahisa Agni pun telah bersiap sepenuhnya. Karena itu, serangan yang datang bertubi-tubi itu sama sekali tidak mengejutkan Mahisa Agni. Dengan tangkasnya pula ia menghindari setiap bahaya yang akan menyentuhnya.
Untuk beberapa saat sengaja Mahisa Agni tidak segera membalas setiap serangan dengan setangan. Ia ingin meyakinkan dirinya dalam penilaiannya terhadap lawannya itu.
Orang-orang Kajar menyaksikan perkelahian itu dengan tubuh gemetar. Mereka belum pernah melihat seseorang berani melawan kehendak Pasik, sejak Caruk terbunuh. Kini datang orang yang belum mereka kenal dan melakukan perlawanan terhadap Pasik. Dahulu Pasik berhasil dengan sekali pukul melumpuhkan anak muda yang bernama Caruk, yang mencoba melawan kehendaknya. Apalagi pada waktu itu dua saudara seperguruan Pasik ikut campur, sehingga Caruk itu terbunuh.
Kini Pasik itu tidak datang bersama saudara-saudara seperguruannya. Tetapi ia dalang tersama gurunya. Karena itu, maka setiap dada orang-orang Kajar itu diliputi oleh kecemasan dan ketegangan. Mereka cemas akan nasib orang yang belum mereka kenal itu, dan mereka cemas juga akan nasib mereka sendiri. Kemarahan Pasik pasti akan menimpa mereka pula. Apalagi kemarahan gurunya.
Tetapi mereka tidak dapat terbuat apa pun juga. Perkelahian itu telah berlangsung. Kini mereka melihat Mahisa Agni itu beberapa kali melangkah mundur. Meskipun demikian, di sudut hati mereka sebenarnya tersiratlah keinginan mereka, bahwa sekali-sekali biarlah Pasik itu mendapat pelajaran tentang cara-cara yang baik bagi hidup berkeluarga dalam lingkungan yang kecil itu. Karena itu sebenarnya mereka pun berdoa, semoga orang yang belum mereka kenal itu dapat menolong mereka, membebaskan dari ketamakan Pasik. Tetapi yang mereka lihat sekarang, orang itu selalu terdesak surut.
Dalam pada itu, Mahisa Agni semakin lama semakin melihat nilai dari lawannya. Sebenarnya Pasik bukanlah seorang sakti yang perlu dicemaskan. Mahisa Agni meyakini dirinya, bahwa ia akan dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Namun, kalau Pasik telah mampu berbuat demikian, maka gurunyalah yang perlu mendapat perhatiannya. Tetapi sampai saat itu, ia belum melihat kehadiran guru Pasik. Karena itu, ia harus berhati-hati. Setiap tindakan perlu diperhatikannya dengan seksama.
Pasik itu masih menyerang terus-menerus dengan buasnya. Tangannya, kakinya dan bahkan seluruh tubuhnya bergerak-gerak dengan kasarnya, sehingga tampaklah betapa garangnya. Namun gerakan-gerakan itu adalah gerakan-gerakan yang masih mentah. gerakan-gerakan yang sebenarnya sangat sederhana.
Meskipun demikian, Mahisa Agni melihat, bahwa nilai-nilai dari inti gerak itu adalah sangat berbahaya. Apabila guru Pasik yang melakukannya dengan unsur-unsur yang sama, maka akibatnya pasti akan sangat berlainan. Dan sebenarnyalah dalam penilaian Mahisa Agni, bukanlah Pasik itu yang perlu diperhitungkan, tetapi gurunya. Karena itu, setelah Mahisa Agni menemukan nilai-nilai yang diperlukan, serta kemungkinan-kemungkinan yang akan dihadapi atas guru Pasik itu, maka sampailah ia pada kesimpulan, bahwa ia harus menyelesaikan perkelahian yang pertama ini secepat-cepatnya. Apabila guru Pasik benar-benar belum ada di sekitar tempat itu, maka ia akan mempunyai waktu untuk mempersiapkan dirinya lebih dahulu.
Demikianlah maka Mahisa Agni kemudian tidak membiarkan Pasik itu menyerangnya terus menerus. Kini Mahisa Agni telah siap untuk segera menyelesaikan permainan Pasik yang kasar itu. Namun Pasik yang kurang menyadari keadaan lawannya itu, menyerangnya dengan garangnya. Bertubi-tubi, karena ia pun segera ingin menyelesaikan perkelahian itu secepatnya. Ia ingin segera mengambil barang-barang berharga dari orang-orang yang sudah berkumpul di halaman itu. Perlawanan seorang tolol ini akan dijadikannya contoh, bahwa tak seorang pun boleh melawan kehendaknya. Tetapi Pasik itu menjadi semakin marah, ketika serangan-serangannya seolah-olah tak pernah menyentuh sasarannya. Meskipun lawannya itu selalu terdesak surut.
Namun tiba-tiba pertempuran itu pun segera berubah. Mahisa Agni tiba-tiba tidak menghindari lagi serangan Pasik. Dengan hati-hati Mahisa Agni mencoba untuk menangkis serangan lawannya, sehingga terjadilah suatu benturan di antara mereka. Namun, alangkah terkejutnya Pasik itu. Serangannya kali ini serasa menghantam batu karang. Dan bahkan batu karang itu telah mendorongnya dengan satu kekuatan raksasa. Pasik yang kurang dapat menilai diri dan lawannya itu terlempar beberapa langkah surut, kemudian jatuh terbanting di tanah.
Bukan saja Pasik, tetapi semua yang melihat peristiwa itu terkejut bukan buatan. Dan bahkan bukan saja mereka, tetapi Mahisa Agni itu pun terkejut sekali melihat akibat dari dorongan tenaganya. Sejak ia menekuni ilmunya di kaki Gunung Semeru, agaknya ia telah terlepas dari setiap kemungkinan yang tersimpan di dalam dirinya sendiri, sehingga karena itu, Mahisa Agni belum dapat mengukur kekuatan-kekuatan yang dilontarkannya dengan baik.
Kali ini Mahisa Agni hanya ingin sekedar memunahkan serangan Pasik yang melanda dirinya, namun akibatnya betapa dahsyatnya. Pasik itu terlempar surut dan terguling di tanah. Apalagi ketika Mahisa Agni itu melihat akibatnya kemudian. Dengan tertatih-tatih Pasik itu mencoba berdiri, namun sekali lagi ia terjerembab jatuh dan sesaat kemudian ia tidak sadarkan dirinya.
Halaman rumah Pasik itu kemudian seakan-akan diterkam oleh kesenyapan yang tegang. Mahisa Agni masih berdiri tegak di tempatnya. Sedang orang-orang Kajar melihat peristiwa itu seperti melihat kisaran kejadian di dalam mimpi. Mereka tidak akan menyangka bahwa Waraha yang ganas itu dapat dengan mudahnya dilumpuhkan oleh seorang yang sama sekali belum mereka kenal.
Tetapi sesaat kemudian kesepian itu dipecahkan oleh jerit seorang perempuan. Dengan berlari-lari ia melintasi halaman untuk kemudian menjatuhkan dirinya memeluk tubuh Pasik yang masih terbaring diam di halaman itu.
“Pasik. Pasik,” panggil perempuan itu.
Sekali lagi semua orang di halaman itu terkejut. Juga Mahisa Agni terkejut. Perempuan itu adalah ibu Pasik. Seorang ibu yang menangis karena melihat anaknya cedera.
“Pasik. Pasik,” perempuan ini masih memanggil-manggil. Diguncang guncangnya tubuh anaknya yang masih pingsan itu dan disiram wajahnya dengan air mata. Namun Pasik itu masih berdiam diri. Seorang laki-laki, ayah Pasik itu pun kemudian berjalan mendekati istrinya dan berjongkok di sampingnya. Dengan wajah sedih ia memandangi wajah anaknya. Kemudian diangkatnya kepala anaknya itu sambil bergumam, “Pasik. Sadarlah Anakku.”
Orang-orang yang berada di halaman itu masih tetap tak beranjak dari tempat mereka. Hanya Mahisa Agnilah kemudian yang melangkah setapak maju. Betapa pun juga, ia terharu melihat seorang ibu yang sedang menangisi anaknya. Satu-satunya anaknya.
Sesaat kemudian, Pasik itu pun membuka matanya. Perlahan-lahan ia mulai bergerak-gerak dan mencoba menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia membuka matanya, yang pertama-tama dilihatnya adalah wajah ayah dan ibunya. Pasik itu mengerutkan keningnya. Ia ingin melepaskan diri dari tangan ayahnya. Namun ketika ia mencoba bergerak, terdengar ia mengaduh perlahan.
“Jangan bergerak anakku,” desis ibunya.
Pasik mencoba mengangguk. Punggungnya, tangannya dan hampir segenap sendi-sendi tulangnya terasa sakit bukan buatan. Sehingga nafas Pasik itu pun menjadi terengah-engah.
“Sakit,” desisnya.
“Jangan bergerak dahulu Pasik,” gumam ayahnya.
Terdengar Pasik itu mengerang. Dan kemudian dengan susah payah Pasik itu berkata, “Air, Air, aku haus sekali.”
“Air,” ayahnya mengulangi sambil memandang ke sekeliling, seakan-akan ia minta kepada seseorang untuk mengambil air. Tetapi orang-orang yang sedang terpukau oleh peristiwa yang tak mereka duga-duga sebelumnya itu sama sekali tak ada yang beranjak dari tempatnya, sehingga ayah Pasik itu terpaksa mengulangi, “Air.”
Sementara belum seorang pun yang menyadari keadaannya, maka yang mula-mula bergerak adalah Mahisa Agni. Dengan tergesa-gesa ia pergi ke belakang rumah Pasik, dan setelah ia berputar-putar beberapa saat, ditemukannya sebuah kendi di atas grobogan. Ketika ia menyerahkan kendi itu kepada ibu Pasik, dilihatnya setetes darah mengalir dari mulut Pasik. Sekali lagi ibu Pasik itu menjerit.
“Darah!” katanya.
Tetapi ayah Pasik ternyata lebih tenang dari istrinya. Diilingnya air dari dalam kendi itu setetes demi setetes. Dan karena itulah maka nampaknya nafas Pasik menjadi lebih teratur.
“Sakit,” terdengar sekali lagi Pasik itu mengeluh.
“Jangan bergerak-gerak dahulu, Pasik,” minta ayahnya.
Perlahan-lahan Pasik mengangguk. Namun darah dari mulutnya masih mengalir terus. Betapa ibunya menjadi bertambah cemas melibat keadaan anaknya. Dan bahkan kemudian dengan nanar ditatapnya wajah Mahisa Agni. tiba-tiba dengan serta-merta, tanpa diduga-duga ibu Pasik itu berdiri sambil menunjuk wajah Mahisa Agni dengan jarinya. Katanya dengan suara gemetar,
“Kau, Kau yang telah membunuh Anakku. Lihat, betapa aku melahirkan dan memeliharanya sejak kecil. Melahirkan dengan menahan sakit dan menantang maut. Membesarkannya. Kini kau datang membunuhnya.”
Mahisa Agni berdiri tegak seperti patung. Ditatapnya wajah perempuan itu dan wajah Pasik berganti-ganti. Dalam pada itu tampaklah Pasik bergerak-gerak. Tetapi ia masih sedemikian lemahnya.
“Kalau kau mau membunuh,” berkata ibu Pasik itu, “bunuhlah aku!”
“Aku sama sekali tidak ingin membunuhnya, Bibi,” jawab Mahisa Agni.
“Bohong!” teriak perempuan itu, “Kau lihat, akibat dari kejahatanmu itu?”
“Aku tidak sengaja,” sahut Agni, “bukankah Bibi melihat apa yang telah terjadi?”
“Ya. Aku lihat. Kau mencoba menghinanya. Dan karena itu aku pun merasa terhina pula.”
Mahisa Agni kini tidak menjawab lagi. Seharusnya ia berdiam diri menghadapi perempuan yang sedang marah. Dalam keadaan demikian maka perempuan itu tidak akan dapat mempergunakan pikirannya, namun perasaannya sajalah yang berbicara. Tetapi perempuan itu berhenti berbicara ketika ia mendengar Pasik bergumam. cepat-cepat ia berjongkok dan bertanya
“Apa Pasik? Apakah yang kau minta?”
Pasik itu memandang wajah ayah dan ibunya dengan pandangan mata yang aneh. Tiba-tiba ia berdesah “Bukankah ayah akan menyembelih tiga ekor kambing kalau aku mati?”
“Tidak. Tidak Pasik,” sahut ayahnya cepat-cepat, “aku akan menyembelih tiga ekor kambing kalau kau sembuh.”
Pasik itu menarik nafas. Baru saja ia mendorong ibunya sampai terbanting di tanah. Beberapa saat yang lampau ayahnya itu hampir dibunuhnya dan ibunya itu telah dicekiknya pula. Tetapi kini, ketika seseorang melukainya, maka ia mendengar ibunya itu berkata, ‘Betapa aku melahirkan dan memeliharanya sejak kecil. Melahirkan dengan menahan sakit menentang maut. Memeliharanya dan membesarkannya. Kini kau datang membunuhnya’. Kemudian ibunya itu berkata pula, ‘Kalau kau mau membunuh, bunuhlah aku’.
Dalam penderitaan karena luka-luka di dalam dadanya, karena pantulan tenaganya sendiri serta dorongan tenaga Agni itu, Pasik sempat memperbandingkan kasih ibu serta ayahnya kepadanya dengan apa yang pernah dilakukannya. Alangkah jauh perbedaannya. Seandainya, ya seandainya ayah atau ibunya yang mengalami bencana itu, maka Pasik itu tak akan bersedih. Tetapi kini ayah serta ibunya itu meratap untuknya.
Tiba-tiba terasa sesuatu bergetar di dalam dadanya. Sesuatu yang tumbuh karena keadaan yang sedang dialaminya. Dan tiba-tiba terasa bahwa kasih sayang ibu serta ayahnya telah memberinya ketenteraman. Ketika Pasik itu menggeser kepalanya, dilihatnya Mahisa Agni tegak seperti batu karang. Tetapi orang itu tidak menyerangnya terus, dan benar-benar tidak berusaha membunuhnya. Dengan demikian, maka berbagai perasaan bergolak di dalam dadanya. Beberapa keanehan kini sedang bergolak di dalam dirinya. Ibunya, ayahnya yang telah pernah hampir dibunuhnya dan orang yang belum dikenalnya itu.
Beberapa orang yang menyaksikan peristiwa itu pun menjadi berdiam diri seperti patung. Mereka kini melihat orang yang mereka takuti terbaring dalam pelukan ayahnya. Betapa pun mereka membenci Pasik, namun Pasik adalah anak yang dilahirkan di padukuhan mereka, yang sejak kecilnya mereka lihat bermain-main di sepanjang jalan padukuhan, di sawah bersama anak-anak mereka.
“Mudah-mudahan anak itu menyadari keadaannya,” gumam tetua Padukuhan Kajar.
Namun tiba-tiba halaman itu dikejutkan oleh kehadiran seorang yang bertubuh pendek kekar dan hampir di seluruh kulit wajahnya dijalari oleh otot-ototnya yang kukuh kuat. Orang itu terkejut ketika ia melihat Pasik terbaring diam di tangan ayahnya. Cepat-cepat ia meloncat seperti seekor kijang, dan dengan tangkasnya ia segera berjongkok di samping Pasik.
“Apa yang terjadi Waraha?” suaranya kecil melengking-lengking.
Halaman itu menjadi tegang. Tiba-tiba pula seluruhnya yang berada di halaman itu menjadi cemas. Orang ini adalah guru Pasik. Apakah ia akan berdiam diri melihat muridnya terluka?
Mahisa Agni pun melihat orang itu pula. Segera ia mengetahuinya bahwa pasti orang ini guru Pasik. Namun ia pun menjadi heran, guru Pasik itu masih sangat muda. Kalau demikian, pasti orang ini bukan yang dikatakan oleh gurunya. Menurut gurunya orang itu sudah agak lanjut umurnya,meskipun lebih tua dari Agni, namun tidak terpaut banyak.
Ketika Pasik melihat gurunya datang, sesaat wajahnya menjadi cerah, namun sesaat kemudian wajah itu menjadi suram kembali. Yang terdengar kemudian adalah suara guru Pasik,
“Waraha, apakah yang terjadi atas dirimu?”
Kembali halaman itu menjadi sunyi. Orang-orang yang ada di halaman itu seakan-akan tinggal menunggu nasib mereka. Kalau Pasik itu mengatakan sebab-sebabnya, maka gurunya itu pasti akan marah. Dan kemarahannya pasti akan menimpa mereka. Pasik menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba terdengarlah jawabnya yang sama sekali tak disangka-sangka,
“Aku tidak apa-apa, Guru.”
Guru Pasik itu menjadi heran. Wajahnya yang keras itu terangkat. Kemudian diedarkannya pandangan matanya berkeliling. Ketika ia memandang Mahisa Agni yang masih berdiri tegak, maka tampaklah keningnya berkerut.
“Waraha,” katanya kemudian “katakan apa sebabnya kau terluka?”
Sekali lagi Waraha menggeleng. Kemudian katanya “Seseorang menyerangku guru. Tetapi itu bukan salahnya.”
“He?” guru Pasik itu terkejut, “kenapa bukan salahnya?”
“Aku menyerangnya lebih dahulu,” jawab Pasik.
Sekali lagi guru Pasik itu mengerutkan keningnya. Betapa anehnya kelakuan muridnya ini. Selama ini belum pernah terjadi, salah seorang muridnya merasa bersalah dalam suatu perkelahian. Di samping itu, timbul juga herannya, bahwa di padukuhan kecil itu ada juga orang yang dapat mengalahkan muridnya. Karena itu tiba-tiba sekali lagi ia memandang Mahisa Agni. Dan dengan serta-merta ia berkata,
“Kau, kaukah itu?”
Mahisa Agni tidak menjawab pertanyaan Bahu Reksa Kali Elo itu. Ia sudah bersedia untuk menerima tuduhan itu. Sebab di antara sekian banyak orang-orang yang berada di halaman itu, maka sikap Mahisa Agni tampaknya agak berbeda dengan orang-orang yang lain. Guru Pasik itu pun kemudian berdiri. Dengan wajah yang merah membara ia bertanya pula,
“He, anak muda. Apakah kau yang telah berani melukai muridku?”
Mahisa Agni masih belum menjawab. Namun terdengar Pasik itu berkata perlahan-lahan, “Biarkan anak itu, Guru.”
Tetapi guru Pasik itu sudah tidak mau mendengar kata-kata muridnya. Karena itu, tiba-tiba ia menyambar lengan salah seorang yang berjongkok paling dekat. Dengan satu tangannya orang itu ditariknya, sehingga kedua kakinya terangkat.
“Ampun,” teriak orang itu.
Guru Pasik itu memandangnya dengan bengis. Namun kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Katanya, “Jangan takut tikus kecil. Aku hanya ingin bertanya kepadamu. Siapakah yang telah melukai Waraha?”
Orang itu menjadi ragu-ragu, sesaat ia memandang wajah Mahisa Agni, dan sesaat pula ia memandang wajah guru Pasik. Tiba-tiba orang itu terkejut ketika guru Pasik itu membentak,
”jawab!”
“Bukan aku. Bukan aku,” jawabnya tergagap,
Mata guru Pasik itu menjadi semakin menyala. Bentaknya, “Aku sudah tahu, pasti bukan kau tikus yang malang. Tetapi siapa? Kalau kau yang melakukan itu, maka aku akan menyembahmu sepuluh kali.” Kembali orang itu terdiam. Tetapi kembali guru Pasik itu membentak-bentaknya. Bahkan kemudian dipegangnya leher orang itu sambil menggeram, “Katakan! Siapa yang melukai Waraha?”
Mahisa Agni akhirnya tidak sampai hati melihat orang itu hampir mati ketakutan. Karena itu, maka segera ia melangkah maju sambil berkata, “Lepaskan orang itu. Ia sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan luka Pasik.”
“Apa?” teriak guru Pasik, “Kau memerintah aku? Dan coba sekali lagi, sebutlah nama muridku itu!”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Agaknya ia benar-benar berhadapan dengan seorang yang keras kepala. Meskipun demikian Mahisa Agni menjawab, “Aku sama sekali tidak ingin memerintah seseorang. Tetapi aku ingin kau berlaku bijaksana. Orang itu sama sekali tidak tahu menahu tentang luka muridmu yang bernama Pasik itu.”
“Diam!” bentak Bahu Reksa Kali Elo.
“Kau bertanya, dan aku menjawab,” sahut Mahisa Agni.
Guru Pasik itu pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Terdengar ia tertawa parau. Katanya, “Hem, ternyata kau benar-benar menyadari apa yang kau lakukan. Agaknya kau menepuk dada setelah kau berhasil melukai muridku. Lihat, aku adalah gurunya. Aku tidak akan dapat membiarkan kau melukai muridku.”
Sebelum Mahisa Agni menjawab, terdengarlah lamat-lamat suara Pasik, “Guru, biarkan anak itu.”
“Hem,” guru Pasik itu menarik nafas, tetapi seakan-akan kata-kata itu tak didengarnya. Bahkan kini ia melangkah mendekati Mahisa Agni sambil menarik orang yang masih digenggam lengannya itu. Katanya, “He, anak muda. Siapa namamu?”
“Mahisa Agni,” jawab Mahisa Agni pendek.
Guru Pasik itu mengerutkan keningnya. Gumamnya, “Nama yang bagus. Tetapi kenapa kau berlaku kasar?”
“Bertanyalah kepada muridmu,” sahut Mahisa Agni.
Guru Pasik itu menggeram. Ditariknya orang yang masih dipegangnya itu dekat-dekat ke dadanya, “Ayo bilang. Siapa yang bersalah di antara mereka?”
Orang itu menjadi gemetar. Dengan tergagap ia menjawab, “Pasik. Pasik yang bersalah.”
“Apa? Apa?” guru Pasik itu membentak-bentak sambil mengguncang-guncang tubuh orang yang sama sekali tidak berdaya itu. Bahkan demikian takutnya, sehingga semua tulang-tulangnya seakan-akan telah terlepas dari segenap persendiannya. Apalagi ketika ia mendengar guru Pasik membentaknya kembali, “Ayo jawab, siapakah yang bersalah di antara mereka?”
Kembali orang itu tergagap. Dan seperti orang kehilangan akal ia menjawab, “Oh, anak itu. Anak itulah yang bersalah. Mahisa Agni.”
“Ha,” guru Pasik itu tiba-tiba tertawa. “Dengar,” katanya, “dengar. Kau dengar kesaksian orang ini. Orang-orang Kajar adalah orang yang jujur. Mereka tak pernah berbohong seperti kau. Bukankah kau bukan orang Kajar? Nah, apa katamu sekarang?” Mahisa Agni menggeretakkan giginya. Ia melihat suatu permainan yang benar-benar memuakkan. Apalagi ketika guru Pasik itu berkata, “He, Mahisa Agni, Apakah kau perlu saksi yang lain?”
“Tidak!” jawab Mahisa Agni, “Apapun yang dikatakan tentang diriku, aku tidak peduli. Tetapi apakah maksudmu sebenarnya?”
Mata guru Pasik itu pun menjadi redup. Katanya, “Aku tidak biasa menghukum orang yang tak bersalah. Kini bukti-bukti akan mengatakan bahwa kau bersalah. Karena itu jangan menyangkal dan jangan mencoba membela diri. Setiap kesalahan harus mendapat hukuman tanpa kecuali. Meskipun kau tamu di padukuhan ini, namun kau telah melakukan kesalahan.”
“Cukup!” potong Mahisa Agni. Ia telah benar-benar menjadi muak mendengar kata orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu.
Guru Pasik itu terkejut sehingga dengan demikian kata-katanya pun terhenti. Ditatapnya wajah Mahisa Agni dengan tajamnya, kemudian katanya, “Kau berani membentak aku, he?”
Mahisa Agni tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi ia berkata, “He, Ki Sanak. Jangan berbuat aneh-aneh di padukuhan ini .Pergilah dan biarlah Pasik menerima ketenteraman hidup di antara keluarga dan sanak kadangnya. Jangan meracuni hidupnya dengan perbuatan-perbuatan aneh seperti perbuatan-perbuatan orang-orang yang kehilangan akal budi.”
Guru Pasik itu terkejut mendengar kata-kata Mahisa Agni sehingga matanya terbelalak karenanya. Kemudian dengan geramnya ia berkata, “Sekarang aku yakin bahwa ternyata kau benar-benar anak yang sombong anak yang tak tahu diri. Maka bagiku tak ada pilihan lain daripada mengajarimu sedikit sopan santun supaya kau dapat sedikit menghargai orang lain.”
“Aku pun sedang berpikir demikian juga atasmu,” sahut Mahisa Agni.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar