Guru Pasik itu menjadi semakin marah. Ia terasa terhina karenanya. Karena itu beberapa langkah ia maju. Diamatinya seluruh tubuh Mahisa Agni. Kemudian katanya
“Hem, muridku telah berkata kepadaku semalam, bahwa seorang perantau telah membawa sebilah keris yang sangat bagus.” Mahisa Agni tidak menjawab. Ia melihat guru Pasik itu berkisar pada jari-jari kakinya. Karena itu cepat Mahisa Agni bersiaga. “He, Agni,” berkata orang itu pula, “Kini kakinya yang sebelah telah beringsut ke belakang, manakah kerismu itu?”
Mahisa Agni masih tetap berdiam diri, tetapi ia melihat kaki itu bergerak. Dan apa yang disangkanya benar-benar terjadi. Guru Pasik itu tiba-tiba saja meloncat dengan garangnya menyerang Mahisa Agni. Tetapi Mahisa Agni telah bersiaga sepenuhnya, sehingga dengan tangkasnya ia meloncat menghindari.
“Setan!” guru Pasik itu mengumpat ketika ia melihat bahwa korbannya berhasil menghindar diri. Dan wajahnya pun menjadi seakan-akan menyala ketika Mahisa Agni berkata,
“Apakah kau ingin aku menjawab pertanyaanmu yang kau ajukan tetap pada saat kau bersiap untuk menyerang.”
Orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu menggeram. Cepat ia memutar tubuhnya. Ia ingin menebus kegagalannya. Karena itu sekali lagi ia menyerangnya dengan kecepatan yang luar biasa. Orang-orang yang berada di halaman itu pun menjadi cemas hati. Mereka menyadari bahwa perkelahian itu tak akan dapat dihindarkan. Namun, apakah yang dapat dilakukan oleh perantau itu melawan guru Waraha? Mungkin ia masih dapat mengalahkan Pasik. Tetapi melawan gurunya?.
Dan ternyata serangan guru Pasik itu pun datang seperti badai. Dengan penuh kemarahan yang meluap-luap ia ingin segera membinasakan perantau yang bodoh dan sombong itu. Ia ingin menebus kekalahan muridnya dengan satu pertunjukkan yang pasti akan menyenangkan dirinya. Ia ingin berkata kepada muridnya, bahwa ia harus tetap di tempatnya, dalam barisan yang berderap di jalan-jalan yang telah dipilihnya selama ini.
Kalau tiba-tiba muridnya bersikap aneh, itu karena kekecewaan yang dialaminya. Kekalahan yang tak disangka-sangka itu pasti telah melemahkan keteguhan hatinya. Dan kini kekalahan itu harus ditebusnya. Hati muridnya itu harus dibesarkannya dengan melumpuhkan Mahisa Agni secepat-cepatnya, mematahkan tangannya dan membiarkan Pasik untuk menyelesaikannya. Dengan demikian, maka keteguhan hatinya akan dapat dipulihkan kembali. Tetapi guru Pasik itu benar-benar menjadi seolah-olah menyala karena panas hatinya. Serangannya yang kemudian itu pun ternyata tak dapat menyentuh lawannya.
Tetapi meskipun demikian, serangannya itu benar-benar telah mengejutkan Mahisa Agni. Serangan guru Pasik itu datang seperti tatit. Untunglah bahwa ia masih mempunyai kesempatan untuk menghindar. Kalau tidak, maka dadanya pasti sudah akan pecah. Dengan demikian, maka dugaannya atas guru Pasik itu ternyata benar. Dengan unsur-unsur gerak yang sama, guru Pasik itu melibat Mahisa Agni dalam perkelahian yang ribut. Namun unsur-unsur gerak itu kini dilepaskan oleh guru Pasik, bukan oleh Pasik yang mentah itu. Karena itu, terasa oleh Mahisa Agni, betapa berbahayanya. Dan karena itu pula, Mahisa Agni segera memusatkan segenap perhatiannya pada perkelahian itu. Dicobanya untuk melihat setiap gerak lawannya. setiap kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dengan gerak-gerak itu.
Namun guru Pasik itu pun segera menyadarinya pula, dengan siapa ia berhadapan. “Pantaslah Waraha dijatuhkannya dengan mudah,” katanya di dalam hati.
Dan sejalan dengan itu, maka serangan-serangannya pun semakin membadai. Geraknya semakin lama menjadi semakin cepat dan keras. Tubuhnya yang kokoh kuat itu melontar-lontar dengan kecepatan yang mengagumkan, dan bahkan kadang-kadang orang itu berhasil membingungkan Mahisa Agni.
Tetapi Mahisa Agni yang baru saja menekuni inti dari ilmunya itu, segera dapat menyesuaikan diri. Bahkan kadang-kadang ia pun menjadi heran sendiri. Tidak saja kekuatannya yang bertambah, namun kecepatannya bergerak pun terasa menjadi bertambah pula. Bahkan kadang-kadang geraknya melampaui kecepatan perasaannya dalam suatu tujuan tertentu.
“Ah,” katanya di dalam hati, “kalau aku tidak segera menguasai diri, maka akan berbahaya bagiku sendiri.”
Dengan demikian maka Mahisa Agni itu pun kemudian mencoba melakukan pengamatan atas dirinya lebih saksama. Perkelahiannya kali ini adalah penggunaan yang pertama segala macam kekuatan dan ilmu yang tersimpan di dalam dirinya setelah ia menempa diri. Karena itu, maka sekaligus Mahisa Agni dapat menilai apa pun yang pernah dicapainya selama ini.
Dengan demikian, maka pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru. Serang menyerang dan desak mendesak. Keduanya memiliki bekal yang cukup, serta keduanya berusaha untuk segera mengalahkan lawannya.
Orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu, kemudian berlari berpencaran. Mahisa Agni dan guru Pasik itu kadang-kadang melontar jauh ke samping, kemudian melontar kembali dalam serangan-serangan yang berbahaya. Karena itu, maka mereka yang menyaksikannya menjadi gemetar dan ketakutan
Waraha yang masih dalam kesakitan itu, menyaksikan perkelahian antara gurunya dan perantau yang bernama Mahisa Agni itu dengan seksama. Ia mencoba menilai apa saja yang sudah terjadi. Namun kemudian kembali ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Seakan-akan terasa sesuatu yang selama ini tak pernah dirasakannya. Namun tiba-tiba dikenangnya, bapak ibunya yang mengasihinya, kampung halaman yang memberinya kenangan yang menyenangkan.
Mata Pasik itu melihat perkelahian yang terjadi antara gurunya dan Mahisa Agni, namun hatinya tiba-tiba saja terbang ke masa-masa lampaunya. Seakan-akan ia menatap wajah gurunya yang kasar bengis, dan kemudian ditatapnya wajah ibunya yang lembut, dan wajah bapanya yang sedang berduka.
Sehingga tiba-tiba pula melontarlah suatu pertanyaan di dalam hatinya, “Apakah yang telah terjadi dengan dirinya selama ini?”
Kata-kata Mahisa Agni berkali-kali berputar di dalam dadanya. Kata-kata yang selalu terngiang di telinganya, ‘Pergilah, dan biarlah Pasik menikmati ketenteraman hidup di antara keluarganya dan sanak kadangnya. Jangan ganggu dia lagi, dan jangan meracuni hidupnya dengan perbuatan-perbuatan aneh seperti perbuatan-perbuatan orang yang kehilangan akal budi.’ Pasik itu kemudian memejamkan matanya. Seolah-olah telah ditemukannya apa yang hilang selama ini. Ketenteraman hidup di antara keluarga dan anak kadang.
Ketika sekali lagi ia membuka matanya, dan ditatapnya wajah ibunya yang lembut, hatinya menjadi meronta-ronta. Disadarinya kini apa yang telah dilakukannya selama ini. Bahkan hampir saja ia membunuh ayah dan ibunya, namun ayah dan ibunya itu sama sekali tak mendendamnya. Cinta kasihnya tak runtuh seujung rambut pun.
Dalam pada itu, di halaman rumah Pasik itu masih berlangsung pertempuran yang semakin lama semakin dahsyat. Mereka masing-masing benar-benar telah berjuang mati-matian. Guru Pasik sekali-kali terdengar berteriak mengerikan sejalan dengan serangan-serangannya yang keras dan cepat. Seperti seekor serigala kelaparan, orang yang bertubuh kokoh kuat itu melonjak-lonjak menyergap dari segenap arah.
Namun Mahisa Agni benar-benar dapat menguasai dirinya dengan sebaik-baiknya. Betapa pun lawannya menjadi bertambah ganas, tetapi Mahisa Agni itu pun menjadi bertambah mapan juga. Setelah dikenalnya dengan baik setiap unsur gerak lawannya, serta setelah dikenalnya pula dengan baik segenap kemampuan yang dapat dipergunakannya yang tersimpan di dalam tubuhnya, maka perlawanannya pun menjadi semakin kuat dan tangguh.
Karena itu maka guru Pasik itu pun menjadi semakin heran. Ternyata ia berhadapan dengan seorang anak muda yang luar biasa. Bahkan kemudian ternyata bahwa Mahisa Agni itu akan benar-benar dapat menguasai keadaan. Orang yang menamakan Bahu Reksa Kali Elo itu pun kemudian menyadari sepenuhnya, siapakah yang sedang dihadapinya kini. Karena itu, maka sampailah ia kemudian pada ketetapan hatinya, untuk membinasakan Mahisa Agni dalam puncak ilmunya.
Demikianlah maka guru Pasik itu pun kemudian meloncat beberapa langkah surut menjauhi Mahisa Agni. Dengan berteriak nyaring ia merentangkan kedua tangannya, kemudian dengan ganasnya sekali ia meloncat ke udara, dan dengan kedua kakinya yang kokoh itu ia tegak kembali di atas tanah dalam kesiagaan penuh untuk melontarkan ilmu tertinggi yang dimilikinya.
Pasik yang melihat perkelahian itu tiba-tiba saja menjadi sangat terkejut. Ia melihat betapa gurunya merentangkan tangannya, kemudian seperti seekor singgat melenting ke udara untuk kemudian bersiap dalam sikap yang teguh kuat seperti gunung yang siap untuk meledak. Dan tiba-tiba pula, tanpa sesadarnya Pasik itu merasa, bahwa Mahisa Agni berada dalam bahaya. Ia tidak tahu, kenapa ia merasa wajib untuk menyelamatkannya. Karena itu tiba-tiba ia berteriak,
“Guru, jangan dengan ilmu itu!”
Tetapi gurunya sama sekali tidak mendengar. Bahkan terdengar ia tertawa nyaring. Kini ia sama sekali tidak bergerak, seolah-olah ia menunggu Mahisa Agni menyerangnya, untuk kemudian dengan satu pukulan, anak itu akan dibinasakannya.
Mahisa Agni melihat sikap itu. Ia melihat tubuh orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu bergetar. Sebagai seorang yang telah menekuni olah kanuragan, maka segera Mahisa Agni pun mengetahuinya, bahwa lawannya sedang mengerahkan setiap kekuatan lahir dan batinnya dalam puncak ilmu yang dimilikinya. Karena itu, maka Mahisa Agni pun tidak mau dirinya dibinasakan oleh Orang yang bengis itu. Ia menjadi heran ketika lamat-lamat ia mendengar Pasik itu mencoba mencegah gurunya dan bahkan kemudian Pasik itu berkata,
“Mahisa Agni, jangan mendekat!”
Terasa sesuatu berdesir di dalam dada Mahisa Agni. Dalam kesibukannya menghadapi lawannya, maka perasaannya dapat menangkap suatu ungkapan yang jujur yang dilontarkan oleh Pasik yang sedang terluka itu, tetapi ia tidak mempunyai waktu terlalu lama memperhatikan anak muda yang agaknya dalam perkembangan keadaan yang dialaminya di dalam jiwanya. Yang segera harus dilakukan adalah menyelamatkan diri dari kemungkinan yang sangat mengerikan. Karena itu, maka dengan rasa syukur yang sedalam-dalamnya, maka Mahisa Agni kini sama sekali tidak menyerang lawannya. Bahwa ia pun meloncat atau langkah surat. Disilangkannya kedua tangannya di dadanya, dan dipanjatkannya hasrat di dalam hatinya, pemusatan kekuatan lahir dan batin.
Ketika Mahisa Agni melihat kaki lawannya bergeser, maka segera Mahisa Agni pun menarik kakinya kanannya setengah langkah ke belakang, sedang pada kedua lututnya kemudian Mahisa Agni merendahkan dirinya, siap dalam kekuatan aji yang baru saja ditekuninya, Gundala Sasra.
Dalam waktu sekejap, Mahisa Agni sudah merasakan,seolah-olah ada getaran-getaran yang mengalir di dalam dirinya. Getaran-getaran kekuatan yang tersimpan di dalam tubuhnya. Yang karena ketekunannya, maka ia telah berhasil mengungkap segenap kekuatan-kekuatan yang tersimpan itu. Meskipun ilmu yang dimilikinya itu belum sempurna benar, namun aji Gundala Sasra adalah aji yang nggegirisi.
Kini Mahisa Agni masih berdiri pada sikapnya. Meskipun sikap itu bukanlah sikap yang mutlak harus dilakukan, sebagaimana gurunya berkata, bahwa sikap itu adalah suatu cara untuk mengungkapkan ilmu itu, tetapi pengungkapan itu dapat dilakukannya dalam sikap yang paling tepat pada saat-saat tertentu dalam unsur-unsur gerak pokok yang tak dapat disingkirkan.
Orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu pun ternyata seorang yang telah banyak berpengalaman. Itulah sebabnya, ketika ia melihat Mahisa Agni tidak menyerangnya, justru meloncat mundur sambil menyilangkan tangannya, serta ketegangan di wajah anak muda itu, maka guru Pasik itu pun segera menyadari, bahwa lawannya telah pula bersiap dalam puncak ilmunya.
Karena itu, maka terdengar orang itu menggeram, “Apa yang sedang kau lakukan itu?”
Mahisa Agni masih belum bergerak dari tempatnya. Ia pun menunggu sampai lawannya datang menyerangnya. Maka jawabnya, “Aku sedang berpikir, apakah kau sedang mengungkapkan kesaktianmu yang tertinggi?”
Guru Pasik itu mengerutkan keningnya. Ternyata Mahisa Agni menyadari keadaannya. Katanya, “Kita telah sampai pada saat penentuan. Aku masih ingin mencoba memperingatkan kau sekali lagi anak yang malang. Berikan kerismu dan jangan melawan. Mungkin aku akan membunuhmu dengan keris itu, tidak dengan cara-cara yang lain yang akan dapat menyiksamu pada saat-saat terakhir.”
“Ki Sanak,” jawab Mahisa Agni, “kau masih saja hidup di dunia yang gelap ini. Sebaiknya kau bangun dan sadari keadaanmu kini. Kau berada di antara manusia dan hidup bersama-sama dengan mereka. Kenapa berlaku demikian? Seolah-olah kau hidup di tengah-tengah rimba dan memaksakan segala kehendakmu kepada pihak-pihak yang kau anggap lebih lemah.”
“Tutup mulutmu!” bentak Guru Pasik itu. Matanya yang merah menjadi semakin merah, “Jangan ribut. Berikan keris itu, dan tundukkan kepalamu. Aku ingin melibat darah memancar dari lehermu.”
“Ki Sanak ,” jawab Mahisa Agni, “kalau aku harus mati, maka akan mati dengan wajah menengadah.”
Guru Pasik itu menggeram. Terdengar giginya gemeretak, dan tiba-tiba ia berteriak nyaring. Dengan dahsyatnya ia menerkam Mahisa Agni tepat seperti serigala yang buas menerkam mangsanya. Tetapi Mahisa Agni telah sampai di puncak ilmunya. Karena itu betapa cepatnya ia menghindarkan diri dari terkaman itu, sehingga orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu terdorong oleh kekuatannya sendiri meluncur beberapa langkah. Namun orang itu agaknya telah benar-benar menguasai segenap gerak dan tubuhnya. Demikian ia menginjak tanah, demikian ia melenting dan memutar tubuhnya siap untuk melontarkan serangan kembali.
Mahisa Agni pun segera mempersiapkan dirinya pula kembali, dan bahkan kini ia tidak ingin perkelahian itu berlangsung berlarut-larut. Demikian ia melihat guru Pasik itu menyerangnya kembali dengan dahsyatnya, maka segera ia bergeser ke samping dan merendahkan dirinya. Kali ini Mahisa Agni tidak melepaskan kesempatan itu, dengan cepatnya ia meloncat menyerang lambung lawannya. Namun lawannya itu pun dengan sigapnya memperbaiki keadaannya, sehingga tepat pada saat serangan Mahisa Agni datang, Guru Pasik itu pun telah siap pula melawannya dengan garangnya. Demikianlah maka terjadilah benturan yang dahsyat dari dua macam ilmu yang berlawanan. Benturan itu seakan-akan meledaknya petir yang sedang bersabung.
Pasik yang melihat benturan itu, tiba-tiba memejamkan matanya. Terdengar ia berdesah. Ia tidak mau melihat peristiwa yang mengerikan itu berulang. Beberapa, saat yang lampau, ia pernah melihat gurunya mempergunakan ilmu itu pula, ketika mereka gagal memaksa seseorang untuk menyerahkan barang-barangnya di perjalanan. Ternyata orang itu pun mampu melawan gurunya dalam pertarungan jasmaniah. Namun kemudian gurunya itu mempergunakan ilmunya yang dahsyat itu.
Ilmu yang dinamai Kala Bama. Akibatnya sangat mengerikan. Dada itu pecah berserakan. Tulang-tulangnya patah dan isi adanya pecah berhamburan bercampur warna darah. Pada saat itu ia gembira menyaksikan pembunuhan yang dahsyat. Tetapi kini tiba-tiba ia merasa muak. Bukan seharusnya Mahisa Agni mendapat perlakuan yang demikian.
Tetapi sesaat kemudian Pasik itu menjadi heran. Ia mendengar tubuh-tubuh yang berjatuhan, namun ia tidak mendengar gurunya itu tertawa nyaring seperti pada saat ia membunuh orang di jalan itu. Tiba-tiba timbullah keinginannya untuk melihat apa yang terjadi. Perlahan-lahan ia membuka matanya. Dan pertama-tama dilihatnya adalah Mahisa Agni yang sedang berusaha untuk berdiri di halaman itu. Namun tampak betapa ia menjadi sangat letih. Sekali-sekali ia masih terhuyung-huyung hampir jatuh. Namun kemudian ia menemukan keseimbangannya kembali.
Sebenarnyalah pada saat benturan itu terjadi, Mahisa Agni terdorong beberapa langkah surut, kemudian betapa dahsyatnya tenaga lawannya sehingga ia terguling beberapa kali. Baru kemudian dengan susah payah, ia berusaha berdiri. Tetapi lawannya pun tidak kurang pula parahnya. Seperti seonggok kayu ia terlempar, kemudian terbanting di tanah. Sesaat orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu seakan-akan tak dapat lagi bernafas. Dadanya serasa pecah dan matanya berkunang-kunang. Karena itu maka segera dipusatkannya segenap kekuatan lahir dan batinnya untuk segera menemukan kesadarannya kembali. Dan akhirnya guru Pasik itu pun mampu pula mengangkat kepalanya. Perlahan-lahan ia bangkit betapa punggungnya terasa sakit. Ketika ia telah berhasil duduk dan bertelekan di atas kedua tangannya, dilihatnya Mahisa Agni telah berdiri di hadapannya.
“Setan!” desisnya, “hantu mana yang telah menyelamatkanmu dari aji Kala Bama?”
Mahisa Agni menarik nafas. Kala Bama. Aji itu pun betapa dahsyatnya sehingga hampir saja dadanya dipecahkannya. Namun Mahisa Agni tidak menjawab pertanyaan itu. Ditatapnya wajah orang itu dengan tajamnya. Dan dibiarkannya ia berusaha untuk berdiri pula.
Dengan tertatih-tatih akhirnya orang itu pun tegak pula. Namun sesaat kemudian ia berdiam diri seperti sedang merenung. Dan tiba-tiba pula tanpa disangka-sangka orang itu memutar tubuhnya dan terhuyung-huyung meloncat berlari meninggalkan halaman yang celaka itu.
Sesaat Mahisa Agni terpaku di tempatnya, namun kemudian disadarinya bahwa orang itu akan tetap berbahaya baginya. Karena itu maka segera ia pun berusaha untuk mengejarnya. Tetapi keadaan tubuhnya sendiri betapa letihnya, sehingga tenaganya pun telah menjadi sangat jauh berkurang. Meskipun demikian, orang yang dikejarnya itu pun tidak dapat berlari terlalu cepat.
Mahisa Agni dan guru Pasik itu pun kemudian dengan terhuyung-huyung berlari berkejaran. Tetapi tiba-tiba ketika Mahisa Agni hampir meloncati dinding halaman yang rendah, guru Pasik itu pun berhenti. Secepat kilat ia memutar tubuhnya dengan sisa-sisa ketangkasannya yang terakhir, kemudian dengan tiba-tiba pula, Mahisa Agni melihat sebilah pisau yang meluncur terbang ke arahnya. Mahisa Agni terkejut melihat pisau itu. Cepat ia mengendapkan diri dan pisau itu terbang beberapa jengkal di atasnya. Namun karena ia tergesa-gesa dan kekuatannya pun telah hampir habis, maka dengan tak disangka-sangka Mahisa Agni itu pun tergelincir jatuh di tanah.
Mahisa Agni mengumpat di dalam hatinya. Pada saat ia bangun ia mendengar orang itu tertawa tinggi sambil berkata hampir berteriak, “Mahisa Agni. Kau menang kali ini. Tunggulah beberapa lama, apabila guruku telah selesai dengan pekerjaannya menempa Kuda Sempana, maka akan datang giliranmu untuk aku penggal lehermu.”
Mahisa Agni itu pun berusaha bangun secepat-cepatnya. Namun karena tenaganya yang lemah itu, maka ketika ia berhasil berdiri masih di dalam pagar, maka guru Pasik itu telah tidak dilihatnya lagi.
“Alangkah liat kulitnya,” gumam Mahisa Agni.
Bagaimanapun juga ia terpaksa mengagumi orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu, sebagaimana orang itu mengaguminya. Mereka masing-masing telah mempergunakan ilmu tertinggi yang mereka miliki. Namun mereka mampu untuk bertahan, meskipun dada mereka seakan-akan menjadi rontok karenanya. Tetapi yang mengejutkan Mahisa Agni, orang itu telah menyebut nama Kuda Sempana. Karena itu maka ia menjadi gelisah. Apakah hubungannya dengan Kuda Sempana
Tiba-tiba Mahisa Agni itu ingat kepada Pasik. Anak itu masih berbaring di tangan ayahnya. Mungkin ia bisa bertanya kepadanya apakah hubungan antara orang ini dan Kuda Sempana. Karena itu, maka kemudian dilepaskannya maksudnya untuk mencari guru Pasik itu sebelum keadaan tubuhnya memungkinkan. Bahkan segera ia berjalan kembali ke halaman untuk menemui Pasik yang masih dengan lemahnya berbaring. Tetapi ketika ia melihat Mahisa Agni datang kepadanya tiba-tiba ia tersenyum. Kemudian dengan lemahnya ia berusaha untuk duduk.
“Tuan ternyata luar biasa,” desisnya.
Mahisa Agni tidak menjawab. Ditatapnya wajah ibu Pasik yang agaknya masih marah kepadanya. Tetapi ketika perempuan itu mendengar kata-kata Pasik itu, dan dilihatnya anaknya tersenyum, ia menjadi heran.
Dan tiba-tiba perempuan itu bertanya kepada anaknya, “Apakah kau sudah berangsur baik?”
Pasik berpaling. Dipandangnya wajah ibunya yang penuh kecemasan. Kemudian ditatapnya pula wajah ayahnya yang sayu. Tiba-tiba terasa sesuatu berdesir di dadanya. Dan tanpa sesadarnya ia berkata,
“Maafkan aku Ibu, maafkan aku Ayah.”
Ibunya terkejut ketika dengan tiba-tiba ia mendengar kata-kata anaknya itu. Beberapa saat ia terdiam seperti patung. Namun tiba-tiba pula diraihnya kepala anaknya, dan dipeluknya anaknya itu seperti ketika masih kanak-kanak. Ibu Pasik itu pun menangis sejadi-jadinya.
Beberapa orang masih tampak di halaman itu. Selangkah demi selangkah mendekat. Mereka merasakan sesuatu yang berbeda dengan saat-saat sebelumnya. Dan mereka melibat Mahisa Agni masih di halaman itu. Dengan demikian maka mereka menjadi tenang.
Ayah Pasik itu pun menggosok-gosok matanya yang menjadi nyeri. Satu-satunya anaknya kini telah kembali kepadanya, kepada ayah dan ibunya. seakan-akan anak yang telah hilang itu datang kembali pulang.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Betapa ia ikut serta mengalami keharuan melihat peristiwa itu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia mengucap syukur di dalam hatinya. Mudah-mudahan untuk seterusnya Pasik menyadari keadaannya. Ia adalah anak Kajar, dilahirkan di Kajar dan dibesarkan di Kajar pula.
Baru sesaat kemudian, kepala Pasik itu pun dilepaskan. Namun air mata masih saja mengalir meleleh di pipi perempuan yang telah dipenuhi oleh garis-garis umur dan duka.
Pasik itu kemudian menatap Mahisa Agni dengan mata yang buram. Katanya, “Tuan telah membuka hatiku. Dan tuan telah mengampuni aku. Sebab kalau tuan mau membunuh aku, maka aku pun pasti sudah mati. Ternyata tuan benar-benar menyelamatkan diri dari aji Kala Bama, dan bahkan tuan berhasil mengusir Bahu Reksa Kali Elo dari halaman ini.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Katanya, “Jangan pikirkan itu. Sekarang sembuhkan luka-lukamu. Luka badan dan luka jiwamu. Mudah-mudahan kedua-duanya akan lekas menjadi sembuh.”
Pasik menganggukkan kepalanya. Katanya lirih kepada ayahnya, “Ayah. Mintakan aku maaf kepada penduduk Kajar. Kepada tetua padukuhan ini, dan kepada siapa saja.”
“Mereka akan memaafkan kau, Pasik,” terdengar suara di belakang mereka. Suara tetua padukuhan itu.
“Terima kasih Kiai,” sahut Pasik.
Halaman itu kemudian hening untuk sesaat. Masing-masing sedang tenggelam dalam angan-angannya. Mereka sedang menilai peristiwa yang haru saja mereka saksikan. Peristiwa yang telah menolong seorang anak padukuhan mereka yang selama ini tenggelam dalam arus yang hitam.
Tetapi kegelisahan di dada Mahisa Agni masih saja mengguncangnya. Ia ingin segera tahu hubungan guru Pasik itu dengan Kuda Sempana. Dalam tangkapannya, maka Kuda Sempana yang digarap pula oleh guru Pasik itu, adalah saudara seperguruan dengan orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo. Karena itu, ketika halaman itu telah menjadi tenang, maka Mahisa Agni itu pun segera melangkah mendekati Pasik yang sudah dapat duduk bersandar kedua tangannya.
Dengan ragu-ragu Mahisa Agni itu pun berkata kepada ayah Pasik. Katanya, “Paman, apakah tidak sebaiknya Pasik dibawa masuk untuk mendapatkan perawatan yang baik?”
“Ya, ya,” jawab ayah Pasik itu tergagap. Dan kemudian dibantu oleh Mahisa Agni, maka Pasik itu pun dipapah masuk ke rumahnya. Dengan perlahan-lahan anak muda itu dibaringkannya di atas pembaringan.
“Terima kasih,” desis Pasik, “aku sudah mendingan.”
“Jangan banyak bergerak, Pasik,” Mahisa Agni berpesan. Dan Pasik itu pun mengangguk.
Setelah Pasik itu minum kembali beberapa teguk, maka keadaannya menjadi semakin baik. Dan kata-katanya yang ke luar dari mulutnya pun menjadi semakin lancar.
Beberapa orang yang berdiri di halaman satu-satu menengok juga dari lubang ke dalam rumah, namun mereka tidak berkehendak masuk. Bahkan kemudian satu-satu mereka meninggalkan halaman itu pulang ke rumah masing-masing. Namun di dalam dada mereka tersimpan suatu perasaan yang lain daripada saat mereka datang dengan tergesa-gesa ke halaman itu.
Rumah Pasik itu pun kemudian menjadi sepi yang berdiri di pintu adalah tertua padukuhan Kajar, dan menantunya berdiri di belakangnya. Walaupun ia melihat bahwa Pasik itu terluka, namun ketakutannya masih juga belum mereda.
“Angger Mahisa Agni,” berkata orang tua itu, “aku akan pulang dahulu. Apakah Angger pergi bersama-sama aku ke rumahku?”
Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku akan menyusul, Bapa.”
Orang itu pun kemudian minta diri pulang bersama menantunya yang masih berdebar-debar. Ketika halaman itu telah benar-benar sepi, maka barulah Mahisa Agni bertanya kepada Pasik. Katanya,
“Pasik, apakah kau pernah mendengar nama Kuda Sempana?”
Pasik itu mengerutkan keningnya. Sesaat ia ragu-ragu, namun kemudian jawabnya, “Ya, Tuan. Aku pernah mendengar.”
“Panggillah aku dengan namaku,” sahut Mahisa Agni.
“Ya, ya Mahisa Agni,” berkata Pasik dengan kaku.
“Nah. Demikianlah,” sambut Mahisa Agni, kemudian katanya melanjutkan pertanyaannya, “siapakah Kuda Sempana itu?”
“Dari mana tuan, eh, kau tahu nama itu?´ bertanya Pasik.
“Aku mendengar dari gurumu. Ia akan datang mencari aku setelah gurunya selesai dengan pekerjaannya, menempa orang yang bernama Kuda Sempana.”
Pasik menganggukkan kepalanya. Kembali ia beragu. Tetapi ketika ditatapnya wajah Mahisa Agni yang bening ia berkata, “Kuda Sempana adalah adik seperguruan guruku.”
“Hem,” Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Siapakah dia?”
“Kuda Sempana adalah seorang prajurit pelayan dalam Akuwu Tunggul Ametung di Tumapel.”
“Hem,” kembali Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Jadi Kuda Sempana itu benar-benar Kuda Sempana yang pernah dikenalnya. Bukan orang lain yang hanya kebetulan bernama sama.
“Siapakah guru dari gurumu itu?” bertanya Mahisa Agni.
Pasik menggeleng. “Aku tak tahu. Guruku mempunyai saudara seperguruan yang cukup banyak. Ada di antaranya prajurit, ada pula pejabat, namun ada pula penjudi dan penjahat. Mereka akan diterima menjadi murid asal mereka dapat menyerahkan berbagai macam imbalan. Namun jumlah murid itu tidak lebih dari sepuluh orang. Di antaranya adalah guruku. Karena itulah maka guruku harus memeras orang-orang di sekitarnya untuk dapat memberikan imbalan kepada gurunya.”
“Dan agaknya gurumu berbuat serupa.”
“Ya. Ia pun menerima beberapa orang murid dengan cara yang sama untuk menutup kebutuhannya.”
“Hem,” kembali Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
“Hem, muridku telah berkata kepadaku semalam, bahwa seorang perantau telah membawa sebilah keris yang sangat bagus.” Mahisa Agni tidak menjawab. Ia melihat guru Pasik itu berkisar pada jari-jari kakinya. Karena itu cepat Mahisa Agni bersiaga. “He, Agni,” berkata orang itu pula, “Kini kakinya yang sebelah telah beringsut ke belakang, manakah kerismu itu?”
Mahisa Agni masih tetap berdiam diri, tetapi ia melihat kaki itu bergerak. Dan apa yang disangkanya benar-benar terjadi. Guru Pasik itu tiba-tiba saja meloncat dengan garangnya menyerang Mahisa Agni. Tetapi Mahisa Agni telah bersiaga sepenuhnya, sehingga dengan tangkasnya ia meloncat menghindari.
“Setan!” guru Pasik itu mengumpat ketika ia melihat bahwa korbannya berhasil menghindar diri. Dan wajahnya pun menjadi seakan-akan menyala ketika Mahisa Agni berkata,
“Apakah kau ingin aku menjawab pertanyaanmu yang kau ajukan tetap pada saat kau bersiap untuk menyerang.”
Orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu menggeram. Cepat ia memutar tubuhnya. Ia ingin menebus kegagalannya. Karena itu sekali lagi ia menyerangnya dengan kecepatan yang luar biasa. Orang-orang yang berada di halaman itu pun menjadi cemas hati. Mereka menyadari bahwa perkelahian itu tak akan dapat dihindarkan. Namun, apakah yang dapat dilakukan oleh perantau itu melawan guru Waraha? Mungkin ia masih dapat mengalahkan Pasik. Tetapi melawan gurunya?.
Dan ternyata serangan guru Pasik itu pun datang seperti badai. Dengan penuh kemarahan yang meluap-luap ia ingin segera membinasakan perantau yang bodoh dan sombong itu. Ia ingin menebus kekalahan muridnya dengan satu pertunjukkan yang pasti akan menyenangkan dirinya. Ia ingin berkata kepada muridnya, bahwa ia harus tetap di tempatnya, dalam barisan yang berderap di jalan-jalan yang telah dipilihnya selama ini.
Kalau tiba-tiba muridnya bersikap aneh, itu karena kekecewaan yang dialaminya. Kekalahan yang tak disangka-sangka itu pasti telah melemahkan keteguhan hatinya. Dan kini kekalahan itu harus ditebusnya. Hati muridnya itu harus dibesarkannya dengan melumpuhkan Mahisa Agni secepat-cepatnya, mematahkan tangannya dan membiarkan Pasik untuk menyelesaikannya. Dengan demikian, maka keteguhan hatinya akan dapat dipulihkan kembali. Tetapi guru Pasik itu benar-benar menjadi seolah-olah menyala karena panas hatinya. Serangannya yang kemudian itu pun ternyata tak dapat menyentuh lawannya.
Tetapi meskipun demikian, serangannya itu benar-benar telah mengejutkan Mahisa Agni. Serangan guru Pasik itu datang seperti tatit. Untunglah bahwa ia masih mempunyai kesempatan untuk menghindar. Kalau tidak, maka dadanya pasti sudah akan pecah. Dengan demikian, maka dugaannya atas guru Pasik itu ternyata benar. Dengan unsur-unsur gerak yang sama, guru Pasik itu melibat Mahisa Agni dalam perkelahian yang ribut. Namun unsur-unsur gerak itu kini dilepaskan oleh guru Pasik, bukan oleh Pasik yang mentah itu. Karena itu, terasa oleh Mahisa Agni, betapa berbahayanya. Dan karena itu pula, Mahisa Agni segera memusatkan segenap perhatiannya pada perkelahian itu. Dicobanya untuk melihat setiap gerak lawannya. setiap kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dengan gerak-gerak itu.
Namun guru Pasik itu pun segera menyadarinya pula, dengan siapa ia berhadapan. “Pantaslah Waraha dijatuhkannya dengan mudah,” katanya di dalam hati.
Dan sejalan dengan itu, maka serangan-serangannya pun semakin membadai. Geraknya semakin lama menjadi semakin cepat dan keras. Tubuhnya yang kokoh kuat itu melontar-lontar dengan kecepatan yang mengagumkan, dan bahkan kadang-kadang orang itu berhasil membingungkan Mahisa Agni.
Tetapi Mahisa Agni yang baru saja menekuni inti dari ilmunya itu, segera dapat menyesuaikan diri. Bahkan kadang-kadang ia pun menjadi heran sendiri. Tidak saja kekuatannya yang bertambah, namun kecepatannya bergerak pun terasa menjadi bertambah pula. Bahkan kadang-kadang geraknya melampaui kecepatan perasaannya dalam suatu tujuan tertentu.
“Ah,” katanya di dalam hati, “kalau aku tidak segera menguasai diri, maka akan berbahaya bagiku sendiri.”
Dengan demikian maka Mahisa Agni itu pun kemudian mencoba melakukan pengamatan atas dirinya lebih saksama. Perkelahiannya kali ini adalah penggunaan yang pertama segala macam kekuatan dan ilmu yang tersimpan di dalam dirinya setelah ia menempa diri. Karena itu, maka sekaligus Mahisa Agni dapat menilai apa pun yang pernah dicapainya selama ini.
Dengan demikian, maka pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru. Serang menyerang dan desak mendesak. Keduanya memiliki bekal yang cukup, serta keduanya berusaha untuk segera mengalahkan lawannya.
Orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu, kemudian berlari berpencaran. Mahisa Agni dan guru Pasik itu kadang-kadang melontar jauh ke samping, kemudian melontar kembali dalam serangan-serangan yang berbahaya. Karena itu, maka mereka yang menyaksikannya menjadi gemetar dan ketakutan
Waraha yang masih dalam kesakitan itu, menyaksikan perkelahian antara gurunya dan perantau yang bernama Mahisa Agni itu dengan seksama. Ia mencoba menilai apa saja yang sudah terjadi. Namun kemudian kembali ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Seakan-akan terasa sesuatu yang selama ini tak pernah dirasakannya. Namun tiba-tiba dikenangnya, bapak ibunya yang mengasihinya, kampung halaman yang memberinya kenangan yang menyenangkan.
Mata Pasik itu melihat perkelahian yang terjadi antara gurunya dan Mahisa Agni, namun hatinya tiba-tiba saja terbang ke masa-masa lampaunya. Seakan-akan ia menatap wajah gurunya yang kasar bengis, dan kemudian ditatapnya wajah ibunya yang lembut, dan wajah bapanya yang sedang berduka.
Sehingga tiba-tiba pula melontarlah suatu pertanyaan di dalam hatinya, “Apakah yang telah terjadi dengan dirinya selama ini?”
Kata-kata Mahisa Agni berkali-kali berputar di dalam dadanya. Kata-kata yang selalu terngiang di telinganya, ‘Pergilah, dan biarlah Pasik menikmati ketenteraman hidup di antara keluarganya dan sanak kadangnya. Jangan ganggu dia lagi, dan jangan meracuni hidupnya dengan perbuatan-perbuatan aneh seperti perbuatan-perbuatan orang yang kehilangan akal budi.’ Pasik itu kemudian memejamkan matanya. Seolah-olah telah ditemukannya apa yang hilang selama ini. Ketenteraman hidup di antara keluarga dan anak kadang.
Ketika sekali lagi ia membuka matanya, dan ditatapnya wajah ibunya yang lembut, hatinya menjadi meronta-ronta. Disadarinya kini apa yang telah dilakukannya selama ini. Bahkan hampir saja ia membunuh ayah dan ibunya, namun ayah dan ibunya itu sama sekali tak mendendamnya. Cinta kasihnya tak runtuh seujung rambut pun.
Dalam pada itu, di halaman rumah Pasik itu masih berlangsung pertempuran yang semakin lama semakin dahsyat. Mereka masing-masing benar-benar telah berjuang mati-matian. Guru Pasik sekali-kali terdengar berteriak mengerikan sejalan dengan serangan-serangannya yang keras dan cepat. Seperti seekor serigala kelaparan, orang yang bertubuh kokoh kuat itu melonjak-lonjak menyergap dari segenap arah.
Namun Mahisa Agni benar-benar dapat menguasai dirinya dengan sebaik-baiknya. Betapa pun lawannya menjadi bertambah ganas, tetapi Mahisa Agni itu pun menjadi bertambah mapan juga. Setelah dikenalnya dengan baik setiap unsur gerak lawannya, serta setelah dikenalnya pula dengan baik segenap kemampuan yang dapat dipergunakannya yang tersimpan di dalam tubuhnya, maka perlawanannya pun menjadi semakin kuat dan tangguh.
Karena itu maka guru Pasik itu pun menjadi semakin heran. Ternyata ia berhadapan dengan seorang anak muda yang luar biasa. Bahkan kemudian ternyata bahwa Mahisa Agni itu akan benar-benar dapat menguasai keadaan. Orang yang menamakan Bahu Reksa Kali Elo itu pun kemudian menyadari sepenuhnya, siapakah yang sedang dihadapinya kini. Karena itu, maka sampailah ia kemudian pada ketetapan hatinya, untuk membinasakan Mahisa Agni dalam puncak ilmunya.
Demikianlah maka guru Pasik itu pun kemudian meloncat beberapa langkah surut menjauhi Mahisa Agni. Dengan berteriak nyaring ia merentangkan kedua tangannya, kemudian dengan ganasnya sekali ia meloncat ke udara, dan dengan kedua kakinya yang kokoh itu ia tegak kembali di atas tanah dalam kesiagaan penuh untuk melontarkan ilmu tertinggi yang dimilikinya.
Pasik yang melihat perkelahian itu tiba-tiba saja menjadi sangat terkejut. Ia melihat betapa gurunya merentangkan tangannya, kemudian seperti seekor singgat melenting ke udara untuk kemudian bersiap dalam sikap yang teguh kuat seperti gunung yang siap untuk meledak. Dan tiba-tiba pula, tanpa sesadarnya Pasik itu merasa, bahwa Mahisa Agni berada dalam bahaya. Ia tidak tahu, kenapa ia merasa wajib untuk menyelamatkannya. Karena itu tiba-tiba ia berteriak,
“Guru, jangan dengan ilmu itu!”
Tetapi gurunya sama sekali tidak mendengar. Bahkan terdengar ia tertawa nyaring. Kini ia sama sekali tidak bergerak, seolah-olah ia menunggu Mahisa Agni menyerangnya, untuk kemudian dengan satu pukulan, anak itu akan dibinasakannya.
Mahisa Agni melihat sikap itu. Ia melihat tubuh orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu bergetar. Sebagai seorang yang telah menekuni olah kanuragan, maka segera Mahisa Agni pun mengetahuinya, bahwa lawannya sedang mengerahkan setiap kekuatan lahir dan batinnya dalam puncak ilmu yang dimilikinya. Karena itu, maka Mahisa Agni pun tidak mau dirinya dibinasakan oleh Orang yang bengis itu. Ia menjadi heran ketika lamat-lamat ia mendengar Pasik itu mencoba mencegah gurunya dan bahkan kemudian Pasik itu berkata,
“Mahisa Agni, jangan mendekat!”
Terasa sesuatu berdesir di dalam dada Mahisa Agni. Dalam kesibukannya menghadapi lawannya, maka perasaannya dapat menangkap suatu ungkapan yang jujur yang dilontarkan oleh Pasik yang sedang terluka itu, tetapi ia tidak mempunyai waktu terlalu lama memperhatikan anak muda yang agaknya dalam perkembangan keadaan yang dialaminya di dalam jiwanya. Yang segera harus dilakukan adalah menyelamatkan diri dari kemungkinan yang sangat mengerikan. Karena itu, maka dengan rasa syukur yang sedalam-dalamnya, maka Mahisa Agni kini sama sekali tidak menyerang lawannya. Bahwa ia pun meloncat atau langkah surat. Disilangkannya kedua tangannya di dadanya, dan dipanjatkannya hasrat di dalam hatinya, pemusatan kekuatan lahir dan batin.
Ketika Mahisa Agni melihat kaki lawannya bergeser, maka segera Mahisa Agni pun menarik kakinya kanannya setengah langkah ke belakang, sedang pada kedua lututnya kemudian Mahisa Agni merendahkan dirinya, siap dalam kekuatan aji yang baru saja ditekuninya, Gundala Sasra.
Dalam waktu sekejap, Mahisa Agni sudah merasakan,seolah-olah ada getaran-getaran yang mengalir di dalam dirinya. Getaran-getaran kekuatan yang tersimpan di dalam tubuhnya. Yang karena ketekunannya, maka ia telah berhasil mengungkap segenap kekuatan-kekuatan yang tersimpan itu. Meskipun ilmu yang dimilikinya itu belum sempurna benar, namun aji Gundala Sasra adalah aji yang nggegirisi.
Kini Mahisa Agni masih berdiri pada sikapnya. Meskipun sikap itu bukanlah sikap yang mutlak harus dilakukan, sebagaimana gurunya berkata, bahwa sikap itu adalah suatu cara untuk mengungkapkan ilmu itu, tetapi pengungkapan itu dapat dilakukannya dalam sikap yang paling tepat pada saat-saat tertentu dalam unsur-unsur gerak pokok yang tak dapat disingkirkan.
Orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu pun ternyata seorang yang telah banyak berpengalaman. Itulah sebabnya, ketika ia melihat Mahisa Agni tidak menyerangnya, justru meloncat mundur sambil menyilangkan tangannya, serta ketegangan di wajah anak muda itu, maka guru Pasik itu pun segera menyadari, bahwa lawannya telah pula bersiap dalam puncak ilmunya.
Karena itu, maka terdengar orang itu menggeram, “Apa yang sedang kau lakukan itu?”
Mahisa Agni masih belum bergerak dari tempatnya. Ia pun menunggu sampai lawannya datang menyerangnya. Maka jawabnya, “Aku sedang berpikir, apakah kau sedang mengungkapkan kesaktianmu yang tertinggi?”
Guru Pasik itu mengerutkan keningnya. Ternyata Mahisa Agni menyadari keadaannya. Katanya, “Kita telah sampai pada saat penentuan. Aku masih ingin mencoba memperingatkan kau sekali lagi anak yang malang. Berikan kerismu dan jangan melawan. Mungkin aku akan membunuhmu dengan keris itu, tidak dengan cara-cara yang lain yang akan dapat menyiksamu pada saat-saat terakhir.”
“Ki Sanak,” jawab Mahisa Agni, “kau masih saja hidup di dunia yang gelap ini. Sebaiknya kau bangun dan sadari keadaanmu kini. Kau berada di antara manusia dan hidup bersama-sama dengan mereka. Kenapa berlaku demikian? Seolah-olah kau hidup di tengah-tengah rimba dan memaksakan segala kehendakmu kepada pihak-pihak yang kau anggap lebih lemah.”
“Tutup mulutmu!” bentak Guru Pasik itu. Matanya yang merah menjadi semakin merah, “Jangan ribut. Berikan keris itu, dan tundukkan kepalamu. Aku ingin melibat darah memancar dari lehermu.”
“Ki Sanak ,” jawab Mahisa Agni, “kalau aku harus mati, maka akan mati dengan wajah menengadah.”
Guru Pasik itu menggeram. Terdengar giginya gemeretak, dan tiba-tiba ia berteriak nyaring. Dengan dahsyatnya ia menerkam Mahisa Agni tepat seperti serigala yang buas menerkam mangsanya. Tetapi Mahisa Agni telah sampai di puncak ilmunya. Karena itu betapa cepatnya ia menghindarkan diri dari terkaman itu, sehingga orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu terdorong oleh kekuatannya sendiri meluncur beberapa langkah. Namun orang itu agaknya telah benar-benar menguasai segenap gerak dan tubuhnya. Demikian ia menginjak tanah, demikian ia melenting dan memutar tubuhnya siap untuk melontarkan serangan kembali.
Mahisa Agni pun segera mempersiapkan dirinya pula kembali, dan bahkan kini ia tidak ingin perkelahian itu berlangsung berlarut-larut. Demikian ia melihat guru Pasik itu menyerangnya kembali dengan dahsyatnya, maka segera ia bergeser ke samping dan merendahkan dirinya. Kali ini Mahisa Agni tidak melepaskan kesempatan itu, dengan cepatnya ia meloncat menyerang lambung lawannya. Namun lawannya itu pun dengan sigapnya memperbaiki keadaannya, sehingga tepat pada saat serangan Mahisa Agni datang, Guru Pasik itu pun telah siap pula melawannya dengan garangnya. Demikianlah maka terjadilah benturan yang dahsyat dari dua macam ilmu yang berlawanan. Benturan itu seakan-akan meledaknya petir yang sedang bersabung.
Pasik yang melihat benturan itu, tiba-tiba memejamkan matanya. Terdengar ia berdesah. Ia tidak mau melihat peristiwa yang mengerikan itu berulang. Beberapa, saat yang lampau, ia pernah melihat gurunya mempergunakan ilmu itu pula, ketika mereka gagal memaksa seseorang untuk menyerahkan barang-barangnya di perjalanan. Ternyata orang itu pun mampu melawan gurunya dalam pertarungan jasmaniah. Namun kemudian gurunya itu mempergunakan ilmunya yang dahsyat itu.
Ilmu yang dinamai Kala Bama. Akibatnya sangat mengerikan. Dada itu pecah berserakan. Tulang-tulangnya patah dan isi adanya pecah berhamburan bercampur warna darah. Pada saat itu ia gembira menyaksikan pembunuhan yang dahsyat. Tetapi kini tiba-tiba ia merasa muak. Bukan seharusnya Mahisa Agni mendapat perlakuan yang demikian.
Tetapi sesaat kemudian Pasik itu menjadi heran. Ia mendengar tubuh-tubuh yang berjatuhan, namun ia tidak mendengar gurunya itu tertawa nyaring seperti pada saat ia membunuh orang di jalan itu. Tiba-tiba timbullah keinginannya untuk melihat apa yang terjadi. Perlahan-lahan ia membuka matanya. Dan pertama-tama dilihatnya adalah Mahisa Agni yang sedang berusaha untuk berdiri di halaman itu. Namun tampak betapa ia menjadi sangat letih. Sekali-sekali ia masih terhuyung-huyung hampir jatuh. Namun kemudian ia menemukan keseimbangannya kembali.
Sebenarnyalah pada saat benturan itu terjadi, Mahisa Agni terdorong beberapa langkah surut, kemudian betapa dahsyatnya tenaga lawannya sehingga ia terguling beberapa kali. Baru kemudian dengan susah payah, ia berusaha berdiri. Tetapi lawannya pun tidak kurang pula parahnya. Seperti seonggok kayu ia terlempar, kemudian terbanting di tanah. Sesaat orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu seakan-akan tak dapat lagi bernafas. Dadanya serasa pecah dan matanya berkunang-kunang. Karena itu maka segera dipusatkannya segenap kekuatan lahir dan batinnya untuk segera menemukan kesadarannya kembali. Dan akhirnya guru Pasik itu pun mampu pula mengangkat kepalanya. Perlahan-lahan ia bangkit betapa punggungnya terasa sakit. Ketika ia telah berhasil duduk dan bertelekan di atas kedua tangannya, dilihatnya Mahisa Agni telah berdiri di hadapannya.
“Setan!” desisnya, “hantu mana yang telah menyelamatkanmu dari aji Kala Bama?”
Mahisa Agni menarik nafas. Kala Bama. Aji itu pun betapa dahsyatnya sehingga hampir saja dadanya dipecahkannya. Namun Mahisa Agni tidak menjawab pertanyaan itu. Ditatapnya wajah orang itu dengan tajamnya. Dan dibiarkannya ia berusaha untuk berdiri pula.
Dengan tertatih-tatih akhirnya orang itu pun tegak pula. Namun sesaat kemudian ia berdiam diri seperti sedang merenung. Dan tiba-tiba pula tanpa disangka-sangka orang itu memutar tubuhnya dan terhuyung-huyung meloncat berlari meninggalkan halaman yang celaka itu.
Sesaat Mahisa Agni terpaku di tempatnya, namun kemudian disadarinya bahwa orang itu akan tetap berbahaya baginya. Karena itu maka segera ia pun berusaha untuk mengejarnya. Tetapi keadaan tubuhnya sendiri betapa letihnya, sehingga tenaganya pun telah menjadi sangat jauh berkurang. Meskipun demikian, orang yang dikejarnya itu pun tidak dapat berlari terlalu cepat.
Mahisa Agni dan guru Pasik itu pun kemudian dengan terhuyung-huyung berlari berkejaran. Tetapi tiba-tiba ketika Mahisa Agni hampir meloncati dinding halaman yang rendah, guru Pasik itu pun berhenti. Secepat kilat ia memutar tubuhnya dengan sisa-sisa ketangkasannya yang terakhir, kemudian dengan tiba-tiba pula, Mahisa Agni melihat sebilah pisau yang meluncur terbang ke arahnya. Mahisa Agni terkejut melihat pisau itu. Cepat ia mengendapkan diri dan pisau itu terbang beberapa jengkal di atasnya. Namun karena ia tergesa-gesa dan kekuatannya pun telah hampir habis, maka dengan tak disangka-sangka Mahisa Agni itu pun tergelincir jatuh di tanah.
Mahisa Agni mengumpat di dalam hatinya. Pada saat ia bangun ia mendengar orang itu tertawa tinggi sambil berkata hampir berteriak, “Mahisa Agni. Kau menang kali ini. Tunggulah beberapa lama, apabila guruku telah selesai dengan pekerjaannya menempa Kuda Sempana, maka akan datang giliranmu untuk aku penggal lehermu.”
Mahisa Agni itu pun berusaha bangun secepat-cepatnya. Namun karena tenaganya yang lemah itu, maka ketika ia berhasil berdiri masih di dalam pagar, maka guru Pasik itu telah tidak dilihatnya lagi.
“Alangkah liat kulitnya,” gumam Mahisa Agni.
Bagaimanapun juga ia terpaksa mengagumi orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu, sebagaimana orang itu mengaguminya. Mereka masing-masing telah mempergunakan ilmu tertinggi yang mereka miliki. Namun mereka mampu untuk bertahan, meskipun dada mereka seakan-akan menjadi rontok karenanya. Tetapi yang mengejutkan Mahisa Agni, orang itu telah menyebut nama Kuda Sempana. Karena itu maka ia menjadi gelisah. Apakah hubungannya dengan Kuda Sempana
Tiba-tiba Mahisa Agni itu ingat kepada Pasik. Anak itu masih berbaring di tangan ayahnya. Mungkin ia bisa bertanya kepadanya apakah hubungan antara orang ini dan Kuda Sempana. Karena itu, maka kemudian dilepaskannya maksudnya untuk mencari guru Pasik itu sebelum keadaan tubuhnya memungkinkan. Bahkan segera ia berjalan kembali ke halaman untuk menemui Pasik yang masih dengan lemahnya berbaring. Tetapi ketika ia melihat Mahisa Agni datang kepadanya tiba-tiba ia tersenyum. Kemudian dengan lemahnya ia berusaha untuk duduk.
“Tuan ternyata luar biasa,” desisnya.
Mahisa Agni tidak menjawab. Ditatapnya wajah ibu Pasik yang agaknya masih marah kepadanya. Tetapi ketika perempuan itu mendengar kata-kata Pasik itu, dan dilihatnya anaknya tersenyum, ia menjadi heran.
Dan tiba-tiba perempuan itu bertanya kepada anaknya, “Apakah kau sudah berangsur baik?”
Pasik berpaling. Dipandangnya wajah ibunya yang penuh kecemasan. Kemudian ditatapnya pula wajah ayahnya yang sayu. Tiba-tiba terasa sesuatu berdesir di dadanya. Dan tanpa sesadarnya ia berkata,
“Maafkan aku Ibu, maafkan aku Ayah.”
Ibunya terkejut ketika dengan tiba-tiba ia mendengar kata-kata anaknya itu. Beberapa saat ia terdiam seperti patung. Namun tiba-tiba pula diraihnya kepala anaknya, dan dipeluknya anaknya itu seperti ketika masih kanak-kanak. Ibu Pasik itu pun menangis sejadi-jadinya.
Beberapa orang masih tampak di halaman itu. Selangkah demi selangkah mendekat. Mereka merasakan sesuatu yang berbeda dengan saat-saat sebelumnya. Dan mereka melibat Mahisa Agni masih di halaman itu. Dengan demikian maka mereka menjadi tenang.
Ayah Pasik itu pun menggosok-gosok matanya yang menjadi nyeri. Satu-satunya anaknya kini telah kembali kepadanya, kepada ayah dan ibunya. seakan-akan anak yang telah hilang itu datang kembali pulang.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Betapa ia ikut serta mengalami keharuan melihat peristiwa itu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia mengucap syukur di dalam hatinya. Mudah-mudahan untuk seterusnya Pasik menyadari keadaannya. Ia adalah anak Kajar, dilahirkan di Kajar dan dibesarkan di Kajar pula.
Baru sesaat kemudian, kepala Pasik itu pun dilepaskan. Namun air mata masih saja mengalir meleleh di pipi perempuan yang telah dipenuhi oleh garis-garis umur dan duka.
Pasik itu kemudian menatap Mahisa Agni dengan mata yang buram. Katanya, “Tuan telah membuka hatiku. Dan tuan telah mengampuni aku. Sebab kalau tuan mau membunuh aku, maka aku pun pasti sudah mati. Ternyata tuan benar-benar menyelamatkan diri dari aji Kala Bama, dan bahkan tuan berhasil mengusir Bahu Reksa Kali Elo dari halaman ini.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Katanya, “Jangan pikirkan itu. Sekarang sembuhkan luka-lukamu. Luka badan dan luka jiwamu. Mudah-mudahan kedua-duanya akan lekas menjadi sembuh.”
Pasik menganggukkan kepalanya. Katanya lirih kepada ayahnya, “Ayah. Mintakan aku maaf kepada penduduk Kajar. Kepada tetua padukuhan ini, dan kepada siapa saja.”
“Mereka akan memaafkan kau, Pasik,” terdengar suara di belakang mereka. Suara tetua padukuhan itu.
“Terima kasih Kiai,” sahut Pasik.
Halaman itu kemudian hening untuk sesaat. Masing-masing sedang tenggelam dalam angan-angannya. Mereka sedang menilai peristiwa yang haru saja mereka saksikan. Peristiwa yang telah menolong seorang anak padukuhan mereka yang selama ini tenggelam dalam arus yang hitam.
Tetapi kegelisahan di dada Mahisa Agni masih saja mengguncangnya. Ia ingin segera tahu hubungan guru Pasik itu dengan Kuda Sempana. Dalam tangkapannya, maka Kuda Sempana yang digarap pula oleh guru Pasik itu, adalah saudara seperguruan dengan orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo. Karena itu, ketika halaman itu telah menjadi tenang, maka Mahisa Agni itu pun segera melangkah mendekati Pasik yang sudah dapat duduk bersandar kedua tangannya.
Dengan ragu-ragu Mahisa Agni itu pun berkata kepada ayah Pasik. Katanya, “Paman, apakah tidak sebaiknya Pasik dibawa masuk untuk mendapatkan perawatan yang baik?”
“Ya, ya,” jawab ayah Pasik itu tergagap. Dan kemudian dibantu oleh Mahisa Agni, maka Pasik itu pun dipapah masuk ke rumahnya. Dengan perlahan-lahan anak muda itu dibaringkannya di atas pembaringan.
“Terima kasih,” desis Pasik, “aku sudah mendingan.”
“Jangan banyak bergerak, Pasik,” Mahisa Agni berpesan. Dan Pasik itu pun mengangguk.
Setelah Pasik itu minum kembali beberapa teguk, maka keadaannya menjadi semakin baik. Dan kata-katanya yang ke luar dari mulutnya pun menjadi semakin lancar.
Beberapa orang yang berdiri di halaman satu-satu menengok juga dari lubang ke dalam rumah, namun mereka tidak berkehendak masuk. Bahkan kemudian satu-satu mereka meninggalkan halaman itu pulang ke rumah masing-masing. Namun di dalam dada mereka tersimpan suatu perasaan yang lain daripada saat mereka datang dengan tergesa-gesa ke halaman itu.
Rumah Pasik itu pun kemudian menjadi sepi yang berdiri di pintu adalah tertua padukuhan Kajar, dan menantunya berdiri di belakangnya. Walaupun ia melihat bahwa Pasik itu terluka, namun ketakutannya masih juga belum mereda.
“Angger Mahisa Agni,” berkata orang tua itu, “aku akan pulang dahulu. Apakah Angger pergi bersama-sama aku ke rumahku?”
Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku akan menyusul, Bapa.”
Orang itu pun kemudian minta diri pulang bersama menantunya yang masih berdebar-debar. Ketika halaman itu telah benar-benar sepi, maka barulah Mahisa Agni bertanya kepada Pasik. Katanya,
“Pasik, apakah kau pernah mendengar nama Kuda Sempana?”
Pasik itu mengerutkan keningnya. Sesaat ia ragu-ragu, namun kemudian jawabnya, “Ya, Tuan. Aku pernah mendengar.”
“Panggillah aku dengan namaku,” sahut Mahisa Agni.
“Ya, ya Mahisa Agni,” berkata Pasik dengan kaku.
“Nah. Demikianlah,” sambut Mahisa Agni, kemudian katanya melanjutkan pertanyaannya, “siapakah Kuda Sempana itu?”
“Dari mana tuan, eh, kau tahu nama itu?´ bertanya Pasik.
“Aku mendengar dari gurumu. Ia akan datang mencari aku setelah gurunya selesai dengan pekerjaannya, menempa orang yang bernama Kuda Sempana.”
Pasik menganggukkan kepalanya. Kembali ia beragu. Tetapi ketika ditatapnya wajah Mahisa Agni yang bening ia berkata, “Kuda Sempana adalah adik seperguruan guruku.”
“Hem,” Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Siapakah dia?”
“Kuda Sempana adalah seorang prajurit pelayan dalam Akuwu Tunggul Ametung di Tumapel.”
“Hem,” kembali Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Jadi Kuda Sempana itu benar-benar Kuda Sempana yang pernah dikenalnya. Bukan orang lain yang hanya kebetulan bernama sama.
“Siapakah guru dari gurumu itu?” bertanya Mahisa Agni.
Pasik menggeleng. “Aku tak tahu. Guruku mempunyai saudara seperguruan yang cukup banyak. Ada di antaranya prajurit, ada pula pejabat, namun ada pula penjudi dan penjahat. Mereka akan diterima menjadi murid asal mereka dapat menyerahkan berbagai macam imbalan. Namun jumlah murid itu tidak lebih dari sepuluh orang. Di antaranya adalah guruku. Karena itulah maka guruku harus memeras orang-orang di sekitarnya untuk dapat memberikan imbalan kepada gurunya.”
“Dan agaknya gurumu berbuat serupa.”
“Ya. Ia pun menerima beberapa orang murid dengan cara yang sama untuk menutup kebutuhannya.”
“Hem,” kembali Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar