Guru orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu pasti seorang yang sakti pula. Ternyata bahwa muridnya memiliki kesaktian yang mengagumkan. Namun agaknya orang itu telah memilih jalan yang sesat, yang menjual kesaktiannya untuk kepentingan-kepentingan lahirlah. Itulah sebabnya maka muridnya tersebar dari segala penjuru. Ternyata siapa pun yang mampu memberinya imbalan sesuai dengan permintaannya, maka mereka akan dapat menghisap ilmu daripadanya tanpa dihiraukannya akibat. Dan akibatnya, itu pada umumnya adalah sangat tidak baik.
Tetapi dalam pada itu, Mahisa Agni pun segera menghubungkan penempaan diri Kuda Sempana dengan kekalahan yang pernah dialaminya di padukuhannya. Karena itu, maka ia bertanya pula,
“Apakah kau kenal dengan Kuda Sempana secara pribadi, Pasik?”
Pasik menggeleng. “Tidak,” jawabnya, “namun aku pernah melihat orangnya Aku pernah mendengar ia bercakap-cakap dengan guruku.”
“Kenapa Kuda Sempana itu berguru pula pada guru Bahu Reksa Kali Elo itu?”
“Aku tidak tahu,” kembali Pasik menggeleng.
“Apakah kau tahu, apa yang mendorongnya sehingga ia dengan tergesa-gesa menempa diri? Apakah memang sudah saatnya ia menerima ilmu itu, ataukah hanya karena Kuda Sempana sudah mempunyai cukup uang untuk berbuat demikian?”
“Mungkin,” sahut Pasik, “namun Kuda Sempana itu juga menyimpan dendam di dalam hatinya.” Terasa sesuatu berdesir di dada Mahisa Agni. Dan ia pun kemudian mendengar Pasik itu meneruskan, “Kuda Sempana telah mengalami kekecewaan terhadap seorang gadis. Karena itu, ia telah bersiap untuk menebus kekecewaannya.”
“He,” Mahisa Agni terkejut, “dari mana kau tahu?”
Pasik menjadi heran atas tanggapan Mahisa Agni itu. Kemudian katanya, “Apakah tuan, eh, kau kenal Kuda Sempana.”
Mahisa Agni tidak menjawab pertanyaan Pasik, tetapi ia berkata, “Dari mana kau tahu?”
“Aku pernah melihat Kuda Sempana mengatakan itu kepada saudara-saudara seperguruannya, termasuk guruku. Meskipun aku tidak sengaja mendengarkannya.”
Denyut jantung Mahisa Agni pun terasa menjadi semakin cepat mengalir. Nafasnya pun kemudian seakan-akan menjadi semakin cepat mengalir berebut dahulu lewat lubang hidungnya. Dengan terbata-bata ia bertanya,
“Apa katanya?”
Pasik menjadi semakin heran. Karena itu ia bertanya, “Kenapa tuan menaruh perhatian yang sangat besar atas orang itu?”
Sekali lagi Mahisa Agni tidak mendengarkan pertanyaan Pasik. Bahkan ia mendesaknya, “Apa yang dikatakan Kuda Sempana itu?”
Pasik tidak segera menjawab. Namun Mahisa Agni itu pun mendesaknya sekali lagi, “Apa?”
Pasik tidak dapat berbuat lain daripada menjawab pertanyaan itu, katanya, “Kuda Sempana perah dikecewakan oleh seorang gadis. Katanya, ‘Apabila aku tak dapat memetik bunga itu, maka lebih baik akan aku gugurkan saja daun-daun mahkotanya’.
Darah di dalam tubuh Mahisa Agni serasa mengalir lebih cepat. Kata-kata semacam itu pun pernah didengarnya dahulu dari mulut Kuda Sempana sendiri, meskipun tidak sejelas itu. Tetapi apa yang dikatakan itu adalah benar-benar mencemaskan hatinya.
Pasik yang melihat perubahan wajah Mahisa Agni menjadi semakin heran. Sekali lagi ia mencoba bertanya, “Mahisa Agni, apakah kau mengenal Kuda Sempana?”
“Aku pernah mendengar namanya,” jawab Mahisa Agni.
“Tetapi kau terpengaruh oleh berita yang kau dengar.”
“Setiap orang akan terpengaruh mendengar cerita itu. Bukankah itu akan merupakan pelanggaran atar sendi-sendi pergaulan. Ia akan memaksakan kehendaknya atas seorang gadis, sedang gadis itu tidak menerimanya. Apakah haknya untuk memaksa gadis itu? Apalagi orang tua gadis itu pun sama sekali tak menyetujuinya. Bahkan gadis itu dengan resmi telah dipertunangkan. Bukankah itu suatu perkosaan atas nilai-nilai kemanusiaan?”
Pasik mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba ia berkata, “Mahisa Agni kau pasti mempunyai hubungan dengan Kuda Sempana. Dari mana kau tahu bahwa gadis itu tak menerimanya?”
“Dari mana kau tahu bahwa ayah gadis itu tak menyetujuinya? Dan dari mana kau tahu bahwa gadis itu telah dipertunangkannya?”
“Oh,” Mahisa Agni terkejut mendengar pertanyaan-pertanyaan itu. Tetapi ia sudah terlanjur mengatakannya. Karena itu maka ia harus menjawabnya. Namun sesaat ia menjadi ragu-ragu. Pasik adalah orang yang jauh dari lingkungan pergaulan mereka, sehingga tak ada perlunya untuk memberitahukannya. Namun mulutnya sudah terlanjur mengucapkannya.
“Mahisa Agni,” bertanya Pasik Tiba-tiba, “apakah kau anak muda yang dipertunangkan dengan gadis itu?”
“Tidak, tidak,” cepat Mahisa Agni menjawab hampir berteriak sehingga Pasik itu pun terkejut.
Ibunya yang sedang berada di dapur pun berdiri sesaat menengok ke ruang depan. Tetapi ketika dilihatnya Pasik masih berbaring, dan di sampingnya duduk Mahisa Agni dan ayahnya, maka perempuan itu pun kembali merebus air. Sedang ayahnya yang duduk di samping Pasik itu sama sekali tidak tabu, apakah yang sebenarnya mereka percakapkan.
Bahkan Mahisa Agni sendiri pun terkejut mendengar suaranya sendiri. Namun yang lebih berpengaruh di hatinya adalah pertanyaan Pasik itu. Bukankah ia sendiri bukan laki-laki yang dipertunangkan dengan gadis itu. Bukankah gadis itu telah mempunyai seorang calon suami yang akan dapat melindunginya?
“Persetan dengan gadis itu!” katanya di dalam hati, “Bukankah Ken Dedes menjadi kewajiban Wiraprana.”
Tetapi getar di dalam dada Mahisa Agni pun menjadi semakin cepat. Betapa ia berusaha menekan perasaannya, namun kegelisahannya bahkan menjadi semakin mengganggunya. Meskipun Ken Dedes, gadis yang dikatakan oleh Kuda Sempana itu merupakan duri di dalam hatinya, namun duri itu merupakan sebagian dari seluruh keindahan dari Bunga kaki Gunung Kawi itu. Karena itu, maka jantungnya semakin lama menjadi semakin keras berdentang. Meskipun betapa pedihnya luka-luka yang tergores di hatinya karena tajamnya duri itu, namun ia tidak rela melihat seluruh keindahan Bunga kaki Gunung Kawi itu akan digugurkan.
“Pasik,” tiba-tiba Mahisa Agni itu berkata, “aku akan mohon diri.”
Pasik terkejut. Terkejut sekali sehingga tiba-tiba ia bangkit. Namun kembali terasa dadanya akan pecah, dan dengan lemahnya ia terkulai kembali.
“Jangan bergerak dahulu,” minta Mahisa Agni ketika ia melihat mulut Pasik menyeringai.
“Kenapa kau menjadi sedemikian tergesa-gesa. Apakah kau akan pergi ke tempat Kuda Sempana karena kau mendengar ceritaku?”
Mahisa Agni menggeleng. “Tidak,” jawabnya, “aku akan pergi ke rumah tetua Padukuhan Kajar.”
“Oh,” Pasik menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun bergumam, “Aku menjadi sangat terkejut. Aku sangka kau akan pergi ke rumah Kuda Sempana. Bukankah dengan demikian kau akan membunuh diri?”
Sekali lagi Mahisa Agni menggeleng. Namun terdengar ia bertanya, “Kenapa membunuh diri? Bukankah Kuda Sempana itu adik seperguruan gurumu?”
“Ya,” jawab Pasik, “tetapi penempaan yang dilakukan oleh gurunya ini merupakan penempaan yang tertinggi. Apakah dengan demikian Kuda Sempana itu tidak akan menjadi lebih dahsyat dari guruku?”
Mahisa Agni itu pun merenung. Namun akhirnya ia mengambil kesimpulan, bahwa guru Kuda Sempana itu pasti tak akan ikut terjun dalam setiap bahaya yang mengancam dirinya. Ia hanya memberikan ilmu untuk sekedar mendapat upah. Kalau upah itu telah diterimanya serta ilmu yang dibeli itu telah diberikannya, maka apapun yang akan dialami oleh muridnya adalah tanggung jawab murid-murid itu sendiri. Guru yang demikian, pasti tidak mau ikut serta melibatkan diri apabila persoalannya akan dapat membahayakan dirinya pula. Karena itu, maka ilmu diberikannya pasti ilmu yang hanya terbatas dalam tataran yang tertentu.
Karena itu, maka menurut perhitungan Mahisa Agni, murid-murid guru Bahu Reksa Kali Elo itu pasti hanya akan mendapat bagian yang sama dari ilmu gurunya itu. Kalau ada perbedaan sedikit-sedikit, maka itu pasti hanya karena kemampuan murid-murid itu sendiri. Dengan demikian, maka Mahisa Agni itu pun dapat memperhitungkan kemungkinan yang dimiliki oleh Kuda Sempana. Meskipun demikian, Mahisa Agni tidak boleh merendahkan siapa pun. Satu-satunya jalan yang terbaik, ialah mematangkan ilmunya sendiri.
Tetapi Mahisa Agni tidak boleh menunda-nunda waktu lagi. Kuda Sempana setiap saat dapat datang ke Panawijen. Adalah berbahaya sekali apabila gurunya, Empu Purwa masih juga belum pulang, sehingga dengan demikian Kuda Sempana akan dapat berbuat sesuatu yang sama sekali tak disangka-sangkanya. Meskipun demikian, betapapun saktinya Kuda Sempana, namun apakah Kuda Sempana mampu melawan kekuatan seluruh penduduk Panawijen. Sebab apabila terjadi sesuatu dengan Ken Dedes, maka seluruh penduduk Panawijen pasti akan membelanya. Tetapi kalau Kuda Sempana datang berdua atau bertiga saja, apalagi lebih, maka keadaannya pasti akan menyulitkan sekali. Maka yang segera harus dilakukan adalah pulang kembali ke Panawijen.
Mahisa Agni itu pun kemudian sekali lagi minta diri ke pada Pasik. Betapa Pasik mencoba mencegahnya, juga ayah ibunya, namun Mahisa Agni yang mencemaskan nasib padukuhannya, ternyata sudah tidak dapat menunda rencananya. Meskipun yang dikatakannya kepada Pasik, Mahisa Agni hanya akan kembali ke rumah tetua padukuhan Kajar, karena ia sudah berjanji untuk segera menyusulnya.
“Ah,” berkata Pasik, “nanti malam pun tak mengapa. Bukankah kau tidak takut kepada apapun?”
“Terima kasih Pasik. Tetapi orang tua itu nanti terlalu lama menunggu,” sahut Mahisa Agni, “nanti, besok atau kapan lagi aku akan dapat menengokmu kembali.”
Dan keluarga Pasik itu benar-benar sudah tidak dapat mencegahnya. Dengan ucapan terima kasih yang tak berhingga, maka Mahisa Agni itu pun kemudian dilepas pergi.
Mahisa Agni itu pun kemudian benar-benar singgah di rumah tetua padukuhan Kajar, tetapi hanya untuk minta diri. Kegelisahan yang menghentak-hentak dadanya tak dapat ditunda-tundanya lagi. Seolah-olah selalu didengarnya, kampung halaman di mana ia mendapatkan pendidikan dan keteguhan tabir batin, memanggilnya untuk segera pulang kembali. Orang tua, tetua padukuhan Kajar itu pun mencoba mencegahnya.
Mereka mempersilakan Mahisa Agni untuk berada di lingkungan keluarga mereka sehari atau dua hari. Apalagi anak serta menantunya, merasa bahwa Mahisa Anilah yang telah mengurungkan bencana yang akan menimpa mereka. Bencana yang akan memisahkan mereka suami istri. Namun Mahisa Agni dengan menyesal sekali menolak permintaan itu. Meskipun demikian, supaya orang tua itu tidak terlalu kecewa, maka Mahisa Agni pun menunggu sesaat, sampai nasi jagung yang mereka masak menjadi masak.
“Bawalah Ngger,” berkata orang tua itu, “Angger memerlukan bekal di perjalanan Angger yang tak tentu kapan akan berakhir.”
“Terima kasih Bapa,” jawab Mahisa Agni, “demikianlah pekerjaan seorang perantau. Dan aku senang akan pekerjaan itu.”
Mahisa Agni pun kemudian menerima bekal itu dengan senang hati. Dimasukkannya bekal itu ke dalam bungkusannya yang ditinggalkannya di rumah tetua padukuhan Kajar itu. Kemudian disangkutkannya bungkusan itu di ujung tongkat kayunya. Kembali kini Mahisa Agni berjalan dengan memanggul bungkusan kecilnya sebagai seorang perantau. Selangkah demi selangkah ia meninggalkan halaman rumah orang tua. Suami istri beserta anak menantunya mengantarkan Mahisa Agni sampai ke regol halaman rumah mereka. Dan kemudian mereka mengawasi langkah perantau yang baik hati itu sampai hilang di tikungan jalan.
Ketika Mahisa Agni sampai di mulut lorong padukuhan Kajar, sekali lagi ia berpaling. Tetapi ia tidak melihat seseorang di belakangnya. jalan itu sepi. Di sebelah tikungan di belakangnya didapatinya rumah tetua padukuhan Kajar. Dan di ujung yang lain didapatinya rumah Pasik. Dua buah rumah yang meninggalkan kenangan di hati Mahisa Agni.
Demikianlah Mahisa Agni menempuh jalan kembali ke Panawijen. jalan yang pernah dilaluinya beberapa waktu yang lampau. Namun kini perjalanan Mahisa Agni seolah-olah jauh lebih cepat daripada saat ia berangkat, ia tidak perlu mencari-cari kemungkinan untuk tidak tersesat. Dengan bekal ingatan serta pengenalannya yang baik, ia segera dapat menemukan kembali jalan yang dahulu dilewatinya. Sehingga perjalanannya kali ini hanya memerlukan waktu separuh dari waktu yang diperlukannya pada saat ia berangkat.
Hutan dan ngarai yang panjang, serta padang rumput yang luas dilewatinya dengan tergesa-gesa. Tenaga Mahisa Agni seakan-akan menjadi jauh lebih besar dari tenaganya semula. Ketangkasannya bergerak serta pernafasannya yang semakin teratur, telah menambah kecepatan perjalanannya. Meskipun demikian, apabila ia bangun di pagi-pagi hari setelah ia bermalam di cabang-cabang pepohonan, sekali-sekali diperlukannya juga memperlancar getaran-getarannya bergerak-gerak di dalam tubuhnya dalam ilmunya Gundala Sasra.
Semakin sering ia menerapkan ilmunya, maka getaran-getaran itu semakin cepat mencapai tempat-tempat yang dikehendakinya. Bahkan kemudian seakan-akan Mahisa Agni sudah tidak memerlukan lagi waktu, sejak saat ia menerapkan ilmunya itu, sampai pada penggunaannya. Apabila ia telah menyilangkan tangannya di muka dadanya, sambil memusatkan pikiran serta segenap kekuatan lahir dan batinnya, maka sesaat itu pula, ilmunya telah mapan untuk dilontarkannya lewat bidang-bidang permukaan tubuhnya yang dikehendakinya. Berkali-kali ia telah mencoba di sepanjang perjalanan itu. Batu-batu padas, batu-batu hitam dan bahkan pepohonan dan binatang-binatang buas yang menyerangnya.
Sesuai tuntunan-tuntunan yang diberikan oleh gurunya, Mahisa Agni selalu dengan tekun mencoba meningkatkan setiap kemampuan dari ilmu Gundala Sasra itu. Di sepanjang jalan dan di setiap kesempatan. Akhirnya, pada suatu pagi yang cerah, Mahisa Agni telah meninggalkan daerah-daerah hutan yang lebat, dan di mukanya membentang daerah yang subur dan ramai. Mahisa Agni telah menginjak batas jantung pemerintahan Tumapel.
Tiba-tiba saja Mahisa Agni ingin berjalan melewati kota. Sudah beberapa lama ia berada di tengah-tengah hutan yang sepi. Karena itu ia kini ingin melihat tempat-tempat yang agak ramai, meskipun tanpa sesuatu maksud tertentu. Maka Mahisa Agni itu pun segera membersihkan dirinya di sebuah kali. Ia tidak ingin masuk kota sebagai seorang yang tampaknya terlalu kotor. Dipakainya pakaiannya yang masih terlipat di dalam bungkusannya. Sehingga karena itu, maka Mahisa Agni menjadi agak bersih karenanya, setelah ia tinggal di antara rimbunnya dedaunan di hutan yang lebat, serta bekas-bekas param yang diberikan oleh gurunya untuk mencegah keracunan karena gigitan binatang-binatang serangga beracun. Ketika matahari kemudian menjadi semakin tinggi, setinggi ujung rumah-rumah joglo, maka Mahisa Agni telah masuk ke keramaian kota Tumapel.
Tetapi Tiba-tiba Mahisa Agni terkejut. Dari kejauhan ia melihat seorang anak muda yang gagah dia tas punggung kuda. Semakin lama semakin dekat. Dan hati Mahisa Agni itu pun menjadi berdebar-debar. Anak muda itu adalah Kuda Sempana. Ketika kuda itu lewat di sampingnya, Mahisa Agni mencoba melambaikan tangannya sambil tertawa.
“Kuda Sempana,” sapanya.
Kuda Sempana menarik kekang kudanya. Dipandangnya wajah Mahisa Agni dengan tajamnya. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Namun dari matanya itu memancar sinar dendam yang menyala-nyala, meskipun demikian, Mahisa Agni masih mencoba untuk tersenyum. Bahkan kemudian sekali lagi ia menyapa,
“Kuda Sempana, akan ke manakah kau sepagi ini?”
“Hem,” Kuda Sempana menggeram. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan tiba-tiba Kuda Sempana itu menggerakkan kendali kudanya, dan sesaat kemudian kuda itu telah berlari kembali di jalan-jalan kota.
Beberapa orang mengawasi Mahisa Agni. Mereka menjadi heran, apakah anak yang berkuda itu bendaranya yang sedang marah kepada budaknya. Sekali-sekali Mahisa Agni berpaling juga, dan dilihatnya wajah-wajah yang memandangnya dengan aneh. Bahkan ada di antaranya yang tersenyum-senyum dan ada pula yang menjadi iba.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kembali dikenangnya pergaulan di padukuhannya. Pergaulan yang rapat dan jujur di antara sesama. Ia menjadi sangat kecewa terhadap Kuda Sempana. Namun Mahisa Agni ini kemudian menyadarinya, bahwa Kuda Sempana masih sangat marah kepadanya, Ia tidak ingin berprasangka terhadap anak-anak muda dari kota. Tetapi ketika Mahisa Agni melangkahkan kakinya, untuk meninggalkan tempat itu, Tiba-tiba ia mendengar suara tertawa berderai tidak jauh di belakangnya, kemudian terdengar suara,
“Anak yang malang. Agaknya ia bersahabat karib dengan Kuda Sempana, pelayan dalam Akuwu Tumapel itu.”
Mula-mula Mahisa Agni tidak menghiraukan ejekan itu. Sebagai orang yang asing di kota itu, maka Mahisa Agni tak ingin mengalami perselisihan. Karena itu, kembali ia melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat yang tak menyenangkannya itu. Tetapi ketika ia baru satu langkah maju, kembali suara tertawa itu terdengar. Bahkan kemudian disusul oleh suara yang lain.
“Kenapa Kuda Sempana itu tak menjawab,” sapanya.
Berkata yang lain, “Bukankah Kuda Sempana juga anak Panawijen seperti anak itu.” Keduanya tertawa-tawa. Dan terdengar salah seorang berkata pula.
“Kuda Sempana takut kepada anak Buyut padukuhannya yang garang itu. Takut kalau anak muda yang gagah itu minta uang kepadanya.”
Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata mereka. Cepat ia dapat menebak siapakah yang telah sengaja membangkitkan kemarahannya itu. Yang menyangka bahwa dirinya adalah anak Buyut Panawijen yang bernama Wiraprana adalah Mahendra. Dan sebenarnyalah. Ketika ia berpaling, dilihatnya Mahendra berdiri di tepi jalan di samping saudara seperguruannya. Kebo Ijo. Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kedua anak itu masih tertawa berkepanjangan. Bahkan kemudian Mahendra itu melangkah maju sambil berkata,
“Selamat pagi Wiraprana yang perkasa.”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Namun ia mengangguk pula sambil menjawab, “Selamat pagi Mahendra.”
“Apa kerjamu sepagi ini di sini, Wiraprana?” bertanya Mahendra.
“Aku baru datang dari suatu perjalanan Mahendra,” jawab Mahisa Agni, “aku hanya singgah sebentar.”
Mahendra tertawa. Kemudian sambil menunjuk arah Kuda Sempana pergi, anak muda itu berkata, “Kau kenalan anak muda berkuda itu?”
Mahisa Agni mengangguk. “Ya,” jawabnya.
Mahendra masih tertawa, “Tetapi ia tidak kenal kepadamu. Sayang kalau ia segera pergi, aku ingin memperkenalkannya kepada anak Buyut Panawijen. Aku kenal baik kepadanya.”
“Terima kasih,” sahut Agni pendek.
“Barangkali kau memerlukan pekerjaan daripadanya di istana?” ejek Mahendra.
Sekali lagi Mahisa Agni menggigit bibirnya ia menyadari bahwa Mahendra sedang mencoba membangkitkan kemarahannya. Anak itu sedang mencari sebab yang memungkinkan timbulnya pertengkaran. Seperti Kuda Sempana, maka Mahendra pun agaknya mendendamnya.
“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas. Tidak disangkanya, bahwa ia akan mempunyai banyak lawan yang tak diharapkannya. Alangkah senangnya apabila hidupnya dipenuhi oleh rasa persahabatan dengan siapa pun juga. Namun ia dihadapkan pada suatu keadaan yang tak dapat disingkirkannya. Baik Kuda Sempana, maupun Mahendra seolah-olah memang dilahirkannya sebagai lawan-lawannya. Meskipun demikian, Mahisa Agni benar-benar tidak ingin berselisih di tengah-tengah kota yang ramai dan asing baginya. Maka katanya, “Sudahlah Mahendra, aku akan meneruskan perjalananku.”
“Ke mana?” bertanya Mahendra dengan nada tinggi.
“Pulang ke Panawijen.”
“Apakah kau sudah mendapat pekerjaan di kota? Menjadi juru pekatik atau apapun? Kalau belum kau dapat ikut aku. Kudaku memerlukan seorang perawat yang baik.”
Terasa dada Mahisa Agni terguncang mendengar ejekan itu. Apalagi kemudian terdengar Kebo Ijo tertawa berkepanjangan. Bahkan tidak saja Kebo Ijo, tetapi juga beberapa pemuda yang lain. Agaknya Mahendra dan Kebo Ijo berada di tempat itu bersama-sama dengan beberapa orang kawan-kawannya. Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas untuk meredakan gelora di dadanya. Ia mencoba untuk tidak menampakkan perubahan di wajahnya. Bahkan kemudian ia berkata,
“Mahendra, sebaiknya kita tidak usah bertemu di tempat ini.”
Mahendra tertawa, katanya, “Kita tidak ketemu di sini Ki Sanak. Aku tadi melihatmu di seberang jembatan. Aku sengaja mengikutimu. Ternyata kau berjumpa dengan Kuda Sempana. Aku kira kau akan minta pekerjaan kepadanya.”
“Tidak Mahendra,” jawab Mahisa Agni, “aku tidak memerlukan pekerjaan.”
Mahendra tertawa semakin keras. Kebo Ijo dan kawan-kawannya pun tertawa pula. Salah seorang dari mereka bertanya, “Siapakah anak itu sebenarnya?”
“Putra Buyut Panawijen. Wiraprana,” jawab Mahendra dengan menekankan setiap suku kata.
Kini Mahisa Agni tidak berkata-kata lagi. Dengan sudut matanya ia melihat beberapa orang muda yang berdiri di belakang Kebo Ijo. “Tujuh orang,” desisnya di dalam hati, “sembilan dengan Mahendra dan Kebo Ijo.”
Dan anak-anak muda itu tertawa berkepanjangan. “Kasihan,” berkata salah seorang daripadanya.
Mahendra yang berdiri paling dekat dengan Mahisa Agni berkata, “Wiraprana, apakah tawaranku kau terima?”
Mahisa Agni menggeram. Jawabnya, “Mahendra, apakah maksudmu sebenarnya? Kau sebenarnya tahu benar, bahwa aku sama sekali tidak sedang mencari Kuda Sempana. Kau tahu betul bahwa sikapmu itu tidak pada tempatnya. Mahendra, apakah kau sengaja memancing persoalan supaya kau mendapat alasan untuk berkelahi?”
Mahendra terdiam. Tampaklah kerut-kerut di wajahnya. Ia tidak menyangka bahwa Mahisa Agni akan berkata langsung menebak maksudnya. Tetapi sesaat kemudian Mahendra itu sudah tertawa lagi. Memang sudah disengaja olehnya, Mahisa Agni yang disangkanya Wiraprana itu, akan dibuatnya marah. Ia ingin sekali lagi mengadu tenaga. Sekarang kawan-kawannya akan menjadi saksi. Setelah beberapa bulan ia mencoba mengembangkan ilmunya, maka apabila ada kesempatan bertemu dengan Mahisa Agni, ia akan menebus kekalahannya.
Karena itu Mahendra menjawab, “Apakah kau marah Wiraprana? Jangan lekas marah. Di Tumapel, jangan kau samakan dengan padukuhan yang sepi Panawijen, meskipun kau di Panawijen menjadi putra tetua padukuhanmu, tetapi kau tidak dapat mengangkat wajahmu di Tumapel. Seorang Buyut pun apabila masuk ke kota ini harus menundukkan wajahnya. Apalagi kau, hanya anak seorang buyut. Kau tidak dapat memperlakukan anak-anak muda di sini seperti anak-anak muda di desamu. Kau, bagi kami di sini sama sekali tidak berarti.”
Mahisa Agni kini sudah pasti, bahwa sebenarnyalah Mahendra sedang memancingnya ke dalam suatu bentrokan. Karena itu, maka untuk yang terakhir kalinya ia mencoba menghindari bentrokan itu apabila mungkin. Jawabnya,
“Baik Mahendra. Baik. Aku adalah anak Panawijen. Anak dari pedesaan. Dan aku memang tidak ingin berbuat apapun di sini. Aku hanya akan lewat, seperti anak-anak desa yang lain yang tak pernah mendapat gangguan dari siapa pun apabila ia lewat di jalan kota. Sekarang biarlah aku berlalu.”
Mahendra terkejut mendengar jawaban itu. Sama sekali tak disangkanya bahwa Mahisa Agni itu tidak segera marah mendengar ejekan-ejekan yang telah dilontarkannya. Karena itu sesaat ia menjadi bingung untuk membangkitkan kemarahan anak muda itu. Ketika Mahendra melihat Mahisa Agni itu memutar tubuhnya dan melangkah pergi, maka dengan tergesa-gesa ia memanggilnya,
“Wiraprana. Jangan pergi!”
Wiraprana terhenti. Ketika ia berpaling, dilihatnya Mahendra melangkah maju mendekatinya.
“Jangan pergi!” bentak Mahendra.
“Apakah hakmu melarang aku pergi,” sahut Agni.
Mahendra menjadi bingung. Ketika ia terpaling ke arah kawan-kawannya melihat Kebo Ijo menjadi tegang. beberapa orang kawan-kawannya itu pun sudah tidak tertawa lagi. Bahkan kemudian Kebo Ijo itu berkata,
“Jangan biarkan anak itu pergi. Ia telah menghina kita.”
Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata Kebo Ijo. Tetapi sekali lagi ia merasa, bahwa apapun yang dikatakan oleh anak-anak muda itu adalah suatu kesengajaan untuk memancing persoalan. Karena itu Mahisa Agni kemudian tidak melihat lagi kemungkinan untuk meninggalkan daerah itu tanpa timbulnya suatu perselisihan. Maka kini Mahisa Agni sama sekali tidak berusaha untuk menghindar. Ia berdiri saja menunggu apapun yang akan terjadi.
Mahendra yang melihat sikap Mahisa Agni itu pun menjadi marah. Karena itu, maka ia pun tidak ingin melingkar-lingkar lagi. Ternyata Mahisa Agni tidak dapat dipancingnya untuk marah dan mendahuluinya menyerang. Dengan demikian, maka Mahendra tidak dapat menghindari tuduhan, ialah yang mulai apabila timbul perkelahian. Tetapi kini mau tidak mau ia harus mendahuluinya, sebab Mahisa Agni benar-benar dapat menguasai dirinya.
Ketika Mahendra ini sekali lagi berpaling, maka dilihatnya beberapa orang yang lewat, tertarik juga melihat ketegangan yang terjadi. Apabila semula mereka hanya melihat anak-anak muda itu tertawa-tawa, kini mereka melihat sikap-sikap yang keras dan tegang. Karena itu beberapa orang yang melihat mereka itu pun berhenti. Beberapa di antaranya saling mendekat dan berdiri di sekitar anak-anak muda itu. Beberapa orang saling berpandangan dan bertanya sesamanya,
“Apakah yang terjadi?”
Mahendra kini melangkah beberapa langkah maju. Dengan wajah yang menyala ia berdiri tegak seperti tonggak di hadapan Mahisa Agni. Seorang yang telah menjelang setengah abad, menggeleng-gelengkan kepala sambil bergumam,
“Anak-anak muda. Kerjanya tak ada lain membuat ribut saja.”
Seorang kawan Kebo Ijo yang mendengar gumam orang tua itu memandang dengan tajamnya. Dan orang tua itu menjadi ketakutan. Sambil merunduk-runduk ia berjalan pergi menjauhi pertengkaran itu. Anak-anak muda kawan Mahendra itu pun kemudian berdesakan maju di antara beberapa orang yang lain. Seorang yang berkumis tebal mencoba melerai mereka. Katanya,
“Apakah yang kalian perselisihkan?”
Tetapi dalam pada itu, Mahisa Agni pun segera menghubungkan penempaan diri Kuda Sempana dengan kekalahan yang pernah dialaminya di padukuhannya. Karena itu, maka ia bertanya pula,
“Apakah kau kenal dengan Kuda Sempana secara pribadi, Pasik?”
Pasik menggeleng. “Tidak,” jawabnya, “namun aku pernah melihat orangnya Aku pernah mendengar ia bercakap-cakap dengan guruku.”
“Kenapa Kuda Sempana itu berguru pula pada guru Bahu Reksa Kali Elo itu?”
“Aku tidak tahu,” kembali Pasik menggeleng.
“Apakah kau tahu, apa yang mendorongnya sehingga ia dengan tergesa-gesa menempa diri? Apakah memang sudah saatnya ia menerima ilmu itu, ataukah hanya karena Kuda Sempana sudah mempunyai cukup uang untuk berbuat demikian?”
“Mungkin,” sahut Pasik, “namun Kuda Sempana itu juga menyimpan dendam di dalam hatinya.” Terasa sesuatu berdesir di dada Mahisa Agni. Dan ia pun kemudian mendengar Pasik itu meneruskan, “Kuda Sempana telah mengalami kekecewaan terhadap seorang gadis. Karena itu, ia telah bersiap untuk menebus kekecewaannya.”
“He,” Mahisa Agni terkejut, “dari mana kau tahu?”
Pasik menjadi heran atas tanggapan Mahisa Agni itu. Kemudian katanya, “Apakah tuan, eh, kau kenal Kuda Sempana.”
Mahisa Agni tidak menjawab pertanyaan Pasik, tetapi ia berkata, “Dari mana kau tahu?”
“Aku pernah melihat Kuda Sempana mengatakan itu kepada saudara-saudara seperguruannya, termasuk guruku. Meskipun aku tidak sengaja mendengarkannya.”
Denyut jantung Mahisa Agni pun terasa menjadi semakin cepat mengalir. Nafasnya pun kemudian seakan-akan menjadi semakin cepat mengalir berebut dahulu lewat lubang hidungnya. Dengan terbata-bata ia bertanya,
“Apa katanya?”
Pasik menjadi semakin heran. Karena itu ia bertanya, “Kenapa tuan menaruh perhatian yang sangat besar atas orang itu?”
Sekali lagi Mahisa Agni tidak mendengarkan pertanyaan Pasik. Bahkan ia mendesaknya, “Apa yang dikatakan Kuda Sempana itu?”
Pasik tidak segera menjawab. Namun Mahisa Agni itu pun mendesaknya sekali lagi, “Apa?”
Pasik tidak dapat berbuat lain daripada menjawab pertanyaan itu, katanya, “Kuda Sempana perah dikecewakan oleh seorang gadis. Katanya, ‘Apabila aku tak dapat memetik bunga itu, maka lebih baik akan aku gugurkan saja daun-daun mahkotanya’.
Darah di dalam tubuh Mahisa Agni serasa mengalir lebih cepat. Kata-kata semacam itu pun pernah didengarnya dahulu dari mulut Kuda Sempana sendiri, meskipun tidak sejelas itu. Tetapi apa yang dikatakan itu adalah benar-benar mencemaskan hatinya.
Pasik yang melihat perubahan wajah Mahisa Agni menjadi semakin heran. Sekali lagi ia mencoba bertanya, “Mahisa Agni, apakah kau mengenal Kuda Sempana?”
“Aku pernah mendengar namanya,” jawab Mahisa Agni.
“Tetapi kau terpengaruh oleh berita yang kau dengar.”
“Setiap orang akan terpengaruh mendengar cerita itu. Bukankah itu akan merupakan pelanggaran atar sendi-sendi pergaulan. Ia akan memaksakan kehendaknya atas seorang gadis, sedang gadis itu tidak menerimanya. Apakah haknya untuk memaksa gadis itu? Apalagi orang tua gadis itu pun sama sekali tak menyetujuinya. Bahkan gadis itu dengan resmi telah dipertunangkan. Bukankah itu suatu perkosaan atas nilai-nilai kemanusiaan?”
Pasik mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba ia berkata, “Mahisa Agni kau pasti mempunyai hubungan dengan Kuda Sempana. Dari mana kau tahu bahwa gadis itu tak menerimanya?”
“Dari mana kau tahu bahwa ayah gadis itu tak menyetujuinya? Dan dari mana kau tahu bahwa gadis itu telah dipertunangkannya?”
“Oh,” Mahisa Agni terkejut mendengar pertanyaan-pertanyaan itu. Tetapi ia sudah terlanjur mengatakannya. Karena itu maka ia harus menjawabnya. Namun sesaat ia menjadi ragu-ragu. Pasik adalah orang yang jauh dari lingkungan pergaulan mereka, sehingga tak ada perlunya untuk memberitahukannya. Namun mulutnya sudah terlanjur mengucapkannya.
“Mahisa Agni,” bertanya Pasik Tiba-tiba, “apakah kau anak muda yang dipertunangkan dengan gadis itu?”
“Tidak, tidak,” cepat Mahisa Agni menjawab hampir berteriak sehingga Pasik itu pun terkejut.
Ibunya yang sedang berada di dapur pun berdiri sesaat menengok ke ruang depan. Tetapi ketika dilihatnya Pasik masih berbaring, dan di sampingnya duduk Mahisa Agni dan ayahnya, maka perempuan itu pun kembali merebus air. Sedang ayahnya yang duduk di samping Pasik itu sama sekali tidak tabu, apakah yang sebenarnya mereka percakapkan.
Bahkan Mahisa Agni sendiri pun terkejut mendengar suaranya sendiri. Namun yang lebih berpengaruh di hatinya adalah pertanyaan Pasik itu. Bukankah ia sendiri bukan laki-laki yang dipertunangkan dengan gadis itu. Bukankah gadis itu telah mempunyai seorang calon suami yang akan dapat melindunginya?
“Persetan dengan gadis itu!” katanya di dalam hati, “Bukankah Ken Dedes menjadi kewajiban Wiraprana.”
Tetapi getar di dalam dada Mahisa Agni pun menjadi semakin cepat. Betapa ia berusaha menekan perasaannya, namun kegelisahannya bahkan menjadi semakin mengganggunya. Meskipun Ken Dedes, gadis yang dikatakan oleh Kuda Sempana itu merupakan duri di dalam hatinya, namun duri itu merupakan sebagian dari seluruh keindahan dari Bunga kaki Gunung Kawi itu. Karena itu, maka jantungnya semakin lama menjadi semakin keras berdentang. Meskipun betapa pedihnya luka-luka yang tergores di hatinya karena tajamnya duri itu, namun ia tidak rela melihat seluruh keindahan Bunga kaki Gunung Kawi itu akan digugurkan.
“Pasik,” tiba-tiba Mahisa Agni itu berkata, “aku akan mohon diri.”
Pasik terkejut. Terkejut sekali sehingga tiba-tiba ia bangkit. Namun kembali terasa dadanya akan pecah, dan dengan lemahnya ia terkulai kembali.
“Jangan bergerak dahulu,” minta Mahisa Agni ketika ia melihat mulut Pasik menyeringai.
“Kenapa kau menjadi sedemikian tergesa-gesa. Apakah kau akan pergi ke tempat Kuda Sempana karena kau mendengar ceritaku?”
Mahisa Agni menggeleng. “Tidak,” jawabnya, “aku akan pergi ke rumah tetua Padukuhan Kajar.”
“Oh,” Pasik menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun bergumam, “Aku menjadi sangat terkejut. Aku sangka kau akan pergi ke rumah Kuda Sempana. Bukankah dengan demikian kau akan membunuh diri?”
Sekali lagi Mahisa Agni menggeleng. Namun terdengar ia bertanya, “Kenapa membunuh diri? Bukankah Kuda Sempana itu adik seperguruan gurumu?”
“Ya,” jawab Pasik, “tetapi penempaan yang dilakukan oleh gurunya ini merupakan penempaan yang tertinggi. Apakah dengan demikian Kuda Sempana itu tidak akan menjadi lebih dahsyat dari guruku?”
Mahisa Agni itu pun merenung. Namun akhirnya ia mengambil kesimpulan, bahwa guru Kuda Sempana itu pasti tak akan ikut terjun dalam setiap bahaya yang mengancam dirinya. Ia hanya memberikan ilmu untuk sekedar mendapat upah. Kalau upah itu telah diterimanya serta ilmu yang dibeli itu telah diberikannya, maka apapun yang akan dialami oleh muridnya adalah tanggung jawab murid-murid itu sendiri. Guru yang demikian, pasti tidak mau ikut serta melibatkan diri apabila persoalannya akan dapat membahayakan dirinya pula. Karena itu, maka ilmu diberikannya pasti ilmu yang hanya terbatas dalam tataran yang tertentu.
Karena itu, maka menurut perhitungan Mahisa Agni, murid-murid guru Bahu Reksa Kali Elo itu pasti hanya akan mendapat bagian yang sama dari ilmu gurunya itu. Kalau ada perbedaan sedikit-sedikit, maka itu pasti hanya karena kemampuan murid-murid itu sendiri. Dengan demikian, maka Mahisa Agni itu pun dapat memperhitungkan kemungkinan yang dimiliki oleh Kuda Sempana. Meskipun demikian, Mahisa Agni tidak boleh merendahkan siapa pun. Satu-satunya jalan yang terbaik, ialah mematangkan ilmunya sendiri.
Tetapi Mahisa Agni tidak boleh menunda-nunda waktu lagi. Kuda Sempana setiap saat dapat datang ke Panawijen. Adalah berbahaya sekali apabila gurunya, Empu Purwa masih juga belum pulang, sehingga dengan demikian Kuda Sempana akan dapat berbuat sesuatu yang sama sekali tak disangka-sangkanya. Meskipun demikian, betapapun saktinya Kuda Sempana, namun apakah Kuda Sempana mampu melawan kekuatan seluruh penduduk Panawijen. Sebab apabila terjadi sesuatu dengan Ken Dedes, maka seluruh penduduk Panawijen pasti akan membelanya. Tetapi kalau Kuda Sempana datang berdua atau bertiga saja, apalagi lebih, maka keadaannya pasti akan menyulitkan sekali. Maka yang segera harus dilakukan adalah pulang kembali ke Panawijen.
Mahisa Agni itu pun kemudian sekali lagi minta diri ke pada Pasik. Betapa Pasik mencoba mencegahnya, juga ayah ibunya, namun Mahisa Agni yang mencemaskan nasib padukuhannya, ternyata sudah tidak dapat menunda rencananya. Meskipun yang dikatakannya kepada Pasik, Mahisa Agni hanya akan kembali ke rumah tetua padukuhan Kajar, karena ia sudah berjanji untuk segera menyusulnya.
“Ah,” berkata Pasik, “nanti malam pun tak mengapa. Bukankah kau tidak takut kepada apapun?”
“Terima kasih Pasik. Tetapi orang tua itu nanti terlalu lama menunggu,” sahut Mahisa Agni, “nanti, besok atau kapan lagi aku akan dapat menengokmu kembali.”
Dan keluarga Pasik itu benar-benar sudah tidak dapat mencegahnya. Dengan ucapan terima kasih yang tak berhingga, maka Mahisa Agni itu pun kemudian dilepas pergi.
Mahisa Agni itu pun kemudian benar-benar singgah di rumah tetua padukuhan Kajar, tetapi hanya untuk minta diri. Kegelisahan yang menghentak-hentak dadanya tak dapat ditunda-tundanya lagi. Seolah-olah selalu didengarnya, kampung halaman di mana ia mendapatkan pendidikan dan keteguhan tabir batin, memanggilnya untuk segera pulang kembali. Orang tua, tetua padukuhan Kajar itu pun mencoba mencegahnya.
Mereka mempersilakan Mahisa Agni untuk berada di lingkungan keluarga mereka sehari atau dua hari. Apalagi anak serta menantunya, merasa bahwa Mahisa Anilah yang telah mengurungkan bencana yang akan menimpa mereka. Bencana yang akan memisahkan mereka suami istri. Namun Mahisa Agni dengan menyesal sekali menolak permintaan itu. Meskipun demikian, supaya orang tua itu tidak terlalu kecewa, maka Mahisa Agni pun menunggu sesaat, sampai nasi jagung yang mereka masak menjadi masak.
“Bawalah Ngger,” berkata orang tua itu, “Angger memerlukan bekal di perjalanan Angger yang tak tentu kapan akan berakhir.”
“Terima kasih Bapa,” jawab Mahisa Agni, “demikianlah pekerjaan seorang perantau. Dan aku senang akan pekerjaan itu.”
Mahisa Agni pun kemudian menerima bekal itu dengan senang hati. Dimasukkannya bekal itu ke dalam bungkusannya yang ditinggalkannya di rumah tetua padukuhan Kajar itu. Kemudian disangkutkannya bungkusan itu di ujung tongkat kayunya. Kembali kini Mahisa Agni berjalan dengan memanggul bungkusan kecilnya sebagai seorang perantau. Selangkah demi selangkah ia meninggalkan halaman rumah orang tua. Suami istri beserta anak menantunya mengantarkan Mahisa Agni sampai ke regol halaman rumah mereka. Dan kemudian mereka mengawasi langkah perantau yang baik hati itu sampai hilang di tikungan jalan.
Ketika Mahisa Agni sampai di mulut lorong padukuhan Kajar, sekali lagi ia berpaling. Tetapi ia tidak melihat seseorang di belakangnya. jalan itu sepi. Di sebelah tikungan di belakangnya didapatinya rumah tetua padukuhan Kajar. Dan di ujung yang lain didapatinya rumah Pasik. Dua buah rumah yang meninggalkan kenangan di hati Mahisa Agni.
Demikianlah Mahisa Agni menempuh jalan kembali ke Panawijen. jalan yang pernah dilaluinya beberapa waktu yang lampau. Namun kini perjalanan Mahisa Agni seolah-olah jauh lebih cepat daripada saat ia berangkat, ia tidak perlu mencari-cari kemungkinan untuk tidak tersesat. Dengan bekal ingatan serta pengenalannya yang baik, ia segera dapat menemukan kembali jalan yang dahulu dilewatinya. Sehingga perjalanannya kali ini hanya memerlukan waktu separuh dari waktu yang diperlukannya pada saat ia berangkat.
Hutan dan ngarai yang panjang, serta padang rumput yang luas dilewatinya dengan tergesa-gesa. Tenaga Mahisa Agni seakan-akan menjadi jauh lebih besar dari tenaganya semula. Ketangkasannya bergerak serta pernafasannya yang semakin teratur, telah menambah kecepatan perjalanannya. Meskipun demikian, apabila ia bangun di pagi-pagi hari setelah ia bermalam di cabang-cabang pepohonan, sekali-sekali diperlukannya juga memperlancar getaran-getarannya bergerak-gerak di dalam tubuhnya dalam ilmunya Gundala Sasra.
Semakin sering ia menerapkan ilmunya, maka getaran-getaran itu semakin cepat mencapai tempat-tempat yang dikehendakinya. Bahkan kemudian seakan-akan Mahisa Agni sudah tidak memerlukan lagi waktu, sejak saat ia menerapkan ilmunya itu, sampai pada penggunaannya. Apabila ia telah menyilangkan tangannya di muka dadanya, sambil memusatkan pikiran serta segenap kekuatan lahir dan batinnya, maka sesaat itu pula, ilmunya telah mapan untuk dilontarkannya lewat bidang-bidang permukaan tubuhnya yang dikehendakinya. Berkali-kali ia telah mencoba di sepanjang perjalanan itu. Batu-batu padas, batu-batu hitam dan bahkan pepohonan dan binatang-binatang buas yang menyerangnya.
Sesuai tuntunan-tuntunan yang diberikan oleh gurunya, Mahisa Agni selalu dengan tekun mencoba meningkatkan setiap kemampuan dari ilmu Gundala Sasra itu. Di sepanjang jalan dan di setiap kesempatan. Akhirnya, pada suatu pagi yang cerah, Mahisa Agni telah meninggalkan daerah-daerah hutan yang lebat, dan di mukanya membentang daerah yang subur dan ramai. Mahisa Agni telah menginjak batas jantung pemerintahan Tumapel.
Tiba-tiba saja Mahisa Agni ingin berjalan melewati kota. Sudah beberapa lama ia berada di tengah-tengah hutan yang sepi. Karena itu ia kini ingin melihat tempat-tempat yang agak ramai, meskipun tanpa sesuatu maksud tertentu. Maka Mahisa Agni itu pun segera membersihkan dirinya di sebuah kali. Ia tidak ingin masuk kota sebagai seorang yang tampaknya terlalu kotor. Dipakainya pakaiannya yang masih terlipat di dalam bungkusannya. Sehingga karena itu, maka Mahisa Agni menjadi agak bersih karenanya, setelah ia tinggal di antara rimbunnya dedaunan di hutan yang lebat, serta bekas-bekas param yang diberikan oleh gurunya untuk mencegah keracunan karena gigitan binatang-binatang serangga beracun. Ketika matahari kemudian menjadi semakin tinggi, setinggi ujung rumah-rumah joglo, maka Mahisa Agni telah masuk ke keramaian kota Tumapel.
Tetapi Tiba-tiba Mahisa Agni terkejut. Dari kejauhan ia melihat seorang anak muda yang gagah dia tas punggung kuda. Semakin lama semakin dekat. Dan hati Mahisa Agni itu pun menjadi berdebar-debar. Anak muda itu adalah Kuda Sempana. Ketika kuda itu lewat di sampingnya, Mahisa Agni mencoba melambaikan tangannya sambil tertawa.
“Kuda Sempana,” sapanya.
Kuda Sempana menarik kekang kudanya. Dipandangnya wajah Mahisa Agni dengan tajamnya. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Namun dari matanya itu memancar sinar dendam yang menyala-nyala, meskipun demikian, Mahisa Agni masih mencoba untuk tersenyum. Bahkan kemudian sekali lagi ia menyapa,
“Kuda Sempana, akan ke manakah kau sepagi ini?”
“Hem,” Kuda Sempana menggeram. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan tiba-tiba Kuda Sempana itu menggerakkan kendali kudanya, dan sesaat kemudian kuda itu telah berlari kembali di jalan-jalan kota.
Beberapa orang mengawasi Mahisa Agni. Mereka menjadi heran, apakah anak yang berkuda itu bendaranya yang sedang marah kepada budaknya. Sekali-sekali Mahisa Agni berpaling juga, dan dilihatnya wajah-wajah yang memandangnya dengan aneh. Bahkan ada di antaranya yang tersenyum-senyum dan ada pula yang menjadi iba.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kembali dikenangnya pergaulan di padukuhannya. Pergaulan yang rapat dan jujur di antara sesama. Ia menjadi sangat kecewa terhadap Kuda Sempana. Namun Mahisa Agni ini kemudian menyadarinya, bahwa Kuda Sempana masih sangat marah kepadanya, Ia tidak ingin berprasangka terhadap anak-anak muda dari kota. Tetapi ketika Mahisa Agni melangkahkan kakinya, untuk meninggalkan tempat itu, Tiba-tiba ia mendengar suara tertawa berderai tidak jauh di belakangnya, kemudian terdengar suara,
“Anak yang malang. Agaknya ia bersahabat karib dengan Kuda Sempana, pelayan dalam Akuwu Tumapel itu.”
Mula-mula Mahisa Agni tidak menghiraukan ejekan itu. Sebagai orang yang asing di kota itu, maka Mahisa Agni tak ingin mengalami perselisihan. Karena itu, kembali ia melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat yang tak menyenangkannya itu. Tetapi ketika ia baru satu langkah maju, kembali suara tertawa itu terdengar. Bahkan kemudian disusul oleh suara yang lain.
“Kenapa Kuda Sempana itu tak menjawab,” sapanya.
Berkata yang lain, “Bukankah Kuda Sempana juga anak Panawijen seperti anak itu.” Keduanya tertawa-tawa. Dan terdengar salah seorang berkata pula.
“Kuda Sempana takut kepada anak Buyut padukuhannya yang garang itu. Takut kalau anak muda yang gagah itu minta uang kepadanya.”
Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata mereka. Cepat ia dapat menebak siapakah yang telah sengaja membangkitkan kemarahannya itu. Yang menyangka bahwa dirinya adalah anak Buyut Panawijen yang bernama Wiraprana adalah Mahendra. Dan sebenarnyalah. Ketika ia berpaling, dilihatnya Mahendra berdiri di tepi jalan di samping saudara seperguruannya. Kebo Ijo. Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kedua anak itu masih tertawa berkepanjangan. Bahkan kemudian Mahendra itu melangkah maju sambil berkata,
“Selamat pagi Wiraprana yang perkasa.”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Namun ia mengangguk pula sambil menjawab, “Selamat pagi Mahendra.”
“Apa kerjamu sepagi ini di sini, Wiraprana?” bertanya Mahendra.
“Aku baru datang dari suatu perjalanan Mahendra,” jawab Mahisa Agni, “aku hanya singgah sebentar.”
Mahendra tertawa. Kemudian sambil menunjuk arah Kuda Sempana pergi, anak muda itu berkata, “Kau kenalan anak muda berkuda itu?”
Mahisa Agni mengangguk. “Ya,” jawabnya.
Mahendra masih tertawa, “Tetapi ia tidak kenal kepadamu. Sayang kalau ia segera pergi, aku ingin memperkenalkannya kepada anak Buyut Panawijen. Aku kenal baik kepadanya.”
“Terima kasih,” sahut Agni pendek.
“Barangkali kau memerlukan pekerjaan daripadanya di istana?” ejek Mahendra.
Sekali lagi Mahisa Agni menggigit bibirnya ia menyadari bahwa Mahendra sedang mencoba membangkitkan kemarahannya. Anak itu sedang mencari sebab yang memungkinkan timbulnya pertengkaran. Seperti Kuda Sempana, maka Mahendra pun agaknya mendendamnya.
“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas. Tidak disangkanya, bahwa ia akan mempunyai banyak lawan yang tak diharapkannya. Alangkah senangnya apabila hidupnya dipenuhi oleh rasa persahabatan dengan siapa pun juga. Namun ia dihadapkan pada suatu keadaan yang tak dapat disingkirkannya. Baik Kuda Sempana, maupun Mahendra seolah-olah memang dilahirkannya sebagai lawan-lawannya. Meskipun demikian, Mahisa Agni benar-benar tidak ingin berselisih di tengah-tengah kota yang ramai dan asing baginya. Maka katanya, “Sudahlah Mahendra, aku akan meneruskan perjalananku.”
“Ke mana?” bertanya Mahendra dengan nada tinggi.
“Pulang ke Panawijen.”
“Apakah kau sudah mendapat pekerjaan di kota? Menjadi juru pekatik atau apapun? Kalau belum kau dapat ikut aku. Kudaku memerlukan seorang perawat yang baik.”
Terasa dada Mahisa Agni terguncang mendengar ejekan itu. Apalagi kemudian terdengar Kebo Ijo tertawa berkepanjangan. Bahkan tidak saja Kebo Ijo, tetapi juga beberapa pemuda yang lain. Agaknya Mahendra dan Kebo Ijo berada di tempat itu bersama-sama dengan beberapa orang kawan-kawannya. Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas untuk meredakan gelora di dadanya. Ia mencoba untuk tidak menampakkan perubahan di wajahnya. Bahkan kemudian ia berkata,
“Mahendra, sebaiknya kita tidak usah bertemu di tempat ini.”
Mahendra tertawa, katanya, “Kita tidak ketemu di sini Ki Sanak. Aku tadi melihatmu di seberang jembatan. Aku sengaja mengikutimu. Ternyata kau berjumpa dengan Kuda Sempana. Aku kira kau akan minta pekerjaan kepadanya.”
“Tidak Mahendra,” jawab Mahisa Agni, “aku tidak memerlukan pekerjaan.”
Mahendra tertawa semakin keras. Kebo Ijo dan kawan-kawannya pun tertawa pula. Salah seorang dari mereka bertanya, “Siapakah anak itu sebenarnya?”
“Putra Buyut Panawijen. Wiraprana,” jawab Mahendra dengan menekankan setiap suku kata.
Kini Mahisa Agni tidak berkata-kata lagi. Dengan sudut matanya ia melihat beberapa orang muda yang berdiri di belakang Kebo Ijo. “Tujuh orang,” desisnya di dalam hati, “sembilan dengan Mahendra dan Kebo Ijo.”
Dan anak-anak muda itu tertawa berkepanjangan. “Kasihan,” berkata salah seorang daripadanya.
Mahendra yang berdiri paling dekat dengan Mahisa Agni berkata, “Wiraprana, apakah tawaranku kau terima?”
Mahisa Agni menggeram. Jawabnya, “Mahendra, apakah maksudmu sebenarnya? Kau sebenarnya tahu benar, bahwa aku sama sekali tidak sedang mencari Kuda Sempana. Kau tahu betul bahwa sikapmu itu tidak pada tempatnya. Mahendra, apakah kau sengaja memancing persoalan supaya kau mendapat alasan untuk berkelahi?”
Mahendra terdiam. Tampaklah kerut-kerut di wajahnya. Ia tidak menyangka bahwa Mahisa Agni akan berkata langsung menebak maksudnya. Tetapi sesaat kemudian Mahendra itu sudah tertawa lagi. Memang sudah disengaja olehnya, Mahisa Agni yang disangkanya Wiraprana itu, akan dibuatnya marah. Ia ingin sekali lagi mengadu tenaga. Sekarang kawan-kawannya akan menjadi saksi. Setelah beberapa bulan ia mencoba mengembangkan ilmunya, maka apabila ada kesempatan bertemu dengan Mahisa Agni, ia akan menebus kekalahannya.
Karena itu Mahendra menjawab, “Apakah kau marah Wiraprana? Jangan lekas marah. Di Tumapel, jangan kau samakan dengan padukuhan yang sepi Panawijen, meskipun kau di Panawijen menjadi putra tetua padukuhanmu, tetapi kau tidak dapat mengangkat wajahmu di Tumapel. Seorang Buyut pun apabila masuk ke kota ini harus menundukkan wajahnya. Apalagi kau, hanya anak seorang buyut. Kau tidak dapat memperlakukan anak-anak muda di sini seperti anak-anak muda di desamu. Kau, bagi kami di sini sama sekali tidak berarti.”
Mahisa Agni kini sudah pasti, bahwa sebenarnyalah Mahendra sedang memancingnya ke dalam suatu bentrokan. Karena itu, maka untuk yang terakhir kalinya ia mencoba menghindari bentrokan itu apabila mungkin. Jawabnya,
“Baik Mahendra. Baik. Aku adalah anak Panawijen. Anak dari pedesaan. Dan aku memang tidak ingin berbuat apapun di sini. Aku hanya akan lewat, seperti anak-anak desa yang lain yang tak pernah mendapat gangguan dari siapa pun apabila ia lewat di jalan kota. Sekarang biarlah aku berlalu.”
Mahendra terkejut mendengar jawaban itu. Sama sekali tak disangkanya bahwa Mahisa Agni itu tidak segera marah mendengar ejekan-ejekan yang telah dilontarkannya. Karena itu sesaat ia menjadi bingung untuk membangkitkan kemarahan anak muda itu. Ketika Mahendra melihat Mahisa Agni itu memutar tubuhnya dan melangkah pergi, maka dengan tergesa-gesa ia memanggilnya,
“Wiraprana. Jangan pergi!”
Wiraprana terhenti. Ketika ia berpaling, dilihatnya Mahendra melangkah maju mendekatinya.
“Jangan pergi!” bentak Mahendra.
“Apakah hakmu melarang aku pergi,” sahut Agni.
Mahendra menjadi bingung. Ketika ia terpaling ke arah kawan-kawannya melihat Kebo Ijo menjadi tegang. beberapa orang kawan-kawannya itu pun sudah tidak tertawa lagi. Bahkan kemudian Kebo Ijo itu berkata,
“Jangan biarkan anak itu pergi. Ia telah menghina kita.”
Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata Kebo Ijo. Tetapi sekali lagi ia merasa, bahwa apapun yang dikatakan oleh anak-anak muda itu adalah suatu kesengajaan untuk memancing persoalan. Karena itu Mahisa Agni kemudian tidak melihat lagi kemungkinan untuk meninggalkan daerah itu tanpa timbulnya suatu perselisihan. Maka kini Mahisa Agni sama sekali tidak berusaha untuk menghindar. Ia berdiri saja menunggu apapun yang akan terjadi.
Mahendra yang melihat sikap Mahisa Agni itu pun menjadi marah. Karena itu, maka ia pun tidak ingin melingkar-lingkar lagi. Ternyata Mahisa Agni tidak dapat dipancingnya untuk marah dan mendahuluinya menyerang. Dengan demikian, maka Mahendra tidak dapat menghindari tuduhan, ialah yang mulai apabila timbul perkelahian. Tetapi kini mau tidak mau ia harus mendahuluinya, sebab Mahisa Agni benar-benar dapat menguasai dirinya.
Ketika Mahendra ini sekali lagi berpaling, maka dilihatnya beberapa orang yang lewat, tertarik juga melihat ketegangan yang terjadi. Apabila semula mereka hanya melihat anak-anak muda itu tertawa-tawa, kini mereka melihat sikap-sikap yang keras dan tegang. Karena itu beberapa orang yang melihat mereka itu pun berhenti. Beberapa di antaranya saling mendekat dan berdiri di sekitar anak-anak muda itu. Beberapa orang saling berpandangan dan bertanya sesamanya,
“Apakah yang terjadi?”
Mahendra kini melangkah beberapa langkah maju. Dengan wajah yang menyala ia berdiri tegak seperti tonggak di hadapan Mahisa Agni. Seorang yang telah menjelang setengah abad, menggeleng-gelengkan kepala sambil bergumam,
“Anak-anak muda. Kerjanya tak ada lain membuat ribut saja.”
Seorang kawan Kebo Ijo yang mendengar gumam orang tua itu memandang dengan tajamnya. Dan orang tua itu menjadi ketakutan. Sambil merunduk-runduk ia berjalan pergi menjauhi pertengkaran itu. Anak-anak muda kawan Mahendra itu pun kemudian berdesakan maju di antara beberapa orang yang lain. Seorang yang berkumis tebal mencoba melerai mereka. Katanya,
“Apakah yang kalian perselisihkan?”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar