MENU

Ads

Jumat, 13 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 030

Kebo Ijo sama sekali tidak senang melihat kehadiran orang itu. Meskipun ia berkumis tebal dan bertubuh tegap, namun dengan sekali dorong orang itu terpental beberapa langkah. Dan seterusnya ia tidak berani mendekat lagi. Hanya perlahan-lahan ia berkata,

“Anak-anak muda tak ubahnya seperti kuda-kuda liar yang lepas kendali.”

Mahisa Agni mendengar beberapa orang yang menyesal atas peristiwa itu. Dan ia pun sebenarnya lebih menyesal dari mereka itu. Tetapi ia dihadapkan pada dua pilihan. Dihinakan atau mempertahankan harga diri. Dan Mahisa Agni pun ternyata bukan anak dewa-dewa yang lepas dari segala macam kesalahan, kekhilafan dan kebanggaan lahiriah. Sehingga dengan demikian, betapapun yang terjadi, Mahisa Agni tidak mau menjadi permainan anak-anak muda dari kota yang kehilangan pengekangan diri.

Mahendra kini benar-benar sudah sampai ke puncak rencananya. Sekali lagi bertempur dengan anak Panawijen itu. Meskipun ia sudah tidak akan dapat mengharapkan Ken Dedes lagi, namun setidak-tidaknya ia dapat melepaskan sakit hatinya dengan melumpuhkan Mahisa Agni. Bahkan menjadikan anak itu cacat atau apapun yang akan membuat anak Panawijen itu menyesal sepanjang hidupnya atas keberaniannya mendesak Mahendra dari arena sayembara pilih. Dengan senyum yang menyakitkan hati Mahendra itu maju setapak sambil berkata,

“Nah, Wiraprana. Apakah kata mu sekarang? Apakah kau masih akan menengadahkan wajahmu? Aku sama sekali sudah melupakan gadis kaki Gunung Kawi itu. Namun aku sama sekali tak dapat melupakan kekalahan yang pernah aku alami. Kekalahan yang tidak adil, hanya karena kakak seperguruanku menganggap aku kalah. Kini kita dihadapkan kepada saksi yang lebih banyak lagi. Apakah kau masih berkata bahwa Mahendra dapat dikalahkan oleh anak pedesaan?”

“Aku sama sekali tidak pernah mempersoalkan tentang kalah dan menang,” jawab Mahisa Agni yang telah mulai kehilangan kesabarannya, “Katakan saja, apakah maksudmu sebenarnya? Menantang aku berkelahi atau apa?”

Dada Mahendra berdesir mendengar ketegasan sikap Mahisa Agni. Namun ia pun harus bersikap setegas itu pula. Maka jawabnya, “Ya. Marilah kini buktikan kebenaran dari keseimbangan di antara kita. Kita akan yakin, sebab kita dihadapkan kepada saksi-saksi.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi ia meletakkan bungkusannya serta tongkat kayunya. Kemudian ia bersiap untuk menghadapi setiap kemungkinan. Sekali lagi dada Mahendra berdesir. Sikap Mahisa Agni benar-benar meyakinkan, seolah-olah tak ada suatu apapun yang ditakutinya. Sehingga meskipun ia dihadapkan pada suatu keadaan yang pasti tidak disangka-sangkanya, namun ia tidak kehilangan ketenangannya.

Tetapi tiba-tiba terdengar suara Kebo Ijo, “He, Wiraprana. Apakah yang ada di dalam bungkusan mu itu? Ular atau jampi-jampi?”

Kata-kata ini disusul oleh derai suara tertawa dari beberapa orang kawannya. Alangkah sakit hati Mahisa Agni. Ketika ia melihat Mahendra tertawa pula, maka berkatalah Agni dengan lantangnya,

“Ayo Mahendra, apakah yang sebenarnya kau kehendaki?”

Mahendra berhenti tertawa. Dengan tajam ia memandang wajah Mahisa Agni yang telah mulai menjadi kemerah-merahan. Bahkan Mahisa Agni itu kemudian berkata,

“Mumpung hari masih pagi. Aku akan segera meneruskan per jalanan.”

“Jangan mengigau!” bentak Mahendra, “Kau sangka kau berhadapan dengan seekor tikus?”

“Aku berhadapan dengan seorang manusia. Karena itu, maka ia pun akan berlaku sopan dan menghargai orang lain.”

Bukan main marahnya Mahendra mendengar sindiran itu. Kini ia sudah siap dengan setiap kemungkinan. Ketika Mahendra itu bergeser setapak ke samping, maka kaki Mahisa Agni pun segera merenggang.

“Hem,” geram Mahendra, “kau yakin akan dirimu Wiraprana. Tetapi sebentar lagi kau akan menyesal.”

“Aku menyesal sejak semula ketika aku sadari, bahwa pertemuan ini tidak bermanfaat sama sekali,” sahut Agni.

“Diam!” bentak Mahendra. Kemudian katanya, “mulutmu setajam bisa ular. Ayo, minta maaf kepadaku.”

Mahisa Agni pun anak muda semuda Mahendra. Karena itu darahnya pun masih hangat-hangat panas. Ketika ia sudah tidak berhasil menahan diri lagi, maka ia pun menjawab,



“Aku sudah bersiap untuk mempertahankan harga diriku, bukan untuk menyembahmu.”

Jawaban itu seakan-akan membakar telinga Mahendra. Karena itu tiba-tiba ia berteriak nyaring. Dengan satu loncatan, maka Mahendra menyerang Mahisa Agni dengan dahsyatnya. Tangannya terjulur lurus mengarah dada lawannya. Kecepatan gerak Mahendra benar-benar mengagumkan. Namun Mahisa Agni benar-benar telah bersiap. Karena itu dengan kecepatan yang sama, ia segera mencondongkan tubuhnya sehingga seakan-akan tangan Mahendra yang terjulur itu terhenti beberapa cengkang saja di muka dadanya.

Tetapi Mahendra tidak membiarkan kegagalan itu. cepat ia meloncat sekali lagi. Kali ini kakinya berputar setengah lingkaran pada tumitnya, dan kakinya yang lain menyambar lambung Mahisa Agni. Namun sekali lagi Mahisa Agni dengan lincahnya, meloncat ke samping menghindari kaki lawannya. Bahkan dengan cepat, Mahisa Agni berhasil menyentuh kaki itu dengan telapak tangannya, sehingga Mahendra terdorong selangkah ke samping.

Mahendra terkejut mengalami kegagalan yang berulang itu. Ia merasa seakan-akan ilmunya sudah jauh meningkat sejak beberapa bulan yang lampau. Tetapi ia masih gagal dalam serangannya berganda atas lawannya. Karena itu, maka kemarahannya menjadi semakin menyala. Apalagi kini beberapa orang kawannya menyaksikan perkelahian itu. Sehingga setiap kegagalan yang dialaminya, pasti akan menyebabkan kawan-kawannya itu menjadi kecewa. Mereka menganggap bahwa di antara mereka Mahendra adalah seorang anak muda yang pilih tading. Sehingga tidak ada di antara mereka yang berani melawannya.

Mahendra kali ini ingin memamerkan kepada kawan-kawannya. bahwa sebenarnya ia memiliki ilmu yang tak dapat diabaikan. Karena itu, maka sengaja dipancingnya persoalan atas Mahisa Agni itu. Dengan demikian, maka Mahendra itu pun kemudian menyerang lawannya kembali. Bertubi-tubi seperti angin ribut melanda ujung-ujung pepohonan. Tetapi ternyata lawannya kali ini sangat mengejutkannya. Mahisa Agni mampu bertahan sekokoh batu karang. Betapa angin melandanya, namun ia tetap tegak di tempatnya tanpa tergeser seujung rambut pun.

Namun Mahendra pun kemudian mengerahkan segenap kemampuannya. Tangannya bergerak-gerak dengan tangkasnya, menyambar-nyambar seperti ujung cambuk yang mematuk-matuk. Sepasang tangan itu seakan-akan berubah menjadi sepuluh, bahkan ratusan pasang tangan yang menyambar dari segala arah. Namun Mahisa Agni dapat pula bergerak selincah burung sikatan. Tubuhnya melontar seperti bayangan melingkar, kemudian menyambar seperti burung rajawali. Namun kemudian menyerbu dengan dahsyat, sedahsyat banteng jantan.

Maka perkelahian itu pun semakin lama semakin menjadi sengit. Dan orang-orang pun semakin lama semakin banyak berkerumun di sekitar perkelahian itu. Beberapa orang perempuan berteriak-teriak, dan beberapa orang laki-laki mencoba bertanya-tanya, apakah sebab dari perkelahian itu. Tetapi tak seorang pun yang mendapat jawabnya. Kawan-kawan Mahendra melihat pertempuran itu dengan tegangnya. Kebo Ijo bahkan ikut meloncat ke sana kemari, seakan-akan ikut terputar bersama gerakan-gerakan mereka yang berkelahi itu.

Di panas yang semakin lama semakin terik, di tepi jalan kota jantung pemerintahan Tumapel itu, terjadi pergulatan yang semakin lama menjadi semakin seru. Beberapa orang yang menyaksikan perkelahian itu mengenal, bahwa salah seorang dari mereka adalah Mahendra, tetapi siapa yang seorang.

Seorang anak muda yang bertubuh tinggi kekar mendesak maju mendekati Kebo Ijo. Digamitnya Kebo Ijo sambil bertanya, “Dengan siapakah Mahendra itu berkelahi?”

Kebo Ijo berpaling. Ketika dilihatnya orang bertubuh tinggi itu, ia terkejut. Tetapi kemudian ia menjawab, “Dengan anak Panawijen. Wiraprana.”

“Apakah sebabnya?”

“Anak itu menghina kami. Anak-anak muda Tumapel.”

“He?” bertanya orang bertubuh kekar itu, “ia menghina kita?”

“Ya.”

“Apa katanya?”

Kebo Ijo tidak segera dapat menjawab pertanyaan itu. Karena ia katanya, “Aku tidak jelas. Mahendra yang mendengarnya, dan karena itu ia marah kepada anak Panawijen itu.”

“Hem,” geram orang yang bertubuh kekar itu, “kenapa lehernya tidak dipatahkannya saja.”

Kebo Ijo sekali lagi berpaling. Ia tersenyum di dalam hati. Orang yang tinggi besar itu adalah seorang prajurit pengawal Akuwu Tumapel. Maka katanya untuk membakar hati prajurit itu,

“Kaulah yang berhak memutar lehernya.”

Tetapi prajurit itu mengerutkan keningnya. Kemudian sekali lagi ia menggeram, “Aku tidak bersangkut paut dengannya.”

“Kenapa? Apakah kau tidak terhina pula?”

“Anak itu anak Panawijen seperti Kuda Sempana, pelayan dalam Akuwu. Aku tidak mau berselisih dengan anak muda itu.”

Kebo Ijo tertawa pendek. Katanya, “Kuda Sempana tidak mengenalnya.”

Prajurit pengawal Akuwu Tumapel itu mengerutkan keningnya..”Aneh,” pikirnya. Tetapi ia tidak bertanya. Kini ia memperhatikan perkelahian itu.

Mahendra agaknya telah mengerahkan segenap tenaganya, namun ia nama sekali tidak dapat menguasai keadaan. Bahkan kemudian tampaklah kelebihan-kelebihan yang mengagumkan dari lawannya itu. Kelincahan dan ketangguhannya. Bahkan kekuatannya pun melampaui kekuatan Mahendra.

Dan sebenarnyalah Mahisa Agni telah meloncat lebih jauh dari lawannya itu. Meskipun selama ini Mahendra telah berhasil meningkatkan ilmunya, namun kecepatan Mahisa Agni dalam olah kanuragan jauh lebih pesat daripadanya. Sehingga dengan demikian jarak dari keduanya menjadi semakin jauh.

Orang yang tinggi besar itu menjadi heran. Mahendra adalah anak muda yang pilih tanding. Tetapi kini, berhadapan dengan anak yang datang dari pedesaan, agaknya ia mengalami kesulitan-kesulitan. Prajurit itu menarik nafas. Seorang-seorang ia tidak lebih dari Mahendra. Tetapi bukankah ia prajurit pengawal Akuwu yang mempunyai lingkungan yang cukup banyak. Bahkan di antara mereka, pemimpinnya adalah seorang yang pasti melampaui keunggulan Mahendra, yaitu kakak seperguruannya, Witantra.

Maka prajurit itu pun menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia melihat bahwa Mahendra tidak segera dapat mengatasi keadaan, bahkan semakin lama tampaknya semakin terdesak, maka prajurit itu pun segera melangkah pergi, menerobos di antara para penonton yang semakin lama semakin berjejal-jejal.

“Anak itu harus mendapat sedikit pelajaran,” gumamnya sepanjang jalan.

Dengan tergesa-gesa ia pergi ke rumah Witantra. Ia ingin mendapatkan pujian darinya. Namun dengan menyesal ia tidak menemuinya di rumah. Maka, karena itu segera ia pergi ke barak penjagaan prajurit pengawal Akuwu Tumapel. Namun di sana Witantra itu pun tak ditemuinya. Ia takut terlambat karenanya. Sehingga akhirnya ia ingin bertindak sendiri. Dengan beberapa orang kawannya, prajurit yang bertubuh tinggi tegap itu pergi ke tempat Mahendra berkelahi melawan Mahisa Agni.

Sementara itu, pertempuran antara Mahendra dan Mahisa Agni masih berlangsung terus. Mahendra benar-benar telah kehilangan pengamatan diri. Kalau mula-mula ia hanya ingin menunjukkan kemampuannya yang telah bertambah-tambah, serta membuat Mahisa Agni menyesali diri atas keberaniannya bersaing dengan Mahendra, maka kemudian Mahendra telah melupakan segala-galanya. Ia telah sampai pada puncak kemarahannya. Bertempur antara hidup dan mati.

Sedang Mahisa Agni justru bersikap lain. Ketika ia telah dapat menjajaki kekuatan lawannya, maka ia menjadi bertambah tenang. Ternyata ilmunya telah meloncat sedemikian jauhnya, sehingga Mahendra sebenarnya bukanlah lawan yang dapat memancarkan keringat. Kalau kemudian ia bertempur, maka sebenarnya ia tidak lebih daripada melayani lawannya. Hanya sekali-sekali ia memberi tekanan-tekanan yang berat, supaya Mahendra cepat menjadi lelah dan berhenti dengan sendirinya. Tetapi ternyata Mahendra pun mempunyai tenaga yang kuat. Betapa ia terdesak, namun ia masih juga berjuang sekuat tenaganya. Bahkan geraknya masih nampak garang, dan serangan-serangannya tetap berbahaya.

Namun demikian, betapa kecemasan merayapi dadanya. Anak muda itu benar-benar menjadi heran. Apakah Mahisa Agni itu anak gendruwo.? Mahendra yang merasa bahwa ilmunya telah meningkat, namun Mahisa Agni itu masih belum dapat dikalahkan. Bahkan semakin lama tandangnya menjadi semakin mantap dan serangan-serangannya menjadi semakin dahsyat.

Tetapi Mahendra tidak mau menunjukkan kekurangannya di hadapan kawan-kawannya. Ia harus dapat mengalahkan lawannya supaya namanya tetap dikagumi oleh kawan-kawannya itu. Karena itu maka diperasnya tenaganya habis-habisan. Geraknya menjadi semakin cepat, secepat burung seriti menari-nari di udara, selincah anak kijang berkejar-kejaran di padang rumput. Tubuhnya melontar-lontar dengan cepatnya, berputar dan melibat lawannya seperti angin pusaran.

Namun Mahisa Agni sama sekali tidak menjadi bingung karenanya. Dengan tenangnya ia melawan serangan angin pusaran yang melibat dirinya dari segala arah itu. Seperti gunung anakan, ia tegak menghadapi badai yang betapapun kencangnya.

Mahendra semakin lama menjadi semakin cemas. Mahisa Agni benar-benar sekukuh batu karang. Sekali-kali terasa bahwa tenaganya menjadi semakin susut, sedang lawannya masih belum juga mampu dikuasainya. Malahan Mahisa Agni itu sekali-sekali menekannya dan memaksanya untuk meloncat mundur dan mundur.

Kebo Ijo yang mengikuti perkelahian itu dengan seksama menjadi heran. Kakak seperguruannya ternyata telah benar-benar mengerahkan ilmunya. Namun agaknya lawannya itu benar-benar seperti asap yang tak dapat disentuh tangan. Dari perkelahian itu Kebo Ijo pun dapat menilai, bahwa sebenarnya ilmu Mahisa Agni yang disangkanya Wiraprana itu benar-benar melampaui ilmu kakaknya. Karena itu, maka, Kebo Ijo pun menjadi bingung. Ia tidak mau melihat seandainya kakak seperguruannya itu dikalahkan. Tetapi ia tidak dapat terjun membantunya. Apabila demikian, dan kakak seperguruan mereka yang lebih tua, Witantra, mendengarnya, maka akibatnya akan tidak menyenangkan sekali. Namun demikian ia mempunyai satu harapan lagi. Kawannya, prajurit yang bertubuh tinggi kekar, datang kembali bersama kakak seperguruannya itu. Mahendra, dirinya dan beberapa kawannya akan dapat dijadikan saksi, bahwa Mahisa Agni telah menghina mereka. Mudah-mudahan kakaknya mempercayainya dan merasa terhina pula.

Demikianlah perkelahian itu semakin lama semakin nampak, bahwa kekuatan Mahendra menjadi semakin berkurang. Sehingga akhirnya Mahendra menjadi hampir berputus asa, dan bertempur tanpa kendali. Ia menyerang dengan garangnya dan dengan penuh kegelisahan. Namun serangan-serangan itu seperti angin yang lewat di antara batu-batu karang yang kokoh kuat. Lewat, tanpa kesan dan tanpa meninggalkan bekas.

Tiba-tiba, beberapa orang yang menonton perkelahian itu terkejut ketika mereka mendengar beberapa bunyi cambuk berledakan di belakang mereka. Ketika mereka berpaling, mereka melihat beberapa orang prajurit pengawal Akuwu berada di sekitar mereka. Karena itu dengan gugupnya mereka berpencaran dan berlarian menjauh. Seorang yang berperawakan tinggi tegap berdada bidang setegap kawan Kebo Ijo, namun tidak berkumis, segera tampil ke depan. Dengan cambuk di tangan ia berteriak lantang,

“Berhenti!”

Mahendra segera meloncat mundur. Dan Mahisa Agni pun tidak mengejarnya, sehingga perkelahian itu pun berhenti.

“Kenapa kalian berkelahi?” bertanya orang yang tinggi besar itu.

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Persoalan ini akan menjadi semakin berlarut-larut. Ia tergesa-gesa pulang ke Panawijen karena kegelisahannya atas nasib padukuhannya dan nasib Ken Dedes, tetapi tiba-tiba ia akan terpaksa berhenti beberapa lama di Tumapel.

Yang mula-mula menjawab adalah Mahendra. “Bertanyalah kepada mereka yang melihat persoalan ini dari permulaan,” katanya sambil menunjuk Kebo Ijo dan beberapa anak muda yang lain.

Kebo Ijo kemudian melangkah selangkah maju. Meski pun ia belum begitu mengenal prajurit itu, namun ia pernah melihatnya sekali dua kali. Kemudian katanya, “Anak itu menghina kami, Kakang.”

Orang itu mengerutkan alisnya. Kemudian ia bertanya pula, “Apakah yang sudah dilakukan?”

Kebo Ijo berpaling kepada Mahendra. Ia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu. Mahendra pun kemudian mengerutkan keningnya. Setelah berpikir sejenak ia berkata,

“Anak Panawijen ini menganggap kami, anak-anak muda Tumapel sebagai anak-anak liar. Apakah demikian keadaan kami?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Mahendra akan sampai hati berkata demikian atas dirinya. Ia tidak menyangka bahwa Mahendra dapat melakukan fitnah. Alangkah mengherankan. Dan bahkan hampir tak masuk di akalnya. Sebenarnya Mahendra sendiri terkejut mendengar kata-katanya itu. Namun ia tidak dapat berbuat lain. Semula sesekali memang tidak terkandung maksud untuk melakukan perbuatan itu, tetapi ia dihadapkan pada peristiwa yang sama sekali tak diperhitungkannya.

Maksudnya mula-mula hanyalah untuk menghinakan Mahisa Agni. Menebus sakit hatinya atas kekalahan yang pernah dialaminya. Namun tanpa diduganya, ternyata ia sama sekali tidak mampu untuk melakukan pembalasan dendam itu. Bahkan sekali lagi ia dikalahkan. Karena itu, ketika ia dihadapkan pada pertanyaan yang tiba-tiba itu, maka dijawabnya tanpa mempertimbangkan baik dan buruknya.

Prajurit itu, yang bertubuh tinggi tegap dan berdada bidang, dengan cemeti di tangannya, mengerutkan keningnya. Dipandangnya Mahisa Agni dari ujung rambut sampai ke ujung hatinya. Kemudian dipandanginya Mahendra dengan tajamnya. Kepada Mahendra prajurit itu pernah melihatnya sekali dua kali. Dan pernah dikenalnya pula namanya.

Suasana di sekitar tempat itu menjadi sepi tegang. Semua mata tertancap kepada prajurit yang memegang cambuk itu. Ketika kakinya bergeser setapak, tiba-tiba saja Mahisa Agni pun menggeser kakinya. Namun Prajurit itu tidak berbuat apa-apa. Ia menjadi bimbang. Pernah didengarnya nama Mahendra sebagai seorang arak muda yang perkasa. Dikenalnya nama itu sebagai adik seperguruan pemimpinnya.

Tiba-tiba terdengarlah suara prajurit itu parau,” He, anak muda, siapakah namamu?” Mahisa Agni menjadi ragu-ragu sejenak. Mahendra, Kebo Ijo mengenalnya sebagai Wiraprana, putra Buyut Panawijen. Karena Mahisa Agni masih belum menjawab, maka prajurit itu membentaknya, “He siapakah namamu?”

“Wiraprana,” jawab Agni gemetar.

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Sekali lagi ia berpaling kepada Mahendra, dan sekali lagi ia bertanya, “Apa yang dikatakan tentang kalian?”

Kini Mahendra menjadi ragu-ragu. Ia malu untuk mengurungkan tuduhannya. Namun yang menyahut Kebo Ijo, “Ia menganggap kami, anak-anak muda Tumapel sebagai anak yang liar. Bukankah itu suatu penghinaan?”

Prajurit itu mengangkat alisnya. Dalam waktu singkat ia mampu membuat perhitungan. Mahendra adalah anak yang memiliki ilmu tata bela diri tinggi. Namun sudah lama anak muda dari Panawijen itu tak dapat dikalahkan. Dengan demikian, maka anak muda itu setidak-tidaknya memiliki ilmu setingkat dengan Mahendra. Jawaban prajurit itu kemudian benar-benar mengejutkan Kebo Ijo dan kawan-kawannya, katanya,

“Hem. Aku sangka kata-kata anak muda itu tidak terlalu salah.”

“Apa?” teriak Kebo Ijo, “Kau berkata sebenarnya?”

Prajurit itu mengangguk. Sahutnya, “Aku menganggap bahwa kata-katanya tidak terlalu salah. Anak ini datang dari pedesaan. Apakah kau sangka bahwa ia berani berbuat sesuatu kalau kalian tidak memulainya?”

Wajah Kebo Ijo, Mahendra dan anak-anak muda yang lain menjadi merah padam Sehingga Kebo Ijo kemudian berteriak lantang, “Jadi kau membenarkan binatan itu?”

Prajurit itu menggeleng, katanya, “Aku tidak membenarkan suatu penghinaan dari siapa pun untuk siapa pun. Namun aku ragu-ragu akan kebenaran kata-katamu.”

“Kami menjadi saksi,” sahut salah seorang anak muda kawan Kebo Ijo, “dan kalian dapat bertindak atasnya.”

“Anak ini anak Panawijen,” berkata Prajurit itu, “aku tidak mau berselisih dengan anak-anak Panawijen yang tinggal juga di dalam istana.”

“Kuda Sempana?” sahut Mahendra. Prajurit itu mengangguk. “Kuda Sempana tak mengenal anak ini. Baru saja Kuda Sempana lewat berkuda di jalan ini, dan ia memandang anak ini seperti memandang hantu.”

Prajurit itu kini benar-benar mengerutkan dahinya. Sejenak ia berpikir. Dan sekali lagi kata-katanya mengejutkan, “Aku sangka anak-anak pedesaan lebih bersikap jujur dari kalian. Biarlah aku bertanya kepadanya.”

“Bohong!” sahut Kebo Ijo sambil melangkah maju. Wajahnya yang merah menyala menunjukkan kemarahannya. Sebenarnya Kebo Ijo adalah anak yang berani. Seandainya Mahendra tidak menggamitnya maka prajurit itu pasti sudah ditantangnya berkelahi. Namun meskipun demikian ia masih berkata, “Anak-anak pedesaan adalah anak-anak muda yang licik.”

Tetapi jawab prajurit itu tegas, “Aku adalah anak pedesaan.”

Wajah Kebo Ijo menjadi semakin merah karenanya. Dan karena itu maka justru ia terdiam. Namun terdengar giginya gemeretak menahan kemarahannya yang telah memuncak. Sedang Mahendra pun menjadi marah pula. Diamat-amatinya prajurit itu dengan seksama. Katanya di dalam hati,

“Suatu ketika kita akan membuat perhitungan.”

Tetapi Prajurit itu bukan seorang penakut. Karena itu dengan lantang ia bertanya kepada Mahisa Agni, “Wiraprana, apakah kata-kata mereka itu benar?”

Mahisa Agni menggeleng. “Tidak!” sahutnya.

Prajurit itu menarik nafas. Kemudian kepada Mahendra ia berkata, “Kau dengar?”

Dari mata Mahendra telah menyala kemarahan yang tiada taranya. Namun sebelum ia menjawab, maka prajurit kawan Kebo Ijo maju selangkah. Tubuhnya tidak kalah garangnya dengan prajurit yang bercemeti itu. Dengan wajah yang tegang ia berkata lantang,

“Aku anak muda Tumapel. Anak-anak muda Tumapel bukan anak-anak muda yang liar.”

Prajurit yang bercemeti itu terkejut. Tak disangkanya sama sekali kalau seorang kawannya tiba-tiba telah berbuat demikian. Karena itu ia mencoba membetulkan kata-katanya,

“Tidak semua anak-anak muda dari kota Tumapel berbuat demikian. Tetapi apakah kau tidak kenal sebagian dari anak-anak muda ini?”

Prajurit kawan Kebo Ijo itu menjawab, “Aku kenal mereka. Mereka adalah kawan-kawan ku.”

“Nah,” sahut prajurit itu, “kalau demikian kau pasti sudah tahu, apa saja yang sudah mereka lakukan.”

“Mungkin mereka sering melakukan kenakalan-kenakalan anak-anak. Tetapi kami, anak-anak muda dari Tumapel tidak mau dihinakan.”

Prajurit bercemeti itu menggigit bibirnya. Namun kemudian katanya, “Marilah kita lihat, siapakah yang sebenarnya bersalah. Jangan bertanya kepada mereka, dan jangan bertanya kepada anak Panawijen itu.”

“Hanya akan membuang-buang waktu,” sahut prajurit kawan Kebo Ijo, “anak itu harus ditangkap. Biarlah ia tahu, bahwa seseorang tidak boleh melakukan penghinaan.”

Prajurit bercemeti itu menjadi bingung. Ditatapnya beberapa wajah yang ada di sekitarnya. Kemudian katanya berbisik, “Terserahlah kepadamu. Semuanya ini bukan tanggung jawabku. Aku tidak mau ikut serta. Sebab kau sudah berpihak. Kalau aku kemudian berpihak pula, maka kita tidak akan dapat menegakkan peraturan-peraturan yang berlaku. Kita akan ditelan oleh perasaan kita sendiri-sendiri. Dan kita akan melihat kebenaran dari pihak kita masing-masing. Karena itu, aku lebih baik tidak berbuat sesuatu. Supaya kita tidak saling bertengkar sesama kita di hadapan orang banyak.”

Kawannya itu tidak menjawab. Tetapi ia merasa bahwa kawannya yang bercemeti itu segan kepadanya. Karena itu, maka ia pun melangkah maju sambil berkata lantang,

“Wiraprana, kau aku tangkap!”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Dilihatnya beberapa orang prajurit yang lain maju pula. Mereka adalah kawan-kawan prajurit yang akan menangkap Agni itu. Sedang prajurit yang bercemeti itu masih berdiri di tempatnya. Tetapi ia kini berdam diri. Dengan penuh kesadaran ia lebih baik tidak ikut campur dalam persoalan ini supaya tidak menimbulkan kesan yang jelek bagi orang-orang yang melihat, bahwa di antara para prajurit itu timbul pendapat yang berbeda-beda tentang masalah yang sama.

Sedang kawan Kebo Ijo itu melihat kemungkinan-kemungkinan yang akan dapat menyenangkannya. Orang itu akan diserahkannya kepada Witantra, kakak seperguruan Mahendra. Pasti orang itu akan memujinya dan seterusnya biarlah Mahendra yang mengatakan, apa yang sudah dilakukan oleh anak Panawijen itu.

Tetapi Mahisa Agni sudah mendapat ketetapan hati. Ketika ia melihat bahwa tidak semua prajurit dengan membabi buta menelan saja pengaduan yang sama sekali tidak benar itu, ia menjadi tenang. Karena itu, maka ia bertekad untuk menurut saja, apa yang akan dilakukan oleh prajurit-prajurit itu. Ketika sekali lagi ia mendengar prajurit itu berkata kepadanya, maka jawab Mahisa Agni,

“Baiklah. Aku tidak akan melawan kalian, sebab kalian adalah prajurit-prajurit Tumapel.”

“Jangan banyak mulut,” bentak prajurit kawan Kebo Ijo itu sambil menarik lengan Mahisa Agni. Tetapi prajurit itu terkejut Mahisa Agni itu sama sekali tak dapat digesernya walaupun setapak.

Karena itu maka wajahnya tiba-tiba menjadi merah. “Jangan melawan!” bentaknya.

“Tidak,” sahut Mahisa Agni, “aku tidak akan melawan. Tetapi aku sudah dapat berjalan sendiri.”

“Setan!” desis prajurit itu.

Mahisa Agni itu pun kemudian sama sekali tidak melawan ketika ia dibawa oleh para prajurit itu ke barak mereka. Mahendra, Kebo Ijo dan beberapa orang yang lain ikut pula beramai-ramai di belakang para prajurit itu. Sekali-kali terdengar mereka berteriak-teriak. Kebo Ijo benar-benar tak dapat menguasai luapan perasaannya sehingga kata-katanya semakin lama menjadi semakin kotor. Tetapi sekali-kali Mahendra membentaknya pula,

“Kebo Ijo, jangan berteriak-teriak!”

“Biarlah ia jera. Untuk lain kali ia tidak berani menghina kita lagi, Kakang.”

Mahendra mengerutkan keningnya. Namun terasa sesuatu berdesir di dadanya. Dengan tanpa disengaja Kebo Ijo telah memperingatkan akan kesalahannya, sehingga perlahan-lahan ia berdesis,

“Apakah benar Wiraprana menghina kita Kebo Ijo?”

Kebo Ijo itu terdiam. Tetapi kebenciannya kepada Mahisa Agni yang disangkanya Wiraprana itu melampaui Mahendra. Sedang Mahendra sendiri tiba-tiba menjadi malu atas perbuatannya. Namun semuanya telah terlanjur. Dan ia kini tinggal mempertahankan ketelanjurannya itu. Sekali ia berdusta, maka ia akan berbuat serupa terus menerus untuk mempertahankan kedustaannya itu.

Iring-iringan itu berjalan semakin lama semakin panjang. Beberapa orang yang melihat mereka bertanya di antara sesama. Anak-anak muda yang lain pun ikut serta di antara kawan-kawannya, sedang mereka yang sebenarnya anak-anak nakal, seakan-akan mendapat suatu permainan. Tetapi sekali-kali prajurit yang bercemeti, yang berjalan di paling belakang, membentak mereka, dan mengusir mereka itu pergi.

Mahendra yang berjalan di belakang prajurit bercemeti itu menundukkan wajahnya. Ia menyesal akan sikapnya. Lebih baik ia menerima kekalahan yang dialaminya daripada menjerumuskan dirinya dalam suatu sikap yang memalukan itu.

“Hem,” Mahendra menarik nafas dalam-dalam. “Sudah terlanjur,” gumamnya berkali-kali.

Tetapi berbeda sekali dengan sikap Kebo Ijo. Bahkan anak itu meloncat ke sana kemari, membisiki kawan-kawannya yang baru saja mereka temui di perjalanan itu. Mereka yang mendengar ceritanya dengan serta-merta tertawa tergelak-gelak. Ada juga di antara mereka yang dengan sengaja bertanya dengan suara keras-keras, supaya Mahisa Agni mendengarnya. Namun mereka itu terdiam apabila mereka mendengar meledaknya cambuk dari prajurit yang bertubuh kekar itu. Bahkan sekali-sekali didorongnya beberapa anak muda sampai jatuh berguling. Namun setiap kali ia hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

Tiba-tiba iring-iringan itu terkejut, ketika mendengar derap kuda berlari. Kemudian muncullah dari tikungan jalan di depan mereka, dua orang berkuda kencang-kencang ke arah iring-iringan itu. Ketika prajurit kawan Kebo Ijo melihat orang berkuda itu, maka ia pun tersenyum. Kepada Mahisa Agni ia berkata,

“Itulah pemimpin kami. Kau akan dihadapkan kepadanya.”

Mahisa Agni pun terkejut melihat orang itu. Ia pernah melihatnya. Meskipun pada waktu itu di dalam gelapnya malam, namun ia masih cukup dapat mengenalnya. Orang itu adalah kakak seperguruan Mahendra. Demikian kuda itu sampai di hadapan mereka, maka Witantra, penunggang kuda itu, segera menarik kekang kudanya sambil berkata lantang,

“Aku dengar, kau bertengkar Mahendra?”

Mahendra mengangguk. Tetapi sebelum ia menyahut, terdengar Kebo Ijo berkata, “Itulah Kakang. Anak Panawijen yang barangkali telah Kakang kenal. Ternyata ia masih merindukan kemenangan yang pernah dilakukan. Ketika ia bertemu dengan Kakang Mahendra, maka dengan serta-merta ia menghinanya. Tetapi ternyata bahwa Kakang Mahendra bukanlah Kakang Mahendra beberapa bulan yang lalu. Untunglah bahwa beberapa orang prajurit sempat melerainya, dan membawa anak itu kepada Kakang. Kalau tidak entahlah, apa yang akan dilakukan oleh Kakang Mahendra atasnya.”

Sekali lagi Mahisa Agni heran mendengar pengaduan itu. Apakah sebabnya maka Kebo Ijo itu sedemikian mendendamnya? Witantra pun ternyata terkejut sekali melihat Mahisa Agni, sehingga tanpa sesadarnya ia berkata,

“Apakah kau Wiraprana?”

Mahisa Agni mengangguk. “Ya,” jawabnya.

Witantra memandangnya dengan kecewa. Sama sekali tak disangkanya bahwa anak Panawijen itu dapat berlaku sombong. Karena itu ia bertanya kepada Mahendra,

“Apakah kata-kata adikmu Kebo Ijo itu benar?”

Mahendra ragu-ragu sejenak. Tetapi ia harus menjawab. Karena itu ia tidak dapat berbuat lain, selain menganggukkan kepalanya. Witantra itu menarik nafas panjang. Mula-mula ia mengagumi Mahisa Agni itu, ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya. Namun kini ia menjadi kecewa, kenapa anak itu dapat menyombongkan dirinya. Bahkan kemudian didengarnya seorang anak muda berkata,

“Ia tidak saja menghina Kakang Mahendra, tetapi ia menghina kami. Disebutnya anak-anak muda Tumapel sebagai anak-anak yang liar. Karena itu kami marah pula karenanya.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia pun berkata lantang, “Bawa ia ke rumahku.”

Mahisa Agni masih mencoba untuk menjelaskan persoalannya. Namun ia tidak mendapat kesempatan lagi. Witantra segera menarik kekang kudanya dan berlari meninggalkan mereka bersama seorang kawannya.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar