MENU

Ads

Sabtu, 14 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 031

PdLS-07
PRAJURIT KAWAN KEBO IJO itu tertawa. Ketika debu yang dihambur-hamburkan oleh kuda-kuda itu telah hilang bersama hilangnya Witantra di belakang tikungan, berkatalah prajurit itu,

“Witantra adalah seorang prajurit yang tidak saja tegas dalam setiap tindakan, namun ia adalah kakak seperguruan Mahendra. Kau lihat, bahwa tangan-tangannya yang besar itu pasti akan mampu memutar lehermu sampai patah.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi kini sampailah gilirannya untuk menjadi kecewa. Dikaguminya kejantanan kakak seperguruan Mahendra itu dahulu, ketika Kebo Ijo berbuat curang. Namun tiba-tiba kini demikian saja ia mempercayai segala cerita-cerita kosong itu. Meskipun demikian, belum juga timbul maksudnya untuk berbuat sesuatu. Dibiarkannya prajurit yang tinggi besar itu mendorongnya terus. Tetapi ketika ia melihat prajurit yang membawa cemeti masih berjalan di belakangnya, maka Mahisa Agni tersenyum di dalam hati. Masih juga dilihatnya di antara orang-orang yang terlalu bernafsu untuk kemenangan sendiri itu, orang-orang yang dapat berpikir tenang.

Perjalanan mereka semakin lama semakin desak pula dengan rumah Witantra. Kebo Ijo semakin lama menjadi semakin gembira. Ia menyangka, bahwa kakak seperguruannya akan menyelesaikan masalah ini dengan sebaik-baiknya. Mudah-mudahan Kakang Witantra marah pula kepada Wiraprana. Apabila demikian, maka Wiraprana itu pasti akan ditantangnya berkelahi. Seorang lawan seorang, Seperti juga kebiasaan Kakang Witantra menghadapi lawan-lawannya.

Tetapi Kebo Ijo itu heran melihat Mahendra berjalan sambil menunduk. Berbeda dengan Kebo Ijo, maka Mahendra itu menjadi gelisah. Katanya di dalam hati,

“Bagaimanakah nanti akibatnya, kalau kakak seperguruannya itu menyuruh untuk menyelesaikan perkelahian di hadapannya? Mudah-mudahan para prajurit itu menuntut Mahisa Agni dalam persoalan yang lain. Penghinaan, misalnya. Atau membuat gaduh di dalam kota. Atau apapun yang harus ditindak oleh para petugas.”

Akhirnya sampai juga mereka di halaman rumah Witantra itu. Beberapa prajurit segera menahan orang-orang lain untuk tidak masuk ke dalam halaman yang luas itu. Hanya beberapa orang yang dapat dianggap sebagai saksi sajalah yang mereka diperbolehkan masuk di samping Mahisa Agni dan Mahendra Sendiri.

Witantra sedang duduk di atas sebuah amben kayu di dalam rumahnya. Ketika ia melihat beberapa orang masuk ke pekarangan segera ia berdiri dan menyambut mereka di pintu.

Kepada prajurit yang membawa Wiraprana ia berkata, “Bawa anak muda itu masuk bersama Mahendra dan Kebo Ijo.”

Sesaat kemudian mereka telah duduk di amben kayu itu pula. Dengan tajamnya ia memandangi wajah Mahisa Agni. Namun ketika matanya beradu dengan mata Mahisa Agni yang seakan-akan menyala Witantra itu mengalihkan pandangannya ke arah Mahendra, sambil berkata,

“Kenapa kalian berkelahi?”

Kembali yang mendahului menjawab adalah Kebo Ijo, “Sudah aku katakan sebabnya Kakang.”

Witantra mengerutkan keningnya. Kemudian katanya kepada Mahisa Agni, “Aku sangat menyesal bahwa hal ini terjadi. Kenapa kau berbuat demikian?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya. Peristiwa ini benar-benar tak menyenangkannya. Ia ingin segalanya segera selesai, kemudian cepat-cepat pulang ke Panawijen. Tetapi Mahisa Agni itu pun tidak perlu terlalu tergesa-gesa, karena yang ditakutkannya, Kuda Sempana masih dilihatnya di dalam kota. Meskipun demikian, maka sudah pasti Mahisa Agni tidak mau menjadi korban dari perbuatan-perbuatan yang memuakkan itu. maka dengan tenangnya ia menjawab,

“Witantra, apakah kau dapat mempercayai kata-kata Kebo Ijo?”

“Aku menjadi saksi,” tiba-tiba teriak salah seorang anak muda kawan Kebo Ijo.

“Aku juga,” teriak yang lain.

Dan yang terakhir prajurit kawan Kebo Ijo itu pun berkata, “Aku juga menjadi saksi.”

Witantra mengerutkan keningnya. Sejenak ia berdiam diri. Dan tiba-tiba ia memandang kepada prajurit Yang bercemeti, “Apakah yang akan kau katakan?”



Prajurit yang bercemeti itu sebenarnya akan mengatakan sesuatu, namun belum mendapat kesempatan. Ketika Witantra itu bertanya kepadanya segera ia membungkuk hormat sambil menjawab,

“Aku hanya ingin mengatakan, bahwa aku tidak dapat menjadi saksi, sebab aku datang setelah perkelahian itu berlangsung.”

Kembali Witantra mengerutkan keningnya, kemudian kepada prajurit kawan Kebo Ijo ia bertanya, “Apakah kau melihat sebab perkelahian itu?”

“Ya tentu,” sahut prajurit itu, “aku datang lebih dahulu sebelum aku mengajak beberapa orang kawan untuk menangkap anak Panawijen itu.”

Witantra mengangguk-anggukkan. kepalanya, Meskipun demikian ia masih bertanya kepada Mahisa Agni, “Apakah benar kata mereka?”

Mahisa Agni menggeleng, “Tidak!”

“Bohong!” bentak prajurit kawan Kebo Ijo.

“Aku yang bertanya kepadanya,” potong Witantra. Prajurit itu pun terdiam.

Kini Witantra melihat sikap-sikap yang kurang wajar dari adik seperguruannya. Ia melihat sikap Kebo Ijo yang agak berlebih-lebihan. Ia melihat pemuda-pemuda itu pun bersikap kurang wajar pula karena itu justru ia menjadi curiga. Dengan tajamnya dipandangnya wajah Mahendra. Dan ketika terasa tatapan mata kakak seperguruannya itu, maka Mahendra pun segera menundukkan wajahnya.

Kemudian sekali lagi Witantra itu bertanya kepada Mahisa Agni, “’Wiraprana, apakah yang sebenarnya terjadi?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kali ini ia benar-benar ingin melihat, sampai di mana kejujuran yang dimiliki oleh adik-adik seperguruan Witantra itu. Karena itu, sebelum ia menjawab pertanyaan itu, maka katanya,

“Witantra. Cobalah kau bertanya kepada Mahendra. Biarlah ia berkata di bawah saksi Yang Maha Agung.”

Tiba-tiba terasa dada Mahendra itu berdesir. Terasa keringat dinginnya mengalir membasahi tubuhnya. Dan sebenarnyalah Witantra itu berpaling kepadanya. Sejenak Witantra itu melihat perubahan wajah adik seperguruannya itu. Karena itu maka ia menjadi semakin curiga. Karena itu, maka Witantra ingin mendapat kepastian dari persoalan-persoalan yang dihadapinya. Kepada Mahendra ia bertanya,

“Mahendra, demi Yang Maha Agung katakanlah sebenarnya apa yang telah terjadi. Apakah Wiraprana benar-benar telah menghinamu?”

“Benar Kakang,” jawab kebo Ijo.

Tetapi ia terkejut ketika Witantra membentaknya, “Diam kau Kebo Ijo!”

Mahendra kini benar-benar dihadapkan pada suatu keadaan yang sulit. Terjadilah perjuangan di dalam dadanya. Sekali-kali ia melihat Kebo Ijo dan beberapa anak muda yang lain dengan sudut matanya. Hampir saja ia menganggukkan kepalanya. Tetapi ketika terpandang olehnya pancaran mata kakak seperguruannya, maka mulutnya seakan-akan tergetar hendak mengatakan sesuatu.

“Mahendra, jawablah pertanyaanku!” desak kakak seperguruannya.

Ruang itu menjadi semakin tegang. Kebo Ijo, anak-anak muda yang lain, prajurit kawan Kebo Ijo dan beberapa prajurit yang lain, di antaranya yang membawa cambuk itu. Tiba-tiba semua yang memandang wajah Mahendra itu menjadi terkejut bukan main. Kebo Ijo, anak-anak muda yang lain, para prajurit dan bahkan Witantra dan Mahisa Agni sendiri. Mereka melihat, perlahan-lahan Mahendra menggelengkan kepalanya.

“Apa?” bertanya Witantra hampir berteriak, “jadi Wiraprana itu sebenarnya tidak menghinamu dan menghina anak-anak Tumapel?” Sekali lagi Mahendra menggeleng. “Lalu apakah yang telah terjadi?”

“Aku ingin membalas dendam,” berkata Mahendra perlahan-lahan sekali

Witantra itu pun menarik nafas dalam-dalam, tetapi ia terkejut ketika ia mendengar suara Kebo Ijo dalam nada yang tinggi, “Tidak Kakang. Kakang Mahendra terlalu baik hati. Sebenarnya anak Panawijen itu telah menghina kami. Karena…”

Kata-kata Kebo Ijo itu terputus. Betapa ia terkejut dan semua orang pun terkejut ketika tiba-tiba mereka mendengar Kebo Ijo itu mengaduh. Anak muda itu tergeser beberapa jengkal sehingga hampir saja ia terguling. Dengan serta-merta tangannya meraba pipinya yang tampak kemerah-merahan. Ternyata Witantra itu telah menamparnya. Dengan tajam kakak seperguruannya itu membentaknya,

“Jagalah mulutmu Kebo Ijo!”

Kebo Ijo itu menjadi gemetar. Alangkah malunya. Karena itu maka ia pun menjadi marah bukan buatan. Tetapi ia tidak berani berbuat apapun kepada kakaknya.

“Jadi kalian semua telah mencoba berbohong?” bentak Witantra dengan marahnya, “Apakah sebabnya kalian berbuat demikian. Kenapa?”

Ruangan itu kembali menjadi sunyi. Hanya nafas Kebo Ijo sajalah yang terdengar terengah-engah. Sedang matanya menjadi merah pula karena marahnya.

Witantra yang kemudian menjadi sangat, marah pula berkata kepada prajurit kawan Kebo Ijo, “Jadi kau pun ikut pula dalam kebohongan ini?”

Prajurit kawan Kebo Ijo itu benar-benar menjadi bingung. Ia sama sekali tidak tahu, bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu. Karena itu, ia hanya berdiri saja seperti patung.

Karena prajurit itu tidak segera menjawab, maka sekali lagi Witantra membentaknya, “He. Kau juga ikut berbohong?”

“Tidak. Tidak,” jawabnya tergagap, “aku tidak sengaja.”

“Apa yang tidak sengaja,” desak Witantra.

Kembali prajurit itu menjadi bingung. Dengan tanpa berpikir panjang ia menjawab, “Aku tidak bermaksud berbohong: Tetapi aku menyangka bahwa hal itu benar-benar terjadi.”

“Jadi kau tidak melihat sendiri?”

“Tidak,” prajurit itu menggeleng, “aku mendengar dari Kebo Ijo.”

Kebo Ijo menjadi semakin bergetar mendengar pengaduan itu. Tetapi ia tidak dapat, berbuat apa-apa. Tetapi Witantra itu masih membentak bawahannya, “Kau menjadi pereaya tanpa penyelidikan lebih lanjut?”

Prajurit itu menjadi semakin bingung. Akhirnya ia menjawab, “Ya. Aku begitu saja pereaya, sebab Kebo Ijo adalah kawanku sendiri.”

“Itulah sebabnya, maka anak-anak muda itu benar-benar menjadi liar. Meskipun Wiraprana sebenarnya tidak mengatakan, namun hati kecil kalian telah berkata sendiri, ‘Kalian benar-benar menjadi liar, karena kawan-kawan kalian, di antaranya prajurit, selalu membesarkan hati kalian. Dengan demikian kalian merasa aman untuk berbuat apa saja sekehendak kalian’.”

Ruangan itu menjadi sepi kembali. Dan kembali Mahisa Agni mengagumi kakak seperguruan Mahendra itu. Ia benar-benar seorang prajurit yang berpegang teguh pada sumpahnya sebagai prajurit. Meskipun Mahendra, Kebo Ijo adalah adik seperguruannya, namun ia berkata salah apabila salah dan ia akan berkata benar apabila benar. Dengan demikian maka kebenaran benar-benar akan dapat ditegakkan.

Kini ia melihat adiknya itu berbuat curang. Bahkan telah meninggalkan sifat-sifat ke kesatriaan, karena itu alangkah marahnya. Apalagi seorang anak buahnya telah ikut serta berbuat kesalahan itu. Dengan wajah yang menyala-nyala ia memandang Kebo Ijo. Anak itu benar-benar anak yang bengal. Sekali-sekali ditatapnya juga wajah Mahendra. Anak muda ini, biasanya tidak suka berbohong dan mengorbankan nama baiknya Tetapi kali ini ia hampir tergelincir dalam perbuatan yang memalukan itu. Untunglah bahwa kesalahan itu segera disadarinya. Namun meskipun demikian. Mahendra telah berbuat kesalahan. Karena itu dengan marahnya Witantra menggeram,

“Perkelahian akan dilanjutkan.”

Namun terdengar kemudian Mahendra yang telah menyadari keadaannya menyahut dengan jujur, “Tidak. Aku sudah dikalahkannya.”

Witantra menarik nafas. Tetapi mata Kebo Ijo menyala karenanya. Suasana kemudian dicengkam oleh kesepian. Dalam keheningan suasana itu, terdengarlah Mahisa Agni berkata,

“Witantra, aku akan mengucapkan terima kasih kepadamu dan kepada adikmu, Mahendra. Sebenarnya tak ada niatku untuk membuat hal-hal yang kecil ini menjadi persoalan. Karena itu, marilah persoalan ini kita anggap selesai. Sebab aku masih ada mempunyai beberapa keperluan yang lain.”

Witantra tidak segera menjawab. Kini seperti juga Mahisa Agni mengaguminya, maka Witantra itu pun kembali mengagumi kebesaran jiwa Mahisa Agni yang disangkanya bernama Wiraprana itu. Meskipun beberapa orang telah berusaha menghinanya, namun ia sama sekali tidak mendendam.

Sesaat kemudian, maka barulah Witantra itu berkata, “Tinggalkan kami di sini bersama Wiraprana. Pergilah semuanya!”

Mahendra yang masih menundukkan kepalanya, itu pun segera bergerak dan meninggalkan tempat itu. Berbagai perasaan berkecamuk di dalam dirinya. Sesal, malu, kecewa dan segala macam bercampur baur di dalam dadanya. Kebo Ijo, anak-anak muda yang lain, para prajurit itu pun segera pergi pula meninggalkan mereka. Dengan tergesa-gesa Kebo Ijo menyusul Mahendra sambil berkata,

“Kakang, kenapa Kakang menarik tuduhan itu?”

Mahendra berpaling sesaat. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan langkahnya semakin dipercepat. Kebo Ijo yang berjalan di sampingnya memandangnya dengan penuh penyesalan. Anak-anak muda yang beriringan di belakangnya pun menyesal pula atas sikap Mahendra itu Namun mereka tidak berkata apa-apa.

Di rumah Witantra, kini tinggallah Mahisa Agni seorang diri bersama Witantra duduk berhadapan di atas amben kayu. Setelah mereka diam sejenak, maka berkatalah Witantra,

“Wiraprana, biarlah aku minta maaf kepadamu atas nama anak-anak muda yang bengal itu.”

“Sudah aku katakan Witantra, persoalan ini aku anggap selesai. Dan secepatnya aku akan mohon diri untuk satu keperluan yang lain.”

“Terima kasih. Aku hormati pendirianmu itu. Tetapi apakah keperluan itu sedemikian tergesa-gesa?”

“Tidak, tetapi aku ingin segera pulang ke Panawijen, setelah aku agak lama meninggalkannya?”

“Apakah kau baru datang dari suatu perjalanan?”

“Ya,” sahut Mahisa Agni.

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Dilihatnya sebuah bungkusan terikat erat di lambung Mahisa Agni. Namun ia tidak sempat lagi membawa tongkat setelah ia berkelahi melawan Mahendra. Untunglah bahwa bungkusannya itu tidak terlepas dari ikatannya. Sehingga tanpa disengaja Witantra itu bertanya,

“Apakah isi bungkusanmu itu?”

“Ah, hanya dua lembar pakaian,” sahut Mahisa Agni.

Witantra mengangguk-angguk pula. Namun tiba-tiba ia berkata, “He, apakah kau akan pulang ke Panawijen?”

Mahisa Agni mengangguk. “Ya,” sahutnya.

“Baru saja aku bertemu dengan Kuda Sempana. Ia pun agaknya sedang menuju ke kampung halamannya. Ketika aku bertanya kepadanya, ia hanya menjawab, ‘Aku pergi untuk satu dua hari’. Kata-kata itu terdengar seperti guntur yang meledak di telinga Mahisa Agni. Kuda Sempana pulang ke kampung halaman Panawijen, selagi ia tidak di rumah. Witantra melihat perubahan wajah Mahisa Agni. Karena itu ia menjadi heran. Sejenak kemudian bertanyalah Mahisa Agni dengan suara yang bergetar,

“Kapankah Kuda Sempana itu pulang ke Panawijen?”

“Belum lama,” jawab Witantra.

“Belum lama aku melihatnya.”

“Mungkin. Aku melihat Kuda Sempana memacu kudanya. Dan demikianlah jawabnya ketika aku bertanya kepadanya.”

“Gila!” geram Mahisa Agni di dalam hatinya.

Segera ia tahu apa yang dilakukan oleh Kuda Sempana itu. Ketika Kuda Sempana itu melihat Mahisa Agni berada di Tumapel, maka segera ia mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.

Dalam pada itu keheranan Witantra semakin menjadi, maka kemudian ia pun bertanya, “Kenapa kau menjadi gelisah?”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Semula ia menjadi agak ragu-ragu. Namun kemudian terpaksa ia berkata, “Maksud Kuda Sempana pulang ke kampung halaman sangat mencurigakan.”

“Kenapa?”

Kembali Mahisa Agni terdiam. Namun tiba-tiba Witantra itu pun menjadi gelisah. Dengan serta-merta ia berkata, “He, apakah gadis Panawijen itu bernama Ken Dedes?”

Terasa sesuatu berdesir di dada Mahisa Agni. Namun ia menganggukkan kepalanya.

“Ya. Itulah nama gadis itu. Bunga di kaki Gunung Kawi, yang telah membuat Mahendra hampir-hampir gila. Yang telah membuat Mahendra mendendam kepadamu. Namun sebenarnya aku pernah mendengar Kuda Sempang mempercakapkan gadis itu pula.”

“Mungkin kau benar,” sahut Mahisa Agni.

“Kalau demikian, apakah kau sangka bahwa Kuda Sempana akan mempergunakan kesempatan selama kau berada di Tumapel?”

“Mungkin,” sahut Mahisa Agni dengan suara parau, “kalau demikian biarlah aku segera kembali.”

“Aku tidak dapat mencegahmu, Wiraprana. Mudah-mudahan kau tidak terlambat.”

Mahisa Agni menggeram sekali lagi, kemudian dengan tergesa-gesa ia minta diri. Dengan penuh pengertian Witantra itu melepaskan Mahisa Agni sampai ke regol halamannya. Mahisa Agni itu pun kemudian berjalan hampir berlari-lari. Dari kejauhan Witantra memandangnya dengan iba.

“Anak yang baik,” gumamnya., “Kasihan. Tanpa dikehendakinya, ia mempunyai banyak lawan. Agaknya Kuda Sempana yang tadi melihat anak itu, segera mempergunakan kesempatan.”

Dan Mahisa Agni itu pun semakin lama menjadi semakin jauh. Akhirnya anak muda itu seakan-akan hilang ditelan oleh kelokan jalan. Mahisa Agni sendiri menjadi sangat gelisah karenanya. Ia menjadi pasti, bahwa bencana akan menimpa Ken Dedes dan Wiraprana. Kuda Sempana pasti akan mempergunakan segenap kemampuan yang ada padanya untuk menebus kekalahannya. Bahkan kalau mungkin membunuh sekali.

Dengan demikian maka Mahisa Agni itu benar-benar seperti orang yang kehilangan kesadaran. Ia sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap keadaan di sekelilingnya. Ia sama sekali tidak memedulikan bahwa beberapa orang yang dijumpainya memandanginya dengan penuh pertanyaan. Kenapa anak muda itu berlari-lari?

Tetapi jarak Panawijen dan Tumapel bukan jarak yang pendek. Jarak itu akan ditempuh lebih dari sehari penuh. Meskipun Mahisa Agni kemudian berlari, namun ia tak akan dapat mencapai jarak itu secepat-cepatnya. Selisih waktu yang dialaminya dari Kuda Sempana, agaknya akan dapat memberi kesempatan bagi Kuda Sempana melakukan niatnya. Apalagi setelah didengarnya bahwa Kuda Sempana kini telah memiliki puncak ilmu dari perguruannya seperti juga Bahu Reksa Kali Elo. Karena itu, maka kembali Kuda Sempana itu akan berkata, ‘Rawe-rawe rantas, malang-malang putung’.

Mahisa Agni menjadi semakin gelisah. Apalagi kalau diingatnya bahwa Kuda Sempana pasti tidak hanya berlari-lari seperti dirinya, tetapi anak muda yang gagah itu pasti berkuda. Mahisa Agni itu pun menggeram berkali-kali. Namun ia benar-benar masih harus berlari. Langkahnya semakin lama semakin panjang. Namun terik matahari yang membakar tubuhnya menjadi semakin panas. Bekas-bekasnya yang putih menghambur di sepanjang jalan yang dilalui oleh Mahisa Agni. Menyusup disela-sela dedaunan dan jatuh di atas batu-batu padas yang bertebaran di sepanjang jalan.

Mahisa Agni itu terasa akan terbang. Langkahnya terasa sedemikian lambatnya. Kalau sekali-kali ia memandang ke depan maka segera jantungnya berdebar-debar. Di hadapannya masih terbentang sawah yang sangat luas. Tetapi apabila sawah ini sudah dilampaui, ia sama sekali belum mendekati Panawijen. Sebuah hutan terbentang jauh di muka. Seleret pepohonan yang semakin lama seolah-olah menjadi semakin besar. Hutan itu pun bukanlah layar yang terakhir yang menakbiri Panawijen.

Di seberang hutan itu, terentang sebuah sungai. Kembali ia akan melampaui daerah persawahan. Sawah hutan, sawah, hutan berkali-kali. Kemudian ia dapat lewat di tengah-tengah padang rumput Karautan, atau lewat jalan lain. Namun selisih jarak daripadanya tidak begitu banyak. Baru setelah itu ia akan sampai ke Panawijen. Namun secepat-cepatnya, apabila ia tidak perlu berhenti sama sekali, besok pagi ia baru akan sampai. Tetapi apakah tenaganya akan mampu untuk berlari terus dalam jarak yang sekian jauh. Tetapi Mahisa Agni tidak boleh berhenti. Ia berlari terus.

Tiba-tiba Mahisa Agni itu pun terkejut mendengar derap kuda di belakangnya. Ketika ia berpaling dilihatnya debu mengepul. Putih dan semakin lama semakin tinggi terbang ke udara.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. “Siapa?” desisnya. Tetapi ia terkejut ketika ia melihat penunggangnya adalah Mahendra.

Karena itu maka Mahisa Agni menjadi berdebar-debar karenanya. Ia masih belum dapat melupakan, apa yang baru saja dilakukan oleh Mahendra itu. Mahisa Agni berdebar-debar karena kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan oleh Mahendra, tetapi juga berdebar-debar karena dengan demikian, kedatangannya di Panawijen akan menjadi semakin lambat. Kuda yang berlari kencang itu semakin kencang juga. Semakin lama semakin dekat. Dan sejalan dengan hati Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar juga.

“Kalau anak muda itu berhasrat menghambat perjalananku,” desah Mahisa Agni dalam hatinya, “maka aku tidak akan dapat memaafkannya lagi.”

Tetapi kuda itu sudah sedemikian dekatnya, sehingga Mahisa Agni pun berhenti pula karenanya. Dengan penuh kewaspadaan anak muda dari Panawijen itu berdiri tegak seperti tonggak yang kokoh kuat terhunjam jauh ke dalam tanah. Ketika Mahendra melihat Mahisa Agni itu berhenti, maka segera ia menarik kekang kudanya, sehingga kuda itu berhenti beberapa langkah di hadapan Mahisa Agni. Demikian kuda itu berhenti, demikian Mahendra itu segera meloncat turun. Mahisa Agni itu pun segera menggeser diri selangkah surut, siap menghadapi setiap kemungkinan yang akan terjadi.

Tetapi ia terkejut ketika ia melihat Mahendra itu menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Aku datang untuk minta maaf kepadamu, Wiraprana.”

Mahisa Agni menarik nafas panjang. Panjang sekali. Ia menjadi kecewa terhadap perasaannya sendiri. Ternyata ia terlalu berprasangka. Karena itu, maka segera ia menjawab,

“Ah Mahendra. Hampir aku salah sangka. Ternyata aku pun harus minta maaf kepadamu. Dan karena itulah maka biarlah persoalan di antara kita, kita anggap selesai.”

“Terima kasih,” sahut Mahendra. Yang kemudian diteruskannya, “Tetapi kedatanganku menyusulmu ada juga kepentingan yang lain dari kepentinganku sendiri.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya, “Apakah kepentingan yang lain itu?”

“Kakang Witantra baru saja datang kepadaku. Disuruhnya aku menyusulmu untuk mengantarkan kuda ini kepadamu.”

“Kuda?” sahut Mahisa Agni dengan serta-merta.

“Ya,” Mahendra mengangguk, “kata Kakang Witantra kau memerlukannya untuk menyusul Kuda Sempana.”

“Kuda? Kuda?” hampir tak percaya Mahisa Agni bergumam.

Tetapi Mahendra itu menegaskan, “Ya Wiraprana, inilah kuda Kakang Witantra. Bawalah!”

Terasa sesuatu berdesir di dalam dada Mahisa Agni. Begitu besar terima kasihnya sehingga untuk sesaat ia tidak dapat mengucapkannya. Ketika Mahendra memberikan kendali kuda itu kepadanya, barulah Mahisa Agni berkata,

“Terima kasih. Terima kasih Mahendra. Dan terima kasihku kepada Witantra. Aku tak akan melupakan kebaikan budi kalian.”

“Aku hanya seorang pesuruh Wiraprana. Akan aku sampaikan terima kasihmu itu kepada Kakang Witantra.”

“Tidak saja Witantra. Tetapi kau pun berjasa pula kepadaku.”

Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Selamat jalan Wiraprana. Bukankah kau tergesa-gesa. Sebenarnya aku pun tak akan dapat melihat Kuda Sempana mencapai maksudnya. Bukankah anak muda itu pun akan merampas hak yang sudah kau miliki?”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar