Dada Mahisa Agni berdesir. Alangkah manisnya kata-kata itu, namun alangkah pahitnya pula. Mahendra tidak dapat melihat Kuda Sempana merampas Ken Dedes yang pasti didengarnya dari Witantra, namun Ken Dedes itu sama sekali bukan hak yang telah dimilikinya. Tetapi apa yang dilakukan itu adalah atas nama Wiraprana. Dan Wiraprana kelak pasti hanya akan mengucapkan terima kasihnya saja kepadanya.
Tetapi sebenarnya Mahisa Agni tidak mempunyai pamrih. Seandainya Wiraprana kelak tidak mengucapkan terima kasih pun, ia tidak akan menyesal. Dengan kesetiaannya ia berusaha membuat Ken Dedes bahagia. Kesetiaan yang tidak diketahui sama sekali oleh orang lain. Namun kesetiaan itu benar-benar telah membakar dadanya. Kini Mahisa Agni menerima kuda itu. Kuda yang tegar, berwarna sawo. Tidak kalah tegarnya dengan kuda yang dipergunakan oleh Kuda Sempana tadi. Setelah sekali lagi Mahisa Agni mengucapkan terima kasih, maka ia segera meloncat ke punggung kuda itu. Meskipun demikian ia masih bertanya,
“Sekarang, kau tidak lagi berkendaraan Mahendra?”
Mahendra tertawa pendek. “Jarak yang harus kutempuh terlalu pendek dibandingkan dengan perjalananmu. Biarlah aku pulang dengan berjalan kaki. Hampir setiap hari aku sampai di sini pula.”
“Selamat tinggal Mahendra, mudah-mudahan aku tidak terlalu terlambat.”
Mahendra mengangguk. Perlahan-lahan ia bergumam, “Aku akan lebih berbahagia kalau kau berhasil, Wiraprana.”
“Terima kasih, terima kasih.”
Mahisa Agni itu pun segera memacu kudanya seperti angin. Ia ingin cepat-cepat sampai ke Panawijen. Namun ia pun ingin cepat-cepat melupakan setiap kata-kata Mahendra. Karena itu, maka kudanya yang telah berlari kencang itu, masih saja terasa, alangkah lambatnya. Seakan-akan suara Mahendra masih mengiang di telinganya, ‘Aku akan lebih berbahagia kalau kau berhasil, Wiraprana’. Mahisa Agni menggigit bibirnya. Kuda itu dipacu semakin cepat. Namun hatinya telah berlari lebih cepat daripada kaki-kaki kuda itu.
Kuda Mahisa Agni itu meluncur seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Kepulan debu yang putih bergulung-gulung di belakang kaki kudanya. Pepohonan yang tegak di pinggir-pinggir jalan, seakan-akan berlari cepat ke belakang, Sedang hutan-hutan yang terbujur di hadapannya, seperti berlari menyongsongnya. Semakin lama semakin besar. Dan semakin lama, semakin jelas setiap batang-batang yang tumbuh di sepanjang tepinya.
Tetapi gelora di dalam dada Mahisa Agni sendiri itu pun menjadi semakin keras. Bermacam-macam persoalan hilir mudik di dalam dadanya. Sekali-kali jauh di dasar hatinya terdengar pula suara, ‘Mahisa Agni Kenapa kau menjadi sedemikian cemasnya? Bulankah Ken Dedes telah mempunyai seorang pelindung yang harus melindunginya. Kalau Wiraprana tak sanggup bertanggung jawab terhadapnya maka lebih baik ia melepaskan ikatan yang telah dijalinnya. Ia menginginkan hak itu, namun ia tak mampu memikul kewajibannya’.
Namun kemudian terdengar suara yang lain, ‘Itu bukan salahnya. Dunia di sekitarnya yang masih sebuas hutan rimba. Kalau setiap orang menyadari hak dan kewajiban masing-masing, maka tak akan ada persoalan lagi. Meskipun Wiraprana tak mampu untuk berkelahi, namun dalam peradaban yang baik tak perlu ia harus berkelahi. Karena Wiraprana bukan tidak mengerti akan kewajibannya, tetapi ia sebenarnya tidak mampu menghadapi kebuasan lingkungannya, maka apa salahnya aku menyelamatkannya’.
Terdengar Mahisa Agni itu menggeram di atas punggung kudanya. Dan kuda itu masih berlari secepat angin. Sekali-kali Mahisa Agni mengusap wajahnya yang dipenuhi oleh debu yang melekat karena peluhnya yang membasahi kulitnya. Sekali-sekali dirabanya bungkusannya yang melingkari lambungnya, berbelitan dengan ikat pinggangnya. Dan terasa di dalamnya, keris peninggalan ayahnya. Kalau Kuda Sempana menjadi gila, maka ia pun kini bersenjata.
Matahari yang mengapung di langit bergeser setapak demi setapak. Kini matahari itu telah melampaui puncak langit, dan telah mulai dengan perjalanannya untuk bersembunyi di balik pegunungan. Namun sinarnya masih juga terasa membakar kulit. Debu yang putih yang dihamburkan oleh kaki-kaki kuda Mahisa Agni, tampak bergulung-gulung. Kemudian buyar ditiup angin dari selatan. Jauh di langit kadang-kadang tampak burung-burung cangak beterbangan di atas tanah yang basah. Namun Mahisa Agni tidak sempat untuk memperhatikannya. Kudanya yang berpacu itu serasa seakan-akan betapa malasnya. Sekali disentuhnya perut kuda itu dengan kakinya, sehingga kuda itu meloncat semakin cepat.
Sesaat kemudian Mahisa Agni telah masuk melintas jalan-jalan di tengah-tengah hutan. Perjalarannya kini tidak dapat secepat semula. Sekali-sekali beberapa potong dahan-dahan kayu yang patah, serta sulur beringin tua, mengganggu perjalanannya. Sedang jalan menjadi bertambah sempit. Tetapi kuda itu masih berlari terus, tanpa menghiraukan apapun yang mungkin akan memperlambat.
Demikianlah Mahisa Agni berpacu melawan waktu. Sebab Kuda Sempana telah jauh mendahuluinya. Ia harus sampai di Panawijen sebelum Kuda Sempana telah melarikan Ken Dedes. Mudah-mudahan gurunya telah kembali. Tetapi agaknya Empu Purwa masih di perjalanan, bahkan menurut keterangannya, gurunya itu masih akan singgah di rumah sahabat-sahabatnya setelah ia merasa menurunkan ilmunya yang tertinggi kepada muridnya. Seolah-olah pekerjaan Empu Purwa itu telah selesai, dan kini ia tinggal menikmati masa istirahatnya. Agaknya Empu yang sudah lanjut usia itu telah mempercayakan segala sesuatunya kepada Mahisa Agni, satu-satunya muridnya yang lahir batinnya benar-benar mengagumkan baginya.
Karena itu Mahisa Agni menjadi semakin gelisah. Sesudah hutan ini masih terentang jalan yang sangat panjang. Namun berterima kasihlah ia kepada Witantra dan Mahendra yang telah menolongnya mempercepat perjalanannya dengan kecepatan yang berlipat ganda. Kalau ia harus berjalan, maka sudah hampir dapat dipastikan bahwa ia akan jauh terlambat. Dan ia tinggal akan menemukan bekas- bekas dari bencana itu. Meskipun demikian, kegelisahan masih saja menyala-nyala di dalam dadanya. Meskipun ia kini telah dapat mempercepat perjalanannya, namun ia masih mencemaskan, bahwa Kuda Sempana benar-benar tidak mampu mengekang dirinya, sehingga sejak langkahnya yang pertama, ia telah bermata gelap.
Sebenarnyalah pada saat itu, Kuda Sempana pun sedang berpacu menuju ke Panawijen. Ketika anak muda itu bertemu dengan Mahisa Agni di Tumapel, maka tiba-tiba timbul niatnya untuk menumpahkan kemarahannya dan dendamnya. Sebab kini ia merasa, bahwa ia telah memiliki bekal yang jauh lebih banyak daripada saat ia dikalahkan oleh Mahisa Agni.
Tetapi keadaan Tumapel agaknya tidak menguntungkannya. Mungkin beberapa orang melihat, bahwa Mahisa Agni tidak bersalah pada waktu itu sehingga akibatnya akan tidak menguntungkan baginya. Karena itu, maka ia mengambil jalan yang lain untuk menumpahkan dendamnya. Segera ia memacu kudanya menemui pimpinannya untuk mohon diri dua tiga hari. Ia dapat saja memberikan segala macam alasan untuk pulang ke kampung halaman. Kalau kelak Ken Dedes telah dapat dirampasnya,dan dilarikannya, maka apa yang akan terjadi akan dihadapinya dengan dada tengadah. Wiraprana, Mahisa Agni dan siapa lagi. Tetapi gadis itu harus sudah di tangannya dan disembunyikannya dahulu.
Karena itu, maka ia pun kemudian berpacu kembali ke Panawijen. Ia harus langsung pergi ke rumah Empu Purwa. Minta gadis itu untuk dibawanya. Kalau tidak boleh, maka ia akan mempergunakan kekerasan. Ia tidak takut seandainya seluruh cantrik dari padepokan itu akan mengeroyoknya. Bahkan orang-orang seluruh padukuhan. Dengan ayunan tangannya ia mampu membunuh siapa saja yang mendekatinya.
Kuda Sempana itu kemudian tersenyum sendiri. Ia tidak menyangka bahwa ia harus mengambil seorang gadis dengan cara yang aneh itu. Tetapi betapapun bahaya yang akan dihadapinya, namun ia tidak akan surut. Ia pernah mendengar juga bahwa Mahendra pun pernah menginginkan Ken Dedes itu pula. Maka seandainya Mahendra itu pun datang kepadanya, maka ia pun tidak akan gentar. Bahkan seandainya Witantra sekali pun. Meskipun Kuda Sempana itu agak seimbang juga menilai kekuatan Witantra. Sebab ia tahu benar, apa saja yang pernah dilakukan oleh Witantra itu sebagai seorang prajurit.
Tetapi Kuda Sempana itu menggeram, “Persetan semuanya! Akulah Kuda Sempana!”
Dengan demikian maka Kuda Sempana kemudian berusaha menindas semua persoalan yang tumbuh di dalam hatinya. Tekadnya telah bulat, melarikan Ken Dedes dengan segala akibatnya. Kini Kuda Sempana itu tertawa seorang diri. Tertawa untuk melepaskan kegelisahan-kegelisahan yang merayapi hatinya. Ia benar-benar tidak mau tahu apapun yang mungkin terjadi karena perbuatannya itu. Anak muda itu telah berusaha untuk membutakan matanya dan menulikan telinganya. Persetan semuanya! Persetan! Maka kudanya kini menjadi semakin laju. Terasa angin yang kencang menghembus wajahnya. Namun wajah itu pun ditengadahkannya. Bahkan ia bergumam,
“Siapakah yang berani menghalangi Kuda Sempana?”
Meskipun demikian, Kuda Sempana itu berdebar-debar pula ketika ia meninggalkan daerah-daerah hutan yang terakhir. Ia tidak menempuh jalan yang biasa dilalui oleh Mahisa Agni, padang rumput Karautan. Namun Kuda Sempana melingkar sedikit, lewat padukuhan Talrampak. Meskipun seperti Mahisa Agni anak muda itu sama sekali tidak takut kepada apapun, juga yang dahulu sering disebut hantu padang rumput, namun Kuda Sempana tidak mau perjalanannya dihambat. Meskipun ia mendengar juga, bahwa hantu padang rumput itu kini telah tidak ada lagi, namun lebih baik baginya melewati jalan yang paling aman, daripada ia terlambat.
Demikianlah Kuda Sempana akhirnya telah melampaui perjalanannya yang tergesa-gesa. Dengan gagahnya ia memacu kudanya, masuk .ke padukuhan tempat kelahirannya. Panawijen.
Beberapa orang yang sedang bekerja di sawah melihatnya dengan heran. Bukankah anak itu seakan-akan telah disingkirkan untuk waktu yang tertentu. Maka tiba-tiba kini ia datang kembali dengan tergesa-gesa. Apakah waktu yang ditentukan itu telah habis? Orang itu pun kemudian berbisik-bisik satu sama lain. Sehingga kemudian seorang arak muda berkata,
“He, apakah Kuda Sempana telah sampai waktunya pulang?”
Seorang yang berdahi lebar menjawab, “Aku sangka belum.”
Anak muda itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia berkata, “He. Bukankah Mahisa Agni belum kembali?”
“Kenapa?”
“Bukankah dahulu Mahisa Agnilah yang berhasil mencegahnya mengambil langsung Ken Dedes dari pinggir belumbang?”
Orang berdahi lebar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kuda yang ditunggangi oleh Kuda Sempana sudah tidak tampak lagi di mata mereka.
“Marilah kita lihat. Apakah anak muda yang gagah itu masih saja melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela itu.”
Kedua orang itu pun kemudian bergegas-gegas meninggalkan sawah mereka. Beberapa orang yang lain pun segera mengikutinya.
Sampai di sudut padukuhan mereka, mereka bertanya kepada seorang anak kecil, “Kau lihat seorang penunggang kuda?”
Anak itu mengangguk, “Ya.”
“Ke mana?”
“Masuk kemari. Dan berbelok ke kiri.
“Ke kiri?”
“Ya. Kenapa?” anak kecil itu menjadi keheranan.
“Tidak apa-apa nak. Tetapi jangan bermain-main di tengah jalan. Kau lihat kuda yang berlari kencang ini tadi bukan?” Anak itu mengangguk.
Kedua orang itu pun berjalan pula menuruti jalan yang ditempuh oleh Kuda Sempana dengan berdebar-debar.
“Jalan ini menuju ke rumah Empu Purwa.”
“Ya,” jawab yang lain.
“Apakah anak itu masih gila seperti dahulu?”
“Mungkin.”
Beberapa orang yang mendengar suara kaki kuda berderap itu pun memerlukan untuk melihatnya. Ketika mereka melihat kedua orang yang kuat itu, maka mereka kemudian saling berbicara.
“Aku ikut,” berkata beberapa anak muda.
“Apakah Wiraprana di rumah?” bertanya salah seorang di antaranya.
“Mudah-mudahan. Sejak Mahisa Agni pergi, kemudian Empu Purwa pergi pula, Wirapranalah yang diserahi untuk mengawasi padepokan itu. Mudah-mudahan ia berada di sana.”
“Tetapi Wiraprana tak dapat mencegahnya seperti dahulu.”
“Wiraprana tidak sendiri. Di padepokan itu ada beberapa orang cantrik.”
“Mari kita lihat. Kita tidak akan membiarkan kawan-kawan kita dicederainya.”
Anak-anak muda Panawijen bukanlah anak-anak muda yang senang bertengkar. Kehidupan yang damai selama ini, sama sekali tidak menggerakkan mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan kekerasan. Karena itu, maka tidak banyak di antara mereka, yang telah mempelajari cara-cara tata bela diri. Meskipun demikian, mereka memiliki kesetia kawanan yang tinggi. Kebiasaan mereka bekerja bersama-sama. Membuat parit-parit, bendungan dan sambatan membangun rumah, adalah pencerminan dari cara hidup mereka yang rukun.
Dengan tergesa-gesa beberapa anak muda itu berjalan mengikuti telapak kaki kuda yang dipakai oleh Kuda Sempana. Semakin lama mereka menjadi semakin berdebar-debar. Kuda itu benar-benar menuju ke padepokan Empu Purwa.
Sebenarnya Kuda Sempana langsung menuju ke rumah Empu Purwa. Ia takut kalau Mahisa Agni segera pulang, dan menggagalkan maksudnya pula. Karena itu, maka akan dipergunakannya waktu sebaik-baiknya. Langsung mengambil gadis itu, dan dibawanya ke Tumapel. Disembunyikannya gadis itu di rumah sahabatnya, dan akan dihadapinya setiap bencana yang akan mengancamnya. Sampai nanti saatnya Ken Dedes melahirkan. Setelah itu, semuanya akan beres. Tak seorang pun yang akan dapat menuntutnya. Meskipun di Tumapel tinggal pula Mahendra, namun ia tidak takut melawan anak itu, meskipun ia belum pasti apakah ia akan dapat mengalahkannya. Meskipun tekadnya telah bulat, namun semakin dekat Kuda Sempana dengan rumah Empu Purwa, hatinya menjadi semakin berdebar-debar juga.
Kedatangan Kuda Sempana di padepokan itu benar-benar mengejutkan. Deru kaki kudanya seakan-akan membelah kedamaian halaman yang sunyi itu. Beberapa orang cantrik yang sedang bekerja di halaman, segera meletakkan alat-alat mereka. Dengan bergegas mereka menengok ke pintu gerbang. Siapakah yang datang berkuda itu?. Ketika mereka melihat seorang anak muda yang tampan, maka mula-mula mereka menjadi kecewa. Yang mereka harapkan sejak berhari-hari adalah Mahisa Agni, atau Empu Purwa sendiri. Namun yang datang bukanlah salah seorang dari mereka. Tetapi ketika mereka sadar, siapakah anak muda yang masih saja duduk di punggung kuda itu mereka terperanjat.
“Kuda Sempana,” terdengar beberapa orang di antara mereka berdesis.
Kuda Sempana telah menghentikan kudanya. Namun ia masih duduk di atas punggung kuda itu. Ditebarkannya pandangannya berkeliling. Dilihatnya beberapa orang cantrik dan emban satu demi satu muncul dari balik pepohonan dan dinding-dinding rumah. Dan dilihatnya pula mereka menjadi terkejut karenanya. Hati Kuda Sempana itu berdesir ketika tiba-tiba muncul dari balik pintu pringgitan, seorang anak muda yang tegap tampan. Wiraprana.
Alangkah terkejutnya Wiraprana itu. Beberapa saat ia tegak saja seperti patung. Ditatapnya Kuda Sempana yang masih duduk di atas punggung kuda seperti menatap wajah hantu. Ketika pada saat itu seorang gadis yang berlari-lari dari belakang muncul pula di ambang pintu, maka dengan serta-merta Wiraprana mendorongnya sambil bergumam,
“Masuklah. Setan itu datang lagi.”
Ken Dedes masih belum sempat melihat siapakah yang datang berkuda itu. Namun ia sadar, bahwa sesuatu yang tidak wajar pasti terjadi. Karena itu maka ia pun bertanya perlahan-lahan,
“Siapa?”
“Kuda Sempana,” desis Wiraprana.
“He?” Ken Dedes itu pun terkejut bukan buatan. Terasa tiba-tiba kakinya gemetar dan darahnya seakan-akan membeku. Dengan suara yang parau ia mencoba menjelaskan, “Kuda Sempana katamu?”
Wiraprana mengangguk. Desisnya, “Masuklah.”
Ken Dedes tidak membantah. Segera ia beringsut masuk kembali ke dalam rumah, bahkan langsung bersembunyi ke dalam biliknya.
“Emban,” desahnya.
Seorang emban tua datang menghampirinya. Ketika dilihatnya momongannya menggigil maka dengan heran ia bertanya, “Siapakah yang datang itu?”
Ken Dedes terbungkam. Ia tidak berani menyebut nama Kuda Sempana. Bibirnya seakan-akan tabu menyebut nama itu. Namun tiba-tiba air matanya mengambang di antara pelupuknya. Patah-patah ia bergumam,
“Kenapa ayah tidak segera pulang? Atau Kakang Mahisa Agni?”
Emban tua itu menjadi bingung. Sekali lagi ia bertanya, “Siapakah yang datang itu?”
“Anak itulah yang telah menghina namaku di belumbang di tepian sungai beberapa bulan yang lalu.”
“Angger Kuda Sempana?”
“Jangan Bibi, jangan kau sebut nama itu. Aku dapat menjadi pingsan karenanya.”
Emban tua itu mengerutkan keningnya. Ia mendengar pula, apa yang pernah terjadi di pinggir sungai itu. Karena itu maka ia pun ikut berdebar-debar pula karenanya. Meskipun demikian emban tua itu masih mencoba menghiburnya,
“Jangan cemaskan anak muda itu. Bukankah Angger Wiraprana sedang berada di rumah ini?”
Ken Dedes menggelengkan kepalanya. Namun ia tidak berkata apa-apa. Hanya di dalam hatinya terdengar kata-katanya, “Wiraprana tidak dapat melawannya.”
Karena itu maka Ken Dedes menjadi semakin cemas. Sekali-sekali matanya beredar di antara dinding-dinding rumahnya, seolah-olah ia sedang mencari tempat untuk menyembunyikan dirinya. Namun halaman rumahnya dikelilingi oleh sebuah pagar batu yang rapat. Sehingga jalan satu-satunya yang dapat dilaluinya, hanya regol depan. Dan ia tidak berani menampakkan dirinya ke halaman.
Sementara itu di halaman rumah Empu Purwa yang luas itu Kuda Sempana masih duduk saja di atas punggung kudanya. Di pintu rumah itu, Wiraprana berdiri tegak dengan tegangnya. Sesaat mereka hanya saling memandang dengan tajamnya, seakan-akan dari kedua pasang mata itu memancar dendam yang menyala-nyala. Ketika kemudian Kuda Sempana meloncat turun dari kudanya, maka Wiraprana pun melangkah melampaui tlundak pintu. Perlahan-lahan ia berjalan melewati pendapa dan dengan getar yang semakin cepat di dalam dadanya, ia melangkah turun tangga dan berdiri tegak di halaman pula. Kini jarak mereka hanya tinggal beberapa depa. Kuda Sempana masih sempat memandang berkeliling. Dan di sekitar halaman itu dilihatnya beberapa orang cantrik dan emban berdiri pula dengan tegangnya.
Kini Kuda Sempana kembali menatap wajah Wiraprana. Dan tiba-tiba terdengar suaranya bergetar, “Apa kerjamu di rumah ini Wiraprana?”
Wiraprana menyadari, dengan siapa ia berhadapan. Karena itu maka ia menjawab tegas, “Aku berada di rumah bakal mertuaku.”
“Gila!” teriak Kuda Sempana, “Jangan kau ulangi!”
Wiraprana menjadi berdebar-debar karenanya. Namun ia mengulangi kata-katanya, “Aku berada di rumah mertuaku.”
Kuda Sempana menggeram. Ia tidak berani berbuat tergesa-gesa. Ia belum yakin benar, apakah selama ini Wiraprana sama sekali tidak berusaha untuk mempelajari ilmu yang mungkin dapat menolong dirinya. Meskipun demikian, anak muda itu benar-benar telah membakar dadarnya. Sehingga karena itu ia berkata lantang,
“Wiraprana, jangan menyombongkan dirimu. Seandainya kau kini berkawan dengan dewa-dewa di langit sekali pun, namun kau bagiku tidak lebih dari seorang anak yang manja. Karena itu, Wiraprana, jangan mencoba menghalangi aku kali ini. Aku sangat tergesa-gesa.”
“Kau belum mengatakan, apa maksud kedatanganmu?” sahut Wiraprana.
Kuda Sempana menarik alisnya. Ditatapnya wajah Wiraprana dengan tajamnya. Sesaat kemudian terdengar ia menjawab, “Jangan memperbodoh diri Wiraprana. Aku datang untuk menjemput bakal istriku.”
Terasa dada Wiraprana itu berdesir. Ia sudah menduga apa yang akan dilakukan oleh Kuda Sempana itu. Namun ketika ia mendengar sendiri jawaban itu, maka mau tidak mau ia menjadi berdebar-debar. Betapapun ia mencoba menenangkan diri sendiri, namun sebenarnyalah ia mengetahui dengan pasti, bahwa ia tidak akan mampu mencegahnya seandainya Kuda Sempana kemudian melakukan kekerasan.
Kuda Sempana kali ini sudah pasti tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah dilakukannya di tepian sungai beberapa bulan yang lalu. Karena itu maka tanpa disengajanya, Wiraprana melemparkan pandangan matanya berkeliling. Dilihatnya beberapa orang cantrik memandangnya dengan tegang, namun ada di antara mereka yang berdiri saja dengan wajah yang kosong.
Wiraprana terkejut ketika Kuda Sempana membentak, “Carilah di antara mereka, siapakah yang akan berani menghalangi Kuda Sempana.”
Wiraprana menggigit bibirnya. Kuda Sempana benar-benar menyadari keunggulannya. Dan tiba-tiba Wiraprana itu menyesal, kenapa Mahisa Agni pergi sudah sekian lamanya masih juga belum kembali? Apakah ada sesuatu yang terjadi di sepanjang perjalanannya? Bahkan Wiraprana itu kemudian seakan-akan menyalahkan Mahisa Agni. Seakan-akan Mahisa Agni itulah yang mempunyai keharusan untuk menjaga adik angkatnya. Dan kepergiannya yang terlalu lama itu merupakan suatu kelengahan. Kini ternyata Kuda Sempana itu benar datang.
Apalagi ketika kemudian terdengar Kuda Sempana itu berkata, “Jangan mengharap Mahisa Agni akan membantu, Wiraprana. Anak itu masih berada di Tumapel.”
Wiraprana menggeram. “Apa pula kerja Mahisa Agni itu di Tumapel?” desah Wiraprana di dalam hatinya, “ternyata Mahisa Agni lebih mementingkan kesenangannya sendiri daripada melindungi adik angkatnya itu.”
Meskipun demikian, Wiraprana tidak akan dapat tinggal berdiam diri. Di sekitarnya berdiri beberapa orang cantrik. Apapun yang akan terjadi, maka Ken Dedes itu harus dipertahankan mati-matian. Ia akan berjuang mati-matian, dan para cantrik itu pasti akan membantunya. Karena itu maka Wiraprana itu pun menjawab,
“Kuda Sempana. Rumah ini adalah rumah Empu Purwa yang dikuasakan kepadaku selama Empu Purwa dan Mahisa Agni tidak ada di rumahnya. Hampir setiap hari aku datang kemari. Karena itu, jangan mencoba melampaui hak yang ada padaku itu. Dengan baik aku akan mencoba mempersilakanmu pergi meninggalkan halaman ini.”
Kuda Sempana itu tertawa untuk melepaskan kejengkelannya. Kenapa Wiraprana itu tidak lebih baik bersembunyi saja, atau melarikan diri? Maka katanya,
“Wiraprana, apakah kau sekarang mampu memecah langit, sehingga kau berani berdiri tegak di hadapan Kuda Sempana?”
Betapapun juga, namun Wiraprana tersinggung mendengar kata-kata itu. Maka dengan marahnya ia menjawab, “Kuda Sempana, jangan terlalu sombong! Jangan kau sangka bahwa kau akan mampu menundukkan seluruh isi jagat. Jika setiap usahamu yang kasar itu kau teruskan, maka aku pasti akan berusaha untuk mencegahnya.”
Sekali lagi Kuda Sempana tertawa terbahak-bahak untuk melepaskan perasaan yang menghimpit dadanya. Kemudian katanya lantang, “Sudah aku katakan, waktuku amat sempit. Minggir, atau aku paksa kau pergi? Bahkan lebih baik bagimu untuk memanggil Ken Dedes dan antarkan gadis itu kepadaku.”
“Gila!” geram Wiraprana dengan marahnya. Tetapi bagaimanapun juga ia menyadari keadaannya. Karena itu, ia masih saja berdiri tegak di tempatnya.
“Jangan bergeser dari tempatmu, Wiraprana. Aku akan masuk dan membawa Ken Dedes pulang. Sampaikan kepada Empu Purwa bahwa dengan menyesal aku tidak dapat datang dalam keadaan yang lebih baik dari sekarang, apabila ia tidak ada di rumah saat ini.”
Wiraprana belum beranjak dari tempatnya. Namun ia berkata, “Empu Purwa tidak ada di padepokan. Segala kekuasaan ada di tanganku.”
“Kalau begitu, berikan gadis itu sekarang!”
“Tidak.!
“Jangan keras kepala! Aku bisa memaksamu.”
“Tak ada gunanya.”
“Aku bisa menyingkirkanmu. Tegasnya aku bisa membunuhmu.”
Sekali lagi Wiraprana menebarkan pandangannya berkeliling. Para cantrik yang setia kepada Empu Purwa itu sudah tentu tidak dapat membiarkan hal itu terjadi. Karena itu, tanpa berjanji mereka melangkah beberapa langkah maju.
“Kau lihat?” geram Wiraprana.
“Huh. Barisan kelinci yang malang. Mereka akan menyesal atas kesombongan mereka. Juga kau akan menyesal. Sekali lagi aku minta, bahwa Ken Dedes kemari, atau aku akan mengambilnya.
“Pergi!” bentak Wiraprana dengan marahnya, “Pergi, atau kami memaksa pergi?”
Kuda Sempana tidak menghiraukannya. Dengan tenangnya ia melangkah maju. Selangkah ia menghindari Wiraprana untuk terus langsung naik ke pendapa. Namun perbuatannya itu benar-benar telah membakar hati Wiraprana. Ia merasa seakan-akan dianggap sebagai tidak ada. Karena itu, alangkah sakit hatinya. Betapapun ia menyadari keadaannya, namun ia berbesar hati ketika melihat beberapa orang cantrik pun segera melangkah maju untuk mencegah perbuatan yang gila itu. Karena itu Wiraprana pun melangkah satu langkah ke samping, langsung menghadang langkah Kuda Sempana sambil berteriak,
“Jangan gila!”
Kuda Sempana sama sekali tidak memperhatikannya. Ia melangkah terus sehingga dengan demikian, Wiraprana itu dilanggarnya. Dengan pundaknya ia mendesak dada Wiraprana yang gagah itu, namun sebenarnya Kuda Sempana kini sudah menjadi semakin garang, sehingga Wiraprana itu terdorong beberapa langkah surut. Wiraprana terkejut bukan buatan mengalami dorongan tenaga Kuda Sempana yang luar biasa itu. Untunglah bahwa ia tidak terbanting jatuh. Meskipun demikian, Wiraprana terpaksa mengerahkan tenaganya untuk menjaga keseimbangannya.
Tetapi, meskipun ia telah merasakan dorongan tenaga Kuda Sempana yang tampaknya masih seenaknya saja itu, serta dengan demikian dapat mengira-irakan kekuatannya, namun menjadi kewajibannya untuk mencoba mencegah perbuatan gila itu, apapun akibatnya. Karena itu maka Wiraprana menjadi mata gelap karenanya. Ia sudah tidak lagi sempat memperhitungkan apakah kira-kira yang akan terjadi atasnya. Maka, dengan serta-merta Wiraprana itu menangkap lengan Kuda Sempana, menariknya dan kemudian dengan sekuat tenaganya, Wiraprana itu mengayunkan tinjunya tepat mengarah ke wajah Kuda Sempana.
Tetapi sebenarnya Mahisa Agni tidak mempunyai pamrih. Seandainya Wiraprana kelak tidak mengucapkan terima kasih pun, ia tidak akan menyesal. Dengan kesetiaannya ia berusaha membuat Ken Dedes bahagia. Kesetiaan yang tidak diketahui sama sekali oleh orang lain. Namun kesetiaan itu benar-benar telah membakar dadanya. Kini Mahisa Agni menerima kuda itu. Kuda yang tegar, berwarna sawo. Tidak kalah tegarnya dengan kuda yang dipergunakan oleh Kuda Sempana tadi. Setelah sekali lagi Mahisa Agni mengucapkan terima kasih, maka ia segera meloncat ke punggung kuda itu. Meskipun demikian ia masih bertanya,
“Sekarang, kau tidak lagi berkendaraan Mahendra?”
Mahendra tertawa pendek. “Jarak yang harus kutempuh terlalu pendek dibandingkan dengan perjalananmu. Biarlah aku pulang dengan berjalan kaki. Hampir setiap hari aku sampai di sini pula.”
“Selamat tinggal Mahendra, mudah-mudahan aku tidak terlalu terlambat.”
Mahendra mengangguk. Perlahan-lahan ia bergumam, “Aku akan lebih berbahagia kalau kau berhasil, Wiraprana.”
“Terima kasih, terima kasih.”
Mahisa Agni itu pun segera memacu kudanya seperti angin. Ia ingin cepat-cepat sampai ke Panawijen. Namun ia pun ingin cepat-cepat melupakan setiap kata-kata Mahendra. Karena itu, maka kudanya yang telah berlari kencang itu, masih saja terasa, alangkah lambatnya. Seakan-akan suara Mahendra masih mengiang di telinganya, ‘Aku akan lebih berbahagia kalau kau berhasil, Wiraprana’. Mahisa Agni menggigit bibirnya. Kuda itu dipacu semakin cepat. Namun hatinya telah berlari lebih cepat daripada kaki-kaki kuda itu.
Kuda Mahisa Agni itu meluncur seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Kepulan debu yang putih bergulung-gulung di belakang kaki kudanya. Pepohonan yang tegak di pinggir-pinggir jalan, seakan-akan berlari cepat ke belakang, Sedang hutan-hutan yang terbujur di hadapannya, seperti berlari menyongsongnya. Semakin lama semakin besar. Dan semakin lama, semakin jelas setiap batang-batang yang tumbuh di sepanjang tepinya.
Tetapi gelora di dalam dada Mahisa Agni sendiri itu pun menjadi semakin keras. Bermacam-macam persoalan hilir mudik di dalam dadanya. Sekali-kali jauh di dasar hatinya terdengar pula suara, ‘Mahisa Agni Kenapa kau menjadi sedemikian cemasnya? Bulankah Ken Dedes telah mempunyai seorang pelindung yang harus melindunginya. Kalau Wiraprana tak sanggup bertanggung jawab terhadapnya maka lebih baik ia melepaskan ikatan yang telah dijalinnya. Ia menginginkan hak itu, namun ia tak mampu memikul kewajibannya’.
Namun kemudian terdengar suara yang lain, ‘Itu bukan salahnya. Dunia di sekitarnya yang masih sebuas hutan rimba. Kalau setiap orang menyadari hak dan kewajiban masing-masing, maka tak akan ada persoalan lagi. Meskipun Wiraprana tak mampu untuk berkelahi, namun dalam peradaban yang baik tak perlu ia harus berkelahi. Karena Wiraprana bukan tidak mengerti akan kewajibannya, tetapi ia sebenarnya tidak mampu menghadapi kebuasan lingkungannya, maka apa salahnya aku menyelamatkannya’.
Terdengar Mahisa Agni itu menggeram di atas punggung kudanya. Dan kuda itu masih berlari secepat angin. Sekali-kali Mahisa Agni mengusap wajahnya yang dipenuhi oleh debu yang melekat karena peluhnya yang membasahi kulitnya. Sekali-sekali dirabanya bungkusannya yang melingkari lambungnya, berbelitan dengan ikat pinggangnya. Dan terasa di dalamnya, keris peninggalan ayahnya. Kalau Kuda Sempana menjadi gila, maka ia pun kini bersenjata.
Matahari yang mengapung di langit bergeser setapak demi setapak. Kini matahari itu telah melampaui puncak langit, dan telah mulai dengan perjalanannya untuk bersembunyi di balik pegunungan. Namun sinarnya masih juga terasa membakar kulit. Debu yang putih yang dihamburkan oleh kaki-kaki kuda Mahisa Agni, tampak bergulung-gulung. Kemudian buyar ditiup angin dari selatan. Jauh di langit kadang-kadang tampak burung-burung cangak beterbangan di atas tanah yang basah. Namun Mahisa Agni tidak sempat untuk memperhatikannya. Kudanya yang berpacu itu serasa seakan-akan betapa malasnya. Sekali disentuhnya perut kuda itu dengan kakinya, sehingga kuda itu meloncat semakin cepat.
Sesaat kemudian Mahisa Agni telah masuk melintas jalan-jalan di tengah-tengah hutan. Perjalarannya kini tidak dapat secepat semula. Sekali-sekali beberapa potong dahan-dahan kayu yang patah, serta sulur beringin tua, mengganggu perjalanannya. Sedang jalan menjadi bertambah sempit. Tetapi kuda itu masih berlari terus, tanpa menghiraukan apapun yang mungkin akan memperlambat.
Demikianlah Mahisa Agni berpacu melawan waktu. Sebab Kuda Sempana telah jauh mendahuluinya. Ia harus sampai di Panawijen sebelum Kuda Sempana telah melarikan Ken Dedes. Mudah-mudahan gurunya telah kembali. Tetapi agaknya Empu Purwa masih di perjalanan, bahkan menurut keterangannya, gurunya itu masih akan singgah di rumah sahabat-sahabatnya setelah ia merasa menurunkan ilmunya yang tertinggi kepada muridnya. Seolah-olah pekerjaan Empu Purwa itu telah selesai, dan kini ia tinggal menikmati masa istirahatnya. Agaknya Empu yang sudah lanjut usia itu telah mempercayakan segala sesuatunya kepada Mahisa Agni, satu-satunya muridnya yang lahir batinnya benar-benar mengagumkan baginya.
Karena itu Mahisa Agni menjadi semakin gelisah. Sesudah hutan ini masih terentang jalan yang sangat panjang. Namun berterima kasihlah ia kepada Witantra dan Mahendra yang telah menolongnya mempercepat perjalanannya dengan kecepatan yang berlipat ganda. Kalau ia harus berjalan, maka sudah hampir dapat dipastikan bahwa ia akan jauh terlambat. Dan ia tinggal akan menemukan bekas- bekas dari bencana itu. Meskipun demikian, kegelisahan masih saja menyala-nyala di dalam dadanya. Meskipun ia kini telah dapat mempercepat perjalanannya, namun ia masih mencemaskan, bahwa Kuda Sempana benar-benar tidak mampu mengekang dirinya, sehingga sejak langkahnya yang pertama, ia telah bermata gelap.
Sebenarnyalah pada saat itu, Kuda Sempana pun sedang berpacu menuju ke Panawijen. Ketika anak muda itu bertemu dengan Mahisa Agni di Tumapel, maka tiba-tiba timbul niatnya untuk menumpahkan kemarahannya dan dendamnya. Sebab kini ia merasa, bahwa ia telah memiliki bekal yang jauh lebih banyak daripada saat ia dikalahkan oleh Mahisa Agni.
Tetapi keadaan Tumapel agaknya tidak menguntungkannya. Mungkin beberapa orang melihat, bahwa Mahisa Agni tidak bersalah pada waktu itu sehingga akibatnya akan tidak menguntungkan baginya. Karena itu, maka ia mengambil jalan yang lain untuk menumpahkan dendamnya. Segera ia memacu kudanya menemui pimpinannya untuk mohon diri dua tiga hari. Ia dapat saja memberikan segala macam alasan untuk pulang ke kampung halaman. Kalau kelak Ken Dedes telah dapat dirampasnya,dan dilarikannya, maka apa yang akan terjadi akan dihadapinya dengan dada tengadah. Wiraprana, Mahisa Agni dan siapa lagi. Tetapi gadis itu harus sudah di tangannya dan disembunyikannya dahulu.
Karena itu, maka ia pun kemudian berpacu kembali ke Panawijen. Ia harus langsung pergi ke rumah Empu Purwa. Minta gadis itu untuk dibawanya. Kalau tidak boleh, maka ia akan mempergunakan kekerasan. Ia tidak takut seandainya seluruh cantrik dari padepokan itu akan mengeroyoknya. Bahkan orang-orang seluruh padukuhan. Dengan ayunan tangannya ia mampu membunuh siapa saja yang mendekatinya.
Kuda Sempana itu kemudian tersenyum sendiri. Ia tidak menyangka bahwa ia harus mengambil seorang gadis dengan cara yang aneh itu. Tetapi betapapun bahaya yang akan dihadapinya, namun ia tidak akan surut. Ia pernah mendengar juga bahwa Mahendra pun pernah menginginkan Ken Dedes itu pula. Maka seandainya Mahendra itu pun datang kepadanya, maka ia pun tidak akan gentar. Bahkan seandainya Witantra sekali pun. Meskipun Kuda Sempana itu agak seimbang juga menilai kekuatan Witantra. Sebab ia tahu benar, apa saja yang pernah dilakukan oleh Witantra itu sebagai seorang prajurit.
Tetapi Kuda Sempana itu menggeram, “Persetan semuanya! Akulah Kuda Sempana!”
Dengan demikian maka Kuda Sempana kemudian berusaha menindas semua persoalan yang tumbuh di dalam hatinya. Tekadnya telah bulat, melarikan Ken Dedes dengan segala akibatnya. Kini Kuda Sempana itu tertawa seorang diri. Tertawa untuk melepaskan kegelisahan-kegelisahan yang merayapi hatinya. Ia benar-benar tidak mau tahu apapun yang mungkin terjadi karena perbuatannya itu. Anak muda itu telah berusaha untuk membutakan matanya dan menulikan telinganya. Persetan semuanya! Persetan! Maka kudanya kini menjadi semakin laju. Terasa angin yang kencang menghembus wajahnya. Namun wajah itu pun ditengadahkannya. Bahkan ia bergumam,
“Siapakah yang berani menghalangi Kuda Sempana?”
Meskipun demikian, Kuda Sempana itu berdebar-debar pula ketika ia meninggalkan daerah-daerah hutan yang terakhir. Ia tidak menempuh jalan yang biasa dilalui oleh Mahisa Agni, padang rumput Karautan. Namun Kuda Sempana melingkar sedikit, lewat padukuhan Talrampak. Meskipun seperti Mahisa Agni anak muda itu sama sekali tidak takut kepada apapun, juga yang dahulu sering disebut hantu padang rumput, namun Kuda Sempana tidak mau perjalanannya dihambat. Meskipun ia mendengar juga, bahwa hantu padang rumput itu kini telah tidak ada lagi, namun lebih baik baginya melewati jalan yang paling aman, daripada ia terlambat.
Demikianlah Kuda Sempana akhirnya telah melampaui perjalanannya yang tergesa-gesa. Dengan gagahnya ia memacu kudanya, masuk .ke padukuhan tempat kelahirannya. Panawijen.
Beberapa orang yang sedang bekerja di sawah melihatnya dengan heran. Bukankah anak itu seakan-akan telah disingkirkan untuk waktu yang tertentu. Maka tiba-tiba kini ia datang kembali dengan tergesa-gesa. Apakah waktu yang ditentukan itu telah habis? Orang itu pun kemudian berbisik-bisik satu sama lain. Sehingga kemudian seorang arak muda berkata,
“He, apakah Kuda Sempana telah sampai waktunya pulang?”
Seorang yang berdahi lebar menjawab, “Aku sangka belum.”
Anak muda itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia berkata, “He. Bukankah Mahisa Agni belum kembali?”
“Kenapa?”
“Bukankah dahulu Mahisa Agnilah yang berhasil mencegahnya mengambil langsung Ken Dedes dari pinggir belumbang?”
Orang berdahi lebar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kuda yang ditunggangi oleh Kuda Sempana sudah tidak tampak lagi di mata mereka.
“Marilah kita lihat. Apakah anak muda yang gagah itu masih saja melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela itu.”
Kedua orang itu pun kemudian bergegas-gegas meninggalkan sawah mereka. Beberapa orang yang lain pun segera mengikutinya.
Sampai di sudut padukuhan mereka, mereka bertanya kepada seorang anak kecil, “Kau lihat seorang penunggang kuda?”
Anak itu mengangguk, “Ya.”
“Ke mana?”
“Masuk kemari. Dan berbelok ke kiri.
“Ke kiri?”
“Ya. Kenapa?” anak kecil itu menjadi keheranan.
“Tidak apa-apa nak. Tetapi jangan bermain-main di tengah jalan. Kau lihat kuda yang berlari kencang ini tadi bukan?” Anak itu mengangguk.
Kedua orang itu pun berjalan pula menuruti jalan yang ditempuh oleh Kuda Sempana dengan berdebar-debar.
“Jalan ini menuju ke rumah Empu Purwa.”
“Ya,” jawab yang lain.
“Apakah anak itu masih gila seperti dahulu?”
“Mungkin.”
Beberapa orang yang mendengar suara kaki kuda berderap itu pun memerlukan untuk melihatnya. Ketika mereka melihat kedua orang yang kuat itu, maka mereka kemudian saling berbicara.
“Aku ikut,” berkata beberapa anak muda.
“Apakah Wiraprana di rumah?” bertanya salah seorang di antaranya.
“Mudah-mudahan. Sejak Mahisa Agni pergi, kemudian Empu Purwa pergi pula, Wirapranalah yang diserahi untuk mengawasi padepokan itu. Mudah-mudahan ia berada di sana.”
“Tetapi Wiraprana tak dapat mencegahnya seperti dahulu.”
“Wiraprana tidak sendiri. Di padepokan itu ada beberapa orang cantrik.”
“Mari kita lihat. Kita tidak akan membiarkan kawan-kawan kita dicederainya.”
Anak-anak muda Panawijen bukanlah anak-anak muda yang senang bertengkar. Kehidupan yang damai selama ini, sama sekali tidak menggerakkan mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan kekerasan. Karena itu, maka tidak banyak di antara mereka, yang telah mempelajari cara-cara tata bela diri. Meskipun demikian, mereka memiliki kesetia kawanan yang tinggi. Kebiasaan mereka bekerja bersama-sama. Membuat parit-parit, bendungan dan sambatan membangun rumah, adalah pencerminan dari cara hidup mereka yang rukun.
Dengan tergesa-gesa beberapa anak muda itu berjalan mengikuti telapak kaki kuda yang dipakai oleh Kuda Sempana. Semakin lama mereka menjadi semakin berdebar-debar. Kuda itu benar-benar menuju ke padepokan Empu Purwa.
Sebenarnya Kuda Sempana langsung menuju ke rumah Empu Purwa. Ia takut kalau Mahisa Agni segera pulang, dan menggagalkan maksudnya pula. Karena itu, maka akan dipergunakannya waktu sebaik-baiknya. Langsung mengambil gadis itu, dan dibawanya ke Tumapel. Disembunyikannya gadis itu di rumah sahabatnya, dan akan dihadapinya setiap bencana yang akan mengancamnya. Sampai nanti saatnya Ken Dedes melahirkan. Setelah itu, semuanya akan beres. Tak seorang pun yang akan dapat menuntutnya. Meskipun di Tumapel tinggal pula Mahendra, namun ia tidak takut melawan anak itu, meskipun ia belum pasti apakah ia akan dapat mengalahkannya. Meskipun tekadnya telah bulat, namun semakin dekat Kuda Sempana dengan rumah Empu Purwa, hatinya menjadi semakin berdebar-debar juga.
Kedatangan Kuda Sempana di padepokan itu benar-benar mengejutkan. Deru kaki kudanya seakan-akan membelah kedamaian halaman yang sunyi itu. Beberapa orang cantrik yang sedang bekerja di halaman, segera meletakkan alat-alat mereka. Dengan bergegas mereka menengok ke pintu gerbang. Siapakah yang datang berkuda itu?. Ketika mereka melihat seorang anak muda yang tampan, maka mula-mula mereka menjadi kecewa. Yang mereka harapkan sejak berhari-hari adalah Mahisa Agni, atau Empu Purwa sendiri. Namun yang datang bukanlah salah seorang dari mereka. Tetapi ketika mereka sadar, siapakah anak muda yang masih saja duduk di punggung kuda itu mereka terperanjat.
“Kuda Sempana,” terdengar beberapa orang di antara mereka berdesis.
Kuda Sempana telah menghentikan kudanya. Namun ia masih duduk di atas punggung kuda itu. Ditebarkannya pandangannya berkeliling. Dilihatnya beberapa orang cantrik dan emban satu demi satu muncul dari balik pepohonan dan dinding-dinding rumah. Dan dilihatnya pula mereka menjadi terkejut karenanya. Hati Kuda Sempana itu berdesir ketika tiba-tiba muncul dari balik pintu pringgitan, seorang anak muda yang tegap tampan. Wiraprana.
Alangkah terkejutnya Wiraprana itu. Beberapa saat ia tegak saja seperti patung. Ditatapnya Kuda Sempana yang masih duduk di atas punggung kuda seperti menatap wajah hantu. Ketika pada saat itu seorang gadis yang berlari-lari dari belakang muncul pula di ambang pintu, maka dengan serta-merta Wiraprana mendorongnya sambil bergumam,
“Masuklah. Setan itu datang lagi.”
Ken Dedes masih belum sempat melihat siapakah yang datang berkuda itu. Namun ia sadar, bahwa sesuatu yang tidak wajar pasti terjadi. Karena itu maka ia pun bertanya perlahan-lahan,
“Siapa?”
“Kuda Sempana,” desis Wiraprana.
“He?” Ken Dedes itu pun terkejut bukan buatan. Terasa tiba-tiba kakinya gemetar dan darahnya seakan-akan membeku. Dengan suara yang parau ia mencoba menjelaskan, “Kuda Sempana katamu?”
Wiraprana mengangguk. Desisnya, “Masuklah.”
Ken Dedes tidak membantah. Segera ia beringsut masuk kembali ke dalam rumah, bahkan langsung bersembunyi ke dalam biliknya.
“Emban,” desahnya.
Seorang emban tua datang menghampirinya. Ketika dilihatnya momongannya menggigil maka dengan heran ia bertanya, “Siapakah yang datang itu?”
Ken Dedes terbungkam. Ia tidak berani menyebut nama Kuda Sempana. Bibirnya seakan-akan tabu menyebut nama itu. Namun tiba-tiba air matanya mengambang di antara pelupuknya. Patah-patah ia bergumam,
“Kenapa ayah tidak segera pulang? Atau Kakang Mahisa Agni?”
Emban tua itu menjadi bingung. Sekali lagi ia bertanya, “Siapakah yang datang itu?”
“Anak itulah yang telah menghina namaku di belumbang di tepian sungai beberapa bulan yang lalu.”
“Angger Kuda Sempana?”
“Jangan Bibi, jangan kau sebut nama itu. Aku dapat menjadi pingsan karenanya.”
Emban tua itu mengerutkan keningnya. Ia mendengar pula, apa yang pernah terjadi di pinggir sungai itu. Karena itu maka ia pun ikut berdebar-debar pula karenanya. Meskipun demikian emban tua itu masih mencoba menghiburnya,
“Jangan cemaskan anak muda itu. Bukankah Angger Wiraprana sedang berada di rumah ini?”
Ken Dedes menggelengkan kepalanya. Namun ia tidak berkata apa-apa. Hanya di dalam hatinya terdengar kata-katanya, “Wiraprana tidak dapat melawannya.”
Karena itu maka Ken Dedes menjadi semakin cemas. Sekali-sekali matanya beredar di antara dinding-dinding rumahnya, seolah-olah ia sedang mencari tempat untuk menyembunyikan dirinya. Namun halaman rumahnya dikelilingi oleh sebuah pagar batu yang rapat. Sehingga jalan satu-satunya yang dapat dilaluinya, hanya regol depan. Dan ia tidak berani menampakkan dirinya ke halaman.
Sementara itu di halaman rumah Empu Purwa yang luas itu Kuda Sempana masih duduk saja di atas punggung kudanya. Di pintu rumah itu, Wiraprana berdiri tegak dengan tegangnya. Sesaat mereka hanya saling memandang dengan tajamnya, seakan-akan dari kedua pasang mata itu memancar dendam yang menyala-nyala. Ketika kemudian Kuda Sempana meloncat turun dari kudanya, maka Wiraprana pun melangkah melampaui tlundak pintu. Perlahan-lahan ia berjalan melewati pendapa dan dengan getar yang semakin cepat di dalam dadanya, ia melangkah turun tangga dan berdiri tegak di halaman pula. Kini jarak mereka hanya tinggal beberapa depa. Kuda Sempana masih sempat memandang berkeliling. Dan di sekitar halaman itu dilihatnya beberapa orang cantrik dan emban berdiri pula dengan tegangnya.
Kini Kuda Sempana kembali menatap wajah Wiraprana. Dan tiba-tiba terdengar suaranya bergetar, “Apa kerjamu di rumah ini Wiraprana?”
Wiraprana menyadari, dengan siapa ia berhadapan. Karena itu maka ia menjawab tegas, “Aku berada di rumah bakal mertuaku.”
“Gila!” teriak Kuda Sempana, “Jangan kau ulangi!”
Wiraprana menjadi berdebar-debar karenanya. Namun ia mengulangi kata-katanya, “Aku berada di rumah mertuaku.”
Kuda Sempana menggeram. Ia tidak berani berbuat tergesa-gesa. Ia belum yakin benar, apakah selama ini Wiraprana sama sekali tidak berusaha untuk mempelajari ilmu yang mungkin dapat menolong dirinya. Meskipun demikian, anak muda itu benar-benar telah membakar dadarnya. Sehingga karena itu ia berkata lantang,
“Wiraprana, jangan menyombongkan dirimu. Seandainya kau kini berkawan dengan dewa-dewa di langit sekali pun, namun kau bagiku tidak lebih dari seorang anak yang manja. Karena itu, Wiraprana, jangan mencoba menghalangi aku kali ini. Aku sangat tergesa-gesa.”
“Kau belum mengatakan, apa maksud kedatanganmu?” sahut Wiraprana.
Kuda Sempana menarik alisnya. Ditatapnya wajah Wiraprana dengan tajamnya. Sesaat kemudian terdengar ia menjawab, “Jangan memperbodoh diri Wiraprana. Aku datang untuk menjemput bakal istriku.”
Terasa dada Wiraprana itu berdesir. Ia sudah menduga apa yang akan dilakukan oleh Kuda Sempana itu. Namun ketika ia mendengar sendiri jawaban itu, maka mau tidak mau ia menjadi berdebar-debar. Betapapun ia mencoba menenangkan diri sendiri, namun sebenarnyalah ia mengetahui dengan pasti, bahwa ia tidak akan mampu mencegahnya seandainya Kuda Sempana kemudian melakukan kekerasan.
Kuda Sempana kali ini sudah pasti tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah dilakukannya di tepian sungai beberapa bulan yang lalu. Karena itu maka tanpa disengajanya, Wiraprana melemparkan pandangan matanya berkeliling. Dilihatnya beberapa orang cantrik memandangnya dengan tegang, namun ada di antara mereka yang berdiri saja dengan wajah yang kosong.
Wiraprana terkejut ketika Kuda Sempana membentak, “Carilah di antara mereka, siapakah yang akan berani menghalangi Kuda Sempana.”
Wiraprana menggigit bibirnya. Kuda Sempana benar-benar menyadari keunggulannya. Dan tiba-tiba Wiraprana itu menyesal, kenapa Mahisa Agni pergi sudah sekian lamanya masih juga belum kembali? Apakah ada sesuatu yang terjadi di sepanjang perjalanannya? Bahkan Wiraprana itu kemudian seakan-akan menyalahkan Mahisa Agni. Seakan-akan Mahisa Agni itulah yang mempunyai keharusan untuk menjaga adik angkatnya. Dan kepergiannya yang terlalu lama itu merupakan suatu kelengahan. Kini ternyata Kuda Sempana itu benar datang.
Apalagi ketika kemudian terdengar Kuda Sempana itu berkata, “Jangan mengharap Mahisa Agni akan membantu, Wiraprana. Anak itu masih berada di Tumapel.”
Wiraprana menggeram. “Apa pula kerja Mahisa Agni itu di Tumapel?” desah Wiraprana di dalam hatinya, “ternyata Mahisa Agni lebih mementingkan kesenangannya sendiri daripada melindungi adik angkatnya itu.”
Meskipun demikian, Wiraprana tidak akan dapat tinggal berdiam diri. Di sekitarnya berdiri beberapa orang cantrik. Apapun yang akan terjadi, maka Ken Dedes itu harus dipertahankan mati-matian. Ia akan berjuang mati-matian, dan para cantrik itu pasti akan membantunya. Karena itu maka Wiraprana itu pun menjawab,
“Kuda Sempana. Rumah ini adalah rumah Empu Purwa yang dikuasakan kepadaku selama Empu Purwa dan Mahisa Agni tidak ada di rumahnya. Hampir setiap hari aku datang kemari. Karena itu, jangan mencoba melampaui hak yang ada padaku itu. Dengan baik aku akan mencoba mempersilakanmu pergi meninggalkan halaman ini.”
Kuda Sempana itu tertawa untuk melepaskan kejengkelannya. Kenapa Wiraprana itu tidak lebih baik bersembunyi saja, atau melarikan diri? Maka katanya,
“Wiraprana, apakah kau sekarang mampu memecah langit, sehingga kau berani berdiri tegak di hadapan Kuda Sempana?”
Betapapun juga, namun Wiraprana tersinggung mendengar kata-kata itu. Maka dengan marahnya ia menjawab, “Kuda Sempana, jangan terlalu sombong! Jangan kau sangka bahwa kau akan mampu menundukkan seluruh isi jagat. Jika setiap usahamu yang kasar itu kau teruskan, maka aku pasti akan berusaha untuk mencegahnya.”
Sekali lagi Kuda Sempana tertawa terbahak-bahak untuk melepaskan perasaan yang menghimpit dadanya. Kemudian katanya lantang, “Sudah aku katakan, waktuku amat sempit. Minggir, atau aku paksa kau pergi? Bahkan lebih baik bagimu untuk memanggil Ken Dedes dan antarkan gadis itu kepadaku.”
“Gila!” geram Wiraprana dengan marahnya. Tetapi bagaimanapun juga ia menyadari keadaannya. Karena itu, ia masih saja berdiri tegak di tempatnya.
“Jangan bergeser dari tempatmu, Wiraprana. Aku akan masuk dan membawa Ken Dedes pulang. Sampaikan kepada Empu Purwa bahwa dengan menyesal aku tidak dapat datang dalam keadaan yang lebih baik dari sekarang, apabila ia tidak ada di rumah saat ini.”
Wiraprana belum beranjak dari tempatnya. Namun ia berkata, “Empu Purwa tidak ada di padepokan. Segala kekuasaan ada di tanganku.”
“Kalau begitu, berikan gadis itu sekarang!”
“Tidak.!
“Jangan keras kepala! Aku bisa memaksamu.”
“Tak ada gunanya.”
“Aku bisa menyingkirkanmu. Tegasnya aku bisa membunuhmu.”
Sekali lagi Wiraprana menebarkan pandangannya berkeliling. Para cantrik yang setia kepada Empu Purwa itu sudah tentu tidak dapat membiarkan hal itu terjadi. Karena itu, tanpa berjanji mereka melangkah beberapa langkah maju.
“Kau lihat?” geram Wiraprana.
“Huh. Barisan kelinci yang malang. Mereka akan menyesal atas kesombongan mereka. Juga kau akan menyesal. Sekali lagi aku minta, bahwa Ken Dedes kemari, atau aku akan mengambilnya.
“Pergi!” bentak Wiraprana dengan marahnya, “Pergi, atau kami memaksa pergi?”
Kuda Sempana tidak menghiraukannya. Dengan tenangnya ia melangkah maju. Selangkah ia menghindari Wiraprana untuk terus langsung naik ke pendapa. Namun perbuatannya itu benar-benar telah membakar hati Wiraprana. Ia merasa seakan-akan dianggap sebagai tidak ada. Karena itu, alangkah sakit hatinya. Betapapun ia menyadari keadaannya, namun ia berbesar hati ketika melihat beberapa orang cantrik pun segera melangkah maju untuk mencegah perbuatan yang gila itu. Karena itu Wiraprana pun melangkah satu langkah ke samping, langsung menghadang langkah Kuda Sempana sambil berteriak,
“Jangan gila!”
Kuda Sempana sama sekali tidak memperhatikannya. Ia melangkah terus sehingga dengan demikian, Wiraprana itu dilanggarnya. Dengan pundaknya ia mendesak dada Wiraprana yang gagah itu, namun sebenarnya Kuda Sempana kini sudah menjadi semakin garang, sehingga Wiraprana itu terdorong beberapa langkah surut. Wiraprana terkejut bukan buatan mengalami dorongan tenaga Kuda Sempana yang luar biasa itu. Untunglah bahwa ia tidak terbanting jatuh. Meskipun demikian, Wiraprana terpaksa mengerahkan tenaganya untuk menjaga keseimbangannya.
Tetapi, meskipun ia telah merasakan dorongan tenaga Kuda Sempana yang tampaknya masih seenaknya saja itu, serta dengan demikian dapat mengira-irakan kekuatannya, namun menjadi kewajibannya untuk mencoba mencegah perbuatan gila itu, apapun akibatnya. Karena itu maka Wiraprana menjadi mata gelap karenanya. Ia sudah tidak lagi sempat memperhitungkan apakah kira-kira yang akan terjadi atasnya. Maka, dengan serta-merta Wiraprana itu menangkap lengan Kuda Sempana, menariknya dan kemudian dengan sekuat tenaganya, Wiraprana itu mengayunkan tinjunya tepat mengarah ke wajah Kuda Sempana.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar