MENU

Ads

Sabtu, 14 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 033

Namun, Kuda Sempana kini telati memiliki ketangkasan jauh lebih maju dari beberapa bulan yang lampau. Karena itu, ketika ia melihat tangan Wiraprana terayun dengan derasnya ke wajahnya, maka segera ia menarik kepalanya itu beberapa jengkal ke belakang sambil memiringkan pundaknya. Namun gerakan yang sederhana itu telah melepaskannya dari serangan Wiraprana.

Wiraprana yang mengayunkan tangannya dengan sekuat tenaganya, serta ternyata tangannya tak menyentuh sesuatu itu, seakan-akan terseret oleh kekuatannya sendiri. Beberapa langkah ia terdorong ke samping. Namun tak disangka-sangkanya, bahwa pada saat itu, Kuda Sempana memukulnya pada punggungnya. Wiraprana yang sedang kehilangan keseimbangannya, benar-benar tak mampu lagi menolong dirinya. Dengan tanpa dapat berbuat sesuatu ia terbanting di tanah. Bulat-bulat ia terjerembab. Sedang wajahnya yang merah membara karena kemarahannya itu menyentuh tanah.

Para cantrik yang melihat peristiwa itu terkejut bukan main. Namun pukulan Kuda Sempana itu seolah-olah menjadi isyarat bagi para cantrik itu untuk bangun dari tidur mereka. Setelah mereka menyaksikan semuanya yang terjadi dengan mulut ternganga, maka tiba-tiba mereka merasa bahwa mereka pun berkewajiban untuk mencegah perbuatan Kuda Sempana yang gila itu.

Maka dengan serta-merta mereka pun berloncatan maju dan hampir bersama pula mereka menyerang Kuda Sempana. Tetapi Kuda Sempana telah memperhitungkan peristiwa-peristiwa yang mungkin terjadi. Demikian ia melihat para cantrik itu menyerangnya, maka segera ia meloncat menyongsong mereka. Dengan satu gerakan yang sederhana, maka seorang cantrik telah terpelanting jatuh menimpa tangga pendapa. Terdengar cantrik itu mengaduh. Namun sesaat kemudian dengan tertatih-tatih ia berusaha untuk bangun kembali.

Pada saat itu ia melihat Wiraprana pun telah bangun pula. Tampaklah wajahnya yang merah padam. Jantungnya serasa telah menyala mendidihkan darahnya. Terdengar giginya gemeretak dan tangannya menjadi gemetar. Karena itu dengan sepenuh tenaga, segera ia melepaskan kembali sebuah serangan mengarah ke dada Kuda Sempana. Kuda Sempana yang melayani serangan-serangan para cantrik, melihat serangan Wiraprana yang dilontarkan dengan sepenuh tenaga itu. Namun Kuda Sempana itu menarik alisnya sambil tertawa pendek.

“Apakah selama ini kau masih saja tertidur Wiraprana? Serangan-seranganmu datang seperti serangan seekor babi hutan. Keras, namun sama sekali tak berarti. Dengan satu gerakan yang sederhana, seranganmu telah dapat dihindari.”

Tetapi Wiraprana telah melontarkan diri. Karena itu ia tidak dapat menarik serangannya. Dan sebenarnyalah dengan menarik satu kakinya ke samping, memutar tubuhnya setengah lingkaran, serangan Wiraprana itu telah dapat dihindari. Sekali lagi Kuda Sempana mengayunkan tangannya ke arah punggung Wiraprana, dan sekali lagi Wiraprana yang malang itu terdorong dengan kerasnya, dan jatuh terjerembab.

Kembali terdengar suara tertawa Kuda Sempana. Kini suaranya menjadi semakin keras. Serangan para cantrik yang datang bertubi-tubi itu, dengan mudahnya dapat dihindarinya satu demi satu. Bahkan beberapa orang cantrik telah terlempar jatuh. Meskipun kemudian mereka berusaha untuk berdiri tetapi mereka telah menjadi semakin jera. Kini mereka menyerang dengan ragu-ragu. Meskipun demikian, satu kesadaran telah mengikat mereka dalam perkelahian itu. Mencegah perbuatan Kuda Sempana.

Wiraprana yang terjerembab itu pun kemudian bangun kembali. Kemarahannya menjadi semakin menggelegak di dalam dadanya. Matanya seakan-akan menjadi menyala, dan mulutnya terkatup rapat. Dengan cermat ia memandang Kuda Sempana seperti hendak ditelannya. Dan kemarahannya menjadi semakin membakar ketika ia melihat Kuda Sempana itu dengan tenangnya berkelahi melawan beberapa orang cantrik sambil tertawa. Katanya,

“Aku masih mencoba berbuat dengan sebaik-baiknya. Tetapi waktuku tidak banyak. Karena itu sebaiknya kalian menghentikan perlawanan kalian. Ambillah Ken Dedes dan serahkan kepadaku. Sebab perlawanan kalian ini pun tak akan berarti.”

“Tutup mulutmu!” bentak Wiraprana.

“Jangan membuat aku semakin marah,” sahut Kuda Sempana.

Tetapi Wiraprana tidak memedulikannya lagi. Kembali ia mencoba menyerang Kuda Sempana. Serangan Wiraprana itu telah membangkitkan keberanian para cantrik itu kembali. Karena itu, maka bersama-sama mereka menyerang Kuda Sempana itu pula. Kuda Sempana kini sudah tidak sabar lagi. Ia pun takut, kalau Mahisa Agni akan segera datang, meskipun menurut perhitungannya masih agak jauh. Karena itu, maka segera ia ingin mengakhiri pertempuran.

Ketika serangan Wiraprana datang kembali, maka Kuda Sempana sama sekali tidak berusaha untuk menghindarinya. Dengan sebagian besar tenaganya, ia melawan serangan pula, sehingga segera terjadi benturan di antara mereka. Tetapi sebenarnyalah bahwa benturan itu sama sekali tidak seimbang. Wiraprana segera terlempar beberapa langkah dan kemudian kembali ia jatuh terbanting di tanah.

Yang terdengar adalah suara Kuda Sempana tertawa dan berkata, “Sudahlah Wiraprana. Tak akan ada gunanya melakukan perlawanan. Sekali lagi aku peringatkan, jangan membuat aku menjadi semakin marah.”

Tetapi belum lagi Kuda Sempana selesai, Wiraprana yang terguling itu telah berusaha berdiri. Sementara itu para cantrik telah berebutan menyerangnya. Kuda Sempana kini telah benar-benar menjadi marah. Karena itu, maka segera ia membalas setiap serangan para cantrik. Sehingga dengan demikian, maka para cantrik yang hanya pandai mengatur padepokan dan meladeni upacara-upacara keagamaan itu menjadi kalang kabut. Satu demi satu, bahkan kadang-kadang dua tiga sekaligus, yang datang menyerang bersama-sama, berbareng terlempar jauh.

Namun sementara itu Wiraprana telah berdiri. Dengan marahnya ia menggeram, dan dengan membabi buta ia menyerang lawannya sejadi-jadinya. Namun Kuda Sempana itu pun menjadi marah pula Ketika Wiraprana datang menyerangnya, maka selangkah ia meloncat ke samping sehingga serangan Wiraprana itu tak menyentuhnya. Tetapi dalam pada itu, maka serangan Kuda Sempana itu pun segera mengalir seperti bendungan pecah. Sekali tangan Kuda Sempana memukul lambung Wiraprana sehingga anak muda yang tegap tinggi itu terdorong ke samping, namun sebelum Wiraprana berhasil memperbaiki keseimbangannya, tiba-tiba Kuda Sempana yang marah itu meloncat maju. Sebuah pukulan yang keras mengenai dagu Wiraprana. Ketika wajahnya itu mengangkat, maka sekali lagi tangan Kuda Sempana terayun deras sekali. Kali ini ke perut lawannya.

Terdengar sebuah keluhan tertahan. Dan ketika Kuda Sempana melangkah selangkah mundur, maka tubuh Wiraprana itu pun kemudian jatuh terkulai di tanah. Kuda Sempana menarik nafas panjang. Dengan mata yang merah menyala ia memandang wajah-wajah yang berdiri di sekitarnya. Para cantrik yang melihat peristiwa itu menjadi ngeri karenanya

“Siapa lagi?” desis Kuda Sempana. Tak seorang pun yang berani beranjak dari tempatnya. “Kalau tak ada yang mau mencoba lagi, jangan halangi aku mengambil Ken Dedes. Di mana ia sekarang?”

Para cantrik itu pun menjadi gelisah. Namun tak seorang pun menjawab. Mereka terpaku seperti tonggak. Berdiri saja dengan mata tak berkedip.



“Hem,” geram Kuda Sempana “kalau tak ada di antara kalian yang mau menunjukkan, biarlah aku cari sendiri.”

Tetapi para cantrik itu tak dapat membiarkan Kuda Sempana mengambil Ken Dedes. Karena itu tanpa mereka sengaja, mereka berteriak,

“Jangan!”

Mata Kuda Sempana menjadi semakin menyala. Ditatapnya wajah para cantrik itu sambil berteriak, “Siapa yang akan menghalangi?”

Kembali para cantrik itu terdiam. Dan kembali Kuda Sempana melangkah maju. Namun langkahnya itu terhenti ketika para cantrik pun bergerak maju.

“Apakah yang akan kalian lakukan?” bentak Kuda Sempana. Para cantrik itu terdiam.

Kuda Sempana yang melihat tingkah laku para cantrik itu menjadi sangat marah. Dengan serta-merta ia meloncat menyerbu. Setiap kali tangan dan kakinya bergerak, setiap kali seorang cantrik terpelanting jatuh sambil mengeluh pendek. Tubuh-tubuh yang terbanting itu merasa, seakan-akan segenap tulang belulangnya menjadi remuk. Dan karena itulah maka mereka tidak lagi sempat untuk berdiri, ketika mereka melihat Kuda Sempana meloncat dan berlari memasuki pringgitan lewat pendapa rumah Empu Purwa itu.

Yang terdengar adalah suara Wiraprana terbata-bata, “Jangan, jangan.” Namun tubuhnya terasa sangat lemahnya. Tulang-tulang iganya seperti lepas terpecah-pecah. Sekali ia mencoba bergerak, namun perasaan nyeri menyengat seluruh tubuhnya.

Karena itu, maka kini tak seorang pun yang dapat menahan Kuda Sempana. Ia berlari saja masuk ke dalam rumah. Namun rumah itu sedemikian sunyinya. Sekali-kali ia mencoba menengok bilik-bilik yang ada di dalam rumah itu. Sentong tengah, sentong kiri dan kanan, namun tak dijumpai seorang pun. Dengan gelisah ia meloncat dari satu ruangan ke ruangan yang lain. Namun ruangan-ruangan itu telah kosong.

Kini dengan geramnya Kuda Sempana meloncat ke gandok sebelah kiri. Namun gandok ini pun ditemuinya kosong. Dan karenanya Kuda Sempana segera berlari ke gandok sebelah kanan. Diloncatinya setiap pintu, dan dijenguknya setiap ruangan.

“Gila!” desahnya.

Dan Kuda Sempanalah yang sebenarnya hampir gila. Sekali lagi ia berlari-lari di dalam rumah itu. Seluruh ruangan telah dimasukinya dan hampir seluruh sudut-sudutnya telah dilihatnya. Namun Ken Dedes tidak ditemukannya. Ketika sekali ia meloncati pintu belakang, dan dilihatnya seorang perempuan yang bersembunyi di balik sebuah tumpukan batu, dengan serta-merta Kuda Sempana meloncat menghampiri. Namun ternyata perempuan itu adalah seorang yang sedang ketakutan.

“Gila!” umpatnya sekali lagi. “Di mana Ken Dedes?” bentaknya.

Endang yang ketakutan itu menjadi semakin takut. Tiba-tiba ia terduduk lemas karena kakinya yang gemetar.

“Di mana Ken Dedes?” Kuda Sempana berteriak.

Endang itu menggeleng lemah. Dan tubuhnya menggigil ketika tangan Kuda Sempana memegang bahunya kuat-kuat sambil mengguncang-guncang tubuhnya.

“Di mana Ken Dedes? Cepat!”

“Aku tidak tahu,” jawab endang itu tergagap.

“Bohong. Ayo, tunjukkan di mana Ken Dedes.

Endang itu menjadi semakin takut. Meskipun bibirnya bergerak-gerak namun tak sepatah kata pun yang dapat diucapkan, sehingga Kuda Sempana menjadi semakin marah. Tetapi ketika sekali lagi ia mengguncang tubuh endang yang ketakutan itu, maka ia mengumpat,

“Setan!” Dibiarkannya endang yang ketakutan itu terbaring pingsan.

Kini Kuda Sempana tidak mencari Ken Dedes di dalam rumah. Cepat ia berlari ke dapur. Di sekitar dapur itu dilihatnya beberapa bilik tempat para endang. Karena itu, maka dengan marahnya satu demi satu bilik itu dimasukinya. Ketika Kuda Sempana sampai di bilik yang paling ujung, bilik seorang emban tua, maka dengan serta-merta ditariknya pintu bilik yang masih tertutup itu. Demikian pintu itu terbuka, maka alangkah terkejutnya. Kuda Sempana itu tegak di muka pintu dengan wajah yang tegang. Sedang di dalam bilik itu terdengar sebuah jerit pendek.

“Hem,” geram Kuda Sempana, “akhirnya kau kutemukan juga.”

Ken Dedes yang berada di dalam bilik itu bersama pemomongnya yang telah mencoba menyembunyikannya menjadi terkejut pula. Dengan gemetar ia memandang Kuda Sempana yang menakutkan itu. Dengan demikian, maka Ken Dedes dapat membayangkan bahwa Wiraprana dan para cantrik tidak berhasil mencegah orang yang hampir menjadi gila ini. Dengan demikian, maka ketakutan yang amat sangat menjalar di dada Ken Dedes. Apa yang pernah terjadi, ternyata kini berulang kembali.

“Ken Dedes,” berkata kuda Sempana dengan suara parau, “maafkan aku, kalau aku memilih cara ini untuk mengambilmu. Kalau kau tidak keras hati, maka pasti aku akan menempuh jalan lain. Tetapi jalan lain itu kini telah tertutup sama sekali. Karena itu, maka jalan satu-satunya adalah cara ini.”

Ken Dedes memandang Kuda Sempana dengan muaknya. Betapapun ia menjadi takut, namun ia tidak dapat membiarkan dirinya dijamah oleh iblis itu. Karena itu maka katanya,

“Kuda Sempana, itu sama sekali bukan cara seorang jantan.”

Kuda Sempana terkejut, katanya, “Aku telah berhadapan dengan Wiraprana. Laki-laki yang akan menjadi suamimu itu. Aku telah bertempur melawannya. Bukan aku yang tidak bersikap jantan, namun Wirapranalah yang berlaku demikian. Sebab ia tidak bertempur seorang melawan seorang. Ia telah bertempur bersama-sama para cantrik melawan aku. Apakah dengan demikian aku kurang bersikap jantan?”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Wiraprana telah dikalahkan. Tetapi bagaimanakah nasibnya? Apakah anak muda itu telah terbunuh? Berbagai perasaan bergolak di dalam dada Ken Dedes. Takut, cemas dan pertanyaan-pertanyaan yang timbul tentang nasib Wiraprana. Namun dengan demikian, tiba-tiba gadis itu mengangkat wajahnya. Ketika ia tidak melihat lagi jalan untuk melepaskan diri, maka dengan lantangnya ia berkata,

“Kuda Sempana. Jangan mencoba menyentuh kulitku!”

Wajah Kuda Sempana yang merah padam itu kini menjadi semakin menyala. Dengan geramnya ia berkata, “Ken Dedes, aku telah mengalahkan setiap laki-laki yang ada di padepokan ini. Apakah yang akan dapat kau lakukan?”

Ken Dedes itu kini justru tidak menjadi gemetar lagi. Dengan dada tengadah ia berkata, “Kuda Sempana, kau mungkin dapat mengalahkan setiap orang yang menghalang-halangi maksudmu. Namun kau tak akan dapat mengalahkan aku sendiri. Sebab bagiku, lebih baik aku mati daripada menjadi istri pelarian.”

“Jangan gila!” sahut Kuda Sempana, “kau tak akan mati. Mungkin kau belum merasakan keindahan rumah tangga kita kelak. Tetapi jangan kau coba membunuh dirimu sendiri.”

“Apa pedulimu? Dan ternyata kau tidak akan mengalahkan maut itu.”

Kuda Sempana itu terdiam sesaat. Dilihatnya di belakang Ken Dedes berdiri seorang emban tua dengan mata yang memandangnya dengan penuh kebencian. Namun Kuda Sempana sama sekali tidak memperhatikannya. Baru ketika emban itu berkata,

“Kuda Sempana, adakah Angger telah berpikir masak-masak tentang apa yang Angger lakukan?”

“Diam!” bentak Kuda Sempana, “Apa kau sangka, kau cukup bernilai untuk memberi aku nasihat?”

“Aku tidak memberi nasihat, Ngger. Tetapi sebagai seorang tua aku heran melihat tingkah Angger. Bukankah Angger seorang yang cukup jantan?”

“Sudah aku katakan. Aku telah bertempur melawan lebih dari tujuh orang laki-laki di halaman?”

“Tetapi apakah Angger tidak mendengar, bahwa di padepokan ini akan dilangsungkan sayembara tanding?”

“Gila! Apakah kau mengigau?”

“Tidak. Sesudah Nini dipertunangkan dengan Angger Wiraprana, masih saja banyak sekali lamaran-lamaran yang datang. Karena itu, maka segera akan diadakan sayembara tanding.”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Tetapi tiba-tiba ia berteriak, “Bohong! Jangan banyak bicara!” Kemudian kepada Ken Dedes ia berkata, “Jangan mencoba melawan!”

Tetapi Kuda Sempana menjadi sangat terkejut. Demikian ia melangkah maju maka tiba-tiba dilihatnya sebuah patrem di tangan emban itu. Dan dengan tidak disangka-sangka maka emban itu berkata,

“Jangan jamah momonganku!”

“Gila! Apa yang akan kau lakukan?”

Emban tua itu tidak menjawab. Tetapi sekali lagi Kuda Sempana tidak menyangka, bahwa emban tua itu menarik kainnya, dan disangkutkannya pada ikat pinggangnya. Kemudian hilanglah wajah yang suram. Kini wajah emban itu menjadi tegang. Dengan patrern di tangan ia melangkah maju. Katanya,

“Angger Kuda Sempana. Kau telah mengalahkan setiap laki-laki di padepokan ini. Namun kau belum mengalahkan aku.”

Ken Dedes sendiri menjadi terkejut bukan buatan. Tidak disangkanya bahwa embannya itu sedemikian setianya kepadanya. Sehingga karena itu, maka ia tertegun diam seperti patung. Kuda Sempana terpaku diam di tempatnya. Namun ketika ia menyadari keadaannya, maka ia terdengar tertawa terbahak-bahak seperti akan meruntuhkan rumah itu. Kuda Sempana itu menjadi marah bercampur geli. Seakan-akan ia sedang menyaksikan sebuah pertunjukkan lawak yang lucu, namun memuakkannya. Karena itu, maka untuk melepaskan kejengkelannya, kemarahannya dan segala macam perasaan yang bercampur baur di dalam dadanya, Kuda Sempana itu tertawa seperti orang kerasukan setan.

Ken Dedes yang masih terpaku karena keheranannya melihat sikap embannya itu, kemudian menjadi tersadar pula akan keadaannya. Di mukanya berdiri hantu yang sedang tertawa, seakan-akan mendapat mangsa yang menyenangkan. Sedang apa yang dilakukan oleh embannya itu sama sekali tak akan dapat menolongnya. Tetapi ketika Kuda Sempana sedang melepaskan benturan-benturan perasaan yang menghimpit dadanya, terdengar emban itu berbisik lirih,

“Nini. Biarlah aku mencoba mengikat anak muda ini meskipun hanya sesaat. Dan cobalah mempergunakan waktu itu untuk melarikan diri ke luar halaman.”

Ken Dedes mendengar bisikan itu. Tetapi sejenak ia ragu-ragu. Apakah usaha itu berhasil? Namun segala usaha akan ditempuhnya. Ia akan mencoba melakukan nasihat embannya itu. Tetapi apakah yang akan terjadi dengan emban tua itu?. Dalam pada itu Kuda Sempana telah hampir berhenti tertawa. Matanya yang menyala itu memandang emban tua itu dengan penuh nafsu, seakan-akan emban tua itu akan diremasnya sampai lumat.

“He, perempuan tua! Jangan membuat aku bertambah marah. Dengan ujung jariku aku akan dapat membunuhmu. Dan kalau aku menjadi bertambah-tambah marah, rumah ini akan aku bakar dan kalian yang telah menentang kehendakku akan aku benamkan ke dalam api.”

“Itu akan menjadi lebih baik,” jawab emban itu, “kematian kami akan menjadi sempurna.”

“Gila! Kau benar-benar gila!” teriak Kuda Sempana. Namun kemudian ia mencoba untuk mengabaikan perempuan itu. Katanya kepada Ken Dedes, “Ken Dedes ikut aku!”

Ken Dedes itu menjadi gemetar kembali. Namun terdengar ia menjawab lantang, “Tidak!”

“Kalau tidak, aku akan memaksamu. Menangkapmu dan membawamu lari dengan kudaku.”

Ken Dedes itu terbungkam. Alangkah ngerinya. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Kuda Sempana itu berdiri di ambang pintu bilik itu satu-satunya. Kuda Sempana itu pun kemudian tidak bersabar lagi. Sekali ia meloncat untuk menangkap Ken Dedes. Namun kembali anak muda pelayan dalam Akuwu Tumapel itu terkejut bukan buatan. Demikian ia meloncat maju, maka perempuan tua itu meloncat pula dengan lincahnya menghalanginya. Sambil berdiri di muka Ken Dedes, emban itu berkata,

“Sudah aku katakan. Selama aku masih berdiri di sini, jangan jamah momonganku.”

Mata Kuda Sempana seperti akan meloncat keluar melihat sikap emban tua itu. Bukan sekedar sikap seorang tua yang bunuh diri. Tetapi kakinya miring, serta lututnya yang merendah sedikit, adalah sikap yang meyakinkan. Karena itulah maka Kuda Sempana itu tertegun sejenak. Ditatapnya perempuan tua itu dengan tajamnya. Dan kemudian terdengar ia menggeram,

“Jangan menghalangi aku! Sisa-sisa umurmu itu akan terempas habis bersama kesombonganmu.”

Perempuan itu tidak menjawab. Namun patremnya terangkat setinggi dada mengarah kepada lawannya. Kuda Sempana menjadi semakin marah karenanya. Dan perempuan itu masih juga menghalanginya.

Namun dalam pada itu, Kuda Sempana itu tidak mengetahuinya, bahkan Ken Dedes pun tidak, bahwa perempuan yang berdiri di hadapannya itu adalah ibu Mahisa Agni. Perempuan itu adalah bekas istri seorang laki-laki yang mendambakan dirinya pada kekuatan-kekuatan kanuragan dan kesaktian. Meskipun perempuan itu belum pernah berguru kepada siapa pun juga, namun untuk menyenangkan hati suaminya, ia telah mencoba untuk mengikuti setiap kesenangan dan kebiasaannya. Bahkan sebelum itu pun ia adalah seorang gadis yang sedang dilanda oleh angan-angan tentang seorang laki-laki yang sakti, yang merantau dari satu tempat ke tempat yang lain. Berjuang untuk menemukan buat bekal hari depannya. Karena itulah maka hidupnya pun selalu diliputi oleh angan-angan yang demikian.

Sedikit demi sedikit ia mampu juga untuk menirukan suaminya, dan bahkan mencoba untuk berbuat serupa. Meskipun setiap kali suaminya menertawakannya, namun ia berbuat terus. Mula-mula hanyalah sebuah permainan dalam senda gurau pengantin baru. Namun semakin lama, gerak-gerak itu dipahami pula.

Tetapi bukan itulah yang telah menempa perempuan itu. Sejak ia membuang diri, menjauhi pergaulan manusia karena dosa-dosa yang mengejarnya, maka kemampuan-kemampuan yang tersimpan di dalam tubuhnya itu sedikit demi sedikit terungkapkan. Sekali-kali ia mencoba juga menolong perempuan-perempuan yang ketakutan dikejar-kejar oleh beberapa perampok kecil di perjalanan. Sekali-kali ia mampu juga untuk melindungi dirinya dari segenap bahaya. Waktu itu ia adalah seorang janda muda yang kadang-kadang masih dapat menyalakan hati laki-laki. Dalam masa pembuangan diri itulah, maka perempuan itu menemukan berbagai hal yang mematangkan lahir dan batinnya.

Kini, setelah sekian lamanya, kemampuan-kemampuan yang aneh bagi kebiasaan perempuan itu disimpannya, tiba-tiba seperti bendungan yang pecah, maka terngangalah kesempatan untuk menyalurkannya. Meskipun perempuan itu sadar sesadarnya, bahwa Kuda Sempana itu bukan lawannya. Bahwa kekuatannya jasmaniahnya, telah susut. Bukan saja karena umurnya, namun karena ia sama sekali tidak pernah mempergunakannya lagi sejak ia tinggal di padepokan Empu Purwa.

Tetapi kini sebenarnya ia sama sekali memang tidak akan mengalahkan Kuda Sempana, Ia hanya ingin memberi waktu kepada Ken Dedes untuk melarikan dirinya keluar halaman dan bersembunyi di mana saja. Meskipun kemudian dirinya sendiri menjadi korban karenanya, namun ia benar-benar ingin menyelamatkan gadis yang menjadi momongannya itu.

Kuda Sempana yang marah itu, kini sudah tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Karena itu segera ia berteriak, “Minggir! Atau mampus kau perempuan sekarat!”

Tetapi Kuda Sempana itu menjadi kecewa. Ternyata perempuan itu mampu meloncat menghindari serangannya. Bahkan kemudian tangannya yang kecil berkeriput itu terjulur lurus ke lambungnya. Cepat Kuda Sempana mengelakkan ujung patrem yang hampir saja menyengatnya sambil berdesis,

“Setan! Kau benar-benar ingin kuremukkan kepalamu.”

Namun perempuan tua itu tidak memedulikannya. Sekali lagi ia bergeser maju sambil memutar patremnya. Dan sekali lagi Kuda Sempana terpaksa bergeser mundur. Timbullah berbagai pertanyaan di dalam dadanya, siapakah gerangan perempuan aneh ini? Setelah sekali dua kali ia melihat geraknya, maka Kuda Sempana dapat meraba-raba bahwa sebenarnya perempuan itu telah mengenal pula ilmu tata bela diri. Karena itu, maka dengan mengumpat-umpat tak habis-habis ia terpaksa melayani.

Tetapi dengan demikian, Kuda Sempana lupa, bahwa satu-satunya pintu bilik itu telah terbuka bagi Ken Dedes. Ketika perkelahian itu berkisar dari tempatnya, maka pada suatu saat Kuda Sempana berdiri bertentangan dengan pintu itu. Kesempatan itulah yang ditunggu-tunggu oleh perempuan tua itu. Seperti orang yang kehilangan kesadaran perempuan itu menyerang sejadi-jadinya. Ternyata tangannya yang kecil itu mampu juga mempermainkan patrem dengan baiknya. Dalam pada itu, maka ketika Kuda Sempana menjadi agak lupa atas pintu itu, berkatalah perempuan itu,

“Nini, tinggalkan ruangan ini!”

“Gila!” teriak Kuda Sempana, “Jangan kau coba!”

Ken Dedes yang terpaku melihat perkelahian itu, seakan-akan tersadar dari tidurnya. Pintu itu kini tidak lagi dihantui oleh bayangan Kuda Sempana. Karena itu, maka dengan serta-merta ia berlari menghambur keluar;

“Ken Dedes!” teriak Kuda Sempana. Namun Ken Dedes berlari terus.

Karena itulah maka perhatian Kuda Sempana menjadi terpecah. Sebagian perhatiannya terikat kepada perkelahian itu, sedang sebagian lagi mengikuti langkah Ken Dedes. Namun Kuda Sempana adalah seorang anak muda yang perkasa. Karena itu segera ia mampu menemukan keseimbangan pikirannya kembali. Perempuan yang menghalanginya itu harus disingkirkan, baru ia akan berlari mengejar Ken Dedes.

Ternyata perempuan itu memang bukan lawan Kuda Sempana. Ia hanya sekedar dapat memancing perhatian Kuda Sempana. Karena itu, ketika Kuda Sempana itu menjadi marah, maka dengan sekali loncat ia berhasil mendesak perempuan itu ke sudut. Kemudian dengan garangnya ia menyerangnya dengan kakinya. Tetapi perempuan tua itu masih juga membela dirinya untuk memberi kesempatan kepada Ken Dedes meninggalkan halaman itu. Karena itu, maka ketika kaki Kuda Sempana terjulur ke arahnya, maka segera ia menarik patremnya menyongsong setangan kaki itu.

Tetapi Kuda Sempana tidak membiarkan kakinya terluka. Cepat ia menarik serangannya, dan dengan cepatnya ia berputar di atas satu kakinya, sedang kaki yang lain segera menyambar tangan perempuan tua yang memegang patrem itu. Namun Kuda Sempana mengumpat. Tangan yang telah kurus itu ternyata masih juga cekatan, sehingga kaki Kuda Sempana tak menyentuhnya.

Demikianlah Kuda Sempana menjadi semakin marah karenanya. Tetapi di samping itu, ia menjadi gelisah pula atas gadis yang melarikan diri. Tetapi kegelisahannya itu telah mendorongnya untuk lebih mempercepat penyelesaian atas perempuan tua itu. Ken Dedes, yang telah berhasil keluar dari bilik itu, segera berlari ke halaman depan. Maksudnya akan berlari keluar halaman dan bersembunyi di rumah di sekitarnya. Tetapi ketika ia turun dari pendapa, Ken Dedes itu terkejut bukan main. Dilihatnya beberapa orang cantrik terbaring di tanah, dan beberapa orang yang lain mencoba merangkak bangkit. Tetapi Ken Dedes itu lebih terkejut lagi ketika dilihatnya di antara mereka Wiraprana pun yang dengan susah payah berusaha untuk bangkit.,

“Kakang!” teriak Ken Dedes

Wiraprana menggigit bibirnya. Dengan suram ia memandang gadis itu. Desahnya, “Di manakah Kuda Sempana?”

“Di belakang,” sahut Ken Dedes yang dengan serta-merta bersimpuh di sampingnya.

“Kau dapat lepas dari tangannya?”

“Ya. Bibi emban sedang berkelahi melawannya?”

“Emban yang mana?” bertanya Wiraprana heran.

“Emban tua. Pemomongku.”

Wiraprana tidak mengerti akan keterangan itu. Emban tua, pemomong Ken Dedes. Aneh. Tetapi ia tidak sempat untuk bertanya terlalu banyak. Wiraprana itu pun kemudian berpikir tentang nasib Ken Dedes. Karena itu katanya,

“Lalu apakah yang akan kau lakukan sekarang.”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar