MENU

Ads

Minggu, 15 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 039

“Tuanku,” potong Witantra.

Namun Tunggul Ametung berteriak lebih keras untuk menutup segala kemungkinan yang membisiki relung hatinya, “Cepat! Sebelum aku berubah pendirian.”

Kuda Sempana tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia meloncat dari kudanya dan berjalan menuju ke arah Ken Dedes yang gemetar ketakutan.

“Jangan melawan,” bisik emban tua yang cukup makan pahit asamnya kehidupan, “Ikutlah, sementara kita dapat merencanakan pertolongan.”

Namun Wiraprana tidak mau mendengarkan nasihat itu. Bahkan ia bergumam, “Kenapa Agni tidak juga kembali?”

“Jangan ributkan Agni!”

Sementara itu Kuda Sempana menjadi semakin dekat. Di sekitarnya beberapa orang berkuda memandangnya dengan tegang. Semuanya seakan-akan menahan nafasnya.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Apa yang dilihatnya itu, tak ubahnya seperti apa yang pernah dilakukannya di rimba-rimba dan di padang-padang. Ia pernah mencegat seorang anak petani yang sedang pergi mengantarkan makanan buat ayahnya yang bekerja di sawah. Ia pernah berbuat hal-hal yang serupa dengan apa yang disaksikannya, meskipun caranya berbeda. Cara yang pernah dilakukannya adalah cara seorang hantu yang hidup di padang-padang rumput dan hutan-hutan. Namun kini ia melihat cara yang lain, cara seorang yang sedang memiliki kekuasaan dan pedang. Ken Arok itu tiba-tiba menundukkan wajahnya. Ia pernah melihat gadis-gadis menjadi ketakutan seperti Ken Dedes pada saat itu. Dan ia menyesal karenanya. Tetapi ternyata orang-orang yang dianggapnya terhormat itu pun melakukannya pula.

Tetapi kali ini ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia sedang mencoba mengubah nasibnya. Dan ia belum sempat melihat perkembangan nasib itu. Karena itu, ia tidak mau berbuat sesuatu yang dapat melemparkannya kembali ke di padang-padang rumput dan hutan-hutan.

Kini Kuda Sempana telah berdiri berhadapan dengan Wiraprana. Dan Wiraprana itu berkata di dalam hatinya, “Kali ini untuk ketiga kalinya.”

Tunggul Ametung menjadi sangat marah hatinya ketika ia melihat seorang anak muda yang mencoba menghalangi Kuda Sempana. Karena itu maka ia pun berteriak,

“He. Siapakah anak itu?”

“Wiraprana,” sahut Kuda Sempana.

“Pergi jangan halangi Kuda Sempana mengambil gadis itu. Itu adalah perintah Akuwu Tumapel!”

Tetapi Wiraprana tidak beranjak dari tempatnya, Sehingga Akuwu Tumapel itu berteriak pula “Witantra Kau adalah alat kekuasaan Akuwu Tumapel. Singkirkan anak itu!”

Witantra menggigit bibirnya. Sekali lagi terjadi pertempuran yang sengit di dalam dadanya. Apakah ia harus ikut serta dalam perbuatan itu?. Karena kebimbangan itu maka ia mendengar sekali lagi Tunggul Ametung berkata lantang.

“Witantra apakah kau tuli, he?”

Namun alangkah terkejutnya Tunggul Ametung ketika ia mendengar Witantra itu menjawab “Tuanku. Aku tidak ikut dalam perkosaan ini.”

Tunggul Ametung itu tiba-tiba menjadi gemetar karena marahnya. Belum pernah ia mendengar jawaban yang sedemikian dari bawahannya. Namun kini Witantra itu menolak melakukan perintahnya. Karena tiba-tiba ia memutar kudanya menghadap ke arah prajurit-prajuritnya. Dengan suara yang gemetar ia berkata.

“Tangkap Witantra!”



Namun suara Tunggul Ametung itu benar-benar seperti burung hantu di padang pasir. Hilang tak berkesan. Tak seorang pun dari para prajuritnya yang bergerak. Merela menjadi ragu-ragu. Witantra adalah seorang pemimpin yang mereka segani dan mereka senangi. Meskipun kadang-kadang Witantra itu sering berbuat terlalu keras, namun ia dapat tegak pada kewajibannya. Itulah sebabnya maka para prajurit itu menjadi ragu-ragu.

Sekali lagi dada Tunggul Ametung seperti akan pecah. Namun ia tidak dapat berbuat apa-apa. Di sini, di tempat yang cukup jauh, dan ia sendiri berada di antara para prajuritnya itu, muka ia tidak berani berbuat lebih daripada mengumpat-umpat. Namun ia masih berbesar hati, bahwa Witantra itu tidak berbuat apa-apa yang dapat mencegah maksudnya. Dalam pada itu, Akuwu Tumapel itu masih mendengar Witantra berkata.

“Aku akan pergi dari halaman ini. Aku tetap setia kepada tugasku sebagai seorang prajurit. Namun tidak untuk memperkosa hak dan peradaban.”

Witantra tidak menunggu Akuwu itu menjawab kata-katanya. Dengan segera ia memutar kudanya dan pergi keluar halaman. Beberapa orang tiba-tiba mengikutinya pula. Ke luar halaman.

“Witantra, apakah kau sadari perbuatanmu itu?” teriak Tunggul Ametung dengan marahnya, “besok aku dapat memerintahkan menggantung kau di alun-alun. Kau sangka bahwa prajurit Tumapel hanya terdiri dari pengawalnya saja?”

Witantra menoleh pun tidak. Dan segera ia hilang di balik regol beserta beberapa orang prajurit. Namun ada di antara mereka yang menjadi ragu-ragu. Namun ada pula seorang yang berkumis tebal menjadi gembira melihat perselisihan itu. Dengan membungkuk-bungkuk ia menyembah,

“Akuwu, biarlah Witantra menolak perintah Akuwu. Biarlah aku saja yang akan melaksanakan perintah Akuwu.”

“Bagus. Kau akan mendapat pangkat yang baik,” teriak Tunggul Ametung.

Tetapi terdengar kemudian Kuda Sempana berkata, “Tak perlu bantuan orang lain. Biarlah anak ini aku selesaikan sendiri.”

Namun ternyata perselisihan di antara mereka telah membesarkan hati Wiraprana. Mula-mula ia mengharap seseorang di antara mereka memberinya bantuan. Tetapi ia menjadi kecewa ketika Witantra itu tidak berbuat sesuatu selain pergi ke luar halaman. Meskipun demikian, Wiraprana masih mengharap perkembangan keadaan.

Tetapi kini Kuda Sempana itu telah melangkah maju. Karena itu maka segera ia melangkah pula maju sambil berkata, “Kuda Sempana. Apakah kau masih belum juga menyadari keadaanmu?”

Kuda Sempana tidak menjawab, tetapi langsung ia menampar mulut Wiraprana. Wiraprana terkejut bukan buatan. Namun mulutnya telah menjadi panas Dan darah yang merah meleleh dari sela-sela bibirnya. Perbuatan Kuda Sempana benar-benar telah membangkitkan kemarahannya. Meskipun baru kemarin ia dilumpuhkan oleh Kuda Sempana itu. Kini Wiraprana ingin mendahuluinya. Ia ingin mencoba mengurangi kekuatan Kuda Sempana. Karena itu tiba-tiba saja Wiraprana itu melompat menyerang dengan garangnya. Tetapi yang diserangnya adalah Kuda Sempana. Karena itu dengan lincahnya maka serangan itu dihindarinya.

Dan malanglah nasib Wiraprana. Kuda Sempana benar-benar ingin menunjukkan kepada Akuwu Tumapel, bahwa Kuda Sempana bukanlah pelayan dalam yang hanya mampu melayani keperluan akuwu itu sehari-hari. Tetapi ia pun tidak kalah tangkasnya dengan para prajurit yang beberapa orang di antaranya sedang menontonnya. Karena itu, maka Wiraprana itu pun telah dijadikannya alat untuk menunjukkan keterampilannya. Maka kembali mereka berdua berkelahi dengan serunya.

Namun kembali Wiraprana mengalami peristiwa yang mengerikan. Dengan geramnya Kuda Sempana menyerang anak muda yang tinggi besar itu dengan tanpa ampun. Hampir segenap wajah Wiraprana menjadi merah biru. Sebuah pukulan yang dahsyat telah tepat mengenai dagu Wiraprana, sehingga wajah itu terangkat, namun Kuda Sempana telah menyusulnya dengan sebuah pukulan di perutnya. Wiraprana itu pun menjadi terhuyung-huyung. Tetapi Kuda Sempana tidak puas. Sekali lagi ia menghantam pipi Wiraprana.

Ketika Wiraprana terdorong ke samping, maka sampailah Kuda Sempana pada puncak permainannya. Ia tidak mau diganggu oleh anak mula itu lagi. Sehingga dengan demikian ia benar-benar berhasrat untuk meniadakan anak muda itu. Demikianlah dengan garangnya Kuda Sempana meloncat dan memukul tengkuk Wiraprana dengan sisi telapak tangannya.

Terdengar Wiraprana mengaduh pendek disusul oleh jerit Ken Dedes. Tetapi suara itu lenyap dalam derai tawa Akuwu Tunggul Ametung. Dengan bangga Akuwu itu berkata,

“He, Kuda Sempana. Kau tak ubahnya seorang prajurit yang tangguh. Nah. Aku benar-benar tidak lagi memerlukan Witantra yang gila itu.”

Tetapi kata-kata Akuwu itu tiba-tiba terputus ketika ia melihat Ken Dedes menjatuhkan diri sambil menangis di atas tubuh Wiraprana yang diam terbaring di halaman itu. Akuwu itu kemudian mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Dilihatnya Kuda Sempana berdiri tegak dengan kaki renggang dan dada tengadah. Namun kemudian dilihatnya pula Ken Dedes mengangkat wajahnya, menatap kepadanya, kepada Akuwu Tumapel yang mempunyai kekuasaan tidak terbatas itu, sambil menunjuk mukanya gadis itu berteriak

“Biadab. Biadab. Apakah kau tidak dapat berbuat sesuatu untuk mencegah perbuatan gila ini?”

Akuwu itu menarik bibirnya ke samping. Matanya yang sebelah seakan-akan menjadi bertambah sipit. Ia adalah Akuwu yang dapat berbuat apa saja. Namun gadis itu tidak takut kepadanya, bahkan mengumpat-umpatinya. Kenapa?

Dan suara gadis itu masih terdengar, “Akuwu Tumapel, apakah kau tidak melihat kebenaran diinjak-injak di hadapan hidungmu? Atau kau ikut dalam kebiadaban ini?”

“Hem,” Akuwu itu menjadi semakin heran. Namun tiba-tiba Akuwu itu pun berteriak tak kalah kerasnya, “Kuda Sempana. Bawa gadis itu ke Tumapel!”

Kuda Sempana tak menunggu perintah itu diulangi. Dengan tangkasnya ia meloncat menangkap Ken Dedes. Namun gadis itu sama sekali tidak membiarkannya. Karena itu ia berusaha melawan. Namun ia sama sekali tidak berdaya.

Matahari di langit memancar dengan teriknya. Selembar awan yang Putih hanyut dalam arus angin yang lembut. Ketika Witantra mengangkat wajahnya, dilihatnya dalam lembaran langit yang biru, burung beterbangan dengan lincahnya. Bebas lepas di udara. Namun tiba-tiba dilihatnya seekor elang yang berputar-putar untuk mencari mangsanya. Witantra menarik nafas dalam . Terjadilah suatu pergolakan di dalam dadanya. Pergolakan yang hampir meledak. Namun ia tidak akan dapat mencegah perbuatan yang terkutuk itu. Ia harus puas dengan menyingkirkan dirinya, mencuci tangannya.

“Aku tidak turut melakukannya,” desahnya.

Ia terkejut ketika ia melihat beberapa ekor kuda berlari keluar halaman. Kencang sekali seperti angin. Sekali lagi Witantra menarik nada. Dibiarkannya kuda itu berlari. Ketika ia berpaling ia masih melihat beberapa orang prajurit berada di sekitarnya. Bahkan ia melihat seorang prajurit yang hampir seluruh wajahnya ditumbuhi rambut yang lebat bertubuh tegap kekar dengan sebatang tombak di tangannya sedang menundukkan wajahnya. Ketika Witantra melihat wajah prajurit itu, ia terharu juga. Prajurit yang dikenal sebagai alap-alap dalam medan peperangan itu menitikkan air mata.

“Kenapa kau?” bertanya Witantra

“Aku juga punya seorang anak gadis.”

Witantra menarik nafas. Ia hanya dapat melakukan itu, menarik nafas dan mengeluh. Prajurit itu pun tersinggung rasa keadilannya seperti dirinya. Namun seperti dirinya, prajurit itu tidak dapat berbuat apa. Witantra tidak dapat untuk membiarkan kudanya berdiri saja di situ, sehingga kemudian dengan hati yang kosong ia menarik kekang kudanya dan jalan searah dengan kuda-kuda yang terdahulu, Tetapi tiba-tiba Witantra itu terhenti. Seorang perempuan tua memegangi kakinya dengan eratnya.

“Kenapa?” bertanya Witantra dengan nada kosong.

“Apakah tuan tidak dapat membantu kami?” tangis perempuan tua itu.

“Apa yang harus aku lakukan?”

“Membebaskan Ken Dedes.”

Witantra itu pun tergetar hatinya Namun yang dihadapinya adalah Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu mata dengan berat hati ia menggeleng, “Sayang aku tidak akan dapat berbuat sesuatu.”

“Tuan, bukanlah tuan bersenjata seperti orang-orang yang telah merampas gadis itu?”

“Tetapi orang-orang itu di antaranya adalah Akuwu Tumapel.”

“Jadi apakah seorang akuwu boleh berbuat sewenang-wenang?”

Witantra terdiam. Ia benar-benar tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Tetapi, ia juga tidak dapat berbuat apa-apa. Karena itu sekali lagi ia menggeleng, “Sayang. Aku tidak dapat menolongmu.”

Perempuan tua itu menjadi putus asa. Dilepaskannya kaki Witantra. Namun terdengar ia bergumam, “Tuan, aku, perempuan tua ini, akan menjadi saksi, bahwa di sini telah terjadi perkosaan atas kemanusiaan oleh kekuasaan. Di sini telah terjadi noda-noda yang hitam yang mengotori kekuasaan Akuwu Tumapel.”

Witantra itu pun menundukkan wajahnya. Bahkan ia bergumam di dalam hatinya, “Kau benar Bibi tua. Di sini telah terjadi perkosaan atas sendi-sendi peradaban dan kemanusiaan oleh kekuasaan yang berada di tangan Akuwu Tunggui Ametung”

Witantra itu pun kemudian tidak tahan lagi ketika ia melihat perempuan itu menangis. Karena itu, maka kemudian ia menggerakkan kudanya dan berlari menjauhi tempat yang telah menggoreskan suatu kenangan di dalam hatinya. Kenangan yang suram dari sejarah Tumapel. Jauh di hadapan Witantra itu, beberapa ekor kuda berlari kencang sekali seperti angin. Mereka adalah Kuda Sempana, Tunggul Ametung dan beberapa orang pengiring. Mereka adalah orang-orang yang telah kehilangan kesadaran diri mereka, sehingga bersama mereka itu, mereka bawa Ken Dedes yang sedang pingsan.

Debu yang putih mengepul tinggi. Debu yang dilemparkan oleh berpasang kaki kuda itu. Di paling depan, Kuda Sempana berpacu sambil membawa seorang gadis yang telah dirampasnya. Sedang di belakangnya Akuwu Tunggul Ametung memegangi kendali kudanya dengan eratnya. Namun wajahnya kini tiba-tiba menjadi suram. Setelah dilihatnya gadis yang bernama Ken Dedes itu, tiba-tiba timbullah sesuatu di dalam benaknya. Gadis itu hanya seorang gadis yang hidup di dalam sebuah padukuhan kecil. Namun terasa di dalam tatapan matanya, sesuatu yang tidak ada pada gadis kebanyakan. Akuwu itu sama sekali tidak tahu. Apakah yang lain pada gadis itu. Bahwa gadis itu adalah seorang gadis yang cantik sekali, akuwu itu tidak dapat memungkirinya. Sejak ia memandang wajah itu untuk pertama kali hatinya telah terguncang dan berkata,

“Ken Dedes adalah gadis yang cantik sekali.” Tetapi, bukan kecantikannya itu sajalah yang telah menggerakkan Akuwu Tunggal Ametung. Ada yang lain. Namun ia tidak tahu, apakah yang lain itu.

Demikianlah, maka terjadi pula sesuatu yang seakan-akan mendidih di dalam hati Tunggul Ametung. Sesuatu yang tidak diketahui ujung pangkalnya. Sebagai seorang akuwu, ia mempunyai kesempatan yang jauh lebih besar dari orang-orang lain sebayanya. Tetapi Tunggul Ametung itu sama sekali belum berhasrat untuk kawin. Tiba-tiba kini ia melihat sesuatu yang dapat mengguncangkan hatinya. Ken Dedes. Kecantikannya dan sesuatu yang tak dapat dimengertinya yang seakan-akan memancar dari wajahnya.

Ketika Akuwu Tumapel itu mengangkat wajahnya, dilihatnya Kuda Sempana berpacu di hadapannya. Tiba-tiba terasa ia menjadi muak melihat keangkuhan sikap Kuda Sempana. Baru beberapa saat ia berusaha memenuhi permintaan pelayannya itu, namun kini terasa bahwa ia menyesal karenanya. Tetapi ia tidak dapat menemukan apakah sebenarnya yang bergolak di dalam dirinya itu.

Awan di langit selembar-selembar mengalir ke utara. Seperti belasan daun-daun raksasa yang terapung hanyut di wajah lautan yang biru bersih. Matahari yang cerah memancarkan sinarnya membakar kulit, sehingga peluh yang hangat membasahi seluruh tubuh. Debu-debu yang dilemparkan dari kaki-kaki kuda itu pun satu-satu melekat pada kulit-kulit mereka yang telah basah itu.

Tunggul Ametung mengusap wajahnya dengan tangannya. Ketika ia mengangkat wajahnya, tiba-tiba ia terkejut. Di hadapannya dilihatnya segumpal debu yang meloncat ke udara. Dada Akuwu itu pun menjadi berdebar-debar pula karenanya. Tetapi kemudian ia menarik nafas.

“Itu pasti anak gila adik Witantra,” katanya di dalam hati.

Namun belum lagi ia berkata apapun juga kepada pengiringnya maka Akuwu itu pun terkejut ketika Kuda Sempana memperlambat kudanya.

“Kenapa he?” teriak Tunggul Ametung.

“Kuda itu,” sahut Kuda Sempana.

Kini Akuwu itu pun melihat, bahwa kuda itu sama sekali bukan Kuda Mahendra. Dan anak muda yang duduk di punggung kuda itu pun sama sekali bukan Mahendra.

“Kenapa dengan kuda itu?” kembali Tunggul Ametung bertanya.

Kuda Sempana diam sesaat. Kemudian jawabnya, “Anak muda itu adalah kakak Ken Dedes.”

“He,” Tunggul Ametung itu berteriak. Namun kemudian ia berkata “Apakah ia akan membuat persoalan?”

“Tentu. Anak itu anak gila,” jawab Kuda Sempana.

Akuwu itu pun kemudian berpaling. Dilihatnya prajurit yang berkumis tebal tersenyum sambil mengangguk. Meskipun akuwu itu belum berkata apapun juga, namun prajurit itu pun menyembah,

“Ampun Tuanku. Jangan cemas. Biarlah hamba selesaikan anak itu.”

Tunggul Ametung tertawa. “Bagus. Percepat kudamu singkirkan anak itu.”

Prajurit yang berkumis tebal itu mengangguk sambil tertawa kemudian ia mendului Tunggul Ametung dan Kuda Sempana. Ia berpaling ketika ia mendengar Kuda Sempana berkata,

“Hati-hatilah dengan anak muda itu.”

Prajurit itu tertawa semakin keras dan menjawab, “Apakah anak Panawijen itu berbahaya?”

“Ya,” jawab Kuda Sempana.

Prajurit itu tertawa terbahak-bahak. Anak pedesaan itu pasti hanya mampu memanggul cangkul dan bertanam ubi. Karena itu maka segera ia memacu kudanya menyongsong Mahisa Agni. Tetapi Mahisa Agni telah benar-benar seperti anak yang kerasukan setan. Dari kejauhan ia melihat debu yang mengapung tinggi dan beberapa orang berkuda berlari kencang. Kemudian di lihatnya seseorang yang berkuda paling depan membawa gadis bersamanya. Cepat Mahisa Agni mengetahui, bahwa pasti itulah Kuda Sempana. Namun jumlah pengiringnya tidak sebanyak yang dikatakan Mahendra kepadanya. Namun apa yang dilihatnya itu benar-benar telah membakar jantungnya, sehingga ia sudah tidak dapat lagi mempertimbangkan, siapakah yang akan dihadapinya. Apakah ia akuwu yang berkuasa di Tumapel, atau bahkan seandainya Maharaja dari Kediri sekali pun.

Karena itu, ketika ia melihat seorang berkuda mendahului rombongan Kuda Sempana itu, hatinya semakin menyala. Pasti orang inilah yang akan mencoba melawannya. Karena itu, maka segera ia pun memacu kudanya pula. Jarak mereka berdua, Mahisa Agni dan prajurit berkumis tebal itu semakin lama menjadi semakin dekat. Bahkan kemudian Mahisa Agni dapat melihat, bahwa Prajurit itu tertawa- tawa, seakan-akan seorang anak sedang menyongsong permainan yang lucu, oleh-oleh bapanya dari rantau. Dengan demikian, Mahisa Agni menjadi semakin marah. Tidak ada kemungkinan lain padanya, daripada melumpuhkan prajurit itu. Akhirnya Mahisa Agni itu pun menjadi semakin dekat. Prajurit berkumis tebal itu menghentikan kudanya sambit berteriak,

“He, berhenti!”

Mahisa Agni sama sekali tidak mau berhenti, bahkan ia berteriak, “Minggir! Kalau tidak, aku injak kepalamu.”

Prajurit itu benar-benar terkejut mendengar jawaban Mahisa Agni. Ia sama Sekali tidak menyangka bahwa ia akan mendapat jawaban yang sangat mewakilkan hati. Maka katanya di dalam hati,

“Apakah anak itu benar-benar gila?”

Tetapi ia tidak sempat bertanya-tanya lagi. Mahisa Agni sudah sedemikian dekatnya. Karena itu, maka segera ia menyilangkan kudanya untuk menahan Mahisa Agni. Kuda Mahisa Agni terkejut melihat kuda yang tiba-tiba saja menyilang jalan. Mahisa Agni pun segera menarik kekangnya, sehingga kuda itu tegak pada kedua kali belakangnya. Untunglah bahwa Mahisa Agni tidak terlempar karenanya. Namun hal itu telah menjadikannya semakin marah. Mahisa Agni sama sekali tidak berkata apapun lagi. Segera ia memutar kudanya dan menyerang prajurit berkumis tebal itu. Tetapi Prajurit itu pun telah mempersiapkan diri, karena itu maka segera ia mengelakkan serangan Mahisa Agni itu.

Namun prajurit itu benar-benar tidak menyangka, bahwa anak Panawijen itu mampu bergerak sedemikian cepatnya, sehingga hampir-hampir ia terlambat. Meskipun demikian, masih juga terasa tangan Mahisa Agni itu menyentuh rambutnya, sehingga terasa dadanya bergetar karenanya.

“Gila!” prajurit itu mengumpat.

Tetapi ia tidak dapat mengumpat terus. Mahisa Agni telah mengulangi serangannya, bahkan lebih keras dari serangannya yang pertama. Prajurit itu terpaksa menarik diri sambil memutar kudanya. Dengan demikian sekali lagi ia dapat membebaskan diri dari serangan Mahisa Agni. Namun Mahisa Agni yang marah itu sama sekali tidak memberinya kesempatan. Berkali-kali ia menyambar dari atas kudanya seperti seekor burung rajawali yang bertempur di udara. Sehingga sesaat kemudian segera tampak bahwa prajurit itu hampir tidak berdaya menghadapinya.

Tunggul Ametung dan Kuda Sempana berhenti beberapa puluh langkah dari perkelahian itu. Wajah akuwu itu pun kemudian menjadi cemas. Ternyata Akuwu Tumapel segera dapat mengetahui, bahwa prajuritnya yang sombong itu, sama sekali tidak berdaya menghadapi lawannya.

Sekali Tunggul Ametung itu berpaling. Dadanya berdesir ketika Witantra tidak nampak mengiringkannya. Ia percaya betul akan kekuatan Witantra itu, namun kini anak madu itu tidak mau ikut serta bersamanya. Karena itu, maka ia sesaat menjadi bimbang. Meskipun Tunggul Ametung sendiri tidak akan takut menghadapi siapa pun. Namun harga dirinya masih mencegahnya. Seorang akuwu yang berkuasa, apakah harus menangani sendiri seorang lawan yang tidak lebih dari anak pedesaan? Sedang ia tidak akan dapat memerintahkan Kuda Sempana untuk melawan anak gila itu, sebab Kuda Sempana sedang memegangi Ken Dedes yang pingsan. Ketika sekali lagi Tunggul Ametung berpaling dilihatnya di belakangnya beberapa orang diam kaku di atas kuda mereka.

“Tiga orang kecuali Kuda Sempana, aku sendiri dan prajurit yang bertempur itu,” desisnya di dalam hati.

Tiba-tiba Kuda Sempana itu tersenyum ketika dilihatnya Ken Arok memandangi perkelahian itu dengan tegang. Dan tiba-tiba pula Tunggul Ametung itu memanggilnya,

“He, kau, kemari!” Ken Arok terkejut. Namun ia mendekat juga.

“Aku melihat beberapa keanehan dalam dirimu. Tetapi aku belum pernah melihat kau berkelahi. Apakah kau dapat juga berkelahi?”

Jantung Ken Arok benar-benar terguncang. Anak muda itu adalah Mahisa Agni yang dikenalnya dengan baik. Namun kini, apakah ia harus berkelahi dengan Mahisa Agni itu. Dahulu ia pernah juga berkelahi melawannya, namun selagi otaknya masih gelap. Kini ia telah berusaha untuk berbuat menurut nasihat-nasihat yang baik. Tetapi kenapa tiba-tiba ia masih harus mengulangi perbuatannya itu. Berkelahi. Apalagi melawan Mahisa Agni. Karena itu maka untuk sesaat Ken Arok itu menjadi bimbang, dan dengan demikian ia tidak segera menjawab. Akuwu Tumapel itu pun mengerutkan keningnya, dan kemudian membentaknya

“He, Ken Arok. Apakah kau tuli atau bisu?”

“Ampun Tuanku,” jawab Ken Arok tergagap.

Sementara itu Tunggul Ametung melihat prajurit yang berkumis tebal itu telah terlempar dari kudanya, jatuh terbanting di atas tanah, tampaklah betapa wajahnya menjadi pucat, dan mulutnya menyeringai menahan sakit. Meskipun demikian ia masih mencoba berdiri. Namun Mahisa Agni yang marah datang menyerangnya dengan garang. Sebuah pukulan bersarang di wajahnya, dan prajurit yang berkumis tebal itu sekali lagi terlempar dan jatuh berguling ke dalam parit. Oleh karena itu, maka jiwanya telah tertolong karenanya. Sebab Mahisa Agni yang benar telah kehilangan segala pertimbangannya itu ingin melanda prajurit itu dengan kudanya dan menginjaknya. Tetapi karena ia terbaring di dalam parit, maka kuda Mahisa Agni tidak dapat mencapainya dengan mudah.

Dalam pada itu terdengar Tunggul Ametung berteriak, “Ken Arok. Lawanlah anak gila itu!”

Ken Arok benar-benar tidak dapat berbuat lain daripada menaati perintah itu. Tetapi sebenarnya hatinya menjadi sangat kecewa. Benar-benar kecewa. Dengan demikian maka kehidupan di dalam rimba yang pernah dialaminya, kini terpaksa terulang kembali. Perampasan dan perkelahian. Ken Arok pernah melihat seekor harimau merampas anak seekor kijang yang lemah. Dan kijang itu tidak dapat berbuat apa-apa selain melarikan diri. Ia sendiri pernah mencegat dan merampas milik orang di padang Karautan. Dan orang-orang itu tidak berdaya untuk mempertahankannya. Kini setelah ia berada di lingkungan orang-orang yang terhormat dan berkuasa, maka pekerjaan itu harus diulangnya. Merampas dan berkelahi.

Dengan hati yang berat, Ken Arok itu mendorong kudanya maju beberapa langkah. Dengan hati yang berdebar-debar ia mendekati Mahisa Agni yang sedang marah bukan buatan. Ketika Mahisa Agni itu melihat Ken Arok, maka ia pun terkejut bukan kepalang. Bahkan dengan serta-merta ia berteriak,

“Kau Ken Arok. Kau turut dalam perampokan ini pula?”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Hatinya terguncang mendengar pertanyaan itu, sehingga ia tidak segera dapat menjawabnya. Mahisa Agni pun bergeser maju mendekati Ken Arok itu. Betapa marahnya hati anak muda itu. Dan tiba-tiba ia berhadapan dengan seorang yang pernah dikenalnya. Karena Ken Arok tidak segera menjawab, maka Mahisa Agni itu berkata pula,

“He, Ken Arok. Apakah kau termasuk dalam gerombolan itu pula?”

“Agni,” jawab Ken Arok perlahan, “jangan menuduh aku demikian. Kau harus tahu, siapakah aku dan siapakah yang melakukan perampasan itu. Aku tidak mempunyai pilihan lain, sebab aku adalah seorang hamba.”

“Ha,” sahut Agni, “Apakah arti kata-katamu dahulu? Apakah kau kini berdiri di jalan yang sempit yang akan sampai ke gerbang kedamaian abadi? Apakah kau telah menghindarkan dirimu dari jalan yang lebar dan halus, namun akan sampai pada pusar kehancuran?”

Ken Arok tiba-tiba menundukkan wajahnya. Namun ia terkejut ketika ia mendengar Akuwu Tumapel berteriak, “Ken Arok. Pecahkan kepalanya. Atau kau aku gantung di alun-alun.”

Ken Arok itu mengangkat wajahnya. Desahnya, “Agni aku tidak dapat berbuat lain.”

“Bagus,” sahut Agni lantang, “aku sudah menyangka, betapapun kau mencoba membersihkan dirimu, tetapi kau sebenarnya adalah seorang pembunuh. Di manapun kau berada, dalam kesempatan apapun, maka kau akan kembali ke jalan yang kotor itu. Kalau kau telah pernah mencoba mencuci tanganmu yang kau kotor dengan darah korbanmu di sepanjang hutan Karautan, maka sekarang kotori tanganmu dengan darahku, dengan darah adikku itu, Ken Dedes.”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar