“Agni,” Ken Arok itu berteriak keras-keras, “Cukup! Cukup!”
“Tidak!” sahut Agni tidak kalah kerasnya, “kau harus becermin. Kau harus melihat wajahmu itu. Wajah yang dipenuhi oleh kotoran duniawi. Huh. Apakah seorang pendeta yang kau katakan bernama Lohgawe itu mendidikmu untuk membunuh, merampok dan memerkosa dengan cara yang terhormat ini.”
“Cukup! Cukup!” Wajah Ken Arok itu tiba menyala, dan digesernya kudanya beberapa langkah maju.
Tetapi Mahisa Agni pun benar-benar sudah siap. Ia kini bukan Mahisa Agni yang bertempur di padang rumput Karautan itu. Namun sebenarnya Ken Arok itu pun bukan Ken Arok yang berada di padang itu pula. Dengan bekal kekuatan yang tersimpan di dalam tubuhnya sejak ia dilahirkan, ia telah menerima beberapa tuntunan dalam tata perkelahian. Dan karena tuntunan yang sedikit itu saja, Ken Arok benar-benar menjadi seorang anak muda yang luar biasa.
Tetapi ketika ia telah benar-benar berhadapan dengan pandangan mata Mahisa Agni yang tajam, tiba-tiba disadarinya akan dirinya. Bahkan dikenangnya, waktu Mahisa Agni menjadi seperti orang gila berteriak di padang rumput menantangnya. Kenapa waktu itu ia tidak menjadi marah, dan bahkan ia dapat meredakan kemarahan anak muda itu?
Kini kembali ia mendengar Mahisa Agni berkata, “Ken Arok. Kalau kini kita bertempur, maka bertanyalah kepada hati nuranimu. Siapakah yang berpijak pada kebenaran seperti yang pernah kau impikan.”
Tiba-tiba Ken Arok itu menggeleng. Wajahnya menjadi suram. Dan ia pun berbisik, “Agni. Kalau kau akan membinasakan aku, binasakanlah. Aku harus melawanmu. Tetapi percayalah, aku tidak akan bertempur sungguh-sungguh. Aku harus menghalangimu, meskipun tidak demikian kata hatiku. Kau berada di atas kebenaran, sedang aku berada dalam kesulitan-kesulitan karena kedudukanku. Nah. Terserahlah kepadamu.”
“Jangan banyak ribut, aku sudah siap.”
“Jangan berteriak-teriak. Aku sudah menyerah, meskipun aku harus bertempur.”
Mahisa Agni yang marah itu tidak sabar lagi. Apapun yang akan dilakukan oleh Ken Arok, namun ia harus menyingkirkan semua orang yang mencoba menculik Ken Dedes itu. Ketika sekali Mahisa Agni itu mengerling ke arah Kuda Sempana, maka nyala di dalam hatinya seakan-akan tersiram minyak, sehingga melonjaklah api yang memanasi dadanya. Dengan serta-merta Mahisa Agni itu meluncur dengan dahsyatnya, langsung menghantam pelipis Ken Arok. Namun dengan gerak naluriah Ken Arok menghindarkan dirinya, sehingga Mahisa Agni itu seakan-akan terbang di sampingnya.
Cepat Ken Arok mengangkat tangannya dan sebuah ayunan yang keras mengarah ke tengkuk Agni. Namun tiba-tiba tangan itu seakan-akan tersentak, sehingga ketika tangan itu benar-benar menyentuh tubuh Agni yang terdorong oleh kekuatan tangannya dan kemarahan yang meluap-luap, serta kecepatan bergerak Ken Arok yang seperti tatit, maka sentuhan itu benar-benar tidak berarti. Ken Arok menahan sekuat-kuatnya, untuk tidak melukai lawannya.
Namun Mahisa Agni merasakan sentuhan itu seperti pernah dirasakannya. Sentuhan hantu padang rumput Karautan. Namun kini, gerak Ken Arok benar-benar mencerminkan kematangan gerak dalam unsur yang teratur. Karena itu, maka dada Mahisa Agni berdesir karenanya. Hantu itu tidak lagi berbuat sekasar pada saat ia pertama kali bertemu. Sehingga dengan demikian, kekuatan-kekuatan yang ada di dalam tubuh Ken Arok sejak ia dilahirkan, dilambari dengan kecepatan gerak yang mengagumkan, maka Ken Arok benar-benar seorang yang memiliki kemampuan yang luar biasa.
Mahisa Agni yang marah itu benar-benar tidak dapat melihat kemungkinan-kemungkinan lain daripada bertempur mati-matian. Bahkan dengan penuh kemarahan ia berteriak
“Ayo, kenapa kalian tidak maju bersama-sama.”
Ken Arok menarik nafas. Ia bersiap kembali ketika kuda Mahisa Agni berputar, dan kembali sebuah serangan melandanya. Namun kali ini, Ken Arok benar-benar menjadi terkejut. Mahisa Agni itu sama sekali tidak menyerang tubuhnya, namun tiba-tiba anak muda itu langsung meloncat dari kudanya, dan menghantamkan tubuhnya kepadanya. Sehingga dengan demikian maka Ken Arok pun kehilangan keseimbangannya, dan keduanya jatuh berguling dari atas kuda mereka. Namun sesaat kemudian mereka telah bangkit kembali. Bahkan masing-masing telah bersiap dalam sikap yang meyakinkan.
Tunggul Ametung yang melihat perkelahian itu mengerutkan keningnya. Perkelahian itu benar-benar menarik perhatiannya, sehingga untuk sesaat dilupakannya Kuda Sempana yang duduk di atas kudanya dengan tegang. Berbagai perasaan timbul di dalam benak Kuda Sempana itu. Ia ingin perjalanannya tidak terganggu. Namun anak muda itu menjadi iri melihat kelincahan Ken Arok. Sebab apabila Akuwu Tumapel itu benar-benar tertarik melihat keterampilan anak muda itu, maka kedudukan pelayan baru itu akan menjadi semakin baik di sampingnya. Bahkan Kuda Sempana itu takut bahwa perhatian Tunggul Ametung akan seluruhnya tercurah kepada Ken Arok itu. Namun apabila Ken Arok itu tidak dapat memenangkan perkelahian itu, maka ia sendiri harus berhadapan dengan Mahisa Agni. Dan ia menyadari, bahwa ia tidak akan dapat mengalahkannya.
Dalam pada itu, perkelahian antara Mahisa Agni .dan Ken Arok itu pun menjadi semakin sengit. Mahisa Agni benar-benar telan mengerahkan segenap kemampuannya. Ditumpahkannya semua kecakapan yang dimilikinya. Namun lawannya pun memiliki kelincahan yang luar biasa. Apalagi, kembali pengalamannya berulang. Tubuh Ken Arok itu benar-benar seperti menjadi kebal. Betapapun juga, ia berhasil mengenainya dengan segenap kekuatan, dan bahkan sekali ia berhasil melemparkan anak muda itu, namun kembali Ken Arok meloncat bangkit dan bertempur selincah burung sriti yang menyambar di udara.
Tetapi karena kemarahan yang telah memuncak sampai ke ubun-ubunnya, Mahisa Agni sama sekali tidak melihat, bahwa Ken Arok telah melewatkan berpuluh puluh kesempatan yang akan dapat melumpuhkan Mahisa Agni itu. Setiap kali serangannya akan berhasil, maka dengan tanpa disadarinya Ken Arok itu menjadi bingung, sehingga serangannya itu menjadi urung. Dan bahkan kadang-kadang dengan serta-merta tangannya yang tepat mendarat ke tengkuk lawannya itu, digesernya beberapa jari, sehingga hanya menyentuh pundaknya.
Namun Mahisa Agni kemudian menjadi tidak sabar lagi. Ketika mereka telah bertempur beberapa saat, dan Mahisa Agni merasa bahwa ia tidak akan berhasil melumpuhkan lawannya, maka tidak ada alasan yang dapat menahan dirinya, mempergunakan ilmunya yang tertinggi Gundala Sasra. Ilmu simpanan yang seharusnya tidak dipancarkan apabila keadaan tidak memaksa. Tetapi kini ia berhadapan dengan kekuatan di luar kemampuannya untuk melawan dengan tenaganya yang wajar. Karena itu, maka tidak ada cara lain untuk menyelamatkan Ken Dedes, selain ilmunya itu.
Karena itu, maka dengan cepatnya Mahisa Agni meloncat surut. Dengan serta-merta disilangkannya tangannya di muka dadanya dan dipusatkannya segenap kekuatan lahir dan batin, untuk menyalurkan getaran di dalam dadanya dalam ilmunya Aji Gundala Sasra.
Ken Arok melihat sikap Mahisa Agni itu. Terasa sesuatu berdesir di dalam dadanya. Segera ia pun mengerti, bahwa Mahisa Agni sedang memusatkan segenap kekuatannya. Karena itu, maka Ken Arok itu pun sadar, bahwa ia harus menghadapi kekuatan yang pasti bukan main dahsyatnya. Sesaat Ken Arok itu tegak mematung. Namun kemudian tampak ia memiringkan tubuhnya. Ia sudah berjanji di dalam dirinya, bahwa ia sama sekati tidak berhasrat memenangkan perkelahian itu. Ia sudah bertempur dan ia sudah melakukan kewajibannya. Kalau kemudian ia dikalahkan oleh lawannya adalah kemungkinan yang wajar, sewajar kalau ia memenangkan pertempuran itu, atau sewajar kalau perkelahian itu berakhir dengan luluhnya kedua belah pihak. Sebab memang hanya ada kemungkinan itu yang dapat terjadi. Kalah, menang atau bersama-sama menjadi lumpuh.
Dengan demikian, maka Ken Arok itu pun segera mempersiapkan diri untuk menerima kedahsyatan ilmu lawannya. Dibangkitkannya segenap daya tahan di dalam tubuhnya menurut petunjuk yang pernah diterimanya. Namun tenaga yang tersimpan itu terlalu banyak, sehingga tubuh Ken Arok itu tiba-tiba seakan-akan telah berubah menjadi sebuah patung baja. Namun sama sekali tak terlintas di dalam otaknya untuk mencederai Mahisa Agni. Ia berbuat demikian hanya sekedar untuk tidak mati meskipun seandainya ia terluka. Namun sebenarnyalah bahwa Ken Arok itu mempunyai beberapa keanehan yang tidak dimiliki orang lain, dan bahkan tidak disadarinya sendiri.
Tetapi kemudian terjadilah hal yang tidak disangka-sangka. Selagi Mahisa Agni sedang membangunkan kekuatan yang berada di dalam tubuhnya, dan selagi kekuatan itu masih belum sempurna, tiba-tiba Mahisa Agni itu mengeluh pendek. Selangkah ia terdorong ke depan, dan kemudian terhuyung-huyung ia memutar tubuhnya. Terdengarlah suaranya menggeram,
“Curang!”
Bukan saja Mahisa Agni menjadi sangat terkejut, namun Ken Arok pun menjadi terkejut bukan buatan. Ketika ia memandang punggung Mahisa Agni, maka dilihatnya darah mengalir dari sebuah luka. Dan pada luka itu masih menancap sebatang anak panah.
Darah Ken Arok itu pun tiba-tiba menggelegak melihat peristiwa itu. Hilanglah segala suba sita, dan hilanglah segala akal dari kepalanya. Ia melihat suatu yang sama sekali tidak adil. Karena itu dengan serta-merta Ken Arok itu meloncat ke arah prajurit yang berdiri di tepi parit. Ternyata prajurit itu telah berhasil menguasai dirinya kembali, dan dengan panah berburunya ia telah melukai punggung Mahisa Agni.
Namun ia menjadi sangat terkejut ketika Ken Arok itu tiba-tiba meloncat ke arahnya dengan wajah yang menyala-nyala. Pada saat itu pun Ken Arok sedang membangunkan kekuatan yang ada pada dirinya. Meskipun cara-cara yang dipakainya berbeda dengan cara-cara yang lazim, namun ternyata anak muda itu telah berhasil pula. Karena itu, maka kekuatannya seakan-akan menjadi berlipat-lipat. Daya loncatnya pun menjadi jauh lebih panjang dibandingkan dengan saat-saat yang wajar. Karena itu segera ia mencapai prajurit yang curang itu.
Semua orang menjadi terkejut bukan kepalang. Bahkan jantung mereka seakan-akan membeku, ketika mereka melihat apa yang kemudian terjadi. Akuwu Tunggul Ametung, Kuda Sempana dan bahkan Mahisa Agni sendiri. Dengan serta-merta, Ken Arok itu menghantam dada orang berkumis tebal itu sambil menggeram,
“Setan yang licik.”
Tetapi prajurit itu sama sekali tidak sempat berbuat apa-apa. Ia memang mencoba menahan pukulan Ken Arok itu dengan kedua belah tangannya. Namun ternyata akibatnya nggerisi. Terdengar prajurit berkumis tebal itu berteriak, dan disusul dengan derak tulang-tulang patah. Tulang tangannya dan beberapa tulang iganya. Tangan Ken Arok yang marah itu seakan-akan berubah menjadi segumpal besi yang menghantam dada prajurit berkumis tebal itu, sehingga prajurit yang malang itu kemudian terlempar beberapa langkah, terbanting di tanah, dan mati seketika itu juga.
Kuda Sempana yang melihat peristiwa itu, menjadi sangat cemas. Ia menjadi tidak mengerti sama sekali, apakah sebenarnya yang sedang dilakukan oleh Ken Arok itu. Apakah ia sedang membela kepentingannya melawan Mahisa Agni, atau apa? Ternyata anak muda itu menjadi sangat marah ketika ada orang lain yang membantunya. Apakah hanya sekedar karena harga dirinya dilanggar dengan memberikan bantuan itu.
Ternyata bukan saja Kuda Sempana yang menjadi bingung. Akuwu Tumapel itu pun melihat semua peristiwa itu dengan wajah yang tegang. Bahkan akhirnya ia menjadi curiga, apakah Ken Arok sebenarnya tidak berpihak kepada Mahisa Agni. Sebagai seorang yang cukup memiliki ilmu yang tinggi, Akuwu Tunggul Ametung telah menyimpan beberapa keraguan ketika ia melihat cara Ken Arok bertempur. Apalagi kini ia melihat apa yang dilakukan oleh Ken Arok itu.
Karena itu, tiba-tiba tangannya meraba pelana kudanya dan disentuhnya tangkai pusakanya. Sebuah tongkat penggada yang terbuat dari besi yang berwarna kuning menyala. Pusaka yang luar biasa, yang tak pernah terpisah daripadanya. Ketika terasa pada jari-jarinya sentuhan tangkai pusakanya itu, maka Tunggul Ametung itu pun menjadi tenang. Ia percaya betul bahwa tak ada manusia di dunia yang mampu mempertahankan dirinya melawan pusaka itu.
Namun Tunggul Ametung itu masih tetap tidak berbuat sesuatu. Bahkan ia sependapat ketika Kuda Sempana berkata, “Tuanku, marilah kita mendahului mereka kembali ke Tumapel.”
Tunggul Ametung tidak menjawab. Tetapi segera kudanya dikejutkannya. Dan dengan satu loncatan panjang, maka kuda itu pun mulai berpacu diikuti oleh Kuda Sempana. Mahisa Agni terkejut melihat kuda-kuda yang berlari itu. Dengan suara yang serak parau ia berteriak,
“Kuda Sempana. Berbuatlah sebagai jantan sejati!”
Tetapi Kuda Sempana tidak mau mendengarnya. Kudanya berlari semakin kencang. Mahisa Agni yang terluka itu menjadi bingung. Ketika ia mencoba untuk berlari ke kudanya, maka tubuhnya serasa menjadi semakin lemah. Bahkan kemudian ia pun jatuh tertelungkup ketika ujung kakinya menyentuh seonggok batu di tepi jalan.
Ken Arok yang melihat Mahisa Agni itu jatuh, segera berlari kepadanya. Dicobanya untuk menolongnya, namun terdengar Mahisa Agni itu membentaknya, “Ken Arok. Apakah kita akan bertempur terus sampai salah seorang di antara kita mati?”
Ken Arok menundukkan wajahnya. Desisnya, “Mahisa Agni. Aku tidak tahu, apakah sebenarnya yang sedang bergolak di dalam kepalaku. Aku menjadi sedemikian bingungnya menghadapi keadaan ini. Keadaanku sebagai hamba akuwu dan keadaan perasaanku sendiri.”
Mahisa Agni menyeringai sesaat. Terasa punggungnya menjadi pedih. Namun ia masih belum melepaskan kekuatan yang telah dibangkitkan dalam ilmunya Gundala Sasra. Tetapi betapa tubuh manusia itu mempunyai kemampuan yang sangat terbatas. Betapa seseorang merasa dirinya pilih tanding, kuat tanpa lawan, namun akhirnya harus mengakui, bahwa dirinya hanya seorang makhluk yang kecil. Yang hanya dapat berkehendak, bertekad dan berikhtiar. Tetapi akhirnya harus diakuinya, bahwa kekuatan dan kekuasaan yang ada di dalam dirinya adalah sedemikian kecilnya. Dan kini Mahisa Agni yang memiliki ilmu yang pilih tanding. Gundala Sasra itu pun harus menderita karena luka di punggungnya. Meskipun ilmu itu telah menolongnya, memperkecil kemungkinan yang dapat ditimbulkan karena anak panah itu.
Untunglah bahwa pada saat anak panah prajurit yang berkumis tebal itu mengenai punggungnya, maka Mahisa Agni telah siap dengan ilmunya Gundala Sasra, sehingga demikian kulitnya tersentuh ujung panah itu, maka segera kekuatan-kekuatan yang berada di dalam tubuhnya melawannya. Tetapi Mahisa Agni bukanlah seorang yang kebal, sehingga karena itulah maka kulitnya ternyata tembus juga oleh tajamnya anak panah. Namun anak panah itu tidak menghunjam terlalu dalam. Meskipun demikian, cukup untuk melumpuhkannya, meskipun tidak dapat membunuhnya.
Ken Arok yang melihat Mahisa Agni terbaring itu pun menjadi bersedih. Tetapi Mahisa Agni tidak mau ditolongnya. Dengan susah payah anak muda itu berusaha bangkit dan duduk bertelekan kedua tangannya. Wajahnya menjadi pucat dan bibirnya menjadi gemetar.
“Mahisa Agni,” berkata Ken Arok, “kau terluka. Kau harus segera mendapat pertolongan.”
“Jangan mengigau Ken Arok!” sahut Mahisa Agni, “Kau ingin membunuh aku dengan tanganmu. Karena itu kau tidak mau melihat prajurit itu melukai aku. Nah, sekarang terserah kepadamu. Apakah kau akan membunuh aku atau kau akan menunggu sehingga aku sembuh dan kita dapat berhadapan sebagai laki-laki.”
“Tidak Agni,” jawab Keri Arok, “aku tidak ingin berbuat demikian. Aku benar-benar berada dalam kebingungan.”
“Itu telah mencerminkan kegoyahan pendirianmu. Kegoyahan sikapmu. Kalau kau benar melihat bahwa kebenaran telah dilanggar oleh Akuwu Tunggul Ametung, kenapa kau tidak berani menghalanginya? Meskipun berakibat mati?”
“Ya,” Ken Arok itu menundukkan wajah, “Aku sadari keadaan itu. Aku menjadi bimbang dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Namun aku sebenarnya telah berusaha untuk setidak-tidaknya tidak membantu perbuatan itu. Aku tidak melawanmu dengan segenap kekuatanku.”
“Kau terlalu sombong!” bentak Mahisa Agni keras. Namun kemudian ia menjadi semakin lemah, “Kenapa kau tidak berkelahi dengan sekuat tenagamu? Apakah kau ingin mengatakan, bahwa tidak dengan sekuat kemampuanmu kau telah dapat mengimbangi kekuatanku.”
“Tidak. Tidak,” potong Kera Arok cepat-cepat, “maksudku aku tidak hendak melawan ilmumu yang terakhir, yang akan kau lepaskan dengan ilmu yang tersimpan rapat-rapat di dalam diriku. Aku hanya ingin melindungi diriku supaya aku tidak mati. Sesudah itu, biarlah seandainya aku kau kalahkan.”
Mahisa Agni tidak dapat membantah kata-kata itu. Sebenarnya secara jujur ia pun merasakannya, bahwa Ken Arok telah melepaskan beberapa kesempatan yang sebenarnya dapat dipergunakan, sekurang-kurangnya untuk memperlemah serangannya. Namun kesempatan-kesempatan itu dibiarkannya atau dipergunakannya dengan ragu-ragu. Apalagi, ketika kemudian Mahisa Agni menatap wajah Ken Arok yang tunduk. Tampaklah bahwa kejujuran memancar dari wajah itu. Wajah yang suram, seakan-akan penuh penyesalan. Karena itu, maka hati Mahisa Agni pun menjadi agak mereda. Kemarahannya tidak lagi menyala di dalam dadanya. Itulah sebabnya, maka kini pedih dan nyeri pada punggungnya itu mulai terasa semakin menyengat-nyengatinya. Sekali lagi Mahisa Agni berdesis. Perlahan-lahan ia bergerak maju.
“Kau terluka?” terdengar Ken Arok itu berdesis.
“Ya,” jawab Agni.
Ken Arok mengangkat wajahnya. Dipandangnya wajah Mahisa Agni yang pucat pasi. Tetapi di wajah itu tidak lagi terbayang kemarahan yang meluap-luap. Karena itu, maka Ken Arok bertanya pula,
“Apakah aku dapat menolongmu?”
“Apakah yang dapat kau lakukan?”
Ken Arok menjadi bingung. Ia bukan seorang yang tahu benar akan cara-cara untuk memberi pertolongan kepada orang-orang yang terluka seperti itu. Karena itu, maka sesaat ia terdiam. Tiba-tiba mereka berdua dikejutkan oleh suara derap kuda mendekat. Ketika mereka mengangkat wajah mereka, maka mereka melihat beberapa ekor kuda muncul dari tikungan, dan berlari ke arah mereka.
“Witantra,” tiba-tiba Ken Arok berdesis.
Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Ia mendengar peristiwa yang terjadi ini dari Mahendra menurut petunjuk Witantra. Ketika Witantra itu kemudian melihat Mahisa Agni dan Ken Arok, maka segera ia mempercepat kudanya. Demikian ia sampai di hadapan Mahisa Agni yang terluka itu, maka segera Witantra meloncat dari kudanya. Dengan tajamnya Witantra memandang kepada Ken Arok sambil menggeram.
“Kaukah yang melukainya.”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Ia tidak senang melihat sikap itu. Ia telah mengenal siapakah Witantra, dan ia menghormati keberaniannya untuk tidak menuruti saja perintah akuwu seperti dirinya. Namun ia bukan seorang yang wajar untuk mendapat perlakuan demikian. Karena itu, maka Ken Arok itu pun berdiri sambil menjawab
“Bertanyalah kepada Mahisa Agni.”
Witantra menaikkan alisnya. Ia mengenal orang itu dengan nama Wiraprana. Namun Ken Arok itu menyebutnya Mahisa Agni. Tetapi hal itu belum merupakan persoalan bagi Witantra. Dan jawaban pelayan dalam itu tidak diharapkannya. Karena itu maka sekali lagi Witantra berkata lebih tajam,
“Aku berkata kepadamu.”
Ken Arok menjadi semakin tidak senang. Tetapi sebelum ia menyahut, segera Mahisa Agni berkata, “Bukan, Witantra. Bukan olehnya. Tetapi oleh prajurit yang terbaring mati di pinggir parit itu. Dan prajurit itu telah dibunuh oleh Ken Arok.”
Witantra memalingkan wajahnya. Dilihatnya tubuh prajurit yang mati itu. Tiba-tiba dada Witantra berdesir. Prajurit itu adalah prajuritnya. Dan dilihatnya bahwa orang itu tidak terluka oleh senjata. Sehingga dengan serta-merta sesadarnya ia berdesis,
“Dibunuh dengan tangannya?”
“Ya,” sahut Mahisa Agni.
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan kemudian ia berkata, “Maafkan Adi. Aku terlalu berprasangka. Memang kita kini saling berprasangka. Aku tidak tahu apakah sebenarnya yang sedang terjadi di sini.”
Ken Arok menarik nafas dalam . Sebenarnyalah bahwa mereka kini sedang saling berprasangka. Apa yang tersimpan di dalam dada masing-masing adalah kecurigaan di antara sesama mereka. Seperti Kuda Sempana, Tunggul Ametung, Mahisa Agni, Ken Arok, Witantra dan para pengikut yang lain. Mereka tidak tahu pasti, apakah yang sebenarnya dilakukan oleh kawan-kawan mereka, atau yang sedang diangan-angankannya. Mereka berbuat dalam kebimbangan dan ketidak pastian. Bahkan mereka telah berbuat di luar rasa keadilan mereka sendiri.
Witantra itu pun kemudian turun dari kudanya dan mendekati Mahisa Agni. Tiba-tiba ia menjadi terkejut, ketika dilihatnya di punggung Mahisa Agni masih terhunjam sebuah anak panah.
“Kau dilukai dengan cara ini?” bertanya Witantra.
Mahisa Agni mengangguk. Sekali lagi ia bergumam, “Prajuritmu itulah yang melukai aku.”
Witantra menganggukkan kepalanya. Kemudian katanya pula, “Anak panah itu harus dicabut segera.”
“Cabutlah,” minta Mahisa Agni.
Witantra berpaling sesaat kepada semua orang yang berada di tempat itu. Dan tanpa ditanya, mereka telah mengerti, bahwa Witantra memerlukan bantuan mereka. Beberapa orang kemudian memegangi pundak Mahisa Agni, sedang Witantra kemudian dengan perlahan-lahan mencabut anak panah itu. Mahisa Agni berdesis menahan nyeri yang menghentak-hentak punggungnya. Bahkan hampir-hampir saja ia mengeluh untuk mengurangi rasa sakit. Namun untunglah, bahwa daya tahan tubuh Mahisa Agni benar-benar mengagumkan. Sehingga ia tetap dalam kesadarannya ketika anak panah itu tercabut dari punggungnya. Tetapi demikian anak panah itu lepas, maka darahnya menjadi semakin banyak mengalir dari luka itu.
“Kau memerlukan pertolongan secepatnya.” Mahisa Agni mengangguk. “Adi,” berkata Witantra kepada Ken Arok, “marilah kita bawa Wiraprana ke Panawijen. Mungkin di rumahnya akan kita dapatkan obat-obatan yang dapat mengurangi arus darahnya.”
Kini Ken Aroklah yang menjadi heran. Tetapi ia tidak menjawab. Ia tahu benar bahwa yang dimaksud adalah Mahisa Agni. Karena itu, maka Mahisa Agni itu segera dibangkitkannya dan ditolongnya naik ke atas punggung kuda.
“Kita naiki kuda ini berdua,” bisik Ken Arok.
Mahisa Agni tidak menjawab, sementara Ken Arok telah meloncat duduk di belakangnya. Dengan sobekan kain Mahisa Agni maka Ken Arok mencoba untuk menahan atau setidak-tidaknya mengurangi darah yang mengalir dari luka itu. Demikianlah maka segera mereka berpacu ke Panawijen kembali. Mereka mengharap bahwa luka Mahisa Agni tidak menjadi bertambah parah karena darah yang terlalu banyak mengalir. Meskipun demikian, Mahisa Agni itu pun menjadi bertambah-tambah lemahnya.
Ketika mereka memasuki padukuhan Panawijen, maka kembali mereka mengejutkan penduduknya. Beberapa orang yang mendengar derap kuda, menjadi ketakutan dan berlari-larian untuk menyembunyikan dirinya. Kuda-kuda itu pun kemudian berlari menuju ke rumah Empu Purwa. Derap kakinya menghentak-hentak tanah yang keras, dan menimbulkan bunyi yang benar-benar mengerikan bagi penduduk Panawijen.
Ketika mereka mendekati rumah Empu Purwa itu, maka orang-orang yang berada di halaman segera mendengarnya. Mereka pun menjadi ketakutan, dan dengan serta-merta mereka berlari-larian pula. Tetapi ketika kuda-kuda itu memasuki halaman, maka di halaman itu masih berdiri Ki Buyut Panawijen, seorang emban tua, beberapa orang cantrik yang sedang menunggu sesosok tubuh yang terbaring diam. Mereka menjadi terkejut sekali ketika mereka melihat Mahisa Agni duduk dengan lemahnya di hadapan Ken Arok. Segera mereka menjadi cemas. Mula-mula mereka menyangka bahwa Mahisa Agni terluka, dan anak muda itu menjadi seorang tawanan.
Tetapi mereka menjadi heran, ketika mereka melihat, demikian kuda-kuda itu berhenti, demikian Ken Arok meloncat turun dan menolong Mahisa Agni turun pula dari kudanya. Halaman itu menjadi sedemikian tegangnya. Semua orang melihat Mahisa Agni yang luka itu. Dan tiba-tiba saja ketegangan halaman itu dipecahkan oleh jerit emban tua sambil berlari memeluk Mahisa Agni,
“Agni, apakah yang terjadi?”
Mahisa Agni menelan ludahnya. Lehernya terasa seakan-akan menjadi kering. Karena itu ia berdesis,
“Air.”
Perempuan tua itu segera berteriak kepada salah seorang cantrik, “Air, ambilkan air!”
Sementara itu Mahisa Agni itu pun kemudian dipapah naik ke pendapa. Dibaringkannya anak muda itu pada selembar tikar. Emban tua itu menjadi sedemikian cemasnya, sehingga tubuhnya bergetaran serta wajah menjadi sangat pucat, sepucat Mahisa Agni sendiri.
“Kenapa kau Agni,” bertanya emban tua itu.
Mahisa Agni mencoba tersenyum, jawabnya, “Aku tidak apa-apa, Bibi.”
“Kau terluka.”
“Tidak berbahaya,” sahut Mahisa Agni. Untuk meyakinkan emban tua itu Mahisa Agni berkata kepada Ken Arok, “Ken Arok, bukankah lukaku tidak berbahaya?”
Ken Arok mengangguk kaku. “Tidak,” desisnya.
Namun kecemasan masih membayang di wajahnya. Nafasnya menjadi semakin cepat mengalir dan bibirnya bergerak-gerak tetapi tidak sepatah kata pun yang meloncat dari mulutnya. Ketika seorang cantrik kemudian membawa air kepadanya, dan dituangkannya kepada mulutnya, maka tubuh Mahisa Agni itu serasa menjadi semakin segar.
“Bibi, apakah bibi mengenal obat untuk luka ini,” desis Ken Arok kemudian.
Perempuan tua itu memandang Ken Arok dengan tajamnya. Ia melihat orang itu pergi bersama-sama dengan Akuwu Tumapel. Dan kini orang itu datang kembali membawa Mahisa Agni. Apalagi ketika ia melihat Witantra yang berdiri mematung di pendapa itu, maka perempuan itu menjadi bertambah tidak mengerti, apa yang telah terjadi.
Witantra itu pun kemudian berjongkok pula di samping Ken Arok. Ia melihat keheranan yang memancar dari mata perempuan tua yang menangisi Mahisa Agni Karena itu ia berkata,
“Bibi, semuanya nanti akan dapat Bibi ketahui. Sekarang, apakah Bibi mempunyai reramuan obat-obatan untuk luka itu?”
Emban tua itu tersadar dari keheranannya. Maka dengan serta-merta ia berdiri dan berlari ke dalam biliknya. Ia bukanlah seorang yang dapat memberikan obat kepada beberapa jenis penyakit, namun reramuan obat untuk luka-luka ia ada menyimpannya. Obat itu adalah pemberian Empu Purwa, seandainya ada para cantrik dan para endang menjadi terluka karena sesuatu sebab. Ketika emban itu datang kembali, maka reramuan itu pun kemudian dicairkannya ke dalam beberapa tetes air. Dan dengan obat itulah kemudian luka Mahisa Agni diobati. Ternyata obat itu pun bermanfaat pula baginya. Darah yang mengalir dari luka itu pun kemudian berangsur terhenti.
Tetapi demikian luka itu menjadi bertambah pampat, maka segera perhatian mereka tertarik kepala beberapa orang, yang masih saja berdiri di halaman. Mahisa Agni yang lemah itu pun mencoba mengangkat kepalanya. Ketika terpandang olehnya wajah Buyut Panawijen yang suram, terdengarlah anak muda itu bertanya,
“Bibi, apakah yang telah terjadi di rumah ini?”
Perempuan tua itu menelan ludahnya, seakan-akan ludah itu telah menyumbat kerongkongannya sehingga ia tidak dapat berkata apapun. Baru sesaat kemudian ia berkata,
“Kau terlambat datang Agni. Bahkan kau datang dengan luka di punggungmu? Apakah kau bertemu dengan Kuda Sempana?”
“Ya, Bibi,” sahut Mahisa Agni.
“Dengan sekalian yang berada di sini sekarang?” Mahisa Agni mengangguk. “Lalu apakah yang terjadi atasmu?”
Mahisa Agni tidak menjawab. Tanpa disengajanya ia memandang kepada Ken Arok. Sehingga Ken Aroklah yang menjawab, “Agni terluka karena ia ingin mempertahankan gadis yang dibawa oleh Kuda Sempana itu.”
“Siapakah yang telah melukainya? Tuan?”
Ken Arok menggeleng. Tetapi wajahnya terbanting di lantai. Meskipun ia tidak melukai Mahisa Agni, namun ia bertempur pula melawan anak muda itu. Sehingga dengan demikian maka mau tidak mau, perasaannya pun tersentuh pula.
Yang menjawab kemudian adalah Witantra. Katanya, “Seorang prajurit yang licik telah melukainya.”
Perempuan tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengar ia bergumam “Mereka telah melakukan pembunuhan dan perampasan.”
Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata itu. Sehingga dengan serta-merta ia bertanya “Apakah telah terjadi pembunuhan? Bibi, aku belum mati. Adakah yang telah terbunuh?”
Emban tua itu tidak segera menjawab. Namun kemudian ia berpaling ke halaman. Ditatapnya beberapa orang yang tegak di bawah tangga, dan dilihatnya Ki Buyut Panawijen yang berjongkok.
“Bibi,” desak Mahisa Agni, “siapakah yang terbunuh? Seorang cantrik atau . . .?”
Tiba-tiba kata Mahisa Agni terputus. Ia melihat seseorang terbaring ketika ia memasuki halaman. Namun lukanya itu telah merampas segenap perhatiannya sehingga ia tidak sempat untuk memperhatikannya, selain berdesis menahan sakit yang menghentak-hentak. Sekali lagi Mahisa Agni mencoba mengangkat wajahnya. Dan sekali lagi dilihatnya beberapa orang berada di halaman itu.
“Siapa yang terbaring itu?” tiba Mahisa Agni berteriak,
Dilihatnya Buyut Panawijen itu berpaling. Kemudian tampaklah ia berdiri dan berjalan perlahan-lahan naik ke pendapa. Wajahnya yang sayu memandangi beberapa orang yang berjongkok di sekitar Mahisa Agni.
“Ki Buyut,” bertanya Mahisa Agni tidak sabar, “siapakah yang terbaring di halaman itu? Kenapa ia tidak dibawa naik?”
“Tidak perlu, Ngger Mahisa Agni. Biarlah ia terbaring di halaman. Ia akan segera aku bawa kembali.”
“Siapa? Siapa?”
“Wiraprana.”
“Wiraprana?” ulang Mahisa Agni. Alangkah terkejutnya anak muda itu. Meskipun perasaan itu telah menyentuh hatinya sejak ia mendengar bahwa seseorang telah terbunuh.
“Tidak!” sahut Agni tidak kalah kerasnya, “kau harus becermin. Kau harus melihat wajahmu itu. Wajah yang dipenuhi oleh kotoran duniawi. Huh. Apakah seorang pendeta yang kau katakan bernama Lohgawe itu mendidikmu untuk membunuh, merampok dan memerkosa dengan cara yang terhormat ini.”
“Cukup! Cukup!” Wajah Ken Arok itu tiba menyala, dan digesernya kudanya beberapa langkah maju.
Tetapi Mahisa Agni pun benar-benar sudah siap. Ia kini bukan Mahisa Agni yang bertempur di padang rumput Karautan itu. Namun sebenarnya Ken Arok itu pun bukan Ken Arok yang berada di padang itu pula. Dengan bekal kekuatan yang tersimpan di dalam tubuhnya sejak ia dilahirkan, ia telah menerima beberapa tuntunan dalam tata perkelahian. Dan karena tuntunan yang sedikit itu saja, Ken Arok benar-benar menjadi seorang anak muda yang luar biasa.
Tetapi ketika ia telah benar-benar berhadapan dengan pandangan mata Mahisa Agni yang tajam, tiba-tiba disadarinya akan dirinya. Bahkan dikenangnya, waktu Mahisa Agni menjadi seperti orang gila berteriak di padang rumput menantangnya. Kenapa waktu itu ia tidak menjadi marah, dan bahkan ia dapat meredakan kemarahan anak muda itu?
Kini kembali ia mendengar Mahisa Agni berkata, “Ken Arok. Kalau kini kita bertempur, maka bertanyalah kepada hati nuranimu. Siapakah yang berpijak pada kebenaran seperti yang pernah kau impikan.”
Tiba-tiba Ken Arok itu menggeleng. Wajahnya menjadi suram. Dan ia pun berbisik, “Agni. Kalau kau akan membinasakan aku, binasakanlah. Aku harus melawanmu. Tetapi percayalah, aku tidak akan bertempur sungguh-sungguh. Aku harus menghalangimu, meskipun tidak demikian kata hatiku. Kau berada di atas kebenaran, sedang aku berada dalam kesulitan-kesulitan karena kedudukanku. Nah. Terserahlah kepadamu.”
“Jangan banyak ribut, aku sudah siap.”
“Jangan berteriak-teriak. Aku sudah menyerah, meskipun aku harus bertempur.”
Mahisa Agni yang marah itu tidak sabar lagi. Apapun yang akan dilakukan oleh Ken Arok, namun ia harus menyingkirkan semua orang yang mencoba menculik Ken Dedes itu. Ketika sekali Mahisa Agni itu mengerling ke arah Kuda Sempana, maka nyala di dalam hatinya seakan-akan tersiram minyak, sehingga melonjaklah api yang memanasi dadanya. Dengan serta-merta Mahisa Agni itu meluncur dengan dahsyatnya, langsung menghantam pelipis Ken Arok. Namun dengan gerak naluriah Ken Arok menghindarkan dirinya, sehingga Mahisa Agni itu seakan-akan terbang di sampingnya.
Cepat Ken Arok mengangkat tangannya dan sebuah ayunan yang keras mengarah ke tengkuk Agni. Namun tiba-tiba tangan itu seakan-akan tersentak, sehingga ketika tangan itu benar-benar menyentuh tubuh Agni yang terdorong oleh kekuatan tangannya dan kemarahan yang meluap-luap, serta kecepatan bergerak Ken Arok yang seperti tatit, maka sentuhan itu benar-benar tidak berarti. Ken Arok menahan sekuat-kuatnya, untuk tidak melukai lawannya.
Namun Mahisa Agni merasakan sentuhan itu seperti pernah dirasakannya. Sentuhan hantu padang rumput Karautan. Namun kini, gerak Ken Arok benar-benar mencerminkan kematangan gerak dalam unsur yang teratur. Karena itu, maka dada Mahisa Agni berdesir karenanya. Hantu itu tidak lagi berbuat sekasar pada saat ia pertama kali bertemu. Sehingga dengan demikian, kekuatan-kekuatan yang ada di dalam tubuh Ken Arok sejak ia dilahirkan, dilambari dengan kecepatan gerak yang mengagumkan, maka Ken Arok benar-benar seorang yang memiliki kemampuan yang luar biasa.
Mahisa Agni yang marah itu benar-benar tidak dapat melihat kemungkinan-kemungkinan lain daripada bertempur mati-matian. Bahkan dengan penuh kemarahan ia berteriak
“Ayo, kenapa kalian tidak maju bersama-sama.”
Ken Arok menarik nafas. Ia bersiap kembali ketika kuda Mahisa Agni berputar, dan kembali sebuah serangan melandanya. Namun kali ini, Ken Arok benar-benar menjadi terkejut. Mahisa Agni itu sama sekali tidak menyerang tubuhnya, namun tiba-tiba anak muda itu langsung meloncat dari kudanya, dan menghantamkan tubuhnya kepadanya. Sehingga dengan demikian maka Ken Arok pun kehilangan keseimbangannya, dan keduanya jatuh berguling dari atas kuda mereka. Namun sesaat kemudian mereka telah bangkit kembali. Bahkan masing-masing telah bersiap dalam sikap yang meyakinkan.
Tunggul Ametung yang melihat perkelahian itu mengerutkan keningnya. Perkelahian itu benar-benar menarik perhatiannya, sehingga untuk sesaat dilupakannya Kuda Sempana yang duduk di atas kudanya dengan tegang. Berbagai perasaan timbul di dalam benak Kuda Sempana itu. Ia ingin perjalanannya tidak terganggu. Namun anak muda itu menjadi iri melihat kelincahan Ken Arok. Sebab apabila Akuwu Tumapel itu benar-benar tertarik melihat keterampilan anak muda itu, maka kedudukan pelayan baru itu akan menjadi semakin baik di sampingnya. Bahkan Kuda Sempana itu takut bahwa perhatian Tunggul Ametung akan seluruhnya tercurah kepada Ken Arok itu. Namun apabila Ken Arok itu tidak dapat memenangkan perkelahian itu, maka ia sendiri harus berhadapan dengan Mahisa Agni. Dan ia menyadari, bahwa ia tidak akan dapat mengalahkannya.
Dalam pada itu, perkelahian antara Mahisa Agni .dan Ken Arok itu pun menjadi semakin sengit. Mahisa Agni benar-benar telan mengerahkan segenap kemampuannya. Ditumpahkannya semua kecakapan yang dimilikinya. Namun lawannya pun memiliki kelincahan yang luar biasa. Apalagi, kembali pengalamannya berulang. Tubuh Ken Arok itu benar-benar seperti menjadi kebal. Betapapun juga, ia berhasil mengenainya dengan segenap kekuatan, dan bahkan sekali ia berhasil melemparkan anak muda itu, namun kembali Ken Arok meloncat bangkit dan bertempur selincah burung sriti yang menyambar di udara.
Tetapi karena kemarahan yang telah memuncak sampai ke ubun-ubunnya, Mahisa Agni sama sekali tidak melihat, bahwa Ken Arok telah melewatkan berpuluh puluh kesempatan yang akan dapat melumpuhkan Mahisa Agni itu. Setiap kali serangannya akan berhasil, maka dengan tanpa disadarinya Ken Arok itu menjadi bingung, sehingga serangannya itu menjadi urung. Dan bahkan kadang-kadang dengan serta-merta tangannya yang tepat mendarat ke tengkuk lawannya itu, digesernya beberapa jari, sehingga hanya menyentuh pundaknya.
Namun Mahisa Agni kemudian menjadi tidak sabar lagi. Ketika mereka telah bertempur beberapa saat, dan Mahisa Agni merasa bahwa ia tidak akan berhasil melumpuhkan lawannya, maka tidak ada alasan yang dapat menahan dirinya, mempergunakan ilmunya yang tertinggi Gundala Sasra. Ilmu simpanan yang seharusnya tidak dipancarkan apabila keadaan tidak memaksa. Tetapi kini ia berhadapan dengan kekuatan di luar kemampuannya untuk melawan dengan tenaganya yang wajar. Karena itu, maka tidak ada cara lain untuk menyelamatkan Ken Dedes, selain ilmunya itu.
Karena itu, maka dengan cepatnya Mahisa Agni meloncat surut. Dengan serta-merta disilangkannya tangannya di muka dadanya dan dipusatkannya segenap kekuatan lahir dan batin, untuk menyalurkan getaran di dalam dadanya dalam ilmunya Aji Gundala Sasra.
Ken Arok melihat sikap Mahisa Agni itu. Terasa sesuatu berdesir di dalam dadanya. Segera ia pun mengerti, bahwa Mahisa Agni sedang memusatkan segenap kekuatannya. Karena itu, maka Ken Arok itu pun sadar, bahwa ia harus menghadapi kekuatan yang pasti bukan main dahsyatnya. Sesaat Ken Arok itu tegak mematung. Namun kemudian tampak ia memiringkan tubuhnya. Ia sudah berjanji di dalam dirinya, bahwa ia sama sekati tidak berhasrat memenangkan perkelahian itu. Ia sudah bertempur dan ia sudah melakukan kewajibannya. Kalau kemudian ia dikalahkan oleh lawannya adalah kemungkinan yang wajar, sewajar kalau ia memenangkan pertempuran itu, atau sewajar kalau perkelahian itu berakhir dengan luluhnya kedua belah pihak. Sebab memang hanya ada kemungkinan itu yang dapat terjadi. Kalah, menang atau bersama-sama menjadi lumpuh.
Dengan demikian, maka Ken Arok itu pun segera mempersiapkan diri untuk menerima kedahsyatan ilmu lawannya. Dibangkitkannya segenap daya tahan di dalam tubuhnya menurut petunjuk yang pernah diterimanya. Namun tenaga yang tersimpan itu terlalu banyak, sehingga tubuh Ken Arok itu tiba-tiba seakan-akan telah berubah menjadi sebuah patung baja. Namun sama sekali tak terlintas di dalam otaknya untuk mencederai Mahisa Agni. Ia berbuat demikian hanya sekedar untuk tidak mati meskipun seandainya ia terluka. Namun sebenarnyalah bahwa Ken Arok itu mempunyai beberapa keanehan yang tidak dimiliki orang lain, dan bahkan tidak disadarinya sendiri.
Tetapi kemudian terjadilah hal yang tidak disangka-sangka. Selagi Mahisa Agni sedang membangunkan kekuatan yang berada di dalam tubuhnya, dan selagi kekuatan itu masih belum sempurna, tiba-tiba Mahisa Agni itu mengeluh pendek. Selangkah ia terdorong ke depan, dan kemudian terhuyung-huyung ia memutar tubuhnya. Terdengarlah suaranya menggeram,
“Curang!”
Bukan saja Mahisa Agni menjadi sangat terkejut, namun Ken Arok pun menjadi terkejut bukan buatan. Ketika ia memandang punggung Mahisa Agni, maka dilihatnya darah mengalir dari sebuah luka. Dan pada luka itu masih menancap sebatang anak panah.
Darah Ken Arok itu pun tiba-tiba menggelegak melihat peristiwa itu. Hilanglah segala suba sita, dan hilanglah segala akal dari kepalanya. Ia melihat suatu yang sama sekali tidak adil. Karena itu dengan serta-merta Ken Arok itu meloncat ke arah prajurit yang berdiri di tepi parit. Ternyata prajurit itu telah berhasil menguasai dirinya kembali, dan dengan panah berburunya ia telah melukai punggung Mahisa Agni.
Namun ia menjadi sangat terkejut ketika Ken Arok itu tiba-tiba meloncat ke arahnya dengan wajah yang menyala-nyala. Pada saat itu pun Ken Arok sedang membangunkan kekuatan yang ada pada dirinya. Meskipun cara-cara yang dipakainya berbeda dengan cara-cara yang lazim, namun ternyata anak muda itu telah berhasil pula. Karena itu, maka kekuatannya seakan-akan menjadi berlipat-lipat. Daya loncatnya pun menjadi jauh lebih panjang dibandingkan dengan saat-saat yang wajar. Karena itu segera ia mencapai prajurit yang curang itu.
Semua orang menjadi terkejut bukan kepalang. Bahkan jantung mereka seakan-akan membeku, ketika mereka melihat apa yang kemudian terjadi. Akuwu Tunggul Ametung, Kuda Sempana dan bahkan Mahisa Agni sendiri. Dengan serta-merta, Ken Arok itu menghantam dada orang berkumis tebal itu sambil menggeram,
“Setan yang licik.”
Tetapi prajurit itu sama sekali tidak sempat berbuat apa-apa. Ia memang mencoba menahan pukulan Ken Arok itu dengan kedua belah tangannya. Namun ternyata akibatnya nggerisi. Terdengar prajurit berkumis tebal itu berteriak, dan disusul dengan derak tulang-tulang patah. Tulang tangannya dan beberapa tulang iganya. Tangan Ken Arok yang marah itu seakan-akan berubah menjadi segumpal besi yang menghantam dada prajurit berkumis tebal itu, sehingga prajurit yang malang itu kemudian terlempar beberapa langkah, terbanting di tanah, dan mati seketika itu juga.
Kuda Sempana yang melihat peristiwa itu, menjadi sangat cemas. Ia menjadi tidak mengerti sama sekali, apakah sebenarnya yang sedang dilakukan oleh Ken Arok itu. Apakah ia sedang membela kepentingannya melawan Mahisa Agni, atau apa? Ternyata anak muda itu menjadi sangat marah ketika ada orang lain yang membantunya. Apakah hanya sekedar karena harga dirinya dilanggar dengan memberikan bantuan itu.
Ternyata bukan saja Kuda Sempana yang menjadi bingung. Akuwu Tumapel itu pun melihat semua peristiwa itu dengan wajah yang tegang. Bahkan akhirnya ia menjadi curiga, apakah Ken Arok sebenarnya tidak berpihak kepada Mahisa Agni. Sebagai seorang yang cukup memiliki ilmu yang tinggi, Akuwu Tunggul Ametung telah menyimpan beberapa keraguan ketika ia melihat cara Ken Arok bertempur. Apalagi kini ia melihat apa yang dilakukan oleh Ken Arok itu.
Karena itu, tiba-tiba tangannya meraba pelana kudanya dan disentuhnya tangkai pusakanya. Sebuah tongkat penggada yang terbuat dari besi yang berwarna kuning menyala. Pusaka yang luar biasa, yang tak pernah terpisah daripadanya. Ketika terasa pada jari-jarinya sentuhan tangkai pusakanya itu, maka Tunggul Ametung itu pun menjadi tenang. Ia percaya betul bahwa tak ada manusia di dunia yang mampu mempertahankan dirinya melawan pusaka itu.
Namun Tunggul Ametung itu masih tetap tidak berbuat sesuatu. Bahkan ia sependapat ketika Kuda Sempana berkata, “Tuanku, marilah kita mendahului mereka kembali ke Tumapel.”
Tunggul Ametung tidak menjawab. Tetapi segera kudanya dikejutkannya. Dan dengan satu loncatan panjang, maka kuda itu pun mulai berpacu diikuti oleh Kuda Sempana. Mahisa Agni terkejut melihat kuda-kuda yang berlari itu. Dengan suara yang serak parau ia berteriak,
“Kuda Sempana. Berbuatlah sebagai jantan sejati!”
Tetapi Kuda Sempana tidak mau mendengarnya. Kudanya berlari semakin kencang. Mahisa Agni yang terluka itu menjadi bingung. Ketika ia mencoba untuk berlari ke kudanya, maka tubuhnya serasa menjadi semakin lemah. Bahkan kemudian ia pun jatuh tertelungkup ketika ujung kakinya menyentuh seonggok batu di tepi jalan.
Ken Arok yang melihat Mahisa Agni itu jatuh, segera berlari kepadanya. Dicobanya untuk menolongnya, namun terdengar Mahisa Agni itu membentaknya, “Ken Arok. Apakah kita akan bertempur terus sampai salah seorang di antara kita mati?”
Ken Arok menundukkan wajahnya. Desisnya, “Mahisa Agni. Aku tidak tahu, apakah sebenarnya yang sedang bergolak di dalam kepalaku. Aku menjadi sedemikian bingungnya menghadapi keadaan ini. Keadaanku sebagai hamba akuwu dan keadaan perasaanku sendiri.”
Mahisa Agni menyeringai sesaat. Terasa punggungnya menjadi pedih. Namun ia masih belum melepaskan kekuatan yang telah dibangkitkan dalam ilmunya Gundala Sasra. Tetapi betapa tubuh manusia itu mempunyai kemampuan yang sangat terbatas. Betapa seseorang merasa dirinya pilih tanding, kuat tanpa lawan, namun akhirnya harus mengakui, bahwa dirinya hanya seorang makhluk yang kecil. Yang hanya dapat berkehendak, bertekad dan berikhtiar. Tetapi akhirnya harus diakuinya, bahwa kekuatan dan kekuasaan yang ada di dalam dirinya adalah sedemikian kecilnya. Dan kini Mahisa Agni yang memiliki ilmu yang pilih tanding. Gundala Sasra itu pun harus menderita karena luka di punggungnya. Meskipun ilmu itu telah menolongnya, memperkecil kemungkinan yang dapat ditimbulkan karena anak panah itu.
Untunglah bahwa pada saat anak panah prajurit yang berkumis tebal itu mengenai punggungnya, maka Mahisa Agni telah siap dengan ilmunya Gundala Sasra, sehingga demikian kulitnya tersentuh ujung panah itu, maka segera kekuatan-kekuatan yang berada di dalam tubuhnya melawannya. Tetapi Mahisa Agni bukanlah seorang yang kebal, sehingga karena itulah maka kulitnya ternyata tembus juga oleh tajamnya anak panah. Namun anak panah itu tidak menghunjam terlalu dalam. Meskipun demikian, cukup untuk melumpuhkannya, meskipun tidak dapat membunuhnya.
Ken Arok yang melihat Mahisa Agni terbaring itu pun menjadi bersedih. Tetapi Mahisa Agni tidak mau ditolongnya. Dengan susah payah anak muda itu berusaha bangkit dan duduk bertelekan kedua tangannya. Wajahnya menjadi pucat dan bibirnya menjadi gemetar.
“Mahisa Agni,” berkata Ken Arok, “kau terluka. Kau harus segera mendapat pertolongan.”
“Jangan mengigau Ken Arok!” sahut Mahisa Agni, “Kau ingin membunuh aku dengan tanganmu. Karena itu kau tidak mau melihat prajurit itu melukai aku. Nah, sekarang terserah kepadamu. Apakah kau akan membunuh aku atau kau akan menunggu sehingga aku sembuh dan kita dapat berhadapan sebagai laki-laki.”
“Tidak Agni,” jawab Keri Arok, “aku tidak ingin berbuat demikian. Aku benar-benar berada dalam kebingungan.”
“Itu telah mencerminkan kegoyahan pendirianmu. Kegoyahan sikapmu. Kalau kau benar melihat bahwa kebenaran telah dilanggar oleh Akuwu Tunggul Ametung, kenapa kau tidak berani menghalanginya? Meskipun berakibat mati?”
“Ya,” Ken Arok itu menundukkan wajah, “Aku sadari keadaan itu. Aku menjadi bimbang dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Namun aku sebenarnya telah berusaha untuk setidak-tidaknya tidak membantu perbuatan itu. Aku tidak melawanmu dengan segenap kekuatanku.”
“Kau terlalu sombong!” bentak Mahisa Agni keras. Namun kemudian ia menjadi semakin lemah, “Kenapa kau tidak berkelahi dengan sekuat tenagamu? Apakah kau ingin mengatakan, bahwa tidak dengan sekuat kemampuanmu kau telah dapat mengimbangi kekuatanku.”
“Tidak. Tidak,” potong Kera Arok cepat-cepat, “maksudku aku tidak hendak melawan ilmumu yang terakhir, yang akan kau lepaskan dengan ilmu yang tersimpan rapat-rapat di dalam diriku. Aku hanya ingin melindungi diriku supaya aku tidak mati. Sesudah itu, biarlah seandainya aku kau kalahkan.”
Mahisa Agni tidak dapat membantah kata-kata itu. Sebenarnya secara jujur ia pun merasakannya, bahwa Ken Arok telah melepaskan beberapa kesempatan yang sebenarnya dapat dipergunakan, sekurang-kurangnya untuk memperlemah serangannya. Namun kesempatan-kesempatan itu dibiarkannya atau dipergunakannya dengan ragu-ragu. Apalagi, ketika kemudian Mahisa Agni menatap wajah Ken Arok yang tunduk. Tampaklah bahwa kejujuran memancar dari wajah itu. Wajah yang suram, seakan-akan penuh penyesalan. Karena itu, maka hati Mahisa Agni pun menjadi agak mereda. Kemarahannya tidak lagi menyala di dalam dadanya. Itulah sebabnya, maka kini pedih dan nyeri pada punggungnya itu mulai terasa semakin menyengat-nyengatinya. Sekali lagi Mahisa Agni berdesis. Perlahan-lahan ia bergerak maju.
“Kau terluka?” terdengar Ken Arok itu berdesis.
“Ya,” jawab Agni.
Ken Arok mengangkat wajahnya. Dipandangnya wajah Mahisa Agni yang pucat pasi. Tetapi di wajah itu tidak lagi terbayang kemarahan yang meluap-luap. Karena itu, maka Ken Arok bertanya pula,
“Apakah aku dapat menolongmu?”
“Apakah yang dapat kau lakukan?”
Ken Arok menjadi bingung. Ia bukan seorang yang tahu benar akan cara-cara untuk memberi pertolongan kepada orang-orang yang terluka seperti itu. Karena itu, maka sesaat ia terdiam. Tiba-tiba mereka berdua dikejutkan oleh suara derap kuda mendekat. Ketika mereka mengangkat wajah mereka, maka mereka melihat beberapa ekor kuda muncul dari tikungan, dan berlari ke arah mereka.
“Witantra,” tiba-tiba Ken Arok berdesis.
Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Ia mendengar peristiwa yang terjadi ini dari Mahendra menurut petunjuk Witantra. Ketika Witantra itu kemudian melihat Mahisa Agni dan Ken Arok, maka segera ia mempercepat kudanya. Demikian ia sampai di hadapan Mahisa Agni yang terluka itu, maka segera Witantra meloncat dari kudanya. Dengan tajamnya Witantra memandang kepada Ken Arok sambil menggeram.
“Kaukah yang melukainya.”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Ia tidak senang melihat sikap itu. Ia telah mengenal siapakah Witantra, dan ia menghormati keberaniannya untuk tidak menuruti saja perintah akuwu seperti dirinya. Namun ia bukan seorang yang wajar untuk mendapat perlakuan demikian. Karena itu, maka Ken Arok itu pun berdiri sambil menjawab
“Bertanyalah kepada Mahisa Agni.”
Witantra menaikkan alisnya. Ia mengenal orang itu dengan nama Wiraprana. Namun Ken Arok itu menyebutnya Mahisa Agni. Tetapi hal itu belum merupakan persoalan bagi Witantra. Dan jawaban pelayan dalam itu tidak diharapkannya. Karena itu maka sekali lagi Witantra berkata lebih tajam,
“Aku berkata kepadamu.”
Ken Arok menjadi semakin tidak senang. Tetapi sebelum ia menyahut, segera Mahisa Agni berkata, “Bukan, Witantra. Bukan olehnya. Tetapi oleh prajurit yang terbaring mati di pinggir parit itu. Dan prajurit itu telah dibunuh oleh Ken Arok.”
Witantra memalingkan wajahnya. Dilihatnya tubuh prajurit yang mati itu. Tiba-tiba dada Witantra berdesir. Prajurit itu adalah prajuritnya. Dan dilihatnya bahwa orang itu tidak terluka oleh senjata. Sehingga dengan serta-merta sesadarnya ia berdesis,
“Dibunuh dengan tangannya?”
“Ya,” sahut Mahisa Agni.
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan kemudian ia berkata, “Maafkan Adi. Aku terlalu berprasangka. Memang kita kini saling berprasangka. Aku tidak tahu apakah sebenarnya yang sedang terjadi di sini.”
Ken Arok menarik nafas dalam . Sebenarnyalah bahwa mereka kini sedang saling berprasangka. Apa yang tersimpan di dalam dada masing-masing adalah kecurigaan di antara sesama mereka. Seperti Kuda Sempana, Tunggul Ametung, Mahisa Agni, Ken Arok, Witantra dan para pengikut yang lain. Mereka tidak tahu pasti, apakah yang sebenarnya dilakukan oleh kawan-kawan mereka, atau yang sedang diangan-angankannya. Mereka berbuat dalam kebimbangan dan ketidak pastian. Bahkan mereka telah berbuat di luar rasa keadilan mereka sendiri.
Witantra itu pun kemudian turun dari kudanya dan mendekati Mahisa Agni. Tiba-tiba ia menjadi terkejut, ketika dilihatnya di punggung Mahisa Agni masih terhunjam sebuah anak panah.
“Kau dilukai dengan cara ini?” bertanya Witantra.
Mahisa Agni mengangguk. Sekali lagi ia bergumam, “Prajuritmu itulah yang melukai aku.”
Witantra menganggukkan kepalanya. Kemudian katanya pula, “Anak panah itu harus dicabut segera.”
“Cabutlah,” minta Mahisa Agni.
Witantra berpaling sesaat kepada semua orang yang berada di tempat itu. Dan tanpa ditanya, mereka telah mengerti, bahwa Witantra memerlukan bantuan mereka. Beberapa orang kemudian memegangi pundak Mahisa Agni, sedang Witantra kemudian dengan perlahan-lahan mencabut anak panah itu. Mahisa Agni berdesis menahan nyeri yang menghentak-hentak punggungnya. Bahkan hampir-hampir saja ia mengeluh untuk mengurangi rasa sakit. Namun untunglah, bahwa daya tahan tubuh Mahisa Agni benar-benar mengagumkan. Sehingga ia tetap dalam kesadarannya ketika anak panah itu tercabut dari punggungnya. Tetapi demikian anak panah itu lepas, maka darahnya menjadi semakin banyak mengalir dari luka itu.
“Kau memerlukan pertolongan secepatnya.” Mahisa Agni mengangguk. “Adi,” berkata Witantra kepada Ken Arok, “marilah kita bawa Wiraprana ke Panawijen. Mungkin di rumahnya akan kita dapatkan obat-obatan yang dapat mengurangi arus darahnya.”
Kini Ken Aroklah yang menjadi heran. Tetapi ia tidak menjawab. Ia tahu benar bahwa yang dimaksud adalah Mahisa Agni. Karena itu, maka Mahisa Agni itu segera dibangkitkannya dan ditolongnya naik ke atas punggung kuda.
“Kita naiki kuda ini berdua,” bisik Ken Arok.
Mahisa Agni tidak menjawab, sementara Ken Arok telah meloncat duduk di belakangnya. Dengan sobekan kain Mahisa Agni maka Ken Arok mencoba untuk menahan atau setidak-tidaknya mengurangi darah yang mengalir dari luka itu. Demikianlah maka segera mereka berpacu ke Panawijen kembali. Mereka mengharap bahwa luka Mahisa Agni tidak menjadi bertambah parah karena darah yang terlalu banyak mengalir. Meskipun demikian, Mahisa Agni itu pun menjadi bertambah-tambah lemahnya.
Ketika mereka memasuki padukuhan Panawijen, maka kembali mereka mengejutkan penduduknya. Beberapa orang yang mendengar derap kuda, menjadi ketakutan dan berlari-larian untuk menyembunyikan dirinya. Kuda-kuda itu pun kemudian berlari menuju ke rumah Empu Purwa. Derap kakinya menghentak-hentak tanah yang keras, dan menimbulkan bunyi yang benar-benar mengerikan bagi penduduk Panawijen.
Ketika mereka mendekati rumah Empu Purwa itu, maka orang-orang yang berada di halaman segera mendengarnya. Mereka pun menjadi ketakutan, dan dengan serta-merta mereka berlari-larian pula. Tetapi ketika kuda-kuda itu memasuki halaman, maka di halaman itu masih berdiri Ki Buyut Panawijen, seorang emban tua, beberapa orang cantrik yang sedang menunggu sesosok tubuh yang terbaring diam. Mereka menjadi terkejut sekali ketika mereka melihat Mahisa Agni duduk dengan lemahnya di hadapan Ken Arok. Segera mereka menjadi cemas. Mula-mula mereka menyangka bahwa Mahisa Agni terluka, dan anak muda itu menjadi seorang tawanan.
Tetapi mereka menjadi heran, ketika mereka melihat, demikian kuda-kuda itu berhenti, demikian Ken Arok meloncat turun dan menolong Mahisa Agni turun pula dari kudanya. Halaman itu menjadi sedemikian tegangnya. Semua orang melihat Mahisa Agni yang luka itu. Dan tiba-tiba saja ketegangan halaman itu dipecahkan oleh jerit emban tua sambil berlari memeluk Mahisa Agni,
“Agni, apakah yang terjadi?”
Mahisa Agni menelan ludahnya. Lehernya terasa seakan-akan menjadi kering. Karena itu ia berdesis,
“Air.”
Perempuan tua itu segera berteriak kepada salah seorang cantrik, “Air, ambilkan air!”
Sementara itu Mahisa Agni itu pun kemudian dipapah naik ke pendapa. Dibaringkannya anak muda itu pada selembar tikar. Emban tua itu menjadi sedemikian cemasnya, sehingga tubuhnya bergetaran serta wajah menjadi sangat pucat, sepucat Mahisa Agni sendiri.
“Kenapa kau Agni,” bertanya emban tua itu.
Mahisa Agni mencoba tersenyum, jawabnya, “Aku tidak apa-apa, Bibi.”
“Kau terluka.”
“Tidak berbahaya,” sahut Mahisa Agni. Untuk meyakinkan emban tua itu Mahisa Agni berkata kepada Ken Arok, “Ken Arok, bukankah lukaku tidak berbahaya?”
Ken Arok mengangguk kaku. “Tidak,” desisnya.
Namun kecemasan masih membayang di wajahnya. Nafasnya menjadi semakin cepat mengalir dan bibirnya bergerak-gerak tetapi tidak sepatah kata pun yang meloncat dari mulutnya. Ketika seorang cantrik kemudian membawa air kepadanya, dan dituangkannya kepada mulutnya, maka tubuh Mahisa Agni itu serasa menjadi semakin segar.
“Bibi, apakah bibi mengenal obat untuk luka ini,” desis Ken Arok kemudian.
Perempuan tua itu memandang Ken Arok dengan tajamnya. Ia melihat orang itu pergi bersama-sama dengan Akuwu Tumapel. Dan kini orang itu datang kembali membawa Mahisa Agni. Apalagi ketika ia melihat Witantra yang berdiri mematung di pendapa itu, maka perempuan itu menjadi bertambah tidak mengerti, apa yang telah terjadi.
Witantra itu pun kemudian berjongkok pula di samping Ken Arok. Ia melihat keheranan yang memancar dari mata perempuan tua yang menangisi Mahisa Agni Karena itu ia berkata,
“Bibi, semuanya nanti akan dapat Bibi ketahui. Sekarang, apakah Bibi mempunyai reramuan obat-obatan untuk luka itu?”
Emban tua itu tersadar dari keheranannya. Maka dengan serta-merta ia berdiri dan berlari ke dalam biliknya. Ia bukanlah seorang yang dapat memberikan obat kepada beberapa jenis penyakit, namun reramuan obat untuk luka-luka ia ada menyimpannya. Obat itu adalah pemberian Empu Purwa, seandainya ada para cantrik dan para endang menjadi terluka karena sesuatu sebab. Ketika emban itu datang kembali, maka reramuan itu pun kemudian dicairkannya ke dalam beberapa tetes air. Dan dengan obat itulah kemudian luka Mahisa Agni diobati. Ternyata obat itu pun bermanfaat pula baginya. Darah yang mengalir dari luka itu pun kemudian berangsur terhenti.
Tetapi demikian luka itu menjadi bertambah pampat, maka segera perhatian mereka tertarik kepala beberapa orang, yang masih saja berdiri di halaman. Mahisa Agni yang lemah itu pun mencoba mengangkat kepalanya. Ketika terpandang olehnya wajah Buyut Panawijen yang suram, terdengarlah anak muda itu bertanya,
“Bibi, apakah yang telah terjadi di rumah ini?”
Perempuan tua itu menelan ludahnya, seakan-akan ludah itu telah menyumbat kerongkongannya sehingga ia tidak dapat berkata apapun. Baru sesaat kemudian ia berkata,
“Kau terlambat datang Agni. Bahkan kau datang dengan luka di punggungmu? Apakah kau bertemu dengan Kuda Sempana?”
“Ya, Bibi,” sahut Mahisa Agni.
“Dengan sekalian yang berada di sini sekarang?” Mahisa Agni mengangguk. “Lalu apakah yang terjadi atasmu?”
Mahisa Agni tidak menjawab. Tanpa disengajanya ia memandang kepada Ken Arok. Sehingga Ken Aroklah yang menjawab, “Agni terluka karena ia ingin mempertahankan gadis yang dibawa oleh Kuda Sempana itu.”
“Siapakah yang telah melukainya? Tuan?”
Ken Arok menggeleng. Tetapi wajahnya terbanting di lantai. Meskipun ia tidak melukai Mahisa Agni, namun ia bertempur pula melawan anak muda itu. Sehingga dengan demikian maka mau tidak mau, perasaannya pun tersentuh pula.
Yang menjawab kemudian adalah Witantra. Katanya, “Seorang prajurit yang licik telah melukainya.”
Perempuan tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengar ia bergumam “Mereka telah melakukan pembunuhan dan perampasan.”
Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata itu. Sehingga dengan serta-merta ia bertanya “Apakah telah terjadi pembunuhan? Bibi, aku belum mati. Adakah yang telah terbunuh?”
Emban tua itu tidak segera menjawab. Namun kemudian ia berpaling ke halaman. Ditatapnya beberapa orang yang tegak di bawah tangga, dan dilihatnya Ki Buyut Panawijen yang berjongkok.
“Bibi,” desak Mahisa Agni, “siapakah yang terbunuh? Seorang cantrik atau . . .?”
Tiba-tiba kata Mahisa Agni terputus. Ia melihat seseorang terbaring ketika ia memasuki halaman. Namun lukanya itu telah merampas segenap perhatiannya sehingga ia tidak sempat untuk memperhatikannya, selain berdesis menahan sakit yang menghentak-hentak. Sekali lagi Mahisa Agni mencoba mengangkat wajahnya. Dan sekali lagi dilihatnya beberapa orang berada di halaman itu.
“Siapa yang terbaring itu?” tiba Mahisa Agni berteriak,
Dilihatnya Buyut Panawijen itu berpaling. Kemudian tampaklah ia berdiri dan berjalan perlahan-lahan naik ke pendapa. Wajahnya yang sayu memandangi beberapa orang yang berjongkok di sekitar Mahisa Agni.
“Ki Buyut,” bertanya Mahisa Agni tidak sabar, “siapakah yang terbaring di halaman itu? Kenapa ia tidak dibawa naik?”
“Tidak perlu, Ngger Mahisa Agni. Biarlah ia terbaring di halaman. Ia akan segera aku bawa kembali.”
“Siapa? Siapa?”
“Wiraprana.”
“Wiraprana?” ulang Mahisa Agni. Alangkah terkejutnya anak muda itu. Meskipun perasaan itu telah menyentuh hatinya sejak ia mendengar bahwa seseorang telah terbunuh.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar