MENU

Ads

Senin, 16 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 041

PdLS-09
NAMUN KETIKA IA MENDENGAR JAWABAN Ki Buyut Panawijen itu, tiba-tiba tubuhnya menjadi gemetar. Dengan serta-merta ia bangkit dan menggertakkan giginya,

“Gila. Gila. Siapakah yang telah membunuhnya?”

“Kuda Sempana.”

“Kuda Sempana?” ulangnya.

Namun tubuhnya kemudian menjadi lemah kembali. Hampir saja ia terjatuh, seandainya Ken Arok tidak segera menangkapnya, dan membaringkannya kembali perlahan-lahan. Bahkan darahnya yang telah mampat itu tiba-tiba mengalir kembali Meskipun tidak sedemikian derasnya. Tetapi kembali mereka terkejut ketika tiba-tiba mereka melihat wajah Witantra itu menjadi merah padam. Dengan geramnya ia berdesis,

“Mahisa Agni. Jadi kau bernama Mahisa Agni?”

Mahisa Agni terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun segera memakluminya. Karena itu segera ia menjawab singkat, “Ya. Aku Mahisa Agni.”

“Aku mendengar orang menyebutmu Mahisa Agni. Namun aku sangka bahwa kau mempunyai beberapa nama dan sebutan. Namun kini ternyata bahwa kau sama sekali tidak bernama dari sebutan Wiraprana.”

“Ya. Aku bukan Wiraprana.”

“Hem,” Witantra itu menggeram, “aku pernah mendengar pula Kuda Sempana menyebut nama Wiraprana, namun baru sekarang aku tahu.”

“Ya. Sekarang kau tahu, bahwa aku bukan Wiraprana.”

Sekali lagi Witantra menggeram. Dan semua orang menjadi terkejut dan heran karenanya. Bahkan Ken Arok pun menjadi heran pula.

“Agni,” desis Witantra, “aku telah mencegah adikku berbuat curang. Namun aku tidak menyangka bahwa kau bukan Wiraprana yang sebenarnya.” Semua yang berada di sekitar Mahisa Agni terbaring itu menjadi bertambah tidak mengerti, apa yang sedang dibicarakan oleh Witantra dan Mahisa Agni itu. Apalagi ketika Witantra meneruskan, “Kalau kau tidak mengkhianati kejantanan Wiraprana pada waktu itu maka keadaan akan menjadi lain. Mungkin Kuda Sempana tidak akan berbuat seperti sekarang, dan mungkin Mahendra akan dapat mempertahankan dirinya daripadanya. Ketika Kebo Ijo memberikan keris kepada Mahendra, aku berkata, bahwa aku akan berada di pihakmu kalau mereka berdua bersama dengan Mahendra memaksakan perkelahian dua melawan dua, sebab aku tahu bahwa kawanmu waktu itu sama sekali tidak akan mampu untuk melawan Kebo Ijo. Ya, kawanmu waktu itu.”

Witantra berhenti sesaat, Kemudian ia meneruskan, “Aku ingat sekarang, ternyata kawanmu waktu itulah yang bernama Wiraprana, yang terbunuh oleh Kuda Sempana.”

Witantra terdiam. Namun wajahnya masih tampak menyala-nyala. Seakan-akan ia menuntut sesuatu yang telah pernah terjadi atas Mahisa Agni yang terbaring luka itu. Sehingga tiba-tiba Ken Arok menyela,

“Kakang Witantra. Meskipun aku tidak mengetahui persoalan yang kau katakan, tetapi adalah tidak bijaksana kalau persoalan itu kau ungkapkan sekarang, selagi Mahisa Agni sedang terluka.”

“Tetapi kini ternyata, bahwa luka itu adalah akibat dari kecurangan yang pernah dilakukan masa lampaunya. Ia telah menipu aku, adik seperguruanku dan dirinya sendiri. Ketika persoalan timbul antara Wiraprana dan Mahendra, maka Mahisa Agnilah yang mencoba menyelesaikannya atas nama Wiraprana. Nah, sekarang akibatnya menjadi semakin panjang. Kuda Sempana ternyata turut pula terlibat dalam persoalan ini.”

“Apa pun yang terjadi, Kakang. Tunggulah sampai luka-lukanya sembuh.”

“Aku tidak peduli lagi atas luka-lukanya. Aku menuntut keadilan atas adik seperguruanku. Kalau ia telah berbuat atas nama Wiraprana, maka aku akan berbuat atas nama Mahendra.”



“Kau terlalu mementingkan persoalanmu sendiri Kakang,” sahut Ken Arok, “sekali lagi aku minta, biarlah ia beristirahat dan berusaha sembuh kembali.”

“Kau tidak tersangkut dalam persoalan ini Adi,” jawab Witantra, “persoalan ini adalah persoalanku dan Mahisa Agni.”

“Tetapi ia sedang terluka.”

“Luka akibat kesalahannya. Apakah yang perlu disesalkan?”

“Kakang, jangan berpikir tentang sebab-sebab yang sama sekali tidak langsung itu. Biarlah itu berlaku masa-masa lampau. Tetapi biarlah kita melihat masa ini, keadaannya kini.”

“Keadaan ini adalah kelanjutan dari masa lampau itu. Dari sebab yang dibuatnya sendiri.”

“Baik. Kalau kau masih berbicara tentang sebab, akulah yang menyebabkan luka itu. Sebab yang lebih langsung dari yang kau katakan itu. Dari sebab-sebab yang sama sekali tidak aku ketahui ujung dan pangkalnya. Namun kalau kau memaksakan persoalan sebab yang menimbulkan akibat ini, maka aku akan tidak sependapat. Seandainya luka itu adalah akibat dari perbuatannya, maka biarlah akibat itu ditanggungkannya dengan tenang.”

“Tetapi apa yang pernah dilakukan telah menutup kemungkinan bagi adik seperguruanku, yang waktu itu aku cegah untuk berbuat tidak jantan. Sekarang persoalan itu ternyata telah diambil alih oleh Kuda Sempana. Sedang Mahendra tinggal dapat merasakan kepahitan hidupnya. Kepahitan dari kegagalannya.”

“Lupakanlah itu, Kakang. Setidak-tidaknya untuk sementara.”

“Tidak. Tidak. Aku adalah seseorang yang akan tetap tegak kepada keadilan.”

“Lakukanlah, namun lurus dengan bijaksana. Buatlah perhitungan, tetapi apabila luka itu telah disembuhkan.”

“Jangan campuri urusanku Ken Arok!” bentak Witantra dengan marahnya.

Tetapi Ken Arok pun tiba-tiba menjadi gemetar. Untuk kedua kalinya ia dibentak oleh Witantra dalam persoalan yang sama sekali berlawanan. Ketika Witantra membentaknya dengan pandangan yang menyala dan disangkanya ia melukai Mahisa Agni, maka perasaannya telah tersinggung. Kini Witantra membentaknya lagi dalam persoalan yang bertolak belakang. Karena itu, maka Ken Arok itu pun menjawab dengan suara gemetar

“Witantra. Aku sadari bahwa kau adalah seorang prajurit yang linuwih. Namun apabila kau kehilangan kebijaksanaan yang bening, maka kau akan sama artinya dengan Kuda Sempana dan Akuwu Tumapel. Kau dapat mempergunakan kekuasaanmu untuk kepentinganmu.”

“Aku bukan orang-orang yang licik dan pengecut. Aku akan menyelesaikan persoalanku pribadi dalam tindak pribadi. Aku akan membuat persoalan menjadi adil. Atas nama adikku Mahendra aku menuntut pengakuan Mahisa Agni yang mencoba dirinya menjelma menjadi Wiraprana.”

“Witantra!” sahut Ken Arok tiba-tiba suaranya menjadi parau. Suara yang pernah didengar oleh Mahisa Agni di padang rumput Karautan. Suara hantu padang yang menakutkan, “Kalau tetap pada pendirianmu, biarlah aku bertindak atas nama Mahisa Agni yang terluka. Ayo cara yang mana yang kau kehendaki.”

Witantra terkejut mendengar tantangan itu. Tiba-tiba dengan serta-merta ia meloncat berdiri. Dan hampir dalam saat yang bersamaan Ken Arok telah berdiri pula. Suaranya yang parau itu masih terdengar,

“Akulah yang harus berbuat atas namanya.”

Keadaan segera menjadi semakin tegang. Namun tiba-tiba terdengar Mahisa Agni tertawa. Tertawa aneh. Sedemikian anehnya sehingga suara tertawa itu benar-benar mengejutkan. Lebih-lebih bagi Witantra dan Ken Arok. Suara tertawa itu lebih mengejutkan bagi mereka daripada gemuruhnya suara guruh yang meledak di telinganya.

“Kenapa kau tertawa Agni?” bertanya Ken Arok.

“Duduklah. Duduklah kalian,” berkata Mahisa Agni.

Witantra dan Ken Arok itu masih berdiri mematung. Beberapa orang yang duduk di sekitar mereka itu telah bergeser mundur dengan penuh keheranan tersimpan di dalam dadanya. Witantra dan Ken Arok masih belum bergerak dari tempatnya. Mereka masih mendengar Mahisa Agni tertawa. Namun akhirnya mereka menyadari, bahwa suara tertawa yang aneh itu adalah suara tertawa yang melontarkan kepedihan yang menghunjam perasaannya. Suara tertawa yang memancarkan kepahitan hidup yang selama ini harus ditanggungkannya.

“Duduklah Ken Arok,” kembali terdengar suara Mahisa Agni di antara suara tertawanya yang menjadi semakin pahit. Kemudian katanya pula, “Jangan halangi Witantra berbuat menurut suara keadilannya. Aku membenarkan semua kata-katanya. Aku telah mengkhianati kejantanan Wiraprana menurut istilahnya. Kalau Witantra itu menuntut pengakuanku atas kecurangan itu, maka biarlah aku mengakuinya. Kalau itu merupakan kesalahan yang tak dapat dilupakan olehnya, biarlah ia berbuat menurut kehendaknya untuk menghukum kesalahan itu.”

“Mahisa Agni,” potong Ken Arok, “apakah sebetulnya yang pernah kau lakukan?”

“Jangan kau tanyakan sekarang,” sahut Mahisa Agni, “aku sedang tidak bernafsu untuk banyak berbicara. Aku lebih senang menikmati perasaan nyeri di punggungku. Namun dalam pada itu, aku akan mempersilakan Witantra berbuat sesuka hatinya.”

Ken Arok terdiam karenanya. Meskipun berbagal pertanyaan berputar-putar di dalam benaknya, namun ia tidak dapat berbuat sesuatu. Kini ia berdiri saja seperti tiang-tiang pendapa yang diam kaku. Witantra menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Mahisa Agni yang terbaring diam. Bahkan seakan-akan ia tidak memperhatikannya sama sekali.

“Mahisa Agni,” geram Witantra, “aku menjadi sangat kecewa atas perbuatanmu itu. Sekarang kau pergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Dengan lukamu itu kau akan dapat menghindari setiap pertanggungan jawab yang harus kau berikan kepadaku, atas nama adikku Mahendra. Dengan lukamu itu kau akan dapat mengatakan, bahwa semua persoalan akan ditunda. Sebab kau mengharap bahwa aku tidak akan membuat perhitungan dengan seseorang yang sedang terluka.”

Kembali Mahisa Agni tertawa. Alangkah pahitnya. Dipalingkannya wajahnya memandang kepada Witantra yang berdiri dengan garangnya. Kemudian katanya, “Lucu sekali.”

“Apa yang lucu!” bentak Witantra.

“Kau, Ken Arok, aku, Kuda Sempana, Akuwu Tumapel dan semua orang.”

Witantra memandang Mahisa Agni semakin tajam. Bahkan kemudian ia menggeram “Jangan mengigau Agni!”

“Tidak. Aku tidak mengigau. Aku berkata sebenarnya, bahwa orang-orang yang pernah aku kenal, ternyata tidak lebih daripada badut-badut yang menggelikan.”

“Jangan menghina!”

“Aku tidak menghina. Kalau aku mengatakan apa yang sebenarnya bukankah aku tidak menghina? Coba, Witantra, apakah yang kau lakukan itu wajar. Baru saja kau marah-marah kepada Ken Arok. Kau sangka anak muda itu melukai aku. Aku sangka kau benar-benar berbuat dengan jujur. Dengan sepenuh hati. Aku sangka kau benar-benar tidak ikut dalam perkosaan ini.”

“Aku tidak turut dalam perkosaan ini!” potong Witantra dengan lantangnya. Wajahnya menjadi semakin merah karena kemarahan yang melanda dadanya.

“Kenapa kau tidak turut?”

“Aku tidak mau melihat kesewenang-wenangan. Aku tidak mau melihat penindasan yang tidak semena-mena.”

“Oh,” desis Mahisa Agni. Meskipun anak muda itu tersenyum, namun matanya memancarkan kepedihan yang tiada taranya. Katanya kemudian “Itulah Witantra. Bukankah dunia ini hanya dipenuhi oleh badut-badut yang sama sekali tidak berarti. Kau tersentuh rasa keadilanmu karena aku menamakan diriku Wiraprana. Kau tidak mau ikut serta dalam tindakan yang sewenang-wenang. Namun apakah sebenarnya yang kau lakukan itu? Huh. Kau menentang perbuatan Akuwu Tunggul Ametung yang melindungi Kuda Sempana bukan karena kau tidak mau melibat kesewenang-wenangan. Namun kau menjadi iri bati karenanya. Kau iri, kenapa kesempatan itu diberikan oleh Akuwu kepada Kuda Sempana. Tidak kepada adikmu Mahendra?”

“Bohong!” teriak Witantra. Dengan jari-jari yang gemetar ia menunjuk kepada perempuan tua di samping Mahisa Agni, “perempuan itu melihat apa yang telah aku lakukan. Perempuan itu melihat, bahwa Akuwu telah mengeluarkan perintah untuk menangkap Witantra. Perempuan itu melihat bahwa Akuwu telah mengancam aku untuk menggantung aku besok. Nah, apalagi? Aku tidak mau ikut serta dalam perbuatan yang terkutuk itu. Perbuatan yang meninggalkan kebebasan perseorangan untuk berbuat menurut pilihan sendiri. Dan aku akan menanggung akibatnya. Aku sama sekali tidak berpikir tentang Mahendra. Aku sudah melupakannya seandainya aku tidak tahu, bahwa kau telah menipu aku, menipu Mahendra sehingga kesempatan Kuda Sempana menjadi lebih baik daripadanya.”

“Nah. Jangan kau pungkiri kata-katamu sendiri. Kau tidak mau melihat kesewenang-wenangan. Kau tidak mau melihat perbuatan yang meninggalkan kebebasan perseorangan untuk berbuat menurut pilihan sendiri. Kau tidak mau melihat bahwa dengan kekuatan orang memaksakan kehendaknya? Benar? Nah katakan kepadaku Witantra, seorang prajurit yang jujur, yang mencoba berdiri tegak di atas keadilan. Kau menentang semuanya itu, karena semuanya itu akan menguntungkan orang lain. Menguntungkan Kuda Sempana. Bukan menguntungkan adikmu Mahendra.

Tetapi Witantra yang bijaksana. Kau melihat sendiri, apa yang akan dilakukan oleh Mahendra. Keadilan yang kau katakan itu benar-benar timpang. Kalau Mahendra ingin memaksakan kehendaknya dengan kekuatan yang diagung-agungkan saat itu. Kalau Mahendra ingin mengadakan pertandingan untuk merebut Ken Dedes dengan kekuatan. ya, seandainya aku tidak menyebut diriku Wiraprana saat itu? Apakah yang terjadi Witantra? Apa? Mungkin Wiraprana telah mati saat itu. Apakah kau dapat menjamin bahwa perkelahian yang demikian tidak akan dapat berakibat maut? Sedang apakah kau menasihati adikmu itu untuk menanyakan saja kepada Ken Dedes, pilihannya menurut kebebasan yang dimilikinya? He?”

Witantra menjadi gemetar mendengar kata-kata Mahisa Agni itu. Wajahnya yang merah seakan-akan memancarkan nyala kemarahannya. Tetapi ketika ia bergeser setapak maju, maka Ken Arok pun bergerak pula setapak. Dengan suara yang bergetar karena menahan gejolak perasaannya Witantra berkata

“Mahisa Agni. Kau mencoba mencari alasan untuk melindungi kesalahanmu. Kau mencoba mencari sebab, kenapa kau seakan-akan sudah seharusnya berbuat demikian.”

“Tidak!” potong Agni, “Aku tidak pernah mengingkari kesalahan itu. Aku sudah mengakuinya. Dan aku tidak akan mencari dalih apa pun yang dapat menutupi kesalahan itu. Tetapi sekarang marilah kita melihat diri kita masing-masing. Aku melihat diriku dan kau melihat ke dirimu.”

“Tetapi pada saat itu Mahendra berbuat dengan penuh tanggung jawab. Ia tidak memperalat kekuasaan atau orang lain. Ia berbuat sendiri. Ia memperjuangkan cita-citanya sendiri.”

“Jadi apakah dengan demikian perbuatannya itu dapat dibenarkan. Bukankah dengan demikian, maka kekuatan jasmaniahlah yang harus menentukan keputusan. Bukan kebenaran menurut penilaianmu. Kebebasan seseorang untuk menentukan pilihan. Bagaimanakah kalau kemudian Mahendra menang atas Wiraprana? Sedang Ken Dedes telah memilih Wiraprana sebagai calon suaminya? Bagaimana?”

Witantra terdiam. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan Mahisa Agni itu Bahkan lamat-lamat dapat dilihatnya pula bahwa sebenarnya adik seperguruannya pada saat itu pun akan mempergunakan kekuatannya untuk memaksakan kehendaknya.

Dalam pada itu terdengar Mahisa Agni yang terluka itu berkata lantang “Nah, Witantra. Sekarang lihatlah. yang terbaring di halaman itu adalah Wiraprana. Ia mati karena orang lain ingin merampas haknya dengan kekuatan dan kekuasaan. Wiraprana ternyata telah menjadi korban dari sikap damainya. Sejak semula ia tidak pernah membayangkan bahwa pada suatu ketika ia harus menghadapi kekerasan. Karena itu, maka ia tidak pernah dengan sungguh-sungguh menekuni ilmu tata berkelahi dan tata bela diri.

Ia percaya akan peradaban manusia yang semakin tinggi. Ia percaya akan kedamaian hati dan ia percaya bahwa manusia akan menentukan sikapnya dengan baik di antara sesama manusia, Namun ia menjadi korban. Ternyata bahwa Wiraprana tidak dapat hidup di antara manusia pada masa kini dengan sikapnya. Di mana manusia mengorbankan manusia yang lain untuk kepentingannya. Untuk memenuhi nafsunya. Termasuk Mahendra, Kuda Sempana dan mungkin aku pula, kau dan Ken Arok. Kita semua telah hanyut dalam arus kebiadaban di antara peradaban manusia.”

Mahisa Agni itu terdiam. tiba-tiba terasa sesuatu menyumbat lehernya. Terasa pedih masih menyengat-nyengat punggungnya. Namun ia sama sekali tidak memperhatikannya. Perlahan-lahan darahnya kembali meleleh membasahi tikar tempatnya berbaring. Meskipun luka itu telah dibalut dengan kain bersih beberapa lapis, namun darahnya yang merah masih juga menembusnya.

“Agni,” bisik perempuan tua yang berlutut di sampingnya, “beristirahatlah. Jangan pikirkan yang bukan-bukan. Kau sedang terluka.”

“Tidak. Tidak apa-apa Bibi. Luka tidak sakit,” jawab Agni. Dan sebenarnyalah bahwa pedih lukanya seakan-akan tidak terasa karena pedih hatinya yang menusuk-nusuk. Bahkan kemudian ia berkata perlahan-lahan, “Witantra. Kini Wiraprana telah mati. Aku tidak dapat lagi menamakan diriku Wiraprana. Tidak ada gunanya. Dan terserahlah kepadamu, penilaianmu atas diriku dan terserahlah kepadamu, apa yang akan kau lakukan. Kesalahan yang telah aku perbuat itu ternyata tidak ada gunanya. Aku hanya dapat menunda bencana yang menimpa Wiraprana. Tetapi sekarang, Wiraprana telah mati, dan Ken Dedes telah hilang dari rumah ini. Hilang dan aku tidak tahu, apakah masih ada kemungkinan untuk menyelamatkannya.”

Witantra itu menundukkan wajahnya. Tiba-tiba ia meletakkan tubuhnya duduk di samping Mahisa Agni. Namun sepatah kata pun tidak diucapkannya. Ken Arok kini sudah dapat membayangkan, Meskipun belum sedemikian jelas, apakah yang telah terjadi. Ia pun kemudian duduk pula di samping Witantra dan dengan sepenuh hati ia berkata,

“Mahisa Agni. Aku akan mencoba melepaskan gadis itu dari Kuda Sempana.”

“Apa yang akan kau lakukan?” terdengar suara Mahisa Agni parau.

Ken Arok menggeleng lemah, “Aku belum tahu. Tetapi setidak-tidaknya Ken Dedes harus dibebaskan dari himpitan kedukaannya. Kalau ia menjadi istri Kuda Sempana maka setiap hari ia akan mengalami derita yang tak akan ada habisnya.”

“Mudah-mudahan kau berhasil. Tetapi arti daripada itu pun sangat jauh daripada yang diharapkannya. Wiraprana, laki-laki yang dicintainya telah mati.”

Pendapa itu pun kemudian menjadi sepi hening. Ki Buyut Panawijen yang selama ini diam mematung tiba-tiba berkata, “Angger Mahisa Agni. Meskipun Wiraprana telah mati, tetapi aku masih akan mengucapkan terima kasih kepadamu. Sebab baru sekarang aku tahu bahwa anakku itu telah pernah mendapat banyak sekali pertolonganmu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang wajah Buyut Panawijen itu, maka dilihatnya betapa duka yang telah menggores di dinding hatinya. Wiraprana adalah anak satu-satunya. Dan kini anak itu mati. Mahisa Agni hampir tidak dapat menahan hatinya ketika Buyut tua itu berkata,

“Angger. Sepeninggal Wiraprana, maka perkenankanlah aku mengambil kau sebagai gantinya. Aku ingin menumpang kebanggaan Empu Purwa yang telah memiliki seorang anak laki-laki yang mengagumkan. Kalau kau sudi Ngger, jangan kau rubah kebiasaanmu berkunjung ke rumahku. Rumah itu kini menjadi rumahmu pula.”

“Terima kasih,” desis Mahisa Agni. Tetapi ia tidak dapat meneruskan kata-katanya. Hatinya menjadi bertambah pedih, sakit dan pahit. Ia harus menghadapi persoalan-persoalan yang tak akan dapat dilupakannya sepanjang hidupnya.

Ki Buyut Panawijen itu pun menjadi semakin suram. Terasa betapa ia berusaha untuk menguasai perasaannya. Dengan suara yang hampir tidak terdengar ia berkata,

“Akhirnya hal ini terjadi. Wiraprana pernah berkata kepadaku, kalau Kuda Sempana mendapat kesempatan untuk yang ketiga kalinya, maka ia pasti akan dibunuhnya. Ternyata yang dikatakannya itu benar-benar telah terjadi.”

Kembali pendapa itu menjadi sepi. Isak perempuan tua yang duduk di samping Mahisa Agni menjadi semakin jelas. Dan Ki Buyut Panawijen pun kemudian menyeka matanya yang menjadi basah pula,

“Sebuah bencana telah menimpa padukuhan ini,” desah Ki Buyut Panawijen, “hanya karena di padukuhan ini dilahirkan seorang anak muda yang bernama Kuda Sempana.”

Tak seorang pun yang menyahut. Wajah Witantra kini tidak lagi tampak menyala-nyala. Bahkan kemudian matanya pun menjadi redup. Ken Arok duduk tepekur sambil menggores-gores lantai dengan kuku-kukunya. Sedang emban pemomong Ken Dedes yang tua itu, masih mencoba menguasai tangisnya. Sekali-sekali diusapnya dahi Mahisa Agni yang menjadi bertambah pucat.

“Angger,” kemudian Ki Buyut Panawijenlah yang memecahkan kesepian itu, “biarlah aku pulang dahulu membawa Wiraprana. Mayat itu akan aku rawat dan akan merupakan peringatan bagi kita, bahwa seorang anak muda yang dilahirkan di tanah ini telah menyebabkan sebuah bencana bagi tanah kelahirannya.”

Mahisa Agni mencoba untuk bangkit, tetapi terasa punggungnya masih sakit, sehingga Ki Buyut Panawijen itu menahannya, “Jangan Ngger. Tidak usah Angger bangun. Beristirahatlah. Dan lekaslah menjadi sembuh.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Desahnya, “Sayang. Aku tidak dapat turut merawat jenazah itu.”

“Sudahlah Ngger,” sahut Ki Buyut, “kau sendiri terluka. Berbaringlah.”

Mahisa Agni menggeleng. Katanya perlahan-lahan, “Ken Arok. Tolonglah aku. Aku ingin melihat wajah Wiraprana untuk yang terakhir kalinya.”

Ken Arok menjadi ragu-ragu sejenak. Katanya, “Apakah tidak lebih baik kau tetap berbaring di tempatmu?”

Sekali lagi Mahisa Agni menggeleng “Tidak. Tolonglah aku turun ke halaman.”

Ken Arok tidak dapat mencegahnya lagi. Dengan hati-hati, dipapahnya Mahisa Agni turun ke halaman, untuk melihat wajah sahabatnya terakhir kalinya. Witantra dan emban tua itu pun tanpa sesadarnya ikut juga berdiri dan berjalan mengiringkannya turun ke halaman. Di samping tubuh Wiraprana yang terbaring diam, Mahisa Agni menekurkan kepalanya. Alangkah pedih hatinya. Sahabatnya itu telah pergi mendahuluinya.

Tiba-tiba dada Mahisa Agni itu tersentak. Ia melepaskan Ken Dedes, karena mencintai Wiraprana. Sekarang Wiraprana telah mati jadi bagaimanakah dengan gadis itu? Namun kembali wajahnya terkulai lemah. Ken Dedes telah pergi jauh. Jarak Panawijen sampai ke Tumapel adalah jarak yang sama sekali tidak berarti bagi Mahisa Agni. Tetapi ia rasa-rasanya, Ken Dedes yang telah berada di Tumapel itu tak akan dapat dicapainya.

Mahisa Agni itu pun kemudian menggigit bibirnya. Kini ia dapat merasakan pula, betapa Witantra menyesali kejadian itu seperti penyesalan yang lama-lama timbul di dalam hatinya. Seandainya, ya, seandainya Ken Dedes tidak pernah dilepaskannya kepada Wiraprana, apakah peristiwa seterusnya akan berbeda? Seperti pikiran Witantra itu pula, seandainya Mahendra tidak dihalanginya, maka Kuda Sempana tidak akan mendapat kesempatan untuk melakukan perbuatan yang terkutuk ini. Namun semuanya telah terjadi. Yang lewat biarlah lewat, tetapi bagaimana yang akan datang? Mahisa Agni berpaling ketika ia mendengar Ki Buyut Panawijen berkata,

“Angger, biarlah mayat ini aku bawa pulang.”

Mahisa Agni mengangguk lemah. Namun betapa pun juga, ia tidak dapat membendung gelora perasaannya. Terasa setetes air menitik dari matanya yang suram.

“Silakan Ki Buyut,” desis Mahisa Agni perlahan sekali.

Ki Buyut itu pun kemudian mengangkat tubuh anaknya yang telah membeku. Beberapa orang cantrik segera membantunya memanggul jenazah itu kembali ke rumahnya.

“Mengerikan,” desis Mahisa Agni.

Witantra dan Ken Arok pun memandangi jenazah itu sampai hilang di balik regol halaman. Sesaat mereka masih terpaku di tempatnya, seperti membeku pula. Sekali Mahisa Agni menyeringai menahan pedih di punggungnya dan pedih di hatinya. Kemudian katanya,

“Tolonglah aku ke dalam bilikku Ken Arok.”

Ken Arok dan Witantra tersadar dari angan-angannya. Dipapahnya Mahisa Agni masuk ke dalam biliknya. Witantra dan emban tua itu pun masih saja berjalan mengiringi mereka. Ketika Mahisa Agni itu berbaring diambilnya, terasa perasaan yang asing menyentuh jantungnya. Bilik ini telah lama ditinggalkannya. Tetapi tak sehelai benang pun yang berubah sejak ia pergi. Bahkan tak sebutir debu pun yang mengotori setiap perabotnya. Ambennya, glodok tempat pakaiannya, sosok kendi di sudut dan tlundak lampu pada tiang di sisi bilik itu.

Tetapi bilik itu pun kemudian telah menyeretnya kembali ke masa-masa yang lewat itu. Ke masa-masa ia hidup bertahun-tahun bersama-sama dengan seorang gadis yang bernama Ken Dedes dan seorang sahabat yang hampir setiap hari datang berkunjung kepadanya, Wiraprana. Sekarang keduanya telah pergi. Hilang dan tak akan ditemuinya kembali. Sekali lagi Mahisa Agni berdesah. Dilihatnya Ken Arok, Witantra berdiri kaku di samping pembaringannya. Dan dilihatnya perempuan tua itu dengan penuh kecemasan memandanginya.

Wajah-wajah yang hadir di dalam biliknya itu adalah wajah-wajah baru bagi Mahisa Agni selain emban tua itu. Sepeninggal Wiraprana, maka hadirlah Ken Arok dan Witantra itu di dalam bilik ini. Tetapi bagaimanakah seterusnya dengan mereka itu. Bilik Mahisa Agni itu pun menjadi sunyi. Yang terdengar hanyalah tarikan nafas mereka yang terengah-engah Mahisa Agni yang terbaring itu pun kemudian mencoba untuk menenteramkan hatinya, supaya ia dapat beristirahat. Bukan saja tubuhnya, tetapi juga perasaan serta angan-angannya.

Tetapi ternyata ia tidak segera dapat melakukannya. Sebab emban tua itu pun berkata, “Mahisa Agni. Bagaimana dengan Ken Dedes kemudian?”

Mahisa Agni menggeleng, “Aku tidak tahu. Aku sudah meminta kepada Ken Arok untuk mengamat-amatinya. Mudah-mudahan gadis itu tidak menderita.”

“Aku tidak dapat berpisah dengan gadis itu,” desah emban tua itu, “aku adalah pemomongnya sejak anak itu masih terlalu kecil.”

Mahisa Agni terdiam. Ia tidak tahu, bagaimana memenuhi permintaan itu. Namun tiba-tiba Witantra itu berkata, “Bibi, apakah kau pemomong Ken Dedes itu?”

“Ya Ngger,” sahut perempuan itu.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar