MENU

Ads

Senin, 16 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 042

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya kepada Ken Arok, “Adi, biarlah perempuan tua itu ikut ke Tumapel. Sebelum itu dapat menemui Ken Dedes di manapun, biarlah ia tinggal bersama keluargaku. Atau keluarga Mahendra.”

Ken Arok memandang Witantra dengan penuh keragu-raguan. Apakah orang itu berkata dengan jujur? Baru saja ia mengumpat-umpat Mahisa Agni. Tetapi wajah Witantra menunjukkan kesungguhan hatinya. Sehingga karena itu maka Ken Arok itu pun mempercayainya. Meskipun, demikian ia tidak menjawab. Ditatapnya wajah Agni yang pucat itu, berganti-ganti dengan wajah perempuan yang telah berkeriput penuh tekanan-tekanan di masa-masa lampau dan kesuraman di masa kini. Mahisa Agni pun tidak dapat menentukan jawabnya. Karena itu maka ia bertanya kepada emban tua itu,

“Bagaimanakah Bibi? Bibi untuk sementara tinggal bersama keluarga Witantra atau keluarga Mahendra di Tumapel. Setiap kesempatan akan segera dapat dipergunakan. Bibi dapat bertemu dan selalu melayani Ken Dedes. Mungkin ada hal-hal yang dapat bibi berikan kepada gadis itu.”

Perempuan tua itu tidak dapat melihat kemungkinan lain yang lebih baik daripada itu. Karena itu, maka jawabnya, “Aku sebenarnya tidak ingin menyibukkan keluarga Angger atau keluarga siapa pun.”

“Kami tidak akan berkeberatan Bibi.”

Akhirnya, maka emban itu pun dengan penuh rasa terima kasih menerima tawaran Witantra untuk pergi bersama ke Tumapel dan singgah sementara di dalam lingkungan keluarganya. Mungkin kesempatan itu akan datang, berada di dekat Ken Dedes kembali sebagai emban yang telah mengenalnya hampir setiap persoalan lahir dan batinnya.

Mahisa Agni pun kemudian tidak dapat berbuat lain daripada melepaskan perempuan tua itu pergi. Dengan penuh harapan Mahisa Agni berpesan kepada Ken Arok dan Witantra, menitipkan perempuan tua itu untuk mendapatkan perlindungan mereka.

“Kami akan mencoba,” sahut Ken Arok.

Perempuan tua itu pun kemudian dengan tergesa-gesa membenahi pakaiannya. Beberapa lembar kain lungset, kemben dan sepotong kain setagen.

“Aku sudah siap,” katanya kemudian.

“Marilah kita berangkat,” berkata Ken Arok sambil berpaling kepada Witantra.

Witantra menganggukkan kepalanya. Namun ia melangkah mendekati Mahisa Agni. Bisiknya, “Agni lupakan kata-kataku. Aku minta maaf.”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Dadanya terasa berdentingan oleh kata-kata Witantra itu. Karena itu maka ia pun menjawab, “Aku juga minta maaf kepadamu, kepada Mahendra dan kalau kau sempat bertemu, kepada Ken Dedes.”

“Marilah kita lupakan persoalan itu,” desis Witantra. Mahisa Agni tidak menjawab, tetapi ia hanya mengangguk kecil.

“Marilah!” berkata Witantra kemudian kepada Ken Arok.

Mereka pun kemudian bermohon diri. Tetapi tiba-tiba perempuan itu kembali dan memeluk tubuh Mahisa Agni. Di dalam tangisnya perempuan itu berkata, “Agni. Lekaslah sembuh. Aku terpaksa pergi ke Tumapel. Mudah-mudahan aku dapat berbuat sesuatu untuk Ken Dedes. Beberapa orang cantrik akan merawatmu. Obat-obat yang ada padaku telah aku tinggalkan.”

Mahisa Agni itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Terasa sesuatu yang semakin menekan di dalam rongga dadanya. Perpisahan di antara orang-orang yang hampir setiap hari bertemu, bercakap dan bergurau. Tetapi perempuan ini bukan sekedar orang asing yang sudah menjadi kerabat dalam satu keluarga. Tetapi perempuan itu adalah ibunya. Karena terasa betapa sesak napasnya. Meskipun demikian dipaksanya juga mulutnya berkata,

“Berangkatlah bibi. Marilah kita saling berdoa yang Maha Agung akan melindungi kita masing-masing.”

Akhirnya tubuh Mahisa Agni yang telah menjadi basah karena air mata itu dilepaskannya. Perlahan-lahan perempuan tua itu berjalan meninggalkan pembaringan Agni. Namun sampai di pintu sekali lagi ia berpaling. Ditatapnya wajah Agni yang pucat. Dan bibir perempuan itu bergetar-getar, namun tak sepatah kata pun yang terloncat keluar. Tetapi di dalam hatinya terdengarlah suara yang riuh,

“Anakku. Aku tidak tahu apakah aku masih mempunyai kesempatan untuk mengambil gadis itu untukmu. Tetapi jalan telah terlalu jauh.”



Perempuan tua itu pun kemudian lenyap pula dari halaman rumah Empu Purwa. Meskipun semula ia menolak, namun akhirnya perempuan itu mau juga naik ke atas punggung kuda dengan dilayani oleh Ken Arok. Mereka berdua naik di atas satu punggung kuda. Sedang Witantra dan beberapa orang yang lain, prajurit yang berwajah kasar namun bermata basah dan beberapa kawannya, berkuda di belakangnya. Mereka pergi membelakangi padukuhan yang muram ke kota yang cerah. Namun di belakang kecerahan wajah kota itu tersembunyi berbagai noda-noda hitam mengerikan.

Bilik Mahisa Agni pun kemudian menjadi sepi, sesepi hatinya. Orang-orang yang pernah tersangkut di hatinya, satu-satu telah meninggalkannya. Wiraprana telah pergi untuk tidak akan kembali lagi. Ken Dedes telah pergi pula jauh sekali.

“Gadis itu telah pergi sejak lama dariku,” gumamnya seorang diri.

Tetapi ia tidak dapat menghibur dirinya sendiri dengan kata-kata itu. Kepergian Ken Dedes kali ini tidak diikhlaskannya seperti kepergiannya yang dahulu. Kepergiannya dari rongga hatinya. Dan yang terakhir ibunya pun telah pergi. Tetapi ia melepaskan ibunya dengan penuh harapan. Setidak-tidaknya ibunya akan dapat menghibur hati Ken Dedes.

Tetapi tiba-tiba hatinya memercik seperti api yang tiba-tiba saja menyala. Gurunya. ya Empu Purwa sampai sekarang belum juga pulang. Bagaimanakah kalau gurunya itu kembali? Apakah orang tua itu akan menjadi marah, ataukah menjadi sedih dan berputus asa? Apakah Empu Purwa yang sakti itu tidak akan mampu mengambil putrinya kembali?

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tumapel adalah suatu negeri yang dikuasai oleh seorang Akuwu lengkap dengan tata pemerintahan dan alat-alat kekuasaannya. Tunggul Ametung memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan hanya melawan satu orang. Empu Purwa. Betapa saktinya gurunya dan dengan dirinya sendiri sekali pun, bahkan dengan seluruh penduduk Panawijen, apakah mereka akan dapat melawan Tumapel? Sedang Mahisa Agni pun tahu, setidak-tidaknya dapat menduga, bahwa di dalam istana itu pun pasti ada orang-orang sakti, guru-guru dari para prajurit dan akuwu sendiri. Meskipun mereka orang seorang seandainya tidak ada yang menyamai kesaktian Empu Purwa, namun mereka akan dapat bersama-sama melawannya.

Mahisa Agni pun menjadi bersedih karenanya. Usaha yang dapat dilakukan untuk membebaskan Ken Dedes menjadi semakin jauh dari otaknya. Tetapi, betapa pun juga ia masih mengharap, gurunya segera datang kembali.

“Kalau guru tidak segera kembali,” desisnya, “apabila lukaku telah menjadi agak baik, aku akan pergi mencarinya.”

Mahisa Agni itu terkejut ketika seorang cantrik menjenguknya di ambang pintu. Cantrik yang telah agak tua itu dengan iba memandangnya sambil berkata, “Adakah sesuatu yang perlu aku kerjakan Ngger?”

“Tidak Paman,” sahut Agni.

Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya masih dari luar pintu, “Emban tua, pemomong Ken Dedes minta aku merawatmu.”

“Terima kasih, Paman. Kalau perlu, aku akan memanggilmu.”

“Baik. Aku tidak akan berada terlalu jauh dari bilik ini.” Orang tua itu pun kemudian pergi meninggalkannya. Kembali bilik itu menjadi sepi, sesepi hatinya.

Dalam pada itu, di jalan yang menuju ke Tumapel, Tunggul Ametung dan Kuda Sempana memacu kudanya cepat sekali. Mereka sama sekali tidak menghiraukan, bahwa beberapa pasang mata penduduk Tumapel memandangi mereka itu dengan pertanyaan yang memukul-mukul dada.

“Apakah sebenarnya yang telah terjadi?” desis salah seorang dari mereka.

Kawannya berbicara menggelengkan kepalanya. “Entah,” jawabnya. Namun mata mereka tetap memancarkan keheranan mereka.

Kuda Sempana masih berpacu di depan sambil menjagai Ken Dedes yang belum juga sadar. Hanya sekali ia menggeliat, namun kemudian ia menjadi pingsan kembali. Kuda Sempana itu pun menjadi cemas melihat keadaan Ken Dedes itu. Karena itu ia berpacu lebih cepat lagi. Ia ingin segera sampai ke Tumapel dan dengan demikian maka Ken Dedes itu segera dapat dirawatnya.

Akuwu dari Tumapel, Tunggul Ametung yang berkuda di belakang Kuda Sempana, memandang debu yang mengepul di bawah kaki kuda yang berpacu di hadapannya dengan pandang yang kosong. Tiba-tiba otaknya dirayapi oleh berbagai pertanyaan yang tumbuh di sepanjang jalan. Akuwu itu melihat apa yang telah terjadi di Panawijen. Dan ia melihat pula, apa yang telah dilakukan oleh Kuda Sempana. Dihubungkannya apa yang telah dikatakan oleh Kuda Sempana sebelum mereka berangkat berburu, dan apa yang telah dilakukannya di rumah gadis itu. Dirasakannya apa yang telah dilakukan oleh Witantra dan kemudian oleh Ken Arok.

Tunggul Ametung itu pun kemudian menggeram. Tiba-tiba ia melihat bahwa ia telah masuk ke dalam perangkap Kuda Sempana. Karena itu, maka timbullah niatnya untuk melihat keadaan sewajarnya. Kalau nanti ia sampai di Tumapel, akan dipanggilnya Witantra, Ken Arok, Kuda Sempana dan Ken Dedes itu. Bahkan kalau perlu akan dipanggilnya kakak Ken Dedes yang terluka karena anak panah prajuritnya yang kemudian telah dibunuh oleh Ken Arok hanya dengan sebuah pukulan di dadanya.

“Hem,” gumamnya, “anak yang diberikan oleh Lohgawe padaku itu benar-benar luar biasa. Namun ternyata kakak gadis yang dibawa oleh Kuda Sempana itu pun luar biasa pula.”

Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Mulutnya kemudian berkomat-kamit, namun matanya tiba-tiba menjadi tajam. Dipandanginya punggung Kuda Sempana, dan dilihatnya gadis di tangan Kuda Sempana itu. Sekali lagi dada Tunggul Ametung berdesir. Gadis itu adalah gadis yang aneh di dalam pandangan matanya. Cantik bagai bidadari. Tidak. Meskipun Ken Dedes itu cantik, namun ia adalah seorang gadis biasa. Seperti gadis-gadis lain yang cantik pula. Namun kecantikan Ken Dedes itu bukannya menakjubkan. Tetapi ada yang lain menarik perhatiannya. Tunggul Ametung menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aku tidak tahu,” gumamnya seorang diri, “Aku tidak tahu. Apakah yang aneh pada gadis itu?”

Hati Tunggul Ametung itu tiba-tiba terguncang ketika ia melihat Kuda Sempana membelok pada suatu tikungan. Dilihatnya gadis itu seperti sebuah golek yang indah. Namun dari tubuh gadis itu tiba-tiba dilihatnya seakan-akan nyala yang memancar daripadanya. Mata Tunggul Ametung pun terbelalak pula karenanya. Karena nyala yang dilihatnya itu. Karena itu maka segera ia berpacu lebih cepat. Tunggul Ametung itu kini ingin berkuda di samping Kuda Sempana.

Tetapi ketika Tunggul Ametung itu telah berada di samping Kuda Sempana dan diamatinya tubuh Ken Dedes, maka akuwu itu menjadi heran. Tubuh itu benar-benar tubuh seorang gadis biasa. Bahkan terlalu pucat. Tunggul Ametung menggelengkan kepalannya.

“Apakah aku sudah menjadi gila?” desahnya di dalam hati “aku benar-benar melihat nyala pada tubuh itu. Bersinar seperti bara api baja. Tetapi sinar itu sekarang lenyap. Hem. Apakah yang aku lihat hanyalah pantulan sinar matahari?”

Tetapi akuwu itu tidak menemukan jawabannya. Karena itu ia menjadi bingung dan berdebar-debar. Diketahuinya bahwa Ken Dedes itu adalah putri seorang pendeta. Dan tiba-tiba ia menjadi cemas.

Perjalanan itu semakin lama menjadi semakin dekat dengan Istana Tunggul Ametung. Kuda Sempana yang masih belum berkeluarga itu pun tinggal pula di dalam barak di samping istana bersama beberapa orang kawannya. Karena itu, maka Kuda Sempana menjadi bimbang. Apakah Ken Dedes itu akan dibawa ke sana? Apakah dengan demikian tidak akan menimbulkan persoalan pula dengan beberapa orang kawannya mengenai gadis yang cantik itu? Karena itu, maka ia menjadi bimbang, sehingga lari kudanya pun menjadi semakin lambat.

“Kenapa?” bentak Tunggul Ametung tiba-tiba.

Kuda Sempana terkejut mendengar bentakan itu. Tetapi segera ia menjawab, “Apakah gadis ini hamba bawa ke barak hamba?”

“Bawa dia ke istana,” jawab Tunggul Ametung.

Kuda Sempana tersenyum Akuwu Tumapel benar-benar berbaik hati kepadanya, sehingga ia mendapat kesempatan untuk menyingkirkan gadis itu dan menyembunyikannya dari ayahnya di istana. Ia yakin bahwa Empu Purwa dan Mahisa Agni tidak akan berani mengganggunya seandainya gadis itu berada di istana. Tetapi Kuda Sempana itu sama sekali tidak tahu apa yang tersimpan di dalam hati Akuwu Tunggul Ametung. Kebimbangan, kecemasan, ketakjuban dan perasaan-perasaan yang bercampur baur. Bahkan akuwu itu hampir-hampir merasa bahwa perasaannya telah tidak dapat dikendalikan lagi.

Kuda Sempana dan Akuwu Tunggul Ametung itu pun kemudian langsung masuk ke halaman dalam Istana Tumapel. Beberapa orang pelayan, juru taman dan emban terkejut bukan kepalang. Kenapa tiba-tiba Akuwu telah kembali tanpa tengara apapun. Baru pagi tadi mereka berangkat. Dan agaknya Akuwu tidak bermalam di perburuan. Biasanya apa bila akuwu itu kembali, beberapa orang telah mendahuluinya dan membunyikan tengara kentongan dan sangkakala. Tetapi tiba-tiba saja akuwu telah berada di halaman bersama dengan Kuda Sempana yang memapah seorang gadis yang pingsan.

“Bawa ia masuk!” perintah Akuwu itu kemudian.

Dengan hati-hati Kuda Sempana turun dari kudanya, dan membawa masuk ke istana dalam. Beberapa orang pelayan yang lain memandangi mereka itu dengan penuh pertanyaan di dalam dada mereka. Sehingga karena itu mereka bahkan berdiri saja dengan mulut ternganga. Mereka terkejut bukan buatan ketika mereka mendengar Akuwu Tumapel berteriak dengan lantangnya,

“He, kenapa kalian diam saja seperti patung? Cepat, bersihkan bilik untuk gadis itu. Cepat!”

Para emban menjadi bingung. Cepat mereka berlari berhamburan. Tetapi mereka belum tahu bilik mana yang harus dibersihkannya sehingga dengan demikian mereka hanya berlari-larian saja berputar-putar.

“He, kenapa kalian tiba-tiba saja menjadi gila?” teriak Akuwu Tumapel itu keras. “Bersihkan bilik untuk Ken Dedes!”

Para emban menjadi semakin takut. Namun mereka masih juga belum tahu, bilik manakah yang harus dibersihkannya. Seorang yang paling tenang di antara mereka itu mencoba memberanikan diri bertanya kepada Akuwu Tunggul Ametung, katanya gemetar,

“Tuanku, bilik manakah yang harus hamba bersihkan?”

Akuwu itu pun tiba-tiba menyadari pula kebingungan para emban itu. Tetapi ia pun menjadi bingung pula sendiri. Bilik yang mana? Tiba-tiba akuwu itu menjawab,

“Sentong tengen!”

Bukan main terkejutnya Kuda Sempana. Ken Dedes itu harus dibaringkan di dalam bilik kanan istana Akuwu Tunggul Ametung di Tumapel. Bilik yang selama ini belum pernah terisi. Akuwu sendiri tidak pernah tidur di dalam bilik itu. Sebenarnyalah demikian kebiasaan yang harus dilakukan. Bilik itu akan selalu kosong sebelum Akuwu Tumapel mempunyai sisihan, seorang permaisuri yang akan mendampingi akuwu itu dalam memerintah negerinya. Karena itu maka Kuda Sempana itu pun menjadi gemetar dan bertanya-tanya di dalam hati,

“Apakah artinya ini?”

Para emban pun terkejut pula mendengar perintah itu. Namun segera mereka menjadi gembira. Berlari-larian mereka pergi ke sentong tengen dan membersihkannya dengan penuh hormat. Ditaburnya pembaringan di sentong itu dengan bunga dan dialasinya dengan kain paling baik di dalam istana itu. Salah seorang dari mereka berbisik perlahan-lahan,

“Kau mengenal gadis itu?”

Yang ditanya menggelengkan kepalanya. Tetapi ia tidak gembira seperti kawan-kawannya.

“Kenapa kau bersedih?” bertanya kawannya. Tetapi emban yang satu itu tetap berdiam diri.

“He,” goda yang lain, “apakah kau ingin dibaringkan di pembaringan ini?”

Emban yang diganggu itu menjawab serta-merta, “Aku tidak gila. Tetapi kalian sudah melihat gadis itu?”

“Kenapa?”

“Kalian melihat pakaian yang dipakainya? Kain lurik kasar dan bersanggul urai?”

“Oh,” tiba-tiba yang mendengar menjadi kecewa pula, sehingga mereka berdesis, “Seorang gadis dari pedesaan saja?”

Para emban itu pun kemudian saling berpandangan. Kalau gadis itu hanya gadis pedesaan, maka apakah sudah sepantasnya dibaringkan di sentong kanan ini? Tetapi mereka tidak berani menanyakan kepada Tunggul Ametung. Mereka tinggal menjalankan perintah itu. Mereka membersihkan bilik sebelah kanan.

Tetapi yang paling berdebar-debar di antara semua orang itu adalah Kuda Sempana. Ia sama sekali tidak tahu, apakah maksud sebenarnya dari Akuwu Tunggul Ametung dengan perintahnya itu. Meskipun demikian Kuda Sempana tidak berani bertanya pula kepada Akuwu Tumapel, seperti para emban itu juga. Karena itu, maka dengan hati yang penuh pertanyaan, Ken Dedes itu dibawanya ke bilik istana yang sebelah kanan.

Namun ternyata Akuwu Tumapel itu terkejut pula ketika ia sadar akan perintahnya sendiri. Perintah itu seakan-akan demikian saja meluncur dari mulutnya. Ketika mereka telah sampai di muka bilik itu, bahwa bilik yang sebelah kanan ini adalah bilik yang dikosongkannya. Bilik yang hanya akan dipakai kelak apabila Akuwu sudah bepermaisuri. Tetapi kenapa tiba-tiba saja ia memerintahkan membawa Ken Dedes ini ke bilik itu. Akuwu itu pun menjadi berdebar-debar pula. Ia seperti Kuda Sempana. Sesaat ia termenung dan berdiri saja mematung. Dibiarkannya Kuda Sempana berdiri dengan penuh kebimbangan di muka bilik itu. Akuwu itu terkejut ketika seorang emban berkata kepadanya,

“Ampun Tuanku. Bilik kanan sudah hamba siapkan bersama-sama.”

“He,” sahut Akuwu itu, “kenapa bilik itu?”

Emban itu menjadi berheran-heran. Bukankah Akuwu memerintahkan membersihkan sentong tengen. Para emban itu pun kemudian saling berpandang-pandangan dengan penuh kecemasan. Mereka melihat wajah Tunggul Ametung menjadi tegang. Sekali ditatapnya wajah Ken Dedes yang pucat itu. Kini dilihatnya gadis itu bergerak-gerak. Karena itu maka Akuwu itu pun menjadi semakin bingung. Gadis itu harus segera dibaringkan untuk mendapat perawatan.

Kuda Sempana menjadi bingung pula. Terasa di tangannya Ken Dedes mulai menggeliat. Dan terdengar ia merintih perlahan-lahan. Sehingga tanpa sengaja ia bertanya,

“Ampun Akuwu, di mana gadis ini harus aku letakkan?”

Akuwu Tumapel menjadi gelisah. Karena itu, maka sekali lagi tanpa dipikirkannya, ia berkata, “Baringkan di bilik itu!”

Kuda Sempana tidak sempat berpikir lagi. Ken Dedes luluh mulai bergerak-gerak semakin banyak. Karena itu maka segera ia masuk ke sentong tengen, dan dibaringkannya Ken Dedes di pembaringan yang telah menjadi bersih dan ditaburi oleh bunga-bunga yang baunya dapat memberikan ketenangan, sedap. Ken Dedes yang dengan perlahan-lahan diletakkan di pembaringan itu membuka matanya. Dicobanya untuk mengenal tempat itu. Tetapi ia menjadi bingung. Dan ketika tiba-tiba di lihatnya wajah Kuda Sempana yang berjongkok di samping, tiba-tiba Ken Dedes itu menjerit. Sekali lagi ia jatuh pingsan.

Kuda Sempana yang bingung menjadi semakin bingung. Dengan gelisahnya ia memandangi wajah Akuwu Tunggul Ametung yang berdiri bersilang tangan di dada. “Gadis ini pingsan lagi Tuanku,” desah Kuda Sempana.

Adalah di luar kehendak Akuwu Tunggul Ametung sendiri, bahwa seakan-akan menjadi kewajibannya untuk membantu Kuda Sempana menolong gadis itu. Tunggul Ametung adalah seorang akuwu yang berkuasa. Yang berbuat menurut apa saja yang dikehendakinya. Namun kini tiba-tiba ia menjadi gelisah pula. Dan dengan tergopoh-gopoh ia berjalan keluar sambil berteriak memanggil,

“He emban, kemari!”

Emban yang duduk berjajar-jajar di ruangan itu terkejut mendengar teriakan akuwu itu. Seorang emban yang tertua datang menghadap sambil menyembah,

“Hamba Tuanku.”

“cepat, panggil Bibi Puroni. Suruh ia merawat gadis yang pingsan itu!”

“Hamba Tuanku,” sembah emban itu sambil bergeser meninggalkan ruangan itu.

Sesaat kemudian datanglah seorang dukun tua. Seorang perempuan yang berwajah sayu namun penuh ketenangan seakan-akan di dalam wajah itu terpendam berbagai macam pengalaman hidup yang telah ditempuhnya hampir delapan puluh tahun.

“Bibi,” berkata Akuwu Tunggul Ametung ketika orang tua itu telah datang, “di dalam bilik itu ada seorang gadis yang pinggan. Bukan karena sakit dan bukan karena sebab-sebab lain. Tetapi ia pingsan karena ketakutan. Nah, rawatlah. Tenangkanlah dan terserah apa saja yang akan kau lakukan atasnya.”

Perempuan tua itu, yang bernama Puroni, menyembah sambil berkata, “Hamba Tuanku. Kalau berkenan di hati Tuanku, biarlah aku mencobanya. Di manakah gadis itu sekarang?”

“Di situ. Di dalam bilik itu,” jawab Akuwu Tumapel sambil menunjuk sentong kanan.

Perempuan itu menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya pintu sentong tengen yang menganga itu. Namun yang dilihatnya hanya sebuah rana yang menakbiri pembaringan di dalam sentong itu.

“Masuklah! Jangan ditunggu anak itu mati!” teriak Akuwu Tunggul Ametung.

Perempuan tua itu sama sekali tidak terkejut. Telah berpuluh, bahkan beratus dan beribu kali ia mendengar Akuwu Tunggul Ametung membentak-bentak dan berteriak-teriak. Karena itu maka ia masih tetap tenang. Sambil menyembah ia menyahut,

“Baiklah Tuanku. Biarlah aku mencobanya.”

Bibi Puroni itu pun kemudian pergi ke sentong tengen. Ia terkejut ketika dilihatnya Kuda Sempana ada di dalamnya.

“Oh,” desahnya, “apakah Angger sedang menungguinya?”

“Ya,” sahut Kuda Sempana pendek.

Perempuan itu menjadi semakin heran. Apakah sebenarnya yang telah terjadi sehingga Akuwu Tumapel itu benar-benar seperti orang yang bingung sehingga dibiarkannya Kuda Sempana berada di dalam bilik itu? Dan dibiarkannya berlaku di luar kebiasaan? Sehari-hari di saat-saat yang lewat.

Betapa ia menahan diri, namun ia tidak dapat menahan lagi keinginannya untuk mengetahui serba sedikit, apakah yang telah dilakukan oleh akuwu atau oleh Kuda Sempana terhadap gadis itu, atau siapakah sebenarnya gadis yang pingsan itu. Karena itu maka katanya bertanya,

“Angger Kuda Sempana. Siapakah gadis yang pingsan itu, dan kenapakah mula-mula sebabnya, sehingga ia menjadi ketakutan?”

“Gadis itu bakal istriku Nyai Puroni,” jawab Kuda Sempana.

Sekali lagi Nyai Puroni itu terkejut. Kalau gadis itu benar-benar bakal istri Kuda Sempana, kenapa ia dibaringkan di sentong tengen istana Tumapel? Bibi Puroni itu menjadi semakin bingung. Sepengetahuannya Kuda Sempana tidak lebih dari seorang pelayan dalam. Meskipun pelayan dalam yang paling dekat dengan akuwu. Tetapi apakah demikian besar pengaruhnya, sehingga bakal istrinya diizinkan menempati sentong tengen itu.

Tetapi Nyai Puroni tidak sempat untuk memikirkannya terlampau lama. Ia harus segera menolong gadis itu. Karena itu, maka ia tidak lagi menghiraukan Kuda Sempana. Apakah gadis itu calon istrinya, atau apapun, namun sudah menjadi kewajibannya untuk menolongnya.

Nyai Puroni itu pun kemudian berjongkok di samping pembaringan Ken Dedes. Perlahan-lahan dirabanya tangannya, dadanya dan kemudian keningnya. Telah berpuluh bahkan beratus kali ia menolong orang-orang yang pingsan seperti itu. Sehingga segera ia dapat menentukan, apakah yang harus dilakukan. Diambilnya beberapa macam ramuan obat-obatan dari sebuah bungkusan dan dengan ragu-ragu ia berkata kepada Kuda Sempana,

“Angger, apakah ada seorang emban yang dapat membantu aku?”

“Ya. ya Nyai. Biarlah aku panggilkan emban itu,” sahut Kuda Sempana dengan gugup.

Ketika Kuda Sempana itu keluar dari ruangan, dilihatnya Akuwu Tunggul Ametung sedang duduk merenung. Ditundukkannya kepalanya sedang kedua tangannya menyangga keningnya.

“Tuanku,” berkata Kuda Sempana perlahan-lahan.

Akuwu Tumapel mengangkat wajahnya. Ditatapnya Kuda Sempana dengan pandangan yang aneh.

“Apa,” bertanya akuwu itu lemah.

“Nyai Puroni memerlukan seorang emban untuk membantunya.”

“Oh,” Akuwu itu terkejut. Kemudian sambil menunjuk seorang emban ia berkata, “Masuklah!”

Dengan tergopoh-gopoh emban itu segera masuk ke dalam sentong kanan itu. Kuda Sempana pun segera mengikutinya pula. Namun demikian ia sampai di ambang pintu, maka segera Bibi Puroni berkata,

“Tunggulah di luar Ngger.”

“Oh,” desah Kuda Sempana, “kenapa?”

“Aku sedang mengobatinya.”

“Ya. Aku tidak akan mengganggu. Aku hanya akan menungguinya.”

“Jangan, tidak baik. Gadis ini belum istrimu.”

“Kenapa tidak baik?”

Nyai Puroni menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya berdesah “Aku sedang akan mengurut seluruh tubuhnya. Tunggulah di luar. Gadis ini tidak akan berkurang cantiknya.”

“Lakukanlah. Biarlah aku masuk.”

“Jangan,” sahut Bibi Puroni, “kalau Angger masuk, aku tidak akan mengobatinya.”

“Jangan mengada-ada, Nyai!” benak Kuda Sempana.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar