Tetapi Kuda Sempana tidak sampai meneruskan katanya. Tiba-tiba ia terkejut ketika didengarnya Akuwu Tumapel membentaknya lebih keras, “Kuda Sempana, apakah kau sudah gila? Jangan masuk!”
Kuda Sempana berpaling. Dipandanginya wajah Akuwu Tumapel, dan ia menjadi semakin terkejut karenanya. Wajah itu menjadi merah menyala, seakan-akan sedang memancarkan kemarahan yang meluap-luap. Kuda Sempana telah mendengar beribu kali Tunggul Ametung berteriak dan membentak. Namun kali ini Akuwu itu benar-benar sedang marah, Meskipun Kuda Sempana sama sekali tidak tahu, kenapa akuwu itu tiba-tiba menjadi marah. Dengan demikian, maka Kuda Sempana sama sekali tidak berani lagi membantahnya. Dengan kepala terkulai lemah, ia duduk dilantai di samping pintu bilik kanan itu.
Ia mengangkat wajahnya, ketika ia mendengar sebuah desah lirih. Desah Ken Dedes. Namun ia masih juga berdebar-debar ketika desah itu kembali diam. Kuda Sempana benar-benar seperti seorang ayah yang untuk pertama kali menunggu bayinya yang akan lahir. Wajahnya menjadi tegang dan pucat. Keringat dingin mengalir dengan derasnya di segenap tubuhnya. Akhirnya Kuda Sempana tidak sabar lagi. Segera ia beringsut untuk memasuki bilik itu. Namun kembali ia berhenti ketika didengarnya sekali lagi Akuwu Tunggul Ametung berteriak,
“Kuda Sempana, kalau kau memasuki ruangan itu, aku bunuh kau!”
Kuda Sempana benar-benar menjadi berdebar-debar mendengar ancaman itu. Bukan karena ia takut, namun ia merasakan sesuatu keanehan pada nada suara Akuwu Tunggul Ametung itu. Kuda Sempana sama sekali tidak dapat meraba, apakah sebenarnya yang sedang dipikirkan oleh Tunggul Ametung. Apalagi ketika Tunggul Ametung itu kemudian berkata,
“Kuda Sempana, daripada kau menunggu dengan gelisah di muka bilik itu, tinggalkanlah ruangan ini. Kembalilah ke barakmu, dan tunggulah di sana sambil beristirahat.”
Kuda Sempana memandang wajah Akuwu Tumapel itu dengan hampir tak berkedip. Dicobanya untuk mengerti kata-kata itu, namun semakin direnungkannya, maka dadanya menjadi semakin berdebar-debar. Ketika Kuda Sempana belum beringsut dari tempatnya, maka sekali lagi Tunggul Ametung itu berkata,
“Tinggalkan Kuda Sempana! Tinggalkan! Tinggalkan! Kau dengar?”
Wajah Kuda Sempana menjadi tegang. Dicobanya untuk menjawab kata-kata itu, katanya, “Akuwu. Kalau Akuwu tidak berkenan aku di sini, biarlah gadis ini aku bawa ke dalam barak hamba.”
Wajah Tunggul Ametung yang merah, menjadi semakin membara. Sekali ia meloncat berdiri dan sambil menunjuk pintu keluar ia berteriak, “Keluarlah lewat pintu ini, atau kau tidak akan dapat keluar sendiri untuk seterusnya!”
Terasa sesuatu bergelora dengan dahsyatnya di dalam dada Kuda Sempana. Ia sama sekali tidak dapat meraba, apakah yang tersimpan di dalam hati Akuwu Tunggul Ametung itu. Namun ia kini menyadari bahwa Akuwu Tunggul Ametung benar-benar sedang marah atau sedang menjadi bingung. Sehingga dengan demikian, maka tak ada lain yang dapat dilakukan kecuali menuruti perintah itu. Maka Kuda Sempana itu pun membungkukkan kepalanya sambil menyembah.
“Baik Tuanku,” katanya. Terdengar suaranya gemetar, “tetapi bagaimanakah dengan Ken Dedes?”
Kemarahan Tunggul Ametung itu pun menjadi semakin memuncak sehingga tiba-tiba tubuhnya menjadi bergetar. Dengan lantangnya ia berteriak, “Kuda Sempana. Kali ini kesempatan yang terakhir. Keluar dari pintu ini!”
Kini Kuda Sempana benar-benar tidak berani untuk bertanya lagi. Perlahan ia berjalan keluar dari ruangan itu dengan kepala tunduk. Di luar pintu ia masih berpaling. Tetapi ketika dilihatnya Akuwu Tunggul Ametung memandangnya dengan wajah yang menyala, maka kembali ia menundukkan kepalanya dan berjalan meninggalkan ruangan itu.
Betapa hati Kuda Sempana itu menjadi risau. Tiba-tiba ia menjadi sangat cemas. Ia cemas akan kehilangan Ken Dedes. Sejak semula telah terkandung tekad di dalam batinya, bahwa ia harus mendapatkan gadis itu. Ketika gadis itu masih berada di Panawijen meskipun telah dipertunangkannya dengan Wiraprana, serta mendapat perlindungan dari Mahisa Agni yang tak dapat dikalahkannya, namun setiap kali masih juga tumbuh di dalam hatinya, harapan untuk dapat mengambil gadis itu. Tetapi kini, ketika Ken Dedes telah berada di Tumapel, maka ia menjadi sangat cemas, melampaui masa-masa yang lalu. Gigi Kuda Sempana itu gemeretak ketika ia sampai pada sebuah pikiran,
“Apakah Akuwu akan membatalkan niatku ini? Apakah Ken Dedes seterusnya akan tinggal di dalam istana?”
“Tidak!” Kuda Sempana itu menggeram. Namun ia untuk seterusnya tidak berani lagi mencoba memikirkan apakah yang kira-kira akan terjadi.
Sepeninggal Kuda Sempana Tunggul Ametung menjadi seperti seorang yang kehilangan keseimbangan. Berbagai perasaan telah memburunya. Sekali-kali ia mendengar suara dari bilik kanan. Suara Nyai Puroni dan seorang emban yang membantunya. Sekali-kali ia melihat emban itu pergi keluar, mengambil air dan beberapa buah jeruk. Kemudian kembali mereka tenggelam di balik pintu bilik itu. Tunggul Ametung itu pun kemudian berjalan hilir mudik sedemikian gelisahnya di muka bilik itu.
Tetapi tiba-tiba ia menggeram, “He, apakah aku sudah gila? Apakah peduliku atas gadis itu. Biar saja kau mati atau tidak. Kenapa aku menjadi risau karenanya.”
Tunggul Ametung itu menghentakkan kakinya. Kemudian ia berjalan cepat-cepat meninggalkan ruangan itu, masuk ke dalam biliknya sendiri. Seorang juru panebah terkejut bukan kepalang, ketika tiba-tiba saja Akuwu Tunggul Ametung sudah meloncat masuk ke dalam bilik itu. Demikian terkejutnya sehingga ia terloncat berdiri. Tetapi Akuwu yang masuk ke dalam bilik itu pun terkejut pula.
“Gila!” teriak akuwu, “apa kerjamu di sini?”
“Ampun Tuanku. Hamba sedang membersihkan pembaringan Tuanku.”
“Kenapa baru sekarang?”
“Hamba sangka Tuanku tidak segera kembali berburu.”
“Apa? He!” akuwu tiba-tiba menangkap rambut juru panebah itu sambil membentak, “Jadi kalau aku tidak ada bilik ini tidak pernah kau bersihkan?”
“Ampun Tuanku,” juru panebah itu tiba-tiba menangis, “ampun. Bukan maksud hamba berkata demikian. Maksud hamba, baru nanti senja akan hamba bersihkan, setelah sehari ini dua kali hamba bersihkan. Tadi pagi-pagi setelah Tuanku bangun dan siang tadi ketika hamba membersihkan segenap ruangan ini.”
“Pergi! Pergi!” bentak akuwu yang marah itu.
Demikian rambut juru panebah itu dilepaskan, maka segera ia terjatuh duduk di lantai sambil menyembah. Kemudian perlahan-lahan ia bergeser dan keluar dari ruangan itu. Tetapi begitu ia keluar dari pintu bilik, maka segera lenyaplah tangisnya. Bahkan dengan tersenyum-senyum ia mengumpat,
“Bukan main. Baru saja aku menyisir rambutku.”
Tetapi juru panebah itu tidak berpaling. Ditinggalkannya ruang dalam kembali ke dalam biliknya jauh di belakang. Di sepanjang halaman itu ia masih bergumam, “Kalau marah kepadaku, maka alamat aku akan mendapat rezeki.”
Akuwu yang sedang kebingungan itu segera membaringkan dirinya di pembaringannya tanpa melepas pakaiannya. Ia menggeliat ketika terasa sesuatu mengganggu punggungnya.
“Ah,” desahnya sambil bangkit kembali.
Kerisnya pun ternyata masih terselip di antara ikat pinggangnya, sehingga sambil mengumpat-umpat maka terpaksa akuwu itu bangkit melepas kerisnya dan diletakkannya di samping bantalnya. Sambil berbaring Tunggul Ametung mencoba menenangkan pikirannya. Ia adalah seorang akuwu yang keras hati. Namun kadang-kadang hatinya selunak malam. Sehingga demikian, maka akuwu itu seakan-akan tidak mempunyai suatu sikap yang tetap. Namun sebenarnya Akuwu adalah seorang yang sulit untuk dimengerti. Bahkan pelayan-pelayannya yang terdekat pun selama ini masih belum mampu untuk mengetahui, apakah sebenarnya yang berkenan di hati akuwu itu.
Bahkan suatu ketika Tunggul Ametung sendiri tidak dapat mengerti apa yang sedang dipikirkannya. Demikian gelapnya sehingga Akuwu itu menjadi sangat gelisah. Kehadiran gadis itu benar-benar telah merampas ketenangan hatinya.
“Apakah Kuda Sempana berkata sebenarnya?” desisnya, dan diteruskannya, “Melihat keadaan di rumah gadis itu, maka agaknya Kuda Sempana telah menipuku.”
Tunggul Ametung menggeram, “Aku harus mengetahui keadaan yang sebenarnya.”
Di bilik kanan Nyai Puroni berusaha sedapat-dapatnya untuk menolong Ken Dedes yang sedang pingsan. Kakinya yang dingin seolah-olah membeku telah digosok-gosoknya dengan reramuan penghangat. Jahe, minyak kelapa dan beberapa macam lagi. Dahinya, tengkuknya dan perutnya, menurut pengalaman yang sudah ber-tahun-tahun didapatnya. Lambat laun gadis itu pun menggeliat. Perlahan-lahan digerakkannya tangannya, kakinya dan akhirnya sekali lagi Ken Dedes membuka matanya.
“Eling, Angger,” bisik Nyai Puroni perlahan-lahan.
Ken Dedes terkejut mendengar suara itu. Cepat-cepat ia berpaling dan dipandangi orang tua yang bersimpuh di sampingnya itu dengan seksama. Namun alangkah kecewanya. Orang tua itu bukan embannya. Bukan pemomongnya yang seakan-akan sudah menjadi ibunya sendiri. Karena itu sekali lagi ia menjadi bingung. Diamat-amatinya ruangan itu. Ruangan yang belum pernah dilihatnya. Ruangan yang dihiasi dengan berbagai macam benda-benda yang berharga, dengan dinding papan yang berukir.
“Apakah aku sedang bermimpi?” desis Ken Dedes.
“Tidak Nini. Kau sama sekali tidak bermimpi,” sahut Nyai Puroni.
Sekali lagi Ken Dedes berpaling. Dipandanginya wajah dukun tua itu. Kemudian katanya, “Siapakah engkau Nyai?”
“Aku adalah seorang dukun, Nini. Dukun yang diminta oleh Akuwu mengobati Nini. yang sedang pingsan.”
“Akuwu?” ulang Ken Dedes.
“Ya. Nini datang bersama Akuwu dan Kuda Sempana bukankah demikian?”
“Oh,” Desah gadis itu.
Dicobanya untuk mengingat-ingat apakah yang telah terjadi. Selapis demi selapis dikenangnya kembali apa yang sudah terjadi itu. Kuda Sempana, akuwu dan beberapa orang prajurit. Wiraprana dan para cantrik. Tiba-tiba Ken Dedes itu memekik kecil. Tangisnya meledak seperti bendungan pecah. Ditelungkupkannya tubuhnya sambil menyembunyikan wajahnya pada kedua telapak tangannya.
Nyai Puroni tiba-tiba menjadi bingung. Kenapa gadis ini tiba-tiba menangis. Karena itu maka untuk sesaat Nyai Puroni itu terbungkam. Meskipun tangannya membelai rambut Ken Dedes dengan kasih seorang tua, tetapi ia tidak dapat menghiburnya dengan kata-kata. Ia tidak tahu persoalan apa yang telah terjadi.
Sesaat bilik itu menjadi sepi. Hanya isak Ken Dedes sajalah yang terdengar. Sekali-kali terdengar desah Ken Dedes menyebut nama ayahnya, Mahisa Agni dan Wiraprana. Namun tidak sedemikian jelas sehingga Nyai Puroni menjadi semakin bingung karenanya. Demikian bingungnya sehingga tiba saja ia bertanya,
“Nini, kenapa kau menangis?”
Mendengar pertanyaan itu tangis Ken Dedes menjadi semakin keras dan bahkan hampir tak dapat ditahannya. Nyai Puroni yang meskipun tidak tahu sama sekali apa sebabnya gadis itu menangis, tiba-tiba air matanya telah meleleh pula tanpa setahunya.
“Diamlah Angger,” Nyai Puroni mencoba menghiburnya, “Diamlah! Jangan menangis, Nini.”
Tetapi Ken Dedes menangis terus. Bahkan semakin lama semakin keras, sehingga Nyai Puroni menjadi semakin bingung ia tidak tahu apakah yang sebaiknya dilakukan. Ia tidak dapat menghibur gadis itu tanpa mengetahui sebab-sebabnya ia menangis. Akhirnya, dalam kebingungan Nyai Puroni itu berbisik kepada emban yang duduk di sampingnya,
“Sampaikan kepada Akuwu apa yang kau lihat.”
Emban itu menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian ia pun bangkit dan berjalan keluar. Namun di ruang dalam itu tak dilihatnya Tunggul Ametung, sehingga sesaat ia tertegun. Namun kemudian dari seorang emban yang lain, diketahuinya bahwa Akuwu Tunggul Ametung berada di pembaringannya.
“Tolong. Sampaikan kepada Akuwu, bahwa gadis itu telah sadar. Tetapi ia menangis saja,” berkata emban itu.
Emban yang lain menggelengkan kepalanya, jawabnya, “Tidak. Aku tidak mau masuk ke dalam bilik selagi Akuwu ada di dalamnya.”
“Kenapa?” Emban itu tidak menjawab. “Cepat! Sampaikanlah kepada Akuwu!” Emban itu tidak juga menjawab, tetapi ia menggeleng. “Kenapa? Kenapa?” Sekali lagi ia hanya menggeleng saja. “Oh. Anak bengal,” gerutu emban itu. Dan dengan tergesa-gesa ia sendiri pergi ke bilik akuwu. Meskipun hatinya berdebar-debar. Apakah Akuwu tidak akan menjadi marah.”
Emban yang lain, yang tidak mau menghadap akuwu di biliknya mencibirkan bibirnya. Sambil memandangi bayangan wajahnya yang buram pada permukaan air di jambangan bunga ia berkata,
“Aku terlalu cantik. Aku tidak mau masuk ke dalam bilik Akuwu. Bukankah Akuwu belum beristri. Huh, Kalau Akuwu memintaku baik-baik kepada orang tuaku, entahlah. Mungkin aku akan memikirkannya.” Emban itu kemudian tersenyum-senyum sendiri.
Emban yang lain dengan gelisah mendekati pintu bilik akuwu. Meskipun pintu itu tidak tertutup, namun ia sama sekali tidak berani masuk ke dalamnya. Dengan demikian maka emban itu hanyalah mondar-mandir saja di depan pintu, kemudian dengan keringat yang membasahi tubuhnya, ia duduk bersimpuh di hadapan pintu bilik itu sambil menunggu, juru panebah lewat.
Kepada juru panebah ia akan minta tolong untuk menyampaikannya kepada akuwu. Juru panebah sudah terlalu biasa masuk ke dalam bilik itu. Dipanggil atau tidak dipanggil oleh Tunggul Ametung. Tetapi emban itu hampir tidak pernah masuk ke dalamnya apabila tidak ada sesuatu yang harus dilakukannya. Mengganti kain selintru atau alas pembaringan untuk dicuci. Pekerjaannya adalah membersihkan dan merawat sentong-sentong kiwa, tengen dan sentong tengah.
Tetapi ternyata Akuwu mendengar langkah yang mondar-mandir itu, sehingga karena itu maka segera ia bangun dan berjalan. Ketika Akuwu Tumapel itu melihat emban yang menunggui Ken Dedes, maka dengan tergesa-gesa Tunggul Ametung bertanya
“Bagaimana? Bagaimana dengan gadis itu?”
Emban itu pun kemudian duduk bersimpuh sambil menyembah, katanya, “Ampun Tuanku. Gadis itu telah sadar. Tetapi sejak tadi selalu menangis saja. Nyai Puroni tidak berhasil menghiburnya.”
Wajah Akuwu itu pun tiba-tiba menjadi bertambah tegang. “Baiklah,” katanya, “baiklah, aku segera datang.”
Akuwu Tunggul Ametung segera masuk kembali ke dalam biliknya, membetulkan letak pakaiannya dan kemudian dengan tergesa-gesa pergi ke bilik dalam sebelah kanan. Tetapi begitu ia sampai di pintu bilik, maka hatinya menjadi berdebar-debar. Apakah yang dapat dilakukan terhadap gadis itu. Apakah dapat ia dapat menenteramkan hati Ken Dedes atau menghiburnya?
Akuwu itu pun terhenti. Direnunginya pintu bilik itu. Tetapi ia tidak jadi memasukinya. Diurungkannya niatnya untuk mencoba menemui Ken Dedes. Gadis itu pasti masih mendendamnya. Karena itu, maka akuwu itu dengan gelisahnya berjalan kembali ke dalam biliknya. Ketika ditemuinya emban yang memanggilnya tadi, maka katanya
“Biarlah Bibi Puroni mencoba menenangkannya. Aku tidak perlu datang kepada gadis itu. Aku juga belum kenal dia, dan dia pun belum mengenal aku. Tidak ada gunanya.”
Emban itu memandangi Akuwu Tumapel dengan penuh keheranan. Bagaimana mungkin Akuwu Tunggul Ametung itu belum mengenal gadis itu. Kenapa dengan tiba-tiba gadis itu harus dibaringkannya di sentong tengen. Tunggul Ametung yang merasa emban itu memandanginya dengan tak berkedip, tiba-tiba membentak,
“Kenapa kau memandangi aku sedemikian?”
“Oh. Ampun Tuanku,” emban itu menjadi gemetar. Cepat-cepat ia menundukkan wajahnya. Perlahan-lahan terdengar desahnya, “Hamba tidak bermaksud apa-apa.”
“Tetapi kenapa kau pandangi saja wajahku? He? Apakah kau belum pernah melihat aku? Atau barangkali wajahku tiba-tiba saja menjadi bopeng?”
“Ampun. Ampun Tuanku.”
“Ayo, cepat pergi! Katakan kepada Bibi Puroni!”
“Hamba Tuanku.”
Cepat-cepat emban itu pun pergi memasuki bilik sebelah kanan. Dijumpainya Ken Dedes masih menangis dan Nyai Puroni masih juga berusaha menghiburnya. Ketika Nyai Puroni melihat emban itu datang, mala segera ia berbisik,
“Bagaimana dengan Akuwu?”
“Akuwu tidak mau masuk ke dalam bilik ini. Ternyata Akuwu belum mengenal gadis ini.”
“Oh,”
Nyai Puroni pun terkejut bukan main. Lalu bagaimana mungkin Ken Dedes dibaringkan di sentong tengen. Nyai Puroni itu pun menjadi semakin tidak mengerti apa yang terjadi. Kalau Akuwu belum mengenal gadis ini, dan gadis ini adalah benar-benar bakal istri Kuda Sempana, tidak lebih, maka apakah haknya maka ia dibaringkan di dalam bilik Ini?
Tetapi Nyai Puroni tidak mau mempersoalkannya lagi. Hatinya dicengkam oleh keibaannya atas gadis itu. Alangkah sedih tangisnya. Karena itu, maka dicobanya sejauh-jauhnya untuk menghiburnya. Namun Ken Dedes seakan-akan tidak juga mendengarnya. Ia masih saja menangis. Lewat air matanya dituangkannya kepedihan yang menghimpit hatinya. Pedih dan nyeri. Bahkan sekali-sekali terluncur disela-sela tangisnya yang dalam.
Nyai Puroni adalah seorang tua yang sudah mengenyam pahit manis kehidupan. Pernah dijumpainya seribu macam peristiwa. Pernah dialaminya seribu macam kejadian. Pernah dihadapinya seribu macam persoalan. Karena itu, maka pengalaman yang tersimpan di dadanya, seakan-akan telah merupakan suatu kebulatan dari peristiwa-peristiwa di dunia ini. Peristiwa- peristiwa yang pernah dilihat, dialami dan dihadapinya. Karena itu, maka menghadapi Ken Dedes ini pun Nyai Puroni segera dapat meraba-raba, apakah agaknya yang telah mendorong gadis itu kemari dalam keadaan yang menyedihkan.
“Kuda Sempana,” desisnya di dalam hati, “pasti pokal Kuda Sempana.”
Tetapi dukun tua itu sama sekali tidak mau mengatakan sesuatu. Ia masih saja menghibur sedapat-dapatnya. Dibelainya rambut Ken Dedes yang panjang terurai. Namun Ken Dedes masih saja menangis.
Akuwu yang kembali ke dalam biliknya pun menjadi semakin gelisah. Ketika dipandanginya udara di luar biliknya lewat daun pintu yang terbuka, maka ia terkejut. Di kejauhan dari balik tirai dilihatnya seseorang membawa pelita menyala di kedua tangannya.
“He, apakah ini sudah malam?”
Barulah akuwu itu sadar, bahwa senja semakin kelam. Beberapa pelayan istana telah menyalakan lampu-lampu di segenap ruangan. Namun karena akuwu masih berada di dalam biliknya, maka para pelayan itu belum berani memasuki ruangan itu. Dinyalakannya saja lampu-lampu yang lain dan nanti apabila akuwu tidak juga keluar, barulah seseorang juru panebah harus menyalakan lampu di dalam bilik itu.
Perlahan-lahan akuwu bangkit dari pembaringannya. Bilik pun telah mulai gelap pula. Agaknya karena kegelisahan yang mencengkeram kepalanya, sehingga tanpa disadarinya ia telah berbaring di keremangan senja. Karena itu cepat-cepat ia meninggalkan biliknya. Ketika akuwu yang sedang kebingungan itu melihat seorang pelayan yang duduk menunggu perintahnya di tangga ruang dalam, maka segera ia berteriak,
“He. Kau kemari!”
Pelayan itu pun mendekatinya sambil berjongkok. Kemudian duduk bersimpuh di hadapannya
“Sediakan aku air panas!” perintah Tunggul Ametung, “Aku akan mandi. Sementara itu, perintahkan seorang pelayan dalam untuk memanggil Witantra dan Ken Arok. Sore ini.”
Pelayan itu menyembah, kemudian ia pun segera meninggalkan Akuwu yang gelisah itu. Kepada seorang emban, pelayan itu minta akuwu disediakan air hangat, sedang kepada pelayan yang lain dimintanya untuk menyampaikan perintah Akuwu Tunggul Ametung, memanggil Witantra dan Ken Arok.
Ketika pelayan itu sampai di rumah Witantra, ternyata Witantra itu baru saja memasuki rumahnya bersama Ken Arok dan seorang perempuan tua, pemomong Ken Dedes. Dengan dada berdebar-debar Witantra bertanya kepada pelayan itu,
“Apa perintah Akuwu?”
“Aku tidak tahu. Tetapi Kakang Witantra diperintah menghadap sore ini bersama-sama dengan Kakang Ken Arok. Kalau aku temui Kakang Ken Arak di sini, maka adalah kebetulan sekali.”
“Baru apakah Akuwu ketika kau berangkat?”
“Akuwu sedang duduk termenung, menunggu air hangat,”
“He?”
“Ya. Akuwu baru akan mandi.”
“Ah,” Witantra berdesah. Kemudian katanya, “Baik, Aku akan segera menghadap. Bersama Adi Ken Arok.”
Pelayan itu pun segera meninggalkan rumah Witantra. Sementara itu Witantra dan Ken Arok pun beristirahat untuk sesaat, duduk-duduk sambil minum air hangat.
“Mandilah di sini Adi,” minta Witantra, “kita harus segera menghadap. Pasti ada sesuatu yang penting.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Mungkin akuwu marah. Marah kepadanya dan marah kepada Witantra. Telah terucapkan, bahwa akuwu mengancam Witantra untuk menggantungnya besok di alun-alun. Ketika mereka berdua telah selesai berbenah, maka mereka pun segera minta diri kepada istri Witantra dan menyerahkan pemomong Ken Dedes itu.
“Biarlah Bibi tua ini untuk sementara tinggal bersama kita,” berkata Witantra. Ternyata istrinya pun tidak berkeberatan.
“Jangan terlalu mengharap aku segera kembali,” desis Witantra.
Istrinya terkejut. Tampaklah keningnya berkerut. Katanya, “Apakah Kakang akan mendapat tugas baru?”
Witantra menggelengkan kepalanya lemah sekali. Ditatapnya wajah istrinya yang masih terlalu muda untuk ditinggalkan. Namun lebih baik kemungkinan-kemungkinan yang bakal datang itu diberitahukannya sekarang. Ia tidak dapat menunda-nundanya sampai bencana itu datang, apabila akuwu benar-benar akan melakukan apa yang telah dikatakannya. Mungkin malam ini akuwu telah memerintahkan beberapa orang prajurit berjaga-jaga. Mungkin Kuda Sempana telah bersiap pula di sekitar istana.
“Nyai,” berkata Witantra kepada istrinya, “Akuwu sedang murka kepadaku. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan atasku dan Adi Ken Arek.”
“Murka?” tubuh istrinya tiba-tiba menjadi gemetar, “Kenapa?”
Witantra menarik nafasnya dalam-dalam. Kemudian gumamnya kepada diri sendiri, “Aku tidak dapat melakukan perintahnya.”
“Mengapa?”
“Aku tidak sampai hati, Nyai.”
“Apakah perintah yang harus kau lakukan?”
Witantra mengerutkan keningnya. Sekali ia berpaling, dan ditatapnya wajah perempuan tua yang duduk bersimpuh di sudut ruangan.
“Bertanyalah kepada Bibi tua itu. Ia akan dapat mengatakan, apa yang sudah terjadi.”
Istrinya memandang perempuan tua, pemomong Ken Dedes itu dengan penuh pertanyaan yang memancar dari wajahnya. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu, maka kembali Witantra berkata,
“Sudahlah Nyai. Biarlah aku menghadap Akuwu. Hati-hatilah di rumah. Bukankah kau telah mempunyai banyak kawan di sini?”
“Kakang,” sahut istrinya, wajahnya menjadi gelisah dan tiba-tiba suaranya menjadi gemetar, “apakah kira-kira yang akan terjadi, Kakang?”
“Aku tidak tahu, Nyai.”
“Oh,” desahnya, “Apakah Kakang tidak segera akan kembali?”
Witantra menggeleng lemah, “Aku tidak tahu. Apakah aku akan kembali malam nanti, besok, lusa atau waktu-waktu yang tidak dapat aku katakan.”
“Lalu bagaimana dengan aku?”
Sekali lagi Witantra menarik nafas dalam-dalam. “Jangan risau Nyai. Mudah-mudahan aku segera kembali. Namun kemungkinan-kemungkinan yang lain harus kau ketahui pula, seperti aku sedang berangkat berperang. Istri seorang prajurit pasti tahu, apakah yang mungkin terjadi dengan suaminya. Karena itu jangan berduka.”
“Oh,” tiba-tiba istri Witantra itu menangis.
Seorang perempuan tua, ibu Witantra segera datang menghiburnya, katanya, “Jangan menangis anakku. Aku dahulu juga menjadi istri seorang prajurit. Aku juga melihat setiap kemungkinan yang bakal terjadi dengan suamiku dahulu. Sekarang anakku pun seorang prajurit. Biarlah ia menyerahkan dirinya atas kekuasaan tangan Yang Maha Agung. Jangan kau tangisi, supaya perjalanannya tidak meragukannya.”
Istri Witantra itu menjadi agak tenang sedikit. Namun tiba-tiba muncullah seorang gadis dari ruang dalam. Gadis yang sedang menginjak masa remaja. Dengan wajah tengadah ia berkata,
“Kakang Witantra, kenapa Kakang tidak dapat melakukan perintah Baginda?”
Witantra berpaling. Dilihatnya adik istrinya berada di rumahnya pula. Karena itu segera ia bertanya, “Kapan kau datang?”
“Siang ini.”
“Baik. Adalah kebetulan sekali kau datang. Kawanilah kakak perempuanmu di sini.”
Kuda Sempana berpaling. Dipandanginya wajah Akuwu Tumapel, dan ia menjadi semakin terkejut karenanya. Wajah itu menjadi merah menyala, seakan-akan sedang memancarkan kemarahan yang meluap-luap. Kuda Sempana telah mendengar beribu kali Tunggul Ametung berteriak dan membentak. Namun kali ini Akuwu itu benar-benar sedang marah, Meskipun Kuda Sempana sama sekali tidak tahu, kenapa akuwu itu tiba-tiba menjadi marah. Dengan demikian, maka Kuda Sempana sama sekali tidak berani lagi membantahnya. Dengan kepala terkulai lemah, ia duduk dilantai di samping pintu bilik kanan itu.
Ia mengangkat wajahnya, ketika ia mendengar sebuah desah lirih. Desah Ken Dedes. Namun ia masih juga berdebar-debar ketika desah itu kembali diam. Kuda Sempana benar-benar seperti seorang ayah yang untuk pertama kali menunggu bayinya yang akan lahir. Wajahnya menjadi tegang dan pucat. Keringat dingin mengalir dengan derasnya di segenap tubuhnya. Akhirnya Kuda Sempana tidak sabar lagi. Segera ia beringsut untuk memasuki bilik itu. Namun kembali ia berhenti ketika didengarnya sekali lagi Akuwu Tunggul Ametung berteriak,
“Kuda Sempana, kalau kau memasuki ruangan itu, aku bunuh kau!”
Kuda Sempana benar-benar menjadi berdebar-debar mendengar ancaman itu. Bukan karena ia takut, namun ia merasakan sesuatu keanehan pada nada suara Akuwu Tunggul Ametung itu. Kuda Sempana sama sekali tidak dapat meraba, apakah sebenarnya yang sedang dipikirkan oleh Tunggul Ametung. Apalagi ketika Tunggul Ametung itu kemudian berkata,
“Kuda Sempana, daripada kau menunggu dengan gelisah di muka bilik itu, tinggalkanlah ruangan ini. Kembalilah ke barakmu, dan tunggulah di sana sambil beristirahat.”
Kuda Sempana memandang wajah Akuwu Tumapel itu dengan hampir tak berkedip. Dicobanya untuk mengerti kata-kata itu, namun semakin direnungkannya, maka dadanya menjadi semakin berdebar-debar. Ketika Kuda Sempana belum beringsut dari tempatnya, maka sekali lagi Tunggul Ametung itu berkata,
“Tinggalkan Kuda Sempana! Tinggalkan! Tinggalkan! Kau dengar?”
Wajah Kuda Sempana menjadi tegang. Dicobanya untuk menjawab kata-kata itu, katanya, “Akuwu. Kalau Akuwu tidak berkenan aku di sini, biarlah gadis ini aku bawa ke dalam barak hamba.”
Wajah Tunggul Ametung yang merah, menjadi semakin membara. Sekali ia meloncat berdiri dan sambil menunjuk pintu keluar ia berteriak, “Keluarlah lewat pintu ini, atau kau tidak akan dapat keluar sendiri untuk seterusnya!”
Terasa sesuatu bergelora dengan dahsyatnya di dalam dada Kuda Sempana. Ia sama sekali tidak dapat meraba, apakah yang tersimpan di dalam hati Akuwu Tunggul Ametung itu. Namun ia kini menyadari bahwa Akuwu Tunggul Ametung benar-benar sedang marah atau sedang menjadi bingung. Sehingga dengan demikian, maka tak ada lain yang dapat dilakukan kecuali menuruti perintah itu. Maka Kuda Sempana itu pun membungkukkan kepalanya sambil menyembah.
“Baik Tuanku,” katanya. Terdengar suaranya gemetar, “tetapi bagaimanakah dengan Ken Dedes?”
Kemarahan Tunggul Ametung itu pun menjadi semakin memuncak sehingga tiba-tiba tubuhnya menjadi bergetar. Dengan lantangnya ia berteriak, “Kuda Sempana. Kali ini kesempatan yang terakhir. Keluar dari pintu ini!”
Kini Kuda Sempana benar-benar tidak berani untuk bertanya lagi. Perlahan ia berjalan keluar dari ruangan itu dengan kepala tunduk. Di luar pintu ia masih berpaling. Tetapi ketika dilihatnya Akuwu Tunggul Ametung memandangnya dengan wajah yang menyala, maka kembali ia menundukkan kepalanya dan berjalan meninggalkan ruangan itu.
Betapa hati Kuda Sempana itu menjadi risau. Tiba-tiba ia menjadi sangat cemas. Ia cemas akan kehilangan Ken Dedes. Sejak semula telah terkandung tekad di dalam batinya, bahwa ia harus mendapatkan gadis itu. Ketika gadis itu masih berada di Panawijen meskipun telah dipertunangkannya dengan Wiraprana, serta mendapat perlindungan dari Mahisa Agni yang tak dapat dikalahkannya, namun setiap kali masih juga tumbuh di dalam hatinya, harapan untuk dapat mengambil gadis itu. Tetapi kini, ketika Ken Dedes telah berada di Tumapel, maka ia menjadi sangat cemas, melampaui masa-masa yang lalu. Gigi Kuda Sempana itu gemeretak ketika ia sampai pada sebuah pikiran,
“Apakah Akuwu akan membatalkan niatku ini? Apakah Ken Dedes seterusnya akan tinggal di dalam istana?”
“Tidak!” Kuda Sempana itu menggeram. Namun ia untuk seterusnya tidak berani lagi mencoba memikirkan apakah yang kira-kira akan terjadi.
Sepeninggal Kuda Sempana Tunggul Ametung menjadi seperti seorang yang kehilangan keseimbangan. Berbagai perasaan telah memburunya. Sekali-kali ia mendengar suara dari bilik kanan. Suara Nyai Puroni dan seorang emban yang membantunya. Sekali-kali ia melihat emban itu pergi keluar, mengambil air dan beberapa buah jeruk. Kemudian kembali mereka tenggelam di balik pintu bilik itu. Tunggul Ametung itu pun kemudian berjalan hilir mudik sedemikian gelisahnya di muka bilik itu.
Tetapi tiba-tiba ia menggeram, “He, apakah aku sudah gila? Apakah peduliku atas gadis itu. Biar saja kau mati atau tidak. Kenapa aku menjadi risau karenanya.”
Tunggul Ametung itu menghentakkan kakinya. Kemudian ia berjalan cepat-cepat meninggalkan ruangan itu, masuk ke dalam biliknya sendiri. Seorang juru panebah terkejut bukan kepalang, ketika tiba-tiba saja Akuwu Tunggul Ametung sudah meloncat masuk ke dalam bilik itu. Demikian terkejutnya sehingga ia terloncat berdiri. Tetapi Akuwu yang masuk ke dalam bilik itu pun terkejut pula.
“Gila!” teriak akuwu, “apa kerjamu di sini?”
“Ampun Tuanku. Hamba sedang membersihkan pembaringan Tuanku.”
“Kenapa baru sekarang?”
“Hamba sangka Tuanku tidak segera kembali berburu.”
“Apa? He!” akuwu tiba-tiba menangkap rambut juru panebah itu sambil membentak, “Jadi kalau aku tidak ada bilik ini tidak pernah kau bersihkan?”
“Ampun Tuanku,” juru panebah itu tiba-tiba menangis, “ampun. Bukan maksud hamba berkata demikian. Maksud hamba, baru nanti senja akan hamba bersihkan, setelah sehari ini dua kali hamba bersihkan. Tadi pagi-pagi setelah Tuanku bangun dan siang tadi ketika hamba membersihkan segenap ruangan ini.”
“Pergi! Pergi!” bentak akuwu yang marah itu.
Demikian rambut juru panebah itu dilepaskan, maka segera ia terjatuh duduk di lantai sambil menyembah. Kemudian perlahan-lahan ia bergeser dan keluar dari ruangan itu. Tetapi begitu ia keluar dari pintu bilik, maka segera lenyaplah tangisnya. Bahkan dengan tersenyum-senyum ia mengumpat,
“Bukan main. Baru saja aku menyisir rambutku.”
Tetapi juru panebah itu tidak berpaling. Ditinggalkannya ruang dalam kembali ke dalam biliknya jauh di belakang. Di sepanjang halaman itu ia masih bergumam, “Kalau marah kepadaku, maka alamat aku akan mendapat rezeki.”
Akuwu yang sedang kebingungan itu segera membaringkan dirinya di pembaringannya tanpa melepas pakaiannya. Ia menggeliat ketika terasa sesuatu mengganggu punggungnya.
“Ah,” desahnya sambil bangkit kembali.
Kerisnya pun ternyata masih terselip di antara ikat pinggangnya, sehingga sambil mengumpat-umpat maka terpaksa akuwu itu bangkit melepas kerisnya dan diletakkannya di samping bantalnya. Sambil berbaring Tunggul Ametung mencoba menenangkan pikirannya. Ia adalah seorang akuwu yang keras hati. Namun kadang-kadang hatinya selunak malam. Sehingga demikian, maka akuwu itu seakan-akan tidak mempunyai suatu sikap yang tetap. Namun sebenarnya Akuwu adalah seorang yang sulit untuk dimengerti. Bahkan pelayan-pelayannya yang terdekat pun selama ini masih belum mampu untuk mengetahui, apakah sebenarnya yang berkenan di hati akuwu itu.
Bahkan suatu ketika Tunggul Ametung sendiri tidak dapat mengerti apa yang sedang dipikirkannya. Demikian gelapnya sehingga Akuwu itu menjadi sangat gelisah. Kehadiran gadis itu benar-benar telah merampas ketenangan hatinya.
“Apakah Kuda Sempana berkata sebenarnya?” desisnya, dan diteruskannya, “Melihat keadaan di rumah gadis itu, maka agaknya Kuda Sempana telah menipuku.”
Tunggul Ametung menggeram, “Aku harus mengetahui keadaan yang sebenarnya.”
Di bilik kanan Nyai Puroni berusaha sedapat-dapatnya untuk menolong Ken Dedes yang sedang pingsan. Kakinya yang dingin seolah-olah membeku telah digosok-gosoknya dengan reramuan penghangat. Jahe, minyak kelapa dan beberapa macam lagi. Dahinya, tengkuknya dan perutnya, menurut pengalaman yang sudah ber-tahun-tahun didapatnya. Lambat laun gadis itu pun menggeliat. Perlahan-lahan digerakkannya tangannya, kakinya dan akhirnya sekali lagi Ken Dedes membuka matanya.
“Eling, Angger,” bisik Nyai Puroni perlahan-lahan.
Ken Dedes terkejut mendengar suara itu. Cepat-cepat ia berpaling dan dipandangi orang tua yang bersimpuh di sampingnya itu dengan seksama. Namun alangkah kecewanya. Orang tua itu bukan embannya. Bukan pemomongnya yang seakan-akan sudah menjadi ibunya sendiri. Karena itu sekali lagi ia menjadi bingung. Diamat-amatinya ruangan itu. Ruangan yang belum pernah dilihatnya. Ruangan yang dihiasi dengan berbagai macam benda-benda yang berharga, dengan dinding papan yang berukir.
“Apakah aku sedang bermimpi?” desis Ken Dedes.
“Tidak Nini. Kau sama sekali tidak bermimpi,” sahut Nyai Puroni.
Sekali lagi Ken Dedes berpaling. Dipandanginya wajah dukun tua itu. Kemudian katanya, “Siapakah engkau Nyai?”
“Aku adalah seorang dukun, Nini. Dukun yang diminta oleh Akuwu mengobati Nini. yang sedang pingsan.”
“Akuwu?” ulang Ken Dedes.
“Ya. Nini datang bersama Akuwu dan Kuda Sempana bukankah demikian?”
“Oh,” Desah gadis itu.
Dicobanya untuk mengingat-ingat apakah yang telah terjadi. Selapis demi selapis dikenangnya kembali apa yang sudah terjadi itu. Kuda Sempana, akuwu dan beberapa orang prajurit. Wiraprana dan para cantrik. Tiba-tiba Ken Dedes itu memekik kecil. Tangisnya meledak seperti bendungan pecah. Ditelungkupkannya tubuhnya sambil menyembunyikan wajahnya pada kedua telapak tangannya.
Nyai Puroni tiba-tiba menjadi bingung. Kenapa gadis ini tiba-tiba menangis. Karena itu maka untuk sesaat Nyai Puroni itu terbungkam. Meskipun tangannya membelai rambut Ken Dedes dengan kasih seorang tua, tetapi ia tidak dapat menghiburnya dengan kata-kata. Ia tidak tahu persoalan apa yang telah terjadi.
Sesaat bilik itu menjadi sepi. Hanya isak Ken Dedes sajalah yang terdengar. Sekali-kali terdengar desah Ken Dedes menyebut nama ayahnya, Mahisa Agni dan Wiraprana. Namun tidak sedemikian jelas sehingga Nyai Puroni menjadi semakin bingung karenanya. Demikian bingungnya sehingga tiba saja ia bertanya,
“Nini, kenapa kau menangis?”
Mendengar pertanyaan itu tangis Ken Dedes menjadi semakin keras dan bahkan hampir tak dapat ditahannya. Nyai Puroni yang meskipun tidak tahu sama sekali apa sebabnya gadis itu menangis, tiba-tiba air matanya telah meleleh pula tanpa setahunya.
“Diamlah Angger,” Nyai Puroni mencoba menghiburnya, “Diamlah! Jangan menangis, Nini.”
Tetapi Ken Dedes menangis terus. Bahkan semakin lama semakin keras, sehingga Nyai Puroni menjadi semakin bingung ia tidak tahu apakah yang sebaiknya dilakukan. Ia tidak dapat menghibur gadis itu tanpa mengetahui sebab-sebabnya ia menangis. Akhirnya, dalam kebingungan Nyai Puroni itu berbisik kepada emban yang duduk di sampingnya,
“Sampaikan kepada Akuwu apa yang kau lihat.”
Emban itu menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian ia pun bangkit dan berjalan keluar. Namun di ruang dalam itu tak dilihatnya Tunggul Ametung, sehingga sesaat ia tertegun. Namun kemudian dari seorang emban yang lain, diketahuinya bahwa Akuwu Tunggul Ametung berada di pembaringannya.
“Tolong. Sampaikan kepada Akuwu, bahwa gadis itu telah sadar. Tetapi ia menangis saja,” berkata emban itu.
Emban yang lain menggelengkan kepalanya, jawabnya, “Tidak. Aku tidak mau masuk ke dalam bilik selagi Akuwu ada di dalamnya.”
“Kenapa?” Emban itu tidak menjawab. “Cepat! Sampaikanlah kepada Akuwu!” Emban itu tidak juga menjawab, tetapi ia menggeleng. “Kenapa? Kenapa?” Sekali lagi ia hanya menggeleng saja. “Oh. Anak bengal,” gerutu emban itu. Dan dengan tergesa-gesa ia sendiri pergi ke bilik akuwu. Meskipun hatinya berdebar-debar. Apakah Akuwu tidak akan menjadi marah.”
Emban yang lain, yang tidak mau menghadap akuwu di biliknya mencibirkan bibirnya. Sambil memandangi bayangan wajahnya yang buram pada permukaan air di jambangan bunga ia berkata,
“Aku terlalu cantik. Aku tidak mau masuk ke dalam bilik Akuwu. Bukankah Akuwu belum beristri. Huh, Kalau Akuwu memintaku baik-baik kepada orang tuaku, entahlah. Mungkin aku akan memikirkannya.” Emban itu kemudian tersenyum-senyum sendiri.
Emban yang lain dengan gelisah mendekati pintu bilik akuwu. Meskipun pintu itu tidak tertutup, namun ia sama sekali tidak berani masuk ke dalamnya. Dengan demikian maka emban itu hanyalah mondar-mandir saja di depan pintu, kemudian dengan keringat yang membasahi tubuhnya, ia duduk bersimpuh di hadapan pintu bilik itu sambil menunggu, juru panebah lewat.
Kepada juru panebah ia akan minta tolong untuk menyampaikannya kepada akuwu. Juru panebah sudah terlalu biasa masuk ke dalam bilik itu. Dipanggil atau tidak dipanggil oleh Tunggul Ametung. Tetapi emban itu hampir tidak pernah masuk ke dalamnya apabila tidak ada sesuatu yang harus dilakukannya. Mengganti kain selintru atau alas pembaringan untuk dicuci. Pekerjaannya adalah membersihkan dan merawat sentong-sentong kiwa, tengen dan sentong tengah.
Tetapi ternyata Akuwu mendengar langkah yang mondar-mandir itu, sehingga karena itu maka segera ia bangun dan berjalan. Ketika Akuwu Tumapel itu melihat emban yang menunggui Ken Dedes, maka dengan tergesa-gesa Tunggul Ametung bertanya
“Bagaimana? Bagaimana dengan gadis itu?”
Emban itu pun kemudian duduk bersimpuh sambil menyembah, katanya, “Ampun Tuanku. Gadis itu telah sadar. Tetapi sejak tadi selalu menangis saja. Nyai Puroni tidak berhasil menghiburnya.”
Wajah Akuwu itu pun tiba-tiba menjadi bertambah tegang. “Baiklah,” katanya, “baiklah, aku segera datang.”
Akuwu Tunggul Ametung segera masuk kembali ke dalam biliknya, membetulkan letak pakaiannya dan kemudian dengan tergesa-gesa pergi ke bilik dalam sebelah kanan. Tetapi begitu ia sampai di pintu bilik, maka hatinya menjadi berdebar-debar. Apakah yang dapat dilakukan terhadap gadis itu. Apakah dapat ia dapat menenteramkan hati Ken Dedes atau menghiburnya?
Akuwu itu pun terhenti. Direnunginya pintu bilik itu. Tetapi ia tidak jadi memasukinya. Diurungkannya niatnya untuk mencoba menemui Ken Dedes. Gadis itu pasti masih mendendamnya. Karena itu, maka akuwu itu dengan gelisahnya berjalan kembali ke dalam biliknya. Ketika ditemuinya emban yang memanggilnya tadi, maka katanya
“Biarlah Bibi Puroni mencoba menenangkannya. Aku tidak perlu datang kepada gadis itu. Aku juga belum kenal dia, dan dia pun belum mengenal aku. Tidak ada gunanya.”
Emban itu memandangi Akuwu Tumapel dengan penuh keheranan. Bagaimana mungkin Akuwu Tunggul Ametung itu belum mengenal gadis itu. Kenapa dengan tiba-tiba gadis itu harus dibaringkannya di sentong tengen. Tunggul Ametung yang merasa emban itu memandanginya dengan tak berkedip, tiba-tiba membentak,
“Kenapa kau memandangi aku sedemikian?”
“Oh. Ampun Tuanku,” emban itu menjadi gemetar. Cepat-cepat ia menundukkan wajahnya. Perlahan-lahan terdengar desahnya, “Hamba tidak bermaksud apa-apa.”
“Tetapi kenapa kau pandangi saja wajahku? He? Apakah kau belum pernah melihat aku? Atau barangkali wajahku tiba-tiba saja menjadi bopeng?”
“Ampun. Ampun Tuanku.”
“Ayo, cepat pergi! Katakan kepada Bibi Puroni!”
“Hamba Tuanku.”
Cepat-cepat emban itu pun pergi memasuki bilik sebelah kanan. Dijumpainya Ken Dedes masih menangis dan Nyai Puroni masih juga berusaha menghiburnya. Ketika Nyai Puroni melihat emban itu datang, mala segera ia berbisik,
“Bagaimana dengan Akuwu?”
“Akuwu tidak mau masuk ke dalam bilik ini. Ternyata Akuwu belum mengenal gadis ini.”
“Oh,”
Nyai Puroni pun terkejut bukan main. Lalu bagaimana mungkin Ken Dedes dibaringkan di sentong tengen. Nyai Puroni itu pun menjadi semakin tidak mengerti apa yang terjadi. Kalau Akuwu belum mengenal gadis ini, dan gadis ini adalah benar-benar bakal istri Kuda Sempana, tidak lebih, maka apakah haknya maka ia dibaringkan di dalam bilik Ini?
Tetapi Nyai Puroni tidak mau mempersoalkannya lagi. Hatinya dicengkam oleh keibaannya atas gadis itu. Alangkah sedih tangisnya. Karena itu, maka dicobanya sejauh-jauhnya untuk menghiburnya. Namun Ken Dedes seakan-akan tidak juga mendengarnya. Ia masih saja menangis. Lewat air matanya dituangkannya kepedihan yang menghimpit hatinya. Pedih dan nyeri. Bahkan sekali-sekali terluncur disela-sela tangisnya yang dalam.
Nyai Puroni adalah seorang tua yang sudah mengenyam pahit manis kehidupan. Pernah dijumpainya seribu macam peristiwa. Pernah dialaminya seribu macam kejadian. Pernah dihadapinya seribu macam persoalan. Karena itu, maka pengalaman yang tersimpan di dadanya, seakan-akan telah merupakan suatu kebulatan dari peristiwa-peristiwa di dunia ini. Peristiwa- peristiwa yang pernah dilihat, dialami dan dihadapinya. Karena itu, maka menghadapi Ken Dedes ini pun Nyai Puroni segera dapat meraba-raba, apakah agaknya yang telah mendorong gadis itu kemari dalam keadaan yang menyedihkan.
“Kuda Sempana,” desisnya di dalam hati, “pasti pokal Kuda Sempana.”
Tetapi dukun tua itu sama sekali tidak mau mengatakan sesuatu. Ia masih saja menghibur sedapat-dapatnya. Dibelainya rambut Ken Dedes yang panjang terurai. Namun Ken Dedes masih saja menangis.
Akuwu yang kembali ke dalam biliknya pun menjadi semakin gelisah. Ketika dipandanginya udara di luar biliknya lewat daun pintu yang terbuka, maka ia terkejut. Di kejauhan dari balik tirai dilihatnya seseorang membawa pelita menyala di kedua tangannya.
“He, apakah ini sudah malam?”
Barulah akuwu itu sadar, bahwa senja semakin kelam. Beberapa pelayan istana telah menyalakan lampu-lampu di segenap ruangan. Namun karena akuwu masih berada di dalam biliknya, maka para pelayan itu belum berani memasuki ruangan itu. Dinyalakannya saja lampu-lampu yang lain dan nanti apabila akuwu tidak juga keluar, barulah seseorang juru panebah harus menyalakan lampu di dalam bilik itu.
Perlahan-lahan akuwu bangkit dari pembaringannya. Bilik pun telah mulai gelap pula. Agaknya karena kegelisahan yang mencengkeram kepalanya, sehingga tanpa disadarinya ia telah berbaring di keremangan senja. Karena itu cepat-cepat ia meninggalkan biliknya. Ketika akuwu yang sedang kebingungan itu melihat seorang pelayan yang duduk menunggu perintahnya di tangga ruang dalam, maka segera ia berteriak,
“He. Kau kemari!”
Pelayan itu pun mendekatinya sambil berjongkok. Kemudian duduk bersimpuh di hadapannya
“Sediakan aku air panas!” perintah Tunggul Ametung, “Aku akan mandi. Sementara itu, perintahkan seorang pelayan dalam untuk memanggil Witantra dan Ken Arok. Sore ini.”
Pelayan itu menyembah, kemudian ia pun segera meninggalkan Akuwu yang gelisah itu. Kepada seorang emban, pelayan itu minta akuwu disediakan air hangat, sedang kepada pelayan yang lain dimintanya untuk menyampaikan perintah Akuwu Tunggul Ametung, memanggil Witantra dan Ken Arok.
Ketika pelayan itu sampai di rumah Witantra, ternyata Witantra itu baru saja memasuki rumahnya bersama Ken Arok dan seorang perempuan tua, pemomong Ken Dedes. Dengan dada berdebar-debar Witantra bertanya kepada pelayan itu,
“Apa perintah Akuwu?”
“Aku tidak tahu. Tetapi Kakang Witantra diperintah menghadap sore ini bersama-sama dengan Kakang Ken Arok. Kalau aku temui Kakang Ken Arak di sini, maka adalah kebetulan sekali.”
“Baru apakah Akuwu ketika kau berangkat?”
“Akuwu sedang duduk termenung, menunggu air hangat,”
“He?”
“Ya. Akuwu baru akan mandi.”
“Ah,” Witantra berdesah. Kemudian katanya, “Baik, Aku akan segera menghadap. Bersama Adi Ken Arok.”
Pelayan itu pun segera meninggalkan rumah Witantra. Sementara itu Witantra dan Ken Arok pun beristirahat untuk sesaat, duduk-duduk sambil minum air hangat.
“Mandilah di sini Adi,” minta Witantra, “kita harus segera menghadap. Pasti ada sesuatu yang penting.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Mungkin akuwu marah. Marah kepadanya dan marah kepada Witantra. Telah terucapkan, bahwa akuwu mengancam Witantra untuk menggantungnya besok di alun-alun. Ketika mereka berdua telah selesai berbenah, maka mereka pun segera minta diri kepada istri Witantra dan menyerahkan pemomong Ken Dedes itu.
“Biarlah Bibi tua ini untuk sementara tinggal bersama kita,” berkata Witantra. Ternyata istrinya pun tidak berkeberatan.
“Jangan terlalu mengharap aku segera kembali,” desis Witantra.
Istrinya terkejut. Tampaklah keningnya berkerut. Katanya, “Apakah Kakang akan mendapat tugas baru?”
Witantra menggelengkan kepalanya lemah sekali. Ditatapnya wajah istrinya yang masih terlalu muda untuk ditinggalkan. Namun lebih baik kemungkinan-kemungkinan yang bakal datang itu diberitahukannya sekarang. Ia tidak dapat menunda-nundanya sampai bencana itu datang, apabila akuwu benar-benar akan melakukan apa yang telah dikatakannya. Mungkin malam ini akuwu telah memerintahkan beberapa orang prajurit berjaga-jaga. Mungkin Kuda Sempana telah bersiap pula di sekitar istana.
“Nyai,” berkata Witantra kepada istrinya, “Akuwu sedang murka kepadaku. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan atasku dan Adi Ken Arek.”
“Murka?” tubuh istrinya tiba-tiba menjadi gemetar, “Kenapa?”
Witantra menarik nafasnya dalam-dalam. Kemudian gumamnya kepada diri sendiri, “Aku tidak dapat melakukan perintahnya.”
“Mengapa?”
“Aku tidak sampai hati, Nyai.”
“Apakah perintah yang harus kau lakukan?”
Witantra mengerutkan keningnya. Sekali ia berpaling, dan ditatapnya wajah perempuan tua yang duduk bersimpuh di sudut ruangan.
“Bertanyalah kepada Bibi tua itu. Ia akan dapat mengatakan, apa yang sudah terjadi.”
Istrinya memandang perempuan tua, pemomong Ken Dedes itu dengan penuh pertanyaan yang memancar dari wajahnya. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu, maka kembali Witantra berkata,
“Sudahlah Nyai. Biarlah aku menghadap Akuwu. Hati-hatilah di rumah. Bukankah kau telah mempunyai banyak kawan di sini?”
“Kakang,” sahut istrinya, wajahnya menjadi gelisah dan tiba-tiba suaranya menjadi gemetar, “apakah kira-kira yang akan terjadi, Kakang?”
“Aku tidak tahu, Nyai.”
“Oh,” desahnya, “Apakah Kakang tidak segera akan kembali?”
Witantra menggeleng lemah, “Aku tidak tahu. Apakah aku akan kembali malam nanti, besok, lusa atau waktu-waktu yang tidak dapat aku katakan.”
“Lalu bagaimana dengan aku?”
Sekali lagi Witantra menarik nafas dalam-dalam. “Jangan risau Nyai. Mudah-mudahan aku segera kembali. Namun kemungkinan-kemungkinan yang lain harus kau ketahui pula, seperti aku sedang berangkat berperang. Istri seorang prajurit pasti tahu, apakah yang mungkin terjadi dengan suaminya. Karena itu jangan berduka.”
“Oh,” tiba-tiba istri Witantra itu menangis.
Seorang perempuan tua, ibu Witantra segera datang menghiburnya, katanya, “Jangan menangis anakku. Aku dahulu juga menjadi istri seorang prajurit. Aku juga melihat setiap kemungkinan yang bakal terjadi dengan suamiku dahulu. Sekarang anakku pun seorang prajurit. Biarlah ia menyerahkan dirinya atas kekuasaan tangan Yang Maha Agung. Jangan kau tangisi, supaya perjalanannya tidak meragukannya.”
Istri Witantra itu menjadi agak tenang sedikit. Namun tiba-tiba muncullah seorang gadis dari ruang dalam. Gadis yang sedang menginjak masa remaja. Dengan wajah tengadah ia berkata,
“Kakang Witantra, kenapa Kakang tidak dapat melakukan perintah Baginda?”
Witantra berpaling. Dilihatnya adik istrinya berada di rumahnya pula. Karena itu segera ia bertanya, “Kapan kau datang?”
“Siang ini.”
“Baik. Adalah kebetulan sekali kau datang. Kawanilah kakak perempuanmu di sini.”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar