MENU

Ads

Senin, 16 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 044

“Ya Kakang. Tetapi aku ingin tahu, kenapa Kakang tidak dapat menuruti perintah Akuwu itu?”

“Tidak apa-apa. Jangan kau pikirkan itu lagi.”

“Tidak. Aku merasa aneh sekali. Bukankah Kakang seorang prajurit?”

“Benar. Benar Ken Umang. Aku adalah seorang prajurit.”

Ken Umang itu memandangi Witantra dengan tajamnya. Sambil mengangkat dagunya ia berkata, “Kenapa seorang prajurit terpaksa menghindari perintah, justru perintah Akuwu sendiri?”

“Jangan berpikir tentang hal itu Umang. Sudahlah, kawanilah kakakmu. Biarlah besok kau dibelikan selembar kain tenun yang berwarna merah jambu.”

“Aku tidak ingin selembar kain berwarna merah jambu.

“Nah, apalah yang kau ingini?” sahut Witantra.

“Tak ada. Aku hanya ingin tahu, kenapa Kakang menolak perintah Akuwu.”

“Jangan tanyakan itu lagi. Mintalah sebuah golek yang besar atau sehelai selendang sutra yang berwarna hijau.”

“Kakang, aku sekarang bukan anak-anak lagi. Lihatlah, aku sudah dewasa.”

Witantra menggeleng. Kemudian jawabnya, “Belum Umang. Kesadaranmu, bahwa kau telah mulai dewasa menunjukkan bahwa kau belum dewasa. Kau masih pantas berkain sabukwala. Jangan risaukan aku.”

“Kakang,” tiba-tiba terdengar istri Witantra berkata, “pertanyaan Umang ada benarnya. Apakah sebabnya maka Kakang terpaksa menolak perintah Akuwu?”

“Bertanyalah kepada perempuan itu sepeninggalku,” sahut Witantra, “biarlah kini aku berjalan dengan tenang. Apapun yang akan aku hadapi.”

Nyai Witantra tidak bertanya lagi. Namun gadis yang menjelang dewasa itu tampak sama sekali tidak puas atas jawaban kakak iparnya. Tetapi ia pun sudah tidak bertanya lagi. Dipalingkannya wajahnya memandang perempuan tua yang duduk di sudut ruangan. Sekali lagi ia mengangkat dagunya, kemudian hilang masuk ke ruang dalam.

Witantra berjalan meninggalkan halaman rumahnya. Seorang pelayannya telah membenahi dan menyediakan kuda-kuda mereka. Dan sesaat kemudian bunyi derap telapak kuda itu pun menghilang.

Nyai Witantra dan ibu mertuanya pun kemudian duduk bersama dengan pemomong Ken Dedes. Dengan tidak sabarnya segera mereka bertanya, “Bibi apakah yang telah dilakukan oleh Kakang Witantra sehingga ia terpaksa mendapat murka?”

Emban tua itu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia menjawab, “Angger Witantra berpijak pada rasa perikemanusiaan. Karena itulah maka ketika Angger Witantra menerima perintah, maka terpaksa Angger Witantra tidak dapat melakukannya.”

“Apakah perintah itu?”

Emban tua itu pun segera menceritakan apa yang telah dilihatnya di halaman rumah Empu Purwa. Bagaimana Akuwu Tumapel menjadi sangat marah kepada Witantra karena Witantra tidak mau ikut serta dalam perbuatan yang terkutuk itu.



“Jadi Akuwu telah menculik gadis itu?” terdengar ibu Witantra bertanya.

“Ya.”

“Oh, ampun,” desah ibu Witantra itu. Untunglah bahwa Witantra tidak mau ikut melakukannya.

Istri Witantra pun kemudian mengerutkan keningnya. Dipandanginya emban tua itu dengan seksama. Ketika ia mendengar cerita itu maka seluruh bulu-bulunya serasa telah tegak berdiri.

“Ngeri,” desisnya

Tetapi kembali Ken Umang keluar dari ruang dalam. Ditatapnya ketiga perempuan yang duduk melingkar di sudut ruangan itu. Dengan menyesal ia berkata “Hah, ternyata Kakang Witantra terlalu perasa. Apakah salahnya kalau ia mematuhi perintah itu?”

Semuanya, ketiga perempuan itu terkejut. Serentak mereka berpaling, dan dilihatnya Ken Umang berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.

“Umang,” berkata Nyai Witantra “Jangan berkata begitu!”

“Kenapa? Bukankah dengan demikian Kakang Witantra tidak akan mendapat kesulitan?”

“Tetapi itu melanggar perikemanusiaan, Umang.”

“Itu adalah tanggung jawab Akuwu. Bukankah Kakang Witantra hanya sekedar melakukan perintah?”

“Ia bahkan harus mencegahnya?” desah ibu Witantra.

“Jadi melawan Akuwu?” bertanya Ken Umang.

Ibu Witantra itu pun terdiam. Nyai Witantra dan pemomong Ken Dedes pun tidak berkata sesuatu. yang terdengar kembali adalah suara Ken Umang itu, “Sekarang Kakang berada dalam kesulitan-kesulitan. Apakah dengan demikian Akuwu menggagalkan niatnya? Bukankah gadis itu dibawa juga ke Tumapel? Nah, kalau Kakang Witantra ikut serta dan mematuhi perintah Akuwu, maka ia tidak akan bersalah. Sebab dengan atau tidak dengan Kakang Witantra, perbuatan itu telah terjadi.”

“Ken Umang,” jawab ibu Witantra “kau benar-benar kurang dapat memahami persoalan ini. Kau seorang gadis pula Umang, yang sebentar lagi tidak sampai tiga tahun kau telah benar-benar menjadi dewasa. Apakah yang akan kau katakan, seandainya peristiwa itu menimpa dirimu?”

“Oh, aku akan berterima kasih. Kalau aku menjadi gadis desa itu, dan diambil oleh seorang pegawai istana, maka aku akan berterimakasih. Aku Akan bangga karenanya. Apa lagi kalau diambil langsung oleh Akuwu sendiri meskipun menjadi seorang selir. Alangkah senangnya. Dan aku menjadi iri hati karenanya.”

“Umang,” potong kakak perempuannya, “apakah kau sedang mengigau?”

“Tidak. Aku berkata sebenarnya. Dan aku ingin menjadi istri Akuwu.”

“Juga kalau kau sudah memiliki pilihan hatimu sendiri.”

“Oh. Jadi gadis itu sudah mempunyai bakal suaminya? Seorang anak Buyut Panawijen, menurut cerita yang aku dengar tadi dari balik dinding. Buat apa harus memberatkan anak pedesaan itu? Bukankah lebih berbahagia hidup di kota setidak-tidaknya daripada menjadi seorang pedesaan yang harus turun ke sawah setiap hari?”

Ibu Witantra mengerutkan keningnya, sedang pemomong Ken Dedes menarik nafas panjang-panjang. Nyai Witantra sendiri menundukkah wajahnya. Kata-kata itu benar-benar merupakan sindiran yang tajam bagi dirinya. Pada masa gadisnya ia pun memiliki idaman seperti adiknya itu. Ia ingin menjadi seorang istri dari orang-orang yang memiliki kebanggaan di hari-hari depannya. Seorang perwira atau. seorang yang kaya raya atau seorang perwira yang kaya raya.

Namun ketika ia telah merasakan kemesraan rumah tangga, maka terasa beberapa perubahan di dalam jiwanya. Terasa betapa ia mencintai suaminya lebih dari segala-galanya. Meskipun seandainya Witantra itu kehilangan semua yang dahulu dikaguminya, dan bahkan yang mendorongnya untuk menerima lamaran Witantra, maka Witantra baginya adalah seorang suami yang baik. Seorang suami yang dicintai dengan sepenuh hati. Karena itu, maka kini ia pun ikut bersedih bersama suaminya.

Namun ia tidak menyesal bahwa suaminya telah menolak perintah itu. Bagaimanakah seandainya dirinya sendiri, tiba-tiba kini harus dipisahkan dengan paksa dari suaminya? Mungkin dahulu ia berpikir seperti adiknya itu, Ken Umang. Tetapi sekarang tidak. Mungkin Ken Dedes telah memiliki perasaan cintanya yang jernih sejak mereka belum berumah tangga seperti cintanya yang sekarang telah tumbuh di dalam dadanya kepada suaminya. Cintanya kepada laki-laki itu. Bukan karena Witantra seorang perwira. Namun keserasian saling mengerti dan isi mengisi dalam hidup mereka sehari-hari telah mengikatnya dalam hidup mereka sehari-hari telah mengikatnya dalam suatu kesetiaan yang belum pernah dimilikinya di masa-masa gadisnya.

Apalagi ketika tiba-tiba ia melihat suaminya itu berada di dalam kesulitan-kesulitan. Kesulitan-kesulitan yang mungkin membahayakan ketenteraman rumah tangganya itu. Ia, Nyai Witantra itu kini sama sekali bukan seorang istri yang melihat bulan yang selalu bersinar terang. Ternyata ia sama sekali bukan seorang pengecut yang lari di kala kesulitan-kesulitan datang. Sifatnya yang berkembang itu bahkan telah mendorongnya untuk ikut serta menanggung apa saja yang akan terjadi atas suaminya. Karena itu tiba-tiba ia berkata,

“Ibu, biarlah aku pergi juga ke istana.”

“He,” ibu Witantra terkejut, “apa yang akan kau lakukan?”

“Aku mempunyai kepentingan dengan Kakang Witantra. Aku ingin melihat apa yang terjadi.”

“Jangan. Kau tidak mendapat perintah untuk menghadap. Mungkin kedatanganmu akan menambah murka Akuwu.”

“Apapun yang akan terjadi. Aku ingin melihat penyelesaian atas Kakang Witantra.”

Ken Umang tiba-tiba memandang wajah kakak perempuannya dengan pandangan penuh penyesalan. Katanya, “Buat apa sebenarnya kau pergi ke sana?”

“Ken Umang. Aku sekarang berpendapat lain daripada masa-masa kanak-kanakku. Aku tidak dapat menerima pikiranmu. Mungkin kau akan mengatakan kepadaku, bahwa biar saja apa yang terjadi dengan Kakang Witantra. Mungkin kau akan mengatakan bahwa aku masih muda. Masih mungkin untuk mendapatkan suami yang lebih baik dari Kakang Witantra. Begitu? Sekarang biarlah Kakang Witantra menerima hukuman atas kesalahannya? Umang, mungkin aku dahulu akan berkata begitu. Tetapi sekarang tidak Umang. Karena itu aku akan pergi.”

“Jangan Nyai,” cegah ibu Witantra, “para penjaga tidak akan mengizinkan kau masuk ke regol dalam halaman istana.”

“Aku istri Kakang Witantra. Para penjaga mengenal siapa aku. Dan karenanya mereka akan mengizinkan aku masuk. Sudah beberapa kali aku masuk ke istana. Akuwu sering benar minta aku masak untuknya.”

“Ya. Tetapi sekarang suamimu sedang dalam persoalan.”

“Justru karena itu ibu. Biarlah aku pergi.”

Ken Umang menjadi semakin heran. Ia tidak dapat mengerti apa yang akan dilakukan oleh kakak perempuannya. Meskipun tuduhan kakaknya atas pikirannya itu terlampau jauh, namun ia tidak membantahnya, sebab sebagian adalah benar. Namun kemudian ia berkata,

“Urusan itu sebenarnya bukan urusanmu. Tunggulah di rumah. Aku tidak menganjurkan kau berkhianat atas suamimu. Namun jangan mengorbankan dirimu tanpa arti.”

“Umang,” wajah Nyai Witantra menjadi merah. Ia menjadi sedemikian marahnya kepada adiknya itu.

Tetapi ibu Witantra segera berkata tenang kepadanya, “Biarkan adikmu itu. Ia adalah seorang gadis yang sedang berkembang. Angan-angannya akan jauh terbang melampaui setiap kenyataan yang dihadapinya. Itulah sebabnya maka kadang gadis yang seumur itu kehilangan keseimbangan.”

“Ah,” desah Ken Umang. Namun ia tidak berani berbantah dengan ibu iparnya. Namun hatinya berteriak lantang, “Ah, orang tua-tua selalu menganggap anak-anak muda sebagai seorang yang sedang menempuh masa pancaroba. Mereka menganggap bahwa kami anak-anak muda selalu tidak waras. Tetapi mereka sendiri telah menenggelamkan dirinya dalam wawasan yang usang.”

Namun ternyata bahwa istri Witantra itu keras hati untuk pergi ke istana . Ia menjadi gelisah benar apabila dikenangnya kata-kata suaminya dan cerita perempuan tua yang dibawa suaminya dari Panawijen. Karena itu maka akhirnya ia tidak dapat ditahan-tahan lagi.

“Kalau kau bersikeras untuk pergi Ngger. Hati-hatilah.”

“Ya, Ibu. Aku akan berusaha untuk menjaga diriku dan mengetahui apa yang akan terjadi dengan Kakang Witantra.”

“Nyai,” tiba-tiba perempuan tua yang sejak tadi berdiam diri mendengarkan setiap pembicaraan itu berkata, “apakah aku diizinkan untuk turut serta masuk ke dalam istana?”

Nyai Witantra dan ibunya terkejut mendengar permintaan itu. Sehingga karena itu mereka bertanya, “Untuk apa Bibi ikut masuk ke dalam istana.”

“Ken Dedes adalah momonganku. Mudah-mudahan aku dapat bertemu dengan gadis itu.”

“Apakah gadis itu dibawa ke istana?”

Pemomong Ken Dedes menjadi bingung. Ia tidak tahu ke mana Ken Dedes dibawa. Tetapi Nyai Witantra itulah yang menjawab, “Ya. Mungkin di istana kau akan mendengar, ke mana gadis itu dibawa. Karena itu, marilah, biarlah Bibi ikut dengan aku.”

Kedua Perempuan itu pun kemudian turun ke halaman dan dalam keremangan ujung malam, mereka berjalan ke istana Akuwu Tumapel.

Dalam pada itu, maka Witantra dan Ken Arok pun telah sampai pula di istana. Di halaman luar mereka menambatkan kuda-kuda mereka. Dengan berjalan kaki memasuki halaman dalam istana Tunggul Ametung. Dada Witantra dan Ken Arok pun menjadi berdebar-debar. Di regol mereka melihat beberapa orang prajurit berjaga-jaga. Ketika mereka melihat Witantra lewat di hadapan mereka, segera mereka membungkukkan badan mereka memberikan hormat.

Dengan langkah yang ragu Witantra kemudian naik ke ruang belakang. Mereka menunggu sesaat sehingga dilihatnya seorang emban lewat di samping mereka. Perlahan-lahan dipanggilnya emban itu dan dengan perlahan-lahan pula Witantra bertanya,

“Apakah Akuwu sudah siap menerima kedatanganku dan Adi Ken Arok.”

Emban itu memandangi Witantra dengan herannya. Kemudian katanya, “Apakah Akuwu akan mengadakan pertemuan malam ini?”

Witantra mengerutkan keningnya, katanya, “Di mana Akuwu sekarang?”

“Di dalam biliknya,” sahut emban itu.

“Jangan asal menjawab saja, Akuwu memanggil aku dan Adi Ken Arok.”

Emban itu menggeleng, “Aku tidak tahu.”

“Siapakah pelayan dalam yang sedang bertugas hari ini?” bertanya Ken Arok.

Emban itu menggeleng, “Aku belum tahu namanya.”

“Tolong. Panggilkan sebentar kemari.”

Emban itu memandang Witantra dengan penuh keheranan. Ia tidak mendapat perintah untuk membersihkan ruang pertemuan kecil di dalam istana di saat-saat khusus. Dan ternyata Akuwu pun tidak berada di ruang palenggahan. Tetapi sejak mandi, Akuwu langsung masuk kembali ke dalam biliknya. Sehingga para pelayan yang menunggu perintahnya menjadi bingung. Sebab bukanlah kebiasaan Akuwu berbuat demikian. Sesaat kemudian datanglah seorang pelayan dalam mendekati Witantra. Dengan hormatnya ia membungkukkan ke palanya sambil bertanya,

“Adakah sesuatu yang dapat aku kerjakan, Kakang Witantra.”

“Kami berdua dipanggil Akuwu.”

“Oh,” sahut orang itu, “marilah silakan masuk. Tetapi Akuwu tampaknya tidak sedang menunggu seseorang. Bahkan Akuwu agaknya menjadi sangat lelah sehabis berburu sehari ini.”

“Terima kasih,” Witantra tidak menunggu lebih lama. Langsung ia masuk ke ruang dalam istana dan duduk di ruang dalam, yang biasa dipakai oleh Akuwu untuk mengadakan pertemuan-pertemuan khusus.

Tetapi Witantra benar-benar menjadi heran. Ruangan itu masih terlalu gelap dan tidak sehelai tikar pun yang telah terbentang. Bahkan batu hitam, yang biasa dipakai duduk Akuwu pun masih dikerukup dengan sebuah kain putih.

“Aku tidak tahu, apakah yang terjadi dengan Akuwu,” desis Witantra.

“Akuwu telah berbuat di luar sadarnya,” sahut Ken Arok, “hari ini Akuwu benar-benar seperti orang yang sedang kebingungan.”

Witantra mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Ternyata bukan Akuwu saja. Kita semua telah menjadi bingung pula karenanya.”

“Itu adalah akibat perbuatan Akuwu Tunggul Ametung. Kalau kita bersama-sama ini merupakan tubuh dari seekor ular, maka Akuwu adalah kepala ular itu. Apabila kepalanya menjadi bingung, maka seluruh tubuhnya akan kebingungan pula.

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya,” sahutnya pendek.

Merekapun kemudian terdiam. Namun di dalam kepala mereka seakan-akan terdapat sebuah baling-baling yang berputar. Bingung. Mereka tidak tahu apakah yang sebenarnya terjadi dan akan terjadi. Mereka semula menyangka, bahwa mereka akan datang ke istana dan akan ditemuinya para prajurit telah bersiap di setiap sudut halaman dan ruangan. Mereka menyangka bahwa Akuwu telah siap pula menunggu mereka dengan murkanya dan langsung memerintahkan menangkap mereka. Tetapi yang mereka jumpai adalah ruangan yang kosong, gelap dan benar-benar membingungkannya. Para pengawal pun tidak lebih dari para pengawal yang biasa bertugas di tempat masing-masing.

Ketika mereka menunggu beberapa lama, Akuwu masih belum juga keluar ke ruangan itu, dan bahkan pelita yang menyala itu pun tidak ditambah, maka Witantra akhirnya tidak sabar lagi. Kemudian ia berdiri dan memanggil seorang juru panebah. Katanya,

“Sampaikanlah kepada Akuwu, bahwa Witantra dan Ken Arok telah siap menghadap di balai dalam.”

Juru panebah itu menjadi bingung. Jawabnya, “Akuwu sedang tidur. Apakah tuan berdua tidak saja menghadap besok pagi?”

“Jangan ribut! Sampaikan kepada Akuwu. Akuwu memanggil kami berdua.”

Panebah itu mengangguk hormat, kemudian tanpa berkata sepatah kata pun ia berjalan ke bilik Akuwu. Tetapi sampai di muka pintu ia sama sekali tidak berani masuk ke dalamnya. Hilir mudik ia berjalan. Mudah-mudahan Akuwu mendengarnya dan memanggilnya. Dan ternyata harapannya itu benar-benar terjadi. Dengan suara serak terdengar Akuwu bertanya,

“He, siapa itu?”

“Hamba Tuanku,” sahut juru panebah itu. Perlahan-lahan ia menghampiri pintu dan kemudian duduk bersila di luar tirai.

“Ada apa?” bertanya Tunggul Ametung.

“Ada yang ingin menghadap Tuanku.”

“He? Gila. Suruh dia pergi. Cepat! Aku tidak mau menerima seorang pun. Apa disangkanya besok sudah akan kiamat?” teriak Tunggul Ametung itu.

Juru panebah itu menjadi ragu-ragu. Namun dengan tergagap ia berkata, “Ampun Tuanku. Menurut mereka, ternyata mereka telah Tuanku panggil menghadap.”

“He?” suara Akuwu itu pun menjadi lunak, “Siapa mereka?”

“Tuan Witantra dan Ken Arok.”

“Oh. Ya. Ya. Hampir aku lupa. Aku memang telah memanggil mereka itu,” sahut Tunggul Ametung.

Juru panebah itu menarik nafas lega. Ia surut ke belakang ketika didengarnya Akuwu bangkit dari pembaringannya dan berjalan keluar.

“Di manakah mereka sekarang?” bertanya Akuwu itu.

Juru panebah itu menyembah. Jawabnya “Di balai paseban dalam, Tuanku.”

Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi keningnya kemudian berkerut, “Apakah tempat itu sudah kau sediakan?”

“Belum Tuanku. Hamba belum menerima perintah Tuanku.”

Akuwu itu pun berpikir sejenak. Kemudian katanya, “Panggil mereka kemari! Aku akan menerima mereka di ruang dalam.”

Panebah itu menjadi heran. Adalah bukan kebiasaan akuwu menerima seseorang di ruang itu. Tetapi ia tidak berani bertanya apapun. Perlahan-lahan ia berkisar, dan setelah menyembah, maka segera ia pergi ke balai dalam untuk memanggil Witantra dan Ken Arok ke ruangan di muka bilik Akuwu itu.

Witantra dan Ken Arok pun menjadi heran. Kembali mereka menjadi curiga. Apakah di ruangan itu telah bersedia beberapa orang prajurit yang akan menangkap mereka? Tetapi mereka tidak dapat berbuat lain daripada datang menghadap Akuwu. Kembali mereka terkejut, ketika ruangan itu benar-benar kosong. Tak seorang pun yang dilihatnya berada di tempat itu. Karena itu maka segera mereka pun pergi ke sudut ruangan dan duduk di atas sehelai tikar yang telah direntangkan.

Sesaat kemudian mereka mendengar suara akuwu terbatuk-batuk. Dan kemudian mereka melihat Akuwu Tunggul Ametung keluar dari dalam biliknya. Witantra dan Ken Arok segera menundukkan wajah mereka dengan hormat menyembah akuwunya.

“Apakah kalian telah lama menunggu?” bertanya akuwu itu.

“Belum Tuanku,” sahut Witantra.

Akuwu Tunggul Ametung berjalan perlahan-lahan mendekati mereka, dan di luar dugaan Witantra dan Ken Arok, maka Akuwu itu duduk di tikar yang sehelai itu pula. Witantra dan Ken Arok menjadi bingung. Mereka segera beringsut ke belakang sehingga mereka tidak lagi duduk di atas tikar itu.

“Jangan menjadi segan. Duduklah sebaik-baiknya.”

“Tetapi …”

“Tidak apa-apa,” potong Tunggul Ametung.

Witantra dan Ken Arok benar-benar menjadi heran melihat sikap akuwu itu. Demikian juga juru penebah yang duduk di kejauhan, di tangga ruangan itu untuk menunggu perintah akuwu. Tetapi juru panebah itu tiba-tiba terkejut ketika akuwu itu berteriak

“Pergi! Pergi! Kau mau apa duduk di situ?”

Juru panebah itu menjadi semakin heran. Meskipun demikian ia pergi juga. Ia tidak tahu, kenapa ia harus pergi, sebab setiap hari ia sendiri atau kawannya yang sedang bertugas, selalu duduk di tangga itu untuk menanti perintah akuwu setiap saat. Namun ia tidak mau memikirkan lagi. Dengan lesu ia melangkah ke sudut istana.

Dua orang pelayan dalam yang bertugas di tempat itu segera bertanya, “He, kenapa kau datang kemari?”

Juru panebah itu kemudian duduk pula di antara mereka sambil bersungut-sungut, “Akuwu sedang menjadi bingung. Aku diusirnya dari tempat itu.”

“Dari mana?”

“Dari tangga ruang dalam.”

Kedua pelayan dalam itu tertawa, “Apakah kau tidak dapat mencari tangga yang lain, dan duduk di sana?”

Juru panebah itu memandang kedua pelayan dalam itu dengan wajah yang gelap. Jawabnya, “Kau sangka hidupku hanya berurusan dengan tangga-tangga saja?”

Kembali kedua pelayan dalam itu tertawa. Tetapi mereka tidak mau mengganggu juru panebah itu lagi.

Di ruangan dalam, di hadapan bilik Akuwu Tunggul Ametung, Witantra dan Ken Arok duduk bersila sambil menundukkan wajah mereka dalam-dalam. Akuwu Tunggul Ametung sendiri duduk beberapa jengkal saja di hadapan mereka.

“Witantra,” berkata Tunggul Ametung itu kemudian, “kenapa kau tadi siang tidak mau melakukan perintahku?”

Witantra menjadi berdebar-debar. Ia sudah menyangka bahwa ia akan menerima pertanyaan itu. Namun ia tidak menyangka bahwa nada pertanyaan itu sedemikian lunaknya. Disangkanya Akuwu Tunggul Ametung akan membentaknya dan menuding hidungnya sambil memerintahkan beberapa orang prajurit untuk menangkapnya. Kini ia harus menjawab pertanyaan itu. Dan ia tidak dapat berkata melingkar-lingkar. Ia harus mengemukakan alasan sebenarnya. Kenapa ia tidak dapat turut saja melakukan penculikan itu. Maka katanya kemudian,

“Tuanku. Hamba tidak sampai hati untuk ikut serta berbuat sedemikian terhadap seorang gadis.”

“Kenapa?”

“Tuanku. Bukankah dengan demikian berarti bahwa kita sudah tidak lagi menghargai sesama? Dan bukankah dengan demikian kita sudah merusakkan kemanusiaan?”

“Tetapi, bukankah menjadi kewajibanmu untuk melakukan setiap perintahku?”

“Hamba Tuanku. Hamba dihadapkan pada kewajiban yang bertentangan dengan perasaan hamba. Dan bukankah hamba juga mempunyai kewajiban yang lain? Kewajiban untuk menegakkan kemanusiaan dan melindungi sesama? Tuanku. Hari ini hamba benar-benar merasa bahwa hidup hamba benar-benar tak berarti.”

“Kenapa?”

“Hamba sama sekali tidak dapat melakukan kewajiban hamba keduanya. Tidak dapat melakukan kewajiban hamba sebagai seorang prajurit, karena hamba tidak melakukan perintah Akuwu, namun hamba juga tidak dapat melakukan kewajiban kemanusiaan itu.”

Akuwu tidak segera menyahut. Direnungkannya kata-kata Witantra itu dan dicernakannya di dalam hatinya. Ruangan itu sesaat menjadi sepi. Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalannya, sedang Witantra dan Ken Arok menundukkan wajahnya, menatap anyaman tikar pandan yang bersilang-silang.

Tunggul Ametung mencoba sebali lagi membayangkan apa saja yang sudah terjadi hari itu atasnya. Pagi-pagi Kuda Sempana datang menghadap kepadanya. Memberitahukan bahwa ia tidak sependapat apabila mereka pergi berburu ke barat. Sebab ia tidak berani melewati padukuhan Panawijen setelah hatinya dilukai oleh Empu Purwa, ayah Ken Dedes. Kuda Sempana ditolak karena ia seorang pelayan dalam. Bukan karena ia seorang pelayan dalam, tetapi karena pelayan dalam seorang akuwu saja.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar