“Hem,” Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Ia telah dengan tergesa-gesa menelan saja kata-kata Kuda Sempana itu. Tetapi apakah yang dilihatnya di Panawijen sama sekali bukannya seperti yang dikatakan oleh Kuda Sempana. Bukan seperti yang dikatakan bahwa ia sama sekali tidak ingin lagi memiliki gadis itu. Bukankah Ken Dedes hanya seorang gadis desa saja? Tetapi yang dilihat oleh Akuwu adalah gadis itu sama sekali tidak senang melihat kehadiran Kuda Sempana. Dan bahwa seorang anak muda telah mempertahankan dengan sekuat tenaganya meskipun di hadapannya berdiri beberapa orang prajurit yang melingkari mereka. Bukan itu saja. Di sepanjang jalan pulang pun mereka bertemu dengan seorang anak muda pula, yang menurut Kuda Sempana adalah kakak gadis itu.
Gambaran-gambaran itu hilir mudik kembali di dalam kepala. Dicobanya untuk mencari kesimpulan, apakah Kuda Sempana berkata sebenarnya, atau telah menjebaknya dalam tindak kekerasan yang memalukan.
Akuwu itu pun kemudian menarik nafasnya dan berkata “Ken Arok, bagaimana pendapatmu tentang peristiwa yang terjadi itu?”
“Hamba menyesal Tuanku.”
“Apakah yang kau sesalkan?”
“Bahwa peristiwa itu telah terjadi.”
Akuwu mengernyitkan alisnya. Kemudian kepada Witantra dan Ken Arok itu diceritakan olehnya, apa yang didengarnya dari Kuda Sempana dan apa yang telah mendorongnya untuk melakukan perbuatan itu.
Witantra menggigit bibirnya untuk menahan gejolak hatinya sedang Ken Arok tergeser surut. Diangkatnya wajahnya dan ditatapnya wajah Akuwu sesaat. Namun kembali Ken Arok menundukkan wajahnya. Terasa sesuatu bergetar di dalam hatinya dan dengan tiba-tiba saja ia merasa menjadi semakin kecewa terhadap Tunggul Ametung. Akuwu itu benar-benar seorang yang aneh. Sekarang semuanya telah terjadi. Setiap orang di Panawijen dan seterusnya setiap orang di Tumapel akan menyebut namanya sebagai seorang yang telah merusakkan hidup sepasang anak muda dan melukai hati segenap penduduk Panawijen.
Tetapi Tunggul Ametung itu pun ternyata menyesal pula di dalam hatinya. Disesalinya pula wataknya yang agak terlalu tergesa-gesa menentukan suatu sikap. Ia dapat berbuat demikian di dalam istananya tanpa akibat yang dapat mencelakakan orang lain. Ia dapat berbuat demikian untuk hal-hal yang kecil. Tetapi untuk hal yang penting seperti peristiwa ini adalah benar-benar menyesatkan.
Dengan suara parau maka Akuwu itu berkata, “Witantra dan Ken Arok. Bagaimanakah pendapatmu tentang gadis itu?”
Mereka menggelengkan kepala mereka. Dan Witantra menjawab, “Apakah yang akan Tuanku perbuat?”
Akuwu memandang Witantra dengan tajamnya. Tetapi ia tidak segera dapat menjawab. Sekali-kali dipandanginya tubuh Witantra yang tegap kuat. Seorang prajurit yang mengagumkan. Seorang prajurit yang baik, yang tidak pernah mengabaikan tugasnya. Namun ia terpaksa menolak perintahnya, karena ia tidak dapat dipaksa untuk mengkhianati kemanusiaan. Tetapi sebagaimana dikatakannya sendiri ia telah gagal melakukan kewajibannya. Kewajibannya sebagai seorang prajurit dan kewajiban kemanusiaan.
Sedang di sampingnya duduk seorang pelayan dalam yang belum lama berada di dalam istana. Namun orang itu benar telah mengejutkan akuwu. Ketika dilihatnya ia bertempur melawan Mahisa Agni, maka tampaklah betapa ia mampu berbuat sebagai seorang prajurit yang baik. Melampaui Kuda Sempana. Bahkan tangannya telah membunuh seorang prajurit dengan sebuah pukulan. Meskipun mula-mula Ken Arok tidak melawan perintahnya, bahkan mencoba melakukannya namun ternyata bahwa desakan hatinya telah membuatnya berbuat sebaliknya. Bahkan telah dibunuhnya seorang prajurit di hadapannya. Di hadapan seorang akuwu.
Tetapi Mahisa Agni itu pun telah menarik perhatiannya. Ia adalah seorang anak pedesaan. Namun memilik caranya berkelahi, maka ia bukanlah anak pedesaan kebanyakan. Dalam berbagai perasaan dan angan-angan itu, maka terluncurlah kata-kata Akuwu,
“Witantra, apakah kau melihat seseorang yang telah dilukai Kuda Sempana?”
“Ya,” jawab Witantra pendek.
“Siapakah dia?”
“Anak muda itulah bakal suami Ken Dedes.”
Akuwu Tumapel menganggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Besok panggillah dia kemari!”
Witantra dan Ken Arok mengangkat wajahnya bersama-sama. Mereka saling berpandangan dan di dalam hati mereka terdengarlah sebuah pertanyaan, “Apakah Akuwu belum tahu bahwa anak muda itu telah mati?”
Akuwu memandang kedua orang itu dengan heran. Karena itu maka katanya, “Kenapa?”
“Tuanku,” jawab Witantra dengan nada yang rendah, “anak muda bakal suami Ken Dedes yang bernama Wiraprana, putra Buyut Panawijen itu telah meninggal dunia.”
“He?” akuwu ternyata terkejut mendengar berita itu, “Jadi anak itu mati?”
Witantra menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya, Tuanku. Anak itu mati.”
“Jadi Kuda Sempana telah membunuhnya?”
“Ya.”
“Setan Kuda Sempana itu!” desis Akuwu Tunggul Ametung.
“Tetapi ia sendiri pasti tidak akan berani berbuat begitu Tuanku.”
“Oh,” Tunggul Ametung menundukkan wajahnya. Perlahan-lahan terdengar ia berkata, “Ya. Aku tahu maksudmu. Bukankah kau ingin mengatakan bahwa kesalahan itu terletak padaku. Bukankah aku telah melindunginya untuk melakukan kejahatan itu.”
Witantra dan Ken Arok tidak menyahut. Sesaat mereka berdiam diri, dan dibiarkan Akuwu Tunggul Ametung tenggelam dalam penyesalan.
Kemudian terdengar Akuwu itu berkata, “Witantra dan Ken Arok. Aku maafkan segala kesalahanmu. Aku lupakan kata-kataku dan ancamanku. Meskipun telah terucapkan oleh seorang akuwu untuk menghukum kau Witantra, namun ucapan itu meluncur dalam ketidakwajaran ingatanku.”
Witantra dan Ken Arok menundukkan wajahnya dalam-dalam sambil menjawab “Terima kasih Tuanku.”
Namun di dalam hati mereka tebersitlah suatu pertanyaan “Bagaimanakah kalau hukuman itu telah terlanjur jatuh atas Witantra?”
“Dan sekarang Witantra, apakah yang harus aku lakukan atas Kuda Sempana?”
Witantra mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Tuanku, semua ini adalah akibat dari kelicikannya, sehingga Akuwu Tunggul Ametung terseret dalam perbuatan tercela. Karena itu, maka hukuman yang diberikan kepadanya adalah hukuman yang harus sesuai dengan perbuatannya. Karena perbuatannya pula maka sebuah jiwa yang melayang, dan sebuah hati telah pecah berkeping-keping. Apakah yang dapat ditemukan kembali dalam hidup seorang gadis seperti Ken Dedes itu?”
“Ya. ya,” jawab Tunggul Ametung terbata-bata, “Aku sependapat. Tetapi Witantra. Aku adalah seorang Akuwu. Sudah tentu aku tidak dapat menjilat ludah kembali tanpa alasan. Aku telah menyetujui, bahkan mengantar Kuda Sempana sendiri mengambil gadis itu ke Panawijen. Sekarang, apakah aku dapat menghukum Kuda Sempana karena perbuatannya itu. Bukankah dengan demikian hukuman itu pun pantas jatuh atasku pula?”
Witantra dan Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Kata-kata akuwu itu dapat dimengertinya. Apakah dengan demikian, maka orang akan semakin menjadi kecewa atas perbuatan-perbuatan akuwu yang seakan-akan sama sekali tidak bertanggung jawab. Namun sudah tentu bahwa mereka tidak akan membiarkan Kuda Sempana mengambil Ken Dedes. Sebab dengan demikian mereka akan membiarkan sebuah kebiadaban berlangsung. Bukankah dengan demikian maka Ken Dedes akan menjadi bertambah parah. Dan bukankah Ken Dedes akan kehilangan segala-galanya. Bahkan tubuhnya sendiri seakan-akan tak dimilikinya, karena tubuhnya itu harus diserahkannya kepada Kuda Sempana tanpa kehendaknya.
Ruangan itu menjadi sepi sesaat. Masing-masing mencoba mencari kemungkinan yang sebaik-baiknya ditempuh. Angin malam di luar istana terdengar gemeresik mengusap dinding dan dedaunan. Di kejauhan terdengar jangkrik memekik-mekik seolah-olah memanggil-manggil. Sekali-kali angin yang kencang menolak daun-daun pintu yang sudah terkatup.
Dalam keheningan itu kemudian terdengar suara Witantra, “Tuanku. Hukuman yang pertama yang harus dijatuhkan kepada Kuda Sempana adalah melepaskan Ken Dedes dari tangannya.”
“Ya. ya,” sahut Akuwu Tumapel, “Aku sependapat. Tetapi kepada siapa gadis itu harus di serahkan. Ia telah kehilangan seseorang yang akan dapat dijadikannya pegangan buat masa-masa depannya. Bakal suaminya itu telah mati.”
“Bukankah ia masih mempunyai ayah dan ibu?” bertanya Ken Arok.
Witantra menggeleng. Katanya, “Dari Mahisa Agni aku pernah mendengar, bahwa gadis itu tidak beribu lagi.”
“Oh,” sahut Ken Arok, “kalau demikian kepada ayahnya.”
“Ayahnya adalah seorang pendeta,” berkata Witantra.
Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Tiba-tiba terbayanglah kembali wajah gadis itu. Putih pucat dan ketakutan, sehingga tiba-tiba ia menjadi pingsan. Terbayang kembali betapa lekuk-lekuk di wajahnya telah memahatkan sebuah bentuk yang seindah-indahnya yang pernah dilihatnya. Dan betapa ia terpesona oleh cahaya yang seakan-akan memancar dari tubuh gadis itu. Namun cahaya itu sama sekali tidak pernah dapat dipandangnya. Cahaya itu seakan-akan lenyap apabila ia berusaha melihatnya. Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Apakah yang dapat dilakukannya kemudian? Mengembalikan gadis itu? Atau apa?
Tunggul Ametung tiba-tiba menjadi pening. Dan karena itu ia berkata, “Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang sebaiknya aku lakukan. Tetapi gadis itu pasti tidak akan aku serahkan kepada Kuda Sempana.” Namun kemudian perlahan-lahan Akuwu Tumapel itu berkata, “Tetapi apakah alasanku?”
“Tuanku,” berbisik Witantra kemudian, “Kuda Sempana mengambil gadis itu dengan kekerasan. Sehingga menuntut penilaiannya, maka kekerasan akan menentukan segalanya atas gadis itu. Karena itu, maka harus terpancang pula di dalam dadanya, bahwa ia harus dapat mempertahankan gadis itu. Itu pula atas kekerasan.”
“Maksudmu?” bertanya Tunggul Ametung cepat-cepat.
“Ken Dedes akan aku ambil dengan kekerasan.”
“He?” Akuwu itu pun terbelalak, “bagaimana dengan istrimu?”
Witantra tersenyum, “Bukan untuk aku sendiri. Istriku tidak kalah cantiknya dari gadis itu. Tetapi barangkali aku akan dapat membuat alasan lain.”
Ken Arok menarik alisnya tinggi-tinggi. Ia belum melihat gadis itu dengan jelas. Ia baru melihat Ken Dedes sepintas, dalam kekisruhan yang tidak menentu. Karena itu ia belum dapat menilai kecantikannya. Namun tak diingkarinya bahwa gadis itu memang cantik sekali.
Dalam pada itu Witantra berkata pula, “Akuwu. Ternyata apa yang terjadi telah menghancurkan hari depan gadis itu. Karena itu maka sebaiknya Akuwu mempertimbangkan, apakah Akuwu dapat berbuat sesuatu yang dapat sedikit menghiburnya buat masa yang akan datang.”
Akuwu Tunggul Ametung mengangkat wajahnya. Tiba-tiba nafasnya menjadi berangsur cepat dan keringatnya mengalir dari segenap lubang-lubang kulitnya. Dengan nada yang rendah dan ragu-ragu ia bertanya,
“Bagaimana maksudmu Witantra?”
“Maksudku Akuwu, apabila mungkin maka Akuwu akan dapat memberi sedikit hiburan kepada gadis itu. Kalau dikehendaki oleh gadis itu, biarlah Akuwu mengambilnya menjadi menantu. Akuwu dapat memandang salah seorang hamba Akuwu yang dapat Akuwu timbang, sesuai dengan gadis itu. Sudah tentu atas kerelaan Ken Dedes sendiri. Dengan demikian maka apabila Akuwu berhasil, maka sedikit banyak Akuwu akan dapat meringankan penderitaannya meskipun tidak akan dapat ganti seperti yang hilang itu baginya. Dalam hal ini biarlah Ken Dedes memilih sendiri atas orang-orang yang Akuwu tunjukkan kepadanya. Mungkin dengan demikian maka penderitaan hatinya akan dapat diringankan, karena bakal suaminya terbunuh oleh Kuda Sempana itu.”
“Kalau demikian Witantra, dalam waktu yang pendek kau masih belum menemukan alasan untuk itu. Untuk mengambilnya dengan kekerasan. Sedang dalam waktu yang singkat Kuda Sempana pasti sudah akan datang mengambilnya. Mungkin besok, lusa atau bahkan nanti malam.”
“Bukan soal yang sulit bagi Akuwu. Biarlah Akuwu memerintahkan kepadanya, supaya gadis itu tetap di istana.”
Akuwu mengerutkan keningnya. Alasan itu akan dapat dikemukakan. Tetapi harus dicarinya seorang laki-laki yang berkenan d hati Ken Dedes. Baru Witantra akan merebut gadis itu atas namanya.
Akuwu itu menggelengkan kepalanya, “Terlalu lama Witantra. Terlalu lama. Belum pasti nama itu akan disetujui oleh Ken Dedes. Baru setelah mendapat nama yang tepat dan disetujui oleh gadis itu kau berbuat untuknya.”
Witantra tidak menjawab. Tetapi ia memandang Ken Arok dengan sudut matanya. Kalau Ken Arok mau menyebut dirinya, bahkan mau berbuat untuk dirinya, maka dalam takaran Witantra maka Ken Arok pun memiliki kemampuan yang dahsyat. Sebab dengan tangannya ia mampu membunuh seorang prajuritnya dalam satu ayunan.
Ken Arok masih saja menundukkan wajahnya. Ia tidak berani berkata apapun juga, sebab ia pun belum juga beristri. Kalau Akuwu nanti menunjuknya maka akan kisruhlah hatinya. Ia sama sekali belum ingin berumah tangga mengingat keadaan dirinya dan hidupnya yang baru saja dibinanya. Ketika terasa olehnya Witantra dan Akuwu Tunggul Ametung memandanginya, maka Ken Arok segera menunduk dalam-dalam.
Dalam pada itu tiba-tiba Witantra berkata “Akuwu sekarang biarlah aku berbuat untuk siapa saja. Apabila ternyata nanti Ken Dedes tidak bersedia maka biarlah Ken Dedes menentukan nasibnya sendiri, tetapi ia sudah bukan milik Kuda Sempana lagi.”
Akuwu Tunggul Ametung menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Sekehendakmulah Witantra. Asal gadis itu dapat kau bebaskan dari Kuda Sempana dengan alasan yang dapat dimengerti oleh beberapa orang yang mengetahui persoalannya, terutama para prajurit yang ikut serta ke Panawijen pada saat Kuda Sempana mengambilnya.”
“Baik Tuanku,” wajah Witantra itu menjadi merah karena perasaan yang aneh di dalam dadanya.
Meskipun gadis itu bukan sanak bukan kadang, tetapi ia merasa bahagia apa bila ia akan dapat melepaskannya dari tangan Kuda Sempana. Ia sudah sedikit mendengar apa saja yang pernah dilakukan Kuda Sempana atas Ken Dedes dari Mahisa Agni, yang dahulu disangkanya Wiraprana. Dalam pada itu Witantra meneruskan,
“Mungkin akan dapat meminjam nama Adi Ken Arok. Bukankah Adi masih belum berkeluarga pula?”
“Jangan. Jangan,” seperti disengat lebah Ken Arok menolak, “Jangan Kakang.”
“Tidak. Adi tidak harus bersungguh-sungguh.”
“Aku takut.”
Witantra memandang Ken Arok itu tajam-tajam. Kenapa ia takut? Tetapi Witantra kemudian tersenyum. Disangkanya Ken Arok takut apabila namanya dihubungkan dengan seorang gadis, dan apabila pada saat yang dekat ia benar-benar harus berumah tangga. Karena itu Witantra menjelaskan,
“Adi tidak perlu takut untuk melaksanakannya. Aku hanya akan berkata kepada Kuda Sempana. Atas nama Adi Ken Arok yang juga menginginkan gadis itu, maka aku rebut Ken Dedes dengan kekerasan, seperti pada saat Kuda Sempana mengambilnya. Tetapi kemudian bukankah dapat diumumkan pula, misalnya, karena Ken Dedes tidak bersedia kawin dengan Ken Arok, maka gadis itu dikembalikan ke rumahnya kepada kakak dan ayahnya.”
“Jangan. Jangan hubungkan namaku dengan gadis itu.”
Sekali lagi Witantra tersenyum. Tetapi ia tidak melihat, apakah sebenarnya yang bergolak di hati Ken Arok. Setiap ia mendengar nama seorang gadis, maka dadanya menjadi berdebar-debar. Ia merasa dikejar-kejar oleh kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Sebagai hantu di padang-padang rumput dan di hutan-hutan. Bahkan di mana saja daerah-daerah yang pernah dijelajahi, maka ia telah berbuat hal-hal yang mengerikan atas gadis-gadis yang ditemuinya. Karena itulah, maka setiap kali ia mengingatnya, maka setiap kali ia menjadi ketakutan. Apalagi ketika ia melihat bagaimana Kuda Sempana melarikan gadis Panawijen itu. Maka hampir kepercayaannya kepada semua orang menjadi pudar. Apa yang dilakukan Kuda Sempana mirip dengan apa yang pernah dilakukan. Namun caranyalah yang berbeda. Cara yang ditempuh adalah cara hantu ladang dan padang.
Penolakan Ken Arok itu ternyata mendorong Akuwu untuk berbuat di luar dugaan. Di luar dugaan Witantra dan di luar dugaan Ken Arok, tiba-tiba saja dalam kegelapan nalar, Akuwu itu berkata,
“Baiklah, kalau tak ada nama yang kau pergunakan, pergunakanlah namaku. Akuwu Tunggul Ametung.”
Kata-kata Akuwu Tunggul Ametung itu benar-benar mengejutkan Witantra dan Ken Arok. Sehingga dengan serta-merta Witantra berkata, “Jangan Tuanku. Adalah kurang baik apa bila Akuwu sendiri yang akan mengambilnya. Meskipun hanya sekedar untuk menyingkirkan Kuda Sempana. Gadis itu adalah gadis pedesaan, dan kurang sepantasnyalah apabila nama Akuwu dihubungkan dengan namanya.”
“Biarlah. Biarlah kau pakai namaku. Aku telah merusakkan masa depan gadis itu. Seandainya dengan demikian namaku menjadi susut, bukankah itu hukuman yang harus aku alami karena perbuatan yang terkutuk itu. Biarlah orang menyangka bahwa Tunggul Ametung telah menculik gadis dari padukuhan Panawijen. Biarlah orang yang tidak melihat dan mengetahui apa yang terjadi menuduhku berbuat demikian. Adalah lebih baik bagiku daripada aku telah melindungi orang untuk menculik seorang tanpa pertimbangan. Kalau orang menyebutkan langsung menculik gadis itu, maka orang akan mengutukku sebagai seorang laki-laki yang tidak berperasaan dan sebagai seorang Akuwu yang sewenang-wenang. Namun adalah menjadi tanggung jawabku pula apabila seseorang berkata, Kuda Sempana telah menculik seorang gadis atas perlindungan Akuwu.
Adalah lebih baik, apabila aku berbuat sewenang-wenang karena terdorong oleh kebutuhanku sendiri. Kebutuhan hidup seorang Akuwu, daripada aku berbuat hal yang sama, sewenang-wenang untuk melindungi orang-orangku. Dengan menyebut bahwa Ken Dedes telah aku perlukan sendiri, adalah memperkuat alasanku untuk berbuat sewenang-wenang. Adalah lebih mungkin aku lakukan daripada sekedar melindungi Kuda Sempana.”
Witantra menggeleng-gelengkan kepalanya. Ternyata Akuwu Tunggul Ametung telah benar-benar kebingungan oleh kejaran penyesalannya. Sehingga karena itu maka Witantra berkata,
“Tuanku, alasan itu hanya diberikan kepada Kuda Sempana. Tidak kepada siapa pun juga. Sehingga apa yang terjadi kemudian hanyalah Kuda Sempana yang akan tahu.”
“Tidak. Tidak,” berkata Akuwu itu lantang, “tidak hanya untuk Kuda Sempana. Besok semua orang Tumapel harus tahu, bahwa Akuwu Tunggul Ametung telah merampas seorang gadis putri seorang pendeta di Panawijen, karena Akuwu jatuh cinta kepada gadis itu. Biarlah semua orang mengutukku, dan biarlah semua orang membenci aku.”
“Akuwu,” potong Witantra.
“Perintah! Kau dengar?” teriak Akuwu Tunggul Ametung, “Ini perintahku. Apakah kau akan mengingkari perintahku lagi?”
Witantra dan Ken Arok mengusap dadanya. Apabila sudah demikian maka Akuwu telah kehilangan nalarnya yang bening. Sulitlah untuk mencoba memperbincangkan suatu keputusan. Karena itu, maka mereka hanya dapat berdiam diri. Persoalan itu telah bergeser dari maksud Witantra semula. Namun Witantra dapat juga mengerti jalan pikiran Akuwu Tunggul Ametung. Akuwu akan mengangkat persoalan itu dengan menengadahkan dadanya, meskipun dengan demikian telah dikorbankan namanya. Bukankah Akuwu dapat mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa Kuda Sempana telah menipunya dan memberikan laporan palsu? Tetapi rupa-rupanya Akuwu benar-benar telah disiksa oleh penyesalan yang tak berhingga, sehingga dengan demikian ia bermaksud menghukum diri sendiri.
Dalam pada itu Akuwu itu berkata pula, kali ini perlahan-lahan, “Witantra, pergilah kepada Kuda Sempana. Katakan kepadanya, bahwa Ken Dedes dikehendaki sendiri oleh Akuwu Tunggul Ametung. Kalau ia tidak rela, berbuatlah atas namaku. Kali ini aku tidak akan mempergunakan kekuasaan. Tetapi aku minta kepadamu sebagai seorang sahabat untuk mewakili aku. Kalau Kuda Sempana menghendaki, biarlah kau mengadakan sayembara tanding dengannya. Kalau kau tidak bersedia, aku tidak memaksa. Ini bukan perintah seorang Akuwu. Sudah aku katakan, aku tidak akan mempergunakan kekuasaan. Kalau tak ada seorang pun yang akan mewakili Tunggul Ametung, biarlah Tunggul Ametung sendiri yang maju ke arena.”
“Jangan Tuanku. Jangan Tuanku sendiri. Biarlah hamba yang melakukannya. Tidak perlu di muka umum. Dapat hamba lakukan di tempat tertutup. Kecuali Kuda Sempana menghendaki.”
“Terima kasih. Nah, pergilah. Sampaikan maksud itu kepada Kuda Sempana.”
“Hamba Tuanku.”
Kemudian perintahnya kepada Ken Arok, “Arok, kau pergi bersama Witantra. Kau pun harus berusaha supaya semua orang Tumapel mendengar, bahwa Akuwu Tunggul Ametung telah menculik seorang gadis untuk permaisurinya.”
“Hamba Tuanku,” sahut Ken Arok.
“Nah sebelum pergi, panggilkan Daksina.”
Ken Arok keran mendengar perintah itu. Apakah hubungannya peristiwa ini dengan Daksina. Anak-anak yang belum genap berumur lima belas tahun itu. Ketika Ken Arok masih memandanginya saja dengan heran, maka Akuwu itu pun membentak,
“Panggil Daksina! Kau dengar?”
“Ya, ya Tuanku,” sembah Ken Arok.
Namun kepalanya menjadi pening memikirkan tingkah laku Akuwu itu. Setelah bergeser beberapa langkah, maka Ken Arok pun kemudian sambil berjongkok meninggalkan ruangan itu dan turun lewat tangga samping memanggil seorang anak muda yang bernama Daksina. Daksina, seorang anak dari seorang pelayan istana, seorang juru dang, terkejut mendengar panggilan Akuwu di malam hari itu. Karena itu ia menjadi pucat, dan dengan terbata-bata bertanya,
“Apakah yang akan diperintahkan kepadaku, Paman?”
Ken Arok menggelengkan kepalanya, “Entahlah.”
Dengan tergesa-gesa Daksina pergi menghadap Tunggul Ametung. Matanya masih merah karena kantuknya. Sekali ia menguap, dan kemudian dengan wajah yang pucat ia merayapi tangga ruang dalam.
“Daksina,” panggil Tunggul Ametung, “ambil rontal Kakawin Arjuna Wiwaha. Bacakan rontal untukku malam ini. Aku jemu memikirkan semua persoalan yang memusingkan kepalaku.”
Anak itu menarik nafas panjang. “Oh,” katanya di dalam hatinya, “hampir aku pingsan dibuatnya.”
Daksina itu pun segara mengundurkan dirinya dengan tergesa-gesa. Sekali-sekali ia masih menguap dan mengumpat di dalam hati. Malam-malam begini Akuwu ingin mendengarkan aku membaca rontal. Bukan main. Kenapa tidak sejak sore tadi atau besok malam. Tetapi anak itu tidak berani membantah. Langsung pergi ke ruang penyimpanan rontal. Dari berbagai-bagai rontal yang bersusun dalam sebuah rak-rakan, Daksina mencari rontal yang dikehendaki oleh Akuwu Tunggul Ametung. Ketika ia keluar dari ruang itu, pelayan dalam yang melihatnya menyapa,
“He, Daksina, apa kerjamu malam-malam di sini?”
“Tuanku Akuwu Tunggul Ametung inginkan aku membaca untuknya malam ini.”
“Malam sudah terlampau jauh.”
“Ya.”
“Kenapa Akuwu minta kau membaca rontal itu?”
“Tidak tahu.”
“He? Jangan main-main. Kenapa?”
Daksina berhenti. Lalu memandangi wajah pelayan dalam itu dengan heran. Katanya, “Kenapa kau bertanya kepadaku? Bertanyalah kepada Akuwu, kenapa malam-malam begini Akuwu minta aku membaca rontal. Kalau Akuwu mengurungkan niatnya, aku akan berterima kasih kepadamu. Besok ransumku boleh kau ambil.
“Hus, jangan gila, anak mabuk. Kau kira kau dapat menipu aku? Ayo kembalikan rontal itu.”
“Baik,” sahut Daksina, lalu Daksina itu pun memutar tubuhnya dan melangkah kembali ke ruang penyimpanan rontal, sambil bergumam, “Rontal ini akan aku kembalikan. Besok ransumku boleh kau ambil, sebab aku besok sudah digantung di alun-alun karena aku tidak mematuhi perintah Akuwu malam ini.”
“Persetan! Jangan menggerutu!”
“Tidak. Besok aku sudah tidak dapat menggerutu lagi, dan kau tidak akan dapat membentak-bentak lagi. Sebab kau pun akan dipancung di tengah-tengah pasar.”
“Kenapa?”
“Karena kau menghalangi aku mematuhi perintah Akuwu.”
“He? Jadi benar, Akuwu memerintahkan kau mengambil rontal itu?”
“Kau sangka aku berbohong?”
“Jadi bukan karena kau sendiri yang ingin membaca?”
“Sudah aku katakan.”
“Oh, anak gila. Kenapa kau tidak membantah? Malahan kau akan mengembalikan rontal itu.”
“Aku atau kau yang gila. Kau tidak mau mendengar aku menjelaskan. Kau ingin aku mematuhi perintahmu.”
“Pergi! Pergi! Bawa rontal itu kepada Akuwu. cepat sebelum kau digantung.”
“Tidak mau!”
“Kenapa?”
“Aku takut kepadamu.”
“Gila!”
“Kau yang gila.”
“Ayo pergi! Cepat! Bawa rontal itu!” bentak pelayan dalam itu sambil mengacungkan tombaknya, “Atau aku lubangi perutmu?”
“Supaya ransumku dapat kau ambil besok?”
“Tutup mulutmu! Ayo pergi! Kenapa kau mengigau tentang ransum saja sejak tadi. Apakah kau sekarang sedang lapar?”
Tiba-tiba Daksina mengangguk. “Ya. Aku lapar.”
“Setan kecil! Pergi ke garduku. Aku mempunyai sepotong jenang alot.”
Daksina betul pergi ke gardu pelayan dalam itu, dan dimakannya sepotong jenang alot. Namun dengan demikian ia sudah tidak terkantuk-kantuk lagi. Kini matanya telah terbuka lebar-lebar setelah ia mengganggu pelayan dalam itu. Apalagi setelah mulutnya mengunyah sepotong jenang alot, maka Daksina benar-benar sudah tidak mengantuk lagi. Setelah minum semangkuk air jahe, maka segara ia berjalan cepat-cepat ke bilik Akuwu Tunggul Ametung.
Dalam pada itu Witantra dan Ken Arok pun segera minta diri. Witantra mengharap Akuwu Tunggul Ametung memberinya wewenang dan wewenang itu telah benar-benar diberikannya. Meskipun demikian maka Witantra berkata,
“Akuwu. Hamba akan mencoba untuk berbuat sebaik-baiknya. Namun Kuda Sempana bukanlah anak-anak lagi. Ia mampu membunuh Wiraprana dalam perkelahian itu di hadapan Akuwu, sehingga ia dapat membebaskan dirinya dari segenap tuntutan. Namun apabila aku tidak berhasil, aku minta maaf sebesar-besarnya.”
“Jangan cemas. Aku mengharap kau berhasil.”
Witantra dan Ken Arok pun segera mohon diri meninggalkan ruangan itu, dan Akuwu Tunggul Ametung pun segera masuk kembali ke dalam biliknya. Setelah sesaat ia terbaring, maka ia mendengar langkah di muka biliknya.
Gambaran-gambaran itu hilir mudik kembali di dalam kepala. Dicobanya untuk mencari kesimpulan, apakah Kuda Sempana berkata sebenarnya, atau telah menjebaknya dalam tindak kekerasan yang memalukan.
Akuwu itu pun kemudian menarik nafasnya dan berkata “Ken Arok, bagaimana pendapatmu tentang peristiwa yang terjadi itu?”
“Hamba menyesal Tuanku.”
“Apakah yang kau sesalkan?”
“Bahwa peristiwa itu telah terjadi.”
Akuwu mengernyitkan alisnya. Kemudian kepada Witantra dan Ken Arok itu diceritakan olehnya, apa yang didengarnya dari Kuda Sempana dan apa yang telah mendorongnya untuk melakukan perbuatan itu.
Witantra menggigit bibirnya untuk menahan gejolak hatinya sedang Ken Arok tergeser surut. Diangkatnya wajahnya dan ditatapnya wajah Akuwu sesaat. Namun kembali Ken Arok menundukkan wajahnya. Terasa sesuatu bergetar di dalam hatinya dan dengan tiba-tiba saja ia merasa menjadi semakin kecewa terhadap Tunggul Ametung. Akuwu itu benar-benar seorang yang aneh. Sekarang semuanya telah terjadi. Setiap orang di Panawijen dan seterusnya setiap orang di Tumapel akan menyebut namanya sebagai seorang yang telah merusakkan hidup sepasang anak muda dan melukai hati segenap penduduk Panawijen.
Tetapi Tunggul Ametung itu pun ternyata menyesal pula di dalam hatinya. Disesalinya pula wataknya yang agak terlalu tergesa-gesa menentukan suatu sikap. Ia dapat berbuat demikian di dalam istananya tanpa akibat yang dapat mencelakakan orang lain. Ia dapat berbuat demikian untuk hal-hal yang kecil. Tetapi untuk hal yang penting seperti peristiwa ini adalah benar-benar menyesatkan.
Dengan suara parau maka Akuwu itu berkata, “Witantra dan Ken Arok. Bagaimanakah pendapatmu tentang gadis itu?”
Mereka menggelengkan kepala mereka. Dan Witantra menjawab, “Apakah yang akan Tuanku perbuat?”
Akuwu memandang Witantra dengan tajamnya. Tetapi ia tidak segera dapat menjawab. Sekali-kali dipandanginya tubuh Witantra yang tegap kuat. Seorang prajurit yang mengagumkan. Seorang prajurit yang baik, yang tidak pernah mengabaikan tugasnya. Namun ia terpaksa menolak perintahnya, karena ia tidak dapat dipaksa untuk mengkhianati kemanusiaan. Tetapi sebagaimana dikatakannya sendiri ia telah gagal melakukan kewajibannya. Kewajibannya sebagai seorang prajurit dan kewajiban kemanusiaan.
Sedang di sampingnya duduk seorang pelayan dalam yang belum lama berada di dalam istana. Namun orang itu benar telah mengejutkan akuwu. Ketika dilihatnya ia bertempur melawan Mahisa Agni, maka tampaklah betapa ia mampu berbuat sebagai seorang prajurit yang baik. Melampaui Kuda Sempana. Bahkan tangannya telah membunuh seorang prajurit dengan sebuah pukulan. Meskipun mula-mula Ken Arok tidak melawan perintahnya, bahkan mencoba melakukannya namun ternyata bahwa desakan hatinya telah membuatnya berbuat sebaliknya. Bahkan telah dibunuhnya seorang prajurit di hadapannya. Di hadapan seorang akuwu.
Tetapi Mahisa Agni itu pun telah menarik perhatiannya. Ia adalah seorang anak pedesaan. Namun memilik caranya berkelahi, maka ia bukanlah anak pedesaan kebanyakan. Dalam berbagai perasaan dan angan-angan itu, maka terluncurlah kata-kata Akuwu,
“Witantra, apakah kau melihat seseorang yang telah dilukai Kuda Sempana?”
“Ya,” jawab Witantra pendek.
“Siapakah dia?”
“Anak muda itulah bakal suami Ken Dedes.”
Akuwu Tumapel menganggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Besok panggillah dia kemari!”
Witantra dan Ken Arok mengangkat wajahnya bersama-sama. Mereka saling berpandangan dan di dalam hati mereka terdengarlah sebuah pertanyaan, “Apakah Akuwu belum tahu bahwa anak muda itu telah mati?”
Akuwu memandang kedua orang itu dengan heran. Karena itu maka katanya, “Kenapa?”
“Tuanku,” jawab Witantra dengan nada yang rendah, “anak muda bakal suami Ken Dedes yang bernama Wiraprana, putra Buyut Panawijen itu telah meninggal dunia.”
“He?” akuwu ternyata terkejut mendengar berita itu, “Jadi anak itu mati?”
Witantra menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya, Tuanku. Anak itu mati.”
“Jadi Kuda Sempana telah membunuhnya?”
“Ya.”
“Setan Kuda Sempana itu!” desis Akuwu Tunggul Ametung.
“Tetapi ia sendiri pasti tidak akan berani berbuat begitu Tuanku.”
“Oh,” Tunggul Ametung menundukkan wajahnya. Perlahan-lahan terdengar ia berkata, “Ya. Aku tahu maksudmu. Bukankah kau ingin mengatakan bahwa kesalahan itu terletak padaku. Bukankah aku telah melindunginya untuk melakukan kejahatan itu.”
Witantra dan Ken Arok tidak menyahut. Sesaat mereka berdiam diri, dan dibiarkan Akuwu Tunggul Ametung tenggelam dalam penyesalan.
Kemudian terdengar Akuwu itu berkata, “Witantra dan Ken Arok. Aku maafkan segala kesalahanmu. Aku lupakan kata-kataku dan ancamanku. Meskipun telah terucapkan oleh seorang akuwu untuk menghukum kau Witantra, namun ucapan itu meluncur dalam ketidakwajaran ingatanku.”
Witantra dan Ken Arok menundukkan wajahnya dalam-dalam sambil menjawab “Terima kasih Tuanku.”
Namun di dalam hati mereka tebersitlah suatu pertanyaan “Bagaimanakah kalau hukuman itu telah terlanjur jatuh atas Witantra?”
“Dan sekarang Witantra, apakah yang harus aku lakukan atas Kuda Sempana?”
Witantra mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Tuanku, semua ini adalah akibat dari kelicikannya, sehingga Akuwu Tunggul Ametung terseret dalam perbuatan tercela. Karena itu, maka hukuman yang diberikan kepadanya adalah hukuman yang harus sesuai dengan perbuatannya. Karena perbuatannya pula maka sebuah jiwa yang melayang, dan sebuah hati telah pecah berkeping-keping. Apakah yang dapat ditemukan kembali dalam hidup seorang gadis seperti Ken Dedes itu?”
“Ya. ya,” jawab Tunggul Ametung terbata-bata, “Aku sependapat. Tetapi Witantra. Aku adalah seorang Akuwu. Sudah tentu aku tidak dapat menjilat ludah kembali tanpa alasan. Aku telah menyetujui, bahkan mengantar Kuda Sempana sendiri mengambil gadis itu ke Panawijen. Sekarang, apakah aku dapat menghukum Kuda Sempana karena perbuatannya itu. Bukankah dengan demikian hukuman itu pun pantas jatuh atasku pula?”
Witantra dan Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Kata-kata akuwu itu dapat dimengertinya. Apakah dengan demikian, maka orang akan semakin menjadi kecewa atas perbuatan-perbuatan akuwu yang seakan-akan sama sekali tidak bertanggung jawab. Namun sudah tentu bahwa mereka tidak akan membiarkan Kuda Sempana mengambil Ken Dedes. Sebab dengan demikian mereka akan membiarkan sebuah kebiadaban berlangsung. Bukankah dengan demikian maka Ken Dedes akan menjadi bertambah parah. Dan bukankah Ken Dedes akan kehilangan segala-galanya. Bahkan tubuhnya sendiri seakan-akan tak dimilikinya, karena tubuhnya itu harus diserahkannya kepada Kuda Sempana tanpa kehendaknya.
Ruangan itu menjadi sepi sesaat. Masing-masing mencoba mencari kemungkinan yang sebaik-baiknya ditempuh. Angin malam di luar istana terdengar gemeresik mengusap dinding dan dedaunan. Di kejauhan terdengar jangkrik memekik-mekik seolah-olah memanggil-manggil. Sekali-kali angin yang kencang menolak daun-daun pintu yang sudah terkatup.
Dalam keheningan itu kemudian terdengar suara Witantra, “Tuanku. Hukuman yang pertama yang harus dijatuhkan kepada Kuda Sempana adalah melepaskan Ken Dedes dari tangannya.”
“Ya. ya,” sahut Akuwu Tumapel, “Aku sependapat. Tetapi kepada siapa gadis itu harus di serahkan. Ia telah kehilangan seseorang yang akan dapat dijadikannya pegangan buat masa-masa depannya. Bakal suaminya itu telah mati.”
“Bukankah ia masih mempunyai ayah dan ibu?” bertanya Ken Arok.
Witantra menggeleng. Katanya, “Dari Mahisa Agni aku pernah mendengar, bahwa gadis itu tidak beribu lagi.”
“Oh,” sahut Ken Arok, “kalau demikian kepada ayahnya.”
“Ayahnya adalah seorang pendeta,” berkata Witantra.
Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Tiba-tiba terbayanglah kembali wajah gadis itu. Putih pucat dan ketakutan, sehingga tiba-tiba ia menjadi pingsan. Terbayang kembali betapa lekuk-lekuk di wajahnya telah memahatkan sebuah bentuk yang seindah-indahnya yang pernah dilihatnya. Dan betapa ia terpesona oleh cahaya yang seakan-akan memancar dari tubuh gadis itu. Namun cahaya itu sama sekali tidak pernah dapat dipandangnya. Cahaya itu seakan-akan lenyap apabila ia berusaha melihatnya. Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Apakah yang dapat dilakukannya kemudian? Mengembalikan gadis itu? Atau apa?
Tunggul Ametung tiba-tiba menjadi pening. Dan karena itu ia berkata, “Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang sebaiknya aku lakukan. Tetapi gadis itu pasti tidak akan aku serahkan kepada Kuda Sempana.” Namun kemudian perlahan-lahan Akuwu Tumapel itu berkata, “Tetapi apakah alasanku?”
“Tuanku,” berbisik Witantra kemudian, “Kuda Sempana mengambil gadis itu dengan kekerasan. Sehingga menuntut penilaiannya, maka kekerasan akan menentukan segalanya atas gadis itu. Karena itu, maka harus terpancang pula di dalam dadanya, bahwa ia harus dapat mempertahankan gadis itu. Itu pula atas kekerasan.”
“Maksudmu?” bertanya Tunggul Ametung cepat-cepat.
“Ken Dedes akan aku ambil dengan kekerasan.”
“He?” Akuwu itu pun terbelalak, “bagaimana dengan istrimu?”
Witantra tersenyum, “Bukan untuk aku sendiri. Istriku tidak kalah cantiknya dari gadis itu. Tetapi barangkali aku akan dapat membuat alasan lain.”
Ken Arok menarik alisnya tinggi-tinggi. Ia belum melihat gadis itu dengan jelas. Ia baru melihat Ken Dedes sepintas, dalam kekisruhan yang tidak menentu. Karena itu ia belum dapat menilai kecantikannya. Namun tak diingkarinya bahwa gadis itu memang cantik sekali.
Dalam pada itu Witantra berkata pula, “Akuwu. Ternyata apa yang terjadi telah menghancurkan hari depan gadis itu. Karena itu maka sebaiknya Akuwu mempertimbangkan, apakah Akuwu dapat berbuat sesuatu yang dapat sedikit menghiburnya buat masa yang akan datang.”
Akuwu Tunggul Ametung mengangkat wajahnya. Tiba-tiba nafasnya menjadi berangsur cepat dan keringatnya mengalir dari segenap lubang-lubang kulitnya. Dengan nada yang rendah dan ragu-ragu ia bertanya,
“Bagaimana maksudmu Witantra?”
“Maksudku Akuwu, apabila mungkin maka Akuwu akan dapat memberi sedikit hiburan kepada gadis itu. Kalau dikehendaki oleh gadis itu, biarlah Akuwu mengambilnya menjadi menantu. Akuwu dapat memandang salah seorang hamba Akuwu yang dapat Akuwu timbang, sesuai dengan gadis itu. Sudah tentu atas kerelaan Ken Dedes sendiri. Dengan demikian maka apabila Akuwu berhasil, maka sedikit banyak Akuwu akan dapat meringankan penderitaannya meskipun tidak akan dapat ganti seperti yang hilang itu baginya. Dalam hal ini biarlah Ken Dedes memilih sendiri atas orang-orang yang Akuwu tunjukkan kepadanya. Mungkin dengan demikian maka penderitaan hatinya akan dapat diringankan, karena bakal suaminya terbunuh oleh Kuda Sempana itu.”
“Kalau demikian Witantra, dalam waktu yang pendek kau masih belum menemukan alasan untuk itu. Untuk mengambilnya dengan kekerasan. Sedang dalam waktu yang singkat Kuda Sempana pasti sudah akan datang mengambilnya. Mungkin besok, lusa atau bahkan nanti malam.”
“Bukan soal yang sulit bagi Akuwu. Biarlah Akuwu memerintahkan kepadanya, supaya gadis itu tetap di istana.”
Akuwu mengerutkan keningnya. Alasan itu akan dapat dikemukakan. Tetapi harus dicarinya seorang laki-laki yang berkenan d hati Ken Dedes. Baru Witantra akan merebut gadis itu atas namanya.
Akuwu itu menggelengkan kepalanya, “Terlalu lama Witantra. Terlalu lama. Belum pasti nama itu akan disetujui oleh Ken Dedes. Baru setelah mendapat nama yang tepat dan disetujui oleh gadis itu kau berbuat untuknya.”
Witantra tidak menjawab. Tetapi ia memandang Ken Arok dengan sudut matanya. Kalau Ken Arok mau menyebut dirinya, bahkan mau berbuat untuk dirinya, maka dalam takaran Witantra maka Ken Arok pun memiliki kemampuan yang dahsyat. Sebab dengan tangannya ia mampu membunuh seorang prajuritnya dalam satu ayunan.
Ken Arok masih saja menundukkan wajahnya. Ia tidak berani berkata apapun juga, sebab ia pun belum juga beristri. Kalau Akuwu nanti menunjuknya maka akan kisruhlah hatinya. Ia sama sekali belum ingin berumah tangga mengingat keadaan dirinya dan hidupnya yang baru saja dibinanya. Ketika terasa olehnya Witantra dan Akuwu Tunggul Ametung memandanginya, maka Ken Arok segera menunduk dalam-dalam.
Dalam pada itu tiba-tiba Witantra berkata “Akuwu sekarang biarlah aku berbuat untuk siapa saja. Apabila ternyata nanti Ken Dedes tidak bersedia maka biarlah Ken Dedes menentukan nasibnya sendiri, tetapi ia sudah bukan milik Kuda Sempana lagi.”
Akuwu Tunggul Ametung menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Sekehendakmulah Witantra. Asal gadis itu dapat kau bebaskan dari Kuda Sempana dengan alasan yang dapat dimengerti oleh beberapa orang yang mengetahui persoalannya, terutama para prajurit yang ikut serta ke Panawijen pada saat Kuda Sempana mengambilnya.”
“Baik Tuanku,” wajah Witantra itu menjadi merah karena perasaan yang aneh di dalam dadanya.
Meskipun gadis itu bukan sanak bukan kadang, tetapi ia merasa bahagia apa bila ia akan dapat melepaskannya dari tangan Kuda Sempana. Ia sudah sedikit mendengar apa saja yang pernah dilakukan Kuda Sempana atas Ken Dedes dari Mahisa Agni, yang dahulu disangkanya Wiraprana. Dalam pada itu Witantra meneruskan,
“Mungkin akan dapat meminjam nama Adi Ken Arok. Bukankah Adi masih belum berkeluarga pula?”
“Jangan. Jangan,” seperti disengat lebah Ken Arok menolak, “Jangan Kakang.”
“Tidak. Adi tidak harus bersungguh-sungguh.”
“Aku takut.”
Witantra memandang Ken Arok itu tajam-tajam. Kenapa ia takut? Tetapi Witantra kemudian tersenyum. Disangkanya Ken Arok takut apabila namanya dihubungkan dengan seorang gadis, dan apabila pada saat yang dekat ia benar-benar harus berumah tangga. Karena itu Witantra menjelaskan,
“Adi tidak perlu takut untuk melaksanakannya. Aku hanya akan berkata kepada Kuda Sempana. Atas nama Adi Ken Arok yang juga menginginkan gadis itu, maka aku rebut Ken Dedes dengan kekerasan, seperti pada saat Kuda Sempana mengambilnya. Tetapi kemudian bukankah dapat diumumkan pula, misalnya, karena Ken Dedes tidak bersedia kawin dengan Ken Arok, maka gadis itu dikembalikan ke rumahnya kepada kakak dan ayahnya.”
“Jangan. Jangan hubungkan namaku dengan gadis itu.”
Sekali lagi Witantra tersenyum. Tetapi ia tidak melihat, apakah sebenarnya yang bergolak di hati Ken Arok. Setiap ia mendengar nama seorang gadis, maka dadanya menjadi berdebar-debar. Ia merasa dikejar-kejar oleh kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Sebagai hantu di padang-padang rumput dan di hutan-hutan. Bahkan di mana saja daerah-daerah yang pernah dijelajahi, maka ia telah berbuat hal-hal yang mengerikan atas gadis-gadis yang ditemuinya. Karena itulah, maka setiap kali ia mengingatnya, maka setiap kali ia menjadi ketakutan. Apalagi ketika ia melihat bagaimana Kuda Sempana melarikan gadis Panawijen itu. Maka hampir kepercayaannya kepada semua orang menjadi pudar. Apa yang dilakukan Kuda Sempana mirip dengan apa yang pernah dilakukan. Namun caranyalah yang berbeda. Cara yang ditempuh adalah cara hantu ladang dan padang.
Penolakan Ken Arok itu ternyata mendorong Akuwu untuk berbuat di luar dugaan. Di luar dugaan Witantra dan di luar dugaan Ken Arok, tiba-tiba saja dalam kegelapan nalar, Akuwu itu berkata,
“Baiklah, kalau tak ada nama yang kau pergunakan, pergunakanlah namaku. Akuwu Tunggul Ametung.”
Kata-kata Akuwu Tunggul Ametung itu benar-benar mengejutkan Witantra dan Ken Arok. Sehingga dengan serta-merta Witantra berkata, “Jangan Tuanku. Adalah kurang baik apa bila Akuwu sendiri yang akan mengambilnya. Meskipun hanya sekedar untuk menyingkirkan Kuda Sempana. Gadis itu adalah gadis pedesaan, dan kurang sepantasnyalah apabila nama Akuwu dihubungkan dengan namanya.”
“Biarlah. Biarlah kau pakai namaku. Aku telah merusakkan masa depan gadis itu. Seandainya dengan demikian namaku menjadi susut, bukankah itu hukuman yang harus aku alami karena perbuatan yang terkutuk itu. Biarlah orang menyangka bahwa Tunggul Ametung telah menculik gadis dari padukuhan Panawijen. Biarlah orang yang tidak melihat dan mengetahui apa yang terjadi menuduhku berbuat demikian. Adalah lebih baik bagiku daripada aku telah melindungi orang untuk menculik seorang tanpa pertimbangan. Kalau orang menyebutkan langsung menculik gadis itu, maka orang akan mengutukku sebagai seorang laki-laki yang tidak berperasaan dan sebagai seorang Akuwu yang sewenang-wenang. Namun adalah menjadi tanggung jawabku pula apabila seseorang berkata, Kuda Sempana telah menculik seorang gadis atas perlindungan Akuwu.
Adalah lebih baik, apabila aku berbuat sewenang-wenang karena terdorong oleh kebutuhanku sendiri. Kebutuhan hidup seorang Akuwu, daripada aku berbuat hal yang sama, sewenang-wenang untuk melindungi orang-orangku. Dengan menyebut bahwa Ken Dedes telah aku perlukan sendiri, adalah memperkuat alasanku untuk berbuat sewenang-wenang. Adalah lebih mungkin aku lakukan daripada sekedar melindungi Kuda Sempana.”
Witantra menggeleng-gelengkan kepalanya. Ternyata Akuwu Tunggul Ametung telah benar-benar kebingungan oleh kejaran penyesalannya. Sehingga karena itu maka Witantra berkata,
“Tuanku, alasan itu hanya diberikan kepada Kuda Sempana. Tidak kepada siapa pun juga. Sehingga apa yang terjadi kemudian hanyalah Kuda Sempana yang akan tahu.”
“Tidak. Tidak,” berkata Akuwu itu lantang, “tidak hanya untuk Kuda Sempana. Besok semua orang Tumapel harus tahu, bahwa Akuwu Tunggul Ametung telah merampas seorang gadis putri seorang pendeta di Panawijen, karena Akuwu jatuh cinta kepada gadis itu. Biarlah semua orang mengutukku, dan biarlah semua orang membenci aku.”
“Akuwu,” potong Witantra.
“Perintah! Kau dengar?” teriak Akuwu Tunggul Ametung, “Ini perintahku. Apakah kau akan mengingkari perintahku lagi?”
Witantra dan Ken Arok mengusap dadanya. Apabila sudah demikian maka Akuwu telah kehilangan nalarnya yang bening. Sulitlah untuk mencoba memperbincangkan suatu keputusan. Karena itu, maka mereka hanya dapat berdiam diri. Persoalan itu telah bergeser dari maksud Witantra semula. Namun Witantra dapat juga mengerti jalan pikiran Akuwu Tunggul Ametung. Akuwu akan mengangkat persoalan itu dengan menengadahkan dadanya, meskipun dengan demikian telah dikorbankan namanya. Bukankah Akuwu dapat mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa Kuda Sempana telah menipunya dan memberikan laporan palsu? Tetapi rupa-rupanya Akuwu benar-benar telah disiksa oleh penyesalan yang tak berhingga, sehingga dengan demikian ia bermaksud menghukum diri sendiri.
Dalam pada itu Akuwu itu berkata pula, kali ini perlahan-lahan, “Witantra, pergilah kepada Kuda Sempana. Katakan kepadanya, bahwa Ken Dedes dikehendaki sendiri oleh Akuwu Tunggul Ametung. Kalau ia tidak rela, berbuatlah atas namaku. Kali ini aku tidak akan mempergunakan kekuasaan. Tetapi aku minta kepadamu sebagai seorang sahabat untuk mewakili aku. Kalau Kuda Sempana menghendaki, biarlah kau mengadakan sayembara tanding dengannya. Kalau kau tidak bersedia, aku tidak memaksa. Ini bukan perintah seorang Akuwu. Sudah aku katakan, aku tidak akan mempergunakan kekuasaan. Kalau tak ada seorang pun yang akan mewakili Tunggul Ametung, biarlah Tunggul Ametung sendiri yang maju ke arena.”
“Jangan Tuanku. Jangan Tuanku sendiri. Biarlah hamba yang melakukannya. Tidak perlu di muka umum. Dapat hamba lakukan di tempat tertutup. Kecuali Kuda Sempana menghendaki.”
“Terima kasih. Nah, pergilah. Sampaikan maksud itu kepada Kuda Sempana.”
“Hamba Tuanku.”
Kemudian perintahnya kepada Ken Arok, “Arok, kau pergi bersama Witantra. Kau pun harus berusaha supaya semua orang Tumapel mendengar, bahwa Akuwu Tunggul Ametung telah menculik seorang gadis untuk permaisurinya.”
“Hamba Tuanku,” sahut Ken Arok.
“Nah sebelum pergi, panggilkan Daksina.”
Ken Arok keran mendengar perintah itu. Apakah hubungannya peristiwa ini dengan Daksina. Anak-anak yang belum genap berumur lima belas tahun itu. Ketika Ken Arok masih memandanginya saja dengan heran, maka Akuwu itu pun membentak,
“Panggil Daksina! Kau dengar?”
“Ya, ya Tuanku,” sembah Ken Arok.
Namun kepalanya menjadi pening memikirkan tingkah laku Akuwu itu. Setelah bergeser beberapa langkah, maka Ken Arok pun kemudian sambil berjongkok meninggalkan ruangan itu dan turun lewat tangga samping memanggil seorang anak muda yang bernama Daksina. Daksina, seorang anak dari seorang pelayan istana, seorang juru dang, terkejut mendengar panggilan Akuwu di malam hari itu. Karena itu ia menjadi pucat, dan dengan terbata-bata bertanya,
“Apakah yang akan diperintahkan kepadaku, Paman?”
Ken Arok menggelengkan kepalanya, “Entahlah.”
Dengan tergesa-gesa Daksina pergi menghadap Tunggul Ametung. Matanya masih merah karena kantuknya. Sekali ia menguap, dan kemudian dengan wajah yang pucat ia merayapi tangga ruang dalam.
“Daksina,” panggil Tunggul Ametung, “ambil rontal Kakawin Arjuna Wiwaha. Bacakan rontal untukku malam ini. Aku jemu memikirkan semua persoalan yang memusingkan kepalaku.”
Anak itu menarik nafas panjang. “Oh,” katanya di dalam hatinya, “hampir aku pingsan dibuatnya.”
Daksina itu pun segara mengundurkan dirinya dengan tergesa-gesa. Sekali-sekali ia masih menguap dan mengumpat di dalam hati. Malam-malam begini Akuwu ingin mendengarkan aku membaca rontal. Bukan main. Kenapa tidak sejak sore tadi atau besok malam. Tetapi anak itu tidak berani membantah. Langsung pergi ke ruang penyimpanan rontal. Dari berbagai-bagai rontal yang bersusun dalam sebuah rak-rakan, Daksina mencari rontal yang dikehendaki oleh Akuwu Tunggul Ametung. Ketika ia keluar dari ruang itu, pelayan dalam yang melihatnya menyapa,
“He, Daksina, apa kerjamu malam-malam di sini?”
“Tuanku Akuwu Tunggul Ametung inginkan aku membaca untuknya malam ini.”
“Malam sudah terlampau jauh.”
“Ya.”
“Kenapa Akuwu minta kau membaca rontal itu?”
“Tidak tahu.”
“He? Jangan main-main. Kenapa?”
Daksina berhenti. Lalu memandangi wajah pelayan dalam itu dengan heran. Katanya, “Kenapa kau bertanya kepadaku? Bertanyalah kepada Akuwu, kenapa malam-malam begini Akuwu minta aku membaca rontal. Kalau Akuwu mengurungkan niatnya, aku akan berterima kasih kepadamu. Besok ransumku boleh kau ambil.
“Hus, jangan gila, anak mabuk. Kau kira kau dapat menipu aku? Ayo kembalikan rontal itu.”
“Baik,” sahut Daksina, lalu Daksina itu pun memutar tubuhnya dan melangkah kembali ke ruang penyimpanan rontal, sambil bergumam, “Rontal ini akan aku kembalikan. Besok ransumku boleh kau ambil, sebab aku besok sudah digantung di alun-alun karena aku tidak mematuhi perintah Akuwu malam ini.”
“Persetan! Jangan menggerutu!”
“Tidak. Besok aku sudah tidak dapat menggerutu lagi, dan kau tidak akan dapat membentak-bentak lagi. Sebab kau pun akan dipancung di tengah-tengah pasar.”
“Kenapa?”
“Karena kau menghalangi aku mematuhi perintah Akuwu.”
“He? Jadi benar, Akuwu memerintahkan kau mengambil rontal itu?”
“Kau sangka aku berbohong?”
“Jadi bukan karena kau sendiri yang ingin membaca?”
“Sudah aku katakan.”
“Oh, anak gila. Kenapa kau tidak membantah? Malahan kau akan mengembalikan rontal itu.”
“Aku atau kau yang gila. Kau tidak mau mendengar aku menjelaskan. Kau ingin aku mematuhi perintahmu.”
“Pergi! Pergi! Bawa rontal itu kepada Akuwu. cepat sebelum kau digantung.”
“Tidak mau!”
“Kenapa?”
“Aku takut kepadamu.”
“Gila!”
“Kau yang gila.”
“Ayo pergi! Cepat! Bawa rontal itu!” bentak pelayan dalam itu sambil mengacungkan tombaknya, “Atau aku lubangi perutmu?”
“Supaya ransumku dapat kau ambil besok?”
“Tutup mulutmu! Ayo pergi! Kenapa kau mengigau tentang ransum saja sejak tadi. Apakah kau sekarang sedang lapar?”
Tiba-tiba Daksina mengangguk. “Ya. Aku lapar.”
“Setan kecil! Pergi ke garduku. Aku mempunyai sepotong jenang alot.”
Daksina betul pergi ke gardu pelayan dalam itu, dan dimakannya sepotong jenang alot. Namun dengan demikian ia sudah tidak terkantuk-kantuk lagi. Kini matanya telah terbuka lebar-lebar setelah ia mengganggu pelayan dalam itu. Apalagi setelah mulutnya mengunyah sepotong jenang alot, maka Daksina benar-benar sudah tidak mengantuk lagi. Setelah minum semangkuk air jahe, maka segara ia berjalan cepat-cepat ke bilik Akuwu Tunggul Ametung.
Dalam pada itu Witantra dan Ken Arok pun segera minta diri. Witantra mengharap Akuwu Tunggul Ametung memberinya wewenang dan wewenang itu telah benar-benar diberikannya. Meskipun demikian maka Witantra berkata,
“Akuwu. Hamba akan mencoba untuk berbuat sebaik-baiknya. Namun Kuda Sempana bukanlah anak-anak lagi. Ia mampu membunuh Wiraprana dalam perkelahian itu di hadapan Akuwu, sehingga ia dapat membebaskan dirinya dari segenap tuntutan. Namun apabila aku tidak berhasil, aku minta maaf sebesar-besarnya.”
“Jangan cemas. Aku mengharap kau berhasil.”
Witantra dan Ken Arok pun segera mohon diri meninggalkan ruangan itu, dan Akuwu Tunggul Ametung pun segera masuk kembali ke dalam biliknya. Setelah sesaat ia terbaring, maka ia mendengar langkah di muka biliknya.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar