PdLS-10
DAKSINA BERJALAN PERLAHAN-LAHAN MENDEKATI pintu. Ruangan itu telah kosong. Kedua orang yang menghadap akuwu telah pergi.
“He, siapa itu?” teriak akuwu dari dalam biliknya.
“Hamba Tuanku, Daksina.”
“Kenapa kau pergi terlalu lama?”
“Hamba masih harus mencari lontar yang Tuanku kehendaki.”
“Bukankah kau juga yang dahulu menyimpannya, he?”
“Hamba Akuwu.”
“Kenapa terlalu lama?”
“Hamba, hamba lupa di deretan yang mana hamba dahulu meletakkan Tuanku,” sahut Daksina tergagap.
“Sekarang kau mau apa?”
“Hamba akan membaca.”
“Pergi! Pergi! Aku tidak mau mendengar kau membaca di malam begini. Apakah kau sangka besok sudah tidak ada waktu? Dan apakah sengaja kau cari berlama-lama sehingga aku mengantuk dan menjadi jemu menunggu?”
“Tidak Tuanku. Tidak. Perintah Tuankupun telah terlalu malam.”
“Apa. Kau menyalahkan aku?”
“Bukan Tuanku. Bukan maksud hamba.”
“Sekarang kau pergi. Pergi!”
Daksina menjadi ketakutan. Tersuruk-suruk ia berjalan cepat-cepat menjauhi bilik Tunggul Ametung sambil bersungut-sungut akuwu benar-benar aneh. Tetapi kemudian ia menyesal karena ia terlalu lama pergi mengambil lontar itu.
“Pelayan dalam itu benar-benar gila, ia memberi aku jenang alot, sehingga aku menjadi terlalu lama,” gumamnya sambil berjalan ke biliknya sendiri.
Beberapa orang pelayan yang sedang bertugas memandanginya dengan malas sambil sekali-sekali menguap. Apa saja yang dilakukan anak itu malam-malam begini. Tetapi tiba-tiba anak itu terkejut ketika lengannya ditangkap oleh sebuah tangan yang kuat. Ketika ia berpaling di lihatnya pelayan dalam yang tadi mencegahnya di muka bilik penyimpanan lontar.
“He. Mau ke mana kau?”
“Tidur.”
“Jadi kau benar-benar berbohong ya?”
“Kenapa?”
“Akuwu tidak memerintahkanmu membaca lontar itu.”
“Oh,” Daksina menjadi tergagap. Namun ia berhasil juga menjelaskan, “Aku sudah mulai membaca. Tetapi karena jenang alotmu itu maka suaraku menjadi serak tidak seperti biasanya, sehingga akuwu marah, dan aku diusirnya. Nah, sekarang kau harus menebus kesalahanmu itu. Kalau aku tidak makan jenang alotmu, maka aku tidak akan mendapat marah.”
“Anak setan! Bukankah itu salahmu sendiri?”
“Besok ransum pagimu harus kau berikan kepadaku. Kalau tidak, maka aku akan menyampaikan kepada Akuwu, bahwa kau menyimpan makanan di gardumu.”
“Apa salahnya? Tidak ada larangan berbuat demikian.”
“Tetapi karena makananmu itu suaraku menjadi parau.”
“Pergi! Pergi, jangan mengigau!” bentak pelayan dalam itu sambil mendorong Daksina pergi.
Suasana halaman istana itu menjadi sepi. Tiga orang perempuan duduk diam di samping regol halaman dalam. Dalam keremangan cahaya obor di kejauhan, mereka tampaknya seperti bayang-bayang hitam yang duduk mematung. Dengan gelisah mereka menunggu. Bahkan hampir tidak sabar salah seorang berkata,
“Bibi emban. Tolong tengoklah ke ruang dalam apakah Kakang Witantra masih berada di sana?”
“Masih Ngger. Masih. Baru saja aku melihat mereka turun dari ruangan itu. Tetapi mereka tidak segera berjalan keluar.”
“Ke mana mereka itu?”
“Mungkin Anakmas Witantra perlu melihat-lihat beberapa buah gardu penjagaan. Penjagaan di halaman belakang yang dilakukan oleh para prajurit pengawal.”
Orang yang bertanya itu, yang tidak lain adalah Nyai Witantra menarik nafas panjang. Ingin ia berlari masuk ke dalam istana, namun ia menjadi ragu-ragu.
Untuk melepaskan kejemuannya, maka ia bertanya, “Bibi emban. Apakah kau melihat Akuwu membawa seorang gadis dari pedesaan?”
Emban itu mengerutkan keningnya Kemudian jawabnya ragu-ragu, “Aku kira demikian Nyai. Apakah ada hubungannya dengan Anakmas Witantra?”
Perempuan yang lain, yang sejak semula selalu berdiam diri mendengarkan percakapan mereka tersentak mendengar jawaban itu, dan tiba-tiba bertanya,
“Apakah gadis itu berada di dalam istana ini pula?”
Kembali emban itu menjadi ragu-ragu. Ia tidak tahu, dari mana dan kenapa akuwu membawa gadis itu. Sehingga karena itu maka jawabnya, “Entahlah. Aku tidak tahu.”
Pemomong Ken Dedes menjadi kecewa. Tetapi ia tidak dapat mendesaknya lagi. Sehingga kembali mereka berdiam diri. Duduk mematung dalam kegelisahan hati masing-masing. Mereka tersentak ketika tiba-tiba mereka melihat dua sosok tubuh yang berjalan ke arah mereka. Ketika mereka sudah dapat melihat dengan jelas, maka berbisiklah emban itu,
“Nah. Itulah. Baiklah aku meninggalkan kalian di sini.”
“Tunggu!” cegah Nyai Witantra.
“Apa yang harus aku tunggu?”
Nyai Witantra tidak menjawab. Tetapi ujung kain emban itu dipeganginya, sehingga emban itu tidak dapat meninggalkannya. Witantra pun terkejut melihat tiga orang perempuan duduk di samping regol. Ia menjadi semakin terkejut lagi ketika diketahuinya bahwa salah seorang dari mereka adalah istrinya.
“He. Kaukah itu Nyai?”
“Ya Kakang ,” jawab Nyai Witantra.
“Apakah kerjamu di sini?”
Nyai Witantra menarik nafas dalam-dalam. Meskipun ia tidak tahu benar apa yang sudah terjadi, namun kini ia melihat suaminya berjalan berdua dengan Ken Arok tanpa pengawalan. Menurut tangkapan perasaannya, maka suaminya tidak sedang dalam kesulitan-kesulitan. Namun meskipun demikian ia menjawab,
“Aku mencemaskan kau Kakang. Aku ingin tahu, apakah yang terjadi denganmu dan Adi Ken Arok.”
“Oh,” Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia tersenyum “Marilah pulang Nyai.”
“Tetapi bagaimana dengan Kakang dan Adi Ken Arok.”
“Tidak apa-apa. Marilah pulang. Biarlah aku nanti bercerita tentang diriku, tentang Adi Ken Arok dan tentang yang lain-lain.”
Nyai Witantra sekali lagi menarik nafas lega. Katanya, “Syukurlah kalau tidak ada apa-apa dengan Kakang dan Adi Ken Arok.”
“Nah. Marilah kita pulang,” ajak Witantra.
“Tetapi,” suara Nyai Witantra terputus. Di palingkannya wajahnya dan ditatapnya wajah pemomong Ken Dedes yang menjadi semakin gelisah.
“Tetapi?” ulang Witantra, ”Adakah soal lain yang akan kau kerjakan pula?”
“Bukan aku Kakang, tetapi Bibi ini.”
“Oh, apakah yang akan dilakukan?”
“Ia mencari momongannya Ken Dedes. Apakah gadis itu berada di dalam istana ini?”
Witantra diam sejenak. Ia tahu benar bahwa Ken Dedes berada di dalam istana. Tetapi ia tidak tahu, apakah ke hadiran pemomongnya itu akan berkenan di hati akuwu. Karena itu maka katanya berterus terang,
“Ya. Gadis itu berada di dalam istana. Tetapi aku tidak tahu, apakah dengan demikian, maka akuwu akan mengizinkan orang lain masuk ke dalamnya. Karena itu, baiklah besok aku bawa Bibi itu menghadap.”
Pemomong Ken Dedes menjadi tidak bersabar menunggu hari esok. Namun ia tidak dapat memaksa. Ia tidak mau kehilangan kesempatan. Apabila akuwu menjadi marah dan kecewa, maka kesempatan baginya akan tertutup rapat-rapat. Karena itu, ia tidak membantah. Namun dengan demikian, pemomong Ken Dedes itu menjadi sedikit tenang. Ia kini sudah tahu, di mana momongannya berada.
Kemudian Witantra dan istrinya beserta pemomong Ken Dedes itu pun kembali ke rumahnya. Kepada emban yang mengawani Nyai Witantra menunggu suaminya, Witantra berpesan
“Emban. Kalau kau dapat masuk ke sentong tengen, sampaikanlah kepada gadis itu, bahwa pemomongnya telah berada di Tumapel. Besuk ia akan dapat bertemu. Mudah-mudahan dengan demikian ia menjadi agak tenang.” Emban itu mengangguk hormat.
Malam telah menjadi semakin larut. Bintang-bintang di langit bergayutan pada dataran yang biru pekat. Satu-satu tampak bintang-bintang yang seakan-akan lepas dari tangkainya, meluncur jauh ke arah barat dan hilang meresap di dalam kelam. Malam itu Witantra menceritakan segala yang diketahuinya dengan berterus terang. Dari yang paling awal, hingga yang paling akhir.
Nyai Witantra mengangkat wajahnya memandang asap pelita yang menggapai-gapai kepanasan. Ditahankannya perasaan yang bergolak di dalam dirinya. Meskipun suaminya terlepas dari segenap hukuman, namun ia akan menghadapi pekerjaan yang berbahaya Witantra telah pula menceritakan, bahwa ia harus memisahkan Kuda Sempana dari gadis itu dengan cara yang sudah ditempuh oleh Kuda Sempana sendiri. Kekerasan.
Persoalan itu akan menjadi persoalan yang aneh sekali. Persoalan yang tidak lazim terjadi di antara manusia-manusia yang menghargai kemanusiaannya. Persoalan yang seakan-akan dapat dipecahkan dengan kekerasan oleh satu pihak tanpa menghiraukan pihak yang berkepentingan. Dalam persoalan yang sulit itu, Ken Dedes sendiri tidak dapat turut menentukan sikapnya.
Tetapi suaminya akan merebut gadis itu bukan karena nafsu seperti apa yang dilakukan oleh Kuda Sempana. Bahkan sebaliknya. Ia ingin melepaskan gadis itu dari penderitaan yang akan dialaminya sepanjang hidupnya. Meskipun Witantra pada suatu saat akan bertempur, namun kini ia akan melakukannya dengan hati yang terang, untuk tujuan yang terang pula.
Sehingga meskipun Nyai Witantra tidak dapat menekan kecemasan hatinya, tetapi suaminya berbuat di atas landasan yang kuat. Sebagai seorang prajurit maka adalah menjadi kewajiban Witantra untuk melepaskan perbuatan-perbuatan yang dapat membahayakan jiwanya. Bertempur. Namun bukanlah untuk melakukan perbuatan sewenang-wenang. Tetapi sebaliknya. Dan kini Witantra itu telah dihadapkan pada kemungkinan itu. Perang tanding, melawan Kuda Sempana.
Ken Arok malam itu tidak ikut kembali ke rumah Witantra. Anak muda itu langsung kembali ke baraknya sendiri. Di perjalanan itu kepalanya selalu dipenuhi oleh berbagai persoalan yang bercampur baur. Heran, kecewa, ngeri dan cemas. Seakan-akan terbayang kembali di muka wajahnya, apa yang pernah dilakukannya dan disusul kemudian oleh apa yang telah dilakukan oleh Kuda Sempana dan Tunggul Ametung. Apapun yang akan dilakukan oleh Tunggul Ametung, namun Ken Dedes itu hatinya telah terluka. Dan luka itu amat parahnya. Tak mungkin seseorang akan dapat menyembuhkan luka itu, bahkan seandainya Ken Dedes itu dijadikannya permaisuri sekalipun.
“Kasihan gadis itu,” desisnya di dalam hati, dan diteruskannya, “untunglah Witantra bersedia untuk melepaskannya. Setidak-tidaknya akan mengurangi penderitaan yang akan dialaminya.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. “Kasihan,” desahnya berulang-ulang. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia sendiri takut melibatkan dirinya dalam persoalan itu. Ia takut apabila ia benar-benar harus mengalami akibat dari persoalan-persoalan itu. Bukan takut seandainya ia harus bertempur melawan siapa pun, tetapi ia takut apabila ia harus menjadi pengganti orang yang telah hilang dari hati Ken Dedes.
“Aku adalah orang yang paling kotor di dunia ini,” gumamnya, “Lebih kotor dari Kuda Sempana. Mungkin Kuda Sempana baru melakukan hal ini untuk pertama kalinya, sedang aku telah melakukannya berulang-ulang. Meskipun ada beberapa perbedaan, namun pada hakikatnya adalah sama saja.”
Ken Arok itu terkejut, ketika tiba-tiba seseorang meloncat ke tengah-tengah jalan yang dilewatinya. Dengan isyarat tangannya orang itu menghentikannya. Ken Arok menarik kekang kudanya yang memang berjalan perlahan-lahan. Ketika diamatinya orang itu maka kemudian diketahuinya, bahwa orang itu adalah Kuda Sempana.
“Adi Ken Arok kah itu?”
“Ya,” sahut Ken Arok pendek.
“Kau datang dari istana bersama Witantra?”
“Ya.”
Kuda Sempana berjalan perlahan-lahan mendekati Ken Arok yang masih duduk di punggung kudanya. Dengan suara parau Kuda Sempana bertanya, “Apa kerjamu di istana?”
Ken Arok mengerutkan keningnya Kemudian jawabnya, “Dari mana kau tahu aku dari istana?”
“Kau sendiri mengatakannya.”
“Aku menjawab pertanyaanmu.”
“Beberapa orang melihat kau masuk ke istana. Beberapa orang pelayan dalam dan para emban. Aku telah datang ke istana. Namun kalian baru menghadap akuwu, sehingga aku membatalkan niatku.”
“Oh. Jadi kau sudah tahu.”
Kuda Sempana mengangkat alisnya. Dengan tajamnya ia mencoba melihat wajah Ken Arok dalam kegelapan malam. Namun Kuda Sempana tidak menemukan kesan apa-apa pada wajah itu.
“Apa yang kalian bicarakan?” bertanya Kuda Sempana kemudian.
“Bukan apa-apa.”
“Mustahil! Akuwu memanggil kalian pada saat-saat yang tidak sewajarnya. Pasti ada yang penting kalian bicarakan dengan Akuwu Tunggul Ametung.”
“Ya.”
“Apa?”
“Akuwu marah kepada Kakang Witantra dan kepadaku atas sikap kami berdua.”
“Hanya marah?”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Kemudian dijawabnya, “Ya. Hanya marah. Apakah kau ingin tindakan lebih dari itu?”
“Telah terucapkan oleh Akuwu Tunggul Ametung, bahwa Witantra akan digantung di alun-alun. Apakah ucapan itu telah dicabut?”
“Ya.”
“Akh. Gila! Dengan demikian maka setiap keputusan akan dapat dicabut tanpa alasan. itu tidak bijaksana. Seorang Akuwu harus tetap pada pendiriannya. Sekali ia menjatuhkan keputusan, maka keputusan itu harus dilaksanakan.”
Ken Arok tidak menjawab. Ia sudah sedemikian lelahnya, sehingga segera ia ingin kembali ke biliknya, menjatuhkan diri dan kalau mungkin tidur. Karena itu dibiarkannya Kuda Sempana melepaskan perasaannya, tanpa diganggunya.
Namun Kuda Sempana menjadi jengkel karenanya. Seakan-akan Ken Arok itu telah tidak mengacuhkannya. Karena itu maka ia berkata lebih keras, “He, Adi Ken Arok. Bukankah aku berkata sebenarnya. Bukankah Akuwu harus menepati keputusannya menghukum Witantra di alun-alun?”
“Itu terserah kepada Akuwu,” sahut Ken Arok yang menjadi semakin jemu mendengar kata-kata Kuda Sempana.
“Tetapi adalah tidak bijaksana dan menurunkan kewibawaannya apabila seorang Akuwu mencabut keputusan tanpa alasan. Akuwu sudah mengucapkan perintah untuk menggantung Witantra karena menentang perintah Akuwu dalam saat yang sulit. itu adalah suatu pemberontakan. Dan hukuman bagi seorang pemberontak adalah hukum gantung di alun-alun. Kenapa tiba-tiba Akuwu mengubah keputusan itu, hanya dengan memarahinya. itu tidak Adil! itu tidak Adil!”
Ken Arok masih duduk terkantuk-kantuk di atas punggung kudanya. Tetapi ia tidak dapat meninggalkan Kuda Sempana. Ia tidak mau menyinggung perasaannya. Tetapi kata-katanya semakin lama semakin menjemukan, sehingga kemudian dengan suara parau ia menjawab,
“Kakang. Sebaiknya pertanyaan itu Kakang sampaikan saja kepada Akuwu. Tidak kepadaku.”
Kuda Sempana memandang Ken Arok seperti hendak di telannya bulat-bulat. Dengan wajah tegang ia berkata, “He, Adi Ken Arok. Apakah sebenarnya yang telah kalian bicarakan sehingga akuwu membatalkan hukumannya?”
“Itulah. Akuwu marah kepada kami. Dan tanpa kami duga-duga, Akuwu telah membatalkan hukumannya.”
“Bohong!” bentak Kuda Sempana, “kalian mesti membuat rencana- rencana yang lain, yang memberikan kemungkinan-kemungkinan untuk melepaskan kalian dari hukuman.”
Ken Arok mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Pelupuk matanya hampir-hampir tak dapat lagi ditariknya. Sekali ia menguap, dan telapak tangannya menutup mulutnya yang terbuka itu. Dengan malasnya ia menjawab,
“Kakang. Bertanyalah kepada Kakang Witantra. Hari ini telah terlampau malam untuk berbicara. Biarlah aku beristirahat. Bukankah sebentar lagi kami sudah di bangunkan oleh kokok ayam. Marilah kita pergunakan kesempatan yang tinggal sesaat ini sebaik-baiknya.”
“Aku juga belum beristirahat. Tetapi aku tidak lelah. Aku tidak mengantuk. Dan aku akan berbicara sampai aku mendapat penjelasan yang memuaskan.”
“Silakan Kakang. Kalau Kakang tidak mengantuk, kalau Kakang tidak lelah, dan kalau Kakang mau bangun sampai fajar, silakan. Tetapi aku lelah dan mengantuk. Aku ingin beristirahat.”
“Tidak. Sebelum kau menjelaskan apa yang telah kalian bicarakan.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Di langit dilihatnya bintang berhamburan. Sekali-kali kelelawar terbang di atas kepalanya. Kelelawar yang sedang mencari mangsanya. Ketika dilihatnya beberapa kelelawar yang beterbangan itu. Ken Arok tersenyum di dalam hati. Ia sendiri tidak tahu, kenapa pendeta di Sagenggeng pernah berkata kepadanya, bahwa dari kepalanya telah keluar berbondong-bondong kelelawar yang merusak buah jambunya.
“Lucu,” gumam Ken Arek di dalam hatinya, “apakah kepalaku ini sarang kelelawar?”
Namun Ken Arok terkejut ketika Kuda Sempana membentaknya, “He, Adi. Kenapa kau berdiam diri?”
“Ah,” desah Ken Arok, “aku benar-benar mengantuk.”
“Jawab pertanyaanku ini! Kenapa akuwu membatalkan hukumannya kepada Witantra?”
“Hanya Akuwulah yang dapat menjawab. Bertanyalah kepada Akuwu. Jangan kepadaku.”
Kuda Sempana menjadi marah mendengar jawaban Ken Arok itu. Karena itu ia melangkah semakin dekat. Dengan dada tengadah ia berkata, “Adi. Kau adalah seorang hamba yang belum lama berada di lingkungan istana. Sedang aku, dapatlah dikatakan sejak bayi aku berada di sini. Karena itu jangan mencoba menghina aku.”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Dengan serta-merta ia menjawab, “Tidak Kakang. Aku sama sekali tidak menghina. Aku berkata sebenarnya. Karena itu biarkan aku pergi supaya Kakang tidak tersinggung melihat sikapku. Sebenarnyalah karena aku tidak dapat mencegah kantukku.”
Tetapi jawaban Ken Arok itu benar-benar tidak menyenangkan Kuda Sempana, karena itu ia berkata pula, “Adi. Sekarang turunlah dari kudamu. Beri aku penjelasan. Semakin cepat itu kau lakukan, maka semakin cepat kau dapat beristirahat.”
Ken Arok memandang Kuda Sempana dengan penuh keragu-raguan. Tetapi bukan kewajibannyalah untuk memberitahukan persoalan yang terjadi di istana. Biarlah besok atau kapan saja Witantra yang menemui Kuda Sempana dan mengatakan persoalan itu. Bukan dirinya, sebab ia tidak mau terlibat semakin jauh.
Karena itulah maka ia menjawab, “Kakang Kuda Sempana. Sekali lagi aku beri tahukan, bertanyalah kepada Akuwu Tumapel atau kepada Kakang Witantra.”
“Jangan keras kepala!” bentak Kuda Sempana semakin marah.
Namun Ken Arok pun menjawab tegas, “Jangan memaksa!”
Selangkah Kuda Sempana maju mendekati Ken Arok sambil berkata, “Turunlah! Jangan membuat aku marah!”
“Kau yang membuat aku marah,” sahut Ken Arok, “sebab bukan hanya Kuda Sempana saja yang dapat menjadi marah.”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya, namun hatinya menjadi semakin menyala. Dengan gigi gemeretak ia berkata, “Adi Ken Arok. Apakah kau membanggakan tanganmu yang mampu membunuh seorang prajurit dengan tangan itu? jangan sombong karenanya. Kau lihat, aku juga mampu membunuh Wiraprana dengan tanganku. Kau lihat dengan kedua belah matamu yang bulat itu bukan? Nah, sekarang katakan kepadaku, apa yang kalian bicarakan dengan Akuwu, atau aku terpaksa memaksamu?”
Tubuh Ken Arok tiba-tiba menjadi gemetar. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Kuda Sempana dapat berlaku sekasar itu. Tetapi ia sendiri adalah bekas seorang penyamun, pembunuh, perampok dan bahkan seorang hantu di padang rumput Karautan. Kini ia telah mendapat tuntunan yang dapat mengatur segala gerak dan tingkah lakunya, sehingga kekuatan-kekuatan yang dianugerahkan kepadanya, telah dapat disusunnya menjadi suatu kekuatan yang dahsyat. Karena itu, maka ia sama sekali tidak takut menghadapi Kuda Sempana seandainya terpaksa ia harus berkelahi.
Tetapi kembali ia menjadi ragu-ragu. Ketika ia hampir saja meloncat dari punggung kudanya, maka diingatnya kembali kata-kata Akuwu Tumapel kepada Witantra, bahwa ia harus merebut Ken Dedes dengan kekerasan. Bukan untuk dirinya atau untuk Witantra, namun perbuatan itu dilakukan asal saja dapat membebaskan Ken Dedes dari Kuda Sempana. Karena itu, maka kali ini Ken Arok menjadi bimbang. Kalau sampai dirinya terlibat dalam perkelahian dengan Kuda Sempana, maka apa yang akan di lakukan oleh Witantra akan menjadi hambar. Mungkin Witantra dan Akuwu Tunggul Ametung akan marah kepadanya. Karena itu, maka biarlah Witantra kelak berhadapan dengan Kuda Sempana dalam persoalan itu. Ia tidak akan mendahului.
Dengan demikian, ketika Ken Arok itu melihat Kuda Sempana selangkah lagi maju. maka dengan serta-merta ditariknya kendali kudanya dan dengan ujung kendali dilecutnya kuda itu. Kuda itu terkejut bukan kepalang. Dengan kerasnya kuda itu meringkik sambil mengangkat kedua kaki depannya. Namun sejenak kemudian kuda itu meloncat dan menghambur ke dalam kelamnya malam.
Kuda Sempana pun terkejut melihat kuda itu meloncat. Dengan tangkasnya ia meloncat ke samping dan dengan marahnya ia melihat kuda itu berlari menjauhinya.
“Pengecut!” umpatnya, “aku sangka kau seorang jantan.”
Dari kejauhan Ken Arok menjawab, “Aku menghindar kali ini Kakang. Kalau kau tidak puas, buatlah persoalan yang lain pada kesempatan yang lain. Aku akan mencoba melayani.”
“Setan! Berhenti kalau kau laki-laki!”
Tetapi Ken Arok telah semakin jauh. Derap kudanya gemeretak di atas batu-batu di jalanan. Semakin lama semakin lambat dan akhirnya lenyap dalam keheningan malam.
“Pengecut!” gumamnya.
Kuda Sempana itu terkejut ketika ia mendengar gerit pintu di belakangnya. Agaknya penghuninya mencoba melihat apa yang terjadi di jalan. Ketika ia mendengar suara ribut-ribut, ia mencoba mengintip dari lubang-lubang dinding, namun ketika ia tidak melihat apa-apa, maka terpaksa dibukanya pintu rumahnya. Seberkas sinar pelita yang lemah meluncur dari secercah pintu yang terbuka itu. Namun hanya sebentar, kemudian pintu itu telah tertutup kembali.
“He, siapa itu?” teriak akuwu dari dalam biliknya.
“Hamba Tuanku, Daksina.”
“Kenapa kau pergi terlalu lama?”
“Hamba masih harus mencari lontar yang Tuanku kehendaki.”
“Bukankah kau juga yang dahulu menyimpannya, he?”
“Hamba Akuwu.”
“Kenapa terlalu lama?”
“Hamba, hamba lupa di deretan yang mana hamba dahulu meletakkan Tuanku,” sahut Daksina tergagap.
“Sekarang kau mau apa?”
“Hamba akan membaca.”
“Pergi! Pergi! Aku tidak mau mendengar kau membaca di malam begini. Apakah kau sangka besok sudah tidak ada waktu? Dan apakah sengaja kau cari berlama-lama sehingga aku mengantuk dan menjadi jemu menunggu?”
“Tidak Tuanku. Tidak. Perintah Tuankupun telah terlalu malam.”
“Apa. Kau menyalahkan aku?”
“Bukan Tuanku. Bukan maksud hamba.”
“Sekarang kau pergi. Pergi!”
Daksina menjadi ketakutan. Tersuruk-suruk ia berjalan cepat-cepat menjauhi bilik Tunggul Ametung sambil bersungut-sungut akuwu benar-benar aneh. Tetapi kemudian ia menyesal karena ia terlalu lama pergi mengambil lontar itu.
“Pelayan dalam itu benar-benar gila, ia memberi aku jenang alot, sehingga aku menjadi terlalu lama,” gumamnya sambil berjalan ke biliknya sendiri.
Beberapa orang pelayan yang sedang bertugas memandanginya dengan malas sambil sekali-sekali menguap. Apa saja yang dilakukan anak itu malam-malam begini. Tetapi tiba-tiba anak itu terkejut ketika lengannya ditangkap oleh sebuah tangan yang kuat. Ketika ia berpaling di lihatnya pelayan dalam yang tadi mencegahnya di muka bilik penyimpanan lontar.
“He. Mau ke mana kau?”
“Tidur.”
“Jadi kau benar-benar berbohong ya?”
“Kenapa?”
“Akuwu tidak memerintahkanmu membaca lontar itu.”
“Oh,” Daksina menjadi tergagap. Namun ia berhasil juga menjelaskan, “Aku sudah mulai membaca. Tetapi karena jenang alotmu itu maka suaraku menjadi serak tidak seperti biasanya, sehingga akuwu marah, dan aku diusirnya. Nah, sekarang kau harus menebus kesalahanmu itu. Kalau aku tidak makan jenang alotmu, maka aku tidak akan mendapat marah.”
“Anak setan! Bukankah itu salahmu sendiri?”
“Besok ransum pagimu harus kau berikan kepadaku. Kalau tidak, maka aku akan menyampaikan kepada Akuwu, bahwa kau menyimpan makanan di gardumu.”
“Apa salahnya? Tidak ada larangan berbuat demikian.”
“Tetapi karena makananmu itu suaraku menjadi parau.”
“Pergi! Pergi, jangan mengigau!” bentak pelayan dalam itu sambil mendorong Daksina pergi.
Suasana halaman istana itu menjadi sepi. Tiga orang perempuan duduk diam di samping regol halaman dalam. Dalam keremangan cahaya obor di kejauhan, mereka tampaknya seperti bayang-bayang hitam yang duduk mematung. Dengan gelisah mereka menunggu. Bahkan hampir tidak sabar salah seorang berkata,
“Bibi emban. Tolong tengoklah ke ruang dalam apakah Kakang Witantra masih berada di sana?”
“Masih Ngger. Masih. Baru saja aku melihat mereka turun dari ruangan itu. Tetapi mereka tidak segera berjalan keluar.”
“Ke mana mereka itu?”
“Mungkin Anakmas Witantra perlu melihat-lihat beberapa buah gardu penjagaan. Penjagaan di halaman belakang yang dilakukan oleh para prajurit pengawal.”
Orang yang bertanya itu, yang tidak lain adalah Nyai Witantra menarik nafas panjang. Ingin ia berlari masuk ke dalam istana, namun ia menjadi ragu-ragu.
Untuk melepaskan kejemuannya, maka ia bertanya, “Bibi emban. Apakah kau melihat Akuwu membawa seorang gadis dari pedesaan?”
Emban itu mengerutkan keningnya Kemudian jawabnya ragu-ragu, “Aku kira demikian Nyai. Apakah ada hubungannya dengan Anakmas Witantra?”
Perempuan yang lain, yang sejak semula selalu berdiam diri mendengarkan percakapan mereka tersentak mendengar jawaban itu, dan tiba-tiba bertanya,
“Apakah gadis itu berada di dalam istana ini pula?”
Kembali emban itu menjadi ragu-ragu. Ia tidak tahu, dari mana dan kenapa akuwu membawa gadis itu. Sehingga karena itu maka jawabnya, “Entahlah. Aku tidak tahu.”
Pemomong Ken Dedes menjadi kecewa. Tetapi ia tidak dapat mendesaknya lagi. Sehingga kembali mereka berdiam diri. Duduk mematung dalam kegelisahan hati masing-masing. Mereka tersentak ketika tiba-tiba mereka melihat dua sosok tubuh yang berjalan ke arah mereka. Ketika mereka sudah dapat melihat dengan jelas, maka berbisiklah emban itu,
“Nah. Itulah. Baiklah aku meninggalkan kalian di sini.”
“Tunggu!” cegah Nyai Witantra.
“Apa yang harus aku tunggu?”
Nyai Witantra tidak menjawab. Tetapi ujung kain emban itu dipeganginya, sehingga emban itu tidak dapat meninggalkannya. Witantra pun terkejut melihat tiga orang perempuan duduk di samping regol. Ia menjadi semakin terkejut lagi ketika diketahuinya bahwa salah seorang dari mereka adalah istrinya.
“He. Kaukah itu Nyai?”
“Ya Kakang ,” jawab Nyai Witantra.
“Apakah kerjamu di sini?”
Nyai Witantra menarik nafas dalam-dalam. Meskipun ia tidak tahu benar apa yang sudah terjadi, namun kini ia melihat suaminya berjalan berdua dengan Ken Arok tanpa pengawalan. Menurut tangkapan perasaannya, maka suaminya tidak sedang dalam kesulitan-kesulitan. Namun meskipun demikian ia menjawab,
“Aku mencemaskan kau Kakang. Aku ingin tahu, apakah yang terjadi denganmu dan Adi Ken Arok.”
“Oh,” Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia tersenyum “Marilah pulang Nyai.”
“Tetapi bagaimana dengan Kakang dan Adi Ken Arok.”
“Tidak apa-apa. Marilah pulang. Biarlah aku nanti bercerita tentang diriku, tentang Adi Ken Arok dan tentang yang lain-lain.”
Nyai Witantra sekali lagi menarik nafas lega. Katanya, “Syukurlah kalau tidak ada apa-apa dengan Kakang dan Adi Ken Arok.”
“Nah. Marilah kita pulang,” ajak Witantra.
“Tetapi,” suara Nyai Witantra terputus. Di palingkannya wajahnya dan ditatapnya wajah pemomong Ken Dedes yang menjadi semakin gelisah.
“Tetapi?” ulang Witantra, ”Adakah soal lain yang akan kau kerjakan pula?”
“Bukan aku Kakang, tetapi Bibi ini.”
“Oh, apakah yang akan dilakukan?”
“Ia mencari momongannya Ken Dedes. Apakah gadis itu berada di dalam istana ini?”
Witantra diam sejenak. Ia tahu benar bahwa Ken Dedes berada di dalam istana. Tetapi ia tidak tahu, apakah ke hadiran pemomongnya itu akan berkenan di hati akuwu. Karena itu maka katanya berterus terang,
“Ya. Gadis itu berada di dalam istana. Tetapi aku tidak tahu, apakah dengan demikian, maka akuwu akan mengizinkan orang lain masuk ke dalamnya. Karena itu, baiklah besok aku bawa Bibi itu menghadap.”
Pemomong Ken Dedes menjadi tidak bersabar menunggu hari esok. Namun ia tidak dapat memaksa. Ia tidak mau kehilangan kesempatan. Apabila akuwu menjadi marah dan kecewa, maka kesempatan baginya akan tertutup rapat-rapat. Karena itu, ia tidak membantah. Namun dengan demikian, pemomong Ken Dedes itu menjadi sedikit tenang. Ia kini sudah tahu, di mana momongannya berada.
Kemudian Witantra dan istrinya beserta pemomong Ken Dedes itu pun kembali ke rumahnya. Kepada emban yang mengawani Nyai Witantra menunggu suaminya, Witantra berpesan
“Emban. Kalau kau dapat masuk ke sentong tengen, sampaikanlah kepada gadis itu, bahwa pemomongnya telah berada di Tumapel. Besuk ia akan dapat bertemu. Mudah-mudahan dengan demikian ia menjadi agak tenang.” Emban itu mengangguk hormat.
Malam telah menjadi semakin larut. Bintang-bintang di langit bergayutan pada dataran yang biru pekat. Satu-satu tampak bintang-bintang yang seakan-akan lepas dari tangkainya, meluncur jauh ke arah barat dan hilang meresap di dalam kelam. Malam itu Witantra menceritakan segala yang diketahuinya dengan berterus terang. Dari yang paling awal, hingga yang paling akhir.
Nyai Witantra mengangkat wajahnya memandang asap pelita yang menggapai-gapai kepanasan. Ditahankannya perasaan yang bergolak di dalam dirinya. Meskipun suaminya terlepas dari segenap hukuman, namun ia akan menghadapi pekerjaan yang berbahaya Witantra telah pula menceritakan, bahwa ia harus memisahkan Kuda Sempana dari gadis itu dengan cara yang sudah ditempuh oleh Kuda Sempana sendiri. Kekerasan.
Persoalan itu akan menjadi persoalan yang aneh sekali. Persoalan yang tidak lazim terjadi di antara manusia-manusia yang menghargai kemanusiaannya. Persoalan yang seakan-akan dapat dipecahkan dengan kekerasan oleh satu pihak tanpa menghiraukan pihak yang berkepentingan. Dalam persoalan yang sulit itu, Ken Dedes sendiri tidak dapat turut menentukan sikapnya.
Tetapi suaminya akan merebut gadis itu bukan karena nafsu seperti apa yang dilakukan oleh Kuda Sempana. Bahkan sebaliknya. Ia ingin melepaskan gadis itu dari penderitaan yang akan dialaminya sepanjang hidupnya. Meskipun Witantra pada suatu saat akan bertempur, namun kini ia akan melakukannya dengan hati yang terang, untuk tujuan yang terang pula.
Sehingga meskipun Nyai Witantra tidak dapat menekan kecemasan hatinya, tetapi suaminya berbuat di atas landasan yang kuat. Sebagai seorang prajurit maka adalah menjadi kewajiban Witantra untuk melepaskan perbuatan-perbuatan yang dapat membahayakan jiwanya. Bertempur. Namun bukanlah untuk melakukan perbuatan sewenang-wenang. Tetapi sebaliknya. Dan kini Witantra itu telah dihadapkan pada kemungkinan itu. Perang tanding, melawan Kuda Sempana.
Ken Arok malam itu tidak ikut kembali ke rumah Witantra. Anak muda itu langsung kembali ke baraknya sendiri. Di perjalanan itu kepalanya selalu dipenuhi oleh berbagai persoalan yang bercampur baur. Heran, kecewa, ngeri dan cemas. Seakan-akan terbayang kembali di muka wajahnya, apa yang pernah dilakukannya dan disusul kemudian oleh apa yang telah dilakukan oleh Kuda Sempana dan Tunggul Ametung. Apapun yang akan dilakukan oleh Tunggul Ametung, namun Ken Dedes itu hatinya telah terluka. Dan luka itu amat parahnya. Tak mungkin seseorang akan dapat menyembuhkan luka itu, bahkan seandainya Ken Dedes itu dijadikannya permaisuri sekalipun.
“Kasihan gadis itu,” desisnya di dalam hati, dan diteruskannya, “untunglah Witantra bersedia untuk melepaskannya. Setidak-tidaknya akan mengurangi penderitaan yang akan dialaminya.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. “Kasihan,” desahnya berulang-ulang. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia sendiri takut melibatkan dirinya dalam persoalan itu. Ia takut apabila ia benar-benar harus mengalami akibat dari persoalan-persoalan itu. Bukan takut seandainya ia harus bertempur melawan siapa pun, tetapi ia takut apabila ia harus menjadi pengganti orang yang telah hilang dari hati Ken Dedes.
“Aku adalah orang yang paling kotor di dunia ini,” gumamnya, “Lebih kotor dari Kuda Sempana. Mungkin Kuda Sempana baru melakukan hal ini untuk pertama kalinya, sedang aku telah melakukannya berulang-ulang. Meskipun ada beberapa perbedaan, namun pada hakikatnya adalah sama saja.”
Ken Arok itu terkejut, ketika tiba-tiba seseorang meloncat ke tengah-tengah jalan yang dilewatinya. Dengan isyarat tangannya orang itu menghentikannya. Ken Arok menarik kekang kudanya yang memang berjalan perlahan-lahan. Ketika diamatinya orang itu maka kemudian diketahuinya, bahwa orang itu adalah Kuda Sempana.
“Adi Ken Arok kah itu?”
“Ya,” sahut Ken Arok pendek.
“Kau datang dari istana bersama Witantra?”
“Ya.”
Kuda Sempana berjalan perlahan-lahan mendekati Ken Arok yang masih duduk di punggung kudanya. Dengan suara parau Kuda Sempana bertanya, “Apa kerjamu di istana?”
Ken Arok mengerutkan keningnya Kemudian jawabnya, “Dari mana kau tahu aku dari istana?”
“Kau sendiri mengatakannya.”
“Aku menjawab pertanyaanmu.”
“Beberapa orang melihat kau masuk ke istana. Beberapa orang pelayan dalam dan para emban. Aku telah datang ke istana. Namun kalian baru menghadap akuwu, sehingga aku membatalkan niatku.”
“Oh. Jadi kau sudah tahu.”
Kuda Sempana mengangkat alisnya. Dengan tajamnya ia mencoba melihat wajah Ken Arok dalam kegelapan malam. Namun Kuda Sempana tidak menemukan kesan apa-apa pada wajah itu.
“Apa yang kalian bicarakan?” bertanya Kuda Sempana kemudian.
“Bukan apa-apa.”
“Mustahil! Akuwu memanggil kalian pada saat-saat yang tidak sewajarnya. Pasti ada yang penting kalian bicarakan dengan Akuwu Tunggul Ametung.”
“Ya.”
“Apa?”
“Akuwu marah kepada Kakang Witantra dan kepadaku atas sikap kami berdua.”
“Hanya marah?”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Kemudian dijawabnya, “Ya. Hanya marah. Apakah kau ingin tindakan lebih dari itu?”
“Telah terucapkan oleh Akuwu Tunggul Ametung, bahwa Witantra akan digantung di alun-alun. Apakah ucapan itu telah dicabut?”
“Ya.”
“Akh. Gila! Dengan demikian maka setiap keputusan akan dapat dicabut tanpa alasan. itu tidak bijaksana. Seorang Akuwu harus tetap pada pendiriannya. Sekali ia menjatuhkan keputusan, maka keputusan itu harus dilaksanakan.”
Ken Arok tidak menjawab. Ia sudah sedemikian lelahnya, sehingga segera ia ingin kembali ke biliknya, menjatuhkan diri dan kalau mungkin tidur. Karena itu dibiarkannya Kuda Sempana melepaskan perasaannya, tanpa diganggunya.
Namun Kuda Sempana menjadi jengkel karenanya. Seakan-akan Ken Arok itu telah tidak mengacuhkannya. Karena itu maka ia berkata lebih keras, “He, Adi Ken Arok. Bukankah aku berkata sebenarnya. Bukankah Akuwu harus menepati keputusannya menghukum Witantra di alun-alun?”
“Itu terserah kepada Akuwu,” sahut Ken Arok yang menjadi semakin jemu mendengar kata-kata Kuda Sempana.
“Tetapi adalah tidak bijaksana dan menurunkan kewibawaannya apabila seorang Akuwu mencabut keputusan tanpa alasan. Akuwu sudah mengucapkan perintah untuk menggantung Witantra karena menentang perintah Akuwu dalam saat yang sulit. itu adalah suatu pemberontakan. Dan hukuman bagi seorang pemberontak adalah hukum gantung di alun-alun. Kenapa tiba-tiba Akuwu mengubah keputusan itu, hanya dengan memarahinya. itu tidak Adil! itu tidak Adil!”
Ken Arok masih duduk terkantuk-kantuk di atas punggung kudanya. Tetapi ia tidak dapat meninggalkan Kuda Sempana. Ia tidak mau menyinggung perasaannya. Tetapi kata-katanya semakin lama semakin menjemukan, sehingga kemudian dengan suara parau ia menjawab,
“Kakang. Sebaiknya pertanyaan itu Kakang sampaikan saja kepada Akuwu. Tidak kepadaku.”
Kuda Sempana memandang Ken Arok seperti hendak di telannya bulat-bulat. Dengan wajah tegang ia berkata, “He, Adi Ken Arok. Apakah sebenarnya yang telah kalian bicarakan sehingga akuwu membatalkan hukumannya?”
“Itulah. Akuwu marah kepada kami. Dan tanpa kami duga-duga, Akuwu telah membatalkan hukumannya.”
“Bohong!” bentak Kuda Sempana, “kalian mesti membuat rencana- rencana yang lain, yang memberikan kemungkinan-kemungkinan untuk melepaskan kalian dari hukuman.”
Ken Arok mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Pelupuk matanya hampir-hampir tak dapat lagi ditariknya. Sekali ia menguap, dan telapak tangannya menutup mulutnya yang terbuka itu. Dengan malasnya ia menjawab,
“Kakang. Bertanyalah kepada Kakang Witantra. Hari ini telah terlampau malam untuk berbicara. Biarlah aku beristirahat. Bukankah sebentar lagi kami sudah di bangunkan oleh kokok ayam. Marilah kita pergunakan kesempatan yang tinggal sesaat ini sebaik-baiknya.”
“Aku juga belum beristirahat. Tetapi aku tidak lelah. Aku tidak mengantuk. Dan aku akan berbicara sampai aku mendapat penjelasan yang memuaskan.”
“Silakan Kakang. Kalau Kakang tidak mengantuk, kalau Kakang tidak lelah, dan kalau Kakang mau bangun sampai fajar, silakan. Tetapi aku lelah dan mengantuk. Aku ingin beristirahat.”
“Tidak. Sebelum kau menjelaskan apa yang telah kalian bicarakan.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Di langit dilihatnya bintang berhamburan. Sekali-kali kelelawar terbang di atas kepalanya. Kelelawar yang sedang mencari mangsanya. Ketika dilihatnya beberapa kelelawar yang beterbangan itu. Ken Arok tersenyum di dalam hati. Ia sendiri tidak tahu, kenapa pendeta di Sagenggeng pernah berkata kepadanya, bahwa dari kepalanya telah keluar berbondong-bondong kelelawar yang merusak buah jambunya.
“Lucu,” gumam Ken Arek di dalam hatinya, “apakah kepalaku ini sarang kelelawar?”
Namun Ken Arok terkejut ketika Kuda Sempana membentaknya, “He, Adi. Kenapa kau berdiam diri?”
“Ah,” desah Ken Arok, “aku benar-benar mengantuk.”
“Jawab pertanyaanku ini! Kenapa akuwu membatalkan hukumannya kepada Witantra?”
“Hanya Akuwulah yang dapat menjawab. Bertanyalah kepada Akuwu. Jangan kepadaku.”
Kuda Sempana menjadi marah mendengar jawaban Ken Arok itu. Karena itu ia melangkah semakin dekat. Dengan dada tengadah ia berkata, “Adi. Kau adalah seorang hamba yang belum lama berada di lingkungan istana. Sedang aku, dapatlah dikatakan sejak bayi aku berada di sini. Karena itu jangan mencoba menghina aku.”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Dengan serta-merta ia menjawab, “Tidak Kakang. Aku sama sekali tidak menghina. Aku berkata sebenarnya. Karena itu biarkan aku pergi supaya Kakang tidak tersinggung melihat sikapku. Sebenarnyalah karena aku tidak dapat mencegah kantukku.”
Tetapi jawaban Ken Arok itu benar-benar tidak menyenangkan Kuda Sempana, karena itu ia berkata pula, “Adi. Sekarang turunlah dari kudamu. Beri aku penjelasan. Semakin cepat itu kau lakukan, maka semakin cepat kau dapat beristirahat.”
Ken Arok memandang Kuda Sempana dengan penuh keragu-raguan. Tetapi bukan kewajibannyalah untuk memberitahukan persoalan yang terjadi di istana. Biarlah besok atau kapan saja Witantra yang menemui Kuda Sempana dan mengatakan persoalan itu. Bukan dirinya, sebab ia tidak mau terlibat semakin jauh.
Karena itulah maka ia menjawab, “Kakang Kuda Sempana. Sekali lagi aku beri tahukan, bertanyalah kepada Akuwu Tumapel atau kepada Kakang Witantra.”
“Jangan keras kepala!” bentak Kuda Sempana semakin marah.
Namun Ken Arok pun menjawab tegas, “Jangan memaksa!”
Selangkah Kuda Sempana maju mendekati Ken Arok sambil berkata, “Turunlah! Jangan membuat aku marah!”
“Kau yang membuat aku marah,” sahut Ken Arok, “sebab bukan hanya Kuda Sempana saja yang dapat menjadi marah.”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya, namun hatinya menjadi semakin menyala. Dengan gigi gemeretak ia berkata, “Adi Ken Arok. Apakah kau membanggakan tanganmu yang mampu membunuh seorang prajurit dengan tangan itu? jangan sombong karenanya. Kau lihat, aku juga mampu membunuh Wiraprana dengan tanganku. Kau lihat dengan kedua belah matamu yang bulat itu bukan? Nah, sekarang katakan kepadaku, apa yang kalian bicarakan dengan Akuwu, atau aku terpaksa memaksamu?”
Tubuh Ken Arok tiba-tiba menjadi gemetar. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Kuda Sempana dapat berlaku sekasar itu. Tetapi ia sendiri adalah bekas seorang penyamun, pembunuh, perampok dan bahkan seorang hantu di padang rumput Karautan. Kini ia telah mendapat tuntunan yang dapat mengatur segala gerak dan tingkah lakunya, sehingga kekuatan-kekuatan yang dianugerahkan kepadanya, telah dapat disusunnya menjadi suatu kekuatan yang dahsyat. Karena itu, maka ia sama sekali tidak takut menghadapi Kuda Sempana seandainya terpaksa ia harus berkelahi.
Tetapi kembali ia menjadi ragu-ragu. Ketika ia hampir saja meloncat dari punggung kudanya, maka diingatnya kembali kata-kata Akuwu Tumapel kepada Witantra, bahwa ia harus merebut Ken Dedes dengan kekerasan. Bukan untuk dirinya atau untuk Witantra, namun perbuatan itu dilakukan asal saja dapat membebaskan Ken Dedes dari Kuda Sempana. Karena itu, maka kali ini Ken Arok menjadi bimbang. Kalau sampai dirinya terlibat dalam perkelahian dengan Kuda Sempana, maka apa yang akan di lakukan oleh Witantra akan menjadi hambar. Mungkin Witantra dan Akuwu Tunggul Ametung akan marah kepadanya. Karena itu, maka biarlah Witantra kelak berhadapan dengan Kuda Sempana dalam persoalan itu. Ia tidak akan mendahului.
Dengan demikian, ketika Ken Arok itu melihat Kuda Sempana selangkah lagi maju. maka dengan serta-merta ditariknya kendali kudanya dan dengan ujung kendali dilecutnya kuda itu. Kuda itu terkejut bukan kepalang. Dengan kerasnya kuda itu meringkik sambil mengangkat kedua kaki depannya. Namun sejenak kemudian kuda itu meloncat dan menghambur ke dalam kelamnya malam.
Kuda Sempana pun terkejut melihat kuda itu meloncat. Dengan tangkasnya ia meloncat ke samping dan dengan marahnya ia melihat kuda itu berlari menjauhinya.
“Pengecut!” umpatnya, “aku sangka kau seorang jantan.”
Dari kejauhan Ken Arok menjawab, “Aku menghindar kali ini Kakang. Kalau kau tidak puas, buatlah persoalan yang lain pada kesempatan yang lain. Aku akan mencoba melayani.”
“Setan! Berhenti kalau kau laki-laki!”
Tetapi Ken Arok telah semakin jauh. Derap kudanya gemeretak di atas batu-batu di jalanan. Semakin lama semakin lambat dan akhirnya lenyap dalam keheningan malam.
“Pengecut!” gumamnya.
Kuda Sempana itu terkejut ketika ia mendengar gerit pintu di belakangnya. Agaknya penghuninya mencoba melihat apa yang terjadi di jalan. Ketika ia mendengar suara ribut-ribut, ia mencoba mengintip dari lubang-lubang dinding, namun ketika ia tidak melihat apa-apa, maka terpaksa dibukanya pintu rumahnya. Seberkas sinar pelita yang lemah meluncur dari secercah pintu yang terbuka itu. Namun hanya sebentar, kemudian pintu itu telah tertutup kembali.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar