MENU

Ads

Selasa, 17 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 047

Kuda Sempana mengumpat-umpat tidak habis-habisnya. Kemudian dengan tergesa-gesa ia berjalan ke barak Ken Arok. Ia tidak puas dengan pertemuan yang menyakitkan hati itu. Anak itu akan dicarinya dan dipaksanya untuk berkata. Tetapi kemudian ia menjadi ragu-ragu. Ken Arok berhasil melawan Mahisa Agni dengan baik. Bahkan belum dapat dilihat apakah ia akan dikalahkan. Kuda Sempana melihat bahwa dalam perkelahian itu, Mahisa Agni itu telah berusaha melepaskan kekuatan tertinggi yang disimpan dalam dirinya. Ah, mungkin Mahisa Agni menjadi bingung menghadapi persoalan itu. Kalau ia masih senang, maka aku sangka Ken Arok itu akan dengan mudah dikalahkan. Kalau ia berani melawan aku, maka aku kira ia akan luluh menjadi debu, apabila tersentuh kekuatan aji Kala Bama.

Kuda Sempana itu pun semakin mempercepat langkahnya. ia hampir tidak sabar lagi ketika tampak olehnya barak Ken Arok yang membujur di belakang sebuah halaman yang luas. Seorang penjaga yang bertugas di pintu gerbang tiba-tiba merundukkan tombaknya sambil bertanya,

“Siapa?”

“Minggir! Aku pecahkan kepalamu nanti,” sahut Kuda Sempana kasar.

“Oh. Kau Kakang Kuda Sempana?”

“Apakah Ken Arok sudah pulang?”

Penjaga itu mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Belum Kakang.”

“Jangan bohong. Kau mau mencoba melindunginya?”

Penjaga itu menjadi bingung. Ia tidak tahu persoalan apakah yang sudah terjadi. Karena itu sekali lagi ia menjawab, “Belum. Aku tahu pasti, Ken Arok belum kembali ke barak.”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Ken Arok yang mendahuluinya berkuda itu pasti sudah sampai di sini. Karena itu ia menjadi jengkel mendengar jawaban itu. Sehingga sekali lagi ia membentak,

“Jangan bohong! Atau kau tertidur dalam tugasmu?”

“Tidak,” jawab penjaga itu.

“Apa yang tidak?”

“Tidak bohong dan tidak tertidur.”

“Kalau begitu kau sengaja melindunginya. Minggir! Biarlah aku cari sendiri anak itu di dalam biliknya.”

Penjaga itu sudah kenal betul siapakah Kuda Sempana. Ia adalah anggota yang lebih tua daripadanya. Karena itu maka dibiarkannya Kuda Sempana itu masuk. Dengan langkah yang panjang-panjang Kuda Sempana langsung menuju ke bilik Ken Arok. Dengan serta-merta ditariknya daun pintu leregan yang terkatup.

Ketika pintu itu bergerit, maka terkejutlah tiga orang penghuni bilik itu. Dengan tangkasnya mereka berloncatan dari pembaringan mereka. Tetapi ketika mereka melihat Kuda Sempana berdiri di muka pintu, maka terdengarlah mereka berdesah dan mengumpat di dalam hati mereka.

“Kau mengejutkan kami Kakang,” berkata salah seorang daripadanya.

Kuda Sempana sama sekali tak acuh mendengar perkataan itu. Dengan nanar ditebarkannya pandangan matanya ke segenap sudut ruang itu. Namun Ken Arok benar tidak ada di dalam biliknya itu.

“Siapakah yang kau cari?” bertanya yang lain.



“Ken Arok,” jawab Kuda Sempana singkat.

“Bukankah Ken Arok pergi bersamamu berburu sejak pagi tadi?”

Kuda Sempana tidak menjawab, bahkan berpaling ke pada orang yang berkata itu pun tidak. Segera ia melangkah meninggalkan bilik itu sambil mengumpat di dalam hatinya,

“Ke mana anak setan ini pergi?”

Tetapi Kuda Sempana sudah kehilangan nafsu untuk mencarinya. Karena itu, maka ia pun segera meninggalkan barak itu untuk kembali ke baraknya sendiri. Namun kepalanya selalu diganggu oleh persoalan-persoalan yang tidak menentu. Tentang Akuwu Tunggul Ametung, tentang Witantra dan tentang Ken Dedes. Kalau akuwu melepaskan perlindungannya kepadanya, maka dikhawatirkan bahwa Mahisa Agni akan segera datang menyusul Adiknya. Atau…. Kuda Sempana menghentakkan giginya.

“Akuwu itu pun tidak ubahnya seperti hantu-hantu yang berkeliaran di kuburan. Setiap saat ia dapat menerkam dan mencelakakan. Kenapa gadis itu aku biarkan tinggal di dalam istana?”

Tetapi Kuda Sempana tidak pergi ke istana. Di regol masih dilihatnya penjaga yang berdiri terkantuk-kantuk.

“He, kau kantuk lagi?”

“Tidak,” sahut penjaga itu. Dan dilihatnya Kuda Sempana berjalan tergesa-gesa meninggalkan halaman itu.

Ketika Kuda Sempana telah hilang di dalam kegelapan malam, maka barulah penjaga itu teringat bahwa baru saja dilihatnya seekor kuda yang berlari kencang dan membelok di ujung jalan sebelum melampaui penjagaannya.

“Kalau Ken Arok masih membawa kudanya, maka pasti kuda yang membelok itu tadi,” gumam penjaga itu kepada diri sendiri.

Dan sebenarnyalah Ken Arok mengurungkan niatnya kembali ke pondoknya. Ia merasa tidak tenang di dalam barak itu. Menurut perhitungannya. Kuda Sempana pasti akan menyusulnya dan mengganggunya lagi, sehingga ia tidak akan sempat untuk beristirahat. Karena itu Ken Arok memacu kudanya ke rumah Witantra. Ia mengharap dapat beristirahat di rumah itu. Dan seandainya Kuda Sempana mencarinya ke sana, biarlah Witantra yang memberinya jawaban

Ketika ia memasuki halaman rumah Witantra, ternyata Witantra pun baru saja sampai. Sebab ia terpaksa menuntun kudanya dan berjalan bersama istri dan pemomong Ken -Dedes.

Kehadiran Ken Arok itu benar-benar mengejutkannya, tetapi ketika Ken Arok telah menceritakan apa yang terjadi, maka Witantra itu pun tersenyum. Katanya, “Nah, kalau Adi mau tidur, tidurlah, meskipun hanya di atas sehelai tikar.”

“Biarlah. Aku ingin beristirahat tampak diganggu oleh siapa pun. Karena itu aku berlari kemari.” Ken Arok itu pun segera dipersilakan tidur di ruang tengah, namun Ken Arok itu berkata, “Biarlah aku tidur di luar Kakang, udara terlalu panas.”

“Di luar terlalu dingin,” sahut Witantra.

“Tidak. Di luar udara segar dan sejuk.”

Sambil menjinjing sehelai tikar Ken Arok pergi ke samping rumah. Seperti pada masa-masanya yang telah lampau segera ia memanjat ke atas kedogan kuda dan tidur dengan nyenyaknya beralaskan tikar dan jerami. Tetapi di dalam rumah itu, Witantra tidak segera dapat memejamkan matanya. Ia sedang membuat gambaran-gambaran tentang usahanya untuk menolong Ken Dedes dari ketakutan dan derita sepanjang umurnya.

“Besok aku harus menemui Kuda Sempana,” desisnya. Dan dipaksanya dirinya melupakan sejenak apa saja yang akan terjadi. Ketika malam sudah hampir menjelang pagi, barulah Witantra dapat tertidur sesaat.

Namun seisi rumah itu pun segera terkejut ketika terdengar derap kaki-kaki kuda memasuki halaman rumah itu. Sebelum mereka menjadi sadar benar, maka terdengarlah ketokan yang keras pada pintu depan. Witantra meloncat dari pembaringannya. Namun ia tidak segera beralih membuka pintu rumahnya. Sesaat ia memperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Ketika ketokan itu masih saja berulang berkali-kali maka terdengar Witantra bertanya,

“Siapa?”

“Aku,” terdengar jawaban di luar pintu, “Kuda Sempana.”

“Oh,” Witantra menarik nafas panjang, dan gumamnya di dalam hati, “Ternyata anak ini tidak bersabar sampai matahari memancar kembali.”

Perlahan-lahan Witantra pergi ke pintu rumahnya. Istrinya yang terbangun pula, berdiri dengan tegang di muka sentongnya. Ketika Witantra lewat di sampingnya, maka terdengar istrinya berbisik,

“Hati-hatilah Kakang.”

“Anak itu tidak akan apa-apa. Ia belum tahu segenap persoalan yang harus dilakukannya. Kedatangannya pasti hanya di dorong oleh kegelisahan yang tak dapat ditundanya.”

Istrinya tidak menjawab. Namun wajahnya masih saja tegang seperti hatinya yang tegang pula.

Di muka pintu Witantra masih bertanya, “Adi Kuda Sempana, kenapa Adi datang di pagi-pagi buta ini?”

“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan Kakang,” jawab Kuda Sempana.

Sesaat kemudian terdengar pintu bergerit terbuka. Di muka pintu berdiri Kuda Sempana dengan nafas terengah-engah. Dipandanginya wajah Witantra dengan penuh kecurigaan.

“Marilah,” Witantra mempersilakan.

Kuda Sempana menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak Kakang. Aku hanya ingin tahu, apakah yang Kakang perbincangkan dengan Akuwu bersama Adi Ken Arok?”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kenapa Adi tidak menunggu sampai besok siang?”

“Aku tidak tahan. Hatiku seakan-akan selalu diganggu oleh pertemuan kalian.”

“Kenapa?” bertanya Witantra.

Kuda Sempana tidak segera menjawab. Hatinya menjadi berdebar-debar dan kata-katanya seakan-akan tersangkut di kerongkongan. Di samping rumah itu, di atas kandang kuda, Ken Arok mendengar pula kehadiran Kuda Sempana. Namun dengan malasnya ia menggeliat dan berusaha untuk tidur kembali. Tetapi percakapan antara Witantra dan Kuda Sempana ternyata menarik perhatiannya, sehingga justru ia mencoba menangkap setiap kata yang meluncur dari sela-sela Bibir mereka.

Sejenak kemudian terdengar Kuda Sempana menjawab, “Kakang, pertemuan yang terjadi di istana malam tadi adalah tidak wajar.”

“Apa yang tidak wajar?”

“Akuwu tidak biasa memanggil seseorang di malam hari apabila tidak terlalu penting.”

“Ya. Memang Akuwu memanggil pada sore hari. Namun aku masih harus mandi dan makan dahulu, sehingga aku datang terlambat.”

“Kalau Kakang yang terlambat, tidak mungkin Akuwu akan menerima Kakang. Bahkan mungkin Kakang telah diusirnya.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Sesaat ia menjadi ragu-ragu. Apakah ia akan mengatakan apa yang didengarnya dari Akuwu saat itu juga. Tetapi tebersit di dalam hatinya, apabila mungkiri biarlah ditemuinya saja Kuda Sempana pada kesempatan yang lebih baik. Tidak di pagi-pagi buta dan apabila ia tidak sedang dibakar oleh kebingungan.

Karena itu, maka sekali lagi Witantra itu berkata, “Adi Kuda Sempana. Duduklah. Dan marilah kita berbicara dengan tenang. Apabila Adi tidak juga mau duduk, maka setiap pembicaraan pasti akan tergesa-gesa.”

“Tidak Kakang. Aku hanya perlu sepatah dua patah kata dari Kakang. Apakah yang dibicarakan akuwu malam tadi?”

Witantra mengerutkan keningnya. Sambil menebarkan pandangan matanya ke seluruh halaman ia berkata, “Apakah Adi Kuda Sempana belum mendengarnya dari Adi Ken Arok.”

Kuda Sempana menggeleng. “Belum,” jawabnya.

“Kenapa Adi tidak bertanya saja kepadanya?”

Anak muda yang bernama Kuda Sempana itu mengernyitkan alisnya. Dengan jengkel ia menjawab, “Aku sudah bertanya kepadanya, tetapi ia minta kepadaku untuk menanyakan saja kepada Kakang Witantra.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih mencoba menunggu sampai siang. Katanya, “Baiklah, nanti aku akan datang ke barakmu. Aku akan minta Adi Ken Arok menceritakan apa yang telah didengarnya dari akuwu.”

“Kenapa nanti? Dan kenapa Ken Arok?” sahut Kuda Sempana semakin jengkel, “Ken Arok minta kepadaku untuk menghubungi Kakang. Kakang sekarang berkata, akan membawa Ken Arok. Apakah aku ini kalian sangka seperti sebuah balok permainan yang dapat dilemparkan ke sana kemari.”

“Bukan itu maksudku Adi. Tetapi kali ini adalah bukan waktu yang tepat untuk berbincang. Biarlah istri dan ibuku tidur sampai fajar. Kedatangan Adi benar-benar mengejutkan mereka.”

“Kalian selalu mementingkan kepentingan diri. Ken Arok juga berkata demikian. Ia ingin segera tidur. Kakang juga hanya berpikir tentang keluarga Kakang. Tetapi Kakang tidak mau mengerti perasaanku. Semalam aku tidak dapat tidur. Semalam aku selalu diburu oleh kegelisahan.”

“Bukankah itu juga suatu perbuatan yang hanya mementingkan kepentinganmu sendiri? Kalau kita berbuat dengan memperhatikan kepentingan orang lain, maka kau tidak akan datang kemari di pagi buta ini. Kau pasti akan menunggu sampai hari besok.”

Kuda Sempana terdiam. Namun kemudian ia menjawab, “Nah. Sekarang aku minta Kakang mengatakan. Dua tiga patah kata saja. Bagaimana sikap Akuwu terhadap gadis itu?”

“Gadis itu menjadi sakit karenanya.”

“Aku bertanya tentang sikap Akuwu terhadap gadis itu.”

“Oh. Akuwu mencoba mengobatinya. Telah dipanggil olehnya seorang dukun yang baik.”

“Bukan itu!” Kuda Sempana tiba-tiba membentak, “Sikap perasaan Akuwu sebagai laki-laki terhadap perempuan.”

Witantra menarik alisnya tinggi-tinggi. Kemudian katanya, “Kuda Sempana tinggalkan tempat ini. Kau tahu siapa aku? Perwira prajurit pengawal istana dan akuwu. Kau dengar perintah ini, hai pelayan dalam?”

Telinga Kuda Sempana seakan-akan seperti tersentuh api mendengar kata-kata itu. Sesaat ia terpaku, namun giginya gemeretak menekan kemarahan yang melonjak-lonjak di hatinya. Hampir-hampir ia kehilangan pengamatan diri. Sebagai seorang laki-laki yang telah berani melakukan perbuatan yang berbahaya, melarikan seorang gadis, maka apapun yang akan menghalanginya, pasti akan diterjangnya. Tetapi kali ini ia berhadapan dengan seorang perwira pengawal istana dan akuwu. Karena itu ia menjadi ragu-ragu. Bukan karena ia takut untuk berkelahi melawannya, tetapi apakah dengan demikian ia tidak melanggar ketentuan sebagai seorang hamba istana.

Sejenak Kuda Sempana berdiri tegang. Dipandanginya mata Witantra yang seakan-akan menyala membakar jantungnya Namun kemudian pandangan matanya itu terlempar jauh ke sudut halaman.

Yang terdengar kemudian adalah suara Witantra, “Tinggalkan tempat ini!”

Dada Kuda Sempana berdebar-debar keras sekali. Selangkah ia surut namun kemudian jawabnya, “Kakang Witantra, ternyata Kakang tidak mau menolong meringankan perasaanku. Baik. Selagi aku terikat pada ketentuan dan peraturan, aku menaati perintahmu. Tetapi pada suatu ketika kita akan berdiri di luar garis jabatan kita masing-masing. Dalam kesempatan itu kita akan bertemu sebagai dua orang laki-laki. Kali ini kau masih dapat mempergunakan kekuasaanmu untuk mengusir aku. Namun pada saatnya kau akan terbungkam.”

“Kuda Sempana!” geram Witantra, “Saat itu tidak akan lama lagi datang. Di mana kita akan berhadapan sebagai dua orang laki-laki tanpa tanda-tanda jabatan masing-masing.”

Kuda Sempana membelalakkan matanya. Timbullah kecurigaan yang semakin besar di dalam dirinya. Sehingga karena itu ia berkata, “Aku tidak sabar lagi menunggu saat itu datang.”

“Pergilah!” hardik Witantra, “Kau tidak akan menunggu sampai matahari terbenam di hari yang akan datang nanti.”

Sekali lagi Kuda Sempana menggeretakkan giginya. Dipandangnya wajah Witantra sekali lagi. Kemudian cepat-cepat ia memutar tubuhnya. dan berjalan tergesa-gesa ke kudanya. Sesaat kemudian terdengarlah langkah kudanya menderu di keremangan fajar yang sudah mulai membayang di timur.

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Ditengadahkan wajahnya, dan dilihatnya bintang pagi berkilauan di tenggara. Cahaya yang kemerah-merahan sudah mulai membayangi langit. Dan di kejauhan ayam jantan riuh berkokok bersahutan. Ketika Witantra akan melangkah memasuki rumahnya, dilihatnya Ken Arok berjalan dari samping rumahnya. Sekali ia menggeliat kemudian katanya,

“Kakang Kuda Sempana benar-benar diombang-ambingkan oleh perasaannya sendiri.

“Itu adalah hukumannya yang pertama,” sahut Witantra.

“Ya. Hukuman itu masih akan bertambah-tambah.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya pula, “Perbuatan-perbuatan yang demikian tidak akan mendatangkan ketenteraman di dalam hati. Nah, marilah, Masuklah. Apakah kau dapat tidur pagi ini?”

“Sebentar. Derap kaki kuda Kakang Kuda Sempana telah membangunkan aku.”

Kembali Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan kembali Witantra itu berkata, “Marilah. Masuklah.”

“Terima kasih. Biarlah aku mandi dahulu.”

Setelah mereka membersihkan diri masing-masing, barulah mereka duduk di ruang depan rumah Witantra itu sambil menghangatkan diri dengan air daun sere. Meskipun demikian, angan-angan mereka sama sekali tidak melekat pada keadaan mereka saat itu. Mereka sedang sibuk membayangkan, apa yang akan terjadi seterusnya.

“Apakah kita akan menghadap Akuwu?” bertanya Ken Arok. “Tidak, Akuwu telah mengeluarkan perintah. Aku akan langsung datang kepada Kuda Sempana. Hari ini persoalan harus selesai. Sehingga besok, gadis itu sudah tidak lagi terlibat dalam arus ketakutan dan kecemasan.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kalau demikian apakah kita langsung pergi ke barak Kakang Kuda Sempana.”

“Ya,” jawab Witantra, “marilah kita pergi ke sana.”

Keduanya segera berdiri. Ketika Ken Arok berjalan ke luar, Witantra masuk ke dalam mencari istrinya.

“Aku akan pergi Nyai,” pamitnya.

Nyai Witantra sudah tahu, apa yang akan dilakukan oleh suaminya. Karena itu mau tidak mau, maka hatinya pun menjadi cemas.

“Hati-hatilah Kakang,” suaranya lirih, hampir tidak dapat meloncat dari Bibirnya yang tipis.

“Aku akan mencoba menjaga diriku baik-baik,” sahut Witantra.

Ibunya, yang kemudian datang pula, menepuk pundak anaknya sambil berkata, “Kau adalah seorang prajurit.”

“Ya. Dan kali ini aku tidak sedang menghadapi musuh-musuh Tumapel, tetapi aku sedang berjuang untuk mencoba menyelamatkan sesama.”

“Itu juga pekerjaan seorang kesatria,” bisik ibunya.

Namun mereka terkejut ketika mereka mendengar suara yang bernada tinggi, “Kakang Witantra selalu mencari kesulitan.” Witantra berpaling. Dilihatnya Ken Umang bersandar tiang pintu sentongnya. Dengan mengangkat dadanya ia berkata, “Kalau Kakang tidak mencampuri persoalan itu, maka Kakang tidak akan dihadapkan pada persoalan-persoalan yang rumit. Kalau Kakang pergi berperang pedang di tangan, menghadapi musuh-musuh Tumapel, maka akan berbanggalah seluruh rakyat Tumapel. Tetapi kali ini? Kakang berkelahi untuk seorang perempuan yang tak tahu diri. Perempuan pedesaan apa yang dicita-citakan? Menjadi istri Akuwu barangkali? Istri Tunggul Ametung?”

“Umang!” potong Nyai Witantra, “Jangan berkata lagi tentang persoalan yang tidak kau ketahui.”

“Aku tahu seluruh persoalannya.”

“Tidak!” potong Witantra, “Persoalan ini tidak terlalu sederhana. Bukan sekedar persoalan merebut perempuan. Tetapi persoalan ini adalah persoalan kemanusiaan. Persoalan yang lebih berharga dari segenap persoalan.”

Ken Umang mencibirkan bibirnya sambil mengangkat wajahnya. Hidungnya yang kecil, runcing seakan-akan membayangkan hatinya yang runcing pula. Kemudian sambil tersenyum Ken Umang itu berkata,

“Kakang Witantra ingin menjadi pahlawan kemanusiaan.”

Wajah Witantra menjadi semburat merah. Tetapi ia tidak mau melayani anak-anak sebaya Ken Umang. Seorang anak yang sedang dilanda oleh arus pancaroba. Seorang anak gadis yang belum menemukan alas berpijak. Karena itu maka bisiknya kepada istrinya,

“Awasi Adikmu. Ia sedang berada di daerah yang paling berbahaya di sepanjang perjalanan hidupnya. Ia memandang dunia dari dirinya dan berpusar pada dirinya pula. Dalam usia yang demikian, maka berkecamuklah di dalam dadanya, iri, cemburu, cita-cita dan nafsu. Kalau sekali ia salah berpijak maka ia akan tersesat untuk seterusnya.”

“Alangkah sulitnya menguasai anak itu,” desak kakak perempuannya.

“Mudah-mudahan kau berhasil,” sahut Witantra, yang kemudian sekali lagi ia minta diri.

Istrinya, ibunya dan Ken Umang mengantar Witantra dan Ken Arok sampai ke muka regol. Wajah Nyai Witantra masih saja disaput oleh kecemasan hatinya. Ia tahu benar, apa yang akan dilakukan oleh suaminya. Mengemban tugas kemanusiaan, memisahkan gadis yang malang dari Panawijen itu dari Kuda Sempana. Agak jauh dari mereka, berdirilah emban pemomong Ken Dedes dengan penuh kebimbangan. Sekali ia melangkah maju, dan langkah itu terhenti ketika Ken Umang berpaling kepadanya.

“He, Nini tua,” bertanya Ken Umang, “Apakah momonganmu itu terlalu amat cantik, sehingga seisi istana menjadi bingung karenanya?”

Pemomong Ken Dedes mengerutkan keningnya. Namun kata-kata itu dijawabnya, “Tidak Ngger. Momonganku adalah seorang gadis pedesaan yang sederhana.”

“Nah, bukankah kau ikut berbangga karenanya? Lihat, semua orang di dalam Istana Akuwu Tumapel memperbincangkannya. Ken Dedes. Ken Dedes. Kau lihat, Kakang Witantra, perwira pengawal istana dan pengawal akuwu itu pun menjadi sangat sibuknya. Seorang anak muda pelayan dalam yang tidur di sini semalam pun menjadi ribut. Belum lagi pelayan dalam yang bernama Kuda Sempana yang hampir gila dibuatnya.”

Emban tua itu tidak menjawab. Bahkan ditundukkannya wajahnya. Banyak kata-kata yang bergolak di dalam dadanya. Namun ditahannya kata-kata itu kuat-kuat, dan disimpannya baik-baik, Tetapi ternyata terloncat jawaban dari Nyai Witantra, kakak perempuan Ken Umang itu sendiri.

“Umang, Bibi tua tidak tahu apa-apa. Dan apakah salah Ken Dedes, apabila seluruh isi istana menjadi ribut. Bahkan seandainya seluruh laki-laki di Tumapel terbakar pula hatinya melihat kehadirannya di istana serta melihat kecantikannya. Umang, kau juga seorang gadis yang cantik. Namun beruntunglah nasibmu, bahwa kau tidak usah mengalami bencana seperti Ken Dedes. Sebentar lagi kau juga akan meningkat dewasa sepenuhnya. Hati-hatilah.”

Sekali lagi Ken Umang mengangkat dagunya. Kedua matanya yang redup memandang emban tua itu dengan pancaran yang aneh. Namun ia tidak membantah kata-kata kakaknya. Di dalam hatinya tebersitlah kebanggaannya atas kecantikannya. Seperti yang didengarnya dari kakaknya perempuan itu, dari mertua kakaknya dan dari beberapa orang lagi. Sekali-kali ia becermin juga di wajah air yang tenang. Dan memang wajahnya pun tidak kurang cantiknya. Sebentarlah lagi, seandainya bunga, maka bunga itu akan berkembang.

Tetapi kenapa kecantikannya itu tidak mampu menggetarkan istana seperti Ken Dedes? Ia akan berbangga seandainya laki-laki datang bersimpuh kepadanya. Ia akan dapat berbuat banyak dengan kesempatan seperti yang didapatkan oleh Ken Dedes itu. Tetapi ternyata Ken Dedes menyesali nasibnya itu.

“Alangkah bodohnya,” geram Ken Umang di dalam hatinya, “Kalau aku, maka aku akan dapat memilih di antara mereka. Dengan berbagai sayembara, maka akhirnya aku mendapatkan yang paling baik di antara mereka. Mungkin sayembara tanding. Mungkin sayembara pilih. Mungkin sayembara bebana atau apapun yang menyenangkan. Ah. Dasar gadis pedesaan. Gadis yang dikungkung oleh perasaan yang sempit. Yang menilai cinta sebagai nyawanya sendiri. Bagiku, cinta adalah kehidupan ini. Kehidupan yang memberi aku kepuasan. Yang memberi aku apa yang aku inginkan kini. Itulah cinta yang bijaksana. Cinta yang terasa segarnya sebagai meneguk air kelapa ketika kita sedang kehausan. Bukan cinta yang selalu dirundung malang. Cinta yang dibungai oleh air mata dan penyesalan.”

Tetapi ia tidak berkata apa-apa. Disimpannya penilaiannya atas cinta itu di dalam hatinya. Tetapi seolah-olah ia berjanji kepada diri sendiri, bahwa ia akan dapat menemukan cinta seperti yang diharapkannya itu. Dengan langkah yang pendek-pendek Ken Umang berjalan kembali masuk ke dalam rumah. Sekali ia berpaling dan dilihatnya ketiga orang perempuan masih berdiri di tempatnya. Nyai Witantra memandanginya sampai ia hilang masuk ke balik pintu.

“Anak itu anak yang terlalu bengal,” desisnya.

“Sabarlah Nyai,” sahut ibu Witantra, “mudah-mudahan semakin banyak umurnya, ia akan menjadi semakin menyadari arti hidupnya. Hidup seorang gadis, yang kelak akan menjadi seorang perempuan dan syukurlah menjadi seorang ibu.”

Nyai Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Mudah-mudahan. Tetapi tidak semua gadis mengalami masa yang tajam setajam pergolakan yang terjadi dalam diri Ken Umang. Aku juga pernah merasakan ketidaktentuan dalam hidup dan cita-cita. Namun segera aku dapat menemukan keseimbangan. Namun anak itu tidak.”

“Ajarilah perlahan-lahan,” berkata mertuanya.

Nyai Witantra pun kemudian terdiam. Dipandanginya pintu rumahnya yang masih terbuka. Namun Adiknya sudah tidak tampak lagi. Karena itu maka segera ia mempersilakan ibunya masuk dan mempersilakan emban tua pemomong Ken Dedes itu pula beserta mereka.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar