MENU

Ads

Selasa, 17 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 048

Malam itu, Akuwu Tunggul Ametung hampir tidak dapat tertidur pula. Sekali-kali ia bangkit berjalan hilir mudik di dalam biliknya. Namun ketika terasa udara terlalu panas, maka akuwu itu pun berjalan keluar ruangan dengan sebuah kepet di tangannya. Di serambi, di luar ruangan dalam dilihatnya seorang pelayan duduk terkantuk-kantuk menunggu seandainya ada perintah daripadanya, Sedang di sudut halaman dilihatnya pelita yang suram dalam gardu penjagaan para prajurit.

Tetapi di serambi itu pun terasa panasnya masih menyengat tubuhnya. Keringatnya mengalir membasmi seluruh wajah kulitnya. Tetapi Tunggul Ametung tidak menyadari, bahwa sebenarnya yang paling panas malam itu adalah nyala kegelisahan di dalam dadanya sendiri. Karena itu, ke manapun ia pergi, dan bahkan seandainya ia berendam di dalam air dingin sekalipun, maka tubuhnya pasti masih akan terasa panas.

Tanpa disengajanya, maka akuwu itu kemudian berjalan ke samping, menembus pintu dan sampailah ia di ruangan pusat istana Tumapel. Di belakang ruangan itulah berjajar tiga buah ruangan yang disebut sentong kiwa, sentong tengah dan sentong tengen. Kakinya seolah-olah bergerak saja dengan sendiri, sehingga akuwu itu terkejut ketika dilihatnya seorang emban tidur mendengkur beralaskan selendangnya di muka pintu sentong tengen.

Hampir-hampir Tunggul Ametung membentaknya. Tetapi untunglah segera ia teringat kepada gadis yang pingsan di dalam bilik kanan itu. Karena itu maka niatnya diurungkan. Bahkan perlahan-lahan sambil berjingkat Tunggul Ametung berjalan mendekati sentong tengen itu. Ketika ia menjenguk ke dalam dilihatnya Nyai Puroni pun tertidur sambil meletakkan kepalanya di pembaringan Ken Dedes.

Akuwu menarik nafas dalam-dalam ketika dilihatnya gadis yang pingsan itu kini telah tertidur pula, meskipun tampak gelisah. Sekali-kali dilihatnya gadis itu menggeliat, kemudian terdengar suara keluhan perlahan-lahan. Namun gadis itu tertidur kembali.

“Gadis itu tertidur karena kelelahan. Lelah lahir dan batinnya,” gumam Tunggul Ametung kepada diri sendiri.

Tetapi Tunggul Ametung itu tidak segera beranjak dari tempatnya. Tiba-tiba ia terpaku kepada wajah gadis yang sedang tidur di pembaringan itu. Wajahnya yang pedih menahan sakit hati, matanya yang bendul karena menangis dan bibinya yang tipis bergerak-gerak melontarkan keluhan yang sedih. Namun semuanya itu benar-benar telah memukau hatinya. Baru kini ia sempat memandang wajah itu dengan seksama. Wajah yang wajar bersih tanpa selapis pulasan apapun. Bahkan tampaklah air matanya masih juga membasahi ujung-ujung rambut dan bantalnya.

“Hem,” akuwu itu menarik nafas dalam-dalam, “Kasihan. Gadis yang bersih itu kini kehilangan kegembirn masa depannya. Kehilangan kekasih yang dicintainya. Kehilangan kemerdekaan dirinya dan kehilangan apapun yang dimilikinya apa bila ia benar-benar jatuh ke tangan Kuda Sempana.

“Hem, setan itu benar-benar telah menjebak aku.”

Tetapi desah itu pun terputus. Akuwu menggelengkan kepalanya. Ia telah berbuat di hadapan saksi-saksi. Ia tidak akan dapat melemparkan tanggung jawab kepada orang lain. Ia tidak akan berkata bahwa perbuatan itu dilakukan oleh Kuda Sempana. Ia tidak akan bisa menghukum orang lain karena perkosaan atas kemanusiaan. Semua telah terjadi di hadapan hidungnya.

“Hem,” sekali lagi Tunggul Ametung itu menggeram. Dan sekali dipandanginya wajah gadis yang sedang tertidur itu. Wajah yang wajar bersin tanpa selapis pulasan apapun.

“Kalau aku dapat mencarikan ganti yang hilang dari gadis itu,” katanya di dalam hati, “Seandainya aku memiliki seseorang yang bernama Wiraprana. Seandainya aku dapat menghidupkannya kembali. Seandainya, ya seandainya semua itu belum terjadi. Tetapi itu adalah angan-angan yang mustahil terjadi. Sekarang, ya, apa yang dapat dilakukannya?”

Hati Tunggul Ametung berdesir ketika Ken Dedes itu bergerak. Namun kembali gadis itu diam. Namun tampaklah wajah itu berkerut seakan-akan menahan pedih yang menggores-gores hatinya.

“Kasihan,” desis akuwu.

Dan tiba-tiba saja melonjaklah sesuatu di dalam hati akuwu itu. Darahnya yang gelisah. seakan-akan mendidih karenanya. Matanya itu tajam-tajam memandangi wajah Ken Dedes yang wajar, bersih dan muram ia tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja tebersitlah suara di dalam hatinya,

“Tunggul Ametung, kesalahan ini terletak di pundakmu. Karena itu kaulah yang harus menebusnya. Semua milikmu tidak akan cukup banyak untuk mengganti kepedihan hati gadis itu. Gadis yang sebenarnya bukan gadis pedesaan kebanyakan seperti yang kau saksikan sendiri. Dari tubuh gadis memancar cahaya yang tidak dapat kau lihat dengan mata wadagmu. Namun sekali-sekali tampak oleh mata hatimu.”

Tunggul Ametung itu menjadi berdebar-debar suara itu terngiang di dalam rongga hatinya. Semakin lama semakin keras. Sehingga Akuwu Tumapel itu menjadi bingung karenanya. Dalam kebingungan itu sekali lagi mata hatinya melihat keganjilan itu. Tubuh Ken Dedes tiba-tiba menjadi bercahaya. Hanya sekilas saja, sekilas pada saat Tunggul Ametung seakan-akan kehilangan kesadarannya. Namun ketika ia mencoba membuka matanya lebar-lebar kembali ia melihat gadis itu terbujur diam. Gadis pedesaan, dengan kain lurik kasar dan rambut yang terurai lepas.

Tunggul Ametung itu menjadi gemetar. Ia mengalami suatu peristiwa yang tidak dimengertinya. Sedang suara yang terngiang di telinga hatinya menjadi semakin keras Dan seolah-olah mengguntur tidak henti-hentinya. Akuwu itu benar-benar diganggu oleh indera halusnya. Meskipun wadagnya sama sekali tidak mengalami rangsang apapun, namun telinga hatinya telah mendengar suara itu, dan mata hatinya telah melihat cahaya ini. Perpaduan dari penghayatan hatinya itu, menumbuhkan akibat yang luar biasa pada dirinya. Dan tiba-tiba pula, di luar kemauannya. terdengar akuwu itu bergumam perlahan-lahan,

“Akan aku tebus semua kesalahan ini. Akan aku ganti yang hilang dari gadis itu dengan semua yang aku miliki, termasuk tanah Tumapel.”

Kata-kata janji itu seakan-akan disambut oleh suara guruh yang menggelegar dan guntur yang bersahut-sahutan di antara kilat yang bersambung. Suaranya bergelora seolah-olah menggugurkan Gunung Kawi, Gunung Arjuna dan Gunung Semeru. Akuwu itu pun kemudian menjadi gemetar. Hampir-hampir ia tidak dapat lagi berdiri tegak pada kedua kakinya. Dengan tangan yang menggigil dicobanya untuk berpegangan pada tiang-tiang pintu sentong tengen sambil memejamkan matanya. Seandainya istana ini roboh karena petir dan guntur, biarlah ia tidak menyaksikannya.



Namun tiang-tiang itu masih tegak di tempatnya. Istana itu sama sekali tidak bergoyang. Sehingga sesaat kemudian, ketika gemuruh itu telah mereda, terasa dada Tunggul Ametung menjadi sesak. Kini disadarinya, bahwa guruh yang bergelora dan kilat yang bersambung di antara gemuruhnya guntur adalah bergolaknya dadanya sendiri. Dadanya yang pepat dan seakan-akan sebuah waduk raksasa yang dilanda banjir empat puluh malam. Dadal, jebol tanpa dapat ditahankan lagi. Gulung gemulungnya air bah itu ternyata telah melanda segenap dinding hatinya.

Tunggul Ametung itu perlahan-lahan membuka matanya. Masih dilihatnya pelita yang tersangkut di tlundaknya. Masih dilihatnya perhiasan-perhiasan dinding ukiran masih berada di tempatnya. Dan ketika ia meraba tubuhnya, terasa alangkah dinginnya. Namun sekali lagi Tunggul Ametung terkejut, sehingga ia terlonjak di tempatnya. Tepat ia berpaling dan kembali didengarnya suara itu. Perlahan-lahan menghantam dadanya seperti runtuhnya Gunung Semeru,

“Tuanku, Akuwu Tunggul Ametung. Apakah kata-kata Tuanku telah Tuanku pertimbangkan sebaik-baiknya?”

Kembali tubuh Tunggul Ametung menjadi gemetar. Keringat dinginnya mengalir membasahi segenap tubuhnya. Kini diketahuinya dengan pasti, bahwa Nyai Puroni, dukun tua itulah yang berkata kepadanya. Dukun tua yang telah terbangun dari tidurnya.

Dengan terbata-bata Tunggul Ametung bertanya, “Nyai, apakah yang kau dengar?”

“Kata-kata Tuanku?”

“Apa yang aku katakan?”

Nyai Puroni menarik nafas dalam-dalam. Sambil menyembah ia berkata, “Tuanku telah mengucapkan sebuah janji.”

Tubuh Tunggul Ametung menjadi semakin gemetar. Dengan nada parau ia bertanya, “Apakah yang aku ucapkan?”

“Janji,” sahut Nyai Puroni, “dan janji itu terlampau berat untuk dapat dipenuhi.”

Kini Tunggul Ametung tidak saja berpegangan tiang-tiang pintu bilik itu, tetapi kini ia terpaksa menyandarkan seluruh tubuhnya pada tiang itu. Ya, kini semuanya jelas baginya. Ia telah mengucapkan janji, dan janji itu benar-benar sangat berat untuk dipenuhi. Namun ia tidak dapat mengingkarinya. Janji itu telah terucapkan dan seseorang telah mendengarnya. Meskipun orang itu akan dapat menyimpan rahasia apa bila dimintanya, namun ia tidak dapat mengingkari pendengarannya sendiri. Telinga hatinya yang dengan pasti telah mendengar janji itu. Dan bahkan janji itu seakan-akan telah terngiang kembali di telinganya. Semakin jelas, kata demi kata, ‘Akan aku tebus semua kesalahan ini. Akan aku ganti yang hilang dari gadis itu dengan semua yang aku miliki, termasuk Tanah Tumapel ini.’ Tunggul Ametung memejamkan matanya.

Ruangan itu untuk sesaat dilanda oleh kesepian. Yang terdengar hanyalah tarikan nafas mereka yang semakin cepat mengalir. Di luar pintu terdengar emban itu masih tidur mendengkur. Seakan-akan tidak pernah terpikir olehnya apa saja yang pernah terjadi dan apa saja yang akan terjadi.

Namun sejenak kemudian terdengarlah suara Nyai Puroni perlahan-lahan, “Tuanku. Meskipun janji itu telah Tuanku ucapkan, tetapi belum seorang pun yang mendengarnya selain aku. Karena itu, Tuanku, seandainya pertimbangan Tuanku kemudian berkata lain, sebaliknya Tuanku menyadari keadaan Tuanku sebagai seorang akuwu.”

Tunggul Ametung masih memejamkan matanya. Kata-kata itu didengarnya dengan baik. Sehingga terjadilah suatu pergolakan yang dahsyat di dalam hatinya. Ketika ia membuka matanya dilihatnya Ken Dedes terbaring diam di pembaringan. Sebuah kain lurik yang kasar dan kesederhanaan wajahnya benar-benar telah mengungkapkan kesederhanaannya sebagai gadis pedesaan.

Kini hati akuwu itu menjadi ragu-ragu. Gadis itu adalah gadis pedesaan. Apakah pedulinya seandainya ia menjadi sengsara dan kehilangan masa depannya. Ia adalah satu dari ribuan gadis desa. Gadis yang tidak akan berarti apa-apa bagi tanah ini, bagi Tumapel. Kenapa selama ini ia dipusingkan olehnya. Hanya oleh seorang gadis desa. Kalau ia ingin menolongnya, maka dapatlah ia menolong dengan cara yang semudah-mudahnya. Mengembalikan gadis itu ke kampungnya. Mengancam Kuda Sempana untuk tidak mengganggunya lagi. Dan selesailah pekerjaannya. Tetapi bagaimana dengan Wiraprana yang telah mati itu. Dan bagaimana dengan masa depan gadis itu.

“Ah,” terdengar sebuah keluhan di dalam hati Tunggul Ametung, “ada beribu-ribu anak muda di pedesaan itu. Biarlah ia memilih. Nanti biarlah aku yang membawa anak muda itu kepadanya sebagai ganti Wiraprana.”

Dalam keragu-raguan itu tiba-tiba mata Tunggul Ametung menjadi terbelalak. Sekali lagi ia melihat cahaya yang memancar dari tubuh Ken Dedes, seakan-akan memancar dari dalam tubuh itu. Namun kembali cahaya itu tidak tertangkap oleh matanya.

“Oh,” akuwu itu mengeluh, “Nyai. Nyai Puroni. Apakah aku sudah menjadi gila he?”

Nyai Puroni menjadi cemas melihat Tunggal Ametung kemudian menutupi wajahnya dengan kedua belah tangannya.

“Tuanku,” desis Nyai Puroni.

“Nyai, aku melihat lagi cahaya itu. Aku melihat lagi. Namun mataku tidak kuasa untuk menangkap.”

“Apa Tuanku. Apakah yang Tuanku lihat?”

Akuwu Tunggul Ametung masih menutupi kedua belah matanya dengan tangannya sambil bersandar di uger-uger pintu. Ia kini benar-benar menjadi pening, dan dengan terbata-bata mencoba menjawab pertanyaan Nyai Puroni,

“Aku melihat cahaya itu Nyai. Cahaya yang seakan-akan memancar dari tubuh gadis Panawijen itu. Namun aku tidak kuasa menatap cahaya itu. Demikian akan mencoba memandangnya, maka cahaya itu pun lenyaplah.”

Nyai Puroni menjadi bingung pula. Ia tidak melihat apa-apa pada gadis itu. Tidak melihat cahaya dan tidak melihat sesuatu sama sekali. Namun demikian dibiarkannya saja Akuwu meratapi dirinya, sebab Nyai Puroni itu pun tidak tahu, bagaimana ia harus menjawab.

Tiba-tiba Tunggul Ametung itu mengangkat wajahnya. Perlahan-lahan ia berkata kepada Nyai Puroni, “Nyai. Bagaimana pendapatmu tentang aku? Apakah aku sudah gila atau aku masih cukup sehat?”

“Tuanku,” jawab Nyai Puroni, “pertanyaan Tuanku masih menyatakan bahwa Tuanku sehat sesehat-sehatnya. Mungkin Tuanku lelah atau bingung. Namun setelah Tuanku tenang kembali, maka Tuanku pasti akan menemukan kesegaran pikiran. Juga tentang janji yang Tuanku ucapkan.”

“Ya. Mungkin kau benar Nyai,” berkata Tunggul Ametung, “tetapi janji itu sudah terlanjur aku ucapkan. Aku wajib untuk memenuhinya.”

Nyai Puroni tidak segera menjawab. Ketika ia mencoba memandang wajah Tunggul Ametung, maka dilihatnya cahaya mata Akuwu Tumapel itu melekat pada wajah Ken Dedes, sehingga karena itu maka Nyai Puroni bergumam di dalam hatinya,

“Hem. ternyata Akuwu Tunggul Ametung sedang jatuh cinta. Bagi orang yang sedang jatuh cinta, maka semuanya pasti akan direlakan. Bahkan nyawanya sekalipun. Apalagi miliknya yang lain.”

Kesimpulan itu telah menenangkan Nyai Puroni sendiri. Ia tidak lagi heran melihat sikap Tunggul Ametung. Sebagai seorang yang telah lanjut usia, telah banyak yang dilihatnya tentang seorang yang jatuh cinta. Bahkan dalam cerita-cerita pun banyak yang telah didengarnya, seorang raja yang jatuh cinta pada seorang gadis padepokan, gadis seorang pendeta. Meskipun gadis itu melontarkan permintaan yang hampir tak masuk di akal, namun raja itu memenuhinya dengan janji, apabila kelak mereka berputra, maka kerajaan harus diserahkan kepada putra itu. Dan kini Akuwu Tunggul Ametung pun sedang dalam keadaan demikian. Tumapel telah dipertaruhkan, meskipun istilah yang dipergunakannya berbeda.

Sejenak mereka saling berdiam diri dengan angan-angan di kepala masing-masing. Akuwu Tunggul Ametung yang menjadi semakin gelisah dan Nyai Puroni yang telah menemukan sebab dari kegelisahan itu. Di luar pintu seorang emban masih saja tidur dengan nyenyaknya tanpa menghiraukan apa yang telah terjadi di dalam bilik itu. Bahkan seandainya Gunung Kawi itu runtuh, maka seakan-akan ia tidak akan dapat mendengarnya.

Baru sesaat kemudian, Tunggul Ametung menjadi seolah-olah menyadari dirinya sepenuhnya. Tertatih-tatih ia berjalan beberapa langkah, kemudian kepada Nyai Puroni ia berkata,

“Rawat gadis itu baik-baik Nyai. Gadis itu adalah gadis yang sangat malang.”

Nyai Puroni menyembah sambil menjawab, “Ya Tuanku. Akan hamba coba.”

Akuwu itu pun kemudian berjalan keluar bilik sebelah kanan. Di muka pintu masih dilihatnya seorang emban yang tidur nyenyak. Tiba-tiba timbullah iri di hatinya. Emban itu saja dapat tidur sedemikian nyenyaknya di lantai serta hanya beralaskan selembar selendang yang tipis. Kenapa ia, seorang Akuwu yang telah disediakan pembaringan yang hangat dan baik untuknya, masih juga tidak dapat tidur senyenyak itu? Karena itu, maka ketika Akuwu berjalan di samping emban yang tidur, dengan sengaja kakinya menginjak tangan emban itu, sehingga emban itu terkejut bukan main. Dengan serta-merta ia memekik kecil dan hampir saja ia mengumpat-umpat sejadinya. Untunglah segera ia membuka matanya, dan ketika dilihatnya akuwu berjalan menjauh segera ia bangkit sambil berkata tersendat-sendat,

“Ampun Tuanku. Ampun.” Tetapi Tunggul Ametung sama sekali tidak berpaling ia berjalan terus meninggalkan ruangan pusat istananya dan masuk ke ruangan dalam. Langsung ia masuk ke dalam biliknya serta menjatuhkan dirinya di atas pembaringannya.

Ketika didengarnya langkah di luar pintu, ia membentak keras-keras, “Siapa itu?”

“Hamba Tuanku. Pelayan dalam yang sedang bertugas.”

“Gila! Pergi! Aku mau tidur, mengerti?”

“Hamba Tuanku,” sahut pelayan dalam itu sambil berjalan menjauh.

Dalam pada itu, malam pun menjadi semakin jauh menuju ke ujung pagi. Di kejauhan terdengar ayam jantan berkokok bersahut-sahutan. Semakin lama semakin riuh seperti suara hati Tunggul Ametung. Namun dengan demikian akuwu itu menjadi jengkel bukan buatan. Ia ingin tidur sepulas-pulasnya, namun suara ayam jantan itu sangat mengganggunya. Bahkan ayam-ayamnya sendiri yang jumlahnya belasan itu pun berkokok pula bergantian.

“Hem. Aku sumbat mulutnya besok,” desisnya.

Tetapi akuwu tak akan kuasa menghentikan kokok ayam itu. Ayam itu pasti akan berkokok selagi matahari masih akan terbit. Mereka baru akan berhenti apabila leher mereka telah patah. Namun ayam-ayam jantan yang lain masih akan berkokok pula. Demikianlah akuwu tidak dapat pula menindas perasaan yang tumbuh di dalam hatinya. Sekali ia berhasil menolak perasaan itu dengan alasan-alasan yang dibuat, namun perasaan yang lain telah mengguncangkan pula. Sehingga kini Tunggul Ametung tidak dapat mengingkari lagi, bahwa wajah gadis pedesaan itu selalu mengganggu ketenangannya.

Namun akhirnya malam itu pun dilampauinya pula. Ketika pagi yang jernih telah tumbuh, maka teringatlah ia akan pesannya kepada Witantra untuk membuat penyelesaian dengan Kuda Sempana. Tunggul Ametung itu menjadi semakin gelisah. Apakah Witantra berhasil melakukan tugasnya? Tunggul Ametung telah melihat ketangkasan Kuda Sempana dalam olah kesaktian. Dengan tangannya ia telah membunuh Wiraprana.

“Kalau Witantra gagal,” desis akuwu itu sambil bangkit dari pembaringannya, “maka aku sendiri yang akan menundukkannya.”

Tunggul Ametung kemudian tidak dapat lagi berbaring di pembaringannya. Cahaya Matahari yang segar telah menusuk-nusuk lubang dinding menerangi biliknya. Semakin lama semakin terang, sehingga sinar pelita di dalam bilik itu hilang tenggelam dalam cahaya matahari pagi. Ketika Akuwu Tunggul Ametung berteriak-teriak untuk menyiapkan air hangat, maka pada saat itulah kuda Witantra dan Ken Arok berlari kencang menuju ke barak Kuda Sempana, yang terletak beberapa puluh langkah dari barak Ken Arok.

Demikian mereka melewati gerbang baraknya sendiri, seorang kawannya berteriak memanggil, “He, Ken Arok. Dari mana kau?”

Ken Arok memperlambat jalan kudanya, kemudian berhenti sama sekali. Sedang Witantra berhenti beberapa depa di sampingnya.

“Kenapa?” bertanya Ken Arok.

“Semalam kau tidak pulang,

“Ya.”

“Kenapa kau tidak pulang?”

“Aku ikut Kakang Witantra.”

Kawan Ken Arok itu berpaling. Ketika dilihatnya Witantra berpaling pula kepadanya kawan Ken Arok itu mengangguk-angguk dalam sambil berkata, “Selamat pagi Kakang Witantra.”

“Selamat pagi,” sahut Witantra.

Kawan Ken Arok itu pun kemudian berkata pula kepada Ken Arok, “Ken Arok semalam seseorang mencarimu.”

“Siapa?”

“Kuda Sempana. Kakang Kuda Sempana.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia tersenyum. Jawabnya, “Aku sudah menyangka.”

Witantra pun menganggukkan kepalanya. Di dalam hati ia bergumam, “Kuda Sempana. benar-benar menjadi hampir gila. Sekali ia terjerumus dalam perbuatan terkutuk itu, maka ia akan benar-benar menjadi orang yang kehilangan kejernihan pikiran.”

Kawan Kuda Sempana itu pun berkata, “Agaknya Kakang Kuda Sempana mempunyai kepentingan yang mendesak, sehingga lewat tengah malam ia datang.”

“Apa katanya?” bertanya Ken Arok.

Kawannya menggeleng sambil menjawab, “Tak ada yang dikatakan. Tetapi bukankah kau semalam telah hampir kembali ke barak ini? Menurut seorang yang bertugas, ia melihat seekor kuda membelok di kelokan sebelah. Apakah kuda itu kudamu, dan kau mengurungkan niatmu kembali ke barak ini?”

“Tidak. Bukan aku,” sahut Ken Arok sambil menarik kekang kudanya, “Saat ini pun aku belum akan pulang. Aku masih harus mengikuti Kakang Witantra.” Ken Arok tidak menunggu jawaban dari kawannya itu, kepada Witantra ia berkata, “Marilah Kakang.”

Kuda-kuda itu pun kemudian bergerak kembali. Kawan Ken Arok memandangi mereka dengan penuh keheranan. Terasa suatu kesibukan telah terjadi. Tetapi ia tidak tahu, apakah sebenarnya yang telah terjadi. Dari seorang kawannya ia mendengar, bahwa Kuda Sempana telah mengambil seorang gadis Panawijen atas izin akuwu. Tetapi kenapa kemudian beberapa orang menjadi sibuk?.

“Persetan!” gumam kawan Ken Arok itu sambil melangkah ke parit di belakang barak mereka.

Witantra dan Ken Arok itu pun kemudian sampai pula di muka regol barak Kuda Sempana. Betapapun juga, namun perasaan mereka menjadi berdebar-debar. Mereka tahu, bahwa Kuda Sempana bukanlah seorang yang berhati kecil, juga bukan orang yang tidak berkesaktian. Apalagi dilambari oleh nafsunya yang meluap-luap untuk memiliki gadis itu, maka sudah tentu Kuda Sempana akan berjuang mati-matian untuk mempertahankannya.

Witantra pun menyadari keadaannya. Ia akan dihadapkan pada suatu perjuangan yang berat. Mungkin Kuda Sempana tidak akan dapat diajak berunding dengan baik untuk membuat ketentuan-ketentuan dari tantangan yang akan disampaikan. Kuda Sempana tidak akan ingat lagi kepada suba sita dan tata tertib perang tanding. Sehingga perkelahian mereka, baru akan diakhiri dengan kematian. Setidak-tidaknya salah seorang harus menjadi lumpuh dan tidak berdaya lagi. Kalau Kuda Sempana berhasil melumpuhkannya, maka sudah pasti, Witantra itu tidak akan punya harapan untuk hidup. Sebab Kuda Sempana sedang dicengkam oleh nafsu dan kemarahan.

Tetapi Witantra tidak menjadi kecut. Disadarinya tugasnya kali ini. Agak berbeda dengan tugas seorang prajurit dalam menghadapi lawan-lawan tanah pusakanya. Tetapi kini ia berdiri di atas kejantanan kemanusiaan. Betapapun Kuda Sempana kehilangan kesadaran diri, namun Witantra harus menjaga supaya dirinya tidak juga kehilangan keseimbangan perasaan. Perlahan-lahan kuda-kuda itu memasuki halaman. Seorang yang bertugas di dalam regol segera melangkah maju. Tetapi ketika dilihatnya Witantra, maka segera ia menundukkan wajahnya sambil menyapa,

“Kakang Witantra.”

“Ya,” sahut Witantra masih di atas punggung kudanya, “Apakah Kuda Sempana sudah bangun?”

Orang itu mengangkat wajahnya. Ditatapnya mata Witantra sesaat, namun kembali ia menundukkan wajahnya sambil menjawab, “Sudah Kakang. Tetapi Kakang Kuda Sempana telah pergi.”

“He?” dada Witantra berdesir, dan Ken Arok pun terkejut pula karenanya.

“Ke mana?” bertanya Witantra serta-merta.

Penjaga regol itu menggeleng. Namun tiba-tiba seperti orang yang baru tersadar dari lamunannya ia berkata, “Mungkin ke istana. Baru saja ia datang dari rumah seseorang sambil mengumpat-umpat, tetapi segera ia pergi lagi dengan tergesa-gesa. Kakang Kuda Sempana semalam benar-benar seperti orang bingung.”

Witantra dan Ken Arok itu pun saling berpandangan. Apakah Kuda Sempana itu pergi ke rumahnya atau benar-benar ke istana? Namun kemudian Witantra itu pun bertanya meyakinkan,

“Apakah Kuda Sempana tidak meninggalkan pesan?”

Penjaga itu menggeleng, “Tidak.”

Witantra menganggukkan kepalanya. Tetapi ia pun mulai gelisah. Kalau benar Kuda Sempana itu pergi ke istana, maka apakah yang akan dilakukan? Karena itu maka ia berkata,

“Marilah kita lihat.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Baik Kakang, marilah kita pergi.”

Kepada penjaga itu pun kemudian Witantra berkata, “Aku akan menyusulnya ke istana.”

“Silakan Kakang.”

“Kalau Kuda Sempana datang sebelum menemui aku di manapun, katakanlah bahwa aku menunggunya di istana.”

“Baik Kakang,” sahut penjaga itu.

Witantra dan Ken Arok pun segera berpacu ke istana. Di sepanjang jalan mereka hampir tidak berkata-kata. Masing-masing sedang sibuk dengan diri mereka sendiri. Bahkan mereka pun kadang-kadang merasa geli. Seorang gadis desa, telah benar-benar menggemparkan seisi Istana Tumapel. Seorang akuwu, perwira-perwira, prajurit dan pelayan-pelayan dalam yang terkemuka.

Demikian mereka sampai di halaman luar istana, maka segera mereka berloncatan turun. Kepada penjaga regol mereka menyerahkan kuda-kuda mereka, dan kepada mereka, para penjaga, Witantra bertanya,

“Apakah kalian melihat Kuda Sempana?”

Penjaga itu mengangguk. Jawabnya, “Ya. Ya, Tuan. Aku melihatnya. Belum lama ia masuk ke dalam.”

“Sendiri?”

“Ya Tuan. Sendiri.”

“Apakah keperluannya?”

“Katanya, Kakang Kuda Sempana akan menghadap Akuwu.”

“Bukankah hari ini bukan hari paseban dan hari penghadapan?”

“Khusus, Tuan. Ada keperluan khusus.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kepada para penjaga itu ia berkata, “Aku juga akan menghadap Akuwu.”

Para penjaga sudah mengenal siapakah Witantra dan Ken Arok. Karena itu, maka dibiarkannya mereka memasuki halaman dalam istana untuk menghadap Akuwu Tunggul Ametung.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar