Ketika mereka memasuki halaman dalam dan melingkari dinding samping menyusur ke ruang dalam, maka mereka terkejut. Segera langkah mereka terhenti. Di bawah pohon kemuning dilihatnya Kuda Sempana berjalan mondar-mandir dengan gelisahnya. Namun ketika Kuda Sempana melihat kehadiran Witantra Ken Arok, maka ia pun terkejut. Dengan serta-merta ia berjalan menyongsong mereka sambil bertanya,
“Akan ke manakah kalian berdua?”
“Mencarimu,” sahut Witantra singkat.
“Oh,” desah Kuda Sempana.
“Aku telah datang ke pondokmu. Namun penjaga regol mengatakan bahwa kau telah pergi ke istana.”
“Ya. Aku tidak sabar menunggu lebih lama lagi. Aku ingin mendengar langsung dari Akuwu.” Witantra tersenyum. Meskipun senyumnya, senyum yang hambar.
“Kau sama sekali tidak dapat menyabarkan diri, Adi Kuda Sempana. Sebenarnya tak ada yang memaksa kau terlalu tergesa-gesa. Semuanya telah diserahkan kepadaku oleh Akuwu.”
“Mungkin,” sahut Kuda Sempana, “tetapi kau terlalu lamban. Aku sudah bertemu dengan Ken Arok semalam, dan aku telah datang pula ke rumahmu pagi-pagi benar. Namun kalian tidak memberitahukannya kepadaku.”
“Kami hanya ingin kau bersabar sampai hari ini.”
“Kalian mempermainkan aku. Dan sekarang aku sama sekali tidak membutuhkan kalian. Aku akan menghadap Akuwu langsung.”
“Akuwu telah berpesan kepadaku. Dan pesan itu akan aku sampaikan kepadamu sekarang. Tidak di rumahku. Sebab dengan demikian maka persoalan ini akan diketahui oleh istri dan orang-orang lain di rumahku. Dan itu tidak perlu.”
“Bohong. Kau senang melihat aku kebingungan.”
“Terserahlah kalau kau tidak percaya. Nah, sekarang, marilah kita ke belakang istana. Kau tidak perlu menghadap Akuwu.”
“Tidak. Aku tidak memerlukan kalian. Aku harus menghadap Akuwu sendiri. Dan aku akan mendapat penjelasan langsung daripadanya. Apa saja yang telah kalian percakapkan dan perbincangkan semalam.”
Witantra menarik alisnya. Ditatapnya wajah Kuda Sempana yang merah padam. Matanya yang menyala, bukan saja karena hatinya yang bergelora, tetapi juga karena semalam ia sama sekati tidak tidur sekejap pun.
“Adi Kuda Sempana,” berkata Witantra kemudian, “Jangan menghadap Akuwu pagi ini. Akuwu sedang sibuk.”
“Apakah yang disibukkannya? Akuwu pasti akan menerima aku. Gadis itu masih berada di dalam istana. Aku datang untuk mengambilnya.”
Witantra menarik nafas. Katanya, “Dengarlah pesan Akuwu itu.”
“Tidak. Aku tidak perlu.”
“Hem,” Witantra menggeram. Namun kemudian ia bertanya, “Kenapa kau masih saja di sini?”
“Aku telah menyampaikan pesan lewat seorang juru panebah. Aku masih harus menunggu beberapa saat. Akuwu sedang mendengarkan Daksina membaca kakawin.”
“He?” Witantra terkejut, “sepagi ini?”
“Ya.”
Witantra terdiam. Sekali dipandangnya wajah Ken Arok yang tegang Ketika mereka mencoba mendengarkan baik-baik, terdengarlah lamat-lamat suara Daksina dalam alunan kakawin Bharatayudha.
“Jadi Daksina itu membaca untuk Akuwu?”
“Ya,” sahut Kuda Sempana pendek.
Witantra menggelengkan kepalanya. Ditemuinya Kuda Sempana dan Tunggul Ametung dalam keadaan yang sama. Bingung. Sejenak mereka bertiga saling berdiam diri. Dalam keheningan itu terdengar suara Daksina semakin jelas. Angin pagi yang lembut berhembus perlahan menggerakkan daun kemuning, serta menggugurkan bunga-bunganya yang kering. Lamat-lamat terdengar suara burung-burung liar yang beterbangan dari dahan ke dahan, berkicau seperti suara senda yang riang. Seperti kanak-kanak yang sedang berkejaran, mereka berloncatan dari satu pohon ke pohon yang lain. Namun hati mereka bertiga, Witantra, Ken Arok dan Kuda Sempana sama sekali tidak seriang pagi itu.
Sekali-sekali Witantra berpaling, memandang wajah Ken Arok seperti sedang minta pertimbangan. Namun Ken Arok hanya dapat menundukkan wajahnya, memandangi butiran-butiran batu-batu kecil yang bertebaran di halaman. Namun kesepian itu kemudian dipecahkan oleh suara Witantra kepada Kuda Sempana,
“Adi Kuda Sempana. Lebih baik kau tidak usah menunggu Akuwu yang sedang mendengarkan Daksina membaca kakawin itu. Marilah aku beri tahukan, apa yang harus kau dengar.”
“Tidak!” sahut Kuda Sempana tegas, “Kalau kalian benar-benar mendapat pesan Akuwu, maka kalian pasti sudah mengatakannya. Sekarang ternyata kalian hanya mencoba mencegah aku bertemu dengan Akuwu. Mungkin kalian kemarin mendengar hal-hal yang tidak kalian senangi tentang diriku, sehingga kalian mencoba menahan keterangan itu.”
“Hem,” Witantra menggeram. Dicobanya untuk menahan gelora di dalam hatinya. Baru kemudian ia berkata, “Mungkin kau benar Adi. Mungkin aku menahan beberapa persoalan yang harus aku sampaikan kepadamu. Tetapi aku mempunyai pertimbangan-pertimbangan lain. Aku ingin dapat menyampaikan kepadamu dalam suasana yang tenang. Tidak dalam suasana yang tergesa-gesa dan tegang. Aku ingin setiap persoalan dapat kau mengerti dengan baik. Dan aku ingin kita masing-masing dapat menempatkan diri kita pada keadaan yang sewajarnya.”
“Huh,” desah Kuda Sempana, “kalau benar demikian, tunggulah sampai aku menghadap Akuwu.”
“Tidak ada gunanya.”
“Mungkin bagi kalian. Tetapi bagiku kesempatan itu akan sangat bermanfaat. Setidak-tidaknya aku dapat mengambil gadis itu dahulu.”
“Kau tidak akan dapat mengambilnya,” tiba-tiba terdengar suara Ken Arok yang agaknya sudah kehabisan kesabarannya.
Kata-kata itu benar-benar mengejutkan Kuda Sempana. Dan bahkan Witantra pun terkejut pula. Dengan serta-merta Kuda Sempana melangkah maju mendekatinya sambil membelalakkan matanya. Katanya,
“Apa katamu? Aku tidak dapat mengambil gadis itu?”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam ia menjadi sangat menyesal akan ketelanjurannya, Namun kata-kata itu telah terloncat dari bibirnya dan Kuda Sempana pun telah mendengarnya. Karena itu dengan penuh kebimbangan ia memandang wajah Witantra, seakan-akan bertanya kepadanya, apa yang harus dikatakannya seterusnya. Namun Witantra sendiri masih belum dapat menguasai perasaannya, sehingga karena itu ia masih saja berdiri mematung.
Kuda Sempana yang seakan-akan mendengar meledaknya guruh di telinganya itu mendesak Ken Arok, “Kenapa aku tidak dapat mengambil gadis itu?”
Setelah berpikir sejenak. Witantralah akhirnya menemukan jawaban juga, “Gadis itu jatuh sakit dan pingsan berkali-kali. Kalau kau ganggu lagi dia, mungkin gadis itu akan mati.”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Namun tampaklah betapa ia ragu-ragu mendengar jawaban itu. Dalam pada itu Ken Arok menjadi berdebar-debar. Sebenarnya ia tidak sependapat dengan Witantra yang terlalu berhati-hati, dan tidak langsung mengatakan keperluannya. Bukankah akhirnya Kuda Sempana akan mendengarnya juga. Sebaiknya Witantra berkata berterus terang. Tetapi bukan dirinya. Karena itu, maka ia menjadi lebih berhati-hati supaya mulutnya tidak melonjak-lonjak, didesak hatinya yang tidak dapat bersabar lagi.
Yang terdengar kemudian adalah jawaban Kuda Sempana, “Aku tidak percaya. Aku akan menghadap Akuwu sekarang.”
“Apakah Akuwu sudah memanggilmu?”
“Belum, tetapi aku akan masuk ke ruang dalam.”
“Akuwu akan menjadi marah.”
“Tidak. Aku akan mengulangi permohonanku untuk menghadap lewat juru panebah yang berada di muka pintu itu.”
Kuda Sempana tidak menunggu jawaban Witantra dan Ken Arok. Dengan tergesa-gesa ia berjalan melingkari sudut belakang istana dan menjumpai juru panebah yang duduk di tangga istana. Dengan wajah yang merah pada Kuda Sempana membentak meskipun suaranya tidak terlalu keras,
“He, kenapa kau hanya duduk terkantuk-kantuk?”
Juru panebah itu terkejut, “Ya, ya Tuan.”
Kuda Sempana menjadi semakin marah mendengar jawaban itu dan berkata kasar, “Apa kau tidak tahu, bahwa aku mempunyai keperluan yang sangat penting. Ayo, kembali masuk ke bilik peraduan Akuwu. Sampaikan kepada akuwu, bahwa Kuda Sempana ingin menghadap.”
“Tetapi aku sudah menyampaikan Tuan. Dan Tuan di perintahkan untuk menunggu.”
“Sampai kapan, he? Sampai aku menjadi tua?”
“Entahlah. Aku tidak tahu. Tetapi Daksina masih membaca kakawin itu di dalam bilik Baginda.”
“Cobalah, sekali lagi.”
“Aku takut.”
“Kalau kau tidak mau menyampaikan sekali lagi, awas, aku bunuh kau anak cucu!”
“Oh. Ampun Tuan. Kenapa Tuan marah kepadaku?”
Sebelum Kuda Sempana menjawab, terdengarlah suara di belakang Kuda Sempana, “Sampaikan kepada Akuwu, bahwa kali ini Witantra yang akan menghadap.”
“Gila!” desis Kuda Sempana sambil memutar tubuhnya menghadap Witantra, “Kali ini kau akan merusak rencanaku pula?”
Witantra sama sekali tidak menanggapi sikap Kuda Sempana, bahkan dengan tersenyum ia berkata, “Jangan marah Kuda Sempana. Kalau juru panebah itu mengulangi permohonanmu untuk menghadap Akuwu, maka Akuwu pasti akan sangat marah. Mungkin kau malahan diusir dari istana. Kalau permohonan ini diajukan oleh orang lain, maka pertimbangannya akan lain. Mungkin Akuwu akan berhenti mendengarkan kakawin dan menerima aku. Dalam pada itu kau akan mendapat kesempatan untuk menghadap pula. Bukankah dengan demikian sekaligus kau akan tahu, apakah aku telah menyembunyikan beberapa keterangan atau tidak. Dan kau akan tahu pula, apakah aku berbuat demikian karena perasaan iri dan semacam itu.”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Baik. Baik. Kita bersama menghadap Akuwu.”
“Aku hormati sikapmu,” desis Ken Arok.
Sekali lagi Kuda Sempana membelalakkan matanya. Ia tidak senang mendengar kata-kata itu dari mulut Ken Arok. Kalau Witantra yang mengucapkannya, maka ia akan berbangga. Tetapi Ken Arok adalah seorang pelayan dalam yang baru saja masuk di istana. Sehingga ucapannya itu kurang bernilai baginya. Terapi ternyata Ken Arok sama sekali tidak berpaling ketika sinar mata Kuda Sempana menghunjam di biji matanya. Bahkan mata Ken Arok itu pun menjadi seakan-akan bersinar langsung menembus selaput mata Kuda Sempana dan menusuk langsung ke dalam otaknya.
Kuda Sempana yang kemudian memalingkan wajahnya. Untuk menyembunyikan perasaannya, segera ia membentak kepada juru panebah yang masih duduk kebingungan,
“Ayo cepat. Pergi sekali lagi menghadap Akuwu. Kakang Witantra akan menghadap.”
“Ya, ya Tuan,” sahut orang itu sambil merangkak naik ke istana.
Kemudian Kuda Sempana, Witantra dan Ken Arok diam dalam ketegangan. Mereka tinggal menunggu, apakah akuwu bersedia menerima mereka atau mereka harus menunggu lagi. Ken Arok yang agaknya jemu berdiri, segera melangkah ke tangga, dan duduk di sana sambil bersandar dinding. Sekali ia menguap, kemudian gumamnya,
“Hem, semalam aku hampir tak dapat tidur sama sekali.”
Kuda Sempana dan Witantra berpaling kepadanya. Sahut Witantra, “Barangkali di antara kita bertiga kaulah yang paling lama dapat beristirahat.”
Ken Arok tersenyum, “Mungkin.”
Kuda Sempana yang akan memotong percakapan itu, mengurungkan niatnya ketika didengarnya suara Daksina berhenti. Mereka menduga, bahwa juru panebah itu sudah masuk ke dalam bilik Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu maka dada mereka menjadi semakin berdebar-debar. Kuda Sempana benar-benar hampir tidak sabar menunggu. Ingin ia langsung meloncat masuk ke dalam ruang dalam itu dan langsung ke ruang pusat istana. Dari sana ia akan dapat melihat sentong tengen, di mana Ken Dedes dibaringkannya kemarin. Tetapi ia tidak dapat berbuat begitu. Istana itu adalah istana Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu, betapapun ia bernafsu, namun ia terpaksa menunggu dengan hati yang gelisah.
Sesaat kemudian mereka mendengar langkah-langkah di dalam ruangan dalam. Langkah itu seolah-olah terlalu lambat sehingga hampir-hampir Kuda Sempana berteriak memanggilnya. Ketika juru panebah itu muncul dari balik pintu, Kuda Sempana dengan serta-merta bertanya,
“Bagaimana?”
“Akuwu menunggu Tuan-tuan di ruang paseban dalam.”
Kuda Sempana tidak menunggu apa-apa lagi. Segera ia melangkah menaiki tangga, masuk ke ruang dalam dan langsung berjalan ke ruang paseban dalam. Witantra dan Ken Arok pun kemudian melangkah pula mengikutinya. Namun mereka menjadi kecewa ketika ruangan itu masih kosong. Akuwu belum nampak. Tetapi mereka lega ketika mereka melihat batu hitam, tempat duduk Akuwu Tunggul Ametung, telah terbuka kerudung putihnya yang telah diambil oleh salah seorang juru panebah.
Suara Daksina telah tidak terdengar lagi. Dengan demikian mereka mengharap bahwa segera akuwu akan datang menerima mereka. Ternyata akuwu itu pun tidak terlalu lama membiarkan mereka menunggu. Sejenak kemudian masuklah Akuwu Tunggul Ametung ke dalam ruangan itu, diantar oleh seorang emban, Daksina dan seorang juru panebah, dan seorang juru panginang.
Ketika akuwu itu duduk di atas batu hitam palenggahannya, maka dada Kuda Sempana seolah-olah hampir meledak karena ketidak sabarannya. Akuwu itu berjalan seperti seorang pengantin sakit-sakitan, duduk dengan lesunya dan kemudian mengipaskan kainnya. Kuda Sempana itu menarik nafas dalam. Baru sejenak kemudian akuwu itu mulai bertanya ke pada mereka. Dengan segala macam adat dan upacara. Menanyakan keselamatan dan kesejahteraan masing-masing.
“Aneh. Tunggul Ametung adalah akuwu yang hampir tak pernah mengacuhkan adat itu. Ia berbuat sesuka hatinya. Sekali-sekali ia bertanya tentang keselamatan orang-orangnya, namun lain kali ia mulai dengan bentakan-bentakan dan umpatan-umpatan. Tetapi kali ini Akuwu agaknya sedang menikmati kedudukannya sebagai seorang akuwu,” keluh Kuda Sempana di dalam hatinya.
Namun sebenarnya Akuwu Tunggul Ametung itu pun sedang mencoba menenangkan perasaan yang bergolak. Ketika ia melihat ketiga orang itu bersama-sama menghadap, maka berdesirlah dadanya. Untuk sekedar menenteramkan hatinya, maka mulailah akuwu dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak berarti. Tetapi ia tidak akan dapat bertanya hal-hal yang demikian itu terus menerus. Disadarinya bahwa akhirnya pembicaraan mereka akan menginjak ke persoalannya. Karena itu, maka akuwu tidak merasa perlu untuk memperpanjang segala macam pertanyaan yang aneh-aneh.
Maka akuwu pun kemudian tidak membiarkan dirinya diamuk oleh keragu-raguan dan kecemasan. Biarlah seandainya orang-orang itu bertiga menemukan titik-titik pertemuan untuk bersama-sama menghadapinya. Mungkin Witantra tidak sampai hati mengatakan pesannya, tetapi mungkin pula mereka bersama-sama akan menghancurkannya. Tetapi apapun yang akan dihadapi, maka akuwu akan menengadahkan wajahnya dan akan berperisai dadanya. Tunggul Ametung bukan seorang pengecut.
Karena itu, maka sesaat kemudian terdengar akuwu itu bertanya, “Kuda Sempana. Kaulah yang pertama-tama menyampaikan pesan untuk menghadap. Apakah kepentinganmu?”
Kuda Sempana menarik nafas. Sembari ia bergeser maju, seolah-olah takut suaranya tidak akan dapat didengar oleh Tunggul Ametung. Katanya serak,
“Tuanku. Hamba hanya ingin menjemput gadis Panawijen itu.”
Tunggul Ametung terkejut mendengar permintaan itu. Dengan serta-merta ia berpaling memandangi wajah Witantra yang gelap. Bahkan kemudian wajah akuwu itu pun menjadi semburat merah. Berbagai persoalan bergulung-gulung di dalam dadanya. Apakah Witantra benar-benar belum menyampaikannya kepada Kuda Sempana? Apakah justru Witantra datang untuk membantu Kuda Sempana? Akuwu menjadi gelisah. Benar-benar tidak diketahuinya bagaimanakah sebenarnya hati Witantra dan Ken Arok.
Akuwu yang selama ini tidak pernah ragu-ragu kepada Witantra, tiba-tiba menjadi curiga. Sejak Witantra menolak perintahnya di Panawijen. Meskipun kemarin perwira pengawalnya itu seolah-olah sependapat dengan pendapatnya tentang gadis Panawijen itu, namun kenapa tiba-tiba saja ia menghadap bersama Kuda Sempana. Kalau ia benar-benar melakukan apa yang dikatakannya, maka Kuda Sempana tidak akan berkata seperti itu. Atau mereka benar-benar telah bersepakat untuk melawannya, meskipun kelak akan timbul persoalan di antara mereka sendiri? Apakah Witantra kemarin hanya memancing, agar Kuda Sempana dapat diperalat olehnya?
Witantra merasakan keraguan Tunggul Ametung. Karena itu maka segera ia berkata, “Akuwu, hamba memang belum mengatakan pesan Tuanku.”
“Kenapa?” dengan serta-merta terloncat pertanyaan dari mulut Tunggul Ametung. Namun sekali lagi Tunggul Ametung menengadahkan wajahnya ia adalah seorang yang memiliki berbagai kekuatan di dalam tubuhnya, yang seandainya perlu, akan dibangunkannya pada saat-saat itu.
“Hamba belum mendapat kesempatan. Ketika pagi-pagi tadi hamba datang ke pondok Adi Kuda Sempana, Adi Kuda Sempana telah pergi ke istana.”
Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Agaknya perasaannya sendirilah yang telah menggelapkan nalarnya. Kesalahan-kesalahan yang telah membebani perasaannya itulah yang telah menimbulkan berbagai prasangka dan kecurigaan. Namun jawaban Witantra itu sama sekali belum memuaskannya, sehingga ia bertanya pula,
“Kau telah bertemu dengan Kuda Sempana sebelum datang menghadap. Kenapa kau tidak berkata apa-apa kepadanya?”
“Kuda Sempana tidak mau mendengarkan, Tuanku. Ia ingin menghadap Tuanku dan mendengar langsung tentang persoalan yang kita bicarakan dari Tuanku sendiri.”
Akuwu mengerutkan keningnya. Kini ditatapnya wajah Kuda Sempana dengan tajamnya. Kemudian terdengar ia menggeram, “Benarkah demikian Kuda Sempana?”
“Ya, Tuanku.”
“Aku telah memberikan perintah kepada Witantra. Kenapa kau menolak?”
“Sikapnya sangat menyakitkan hatiku.”
“Kenapa?”
“Semalam aku telah menemui kedua-duanya. Adi Ken Arok dan Kakang Witantra, tetapi mereka menolak memberitahukan sesuatu kepadaku, Dibiarkannya aku menunggu dalam kegelisahan.”
Tunggul Ametung sekali lagi mengerutkan keningnya. Kemudian kepada Witantra dan Ken Arok ia bertanya, “Benarkah demikian?”
“Hamba Tuanku,” sahut Witantra, “hamba ingin menyampaikannya pagi ini.”
Dalam pada itu Kuda Sempana menyahut, “Sengaja mereka membiarkan aku mengalami guncangan-guncangan batin di malam itu. Sebenarnya aku tidak melihat perbedaan apa-apa. Malam tadi atau pagi ini.”
“Tidak ada bedanya,” sahut Akuwu Tumapel itu, “Kenapa kau tunda-tunda sehingga Kuda Sempana terpaksa datang sendiri kepadaku?”
Witantra mengangkat wajahnya sesaat, kemudian kembali ia tunduk sambil menjawab, “Maksud hamba, hamba ingin mengatakannya dengan tenang setiap persoalan, setiap kemungkinan, dan setiap perjanjian.”
“Perjanjian?” potong Kuda Sempana, wajahnya tampak berkerut-kerut penuh persoalan.
Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata pula, “Apakah semalam kau tidak menemukan ketenangan itu. Justru malam hari?”
“Tuanku benar,” sahut Kuda Sempana, “sebenarnya di malam hari segalanya menjadi lebih tenang. Tetapi Kakang Witantra sengaja membiarkan aku menghadap Akuwu sendiri.”
Witantra menarik nafas panjang. Kemudian sekali ia berpaling kepada Ken Arok. Dilihatnya Ken Arok menggigit Bibirnya untuk menahan perasaannya yang bergelora. Ia sudah benar-benar kehilangan kesabaran. Kalau saja tidak di hadapan akuwu, maka ia akan berkata lantang, ‘Kuda Sempana. Gadis itu sudah bukan hakmu lagi. Kalau kau marah, kau mau apa. Kita dapat berkelahi, sebab kami tidak takut kepadamu’. Tetapi di Hadapan Tunggul Ametung, ia hanya dapat mengumpat-umpat di dalam hati.
Akhirnya Witantra itu pun berkata, “Ampun Tuanku. Kuda Sempana datang ke rumah hamba. Adalah tidak mungkin hamba membicarakannya di hadapan istri hamba. sebab hamba tidak yakin Adi Kuda Sempana dapat menahan hatinya. Karena itu hamba datang ke pondoknya. Seandainya Adi Kuda Sempana tidak dapat menahan diri, maka akan hamba layani apa saja yang akan dilakukannya. Tidak di rumahku, tidak di hadapan istriku yang akan banyak mempengaruhi perasaan hamba.”
Telinga Kuda Sempana benar-benar serasa tersengat mendengar penjelasan Witantra itu. Terasa kini bahwa ada sesuatu yang tidak wajar. Karena itu, maka hatinya menjadi semakin gelisah dan kehilangan kesabaran. Dari dahi dan keningnya mengalir keringat yang dingin. Sekali-kali tampak ia mengusap wajahnya, namun kemudian terdengar ia menggeretakkan giginya.
Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berkata, “Ya. Alasanmu dapat aku mengerti Witantra. Nah. Kalau demikian katakanlah sekarang.”
“Jangan Kakang Witantra,” potong Kuda Sempana, “Kenapa bukan Tuanku sendiri yang memberikan perintah kepada hamba untuk berbuat apa saja.”
Tunggul Ametung menarik nafas. Sesaat ia menjadi ragu-ragu. Persoalan ini benar membuatnya pening. Namun kemudian ditemukannya keseimbangannya dengan baik, sehingga akuwu itu berkata lantang,
“Aku perintahkan kepadamu, he Kuda Sempana, untuk mendengarkan penjelasan dari Witantra.”
Kuda Sempana menggeram. Namun ia tidak berani membantah. Karena itu maka ia hanya dapat menundukkan kepalanya. Namun hatinya serasa melonjak-lonjak hampir tak. terkendali.
Witantra membungkukkan kepalanya dalam-dalam. Kemudian sahutnya, “Titah Akuwu akan hamba laksanakan.”
“Berkatalah,” potong Kuda Sempana.
Witantra memandang akuwu untuk sepintas. Ketika Akuwu mengangguk, maka mulailah Witantra berkata, “Adi Kuda Sempana. Adalah sudah Adi ketahui, bahwa persoalan timbal balik dan saling berturutan akan dapat terjadi. Apa yang Adi lakukan dapat pula dilakukan oleh orang lain. Dan apa yang Adi kehendaki dapat pula dikehendaki oleh orang lain.”
“Aku tidak tahu, apakah maksud Kakang dengan kata-kata yang tak dapat aku mengerti itu. Katakanlah, apa yang harus Kakang katakan kepadaku. Nah, itulah sebabnya aku lebih senang mendengarnya dari orang lain daripada Kakang Witantra yang tidak pernah berterus terang.”
Akuwu mengerutkan keningnya dan Witantra menarik nafas dalam-dalam. Namun yang terdengar adalah gumam Ken Arok lirih, “Ya, sebaiknya Kakang Witantra berterus terang. Akan dibuka kembali sayembara tanding.”
“He?” alangkah terkejutnya Kuda Sempana. Dan bahkan Witantra dan Tunggul Ametung pun terkejut pula. Tetapi segera mereka mencoba menguasai diri mereka masing-masing.
Witantra mengangguk-angguk. Disadarinya bahwa agaknya ia mencoba terlalu hati-hati sehingga baik Kuda Sempana maupun Ken Arok, menjadi tidak bersabar. Karena itu maka Katanya,
“Baiklah. Baiklah aku akan berkata berterus terang supaya semuanya menjadi lekas jelas. Supaya tidak menimbulkan berbagai pertanyaan yang terlalu lama mengganggu perasaan meskipun maksudku, supaya aku dapat menjelaskan dengan baik dan hati-hati, namun agaknya kalian tidak bersabar, sehingga….”
“Itukah yang akan kau katakan? Alasan-alasan yang menjadi semakin melingkar-lingkar. Aku menjadi semakin pening mendengarnya,” potong Kuda Sempana. Sementara itu Ken Arok menggaruk-garuk kepalanya dengan ujung telunjuknya.
“Oh,” desah Witantra. ia adalah seorang prajurit. Ia lebih pandai memainkan pedang daripada berbicara. Karena itu, maka ia menjadi bingung. Namun ia tidak mau gagal hanya untuk mengucapkan sebuah tantangan. Meskipun tantangan ini agak berbeda dengan tantangan yang harus diucapkan kepada lawan yang sesungguhnya. Maka kemudian setelah menarik nafas dalam-dalam, meloncatlah dari mulutnya, “Ya, ya. Akan aku katakan, bahwa Adi Kuda Sempana harus mengalami sikap yang sama dengan yang pernah dilakukannya. Kini seseorang berusaha mengambil gadis Panawijen itu dengan cara yang sama dengan yang telah kau lakukan.”
Wajah Kuda Sempana segera memerah bara, Sejenak ia terbungkam, namun terdengar giginya gemeretak menahan marah. Sepasang matanya memandang Witantra dengan sinar yang ganjil. Ruang paseban dalam itu menjadi sepi. Hanya desah nafas yang memburu terdengar bersahut-sahutan. Tetapi sejenak kemudian terdengarlah suara Kuda Sempana meledak dalam kesepian itu,
“Setan belang! Siapakah yang akan merebut gadis itu dari tanganku? Aku telah mengambilnya dengan susah payah. Aku sadari kemungkinan yang sama itu terjadi. Tetapi aku pun laki-laki. Aku pertahankan gadis itu dengan nyawaku.”
“Akan ke manakah kalian berdua?”
“Mencarimu,” sahut Witantra singkat.
“Oh,” desah Kuda Sempana.
“Aku telah datang ke pondokmu. Namun penjaga regol mengatakan bahwa kau telah pergi ke istana.”
“Ya. Aku tidak sabar menunggu lebih lama lagi. Aku ingin mendengar langsung dari Akuwu.” Witantra tersenyum. Meskipun senyumnya, senyum yang hambar.
“Kau sama sekali tidak dapat menyabarkan diri, Adi Kuda Sempana. Sebenarnya tak ada yang memaksa kau terlalu tergesa-gesa. Semuanya telah diserahkan kepadaku oleh Akuwu.”
“Mungkin,” sahut Kuda Sempana, “tetapi kau terlalu lamban. Aku sudah bertemu dengan Ken Arok semalam, dan aku telah datang pula ke rumahmu pagi-pagi benar. Namun kalian tidak memberitahukannya kepadaku.”
“Kami hanya ingin kau bersabar sampai hari ini.”
“Kalian mempermainkan aku. Dan sekarang aku sama sekali tidak membutuhkan kalian. Aku akan menghadap Akuwu langsung.”
“Akuwu telah berpesan kepadaku. Dan pesan itu akan aku sampaikan kepadamu sekarang. Tidak di rumahku. Sebab dengan demikian maka persoalan ini akan diketahui oleh istri dan orang-orang lain di rumahku. Dan itu tidak perlu.”
“Bohong. Kau senang melihat aku kebingungan.”
“Terserahlah kalau kau tidak percaya. Nah, sekarang, marilah kita ke belakang istana. Kau tidak perlu menghadap Akuwu.”
“Tidak. Aku tidak memerlukan kalian. Aku harus menghadap Akuwu sendiri. Dan aku akan mendapat penjelasan langsung daripadanya. Apa saja yang telah kalian percakapkan dan perbincangkan semalam.”
Witantra menarik alisnya. Ditatapnya wajah Kuda Sempana yang merah padam. Matanya yang menyala, bukan saja karena hatinya yang bergelora, tetapi juga karena semalam ia sama sekati tidak tidur sekejap pun.
“Adi Kuda Sempana,” berkata Witantra kemudian, “Jangan menghadap Akuwu pagi ini. Akuwu sedang sibuk.”
“Apakah yang disibukkannya? Akuwu pasti akan menerima aku. Gadis itu masih berada di dalam istana. Aku datang untuk mengambilnya.”
Witantra menarik nafas. Katanya, “Dengarlah pesan Akuwu itu.”
“Tidak. Aku tidak perlu.”
“Hem,” Witantra menggeram. Namun kemudian ia bertanya, “Kenapa kau masih saja di sini?”
“Aku telah menyampaikan pesan lewat seorang juru panebah. Aku masih harus menunggu beberapa saat. Akuwu sedang mendengarkan Daksina membaca kakawin.”
“He?” Witantra terkejut, “sepagi ini?”
“Ya.”
Witantra terdiam. Sekali dipandangnya wajah Ken Arok yang tegang Ketika mereka mencoba mendengarkan baik-baik, terdengarlah lamat-lamat suara Daksina dalam alunan kakawin Bharatayudha.
“Jadi Daksina itu membaca untuk Akuwu?”
“Ya,” sahut Kuda Sempana pendek.
Witantra menggelengkan kepalanya. Ditemuinya Kuda Sempana dan Tunggul Ametung dalam keadaan yang sama. Bingung. Sejenak mereka bertiga saling berdiam diri. Dalam keheningan itu terdengar suara Daksina semakin jelas. Angin pagi yang lembut berhembus perlahan menggerakkan daun kemuning, serta menggugurkan bunga-bunganya yang kering. Lamat-lamat terdengar suara burung-burung liar yang beterbangan dari dahan ke dahan, berkicau seperti suara senda yang riang. Seperti kanak-kanak yang sedang berkejaran, mereka berloncatan dari satu pohon ke pohon yang lain. Namun hati mereka bertiga, Witantra, Ken Arok dan Kuda Sempana sama sekali tidak seriang pagi itu.
Sekali-sekali Witantra berpaling, memandang wajah Ken Arok seperti sedang minta pertimbangan. Namun Ken Arok hanya dapat menundukkan wajahnya, memandangi butiran-butiran batu-batu kecil yang bertebaran di halaman. Namun kesepian itu kemudian dipecahkan oleh suara Witantra kepada Kuda Sempana,
“Adi Kuda Sempana. Lebih baik kau tidak usah menunggu Akuwu yang sedang mendengarkan Daksina membaca kakawin itu. Marilah aku beri tahukan, apa yang harus kau dengar.”
“Tidak!” sahut Kuda Sempana tegas, “Kalau kalian benar-benar mendapat pesan Akuwu, maka kalian pasti sudah mengatakannya. Sekarang ternyata kalian hanya mencoba mencegah aku bertemu dengan Akuwu. Mungkin kalian kemarin mendengar hal-hal yang tidak kalian senangi tentang diriku, sehingga kalian mencoba menahan keterangan itu.”
“Hem,” Witantra menggeram. Dicobanya untuk menahan gelora di dalam hatinya. Baru kemudian ia berkata, “Mungkin kau benar Adi. Mungkin aku menahan beberapa persoalan yang harus aku sampaikan kepadamu. Tetapi aku mempunyai pertimbangan-pertimbangan lain. Aku ingin dapat menyampaikan kepadamu dalam suasana yang tenang. Tidak dalam suasana yang tergesa-gesa dan tegang. Aku ingin setiap persoalan dapat kau mengerti dengan baik. Dan aku ingin kita masing-masing dapat menempatkan diri kita pada keadaan yang sewajarnya.”
“Huh,” desah Kuda Sempana, “kalau benar demikian, tunggulah sampai aku menghadap Akuwu.”
“Tidak ada gunanya.”
“Mungkin bagi kalian. Tetapi bagiku kesempatan itu akan sangat bermanfaat. Setidak-tidaknya aku dapat mengambil gadis itu dahulu.”
“Kau tidak akan dapat mengambilnya,” tiba-tiba terdengar suara Ken Arok yang agaknya sudah kehabisan kesabarannya.
Kata-kata itu benar-benar mengejutkan Kuda Sempana. Dan bahkan Witantra pun terkejut pula. Dengan serta-merta Kuda Sempana melangkah maju mendekatinya sambil membelalakkan matanya. Katanya,
“Apa katamu? Aku tidak dapat mengambil gadis itu?”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam ia menjadi sangat menyesal akan ketelanjurannya, Namun kata-kata itu telah terloncat dari bibirnya dan Kuda Sempana pun telah mendengarnya. Karena itu dengan penuh kebimbangan ia memandang wajah Witantra, seakan-akan bertanya kepadanya, apa yang harus dikatakannya seterusnya. Namun Witantra sendiri masih belum dapat menguasai perasaannya, sehingga karena itu ia masih saja berdiri mematung.
Kuda Sempana yang seakan-akan mendengar meledaknya guruh di telinganya itu mendesak Ken Arok, “Kenapa aku tidak dapat mengambil gadis itu?”
Setelah berpikir sejenak. Witantralah akhirnya menemukan jawaban juga, “Gadis itu jatuh sakit dan pingsan berkali-kali. Kalau kau ganggu lagi dia, mungkin gadis itu akan mati.”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Namun tampaklah betapa ia ragu-ragu mendengar jawaban itu. Dalam pada itu Ken Arok menjadi berdebar-debar. Sebenarnya ia tidak sependapat dengan Witantra yang terlalu berhati-hati, dan tidak langsung mengatakan keperluannya. Bukankah akhirnya Kuda Sempana akan mendengarnya juga. Sebaiknya Witantra berkata berterus terang. Tetapi bukan dirinya. Karena itu, maka ia menjadi lebih berhati-hati supaya mulutnya tidak melonjak-lonjak, didesak hatinya yang tidak dapat bersabar lagi.
Yang terdengar kemudian adalah jawaban Kuda Sempana, “Aku tidak percaya. Aku akan menghadap Akuwu sekarang.”
“Apakah Akuwu sudah memanggilmu?”
“Belum, tetapi aku akan masuk ke ruang dalam.”
“Akuwu akan menjadi marah.”
“Tidak. Aku akan mengulangi permohonanku untuk menghadap lewat juru panebah yang berada di muka pintu itu.”
Kuda Sempana tidak menunggu jawaban Witantra dan Ken Arok. Dengan tergesa-gesa ia berjalan melingkari sudut belakang istana dan menjumpai juru panebah yang duduk di tangga istana. Dengan wajah yang merah pada Kuda Sempana membentak meskipun suaranya tidak terlalu keras,
“He, kenapa kau hanya duduk terkantuk-kantuk?”
Juru panebah itu terkejut, “Ya, ya Tuan.”
Kuda Sempana menjadi semakin marah mendengar jawaban itu dan berkata kasar, “Apa kau tidak tahu, bahwa aku mempunyai keperluan yang sangat penting. Ayo, kembali masuk ke bilik peraduan Akuwu. Sampaikan kepada akuwu, bahwa Kuda Sempana ingin menghadap.”
“Tetapi aku sudah menyampaikan Tuan. Dan Tuan di perintahkan untuk menunggu.”
“Sampai kapan, he? Sampai aku menjadi tua?”
“Entahlah. Aku tidak tahu. Tetapi Daksina masih membaca kakawin itu di dalam bilik Baginda.”
“Cobalah, sekali lagi.”
“Aku takut.”
“Kalau kau tidak mau menyampaikan sekali lagi, awas, aku bunuh kau anak cucu!”
“Oh. Ampun Tuan. Kenapa Tuan marah kepadaku?”
Sebelum Kuda Sempana menjawab, terdengarlah suara di belakang Kuda Sempana, “Sampaikan kepada Akuwu, bahwa kali ini Witantra yang akan menghadap.”
“Gila!” desis Kuda Sempana sambil memutar tubuhnya menghadap Witantra, “Kali ini kau akan merusak rencanaku pula?”
Witantra sama sekali tidak menanggapi sikap Kuda Sempana, bahkan dengan tersenyum ia berkata, “Jangan marah Kuda Sempana. Kalau juru panebah itu mengulangi permohonanmu untuk menghadap Akuwu, maka Akuwu pasti akan sangat marah. Mungkin kau malahan diusir dari istana. Kalau permohonan ini diajukan oleh orang lain, maka pertimbangannya akan lain. Mungkin Akuwu akan berhenti mendengarkan kakawin dan menerima aku. Dalam pada itu kau akan mendapat kesempatan untuk menghadap pula. Bukankah dengan demikian sekaligus kau akan tahu, apakah aku telah menyembunyikan beberapa keterangan atau tidak. Dan kau akan tahu pula, apakah aku berbuat demikian karena perasaan iri dan semacam itu.”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Baik. Baik. Kita bersama menghadap Akuwu.”
“Aku hormati sikapmu,” desis Ken Arok.
Sekali lagi Kuda Sempana membelalakkan matanya. Ia tidak senang mendengar kata-kata itu dari mulut Ken Arok. Kalau Witantra yang mengucapkannya, maka ia akan berbangga. Tetapi Ken Arok adalah seorang pelayan dalam yang baru saja masuk di istana. Sehingga ucapannya itu kurang bernilai baginya. Terapi ternyata Ken Arok sama sekali tidak berpaling ketika sinar mata Kuda Sempana menghunjam di biji matanya. Bahkan mata Ken Arok itu pun menjadi seakan-akan bersinar langsung menembus selaput mata Kuda Sempana dan menusuk langsung ke dalam otaknya.
Kuda Sempana yang kemudian memalingkan wajahnya. Untuk menyembunyikan perasaannya, segera ia membentak kepada juru panebah yang masih duduk kebingungan,
“Ayo cepat. Pergi sekali lagi menghadap Akuwu. Kakang Witantra akan menghadap.”
“Ya, ya Tuan,” sahut orang itu sambil merangkak naik ke istana.
Kemudian Kuda Sempana, Witantra dan Ken Arok diam dalam ketegangan. Mereka tinggal menunggu, apakah akuwu bersedia menerima mereka atau mereka harus menunggu lagi. Ken Arok yang agaknya jemu berdiri, segera melangkah ke tangga, dan duduk di sana sambil bersandar dinding. Sekali ia menguap, kemudian gumamnya,
“Hem, semalam aku hampir tak dapat tidur sama sekali.”
Kuda Sempana dan Witantra berpaling kepadanya. Sahut Witantra, “Barangkali di antara kita bertiga kaulah yang paling lama dapat beristirahat.”
Ken Arok tersenyum, “Mungkin.”
Kuda Sempana yang akan memotong percakapan itu, mengurungkan niatnya ketika didengarnya suara Daksina berhenti. Mereka menduga, bahwa juru panebah itu sudah masuk ke dalam bilik Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu maka dada mereka menjadi semakin berdebar-debar. Kuda Sempana benar-benar hampir tidak sabar menunggu. Ingin ia langsung meloncat masuk ke dalam ruang dalam itu dan langsung ke ruang pusat istana. Dari sana ia akan dapat melihat sentong tengen, di mana Ken Dedes dibaringkannya kemarin. Tetapi ia tidak dapat berbuat begitu. Istana itu adalah istana Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu, betapapun ia bernafsu, namun ia terpaksa menunggu dengan hati yang gelisah.
Sesaat kemudian mereka mendengar langkah-langkah di dalam ruangan dalam. Langkah itu seolah-olah terlalu lambat sehingga hampir-hampir Kuda Sempana berteriak memanggilnya. Ketika juru panebah itu muncul dari balik pintu, Kuda Sempana dengan serta-merta bertanya,
“Bagaimana?”
“Akuwu menunggu Tuan-tuan di ruang paseban dalam.”
Kuda Sempana tidak menunggu apa-apa lagi. Segera ia melangkah menaiki tangga, masuk ke ruang dalam dan langsung berjalan ke ruang paseban dalam. Witantra dan Ken Arok pun kemudian melangkah pula mengikutinya. Namun mereka menjadi kecewa ketika ruangan itu masih kosong. Akuwu belum nampak. Tetapi mereka lega ketika mereka melihat batu hitam, tempat duduk Akuwu Tunggul Ametung, telah terbuka kerudung putihnya yang telah diambil oleh salah seorang juru panebah.
Suara Daksina telah tidak terdengar lagi. Dengan demikian mereka mengharap bahwa segera akuwu akan datang menerima mereka. Ternyata akuwu itu pun tidak terlalu lama membiarkan mereka menunggu. Sejenak kemudian masuklah Akuwu Tunggul Ametung ke dalam ruangan itu, diantar oleh seorang emban, Daksina dan seorang juru panebah, dan seorang juru panginang.
Ketika akuwu itu duduk di atas batu hitam palenggahannya, maka dada Kuda Sempana seolah-olah hampir meledak karena ketidak sabarannya. Akuwu itu berjalan seperti seorang pengantin sakit-sakitan, duduk dengan lesunya dan kemudian mengipaskan kainnya. Kuda Sempana itu menarik nafas dalam. Baru sejenak kemudian akuwu itu mulai bertanya ke pada mereka. Dengan segala macam adat dan upacara. Menanyakan keselamatan dan kesejahteraan masing-masing.
“Aneh. Tunggul Ametung adalah akuwu yang hampir tak pernah mengacuhkan adat itu. Ia berbuat sesuka hatinya. Sekali-sekali ia bertanya tentang keselamatan orang-orangnya, namun lain kali ia mulai dengan bentakan-bentakan dan umpatan-umpatan. Tetapi kali ini Akuwu agaknya sedang menikmati kedudukannya sebagai seorang akuwu,” keluh Kuda Sempana di dalam hatinya.
Namun sebenarnya Akuwu Tunggul Ametung itu pun sedang mencoba menenangkan perasaan yang bergolak. Ketika ia melihat ketiga orang itu bersama-sama menghadap, maka berdesirlah dadanya. Untuk sekedar menenteramkan hatinya, maka mulailah akuwu dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak berarti. Tetapi ia tidak akan dapat bertanya hal-hal yang demikian itu terus menerus. Disadarinya bahwa akhirnya pembicaraan mereka akan menginjak ke persoalannya. Karena itu, maka akuwu tidak merasa perlu untuk memperpanjang segala macam pertanyaan yang aneh-aneh.
Maka akuwu pun kemudian tidak membiarkan dirinya diamuk oleh keragu-raguan dan kecemasan. Biarlah seandainya orang-orang itu bertiga menemukan titik-titik pertemuan untuk bersama-sama menghadapinya. Mungkin Witantra tidak sampai hati mengatakan pesannya, tetapi mungkin pula mereka bersama-sama akan menghancurkannya. Tetapi apapun yang akan dihadapi, maka akuwu akan menengadahkan wajahnya dan akan berperisai dadanya. Tunggul Ametung bukan seorang pengecut.
Karena itu, maka sesaat kemudian terdengar akuwu itu bertanya, “Kuda Sempana. Kaulah yang pertama-tama menyampaikan pesan untuk menghadap. Apakah kepentinganmu?”
Kuda Sempana menarik nafas. Sembari ia bergeser maju, seolah-olah takut suaranya tidak akan dapat didengar oleh Tunggul Ametung. Katanya serak,
“Tuanku. Hamba hanya ingin menjemput gadis Panawijen itu.”
Tunggul Ametung terkejut mendengar permintaan itu. Dengan serta-merta ia berpaling memandangi wajah Witantra yang gelap. Bahkan kemudian wajah akuwu itu pun menjadi semburat merah. Berbagai persoalan bergulung-gulung di dalam dadanya. Apakah Witantra benar-benar belum menyampaikannya kepada Kuda Sempana? Apakah justru Witantra datang untuk membantu Kuda Sempana? Akuwu menjadi gelisah. Benar-benar tidak diketahuinya bagaimanakah sebenarnya hati Witantra dan Ken Arok.
Akuwu yang selama ini tidak pernah ragu-ragu kepada Witantra, tiba-tiba menjadi curiga. Sejak Witantra menolak perintahnya di Panawijen. Meskipun kemarin perwira pengawalnya itu seolah-olah sependapat dengan pendapatnya tentang gadis Panawijen itu, namun kenapa tiba-tiba saja ia menghadap bersama Kuda Sempana. Kalau ia benar-benar melakukan apa yang dikatakannya, maka Kuda Sempana tidak akan berkata seperti itu. Atau mereka benar-benar telah bersepakat untuk melawannya, meskipun kelak akan timbul persoalan di antara mereka sendiri? Apakah Witantra kemarin hanya memancing, agar Kuda Sempana dapat diperalat olehnya?
Witantra merasakan keraguan Tunggul Ametung. Karena itu maka segera ia berkata, “Akuwu, hamba memang belum mengatakan pesan Tuanku.”
“Kenapa?” dengan serta-merta terloncat pertanyaan dari mulut Tunggul Ametung. Namun sekali lagi Tunggul Ametung menengadahkan wajahnya ia adalah seorang yang memiliki berbagai kekuatan di dalam tubuhnya, yang seandainya perlu, akan dibangunkannya pada saat-saat itu.
“Hamba belum mendapat kesempatan. Ketika pagi-pagi tadi hamba datang ke pondok Adi Kuda Sempana, Adi Kuda Sempana telah pergi ke istana.”
Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Agaknya perasaannya sendirilah yang telah menggelapkan nalarnya. Kesalahan-kesalahan yang telah membebani perasaannya itulah yang telah menimbulkan berbagai prasangka dan kecurigaan. Namun jawaban Witantra itu sama sekali belum memuaskannya, sehingga ia bertanya pula,
“Kau telah bertemu dengan Kuda Sempana sebelum datang menghadap. Kenapa kau tidak berkata apa-apa kepadanya?”
“Kuda Sempana tidak mau mendengarkan, Tuanku. Ia ingin menghadap Tuanku dan mendengar langsung tentang persoalan yang kita bicarakan dari Tuanku sendiri.”
Akuwu mengerutkan keningnya. Kini ditatapnya wajah Kuda Sempana dengan tajamnya. Kemudian terdengar ia menggeram, “Benarkah demikian Kuda Sempana?”
“Ya, Tuanku.”
“Aku telah memberikan perintah kepada Witantra. Kenapa kau menolak?”
“Sikapnya sangat menyakitkan hatiku.”
“Kenapa?”
“Semalam aku telah menemui kedua-duanya. Adi Ken Arok dan Kakang Witantra, tetapi mereka menolak memberitahukan sesuatu kepadaku, Dibiarkannya aku menunggu dalam kegelisahan.”
Tunggul Ametung sekali lagi mengerutkan keningnya. Kemudian kepada Witantra dan Ken Arok ia bertanya, “Benarkah demikian?”
“Hamba Tuanku,” sahut Witantra, “hamba ingin menyampaikannya pagi ini.”
Dalam pada itu Kuda Sempana menyahut, “Sengaja mereka membiarkan aku mengalami guncangan-guncangan batin di malam itu. Sebenarnya aku tidak melihat perbedaan apa-apa. Malam tadi atau pagi ini.”
“Tidak ada bedanya,” sahut Akuwu Tumapel itu, “Kenapa kau tunda-tunda sehingga Kuda Sempana terpaksa datang sendiri kepadaku?”
Witantra mengangkat wajahnya sesaat, kemudian kembali ia tunduk sambil menjawab, “Maksud hamba, hamba ingin mengatakannya dengan tenang setiap persoalan, setiap kemungkinan, dan setiap perjanjian.”
“Perjanjian?” potong Kuda Sempana, wajahnya tampak berkerut-kerut penuh persoalan.
Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata pula, “Apakah semalam kau tidak menemukan ketenangan itu. Justru malam hari?”
“Tuanku benar,” sahut Kuda Sempana, “sebenarnya di malam hari segalanya menjadi lebih tenang. Tetapi Kakang Witantra sengaja membiarkan aku menghadap Akuwu sendiri.”
Witantra menarik nafas panjang. Kemudian sekali ia berpaling kepada Ken Arok. Dilihatnya Ken Arok menggigit Bibirnya untuk menahan perasaannya yang bergelora. Ia sudah benar-benar kehilangan kesabaran. Kalau saja tidak di hadapan akuwu, maka ia akan berkata lantang, ‘Kuda Sempana. Gadis itu sudah bukan hakmu lagi. Kalau kau marah, kau mau apa. Kita dapat berkelahi, sebab kami tidak takut kepadamu’. Tetapi di Hadapan Tunggul Ametung, ia hanya dapat mengumpat-umpat di dalam hati.
Akhirnya Witantra itu pun berkata, “Ampun Tuanku. Kuda Sempana datang ke rumah hamba. Adalah tidak mungkin hamba membicarakannya di hadapan istri hamba. sebab hamba tidak yakin Adi Kuda Sempana dapat menahan hatinya. Karena itu hamba datang ke pondoknya. Seandainya Adi Kuda Sempana tidak dapat menahan diri, maka akan hamba layani apa saja yang akan dilakukannya. Tidak di rumahku, tidak di hadapan istriku yang akan banyak mempengaruhi perasaan hamba.”
Telinga Kuda Sempana benar-benar serasa tersengat mendengar penjelasan Witantra itu. Terasa kini bahwa ada sesuatu yang tidak wajar. Karena itu, maka hatinya menjadi semakin gelisah dan kehilangan kesabaran. Dari dahi dan keningnya mengalir keringat yang dingin. Sekali-kali tampak ia mengusap wajahnya, namun kemudian terdengar ia menggeretakkan giginya.
Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berkata, “Ya. Alasanmu dapat aku mengerti Witantra. Nah. Kalau demikian katakanlah sekarang.”
“Jangan Kakang Witantra,” potong Kuda Sempana, “Kenapa bukan Tuanku sendiri yang memberikan perintah kepada hamba untuk berbuat apa saja.”
Tunggul Ametung menarik nafas. Sesaat ia menjadi ragu-ragu. Persoalan ini benar membuatnya pening. Namun kemudian ditemukannya keseimbangannya dengan baik, sehingga akuwu itu berkata lantang,
“Aku perintahkan kepadamu, he Kuda Sempana, untuk mendengarkan penjelasan dari Witantra.”
Kuda Sempana menggeram. Namun ia tidak berani membantah. Karena itu maka ia hanya dapat menundukkan kepalanya. Namun hatinya serasa melonjak-lonjak hampir tak. terkendali.
Witantra membungkukkan kepalanya dalam-dalam. Kemudian sahutnya, “Titah Akuwu akan hamba laksanakan.”
“Berkatalah,” potong Kuda Sempana.
Witantra memandang akuwu untuk sepintas. Ketika Akuwu mengangguk, maka mulailah Witantra berkata, “Adi Kuda Sempana. Adalah sudah Adi ketahui, bahwa persoalan timbal balik dan saling berturutan akan dapat terjadi. Apa yang Adi lakukan dapat pula dilakukan oleh orang lain. Dan apa yang Adi kehendaki dapat pula dikehendaki oleh orang lain.”
“Aku tidak tahu, apakah maksud Kakang dengan kata-kata yang tak dapat aku mengerti itu. Katakanlah, apa yang harus Kakang katakan kepadaku. Nah, itulah sebabnya aku lebih senang mendengarnya dari orang lain daripada Kakang Witantra yang tidak pernah berterus terang.”
Akuwu mengerutkan keningnya dan Witantra menarik nafas dalam-dalam. Namun yang terdengar adalah gumam Ken Arok lirih, “Ya, sebaiknya Kakang Witantra berterus terang. Akan dibuka kembali sayembara tanding.”
“He?” alangkah terkejutnya Kuda Sempana. Dan bahkan Witantra dan Tunggul Ametung pun terkejut pula. Tetapi segera mereka mencoba menguasai diri mereka masing-masing.
Witantra mengangguk-angguk. Disadarinya bahwa agaknya ia mencoba terlalu hati-hati sehingga baik Kuda Sempana maupun Ken Arok, menjadi tidak bersabar. Karena itu maka Katanya,
“Baiklah. Baiklah aku akan berkata berterus terang supaya semuanya menjadi lekas jelas. Supaya tidak menimbulkan berbagai pertanyaan yang terlalu lama mengganggu perasaan meskipun maksudku, supaya aku dapat menjelaskan dengan baik dan hati-hati, namun agaknya kalian tidak bersabar, sehingga….”
“Itukah yang akan kau katakan? Alasan-alasan yang menjadi semakin melingkar-lingkar. Aku menjadi semakin pening mendengarnya,” potong Kuda Sempana. Sementara itu Ken Arok menggaruk-garuk kepalanya dengan ujung telunjuknya.
“Oh,” desah Witantra. ia adalah seorang prajurit. Ia lebih pandai memainkan pedang daripada berbicara. Karena itu, maka ia menjadi bingung. Namun ia tidak mau gagal hanya untuk mengucapkan sebuah tantangan. Meskipun tantangan ini agak berbeda dengan tantangan yang harus diucapkan kepada lawan yang sesungguhnya. Maka kemudian setelah menarik nafas dalam-dalam, meloncatlah dari mulutnya, “Ya, ya. Akan aku katakan, bahwa Adi Kuda Sempana harus mengalami sikap yang sama dengan yang pernah dilakukannya. Kini seseorang berusaha mengambil gadis Panawijen itu dengan cara yang sama dengan yang telah kau lakukan.”
Wajah Kuda Sempana segera memerah bara, Sejenak ia terbungkam, namun terdengar giginya gemeretak menahan marah. Sepasang matanya memandang Witantra dengan sinar yang ganjil. Ruang paseban dalam itu menjadi sepi. Hanya desah nafas yang memburu terdengar bersahut-sahutan. Tetapi sejenak kemudian terdengarlah suara Kuda Sempana meledak dalam kesepian itu,
“Setan belang! Siapakah yang akan merebut gadis itu dari tanganku? Aku telah mengambilnya dengan susah payah. Aku sadari kemungkinan yang sama itu terjadi. Tetapi aku pun laki-laki. Aku pertahankan gadis itu dengan nyawaku.”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar