MENU

Ads

Rabu, 18 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 055

“Darimanakah berita itu?”

Ken Dedes menggeleng, “Tidak dari seorang pun disini.”

Emban itu mengerutkan keningnya. Sekali ditatapnya wajah Ken Dedes. Namun pada wajah itu sama sekali tidak dilihatnya kesan yang dikatakan oleh Nyai Puroni kepadanya, kesan bahwa gadis itu sedang dalam ketakutan dan mendendam.

“Bagaimana Madri,” bertanya Ken Dedes itu pula.

Madri menjadi ragu-ragu. Ia tidak dapat menduga maksud Nyai Puroni yang sebenarnya. Tetapi kembali ia merasa takut untuk melanggar pesan itu. Karena itu, meskipun sama sekali tidak memancar dari lubuk hatinya ia menjawab ragu-ragu,

“Ya. ya tuan …”

“Panggil namaku, Ken Dedes,” sahut Ken Dedes.

“Ya demikianlah.”

“Jadi pendengaranku itu benar?”

Emban itu mengangguk penuh kebimbangan, “Ya. Ya benar.”

Tetapi Ken Dedes menjadi semakin tidak yakin akan jawaban itu. Maka desaknya. “Jadi, adakah seandainya pembaringan ini dapat mendengar, maka ia akan mendengar banyak sekali keluhan gadis-gadis korban Akuwu Tunggul Ametung itu, dan seandainya ia dapat berceritera maka akan banyak sekali ceritera sedih yang dapat diberikan kepada kita, Madri.”

Madri menjadi semakin bimbang. Namun kembali ia mengangguk, tetapi sama sekali tidak meyakinkan, “Ya. Demikianlah.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Kini ia telah menemukan keyakinan, bahwa Nyai Puroni tidak berkata sebenarnya, dan emban yang jujur itu pun telah mencoba untuk membohonginya. Meskipun demikian Ken Dedes tidak menanyakan kepada Madri, manakah yang benar menurut kata-kata emban itu sendiri, bahwa pembaringan ini masih belum pernah dipergunakan, atau pembaringan ini telah menyimpan banyak sekali kisah pahit dari gadis yang kemudian dilemparkan begitu saja di tepi-tepi jalan.

Namun emban itu agaknya telah merasa kejanggalan jawabnya sendiri. berkali-kali ia menelan ludahnya. Ingin ia, memberikan beberapa penjelasan. Tetapi suaranya seakan-akan tersumbat di kerongkongan. Sehingga karena itu, maka tubuhnya menjadi basah oleh keringat dingin yang mengalir dari seluruh lubang-lubang kulitnya. Dadanya terasa seolah-olah bergelora, karena detik jantungnya yang semakin cepat, namun di dalam kepalanya sempat ia membuat perhitungan-perhitungan.

“Tak seorang pun pernah mengatakan seperti berita yang pernah didengar gadis itu,“ desisnya di dalam hati, “sanak kadangku yang tinggal di desa-desa dan yang tinggal di dalam kota ini sekalipun, tidak pernah ada yang menyebut-nyebut tentang ceritera semacam itu. Dan tidak pernah pula mendengar dari seorang pun bahwa Akuwu pernah mengambil seorang gadis dan mengorbankan gadis itu dengan amat kejinya. Apalagi melihat. Tidak, Akuwu tidak pernah berbuat demikian, dan tak ada seorang pun yang pernah memfitnahkan demikian.”

Tetapi emban itu tiba-tiba mengerutkan lehernya. Serasa seluruh bulu-bulunya tegak berdiri, ketika ia sampai pada kesimpulan yang ditemui oleh gadis ini pertama-tama adalah Nyai Puroni. Apakah orang tua itulah yang telah membuat ceritera yang mengerikan itu? Emban itu menggelengkan kepalanya,

“Tidak. Bukan Nyai Puroni. Orang itu tidak mempunyai kepentingan apa-apapun dengan Ken Dedes maupun Akuwu Tunggul Ametung,” desisnya di dalam hati, “tetapi siapa? Atau benar seperti yang dikatakan oleh Nyai Puroni, bahwa Ken Dedes selalu dikejar-kejar oleh perasaan takut dan dendam, sehingga dikarangnya sendiri ceritera semacam itu atau dibayangkannya, bahwa sebelum dirinya sendiri, banyak gadis-gadis yang mengalami bencana semacam itu? Tetapi wajah gadis itu sedemikian tenangnya.”

Emban itu menjadi bingung sendiri. Tetapi kemudian ia menarik nafas dalam-dalam, “Ah, apa peduliku? dengan berpusing-pusing tentang gadis ini gajiku belum pasti akan mendapat kenaikan. Biarlah aku melakukan pekerjaanku seperti yang diperintahkan.”

Tetapi emban itu terkejut ketika Ken Dedes berkata, “Jadi ceritera itu benar-benar telah terjadi, Madri?”

“Ya,” jawab emban itu singkat.



“Tetapi kenapa kau tidak takut menghambakan dirimu di istana ini? Kau terlalu cantik Madri. Jauh lebih cantik dari setiap gadis yang pernah aku jumpai. Apalagi kau masih muda dan sehat. Apakah senyummu itu tidak sangat berbahaya bagimu?”

Pertanyaan itu sama sekali tidak diduganya. Karena itu maka emban itu pun menundukkan wajahnya yang menjadi kemerah-merahan. Ia menjadi bingung, bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu, namun ia menjadi malu atas pujian yang berlebih-lebihan. karena itu, maka Madri itu pun sama sekali tidak menjawab.

Ken Dedes pun tidak mendesaknya pula. Ia telah menemukan keyakinan. Dan karena ini ia menjadi senang. Gadis Panawijen itu ternyata menjadi heran sendiri atas ketenangan yang menyelimuti jiwanya. Pasrah diri pada sumber hidupnya, dan agaknya peristiwa yang telah menggoncangkan jiwa dan raganya ini, benar-benar telah menggoncangkan segala macam sifat kekanak-kanakan dan kemanjaannya. Dalam beberapa hari, Ken Dedes telah benar-benar berubah menjadi seorang gadis dewasa. kejutan atas perasaannya telah mempercepat dan mematangkan jiwanya. Sehingga karena itu pula, ia mampu kini berpikir dalam alam kedewasaannya.

Karena itulah, maka ia tidak ingin membuat emban itu bertambah bingung. Dikisarkannya pembicaraannya ke segi-segi yang sama sekali jauh menghindar dari persoalan-persoalan dirinya.

“Madri, emban yang manis,” berkata Ken Dedes, “sudah berapa lamakah kau berada di dalam istana ini?”

Mendengar pertanyaan itu dada Madri berdesir. Dijawabnya sambil menundukkan kepalanya, “Hampir dua tahun tuan.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian sambungnya, “Jadi kau sudah melihat hampir segenap sudut istana bukan?” Madri mengangguk. “Kau pernah melihat, dimana seisi istana ini harus mandi?”

Madri kini mengangkat wajahnya, “Ya,“ sahutnya.

“Madri, sudah dua hari aku tidak menyentuh air.”

Emban itu menarik keningnya. Dua hari terpisah dengan air bagi seorang perempuan adalah cukup lama. Seandainya Ken Dedes dalam dua hari itu tidak sedang dilanda oleh berbagai kegoncangan maka yang dua hari itu pasti benar-benar memusingkan kepalanya untuk menyentuh air.

“Jadi apakah tuan akan mandi?” bertanya emban itu.

“Panggil namaku, Ken Dedes.”

“Ya,” sahut Madri dengan kaku, “apakah tuan akan mandi?”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya kehadirannya di ruangan ini sangat berpengaruh baginya sehingga emban itu tidak berani menyebut namanya. Tetapi Ken Dedes tidak ingin memperbincangkannya lebih banyak. Karena itu jawabnya,

“Aku ingin mencuci muka dan tanganku.”

Madri dapat mengerti, bahwa Ken Dedes benar-benar memerlukan air. Tetapi apakah ia dapat mengantarkan gadis itu ke belakang? Apakah dengan demikian ia tidak bersalah, dan bagaimanakah seandainya gadis itu melarikan diri?. Madri benar-benar menjadi bingung, sehingga untuk sejenak ia tidak dapat menjawab.

“Bagaimana Madri?”

“Ya tuan, tetapi apakah tuan dapat menunggu Nyai Puroni?”

“Kenapa aku harus menunggu?”

Kembali emban itu menjadi bingung. Sekali-kali dijenguknya bilik pintu itu, dan sambil berdesis ia menunggu Nyai Puroni.

“Siapa yang kau tunggu?” bertanya Ken Dedes itu tiba-tiba.

“Nyai Puroni tuan,” sahut Madri.

“Aku tidak perlu menunggunya. Marilah antarkan aku ke belakang.”

“Ya, ya. Tetapi…. “ emban itu tidak meneruskan kata-katanya.

Ken Dedes melihat keragu-raguan itu. Akhirnya iapun dapat memahami kesulitan Madri. Karena itu maka kemudian katanya, “Baiklah aku menunggu Nyai Puroni.”

Madri menganggukkan kepalanya. Tetapi ia menjadi gelisah. Demikian gelisahnya, sehingga ia berkata, “Aku akan keluar sebentar tuan, menjenguk apakah Nyai Puroni ada di emper belakang.”

Ken Dedes mengangguk, “Pergilah. Cepat kembali, aku tidak tahan lagi.”

Emban itu berlari-lari keluar. Ketika ia menjenguk ke serambi belakang, alangkah terkejutnya. Yang mondar-mandir di serambi adalah Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu segera berjongkok sujud menyembah.

“Apa? “ bertanya Akuwu Tunggul Ametung.

Pertanyaan itu benar-benar membingungkan. Sehingga emban itu menjadi tergagap karenanya.

“Mau kemana?” bertanya Akuwu itu pula.

“Ampun tuanku, hamba akan mencari Nyai Puroni.”

Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. “Kemana Nyai Puroni.”

“Ke belakang tuanku.”

“Kau tinggalkan gadis itu Sendiri?”

“Ampun tuanku, gadis itu akan pergi ke belakang. Hamba takut mengantarkannya sebelum hamba minta ijin dahulu kepada Nyai Puroni.”

“Kenapa minta ijin Nyai Puroni?”

Kembali emban itu menjadi bingung. Ia tidak tahu, bagaimana menjawab pertanyaan Akuwu itu, sehingga emban itu pun menundukkan wajahnya yang pucat.

“Nah, antarkan gadis itu sekarang.”

“Hamba tuanku,” sahut emban itu sambil menyembah. Kemudian sambil berjongkok ia beringsut kembali masuk ke dalam bilik kanan di ruang dalam.

Ken Dedes itu pun segera diberitahukannya, bahwa Akuwu sendiri telah mengijinkannya untuk pergi.

“Apakah aku seorang tawanan Madri?” bertanya Ken Dedes.

Pertanyaan itu sama sekali tidak diduga-duga. Sekali lagi ia dibingungkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak dimengerti jawabnya. Kali ini Madri itu menjawab dengan jujur,

“Tuan, aku adalah seorang emban, sehingga tidak banyaklah yang aku ketahui tentang diri tuan. Bahkan tentang diriku sendiri di dalam istana ini.”

Ken Dedes tersenyum. Ditepuknya bahu emban itu sambil berkata, “Kau jujur Madri.”

Ken Dedes itu pun kemudian mengikuti Madri berjalan lewat pintu samping, menyeberangi serambi jauh di ujung untuk menghindari Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka mendengar tepuk tangan. Ketika mereka berpaling, mereka melihat Akuwu berjalan bergegas-gegas kepada mereka, sehingga dengan serta merta emban itu pun menjatuhkan diri berjongkok sambil menyembah. Ken Dedes yang sudah menemukan ketenangannya pun segera berjongkok pula di belakang Madri.

Tetapi terdengar Tunggul Ametung berkata dari tempat yang masih agak jauh, “Berdirilah. Berdirilah.”

Madri menjadi bingung. Kenapa ia harus berdiri. Ketika ia mencoba memandang Akuwu, dilihatnya tangannya memberi isyarat untuk berdiri. Dengan ketakutan Madri perlahan-lahan berdiri. Terasa kakinya menjadi gemetar. Tetapi kembali ia membanting dirinya ketika ia mendengar Akuwu berkata lantang,

“Bukan kau emban yang bodoh. Bukan kau yang harus berdiri.”

Madri menjadi semakin gemetar. Terasa seolah-olah ubun-ubunnya telah terbuka. Karena itu, segera ia menyembah sambil berkata gemetar, “Ampun tuanku. Ampun. Hamba menjadi sangat bingung.”

Ternyata Akuwu sama sekali tidak mempedulikannya. Sekali lagi ia berkata kepada Ken Dedes, “Berdirilah.”

“Terima kasih tuanku,“ sembah Ken Dedes, “hamba tidak dapat melakukannya dihadapan tuanku.”

“Hem,” Tunggul Ametung menggeram.

Perubahan sikap Ken Dedes itu menjadikan kepalanya semakin pening, dan wajah Ken Dedes itu baginya semakin mempesona. Karena itu, maka untuk sesaat Akuwu Tunggul Ametung terpaku diam seperti patung. Sedang Madri masih saja duduk dengan gemetar. Pandangan matanya menghunjam dalam-dalam ke ujung kaki Tunggul Ametung yang kemudian berdiri di mukanya.

Baru sejenak kemudian Akuwu itu berkata, “Nah, antarkanlah Ken Dedes ke pakiwan.”

“Hamba tuanku,“ sembah Madri.

Maka setelah menyembah keduanya pun lalu bergeser surut, dan kemudian menuruni tangga serambi istana menuju halaman belakang.

Tiba-tiba mereka terhenti ketika mereka mendengar Akuwu bertanya, “He, mau kemana?”

Madri benar-benar tidak mengerti. Akuwu Tunggul Ametung itu kini benar-benar seperti orang yang tidak punya pekerjaan lain dari pada mengawasi mereka. Apakah Akuwu itu sekarang memang sudah kehilangan semua gairahnya untuk melakukan pekerjaannya yang lain dari pada mengurusi pakiwan?

Namun Madri menyembah, “Hamba akan mengantarkan gadis ini ke pakiwan.”

“Kenapa ke sana?”

Madri benar-benar menjadi bingung. Hampir dua tahun ia menghambakan diri di istana. Tetapi ia belum pernah mengalami kebingungan seperti ini. Sehingga karena itu ia tidak mampu untuk menjawab.

“Emban,” teriak Tunggul Ametung keras-keras.

Tetapi emban itu sudah terlalu biasa mendengarnya. Meskipun ia masih juga gemetar tetapi ia tidak sedemikian terkejut seperti Ken Dedes.

“Hamba tuanku,” sahut emban itu.

“Apakah kau gila. Bukankah pakiwan dalam ada di ujung serambi ini. Kenapa kau bawa gadis itu ke halaman belakang?”

Sekali ini dada Madri berdesir kembali. Pakiwan dalam adalah bilik mandi khusus untuk Akuwu Tunggul Ametung. Sekarang ia mendapat perintah untuk membawa Ken Dedes ke bilik itu. Dengan demikian maka kepala emban itu seakan-akan benar-benar akan terlepas dari lehernya. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain dari menurut perintah itu. Setelah ia menyembah sambil membungkuk dalam-dalam, maka berbisiklah emban itu kepada Ken Dedes,

“Marilah tuan, tuan diperkenankan mempergunakan bilik mandi di ujung serambi itu.”

Ken Dedes tidak menjawab. Ia tidak tahu bedanya pakiwan yang manapun. Karena itu ia mengikuti Madri di belakangnya menyusur serambi belakang menuju ke pakiwan yang disebut pakiwan dalam. Sekali dua kali Madri ini berpaling ketika tidak dilihatnya lagi Akuwu Tunggul Ametung, maka ia menarik nafas dalam-dalam.

“Kenapa Akuwu marah?” bertanya Ken Dedes.

“Tidak,“ sahut Madri, “Akuwu tidak marah. Adalah menjadi kebiasaannya untuk berteriak-teriak dan memaki.”

Ken Dedes menarik nafas pula. Ia sejak saat itu harus membinasakan diri mendengar Akuwu Tunggul Ametung berteriak-teriak dan memaki-maki.

Mereka sekali lagi terhenti ketika mereka mendengar seseorang memanggil, “Madri. Madri.”

Serentak mereka berpaling, dan mereka melihat Nyai Puroni berjalan tergesa-gesa ke arah mereka.

“Akan kemanakah kalian?” bertanya Nyai Puroni itu.

“Aku akan mengantarnya ke pakiwan, Nyai.”

“Kenapa ke sana?”

“Ke pakiwan dalam.”

“He?” Nyai Puroni terkejut sehingga wajahnya menjadi merah, “apakah kau sudah gila emban?”

Emban itu memandangi wajah Nyai Puroni yang kemerah-merahan. Sekali lagi ia dihadapkan pada persoalan yang dapat merontokkan rambutnya. Namun demikian emban itu menjawab,

“Nyai, Akuwu sendiri memerintahkan aku mengantarkannya ke sana.”

“Bohong,” sahut Nyai Puroni, yang kemudian berkata kepada Ken Dedes, “jangan berbuat hal-hal yang dapat merugikan dirimu sendiri ngger. Seharusnya kau tidak berbuat demikian. Aku kasihan kepadamu. Betapa kau mengalami goncangan-goncangan yang dahsyat. Mungkin kau sedang ketakutan dan mendendam, atau mungkin kau ingin menunjukkan bahwa kau tidak mau dihinakan, namun jangan melampaui batas-batas kesopanan. Betapapun buruk perangainya, namun Akuwu Tunggul Ametung memiliki kekuasaan yang tiada taranya di Tumapel.”

Ken Dedes pun kemudian menjadi bingung. Ia belum pernah tinggal di dalam istana. Bahkan melihat bagian dalamnya pun baru kali ini. Alangkah sulitnya hidup di istana. Soal pakiwan saja telah membuatnya pening. Dalam kebingungannya Ken Dedes itu bertanya kepada Madri,

“Madri, aku sama sekali tidak mengerti apa yang sebaiknya aku lakukan.”

Emban itu menggeleng lemah, “Jangankan tuan. Aku pun rasa-rasanya benar-benar menjadi gila.”

“Kalau kau tidak berbuat aneh-aneh emban, maka kau tidak akan menjumpai persoalan-persoalan yang membuatmu menjadi bingung. Nah, antarkan angger Ken Dedes ini ke belakang, ke halaman belakang.”

“Aku sudah akan membawanya ke sana, Nyai, tetapi Akuwu Tunggul Ametung membuat perintah lain. Aku harus membawanya kemari.”

Nyai Puroni tertawa. Katanya, “Kau benar-benar telah menjadi gila emban. Kau merasakan hal-hal yang tidak pernah dan tidak mungkin terjadi.”

“Ah,” desah Ken Dedes kemudian, “aku hanya ingin mendapatkan air. Kemanapun aku dibawa, bukan soal bagiku. Janganlah terlalu dirisaukan kemana aku dibawa. Aku perlu air.”

Tetapi Ken Dedes itu pun terkejut ketika ia melihat Madri menangis. Betapa ia menahan diri, namun air matanya meleleh juga di pipinya. Desahnya, “Aku tidak tahu apa yang harus aku kerjakan. Aku tidak berani melawan perintah Akuwu. Kepalaku akan dipancungnya nanti.”

Nyai Puroni memandangi wajah Madri dengan kemarahan yang memancar dari kedua matanya. Ketika ia melihat Madri menangis maka katanya, “He emban cengeng, kenapa kau menangis?”

Madri tidak menjawab. Bahkan air matanya semakin banyak meleleh di pipinya. Namun yang menjawab adalah Ken Dedes, “Nyai, aku pun mendengar pula perintah Akuwu itu. Aku diperintahkannya membawa ke pakiwan dalam.”

“He?” Nyai Puroni menjadi semakin marah, “ngger kau belum seorang permaisuri. Kau masih harus mengikuti adat dan peraturan yang berlaku disini.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Apakah hubungan antara permaisuri dan pakiwan itu?”

“Hem,“ geram dukun tua itu. Namun di dalam hatinya ia mengumpat, “pantaslah gadis desa yang bodoh. Kau tidak tahu perbedaan penggunaan bangunan-bangunan di dalam istana ini.”

“Nini,“ jawab Nyai Puroni itu kemudian, “pakiwan itu adalah pakiwan khusus untuk Akuwu dan sudah tentu permaisurinya kelak.”

“Oh,“ Ken Dedes berdesah, “kalau demikian Madri, bawa aku ke belakang.”

“Akuwu akan murka kepadaku.”

“Biarlah aku menanggung kesalahan itu,” sahut Ken Dedes.

Madri tidak menjawab. Dengan ragu-ragu ia berjalan ke belakang. Ketika mereka berpaling dilihatnya Nyai Puroni berdiri mengawasi mereka sambil tertawa. Suara tertawanya sedemikian anehnya sehingga emban itu hampir-hampir tak mengenal bahwa suara itu adalah suara Nyai Puroni.

Ken Dedes berjalan sambil menundukan kepalanya. Mudah-mudahan Akuwu tidak melihat mereka lagi. Sehingga Madri akan mengalami kesulitan pula. Dan ternyata kemudian, bahwa Akuwu benar-benar tidak melihat mereka lagi di halaman belakang. Karena Akuwu kemudian masuk ke dalam biliknya.

Yang Kemudian terpancang di dalam hati Ken Dedes, bukanlah tentang pakiwan itu lagi. Meskipun soalnya adalah soal pakiwan, namun gadis itu ternyata mampu mengurangi persoalannya lebih jauh. Apakah keberatan Nyai Puroni tentang kesempatan yang diberikan oleh Akuwu kepadanya? Ken Dedes yang telah didorong ke dalam suatu dunia yang lain dari dunianya, dunia kekanakan, kemanjaan dan lingkungan padepokan yang sepi ke dalam dunia yang penuh dengan kegoncangan, dunia yang memerlukan akal dan pikirannya untuk mengimbangi perasaannya, maka mulailah ia mencoba menghubung-hubungkan.

Semua keterangan-keterangan yang didengarnya dari Akuwu Tunggul Ametung dari Nyai Puroni dan dari Madri. perlahan-lahan ia mulai menemukan beberapa kesimpulan yang mantap. Dirasakannya nada penyesalan yang terungkapkan dalam setiap kata Akuwu Tumapel, perubahan sikap dan kekasaran Nyai Puroni dan kejujuran Madri yang selalu diliputi oleh kebingungan, ketakutan dan kecemasan. Ketika Ken Dedes telah kembali ke biliknya, maka segera ia membaringkan dirinya di pembaringan sentong tengen, seakan-akan pembaringan itu adalah pembaringan yang memang tersedia untuknya. Dengan tenang ia berkata kepada Madri dan Nyai Puroni,

“Nyai, aku akan beristirahat.”

Nyai Puroni mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab. Dibiarkannya Ken Dedes berbaring dan dibiarkannya emban yang mengawaninya pergi keluar. Ia sendiri duduk bersimpuh di lantai bersandar dinding. Dalam pada itu, Ken Dedes masih juga menganyam angan-angannya. Hilir mudik kembali ke dalam rongga kenangannya. Kuda Sempana, Wiraprana yang malang, Mahisa Agni, kemudian Tunggul Ametung, Nyai Puroni, Madri dan seorang emban tua yang merawatnya sejak ia masih kecil dan kini ditinggalkannya di Panawijen.

Tetapi Ken Dedes kini berada di dalam bilik itu seorang diri. Ia tidak dapat minta pertimbangan kepada siapapun setelah ia menyadari, bahwa Nyai Puroni ternyata tidak jujur menghadapinya. Namun terasa sesuatu merayapi dinding hatinya. Terasa seolah-olah Nyai Puroni telah menghinakannya. Ia hanya seorang gadis desa. Terngiang kembali bentakan orang tua itu dalam nada penghinaan, “ngger, kau belum seorang permaisuri.”

Alangkah sakit hatinya. Ia sendiri tidak pernah bermimpi untuk menjadi permaisuri. Ia sudah puas apabila ia dapat hidup rukun dengan pemuda sedesanya, Wiraprana. Namun Wiraprana itu telah mati. Dan akalnya mengatakan kepadanya, bahwa yang mati itu tak akan hidup kembali.

“Alangkah pahit hidupku ini,” desahnya di dalam hati.

Namun terasa sesuatu yang merayap di dinding hatinya itu datang kembali. Lamat-lamat, namun semakin lama semakin kuat. Ken Dedes menggeleng lemah. Ia mencoba membunuh perasaan itu. Tetapi setiap kali ia menyingkirkannya dari dinding hatinya, setiap kali perasaan itu datang kembali. Dan perasaan itu berkata kepadanya,

”Ken Dedes, apakah kau menerima hinaan itu? Tidakkah kau ingin membuktikan bahwa kau bukan seorang gadis yang hina dina. Bahwa kau benar-benar mampu menjadi seorang permaisuri. Ken Dedes, kau akan dapat melawan hinaan itu tanpa membantah kata-kata itu, dan kau dapat menunjukkan kepada Kuda Sempana, bahwa anak yang kasar itu tidak cukup bernilai bagimu.”

Ken Dedes memejamkan matanya. Ia ngeri mendengar suara perasaannya sendiri. Kembali ia mencoba memutar nalarnya. Apakah hal itu dapat dilakukannya. Namun ternyata nalarnya memperkuat perasaan itu. Harga diri dan kemarahannya yang tiada taranya kepada Kuda Sempana, sehingga tanpa disadarinya, tumbuhlah dendam di dalam hatinya. Dan dendamnya itu pun merupakan salah satu unsur yang mendorongnya untuk mengambil sikap untuk menempatkan dirinya, tidak lagi sebagai seorang gadis yang malang, yang mengeluh akan nasibnya, yang selalu disaput oleh kepedihan. Ken Dedes itu kemudian menelungkupkan wajahnya ketika ia mendengar lagi hatinya berkata,

“Wiraprana telah mati. Karena itu maka aku tidak mengkhianatinya. Sebab yang mati tidak akan hidup kembali.”

Beberapa lama Ken Dedes bergulat dengan perasaan sendiri. Berbagai pertimbangan datang dan pergi. Berbagai masalah hilir mudik di dalam rongga dadanya. Dada Ken Dedes itu pun seakan-akan hampir meledak karenanya. Ia tidak dapat melupakan Wiraprana. Cintanya kepada pemuda itu adalah cinta yang kudus. Namun ia tahu pasti bahwa Wiraprana itu sudah tidak ada lagi.

Nyai Puroni yang duduk bersandar dinding, memandangi Ken Dedes dengan senyum dibibirnya. Terasa bahwa ia akan berhasil mengurungkan niat Akuwu Tunggul Ametung dengan menakut-nakuti gadis ini. Karena itu maka dibiarkannya Ken Dedes bergulat dengan angan-angannya sendiri. Tetapi sama sekali tidak disangka-sangka bahwa Ken Dedes sama sekali tidak berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan yang pedih bagi dirinya. Ia sudah menemukan keyakinan, bahwa ceritera Nyai Puroni, sama sekali tidak dapat dipercaya. Dan karena itu maka ceritera itu tidak perlu dipikirkannya. Yang menjadi persoalan di dalam diri Ken Dedes kini adalah, bagaimana ia dapat membebaskan dirinya dari himpitan perasaan yang selalu mengejarnya. Sebenarnyalah bahwa hilangnya Wiraprana benar-benar telah menggoncangkan perasaannya. Bahwa cintanya yang tumbuh telah direnggut patah dari dahannya.

Tanpa mereka sadari, maka waktu pun berjalan terus. Lambat-lambat namun pasti, merayap dari saat ke saat. Di langit matahari mengapung dengan lambatnya, seperti seorang perantau yang lesu menghadapi hari-hari mendatang yang kelam. Namun ia berjalan terus. Beredar menurut garis edarnya. Seperti saat-saat yang pernah dilampuinya. Dari Timur ke Barat, dan bergeser dari Utara ke Selatan dan dari Selatan ke Utara dalam lintasan tahun ke tahun.

Ketika ruangan sentong tengen itu kemudian berangsur menjadi gelap, maka seorang emban telah memasang lampu minyak dan menggantungkannya pada sebuah gantungan yang indah. Nyalanya yang kemerahan memancar menerangi seluruh ruangan. Ketika emban itu pergi, maka Nyai Puroni berkata kepada Ken Dedes yang masih terbaring di pembaringan itu dengan kepala yang semakin pening.

“Nini, baiklah aku pergi ke belakang. Tinggallah bersama emban yang bernama Madri itu sebentar. Kalau kau ingin membersihkan dirimu pula Nini, pergilah ke pakiwan belakang. Jangan terlalu bangga bahwa kau telah dibaringkan di sentong ini.”

Ken Dedes mengangkat wajahnya. Sesaat ia memandangi wajah orang tua. Wajah yang telah berubah tidak lagi seperti saat ia pertama-tama melihatnya. Senyumnya kini tidak lagi sesejuk senyumnya kemarin. Tetapi senyumnya kini terasa menusuk sampai ke pusat jantung. Alangkah pedihnya. Meskipun demikian Ken Dedes menjawab,

“Baik Nyai. Aku tidak ingin pergi ke pakiwan.”

Nyai Puroni tidak menjawab. Tetapi ia tertawa dengan nada yang tinggi. perlahan-lahan ia berjalan keluar dan sekali lagi ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Madri duduk terkantuk-kantuk di muka pintu.

“Madri,“ tegurnya, “tak ada yang pernah kau lakukan selain menguap dan mengantuk.”

Koleksi : Ki Ismoyo
Retype : Ki Raharga
Proofing : Ki Raharga
Recheck/Editing: Ki Sunda






OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar