MENU

Ads

Jumat, 20 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 056

PdLS-12
EMBAN ITU TERKEJUT. Tersentak ia mengangkat wajahnya dan dilihatnya Nyai Puroni berdiri di sampingnya.

“Aku akan ke belakang sebentar emban,“ berkata Nyai Puroni, “tunggulah kau di dalam, mengawani Angger Ken Dedes. Tetapi ingat semua pesan-pesanku.”

“Baik Nyai,“ sahut Madri yang kemudian melangkah memasuki sentong tengen mengawani Ken Dedes.

Dalam pada itu, di ruang yang lain Akuwu Tunggul Ametung sudah siap menerima Witantra dan Ken Arok. Ketika kemudian seorang pelayan menyampaikan kepada Tunggul Ametung bahwa kedua orang itu telah berada di halaman belakang, maka segera mereka berdua dipanggilnya menghadap. Setelah ditanyakan oleh Akuwu Tunggul Ametung berbagai hal mengenai keselamatan mereka sebagai adat kebiasaan, maka kemudian bertanyalah Tunggul Ametung kepada Witantra,

“Witantra bagaimanakah keadaanmu? Apakah kau tidak mendapat cedera apapun mengalami benturan kekuatan aji Kuda Sempana?”

“Tidak Akuwu. Hamba tidak mengalami sesuatu, Meskipun hamba kemudian menjadi lemah. Apalagi ketika Adi Kuda Sempana menghantam dada hamba dengan sebuah tendangan yang keras, dimana hamba sama sekali tidak menyangka.”

Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Kemudian sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Aji Kala Bama adalah aji yang dahsyat. Tetapi kau berhasil memunahkannya.”

Witantra mengerutkan keningnya. Ternyata aji yang dipergunakan oleh Kuda Sempana itulah aji Kala Bama yang pernah didengar namanya. Untunglah bahwa ia telah memiliki perisai untuk melawannya. Aji Bajra Pati.

Yang terdengar kemudian Akuwu Tunggul Ametung meneruskan, “Aku sangat berterima kasih kepadamu Witantra. Kau tentu akan menerima hadiah yang pantas untuk segenap jasa-jasa itu.”

Witantra menundukkan wajahnya, jawabnya perlahan, “Tuanku. Adalah jauh dari pamrih tentang hadiah atau kesempatan apapun yang akan Tuanku limpahkan kepada hamba. Tetapi hamba hanya sekedar melakukan tugas hamba.”

“Kau telah berbuat melampaui tugas keprajuritanmu Witantra.”

“Mungkin tuanku, tetapi belum memadai tugas kemanusiaanku.”

Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Ia menjadi bertambah kagumnya kepada perwiranya yang satu ini. Dan kepada orang yang demikianlah kemudian Tunggul Ametung telah melimpahkan kepercayaan untuk memperbincangkan masalah-masalah yang akan menentukan jalan hidupnya kemudian. Maka berkata Akuwu Tunggul Ametung itu,

“Witantra, aku telah melihat kesetiaanmu yang tiada taranya. Kesetiaanmu kepadaku, namun lebih tinggi lagi adalah kesetiaanmu kepada kemanusiaan, sehingga kau berani menolak perintahku di Panawijen. Karena itu, maka biarlah kepadamu berdua aku ingin menyatakan perasaanku untuk mendapatkan pertimbangan-pertimbangan.”

Witantra dan Ken Arok sama sekali tidak menjawab. Mereka menundukkan wajah mereka sambil menunggu, apakah yang akan diberitahukan oleh Akuwu itu kepada mereka.

“Witantra dan Ken Arok. Dengarlah. Demikian mendalam kesan yang menusuk hatiku atas kesalahan yang telah aku lakukan itu, maka aku ingin menebus kesalahan itu dengan kemungkinan yang paling bernilai yang ada padaku. Witantra, bagaimanakah pertimbanganmu seandainya gadis itu tidak usah dikembalikan ke Panawijen?”

Witantra mengangkat wajahnya. Sedang Ken Arok tergeser beberapa jari. Dengan dada yang berdebar-debar mereka menunggu Akuwu memberi penjelasan lebih jauh.

Maka berkatalah Tunggul Ametung, “Aku ingin gadis itu tetap berada di istana seandainya itu dapat menyenangkannya. Tetapi sudah tentu bahwa apabila ia menolak, aku tidak akan memaksanya.”

Witantra menarik keningnya. Kemudian ia kembali menundukkan wajahnya. Namun membayang diantara bibirnya sebuah senyum tertahan. Tetapi berbeda benar dengan perasaan Ken Arok pada saat itu. Kata-kata Akuwu Tunggul Ametung benar-benar memukul jantungnya. Sekali ia mengangkat wajahnya, memandang wajah Akuwu yang tampak suram, namun bersungguh-sungguh. Tetapi kemudian wajah itu kembali terbanting di atas anyaman tikar pandan di muka lipatan kakinya.



Ken Arok hampir tidak percaya mendengar kata-kata Akuwu itu meskipun ia sudah menduga sebelumnya. Ia mengharap bahwa dugaannya salah sehingga ia masih tetap pada anggapannya atas Akuwu Tunggul Ametung itu. Tetapi kini, tiba-tiba kebanggaannya terhadap Akuwu Tunggul Ametung langsung surut seribu kali. Meskipun beberapa saat yang lalu, ia merasa kecewa pula terhadap Tunggul Ametung, tetapi kekecewaannya kali ini terasa semakin memuncak. Terdengar hatinya berteriak lantang,

“O, jadi apa yang tuanku katakan itu semata-mata hanya rangkaian kalimat penghias bibir. Ternyata tuanku sendiri mempunyai pamrih atas gadis Panawijen itu. Kalau kakang Witantra tuanku dorong terjun ke arena, bukan semata-mata sekedar untuk membebaskan dari Kuda Sempana, namun sekaligus untuk membuka kesempatan kepada Akuwu sendiri. Hem. Alangkah kisruhnya perasaanku sekarang ini.” Namun demikian tak sepatah katapun yang dapat diucapkannya dihadapan Akuwu Tunggul Ametung yang memiliki kekuasaan tertinggi di Tumapel.

“Witantra,” terdengar Akuwu Tunggul Ametung itu berkata lirih, “Bagaimana pertimbanganmu?”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Hamba adalah seorang yang sama sekali tidak mempunyai wewenang untuk memberikan pertimbangan tentang hal yang sangat penting dalam perjalanan hidup Akuwu pribadi. Mungkin tuanku dapat memanggil beberapa orang tua-tua untuk mendapat pertimbangan daripada mereka itu.”

Tunggul Ametung menggelengkan kepalanya, “Tidak,“ katanya, “mereka tidak berkepentingan apa-apa bagi masa depanku.”

“Tetapi mereka memiliki pandangan yang luas, dan pengalaman serta pengetahuan yang cukup. Mereka memiliki pertimbangan-pertimbangan dan nasehat-sehat yang pasti akan sangat berguna bagi tuanku. Mungkin tuanku dapat memanggil beberapa orang pendeta, atau orang-orang tua yang lain.”

“Tidak perlu Witantra,” sahut Akuwu Tunggul Ametung, “aku akan menemukan jalan hidupku sendiri.”

Witantra terdiam sejenak. Ia tidak dapat memberikan pertimbangan apapun karena keseganannya. Namun sekali ia berpaling kepada Ken Arok, tetapi dilihatnya Ken Arok itu duduk diam sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam.

“Kau tidak memberikan pendapatmu Witantra,” desak Akuwu Tunggul Ametung.

Witantra menjawab sambil membungkukkan badannya dalam-dalam, “Ampun tuanku. Hamba sama sekali tidak cukup pengetahuan untuk menjawab pertanyaan tuanku.”

Tunggul Ametung mengerutkan keningnya, perlahan-lahan ia berkata, “Tetapi kau tidak akan menolak bukan Witantra?”

“Apakah hakku untuk menolak Tuanku?”

“Aku tidak berbicara tentang apakah kau berhak atau tidak, tetapi aku ingin tahu, bagaimana perasaanmu terhadap maksud ini. Perasaanmu. Berhak atau tidak berhak.”

Witantra tidak dapat mengelak lagi. Sebenarnya sejak semula, ia tidak berkeberatan atas maksud Akuwu itu untuk memberi tempat yang agak baik bagi Ken Dedes. Karena itu maka jawabnya,

“Ampun Akuwu. Perasaan hamba sama sekali tidak menentang maksud Akuwu itu.”

“Terima kasih Witantra. Kaulah sebenarnya yang telah membebaskan gadis itu. Menurut perjanjian, yang menang dapat berbuat atas dasar kemenangannya.”

“Tetapi tuanku,“ sela Witantra tambahnya, “bukanlah benda mati, sehingga yang berkepentinganlah yang paling berhak untuk menentukan sikapnya.”

“Tentu, tentu Witantra. Aku tidak akan berbuat kesalahan untuk kedua kalinya.”

Witantra pun kemudian berdiam diri untuk sejenak. Sekali-sekali ia berpaling kepada Ken Arok yang masih saja menundukkan wajahnya dalam-dalam. Terasa sesuatu yang kurang wajar pada anak muda itu. Dan Witantra telah dapat menduganya. Seperti yang dikatakannya siang tadi, anak muda kecewa atas maksud Tunggul Ametung itu. Namun apabila hal itu dikehendaki oleh yang berkepentingan, maka apakah salahnya?”

Ternyata Akuwu itu tidak juga membiarkan Ken Arok tanpa mendapat kesempatan menyalakan perasaannya. Karena itu, maka Akuwu Tunggul Ametung itu pun bertanya pula kepadanya,

“Ken Arok bagaimana pertimbanganmu? Jangan berkata bahwa kau tidak berhak menjawab pertanyaan ini. Tetapi bagaimanakah kata hatimu?”

Bukan main terkejut Ken Arok mendengar pertanyaan itu. Ia tidak menyangka bahwa ia akan mendapat pertanyaan pula. Ia menyangka bahwa ia hadir di tempat itu hanya sebagai pelengkap saja. Karena itu tiba-tiba terasa keringat dinginnya mengalir ke segenap kulit tubuhnya. Sejenak Ken Arok itu terbungkam. Dengan wajah yang tegang ia sekali-sekali berpaling memandangi wajah Witantra. Namun ia tidak mendapatkan kesan apa-apa pada wajah perwira pengawal itu.

“Bagaimana Ken Arok,” desak Akuwu Tunggul Ametung.

Ken Arok benar-benar menjadi gelisah. Betapa hatinya meronta mendengar keputusan Tunggul Ametung untuk mencoba memiliki sendiri gadis itu. Tetapi apakah ia dapat mengatakannya dihadapan Akuwu itu sendiri?. Setelah sejenak Ken Arok berjuang di dalam dirinya sendiri maka jawabnya sambil menyembah,

“Ampun tuanku. Hamba hanyalah seorang pelayan dalam.”

“Jangan menjawab demikian. Sudah aku katakan. Siapapun kau, namun kau mempunyai pertimbangan di dalam dirimu. Nah, jawablah dengan jujur.”

Sekali lagi Ken Arok terdesak dalam kebimbangan yang dahsyat. Ia tidak dapat menutup perasaannya, namun apakah ia dapat pula membukanya?. Ketika ia sedang sibuk dalam pertentangan itu, maka sekali lagi ia mendengar Tunggul Ametung berkata,

“Apa pertimbanganmu?”

Ken Arok harus segera menjawab. Namun Ia masih mencoba mencari kemungkinan-kemungkinan yang paling baik. Ia tidak harus menyembunyikan perasaannya, tetapi sejauh mungkin jangan menjadikan Tunggul Ametung marah. Karena itu maka akhirnya ia menjawab,

“Tuanku. Menurut perasaan hamba, maka alangkah mulianya apabila Akuwu mengambil keputusan untuk mengembalikan gadis itu ke Panawijen. tetapi meskipun demikian, segala sesuatu adalah dalam kebijaksanaan Tuanku. Apalagi kalau gadis itu sendiri tidak berkeberatan untuk tinggal di dalam istana.”

Warna merah memancar sekilas pada wajah Tunggul Ametung. Terdengarlah giginya gemeretak. Namun kemudian Tunggul Ametung itu menarik nafas dalam-dalam. Sekali, dua kali, dan wajahnya yang merah itu pun berangsur tenang kembali.

Sedang Witantra pun terkejut mendengar jawaban Ken Arok itu. Ia tidak menyangka bahwa dihadapan Tunggul Ametung sendiri, Ken Arok akan berkata terus terang menurut kata hatinya. Tetapi kembali Witantra terkejut, ketika terdengar suara Akuwu gemetar,

“Kau jujur Ken Arok. Aku senang mendengar pertimbanganmu. Kau benar-benar telah mengatakan perasaanmu seperti Witantra mangatakan apa yang tersembunyi di dalam hatinya. Adalah mungkin sekali bahwa pertimbanganmu dan pertimbangan Witantra berbeda.”

Sekali Ken Arok mengangkat wajahnya. Iapun terkejut mendengar tanggapan Akuwu atas pendapatannya. Sehingga karena itu maka terasalah dadanya bergetar. Dalam pada itu terdengar Tunggul Ametung berkata,

“Aku telah mendengar pertimbangan kalian berdua. Dengan demikian maka hatiku kini telah menjadi lapang. Apapun yang kau katakan kepadaku, adalah pertimbangan-pertimbangan yang bernilai bagiku. Aku melihat bahwa kalian telah berkata sejujur-jujurnya. Aku lebih senang mendengar pertimbangan dan pendapat kalian. Aku sama sekali tidak ingin mendengar pendapat penasehat-penasehatku yang tua-tua. Mereka adalah orang yang hanya ingin menyenangkan hatiku tanpa mempertimbangkan akibat dari pertimbangannya. Mereka ingin mendapat kesempatan yang sebaik-baiknya di dalam lingkunganku. Karena itu maka mereka adalah penjilat-jilat yang memuakkan. Mereka bukanlah orang-orang yang jujur menghadapi setiap persoalan seperti kalian.

Bahkan Witantra dengan jujur, sesuai dengan panggilan kemanusiaannya telah berani menentang perintahku. Ken Arok pun dihadapan mataku telah berani membunuh seorang prajurit yang bertindak tidak adil. Dan kini kau berani memberi pertimbangan yang jujur pula. Terima kasih Kalian ternyata lebih bernilai bagiku daripada penjilat-jilat itu. Daripada orang yang ingin mendapat hadiah-hadiah dan kedudukan-kedudukan dengan memuji-muji dan menyanjung aku.”

Witantra menundukkan wajahnya semakin dalam, ternyata Tunggul Ametung adalah seorang yang jujur pula menilai dirinya. Meskipun seakan-akan orang itu adalah orang yang selalu dihanyutkan oleh perasaannya yang meledak-ledak, marah, berteriak-teriak dan memaki-maki, namun dalam pertimbangan yang penting ia adalah seorang yang jujur. Mungkin sikapnya itu disebabkan karena goncangan yang dahsyat setelah ia berbuat suatu kesalahan yang sangat besar, karena hasutan Kuda Sempana. Namun bagaimanapun juga, kesadaran akan dirinya, akan orang-orang yang berada di sekitarnya itu telah melibatkan Akuwu Tunggul Ametung pada tempat yang semakin kuat.

Di samping Witantra, Ken Arok duduk dengan dada yang bergelora. Betapa kekecewaannya atas Akuwu Tunggul Ametung itu kian memuncak, namun tumbuh pula di sisinya kekaguman yang semakin memuncak pula. Tunggul Ametung itu bagi Ken Arok benar-benar merupakan seorang yang aneh. Seorang yang dikagumi atas segala sifat kejantanan, kejujuran dan tanggapannya atasi sikapnya, sikap Witantra dan sikap para penasehatnya yang berusaha menyenangkan Akuwu itu untuk menerima hadiah dan kedudukan yang baik, namun Akuwu telah mengecewakannya pula karena sikapnya terhadap gadis Panawijen. Pamrihnya atas gadis itu setelah ia menyingkirkan Kuda Sempana. Apakah itu sikap yang jujur seperti penilaian terhadap sikap para penasehatnya? Ken Arok menjadi semakin pening. Akuwu itu hatinya seperti Dewa yang bersih dari noda duniawi, namun jaga seperti iblis yang mengotori dirinya dengan segala macam pamrih dan nafsu.

Ruangan itu sejenak dicengkam oleh kesunyian. Tunggul Ametung, Witantra dan Ken Arok, masing-masing telah terbenam di dalam angan-angan mereka sendiri. Berbagai persoalan yang berbeda-beda telah melanda hati masing-masing. Baru sejenak kemudian terdengar Akuwu Tunggul Ametung berkata,

“Ternyata ada suatu kesimpulan yang bersamaan. Kalian berdua menyerahkan keputusan terakhir pada gadis itu. Baiklah. Aku hanya akan menawarkan keinginanku. Terserah kepadanya, apakah ia akan menerima atau ia akan menolaknya.”

Witantra mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “Demikianlah tuanku.”

Ken Arok masih tetap berdiam diri. Baginya, kesediaan Ken Dedes atau seandainya gadis itu menolaknya sama sekali tidak penting. Tetapi hasrat yang sudah tumbuh di dalam hati Akuwu Tunggul Ametung itu benar-benar telah mengecewakannya. Apakah hasrat itu akan terpenuhi atau tidak.

Yang terdengar kembali adalah suara Akuwu Tunggul Ametung. “Kalau demikian, maka kehadiranmu kali ini sudah cukup. Besok aku akan mengadakan pertemuan dengan para pejabat pemerintahan dan para perwira, apabila aku sudah menemukan kepastian. Aku hanya ingin memberitahukan kepada mereka. Supaya mereka tidak terlalu banyak mencampuri urusan pribadiku. Hubungan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Adalah hakku untuk menentukan pilihan, dan adalah hak gadis itu untuk menerima atau menolak.”

Witantra tidak menjawab. Akuwu Tunggul Ametung ternyata telah memilih jalan yang terdekat yang dapat ditempuhnya. Ia tidak ingin terlalu banyak orang mempersoalkan kepentingan pribadinya. Namun Witantra masih juga menyampaikan kata-katanya kepada Akuwu,

“Tuanku, apakah hamba masih diperkenankan menyampaikan sesuatu kepada tuanku?”

Akuwu Tunggul Ametung mengerinyitkan alisnya. Kemudian ia bertanya, “Apakah itu?”

“Tuanku,“ sambung Witantra, “di rumah hamba kini telah menunggu seorang tua pemomong gadis Panawijen itu. Ia ingin menemui momongannya, Ken Dedes. Apakah tuanku mamperkenankannya?”

Akuwu Tunggul Ametung terdiam sejenak. Tampaklah ia berpikir. Di dalam hatinya timbullah beberapa pertimbangan mengenai kehadiran orang baru itu di dalam istananya. Berbagai masalah menjadikannya bimbang. Sehingga akhirnya ia berkata,

“Tentu Witantra. Aku pasti akan mengijinkannya. Tetapi tidak sekarang. Aku ingin mendengar pendapat gadis itu sendiri, sebelum ia mendapat pengaruh dan nasehat dari orang-orang lain. Aku ingin mendengar kata hatinya. Kalau ia menolak, sebenarnyalah ia menolak. Kalau ia menerima, sebenarnyalah ia menerima.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedang Ken Arok nampak mengerutkan keningnya. Pertimbangan itu dapat dimengertinya. Tetapi, apakah salahnya kalau emban tua itu menungguinya? Apakah emban itu mempunyai pengaruh yang kuat atas gadis Panawijen itu. Namun meskipun demikian, ia tidak mengemukakannya. Persoalan itu baginya bukanlah persoalan yang penting. Bahkan ia sependapat dengan Akuwu Tunggul Ametung, bahwa sebaiknya gadis itu menyatakan pendapatnya sendiri. Meskipun baginya pendapat itu hampir tidak berpengaruh atas rasa kecewanya terhadap Tunggul Ametung.

Witantra pun kemudian tidak lagi mempunyai persoalan apapun. Karena itu, maka sejenak kemudian mereka berdua, Witantra dan Ken Arok segera mohon diri meninggalkan ruangan itu.

Di halaman depan, setelah mereka mengambil kuda-kuda mereka dari tambatan, maka berkatalah Witantra, “Adi, apakah kau akan bermalam di rumahku lagi?”

Ken Arok menggeleng, jawabnya, “Tidak kakang. Aku akan kembali ke barak. Persoalanku dengan kakang Kuda Sempana sudah jelas. Sebenarnya aku sama sekali tidak bersangkut paut dengan usahanya yang gagal itu. Namun kalau ia akan membuat persoalan, maka kini aku tidak akan menghindar lagi.”

Witantra mengangguk, jawabnya, “Kau benar. Namun apabila mungkin jauhilah setiap hubungan yang tidak baik.”

“Mudah-mudahan kakang. Aku tidak akan membuat persoalan. Kecuali kalau aku tersudut pada sebuah persoalan.”

Witantra tersenyum, katanya, “Sikapmu terpuji.”

Ken Arok pun tersenyum, jawabnya “Jangan memuji kakang. Seperti Akuwu pun tidak senang mendapat pujian yang berlebih-lebihan.”

“Tetapi aku tidak memujimu karena pamrih apapun,“ sahut Witantra, “aku tidak ingin kau tingkatkan pangkatku atau aku tidak ingin mendapat hadiah apapun daripadamu.”

Ken Arok kini tertawa. Bukan saja karena kata-kata Witantra yang jenaka, namun ia tertawa untuk melepaskan berbagai perasaan yang menggelitik hatinya. Tetapi ia masih menjawab kata-kata Witantra untuk tidak menimbulkan kesan yang kurang baik,

“Seandainya aku Akuwu Tumapel kakang, maka hadiahku akan segera melimpah.”

Witantra pun tertawa pula. Tetapi sama sekali tidak disadarinya, bahwa di belakang dinding hati Ken Arok, telah tergores perasaan kecewa yang dalam atas Akuwunya.

“Adi,“ berkata Witantra pula, “kalau demikian kita berpisah disini. Aku akan pulang dan adi akan kembali ke barak. Mudah-mudahan kita tidak akan menemui persoalan-persoalan lagi.”

“Mudah-mudahan kakang,“ sahut Ken Arok.

Keduanya pun kemudian menuntun kuda-kuda mereka sampai diluar regol halaman, kemudian dengan satu loncatan mereka telah berada di punggung kuda masing-masing. Tetapi arah merekalah yang kemudian berbeda-beda.

Di sepanjang jalan kembali, Ken Arok masih saja dipengaruhi oleh perasaannya tentang Akuwu Tunggul Ametung itu. Tetapi akhirnya ia mencoba untuk menenangkan hatinya,

“Biarlah apa saja yang akan dilakukan oleh Akuwu Tunggul Ametung. Itu sama sekali tidak menyangkut persoalan pribadiku.”

Berbeda dengan Ken Arok, maka hati Witantra kini telah menjadi lapang. Ia seakan-akan telah terlepas dari sebuah himpitan dosa yang selalu mengganggunya. Ia merasa betapa rendah budinya pada saat ia membiarkan kelaliman berlaku dihadapan hidungnya hanya karena ia takut kehilangan kedudukan dan segala macam yang telah dimilikinya. Pangkat, berbagai macam kesenangan dan kekayaan. Tetapi kini seolah ia telah membetulkan kesalahan itu. Ia telah membebaskan Ken Dedes dari tangan Kuda Sempana, yang telah memperkosa masa depan gadis itu.

“Mudah-mudahan gadis itu dapat menyadari keadaannya. Mudah-mudahan ia dapat melihat, bahwa yang lampau itu tak akan datang kembali. Dengan demikian, maka aku akan terlepas sama sekali dari dosa itu,” gumamnya sepanjang jalan kembali.

Tetapi Witantra itu mengerutkan keningnya ketika dikenangnya kata-kata Akuwu Tunggul Ametung tentang perempuan tua yang berada di rumahnya. “Tetapi tidak sekarang. Aku ingin mendengar kata hatinya. Kalau ia menolak, sebenarnyalah ia menolak. Kalau ia menerima sebenarnyalah ia menerima.”

“Biarlah perempuan tua itu menunggu di rumahku,“ desisnya kepada diri sendiri.

Dan sesaat kemudian tanpa disadarinya, tangannya telah menggerakkan kekang kudanya, mempercepat perjalanannya.

Di istana, Akuwu Tunggul Ametung, sepeninggal Witantra dan Ken Arok tidak langsung pergi ke biliknya. Sekali lagi ia pergi ke Sentong tengen. Hatinya pun kini menjadi semakin mantap. Setelah ia mendengar pendapat Witantra, yang seolah-olah merupakan orang yang berhak ikut menentukan nasib Ken Dedes karena kemenangannya, maka hatinya menjadi semakin bulat. Ketika ia memasuki sentong tengen, maka yang berada di dalamnya hanyalah Ken Dedes dan seorang emban, Madri. Apabila mereka berdua melihat kedatangan Akuwu, maka segera mereka menundukkan wajah-wajah mereka sambil menyembah. Ken Dedes pun segera turun dari pembaringan dan duduk di sisi Madri.

“Tetaplah di tempatmu Ken Dedes,” berkata Tunggul Ametung.

Tetapi Ken Dedes segera menyahut, “Bukan sepantasnya hamba berbuat demikian Tuanku.”

Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Ken Dedes seakan-akan menjadi semakin cantik di bawah cahaya lampu yang terbuai oleh angin malam yang lembut. Setelah Tunggul Ametung itu sempat mengatur getar di dadanya, maka barulah ia dapat mengucapkan kata-kata. Namun kata-kata itu pun meloncat seperti berebut dahulu, sehingga maksudnya menjadi sukar dimengerti. Meskipun demikian, lambat laun, Ken Dedes dapat pula mendengar dan mengertinya dengan jelas. Seperti yang pernah didengarnya. Akuwu menyerahkan segala-galanya kepadanya.

Hati Madri pun melonjak-lonjak mendengar segala macam janji yang diucapkan oleh Akuwunya. Janji yang disangkanya tak mungkin akan pernah terucapkan. Tetapi janji itu kini benar-benar telah didengarnya.

“Alangkah bahagianya gadis ini,“ pikirnya.

Tetapi ia terkejut bukan buatan ketika ia mendengar gadis yang seakan-akan tertimpa bulan itu menjawab, “Tuanku. Perkenankanlah hamba berpikir dahulu. Supaya jawaban hamba tidak hanya sekedar ledakan perasaan hamba yang tidak berakar di hati hamba. Karena itu tuanku, berilah hamba waktu.”

Gelora hati Tunggul Ametung seakan-akan tidak dapat ditahannya lagi ketika ia melihat gadis itu berbicara dalam bahasa yang utuh sebagaimana ia harus berbicara kepada seorang Akuwu. Gadis itu tidak lagi memanggilnya tanpa sebutan karena luapan kemarahan dan tidak menuding-nuding wajahnya lagi dengan mata yang menyala.

Namun Tunggul Ametung tidak dapat memaksanya untuk menjawab seketika. Dengan hati yang berat, maka Akuwu itu berkata, “Baiklah Ken Dedes. Aku beri kau waktu, tetapi waktu itu jangan terlalu lama.”

Dengan takjimnya Ken Dedes menyembah, “Hamba tuanku. Hamba sama sekali tidak mempertimbangkan, apakah hamba berwenang untuk menentukan sikap, namun hamba sedang menimbang-nimbang apakah sudah sepantasnya hamba menerima kemuliaan itu.”

Tunggul Ametung menganggukkan kepalanya. Sekali lagi ia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku menunggu keputusanmu Ken Dedes.”

“Hamba tuanku,“ sahut gadis itu tenang. Dan ketenangan gadis itu telah merupakan persoalan tersendiri bagi Akuwu Tunggul Ametung.

Namun demikian Akuwu Tunggul Ametung meninggalkan bilik itu, maka meledaklah tangis Ken Dedes tanpa dapat ditahannya. Berbagai perasaan telah melanda dinding hatinya. Berbagai kenangan tentang dirinya, tentang kampung halaman dan tentang masa depannya seakan-akan bercampur-baur di dalam rongga matanya. Kacau dan membingungkannya.

Madri pun menjadi bingung pula. Ia tidak tahu, bagaimana ia akan menghibur hati Ken Dedes itu. Karena itu maka ia hanya dapat sekali-sekali menggamit lengan Ken Dedes, dan sekali-sekali berkata,

“Jangan menangis tuan. Jangan menangis.” Tetapi Madri sendiri bahkan kemudian ikut menangis. Katanya diantara isaknya, “Kalau demikian, akan aku panggil Nyai Puroni.”

“Jangan,” tiba-tiba Ken Dedes menyahut, “jangan kau panggil Nyai Puroni. Aku takut.”

“Tetapi tuan menangis,” berkata Madri pula, tetapi ia menjadi heran kenapa Ken Dedes menjadi takut.

“Tidak. Aku sudah tidak menangis lagi,“ potong Ken Dedes sambil berusaha untuk menahan air matanya yang mengalir dengan derasnya.

“Kalau tuan tidak menangis, aku tidak akan memanggil Nyai Puroni,” berkata Madri.

“Baik Madri. Aku tidak menangis lagi. Aku lebih senang tinggal bersamamu disini dari pada Nyai Puroni.”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar