MENU

Ads

Jumat, 20 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 057

Madri mengerutkan keningnya. Meskipun air matanya sendiri masih membasahi matanya, namun perkataan Ken Dedes itu benar-benar telah mempengaruhi perasaannya. Madri itu menjadi semakin heran. Kenapa Ken Dedes menjadi takut kepada Nyai Puroni? Menurut Nyai Puroni, seharusnya Ken Dedes menjadi takut dan mendendam kepada Akuwu Tunggul Ametung. Mungkin karena gadis itu telah dilarikan oleh Akuwu. Tetapi sama sekali tanda-tanda itu tak dilihatnya, bahkan kemudian ternyata bahwa Ken Dedes takut kepada Nyai Puroni.

Tetapi kini Ken Dedes itu benar-benar telah tidak menangis lagi. Ia telah dapat mencoba mempergunakan pikirannya kembali. Kini yang menyala di dalam hatinya adalah kemarahannya yang memuncak kepada Kuda Sempana, sumber dari segala malapetaka. Kekecewaan atas hinaan yang diterimanya dari nyai Puroni. Seakan-akan derajatnya sedemikian rendahnya sehingga orang tua itu selalu menyindir-nyindirnya, bahwa ia bukan permaisuri.

Namun persoalan itulah yang sebenarnya telah mendorong Ken Dedes ke dalam suatu pilihan yang tak pernah diimpikan sebelumnya. Ia ingin membuktikan, baik kepada Kuda Sempana maupun kepada Nyai Puroni, bahwa ia bukan seorang gadis yang dikodratkan menjadi seorang gadis yang hina dina. Apalagi setelah ia sempat mengurai maksud Nyai Puroni dengan ceritera-ceriteranya yang mengerikan tentang gadis-gadis yang pernah menjadi korban Akuwu Tunggul Ametung, maka prasangkanya tentang ketidak jujuran Nyai Puroni menjadi semakin dalam.

Karena itulah, maka dalam keheningan malam itu, perlahan-lahan Ken Dedes terdorong ke dalam satu pilihan yang sebenarnya hanya merupakan tindak keseimbangan dari kepedihan dan kepahitan yang menimpanya selama ini. Ia hanya ingin menyatakan kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain, bahwa Ken Dedes bukanlah gadis yang semalang-malangnya di dunia.

Ketika malam kemudian menjadi semakin malam, maka Ken Dedes itu pun kemudian terlena ke dalam alam mimpi. Mimpi yang menggelisahkan namun kadang-kadang mengasyikkan. Simpang siur dan kusut. Tetapi menjelang fajar, mimpi Ken Dedes menjadi sangat mengesankannya, seolah-olah gadis itu duduk di atas punggung seekor gajah yang besar. Di mukanya berjalan dengan gagahnya Akuwu Tunggul Ametung, sedang di belakangnya berjalan tertatih-tatih Kuda Sempana dan Nyai Puroni. Namun tiba-tiba jauh di belakang sebuah gerumbul yang lebat ia melihat seorang anak muda. Anak muda yang ada di dalam rombongan Akuwu Tunggul Ametung pada saat mengambilnya, mengintai dengan sepasang matanya yang menyala. Tetapi Ken Dedes sama sekali tidak takut melihat api yang menyala itu, bahkan wajahnya pun sama sekali tidak mengerikan.

Di hari-hari yang mendatang, maka Ken Dedes selalu dipengaruhi oleh mimpinya. Sehingga akan datang masanya, Tunggul Ametung datang kepadanya untuk menanyakan keputusannya.

Dalam pada itu di Panawijen, Mahisa Agni terbaring di dalam biliknya. Meskipun lukanya sudah berangsur-angsur sembuh, namun terasa bahwa hatinyalah kini yang seakan-akan menjadi bertambah pedih. Peristiwa-peristiwa yang datang beruntun, malapetaka dan bencana, seakan-akan benar-benar telah menghancurkan segenap kemungkinan di masa depan. Hilangnya Ken Dedes, terbunuhnya Wiraprana, benar-benar menusuk jantungnya. Ia tidak tahu perasaan apakah yang telah mencengkamnya kini. Tetapi setiap saat ia merasa dadanya berdesir tajam. Kadang-kadang ia menjadi bingung, seakan-akan ada sesuatu yang belum terselesaikan.

Panawijen kini terasa menjadi kian hari kian bertambah sepi. Ibunya pun telah pergi pula ke Tumapel. Dan gurunya masih juga belum datang kembali. Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. perlahan-lahan ia bangkit dan berjalan keluar. Di halaman dilihatnya beberapa orang cantrik membersihkan halaman.

Dengan langkah yang lemah, Mahisa Agni datang kepada mereka. Namun kembali ia menemukan wajah-wajah yang suram sesuram wajahnya sendiri. Agaknya para cantrik itu pun menjadi pedih seperti hatinya. Karena itu maka Mahisa Agni sama sekali tidak menegurnya. Perlahan-lahan ia berjalan terus menyusuri jalan-jalan sempit di halaman, diantara kebun-kebun bunga yang menjadi pudar. Di teritisan Mahisa Agni menemukan serulingnya. Seruling yang terselip pada dinding rumahnya.

“Hem,“ desahnya.

Sudah lama seruling itu tak disentuhnya. Sejak malam itu. Sejak malam hatinya terbanting hancur. Sejak malam ia mendengar pengakuan Ken Dedes bahwa hatinya terikat pada seorang anak muda yang bernama Wiraprana. Tetapi semuanya itu benar-benar seperti mimpi. Mimpi yang mengerikan. Dan tiba-tiba Mahisa Agni itu benar-benar teringat pula pada mimpinya. Tentang biduk yang ditumpangi oleh Ken Dedes. Biduk yang kemudian hancur dilanda oleh ombak yang dahsyat.

“Hem,“ sekali lagi Mahisa Agni berdesah. perlahan-lahan dihentakkannya dirinya pada sebuah amben bambu di teritisan itu.

Dilayangkannya pandangan matanya yang redup ke halaman, kebun dan dinding halaman rumah gurunya. Sepi. Sepi dan diam. Ia melihat juga seorang cantrik yang berjalan membawa air dengan sepotong bumbung. Tetapi cantrik itu pun berdiam diri.

“Kalau demikian,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “mimpiku itu bukan sekedar mimpi karena aku terlampau banyak tidur.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Padepokan ini seakan-akan sama sekali tidak dapat mengikatnya lagi. Ken Dedes, Ibunya, gurunya tak ada di padepokan ini. Seandainya pada saat itu Empu Purwa telah kembali, maka ia tidak perlu menunggunya dalam kesepian.

“Apakah aku harus mencari guru,“ gumamnya tiba-tiba.

Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Angannya itu seakan-akan telah mendorong untuk melakukan sesuatu. Tetapi kemudian wajahnya tertunduk kembali. “Kemana, dan jangan-jangan nanti kita berselisih jalan. Aku pergi dan guru kembali. Apa katanya kalau ditemuinya padukuhan ini kosong. Kosong bagi hati guru yang tua itu?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat meninggalkan padepokan itu. Ia harus menunggu gurunya kembali. Memberitahukan apa yang telah terjadi, dan mengharap gurunya mempunyai jalan untuk mengambil anak satu-satunya itu. Mahisa Agni itu pun kemudian melangkahkan kakinya kembali. Ia tidak tahu kemana ia akan pergi. Tetapi dibiarkannya kakinya melangkah. Dan Mahisa Agni itu menuju ke regol depan halaman rumahnya.

Di regol halaman Mahisa Agni berhenti. Ia melihat beberapa orang berjalan membawa cangkul dan seorang gadis lewat menjinjing bakul cucian. Agaknya gadis itu datang dari bendungan. Ketika gadis itu tersenyum kepadanya, Mahisa Agni sama sekali tidak mempunyai gairah untuk menegurnya. Karena itu iapun tersenyum hambar sambil mengangguk. Ketika gadis itu kemudian timbullah keinginan Mahisa Agni untuk berjalan-jalan ke bendungan. Ia tidak tahu, apa yang telah menariknya ke sana, namun perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya, berjalan menyusuri tepi jalan padukuhan Panawijen.

Seorang laki-laki tua yang berpapasan dengan Agni, memandangnya dengan iba. Sambil membungkukkan badannya dalam-dalam ia menegurnya. “Kemana Ngger?”



Dengan segan Mahisa Agni menjawab, “Ke sungai kaki.”

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia tanya, “Agaknya air telah mulai naik Ngger. Mungkin telah jatuh hujan di udik, sehingga air sungai itu menjadi semakin deras.”

Mahisa Agni tertarik akan ceritera itu, sehingga ia bertanya, “Tetapi bukankah bendungan itu tidak apa-apa?”

“Oh, tentu tidak Ngger. Bendungan itu adalah bendungan yang sangat kuat. Anyaman brujung dan batu-batu sebesar perut kerbau. Ah. Bendungan itu telah lebih tua dari umurmu Ngger. Setiap tahun sungai itu melimpah. Namun bendungan itu tetap di tempatnya. Hanya kerusakan-kerusakan kecil yang setiap kali harus kita perbaiki.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang sejak ia datang ke padukuhan ini ia telah melihat bendungan itu.

“Bendungan itu adalah sumber hidup kami Ngger. Karena bendungan itulah maka sawah-sawah kami dapat kita airi.” Mahisa Agni masih mengangguk-angguk. Orang tua itu pun kemudian melangkah kembali sambil berkata, “Silahkan ngger. Silahkan pergi ke bendungan.”

“Baik kaki,” sahut Mahisa Agni.

Dan Mahisa Agni pun kemudian berjalan pula perlahan-lahan. Diamatinya setiap pohon yang tumbuh di tepi-tepi jalan, seolah-olah baru kali ini dilihatnya atau seolah-olah diamatinya untuk yang terakhir kalinya. Mahisa Agni itu pun kemudian berhenti sejenak ketika dari kejauhan dilihatnya sebuah tanggul yang membujur, menyusuri jelujur sungai. Hatinya tiba-tiba menjadi berdebar-debar. Tanggul itu adalah tempatnya bermain dengan kawan-kawannya, tempatnya bergurau dan kadang-kadang beristirahat setelah mengairi sawah semalam suntuk di tanggul bendungan itu. Dan ternyata bendungan itu telah mengingatkannya kepada Wiraprana dan Ken Dedes.

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Hampir ia tidak mampu meneruskan langkahnya. Namun tanpa dikehendakinya sendiri, ia telah memaksa dirinya untuk berjalan terus ke bendungan. Bendungan itu tampaknya demikian sepinya. Tak seorang pun yang dilihatnya di sana. Tak ada anak-anak muda yang membersihkan alat-alat pertaniannya dan tak ada gadis-gadis yang sedang mencuci pakaiannya. Namun Mahisa Agni itu berjalan terus. Ketika ia telah berdiri dekat samping bendungan, maka dijatuhkannya dirinya di atas pasir yang kering.

Angin yang lembut mengalir membelai wajahnya yang muram. Ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya daun turi yang rimbun telah melindunginya dari sinar matahari. betapa daun-daun yang kecil itu terayun disentuh angin. Sehelai-sehelai daun yang kuning terlempar dari tangkainya dan terbang hinggap di atas pasir yang putih. Ada diantaranya yang terlempar jatuh ke dalam air yang memang sudah menjadi semakin tinggi.

“Benar juga kata orang tua itu,“ gumam Mahisa Agni, “air sudah semakin tinggi.”

Ketika terasa angin yang silir menyapu tubuhnya, maka terasa alangkah sejuknya. Tiba-tiba Mahisa Agni merebahkan dirinya di atas pasir yang lembut. Ditatapnya mega putih yang berarak-arak di langit dari sela-sela rimbunnya daun turi. Sehelai-sehelai hanyut ke utara, seperti iringan armada di laut biru, menyerbu ke pantai lawan.

Mahisa Agni mengangkat alisnya ketika lamat-lamat didengarnya suara seruling. Alangkah halus suaranya terselip diantara suara gemericik air gerojogan di bawah bendungan. Seolah-olah sengaja disusun dalam perpaduan yang serasi. Suara seruling yang menanjak tinggi seperti burung elang yang terbang di angkasa dalam hembusan angin yang semakin kencang. Tetapi suara gerojogan itu seperti hilang-hilang datang. Justru pada saat-saat suara seruling dari kejauhan itu melengking tinggi menggapai mega-mega di langit.

“Seruling anak-anak yang sedang menggembala kambing,“ desah Mahisa Agni.

Mahisa Agni sendiri senang meniup seruling, bahkan ia termasuk salah seorang yang pandai. Bahkan mungkin lebih pandai dari anak gembala yang kini sedang meniup serulingnya di kejauhan itu. Tetapi perpaduan antara lagu, angin dan gemericik air, telah menyebabkan Mahisa Agni itu mengantuk. Hatinya yang lelah seakan-akan mendapat kesempatan untuk beristirahat. Sehingga tanpa dikehendakinya sendiri, anak muda itu pun jatuh tertidur di bendungan, di atas pasir yang lembut, di bawah rimbunnya daun turi yang hijau.

Mahisa Agni itu kemudian sama sekali tidak menyadari, bahwa di kejauhan berjalan seorang tua dengan sebuah tongkat di tangannya menuju ke bendungan itu. Orang tua berjubah putih itu mengusap keningnya. Keringatnya mengalir membasahi hampir seluruh tubuhnya. Sebuah bungkusan kecil di ujung tongkatnya, seakan-akan merupakan pertanda bahwa orang tua itu adalah seorang perantau. Tetapi betapa wajah orang tua itu terbakar oleh terik matahari, namun ketika di kejauhan dilihatnya jelujur tanggul sungai, maka ia tersenyum. Desisnya,

“Hem, aku telah cukup lama meninggalkan kampung halaman. Mudah-mudahan aku menjumpai keadaan yang jauh lebih baik dari pada saat aku tinggalkan.”

Orang tua itu berjalan terus dengan langkah yang tetap. Semakin dekat ia dengan bendungan, hatinya menjadi semakin rindu kepada padepokannya dan kepada para penghuninya. Meskipun sejak mudanya, orang tua itu adalah seorang pejalan dari satu tempat ke tempat yang lain, namun setelah ia menetap di Panawijen dan ditinggalkan di padepokan itu seorang puteri dewasa, maka perjalanannya kali ini seakan-akan telah ditempuhnya bertahun-tahun. Ia selain tergesa-gesa meninggalkan tempat-tempat yang harus dikunjunginya menurut rencana perjalanannya. Saudaranya, kawan-kawannya yang telah lama tak dijumpainya.

Orang tua itu, Empu Purwa, menarik nafas dalam-dalam ketika kakinya menginjak tanggul Sungai. Dilayangkannya pandangan matanya menyusuri getaran-getaran air, hinggap di tepian yang lain. Empu Purwa mengerutkan keningnya ketika ia melihat di bawah sebatang pohon turi di seberang, sesosok tubuh terbaring diam. Alangkah nyamannya tidur di bawah daun yang hijau rimbun.

“Mahisa Agni,“ desisnya. “hem, agaknya ia terlalu lelah.”

Ketika dilihatnya Agni tidur di tepian itu, maka hati Empu Purwa menjadi lapang. Seakan-akan Mahisa Agni itu sama sekali tidak sedang diganggu oleh kerisauan apapun juga. Namun sebagai seorang pendeta tua yang telah kenyang mengalami berbagai soal kehidupan, maka tiba-tiba hatinya berdesir. Tanpa setahunya, maka firasatnya mengatakan kepadanya, bahwa sesuatu telah terjadi di Panawijen. Empu Purwa itu melayangkan pandangan matanya ke sekeliling bendungan. Sepi. Mahisa Agni itu beristirahat sendiri. Tidak dengan Wiraprana.

“Bukankah itu mungkin sekali terjadi,“ desis orang tua itu kepada dirinya sendiri, “apakah Mahisa Agni dan Wiraprana sama sekali tidak boleh terpisah.” Empu Purwa tersenyum sendiri.

Perlahan-lahan orang tua itu melangkah maju. Mencelupkan kakinya ke dalam air yang tergenang semakin tinggi.

“Oh, alangkah segarnya. Setelah beberapa lama aku tidak menyentuh air di padepokanku sendiri.” Orang tua itu pun kemudian berjalan melingkar, lewat di atas bendungan menyeberangi sungai. “Air telah mulai naik,“ gumamnya.

Ketika Empu Purwa telah sampai di seberang, maka perlahan-lahan orang tua itu mendekati Mahisa Agni. Selangkah-selangkah ia maju. Ia tidak mau mengejutkan anak muda yang sedang tidur dengan nyenyaknya itu. Ketika Empu Purwa telah berdiri di sampingnya, maka orang tua itu tersenyum.

“Nyenyak sekali,“ desisnya. Dan karena itulah maka Empu Purwa berkata di dalam hatinya, “Ah, biarlah ia tidur sepuas-puasnya. Biarlah aku pulang dahulu. Kalau Mahisa Agni nanti kembali, maka ia pasti akan terkejut melihat aku sudah berada di padepokan.”

Tiba-tiba orang tua itu ingin mengganggu Mahisa Agni. Perlahan-lahan ia membungkukkan badannya sambil berkata pula di dalam hatinya, “Biarlah aku letakkan tongkatku ini pada tubuhnya. Kalau ia bangun ia pasti akan terkejut. Bukankah Agni merasa tidak membawa tongkat ini?”

Tetapi ketika Empu Purwa membungkuk semakin dalam, tiba-tiba dahinya yang sudah berkeriput itu semakin berkeriput. Dilihatnya pada tubuh anak muda itu lumuran obat luka, meskipun telah tidak demikian jelas.

“Luka,” desisnya, “Mahisa Agni terluka. Apakah yang terjadi atasnya?”

Sejenak Empu Purwa menjadi ragu-ragu. Tongkatnya tidak jadi diletakkannya. Bahkan kemudian ia tegak kembali sambil mengangguk-anggukkan kepalanya pasti ada sesuatu yang terjadi. Tetapi Empu Purwa tidak segera dapat melihat luka Mahisa Agni. Karena itu maka orang tua itu kembali bergumam,

“Luka itu mungkin berada di punggungnya. Kenapa?”

Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Ingin ia segera memiringkan tubuh Mahisa Agni untuk melihat luka yang sebenarnya di punggungnya. Apakah luka itu disebabkan karena kecelakaan atau karena apa? Tetapi Empu Purwa hampir pasti, bahwa Mahisa Agni benar-benar telah terluka. Ia dapat mengenal dengan pasti, bekas-bekas obat yang masih tampak bekas-bekasnya di sisi lambungnya.

Dalam kebimbangan itu, Empu Purwa melihat Mahisa Agni bergerak-gerak perlahan-lahan. Bahkan kemudian anak muda itu menggeliat, namun kembali Mahisa Agni itu tertidur. Tetapi kali itu Mahisa Agni telah memiringkan tubuhnya sambil meletakkan kepalanya di atas tangannya.

Dengan hati-hati Empu Purwa berjongkok. Kini ia dapat melihat punggung Mahisa Agni. Sekali lagi dahi Empu Purwa berkerut. Ia melihat jelas, punggung anak muda itu masih bertapal obat lukanya. Meskipun punggung itu dikotori oleh pasir, namun Empu Purwa dapat melihatnya. Luka, ya punggung Mahisa Agni telah terluka, perlahan-lahan Empu Purwa membersihkan butiran-butiran pasir yang melekat di punggung itu. Perlahan-lahan pula Empu Purwa meraba-raba punggung Mahisa Agni. Namun ternyata, bahwa rabaan tangan Empu Purwa itu telah mengejutkan Mahisa Agni. Sekali anak muda itu berguling menjauh, dan dengan tangkasnya Mahisa Agni bangkit. Dengan segera ia mencoba menguasai kesadarannya untuk melihat siapakah orang yang telah mengganggunya itu.

Mahisa Agni adalah seorang anak muda yang terlatih baik. Itulah sebabnya maka segera ia berhasil menguasai dirinya, menguasai kesadarannya. Segera ia mengenalnya, siapakah orang tua yang berjongkok di hadapannya. Dada Mahisa Agni berdesir cepat sekali. Sesaat ia terpaku di tempatnya, seperti seonggok batu yang mati. Namun tiba-tiba ia meloncat maju, bersujud dihadapan gurunya sambil berdesis,

“Guru.”

Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Dibelainya kepala muridnya seperti membelai anak sendiri. Memang Mahisa Agni bagi Empu Purwa bukanlah sekedar seorang murid yang akan meneruskan ciri-ciri dan cita-cita perguruannya, namun Mahisa Agni baginya adalah seorang anak laki-laki yang baik. Anak laki-laki yang dapat menjadi penggantinya di rumah apabila ia sedang pergi. Dan bahkan kelak seandainya ia harus menghadap kembali kepada Yang Maha Agung.

Dada Mahisa Agni yang bergelora itu penuh dengan ceritera yang seakan-akan saling berdesakan dahulu mendahului untuk meloncat keluar. Namun justru karena itu, tak sepatah katapun yang dapat diucapkan. Yang terdengar kemudian adalah suara gurunya lirih,

“Agni. Apakah kalian selamat di padepokan?” Pertanyaan itu benar-benar menghantam dada Mahisa Agni sehingga ia menjadi semakin terbungkam. “Agni,” berkata Empu Purwa pula, “apakah tidak ada sesuatu yang terjadi? Aku harap demikian, dan bahkan aku harap semuanya menjadi semakin baik.”

Gelora di dada Mahisa Agni menjadi semakin dahsyat. Perlahan ia mengangkat wajahnya, dan sekilas dilihatnya wajah gurunya. Mahisa Agni terkejut melihat wajah itu. Terbayang pada sinar mata gurunya, bayangan kecemasan hati orang tua itu.

“Apakah guru telah mendengar apa yang terjadi di padepokan ini?“ keluh Mahisa Agni di dalam hatinya.

Empu Purwa menarik nafas dalam-dalam. Hatinya menjadi semakin cemas. Sekali lagi terasa ada firasat yang kurang baik berbisik di dalam dadanya. Apalagi setelah orang tua itu melihat wajah Mahisa Agni. Muram, dan di punggungnya terdapat sebuah luka. Karena itu, maka orang tua itu berkata,

“Agni, bagaimana dengan dirimu sendiri?”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Kemudian ia mencoba menjawab pertanyaan gurunya. Perlahan-lahan hampir tak terdengar, “Aku selamat guru.”

Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun terasa hatinya semakin berdebar-debar.

“Bagaimana dengan yang lain?”

“Baik guru,” sahut Mahisa Agni. Tetapi suaranya sama sekali tidak meyakinkan.

Empu Purwa adalah orang tua yang memiliki banyak sekali pengalaman dan pengetahuan. Karena itu, kini terasa benar, bahwa sesuatu telah terjadi di padepokannya. Meskipun demikian ia tidak tergesa-gesa menanyakannya kepada Mahisa Agni. Ia tidak ingin hatinya sendiri terbentur kepada kenyataan akan adanya peristiwa yang mungkin dapat mengecewakannya. Orang tua itu ingin mengetahui dengan perlahan-lahan, sehingga ia sempat mengatur perasaannya sendiri. Karena itu maka yang mula-mula ditanyakannya adalah keadaan Mahisa Agni sendiri, katanya,

“Agni, kenapa kau tertidur di bendungan.”

“Aku lelah sekali guru,” jawab Mahisa Agni.

Empu Purwa mengangguk-angguk. Ia ingin segera mengetahui, apakah sebabnya punggung Mahisa Agni terluka, namun yang terloncat dari mulutnya adalah, “Kenapa kau seorang diri? Apakah tidak ada kawan-kawanmu bersamamu disini?”

Dada Mahisa Agni berdesir. Pertanyaan itu mendekati persoalan yang selama ini menggetarkan dadanya. Namun jawabnya, “Ya guru. Aku sendiri.”

Empu Purwa mengangguk-angguk pula. Kemudian kembali ia mengajukan pertanyaan yang disangkanya tidak langsung menusuk ke persoalannya. Katanya,

“Tidak dengan Wiraprana?”

Namun ternyata Empu Purwa salah sangka. Pertanyaan itu telah benar-benar menyebabkan Mahisa Agni tergetar. Hatinya yang terpecah seakan-akan menjadi semakin berkeping. Sesaat ia terbungkam. Dari keningnya mengalir keringat dingin membasahi sisi wajahnya.

Empu Purwa melihat ketegangan wajah Mahisa Agni itu. Hatinya menjadi semakin berdebar pula. “Apakah yang sebenarnya telah terjadi?”

Tiba-tiba kecemasan di hati Empu Purwa itu memuncak. Mahisa Agni dan Wiraprana pada saat ditinggalkannya memiliki persoalan yang tajam. Meskipun pada saat itu tampaknya Mahisa Agni mampu mengendalikan dirinya, bahkan menguasai perasaan sepenuhnya, namun ia adalah seorang anak muda yang sedang tumbuh. Seorang anak muda yang sedang mengalami masa hiruk pikuk di dalam dirinya. Suatu waktu mungkin Mahisa Agni benar-benar dapat mengendalikan perasaannya seperti yang pernah dilihatnya, bahkan Wiraprana pernah pula mendapat perlindungannya. Namun apabila hatinya sedang dibakar oleh masa remajanya, maka bahaya akan dapat meledak setiap saat. Apalagi kini Empu Purwa melihat luka di punggung Mahisa Agni. Apakah telah terjadi pula perselisihan antara mereka? Tetapi kenapa luka itu berada di punggung? Apakah seseorang telah menyerang Mahisa Agni dari belakang?.

“Tidak mungkin Wiraprana,“ desis Empu Purwa di dalam hatinya, “betapapun juga, mereka bukan merupakan tanding yang seimbang. Meskipun seandainya Wiraprana menyerang dari belakangpun, Agni tidak akan dapat dilukainya. Karena itu, penyerangnya pasti orang yang memiliki kemampuan yang cukup, sehingga Mahisa Agni terlambat menghindarinya.”

Justru karena itulah maka keinginan Empu Purwa untuk mengetahui keadaan padepokannya menjadi semakin mendesak. Ia kini tidak dapat lagi menahan pertanyaan yang telah berdesakan di dalam hatinya. Karena itu maka wajah orang tua itu pun menjadi semakin berkerut-kerut. Ditatapnya Mahisa Agni semakin tajam dan tiba-tiba dari sela-sela bibirnya Empu Purwa bertanya,

“Mahisa Agni. Apakah punggungmu terluka?”

Keringat Mahisa Agni semakin banyak mengalir. Sekali-sekali dilayangkan pandangan matanya berkeliling. Kalau-kalau dilihatnya seseorang yang akan dapat membantunya mengatakan apa yang telah terjadi di padepokan orang tua itu. Tetapi bendungan itu terlalu sepi. Tak seorang pun yang tampak di sekitarnya. Bahkan suara seruling di kejauhan yang didengarnya sebelum Mahisa Agni tertidur, kini sudah tidak lagi menggetarkan udara. Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia ingin mendapatkan seorang teman untuk mengatakan kepada Empu Purwa apakah yang telah terjadi. Karena itu maka katanya,

“Guru, marilah kita kembali ke Padepokan. Di sana akan banyak peristiwa-peristiwa yang dapat aku ceriterakan.”

Orang tua itu mengangkat alisnya. Keinginannya untuk mengetahui sebab luka di punggung Mahisa Agni itu semakin mendesak, sehingga jawabnya sambil tersenyum, meskipun senyumnya itu terasa hambar,

“Bagiku sama saja Agni. Di padepokan atau disini. Aku hanya ingin tahu, apakah sebabnya punggungmu terluka.”

Kembali Mahisa Agni tergagap. Kembali ia menebarkan pandangan matanya berkeliling. Namun kembali ia kecewa karena tak seorang pun yang dilihatnya. Tetapi ia tidak dapat berdiam diri atas pertanyaan gurunya itu. Meskipun hatinya menjadi berdebar-debar namun ia terpaksa menjawab juga, katanya,

“Guru, lukaku ini hampir tak berarti bagiku. Apalagi kini sudah hampir sembuh.”

Empu Purwa tersenyum kembali. Juga senyumnya kali ini terasa hambar, diulanginya pertanyaannya, “Agni. Aku ingin tahu kenapa punggungmu terluka? Apakah kau terjatuh dari bendungan, dan punggungmu tepat menimpa sebuah patok? Atau kebetulan kau tertidur di bawah bendungan dan sepotong batu karang menimpa punggungmu? Tetapi luka itu bukanlah sebuah luka karena sebab-sebab yang aku katakan. Luka itu terlalu kecil namun menilik bekasnya kau pernah menderita karena luka itu.”

Dada Mahisa Agni bergetar semakin cepat. Disadarinya, bahwa gurunya adalah seorang yang memiliki pengamatan yang baik atas segala jenis luka. Karena itu, apakah ia dapat berbohong? Akhirnya Mahisa Agni tidak dapat berbuat lain. Meskipun hatinya terguncang-guncang, namun ia menjawab,

“Ya. Guru. Luka di punggungku adalah luka karena senjata.”

Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku sudah menduga,“ katanya, “tetapi aku sedang berpikir, senjata apakah yang meninggalkan bekas luka seperti luka di punggungmu. Cis atau apa? Kalau kau bertempur dalam lingkaran pertempuran, maka mungkin sebuah anak panah mengenaimu. Tetapi aku meragukannya.”

Dada Mahisa Agni menjadi semakin riuh, Gurunya dapat meraba dengan tepat. Namun kemungkinan itu sebenarnya memang sangat kecil sehingga gurunya meragukan. Tetapi ternyata bahwa sebenarnya memang telah terjadi. Punggungnya terluka karena anak panah. Sehingga Mahisa Agni untuk seterusnya tidak berani lagi berkata lain dari pada yang sebenarnya.

“Sebenarnyalah Guru, punggung terluka karena anak panah.”

Empu Purwa mengerutkan keningnya. Ia memang sudah menyangka bahwa luka itu adalah luka karena anak panah. Tetapi bagaimana mungkin Mahisa Agni terkena anak panah? Apakah anak itu sama sekali tidak dapat mengelakkan dirinya? Penyerangnya pasti seorang yang mampu menyembunyikan diri dengan baiknya, sehingga geraknya sama sekali tak didengar oleh Mahisa Agni. Atau barangkali Mahisa Agni sedang tidur?. Tetapi Empu Purwa tidak mau berteka-teki lebih jauh. Segera ia bertanya,

“Anak panah siapa Agni?”

Sambil menundukkan kepalanya Mahisa Agni menjawab, “Seorang prajurit Tumapel, guru.”

Jawaban ini benar-benar mengejutkan. Segera Empu Purwa menghubungkan peristiwa ini dengan Kuda Sempana, sehingga terloncat dari mulutnya, “Kuda Sempana?”

“Bukan Kuda Sempana sendiri.“ sahut Mahisa Agni.

“Tentu. Tentu bukan Kuda Sempana sendiri. Tetapi bagaimana peristiwa itu terjadi?”

Kembali dada Mahisa Agni bergetaran. Ia masih tetap dalam keinginannya mendapat seorang kawan untuk menceriterakan peristiwa yang telah terjadi. Karena itu sekali lagi ia mencoba berkata,

“Marilah kita kembali ke padepokan guru.”

“Tidak,” jawab Empu Purwa tegas-tegas. “Aku ingin segera mendengarnya.”

Kini Mahisa Agni tidak dapat mengelak lagi. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam, dan kemudian terbata-bata ia berkata, “Ceritera itu panjang guru.”

“Sampai seminggu aku akan mendengarkannya.”

Mahisa Agni terkejut mendengar jawaban itu. Dicobanya untuk menatap wajah gurunya. Dan wajah itu pun tampaknya tegang sekali. “Seseorang telah melukai muridku di punggungnya. Itu bukan perbuatan jantan,“ desis Empu Purwa.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar