“Oh,“ keluh Agni di dalam hatinya, “bukan saja muridnya terluka. Tetapi gadis satu-satunya telah hilang dari Panawijen. Hem. Bagaimana aku akan mengatakan.
Tetapi Agni itu terkejut ketika Empu Purwa berkata, “Ceriterakanlah Agni. Seandainya kau terbunuh sekalipun, namun secara jantan aku akan menangisimu. Tetapi aku tidak mendendam. Mungkin aku akan menuntut balas hanya dalam batas-batas kebenaranmu. Tetapi luka di punggung adalah hasil perbuatan yang licik, kecuali kalau kau sengaja bertempur sambil membelakangi musuhmu.”
Mahisa Agni kini tidak melihat jalan lain untuk menghindarkan dirinya. Karena itu, maka dengan suara tertahan-tahan dan nafas yang terengah-engah, diceriterakannya apa yang telah terjadi di padepokan Panawijen. Hati-hati, namun berurutan, lengkap semuanya yang diketahuinya dan dialaminya.
Gurunya, Empu Purwa mendengarkan setiap kata Mahisa Agni dengan seksama. Sekali-sekali ia mengerutkan keningnya, namun kemudian wajah itu menjadi tegang.
“Kau berhasil mengusir Kuda Sempana?“ bertanya gurunya.
“Ya guru, di hari pertama.”
“Kenapa di hari pertama?”
“Aku mencoba mengejarnya ke Tumapel. Mungkin aku akan mendapat penyelesaian yang baik. Mungkin akan dapat minta pertolongan Witantra.”
“Witantra kakak seperguruan Mahendra?”
“Ya guru.”
Orang tua itu menganggukkan kepalanya. Gumamnya, “Aku sangka orang-orang itu menyadari keadaannya. Mahendra masih mengganggumu di Tumapel dan Kuda Sempana masih juga berusaha mengambil gadisku.”
Dada Mahisa Agni menjadi semakin bergelora, ia ingin berhenti sampai sekian dan melanjutkan di padepokan. Namun gurunya tiba-tiba bertanya, “Tapi kau belum mengatakan apakah sebabnya punggungmu terluka?”
Mahisa Agni ragu-ragu sejenak. Jawabnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertanyaan gurunya. “Tetapi Mahendra telah menyadari keadaannya. Ia banyak memberi aku pertolongan bersama kakak seperguruannya Witantra.”
Empu Purwa mengangguk-angguk pula. Tetapi ia mendesak, “Syukurlah. Tetapi siapakah yang melukai punggungmu?”
Mahisa Agni menjadi semakin terdesak ke sudut. Sehingga dengan penuh keragu-raguan ia menjawab, “Luka ini terjadi di hari berikutnya guru.”
“Hari berikutnya? Apa yang terjadi di hari itu?”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Tetapi ia terpaksa berkata, “Kuda Sempana mengulangi niatnya.”
“Oh. Kasihan anak itu.“ keluh Empu Purwa, “apakah anak muda itu membawa kawan-kawannya?”
“Ya guru.”
“Hem, lalu bagaimana?”
Kembali Mahisa Agni terpaksa menceriterakan kelanjutan peristiwa yang menyakitkan hati itu. Meskipun ia tidak melihat sendiri apa yang terjadi di Panawijen, saat Kuda Sempana mengambil Ken Dedes, namun ia telah mendengarnya dari para cantrik, sehingga karena itu, maka Mahisa Agni pun dapat mengulangnya dengan baik. Meskipun ia mencoba mengatakannya sangat berhati-hati. Namun betapapun juga ia merasa bahwa tampak perubahan yang nyata pada wajah gurunya.
“Akuwu Tunggul Ametung sendiri datang?”
“Ya guru.”
“Dan mereka memasuki padepokan kita?”
“Ya Guru.”
“Apa yang mereka lakukan?”
Mulut Mahisa Agni benar-benar seakan-akan tersumbat. Dengan dada yang gemetar ia menatap wajah gurunya yang tegang.
“Apa yang mereka lakukan Agni?”
“Ampun guru,“ desah Mahisa Agni. Namun ia terdiam, kembali.
Empu Purwa segera dapat menangkap peristiwa itu. Ia dapat membayangkan bahwa sesuatu yang pahit telah terjadi. Karena itu maka katanya, “Mereka mengambil anakku itu?”
“Ampun guru. Peristiwa itu terjadi diluar pengamatanku. Aku pada saat itu masih berada di Tumapel.”
“Benarkah seperti apa yang aku katakan? Mereka membawa anakku?”
“Ya guru,“ suara Mahisa Agni hampir tidak terdengar. Namun meskipun demikian, suara yang lirih itu cukup menggemparkan dada Empu Purwa. Dada itu serasa meledak. Anak itu adalah anak satu-satunya. Anak yang dikasihinya melampaui seluruh isi dunia ini. Dan anak itu ternyata telah hilang.
Empu Purwa yang tua itu, tiba-tiba menegangkan tubuhnya. Hampir ia kehilangan penguasaan diri. Meskipun ia seorang pendeta yang tekun. Namun ia adalah seorang manusia pula. Manusia yang terdiri dari kulit daging. Manusia yang wadagnya masih memerlukan air untuk minum dan nasi untuk makan. Manusia yang berjiwa kerdil betapapun ia melampaui yang lain. Manusia yang lemah dan berakal sempit, betapapun ia menguasai segala macam ilmu. Dengan suara yang gemetar Empu Purwa bertanya pula kepada Mahisa Agni,
“Agni. Apakah di padepokan itu tidak ada seorang manusia pun pada saat itu?”
“Ada guru.”
Empu Purwa menggeram. Dari sepasang matanya memencar api kemarahan tiada terhingga. Belum pernah Mahisa Agni melihat mata gurunya menyala sedemikian dahsyatnya, seakan-akan seluruh bumi ini akan dibakarnya. Mahisa Agni kemudian menundukkan wajahnya. Ia tidak berani lagi menatap gurunya itu. Tiba-tiba Mahisa Agni terkejut ketika gurunya bertanya kepadanya.
“Agni kau tahu, kapan bendungan itu dibuat.”
Agni tidak tahu maksud pertanyaan gurunya. Sekali lagi ia mengangkat wajahnya, namun kembali wajahnya tertunduk. Meskipun demikian ia merasa aneh akan gurunya itu. Wajahnya merah menyala, tetapi pertanyaannya itu diucapkannya perlahan-lahan. Namun di balik ucapannya yang tampaknya tenang itu, terasa bahwa dibawahnya tergenang air yang berputar sedahsyat pusaran.
“Agni,“ terasa suaranya menjadi semakin keras. Dan Agni terkejut pula karenanya.
“Ya guru,” jawabnya.
“Kau tahu, kapan bendungan itu dibuat?”
“Tidak guru,“ jawab Agni tergagap,
“Bendungan itu umurnya lebih dari umurmu. Akulah yang membuat bendungan itu pada masa aku masih berguru. Sekali aku dibawa oleh guruku merantau, dan sampailah aku ke daerah ini. O, alangkah keringnya daerah ini dahulu,“ desis orang tua itu.
Mahisa Agni menjadi semakin tidak tahu kemana arah pembicaraan gurunya. Tetapi kembali dadanya berdesir ketika ia mendengar gigi gurunya itu gemeretak.
“Alangkah marahnya Empu Purwa,“ desah Mahisa Agni di dalam hatinya. Tetapi ia tidak berani memandang wajah gurunya itu.
Kembali Mahisa Agni terkejut ketika terasa gurunya menarik lengannya. O, alangkah dahsyat tenaga itu. Hampir ia jatuh terjerembab. Dan dirasanya tangan gurunya gemetar.
“Agni,“ berkata gurunya. Suaranya bergetar. Kini Mahisa Agni tahu, bahwa gurunya mencoba menahan perasaannya.
“Ketika kami, aku dan guruku, melihat daerah ini sedemikian keringnya, padahal dataran ini merupakan dataran yang baik sekali untuk tanah-tanah persawahan, maka guruku memerintahkan kepadaku, katanya. ‘Kalau kau benar-benar setia pada perguruanmu, jadikanlah bendungan di sungai yang membelah dataran ini. Dengan demikian kau tidak saja berjasa dalam perjuangan melawan kekerasan dan kejahatan dengan ilmu tata berkelahi dan beladiri, namun kau pun akan berjasa bagi kemanusiaan dengan memberi lapangan hidup yang baru. Memberi tanah pertanian yang subur.’ Demikianlah aku mulai dengan pekerjaanku. Bersama beberapa orang cantrik dan seorang saudara seperguruanku. Nah, akhirnya aku dapat memenuhi perintah guruku itu.
Dua tahun, aku ulangi Agni, dua tahun kami mengumpulkan bahan-bahan untuk bendungan ini, dan hampir satu tahun kami meletakkannya dan menyusunnya menjadi sebuah bendungan sehingga dapat menaikkan air ke sawah-sawah. Bendungan itu pada dasarnya tidak pernah rusak. Hanya perbaikan-perbaikan kecil memang harus selalu dilakukan. Sesudah itu Agni. Sesudah bendungan itu berhasil menaikkan air, maka mulailah daerah ini menjadi daerah yang semakin lama semakin ramai. Banyak orang mulai membuka tanah pertanian disini. O, Agni. Aku tidak akan memperagakan jasa-jasa itu ke padamu. Setiap orang-orang tua di Panawijen tahu, akulah yang membuat bendungan itu.“
Empu Purwa berhenti sejenak. Namun nafasnya menjadi semakin deras mengalir, dan terdengar giginya masih saja gemeretak. Dan tiba-tiba suara orang itu mengeras, “Agni. Bukankah anakku itu hilang?”
Mahisa Agni benar-benar terkejut dan berdebar-debar mendengar pertanyaan itu. Sesaat ia terbungkam, sehingga Empu Purwa mengulanginya dengan nyala kemarahan yang memancar dari sepasang matanya,
“Agni. Bukankah begitu?”
“Ya guru,” sahut Agni ketakutan.
“Dan lukamu itu?”
“Aku berpapasan dengan Kuda Sempana dan Akuwu Tunggul Ametung. Aku mencoba mencegah mereka. Dan sekali lagi aku harus bertempur dengan Ken Arok.”
“He? Siapa? Hantu Karautan itu yang kau maksud?”
“Ya guru.”
“Lalu kau dilukainya dari belakang?”
“Tidak guru. Bukan hantu Karautan itu yang melukaiku. Tetapi seorang Prajurit Tumapel memanahku pada saat aku sedang bertempur dengan Ken Arok.”
“Dan anakku dibawanya ke Tumapel?” Mahisa Agni mengangguk penuh kebimbangan.
“Oh, kasihan Ken Dedes itu. Kasihan anakku itu.“ suaranya Empu Purwa merendah.
Terasa sesuatu menyumbat kerongkongannya. Anak itu adalah anak satu-satunya. Dibayangkannya bagaimana gadisnya itu menjadi ketakutan. Dibayangkannya betapa kasar Kuda Sempana itu menarik tangan anaknya, kemudian dengan nafsu yang menyala-nyala membawa anaknya itu ke Tumapel dalam perlindungan Akuwu Tunggul Ametung.
Tiba-tiba orang tua itu kehilangan keseimbangan nalarnya. Betapapun mumpuninya Empu Purwa dalam olah ilmu lahir dan batin, namun ia adalah seorang manusia biasa. Sehingga karena itulah maka apabila kelemahannya sebagai manusia telah menguasai perasaannya, hilanglah segala macam ilmu dan kelebihannya dari manusia lain. Empu Purwa itu pun kemudian kehilangan segala macam kelebihan-kelebihannya, kesabaran, ke lapangan dada dan kelunakan hati.
Sehingga tiba-tiba terdengarlah dari sela bibir orang tua itu kata-kata yang nyaring membelah kesepian. “Agni, semoga suaraku ini didengar oleh Yang Maha Agung. Semoga suaraku ini akan terjadi kelak. Terkutuklah. Terkutuklah mereka itu yang telah bersepakat untuk melarikan anakku. Hai, orang yang melarikan anakku, semoga tidak langsung mengenyam kenikmatan, matilah ia dibunuh dengan keris.”
“Guru,“ teriak Mahisa Agni memotong kata-kata gurunya.
Anak muda itu dapat merasakan getar suara gurunya yang benar-benar telah menjatuhkan kutuk yang dahsyat. Namun Empu Purwa sama sekali tidak mendengarkannya. Bahkan kemudian orang tua itu berpaling memandangi bendungan yang selama ini merupakan sumber kesuburan Panawijen. Sekali lagi Mahisa Agni mendengar gurunya itu berkata dengan suara gemetar terbakar oleh kemarahan yang meluap-luap,
“Bendungan itu menjadi saksi apa yang telah aku lakukan untuk Panawijen. Tetapi orang-orang Panawijen sama sekali tidak mengimbanginya. Dibiarkannya anakku dilarikan orang tanpa perlindungan. Apakah orang sepedukuhan ini sama sekali tidak berdaya untuk mencegahnya. O, semoga terjadi pula kata-kataku ini atas Panawijen. Semoga keringlah tempat mereka mengambil air, semoga keringlah semua kolam-kolamnya, karena mereka berdosa membiarkan anakku dilarikan orang dengan paksa.”
“Guru,“ sekali lagi terdengar suara Mahisa Agni melengking.
Namun sekali lagi Empu Purwa tidak mendengar suara Mahisa Agni itu. Bahkan dengan serta merta orang itu meloncat dengan cepatnya. Seakan-akan lebih cepat dari kilat yang menyambar di udara. Mahisa Agni tidak mampu berbuat apa-apa. Ia hanya mampu berdiri tegak sambil ternganga melihat gurunya dengan kecepatan yang mengagumkan berlari ke arah bendungan. Mahisa Agni sama sekali tidak dapat meraba maksud gurunya itu. Karena itu maka ia sama sekali tidak mencoba untuk berbuat sesuatu.
Namun dada Mahisa Agni itu kemudian berdesir tajam ketika ia melihat Empu Purwa meloncat dan meluncur ke bawah bendungan itu, sehingga orang tua itu hilang dari pengamatannya. Mahisa Agni yang ingin mengetahui, apakah yang akan dilakukan oleh gurunya, tanpa dikehendakinya sendiri, iapun melompat berlari meloncati tanggul di sisi bendungan itu. dari sana ia melihat gurunya yang berdiri tegak di bawah air yang melontar dari atas bendungan.
Semula Mahisa Agni tidak segera dapat mengetahui apa yang akan dilakukan oleh gurunya. Namun tiba-tiba terasa sesuatu menampar dadanya. Terasa seakan-akan darahnya membeku dan tubuhnya menjadi lemas. Dengan mata terbelalak ia melihat gurunya itu berdiri tegak seperti tertanam jauh ke pusat bumi. Namun tiba-tiba ia melihat gurunya menarik satu kakinya ke belakang dan menyilangkan kedua tangannya di muka dadanya. Apa yang dilihat oleh Mahisa Agni itu benar-benar telah menghantam jantungnya, seakan-akan jantung di dalam dadanya itu akan pecah. Dalam puncak kecemasan anak muda itu berteriak nyaring,
“Jangan guru, jangan.”
Tetapi suara Mahisa Agni itu seperti desau angin yang meluncur tanpa bekas. Empu Purwa itu benar-benar telah memusatkan segenap kekuatan lahir dan batinnya. Tiba-tiba sekali lagi Mahisa Agni berteriak. Tinggi dan melengking, memancarkan kekhawatiran, namun juga keputus-asaan,
“Guru, guru, jangan.”
Tetapi Mahisa Agni itu sama sekali tidak dapat mempengaruhi perasaan gurunya yang sedang gelap pepat. Perasaan seorang ayah yang kehilangan gadis satu-satunya. Mahisa Agni itu kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Namun ia ingin juga melihat apa yang terjadi, sehingga tanpa dikehendakinya anak muda itu telah mengintip dari sela-sela jari tangannya sendiri.
Mahisa Agni itu melihat Empu Purwa meloncat tinggi seolah-olah melenting seperti seekor bilalang. Sedemikian kuat daya loncatnya sehingga orang tua itu hampir-hampir dapat mencapai bibir bendungan itu. Tetapi apa yang dilakukan adalah mengerikan sekali. Dengan penuh luapan kemarahan, Empu Purwa telah melepaskan kekutannya, lewat ajinya yang dahsyat, Gundala Sasra, menghantam bibir bendungan itu. Mahisa Agni mendengar suara gemuruh pada bendungan itu. Dilihatnya permukaan air berguncang. Berguncang seperti guncangan-guncangan di dalam dada Mahisa Agni sendiri.
Apalagi ketika ia melihat gurunya itu sekali lagi melenting, sekali lagi mengayunkan ke bibir bendungan itu. Seakan-akan dadanya sendirilah yang terhantam oleh kekuatan yang dahsyat. Kekuatan aji Gundala Sasra. Mahisa Agni sekali lagi mendengar suara gemuruh di bendungan itu. Sekali lagi ia melihat dari sela-sela jari-jarinya air terguncang dengan kerasnya. Namun kali ini ia melihat juga batu yang meloncat berhamburan. Bibir bendungan itu kini benar-benar telah pecah. Pecah berserakan. Berunjung-berunjung batu berguguran seperti dihantam oleh ledakan gunung Semeru.
Mahisa Agni benar-benar menjadi ngeri. Terdengar ia menjerit tinggi. Melengking diantara suara reruntuhan batu-batu dan kemudian disusul oleh luapan air yang meluncur dengan cepatnya, lewat celah-celah bendungan yang runtuh itu. Sekejap Mahisa Agni masih melihat gurunya meloncat menghindari air yang meluap. Dan sekejap Mahisa Agni melihat betapa air yang meluap itu telah menambah luka bendungan itu menjadi semakin parah. Batu demi batu hanyut meluncur diantara air yang mengalir sangat derasnya. Sejengkal demi sejengkal luka bendungan itu menjadi semakin lebar. Sehingga kemudian Mahisa Agni tidak tahan lagi melihatnya. Sekali lagi terdengar ia berteriak,
“Hancur. Bendungan itu hancur.”
Mahisa Agni itu pun kemudian memutar tubuhnya membelakangi bendungan yang semakin lama semakin parah. Di tutupnya kedua lubang telinganya. Ia tidak mau mendengar suara yang gemuruh itu. Suara yang ditimbulkan oleh guguran-guguran batu bendungan yang semakin lama semakin keras. Seperti guguran-guguran di hatinya. Terbayang sudah apa yang akan terjadi atas pedukuhan ini. Panawijen benar-benar akan menjadi kering. Akan keringlah tempat mengambil air dan akan kering pulalah seluruh kolam-kolamnya. Sawah-sawah akan tidak lagi dapat diairi, sebab selokan-selokan pun akan menjadi kering pula karenanya.
Terbayang kini, apa yang selama ini pernah dilakukannya di Panawijen. Hampir separuh dari waktunya sehari-hari dihabiskannya di sawah-sawah dan di bendungan ini. Bendungan yang menjadi lambang kesuburan padukuhan Panawijen dan padepokan gurunya. Bendungan yang dapat menjadi tempat yang menenangkan bagi anak-anak muda. Pasir yang putih dan air yang tergenang. Wajah air yang tenang, di mana kawan-kawannya dan dirinya sendiri sering bermain-main di dalamnya. Berenang, berkejaran di dalam air dan bahkan beradu ketangkasan.
Tetapi kini bendungan itu runtuh. Runtuh dan runtuhnya bendungan ini akan menjadi pertanda pula keruntuhan padukuhan Panawijen. Mahisa Agni menjadi semakin ngeri. Tangannya masih saja menyumbat kedua telinganya. Ia masih tidak mau mendengar dan melihat gemuruhnya bendungan itu hancur. Namun dengan demikian, ia sama sekali tidak merasa bahwa tanah yang dipijaknya itu pun sedikit demi sedikit menjadi goyah. Air yang deras itu telah menggugurkan tebing sungai itu pula, sehingga sisi tanggul itu pun sedikit demi sedikit runtuh pula dibawa arus.
Mahisa Agni baru menyadari keadaannya ketika ia merasa dirinya terguncang. Betapa ia terkejut, ketika tanah yang dipijaknya seolah-olah meluncur turun. Mula-mula perlahan-lahan sekali, namun semakin lama semakin cepat. Mahisa Agni segera dapat menduga apa yang telah terjadi. Dengan gerak naluriah ia meloncat, untuk menghindarkan diri dari bencana yang menyeretnya. Tetapi, tanah yang meluncur itu sama sekali tidak dapat dipakainya sebagai tempat berjejak.
Dalam kesibukannya berusaha untuk menyelamatkan diri, tiba-tiba Mahisa Agni merasa, sepasang tangan menyambar lengannya, kemudian dengan satu kekuatan yang besar, ia terlempar ke samping dan kemudian jatuh berguling di atas pasir. tetapi ia tidak ikut runtuh bersama tanggul sungai itu. Dalam keadaannya itu Mahisa Agni masih sempat melihat, seseorang yang menariknya itu meloncat dan jatuh pula di sampingnya. Cepat-cepat Mahisa Agni bangkit. Dilihatnya orang yang menolongnya itu bangkit pula. Ternyata bahwa orang itu adalah gurunya, Empu Purwa.
Sebuah getaran yang dahsyat telah melanda dada anak muda itu. Sedemikian dahsyatnya sehingga ia tidak mampu lagi untuk menahannya. Karena itu maka dengan seta merta Mahisa Agni meloncat berjongkok dihadapan gurunya. Bahkan kemudian sambil memeluk kaki orang tua itu Mahisa Agni berdesis,
“Guru, guru, kenapa semua ini harus terjadi. Panawijen sedang berkabung. Dan kini Panawijen menjadi semakin hancur.”
Sejenak orang tua itu berdiam diri. Matanya kini tidak lagi menyalakan kemarahan hatinya yang meluap-luap. Bahkan mata itu kini menjadi redup, bagaikan pelita yang kehabisan minyak.
“Agni,“ berkata Empu Purwa perlahan-lahan, “aku tidak dapat menahan perasaanku. Kenapa orang-orang Panawijen sama sekali tidak memiliki rasa kesetiakawanan. Kenapa dibiarkan anakku satu-satunya itu dibawa orang.”
“Tidak Empu,“ bantah Agni, “Panawijen tidak berdiam diri. Dan Panawijen bahkan telah mengorbankan seorang anak mudanya.”
“Agni,“ Empu Purwa terkejut mendengar keterangan itu, “apakah yang kau maksudkan?”
“Guru. Dalam mempertahankan Ken Dedes Wiraprana terbunuh.”
“He,“ sebuah bentakan telah menggoncangkan dada Empu Purwa. Baru kini ia mendengar bahwa telah terjadi perjuangan untuk mempertahankan anaknya. Bahkan anak Buyut Panawijen itu terbunuh.
Kembali Empu Purwa terdiam. Terasa hatinya terpecah-pecah. Ketika ia berpaling, dan dilihatnya air yang coklat bergulung-gulung mengalir menurut jalur-jalur sungai, Empu Purwa menarik nafas dalam-dalam. Apalagi ketika kemudian ia mendengar Mahisa Agni berkata,
“Guru. Akuwu Tunggul Ametung datang dengan para prajuritnya. Mereka membawa tombak, panah dan perlengkapan perang yang cukup. Lalu apakah yang dapat dilakukan oleh penduduk Panawijen itu. Apakah mereka dapat menghadapi ujung tombak, pedang dan bedor-bedor panah?”
Kepala Empu Purwa tertunduk mendengarkan kata-kata Mahisa Agni itu. Tumbuhlah penyesalan di dalam dirinya. Penyesalan atas kelemahannya, kelemahan jiwanya. Namun Ken Dedes itu adalah satu-satunya. Tempat ia meletakkan harapan untuk memperpanjang namanya. Kalau anak itu menemui kesulitan, maka hari yang akan datang bagi orang tua itu, adalah hari yang gelap. Lenyaplah urutan saluran darahnya.
Tetapi ternyata, kecintaannya kepada satu-satunya anaknya itu telah menggelapkan hatinya. Menggelapkan perasaannya, sehingga ia tidak menyadari apakah yang telah dilakukannya. Dan benarlah kata-kata Mahisa Agni. Panawijen sedang berkabung, dan kini Panawijen menjadi hancur. Empu Purwa itu pun kemudian duduk di samping Mahisa Agni. Disuruhnya muridnya duduk pula. Dengan mata yang sayu keduanya memandangi air yang masih saja meluap-luap menghanyutkan batu-batu bendungan. Dan luka pada bendungan itu pun menjadi semakin lama selebar.
“Agni,“ desis gurunya, “ternyata aku telah khilaf. Agni menundukkan kepalanya. Sebenarnyalah bahwa bendungan itu telah hancur. “Agni,” berkata orang tua itu pula, “tak ada kata-kata yang dapat aku pakai untuk menjelaskan, apa sebabnya aku telah menjadi mata gelap. Tetapi aku mengharap kau dapat merasakannya.”
Mahisa Agni mengangguk. Perasaan seseorang memang kadang-kadang serupa dengan seekor kuda. Betapa kuda itu dapat dijinakkan, namun suatu ketika, dalam keadaan yang tidak dapat dimengerti kuda itu dapat menjadi liar dan tanpa dapat dikuasainya. Seperti yang pernah terjadi pada dirinya sendiri. Apabila pada saat itu Wiraprana dapat diketemukan, pada saat ia merasa kehilangan kesempatan untuk mendapatkan Ken Dedes, mungkin ia sendirilah yang telah membunuh anak muda itu.
Tetapi Empu Purwa adalah seorang pendeta. Bukan lagi seorang anak muda yang binal seperti dirinya sendiri. Empu Purwa selama ini selalu berbuat baik. Sabar dan seolah-olah tidak lagi mempunyai kepentingan dengan masalah-masalah duniawi. Banyak nasehat-sehatnya yang dapat mengendapkan perasaannya. Namun tiba-tiba orang tua itu sendiri telah berbuat sesuatu yang tanpa pengendalian diri. Tetapi Mahisa Agni tidak berani bertanya. Ia hanya dapat memandangi wajah orang tua itu. Wajah yang sayu suram. Dan dengan tiba-tiba Empu Purwa itu telah menjadi jauh semakin tua.
“Agni,” berkata orang tua itu, “jadikanlah peristiwa ini peringatan bagimu. Mungkin kau menganggap aku seorang guru yang baik. Seorang guru yang tanpa cacat tanpa cela. Tetapi kau kini menyaksikan sendiri, bahwa aku adalah manusia biasa. Manusia yang bagaimanapun juga, adalah manusia yang dikuasai oleh segala macam masalah duniawi. Dan aku telah tergelincir pula kedalamnya. Masalah yang sangat mementingkan diriku sendiri. Agni. Jadikanlah peristiwa ini suatu peringatan. Bahwa manusia itu selalu dilumuri oleh kekerdilan jiwa, nafsu dan kepentingan diri sendiri.”
Ketika Mahisa Agni mencoba memandang wajah orang tua itu, hati Mahisa Agni pun berdesir. Dilihatnya sepasang mata orang tua itu menjadi semakin muram. Dan dilihatnya pula selapis air yang tergenang.
“Agni,“ katanya lirih, “aku menyesal. menyesal sekali. Tetapi semuanya telah terlanjur. Aku tidak menyangka sama sekali bahwa Wiraprana telah terbunuh. Dan kini aku menjadikan Panawijen semakin berkabung.”
Kata-kata itu terhenti, seakan-akan sesuatu menyumbat kerongkongan Empu Purwa. Sekali orang tua itu berpaling. Tetapi ketika dilihatnya bendungan itu semakin hancur dilanda air, maka segera ia melemparkan pandangan matanya ke kejauhan Ke puncak Gunung Kawi yang megah.
Angin yang lembut masih saja mengalir mengusap tubuh mereka yang duduk lemah di atas pasir tepian. Awan yang hanyut ke Utara. Di ujung Barat, awan berarak-arak menggamit tubuh Gunung Kawi yang seolah-olah acuh tak acuh saja.
“Mahisa Agni,“ kembali terdengar gurunya berkata, “betapa besar kesalahan yang telah aku lakukan, namun aku ingin kau muridku, jangan membuat kesalahan yang sama berhati-hatilah anakku. Namun jangan pernah merasa dirimu lepas dari segala kemungkinan yang jahat. Karena itu, apabila kau melihat kesalahan, jangan kau maki yang melakukan kesalahan itu. Jangan kau hinakan, dan jangan kau campakkan dari pergaulanmu. Tetapi ingatlah bahwa kau pun akan dapat jatuh ke dalam kesalahan. Kepada mereka, usahakanlah, luruskan jalannya, supaya kesalahanmu diluruskan pula. Adalah keluhuran bagimu dihadapan Yang Maha Agung, apabila kau dapat meluruskan yang bengkok menyadarkan yang bersalah, daripada membinasakannya. Sebab bagi Yang Maha Agung, setiap kesalahan yang disesali sepenuh hati, pastilah akan dimaafkannya. Yang Maha Agung pasti akan memaafkan kesalahanmu pula Agni, apabila kau memaafkan kesalahan orang lain. Tetapi aku tidak tahu, apakah orang-orang Panawijen akan memaafkan aku.”
Mahisa Agni menunduk dalam-dalam. Dalam keadaan yang sepahit-pahitnya gurunya masih sempat mengambil contoh yang terdekat, contoh dari dirinya sendiri. Namun apa yang dikatakannya itu, langsung menghunjam ke dalam hatinya. Tetapi Mahisa Agni itu kemudian terkejut ketika gurunya berkata,
“Agni. Meskipun orang-orang Panawijen akan memaafkan kesalahanku, tetapi aku tidak akan dapat hidup lagi di padepokanku itu. Padepokan itu akan selalu mengingatkan aku kepada anakku yang tunggal itu. Karena itu Agni, aku akan pergi. Aku akan menghabiskan sisa umurmu ini untuk melakukan pendekatan diri. Pendekatan diri untuk menghadap Yang Maha Agung, supaya aku dibebaskan dari kemungkinan mengalami sengsara pada masa yang langgeng.”
Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Dari sela-sela bibirnya terdengar ia berdesah, “Guru, apakah guru akan meninggalkan Panawijen?”
“Ya.”
“Kemana?”
“Aku tidak tahu Agni. Aku akan pergi menurut langkah kakiku. Tetapi hatiku akan menuntunku untuk mendekatkan diri pada Sumber Hidupku.”
“Jangan guru,“ Mahisa Agni mencoba mencegahnya, “biarlah guru tetap di Panawijen. Aku akan berbuat untuk kepentingan guru. Akulah yang akan mempertanggung jawabkan apabila orang-orang Panawijen menjadi marah karena bendungan pecah. Bukankah aku akan dapat juga mencoba memperbaikinya?”
Tetapi Agni itu terkejut ketika Empu Purwa berkata, “Ceriterakanlah Agni. Seandainya kau terbunuh sekalipun, namun secara jantan aku akan menangisimu. Tetapi aku tidak mendendam. Mungkin aku akan menuntut balas hanya dalam batas-batas kebenaranmu. Tetapi luka di punggung adalah hasil perbuatan yang licik, kecuali kalau kau sengaja bertempur sambil membelakangi musuhmu.”
Mahisa Agni kini tidak melihat jalan lain untuk menghindarkan dirinya. Karena itu, maka dengan suara tertahan-tahan dan nafas yang terengah-engah, diceriterakannya apa yang telah terjadi di padepokan Panawijen. Hati-hati, namun berurutan, lengkap semuanya yang diketahuinya dan dialaminya.
Gurunya, Empu Purwa mendengarkan setiap kata Mahisa Agni dengan seksama. Sekali-sekali ia mengerutkan keningnya, namun kemudian wajah itu menjadi tegang.
“Kau berhasil mengusir Kuda Sempana?“ bertanya gurunya.
“Ya guru, di hari pertama.”
“Kenapa di hari pertama?”
“Aku mencoba mengejarnya ke Tumapel. Mungkin aku akan mendapat penyelesaian yang baik. Mungkin akan dapat minta pertolongan Witantra.”
“Witantra kakak seperguruan Mahendra?”
“Ya guru.”
Orang tua itu menganggukkan kepalanya. Gumamnya, “Aku sangka orang-orang itu menyadari keadaannya. Mahendra masih mengganggumu di Tumapel dan Kuda Sempana masih juga berusaha mengambil gadisku.”
Dada Mahisa Agni menjadi semakin bergelora, ia ingin berhenti sampai sekian dan melanjutkan di padepokan. Namun gurunya tiba-tiba bertanya, “Tapi kau belum mengatakan apakah sebabnya punggungmu terluka?”
Mahisa Agni ragu-ragu sejenak. Jawabnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertanyaan gurunya. “Tetapi Mahendra telah menyadari keadaannya. Ia banyak memberi aku pertolongan bersama kakak seperguruannya Witantra.”
Empu Purwa mengangguk-angguk pula. Tetapi ia mendesak, “Syukurlah. Tetapi siapakah yang melukai punggungmu?”
Mahisa Agni menjadi semakin terdesak ke sudut. Sehingga dengan penuh keragu-raguan ia menjawab, “Luka ini terjadi di hari berikutnya guru.”
“Hari berikutnya? Apa yang terjadi di hari itu?”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Tetapi ia terpaksa berkata, “Kuda Sempana mengulangi niatnya.”
“Oh. Kasihan anak itu.“ keluh Empu Purwa, “apakah anak muda itu membawa kawan-kawannya?”
“Ya guru.”
“Hem, lalu bagaimana?”
Kembali Mahisa Agni terpaksa menceriterakan kelanjutan peristiwa yang menyakitkan hati itu. Meskipun ia tidak melihat sendiri apa yang terjadi di Panawijen, saat Kuda Sempana mengambil Ken Dedes, namun ia telah mendengarnya dari para cantrik, sehingga karena itu, maka Mahisa Agni pun dapat mengulangnya dengan baik. Meskipun ia mencoba mengatakannya sangat berhati-hati. Namun betapapun juga ia merasa bahwa tampak perubahan yang nyata pada wajah gurunya.
“Akuwu Tunggul Ametung sendiri datang?”
“Ya guru.”
“Dan mereka memasuki padepokan kita?”
“Ya Guru.”
“Apa yang mereka lakukan?”
Mulut Mahisa Agni benar-benar seakan-akan tersumbat. Dengan dada yang gemetar ia menatap wajah gurunya yang tegang.
“Apa yang mereka lakukan Agni?”
“Ampun guru,“ desah Mahisa Agni. Namun ia terdiam, kembali.
Empu Purwa segera dapat menangkap peristiwa itu. Ia dapat membayangkan bahwa sesuatu yang pahit telah terjadi. Karena itu maka katanya, “Mereka mengambil anakku itu?”
“Ampun guru. Peristiwa itu terjadi diluar pengamatanku. Aku pada saat itu masih berada di Tumapel.”
“Benarkah seperti apa yang aku katakan? Mereka membawa anakku?”
“Ya guru,“ suara Mahisa Agni hampir tidak terdengar. Namun meskipun demikian, suara yang lirih itu cukup menggemparkan dada Empu Purwa. Dada itu serasa meledak. Anak itu adalah anak satu-satunya. Anak yang dikasihinya melampaui seluruh isi dunia ini. Dan anak itu ternyata telah hilang.
Empu Purwa yang tua itu, tiba-tiba menegangkan tubuhnya. Hampir ia kehilangan penguasaan diri. Meskipun ia seorang pendeta yang tekun. Namun ia adalah seorang manusia pula. Manusia yang terdiri dari kulit daging. Manusia yang wadagnya masih memerlukan air untuk minum dan nasi untuk makan. Manusia yang berjiwa kerdil betapapun ia melampaui yang lain. Manusia yang lemah dan berakal sempit, betapapun ia menguasai segala macam ilmu. Dengan suara yang gemetar Empu Purwa bertanya pula kepada Mahisa Agni,
“Agni. Apakah di padepokan itu tidak ada seorang manusia pun pada saat itu?”
“Ada guru.”
Empu Purwa menggeram. Dari sepasang matanya memencar api kemarahan tiada terhingga. Belum pernah Mahisa Agni melihat mata gurunya menyala sedemikian dahsyatnya, seakan-akan seluruh bumi ini akan dibakarnya. Mahisa Agni kemudian menundukkan wajahnya. Ia tidak berani lagi menatap gurunya itu. Tiba-tiba Mahisa Agni terkejut ketika gurunya bertanya kepadanya.
“Agni kau tahu, kapan bendungan itu dibuat.”
Agni tidak tahu maksud pertanyaan gurunya. Sekali lagi ia mengangkat wajahnya, namun kembali wajahnya tertunduk. Meskipun demikian ia merasa aneh akan gurunya itu. Wajahnya merah menyala, tetapi pertanyaannya itu diucapkannya perlahan-lahan. Namun di balik ucapannya yang tampaknya tenang itu, terasa bahwa dibawahnya tergenang air yang berputar sedahsyat pusaran.
“Agni,“ terasa suaranya menjadi semakin keras. Dan Agni terkejut pula karenanya.
“Ya guru,” jawabnya.
“Kau tahu, kapan bendungan itu dibuat?”
“Tidak guru,“ jawab Agni tergagap,
“Bendungan itu umurnya lebih dari umurmu. Akulah yang membuat bendungan itu pada masa aku masih berguru. Sekali aku dibawa oleh guruku merantau, dan sampailah aku ke daerah ini. O, alangkah keringnya daerah ini dahulu,“ desis orang tua itu.
Mahisa Agni menjadi semakin tidak tahu kemana arah pembicaraan gurunya. Tetapi kembali dadanya berdesir ketika ia mendengar gigi gurunya itu gemeretak.
“Alangkah marahnya Empu Purwa,“ desah Mahisa Agni di dalam hatinya. Tetapi ia tidak berani memandang wajah gurunya itu.
Kembali Mahisa Agni terkejut ketika terasa gurunya menarik lengannya. O, alangkah dahsyat tenaga itu. Hampir ia jatuh terjerembab. Dan dirasanya tangan gurunya gemetar.
“Agni,“ berkata gurunya. Suaranya bergetar. Kini Mahisa Agni tahu, bahwa gurunya mencoba menahan perasaannya.
“Ketika kami, aku dan guruku, melihat daerah ini sedemikian keringnya, padahal dataran ini merupakan dataran yang baik sekali untuk tanah-tanah persawahan, maka guruku memerintahkan kepadaku, katanya. ‘Kalau kau benar-benar setia pada perguruanmu, jadikanlah bendungan di sungai yang membelah dataran ini. Dengan demikian kau tidak saja berjasa dalam perjuangan melawan kekerasan dan kejahatan dengan ilmu tata berkelahi dan beladiri, namun kau pun akan berjasa bagi kemanusiaan dengan memberi lapangan hidup yang baru. Memberi tanah pertanian yang subur.’ Demikianlah aku mulai dengan pekerjaanku. Bersama beberapa orang cantrik dan seorang saudara seperguruanku. Nah, akhirnya aku dapat memenuhi perintah guruku itu.
Dua tahun, aku ulangi Agni, dua tahun kami mengumpulkan bahan-bahan untuk bendungan ini, dan hampir satu tahun kami meletakkannya dan menyusunnya menjadi sebuah bendungan sehingga dapat menaikkan air ke sawah-sawah. Bendungan itu pada dasarnya tidak pernah rusak. Hanya perbaikan-perbaikan kecil memang harus selalu dilakukan. Sesudah itu Agni. Sesudah bendungan itu berhasil menaikkan air, maka mulailah daerah ini menjadi daerah yang semakin lama semakin ramai. Banyak orang mulai membuka tanah pertanian disini. O, Agni. Aku tidak akan memperagakan jasa-jasa itu ke padamu. Setiap orang-orang tua di Panawijen tahu, akulah yang membuat bendungan itu.“
Empu Purwa berhenti sejenak. Namun nafasnya menjadi semakin deras mengalir, dan terdengar giginya masih saja gemeretak. Dan tiba-tiba suara orang itu mengeras, “Agni. Bukankah anakku itu hilang?”
Mahisa Agni benar-benar terkejut dan berdebar-debar mendengar pertanyaan itu. Sesaat ia terbungkam, sehingga Empu Purwa mengulanginya dengan nyala kemarahan yang memancar dari sepasang matanya,
“Agni. Bukankah begitu?”
“Ya guru,” sahut Agni ketakutan.
“Dan lukamu itu?”
“Aku berpapasan dengan Kuda Sempana dan Akuwu Tunggul Ametung. Aku mencoba mencegah mereka. Dan sekali lagi aku harus bertempur dengan Ken Arok.”
“He? Siapa? Hantu Karautan itu yang kau maksud?”
“Ya guru.”
“Lalu kau dilukainya dari belakang?”
“Tidak guru. Bukan hantu Karautan itu yang melukaiku. Tetapi seorang Prajurit Tumapel memanahku pada saat aku sedang bertempur dengan Ken Arok.”
“Dan anakku dibawanya ke Tumapel?” Mahisa Agni mengangguk penuh kebimbangan.
“Oh, kasihan Ken Dedes itu. Kasihan anakku itu.“ suaranya Empu Purwa merendah.
Terasa sesuatu menyumbat kerongkongannya. Anak itu adalah anak satu-satunya. Dibayangkannya bagaimana gadisnya itu menjadi ketakutan. Dibayangkannya betapa kasar Kuda Sempana itu menarik tangan anaknya, kemudian dengan nafsu yang menyala-nyala membawa anaknya itu ke Tumapel dalam perlindungan Akuwu Tunggul Ametung.
Tiba-tiba orang tua itu kehilangan keseimbangan nalarnya. Betapapun mumpuninya Empu Purwa dalam olah ilmu lahir dan batin, namun ia adalah seorang manusia biasa. Sehingga karena itulah maka apabila kelemahannya sebagai manusia telah menguasai perasaannya, hilanglah segala macam ilmu dan kelebihannya dari manusia lain. Empu Purwa itu pun kemudian kehilangan segala macam kelebihan-kelebihannya, kesabaran, ke lapangan dada dan kelunakan hati.
Sehingga tiba-tiba terdengarlah dari sela bibir orang tua itu kata-kata yang nyaring membelah kesepian. “Agni, semoga suaraku ini didengar oleh Yang Maha Agung. Semoga suaraku ini akan terjadi kelak. Terkutuklah. Terkutuklah mereka itu yang telah bersepakat untuk melarikan anakku. Hai, orang yang melarikan anakku, semoga tidak langsung mengenyam kenikmatan, matilah ia dibunuh dengan keris.”
“Guru,“ teriak Mahisa Agni memotong kata-kata gurunya.
Anak muda itu dapat merasakan getar suara gurunya yang benar-benar telah menjatuhkan kutuk yang dahsyat. Namun Empu Purwa sama sekali tidak mendengarkannya. Bahkan kemudian orang tua itu berpaling memandangi bendungan yang selama ini merupakan sumber kesuburan Panawijen. Sekali lagi Mahisa Agni mendengar gurunya itu berkata dengan suara gemetar terbakar oleh kemarahan yang meluap-luap,
“Bendungan itu menjadi saksi apa yang telah aku lakukan untuk Panawijen. Tetapi orang-orang Panawijen sama sekali tidak mengimbanginya. Dibiarkannya anakku dilarikan orang tanpa perlindungan. Apakah orang sepedukuhan ini sama sekali tidak berdaya untuk mencegahnya. O, semoga terjadi pula kata-kataku ini atas Panawijen. Semoga keringlah tempat mereka mengambil air, semoga keringlah semua kolam-kolamnya, karena mereka berdosa membiarkan anakku dilarikan orang dengan paksa.”
“Guru,“ sekali lagi terdengar suara Mahisa Agni melengking.
Namun sekali lagi Empu Purwa tidak mendengar suara Mahisa Agni itu. Bahkan dengan serta merta orang itu meloncat dengan cepatnya. Seakan-akan lebih cepat dari kilat yang menyambar di udara. Mahisa Agni tidak mampu berbuat apa-apa. Ia hanya mampu berdiri tegak sambil ternganga melihat gurunya dengan kecepatan yang mengagumkan berlari ke arah bendungan. Mahisa Agni sama sekali tidak dapat meraba maksud gurunya itu. Karena itu maka ia sama sekali tidak mencoba untuk berbuat sesuatu.
Namun dada Mahisa Agni itu kemudian berdesir tajam ketika ia melihat Empu Purwa meloncat dan meluncur ke bawah bendungan itu, sehingga orang tua itu hilang dari pengamatannya. Mahisa Agni yang ingin mengetahui, apakah yang akan dilakukan oleh gurunya, tanpa dikehendakinya sendiri, iapun melompat berlari meloncati tanggul di sisi bendungan itu. dari sana ia melihat gurunya yang berdiri tegak di bawah air yang melontar dari atas bendungan.
Semula Mahisa Agni tidak segera dapat mengetahui apa yang akan dilakukan oleh gurunya. Namun tiba-tiba terasa sesuatu menampar dadanya. Terasa seakan-akan darahnya membeku dan tubuhnya menjadi lemas. Dengan mata terbelalak ia melihat gurunya itu berdiri tegak seperti tertanam jauh ke pusat bumi. Namun tiba-tiba ia melihat gurunya menarik satu kakinya ke belakang dan menyilangkan kedua tangannya di muka dadanya. Apa yang dilihat oleh Mahisa Agni itu benar-benar telah menghantam jantungnya, seakan-akan jantung di dalam dadanya itu akan pecah. Dalam puncak kecemasan anak muda itu berteriak nyaring,
“Jangan guru, jangan.”
Tetapi suara Mahisa Agni itu seperti desau angin yang meluncur tanpa bekas. Empu Purwa itu benar-benar telah memusatkan segenap kekuatan lahir dan batinnya. Tiba-tiba sekali lagi Mahisa Agni berteriak. Tinggi dan melengking, memancarkan kekhawatiran, namun juga keputus-asaan,
“Guru, guru, jangan.”
Tetapi Mahisa Agni itu sama sekali tidak dapat mempengaruhi perasaan gurunya yang sedang gelap pepat. Perasaan seorang ayah yang kehilangan gadis satu-satunya. Mahisa Agni itu kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Namun ia ingin juga melihat apa yang terjadi, sehingga tanpa dikehendakinya anak muda itu telah mengintip dari sela-sela jari tangannya sendiri.
Mahisa Agni itu melihat Empu Purwa meloncat tinggi seolah-olah melenting seperti seekor bilalang. Sedemikian kuat daya loncatnya sehingga orang tua itu hampir-hampir dapat mencapai bibir bendungan itu. Tetapi apa yang dilakukan adalah mengerikan sekali. Dengan penuh luapan kemarahan, Empu Purwa telah melepaskan kekutannya, lewat ajinya yang dahsyat, Gundala Sasra, menghantam bibir bendungan itu. Mahisa Agni mendengar suara gemuruh pada bendungan itu. Dilihatnya permukaan air berguncang. Berguncang seperti guncangan-guncangan di dalam dada Mahisa Agni sendiri.
Apalagi ketika ia melihat gurunya itu sekali lagi melenting, sekali lagi mengayunkan ke bibir bendungan itu. Seakan-akan dadanya sendirilah yang terhantam oleh kekuatan yang dahsyat. Kekuatan aji Gundala Sasra. Mahisa Agni sekali lagi mendengar suara gemuruh di bendungan itu. Sekali lagi ia melihat dari sela-sela jari-jarinya air terguncang dengan kerasnya. Namun kali ini ia melihat juga batu yang meloncat berhamburan. Bibir bendungan itu kini benar-benar telah pecah. Pecah berserakan. Berunjung-berunjung batu berguguran seperti dihantam oleh ledakan gunung Semeru.
Mahisa Agni benar-benar menjadi ngeri. Terdengar ia menjerit tinggi. Melengking diantara suara reruntuhan batu-batu dan kemudian disusul oleh luapan air yang meluncur dengan cepatnya, lewat celah-celah bendungan yang runtuh itu. Sekejap Mahisa Agni masih melihat gurunya meloncat menghindari air yang meluap. Dan sekejap Mahisa Agni melihat betapa air yang meluap itu telah menambah luka bendungan itu menjadi semakin parah. Batu demi batu hanyut meluncur diantara air yang mengalir sangat derasnya. Sejengkal demi sejengkal luka bendungan itu menjadi semakin lebar. Sehingga kemudian Mahisa Agni tidak tahan lagi melihatnya. Sekali lagi terdengar ia berteriak,
“Hancur. Bendungan itu hancur.”
Mahisa Agni itu pun kemudian memutar tubuhnya membelakangi bendungan yang semakin lama semakin parah. Di tutupnya kedua lubang telinganya. Ia tidak mau mendengar suara yang gemuruh itu. Suara yang ditimbulkan oleh guguran-guguran batu bendungan yang semakin lama semakin keras. Seperti guguran-guguran di hatinya. Terbayang sudah apa yang akan terjadi atas pedukuhan ini. Panawijen benar-benar akan menjadi kering. Akan keringlah tempat mengambil air dan akan kering pulalah seluruh kolam-kolamnya. Sawah-sawah akan tidak lagi dapat diairi, sebab selokan-selokan pun akan menjadi kering pula karenanya.
Terbayang kini, apa yang selama ini pernah dilakukannya di Panawijen. Hampir separuh dari waktunya sehari-hari dihabiskannya di sawah-sawah dan di bendungan ini. Bendungan yang menjadi lambang kesuburan padukuhan Panawijen dan padepokan gurunya. Bendungan yang dapat menjadi tempat yang menenangkan bagi anak-anak muda. Pasir yang putih dan air yang tergenang. Wajah air yang tenang, di mana kawan-kawannya dan dirinya sendiri sering bermain-main di dalamnya. Berenang, berkejaran di dalam air dan bahkan beradu ketangkasan.
Tetapi kini bendungan itu runtuh. Runtuh dan runtuhnya bendungan ini akan menjadi pertanda pula keruntuhan padukuhan Panawijen. Mahisa Agni menjadi semakin ngeri. Tangannya masih saja menyumbat kedua telinganya. Ia masih tidak mau mendengar dan melihat gemuruhnya bendungan itu hancur. Namun dengan demikian, ia sama sekali tidak merasa bahwa tanah yang dipijaknya itu pun sedikit demi sedikit menjadi goyah. Air yang deras itu telah menggugurkan tebing sungai itu pula, sehingga sisi tanggul itu pun sedikit demi sedikit runtuh pula dibawa arus.
Mahisa Agni baru menyadari keadaannya ketika ia merasa dirinya terguncang. Betapa ia terkejut, ketika tanah yang dipijaknya seolah-olah meluncur turun. Mula-mula perlahan-lahan sekali, namun semakin lama semakin cepat. Mahisa Agni segera dapat menduga apa yang telah terjadi. Dengan gerak naluriah ia meloncat, untuk menghindarkan diri dari bencana yang menyeretnya. Tetapi, tanah yang meluncur itu sama sekali tidak dapat dipakainya sebagai tempat berjejak.
Dalam kesibukannya berusaha untuk menyelamatkan diri, tiba-tiba Mahisa Agni merasa, sepasang tangan menyambar lengannya, kemudian dengan satu kekuatan yang besar, ia terlempar ke samping dan kemudian jatuh berguling di atas pasir. tetapi ia tidak ikut runtuh bersama tanggul sungai itu. Dalam keadaannya itu Mahisa Agni masih sempat melihat, seseorang yang menariknya itu meloncat dan jatuh pula di sampingnya. Cepat-cepat Mahisa Agni bangkit. Dilihatnya orang yang menolongnya itu bangkit pula. Ternyata bahwa orang itu adalah gurunya, Empu Purwa.
Sebuah getaran yang dahsyat telah melanda dada anak muda itu. Sedemikian dahsyatnya sehingga ia tidak mampu lagi untuk menahannya. Karena itu maka dengan seta merta Mahisa Agni meloncat berjongkok dihadapan gurunya. Bahkan kemudian sambil memeluk kaki orang tua itu Mahisa Agni berdesis,
“Guru, guru, kenapa semua ini harus terjadi. Panawijen sedang berkabung. Dan kini Panawijen menjadi semakin hancur.”
Sejenak orang tua itu berdiam diri. Matanya kini tidak lagi menyalakan kemarahan hatinya yang meluap-luap. Bahkan mata itu kini menjadi redup, bagaikan pelita yang kehabisan minyak.
“Agni,“ berkata Empu Purwa perlahan-lahan, “aku tidak dapat menahan perasaanku. Kenapa orang-orang Panawijen sama sekali tidak memiliki rasa kesetiakawanan. Kenapa dibiarkan anakku satu-satunya itu dibawa orang.”
“Tidak Empu,“ bantah Agni, “Panawijen tidak berdiam diri. Dan Panawijen bahkan telah mengorbankan seorang anak mudanya.”
“Agni,“ Empu Purwa terkejut mendengar keterangan itu, “apakah yang kau maksudkan?”
“Guru. Dalam mempertahankan Ken Dedes Wiraprana terbunuh.”
“He,“ sebuah bentakan telah menggoncangkan dada Empu Purwa. Baru kini ia mendengar bahwa telah terjadi perjuangan untuk mempertahankan anaknya. Bahkan anak Buyut Panawijen itu terbunuh.
Kembali Empu Purwa terdiam. Terasa hatinya terpecah-pecah. Ketika ia berpaling, dan dilihatnya air yang coklat bergulung-gulung mengalir menurut jalur-jalur sungai, Empu Purwa menarik nafas dalam-dalam. Apalagi ketika kemudian ia mendengar Mahisa Agni berkata,
“Guru. Akuwu Tunggul Ametung datang dengan para prajuritnya. Mereka membawa tombak, panah dan perlengkapan perang yang cukup. Lalu apakah yang dapat dilakukan oleh penduduk Panawijen itu. Apakah mereka dapat menghadapi ujung tombak, pedang dan bedor-bedor panah?”
Kepala Empu Purwa tertunduk mendengarkan kata-kata Mahisa Agni itu. Tumbuhlah penyesalan di dalam dirinya. Penyesalan atas kelemahannya, kelemahan jiwanya. Namun Ken Dedes itu adalah satu-satunya. Tempat ia meletakkan harapan untuk memperpanjang namanya. Kalau anak itu menemui kesulitan, maka hari yang akan datang bagi orang tua itu, adalah hari yang gelap. Lenyaplah urutan saluran darahnya.
Tetapi ternyata, kecintaannya kepada satu-satunya anaknya itu telah menggelapkan hatinya. Menggelapkan perasaannya, sehingga ia tidak menyadari apakah yang telah dilakukannya. Dan benarlah kata-kata Mahisa Agni. Panawijen sedang berkabung, dan kini Panawijen menjadi hancur. Empu Purwa itu pun kemudian duduk di samping Mahisa Agni. Disuruhnya muridnya duduk pula. Dengan mata yang sayu keduanya memandangi air yang masih saja meluap-luap menghanyutkan batu-batu bendungan. Dan luka pada bendungan itu pun menjadi semakin lama selebar.
“Agni,“ desis gurunya, “ternyata aku telah khilaf. Agni menundukkan kepalanya. Sebenarnyalah bahwa bendungan itu telah hancur. “Agni,” berkata orang tua itu pula, “tak ada kata-kata yang dapat aku pakai untuk menjelaskan, apa sebabnya aku telah menjadi mata gelap. Tetapi aku mengharap kau dapat merasakannya.”
Mahisa Agni mengangguk. Perasaan seseorang memang kadang-kadang serupa dengan seekor kuda. Betapa kuda itu dapat dijinakkan, namun suatu ketika, dalam keadaan yang tidak dapat dimengerti kuda itu dapat menjadi liar dan tanpa dapat dikuasainya. Seperti yang pernah terjadi pada dirinya sendiri. Apabila pada saat itu Wiraprana dapat diketemukan, pada saat ia merasa kehilangan kesempatan untuk mendapatkan Ken Dedes, mungkin ia sendirilah yang telah membunuh anak muda itu.
Tetapi Empu Purwa adalah seorang pendeta. Bukan lagi seorang anak muda yang binal seperti dirinya sendiri. Empu Purwa selama ini selalu berbuat baik. Sabar dan seolah-olah tidak lagi mempunyai kepentingan dengan masalah-masalah duniawi. Banyak nasehat-sehatnya yang dapat mengendapkan perasaannya. Namun tiba-tiba orang tua itu sendiri telah berbuat sesuatu yang tanpa pengendalian diri. Tetapi Mahisa Agni tidak berani bertanya. Ia hanya dapat memandangi wajah orang tua itu. Wajah yang sayu suram. Dan dengan tiba-tiba Empu Purwa itu telah menjadi jauh semakin tua.
“Agni,” berkata orang tua itu, “jadikanlah peristiwa ini peringatan bagimu. Mungkin kau menganggap aku seorang guru yang baik. Seorang guru yang tanpa cacat tanpa cela. Tetapi kau kini menyaksikan sendiri, bahwa aku adalah manusia biasa. Manusia yang bagaimanapun juga, adalah manusia yang dikuasai oleh segala macam masalah duniawi. Dan aku telah tergelincir pula kedalamnya. Masalah yang sangat mementingkan diriku sendiri. Agni. Jadikanlah peristiwa ini suatu peringatan. Bahwa manusia itu selalu dilumuri oleh kekerdilan jiwa, nafsu dan kepentingan diri sendiri.”
Ketika Mahisa Agni mencoba memandang wajah orang tua itu, hati Mahisa Agni pun berdesir. Dilihatnya sepasang mata orang tua itu menjadi semakin muram. Dan dilihatnya pula selapis air yang tergenang.
“Agni,“ katanya lirih, “aku menyesal. menyesal sekali. Tetapi semuanya telah terlanjur. Aku tidak menyangka sama sekali bahwa Wiraprana telah terbunuh. Dan kini aku menjadikan Panawijen semakin berkabung.”
Kata-kata itu terhenti, seakan-akan sesuatu menyumbat kerongkongan Empu Purwa. Sekali orang tua itu berpaling. Tetapi ketika dilihatnya bendungan itu semakin hancur dilanda air, maka segera ia melemparkan pandangan matanya ke kejauhan Ke puncak Gunung Kawi yang megah.
Angin yang lembut masih saja mengalir mengusap tubuh mereka yang duduk lemah di atas pasir tepian. Awan yang hanyut ke Utara. Di ujung Barat, awan berarak-arak menggamit tubuh Gunung Kawi yang seolah-olah acuh tak acuh saja.
“Mahisa Agni,“ kembali terdengar gurunya berkata, “betapa besar kesalahan yang telah aku lakukan, namun aku ingin kau muridku, jangan membuat kesalahan yang sama berhati-hatilah anakku. Namun jangan pernah merasa dirimu lepas dari segala kemungkinan yang jahat. Karena itu, apabila kau melihat kesalahan, jangan kau maki yang melakukan kesalahan itu. Jangan kau hinakan, dan jangan kau campakkan dari pergaulanmu. Tetapi ingatlah bahwa kau pun akan dapat jatuh ke dalam kesalahan. Kepada mereka, usahakanlah, luruskan jalannya, supaya kesalahanmu diluruskan pula. Adalah keluhuran bagimu dihadapan Yang Maha Agung, apabila kau dapat meluruskan yang bengkok menyadarkan yang bersalah, daripada membinasakannya. Sebab bagi Yang Maha Agung, setiap kesalahan yang disesali sepenuh hati, pastilah akan dimaafkannya. Yang Maha Agung pasti akan memaafkan kesalahanmu pula Agni, apabila kau memaafkan kesalahan orang lain. Tetapi aku tidak tahu, apakah orang-orang Panawijen akan memaafkan aku.”
Mahisa Agni menunduk dalam-dalam. Dalam keadaan yang sepahit-pahitnya gurunya masih sempat mengambil contoh yang terdekat, contoh dari dirinya sendiri. Namun apa yang dikatakannya itu, langsung menghunjam ke dalam hatinya. Tetapi Mahisa Agni itu kemudian terkejut ketika gurunya berkata,
“Agni. Meskipun orang-orang Panawijen akan memaafkan kesalahanku, tetapi aku tidak akan dapat hidup lagi di padepokanku itu. Padepokan itu akan selalu mengingatkan aku kepada anakku yang tunggal itu. Karena itu Agni, aku akan pergi. Aku akan menghabiskan sisa umurmu ini untuk melakukan pendekatan diri. Pendekatan diri untuk menghadap Yang Maha Agung, supaya aku dibebaskan dari kemungkinan mengalami sengsara pada masa yang langgeng.”
Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Dari sela-sela bibirnya terdengar ia berdesah, “Guru, apakah guru akan meninggalkan Panawijen?”
“Ya.”
“Kemana?”
“Aku tidak tahu Agni. Aku akan pergi menurut langkah kakiku. Tetapi hatiku akan menuntunku untuk mendekatkan diri pada Sumber Hidupku.”
“Jangan guru,“ Mahisa Agni mencoba mencegahnya, “biarlah guru tetap di Panawijen. Aku akan berbuat untuk kepentingan guru. Akulah yang akan mempertanggung jawabkan apabila orang-orang Panawijen menjadi marah karena bendungan pecah. Bukankah aku akan dapat juga mencoba memperbaikinya?”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar