MENU

Ads

Jumat, 20 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 059

“Apa yang akan kau lakukan terhadap orang-orang Panawijen?”

“Aku akan memintakan maaf kepada mereka.”

“Kalau mereka tidak memaafkan?”

“Mustahil.”

“Bukan mustahil Agni. Merekapun sedang diamuk oleh gelora perasaannya seperti aku.”

Mahisa Agni diam sejenak. Tiba-tiba ia berkata lantang, “Guru. Aku adalah seseorang yang pernah mendapatkan limpahan kemurahan Empu. Apakah aku tidak dapat berbuat sesuatu untuk Empu disini? Seandainya orang-orang Panawijen itu marah dan tidak mendengarkan permintaanku. Baiklah, apakah yang akan mereka kehendaki. Kasar, halus, aku tidak akan gentar.”

Wajah Empu Purwa itu pun menjadi semakin muram. Ditepuknya punggung Mahisa Agni sambil berkata, “Terima kasih Agni. Aku mengucapkan terima kasih akan kesetiaanmu itu. Tetapi apakah kau sudah berbuat dengan tepat, apabila benar-benar terjadi demikian? Mungkin aku dapat juga berbuat seperti apa yang akan kau lakukan itu Agni, namun akibatnya adalah benturan-benturan perasaan yang meluap-luap tanpa terkendali. Korban akan berjatuhan, dan akan terkutuk pulalah namaku dan namamu dihadapan orang-orang Panawijen. Bukan sekadar dihadapan orang-orang Panawijen Agni, namun akan terkutuklah namaku dan namamu dihadapan Yang Maha Agung. Karena aku dan kau telah memperlihatkan kemenangan-kemenangan jasmaniah untuk melindungi kesalahan yang telah aku lakukan.”

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar jawaban gurunya itu. Iapun kemudian menundukkan kepalanya, Wajahnya menjadi merah karena malu. Ternyata bahwa perasaannya benar-benar seperti kuda liar yang tidak tunduk pada kendalinya.

“Alangkah bodohnya aku,“ gumamnya di dalam hati, “seandainya demikian apakah aku lebih sakti daripada guruku itu? Seandainya harus bertahan dengan kekerasan. O, alangkah bodohnya aku.”

Namun terdengar gurunya berkata, “Sudahlah Agni. Kembalilah ke Panawijen. Mintalah maaf kepada orang-orang Panawijen atas namaku. Aku akan pergi sebelum aku menyentuh halaman Padepokanku dengan ujung kakiku. Tentang bendungan ini Agni, ingat-ingatlah. Jangan kau bangun kembali di bekasnya yang hancur itu. Kau tidak akan berhasil. Di sekitar tempat ini kau tidak mendapat cukup bahan untuk membangunkannya. Batu-batu yang tidak begitu banyak telah habis aku kumpulkan beberapa puluh tahun yang lalu.”

“Tetapi aku dan anak-anak muda Panawijen akan mampu mengumpulkannya,“ jawab Mahisa Agni.

Empu Purwa memandang wajah Mahisa Agni yang bersungguh-sungguh. Terpancar dari kedua belah matanya, tekadnya yang menyala untuk membangun bendungan itu kembali. Namun gurunya itu berkata,

“Tidak Agni. Di daerah ini tidak cukup bahan untuk keperluan itu. Beberapa puluh tahun yang lalu aku dan beberapa orang cantrik memerlukan waktu dua tahun untuk mengumpulkan bahan-bahannya. Dan bahan-bahan itu kini sudah tidak ada lagi di sekitar tempat ini. Karena itu, Agni. Kalau kau mau mendengarkan kata-kataku, berjalanlah menyusur sungai ini ke hulu. Bawalah orang-orang Panawijen untuk membangun bendungan di daerah Padang Karautan. Padang rumput itu akan menjadi tanah persawahan yang subur.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Memang di daerah itu banyak terdapat batu-batu besar kecil. Tetapi daerah itu bukanlah daerah yang telah siap untuk dikerjakan. Di daerah itu masih harus dibangun parit-parit dan jalur-jalur air ke tengah padang rumput itu.

Empu Purwa melihat keraguan di wajah muridnya. Katanya, “Agni. Kalau kau bangun bendungan yang jebol itu, maka kau akan menemui banyak kesulitan. Selain daripada itu Agni. Bendungan itu akan selalu membangunkan kenangan pahit bagiku. Seandainya suatu ketika aku berkesempatan lewat di daerah ini, maka hatiku pasti akan terluka kembali karena kenangan yang pedih itu. Karena itu, cobalah. Biarlah rakyat Panawijen bangun dari tidurnya. Rakyat Panawijen yang selama ini seakan-akan tinggal memetik buah dari pepohonan yang ditanam oleh orang lain itu, biarlah mencoba untuk menilai kekuatan mereka sendiri. Sebab selama ini ternyata Panawijen telah menjadi suatu daerah yang sangat lemah. Daerah yang diliputi oleh suasana yang terlalu sepi dan diam. Cobalah Agni, Cobalah membangunkannya, supaya mereka mengenal arti kerja yang sebenarnya. Usaha mengadakan yang belum ada. Bukan sekedar puas apa yang telah dimilikinya.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi ia tidak dapat membantah perintah gurunya. Alasan-alasannya memang dapat dimengerti seluruhnya. Bahan-bahan yang terlalu kurang, alasan-alasan perasaan gurunya yang pahit dan kerja untuk membangunkan Panawijen yang selama ini telah tertidur nyenyak. Mahisa Agni itu kemudian terperanjat ketika gurunya berkata sekali lagi kepadanya,

“Agni. Biarlah sekarang aku pergi membawa sisa hidupku. Aku dahulu pernah menjadi seorang perantau. Sekarang aku akan mengulangi cara hidupku itu.”

“Tetapi guru,“ bantah Agni terbata-bata, “guru sekarang sudah semakin tua. Dahulu guru mungkin masih semuda aku.”

“Sekarang hatiku sudah semakin mengendap Agni. Aku tidak akan mengulangi cara-cara hidupku pada masa-masa itu. Sisa hidupku adalah kesempatan terakhir untuk menilai diriku di hadapan Yang Maha Agung.”

“Jangan guru. Tinggallah sementara di Panawijen, Guru dapat mengawasi pekerjaan kami, membangun bendungan di tengah padang rumput itu.”

Empu Purwa menggeleng, “Tidak Agni.”

“Kenapa?” desak Agni.

“Kau adalah muridku. Umurmu sudah cukup dewasa. Aku tidak perlu lagi menganggapmu anak-anak yang harus aku tunggui siang malam dalam tugasmu. Cobalah. Kalau kau muridku, maka kau akan mampu melakukannya, seperti aku dahulu melakukan. Aku membangun bendungan ini, dan sekarang kau pun harus berbuat seperti aku. Melihat kemampuan diri.”



Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Ia tidak dapat menjawab lagi. Karena itu, maka yang terasa kemudian adalah debar yang semakin keras di dalam hatinya. Ketika ia kemudian melihat gurunya berdiri, dengan serta merta iapun meloncat berdiri sambil berdesis,

“Guru. Kemanakah aku harus pergi, seandainya suatu ketika aku ingin bertemu dengan guru.”

“Bukan kau yang akan mencari aku Agni. Tetapi akulah yang akan datang kepadamu apabila aku masih mendapat kesempatan.”

“Mungkin suatu ketika aku harus menghadap guru, apabila aku melihat perkembangan yang terjadi atas Ken Dedes di Tumapel.”

Tiba-tiba Empu Purwa itu mengerutkan keningnya. Terasa bahwa sesuatu bergetar di dalam hatinya.

“Guru,“ berkata Agni kemudian, “aku minta ijin guru, untuk suatu ketika mengambil Ken Dedes dari Kuda Sempana.”

Empu Purwa menggeleng, “Agni. Apabila Kuda Sempana sudah mendapat perlindungan Akuwu Tunggul Ametung, maka persoalannya sudah menjadi semakin sulit. Kalau kau tentang perbuatan itu dengan kekerasan, maka apakah kau dan bahkan mungkin aku, akan dapat melawan seluruh Tumapel? Agni, jangan melawan Akuwu Tunggul Ametung dalam kedudukannya. Dengan demikian berarti kau melawan kekuasaannya. Karena itu Agni, aku menyesal, bahwa aku telah menghancurkan bendungan itu, mengurungkan sumber air bagi Panawijen, tetapi aku benar-benar tidak menyesal seandainya Yang Maha Agung benar-benar berkenan membebaskan anakku dari mereka yang telah melarikannya dengan paksa.” Sekali lagi Mahisa Agni tertunduk. Dipandanginya pasir yang memutih di bawah kakinya.

Dan kembali ia mendengar gurunya berkata, “Agni. Aku akan pergi. Aku akan berdoa, semoga Yang Maha Agung mendengarkan aku pula kali ini. Semoga anakku akan selamat dan mendapat kebahagiaan yang besar.”

Demikian Empu Purwa selesai mengucapkan kata-katanya, maka segera ia melangkah meninggalkan Mahisa Agni. Tetapi Mahisa Agni itu berjalan pula di belakangnya sambil berkata,

“Guru, guru. Jangan pergi.”

Empu Purwa berpaling. Jawabnya, “Agni. Kau bukan anak-anak lagi. Berbuatlah seperti seorang yang telah dewasa. Aku akan pergi. Jangan kau ikuti aku. Bawalah rakyat Panawijen ke dalam suatu suasana kerja. Mengadakan yang belum ada. Memperbaharui yang telah rusak.”

Tetapi Mahisa Agni masih saja berjalan mengikuti gurunya sambil berkata, “Jangan Empu. Kami masih memerlukan tuntunan guru.”

Empu Purwa berhenti. Ditatapnya mata Mahisa Agni tajam-tajam. Kemudian katanya, “Agni. Kau adalah muridku. Jangan mengecewakan gurumu. Seorang anak muda yang seumurmu itu seharusnya sudah mampu berdiri sendiri. Nah. Kembalilah ke Panawijen. Dibanggakan akan kau temui Trisula kecil itu. Simpanlah benda itu baik-baik. Sebagai aku telah menyimpannya. Kalau kemudian kau mempercayai seseorang kelak Agni, kau dapat memberikannya kepada orang itu. Seperti aku menyerahkan kepadamu.”

Mahisa Agni tertegun diam. Ketika gurunya menyebut Trisula kecil itu hatinya bergetar. Apalagi ketika gurunya berkata, “Agni, dengan Trisula itu, maka kau telah mewakili aku di Padepokanku. Kalau kau kelak bertekun diri, maka ilmumu yang telah lengkap itu akan menjadi semakin masak. Tanpa aku kau akan dapat menjadi seorang yang kuat. Namun ingat Agni, ingat bahwa tak ada kekuatan, kecakapan dan kemampuan yang sempurna. Yang satu akan mengalahkan yang lain, dan yang lain lagi akan mengatasinya. Karena itu jangan bersombong dengan ilmu dan pusaka yang telah kau miliki.”

Perlahan-lahan sekali terdengar Mahisa Agni bergumam, “Ya guru.”

“Nah, baiklah. Aku akan berjalan terus. Sekali-sekali aku akan mengunjungimu.”

Mahisa Agni masih berdiri mematung. Ketika dilihatnya gurunya melangkah kembali maka dari mulutnya meluncur kata-katanya, “selamat jalan guru.”

“Terima kasih Agni,“ sahut gurunya.

Mahisa Agni kemudian hanya dapat melihat gurunya berjalan. Langkahnya adalah langkah seorang tua yang kelelahan. perlahan-lahan dan bahkan tampak betapa sukar ia mengayunkan kakinya. Sebuah tongkat tergenggam di tangannya.

“Hem,“ Mahisa Agni berdesah.

Alangkah jauh bedanya dengan Empu Purwa ketika meloncat dan memecahkan bendungan itu. Alangkah jauh bedanya dengan orang yang pernah ditemuinya di kaki Gunung Semeru dan menamakan dirinya Empu Pedek. Meskipun orang itu berbuat seolah-olah timpang, namun geraknya tangkas dan lincah. Sekarang dilihatnya Empu Purwa itu berjalan tertatih-tatih.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya langkah gurunya sampai jauh menyusur pinggir sungai. Tiba-tiba di kejauhan Mahisa Agni melihat gurunya itu menuruni tebing, dan dengan hati-hati berjalan menyeberangi sungai. Sungai di atas bendungan itu ternyata telah menjadi semakin dangkal. Anak muda itu diam mematung sampai Empu Purwa hilang di balik tanggul di seberang sungai. Lamat-lamat ia melihat orang tua itu seperti hilang ditelan bumi.

Tetapi alangkah terkejut Mahisa Agni kemudian ketika ia mendengar suara hiruk pikuk. Ketika Mahisa Agni berpaling, dilihatnya empat anak-anak muda berlari-lari menuju ke bendungan itu. Dari jauh telah terdengar mereka berteriak,

“Agni. Apakah yang telah terjadi, kenapa sungai ini banjir, sedang hujan tidak turun? Apakah bendungan itu rusak?”

Mahisa Agni tidak menyahut. Tetapi terasa hatinya berdesir. Bagaimana ia harus menjawab pertanyaan anak-anak muda itu apabila mereka bertanya, kenapa bendungan itu pecah?. Dengan gelisah Mahisa Agni melihat keempat anak-anak muda itu menjadi semakin dekat. Demikian mereka sampai ke pinggir sungai, maka segera mereka meloncat ke dekat bendungan yang pecah itu. Dengan terbata-bata mereka serentak berdesah,

“Oh. Bendungan ini pecah?”

Keempatnya memandangi arus air yang masih saja mengalir dengan derasnya itu seperti memandang bencana yang sudah terbayang didepan matanya. “Pecah. Pecah.“ mereka mengulangi.

Kemudian salah seorang dari mereka berpaling kepada Mahisa Agni sambil bertanya, “Agni. Kenapa bendungan itu pecah?”

Agni tidak segera menjawab. Ia masih dikuasai oleh kebimbangan hatinya. Sekali-sekali dipandanginya keempat anak-anak muda itu. Betapa wajah mereka menjadi pucat seperti mayat. Bibir mereka bergetar seperti orang kedinginan. Namun kemudian dilayangkannya matanya ke bendungan yang pecah itu.

“Kenapa Agni,” desak mereka.

Agni menggeleng lemah. Katanya tanpa menjawab pertanyaan itu, pertanyaan tentang bendungan, katanya, “Dari manakah kalian?”

“Aku sedang berada di sawah Agni,“ jawab salah seorang dari mereka. “Ketika aku mendengar suara riuh di dalam sungai segera aku menengok. Ternyata sungai itu tiba-tiba banjir, sedangkan udara sangat cerah. Di hulu pun sama sekali tidak tampak awan atau mendung. Karena itu aku menjadi cemas. Mencemasksn bendungan ini, ternyata bendungan ini benar-benar pecah.”

“Kenapa bendungan ini pecah Agni. Bukankah kau berada di tempat ini? Mungkin kau melihat sebabnya,“ bertanya yang lain.

Mahisa Agni masih belum menjawab pertanyaan mereka. Katanya, “Apakah Ki Buyut Panawijen telah diberi tahu?”

“Belum,“ sahut salah seorang dari mereka. Dan tiba-tiba ia berkata pula, “Aku akan memberitahukan kepada Ki Buyut.”

Anak itu tidak menunggu jawaban. Segera ia meloncat berlari sekencang-kencangnya menuju ke padukuhan mereka. Ketiga kawannya dan Mahisa Agni masih merenungi bendungan yang pecah itu. Kini bendungan itu telah benar-benar runtuh. Batu-batunya telah hanyut berserakan. Bahkan arus airnya yang meluap-luap telah menggugurkan tebing-tebing sungai itu, sehingga sungai itu seakan-akan menjadi semakin lebar. Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Di kepalanya masih terngiang suara gurunya, “Jangan kau bangun kembali di bekasnya yang hancur itu. Kau tidak akan berhasil.”

Dan ternyata kini ia melihat di bekas bendungan sungai itu seakan-akan menjadi semakin lebar dan curam. Ternyata air tidak saja menggugurkan tebing, tetapi juga menggali dasar sungai itu menjadi semakin dalam. Tak seorang pun yang mulai berbicara. Mereka masing-masing sedang merenungi angan-angan masing-masing. Ketiga anak-anak muda itu tenggelam dalam kecemasan yang sangat. Pecahnya bendungan itu berarti sawah-sawah mereka akan menjadi kering. Kolam-kolam ikan, dan dengan demikian Panawijen akan menjadi kering pula. Mereka sama sekali tidak dapat mengerti, kenapa bendungan itu tiba-tiba menjadi pecah.

Sesaat kemudian, sekali lagi terdengar hiruk pikuk mendekati tebing itu. Ketika anak-anak muda itu berpaling, mereka melihat berbondong-bondong orang berlari-larian. Bukan saja Ki Buyut Panawijen, tetapi juga orang-orang lain, laki-laki, perempuan tua muda. Mereka ingin menyaksikan sumber hidup mereka yang rusak. Seakan-akan berita itu sama sekali tidak pernah akan terjadi.

Ketika mereka sampai di pinggir kali itu, maka serentak tertegun diam. Mereka hampir tidak percaya akan mata mereka sendiri. Bendungan itu telah jebol. Hancur. Dan air yang tergenang naik ke parit-parit kini telah semakin susut. Sebentar lagi air itu akan semakin berkurang, sehingga bendungan itu nanti akan menjadi sedangkal mata kaki.

Ki Buyut Panawijen berdiri dengan wajah yang pucat. Sekali ia memandang rakyatnya yang tidak kalah cemasnya dari dirinya sendiri. Kemudian kepada anak muda yang memberitahukannya kepadanya, Ki Buyut bertanya,

“Bagaimana mungkin bendungan ini pecah?”

Anak muda itu menggeleng, “Aku tidak tahu Ki Buyut.”

“Tidak adakah yang melihat sebab dari pecahnya bendungan ini,“ kembali terdengar suara Ki Buyut parau.

Anak muda itu menggeleng. Namun tiba-tiba salah seorang dari ketiga anak muda yang ditinggal di tepi sungai itu berkata, “Ketika kami sampai di bendungan ini, Agni telah berdiri disini.”

Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berpaling ke arah Mahisa Agni. Katanya, “Agni. Apakah kau melihat sebab dari pecahnya bendungan ini?”

Semua orang kini berdiam diri. Mereka menunggu jawaban Mahisa Agni. Karena itu maka tepi sungai itu pun kemudian menjadi sunyi. Yang terdengar hanya gemuruh arus air yang meluap lewat pecahan bendungan yang sudah semakin menganga lebar. Bahkan hampir musna sama sekali.

Mahisa Agni berdiri dengan tegangnya. Ia menjadi bingung, bagaimana ia harus menjawab pertanyaan Ki Buyut Panawijen itu. Ketika Mahisa Agni tidak segera menjawab, maka kembali terdengar Ki Buyut bertanya,

“Bagaimana Agni?”

Kembali suasana menjadi hening. Dan kembali yang terdengar adalah gemuruh air. Ketika Mahisa Agni memandang berkeliling, maka dilihatnya semua mata tertuju kepadanya, seakan-akan mereka sudah tahu apa yang terjadi, dan seakan-akan mereka telah menyalahkannya. Karena itu maka dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Ketika kemudian matanya tertumbuk pada sorot mata Ki Buyut Panawijen, maka dadanya terasa berdesir, dan tanpa sesadarnya Mahisa Agni mengangguk.

“Oh,“ desah Ki Buyut.

Dan hampir setiap orang yang melihat Mahisa Agni itu mengangguk, berdesis pula. Debar di dada mereka menjadi semakin cepat, seakan-akan mereka tidak sabar lagi menunggu apakah sebabnya maka bendungan itu pecah.

“Kenapa ngger,“ bertanya Ki Buyut, “kenapa?”

Kembali Mahisa Agni diamuk oleh kebingungan di hatinya. Apakah ia harus berkata berterus terang?. Sekali lagi orang-orang yang berdiri di sekitarnya berdesis, mereka segera ingin tahu kenapa bendungannya itu pecah. Dan sekali lagi Ki Buyut Panawijen mendesak,

“Kenapa ngger?”

Mahisa Agni tidak mempunyai cara lagi untuk mengelakkan diri dari pertanyaan itu. Karena itu maka ditenangkannya hatinya. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam, dan baru kemudian ia berkata,

“Ki Buyut. Aku memang melihat saat bendungan ini pecah. Dan aku memang ingin mengatakannya kepada Ki Buyut Panawijen beserta rakyatnya. Namun sebelumnya baiklah aku menyampaikan permohonan maaf dari guruku Empu Purwa.”

Ki Buyut Panawijen itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah gurumu telah kembali?”

“Sudah Ki Buyut. Tetapi Empu Purwa tidak sampai hati untuk menjenguk padepokannya, karena anaknya yang hilang itu.”

“Gurumu sekarang dimana?”

“Empu Purwa itu kemudian pergi meninggalkan padepokannya untuk waktu yang tidak terbatas. Ia mencoba menghindarkan diri dari kepahitan hidupnya, meskipun ia tahu, bahwa kepahitan hatinya itu akan selalu ikut kemana ia pergi. Namun dengan kepergiannya kali ini ia mengharap bahwa dengan mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung, maka Empu Purwa akan mendapat damai di hatinya.”

“Kasian orang tua itu,“ gumam Ki Buyut. Tetapi kemudian ia bertanya, “Tetapi bagaimana dengan bendungan ini?”

“Aku juga sedang mencoba mengatakan kenapa bendungan ini pecah.“ sahut Agni.

“Tetapi kau berceritera tentang gurumu?”

“Ya. Guru yang sedang dilanda oleh duka yang hampir tak tertanggungkan karena kehilangan anak tunggalnya.”

“Apakah hubungannya dengan bendungan yang pecah ini?” desak beberapa orang yang kehabisan kesabaran.

Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk menenangkan debar jantungnya. Baru kemudian ia menjawab dengan sangat hati-hati, “Ki Buyut. Pagi tadi aku tertidur di tepi bendungan itu. Aku terbangun karena tiba-tiba terasa seseorang menyentuh tubuhku. Ternyata orang itu adalah guruku yang telah agak lama meninggalkan padepokan ini. Pada saat itu, ternyata aku tidak dapat menghindarkan diri, untuk mengatakan apa yang telah terjadi di Panawijen. Demikian berat pukulan yang menimpa perasaan Empu Purwa atas hilangnya anak satu-satunya itu, maka tiba-tiba Empu Purwa itu kehilangan kesabarannya.“

Agni berhenti sejenak. Ia mencoba melihat perasaan apakah yang bergolak di setiap dada orang yang mendengarnya. Orang-orang Panawijen mendengarkan kata-kata Mahisa Agni dengan sepenuh perhatian. Namun sampai sedemikian jauh mereka masih belum tahu, ke mana arah ceritera Mahisa Agni itu. Sehingga dengan demikian, mereka masih saja berdiri mematung dengan tegangnya, menunggu Mahisa Agni meneruskan ceriteranya itu.

Baru sejenak kemudian Mahisa Agni berkata pula, “Pada saat Empu Purwa kehilangan keseimbangan diri itulah segalanya terjadi.”

“Ya. Pada saat itu bendungan itu pecah. Tetapi apa sebabnya,“ desak salah seorang dari mereka yang mengerumuni Mahisa Agni.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ternyata orang-orang itu sama sekali belum mampu menghubungkan ceriteranya dengan pecahnya bendungan itu. Maka jawabnya,

“Bendungan itu pecah karena Empu Purwa merasa bahwa ia kehilangan miliknya yang paling berharga dalam hidupnya. Yaitu anak satu-satunya.”

“Agni,“ sahut Ki Buyut Panawijen, “kenapa jawabmu sama sekali tidak dapat kami mengerti. Angger, cobalah. Katakanlah, apa yang kau lihat? Apakah karena Empu Purwa merasa bahwa ia menjadi sangat menderita tekanan atas hilangnya puterinya itu, lalu bendungan itu meledak?”

“Oh,“ keringat dingin mengalir di seluruh tubuh Mahisa Agni.

Ia sadar, bahwa tak seorang pun dari penduduk Panawijen yang mampu melihat betapa besar kekuatan ilmu yang tersimpan di dalam tubuh gurunya yang tua itu. Namun untuk mengatakannya, sangatlah terasa berat. Tetapi ia tidak dapat terus menerus menghindar dari pertanyaan itu. Disadarinya bahwa pada suatu ketika ia harus mengatakan apa yang diketahuinya, atau ia harus membuat suatu ceritera bohong yang dapat menipu rakyat Panawijen.

Namun ceritera semacam itu sama sekali tak akan menguntungkannya. Seterusnya ia harus mempertahankan kebohongan itu. Kalau kemudian timbul pertanyaan-pertanyaan yang sukar dijawabnya mengenai ceritera bohongnya, maka ia harus berbohong pula. Semakin lama semakin jauh dan jauh. Karena itulah maka Mahisa kemudian mengambil keputusan untuk segera mengatakannya, apa yang sebenarnya terjadi. Karena itu maka katanya,

“Ki Buyut. Bahwa Empu Purwa merasa kehilangan segala miliknya itulah permulaan dari bencana itu. Empu Purwa merasa bahwa rakyat Panawijen sama sekali tidak mempunyai belas kasihan terhadap anaknya. Terhadap Ken Dedes, anaknya yang tunggal. Karena itu maka betapa marahnya. Dan kemarahannya itu ternyata tersalur lewat kekuatannya yang dahsyat. Dan sebenarnyalah, aku tidak dapat menutup kenyataan yang telah terjadi itu. Empu Purwa lah yang telah memecah bendungan itu.”

Semua dada terasa berdesir mendengar penjelasan Mahisa Agni. Sesaat orang-orang di sekitarnya itu terbungkam karena jantungnya serasa terhenti. Namun sesasat kemudian warna-warna merah telah merayap pada wajah-wajah mereka. Timbullah kemudian di dalam dada mereka nyala kemarahan atas perbuatan Empu Purwa itu. Bendungan itu adalah sumber hidup mereka, adalah jantung dari padukuhan Panawijen. Dan sumber hidup itu dihancurkan orang. Terdengarlah kemudian diantara mereka suara bergumam. Beberapa orang menjadi sangat marah dan tanpa sesadarnya mereka telah melangkah semakin maju.

Ki Buyut Panawijen sendiri, sesaat tidak dapat berkata sepatah kata pun. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Empu Purwa lah yang telah memecahkan bendungan itu. Baru ketika ia telah berhasil mengatur perasaannya kembali maka berkatalah Ki Buyut itu dengan suara bergetar,

“Agni. Apakah kau berkata sebenarnya?”

Agni mengangguk ragu. Namun terdengar mulutnya berkata, “Ia, Ki Buyut. Aku berkata seperti apa yang terjadi sebenarnya.”

Sekali lagi Ki Buyut terdiam. Tetapi seorang anak muda berkata lantang, “Agni, kenapa Empu Purwa memecah bendungan itu. Bendungan yang menjadi sumber hidup kita sekalian di Panawijen ini?”

“Sudah aku katakan,” jawab Agni, “Empu Purwa merasa sangat menyesal bahwa puterinya itu hilang.”

“Itu bukan salah kami,” teriak anak muda yang lain.

“Ya. Bukan salah kalian. Tetapi Empu Purwa merasa bahwa kalian tidak melindunginya.”

“Itu pun bukan salah kami. Apakah kami harus mati seperti putera Ki Buyut Panawijen seluruhnya? Sehingga rakyat Panawijen menjadi tumpas?”

Mahisa Agni tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Keringatnya semakin banyak mengalir membasahi tubuhnya.

“Agni,” berkata Ki Buyut Panawijen, “aku menyesal bahwa hal itu telah terjadi. Empu Purwa benar-benar telah menghancurkan hidupku. Anakku mati karena gadis yang hilang itu. Sekarang Empu Purwa telah menghancurkan bendungan ini.”

“Ya,” teriak seorang anak muda pula, “kami menghormati pendeta tua itu. Tetapi ia merusak kehidupan kami di sini.”

Mahisa Agni menjadi semakin bingung. Ia semakin tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Maka untuk mencoba menenangkan mereka, ia berkata, “Guruku menyesal bahwa bendungan itu dipecahkannya. Guruku minta maaf karena kesalahan itu.”

“Apa,” teriak seorang yang bertubuh tinggi besar dan berbulu di dadanya, “apakah permintaan maaf itu sudah cukup bernilai untuk menebus kesalahannya.” Mahisa Agni menundukkan kepalanya.

“Agni,“ berkata yang lain, “kau adalah murid pendeta itu. Sekarang, bawalah gurumu itu kemari.”

“Guru telah pergi. Aku tidak tahu kemana perginya,” jawab Mahisa Agni.

“Bohong. Ia sedang bersembunyi. Dan kau pasti tahu dimana ia bersembunyi. Jangan menunggu kami memaksamu Agni.” Terdengar beberapa orang berteriak hampir bersamaan.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar