Mahisa Agni terkejut bukan kepalang mendengar teriakan itu. Rakyat Panawijen selama ini dikenalnya sebagai rakyat yang diam. Hampir tak pernah didengarnya atau dilihatnya, salah seorang atau beberapa orang diantaranya menunjukkan sifat-sifat yang keras, apalagi kasar. Mereka hampir acuh tak acuh terhadap apa saja yang terjadi. Mereka hanya mengenal pekerjaan mereka sehari-hari. Ke sawah, ke ladang, nderes kelapa, ke bendungan, ke kolam untuk memelihara ikan. Itu saja. Setiap hari diulanginya. Mereka telah menjadi puas apabila mereka dapat memetik tanaman mereka, menangkap ikan-ikan peliharaan mencetak gula kelapa dengan tempurung. Itu saja. Kini tiba Mahisa Agni melihat wajah-wajah itu menjadi merah membara. Tiba-tiba Mahisa Agni mendengar mereka berteriak dengan keras dan kasarnya.
“Hem,“ Mahisa Agni menggeram di dalam hatinya, ternyata betapapun lemahnya rakyat Panawijen, namun apabila tersentuh kepentingan hidupnya yang paling dalam, maka hati mereka itu pun tergetar pula. Mereka yang berdiri membatu ketika mereka melihat Kuda Sempana berusaha menangkap Ken Dedes, kini aku buat mereka menggeretakkan giginya.
Tetapi angan-angan Mahisa Agni terputus ketika didengarnya suara di sekitarnya menjadi semakin riuh, “Mahisa Agni. Di manakah pendeta tua itu? Ayo Tunjukkan kepada kami Biarlah kami menghakiminya.”
Mahisa Agni memandang berkeliling. Satu-satu ditatapnya pandangan-pandangan mata yang menyala. Beberapa anak muda yang tidak lagi dapat menahan diri telah mengacungkan tinjunya. Terdengar suara diantara mereka,
“Agni, kami telah menerima gurumu diantara kami. bertahun-tahun ia hidup seperti keluarga sendiri. Tetapi tiba-tiba ia mengkhianati kami dengan merusak bendungan itu hanya karena anaknya hilang. Satu orang itu apakah sudah cukup berharga untuk menghancurkan kehidupan kami disini?”
“Ayo Agni.“ sahut yang lain, “jangan termenung seperti kera kedinginan.”
“Hem,“ kali ini Mahisa Agni benar-benar menggeram. Kata-kata yang didengarnya agaknya telah terlalu tajam baginya. Meskipun demikian ia masih berusaha menahan hatinya. Bahkan ia masih mencoba berkata kepada Ki Buyut Panawijen, “Ki Buyut. Apakah Ki Buyut memperkenankan aku berkata seorang diri dihadapan Ki Buyut sehingga Ki Buyut akan dapat mengetahui persoalan yang sebenarnya?”
Buyut Panawijen pun ternyata benar-benar telah marah. Ia merasa bahwa daerahnya telah dikorbankan oleh Empu Purwa. Karena itu maka jawabnya lantang, “Angger. Aku adalah salah satu dari rakyat Panawijen ini. Tak ada persoalan yang dapat kau sampaikan kepadaku tanpa didengar oleh seluruh rakyat. Jangan mencoba membujuk aku.”
“Tidak Ki Buyut,“ potong Agni cepat-cepat, “tetapi aku mengharap bahwa Ki Buyut akan mampu berpikir lebih tenang dari pada orang lain.”
“He, kau sudah mulai menghina pula,” jawab Ki Buyut sama sekali diluar dugaan Mahisa Agni, “kau sangka orang-orang Panawijen ini tidak mampu berpikir?”
Terdengar suara yang ribut di sekitar Mahisa Agni. Beberapa anak muda berkata, “Jangan menghina kami Agni. Ayo dimana gurumu. Kesabaran kami telah sampai ke ubun-ubun.”
“Bukan begitu Ki Buyut,“ sahut Agni cepat-cepat, “maksudku, di dalam suasana ini, maka sulitlah diketemukan pendapat yang jernih. Dalam suasana yang tenang, maka akan tampaklah persoalannya, seperti sebutir batu di dasar air. Kalau airnya bergolak, maka bentuk batu itu tidak akan kita lihat sewajarnya. Tetapi kalau air itu tenang, maka apa yang kita lihat akan mendekati bentuk yang sebenarnya.”
“Jangan mempersulit diri ngger,” jawab Ki Buyut, “Aku sependapat dengan orang-orang lain, bawalah gurumu kemari. Kau akan terlepas dari segala tuntutan. Dan bukankah gurumu itu lebih mengetahui persoalannya daripada kau Agni? Kalau gurumu nanti dapat memberi kami penjelasan sebaik-baiknya, dan penjelasan itu dapat kami mengerti, maka selesailah sudah persoalannya.”
Kembali Mahisa Agni terdiam. Hampir setiap kata yang diucapkan terasa salah. Ia hampir tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk mengatakan seluruh persoalan. Dihadapan suasana yang panas itu, maka hampir dapat dipastikan bahwa kata-katanya akan mengalir seperti angin yang menggoyangkan daun-daun turi yang kini telah condong, karena tanahnya tempat berpegangan sedikit demi sedikit telah dihanyutkan air. Mahisa Agni itu terkejut ketika terdengar Ki Buyut yang semakin marah itu membentak,
“Agni, dimanakah gurumu?”
Agni kini tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Kepalanya menjadi pening. Pikirannya yang jernih pun berangsur-angsur menjadi keruh. Dilihatnya orang-orang yang berdiri di sekitarnya itu sebagai hantu-hantu yang akan menghisap darahnya. Karena itu tiba-tiba dadanya bergolak. Kini Agni tidak lagi menundukkan wajahnya, tetapi menjalarlah darah kemudaannya. Betapapun gurunya mencoba berpesan kepadanya untuk berlaku sareh, namun ia adalah seorang anak muda. Ketika sekali lagi ia mendengar Ki Buyut Panawijen membentaknya, maka tiba-tiba ia merasa hatinya menjadi sangat pedih.
Gurunya, yang mengasuhnya sejak kanak-kanak, sama sekali tidak pernah membentaknya. Apabila gurunya marah kepadanya, maka kemarahannya itu selalu dapat diterimanya dengan hati terbuka. Tetapi kini, orang-orang itu membentak-bentaknya seperti membentak-bentak orang buronan. Maka diluar dugaan sekian banyak orang, Agni menjawab lantang.
“Jangan cari guruku. Jangan cari Empu Purwa yang tua itu. Disini berdiri muridnya. Mahisa Agni. Segala kesalahan yang dilakukannya, segala permintaan maaf yang tulus yang telah dipesankannya kepadaku, apabila itu sama sekali tidak dapat kalian mengerti, maka adalah tanggung jawabku untuk menyelesaikannya. Kini yang ada adalah Mahisa Agni. Mahisa Agni, kalian dengar.”
Sesaat orang-orang yang berdiri di sekitar Mahisa Agni itu terbungkam. Mereka memandang Mahisa Agni yang berdiri tegak seperti patung. Tetapi orang-orang Panawijen itu sudah benar-benar dikuasai oleh kemarahannya, sehingga mereka sudah tidak dapat berpikir tenang. Mereka telah kehilangan segala macam pertimbangan-pertimbangan. Ketika mereka melihat Mahisa Agni berkeras hati tidak mau menunjukkan Empu Purwa, yang disangkanya bersembunyi maka terdengar beberapa orang berkata,
“Agni. Tunjukkan gurumu, atau kau akan mengalami nasib yang jelek seperti bendungan itu.”
Wajah Mahisa Agni tiba-tiba menyala seperti wajah-wajah orang Panawijen yang berdiri di sekitarnya. Kini ia tegak diatasi kedua kakinya. Bahkan semakin kokoh. Dipandangnya sekali lagi wajah-wajah orang-orang yang berdiri mengitarinya. Hampir semuanya telah dikenalnya baik-baik. Anak-anak muda, orang-orang setengah umur, orang-orang tua dan diantara mereka berdiri Ki Buyut Panawijen yang pernah mengaku anak terhadapnya. Tetapi sahabatnya itu, dalam keadaan yang langsung menyentuh sumber hidup mereka, maka mereka seakan-akan telah melupakannya. Mereka tidak lagi dapat diajak berbicara. Dan sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan persoalannya dengan tenang. Mereka berkeras menuduh gurunya bersembunyi.
Ketika sejenak Mahisa Agni tidak menjawab, maka terdengar kembali suara diantara mereka, “Ayo. Jangan mematung. Cepat sebelum kami kehilangan kesabaran.”
Kata-kata benar-benar tidak menyenangkan hati Mahisa Agni. Tanpa sesadarnya ia berpaling, mencari siapakah yang berkata itu. Dengan matanya ia menatap seorang anak muda yang tegap kekar dan berwajah keras. Tiba-tiba sekali lagi jawaban Mahisa Agni mengejutkan mereka. Benar-benar tidak mereka sangka. Katanya,
“Hai anak-anak muda Panawijen. Aku kenal kalian dengan baik, seperti kalian mengenal aku. Kalau kau sekarang berkeras menuduh aku menyembunyikan guruku, dan kalian menganggap itu suatu kesalahan. Nah, kalian mau apa?”
Pertanyaan Mahisa Agni benar-benar langsung menusuk setiap dada anak-anak muda yang sedang marah itu. Hampir bersamaan mereka menjawab, “Agni. Jangan terlalu sombong. Hal ini agaknya merupakan hari yang jelek bagimu.”
Mahisa Agni melihat anak-anak muda itu bergerak selangkah maju. Tetapi Mahisa Agni masih tetap di tempatnya. Ia benar-benar tidak takut mengalami perlakuan yang bagaimanapun juga. Ia sudah siap untuk berkelahi sekalipun melawan semua orang yang berdiri di sekitarnya. Namun dalam pada itu tiba-tiba kembali terngiang suara gurunya. Suaranya yang sejuk damai. Mahisa Agni menggeretakkan giginya. Apakah ia harus menyerahkan kepalanya dalam keadaan seperti itu. Apakah ia harus berbaring dan dibiarkannya anak-anak muda Panawijen itu berganti-ganti melemparinya dengan batu sehingga ia tertimbun mati. Sesaat Mahisa kembali menjadi bimbang. Tetapi anak-anak muda itu maju lagi beberapa langkah sambil mengumpat-umpatinya.
Mahisa Agni yang kemudian menjadi bimbang kembali itu berkata parau, “Ki Buyut apakah Ki Buyut tidak dapat menahan mereka.”
Ki Buyut itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Agni ternyata kau benar-benar berkeras kepala. Kau tidak mau menunjukkan dimana Empu Purwa itu berada. Dengan demikian maka aku tidak punya keinginan untuk menolongmu. Selagi kau tidak mau menolong kami pula menemukan gurumu. Gurumu yang telah benar-benar merusak hidup pedukuhan ini, dan hidupku. Anakku mati karena anaknya. dan pedukuhanku akan mati juga karena perbuatannya.”
Kini Mahisa Agni tidak mempunyai kesempatan lain. Namun tiba-tiba timbullah akalnya. Tak apalah seandainya ia terpaksa sedikit menyombongkan dirinya, namun dalam pada itu ia masih berusaha untuk yang terakhir kalinya menghindarkan perkelahian atau bentrokan-bentrokan yang bisa saja tiba-tiba terjadi. Karena itu, maka tiba-tiba Mahisa Agni menengadahkan dadanya. Sepasang tangannya bertolak pinggang. Dengan lantangnya ia berkata kepada Ki Buyut Panawijen,
“Ki Buyut. Kalau Ki Buyut masih menggugat kematian anakmu itu, maka menyesallah aku bahwa aku telah pernah menyelamatkannya. Disini, di bawah bendungan ini Wiraprana itu hampir mati pula dibunuh oleh Kuda Sempana. Pada saat itu, Wiraprana mencoba bersombong diri, mencoba melawan Kuda Sempana meskipun maksudnya baik. Tetapi seandainya aku tidak menolongnya, maka umur Wiraprana telah putus pada saat itu pula. Pada saat belum tampak hubungan yang rapat antara puteramu itu dengan puteri guruku. Untuk kedua kalinya aku menyelamatkan nyawa puteramu itu ketika ia menerima tantangan seorang anak muda dari Tumapel.
Apakah Wiraprana tidak pernah mengatakannya? Anak muda itu bernama Mahendra. Akulah yang pada saat itu menamakan diriku Wiraprana dan bertempur melawannya. Kalau kemudian Wiraprana itu akhirnya terbunuh juga oleh Kuda Sempana, itu pun bukan sekedar salah puteri guruku. Ki Buyut sendiri tidak pernah mencoba menjatuhkan hukuman apapun kepada Kuda Sempana. Dua kali aku dapat mengalahkannya di Panawijen, disaksikan oleh Ki Buyut sendiri. Dimana anak-anak muda Panawijen tak seorang pun yang berani berbuat apa-apa terhadap Kuda Sempana itu. Dimana anak-anak Panawijen sama sekali tidak berani marah kepada anak muda yang telah berusaha menodai padukuhan ini.“
Mahisa Agni berhenti sejenak. Ditatapnya setiap wajah yang berdiri mengitarinya. Ki Buyut, anak-anak muda dan kemudian orang-orang tua laki-laki perempuan. Kemudian katanya kepada anak-anak muda Panawijen,
“Nah. Apa yang telah kalian lakukan untuk melindungi gadis itu. Tidak hanya pada saat terakhir, pada saat Kuda Sempana datang bersama Akuwu. Tetapi sebelum itu. Sehari sebelum itu? Kalian lebih senang bersembunyi. Kalian sama sekali tidak berani berbuat apa-apa melawan Kuda Sempana. Sekarang ternyata kalian dapat menjadi marah. Marah karena kepentingan kalian langsung yang kalian persoalkan. Karena kebutuhan kalian sendiri.“ Sekali lagi Mahisa Agni berhenti, sekali lagi ia memandang berkeliling.
Kata-kata itu kata-kata pameleh yang diucapkan oleh Mahisa Agni itu, terasa menghunjam ke dalam dada setiap anak muda di Panawijen. Mereka merasa kebenaran kata-kata itu, bahwa mereka sama sekali tidak berani berbuat apa-apa atas Kuda Sempana. Ketika Ken Dedes minta perlindungan mereka maka mereka hanya berjejal-jejal tanpa berbuat sesuatu. Bahkan, ketika Kuda Sempana maju selangkah, mereka berloncatan tercerai-berai, meskipun kemudian ada juga keinginan mereka membela Ken Dedes, namun ketakutan merekalah yang selalu mencegah mereka.
Meskipun demikian sudah tentu, anak-anak Panawijen yang merasa kehilangan sumber hidupnya, dan sedang dibakar oleh kemarahan itu tidak mau menerima ucapan itu begitu saja. Dalam nyala kemarahan, mereka merasa Mahisa Agni telah mengungkat-ungkat hal-hal yang memilukan bagi mereka. Maka jawab anak muda yang tinggi besar, berdada bidang dan berwajah keras,
“Agni, ternyata kau mencoba menggugat lagi. Apapun yang kami lakukan sama sekali bukan suatu kesalahan. Kami benar-benar tidak berani melawan Kuda Sempana. Apa salah kami? Apakah ada seorang yang dapat memaksa kami untuk melakukan perbuatan yang kami tidak berani melakukan? Apalagi gadis itu bukanlah langsung berhubungan dengan kepentingan kami. Nah, bendungan adalah sumber hidup kami. Bendungan bagi kami jauh lebih berharga dari seorang gadis, meskipun gadis itu bernama Ken Dedes puteri Empu Purwa. Biarlah orang mengatakan bahwa kami terlalu mementingkan diri kami. Tetapi bukan diriku sendiri. Diri kami adalah seluruh penduduk Panawijen.”
Mahisa Agni menggeretakkan giginya. Dengan lantang ia menjawab, “Bagus. Kalau kau sekarang menjadi seorang pemberani karena kepentinganmu. Kepentingan kamu sekalian, nah, ayo lakukan kehendakmu atasku. Aku adalah Mahisa Agni, murid Empu Purwa yang telah mampu mengalahkan Kuda Sempana yang kau takuti. Kalau kalian tidak berani melawan Kuda Sempana, dan Kuda Sempana itu dapat aku kalahkan, bahkan kalau aku mau aku dapat membunuhnya, maka apa arti kalian itu bagiku. Setiap langkah yang kalian buat, tebusan adalah nyawa kalian. Tanganku akan mampu membunuh seseorang dengan satu pukulan. Nah, marilah. Marilah, siapa yang ingin mati lebih dahulu. Barangkali kalian berpikir, lebih baik mati karena tanganku dari pada mati kelaparan. Mungkin kemudian aku akan mati pula karena lawan terlalu banyak. Tetapi aku berkata sesungguhnya, bahwa lebih dari separuh dari kalian akan mati juga bersama aku.”
Kata-kata itu bergetar seperti getaran guruh yang menggelegar di langit. Kata-kata yang diucapkan oleh Mahisa Agni yang dengan sepenuh tenaga mencoba menahan perasaannya. Disusunnya kalimat-kalimat itu dengan cermatnya. Dicobanya menyombongkan dirinya untuk menakuti-takuti anak-anak muda Panawijen. Ia mengharap anak-anak muda itu menjadi ngeri, dan mengurungkan niatnya, memaksanya untuk mempertahankan diri. Sesaat Mahisa Agni menunggu apa yang akan mereka lakukan. Mahisa sadar, apabila anak-anak Panawijen benar-benar menjadi pemberani, maka katanya akan mempercepat peristiwa yang sama sekali tidak dikehendaki oleh gurunya.
Namun beberapa saat anak-anak muda Panawijen itu masih berdiam diri. Ketika Mahisa Agni sekali lagi memandangi mereka maka tampaklah perubahan pada wajah-wajah mereka. Sebenarnyalah kata-kata Mahisa Agni itu telah berhasil mempengaruhi perasaan anak-anak Panawijen. Mereka sama sekali bukanlah pemberani, sebab mereka bisa hidup dalam suasana yang tenteram damai. Itulah sebabnya ketika Mahisa Agni mengatakan, bahwa ia mampu membunuh separuh dari mereka, maka tiba-tiba mereka menjadi ngeri. Seperti mereka menghadapi Kuda Sempana, maka mereka hanya berani berdiri saja melingkarinya. Dan ternyata Mahisa Agni dapat mengalahkan Kuda Sempana itu.
Apa yang dikatakan Mahisa Agni telah mengingatkan mereka, bahwa sebenarnya mereka telah melihat sendiri, Mahisa Agni benar-benar dapat mengalahkan Kuda Sempana. Benar-benar apabila anak muda itu mau, Kuda Sempana dapat dibunuhnya. Tatapi Mahisa Agni tidak melakukannya. Sekarang, Mahisa Agni itu pun berdiri teguh seperti Kuda Sempana. Bahkan karena kata-katanya, seakan-akan Mahisa Agni menjadi bertambah garang. Mahisa Agni melihat perubahan itu. Segera ia mencoba menekan mereka lebih dalam lagi, katanya,
“Ayo. Kenapa kalian berdiam diri. Aku akan mengatakan sekali lagi kepastian tekadku. Jangan mencari guruku. Aku akan mewakilinya.”
Wajah-wajah di sekitarnya tampak menjadi semakin buram. Warna-warna merah yang merayapi wajah itu menjadi semakin padam. Dan terdengar Mahisa Agni meneruskan,
“Nah. Ingat, apa yang dapat aku lakukan atas Kuda Sempana itu. Aku seorang murid Empu Purwa. Lalu apakah yang dapat dilakukan oleh guruku itu? Kalau kalian benar-benar ingin menemuinya dan akan menghukumnya, dengarlah lebih dahulu. Empu Purwa telah memecahkan bendungan ini karena luapan perasaannya. Bendungan yang tak dapat digoyahkan oleh banjir yang setiap tahun, setiap musim hujan itu, ternyata pecah oleh tangannya. Kalian dengar. Pecah karena tangannya. Bagaimana kalau tangan itu menyentuh kepala kalian?”
Yang mendengar kata-kata itu segera mengerutkan lehernya. Alangkah mengerikan. Tangan itu dapat memecahkan bendungan. Ya, bagaimana kalau tangan itu menyentuh kepala mereka?.
Mahisa Agni tidak melepaskan kemungkinan yang semakin baik itu. Dengan suara gemuruh ia meneruskan, “Nah, anak-anak muda Panawijen. Apakah yang akan kalian lakukan sekarang? Kalau kalian merasa bahwa kalian telah berbuat untuk kepentingan kalian, maka Empu Purwa pun berbuat untuk kepuasannya. Hai, orang-orang tua di Panawijen. Katakanlah kepada anak cucumu yang sedang dibakar oleh kemarahannya. Siapakah yang telah membuat bendungan itu. Siapa? Apakah kalian pada saat kalian membuka tanah pertanian di Panawijen ini telah membuat bendungan itu? Ayo, katakanlah dengan jujur, siapa yang telah membuat bendungan itu untuk kalian, dan apakah yang telah kalian buat untuknya?”
Ketika Mahisa Agni diam sesaat, maka suasana benar-benar menjadi sepi dan tegang. Gemuruh air di bendungan semakin lama telah menjadi semakin berkurang. Hanya kadang-kadang masih terdengar guguran-guguran tanah tebing sungai yang menjadi semakin aus dibawa arus air yang seakan-akan mengamuk.
Mereka terkejut ketika mereka mendengar gemuruh tanah di samping mereka. Ketika Mahisa Agni berpaling, dilihatnya pohon turi yang telah miring itu dengan cepatnya jadi semakin condong dan akhirnya meluncur ke dalam arus air, Namun arus air sudah tidak begitu deras lagi, sehingga sisa akarnya masih juga dapat menahannya. Pohon turi itu kini seperti seorang yang sangat malang, terbaring di permukaan air, berpegangan pada beberapa lembar akarnya yang sudah lemah.
Sebenarnya Mahisa Agni sendiri, hanya terasa tersayat melihat keruntuhan tebing sungai di sekitar bendungan itu. Seperti juga anak-anak muda yang lain, bendungan itu mempunyai arti yang sangat banyak baginya, bagi Panawijen dan bagi kehidupan di padukuhan itu. Meskipun demikian, ketika suasana sepi itu menjadi semakin sepi, terdengar suaranya memecah,
“Ayo, siapakah diantara kalian yang berani berkata dengan jujur, siapakah yang telah membuat bendungan itu? Siapa?”
Belum seorang pun yang menjawab pertanyaan itu, sehingga Mahisa Agni bertanya kepada Ki Buyut Panawijen, “Ki Buyut. Ki Buyut tentu mengetahui, siapakah yang telah merencanakan dan membuat bendungan itu dengan susah payah dan diserahkannya kepada Panawijen?”
Dada Buyut Panawijen itu berdesir mendengar pertanyaan Mahisa Agni. Pertanyaan itu benar-benar tidak disangkanya akan diberikan kepadanya. Karena itu sesaat ia berdiam diri. Dicobanya untuk mengatasi debar jantungnya. Sehingga kini Mahisa Agni lah yang mendesaknya,
“Siapa? Siapa Ki Buyut. Biarlah anak-anak muda yang sedang marah itu mendengarnya, siapakah yang telah menyediakan sumber hidup mereka. Supaya mereka menyadari apa arti kata-kata mereka, bahwa bendungan itu bagi mereka jauh lebih berharga dari seorang gadis meskipun gadis itu bernama Ken Dedes, puteri Empu Purwa.”
Ki Buyut Panawijen menjadi semakin bingung. Anak-anak muda Panawijen pun menjadi semakin bingung pula. Mereka masih diliputi oleh suasana kecemasan, karena Mahisa Agni benar-benar akan bertahan, yang pasti akan melampaui kekuatan Kuda Sempana. Kini mereka melihat betapa Buyut Panawijen menjadi kebingungan. Akhirnya, anak-anak muda Panawijen itu terkejut bukan kepalang ketika mereka mendengar Ki Buyut itu menjawab lirih dan penuh keragu-raguan,
“Empu Purwa ngger. Yang membuat bendungan itu adalah Empu Purwa.”
Betapa wajah-wajah di sekitar Mahisa Agni menjadi sangat gelisah. Sesaat mereka tidak dapat mengerti jawaban itu, bahkan mereka hampir tidak dapat mempercayainya. Namun terdengar Mahisa berkata,
“Nah, anak-anak muda Panawijen. Kalian dengar. Yang membangun bendungan itu adalah Empu Purwa. Tiga tahun ia bekerja untuk itu. Tiga tahun ia membanting tulang untuk menyediakan sumber hidup kalian, yang kalian katakan jauh lebih bernilai dari seorang gadis, yang meskipun gadis itu anak Empu Purwa.”
Tak seorang pun kini yang berani menatap wajah Mahisa Agni. Betapa wajah itu membayangkan getaran perasaannya yang bergelora. Meskipun Mahisa Agni tidak mengatakannya, namun terasa betapa tuntutan keadilan memancar dari jiwanya. Kembali suasana menjadi senyap. Namun kini terasa betapa anak-anak muda Panawijen menjadi bimbang dan bingung. Ternyata tidak banyak diantara mereka yang mengerti, siapakah yang telah membuat bendungan itu untuknya, seperti dirinya sendiri yang baru saja mendengar dari gurunya.
Tetapi tiba-tiba suara Mahisa Agni memecah kesepian, “Empu Purwa tidak melakukanya, karena ia merasa berhak berbuat apa saja atas bendungan yang dibuatnya sendiri. Empu Purwa melakukannya karena ia sedang kehilangan keseimbangan perasaan, seperti kalian pernah juga mengalaminya dan bahkan baru saja mengalaminya. Meskipun Empu Purwa seorang pendeta yang baik, namun ia adalah manusia biasa seperti yang dikatakannya sendiri. Manusia yang kerdil dan penuh dengan kesalahan-kesalahan dan dosa. Manusia yang khilaf dan tidak melihat kesalahan sendiri. Manusia yang hanya tahu kepentingan sendiri lebih dari apapun. Nah, Empu Purwa pun mempunyai sifat-sifat itu. Namun sifat itu diakuinya. Disadarinya kesalahannya, dan ia telah berpesan untuk minta maaf kepada kalian.”
Yang menundukkan kepalanya menjadi semakin tunduk. Bahkan kemudian Mahisa Agni melihat wajah itu menjadi semakin suram. Akhirnya terasa nafas keputus asaan telah melanda mereka. Bendungan itu telah pecah, dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa.
“Nah, apa kata kalian kini?“ bertanya Mahisa kini?.
Tak seorang pun dapat menjawab, sehingga Mahisa Agni mendesaknya, “Apa. Apa yang akan kalian lakukan.”
Ki Buyut Panawijen menggelengkan kepalanya. Desahnya, “Hancur. Semuanya sudah hancur. Kami tidak dapat lagi menuntut Empu Purwa seperti jalan pikiranmu ngger. Kau benar, Empu Purwa telah berbuat atas barang yang dibuatnya sendiri. Tetapi kami akan mengalami bencana karenanya. Bencana, yang tidak dapat kami hindari. Sawah-sawah kami akan kering dan sumber hidup kami pun akan kering pula.”
“Apakah cukup demikian?” bertanya Mahisa Agni.
Ki Buyut terkejut mendengar pertanyaan itu. Sehingga terloncat pertanyaannya, “Apakah maksudmu Agni. Apakah yang cukup begitu?”
Mahisa Agni memandang wajah Ki Buyut yang putus asa itu. Dan hampir setiap wajah memancar perasaan yang Serupa. Putus asa.
“Apakah cukup dengan berputus asa,“ desis Mahisa Agni.
Tak seorang pun yang tahu akan maksud Mahisa Agni. Karena itu mereka masih saja berdiam diri. Bahkan ada diantara para pemuda yang menjadi sedemikian sedihnya, sedih tentang bendungan yang pecah, sedih tentang Panawijen dan sedih tentang dirinya sendiri, sehingga wajahnya menjadi pucat dan matanya berkaca-kaca. Mahisa Agni melihat wajah yang pucat dan berkaca-kaca itu. Karena itu tiba-tiba katanya lantang,
“Kenapa kalian hanya bersedih dan berputus asa saja?”
Ki Buyut Panawijen mengangkat wajahnya, kemudian ia bertanya, “Lalu apakah yang harus kami kerjakan Agni? Sumber hidup kami telah hancur. Kami tidak akan dapat bersawah tanpa air.”
Mahisa Agni kini merasa kebenaran kata-kata gurunya. Ia harus membangunkan rakyat Panawijen yang sedang tertidur itu. Maka katanya kemudian, “Nah, kalau demikian marilah kita bersama-sama memandang ke hari depan. Jangan kita kini saling salah-menyalahkan dan menganggap diri kita masing-masing dalam kebenaran. Karena di lain persoalan yang kita tanggapi, mungkin tanggapan kita berbeda-beda. Dengan demikian kita seakan-akan menganggap kebenaran ada pada diri kita masing-masing. Kini marilah kita lupakan. Marilah kita melihat sumber kesalahan yang paling dalam. Semuanya ini adalah karena nafsu Kuda Sempana yang berlebih-lebihan. Nafsunya yang tidak terkendali. Namun kita semua pun telah berbuat kesalahan pula.
Kenapa kita tidak berbuat sesuatu atas Kuda Sempana itu dahulu? Aku telah mengalahkannya, tetapi aku tidak membinasakannya sama sekali, sebab aku sangka ia akan menyadari kesalahannya. Tetapi ternyata akibatnya menjadi semakin panjang. Wiraprana terbunuh, Empu Purwa kehilangan keseimbangan meskipun untuk sesaat, tetapi yang sesaat itu telah menentukan kehidupan Panawijen di Kemudian hari. Kalian pun hampir-hampir terjerumus pula dalam persoalan yang tidak ada gunanya seperti aku juga.“
Mahisa Agni berhenti sesaat untuk menelan ludahnya. Ia tidak melihat perubahan sikap dari wajah orang-orang Panawijen. Namun ia meneruskan, “Karena itu marilah. Jangan tangisi bendungan yang telah pecah itu. Kita adalah laki-laki seperti Empu Purwa pula. Kalau beberapa puluh tahun Empu Purwa mampu membuat bendungan, kenapa kita tidak?”
Tiba-tiba Mahisa Agni melihat beberapa orang mengangkat wajah mereka. Mula-mula mereka heran melihat sikap Mahisa Agni yang meyakinkan. Namun tiba-tiba wajah mereka pun menjadi semakin terang. Apalagi ketika sekali lagi Mahisa Agni berkata.
“Dahulu Empu Purwa melakukannya berdua dengan beberapa orang cantrik selama tiga tahun. Nah, berapakah jumlah kita? Ayo, siapa yang cinta akan kampung halaman ini, kita bertekad untuk membangun kembali bendungan ini. Tetapi tidak disini. Lihat tebing sungai ini telah terlalu parah. Sungai ini seolah-olah menjadi jauh lebih lebar dari sebelumnya. Marilah kita lihat. Kita susuri sungai ini kemudian kita bangun bendungan baru. Kalau kita berhasil, maka kita akan dapat membangun daerah persawahan baru. Kita akan dapat bangkit kembali dari kehancuran akibat kelemahan perasaan guru atas hilangnya anak tunggalnya, seperti diakuinya sendiri. Sekarang, ayo, siapakah yang mau bersama-sama dengan aku melakukannya? Membangun bendungan baru dengan cucuran keringat kita sendiri untuk kepentingan kita sendiri. Bukan sekedar hadiah dari orang lain.”
Anak-anak muda Panawijen itu tergetar hatinya mendengar kata-kata Mahisa Agni. Mereka benar-benar seakan-akan tergugah dari dunia mimpinya yang indah. Mimpi yang tenteram sejuk seperti langit senja hari. Namun tiba-tiba mendung dan petir menggelegar di langit yang berwarna cerah itu. Dalam kecemasan dan ketakutan terasa Mahisa Agni telah membangunkannya.
Kini dihadapinya kenyataan itu. Mereka benar-benar harus berbuat sesuatu. Dan terdengar sekali lagi Mahisa Agni berkata, “Marilah kita bekerja. Kita tandai penderitaan rakyat kita dengan kerja. Kalau kerja itu berhasil, maka air yang akan kita teguk dan makanan yang akan kita telan, terasa akan semakin nikmat dari pada air dan makan yang kita terima dari orang lain. Meskipun mula-mula kita harus makan apa saja yang dapat kita makan. Mungkin mula-mula kita akan menjadi kurus karenanya, tetapi kita tidak mengorbankan anak cucu kita karena kemalasan kita.”
Anak-anak muda Panawijen itu kini sudah tidak menundukkan wajah mereka masing-masing lagi. Bahkan tampak wajah Ki Buyut yang tua itu pun menjadi cerah. Dalam keheningan suasana yang mencengkam kemudian, terdengar suara Ki Buyut parau,
“Kau benar-benar jantan Agni. Tanpa kau maka Panawijen sudah akan hancur. Dan kita terpaksa mengungsi bercerai berai mencari sesuap nasi. Kini timbul kembali harapan di dada kami, meskipun kami tidak akan dapat membangun tanah persawaban di daerah ini, tetapi di daerah lain, kita masih akan tetap bersama-sama dalam satu perjuangan untuk hidup kami dan anak cucu kami tanpa menggantungkan diri kami kepada belas kasihan orang lain.”
“Sekarang siapakah yang bersedia bekerja bersama aku,” teriak Mahisa Agni tiba-tiba.
Sesaat suaranya itu bergetar saja di udara, seakan-akan tak seorang pun yang mendengarnya. Tetapi Mahisa Agni menyadari, bahwa suaranya itu sedang bergolak di dalam dada anak-anak muda Panawijen. Semakin lama semakin dahsyat, sehingga akhirnya meledaklah sambutan atas ajakan itu. Anak-anak muda itu berteriak-teriak seperti orang mabuk tuak, kata mereka,
“Aku. Aku Agni. Aku akan turut membangun bendungan itu bersamamu.”
Mahisa Agni melihat tangan-tangan yang terangkat tinggi-tinggi untuk menyambung tubuh-tubuh mereka supaya dapat dilihat oleh Mahisa Agni. Dan teriakan-teriakan itu masih terus beruntun sahut menyahut. Bahkan, kemudian bukan saja anak-anak muda, tetapi orang-orang tua dan perempuan pun berteriak nyaring,
“Aku, aku, aku, Agni. Aku ikut serta dalam pekerjaan itu.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukan kepalanya. Terasa sesuatu berdesir di dalam dadanya. Tetapi ia tersenyum karenanya. Anak-anak muda Panawijen itu masih saja berteriak-teriak tak habis-habisnya. Mereka sudah melupakan kemarahan mereka terhadap Mahisa Agni. Mereka telah melupakan kemarahan mereka terhadap Empu Purwa. Kini yang ada di kepala mereka, adalah sebuah bendungan baru.
“Kalau kalian bersedia,” berkata Mahisa Agni kemudian, “marilah pekerjaan itu segera kita mulai. Jangan menunggu padi di dalam lumbung-lumbung kita habis. Jangan menunggu air semakin deras karena hujan menjadi sering. Kalau kita bekerja keras dan penuh kemauan, maka pekerjaan itu akan segera selesai. Tidak perlu menunggu tiga tahun, seperti yang dilakukan oleh Empu Purwa yang hanya beberapa orang itu, tetapi karena kita bekerja dengan tenaga yang berlipat duapuluh kali, maka kita harus dapat menyelesaikannya dalam tiga bulan. Apakah kalian sanggup?”
“Sanggup Agni. Sanggup,” teriak mereka.
Mahisa Agni kini menjadi semakin puas. Ia telah berhasil membangunkan rakyat yang selama ini seakan-akan tertidur dibuai oleh kesuburan tanahnya, sehingga seakan-akan makan dan minum mereka dapat datang sendiri tanpa mereka berbuat sesuatu. Namun kini mereka harus bekerja keras. Bekerja dengan tenaga sendiri untuk kepentingan sendiri dan anak cucu. Supaya di masa-masa mendatang anak cucu mereka tidak mengutuk mereka, sebagai orang-orang malas yang hanya mampu makan apabila disuapi oleh orang lain.
“Kalau demikian,” berkata Mahisa Agni kemudian, “sekarang marilah kita pulang. Pulang ke rumah masing-masing. Kita lihat apakah cukup alat pada kita untuk membangun bendungan baru. Besok, aku dan beberapa anak-anak muda ingin berjalan menyusur sungai itu ke udik untuk mencari tempat yang sebaik-baiknya, dimanakah bendungan baru itu harus kita bangun. Tempat itu harus memenuhi beberapa syarat. Tidak terlalu dalam dan tidak terlalu lebar, supaya air segera dapat naik. Tetapi juga tempat yang cukup sarana untuk membangun bendungan itu. Batu dan kayu.”
“Aku ikut dengan kau Agni,“ terdengar suara bersahut-sahutan diantara mereka.
“Terima kasih, tetapi sementara ini aku hanya memerlukan dua tiga orang saja diantara kalian. Sekarang pulanglah. Nanti aku akan menghubungi kalian yang akan pergi bersama aku besok.”
“Hem,“ Mahisa Agni menggeram di dalam hatinya, ternyata betapapun lemahnya rakyat Panawijen, namun apabila tersentuh kepentingan hidupnya yang paling dalam, maka hati mereka itu pun tergetar pula. Mereka yang berdiri membatu ketika mereka melihat Kuda Sempana berusaha menangkap Ken Dedes, kini aku buat mereka menggeretakkan giginya.
Tetapi angan-angan Mahisa Agni terputus ketika didengarnya suara di sekitarnya menjadi semakin riuh, “Mahisa Agni. Di manakah pendeta tua itu? Ayo Tunjukkan kepada kami Biarlah kami menghakiminya.”
Mahisa Agni memandang berkeliling. Satu-satu ditatapnya pandangan-pandangan mata yang menyala. Beberapa anak muda yang tidak lagi dapat menahan diri telah mengacungkan tinjunya. Terdengar suara diantara mereka,
“Agni, kami telah menerima gurumu diantara kami. bertahun-tahun ia hidup seperti keluarga sendiri. Tetapi tiba-tiba ia mengkhianati kami dengan merusak bendungan itu hanya karena anaknya hilang. Satu orang itu apakah sudah cukup berharga untuk menghancurkan kehidupan kami disini?”
“Ayo Agni.“ sahut yang lain, “jangan termenung seperti kera kedinginan.”
“Hem,“ kali ini Mahisa Agni benar-benar menggeram. Kata-kata yang didengarnya agaknya telah terlalu tajam baginya. Meskipun demikian ia masih berusaha menahan hatinya. Bahkan ia masih mencoba berkata kepada Ki Buyut Panawijen, “Ki Buyut. Apakah Ki Buyut memperkenankan aku berkata seorang diri dihadapan Ki Buyut sehingga Ki Buyut akan dapat mengetahui persoalan yang sebenarnya?”
Buyut Panawijen pun ternyata benar-benar telah marah. Ia merasa bahwa daerahnya telah dikorbankan oleh Empu Purwa. Karena itu maka jawabnya lantang, “Angger. Aku adalah salah satu dari rakyat Panawijen ini. Tak ada persoalan yang dapat kau sampaikan kepadaku tanpa didengar oleh seluruh rakyat. Jangan mencoba membujuk aku.”
“Tidak Ki Buyut,“ potong Agni cepat-cepat, “tetapi aku mengharap bahwa Ki Buyut akan mampu berpikir lebih tenang dari pada orang lain.”
“He, kau sudah mulai menghina pula,” jawab Ki Buyut sama sekali diluar dugaan Mahisa Agni, “kau sangka orang-orang Panawijen ini tidak mampu berpikir?”
Terdengar suara yang ribut di sekitar Mahisa Agni. Beberapa anak muda berkata, “Jangan menghina kami Agni. Ayo dimana gurumu. Kesabaran kami telah sampai ke ubun-ubun.”
“Bukan begitu Ki Buyut,“ sahut Agni cepat-cepat, “maksudku, di dalam suasana ini, maka sulitlah diketemukan pendapat yang jernih. Dalam suasana yang tenang, maka akan tampaklah persoalannya, seperti sebutir batu di dasar air. Kalau airnya bergolak, maka bentuk batu itu tidak akan kita lihat sewajarnya. Tetapi kalau air itu tenang, maka apa yang kita lihat akan mendekati bentuk yang sebenarnya.”
“Jangan mempersulit diri ngger,” jawab Ki Buyut, “Aku sependapat dengan orang-orang lain, bawalah gurumu kemari. Kau akan terlepas dari segala tuntutan. Dan bukankah gurumu itu lebih mengetahui persoalannya daripada kau Agni? Kalau gurumu nanti dapat memberi kami penjelasan sebaik-baiknya, dan penjelasan itu dapat kami mengerti, maka selesailah sudah persoalannya.”
Kembali Mahisa Agni terdiam. Hampir setiap kata yang diucapkan terasa salah. Ia hampir tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk mengatakan seluruh persoalan. Dihadapan suasana yang panas itu, maka hampir dapat dipastikan bahwa kata-katanya akan mengalir seperti angin yang menggoyangkan daun-daun turi yang kini telah condong, karena tanahnya tempat berpegangan sedikit demi sedikit telah dihanyutkan air. Mahisa Agni itu terkejut ketika terdengar Ki Buyut yang semakin marah itu membentak,
“Agni, dimanakah gurumu?”
Agni kini tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Kepalanya menjadi pening. Pikirannya yang jernih pun berangsur-angsur menjadi keruh. Dilihatnya orang-orang yang berdiri di sekitarnya itu sebagai hantu-hantu yang akan menghisap darahnya. Karena itu tiba-tiba dadanya bergolak. Kini Agni tidak lagi menundukkan wajahnya, tetapi menjalarlah darah kemudaannya. Betapapun gurunya mencoba berpesan kepadanya untuk berlaku sareh, namun ia adalah seorang anak muda. Ketika sekali lagi ia mendengar Ki Buyut Panawijen membentaknya, maka tiba-tiba ia merasa hatinya menjadi sangat pedih.
Gurunya, yang mengasuhnya sejak kanak-kanak, sama sekali tidak pernah membentaknya. Apabila gurunya marah kepadanya, maka kemarahannya itu selalu dapat diterimanya dengan hati terbuka. Tetapi kini, orang-orang itu membentak-bentaknya seperti membentak-bentak orang buronan. Maka diluar dugaan sekian banyak orang, Agni menjawab lantang.
“Jangan cari guruku. Jangan cari Empu Purwa yang tua itu. Disini berdiri muridnya. Mahisa Agni. Segala kesalahan yang dilakukannya, segala permintaan maaf yang tulus yang telah dipesankannya kepadaku, apabila itu sama sekali tidak dapat kalian mengerti, maka adalah tanggung jawabku untuk menyelesaikannya. Kini yang ada adalah Mahisa Agni. Mahisa Agni, kalian dengar.”
Sesaat orang-orang yang berdiri di sekitar Mahisa Agni itu terbungkam. Mereka memandang Mahisa Agni yang berdiri tegak seperti patung. Tetapi orang-orang Panawijen itu sudah benar-benar dikuasai oleh kemarahannya, sehingga mereka sudah tidak dapat berpikir tenang. Mereka telah kehilangan segala macam pertimbangan-pertimbangan. Ketika mereka melihat Mahisa Agni berkeras hati tidak mau menunjukkan Empu Purwa, yang disangkanya bersembunyi maka terdengar beberapa orang berkata,
“Agni. Tunjukkan gurumu, atau kau akan mengalami nasib yang jelek seperti bendungan itu.”
Wajah Mahisa Agni tiba-tiba menyala seperti wajah-wajah orang Panawijen yang berdiri di sekitarnya. Kini ia tegak diatasi kedua kakinya. Bahkan semakin kokoh. Dipandangnya sekali lagi wajah-wajah orang-orang yang berdiri mengitarinya. Hampir semuanya telah dikenalnya baik-baik. Anak-anak muda, orang-orang setengah umur, orang-orang tua dan diantara mereka berdiri Ki Buyut Panawijen yang pernah mengaku anak terhadapnya. Tetapi sahabatnya itu, dalam keadaan yang langsung menyentuh sumber hidup mereka, maka mereka seakan-akan telah melupakannya. Mereka tidak lagi dapat diajak berbicara. Dan sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan persoalannya dengan tenang. Mereka berkeras menuduh gurunya bersembunyi.
Ketika sejenak Mahisa Agni tidak menjawab, maka terdengar kembali suara diantara mereka, “Ayo. Jangan mematung. Cepat sebelum kami kehilangan kesabaran.”
Kata-kata benar-benar tidak menyenangkan hati Mahisa Agni. Tanpa sesadarnya ia berpaling, mencari siapakah yang berkata itu. Dengan matanya ia menatap seorang anak muda yang tegap kekar dan berwajah keras. Tiba-tiba sekali lagi jawaban Mahisa Agni mengejutkan mereka. Benar-benar tidak mereka sangka. Katanya,
“Hai anak-anak muda Panawijen. Aku kenal kalian dengan baik, seperti kalian mengenal aku. Kalau kau sekarang berkeras menuduh aku menyembunyikan guruku, dan kalian menganggap itu suatu kesalahan. Nah, kalian mau apa?”
Pertanyaan Mahisa Agni benar-benar langsung menusuk setiap dada anak-anak muda yang sedang marah itu. Hampir bersamaan mereka menjawab, “Agni. Jangan terlalu sombong. Hal ini agaknya merupakan hari yang jelek bagimu.”
Mahisa Agni melihat anak-anak muda itu bergerak selangkah maju. Tetapi Mahisa Agni masih tetap di tempatnya. Ia benar-benar tidak takut mengalami perlakuan yang bagaimanapun juga. Ia sudah siap untuk berkelahi sekalipun melawan semua orang yang berdiri di sekitarnya. Namun dalam pada itu tiba-tiba kembali terngiang suara gurunya. Suaranya yang sejuk damai. Mahisa Agni menggeretakkan giginya. Apakah ia harus menyerahkan kepalanya dalam keadaan seperti itu. Apakah ia harus berbaring dan dibiarkannya anak-anak muda Panawijen itu berganti-ganti melemparinya dengan batu sehingga ia tertimbun mati. Sesaat Mahisa kembali menjadi bimbang. Tetapi anak-anak muda itu maju lagi beberapa langkah sambil mengumpat-umpatinya.
Mahisa Agni yang kemudian menjadi bimbang kembali itu berkata parau, “Ki Buyut apakah Ki Buyut tidak dapat menahan mereka.”
Ki Buyut itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Agni ternyata kau benar-benar berkeras kepala. Kau tidak mau menunjukkan dimana Empu Purwa itu berada. Dengan demikian maka aku tidak punya keinginan untuk menolongmu. Selagi kau tidak mau menolong kami pula menemukan gurumu. Gurumu yang telah benar-benar merusak hidup pedukuhan ini, dan hidupku. Anakku mati karena anaknya. dan pedukuhanku akan mati juga karena perbuatannya.”
Kini Mahisa Agni tidak mempunyai kesempatan lain. Namun tiba-tiba timbullah akalnya. Tak apalah seandainya ia terpaksa sedikit menyombongkan dirinya, namun dalam pada itu ia masih berusaha untuk yang terakhir kalinya menghindarkan perkelahian atau bentrokan-bentrokan yang bisa saja tiba-tiba terjadi. Karena itu, maka tiba-tiba Mahisa Agni menengadahkan dadanya. Sepasang tangannya bertolak pinggang. Dengan lantangnya ia berkata kepada Ki Buyut Panawijen,
“Ki Buyut. Kalau Ki Buyut masih menggugat kematian anakmu itu, maka menyesallah aku bahwa aku telah pernah menyelamatkannya. Disini, di bawah bendungan ini Wiraprana itu hampir mati pula dibunuh oleh Kuda Sempana. Pada saat itu, Wiraprana mencoba bersombong diri, mencoba melawan Kuda Sempana meskipun maksudnya baik. Tetapi seandainya aku tidak menolongnya, maka umur Wiraprana telah putus pada saat itu pula. Pada saat belum tampak hubungan yang rapat antara puteramu itu dengan puteri guruku. Untuk kedua kalinya aku menyelamatkan nyawa puteramu itu ketika ia menerima tantangan seorang anak muda dari Tumapel.
Apakah Wiraprana tidak pernah mengatakannya? Anak muda itu bernama Mahendra. Akulah yang pada saat itu menamakan diriku Wiraprana dan bertempur melawannya. Kalau kemudian Wiraprana itu akhirnya terbunuh juga oleh Kuda Sempana, itu pun bukan sekedar salah puteri guruku. Ki Buyut sendiri tidak pernah mencoba menjatuhkan hukuman apapun kepada Kuda Sempana. Dua kali aku dapat mengalahkannya di Panawijen, disaksikan oleh Ki Buyut sendiri. Dimana anak-anak muda Panawijen tak seorang pun yang berani berbuat apa-apa terhadap Kuda Sempana itu. Dimana anak-anak Panawijen sama sekali tidak berani marah kepada anak muda yang telah berusaha menodai padukuhan ini.“
Mahisa Agni berhenti sejenak. Ditatapnya setiap wajah yang berdiri mengitarinya. Ki Buyut, anak-anak muda dan kemudian orang-orang tua laki-laki perempuan. Kemudian katanya kepada anak-anak muda Panawijen,
“Nah. Apa yang telah kalian lakukan untuk melindungi gadis itu. Tidak hanya pada saat terakhir, pada saat Kuda Sempana datang bersama Akuwu. Tetapi sebelum itu. Sehari sebelum itu? Kalian lebih senang bersembunyi. Kalian sama sekali tidak berani berbuat apa-apa melawan Kuda Sempana. Sekarang ternyata kalian dapat menjadi marah. Marah karena kepentingan kalian langsung yang kalian persoalkan. Karena kebutuhan kalian sendiri.“ Sekali lagi Mahisa Agni berhenti, sekali lagi ia memandang berkeliling.
Kata-kata itu kata-kata pameleh yang diucapkan oleh Mahisa Agni itu, terasa menghunjam ke dalam dada setiap anak muda di Panawijen. Mereka merasa kebenaran kata-kata itu, bahwa mereka sama sekali tidak berani berbuat apa-apa atas Kuda Sempana. Ketika Ken Dedes minta perlindungan mereka maka mereka hanya berjejal-jejal tanpa berbuat sesuatu. Bahkan, ketika Kuda Sempana maju selangkah, mereka berloncatan tercerai-berai, meskipun kemudian ada juga keinginan mereka membela Ken Dedes, namun ketakutan merekalah yang selalu mencegah mereka.
Meskipun demikian sudah tentu, anak-anak Panawijen yang merasa kehilangan sumber hidupnya, dan sedang dibakar oleh kemarahan itu tidak mau menerima ucapan itu begitu saja. Dalam nyala kemarahan, mereka merasa Mahisa Agni telah mengungkat-ungkat hal-hal yang memilukan bagi mereka. Maka jawab anak muda yang tinggi besar, berdada bidang dan berwajah keras,
“Agni, ternyata kau mencoba menggugat lagi. Apapun yang kami lakukan sama sekali bukan suatu kesalahan. Kami benar-benar tidak berani melawan Kuda Sempana. Apa salah kami? Apakah ada seorang yang dapat memaksa kami untuk melakukan perbuatan yang kami tidak berani melakukan? Apalagi gadis itu bukanlah langsung berhubungan dengan kepentingan kami. Nah, bendungan adalah sumber hidup kami. Bendungan bagi kami jauh lebih berharga dari seorang gadis, meskipun gadis itu bernama Ken Dedes puteri Empu Purwa. Biarlah orang mengatakan bahwa kami terlalu mementingkan diri kami. Tetapi bukan diriku sendiri. Diri kami adalah seluruh penduduk Panawijen.”
Mahisa Agni menggeretakkan giginya. Dengan lantang ia menjawab, “Bagus. Kalau kau sekarang menjadi seorang pemberani karena kepentinganmu. Kepentingan kamu sekalian, nah, ayo lakukan kehendakmu atasku. Aku adalah Mahisa Agni, murid Empu Purwa yang telah mampu mengalahkan Kuda Sempana yang kau takuti. Kalau kalian tidak berani melawan Kuda Sempana, dan Kuda Sempana itu dapat aku kalahkan, bahkan kalau aku mau aku dapat membunuhnya, maka apa arti kalian itu bagiku. Setiap langkah yang kalian buat, tebusan adalah nyawa kalian. Tanganku akan mampu membunuh seseorang dengan satu pukulan. Nah, marilah. Marilah, siapa yang ingin mati lebih dahulu. Barangkali kalian berpikir, lebih baik mati karena tanganku dari pada mati kelaparan. Mungkin kemudian aku akan mati pula karena lawan terlalu banyak. Tetapi aku berkata sesungguhnya, bahwa lebih dari separuh dari kalian akan mati juga bersama aku.”
Kata-kata itu bergetar seperti getaran guruh yang menggelegar di langit. Kata-kata yang diucapkan oleh Mahisa Agni yang dengan sepenuh tenaga mencoba menahan perasaannya. Disusunnya kalimat-kalimat itu dengan cermatnya. Dicobanya menyombongkan dirinya untuk menakuti-takuti anak-anak muda Panawijen. Ia mengharap anak-anak muda itu menjadi ngeri, dan mengurungkan niatnya, memaksanya untuk mempertahankan diri. Sesaat Mahisa Agni menunggu apa yang akan mereka lakukan. Mahisa sadar, apabila anak-anak Panawijen benar-benar menjadi pemberani, maka katanya akan mempercepat peristiwa yang sama sekali tidak dikehendaki oleh gurunya.
Namun beberapa saat anak-anak muda Panawijen itu masih berdiam diri. Ketika Mahisa Agni sekali lagi memandangi mereka maka tampaklah perubahan pada wajah-wajah mereka. Sebenarnyalah kata-kata Mahisa Agni itu telah berhasil mempengaruhi perasaan anak-anak Panawijen. Mereka sama sekali bukanlah pemberani, sebab mereka bisa hidup dalam suasana yang tenteram damai. Itulah sebabnya ketika Mahisa Agni mengatakan, bahwa ia mampu membunuh separuh dari mereka, maka tiba-tiba mereka menjadi ngeri. Seperti mereka menghadapi Kuda Sempana, maka mereka hanya berani berdiri saja melingkarinya. Dan ternyata Mahisa Agni dapat mengalahkan Kuda Sempana itu.
Apa yang dikatakan Mahisa Agni telah mengingatkan mereka, bahwa sebenarnya mereka telah melihat sendiri, Mahisa Agni benar-benar dapat mengalahkan Kuda Sempana. Benar-benar apabila anak muda itu mau, Kuda Sempana dapat dibunuhnya. Tatapi Mahisa Agni tidak melakukannya. Sekarang, Mahisa Agni itu pun berdiri teguh seperti Kuda Sempana. Bahkan karena kata-katanya, seakan-akan Mahisa Agni menjadi bertambah garang. Mahisa Agni melihat perubahan itu. Segera ia mencoba menekan mereka lebih dalam lagi, katanya,
“Ayo. Kenapa kalian berdiam diri. Aku akan mengatakan sekali lagi kepastian tekadku. Jangan mencari guruku. Aku akan mewakilinya.”
Wajah-wajah di sekitarnya tampak menjadi semakin buram. Warna-warna merah yang merayapi wajah itu menjadi semakin padam. Dan terdengar Mahisa Agni meneruskan,
“Nah. Ingat, apa yang dapat aku lakukan atas Kuda Sempana itu. Aku seorang murid Empu Purwa. Lalu apakah yang dapat dilakukan oleh guruku itu? Kalau kalian benar-benar ingin menemuinya dan akan menghukumnya, dengarlah lebih dahulu. Empu Purwa telah memecahkan bendungan ini karena luapan perasaannya. Bendungan yang tak dapat digoyahkan oleh banjir yang setiap tahun, setiap musim hujan itu, ternyata pecah oleh tangannya. Kalian dengar. Pecah karena tangannya. Bagaimana kalau tangan itu menyentuh kepala kalian?”
Yang mendengar kata-kata itu segera mengerutkan lehernya. Alangkah mengerikan. Tangan itu dapat memecahkan bendungan. Ya, bagaimana kalau tangan itu menyentuh kepala mereka?.
Mahisa Agni tidak melepaskan kemungkinan yang semakin baik itu. Dengan suara gemuruh ia meneruskan, “Nah, anak-anak muda Panawijen. Apakah yang akan kalian lakukan sekarang? Kalau kalian merasa bahwa kalian telah berbuat untuk kepentingan kalian, maka Empu Purwa pun berbuat untuk kepuasannya. Hai, orang-orang tua di Panawijen. Katakanlah kepada anak cucumu yang sedang dibakar oleh kemarahannya. Siapakah yang telah membuat bendungan itu. Siapa? Apakah kalian pada saat kalian membuka tanah pertanian di Panawijen ini telah membuat bendungan itu? Ayo, katakanlah dengan jujur, siapa yang telah membuat bendungan itu untuk kalian, dan apakah yang telah kalian buat untuknya?”
Ketika Mahisa Agni diam sesaat, maka suasana benar-benar menjadi sepi dan tegang. Gemuruh air di bendungan semakin lama telah menjadi semakin berkurang. Hanya kadang-kadang masih terdengar guguran-guguran tanah tebing sungai yang menjadi semakin aus dibawa arus air yang seakan-akan mengamuk.
Mereka terkejut ketika mereka mendengar gemuruh tanah di samping mereka. Ketika Mahisa Agni berpaling, dilihatnya pohon turi yang telah miring itu dengan cepatnya jadi semakin condong dan akhirnya meluncur ke dalam arus air, Namun arus air sudah tidak begitu deras lagi, sehingga sisa akarnya masih juga dapat menahannya. Pohon turi itu kini seperti seorang yang sangat malang, terbaring di permukaan air, berpegangan pada beberapa lembar akarnya yang sudah lemah.
Sebenarnya Mahisa Agni sendiri, hanya terasa tersayat melihat keruntuhan tebing sungai di sekitar bendungan itu. Seperti juga anak-anak muda yang lain, bendungan itu mempunyai arti yang sangat banyak baginya, bagi Panawijen dan bagi kehidupan di padukuhan itu. Meskipun demikian, ketika suasana sepi itu menjadi semakin sepi, terdengar suaranya memecah,
“Ayo, siapakah diantara kalian yang berani berkata dengan jujur, siapakah yang telah membuat bendungan itu? Siapa?”
Belum seorang pun yang menjawab pertanyaan itu, sehingga Mahisa Agni bertanya kepada Ki Buyut Panawijen, “Ki Buyut. Ki Buyut tentu mengetahui, siapakah yang telah merencanakan dan membuat bendungan itu dengan susah payah dan diserahkannya kepada Panawijen?”
Dada Buyut Panawijen itu berdesir mendengar pertanyaan Mahisa Agni. Pertanyaan itu benar-benar tidak disangkanya akan diberikan kepadanya. Karena itu sesaat ia berdiam diri. Dicobanya untuk mengatasi debar jantungnya. Sehingga kini Mahisa Agni lah yang mendesaknya,
“Siapa? Siapa Ki Buyut. Biarlah anak-anak muda yang sedang marah itu mendengarnya, siapakah yang telah menyediakan sumber hidup mereka. Supaya mereka menyadari apa arti kata-kata mereka, bahwa bendungan itu bagi mereka jauh lebih berharga dari seorang gadis meskipun gadis itu bernama Ken Dedes, puteri Empu Purwa.”
Ki Buyut Panawijen menjadi semakin bingung. Anak-anak muda Panawijen pun menjadi semakin bingung pula. Mereka masih diliputi oleh suasana kecemasan, karena Mahisa Agni benar-benar akan bertahan, yang pasti akan melampaui kekuatan Kuda Sempana. Kini mereka melihat betapa Buyut Panawijen menjadi kebingungan. Akhirnya, anak-anak muda Panawijen itu terkejut bukan kepalang ketika mereka mendengar Ki Buyut itu menjawab lirih dan penuh keragu-raguan,
“Empu Purwa ngger. Yang membuat bendungan itu adalah Empu Purwa.”
Betapa wajah-wajah di sekitar Mahisa Agni menjadi sangat gelisah. Sesaat mereka tidak dapat mengerti jawaban itu, bahkan mereka hampir tidak dapat mempercayainya. Namun terdengar Mahisa berkata,
“Nah, anak-anak muda Panawijen. Kalian dengar. Yang membangun bendungan itu adalah Empu Purwa. Tiga tahun ia bekerja untuk itu. Tiga tahun ia membanting tulang untuk menyediakan sumber hidup kalian, yang kalian katakan jauh lebih bernilai dari seorang gadis, yang meskipun gadis itu anak Empu Purwa.”
Tak seorang pun kini yang berani menatap wajah Mahisa Agni. Betapa wajah itu membayangkan getaran perasaannya yang bergelora. Meskipun Mahisa Agni tidak mengatakannya, namun terasa betapa tuntutan keadilan memancar dari jiwanya. Kembali suasana menjadi senyap. Namun kini terasa betapa anak-anak muda Panawijen menjadi bimbang dan bingung. Ternyata tidak banyak diantara mereka yang mengerti, siapakah yang telah membuat bendungan itu untuknya, seperti dirinya sendiri yang baru saja mendengar dari gurunya.
Tetapi tiba-tiba suara Mahisa Agni memecah kesepian, “Empu Purwa tidak melakukanya, karena ia merasa berhak berbuat apa saja atas bendungan yang dibuatnya sendiri. Empu Purwa melakukannya karena ia sedang kehilangan keseimbangan perasaan, seperti kalian pernah juga mengalaminya dan bahkan baru saja mengalaminya. Meskipun Empu Purwa seorang pendeta yang baik, namun ia adalah manusia biasa seperti yang dikatakannya sendiri. Manusia yang kerdil dan penuh dengan kesalahan-kesalahan dan dosa. Manusia yang khilaf dan tidak melihat kesalahan sendiri. Manusia yang hanya tahu kepentingan sendiri lebih dari apapun. Nah, Empu Purwa pun mempunyai sifat-sifat itu. Namun sifat itu diakuinya. Disadarinya kesalahannya, dan ia telah berpesan untuk minta maaf kepada kalian.”
Yang menundukkan kepalanya menjadi semakin tunduk. Bahkan kemudian Mahisa Agni melihat wajah itu menjadi semakin suram. Akhirnya terasa nafas keputus asaan telah melanda mereka. Bendungan itu telah pecah, dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa.
“Nah, apa kata kalian kini?“ bertanya Mahisa kini?.
Tak seorang pun dapat menjawab, sehingga Mahisa Agni mendesaknya, “Apa. Apa yang akan kalian lakukan.”
Ki Buyut Panawijen menggelengkan kepalanya. Desahnya, “Hancur. Semuanya sudah hancur. Kami tidak dapat lagi menuntut Empu Purwa seperti jalan pikiranmu ngger. Kau benar, Empu Purwa telah berbuat atas barang yang dibuatnya sendiri. Tetapi kami akan mengalami bencana karenanya. Bencana, yang tidak dapat kami hindari. Sawah-sawah kami akan kering dan sumber hidup kami pun akan kering pula.”
“Apakah cukup demikian?” bertanya Mahisa Agni.
Ki Buyut terkejut mendengar pertanyaan itu. Sehingga terloncat pertanyaannya, “Apakah maksudmu Agni. Apakah yang cukup begitu?”
Mahisa Agni memandang wajah Ki Buyut yang putus asa itu. Dan hampir setiap wajah memancar perasaan yang Serupa. Putus asa.
“Apakah cukup dengan berputus asa,“ desis Mahisa Agni.
Tak seorang pun yang tahu akan maksud Mahisa Agni. Karena itu mereka masih saja berdiam diri. Bahkan ada diantara para pemuda yang menjadi sedemikian sedihnya, sedih tentang bendungan yang pecah, sedih tentang Panawijen dan sedih tentang dirinya sendiri, sehingga wajahnya menjadi pucat dan matanya berkaca-kaca. Mahisa Agni melihat wajah yang pucat dan berkaca-kaca itu. Karena itu tiba-tiba katanya lantang,
“Kenapa kalian hanya bersedih dan berputus asa saja?”
Ki Buyut Panawijen mengangkat wajahnya, kemudian ia bertanya, “Lalu apakah yang harus kami kerjakan Agni? Sumber hidup kami telah hancur. Kami tidak akan dapat bersawah tanpa air.”
Mahisa Agni kini merasa kebenaran kata-kata gurunya. Ia harus membangunkan rakyat Panawijen yang sedang tertidur itu. Maka katanya kemudian, “Nah, kalau demikian marilah kita bersama-sama memandang ke hari depan. Jangan kita kini saling salah-menyalahkan dan menganggap diri kita masing-masing dalam kebenaran. Karena di lain persoalan yang kita tanggapi, mungkin tanggapan kita berbeda-beda. Dengan demikian kita seakan-akan menganggap kebenaran ada pada diri kita masing-masing. Kini marilah kita lupakan. Marilah kita melihat sumber kesalahan yang paling dalam. Semuanya ini adalah karena nafsu Kuda Sempana yang berlebih-lebihan. Nafsunya yang tidak terkendali. Namun kita semua pun telah berbuat kesalahan pula.
Kenapa kita tidak berbuat sesuatu atas Kuda Sempana itu dahulu? Aku telah mengalahkannya, tetapi aku tidak membinasakannya sama sekali, sebab aku sangka ia akan menyadari kesalahannya. Tetapi ternyata akibatnya menjadi semakin panjang. Wiraprana terbunuh, Empu Purwa kehilangan keseimbangan meskipun untuk sesaat, tetapi yang sesaat itu telah menentukan kehidupan Panawijen di Kemudian hari. Kalian pun hampir-hampir terjerumus pula dalam persoalan yang tidak ada gunanya seperti aku juga.“
Mahisa Agni berhenti sesaat untuk menelan ludahnya. Ia tidak melihat perubahan sikap dari wajah orang-orang Panawijen. Namun ia meneruskan, “Karena itu marilah. Jangan tangisi bendungan yang telah pecah itu. Kita adalah laki-laki seperti Empu Purwa pula. Kalau beberapa puluh tahun Empu Purwa mampu membuat bendungan, kenapa kita tidak?”
Tiba-tiba Mahisa Agni melihat beberapa orang mengangkat wajah mereka. Mula-mula mereka heran melihat sikap Mahisa Agni yang meyakinkan. Namun tiba-tiba wajah mereka pun menjadi semakin terang. Apalagi ketika sekali lagi Mahisa Agni berkata.
“Dahulu Empu Purwa melakukannya berdua dengan beberapa orang cantrik selama tiga tahun. Nah, berapakah jumlah kita? Ayo, siapa yang cinta akan kampung halaman ini, kita bertekad untuk membangun kembali bendungan ini. Tetapi tidak disini. Lihat tebing sungai ini telah terlalu parah. Sungai ini seolah-olah menjadi jauh lebih lebar dari sebelumnya. Marilah kita lihat. Kita susuri sungai ini kemudian kita bangun bendungan baru. Kalau kita berhasil, maka kita akan dapat membangun daerah persawahan baru. Kita akan dapat bangkit kembali dari kehancuran akibat kelemahan perasaan guru atas hilangnya anak tunggalnya, seperti diakuinya sendiri. Sekarang, ayo, siapakah yang mau bersama-sama dengan aku melakukannya? Membangun bendungan baru dengan cucuran keringat kita sendiri untuk kepentingan kita sendiri. Bukan sekedar hadiah dari orang lain.”
Anak-anak muda Panawijen itu tergetar hatinya mendengar kata-kata Mahisa Agni. Mereka benar-benar seakan-akan tergugah dari dunia mimpinya yang indah. Mimpi yang tenteram sejuk seperti langit senja hari. Namun tiba-tiba mendung dan petir menggelegar di langit yang berwarna cerah itu. Dalam kecemasan dan ketakutan terasa Mahisa Agni telah membangunkannya.
Kini dihadapinya kenyataan itu. Mereka benar-benar harus berbuat sesuatu. Dan terdengar sekali lagi Mahisa Agni berkata, “Marilah kita bekerja. Kita tandai penderitaan rakyat kita dengan kerja. Kalau kerja itu berhasil, maka air yang akan kita teguk dan makanan yang akan kita telan, terasa akan semakin nikmat dari pada air dan makan yang kita terima dari orang lain. Meskipun mula-mula kita harus makan apa saja yang dapat kita makan. Mungkin mula-mula kita akan menjadi kurus karenanya, tetapi kita tidak mengorbankan anak cucu kita karena kemalasan kita.”
Anak-anak muda Panawijen itu kini sudah tidak menundukkan wajah mereka masing-masing lagi. Bahkan tampak wajah Ki Buyut yang tua itu pun menjadi cerah. Dalam keheningan suasana yang mencengkam kemudian, terdengar suara Ki Buyut parau,
“Kau benar-benar jantan Agni. Tanpa kau maka Panawijen sudah akan hancur. Dan kita terpaksa mengungsi bercerai berai mencari sesuap nasi. Kini timbul kembali harapan di dada kami, meskipun kami tidak akan dapat membangun tanah persawaban di daerah ini, tetapi di daerah lain, kita masih akan tetap bersama-sama dalam satu perjuangan untuk hidup kami dan anak cucu kami tanpa menggantungkan diri kami kepada belas kasihan orang lain.”
“Sekarang siapakah yang bersedia bekerja bersama aku,” teriak Mahisa Agni tiba-tiba.
Sesaat suaranya itu bergetar saja di udara, seakan-akan tak seorang pun yang mendengarnya. Tetapi Mahisa Agni menyadari, bahwa suaranya itu sedang bergolak di dalam dada anak-anak muda Panawijen. Semakin lama semakin dahsyat, sehingga akhirnya meledaklah sambutan atas ajakan itu. Anak-anak muda itu berteriak-teriak seperti orang mabuk tuak, kata mereka,
“Aku. Aku Agni. Aku akan turut membangun bendungan itu bersamamu.”
Mahisa Agni melihat tangan-tangan yang terangkat tinggi-tinggi untuk menyambung tubuh-tubuh mereka supaya dapat dilihat oleh Mahisa Agni. Dan teriakan-teriakan itu masih terus beruntun sahut menyahut. Bahkan, kemudian bukan saja anak-anak muda, tetapi orang-orang tua dan perempuan pun berteriak nyaring,
“Aku, aku, aku, Agni. Aku ikut serta dalam pekerjaan itu.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukan kepalanya. Terasa sesuatu berdesir di dalam dadanya. Tetapi ia tersenyum karenanya. Anak-anak muda Panawijen itu masih saja berteriak-teriak tak habis-habisnya. Mereka sudah melupakan kemarahan mereka terhadap Mahisa Agni. Mereka telah melupakan kemarahan mereka terhadap Empu Purwa. Kini yang ada di kepala mereka, adalah sebuah bendungan baru.
“Kalau kalian bersedia,” berkata Mahisa Agni kemudian, “marilah pekerjaan itu segera kita mulai. Jangan menunggu padi di dalam lumbung-lumbung kita habis. Jangan menunggu air semakin deras karena hujan menjadi sering. Kalau kita bekerja keras dan penuh kemauan, maka pekerjaan itu akan segera selesai. Tidak perlu menunggu tiga tahun, seperti yang dilakukan oleh Empu Purwa yang hanya beberapa orang itu, tetapi karena kita bekerja dengan tenaga yang berlipat duapuluh kali, maka kita harus dapat menyelesaikannya dalam tiga bulan. Apakah kalian sanggup?”
“Sanggup Agni. Sanggup,” teriak mereka.
Mahisa Agni kini menjadi semakin puas. Ia telah berhasil membangunkan rakyat yang selama ini seakan-akan tertidur dibuai oleh kesuburan tanahnya, sehingga seakan-akan makan dan minum mereka dapat datang sendiri tanpa mereka berbuat sesuatu. Namun kini mereka harus bekerja keras. Bekerja dengan tenaga sendiri untuk kepentingan sendiri dan anak cucu. Supaya di masa-masa mendatang anak cucu mereka tidak mengutuk mereka, sebagai orang-orang malas yang hanya mampu makan apabila disuapi oleh orang lain.
“Kalau demikian,” berkata Mahisa Agni kemudian, “sekarang marilah kita pulang. Pulang ke rumah masing-masing. Kita lihat apakah cukup alat pada kita untuk membangun bendungan baru. Besok, aku dan beberapa anak-anak muda ingin berjalan menyusur sungai itu ke udik untuk mencari tempat yang sebaik-baiknya, dimanakah bendungan baru itu harus kita bangun. Tempat itu harus memenuhi beberapa syarat. Tidak terlalu dalam dan tidak terlalu lebar, supaya air segera dapat naik. Tetapi juga tempat yang cukup sarana untuk membangun bendungan itu. Batu dan kayu.”
“Aku ikut dengan kau Agni,“ terdengar suara bersahut-sahutan diantara mereka.
“Terima kasih, tetapi sementara ini aku hanya memerlukan dua tiga orang saja diantara kalian. Sekarang pulanglah. Nanti aku akan menghubungi kalian yang akan pergi bersama aku besok.”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar