PdLS-13
Kl BUYUT PANAWIJEN mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia masih juga bersedih atas bendungan yang pecah itu, tetapi ia berbesar hati pula, bahwa anak-anak muda di padukuhannya kini telah bangkit untuk menyelamatkan padukuhannya. Maka sejenak kemudian. Orang-orang Panawijen yang berdiri mengitari Mahisa Agni itu pun semakin lama semakin susut. Satu demi satu mereka meninggalkan tepian dan bendungan yang telah pecah itu. Sekali-sekali mereka berpaling, dan sekali-sekali mereka masih juga tergetar hatinya.
Bendungan yang selama ini memberi mereka air sebagai sumber hidup mereka. Kini Panawijen itu benar akan menjadi kering, seperti kutuk yang telah diucapkan oleh Empu Purwa yang dunianya menjadi gelap, karena lekatan kasihnya, puteri satu-satunya itu hilang. Puteri yang baginya sangat berharga, melampaui segalanya yang ada di dunia ini.
Ketika orang-orang itu kemudian telah habis kembali ke padukuhan, maka kembali Mahisa Agni berdiri seorang diri. perlahan-lahan itu berjalan semakin ke tepi. Sekali lagi diamat-amatinya bendungan yang pecah itu. Air berpancaran dan telah menggugurkan tebingnya. Bahkan dasarnya pun seakan-akan telah menghunjam semakin dalam.
“Memang tak mungkin,“ gumamnya, “tak mungkin dibangun bendungan di tempat ini.”
Namun bagaimanapun juga hati Mahisa Agni terpecah pula seperti bendungan itu. Bukan saja karena Panawijen menjadi kering, namun semua harapan dan anyaman perasaannya kini benar-benar telah buntu. Empu Purwa ternyata sama sekali tidak ingin untuk mengambil anaknya dengan cara yang sama. Empu Purwa benar-benar tidak mau melawan Tumapel, sebagai tempat ia bernaung. Orang tua itu tidak mau menimbulkan huru-hara dan menimbulkan kekacauan diantara penduduk Tumapel. Tetapi ia mendendam orang-orang yang melakukan perbuatan terkutuk itu, dengan mengucapkan ipat-ipat.
Dengan demikian, maka harapannya untuk melihat Ken Dedes kembali ke Panawijen kini lenyap seperti lenyapnya harapannya atas bendungan itu. Apalagi gurunya pun kemudian pergi meninggalkannya tanpa singgah dahulu di padepokannya.
Tetapi Mahisa Agni tidak harus menundukkan kepalanya, mengeluh dan berputus-asa. Ia baru saja berbicara dihadapan orang-orang Panawijen. Apakah mereka hanya cukup berputus asa? Ternyata kata-katanya itu tidak saja bermanfaat bagi orang-orang Panawijen, tetapi juga bermanfaat bagi dirinya sendiri. Ternyata kata-kata itu pun tertuju pula kepada dirinya sendiri dalam segi-segi yang berbeda.
Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Dadanya terasa berdebar. Tetapi kemudian ia mendapat kekuatan pula dalam dirinya. Kekuatan seperti yang didapatkan oleh orang-orang Panawijen yang lain. Karena itu, maka Mahisa Agni kini tidak lagi memandangi bendungan itu dengan kepala tunduk. pecahnya bendungan itu baginya merupakan tantangan yang harus dijawabnya. Ia tidak boleh menghindarinya, melarikan diri dari kuwajiban seperti yang dikatakannya sendiri kepada orang-orang Panawijen.
Dan Mahisa Agni pun kemudian segera menyiapkan dirinya menjawab tantangan itu. Mahisa Agni itu pun kemudian berjalan pula meninggalkan bendungan yang telah pecah itu. Di kejauhan masih dilihatnya punggung-punggung orang Panawijen yang berjalan perlahan-lahan meninggalkan bendungan itu pula.
“Mereka telah bangun dari tidurnya yang nyenyak, dan aku pun harus bangun pula dari tidurku yang dipenuhi oleh mimpi yang mengerikan,“ desis Mahisa Agni.
Demikianlah Mahisa Agni, di keesokan harinya mulai dengan pekerjaanya. Ia telah memilih beberapa anak-anak muda, dan tiga diantaranya akan dibawanya menyusuri sungai memilih tempat yang paling tepat untuk membangunkan bendungan barunya.
Pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang mudah bagi Mahisa Agni. Membuat bendungan, betapapun sederhananya, namun diperlukan pengenalan atas tempat dimana bendungan itu akan dibangun, alat dan bahan-bahan yang dapat dipergunakannya. Meskipun demikian Mahisa Agni telah membulatkan tekadnya, bahwa ia akan mampu membangunkannya bersama-sama dengan anak-anak muda Panawijen.
Hari itu, Mahisa Agni bersama tiga orang kawan-kawannya berjalan menyusuri sungai itu. Pagi-pagi benar mereka berangkat. Mereka mengharap bahwa hari itu juga, mereka akan mendapatkan tempat yang mereka cari. Bagi Mahisa Agni perjalanan itu sendiri, bukanlah perjalanan yang berarti baginya. Kesulitan yang akan dihadapi adalah memilih tempat yang baik, yang mungkin dibuat bendungan.
Tetapi bagi ketiga kawan-kawannya, yang seakan-akan tidak pernah mengenal jalan yang keluar dari padukuhan mereka, merasa bahwa perjalanan itu adalah perjalanan yang sangat berat. Perjalanan yang akan memerlukan ketrampilan, kekuatan dan tekad yang menyala-nyala. Namun Mahisa Agni selalu menguatkan hati mereka. Bahwa apa yang akan mereka lakukan adalah sebuah tamasya yang menyenangkan.
“Apakah kita akan menyusur sungai itu sampai ke padang rumput Karautan?” bertanya salah seorang dari mereka.
“Ya. Bahkan padang rumput Karautan merupakan kemungkinan yang pertama-tama. Padang itu apabila mungkin dialiri, maka pasti akan menjadi tanah yang subur,“ jawab Agni.
“Tetapi bagaimana dengan hantu Karautan itu.”
“Kau terlambat,“ sahut Agni sambil tertawa, “hantu itu telah pergi.” Ketiga anak muda itu terdiam. Tetapi mereka masih mencemaskan hantu yang menakutkan itu, sehingga Mahisa Agni terpaksa menjelaskan, “Aku mendengar dari hantu itu sendiri, bahwa ia akan segera meninggalkan padang rumput ini.”
Tampaklah ketiga kawan-kawannya itu kurang percaya. Salah seorang dari padanya berkata, “Ah, apakah kau pernah bertemu dengan hantu itu.”
“Ya.”
“Dan kau masih tetap hidup?”
Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Hantu itu tidak sejahat kata orang. Kalau kita tidak mengganggunya, maka hantu itu pun tidak akan marah.”
Kembali tampak wajah-wajah anak muda itu kurang percaya. Berkata salah seorang, “Mungkin hantu itu menipumu Agni. Bukankah hantu sering menipu orang.”
“Tidak, dan bukankah di padang rumput sekarang tidak pernah lagi terdengar berita tentang hantu itu. Bukankah hantu itu menepati janjinya.”
Tetapi Mahisa Agni itu terkejut ketika terdengar kawannya itu menjawab, “Aku masih mendengar bahwa seseorang bertemu dengan hantu itu lagi Agni.” Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab, sehingga kawannya itu berkata, “Agni. Mungkin kau terlalu sibuk memikirkan dirimu sendiri, memikirkan lukamu dan mungkin juga hilangnya adikmu dan terbunuhnya bakal iparmu itu, sehingga kau tidak pernah mendengar bahwa dalam beberapa hari ini hantu Karautan itu telah menampakkan dirinya kembali.”
Mahisa Agni benar-benar heran mendengar keterangan itu. Katanya, “Aku tidak dapat mengerti kata-katamu itu. Hantu itu sudah berjanji kepadaku.”
“Apakah kau dapat mempercayai mulut hantu,“ bertanya kawannya yang lain.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar bahwa Ken Arok kini telah berada di istana Tumapel. Tetapi apabila benar-benar hantu Karautan itu timbul lagi, pasti sama sekali bukan Ken Arok. Tetapi siapa?. Meskipun demikian Mahisa Agni itu menjawab,
“Ah, mungkin berita itu berita yang belum pasti kebenarannya. Mungkin seseorang yang ketakutan karena bertemu dengan orang lain, disangkanya hantu Karautan itu datang kembali.”
“Tidak Agni. Kabar itu telah aku dengar dari orang yang mendengar langsung ceritera seseorang yang mengalami sendiri.”
“Apa katanya?”
“Ketika orang itu menyangka bahwa hantu Karautan benar-benar sudah tidak ada, setelah sekian lama hilang beritanya maka ia memberanikan diri pulang sendiri di malam hari dari Tumapel, setelah ia mengunjungi saudaranya dan menukarkan kerisnya dengan milik saudaranya itu. Tetapi tiba-tiba dipadang ia bertemu dengan hantu itu.”
“Apa yang dilakukan oleh hantu itu?”
“Mencegatnya. Dan memukulnya seperti memukuli seorang penjahat.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. “Keris yang dibawanya dari Tumapel itu dirampasnya.”
“Tidak. Hantu itu tidak mengambil apa-apa daripadanya. Tetapi orang itu dipukuli sampai pingsan. Kemudian ditinggalkannya.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. “Aneh. Hantu yang dikenalnya dahulu, selalu merampas dan merampok orang-orang yang lewat. Tetapi hantu yang sekarang itu hanya memukuli saja sampai pingsan. Aneh,“ desisnya tanpa disengajanya.
“Apa yang aneh,“ bertanya seorang kawannya.
“Hantu itu,” sahut Mahisa Agni.
“Kenapa aneh? Bukankah hantu dapat saja berbuat apa saja sekehendaknya.”
“Sifat hantu itu berubah. Bukankah kita dahulu selalu mendengar bahwa korhan hantu Karautan, sebagian besar pasti mati. Dan semua kekayaan yang dibawanya habis dirampas?”
“Mungkin orang itu disangkanya mati pula.”
Mahisa Agni terdiam. Dicobanya untuk mencari kemungkinan, apakah kira-kira yang telah terjadi dipadang Karautan itu. Tetapi dengan kabar itu ia menduga bahwa hantu yang baru ini sama sekali bukan hantu yang sudah dikenalnya. hantu ini seakan-akan hanya ingin melepaskan dendam di hatinya, bukan merampok apalagi membunuh.
Sesaat mereka masih saling berdiam diri. Mereka berjalan perlahan-lahan menyusuri sungai naik ke udik. Tetapi Mahisa Agni tidak dapat segera mempercayainya, bahwa dipadang rumput itu kini telah dijumpai hantu yang menakutkan itu kembali. Tiba-tiba dada Mahisa Agni berdesir. Gurunya telah meninggalkan padepokan dengan luka di hatinya. Tetapi segera Mahisa Agni menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia takut sampai pada kesimpulan itu. Bahkan segera ia mencari alasan untuk menindas perasaannya.
“Guru baru kemarin meninggalkan padukuhan Panawijen. Sedang hantu itu telah dijumpai beberapa hari yang lalu.”
Tetapi tanpa dikehendakinya sendiri, di sudut hatinya terdengar suara, “Mungkin guru sudah tahu, bahwa anaknya hilang beberapa lama. Karena itu ia mendendam. Ketika ia datang menemui aku di bendungan, ia hanya akan memberikan beberapa pesan saja dan kemudian memecahkan bendungan itu. Seterusnya gurunya akan kembali ke padang rumput ini.”
“Gila,“ desisnya.
Ketiga kawan-kawannya terkejut. Serentak mereka berpaling, dan salah seorang dari padanya bertanya, “Apa Agni.”
Agni lah yang kemudian terkejut. Dengan terbata-bata ia menjawab sekenanya, “Hantu itu.”
“Kenapa?”
Mahisa Agni tidak menjawab. Kini kepalanya tertunduk, dan hatinya menjadi risau. Kembali di dalam dadanya terdengar suaranya sendiri melengking, “Tidak. Itu tidak mungkin, betapa guru kehilangan keseimbangan, tetapi ia tidak akan melakukan pekerjaan semacam itu. Dan bukankah guru tampaknya terkejut sekali ketika aku memberitahukan apa yang telah terjadi di Panawijen?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Bahkan kemudian ia menjadi malu akan kecemasannya itu, seakan-akan ia belum mengenal watak dan tabiat gurunya. Sehingga dengan demikian, maka Mahisa Agni itu pun dapat menenteramkan hatinya sendiri. Katanya di dalam hati,
“Aku yakin. Pasti bukan Empu Purwa. Kalau hantu itu ternyata guruku, biarlah aku dibunuhnya sekali. Tetapi aku yakin, bahwa orang itu adalah orang lain.”
Mereka berempat itu pun semakin lama menjadi semakin jauh dari pedukuhan mereka. Mereka berjalan perlahan-lahan sambil mengamat-amati sungai yang mereka telusuri. Mungkin mereka segera menemukan tempat yang baik untuk membangun bendungan. Semakin dekat dengan padukuhan mereka semakin baik. Tetapi sungai itu semakin lama agaknya menjadi curam. Tebingnya yang terdiri dari batu padas menjorok tinggi. Tumbuh-tumbuhan liar seolah-olah menutup tebingnya dengan daun-daunnya yang rimbun.
“Tebingnya menjadi semakin curam Agni. Semakin tidak mungkin lagi untuk membangun bendungan.”
“Kita berjalan terus. Suatu ketika akan menemukan tempat itu. Tempat yang baik untuk membangun bendungan.”
Mereka berempat pun berjalan terus. Semakin lama semakin jauh. Semakin jauh dari padukuhan mereka, tetapi semakin dekat dengan padang rumput Karautan.
“Kita akan sampai ke padang rumput itu Agni,“ berkata salah seorang dari mereka.
“Ya,” sahut Agni, “sudah aku katakan, kita akan memasuki padang rumput itu.”
“Tetapi hantu itu?”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Hantu itu berada di bagian lain. Ia mencegat orang-orang yang lewat. Daerah ini sama sekali tidak pernah dilewati orang. Orang mencari ikan pun tak pernah sampai ke tempat ini.”
“Tetapi bukankah hantu itu mengetahui dengan matanya yang tajam apa saja yang ingin dilihatnya? Bukankah hantu itu dapat melihat juga kehadiran kita dipadang rumput ini, dan hantu itu dapat terbang dalam waktu sekejap untuk mencegat kita?”
Mahisa Agni terpaksa tersenyum. Tetapi justru karena itu kawan-kawannya menjadi kurang senang, seakan-akan Mahisa Agni itu tidak mempercayainya. “Jangan cemas. Kalau hantu itu benar-benar kembali ke padang Karautan. Biarlah ia menemui aku. Aku sudah kenal baik dengan hantu itu.”
Ketiga kawan-kawannya terdiam. Mereka merasa bahwa Mahisa Agni tidak mempercayai ceritera mereka, atau seandainya anak muda itu percaya, agaknya ia sama sekali tidak takut, sehingga ketiga kawan Agni itu mempunyai tanggapan yang aneh kepadanya. Campur baur antara cemas, curiga dan berbangga.
Sementara itu matahari semakin lama semakin tinggi memanjat langit. Sinarnya yang terik bertebaran di atas pepohonan dan tubuh-tubuh mereka yang sedang melakukan perjalanan menyusuri sungai ke udik. Burung-burung liar tampak berterbangan di udara, dan awan yang putih mengapung dihanyutkan angin ke utara. Terasa panasnya seakan-akan membakar kulit. Keringat mereka seolah-olah terperas dari tubuh-tubuh mereka sehingga pakaian-pakaian mereka menjadi basah kuyup.
“Panasnya bukan main.” salah seorang kawan Mahisa Agni mengeluh.
“Ya,” sahut yang lain.
Tetapi Mahisa Agni masih saja berdiam diri. Ia sudah terlalu biasa dengan panas di perjalanan. Meskipun kawan-kawan mereka adalah petani-petani yang biasa berjemur di sawah, namun kali ini mereka dirayapi oleh perasaan takut dan cemas, sehingga seakan-akan sinar matahari itu menjadi jauh lebih panas dari matahari di Panawijen. Apalagi ketika kemudian mereka melihat sebuah padang rumput terkapar dihadapan mereka. Di sana sini mereka melihat gerumbul-gerumbul liar bertebaran. Padang rumput itu adalah padang yang langsung berhubungan dengan padang rumput Karautan. Ketika mereka mulai menginjakkan kaki-kaki mereka di atas padang itu, Mahisa Agni melihat, betapa kecurigaan mencengkam hati mereka.
“Jangan cemas,“ desis Mahisa Agni. “padang ini belum padang Karautan.”
Tetapi kata-kata penenang itu sama sekali tidak menenangkan hati mereka. Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu masih saja diliputi oleh perasaan cemas dan ngeri. Mereka mengharap bahwa sebelum mereka memasuki padang Karautan, mereka telah menemukan tempat itu. Tempat yang baik untuk membuat bendungan.
Mahisa Agni melihat bahwa ketiga orang itu hampir tak sanggup lagi berjalan karena kecemasannya. Pada ketiga kawannya itu tampak sifat-sifat anak-anak muda Panawijen yang sebenarnya. Kadang-kadang Mahisa Agni menjadi geli melihat bagaimana anak-anak itu dengan nafsu yang menyala-nyala berteriak.
“Aku sanggup, aku sanggup. Namun apabila di hadapannya membayang kesulitan dan bahaya, maka terasa hatinya berkerut sebesar menir.”
Seperti apa yang pernah terjadi atas mereka dihadapan Kuda Sempana. Dan apa yang akan dilakukan terhadapnya sendiri. Kini ketakutan itu berulang kembali menghadapi hantu Karautan yang belum pasti adanya. Dalam pada itu mereka masih berjalan terus. Sungai itu masih bertebing curam dan dalam. Tetapi Mahisa Agni melihat tanda-tanda bahwa semakin lama tebing itu sudah menjadi semakin rendah.
“Kalian lihat,“ berkata Mahisa Agni, “tebing ini sudah menjadi semakin rendah. Kalau kita berjalan terus, maka aku yakin bahwa akan kita temukan tempat yang tepat untuk membuat bendungan.”
Kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Tiba-tiba salah seorang berkata, “Mungkin tebing ini akan menjadi rendah dan dasar sungai akan menjadi semakin tinggi. Tetapi belum pasti bahwa di tempat itu akan banyak terdapat bahan-bahan untuk bendungan.”
“Ya. Mungkin begitu. Tetapi kita masih harus melihat dahulu.”
“Ternyata tempat yang paling baik adalah tempat yang lama Agni,“ berkata kawannya yang lain.
“Bagaimana mungkin,” jawab Agni, “sungai itu seakan-akan menjadi semakin lebar, dua kali lipat. Semakin dalam dan bahan-bahannya sukar kita cari. Bahan-bahan yang lama, kalau misalnya masih mungkin kita kumpulkan, tidak akan cukup separuh dari kebutuhan.”
“Kita cari bahan-bahannya di tempat lain,“ berkata yang lain pula.
“Terlalu sulit. Dan bukankah bendungan itu akan menjadi lambang dari kerja yang kalian hasilkan sendiri. Kerja yang kalian persembahkan kepada anak cucu. Kalian bisa dengan bangga berkata Bendungan ini kita buat bersama-sama. Lebih bangga daripada Bendungan peninggalan Empu Purwa ini kita perbaiki.”
Ketiga kawan-kawannya terdiam. Sebenarnya mereka tidak berkeberatan untuk melakukannya. Bahkan mereka ingin menunjukkan bahwa mereka pun mampu melakukan. Tetapi ketika tiba-tiba mereka melihat padang Karautan, maka hati mereka menjadi ragu-ragu. Bukan karena kesulitan untuk mendapatkan tempat dan bahan-bahan, tetapi mereka ragu-ragu apakah hantu Karautan akan membiarkan mereka membuat bendungan dan merubah padang rumput kekuasaannya.
Mahisa Agni seakan-akan dapat meraba gejolak hati mereka, sehingga tiba-tiba pula ia berkata, “Jangan takut akan hantu itu. Yakini kata-kataku. Hantu itu tidak terlalu berbahaya. Dan bukankah kita berempat.”
Ketiga kawan Mahisa Agni masih berdiam diri. Mereka berjalan sambil menundukkan wajah-wajah mereka. Hanya sekali-sekali mereka memandang tebing sungai yang curam dan ditumbuhi oleh gerumbul-gerumbul liar. Sementara itu matahari menjadi semakin lama semakin jauh menuju ke puncak langit. Bahkan sesaat kemudian, matahari itu telah melampaui titik tertinggi, dan perlahan-lahan merayap turun ke Barat. Semakin lama semakin rendah menuju ke balik bukit. Semakin rendah matahari, ketiga kawan-kawan Mahisa Agni menjadi semakin cemas. Bahkan kemudian salah seorang di antara mereka berkata,
“Apakah kita berjalan terus Agni.”
“Ya, sampai kita menemukan tempat itu.”
“Bagaimana kalau kita kemalaman di perjalanan?”
“Ah. Itu sama sekali bukan soal. Bukankah kita membawa bekal untuk keperluan itu?” Tetapi Mahisa Agni tahu maksud pertanyaan itu sebenarnya. Mereka sama sekali tidak cemas tentang bekal mereka, tetapi mereka cemas apabila mereka bertemu dengan hantu Karautan.
Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu kembali berdiam diri. Hanya sekali-sekali mereka memandang langit yang semakin sejuk. Tetapi hati mereka menjadi semakin berdebar-debar.
“Apakah kita tidak kembali saja dahulu Agni. Besok kita teruskan perjalanan kita di siang hari?”
“He,“ mau tidak mau Mahisa Agni harus tertawa, katanya, “bagaimana hal itu mungkin. Kalau kita kembali, dan besok berangkat lagi seperti hari ini, maka kita akan sampai di tempat ini pada saat yang sama seperti sekarang. Dengan demikian kita akan mengulangi perjalanan ini setiap hari.”
Kawannya itu pun tersenyum pula, ketika disadarinya bahwa pendapatnya itu menggelikan. Kemudian mereka berjalan pula sambil berdiam diri. Mereka telah berjalan jauh menjorok ke dalam padang rumput. Keringat mereka telah terperas membasahi seluruh tubuh mereka, seakan-akan mereka sedang mandi.
“Apakah kalian lelah,“ bertanya Mahisa Agni.
Serentak ketiga kawannya mengangguk sambil menjawab, “Ya. Aku lelah sejak tadi.”
“Baiklah kita beristirahat,“ ajak Mahisa Agni.
Ketiga kawan-kawannya menjadi ragu-ragu. Kalau mereka beristirahat, maka perjalanan mereka akan menjadi semakin lama. Mungkin mereka benar-benar akan kemalaman dipadang rumput itu. Tetapi untuk berjalan terus, mereka telah benar-benar lelah dan lapar.
Mahisa Agni yang melihat keragu-raguan itu segera mengetahui perasaan ketiga kawan-kawannya itu. Maka katanya, “Makanlah dahulu. Apapun yang akan kita jumpai, namun kita sudah kenyang.”
Seorang kawannya tiba-tiba bertanya, “Manakah batas dari padang rumput Karautan itu?”
“Kita sudah berada dipadang rumput Karautan,” jawab Agni.
Jawaban itu benar-benar mengejutkan ketiga kawan-kawannya, terasa dada mereka berdesir. Tanpa mereka sadari mereka telah berada dipadang yang mereka takuti. Dalam pada itu terdengar Mahisa Agni berkata,
“Batas antara padang Karautan dan padang rumput Panawijen tidak jelas. Tak ada tanda-tanda yang dapat dipergunakan. Tetapi kita hanya dapat menduga, bahwa setelah kita menempuh jarak tertentu kita berada dipadang rumput yang bernama Karautan.”
Kawan-kawannya tidak menjawab, seakan-akan mereka benar-benar menjadi ketakutan menyebut sesuatu yang berhubungan dengan padang itu. Mereka merasa seakan-akan hantu Karautan selalu mengintai mereka dan menerkam mereka setiap saat. Hanya karena harga diri, mereka tetap berada di sisi Mahisa Agni. Mereka malu untuk menyatakan keinginan mereka, mengajak Agni kembali saja ke Panawijen karena hantu Karautan, sebab ternyata Mahisa Agni agaknya sama sekali tidak memperhitungkan hantu itu, bahkan mengabaikannya.
Mahisa Agni melihat kecemasan yang membayang di wajah kawan-kawannya, tetapi seakan-akan ia sama sekali tidak mengacuhkannya. Dibawanya kawan-kawannya itu duduk di bawah gerumbul dan katanya kemudian,
“Marilah kita buka bekal kita. Kita makan dahulu. Nanti kita lanjutkan perjalanan kita.”
Dengan ragu-ragu kawan-kawannya membuka bungkusan bekal mereka. Namun sekali-sekali mereka selalu menebarkan pandangan mereka sekeliling padang itu. Setiap gerak dan setiap suara, yang betapapun lembutnya, benar-benar telah mengejutkan mereka itu. Hanya Mahisa Agni lah yang seolah-olah tidak mempedulikan apa saja di sekitarnya. Dengan lahapnya ia menyuapi mulutnya.
“Marilah,“ katanya, “apakah kalian tidak lapar seperti aku?”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka pun kemudian makan pula, tetapi mereka benar-benar tidak dihinggapi nafsu. Seakan-akan perut mereka masih saja terasa kenyang.
Sambil makan terdengar Mahisa Agni bergumam, “Sudah pasti kita bermalam dipadang ini.” Wajah ketiga kawan-kawannya menjadi pucat, tetapi mereka belum bertanya. “Kita akan berjalan sampai matahari terbenam. Dan kita akan bermalam di tempat itu. Besok pagi-pagi kita teruskan perjalanan kita. Mudah-mudahan besok kita menemukan tempat yang kita cari.”
Kawan-kawannya masih berdiam diri. Mereka tidak dapat berbuat lain dari pada mengikut saja kemana Mahisa Agni pergi. Untuk kembali bertiga pun mereka agaknya kurang berani. Dengan demikian maka hidup mereka kini seakan-akan hanya tergantung saja kepada Mahisa Agni. Tetapi ada juga diantara mereka yang menjadi semakin cemas karena melihat bayangan sendiri. Dihubungkannya perjalanan ini dengan peristiwa di bendungan. Jangan-angan Mahisa Agni marah kepada mereka, dan sengaja membawa mereka jauh-jauh dari Panawijen untuk menumpahkan kemarahannya itu.
Karena itulah maka hanya Mahisa Agni sajalah yang dapat menelan makannya dengan gairah karena kelelahan dan lapar. Ketiga kawan-kawannya hampir tidak mampu untuk menelan makanan mereka. Selesai makan, Mahisa Agni masih juga duduk-duduk di bawah gerumbul itu, seolah-olah ia sudah tidak mempunyai rencana yang lain dari pada beristirahat.
“Kita tidak tergesa-gesa,“ katanya, “sebab bagaimanapun juga kita pasti akan kemalaman dan bermalam dipadang ini. Karena itu lebih baik kita bekerja perlahan-lahan tetapi lebih cermat dan hati-hati memilih tempat.”
Ketiga kawan-kawannya benar-benar menjadi seolah-olah bisu. Mereka hanya dapat mengangguk dan menggeleng. Tak ada keinginan mereka untuk mengucapkan satu katapun, apabila tidak terpaksa. Seakan-akan mereka takut suaranya akan didengar oleh hantu Karautan.
Akhirnya Mahisa Agni jemu melihat sikap-sikap itu. Diusahakannya untuk melupakan kecemasan itu, dengan makan, istirahat seenaknya dan apa saja. Tetapi kecemasan itu masih juga terasa melekat di hati ketiga kawannya itu. Karena itu maka Mahisa Agni pun terpaksa sekali lagi memberi mereka peringatan, katanya,
“Kenapa kalian tampaknya selalu cemas? Sudah aku katakan, jangan hiraukan hantu Karautan itu. Dan ia tidak akan mengganggu aku lagi.”
Ketiga kawan Mahisa Agni itu mengangguk-angguk. Namun hatinya sama sekali tidak meyakini kata-kata Mahisa Agni itu. Meskipun demikian mereka sama sekali tidak menjawab.
“Marilah kita teruskan perjalanan kita. Kita akan menerobos padang Karautan. Akan kita telusur sungai ini terus sampai kita menemukan tempat yang baik untuk bendungan itu. Seandainya hantu itu benar-benar kembali, maka ia berada jauh di sebelah Timur, di tepi jalan Sidatan ke Tumapel. Tidak di pinggir kali ini.”
Bendungan yang selama ini memberi mereka air sebagai sumber hidup mereka. Kini Panawijen itu benar akan menjadi kering, seperti kutuk yang telah diucapkan oleh Empu Purwa yang dunianya menjadi gelap, karena lekatan kasihnya, puteri satu-satunya itu hilang. Puteri yang baginya sangat berharga, melampaui segalanya yang ada di dunia ini.
Ketika orang-orang itu kemudian telah habis kembali ke padukuhan, maka kembali Mahisa Agni berdiri seorang diri. perlahan-lahan itu berjalan semakin ke tepi. Sekali lagi diamat-amatinya bendungan yang pecah itu. Air berpancaran dan telah menggugurkan tebingnya. Bahkan dasarnya pun seakan-akan telah menghunjam semakin dalam.
“Memang tak mungkin,“ gumamnya, “tak mungkin dibangun bendungan di tempat ini.”
Namun bagaimanapun juga hati Mahisa Agni terpecah pula seperti bendungan itu. Bukan saja karena Panawijen menjadi kering, namun semua harapan dan anyaman perasaannya kini benar-benar telah buntu. Empu Purwa ternyata sama sekali tidak ingin untuk mengambil anaknya dengan cara yang sama. Empu Purwa benar-benar tidak mau melawan Tumapel, sebagai tempat ia bernaung. Orang tua itu tidak mau menimbulkan huru-hara dan menimbulkan kekacauan diantara penduduk Tumapel. Tetapi ia mendendam orang-orang yang melakukan perbuatan terkutuk itu, dengan mengucapkan ipat-ipat.
Dengan demikian, maka harapannya untuk melihat Ken Dedes kembali ke Panawijen kini lenyap seperti lenyapnya harapannya atas bendungan itu. Apalagi gurunya pun kemudian pergi meninggalkannya tanpa singgah dahulu di padepokannya.
Tetapi Mahisa Agni tidak harus menundukkan kepalanya, mengeluh dan berputus-asa. Ia baru saja berbicara dihadapan orang-orang Panawijen. Apakah mereka hanya cukup berputus asa? Ternyata kata-katanya itu tidak saja bermanfaat bagi orang-orang Panawijen, tetapi juga bermanfaat bagi dirinya sendiri. Ternyata kata-kata itu pun tertuju pula kepada dirinya sendiri dalam segi-segi yang berbeda.
Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Dadanya terasa berdebar. Tetapi kemudian ia mendapat kekuatan pula dalam dirinya. Kekuatan seperti yang didapatkan oleh orang-orang Panawijen yang lain. Karena itu, maka Mahisa Agni kini tidak lagi memandangi bendungan itu dengan kepala tunduk. pecahnya bendungan itu baginya merupakan tantangan yang harus dijawabnya. Ia tidak boleh menghindarinya, melarikan diri dari kuwajiban seperti yang dikatakannya sendiri kepada orang-orang Panawijen.
Dan Mahisa Agni pun kemudian segera menyiapkan dirinya menjawab tantangan itu. Mahisa Agni itu pun kemudian berjalan pula meninggalkan bendungan yang telah pecah itu. Di kejauhan masih dilihatnya punggung-punggung orang Panawijen yang berjalan perlahan-lahan meninggalkan bendungan itu pula.
“Mereka telah bangun dari tidurnya yang nyenyak, dan aku pun harus bangun pula dari tidurku yang dipenuhi oleh mimpi yang mengerikan,“ desis Mahisa Agni.
Demikianlah Mahisa Agni, di keesokan harinya mulai dengan pekerjaanya. Ia telah memilih beberapa anak-anak muda, dan tiga diantaranya akan dibawanya menyusuri sungai memilih tempat yang paling tepat untuk membangunkan bendungan barunya.
Pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang mudah bagi Mahisa Agni. Membuat bendungan, betapapun sederhananya, namun diperlukan pengenalan atas tempat dimana bendungan itu akan dibangun, alat dan bahan-bahan yang dapat dipergunakannya. Meskipun demikian Mahisa Agni telah membulatkan tekadnya, bahwa ia akan mampu membangunkannya bersama-sama dengan anak-anak muda Panawijen.
Hari itu, Mahisa Agni bersama tiga orang kawan-kawannya berjalan menyusuri sungai itu. Pagi-pagi benar mereka berangkat. Mereka mengharap bahwa hari itu juga, mereka akan mendapatkan tempat yang mereka cari. Bagi Mahisa Agni perjalanan itu sendiri, bukanlah perjalanan yang berarti baginya. Kesulitan yang akan dihadapi adalah memilih tempat yang baik, yang mungkin dibuat bendungan.
Tetapi bagi ketiga kawan-kawannya, yang seakan-akan tidak pernah mengenal jalan yang keluar dari padukuhan mereka, merasa bahwa perjalanan itu adalah perjalanan yang sangat berat. Perjalanan yang akan memerlukan ketrampilan, kekuatan dan tekad yang menyala-nyala. Namun Mahisa Agni selalu menguatkan hati mereka. Bahwa apa yang akan mereka lakukan adalah sebuah tamasya yang menyenangkan.
“Apakah kita akan menyusur sungai itu sampai ke padang rumput Karautan?” bertanya salah seorang dari mereka.
“Ya. Bahkan padang rumput Karautan merupakan kemungkinan yang pertama-tama. Padang itu apabila mungkin dialiri, maka pasti akan menjadi tanah yang subur,“ jawab Agni.
“Tetapi bagaimana dengan hantu Karautan itu.”
“Kau terlambat,“ sahut Agni sambil tertawa, “hantu itu telah pergi.” Ketiga anak muda itu terdiam. Tetapi mereka masih mencemaskan hantu yang menakutkan itu, sehingga Mahisa Agni terpaksa menjelaskan, “Aku mendengar dari hantu itu sendiri, bahwa ia akan segera meninggalkan padang rumput ini.”
Tampaklah ketiga kawan-kawannya itu kurang percaya. Salah seorang dari padanya berkata, “Ah, apakah kau pernah bertemu dengan hantu itu.”
“Ya.”
“Dan kau masih tetap hidup?”
Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Hantu itu tidak sejahat kata orang. Kalau kita tidak mengganggunya, maka hantu itu pun tidak akan marah.”
Kembali tampak wajah-wajah anak muda itu kurang percaya. Berkata salah seorang, “Mungkin hantu itu menipumu Agni. Bukankah hantu sering menipu orang.”
“Tidak, dan bukankah di padang rumput sekarang tidak pernah lagi terdengar berita tentang hantu itu. Bukankah hantu itu menepati janjinya.”
Tetapi Mahisa Agni itu terkejut ketika terdengar kawannya itu menjawab, “Aku masih mendengar bahwa seseorang bertemu dengan hantu itu lagi Agni.” Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab, sehingga kawannya itu berkata, “Agni. Mungkin kau terlalu sibuk memikirkan dirimu sendiri, memikirkan lukamu dan mungkin juga hilangnya adikmu dan terbunuhnya bakal iparmu itu, sehingga kau tidak pernah mendengar bahwa dalam beberapa hari ini hantu Karautan itu telah menampakkan dirinya kembali.”
Mahisa Agni benar-benar heran mendengar keterangan itu. Katanya, “Aku tidak dapat mengerti kata-katamu itu. Hantu itu sudah berjanji kepadaku.”
“Apakah kau dapat mempercayai mulut hantu,“ bertanya kawannya yang lain.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar bahwa Ken Arok kini telah berada di istana Tumapel. Tetapi apabila benar-benar hantu Karautan itu timbul lagi, pasti sama sekali bukan Ken Arok. Tetapi siapa?. Meskipun demikian Mahisa Agni itu menjawab,
“Ah, mungkin berita itu berita yang belum pasti kebenarannya. Mungkin seseorang yang ketakutan karena bertemu dengan orang lain, disangkanya hantu Karautan itu datang kembali.”
“Tidak Agni. Kabar itu telah aku dengar dari orang yang mendengar langsung ceritera seseorang yang mengalami sendiri.”
“Apa katanya?”
“Ketika orang itu menyangka bahwa hantu Karautan benar-benar sudah tidak ada, setelah sekian lama hilang beritanya maka ia memberanikan diri pulang sendiri di malam hari dari Tumapel, setelah ia mengunjungi saudaranya dan menukarkan kerisnya dengan milik saudaranya itu. Tetapi tiba-tiba dipadang ia bertemu dengan hantu itu.”
“Apa yang dilakukan oleh hantu itu?”
“Mencegatnya. Dan memukulnya seperti memukuli seorang penjahat.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. “Keris yang dibawanya dari Tumapel itu dirampasnya.”
“Tidak. Hantu itu tidak mengambil apa-apa daripadanya. Tetapi orang itu dipukuli sampai pingsan. Kemudian ditinggalkannya.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. “Aneh. Hantu yang dikenalnya dahulu, selalu merampas dan merampok orang-orang yang lewat. Tetapi hantu yang sekarang itu hanya memukuli saja sampai pingsan. Aneh,“ desisnya tanpa disengajanya.
“Apa yang aneh,“ bertanya seorang kawannya.
“Hantu itu,” sahut Mahisa Agni.
“Kenapa aneh? Bukankah hantu dapat saja berbuat apa saja sekehendaknya.”
“Sifat hantu itu berubah. Bukankah kita dahulu selalu mendengar bahwa korhan hantu Karautan, sebagian besar pasti mati. Dan semua kekayaan yang dibawanya habis dirampas?”
“Mungkin orang itu disangkanya mati pula.”
Mahisa Agni terdiam. Dicobanya untuk mencari kemungkinan, apakah kira-kira yang telah terjadi dipadang Karautan itu. Tetapi dengan kabar itu ia menduga bahwa hantu yang baru ini sama sekali bukan hantu yang sudah dikenalnya. hantu ini seakan-akan hanya ingin melepaskan dendam di hatinya, bukan merampok apalagi membunuh.
Sesaat mereka masih saling berdiam diri. Mereka berjalan perlahan-lahan menyusuri sungai naik ke udik. Tetapi Mahisa Agni tidak dapat segera mempercayainya, bahwa dipadang rumput itu kini telah dijumpai hantu yang menakutkan itu kembali. Tiba-tiba dada Mahisa Agni berdesir. Gurunya telah meninggalkan padepokan dengan luka di hatinya. Tetapi segera Mahisa Agni menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia takut sampai pada kesimpulan itu. Bahkan segera ia mencari alasan untuk menindas perasaannya.
“Guru baru kemarin meninggalkan padukuhan Panawijen. Sedang hantu itu telah dijumpai beberapa hari yang lalu.”
Tetapi tanpa dikehendakinya sendiri, di sudut hatinya terdengar suara, “Mungkin guru sudah tahu, bahwa anaknya hilang beberapa lama. Karena itu ia mendendam. Ketika ia datang menemui aku di bendungan, ia hanya akan memberikan beberapa pesan saja dan kemudian memecahkan bendungan itu. Seterusnya gurunya akan kembali ke padang rumput ini.”
“Gila,“ desisnya.
Ketiga kawan-kawannya terkejut. Serentak mereka berpaling, dan salah seorang dari padanya bertanya, “Apa Agni.”
Agni lah yang kemudian terkejut. Dengan terbata-bata ia menjawab sekenanya, “Hantu itu.”
“Kenapa?”
Mahisa Agni tidak menjawab. Kini kepalanya tertunduk, dan hatinya menjadi risau. Kembali di dalam dadanya terdengar suaranya sendiri melengking, “Tidak. Itu tidak mungkin, betapa guru kehilangan keseimbangan, tetapi ia tidak akan melakukan pekerjaan semacam itu. Dan bukankah guru tampaknya terkejut sekali ketika aku memberitahukan apa yang telah terjadi di Panawijen?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Bahkan kemudian ia menjadi malu akan kecemasannya itu, seakan-akan ia belum mengenal watak dan tabiat gurunya. Sehingga dengan demikian, maka Mahisa Agni itu pun dapat menenteramkan hatinya sendiri. Katanya di dalam hati,
“Aku yakin. Pasti bukan Empu Purwa. Kalau hantu itu ternyata guruku, biarlah aku dibunuhnya sekali. Tetapi aku yakin, bahwa orang itu adalah orang lain.”
Mereka berempat itu pun semakin lama menjadi semakin jauh dari pedukuhan mereka. Mereka berjalan perlahan-lahan sambil mengamat-amati sungai yang mereka telusuri. Mungkin mereka segera menemukan tempat yang baik untuk membangun bendungan. Semakin dekat dengan padukuhan mereka semakin baik. Tetapi sungai itu semakin lama agaknya menjadi curam. Tebingnya yang terdiri dari batu padas menjorok tinggi. Tumbuh-tumbuhan liar seolah-olah menutup tebingnya dengan daun-daunnya yang rimbun.
“Tebingnya menjadi semakin curam Agni. Semakin tidak mungkin lagi untuk membangun bendungan.”
“Kita berjalan terus. Suatu ketika akan menemukan tempat itu. Tempat yang baik untuk membangun bendungan.”
Mereka berempat pun berjalan terus. Semakin lama semakin jauh. Semakin jauh dari padukuhan mereka, tetapi semakin dekat dengan padang rumput Karautan.
“Kita akan sampai ke padang rumput itu Agni,“ berkata salah seorang dari mereka.
“Ya,” sahut Agni, “sudah aku katakan, kita akan memasuki padang rumput itu.”
“Tetapi hantu itu?”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Hantu itu berada di bagian lain. Ia mencegat orang-orang yang lewat. Daerah ini sama sekali tidak pernah dilewati orang. Orang mencari ikan pun tak pernah sampai ke tempat ini.”
“Tetapi bukankah hantu itu mengetahui dengan matanya yang tajam apa saja yang ingin dilihatnya? Bukankah hantu itu dapat melihat juga kehadiran kita dipadang rumput ini, dan hantu itu dapat terbang dalam waktu sekejap untuk mencegat kita?”
Mahisa Agni terpaksa tersenyum. Tetapi justru karena itu kawan-kawannya menjadi kurang senang, seakan-akan Mahisa Agni itu tidak mempercayainya. “Jangan cemas. Kalau hantu itu benar-benar kembali ke padang Karautan. Biarlah ia menemui aku. Aku sudah kenal baik dengan hantu itu.”
Ketiga kawan-kawannya terdiam. Mereka merasa bahwa Mahisa Agni tidak mempercayai ceritera mereka, atau seandainya anak muda itu percaya, agaknya ia sama sekali tidak takut, sehingga ketiga kawan Agni itu mempunyai tanggapan yang aneh kepadanya. Campur baur antara cemas, curiga dan berbangga.
Sementara itu matahari semakin lama semakin tinggi memanjat langit. Sinarnya yang terik bertebaran di atas pepohonan dan tubuh-tubuh mereka yang sedang melakukan perjalanan menyusuri sungai ke udik. Burung-burung liar tampak berterbangan di udara, dan awan yang putih mengapung dihanyutkan angin ke utara. Terasa panasnya seakan-akan membakar kulit. Keringat mereka seolah-olah terperas dari tubuh-tubuh mereka sehingga pakaian-pakaian mereka menjadi basah kuyup.
“Panasnya bukan main.” salah seorang kawan Mahisa Agni mengeluh.
“Ya,” sahut yang lain.
Tetapi Mahisa Agni masih saja berdiam diri. Ia sudah terlalu biasa dengan panas di perjalanan. Meskipun kawan-kawan mereka adalah petani-petani yang biasa berjemur di sawah, namun kali ini mereka dirayapi oleh perasaan takut dan cemas, sehingga seakan-akan sinar matahari itu menjadi jauh lebih panas dari matahari di Panawijen. Apalagi ketika kemudian mereka melihat sebuah padang rumput terkapar dihadapan mereka. Di sana sini mereka melihat gerumbul-gerumbul liar bertebaran. Padang rumput itu adalah padang yang langsung berhubungan dengan padang rumput Karautan. Ketika mereka mulai menginjakkan kaki-kaki mereka di atas padang itu, Mahisa Agni melihat, betapa kecurigaan mencengkam hati mereka.
“Jangan cemas,“ desis Mahisa Agni. “padang ini belum padang Karautan.”
Tetapi kata-kata penenang itu sama sekali tidak menenangkan hati mereka. Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu masih saja diliputi oleh perasaan cemas dan ngeri. Mereka mengharap bahwa sebelum mereka memasuki padang Karautan, mereka telah menemukan tempat itu. Tempat yang baik untuk membuat bendungan.
Mahisa Agni melihat bahwa ketiga orang itu hampir tak sanggup lagi berjalan karena kecemasannya. Pada ketiga kawannya itu tampak sifat-sifat anak-anak muda Panawijen yang sebenarnya. Kadang-kadang Mahisa Agni menjadi geli melihat bagaimana anak-anak itu dengan nafsu yang menyala-nyala berteriak.
“Aku sanggup, aku sanggup. Namun apabila di hadapannya membayang kesulitan dan bahaya, maka terasa hatinya berkerut sebesar menir.”
Seperti apa yang pernah terjadi atas mereka dihadapan Kuda Sempana. Dan apa yang akan dilakukan terhadapnya sendiri. Kini ketakutan itu berulang kembali menghadapi hantu Karautan yang belum pasti adanya. Dalam pada itu mereka masih berjalan terus. Sungai itu masih bertebing curam dan dalam. Tetapi Mahisa Agni melihat tanda-tanda bahwa semakin lama tebing itu sudah menjadi semakin rendah.
“Kalian lihat,“ berkata Mahisa Agni, “tebing ini sudah menjadi semakin rendah. Kalau kita berjalan terus, maka aku yakin bahwa akan kita temukan tempat yang tepat untuk membuat bendungan.”
Kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Tiba-tiba salah seorang berkata, “Mungkin tebing ini akan menjadi rendah dan dasar sungai akan menjadi semakin tinggi. Tetapi belum pasti bahwa di tempat itu akan banyak terdapat bahan-bahan untuk bendungan.”
“Ya. Mungkin begitu. Tetapi kita masih harus melihat dahulu.”
“Ternyata tempat yang paling baik adalah tempat yang lama Agni,“ berkata kawannya yang lain.
“Bagaimana mungkin,” jawab Agni, “sungai itu seakan-akan menjadi semakin lebar, dua kali lipat. Semakin dalam dan bahan-bahannya sukar kita cari. Bahan-bahan yang lama, kalau misalnya masih mungkin kita kumpulkan, tidak akan cukup separuh dari kebutuhan.”
“Kita cari bahan-bahannya di tempat lain,“ berkata yang lain pula.
“Terlalu sulit. Dan bukankah bendungan itu akan menjadi lambang dari kerja yang kalian hasilkan sendiri. Kerja yang kalian persembahkan kepada anak cucu. Kalian bisa dengan bangga berkata Bendungan ini kita buat bersama-sama. Lebih bangga daripada Bendungan peninggalan Empu Purwa ini kita perbaiki.”
Ketiga kawan-kawannya terdiam. Sebenarnya mereka tidak berkeberatan untuk melakukannya. Bahkan mereka ingin menunjukkan bahwa mereka pun mampu melakukan. Tetapi ketika tiba-tiba mereka melihat padang Karautan, maka hati mereka menjadi ragu-ragu. Bukan karena kesulitan untuk mendapatkan tempat dan bahan-bahan, tetapi mereka ragu-ragu apakah hantu Karautan akan membiarkan mereka membuat bendungan dan merubah padang rumput kekuasaannya.
Mahisa Agni seakan-akan dapat meraba gejolak hati mereka, sehingga tiba-tiba pula ia berkata, “Jangan takut akan hantu itu. Yakini kata-kataku. Hantu itu tidak terlalu berbahaya. Dan bukankah kita berempat.”
Ketiga kawan Mahisa Agni masih berdiam diri. Mereka berjalan sambil menundukkan wajah-wajah mereka. Hanya sekali-sekali mereka memandang tebing sungai yang curam dan ditumbuhi oleh gerumbul-gerumbul liar. Sementara itu matahari menjadi semakin lama semakin jauh menuju ke puncak langit. Bahkan sesaat kemudian, matahari itu telah melampaui titik tertinggi, dan perlahan-lahan merayap turun ke Barat. Semakin lama semakin rendah menuju ke balik bukit. Semakin rendah matahari, ketiga kawan-kawan Mahisa Agni menjadi semakin cemas. Bahkan kemudian salah seorang di antara mereka berkata,
“Apakah kita berjalan terus Agni.”
“Ya, sampai kita menemukan tempat itu.”
“Bagaimana kalau kita kemalaman di perjalanan?”
“Ah. Itu sama sekali bukan soal. Bukankah kita membawa bekal untuk keperluan itu?” Tetapi Mahisa Agni tahu maksud pertanyaan itu sebenarnya. Mereka sama sekali tidak cemas tentang bekal mereka, tetapi mereka cemas apabila mereka bertemu dengan hantu Karautan.
Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu kembali berdiam diri. Hanya sekali-sekali mereka memandang langit yang semakin sejuk. Tetapi hati mereka menjadi semakin berdebar-debar.
“Apakah kita tidak kembali saja dahulu Agni. Besok kita teruskan perjalanan kita di siang hari?”
“He,“ mau tidak mau Mahisa Agni harus tertawa, katanya, “bagaimana hal itu mungkin. Kalau kita kembali, dan besok berangkat lagi seperti hari ini, maka kita akan sampai di tempat ini pada saat yang sama seperti sekarang. Dengan demikian kita akan mengulangi perjalanan ini setiap hari.”
Kawannya itu pun tersenyum pula, ketika disadarinya bahwa pendapatnya itu menggelikan. Kemudian mereka berjalan pula sambil berdiam diri. Mereka telah berjalan jauh menjorok ke dalam padang rumput. Keringat mereka telah terperas membasahi seluruh tubuh mereka, seakan-akan mereka sedang mandi.
“Apakah kalian lelah,“ bertanya Mahisa Agni.
Serentak ketiga kawannya mengangguk sambil menjawab, “Ya. Aku lelah sejak tadi.”
“Baiklah kita beristirahat,“ ajak Mahisa Agni.
Ketiga kawan-kawannya menjadi ragu-ragu. Kalau mereka beristirahat, maka perjalanan mereka akan menjadi semakin lama. Mungkin mereka benar-benar akan kemalaman dipadang rumput itu. Tetapi untuk berjalan terus, mereka telah benar-benar lelah dan lapar.
Mahisa Agni yang melihat keragu-raguan itu segera mengetahui perasaan ketiga kawan-kawannya itu. Maka katanya, “Makanlah dahulu. Apapun yang akan kita jumpai, namun kita sudah kenyang.”
Seorang kawannya tiba-tiba bertanya, “Manakah batas dari padang rumput Karautan itu?”
“Kita sudah berada dipadang rumput Karautan,” jawab Agni.
Jawaban itu benar-benar mengejutkan ketiga kawan-kawannya, terasa dada mereka berdesir. Tanpa mereka sadari mereka telah berada dipadang yang mereka takuti. Dalam pada itu terdengar Mahisa Agni berkata,
“Batas antara padang Karautan dan padang rumput Panawijen tidak jelas. Tak ada tanda-tanda yang dapat dipergunakan. Tetapi kita hanya dapat menduga, bahwa setelah kita menempuh jarak tertentu kita berada dipadang rumput yang bernama Karautan.”
Kawan-kawannya tidak menjawab, seakan-akan mereka benar-benar menjadi ketakutan menyebut sesuatu yang berhubungan dengan padang itu. Mereka merasa seakan-akan hantu Karautan selalu mengintai mereka dan menerkam mereka setiap saat. Hanya karena harga diri, mereka tetap berada di sisi Mahisa Agni. Mereka malu untuk menyatakan keinginan mereka, mengajak Agni kembali saja ke Panawijen karena hantu Karautan, sebab ternyata Mahisa Agni agaknya sama sekali tidak memperhitungkan hantu itu, bahkan mengabaikannya.
Mahisa Agni melihat kecemasan yang membayang di wajah kawan-kawannya, tetapi seakan-akan ia sama sekali tidak mengacuhkannya. Dibawanya kawan-kawannya itu duduk di bawah gerumbul dan katanya kemudian,
“Marilah kita buka bekal kita. Kita makan dahulu. Nanti kita lanjutkan perjalanan kita.”
Dengan ragu-ragu kawan-kawannya membuka bungkusan bekal mereka. Namun sekali-sekali mereka selalu menebarkan pandangan mereka sekeliling padang itu. Setiap gerak dan setiap suara, yang betapapun lembutnya, benar-benar telah mengejutkan mereka itu. Hanya Mahisa Agni lah yang seolah-olah tidak mempedulikan apa saja di sekitarnya. Dengan lahapnya ia menyuapi mulutnya.
“Marilah,“ katanya, “apakah kalian tidak lapar seperti aku?”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka pun kemudian makan pula, tetapi mereka benar-benar tidak dihinggapi nafsu. Seakan-akan perut mereka masih saja terasa kenyang.
Sambil makan terdengar Mahisa Agni bergumam, “Sudah pasti kita bermalam dipadang ini.” Wajah ketiga kawan-kawannya menjadi pucat, tetapi mereka belum bertanya. “Kita akan berjalan sampai matahari terbenam. Dan kita akan bermalam di tempat itu. Besok pagi-pagi kita teruskan perjalanan kita. Mudah-mudahan besok kita menemukan tempat yang kita cari.”
Kawan-kawannya masih berdiam diri. Mereka tidak dapat berbuat lain dari pada mengikut saja kemana Mahisa Agni pergi. Untuk kembali bertiga pun mereka agaknya kurang berani. Dengan demikian maka hidup mereka kini seakan-akan hanya tergantung saja kepada Mahisa Agni. Tetapi ada juga diantara mereka yang menjadi semakin cemas karena melihat bayangan sendiri. Dihubungkannya perjalanan ini dengan peristiwa di bendungan. Jangan-angan Mahisa Agni marah kepada mereka, dan sengaja membawa mereka jauh-jauh dari Panawijen untuk menumpahkan kemarahannya itu.
Karena itulah maka hanya Mahisa Agni sajalah yang dapat menelan makannya dengan gairah karena kelelahan dan lapar. Ketiga kawan-kawannya hampir tidak mampu untuk menelan makanan mereka. Selesai makan, Mahisa Agni masih juga duduk-duduk di bawah gerumbul itu, seolah-olah ia sudah tidak mempunyai rencana yang lain dari pada beristirahat.
“Kita tidak tergesa-gesa,“ katanya, “sebab bagaimanapun juga kita pasti akan kemalaman dan bermalam dipadang ini. Karena itu lebih baik kita bekerja perlahan-lahan tetapi lebih cermat dan hati-hati memilih tempat.”
Ketiga kawan-kawannya benar-benar menjadi seolah-olah bisu. Mereka hanya dapat mengangguk dan menggeleng. Tak ada keinginan mereka untuk mengucapkan satu katapun, apabila tidak terpaksa. Seakan-akan mereka takut suaranya akan didengar oleh hantu Karautan.
Akhirnya Mahisa Agni jemu melihat sikap-sikap itu. Diusahakannya untuk melupakan kecemasan itu, dengan makan, istirahat seenaknya dan apa saja. Tetapi kecemasan itu masih juga terasa melekat di hati ketiga kawannya itu. Karena itu maka Mahisa Agni pun terpaksa sekali lagi memberi mereka peringatan, katanya,
“Kenapa kalian tampaknya selalu cemas? Sudah aku katakan, jangan hiraukan hantu Karautan itu. Dan ia tidak akan mengganggu aku lagi.”
Ketiga kawan Mahisa Agni itu mengangguk-angguk. Namun hatinya sama sekali tidak meyakini kata-kata Mahisa Agni itu. Meskipun demikian mereka sama sekali tidak menjawab.
“Marilah kita teruskan perjalanan kita. Kita akan menerobos padang Karautan. Akan kita telusur sungai ini terus sampai kita menemukan tempat yang baik untuk bendungan itu. Seandainya hantu itu benar-benar kembali, maka ia berada jauh di sebelah Timur, di tepi jalan Sidatan ke Tumapel. Tidak di pinggir kali ini.”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar