MENU

Ads

Sabtu, 21 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 062

Mahisa Agni tidak menunggu jawaban ketiga kawannya. Segera ia membenahi bekalnya. Kawan-kawannya yang melihat itu pun segera berbuat serupa. Mereka takut Mahisa Agni akan meninggalkan mereka di tengah-tengah padang yang mengerikan itu. Kembali mereka berempat berjalan menyusur sungai. Di perjalanan itu Mahisa Agni selalu berusaha untuk melupakan ketakutan dengan menilai setiap lekuk liku sungai itu. Tetapi jawaban yang didengarnya dari kawan-kawannya terlalu pendek.

“Hem,“ Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berbicara terus tentang sungai itu.

Semakin jauh mereka berjalan, matahari pun menjadi semakin rendah. Kini mereka pun benar-benar telah berada dipadang yang luas dan mengerikan. Di sana sini yang mereka lihat hanyalah gerumbul-gerumbul liar dan batu-batu padas yang menjorok diantaranya. Ketika kemudian malam membayang di langit, maka Mahisa Agni pun berhenti. Ia harus mendapatkan tempat yang baik untuk bermalam bersama kawan-kawannya. Diamat-amatinya tempat di sekitarnya. Gerumbul-gerumbul liar dan rerumputan.

“Kita bermalam disini,“ bertanya Mahisa Agni kepada kawan-kawannya.

Perasaan ngeri dan cemas semakin menghunjam ke dalam jantung ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu. Demikian cemasnya sehingga salah seorang daripada mereka, yang tidak dapat menahan diri lagi, telah kehilangan perasaan malunya, sehingga dengan gemetar ia berkata,

“Apakah kita bermalam dipadang ini Agni?”

“Ya. Bukankah sebentar lagi hari akan malam?”

“Apakah tidak lebih baik kita berjalan?”

“Tidak. Lebih baik kita berhenti. Kalau kita berjalan di malam hari, maka kita akan tidak dapat melihat sungai itu. Kita akan mengetahui, apakah kita sudah sampai pada tebing yang rendah.”

Kawannya itu terdiam. Tetapi bukan berarti bahwa ia telah kehilangan kecemasannya. Mahisa Agni itu pun kemudian berkata pula, “Disinilah. Di atas rumput kering ini kita akan bermalam. Kita harus berganti-gantian bangun, supaya kita tidak kehilangan kewaspadaan. Mungkin ada binatang yang berbahaya.”

Bulu-bulu kuduk ketiga kawan Mahisa Agni meremang. Meskipun mereka membawa senjata, namun senjata itu hampir-hampir tak berarti bagi mereka. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mahisa Agni itu kemudian meletakkan dirinya duduk di atas rumput-rumput liar yang kering. Tempat itu adalah tempat yang tidak menjadi rimbun karena batang-batang ilalang, karena tanah dibawahnya adalah tanah yang berbatu padas.

Dengan dada yang berdebar-debar ketiga kawan-kawannya pun duduk pula dekat-dekat di samping Mahisa Agni. Sekali-sekali mereka memandang daerah sekeliling mereka dengan hati yang kecut. Seakan-akan di sekeliling mereka, di belakang gerumbul-gerumbul liar, di balik batang-batang ilalang, bersembunyi berpuluh-puluh hantu dan binatang-binatang buas yang siap menerkam, dan menyobek kulit daging mereka. Tetapi mereka mengumpat-umpat tak habis-habisnya di dalam hati, apabila mereka melihat, Mahisa Agni hampir acuh tak acuh saja terhadap keadaan di sekelilingnya.

“Marilah kita bentangkan tikar,“ berkata Mahisa Agni.

Kawannya yang membawa tikar, tidak menjawab. Tetapi dengan dada dan tangan yang gemetar, ia membuka ikatan sehelai tikar dan dengan hati-hati ia membentangkannya. Demikian tikar itu terbentang, demikian Mahisa Agni merebahkan dirinya sambil bergumam,

“Ah, alangkah enaknya. Setelah seharian berjalan, kita dapat beristirahat di bawah selimut mega yang putih dan langit yang biru bersih.”

Kawan-kawannya sama sekai tidak dapat ikut merasakannya. Mereka sama sekali tidak merasa lelah, apalagi keinginan untuk berbaring seperti Mahisa Agni. Mereka tidak juga melihat helaian awan putih yang berterbangan di langit dan warna yang biru bersih di atas kepala mereka. Yang ada di dalam hati mereka, adalah bayangan-bayangan yang mengerikan.

Tiba-tiba Mahisa Agni yang berbaring itu bangkit. Katanya, “Kita akan membuat api.”

“He,“ kawan-kawannya terkejut mendengarnya. Berkata salah seorang dari mereka, “Api akan menunjukkan, bahwa disini ada seseorang.”

“Apa salahnya?” sahut Mahisa Agni, “kita tidak akan beku kedinginan. Apalagi kalau kita sempat menangkap binatang buruan. Maka malam ini akan menjadi malam yang tidak akan kalian lupakan.”

Mahisa Agni tidak menunggu kawan-kawannya menjawab. Dalam keremangan ujung malam, Agni segera bangkit dan mencari dahan-dahan dari gerumbul-gerumbul perdu di sekitarnya. Kemudian dengan seonggok rumput kering, Agni segera membuat api dengan batu yang dibawanya. Sepotong batu yang digosoknya keras-keras dengan sepotong kecil kepingan baja. Lontaran bunga apinya dapat membakar gelugut aren yang sudah dikeringkan. Dengan api itulah Agni membakar onggokan rumput kering. Sesaat kemudian api telah menyala. Lidahnya yang menjulur naik, seakan-akan ingin menjilat langit.



“Hangat,“ gumamnya, “biarlah api ini bertahan sampai pagi. Jangan sampai padam. Meskipun hanya baranya.”

Kawan-kawannya tidak menyahut. Namun semakin besar api itu menyala, hatinya menjadi semakin kecut. Namun api itu segera menjadi susut. Dilemparkannya oleh Mahisa Agni beberapa potong kayu, supaya apabila api itu padam, maka akan masih tinggal baranya yang dapat dipakainya untuk memanaskan tubuh.

“Biarlah nyala itu padam,“ berkata Agni, “tetapi jagalah supaya masih ada bara yang tertinggal. Supaya apabila malam nanti kita kedinginan, kita dapat melemparkan rumput-rumput kering ke atasnya dan api akan menyala kembali.”

Kawan-kawannya hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi mereka seakan-akan menjadi beku. Mereka melihat Mahisa Agni kemudian menumpuk beberapa potong kayu lagi di atas api dan membiarkan api itu menjadi bertambah kecil, ketika dalam sesaat rumput-rumput yang kering telah habis terbakar. Sejenak kemudian mereka saling berdiam diri. Mata mereka menghunjam ke pusat api yang sudah tidak lagi menjalar ke udara. Malam pun semakin lama menjadi semakin gelap, dan bintang-bintang di langit menjadi semakin banyak menggantung dengan cerahnya.

“Kita perlu air,“ tiba-tiba Agni memecah kesepian.

Kawan-kawannya saling berpandangan. Mereka memang merasa haus, tetapi mereka tidak menjawab.

“Siapa yang akan mengambil air ke sungai?”

Tak ada yang menjawab. Sehingga Agni meneruskannya, “Kalau demikian, aku akan pergi.”

“Lalu, bagaimana dengan kami,“ bertanya seorang kawannya.

“Tinggallah kalian disini sebentar. Hanya sebentar.”

Sejenak ketiga kawan-kawannya itu menjadi saling berpandangan. Mulut-mulut mereka ternganga namun hati mereka berkerut. Ketika kemudian mereka melihat Mahisa Agni bergerak menyambar bumbung yang sudah kosong, salah seorang dari mereka berkata,

“Jangan tinggalkan kami disini Agni.”

Mahisa Agni tertegun sejenak. Ditatapnya ketiga kawan-kawannya yang gemetar. Katanya, “Kenapa? Kenapa kalian tidak berani tinggal disini bertiga?”

Dengan nanar mereka memandang berkeliling. Padang rumput ini adalah padang rumput Karautan. Tetapi mulut-mulut mereka tidak berani mengucapkannya.

“Aku haus,“ berkata Mahisa Agni, “karena itu aku perlu air. Kalau ada diantara kalian yang mau mengambilnya untuk kita berempat, aku akan tinggal disini.”

“Kita mengambil bersama-sama,” minta salah seorang dari padanya.

“Hem,“ Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berkata, “Jangan. Tungguilah bekal-bekal kita, kalau-kalau ada anjing liar. Apakah kalian takut kepada anjing-anjing liar itu? Bukankah kalian laki-laki yang di lambung kalian tergantung pedang? Apakah gunanya pedang itu?”

Tanpa mereka sadari, tangan-tangan mereka meraba hulu-hulu pedang yang tergantung di lambung masing-masing. Ada juga ketenteraman yang menjalari di hati mereka. Pedang itu akan dapat membantu mereka melindungi diri mereka. Tetapi Mereka bukan seorang yang cakap bermain-main dengan pedang. Mereka hanya sekedar dapat menggerakkannya dan sedikit memutar dan mengayunkan. Tetapi apabila yang datang-benar-benar hanya anjing-anjing liar, maka tiga bilah pedang itu sudah berlebihan.

“Atau, kalian dapat menyalakan api itu kembali supaya binatang-binatang buas menjadi ketakutan dan tidak mendekati kalian.”

Kawan-kawan Mahisa Agni itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Tetapi hati mereka serasa membeku.

“Nah, bagaimana? “ bertanya Mahisa Agni, “aku membawa kalian untuk kawan di perjalanan bukan sebagai momongan.”

Kata-kata itu benar-benar menyentuh hati mereka. Sehingga dengan demikian tumbuh kembali rasa harga diri mereka sebagai laki-laki. Bagaimanapun mereka bercemas hati, namun ketika sekali lagi Mahisa Agni bertanya, terdengar mereka menjawab,

“Baiklah Agni, kami bertiga tinggal disini. Tetapi jangan terlalu lama, dan jangan terlalu jauh, sehingga apabila kami memanggilmu, kau akan dapat mendengarnya.”

“Baiklah,” sahut Agni sambil berdiri.

Perlahan-lahan ia berjalan ke arah tebing sungai. Sekali-sekali ia berpaling melihat ketiga kawannya yang duduk hampir berdesak-desakan. Pedang mereka telah tidak lagi tergantung di lambung mereka, tetapi pedang itu telah siap di pangkuan. Ketika Mahisa Agni melangkah terus, dilihatnya bayangan tubuhnya di bawah kakinya. Memanjang ke barat. Ketika ia berpaling dilihatnya bulan yang telah tidak bulat lagi mengambang di langit yang biru. Tiba-tiba Mahisa Agni tertegun. Dilihatnya bulan, dataran rumput yang luas, diseling oleh gerumbul dan padas yang menjorok, awan yang putih dan bintang yang berdesakan di langit.

Mahisa Agni menarik nafas. Di wajahnya seakan-akan terbayang seluruh bumi. Keindahan bulan, rumput-rumput liar, hati yang bulat untuk melakukan sesuatu, tetapi diliputi oleh kecemasan dan ketakutan, seperti kawan-kawannya yang duduk melipat diri, kelelawar yang bebas di udara, namun juga kelinci yang hidupnya selalu terancam oleh kekerasan binatang-binatang yang lebih besar dan buas. Mahisa Agni itu pun kemudian menundukkan kepalanya. Terbayang di mata hatinya, betapa besar kekuasaan Yang Maha Agung yang telah menjadikan semuanya itu.

Selangkah Mahisa Agni berjalan terus. Semakin lama semakin dekat ke tebing sungai yang dalam. Tetapi beruntunglah bahwa bulan telah membantunya menunjukkan jalan yang dapat dilaluinya untuk menuruni tebing. Meskipun demikian, Mahisa Agni melangkah dengan penuh kewaspadaan. Ia tidak takut kepada hantu Karautan yang akan mencegatnya di tepian, atau harimau yang bersembunyi di dalam rimbunnya belukar menunggu rusa mencari minum, atau binatang-binatang buas yang lain, tetapi yang menjadi perhatian Mahisa Agni adalah ular dan sebangsanya.

Meskipun ia masih mempunyai ramuan obat penawar bisa, tetapi baginya lebih baik tidak usah mempergunakannya, daripada ia harus digigit ular. Apalagi ular yang bisanya sangat tajam, maka meskipun ia akan dapat menawarkannya, namun ia pasti akan mengalami demam.

Perlahan-lahan Mahisa Agni merayapi tebing yang curam, turun ke bawah. Telah didengarnya gemercik air sungai yang mengalir dibawahnya. Sekali-sekali ia melihat kilatan pantulan cahaya bulan pada wajah air yang beriak kecil. Di lambung kanannya tergantung bumbung tempat air, dan di lambung kiri tergantung pedangnya. Adalah jarang sekali Mahisa Agni menyandang pedang atau senjata apapun. Tetapi karena perjalanannya yang penting kali ini, maka ia pun bersenjata pula seperti ketiga kawan-kawannya. Mungkin senjata itu berguna tidak saja untuk berkelahi, tetapi untuk menebas pepohonan dan kayu-kayuan apabila diperlukan.

Dalam pada itu ketiga kawannya masih duduk mematung, seakan-akan mereka sama sekali tidak berani bergerak. Hanya sekali-sekali mereka memandang jauh ke tempat Mahisa Agni menghilang. Tetapi sekali-sekali mereka juga sempat melihat bulan yang jernih. Namun tak seorang pun dari mereka yang mulai bercakap-cakap.

Tetapi tiba-tiba salah seorang dari mereka menjadi pucat. Ketika ia memandang bulan yang kekuning-kuningan, tiba-tiba di bawah bayangan cahaya bulan ia melihat sesuatu yang bergerak. Mula-mula ia hanya menyangka, bahwa itu adalah daun-daun yang di sentuh angin. Tetapi gerak itu ternyata terlalu jauh bergeser. Dengan tangan yang gemetar digamitnya kawan-kawannya dan dengan dagunya ia menunjuk ke arah bayangan itu.

Kawan-kawan-nya yang kemudian berpaling pula, merasa seperti disengat lebah ditengkuknya. Mereka terkejut bukan kepalang. Bayangan itu bergerak cepat sekali seperti hantu yang terbang di atas padang rumput Karautan tanpa menyentuh tanah. Tubuh mereka itu pun menjadi gemetar. Hampir seluruh sendi-sendi tulang mereka serasa terlepas. Tiba-tiba merayaplah di dalam dada mereka anggapan bahwa sebenarnya hantu itu dapat bergerak cepat sekali tanpa menyentuh tanah.

Pedang-pedang yang berada di pangkuan mereka itu sama sekali sudah tidak mereka ingat lagi. Apalagi untuk berbuat sesuatu. Mereka hanya dapat duduk membeku tanpa berani menggerakkan ujung jarinya sekalipun. Meskipun demikian, mereka mencoba juga untuk melihat bayangan itu bergerak-gerak. Sekali-sekali cepat, namun kemudian lambat, berkisar dari satu garis ke garis yang lain.

Dalam pada itu yang dapat dilakukan oleh ketiga kawan Mahisa Agni hanyalah berdoa, semoga hantu itu tidak datang kepada mereka. Dengan dada bergetar dan tubuh gemetar, mulut mereka berkumat kumit. Tetapi bayangan itu semakin lama menjadi semakin dekat. Namun mereka melihat bayangan itu berada pada garis yang menyilang dihadapan mereka, sehingga mereka mengharap, bahwa bayangan itu tidak berbelok lurus ke arah mereka.

Dengan mata terbelalak mereka menyaksikan gerak bayangan itu. Hati mereka berdesir ketika mereka menyaksikan itu. Hati mereka berdesir ketika mereka menyaksikan bayangan itu berhenti. Tetapi hanya sesaat, kemudian kembali bergerak berputar. Mereka melihat gerak itu menjadi lebih lambat dan yang hampir menjadikan mereka pingsan, bayangan itu berjalan ke arah mereka bertiga, seolah-olah mereka bertiga itu sudah dilihatnya. Ketakutan yang bergolak di dalam dada mereka itu pun menjadi semakin memuncak. Tiba-tiba terdengar salah seorang berdesis dengan gemetar,

“Menuju kemari.”

Kawan-kawan-nya menyahut, “Ya.”

Mereka itu kemudian melihat bayangan itu sudah semakin dekat. Di belakang bayangan itu mereka melihat selapis asap yang bergulung-gulung. Asap putih yang tipis.

“Hantu itu berasap,“ gumam mereka di dalam hati. Karena itulah maka mereka menjadi semakin ketakutan.

Namun telinga mereka kini telah mendengar derap kehadiran bayangan itu. Derap itu seperti derap seekor kuda.

“Suara kuda,“ desis salah seorang dari mereka.

“Hantu itu naik kuda semberani,” sahut yang lain.

Hati mereka semakin lama menjadi semakin kalut, sehingga akhirnya mereka sampai ke puncak kecemasan.

Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Lari.”

“Kemana,” sahut yang lain.

“Kemana saja.”

“Tetapi kita tidak dapat berlari secepat kuda semberani.”

Sesaat mereka terdiam. Mereka memang tidak dapat berlari secepat kuda semberani. Karena itu mereka menjadi semakin bingung, sedang bayangan itu semakin lama semakin dekat dengan mereka.

“Bersembunyi,“ desis yang lain.

Mereka segera mencoba mencari tempat untuk bersembunyi. Yang ada di dekat mereka adalah sebuah gerumbul yang cukup lebat, sehingga dengan serta merta kedua kawannya menyambut,

“Ya, kita bersembunyi.”

Serentak mereka bertiga merangkak cepat-cepat memasuki gerumbul yang ada di samping mereka. Dengan tersuruk-suruk mereka menyibak daun-daun perdu dan menyusup kedalamnya. Sama sekali tidak mereka rasakan, goresan-goresan duri yang tajam pada tubuh mereka. Demikian mereka hilang di dalam belukar, maka segera mereka mendengar derap kuda semakin dekat. Dan sesaat kemudian mereka mendengar derap kuda itu berhenti.

Dari celah-celah rimbun dedaunan yang melindungi mereka, mereka dapat melihat seekor kuda yang tegar kuat. Di punggungnya duduk seorang dalam pakaian yang aneh. Pakaian yang tidak teratur dan memakai tutup di wajahnya. Sesobek kain melingkar di bawah mata dan diikat di bagian belakang kepalanya, di bawah gelungnya yang tidak terpelihara.

Melihat kuda dan penunggangnya itu, ketiga kawan-kawan Mahisa Agni benar-benar tidak lagi bergerak. Bernafas pun rasa-rasanya menjadi sangat sulit. Gambarannya tentang hantu itu sama sekali tidak sesuai dengan apa yang dilihatnya kini. Meskipun demikian, ketakutannya menjadi bertambah-tambah. Wajah hantu itu tidak sedahsyat yang disangkanya. Namun tidak juga tampan seperti ceritera-ceritera yang pernah didengarnya, bahwa hantu Karautan adalah hantu yang tampan, meskipun liar. Tetapi kali ini hantu itu mencoba menutupi wajahnya, sehingga wajah itu sama sekali tidak dapat mereka kenal.

“Apakah mulut hantu itu seperti mulut raksasa dalam ceritera-ceritera itu,“ pikir mereka.

Perasaan ketiga orang itu benar-benar menjadi kacau. Campur baur antara ceritera yang pernah mereka dengar tentang hantu yang tampan berambut liar, gambaran-gambaran mereka tentang hantu yang berkepala besar dan bermata merah, dan kenyataan yang dilihatnya kini. Meskipun demikian, mereka masih menduga bahwa sebenarnya hantu itu adalah hantu yang tampan.

Hati mereka benar-benar membeku ketika mereka melihat hantu itu turun dari kudanya. Mereka seakan-akan berusaha mengkerutkan tubuh-tubuh mereka sekecil mungkin, supaya hantu itu tidak dapat melihatnya Meskipun demikian, mereka merasa bahwa mereka telah berada di ujung ubun-ubun. Satu-satunya harapan mereka adalah, menunggu Mahisa Agni datang. Tetapi kalau hantu itu, melihatnya sebelum Agni datang, maka mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa. Mereka kemudian melihat hantu itu perlahan-lahan berjalan mendekati perapian dan memperhatikan setiap benda yang ada di sekitar perapian itu.

Dengan kakinya hantu itu menyentuh benda-benda yang berserakan. Sebungkus bekal dan makanan. Beberapa macam alat-alat, bumbung-bumbung kecil dan mangkok. Dan yang terakhir adalah pedang-pedang kawan-kawan Mahisa Agni itu. Terdengar hantu itu menggeram. Suaranya mengerikan seperti suara sangkakala Dewa Maut. Perlahan-lahan, namun dalam menusuk pusat jantung.

Ketiga kawan Mahisa Agni benar-benar berkerut seperti tikus dihadapan seekor kucing yang garang. Hanya bibir-bibir mereka sajalah yang bergerak-gerak. Namun seluruh tubuh mereka menggigil seperti orang kedinginan. Tiba-tiba hantu itu tertawa perlahan-lahan. Diputarnya tubuhnya dan sambil menunjuk ke dalam gerumbul itu terdengar suara bergumam, seakan-akan melingkar-lingkar saja di dalam perutnya.

Dada ketiga kawan Mahisa Agni itu benar-benar hampir meledak karena kecemasan melihat sikap hantu itu. Seakan-akan hantu itu telah menunjuk hidung mereka masing-masing, dan suara tertawanya adalah pertanda, bahwa maut telah siap untuk menerkamnya.

“Siapa bersembunyi di sana?“ terdengar suara hantu itu berat.

Pertanyaan itu benar-benar seperti ledakan petir di dalam kepala kawan-kawan Mahisa Agni itu. Tulang-tulang mereka serasa benar-benar telah terlepas dari kulit daging mereka. Dan karena itulah maka mereka dengan lemahnya terkulai di tanah, di dalam gerumbul yang rimbun. Seandainya sebilah pisau menyentuh kulit mereka, maka seakan-akan dari kulit itu tidak akan menetes darah yang merah. Demikian takut dan cemas mereka, sehingga tubuh-tubuh mereka menjadi putih seperti mayat, dan dingin membeku seperti air embun yang menetes di malam hari.

Sejenak hantu itu tegak berdiri dengan garangnya. Di tunggunya jawaban dari pertanyaannya. Tetapi tak ada yang berani mengucapkan sepatah katapun. Apalagi menjawab pertanyaannya hantu itu.

“He,” teriak hantu itu lebih keras, “siapa bersembunyi dalam gerumbul itu?” Ketiga kawan Mahisa Agni masih berdiam diri. Bahkan hati mereka menjadi semakin membeku. “Hem,“ hantu itu menggeram lagi, “jangan menghina aku. Jawab siapa kalian?”

Angin malam berhembus dengan lemahnya menggerakkan daun gerumbul itu. Di langit bulan masih tergantung diantara bintang-bintang yang bertaburan. Tetapi betapa kecutnya hati ketiga orang yang bersembunyi di dalam gerumbul itu. Mulut mereka benar-benar serasa terkunci. Selangkah hantu itu maju mendekati gerumbul itu, ternyata di lambungnya tergantung sebilah pedang yang panjang. Terjuntai hampir menyentuh tanah.

Pedang itu semakin menggoncangkan dada mereka yang sedang bersembunyi. Mula-mula mereka heran melihat pedang itu. Tetapi kemudian terasa dada mereka menjadi pedih, seakan-akan ujung pedang itu telah menghunjam menembus tulang-tulang iganya. Hantu itu rupa-rupanya menjadi marah ketika pertanyaan-pertanyaannya tidak berjawab. Dengan lantang diulanginya pertanyaan,

“He, siapa yang bersembunyi di situ. Aku minta kalian menjawab pertanyaanku.”

Suara itu lepas, selepas angin yang bertiup dipadang rumput. Hilang tanpa kesan dan jawaban. Dengan demikian maka hantu itu menjadi semakin marah. Selangkah lagi ia maju. Dan kali ini ia mengancam,

“Aku sudah mengucapkan beberapa kali pertanyaan. Tetapi kalian tidak menjawab. Kalau kalian tidak mempedulikan kehadiranku disini, maka kalian akan mengalami nasib yang malang. Sekarang jawab pertanyaanku, siapakah kalian?”

Ketiga orang yang bersembunyi itu benar-benar menjadi ketakutan. Mereka harus menjawab pertanyaan hantu itu supaya hantu itu tidak menjadi semakin marah. Tetapi tak seorang pun yang mampu mengucapkan jawaban. Karena itu, hantu itu hanya mendengar desah nafas yang berkejar-kejaran.

“He,” geram hantu itu pula. Dan tiba-tiba ia berteriak, “Keluar. Keluar dari gerumbul itu Kalau tidak, maka gerumbul ini akan aku bakar.”

Mereka yang bersembunyi di dalam gerumbul itu menggigil semakin cepat. Tubuh mereka seakan-akan tidak lagi dapat mereka kuasai. Meskipun mereka mendengar dan melihat, namun seakan-akan mata mereka dan telinga mereka itu tidak lagi ada hubungannya dengan anggauta badan mereka yang lain. Meskipun telinga dan mata mereka mempengaruhi kehendak mereka untuk merangkak keluar karena ancaman hantu itu, namun anggauta badan mereka seolah-olah telah terlepas satu sama lain, sehingga tidak lagi mampu bergerak.

Hantu itu kemudian berdiri bertolak pinggang. Kakinya merenggang dan dadanya menengadah. Terasa kesabarannya semakin tipis, dan dengan penuh luapan kemarahan ia berteriak,

“Keluar. Keluar. Sekali lagi aku peringatkan Kalau tidak, kalian akan mati terbakar di dalam gerumbul ini.”

Ketakutan ketiga orang itu sudah memuncak. Apalagi ketika mereka melihat hantu itu kemudian melangkah ke perapian. Diambilnya seonggok rumput-rumput kering yang sudah mereka kumpulkan. Kemudian rumput-rumput kering itu diletakkannya di sisi gerumbul itu. Agaknya hantu itu benar-benar akan melakukan apa yang dikatakannya.

Karena itu, maka ketiga orang yang bersembunyi itu menjadi bingung. Demikian bingungnya sehingga seolah-olah mereka telah menjadi gila. Meskipun demikian, dengan sisa-sisa kekuatan dan keberanian yang terakhir, mereka masih mencoba menghindarkan diri dari kemungkinan terbakar hangus di dalam gerumbul itu. Seperti orang berjanji, mereka saling berpandangan. Dan dengan tersuruk-suruk mereka merangkak keluar dari gerumbul itu.

Ketika hantu itu melihat mereka muncul dari gerumbul itu, terdengarlah derai tertawanya, seakan-akan memecahkan telinga. Suara tertawa itu benar-benar telah menggoncangkan dada ketiga anak-anak muda Panawijen. Mereka merasa seakan-akan dada mereka bergelora. Sehingga tubuh-tubuh mereka itu menjadi semakin gemetar karenanya.

“Hem,“ geram hantu itu, “ternyata di dalam gerumbul itu bersembunyi kelinci-kelinci. Nah, bukankah dugaanku benar. Tiga ekor kelinci.”

Ketiga anak muda itu sama sekali tidak berani memandang wajah hantu yang bertutup sesobek kain. Mereka duduk dengan lemahnya, sambil menundukkan kepala mereka dalam-dalam.

“Kemari,“ bentak hantu itu.

Ketika anak muda Panawijen itu masih berdiam diri. Mereka seakan-akan tidak mampu lagi untuk bergerak maju.

“Kemari,” teriak hantu padang itu.

Suara itu menggelegar seperti petir menyambar di langit. Kembali mereka tersuruk-suruk merangkak mendekati hantu yang berdiri bertolak pinggang dan kaki renggang. Ketiga anak muda itu seakan-akan seorang hamba yang sedang menghadap tuannya. Duduk dengan kepala tunduk dan hati yang bergolak penuh kecemasan, ketakutan dan kengerian. Rupa-rupanya sikap mereka benar-benar menyenangkan hantu padang itu. Sekali lagi terdengar hantu itu tertawa berderai. Suaranya bergulung-gulung melontar ke segenap sudut padang Karautan.

Tetapi ketika ketiga anak muda Panawijen itu semakin dekat, maka tiba-tiba suara tertawa itu berhenti. Dengan mata terbelalak hantu itu memandangi anak-anak muda yang duduk di hadapannya. Bahkan kemudian tanpa sesadarnya hantu itu berdesis,

“Anak-anak Panawijen. Bukankah kalian anak-anak Panawijen?”

Ketiga anak-anak muda itu menjadi semakin kecut. Wajahnya semakin pucat karena mereka mendengar hantu itu menyebut mereka dengan tepat sebagai anak-anak muda Panawijen.

Namun sesaat kemudian hantu itu sudah tertawa lagi. Dengan nyaring ia berkata, “Hai anak-anak Panawijen. Jangan heran. Aku tahu siapa kalian. Adalah suatu kesenangan yang sukar dicari di kesempatan lain.” Hantu itu berhenti sejenak. Kemudian dilanjutkannya, “Jangan ingkar. Bukankah kalian anak-anak muda Panawijen?”

Ketiga anak-anak muda itu tidak segera menjawab. Mereka benar-benar telah membeku. Sehingga hantu itu terpaksa membentak keras, “Ayo jawab. Kalau tidak aku cekik kalian sampai mati.”

Ngeri. Dan kengerian itu telah memaksa salah seorang dari ketiga anak muda itu menjawab dengan suara parau gemetar.

“Ya.“ Mereka sama sekali tidak berani mengingkari, sebab menurut dugaan mereka, hantu dapat melihat apa saja dan mengerti apa saja.

“Bagus,” sahut hantu itu. Dan tiba-tiba hantu itu semakin mengejutkan dan menakutkan. Suaranya menjadi semakin kasar. Dengan tajamnya hantu itu berkata, “Aku mempunyai dendam yang dalam terhadap anak-anak muda Panawijen.”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar