MENU

Ads

Sabtu, 21 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 063

Mendengar kata-kata terakhir dari hantu itu, maka nyawa-nyawa mereka serasa telah bergerak ke ubun-ubun. Dengan satu sentuhan dari hantu itu, maka nyawa-nyawa itu sudah akan terlepas dari tubuh-tubuh mereka. Sehingga sedemikian ketakutan itu mencengkam hati mereka, ialah seorang dari mereka, terpaksa mencoba berkata,

“Kenapa tuan mendendam kami?”

Kembali terdengar derai tertawa hantu itu. Jawabnya, “Aku mendendam setiap orang yang berani menginjakkan kakinya dipadang ini. Tetapi lebih-lebih lagi anak-anak muda Panawijen, apalagi yang datang dengan membawa senjata. Nah, apakah kalian ingin melawan aku dengan senjatamu itu? Ambillah. Lawan aku oleh kalian bertiga bersama-sama.”

“Tidak. Tidak,“ cepat-cepat salah seorang mereka berdesis, “kami tidak berani melawan tuan. Pedang-pedang kami hanya sekedar untuk menjaga diri kami dari sergapan binatang buas dan untuk menebas pepohonan.”

“Apa? Jadi kalian ingin membunuh binatang-binatang peliharaanku dipadang ini he. Jinan, Patalan dan Sinung Sari?” bentak hantu itu.

Hampir pingsan mereka bertiga, ketika mereka mendengar nama-nama mereka disebutkan Benar-benar diluar kemampuan berpikir mereka. Dan dengan demikian telah mempertebal kepercayaan mereka, bahwa hantu itu dapat mengetahui apa saja dan dapat mengerti apa saja, sampai nama-nama mereka pun dikenal pula oleh hantu itu.

“Jangan terkejut kalau aku mengenal nama-nama kalian. Aku dapat mengenal setiap nama orang-orang yang lewat dipadang ini meskipun baru untuk pertama kali. Aku dapat mengenal tempat mereka dan mengenal orang tua mereka. Ternyata nasibmu memang lagi malang. Jangan menyesal bahwa kalian telah bertemu dengan hantu padang Karautan ini.”

“Tetapi,“ berkata salah seorang dari mereka tergagap-gagap. “tetapi aku tidak pernah berbuat sesuatu.”

“Jangan ribut,“ teriak hantu itu, “aku mendendam Panawijen. Semua anak-anak muda Panawijen. Termasuk kalian.”

Tubuh-tubuh itu kini, sudah semakin lemah. Mereka benar-benar telah kehilangan harapan untuk dapat melepaskan diri dari tangan hantu itu. Yang dapat mereka lakukan adalah duduk bertelekan tangan mereka yang lemah dan memohon kemurahan hantu itu.

“Ampun tuan. Aku minta ampun.”

Hantu itu tertawa berkepanjangan. Jawabnya, “Tidak ada maaf untuk kalian dan untuk semua anak-anak muda yang berani menyentuh padang ini. Apalagi kalian telah berusaha membunuh binatang peliharaanku, tebusannya adalah nyawa-nyawamu.”

Kini ketiga anak muda itu telah terlempar dalam suatu suasana yang tidak dimengertinya. Dada mereka seolah-olah tidak lagi mampu bergerak untuk menarik nafas dan darah mereka serasa telah berhenti mengalir. Mereka masih dapat melihat hantu itu bertolak pinggang dan kemudian melangkah maju, tetapi mereka sudah tidak mampu berbuat apa saja. Mereka sama sekali tidak dapat lagi berusaha untuk menghindarkan diri dari bencana yang semakin lama semakin mendekati mereka.

Sejenak kemudian mereka masih mendengar hantu itu berkata, “Jinan, Patalan dan Sinung Sari. Apakah kalian tidak akan mencoba melawan untuk memperpanjang umurmu?”

Ketiga anak-anak muda itu sama sekali benar-benar sudah tidak berdaya. Yang terloncat dari mulut mereka adalah suatu keluhan, “Ampun. Ampunkan kami tuan. Kami tidak akan mengganggu padang rumput ini lagi.”

“Persetan,” sahut hantu itu, “aku harus melepaskan dendamku. Karena kalian tidak melawan, maka kalian akan aku bunuh dengan senjata, supaya kalian tidak tersiksa oleh penderitaan sebelum kematian kalian.”

“Ampun, ampun tuan,“ ketiga anak-anak muda itu merangkak-rangkak dan bahkan kemudian mereka bertiarap di bawah kaki hantu itu.

Tetapi yang mereka dengar jawaban hantu itu, “Hanya ada dua kemungkinan bagi kalian. Melawan, namun kalian akan mengalami penderitaan di saat-saat terakhir, atau menurut kehendakku dan kalian akan mengalami saat-saat yang menyenangkan menjelang kematian kalian.”

Ketiga anak muda itu sudah tidak mampu menjawab. Tubuh mereka menggigil ketakutan dan nyawa mereka benar-benar terasa telah terlepas dari tubuh-tubuh mereka.

Hantu itu kini sudah berdiri tepat dihadapan ketiga anak-anak Panawijen yang menggigil. Tampaklah matanya membayangkan dendam dan kepuasaan. Hantu itu agaknya senang sekali melihat sikap ketiga anak-anak muda Panawijen yang ketakutan dan hampir pingsan karenanya. Semakin menggigil anak-anak muda itu, semakin senang hati hantu itu. Dan karena itulah maka hantu itu ingin berbuat hal-hal yang aneh-aneh yang dapat menimbulkan kesan-kesan yang mengerikan. Ia ingin menyebarkan berita bahwa sebenarnya hantu Karautan telah timbul kembali. Bahkan semakin menakutkan dan semakin mengerikan dari tabiat hantu itu dahulu sebelum menghilang beberapa lama.



Karena itu maka terdengar hantu itu berkata, “He anak-anak muda Panawijen. Karena belas kasihanku kepada kalian maka aku ingin salah seorang dari kalian yang akan tetap hidup untuk mengabarkan apa yang telah terjadi disini. Tetapi yang hidup itu akan mengalami cacat sepanjang umurnya. Aku ingin memotong kedua pergelangan tangannya dan melepaskannya pergi. Nah, siapakah yang ingin hidup diantara kalian?”

Hati ketiga anak muda yang sudah terguncang-guncang itu semakin ngeri mendengar pertanyaan itu. Namun mereka benar-benar hampir menjadi pingsan sebelum hantu itu menyentuh tubuh mereka.

“Siapa?” terdengar hantu itu berteriak, “beberapa hari yang lalu aku juga menangkap seorang yang lewat dipadang ini. Aku pukuli dia, tetapi aku tidak membunuhnya, sebab aku ingin berita itu tersebar. Tetapi orang itu pun pasti cacat sepanjang umurnya. Karena ia ingin melawan, maka aku patahkan tulang punggungnya. Dengan demikian ia akan mengalami kelumpuhan seumur hidupnya. Nah, sekarang pilihlah diantara kalian, siapakah yang masih ingin hidup dan mengabarkan ceritera ini kepada segenap penduduk Panawijen?”

Ketiga anak muda itu sama sekali tidak mampu untuk menentukan pilihan yang mengerikan itu. Mereka kini benar-benar telah berputus asa, dan mereka tinggal menunggu saat-saat yang dahsyat itu tiba. Sejenak suasana padang rumput itu menjadi hening. Hantu itu masih saja berdiri memandangi ketiga korbannya yang ketakutan. Agaknya ia sedang memilih, siapakah yang akan dihidupinya. Karena itu, dengan kakinya ia meraba-raba ketiga-tiganya pada punggungnya. Namun, sentuhan-sentuhan itu terasa seakan-akan ujung jari Dewa Maut telah meraba-raba mereka.

Tetapi dalam ketakutan, kecemasan dan kengerian itu, mereka tiba-tiba dikejutkan oleh suara tertawa melengking di belakang gerumbul yang tidak sedemikian jauhnya dari mereka. Suara itu melonjak dalam kesepian malam dipadang rumput Karautan dalam nada yang parau dan liar. Bukan saja ketiga anak-anak muda yang berputus asa itu, tetapi hantu itu pun terkejut pula, sehingga dengan serta merta ia memutar tubuhnya menghadap ke arah suara itu.

Dalam keremangan cahaya bulan, mereka melihat sebuah bayangan muncul dari balik gerumbul itu. Sebuah bayangan yang melonjak-lonjak seperti bayangan seorang gila yang sedang menari-nari. Semakin lama semakin dekat. Ketika bayangan itu menjadi semakin jelas, maka sekali lagi dada anak-anak muda Panawijen dan bahkan hantu yang berdiri di sampingnya itu berdesir. Bayangan itu adalah bayangan sesosok tubuh yang menakutkan. Ternyata seseorang telah menghampiri mereka dalam pakaian yang liar. Orang itu sama sekali tidak mengenakan sepotong kain pun, kecuali sebuah celana yang dibeliti oleh daun-daun dan sulur-sulur perdu. Orang ini pun mempergunakan secarik kain untuk menutup wajahnya seperti hantu yang telah berdiri di samping ketiga anak muda Panawijen itu, namun orang yang datang itu rambutnya dengan liar terurai sama sekali.

Semakin dekat, tampaklah gerak-gerik orang itu benar-benar menakutkan. Sekali-sekali meloncat-loncat namun kemudian merunduk sambil tertawa seperti orang gila. Terdengar hantu yang berdiri di samping Sinung Sari dan kawannya itu menggeram,

“He, siapakah kau orang gila?”

Yang disebut orang gila itu tertawa terkekeh-kekeh. Kemudian dengan nada suaranya yang melengking menjawab, “He, akulah hantu Karautan. Aku sudah lama menghilang dari padang ini. Tetapi tiba-tiba ada orang yang menamakan diri hantu Karautan. Nah, kini kita bertemu. Dengar, akulah hantu Karautan itu.”

Yang mendengar jawaban itu benar-benar menjadi pening. Apalagi ketiga anak muda Panawijen itu. Dadanya terguncang-guncang tak menentu sehingga hampir-hampir pecah karenanya. Hantu yang datang pertama-tama di atas punggung kuda itu pun tidak kurang gelisahnya. Ditatapnya hantu yang datang kemudian dengan saksama. Kemarahannya merayap membakar seluruh tubuhnya, sehingga tubuh itu bergetar karenanya.

“Jangan mencoba mengacaukan rencanaku,“ bentak hantu yang datang berkuda, “atau kau yang pertama-tama aku bunuh?”

Hantu yang mirip orang gila itu tertawa terkekeh-kekeh. Tubuhnya terguncang dan dengan langkah-langkah kecil ia meloncat-loncat. Sahutnya dalam nada yang tinggi. “O, o. Kau akan membunuh aku. Pernahkah kau mendengar ceritera tentang hantu Karautan yang sebenarnya? Bukan hantu seperti tampangmu? Hantu Karautan tidak bisa mati. Hantu Karautan akan tetap hidup untuk seterusnya.”

Api kemarahan yang memancar dari mata hantu yang datang pertama-tama menjadi semakin menyala. Kini ia maju setapak dan suaranya menggelegar, “Kalau benar kau hantu Karautan, kau pasti tahu, siapakah ketiga anak-anak muda yang ketakutan ini?”

“O, o, o,“ teriak hantu gila itu mengerikan, “kenapa kau tanyakan nama-nama mereka?”

“Hantu tahu segala-galanya. Aku tahu namanya, rumahnya dan orang tuanya. Nah, kalau kau benar-benar hantu Karautan, sebutlah namanya.”

“Baik. Baik Aku akan menyebut namanya. Tetapi aku ingin melihat wajahnya dengan jelas.“ hantu yang mirip orang gila itu melangkah kecil-kecil mendekati ketiga anak muda Panawijen yang ketakutan. Satu-satu dirabanya tengkuk anak-anak muda itu. Dan dengan nyaring ia berkata, “Hantu Karautan membunuh korbannya dengan luka di lehernya. Aku suka menghisap darah. Apalagi darah-darah anak muda semuda anak-anak ini. Alangkah segarnya. Dan apabila darah mereka bertiga belum cukup, maka darahmu akan aku hisap pula. Darah orang yang mengaku dirinya hantu Karautan.”

“Diam,“ bentak hantu berkuda, “sebutkan namanya, sebelum kepalamu terpancung.”

“Hantu tidak pernah memancung kepala korbannya,“ jawab hantu yang lain, “dan aku belum perah sekalipun naik kuda. Aku dapat berlari melampaui kecepatan kuda dengan kakiku.”

“Persetan. Tetapi kau tidak mampu menyebut nama anak-anak muda itu.”

“O o. o,“ suaranya melengking-lengking, “Baik. Baik aku sebut namanya satu-satu.“ Kemudian hantu itu menyentuh ketiga anak muda itu satu demi satu. “Yang ini bernama Jinan. He. Bukankah aku tahu. Yang ini Patalan dan yang satu lagi Sinung Sari.”

Terdengar hantu berkuda itu menggeram. Dengan lantang ia berkata, “Kau mendengar aku menyebut namanya.”

“O, maaf. Aku mendengar dan melihat apa yang kau lakukan. Mengintai di kejauhan. Melihat apa yang menyala disini. Kemudian kau datang ke arah api itu, begitu? Kau kemudian menakut-nakuti mereka dengan menamakan dirimu hantu Karautan.”

“Cukup.“ hantu berkuda itu menjadi marah sekali. Selangkah ia maju mendekati hantu yang mirip orang gila itu. Dalam luapan kemarahan ia berkata, “Jangan banyak bicara. Sekarang kita tentukan, siapakah yang berhak menguasai padang ini dengan kekuatan.”

“O, o, o. Bagus, Bagus,” jawab hantu yang mirip orang gila itu, “taruhannya adalah ketiga anak-anak muda itu. Siapa yang menang berhak memilikinya. Jinan, Patalan dan Sinung Sari. Alangkah segar darahnya dan darahmu sekalian.”

“Tutup mulutmu bersiagalah,“ bentak hantu berkuda itu. Dan tiba-tiba saja pedangnya telah ditariknya dari wrangkanya.

“Eh, kau akan bertempur dengan pedang?”

“Cepat, bersiagalah.”

“Baik. Baik. Aku juga akan bertempur dengan pedang. Hantu mampu bertempur dengan apa saja. Bahkan dengan batu dan pasir.“ Hantu gila itu kemudian berjalan-jalan tersuruk-suruk memungut pedang Patalan yang terletak di samping perapian. Katanya kepada Patalan, “Aku pinjam pedangmu. Mudah-mudahan aku menang, sehingga kau akan mati dengan nikmat. Aku akan menghisap darahmu perlahan-lahan. Aku tidak sekejam hantu berkuda ini.”

Tetapi hantu berkuda itu sama sekali tidak sabar lagi. Cepat ia meloncat dengan pedang terjulur, langsung mengarah ke dada hantu yang lain. Namun hantu yang lain itu pun cepat menghindar ke samping dan dengan tangkas pula ia menggerakkan pedangnya. Demikianlah mereka berdua terlibat dalam perkelahian dengan pedang. Ternyata masing-masing dapat menggerakkan pedangnya dengan tangkas dan cepat. Kelincahan mereka menunjukkan bahwa mereka benar-benar mampu bertempur dengan pedang di tangan.

Hantu berkuda itu bergerak dengan mantap. Langkahnya tetap dan berat. Ayunan pedangnya mencampakkan angin yang kencang dan menimbulkan bunyi yang nyaring. Sedang hantu yang lain bergerak dengan lincahnya. Langkahnya pendek-pendek dan melonjak-lonjak. Pedangnya pun bergerak dengan ayunan yang kecil-kecil. Sekali mendatar, namun kemudian mematuk-matuk.

Ketiga anak-anak Panawijen melihat perkelahian itu. Mereka masih juga mendengar apa saja yang dipercakapkan oleh hantu-hantu itu, dan apa yang dibicarakannya. Bahkan mereka masih juga mendengar hantu yang datang kemudian itu membuat taruhan atas mereka. Dan mereka juga mendengar betapa hantu yang gila itu mengatakan alangkah segarnya darah mereka.

Tetapi seakan-akan mereka telah mati sejak lama, seakan-akan mereka sudah tidak mampu lagi berbuat apa-apa atas tubuh mereka sendiri. Kehendak yang ada di dalam hati mereka, tidak mampu lagi untuk menggerakkan tubuh mereka. Sebenarnya mereka kini tidak lebih dari seonggok tanah mati. Pertanda bahwa mereka masih hidup adalah matanya yang berkedip-kedip meskipun memancarkan sinar yang aneh. Beku. Serta arus nafas mereka yang tersendat-sendat. Sehingga apapun yang terjadi di hadapan wajah-wajah mereka, namun mereka sudah tidak mampu untuk membuat tanggapan apapun atas semua kejadian itu. Seperti juga mereka kini melihat kedua hantu itu bertempur. Tetapi hati mereka telah beku.

Dengan demikian ketiga anak-anak muda Panawijen sama sekai tidak beranjak dari tempatnya. Duduk bersimpuh dengan nafas yang hampir-hampir terputus. Dalam keremangan cahaya bulan mereka dipaksa melihat perkelahian yang semakin lama semakin dahsyat tanpa dapat berbuat sesuatu dan bahkan apa yang tampak itu seolah-olah bayangan saja di dalam mimpi yang menakutkan. Dan apa yang terjadi atas dirinya seperti juga di dalam mimpi, sama sekali tidak dapat dikendalikannya sendiri.

Perkelahian diantara kedua bayangan yang mengaku diri masing-masing hantu Karautan itu semakin lama menjadi semakin sengit. Masing-masing telah bergerak dalam tata perkelahian yang aneh yang lain daripada tata perkelahian yang biasa. Mereka mengayunkan pedang-pedang mereka diiringi oleh teriakan nyaring dan pekik yang melengking-lengking. Hantu yang datang berkuda benar-benar mampu bergerak dengan langkah-langkah yang penuh melontarkan tenaga, namun hantu yang lain mampu menyusup dalam setiap gerak lawannya dengan patukan-patukan pedang yang sangat berbahaya.

Semakin lama perkelahian itu menjadi semakin sengit. Seperti dua ekor ayam jantan yang berlaga. Ketika tubuh-tubuh mereka telah dibasahi oleh keringat, maka tenaga mereka pun menjadi semakin dahsyat. Desak mendesak, dorong mendorong dalam kekuatan yang seimbang.

Ketiga anak muda Panawijen sama sekali tidak dapat menilai, bagaimanakah perkelahian itu terjadi. Mereka hanya melihat saja gerak yang liar dan kasar. Lontar melontar dalam sikap yang ganas dan buas, seperti binatang buas yang berlaga berebut mangsa. Keduanya sama sekali tidak pernah mempertimbangkan apa saja yang sedang mereka lakukan untuk mengalahkan lawannya.

Sesaat perkelahian itu menjadi semakin jelas karena tiba-tiba onggokan kayu di atas bara di perapian menyala dengan sendirinya. Menyalanya tidak begitu besar, namun cukup melontarkan sinar yang kemerah-merahan jatuh di atas tubuh-tubuh mereka yang sedang bertempur, sehingga tubuh-tubuh yang basah oleh keringat itu seolah-olah berlapis tembaga yang merah mengkilap.

Namun sesuatu yang tidak diketahui oleh ketiga anak-anak muda Panawijen itu adalah perkembangan dari perkelahian itu. Perkelahian yang kasar dan liar itu justru semakin lama menjadi semakin teratur. Ketika tenaga mereka telah menjadi semakin susut, maka mulailah mereka dengan sungguh-sungguh berusaha untuk memusnahkan lawan-lawan mereka. Karena itulah maka kemudian mereka lelah didorong dalam suatu keadaan yang memaksa. Mereka tidak dapat lagi bergerak-gerak dengan liar dan asal saja mengayunkan pedang-pedang mereka. Bagaimanapun juga, maka akhirnya, mereka akan sampai pada tata gerak perkelahian yang sebenarnya.

Ketika kedua belah pihak telah merasa jemu dengan segala macam tingkah laku yang gila itu, tanpa mereka sadari, maka mulailah perkelahian itu meningkat dalam perkelahian yang sebenarnya. Hantu yang berkuda benar-benar telah kehilangan kesabarannya melawan hantu gila yang memekik-mekik dan melonjak-lonjak seperti monyet kepanasan, sehingga lambat laun, maka tata geraknya pun berubah pula. Semakin mantap dan semakin tenang. Hantu itu tidak lagi menyambar-nyambar dengan lontaran-lontaran yang panjang dan gerak-gerak yang dahsyat. Justru semakin lama geraknya semakin dibatasi dan semakin mapan.

Ternyata lawannya pun mengimbanginya. Hantu gila itu kini sudah tidak memekik-mekik lagi. Meskipun mula-mula ia masih mencoba melawan hantu berkuda itu dengan cara yang gila, namun lambat laun hantu itu pun dipaksa untuk merubah tata gerak perkelahiannya. Karena hantu berkuda itu menjadi semakin tenang dan mapan, maka hantu yang gila itu pun menjadi semakin tenang pula. Berbareng dengan itu, maka teriakan-teriakan dan pekik yang melengking-lengking itu pun berkurang pulalah.

Kini mereka bertempur semakin wajar. Hantu berkuda itu dengan tangkasnya memutar senjatanya dalam arah-arah yang berbahaya dan mengerikan. Ujung pedangnya tidak lagi asal menyambar-nyambar dengan dahsyatnya seperti orang menakut-nakut burung di sawah. Demikian pula hantu yang gila itu. Pedangnya seakan-akan menjadi semakin tenang pula. Meskipun kadang-kadang pedang itu berputar seperti baling-baling dan mematuk dari segenap arah, tetapi semuanya telah diperhitungkan dengan cermat

Hantu-hantu itu sendiri semakin lama semakin menyadari kedudukannya pula. Mereka tidak lagi dapat membuat dirinya berbuat aneh-aneh lagi. Kini mereka telah tenggelam dalam pertempuran antara hidup dan mati dengan ilmu-ilmu mereka yang semakin lama semakin wajar. Namun sekali-sekali masih terdengar hantu yang datang berkuda itu mengumpat-umpat dalam bahasa yang kasar. Seakan-akan ia sama sekali tidak rela menghadapi lawan yang mampu mengimbanginya. Dan bahkan ternyata semakin lama hantu yang gila itu semakin menggelisahkannya.

Ketika pertempuran itu kemudian mencapai puncaknya, maka menggeramlah hantu yang gila itu. Dengan sinar mata yang menyala-nyala ia menyerang lawannya sejadi-jadinya, sehingga beberapa kali hantu yang datang berkuda itu melangkah surut. Namun hantu yang datang berkuda itu pun tidak kurang marahnya. Dicobanya untuk memeras segenap kemampuan yang ada padanya, dan dicobanya untuk segera membinasakan lawannya dengan pedangnya yang berkilat-kilat memantulkan cahaya api kemerah-merahan.

Akhirnya mereka sampai pada saat-saat yang akan menentukan perkelahian itu. Mereka telah memeras tenaga mereka habis-habisan. Kini mereka tidak lagi bertempur dengan kasar dan liar. Tetapi mereka seakan-akan dua panglima perang yang bertemu dalam satu pertempuran atau antara dua orang kesatria yang sedang berkelahi untuk mempertaruhkan kebesaran nama masing-masing.

Dalam pada itu angin malam masih juga berhembus perlahan. Daun-daun perdu di gerumbul-gerumbul di sekitar perkelahian itu bergerak-gerak dalam belaian malam yang lembut. Suaranya gemercik memilukan, seakan-akan mereka sedang merintih melihat perkelahian antara hidup mati dari dua orang yang menamakan diri masing-masing hantu padang Karautan.

Dalam saat-saat terakhir itu, mereka tidak dapat lagi menyembunyikan kedahsyatan ilmu-ilmu mereka masing-masing. Ilmu-ilmu itu tanpa mereka kehendaki, telah melancar dalam kedahsyatan perkelahian, karena keadaan mereka yang semakin lama menjadi semakin sulit. Libatan-libatan serangan lawan telah memaksa mereka masing-masing untuk mempergunakan ilmu puncak yang mereka miliki.

Dengan demikian, maka mereka tidak lagi sekedar bertempur karena mereka masing-masing ingin mempertahankan gelar yang mereka perebutkan. Hantu Karautan. Namun mereka telah benar-benar dibakar oleh nyala dendam di dalam hati mereka masing-masing. Dalam pada itu, api di perapian semakin lama menjadi semakin besar juga. Onggokan kayu yang begitu saja ditimbun di atasnya kini telah menyala seluruhnya, sehingga tempat di sekitar perkelahian itu menjadi semakin terang.

Api itu ternyata tidak saja menerangi tempat di sekitarnya, namun nyalanya lepas sampai ke tempat yang jauh. Seperti juga hantu berkuda itu melihat api dari kejauhan dan mendekatinya, maka tiba-tiba orang-orang yang berada di dekat perapian itu sekali lagi terkejut. Kedua hantu yang sedang bertempur itu pun terkejut pula, sedang ketiga anak-anak muda Panawijen hampir tidak tahu apakah yang dirasakannya atas peristiwa-peristiwa yang terjadi kemudian. Dalam keremangan cahaya bulan, dan disela-sela dering senjata beradu, sekali lagi bergemalah suara derap kaki kuda. Mau tidak mau hantu yang sedang bertempur itu berusaha untuk melihat siapakah yang datang mengganggu perkelahian itu.

Sebenarnyalah dari kejauhan mereka melihat seekor kuda berpacu cepat sekali mendatangi mereka. Debu yang putih melontar naik ke udara. Rupa-rupanya api yang menyala itu telah menarik perhatian penunggangnya. Tanpa dikehendaki sendiri, maka pertempuran itu mengendor sesaat. Mereka bersama-sama ingin melihat siapakah yang baru datang itu. Apakah orang itu juga akan mengaku hantu padang Karautan dan akan turut serta bertempur diantara mereka, atau orang lain yang hanya tertarik oleh nyala api itu saja.

Demikian penunggang kuda itu semakin dekat, maka dada kedua hantu yang bertempur itu menjadi semakin berdebar-debar. Orang berkuda, itu adalah seorang yang berpakaian lengkap sebagai seorang Pelayan Dalam Istana Tumapel. Pelayan Dalam itu agaknya terkejut pula melihat perkelahian dipadang rumput Karautan. Karena itu, maka segera ia memacu kudanya semakin cepat.

Ketika Pelayan Dalam istana itu sudah semakin dekat, tiba-tiba terdengar salah seorang hantu itu melengking, “He, apa kerjamu disini?”

Pelayan Dalam itu tidak segera menjawab. Demikian sampai di tempat itu, maka segera ia menarik kekang kudanya dan mengamat-amati daerah di sekitarnya dengan saksama. Ia melihat kemudian tiga anak-anak muda yang duduk membeku. Dilihatnya pula beberapa alat dan perlengkapan yang berserakan di dekat perapian. Dan dilihatnya pula kedua hantu yang berpakaian aneh-aneh.

Kehadiran penunggang kuda itu benar mempengaruhi perasaan kedua hantu yang sedang bertempur itu. Namun hantu gila tiba-tiba berteriak sambil meluncurkan ujung pedangnya.

“Jangan hiraukan kehadirannya. Marilah kita selesaikan persoalan kita. Akulah hantu padang Karautan.”

Hantu yang datang berkuda terkejut. Namun segera ia berhasil menguasai dirinya. Dengan cepatnya ia menghindari serangan itu, dan dengan cepatnya pula ia telah melibatkan diri dalam perkelahian yang semakin sengit. Senjata-senjata mereka berputar dengan dahsyatnya, melontarkan udara maut. Dari mata mereka memancar dendam yang tiada taranya satu sama lain, sehingga seakan-akan hanya mautlah yang dapat menghentikan perkelahian itu.

Penunggang kuda yang berpakaian seorang Pelayan Dalam itu, melihat perkelahian kedua hantu itu dengan saksama. Sekali-sekali tampak keningnya berkerut, namun sekali tampak wajah itu menjadi tegang. perlahan-lahan ia meloncat turun dari kudanya dan berjalan mendekati titik perkelahian itu. Sebuah pedang yang besar tergantung di sisi tubuhnya dalam sarungnya yang putih gemerlap.

Hantu yang gila itu tiba-tiba berteriak nyaring, “He, pedang kalian berdua mirip benar bentuk dan sarungnya.”

Hantu berkuda itu menggeram. Tetapi ia tidak menjawab, sedang penunggang kuda yang datang itu mengerutkan keningnya. Dicobanya untuk menangkap setiap gerak yang terlontar dan setiap ilmu yang memancar dari kedua hantu itu. Tetapi orang itu belum berbuat sesuatu. Hanya kadang-kadang tampak tangannya meraba-raba hulu pedangnya. Tetapi kembali kedua tangannya tergantung lepas di sisi tubuhnya. Namun ketika sekali lagi terpandang olehnya ketiga anak-anak muda yang ketakutan itu, maka kembali dahinya berkerut-kerut. perlahan-lahan ia berjalan mendekatinya sambil bertanya,

“He, siapakah kalian bertiga?”

Ketiga anak-anak muda itu memandanginya dengan wajah kosong. Tetapi ketika tampak olehnya bahwa orang itu sama sekali bukan sejenis kedua hantu yang bertempur, maka tiba-tiba di sudut hatinya memancar kembali harapan betapapun kecilnya. Karena itu, maka dengan penuh ketakutan salah seorang dari mereka menjawab,

“Kami anak-anak Panawijen tuan.”

“Kenapa kalian berada di tempat ini?”

Pertanyaan itu telah mengingatkannya kepada tugas yang menyeretnya ke tempat terkutuk itu. Maka dengan terbata-bata Patalan menjawab, “Kami datang bersama Mahisa Agni tuan. Kami ingin mencari tempat untuk membuat bendungan.”

Penunggang Kuda yang berpakaian Pelayan Dalam istana itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya pula, “Dimana Mahisa Agni sekarang?”

“Ke sungai tuan. Mencari air,” jawab Sinung Sari.

Pelayan Dalam itu mengangguk-angguk, desisnya, “Jangan takut. Aku akan mengatasi keadaan.”

Harapan yang tumbuh di dalam dada anak-anak muda Panawijen itu menjadi semakin berkembang. Sekali lagi dicobanya untuk menatap wajah Pelayan Dalam yang tegap, tampan dan meyakinkan. Bahkan terdengar Jinan berkata,

“Tuan, hantu-hantu itu telah menakutkan kami. Mereka akan membunuh kami.”

Pelayan Dalam itu berpaling. Dilihatnya kedua hantu itu masih bertempur dengan sengitnya. Terdengar ia berkata, “Keduanya memiliki tenaga yang luar biasa. Siapakah mereka?”

“Kami tidak tahu tuan,“ sahut Sinung Sari, “mereka menamakan diri mereka hantu Padang rumput Karautan.”

Pelayan Dalam itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia berdiri tegak dengan kaki renggang. Sebagai seorang petugas Istana maka ia memiliki keberanian untuk menghadapi setiap kemungkinan. Juga terhadap sepasang hantu yang sedang bertempur itu.

Sinung Sari yang masih gemetar itu tiba-tiba berkata, “Apakah tuan dapat mengusir mereka berdua?”

Pelayan Dalam itu mengerutkan keningnya. Ia tidak segera menjawab. Tetapi dicobanya untuk melihat pertempuran itu dengan saksama.

“Bagaimana tuan,” desak Patalan, “apakah tuan dapat mengusir hantu-hantu itu?”

“Hantu-hantu itu benar-benar menakutkan,“ desisnya, “tetapi jangan takut. Mudah-mudahan ia tidak akan berbahaya bagiku.”

Ketiga anak-anak muda Panawijen itu menjadi agak tenang. Setidak-tidaknya mereka akan mendapat perlindungan dari Pelayan Dalam ini. Sebagai seorang pejabat Istana, maka ia pasti akan berbuat sesuatu. Bukankah ia seorang yang perkasa menilik sikap dan ketenangannya? Sementara itu, ketiga anak-anak muda itu masih mengharap kehadiran Mahisa Agni. Mungkin bersama-sama Mahisa Agni, maka Pelayan Dalam itu akan dapat mengalahkan kedua hantu itu. Atau salah satu diantaranya sesudah yang lain dikalahkan oleh hantu itu sendiri.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar