Sekali-sekali ketiga anak muda itu memandangi tebing sungai yang kelam dan ditutupi oleh rimbunnya dedaunan. Di sana tadi Mahisa Agni menghilang. Dan dari sana pula mereka mengharap Mahisa Agni akan muncul. Tetapi Mahisa Agni itu tidak segera datang kembali. Sungai itu tebingnya terlalu curam. Memang agak terlalu sulit untuk menuruni dan kemudian mendaki tebing itu dimalam hari. Namun beruntunglah ketiga anak-anak muda itu, bahwa tiba-tiba hadir dipadang rumput ini seorang pejabat dari Istana.
Kedua hantu itu masih bertempur dengan dahsyatnya. Bahkan semakin lama semakin sengit. Hantu yang berkuda itu kini tidak lagi melontar-lontarkan dirinya, dan hantu gila itu sudah tidak melonjak-lonjak lagi sambil memekik-mekik. Mereka bertempur dengan serunya, sebagai sepasang burung elang yang berlaga di udara. Sambar menyambar, patuk-mematuk dengan ujung-ujung senjata masing-masing.
Namun semakin lama Pelayan Dalam itu melihat, bahwa hantu yang datang berkuda, semakin lama menjadi semakin sulit. Ia terpaksa beberapa kali melontar mundur, dan seolah-olah sudah tidak mendapat kesempatan lagi untuk menyerang hantu itu hanya mampu bertahan dan menghindar. Pelayan dalam itu mengangguk-anggukkan kepalanya, seakan-akan ia sudah dapat menemukan siapakah yang akan memenangkan pertempuran itu. Bahkan ia sedang menilai kesaktian keduanya. Tetapi tiba-tiba pelayan Dalam itu tersenyum.
Kedua hantu yang bertempur itu benar-benar telah memeras segenap kemampuan yang ada di dalam diri masing-masing. Namun seperti pengamatan Pelayan dalam itu, mereka pun agaknya telah menyadari akhir dari perkelahiannya. Hantu yang datang berkuda itu benar-benar telah terdesak. Beberapa kali ia meloncat surut dan beberapa kali ia mengeluh di dalam hatinya. Namun tiba-tiba terjadilah sesuatu diluar dugaan. Diluar dugaan Pelayan Dalam yang menyaksikan perkelahian itu, dan diluar dugaan hantu yang mirip orang gila.
Tiba-tiba saja, hantu yang datang berkuda itu melontar mundur beberapa langkah. Kemudian ujung pedangnya mengungkit tanah berdebu di bawah kakinya diarahkan ke wajah lawannya. Segumpal tanah melontar menghambur ke wajah hantu gila itu. Dengan demikian, maka ia terpaksa berhenti dan berusaha menutup matanya supaya tidak kemasukan debu. Kesempatan itulah yang ingin didapat oleh hantu berkuda itu. Ketika ia melihat lawannya menutup matanya dan bahkan dengan tangan kirinya mengusapi debu di wajah, cepat-cepat ia berlari dan meloncat ke punggung kudanya.
Dengan satu sentakan kuda itu melonjak dan kemudian meloncat berlari meninggalkan perapian, hantu gila dan Pelayan Dalam yang berdiri keheranan. Namun dengan demikian pelayan dalam itu menyadari keadaan, ia pun siap berlari ke arah kudanya, untuk mengejar hantu berkuda itu. Tetapi alangkah kecewanya. Dengan menggeram ia mengumpat tak habisnya. Hantu berkuda itu sempat menyentuh pantat kuda Pelayan Dalam itu sehingga kuda itu terkejut dan melonjak melingkar-lingkar.
“Gila,” gerutu Pelayan Dalam itu sambil berusaha menenangkan kudanya kembali. perlahan-lahan ditepuk-tepuknya leher kudanya dan dengan siulan ia mencoba menguasai kudanya itu. Lambat laun kuda itu dapat ditenangkannya.
Namun hantu berkuda yang akan dikejarnya telah menghilang jauh ke tengah-tengah padang rumput. Dalam keremangan cahaya bulan masih tampak lamat-lamat debu yang mengepul. Tetapi untuk mengejarnya, adalah sangat sulit bagi Pelayan Dalam itu. Jaraknya telah terlampau jauh. Karena itu maka ia sama sekali tidak berusaha untuk mengejarnya. Kini yang dihadapinya adalah hantu yang gila itu. Hantu yang rambutnya terurai dan sama sekali tidak mempergunakan secarik kain pun kecuali hanya celananya yang disangkuti dedaunan dan sulur-sulur perdu.
Sesaat mereka berdiri dengan tegangnya. Hantu gila itu masih menggenggam pedangnya. Selangkah ia maju, dan sambil tertawa ia berkata melengking, “Kenapa tidak kau kejar orang yang mencoba menamakan diri Hantu Karautan itu?”
Pelayan Dalam itu tertawa. Wajahnya kini sudah tidak tegang lagi. Ia pun melangkah maju sambil menjawab, “Kenapa kau juga tidak mengejarnya?”
“Aku tidak membawa kuda,” jawab hantu itu.
“Apakah hantu memerlukan kuda?” Sahut Pelayan Dalam.
Hantu itu terdiam sesaat. Diamat-amatinya Pelayan Dalam yang berdiri tegak dalam pakaian yang lengkap dan pedang di lambungnya.
“Apa kerjamu di sini,“ bertanya hantu itu.
“Melihat hantu-hantu berkelahi,“ jawabnya.
“Hanya ada satu hantu dipadang Karautan. Kau lihat, orang yang menamakan dirinya hantu itu telah pergi.”
“Itulah yang ingin aku ketahui. Siapakah yang sebenarnya hantu Karautan. Kau atau yang terpaksa lari berkuda itu?”
Hantu itu ragu-ragu sejenak. Ditatapnya wajah Pelayan dalam itu dengan saksama. Baru kemudian terdengar jawabnya melengking, “Aku. Akulah hantu Karautan.”
Pelayan dalam itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Apa yang akan kau lakukan sekarang sesudah orang yang menamakan hantu itu pergi?”
Kembali hantu itu ragu-ragu sejenak. Kemudian dipalingkannya wajahnya memandangi ketiga anak-anak muda Panawijen yang ketakutan itu. Namun kini hati mereka telah agak tenteram. Sebab mereka akan dapat mencari perlindungan kepada Pelayan Dalam yang perkasa dan meyakinkan itu. Meskipun demikian ketiga anak-anak muda itu terkejut bukan buatan ketika hantu itu menjawab,
“Aku kini akan menikmati kemenanganku.”
Pelayan Dalam itu mengerutkan keningnya, kemudian terdengar ia bertanya, “Apakah yang kau dapatkan dari kemenangan itu?”
“Ketiga anak-anak muda itu akan menjadi korbanku. Korban hantu Karautan.”
Sekali lagi Pelayan Dalam itu mengerutkan keningnya, dan sekali lagi hati ketiga anak muda Panawijen menjadi berdesir.
“Apa yang akan kau lakukan?”
Hantu Karautan itu memiringkan kepalanya. Kemudian dengan suara melengking ia menjawab, “Menghisap darahnya.”
“Tuan,“ terdengar Sinung Sari memekik kecil, “Tolonglah kami.”
Pelayan Dalam itu menarik nafas. Sekali dipandangnya wajah ketiga anak-anak muda yang ketakutan. Ketiga anak-anak muda itu menggigil ketika ia mendengar Pelayan Dalam itu berkata,
“Nah, hantu itu tinggal satu. Apakah kalian bertiga tidak berani melawannya?”
Jinan yang gemetar berkata tergagap, “Tolonglah kami. Kami tidak pernah berkelahi. Apalagi melawan hantu.”
“Jangan banyak bicara,” teriak hantu gila itu, “sekarang kalian satu demi satu, bersimpuh di hadapanku. Aku akan menghisap darahmu lewat tengkukmu.” Dan kepada Pelayan Dalam hantu itu berkata, “Bukankah begitu kebiasaan hantu-hantu. Menghisab darah lewat tengkuk korbannya yang harus bersimpuh sambil menundukkan kepalanya?”
Pelayan dalam itu menarik alisnya tinggi-tinggi. Kemudian sahutnya. “Kenapa kau bertanya kepadaku?”
Terdengar hantu itu menggeram. Kemudian suara tertawanya melonjak tinggi. Berkepanjangan membelah kesepian Padang Karautan. Tanpa dikehendakinya Pelayan Dalam itu pun tersenyum. Tetapi segera ia membentak,
“He, kenapa kau tertawa?” Hantu itu menjawab, “Kau pun akan menjadi korban yang seharga. Ayo, apakah kau yang pertama-tama akan duduk bersimpuh di hadapanku sambil menundukkan kepala?”
“Aku datang terakhir. Karena itu, kalau kau kehendaki, aku adalah korban yang terakhir.”
“Bagus. Bagus. Sekarang biarlah ketiga anak-anak muda itu dahulu.”
“Tuan,“ Patalan menjerit, “tolonglah kami tuan. Bukankah tuan telah sanggup?”
“Kenapa kalian menjadi ketakutan menghadapi hantu yang hanya satu ini,“ bertanya Pelayan Dalam itu, “bukankah kalian bertiga dan bersenjata?”
“Aku tidak. Senjatakulah yang dibawa oleh hantu itu.”
“Oh, kalau demikian, biarlah senjata itu aku minta untukmu. Atau kau ingin memakai senjataku?”
“Tidak tuan,” minta Jinan, “tuan akan menolong kami.”
“Baik Aku akan menolong kalian, kalau kalian telah berbuat sesuatu. Karena itu, lawanlah hantu itu, nanti kalau kalian ternyata tidak mampu, biarlah aku melawannya.”
Ketiga anak-anak itu terdiam. Namun tubuhnya menggigil karena ketakutan. Hanya sorot mata merekalah yang berbicara. Mohon belas kasihan Pelayan Dalam yang perkasa itu.
“Bagaimana?” bertanya pelayan dalam itu.
Mulut ketiga anak-anak muda Panawijen itu seakan-akan telah terbungkam. Mereka sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk berbuat sesuatu. Apalagi melawan hantu itu. Tetapi tiba-tiba adalah seorang dari mereka teringat, bahwa mereka sedang menunggu Mahisa Agni. Mereka mengharap bahwa Mahisa Agni itu akan segera kembali. Karena itu maka katanya kepada Pelayan Dalam itu.
“Tuan Kami mempunyai seorang kawan lagi. Kalau kawan kami itu segera datang, maka kami mengharap, bahwa ia akan dapat berbuat sesuatu. Karena itu tuan, kami mengharap tuan menolong kami sampai kawan itu datang.”
Pelayan Dalam itu mengerutkan keningnya, “Siapakah yang kau maksud?”
“Mahisa Agni tuan,” jawab Patalan, “seperti yang sudah kami katakan.”
“Apakah kau pasti bahwa ia akan datang?”
“Pasti tuan. Ia akan segera datang.”
Pelayan Dalam itu berpaling kepada hantu yang gila itu. Katanya, “Apakah kau sudah bertemu dengan seorang anak muda yang bernama Mahisa Agni di tebing sungai? Atau barang kali darahnya sudah kau hisap pula?”
Sebelum hantu itu menjawab, terdengar Sinung Sari berkata, “Tuan, Mahisa Agni berkata, bahwa ia sudah kenal dengan hantu Karautan.”
Hantu itu sesaat berdiam diri. Hanya matanya sajalah yang tampak berkedip-kedip di atas secarik kain yang menutupi wajahnya.
“Bagaimana,” desak Pelayan Dalam itu, “bagaimana dengan Mahisa Agni. Apakah sudah kau hisap darahnya, apakah betul kata anak muda itu, bahwa Mahisa Agni telah mengenal hantu Karautan.”
Hantu itu mengangguk-angguk, kemudian terdengar ia menggeram, “Bagaimana sebaiknya,“ katanya kepada Pelayan dalam itu, “apakah sebaiknya aku minum darahnya atau tidak?”
“Kenapa kau bertanya kepadaku?” sahut Pelayan dalam itu.
“Kau lebih tahu, apa yang harus dilakukan oleh hantu Karautan,” jawab hantu itu.
“Jangan mengigau,“ bentak Pelayan Dalam itu, tetapi kemudian ia tersenyum. Hantu itu pun tertawa melengking.
Ketiga anak-anak muda Panawijen menjadi semakin tidak mengerti. Kenapa pembicaraan keduanya terasa bersimpang siur tak menentu. Bahkan kemudian hantu Karautan itu berkata,
“Lalu, bagaimana dengan ketiga anak-anak muda itu?”
Dada ketiga anak-anak muda Panawijen itu menjadi kembali bergetaran. Harapannya untuk mendapat perlindungan Pelayan Dalam itu semakin tipis. Bahkan kemudian timbullah ketakutan yang lain di dalam hatinya, apakah yang berpakaian Pelayan Dalam itu hantu pula yang sedang menyamar? Dalam ketakutan itu ia mendengar Pelayan Dalam berkata,
“Apapun yang akan kau lakukan, perhitungkanlah baik-baik. Apabila Mahisa Agni nanti datang, maka kau harus bertanggung jawab kepadanya.”
Hantu gila itu memiringkan kepalanya, kemudian terdengar ia bertanya kepada anak-anak muda Panawijen, “Apakah betul Mahisa Agni akan datang kemari?”
Tiba-tiba tanpa sesadarnya Patalan menyahut, “Ya. Ia pasti akan datang kemari.”
“Omong kosong,” teriak hantu itu.
“Benar,” sahut Sinung Sari dan Jinan hampir bersamaan, “Ia pasti akan datang.”
Tiba-tiba hantu itu menjadi gelisah. Ditebarkannya pandangan matanya berkeliling. Kemudian katanya, “Kau hanya ingin menakut-nakuti aku.”
“Tidak. Sebenarnya ia akan datang.”
Hantu itu menjadi semakin gelisah. Tiba-tiba ia meloncat berlari meninggalkan tempat itu sambil berteriak nyaring. “Lebih baik aku pergi sebelum Mahisa Agni datang. Meskipun hantu Karautan tidak takut terhadap siapapun, namun aku tak mau bertengkar dengan Mahisa Agni itu.“ kemudian kepada Pelayan Dalam itu ia berkata lantang, “Bukankah begitu? Bukankah hantu padang Karautan tidak takut kepada siapapun juga. Kepada hantu berkuda yang lari itu, dan kepada Mahisa Agni?”
“Gila,“ gumam Pelayan Dalam itu. Tetapi ia tidak menjawab. Dibiarkannya hantu gila itu berlari melonjak-lonjak dan kemudian menghilang di balik gerumbul-gerumbul liar yang bertebaran dipadang itu.
Ketiga anak-anak muda Panawijen memandangi hantu yang gila itu dengan berdebar-debar. Mudah-mudahan apa yang dikatakan itu benar. Meskipun ia tidak takut kepada Mahisa Agni, namun ia tidak akan mau menemui dan bertengkar dengannya.
Tetapi sepeninggal hantu itu, ketiga anak-anak muda Panawijen menjadi gelisah pula karena Pelayan Dalam yang aneh itu. Apakah benar dimalam hari yang sepi ada seorang Pelayan Dalam berkeliaran dipadang Karautan ini? Apakah Pelayan Dalam ini bukan sekedar hantu yang lain yang sedang menyamar, bahkan lebih berbahaya dari hantu yang lari itu? Kalau demikian maka pasti ada lebih dari satu hantu dipadang ini, seperti hantu yang dikatakan oleh Mahisa Agni tidak akan lagi berada dipadang ini, namun ternyata masih ada hantu-hantu yang lain yang berkeliaran.
Dalam kecemasan dan kegelisahan itu, mereka bertiga melihat Pelayan Dalam itu datang kepada mereka sambil tersenyum-senyum. Meskipun Pelayan Dalam itu tersenyum, namun senyumnya itu sama sekali tidak memberi ketenangan kepada mereka seperti ketika ia baru datang.
Tiba-tiba Pelayan Dalam itu bertanya, “Kau belum mengenal hantu padang Karautan?”
Pertanyaan itu menjadi semakin mendebarkan hati mereka. Dengan terbata-bata Patalan menjawab, “Belum tuan. Baru kali ini aku melihat mereka berdua bertempur.”
Pelayan Dalam itu tertawa. Katanya, “Kenapa kalian menjadi sangat ketakutan?”
“Kami tidak pernah bertemu dengan hantu.”
“Seharusnya kalian tidak takut. Bukankah kalian laki-laki yang tegap dan gagah?”
“Tetapi hantu-hantu adalah mahluk yang sakti.”
“Kau percaya?”
Ketiga anak-anak muda itu mengangguk bersama-sama. Karena itulah maka orang yang berpakaian Pelayan Dalam itu tertawa terbahak-bahak.
“Terlalu,“ katanya, “kalian adalah penakut-penakut yang sama sekali tidak percaya kepada diri sendiri. Seharusnya kalian berusaha untuk melindungi diri kalian dengan ketegapan dan kekekaran tubuh kalian. Aku kira tenaga kalian tidak akan kalah dengan tenaga hantu yang paling dahsyat sekalipun seandainya kalian berusaha.” Ketiganya tidak menjawab. Namun darah mereka serasa berhenti ketika tiba-tiba mereka mendengar Pelayan Dalam itu berkata lantang, “Akulah sebenarnya hantu Karautan.”
Orang yang berpakaian lenglap sebagai seorang hamba istana itu bertolak pinggang. Dengan sinar yang tajam menusuk jantung, dipandanginya ketiga anak-anak Panawijen yang hampir menjadi pingsan.
“Nah. Apakah kalian tidak percaya bahwa akulah sebenarnya hantu Karautan? Lihat, kedua orang yang mengaku-ngaku hantu itu semuanya telah melarikan dirinya. Dan bukankah kau dengar hantu yang terakhir itu mengatakan bahwa aku lebih tahu apa yang harus dilakukan oleh hantu Karautan,“ berkata orang itu lebih lanjut.
Darah ketiga anak-anak muda Panawijen itu seakan-akan sudah benar-benar membeku, sehingga mereka sudah tidak dapat memberikan tanggapan apapun atas pertanyaan orang itu. Hanya mata mereka sajalah yang berkedip-kedip dan nafas merekalah yang berkejaran semakin cepat. Tetapi tiba-tiba, dari balik gerumbul dihadapan mereka, sekali lagi mereka melihat sesosok bayangan yang berjalan semakin lama semakin dekat menjinjing bumbung bambu. Dengan serta merta hampir bersamaan, ketiga anak muda Panawijen itu berdesis,
“Agni. Mahisa Agni telah datang.”
Orang yang berpakaian dalam itu mengerutkan keningnya, “Apa? Kau menyebut-nyebut nama Mahisa Agni?”
“Ya. Mahisa Agni telah datang,“ jawab mereka bersamaan. Wajah-wajah mereka tiba-tiba menjadi agak cerah dan harapan timbul kembali di dalam dada mereka.
Sebenarnya orang yang datang itu adalah Mahisa Agni. Orang yang berpakaian hamba istana dan menamakan diri hantu Karautan pula itu pun berpaling. Ia pun segera melihat Mahisa Agni berjalan ke arah mereka. Semakin lama semakin dekat.
“Itukah yang kau sebut Mahisa Agni,“ geram Pelayan Dalam itu.
“Ya.”
Pelayan Dalam itu menarik nafas dalam-dalam. Dipandangnya sosok tubuh yang semakin dekat itu. Mahisa Agni, yang berjalan dengan tenangnya, segera sampai pula diantara anak muda Panawijen yang masih menggigil ketakutan. Dengan heran Mahisa Agni memandang wajah-wajah mereka, sehingga kemudian ia bertanya,
“Kenapa kalian menggigil seperti orang kedinginan.”
Sinung Sari menunjuk kepada orang yang berpakaian pelayan Dalam itu sambil berkata gemetar, “Hantu Karautan.”
“He?” Mahisa Agni mengerutkan keningnya.
Sekali lagi Sinung Sari menunjuk orang itu. Tetapi mulutnya terbungkam. Mahisa Agni kemudian meletakkan barang-barang yang dijinjingnya. Bumbung-bumbung bambu dan sebilah pedang terhunus. Sedang pedangnya sendiri masih tergantung di lambungnya.
“Benarkah kau hantu padang Karautan,“ bertanya Mahisa Agni.
Pelayan Dalam itu mengangguk sambil bertolak pinggang, “Ya Akulah hantu Karautan.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian selangkah ia maju. Sambil tersenyum ia berkata, “Bagus. Adalah kebetulan sekali aku dapat bertemu dengan hantu padang Karautan. Duduklah.”
Pelayan Dalam yang menamakan dirinya hantu padang Karautan itu tertegun sejenak. Namun Mahisa Agni telah mendahului duduk di samping perapian, diantara barang-barangnya yang berserakan.
“Duduklah,“ ia mempersilahkan sekali lagi.
Ketiga anak muda Panawijen itu terbelalak ketika mereka melihat, hantu itu pun kemudian duduk di samping Mahisa Agni.
“He, kemarilah.” panggil Mahisa Agni sambil berpaling kepada ketiga kawan-kawannya, “mungkin kau belum mengenal hantu ini. Aku mula-mula agak lupa melihat tampangnya yang gagah. Tetapi akhirnya aku dapat mengenalnya meskipun ia menyamar sebagai Pelayan Dalam istana Tumapel.” Sesaat ketiga kawan-kawannya saling berpandangan Namun kembali terdengarlah Mahisa Agni memanggil, “Kemarilah, hantu ini sama sekali tidak menakutkan. Ia adalah hantu yang baik hati.”
Ketika mereka melihat Mahisa Agni sama sekali tidak menjadi cemas dan tegang menghadapi hantu itu, maka perlahan-lahan mereka bertiga pun beringsut maju mendekati perapian. Satu demi satu mereka duduk di belakang Mahisa Agni.
“Inilah hantu itu sebenarnya,” berkata Mahisa Agni, “kenapa kalian menjadi sangat ketakutan. Apakah hantu ini sudah menyakiti atau menaku-akuti kalian.” Ketiga anak muda itu menggeleng. “Sudah aku katakan. Hantu Karautan sama sekali tidak menakutkan. Bahkan sekarang kau dapat membuktikan sendiri, bahwa hantu itu benar-benar berwajah tampan setampan Panji Asmara Bangun.”
“Ah,“ desis hantu itu sambil tersenyum.
Ketiga anak-anak muda Panawijen sama sekali tidak mengerti, bagaimanakah sebenarnya persoalan yang mereka hadapi. Karena itu, setelah hatinya agak tenang, Sinung Sari berkata,
“Agni. Kalau yang satu ini benar-benar hantu pula, maka ada tiga hantu dipadang Karautan ini.”
“He,“ Mahisa Agni berpaling, “tiga hantu?”
“Ya. ketiga-tiganya baru saja berkumpul disini. Mengitari perapian itu.”
“Ah,” sahut Agni, “apakah hantu-hantu itu kedinginan?”
Sinung Sari memandang hantu berpakaian Pelayan Dalam itu dengan sudut matanya. Kemudian katanya, “Bertanyalah kepadanya.”
“Kepada siapa?” bertanya Mahisa Agni.
“Kepada hantu itu,“ sahut Sinung Sari.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak segera bertanya tentang hantu-hantu itu. Tetapi kepada kawan-kawannya ia berkata, “Apakah kalian tidak haus. Minumlah. Jalan menuruni tebing itu sangat sulit, sehingga aku harus sangat berhati-hati.”
Kawan-kawan Mahisa Agni itu sama sekali tidak merasa haus, karena perasaan mereka yang masih dicengkam oleh ketakutan atas apa yang sedang dihadapinya. Karena itu mereka sama sekali tidak ada minat untuk menyentuh bumbung Mahisa Agni.
“Apakah kalian tidak haus?“ sekali lagi Mahisa Agni bertanya.
Patalan memandangi wajah Agni dengan penuh pertanyaan yang membayang. Sekali-sekali anak muda itu menggigit bibirnya, dan sekali-sekali dicobanya untuk menatap wajah Pelayan Dalam yang seakan-akan penuh menyimpan rahasia. Rahasia padang rumput Karautan. Mahisa Agni melihat pertanyaan yang bergelut di dalam dada kawan-kawannya. Namun ia tidak segera menjelaskan siapakah yang menyebut dirinya hantu Karautan yang sedang menyamar sebagai Pelayan Dalam itu, bahkan ia bertanya,
“Jadi menurut kata kalian, disini tadi ada tiga hantu yang berkumpul bersama-sama?”
Ketiga kawannya serentak mengangguk. Dan terdengar Jinan berkata, “Ya, bertiga. Satu diantaranya adalah yang masih tinggal itu.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah yang mereka kerjakan disini?” bertanya Agni pula.
“Yang dua saling berkelahi. Yang satu itu datang kemudian,“ sahut Jinan.
“Lupakanlah hantu yang dua itu. Mereka tidak akan berani mengganggu kalian, selagi hantu yang baik hati ini masih disini,” gumam Mahisa Agni seolah-olah kepada dirinya sendiri.
Tetapi gumam itu masih belum menjawab pertanyaan yang bergelut di dalam dada anak-anak muda Panawijen itu. Sehingga akhirnya Sinung Sari bertanya perlahan-lahan,
“Bagaimana Agni. Apakah kau tidak bertanya kepadanya, tentang kedua hantu yang lain itu?”
Mahisa Agni mengangguk, “Baik,” jawabnya, “tetapi apakah kalian tidak ingin mendengar nama hantu yang satu ini?”
Anak-anak muda Panawijen itu saling berpandangan, memang hantu-hantu pun biasanya memiliki sebuah nama. Karena itu, maka serentak mereka menyahut, “Ya.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat hantu yang berpakaian lengkap sebagai seorang hamba istana itu tersenyum sambil berdesah, “Ah. Ada-ada kau ini Agni.”
“Bukankah kau hantu padang ini, Hantu yang berhak mendapat segala macam gelar untuknya. Hantu yang tampan. Hantu yang mengerikan, menakutkan dan sekarang hantu yang baik hati? Bukan hantu-hantu yang lain-lain.”
“Sekehendakmulah,” sahut Pelayan Dalam itu.
“Nah, dengarlah,“ berkata Mahisa Agni, “bukankah sudah aku katakan bahwa aku sudah mengenal hantu Karautan yang sebenarnya ini? Kalau ada hantu-hantu yang lain, maka hantu-hantu itu pasti bukan hantu yang sebenarnya. Hantu yang sebenarnya tidak akan membiarkan daerahnya menjadi sumber malapetaka. Karena itu sebagaimana kau lihat, hantu ini hadir pula disini menyelamatkanmu. Sebab hantu-hantu yang lain itu pun telah pergi.”
Jantung Jinan, Patalan dan Sinung Sari menjadi berdebar-debar. Mereka ingin segera tahu nama hantu yang tampan itu. Tetapi mereka tidak bertanya, seakan-akan mereka takut kalau-kalau pertanyaannya tidak menyenangkan hati hantu itu.
Mahisa Agni pun kemudian meneruskan, “Bukankah kau ingin tahu nama hantu itu? Baiklah. Dengar, namanya Ken Arok.”
Ketiga anak-anak muda Panawijen itu mengerutkan keningnya. Terasa sesuatu berdesir di dalam dada mereka. Ken Arok. Namun namanya itu masih asing bagi mereka. Mahisa Agni sejenak berdiam diri. Ia ingin melihat getaran apakah yang timbul di dalam dada kawan-kawannya itu setelah mereka mendengar nama hantu itu. Namun Mahisa Agni hanya melihat wajah-wajah itu berkerut. Sesudah itu tidak ada tanggapan apapun lagi.
Ternyata kawannya belum pernah mendengar nama Ken Arok. Nama itu akan sama artinya bagi kawan-kawannya apabila ia menyebut nama yang lain. Witantra misalnya, atau Mahendra atau Kebo Ijo atau siapapun. Sebab nama-nama itu pun pasti belum pernah mereka dengar. Tetapi apabila Mahisa Agni menyebutkan nama hantu berkuda yang melarikan diri itu, pastilah mereka akan terkejut sekali.
Ken Arok sendiri menarik nafas dalam-dalam ketika sama sekali tidak tampak persoalan-persoalan yang tumbuh karena namanya. Mula-mula ia menjadi bimbang. Mungkin namanya sudah dikenal oleh ketiga anak-anak muda itu dahulu sebagai orang buruan, sebelum ia bersembunyi dipadang Karautan. Dan menyebut dirinya dan disebut orang hantu padang Karautan.
Kedua hantu itu masih bertempur dengan dahsyatnya. Bahkan semakin lama semakin sengit. Hantu yang berkuda itu kini tidak lagi melontar-lontarkan dirinya, dan hantu gila itu sudah tidak melonjak-lonjak lagi sambil memekik-mekik. Mereka bertempur dengan serunya, sebagai sepasang burung elang yang berlaga di udara. Sambar menyambar, patuk-mematuk dengan ujung-ujung senjata masing-masing.
Namun semakin lama Pelayan Dalam itu melihat, bahwa hantu yang datang berkuda, semakin lama menjadi semakin sulit. Ia terpaksa beberapa kali melontar mundur, dan seolah-olah sudah tidak mendapat kesempatan lagi untuk menyerang hantu itu hanya mampu bertahan dan menghindar. Pelayan dalam itu mengangguk-anggukkan kepalanya, seakan-akan ia sudah dapat menemukan siapakah yang akan memenangkan pertempuran itu. Bahkan ia sedang menilai kesaktian keduanya. Tetapi tiba-tiba pelayan Dalam itu tersenyum.
Kedua hantu yang bertempur itu benar-benar telah memeras segenap kemampuan yang ada di dalam diri masing-masing. Namun seperti pengamatan Pelayan dalam itu, mereka pun agaknya telah menyadari akhir dari perkelahiannya. Hantu yang datang berkuda itu benar-benar telah terdesak. Beberapa kali ia meloncat surut dan beberapa kali ia mengeluh di dalam hatinya. Namun tiba-tiba terjadilah sesuatu diluar dugaan. Diluar dugaan Pelayan Dalam yang menyaksikan perkelahian itu, dan diluar dugaan hantu yang mirip orang gila.
Tiba-tiba saja, hantu yang datang berkuda itu melontar mundur beberapa langkah. Kemudian ujung pedangnya mengungkit tanah berdebu di bawah kakinya diarahkan ke wajah lawannya. Segumpal tanah melontar menghambur ke wajah hantu gila itu. Dengan demikian, maka ia terpaksa berhenti dan berusaha menutup matanya supaya tidak kemasukan debu. Kesempatan itulah yang ingin didapat oleh hantu berkuda itu. Ketika ia melihat lawannya menutup matanya dan bahkan dengan tangan kirinya mengusapi debu di wajah, cepat-cepat ia berlari dan meloncat ke punggung kudanya.
Dengan satu sentakan kuda itu melonjak dan kemudian meloncat berlari meninggalkan perapian, hantu gila dan Pelayan Dalam yang berdiri keheranan. Namun dengan demikian pelayan dalam itu menyadari keadaan, ia pun siap berlari ke arah kudanya, untuk mengejar hantu berkuda itu. Tetapi alangkah kecewanya. Dengan menggeram ia mengumpat tak habisnya. Hantu berkuda itu sempat menyentuh pantat kuda Pelayan Dalam itu sehingga kuda itu terkejut dan melonjak melingkar-lingkar.
“Gila,” gerutu Pelayan Dalam itu sambil berusaha menenangkan kudanya kembali. perlahan-lahan ditepuk-tepuknya leher kudanya dan dengan siulan ia mencoba menguasai kudanya itu. Lambat laun kuda itu dapat ditenangkannya.
Namun hantu berkuda yang akan dikejarnya telah menghilang jauh ke tengah-tengah padang rumput. Dalam keremangan cahaya bulan masih tampak lamat-lamat debu yang mengepul. Tetapi untuk mengejarnya, adalah sangat sulit bagi Pelayan Dalam itu. Jaraknya telah terlampau jauh. Karena itu maka ia sama sekali tidak berusaha untuk mengejarnya. Kini yang dihadapinya adalah hantu yang gila itu. Hantu yang rambutnya terurai dan sama sekali tidak mempergunakan secarik kain pun kecuali hanya celananya yang disangkuti dedaunan dan sulur-sulur perdu.
Sesaat mereka berdiri dengan tegangnya. Hantu gila itu masih menggenggam pedangnya. Selangkah ia maju, dan sambil tertawa ia berkata melengking, “Kenapa tidak kau kejar orang yang mencoba menamakan diri Hantu Karautan itu?”
Pelayan Dalam itu tertawa. Wajahnya kini sudah tidak tegang lagi. Ia pun melangkah maju sambil menjawab, “Kenapa kau juga tidak mengejarnya?”
“Aku tidak membawa kuda,” jawab hantu itu.
“Apakah hantu memerlukan kuda?” Sahut Pelayan Dalam.
Hantu itu terdiam sesaat. Diamat-amatinya Pelayan Dalam yang berdiri tegak dalam pakaian yang lengkap dan pedang di lambungnya.
“Apa kerjamu di sini,“ bertanya hantu itu.
“Melihat hantu-hantu berkelahi,“ jawabnya.
“Hanya ada satu hantu dipadang Karautan. Kau lihat, orang yang menamakan dirinya hantu itu telah pergi.”
“Itulah yang ingin aku ketahui. Siapakah yang sebenarnya hantu Karautan. Kau atau yang terpaksa lari berkuda itu?”
Hantu itu ragu-ragu sejenak. Ditatapnya wajah Pelayan dalam itu dengan saksama. Baru kemudian terdengar jawabnya melengking, “Aku. Akulah hantu Karautan.”
Pelayan dalam itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Apa yang akan kau lakukan sekarang sesudah orang yang menamakan hantu itu pergi?”
Kembali hantu itu ragu-ragu sejenak. Kemudian dipalingkannya wajahnya memandangi ketiga anak-anak muda Panawijen yang ketakutan itu. Namun kini hati mereka telah agak tenteram. Sebab mereka akan dapat mencari perlindungan kepada Pelayan Dalam yang perkasa dan meyakinkan itu. Meskipun demikian ketiga anak-anak muda itu terkejut bukan buatan ketika hantu itu menjawab,
“Aku kini akan menikmati kemenanganku.”
Pelayan Dalam itu mengerutkan keningnya, kemudian terdengar ia bertanya, “Apakah yang kau dapatkan dari kemenangan itu?”
“Ketiga anak-anak muda itu akan menjadi korbanku. Korban hantu Karautan.”
Sekali lagi Pelayan Dalam itu mengerutkan keningnya, dan sekali lagi hati ketiga anak muda Panawijen menjadi berdesir.
“Apa yang akan kau lakukan?”
Hantu Karautan itu memiringkan kepalanya. Kemudian dengan suara melengking ia menjawab, “Menghisap darahnya.”
“Tuan,“ terdengar Sinung Sari memekik kecil, “Tolonglah kami.”
Pelayan Dalam itu menarik nafas. Sekali dipandangnya wajah ketiga anak-anak muda yang ketakutan. Ketiga anak-anak muda itu menggigil ketika ia mendengar Pelayan Dalam itu berkata,
“Nah, hantu itu tinggal satu. Apakah kalian bertiga tidak berani melawannya?”
Jinan yang gemetar berkata tergagap, “Tolonglah kami. Kami tidak pernah berkelahi. Apalagi melawan hantu.”
“Jangan banyak bicara,” teriak hantu gila itu, “sekarang kalian satu demi satu, bersimpuh di hadapanku. Aku akan menghisap darahmu lewat tengkukmu.” Dan kepada Pelayan Dalam hantu itu berkata, “Bukankah begitu kebiasaan hantu-hantu. Menghisab darah lewat tengkuk korbannya yang harus bersimpuh sambil menundukkan kepalanya?”
Pelayan dalam itu menarik alisnya tinggi-tinggi. Kemudian sahutnya. “Kenapa kau bertanya kepadaku?”
Terdengar hantu itu menggeram. Kemudian suara tertawanya melonjak tinggi. Berkepanjangan membelah kesepian Padang Karautan. Tanpa dikehendakinya Pelayan Dalam itu pun tersenyum. Tetapi segera ia membentak,
“He, kenapa kau tertawa?” Hantu itu menjawab, “Kau pun akan menjadi korban yang seharga. Ayo, apakah kau yang pertama-tama akan duduk bersimpuh di hadapanku sambil menundukkan kepala?”
“Aku datang terakhir. Karena itu, kalau kau kehendaki, aku adalah korban yang terakhir.”
“Bagus. Bagus. Sekarang biarlah ketiga anak-anak muda itu dahulu.”
“Tuan,“ Patalan menjerit, “tolonglah kami tuan. Bukankah tuan telah sanggup?”
“Kenapa kalian menjadi ketakutan menghadapi hantu yang hanya satu ini,“ bertanya Pelayan Dalam itu, “bukankah kalian bertiga dan bersenjata?”
“Aku tidak. Senjatakulah yang dibawa oleh hantu itu.”
“Oh, kalau demikian, biarlah senjata itu aku minta untukmu. Atau kau ingin memakai senjataku?”
“Tidak tuan,” minta Jinan, “tuan akan menolong kami.”
“Baik Aku akan menolong kalian, kalau kalian telah berbuat sesuatu. Karena itu, lawanlah hantu itu, nanti kalau kalian ternyata tidak mampu, biarlah aku melawannya.”
Ketiga anak-anak itu terdiam. Namun tubuhnya menggigil karena ketakutan. Hanya sorot mata merekalah yang berbicara. Mohon belas kasihan Pelayan Dalam yang perkasa itu.
“Bagaimana?” bertanya pelayan dalam itu.
Mulut ketiga anak-anak muda Panawijen itu seakan-akan telah terbungkam. Mereka sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk berbuat sesuatu. Apalagi melawan hantu itu. Tetapi tiba-tiba adalah seorang dari mereka teringat, bahwa mereka sedang menunggu Mahisa Agni. Mereka mengharap bahwa Mahisa Agni itu akan segera kembali. Karena itu maka katanya kepada Pelayan Dalam itu.
“Tuan Kami mempunyai seorang kawan lagi. Kalau kawan kami itu segera datang, maka kami mengharap, bahwa ia akan dapat berbuat sesuatu. Karena itu tuan, kami mengharap tuan menolong kami sampai kawan itu datang.”
Pelayan Dalam itu mengerutkan keningnya, “Siapakah yang kau maksud?”
“Mahisa Agni tuan,” jawab Patalan, “seperti yang sudah kami katakan.”
“Apakah kau pasti bahwa ia akan datang?”
“Pasti tuan. Ia akan segera datang.”
Pelayan Dalam itu berpaling kepada hantu yang gila itu. Katanya, “Apakah kau sudah bertemu dengan seorang anak muda yang bernama Mahisa Agni di tebing sungai? Atau barang kali darahnya sudah kau hisap pula?”
Sebelum hantu itu menjawab, terdengar Sinung Sari berkata, “Tuan, Mahisa Agni berkata, bahwa ia sudah kenal dengan hantu Karautan.”
Hantu itu sesaat berdiam diri. Hanya matanya sajalah yang tampak berkedip-kedip di atas secarik kain yang menutupi wajahnya.
“Bagaimana,” desak Pelayan Dalam itu, “bagaimana dengan Mahisa Agni. Apakah sudah kau hisap darahnya, apakah betul kata anak muda itu, bahwa Mahisa Agni telah mengenal hantu Karautan.”
Hantu itu mengangguk-angguk, kemudian terdengar ia menggeram, “Bagaimana sebaiknya,“ katanya kepada Pelayan dalam itu, “apakah sebaiknya aku minum darahnya atau tidak?”
“Kenapa kau bertanya kepadaku?” sahut Pelayan dalam itu.
“Kau lebih tahu, apa yang harus dilakukan oleh hantu Karautan,” jawab hantu itu.
“Jangan mengigau,“ bentak Pelayan Dalam itu, tetapi kemudian ia tersenyum. Hantu itu pun tertawa melengking.
Ketiga anak-anak muda Panawijen menjadi semakin tidak mengerti. Kenapa pembicaraan keduanya terasa bersimpang siur tak menentu. Bahkan kemudian hantu Karautan itu berkata,
“Lalu, bagaimana dengan ketiga anak-anak muda itu?”
Dada ketiga anak-anak muda Panawijen itu menjadi kembali bergetaran. Harapannya untuk mendapat perlindungan Pelayan Dalam itu semakin tipis. Bahkan kemudian timbullah ketakutan yang lain di dalam hatinya, apakah yang berpakaian Pelayan Dalam itu hantu pula yang sedang menyamar? Dalam ketakutan itu ia mendengar Pelayan Dalam berkata,
“Apapun yang akan kau lakukan, perhitungkanlah baik-baik. Apabila Mahisa Agni nanti datang, maka kau harus bertanggung jawab kepadanya.”
Hantu gila itu memiringkan kepalanya, kemudian terdengar ia bertanya kepada anak-anak muda Panawijen, “Apakah betul Mahisa Agni akan datang kemari?”
Tiba-tiba tanpa sesadarnya Patalan menyahut, “Ya. Ia pasti akan datang kemari.”
“Omong kosong,” teriak hantu itu.
“Benar,” sahut Sinung Sari dan Jinan hampir bersamaan, “Ia pasti akan datang.”
Tiba-tiba hantu itu menjadi gelisah. Ditebarkannya pandangan matanya berkeliling. Kemudian katanya, “Kau hanya ingin menakut-nakuti aku.”
“Tidak. Sebenarnya ia akan datang.”
Hantu itu menjadi semakin gelisah. Tiba-tiba ia meloncat berlari meninggalkan tempat itu sambil berteriak nyaring. “Lebih baik aku pergi sebelum Mahisa Agni datang. Meskipun hantu Karautan tidak takut terhadap siapapun, namun aku tak mau bertengkar dengan Mahisa Agni itu.“ kemudian kepada Pelayan Dalam itu ia berkata lantang, “Bukankah begitu? Bukankah hantu padang Karautan tidak takut kepada siapapun juga. Kepada hantu berkuda yang lari itu, dan kepada Mahisa Agni?”
“Gila,“ gumam Pelayan Dalam itu. Tetapi ia tidak menjawab. Dibiarkannya hantu gila itu berlari melonjak-lonjak dan kemudian menghilang di balik gerumbul-gerumbul liar yang bertebaran dipadang itu.
Ketiga anak-anak muda Panawijen memandangi hantu yang gila itu dengan berdebar-debar. Mudah-mudahan apa yang dikatakan itu benar. Meskipun ia tidak takut kepada Mahisa Agni, namun ia tidak akan mau menemui dan bertengkar dengannya.
Tetapi sepeninggal hantu itu, ketiga anak-anak muda Panawijen menjadi gelisah pula karena Pelayan Dalam yang aneh itu. Apakah benar dimalam hari yang sepi ada seorang Pelayan Dalam berkeliaran dipadang Karautan ini? Apakah Pelayan Dalam ini bukan sekedar hantu yang lain yang sedang menyamar, bahkan lebih berbahaya dari hantu yang lari itu? Kalau demikian maka pasti ada lebih dari satu hantu dipadang ini, seperti hantu yang dikatakan oleh Mahisa Agni tidak akan lagi berada dipadang ini, namun ternyata masih ada hantu-hantu yang lain yang berkeliaran.
Dalam kecemasan dan kegelisahan itu, mereka bertiga melihat Pelayan Dalam itu datang kepada mereka sambil tersenyum-senyum. Meskipun Pelayan Dalam itu tersenyum, namun senyumnya itu sama sekali tidak memberi ketenangan kepada mereka seperti ketika ia baru datang.
Tiba-tiba Pelayan Dalam itu bertanya, “Kau belum mengenal hantu padang Karautan?”
Pertanyaan itu menjadi semakin mendebarkan hati mereka. Dengan terbata-bata Patalan menjawab, “Belum tuan. Baru kali ini aku melihat mereka berdua bertempur.”
Pelayan Dalam itu tertawa. Katanya, “Kenapa kalian menjadi sangat ketakutan?”
“Kami tidak pernah bertemu dengan hantu.”
“Seharusnya kalian tidak takut. Bukankah kalian laki-laki yang tegap dan gagah?”
“Tetapi hantu-hantu adalah mahluk yang sakti.”
“Kau percaya?”
Ketiga anak-anak muda itu mengangguk bersama-sama. Karena itulah maka orang yang berpakaian Pelayan Dalam itu tertawa terbahak-bahak.
“Terlalu,“ katanya, “kalian adalah penakut-penakut yang sama sekali tidak percaya kepada diri sendiri. Seharusnya kalian berusaha untuk melindungi diri kalian dengan ketegapan dan kekekaran tubuh kalian. Aku kira tenaga kalian tidak akan kalah dengan tenaga hantu yang paling dahsyat sekalipun seandainya kalian berusaha.” Ketiganya tidak menjawab. Namun darah mereka serasa berhenti ketika tiba-tiba mereka mendengar Pelayan Dalam itu berkata lantang, “Akulah sebenarnya hantu Karautan.”
Orang yang berpakaian lenglap sebagai seorang hamba istana itu bertolak pinggang. Dengan sinar yang tajam menusuk jantung, dipandanginya ketiga anak-anak Panawijen yang hampir menjadi pingsan.
“Nah. Apakah kalian tidak percaya bahwa akulah sebenarnya hantu Karautan? Lihat, kedua orang yang mengaku-ngaku hantu itu semuanya telah melarikan dirinya. Dan bukankah kau dengar hantu yang terakhir itu mengatakan bahwa aku lebih tahu apa yang harus dilakukan oleh hantu Karautan,“ berkata orang itu lebih lanjut.
Darah ketiga anak-anak muda Panawijen itu seakan-akan sudah benar-benar membeku, sehingga mereka sudah tidak dapat memberikan tanggapan apapun atas pertanyaan orang itu. Hanya mata mereka sajalah yang berkedip-kedip dan nafas merekalah yang berkejaran semakin cepat. Tetapi tiba-tiba, dari balik gerumbul dihadapan mereka, sekali lagi mereka melihat sesosok bayangan yang berjalan semakin lama semakin dekat menjinjing bumbung bambu. Dengan serta merta hampir bersamaan, ketiga anak muda Panawijen itu berdesis,
“Agni. Mahisa Agni telah datang.”
Orang yang berpakaian dalam itu mengerutkan keningnya, “Apa? Kau menyebut-nyebut nama Mahisa Agni?”
“Ya. Mahisa Agni telah datang,“ jawab mereka bersamaan. Wajah-wajah mereka tiba-tiba menjadi agak cerah dan harapan timbul kembali di dalam dada mereka.
Sebenarnya orang yang datang itu adalah Mahisa Agni. Orang yang berpakaian hamba istana dan menamakan diri hantu Karautan pula itu pun berpaling. Ia pun segera melihat Mahisa Agni berjalan ke arah mereka. Semakin lama semakin dekat.
“Itukah yang kau sebut Mahisa Agni,“ geram Pelayan Dalam itu.
“Ya.”
Pelayan Dalam itu menarik nafas dalam-dalam. Dipandangnya sosok tubuh yang semakin dekat itu. Mahisa Agni, yang berjalan dengan tenangnya, segera sampai pula diantara anak muda Panawijen yang masih menggigil ketakutan. Dengan heran Mahisa Agni memandang wajah-wajah mereka, sehingga kemudian ia bertanya,
“Kenapa kalian menggigil seperti orang kedinginan.”
Sinung Sari menunjuk kepada orang yang berpakaian pelayan Dalam itu sambil berkata gemetar, “Hantu Karautan.”
“He?” Mahisa Agni mengerutkan keningnya.
Sekali lagi Sinung Sari menunjuk orang itu. Tetapi mulutnya terbungkam. Mahisa Agni kemudian meletakkan barang-barang yang dijinjingnya. Bumbung-bumbung bambu dan sebilah pedang terhunus. Sedang pedangnya sendiri masih tergantung di lambungnya.
“Benarkah kau hantu padang Karautan,“ bertanya Mahisa Agni.
Pelayan Dalam itu mengangguk sambil bertolak pinggang, “Ya Akulah hantu Karautan.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian selangkah ia maju. Sambil tersenyum ia berkata, “Bagus. Adalah kebetulan sekali aku dapat bertemu dengan hantu padang Karautan. Duduklah.”
Pelayan Dalam yang menamakan dirinya hantu padang Karautan itu tertegun sejenak. Namun Mahisa Agni telah mendahului duduk di samping perapian, diantara barang-barangnya yang berserakan.
“Duduklah,“ ia mempersilahkan sekali lagi.
Ketiga anak muda Panawijen itu terbelalak ketika mereka melihat, hantu itu pun kemudian duduk di samping Mahisa Agni.
“He, kemarilah.” panggil Mahisa Agni sambil berpaling kepada ketiga kawan-kawannya, “mungkin kau belum mengenal hantu ini. Aku mula-mula agak lupa melihat tampangnya yang gagah. Tetapi akhirnya aku dapat mengenalnya meskipun ia menyamar sebagai Pelayan Dalam istana Tumapel.” Sesaat ketiga kawan-kawannya saling berpandangan Namun kembali terdengarlah Mahisa Agni memanggil, “Kemarilah, hantu ini sama sekali tidak menakutkan. Ia adalah hantu yang baik hati.”
Ketika mereka melihat Mahisa Agni sama sekali tidak menjadi cemas dan tegang menghadapi hantu itu, maka perlahan-lahan mereka bertiga pun beringsut maju mendekati perapian. Satu demi satu mereka duduk di belakang Mahisa Agni.
“Inilah hantu itu sebenarnya,” berkata Mahisa Agni, “kenapa kalian menjadi sangat ketakutan. Apakah hantu ini sudah menyakiti atau menaku-akuti kalian.” Ketiga anak muda itu menggeleng. “Sudah aku katakan. Hantu Karautan sama sekali tidak menakutkan. Bahkan sekarang kau dapat membuktikan sendiri, bahwa hantu itu benar-benar berwajah tampan setampan Panji Asmara Bangun.”
“Ah,“ desis hantu itu sambil tersenyum.
Ketiga anak-anak muda Panawijen sama sekali tidak mengerti, bagaimanakah sebenarnya persoalan yang mereka hadapi. Karena itu, setelah hatinya agak tenang, Sinung Sari berkata,
“Agni. Kalau yang satu ini benar-benar hantu pula, maka ada tiga hantu dipadang Karautan ini.”
“He,“ Mahisa Agni berpaling, “tiga hantu?”
“Ya. ketiga-tiganya baru saja berkumpul disini. Mengitari perapian itu.”
“Ah,” sahut Agni, “apakah hantu-hantu itu kedinginan?”
Sinung Sari memandang hantu berpakaian Pelayan Dalam itu dengan sudut matanya. Kemudian katanya, “Bertanyalah kepadanya.”
“Kepada siapa?” bertanya Mahisa Agni.
“Kepada hantu itu,“ sahut Sinung Sari.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak segera bertanya tentang hantu-hantu itu. Tetapi kepada kawan-kawannya ia berkata, “Apakah kalian tidak haus. Minumlah. Jalan menuruni tebing itu sangat sulit, sehingga aku harus sangat berhati-hati.”
Kawan-kawan Mahisa Agni itu sama sekali tidak merasa haus, karena perasaan mereka yang masih dicengkam oleh ketakutan atas apa yang sedang dihadapinya. Karena itu mereka sama sekali tidak ada minat untuk menyentuh bumbung Mahisa Agni.
“Apakah kalian tidak haus?“ sekali lagi Mahisa Agni bertanya.
Patalan memandangi wajah Agni dengan penuh pertanyaan yang membayang. Sekali-sekali anak muda itu menggigit bibirnya, dan sekali-sekali dicobanya untuk menatap wajah Pelayan Dalam yang seakan-akan penuh menyimpan rahasia. Rahasia padang rumput Karautan. Mahisa Agni melihat pertanyaan yang bergelut di dalam dada kawan-kawannya. Namun ia tidak segera menjelaskan siapakah yang menyebut dirinya hantu Karautan yang sedang menyamar sebagai Pelayan Dalam itu, bahkan ia bertanya,
“Jadi menurut kata kalian, disini tadi ada tiga hantu yang berkumpul bersama-sama?”
Ketiga kawannya serentak mengangguk. Dan terdengar Jinan berkata, “Ya, bertiga. Satu diantaranya adalah yang masih tinggal itu.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah yang mereka kerjakan disini?” bertanya Agni pula.
“Yang dua saling berkelahi. Yang satu itu datang kemudian,“ sahut Jinan.
“Lupakanlah hantu yang dua itu. Mereka tidak akan berani mengganggu kalian, selagi hantu yang baik hati ini masih disini,” gumam Mahisa Agni seolah-olah kepada dirinya sendiri.
Tetapi gumam itu masih belum menjawab pertanyaan yang bergelut di dalam dada anak-anak muda Panawijen itu. Sehingga akhirnya Sinung Sari bertanya perlahan-lahan,
“Bagaimana Agni. Apakah kau tidak bertanya kepadanya, tentang kedua hantu yang lain itu?”
Mahisa Agni mengangguk, “Baik,” jawabnya, “tetapi apakah kalian tidak ingin mendengar nama hantu yang satu ini?”
Anak-anak muda Panawijen itu saling berpandangan, memang hantu-hantu pun biasanya memiliki sebuah nama. Karena itu, maka serentak mereka menyahut, “Ya.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat hantu yang berpakaian lengkap sebagai seorang hamba istana itu tersenyum sambil berdesah, “Ah. Ada-ada kau ini Agni.”
“Bukankah kau hantu padang ini, Hantu yang berhak mendapat segala macam gelar untuknya. Hantu yang tampan. Hantu yang mengerikan, menakutkan dan sekarang hantu yang baik hati? Bukan hantu-hantu yang lain-lain.”
“Sekehendakmulah,” sahut Pelayan Dalam itu.
“Nah, dengarlah,“ berkata Mahisa Agni, “bukankah sudah aku katakan bahwa aku sudah mengenal hantu Karautan yang sebenarnya ini? Kalau ada hantu-hantu yang lain, maka hantu-hantu itu pasti bukan hantu yang sebenarnya. Hantu yang sebenarnya tidak akan membiarkan daerahnya menjadi sumber malapetaka. Karena itu sebagaimana kau lihat, hantu ini hadir pula disini menyelamatkanmu. Sebab hantu-hantu yang lain itu pun telah pergi.”
Jantung Jinan, Patalan dan Sinung Sari menjadi berdebar-debar. Mereka ingin segera tahu nama hantu yang tampan itu. Tetapi mereka tidak bertanya, seakan-akan mereka takut kalau-kalau pertanyaannya tidak menyenangkan hati hantu itu.
Mahisa Agni pun kemudian meneruskan, “Bukankah kau ingin tahu nama hantu itu? Baiklah. Dengar, namanya Ken Arok.”
Ketiga anak-anak muda Panawijen itu mengerutkan keningnya. Terasa sesuatu berdesir di dalam dada mereka. Ken Arok. Namun namanya itu masih asing bagi mereka. Mahisa Agni sejenak berdiam diri. Ia ingin melihat getaran apakah yang timbul di dalam dada kawan-kawannya itu setelah mereka mendengar nama hantu itu. Namun Mahisa Agni hanya melihat wajah-wajah itu berkerut. Sesudah itu tidak ada tanggapan apapun lagi.
Ternyata kawannya belum pernah mendengar nama Ken Arok. Nama itu akan sama artinya bagi kawan-kawannya apabila ia menyebut nama yang lain. Witantra misalnya, atau Mahendra atau Kebo Ijo atau siapapun. Sebab nama-nama itu pun pasti belum pernah mereka dengar. Tetapi apabila Mahisa Agni menyebutkan nama hantu berkuda yang melarikan diri itu, pastilah mereka akan terkejut sekali.
Ken Arok sendiri menarik nafas dalam-dalam ketika sama sekali tidak tampak persoalan-persoalan yang tumbuh karena namanya. Mula-mula ia menjadi bimbang. Mungkin namanya sudah dikenal oleh ketiga anak-anak muda itu dahulu sebagai orang buruan, sebelum ia bersembunyi dipadang Karautan. Dan menyebut dirinya dan disebut orang hantu padang Karautan.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar