MENU

Ads

Sabtu, 21 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 065

“Bukankah sekarang telah kalian saksikan sendiri,“ berkata Mahisa Agni, “bahwa hantu Karautan adalah hantu yang baik hati. Dan seandainya ada hantu-hantu yang lain, maka hantu-hantu yang lain dan jahat itu sama sekali bukan hantu Karautan.”

“Siapakah mereka itu,“ perlahan-lahan terdengar Sinung Sari bertanya.

“Hantu tiruan,“ sahut Agni cepat-cepat, “dan bukankah nyata bahwa tak ada satu pun dari mereka yang berani melawan hantu ini?” Ketiga anak muda itu mengangguk-angguk.

“Hantu ini pun kini telah menjelma menjadi seorang manusia biasa. Ia sama sekali tidak sedang menyamar sebagai Pelayan Dalam Istana Tumapel. Tetapi ia benar-benar menjadi Pelayan Dalam.”

Ketiga anak-anak muda itu menjadi beragu sejenak. Mereka tidak dapat mengerti bagaimana seorang Pelayan Dalam Istana itu sebenarnya adalah hantu. Mahisa Agni melihat keragu-raguan itu. Karena itu ia menjelaskan,

“Jangan ragu-ragu akan keteranganku. Ken Arok bukan hantu. Ia adalah seorang manusia biasa. Hantu Karautan itu sama sekali tidak ada.”

Ketiga kawan Mahisa Agni menjadi bingung. Sekali-sekali mereka saling berpandangan, namun sekali-sekali mata mereka berpindah-pindah dari Mahisa Agni kepada Ken Arok berganti-ganti.

Apalagi ketika Mahisa Agni itu berkata seterusnya, “Yang dua, yang bertempur itu pun sama sekali bukan hantu. Mereka hanya ingin menakut-nakuti kalian dan menamakan diri mereka hantu padang Karautan.”

“Jadi siapakah mereka itu,“ sela Patalan.

Mahisa Agni diam sesaat. Ditatapnya wajah ketiga kawan-kawannya berganti-ganti dan sesaat kemudian ditatapnya wajah Ken Arok yang duduk di sampingnya. Dilihatnya wajah ketiga kawannya itu menjadi tegang karena kebingungan yang semakin mendesak di dalam dada mereka. Baru sesaat kemudian Mahisa Agni berkata,

“Apakah kau juga ingin tahu siapakah yang datang berkuda dan menamakan dirinya hantu Karautan itu?” Ketiga kawan-kawannya mengangguk. “Orang itulah yang telah membuat bencana selama ini,“ desis Mahisa Agni. “Pasti orang itu pula yang telah melakukan pencegatan dipadang rumput Karautan beberapa hari yang lalu seperti berita yang kau katakan pada saat kita akan memasuki padang ini.” Ketiga kawan-kawannya mengangguk.

“Seharusnya kau mengenalnya,“ berkata Mahisa Agni pula, “seperti hantu jadi-jadian itu mengenal namamu. Bukankah hantu itu mengenalmu, mengenal namamu satu persatu?”

Jinan, Patalan dan Sinung Sari mengangguk, tetapi mereka menjadi semakin bingung. Bagaimana mungkin mereka dapat mengenal nama hantu itu, meskipun hantu jadi-jadian sekalipun?.

Namun mereka hampir menjadi pingsan ketika Mahisa Agni benar-benar menyebut nama hantu itu, katanya, “Nah, ketahuilah, hantu itu bernama Kuda Sempana.”

“Kuda Sempana,“ berbareng ketiga anak-anak muda Panawijen itu mengulangi nama itu.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum, “Ya, hantu itulah Kuda Sempana.”

Sesaat ketiga anak muda itu diam mematung. Sesaat mereka tenggelam dalam perasaan yang aneh. Kuda Sempana. Bagaimana mungkin anak itu berada dipadang rumput dalam pakaian yang tak teratur dan kusut. Bukankah anak muda itu berada di Istana.

Dengan penuh kebimbangan Sinung Sari bertanya, “Mahisa Agni. Apakah mungkin terjadi, Kuda Sempana yang perkasa itu berada dipadang ini? Bukankah ia berada di Tumapel?”

“Orang itu sebenarnya Kuda Sempana,” jawab Mahisa Agni. “Tetapi aku tidak tahu, apa sebabnya ia berada di padang ini. Mungkin Ken Arok dapat menjawab pertanyaan itu, dan mungkin Ken Arok pun akan dapat mengatakan, kenapa ia sendiri pun berada dipadang ini pula.”

Ken Arok tersenyum. Jawabnya, “Mungkin aku dapat mengatakan kepada kalian, kenapa Kuda Sempana berada dipadang rumput ini, meskipun apa yang aku ketahui pun tidak terlalu banyak. Yang paling aku ketahui tentang diriku sendiri, kenapa aku berada dipadang rumput ini.”

“Ya. Juga tentang dirimu,” sahut Agni.

“Aku datang kembali ke padang rumput ini karena aku juga mendengar bahwa hantu Padang Karautan telah timbul kembali,“ berkata Ken Arok, “adalah benar-benar menyinggung perasaanku, bahwa hantu yang telah hilang itu datang kembali dipadang ini untuk melakukan pekerjaannya. Karena itulah, maka aku minta ijin kepada atasanku untuk berusaha menangkap hantu itu.”

Mahisa Agni tertawa mendengar keterangan Ken Arok, katanya, “Bukankah kau merasa bahwa pekerjaanmu disaingi?”

Ken Arok tersenyum. Jawabnya, “Tentu. Orang masih akan tetap menyangka bahwa hantu yang dahulu itu pulalah yang datang kemudian.”

“Apakah pemimpinmu tahu, bahwa hantu yang dahulu bernama Ken Arok?”

“Tidak seorang pun tahu, selain Empu Purwa bersama muridnya. Dan kini, karena kau, ketiga kawan-kawanmu itu tahu pula.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Kau mendapat ijin itu agaknya. Tetapi kau belum berhasil menangkap hantu itu.”

“Ya. Tetapi aku sudah melihat hantu itu dan aku dapat mengenalnya pula, setelah beberapa malam aku berkeliaran dipadang ini.”

“Tetapi kenapa kau tertarik ke tempat ini? Bukankah daerah perburuan hantu-hantu itu tidak disini?”

“Aku melihat api. Barangkali karena api itu pula, maka hantu itu datang kemari.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berpaling kepada kawan-kawannya. Katanya, “Nah, sekarang kau dengar serba sedikit ceritera tentang hantu Karautan. Sekarang kau akan percaya bahwa hantu itu bernama Kuda Sempana?”

Ketiga kawannya pun mengangguk-angguk pula. Tetapi tiba-tiba Patalan bertanya, “Tetapi hantu itu ada dua.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. “Dua?“ ia mengulang.

“Ya. Dua,“ sahut Sinung Sari, “yang satu yang kau sebut bernama Kuda Sempana itu. Ia datang berkuda dan menakut-nakuti kami. Hantu itu akan membunuh kami berdua, dan membiarkan salah seorang dari kami tetap hidup, namun tubuhnya akan dijadikan cacat. Kemudian datang hantu yang kedua. Hantu yang aku sangka orang gila. Keduanya bertempur sampai hantu yang ketiga itu datang.”

“Itu bukan hantu,“ potong Mahisa Agni, “sudah aku katakan ia memang bekas hantu. Tetapi sekarang tidak.”

Ken Arok tersenyum, dan Sinung Sari membetulkan kata-katanya, “Ya. Maksudku tuan yang bernama Ken Arok itu datang. Dan tuan itu pun tahu, bahwa memang ada hantu yang lain selain Kuda Sempana.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya berkali-kali seakan-akan ia mencoba untuk mengetahui dengan pasti kata-kata Sinung Sari itu, bahwa ada hantu lain yang telah datang di tempat ini. hantu yang menurut Sinung Sari adalah hantu yang mirip dengan orang gila. Tetapi Mahisa Agni tidak menjawab pertanyaan kawannya itu. Bahkan kemudian ditatapnya gerumbul-gerumbul di kejauhan dan kemudian ditatapnya pula bulan yang berwarna kekuning-kuningan, di belakang awan tipis yang mengalir dengan lesu ke tenggara.

Suasana dipadang rumput itu sejenak dicengkam oleh kesenyapan. Masing-masing terdiam sambil memandang api di perapian yang telah padam. Hanya bara-bara kayunya sajalah yang masih memancar kemerahan. Yang terdengar kemudian adalah Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia berdiri mengambil beberapa potong bekal makanannya dan kemudian ditaruhkan dihadapan Ken Arok, katanya.

“Apakah kau juga mau makan makanan padesan seperti ini?”

Ken Arok tersenyum. Diambilnya sepotong makanan dan langsung dimasukkan ke dalam mulutnya. Jinan, Patalan dan Sinung Sari memandangi mereka berdua dengan penuh kebimbangan. Seakan-akan ada sesuatu yang tersimpan di dalam diri mereka. Sebuah rahasia yang tidak mereka mengerti. Demikian desakan keinginan mereka untuk mengetahui, maka sekali lagi Sinung Sari bertanya perlahan-lahan,

“Agni. Kau belum menjawab pertanyaanku.”

Mahisa Agni berpaling. Tampaklah keningnya berkerut. Jawabnya, “Tak ada yang menarik yang dapat kau ketahui dari hantu-hantuan itu. Yang perlu kau ketahui sudah aku katakan. Yang ada disini sekarang inilah yang dahulu bernama hantu Karautan, meskipun itu pun hanya hantu jadi-jadian. Ia adalah seorang manusia biasa, seperti aku, seperti kalian. Dan hantu yang datang berkuda itu adalah Kuda Sempana. Juga seorang manusia biasa. Seperti aku, seperti kalian. Itulah yang penting. Yang lain-lain sama sekali tidak ada hubungannya dengan kalian dan kalian pasti tidak akan mengenalnya.”

Patalan mengerutkan dahinya. Mungkin ia belum mengenal hantu yang gila itu. Tetapi ia masih juga berkeinginan untuk mendengar serba sedikit tentang hantu-hantuan itu. Maka katanya,

“Tetapi ia datang juga kemari dan menamakan dirinya hantu Padang Karautan, bahkan dapat mengalahkan Kuda Sempana. Atau barangkali tuan sudah mengenalnya,“ bertanya Patalan kepada Ken Arok.

“Sudah,“ sahut Ken Arok sambil tersenyum, “aku mengenalnya menilik caranya memutar pedang dan melontarkan kakinya.”

“Ah,“ desah Mahisa Agni, “terlalu banyak yang ingin kau ketahui Patalan. Jangan menyebut-nyebut tentang dirinya. Mungkin ia akan datang lagi dan mengganggu kalian.”

“Bukankah sekarang kau ada disini dan tuan Ken Arok yang berhak mendapat sebutan hantu Karautan itu ada pula?”

“Sebenarnya aku sama sekali tidak berbangga atas sebutan itu,“ sahut Ken Arok.

“Oh, maafkan kami,“ potong Patalan cepat-cepat.

“Aku tidak apa-apa. Tetapi mungkin sebutan itu akan sangat menyenangkan bagi hantu-hantuan itu.”

“Tetapi siapakah dia,” desak Sinung Sari pula.

Sekali lagi Ken Arok tersenyum. Senyum yang memancarkan rahasia yang justru menjadikan ketiga anak-anak muda Panawijen semakin ingin tahu.

“Hantu yang satu itu,“ berkata Ken Arok, “adalah yang lebih dekat dari kalian. Ia adalah Bahu Reksa Panawijen.”

Ketika anak-anak muda Panawijen itu mengerutkan keningnya. “Bahu Reksa Panawijen. Apakah artinya?”

Ken Arok kini tertawa kecil. Dipandanginya wajah Agni yang berkerut. Bahkan Ken Arok itu berkata pula, “Kau tahu Bahu Reksa Panawijen. Ia lebih dahsyat dari hantu Karautan.”

Sinung Sari mengangguk-angguk. Tetapi ia melihat Ken Arok masih tertawa, sehingga katanya, “Bagaimanakah sebenarnya?”

Ken Arok itu kemudian bertanya kepada Patahan, “He, dimana pedangmu?”

Patalan terkejut mendengar pertanyaan itu. Dengan serta merta ia menjawab, “Diambil hantu yang mirip dengan orang gila itu.”

Ken Arok mengangguk-angguk. Kemudian ia beringsut beberapa langkah maju. Ketika ia meraih sesuatu dihadapan Mahisa Agni, maka katanya, “Apakah ini pedangmu?”

Patalan menjadi heran. Pedang itu sudah berada di dekat perapian, “Ya,“ katanya.

Ken Arok meneruskan, “Kau lihat siapakah yang membawa pedang ini kembali?”

Patalan menjadi bingung. Tiba-tiba ia teringat bahwa ketika Mahisa Agni datang, ia menjinjing pedang. Bukan pedangnya sendiri, karena pedang itu masih berada di dalam sarungnya.

“Agni,” teriak Patalan, “kau yang membawa pedangku kembali?”

“Ya,” jawab Agni. “aku berjumpa dengan hantu itu. Dan menitipkannya pedang itu kepadaku.”

Ken Arok kini tertawa keras? Hampir-hampir tak dapat ditahannya lagi. Disela-sela derai tertawanya terdengar ia berkata, “Kenapa hantu itu tidak memakai kain dan memakai daun perdu untuk menutupi celananya? He? Untunglah tidak ada yang gatal pada daun-daun itu. Kalau ada kalian akan cepat mengetahui siapakah yang sibuk menggaruk-garuk tubuhnya itulah hantu gila itu.”

Ketiga anak-anak Panawijen itu semakin bingung. Tetapi lamat-lamat mereka dapat menangkap maksud Ken Arok itu. Apalagi ketika Ken Arok itu menjelaskan. ‘Kalian pasti pernah melihat, siapakah yang pernah mengalahkan Kuda Sempana? Nah itulah. Hantu-hantuan yang datang berkuda itu kembali dikalahkan oleh hantu-hantuan Bahu Reksa Panawijen.

Sinung Sari beringsut maju sambil berkata, “Agni. Apakah demikian?” Agni tersenyum. “Jadi kaukah hantu-hantu jadi-jadian yang aku sangka orang gila itu?” Agni mengangguk.

“Gila kau Agni,” teriak Jinan, “kenapa kau menakut-nakuti kami. Kenapa kau tidak saja datang dalam keadaanmu yang sewajarnya?”

Agni kini tertawa, seperti juga Ken Arok tertawa. Maka jawab Mahisa Agni, “Ah. Sebuah permainan yang menyenangkan. Aku ingin tahu, siapakah sebenarnya hantu Karautan yang baru itu. Aku ingin mengetahuinya tanpa ia mengetahui aku, sebab aku yakin bahwa hantu itu pasti bukan hantu yang sebenarnya. Bukan hantu yang lama.”

Wajah ketiga anak-anak muda Panawijen tiba-tiba menjadi merah. Mereka merasa malu sekali pada diri mereka sendiri. Mereka merasa betapa mereka benar-benar seorang penakut.

“Tetapi Agni,“ berkata Sinung Sari, “bukankah kau akan dapat mengenalnya juga seandainya kau datang dengan wajar. Bukankah orang berkuda itu lari sebelum membuka tutup mukanya?”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Mungkin. Tetapi apabila ia telah mengenal aku sebelumnya, mungkin ia akan segera lari sebelum kami sempat bertempur.”

“Apakah yang kau dapat dari pertempuran itu?“ bertanya Patalan.

“Dari pertempuran itulah aku dapat mengenalnya.”

“Apanya yang dapat kau kenal?“ desak Sinung Sari.

Mahisa Agni dan Ken Arok tersenyum. Jawab Mahisa Agni, “Ken Arok mengenal aku dan Kuda Sempana sesudah ia melihat kami bertempur. Ken Arok mengenal aku sejak aku masih menjadi orang gila itu. Karena itu, ia tidak bersikap melindungi kalian, karena ia tahu benar bahwa hantu itu tidak berbahaya bagi kalian.”

“Tetapi apakah yang dapat menunjukkan bahwa orang itu bernama kuda Sempana dan yang lain Mahisa Agni?”

Mahisa Agni tertawa. Katanya, “Gerak kami. Sifat dan watak-watak dari gerak kami masing-masing.”

Ketiga anak-anak muda Panawijen itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Pengenalan itu berada diluar kemampuannya, karena mereka sama sekali tidak mengenal ilmu gerak. Meskipun demikian Sunung Sari masih saja menggerutu dengan jengkelnya,

“Tetapi Agni, setelah Kuda Sempana pergi, kau masih juga menakut-nakuti kami. Apakah maksudmu?”

Mahisa Agni tertawa semakin keras. Jawabnya, “Aneh. Seharusnya kalian tidak takut. Seperti kata Ken Arok itu. Bukankah kalian bertiga dan membawa senjata? Seandainya benar-benar kami bertemu dengan bahaya yang tidak dapat aku atasi seorang diri, apakah kalian akan membiarkan aku sendiri? Nah, sekarang renungi diri kalian sendiri. Manakah yang lebih baik. Mengangkat senjata menghadapi keadaan seperti itu, atau membiarkan diri kalian dihisap darah kalian lewat tengkuk kalian. Ingat, bahwa Kuda Sempana benar-benar akan dapat berbuat demikian atas tanah yang akan kita bangunkan nanti. Kalau kalian tidak dapat melindungi diri kalian dan tanah kalian, maka apa yang akan kalian capai dengan susah payah, akan merupakan tanah sadapan yang menyenangkan bagi orang lain. Orang lain akan dapat menghisap darah dan di jalur-jalur nadi penghidupan kampung halamanmu. karena itu, tengadahkan wajahmu dalam menghadapi setiap persoalan. Jawablah semua tantangan. Asal kau yakin, bahwa kau sedang mempertahankan hakmu, bukan sedang melanggar hak orang lain.”

Jinan, Patalan dan Sindung Sari menundukkan kepalanya. Kembali wajah-wajah mereka dijalari oleh warna-warna merah karena sindiran-sindiran yang tepat itu. Mau tidak mau mereka harus mengakui kebenaran kata-kata Mahisa Agni, bahwa mereka sama sekali tidak dapat berbuat sesuatu untuk mengatasi kesulitan sendiri. Kembali untuk sesaat mereka terbenam dalam kesepian. Mahisa Agni sejenak berdiam diri sambil memandangi bulan yang semakin jauh dari cakrawala. Kini bulan itu telah hampir sampai ke ujung langit. Namun malam telah melampaui pusatnya.

Dibiarkannya ketiga kawan-kawannya merenungkan kata-katanya. Mahisa Agni merasa, mungkin kata-katanya akan menjadikan kawan-kawannya malu kepadanya dan kepada diri sendiri. Namun ia mengharap, bahwa dengan demikian, maka akan timbul perubahan di dalam kehidupan anak-anak muda Panawijen yang terlalu lama tenggelam dalam suasana yang terlampau tenang dan diam. Tak ada perubahan, tak ada gerak dan nyala di dalam kehidupan orang-orangnya. Jebolnya bendungan itu pun ternyata dapat dicari manfaatnya di samping bencana yang telah melanda Panawijen. Ternyata dengan jebolnya bendungan itu, anak-anak muda Panawijen mendapat pelajaran untuk mencoba mengatasi kesulitan yang menimpa diri sendiri tanpa menggantungkan kepada orang lain.

Namun yang pertama-tama memecah kesepian itu adalah Mahisa Agni pula. Bukan tentang hantu-hantu yang berkeliaran di padang Karautan, tetapi ia benar-benar ingin tahu, kenapa Kuda Sempana telah mencoba hidup dipadang yang sepi ini. Apakah anak muda itu merasa bahwa ia memerlukan harta benda menjelang hari-hari dimana ia hidup dalam satu keluarga. Mungkin Kuda Sempana merasa perlu untuk membuat isterinya bahagia dengan menyimpan harta benda yang berlebihan sebagai imbangan cara yang ditempuhnya sewaktu mengambil isterinya itu. Atau barangkali Ken Dedes mempunyai permintaan-permintaan sehingga Kuda Sempana terpaksa berbuat demikian merampok dan menyamun?”

“Ken Arok,“ bertanya Mahisa Agni kemudian, “kenapa Kuda Sempana itu berkeliaran dipadang ini? Bukankah kau sekarang menjadi kawan selingkungannya di istana?”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia menjawab, “Aku tidak tahu persoalan seluruhnya. Tetapi sebagian aku akan dapat menceriterakan sebabnya.”

“Biarlah yang sebagian itu aku dengar dahulu,” sahut Mahisa Agni.

Sekali lagi Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Nasib anak itu tidak terlalu baik.”

Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Tiba-tiba tanpa sesadarnya ia memotong, “Bagaimanakah dengan Ken Dedes? Bukankah Ia sehat walafiat?”

Ken Arok mengangguk. Jawabnya, “Gadis itu sehat-sehat saja.”

“Dimanakah gadis itu sekarang?”

“Di istana Tumapel.”

“He,” Mahisa Agni terkejut, “kenapa di istana. Apakah Kuda Sempana tinggal di istana pula?”

“Itulah sebagian yang aku ketahui. Tentang gadis itu dan tentang Kuda Sempana.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Baginya terdengar aneh, bahwa Ken Dedes berada di istana Tumapel, “Ah,“ desahnya di dalam hati, “ternyata Tunggul Ametung benar-benar berusaha melindungi Kuda Sempana. Disembunyikannya Ken Dedes itu di istana sampai mereka melahirkan anaknya yang pertama, untuk menghindarkan Kuda Sempana dari setiap kemungkinan yang berbahaya. Sesudah itu, maka semuanya akan menjadi baik bagi Kuda Sempana. Tetapi kenapa Kuda Sempana itu berkeliaran disini dalam keadaan yang kusut?” Pertanyaan itu ternyata semakin menyentuh hatinya, sehingga sekali lagi ia berkata,

“Katakanlah Ken Arok. Katakanlah apa yang kau ketahui itu tentang Kuda Sempana dan Ken Dedes.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Tampak keningnya berkerut-kerut. Terbayanglah di wajahnya perasaannya yang gelisah. Menurut pengetahuannya. Mahisa Agni adalah kakak Ken Dedes, sehingga ia menjadi ragu-ragu sejenak untuk mengatakan apa yang telah terjadi atas adiknya itu. Tetapi karena Mahisa Agni selalu mendesaknya, maka terloncat pulalah ceritera tentang Ken Dedes di Tumapel. Ceritera sejak Ken Dedes sampai di istana, sejak mereka berdua, Ken Arok dan Witantra dipanggil menghadap Akuwu, tentang Witantra yang harus masuk ke dalam arena atas nama Tunggul Ametung. Namun dengan kecewa Ken Arok itu kemudian berkata,

“Tetapi sayang. Ternyata Tunggul Ametung itu mempunyai pamrih sendiri. Adikmu diambilnya.”

Berbagai perasaan bergolak di dalam dada Mahisa Agni. Ia bersyukur bahwa Ken Dedes telah terlepas dari tangan kuda Sempana. Namun ia tidak tahu, perasaan apa yang berdentang-dentang di dalam dadanya itu, setelah ia mendengar bahwa Ken Dedes kini berada di istana bukan sebagai isteri Kuda Sempana, namun karena gadis itu dikehendaki oleh Tunggul Ametung sendiri.

Dalam pada itu, terdengar Ken Arok berkata, “Untunglah bahwa Akuwu mengambilnya sebagai permaisurinya. Bukan sekedar sebagai seorang selir.”

Mahisa Agni terperanjat juga mendengar keterangan itu. Ken Dedes, seorang gadis padesan, telah diangkat menjadi permaisuri seorang Akuwu yang besar dari Tumapel. Tetapi masih saja bergelora perasaan yang tidak menentu di dalam dirinya. Ia bergembira bahwa Ken Dedes menemukan tempat yang baik, namun ada juga kekecewaan yang dalam menusuk jantungnya. ia sebenarnya mengharap Ken Dedes kembali ke Panawijen.

“Tetapi ia akan menjumpai kepahitan di Panawijen,” gumamnya di dalam hati, “ayahnya telah pergi, dan orang yang dicintainya telah pergi pula untuk selama-lamanya.”

Mahisa Agni pun kemudian menundukkan wajahnya. Direnunginya tanah yang kering di bawah kakinya yang bersilang. Dikais-kaisnya tanah itu dengan jari-jarinya seolah-olah ia ingin mengetahui, apakah tanah itu cukup subur untuk daerah pertanian. Namun hatinya bergumul dalam keadaan yang tidak menentu. Kebanggaan, kekecewaan harapan dan putus asa, bergulat menjadi satu. Mahisa Agni itu mengangkat. wajahnya ketika ia mendengar Ken Arok bertanya kepadanya,

“Bagaimana Agni. Apakah kau menjadi berbangga hati bahwa adikmu kini menjadi seorang permaisuri Akuwu Tumapel?”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Adalah kanugrahan yang tiada taranya bagi seorang gadis dari padepokan Panawijen. Adalah suatu kebanggaan buat keluarganya. Pahit getir yang dialami oleh orang tuanya, keprihatinan dan ketekunan pengabdiannya kepada sesama dan kebaktiannya yang tulus kepada Yang Maha Agung telah menempatkan puteri tunggal itu dalam kedudukan yang baik. Tetapi jauh di sudut hatinya, Mahisa Agni masih mendengar jerit yang pedih dari perasaannya sendiri. Meskipun demikian perlahan-lahan ia menjawab,

“Aku berbangga Ken Arok.”

“Ya,“ sahut Ken Arok, “adalah wajar bahwa kau dan keluargamu akan berbangga hati.”

Tetapi wajah Mahisa Agni sama sekali tidak membayangkan kebanggaan yang dikatakannya itu. Apalagi ketika diingatnya sumpah kutukan Empu Purwa, maka dadanya pun berdesir. Demikian marahnya orang tua itu, sehingga disumpahnya mereka yang telah ikut serta mengambil anaknya. Disumpahnya mereka bahwa mereka akan terbunuh dengan keris. Wajah Mahisa Agni menjadi semakin suram. Seandainya Ken Dedes dapat menemukan kebahagiaan sebagai seorang Permaisuri, tetapi seandainya sumpah Empu Purwa itu pun akan berlaku, maka akan putus pulalah kebahagiaan itu. Tunggul Ametung adalah salah seorang dari mereka yang turut mengambil Ken Dedes, sehingga akan matilah ia ditusuk dengan keris.

Tetapi kecemasan dan kegelisahan itu disimpannya di dalam hatinya, sehingga hati itu telah dipenuhi oleh berbagai perasaan yang tak dapat dilahirkannya. Perasaan yang mencengkamnya tentang gadis puteri gurunya, tentang kekhawatirannya atas nasib gadis itu kemudian, dan atas banyak hal lagi yang tertimbun. Bahkan yang terucapkan dari mulutnya adalah,

“Betapa besar terima kasihku kepada kalian. Kepada Witantra dan kepadamu. Betapa kalian telah berusaha menolong adikku itu dari lembah penderitaan di sepanjang hidupnya. Penderitaan yang tidak akan ada habis-habisnya.”

“Tetapi kami tidak berhasil mengembalikannya kepadamu,“ sahut Ken Arok, “kami telah gagal sebagian dari maksud kami memisahkannya dari Kuda Sempana. Karena Tunggul Ametung sendiri ternyata menghendakinya.”

“Mudah-mudahan nasibnya akan menjadi lebih baik,“ gumam Mahisa Agni.

“Mudah-mudahan,“ sahut Ken Arok, “menurut pendengaranku, Tunggul Ametung akan datang kepada ayah gadis itu untuk memintanya.”

Mahisa Agni terkejut. Namun tiba-tiba wajahnya menjadi suram. Jauh lebih suram dari wajah itu sebelumnya. Dari antara giginya terdengar ia berdesis, kemudian menggelengkan kepala sambil berkata,

“Tak ada gunanya.”

Ken Arok mengerutkan dahinya, Kini ialah yang menjadi terkejut mendengar desis Mahisa Agni itu, sehingga ia bertanya, “Kenapa?”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Sorot matanya jauh menembus ke dalam keremangan malam yang kuning oleh cahaya bulan yang redup.

“Ayah gadis itu tidak ada lagi di padepokannya.”

“Apakah ia belum kembali?“ bertanya Ken Arok, “pada saat gadis itu diambil oleh Kuda Sempana, ayahnya memang tidak tampak di rumahnya.”

“Sudah. Orang tua itu sudah kembali,” jawab Mahisa Agni, “tetapi setelah ia mendengar bahwa anaknya itu hilang, anak yang dikasihinya melampaui segala isi dunia ini yang lain, maka orang tua itu mengalami kegoncangan perasaan yang tak terkendali.”

“Apakah syarafnya terganggu?” Mahisa Agni mengangguk.

“Gila?”

“Tidak sejauh itu. Ia adalah seorang pendeta yang taat-taat kepada kewajibannya,“ berkata Mahisa Agni dalam nada yang rendah. “Hanya karena ketebalan hatinyalah maka orang tua itu tidak menjadi gila. Ia pasti akan dapat menemukan ketenangannya kembali dalam kebaktiannya kepada Yang Maha Agung. Tetapi kejutan pertama dari berita itu telah mendorongnya untuk meninggalkan padepokannya. Ia ingin melupakan segala-galanya. Kepahitan yang paling pahit dalam hidupnya.”

Ken Arok menganggukkan kepalanya, gumamnya, “Kasihan orang tua itu. Untunglah ia dapat menemukan penghibur dalam dirinya sendiri. Kalau tidak, ia pasti tidak akan hanya sekedar menyingkir dari padepokannya. Bukankah ia sekaligus gurumu?”

Mahisa Agni mengangguk. “Kalau orang tua itu marah, maka ia akan dapat berbuat hal-hal yang mengerikan.”

“Pasti tidak akan dilakukan.” Ken Arok terdiam sesaat. Kemudian katanya, “Aku mengharap kau akan dapat mewakilinya. Bukankah kau muridnya, tetapi juga puteranya?” Mahisa Agni menggeleng. “Bukankah gadis itu adikmu? Atau saudara sepupu?”

Sesaat Mahisa Agni menjadi bingung. Ia tidak segera menemukan jawaban atas pertanyaan itu, sehingga Ken Arok mendesaknya, “Bagaimana? Kau akan dapat mewakili ayahmu. Menerima Akuwu itu sebagai wakil orang tuanya, merestui perkawinan adikmu.”

“Jangan. Jangan,“ sahut Mahisa Agni serta merta.

Tetapi kemudian ia terdiam kembali. Terasa luka di hatinya yang perlahan-lahan hampir dapat dilupakan itu, seakan-akan kembali menggores tajam. Terasa hatinya menjadi pedih. Ia harus melihat kenyataan itu. Namun dengan sekuat tenaganya ia mencoba menghilangkan segala macam kesan yang dapat membayangkan perasaannya yang sedang bergolak.

Ken Arok masih memandangi wajah anak muda yang muram itu. Namun ia tidak tahu perasaan apa yang sedang bergolak di dalam dadanya. Ia hanya dapat menyangka betapa sedihnya anak muda yang merasa kehilangan adiknya itu. Meskipun seandainya bukan adik sekandung, tetapi adik sepupu.

Tetapi Mahisa Agni sama sekali, tidak mau menjelaskan hubungan apakah yang ada antara dirinya dan Ken Dedes. Ketika Ken Arok mendesaknya sekali lagi maka jawabnya,

“Tidak. Jangan datang kepadaku. Biarlah Ken Dedes menentukan kehendaknya sendiri. Kalau ia bersedia biarlah perkawinan itu berlangsung, tetapi kalau tidak, jangan dipaksa.”

Ken Arok menciutkan keningnya. Katanya, “Ya. Terserahlah kepadamu. Tetapi aku sendiri kecewa melihat sikap Akuwu itu.”

Koleksi : Ki Ismoyo
Retype : Ki Raharga
Proofing : Ki Raharga
Recheck/Editing: Ki Sunda






OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar