MENU

Ads

Minggu, 22 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 066

PdLS-14
MAHISA AGNI memandangi wajah Ken Arok tajam-tajam. Tetapi ia tidak melihat kesan apapun dari wajah itu. Ken Arok itu ternyata berkata demikian saja tanpa ungkapan yang mendalam, sehingga Mahisa Agni pun tidak dapat menangkap perasaan lain daripada kekecewaan itu.

“Kenapa kau kecewa,“ bertanya Mahisa Agni.

“Aku ingin mengembalikan kepadamu untuk menebus kebodohanku. Aku sama sekali tidak mencoba menghalangi perbuatan Tunggul Ametung dan Kuda Sempana, pada saat mereka mengambil gadis itu. Ternyata sikap Witantra jauh lebih baik dari padaku. Tetapi kini ternyata Witantra menyetujui sikap Tunggul Ametung, meskipun alasannya dapat aku mengerti. Maksudnya adalah, untuk mengurangi penderitaan yang menimpa perasaan gadis itu.”

Mahisa Agni kembali memandang ke kejauhan, menembus keremangan malam yang kuning oleh cahaya bulan yang redup. Tetapi tiba-tiba ia bertanya, “Kenapa Kuda Sempana itu tiba-tiba berkeliaran disini?”

“Mungkin ia menjadi kecewa,“ sahut Ken Arok.

“Aku sudah menyangka, tetapi sampai sejauh itu? Bukankah dengan demikian ia telah melakukan pemberontakan terhadap Akuwu Tunggul Ametung?”

Ken Arok mengangguk. Jawabnya, “Ya. Anak itu benar-benar telah memberontak. Tetapi kemungkinan itu memang akan terjadi. Hukuman atasnya memang terlalu berat baginya.”

“Hukuman atas kesalahannya mengambil Ken Dedes?” Ken Arok mengangguk. “Aneh. Bukankah Akuwu sendiri ikut serta?”

“Itulah keanehan yang dapat saja terjadi. Akuwu sendiri turut melakukan kesalahan itu. Tetapi ternyata ia ingin memperbaiki kesalahannya dengan mengorbankan Kuda Sempana. Kau tahu, apakah hukuman itu?”

“Bagaimana aku bisa tahu,“ sahut Agni.

“Hukuman itu benar-benar aneh. Hukuman itu semula sama sekali bukan atas kehendak Tunggul Ametung sendiri. Tetapi atas kehendak gadis yang dilarikannya itu,“ berkata Ken Arok seterusnya.

Mendengar kata itu Mahisa Agni terperanjat. Tanpa disengaja ditatapnya wajah ketiga kawannya yang mendengarkan pembicaraannya dengan keheran-heranan.

Ken Arok melihat keheranan yang membayang di wajah Mahisa Agni. Maka katanya, “Ya. Demikianlah. Hukuman itu sebenarnya datang dari adikmu itu.”

“Bagaimana hal itu dapat terjadi?”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Sekali ia melihat kudanya yang makan dengan asyiknya, dan sekali ditatapnya wajah ketiga kawan Mahisa Agni. Baru sesaat kemudian katanya,

“Ternyata adikmu menerima lamaran Tunggul Ametung.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sudah menyangka dan bahkan ia berdoa mudah-mudahan dengan demikian Ken Dedes, merasa terhibur atas hilangnya dua orang yang dicintainya sekaligus. Ayahnya dan Wiraprana. Namun di dalam sudut hatinya yang paling dalam luka hatinya serasa seolah-olah meneteskan darah. Meskipun demikian ia bertanya,

“Bagaimana mungkin gadis itu menerima lamaran Tunggul Ametung. Ia mencintai Wiraprana lebih dari semua orang selain ayahnya. Apakah gadis itu sudah mendengar kabar tentang bakal suaminya.”

Ken Arok mengangguk. Katanya, “Emban tua, pemomongnya telah menyampaikan kabar itu. Sebelumnya kami pun telah mengatakannya, tetapi ia lebih percaya kepada embannya.”



Mahisa Agni berdesir mendengar Ken Arok menyebut pemomong Ken Dedes. Tak seorang pun tahu bahwa orang itu adalah ibunya. Ken Dedes juga tidak.

“Tetapi bagaimana Ken Dedes dapat menghukum kuda Sempana itu?” bertanya Mahisa Agni kemudian.

“Mudah sekali baginya,” sahut Ken Arok, “Tunggul Ametung itu akhirnya tergila-gila kepadanya. Apa yang diucapkannya akan terjadi.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Desir di dadanya menjadi semakin tajam. Ada semacam pergolakan yang terjadi dalam dirinya. Meskipun ia merasa bahwa Ken Dedes akan menemukan sekedar penghibur atas segala dukanya, tetapi apakah ia dapat mendengar bahwa seseorang tergila-gila kepadanya?. Tetapi Mahisa Agni tidak berkata sepatah katapun. Dan Ken Arok lah yang berkata pula,

“Dan salah satu dari permintaan Ken Dedes ternyata adalah pelepasan dendamnya kepada Kuda Sempana itu.” Mahisa Agni masih diam mematung. Ia mendengar Ken Arok meneruskan, “Nah, apa yang diminta oleh ken Dedes itu atas Kuda Sempana? Aneh sekali Adikmu itu minta Kuda Sempana mendapat hukuman atas kesalahannya apabila Akuwu benar-benar menghendakinya. Hukuman itu adalah, Kuda Sempana harus menjadi pelayan yang paling rendah baginya. Membersihkan lantai, mencuci pakaian dan waktu selebihnya, duduk di bawah tangga di serambi di belakang biliknya.”

Mahisa Agni terperanjat mendengarnya. Benar-benar terperanjat. Apalagi ketika Ken Arok meneruskan, “Agaknya Ken Dedes itu ingin membalas sakit hatinya dengan penghinaan atas Kuda Sempana. Hina yang sehina-hinanya.”

“Ken Arok,“ potong Mahisa Agni, “apakah benar Ken Dedes menghendakinya?”

Ken Arok mengangguk, “Ya, sebenarnyalah bahwa Ken Dedes menghendakinya. Dan Ken Dedes mempunyai cukup pengaruh atas Tunggul Ametung. Ketahuilah, bahwa Tunggul Ametung yang garang itu seakan-akan benar-benar telah bersimpuh di bawah kaki adikmu.”

Darah Mahisa Agni tersirap. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Ken Dedes dapat berlaku sekasar itu. Dendam yang betapapun dalamnya, namun penghinaan itu telah terlampau jauh.

Dan didengarnya kemudian Ken Arok meneruskan, “Itulah keadaan adikmu dan Kuda Sempana yang aku dengar. Itu pulalah sebabnya, kenapa Kuda Sempana kemudian melarikan diri dari istana yang menjadi tempat yang sehinanya baginya. Sebagai seseorang yang masih mempunyai harga diri, maka sudah tentu ia tidak menelan penghinaan itu begitu saja.”

Mahisa Agni mengangguk perlahan-lahan. Terdengar ia berdesis. Dadanya semakin terasa menghentak-hentak. Ia sama sekali tidak dapat mengerti, perubahan-perubahan yang tajam telah terjadi atas Ken Dedes itu. Ledakan-akan di dalam jantung gadis itu telah menyeretnya dalam suatu keadaan yang sama sekali tidak disangka-sangka oleh Mahisa Agni.

“Ken Arok,“ terdengar suara Mahisa Agni dengan nada yang rendah, “apakah aku dapat minta tolong kepadamu?”

Ken Arok menarik nafasnya. Katanya bertanya, “Apakah yang harus aku lakukan?”

“Sampaikan pesanku kepada gadis itu,“ berkata Mahisa Agni “yang pertama kali adalah kabar keselamatan.”

Mahisa Agni tertegun ketika ia melihat Ken Arok menggeleng, “Aku kini jarang sekali masuk ke istana selain di tempat-tempat tugasku. Hampir aku tak pernah melihat adikmu itu setelah aku ikut Akuwu mengambilnya dari Panawijen. Sampai kini aku belum begitu mengenal wajahnya. Apalagi kini Ken Dedes telah benar-benar sebagai seorang permaisuri meskipun ketetapannya dan upacaranya masih akan menyusul, sehingga aku tak akan sempat menemuinya.”

Kembali Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya terbayang di dalam kepalanya, Ken Dedes kini telah menjadi seorang permaisuri. Menjadi seorang yang berada dalam lingkungan kebesaran dan kebahagiaan. Namun ia masih tetap tidak dapat mengerti, bahwa di dalam diri gadis itu timbul perubahan sikap dan watak yang terlampau tajam.

“Mungkin keparahan hati yang tak tertanggungkan telah mendorongnya ke dalam suatu sikap yang berlebih-lebihan sebagai imbangan,“ gumamnya di dalam hati. “Kalau begitu,” sambung Mahisa Agni kemudian, “apakah kau pernah bertemu dengan emban pemomongnya itu?”

Ken Arok menganggukkan kepalanya, jawabnya, “Ya. Aku sering bertemu Pemomong Ken Dedes itu tinggal di rumah Witantra beberapa hari sebelum diijinkan menemui momongannya.”

“Apakah orang tua itu sekarang masih berada di rumah Witantra?”

“Tidak,” jawab Ken Arok, “perempuan tua itu kini telah berada di istana atas permintaan Ken Dedes.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian katanya, “Kalau demikian, aku minta tolong kepadamu. Sampaikanlah kepada perempuan tua itu.”

“Pesan?”

“Ya. Pesan untuknya dan untuk Ken Dedes.”

“Akan aku coba.”

“Terima kasih,“ Mahisa Agni berhenti sejenak. Ia menjadi ragu-ragu untuk mengatakan pesannya kepada Ken Arok. Ia belum tahu pasti, bagaimanakah sikap Ken Dedes kini terhadapnya. Meskipun demikian akhirnya ia berkata, “Ken Arok. Kalau kau bertemu dengan perempuan tua, pemomong Ken Dedes itu, sampaikan baktiku kepadanya.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Perempuan itu adalah seorang pemomong, namun agaknya Mahisa Agni memang suka merendahkan dirinya, sehingga ia menyampaikan bakti kepada seorang emban. Tetapi Ken Arok tidak berkeberatan apa pun terhadap sikap itu, sehingga sahutnya,

“Baik. Aku sampaikan baktimu apabila aku bertemu nanti di istana.”

“Terima kasih,“ Mahisa Agni meneruskan, “kemudian kalau emban itu dapat menyampaikan kepada Ken Dedes, yang sekarang sudah berada di istana itu, kecuali kabar keselamatan adalah pesan, supaya gadis itu tidak melupakan dirinya, asalnya dan segenap keadaan masa lampaunya sebagai imbangan berpikir untuk menentukan hari-hari mendatangnya.”

Ken Arok mengerutkan keningnya, katanya, “Kenapa pesanmu berbunyi demikian?”

“Tidak apa-apa,” sahut Agni, “aku hanya ingin memperingatkannya, supaya ia tidak tenggelam dalam dunia yang asing baginya, sehingga ia kehilangan dasar tempat berpijak. Ia adalah seorang gadis padesan yang biasa hidup di padesan. Ia adalah seorang puteri dari seorang pendeta yang hidup prasaja dan penuh ketekunan dalam kebaktiannya kepada Yang Maha Agung. Ia kemudian adalah seorang gadis yang mengalami kepahitan yang menghunjam terlalu dalam di hatinya. Nah, semua peristiwa-peristiwa itu akan dapat menggoncangkan keseimbangan antara perasaan dan pikirannya. Yang kini dapat kita lihat adalah sikapnya terhadap Kuda Sempana. Bagaimana pun juga dendam tersimpan di dadanya, namun dengan penghinaan yang berlebih-lebihan itu, Ken Dedes telah melakukan kesalahan menurut penilaianku.”

Ken Arok menganggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti pesan itu. Dan ia dapat membenarkannya. Betapa bencinya kepada Kuda Sempana, namun Ken Arok heran juga melihat hukuman yang dijatuhkan atas anak muda itu. Lebih baik Kuda Sempana digantung di alun-alun, atau diranjap dengan panah daripada dihinakan sedemikian rendah. Karena itu, adalah sudah sewajarnya apabila anak muda itu meninggalkan istana.

Tetapi Tunggul Ametung tidak dapat mempertimbangkannya lagi. Ia sedang dilanda oleh perasaan yang meluap-luap. Apa pun yang dikehendaki oleh Ken Dedes, selagi Tunggul Ametung dapat memberikannya, pasti akan dipenuhinya. Apalagi hanya seorang Kuda Sempana, bahkan Tumapel sekalipun sudah diserahkannya. Dada Ken Arok berdesir. Dan tiba-tiba saja ia berkata kepada Mahisa Agni,

“Agni keberuntungan adikmu tidak saja sejauh itu. Tetapi lebih daripada itu. Menurut pendengaranku, di istana telah menjalar kabar, bahwa bukan saja Kuda Sempana telah dikorbankan, tetapi kepada gadis itu telah diserahkan hak atas pemerintahan Tumapel.”

Alangkah terkejutnya Mahisa Agni mendengar kabar itu, sehingga ia beringsut maju. Dengan wajah tegang ia bertanya, “Benarkah kabar yang kau dengar itu?”

“Aku benar-benar mendengar kabar itu,“ sahut Ken Arok, “tetapi kebenaran atas kabar itulah yang aku tidak tahu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam, kalau kabar itu benar-benar terjadi, maka alangkah besar karunia atas gadis itu. Karunia yang diterimanya lewat kepahitan dan kedukaan.

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun luka di hatinya serasa menjadi semakin dalam. Dalam nada yang rendah ia berkata, “Berbahagialah anak itu. Mudah-mudahan ia menemukan masa depan yang baik. Kalau benar kabar yang kau dengar Ken Arok, bukankah berarti bahwa Ken Dedes akan mendapat kesempatan menurunkan Akuwu-Akuwu berikutnya?”

Ken Arok mengangguk, “Ya. Itulah adalah suatu karunia yang tiada taranya.”

Keduanya kemudian terdiam untuk sesaat. Kembali bergelut di dalam dada Mahisa Agni berbagai perasaan. Bangga, gembira, sedih, dan kecewa. Ia bersyukur kepada Yang Maha Agung atas karunia itu, namun ia menjadi cemas, apakah kebahagiaan itu akan dapat kekal sepanjang umur Ken Dedes, di samping perasaannya sendiri yang masih saja menyentuh-nyentuh hati. Perasaan seorang lelaki terhadap seorang perempuan.

Namun baik Mahisa Agni maupun Ken Arok tidak mengetahui, apakah yang telah mendorong Tunggul Ametung terbenam dalam keadaannya itu. Tunggul Ametung telah disilaukan oleh cahaya yang seakan-akan memancar dari tubuh gadis Padepokan Panawijen itu. Cahaya yang hanya dapat dilihatnya sendiri. Akuwu itu kemudian ternyata dengan diam-diam menemui seorang ahli nujum yang meramalkan, bahwa seorang gadis yang bercahaya dari dalam tubuhnya itu, kelak akan dapat menurunkan bukan saja Akuwu-Akuwu seperti Tunggul Ametung, tetapi gadis itu akan dapat menurunkan Raja-raja yang akan berkuasa melampaui kekuasaan Akuwu, dan bahkan akan melampaui kekuasaan Raja di Kediri.

Ramalan itulah yang mendorong Tunggul Ametung untuk berbuat seperti orang yang kehilangan kesadaran. Setiap patah kata yang diucapkan oleh Ken Dedes pasti akan berlaku baginya, melampaui semua Undang-undang dan peraturan yang telah ada. Kembali untuk sejenak mereka terbenam dalam kediaman. Angin malam yang lembut mengalir mengusap tubuh mereka yang basah karena keringat. Daun-daun perdu berdesir seperti sedang melagukan lagu yang rawan.

Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Di dalam dadanya bergetar berbagai persoalan yang saling membelit. Namun kemudian ia tidak sampai hati untuk berpesan kepada Ken Arok, bahwa Empu Purwa telah menghilang dari Panawijen. Ada banyak pertimbangan yang mengurungkan niatnya untuk mengucapkan pesan itu. Ia tidak sampai hati untuk membuat luka di hati ken Dedes menjadi semakin parah, dan ia tidak sampai hati pula untuk mengganggu ketentraman dan kebahagiaan yang sedang berada di ambang pintu hati gadis itu. Tiba-tiba Mahisa Agni terkejut ketiga Ken Arok itu berdiri. Katanya,

“Aku tidak akan terlalu lama tinggal disini.”

“Apakah kau akan kembali ke Tumapel?”

Ken Arok mengangguk, “Ya,“ jawabnya “perkerjaanku sebagian sudah selesai. Aku sudah tahu, siapakah yang menamakan dirinya hantu Karautan itu kini.”

“Hanya cukup mengetahui saja.”

Ken Arok tersenyum, “Tentu tidak,” katanya, “bukankah kau juga tidak akan membiarkannya.”

Mahisa Agni pun tersenyum pula ia pun kemudian berdiri dan berkata, “Tetapi Akuwu Tumapel tidak akan membiarkan pemberontakan ini meluas. Hantu Karautan itu ternyata bukan saja seorang hantu, tetapi ia adalah seorang pemberontak.”

“Salahnya sendiri. Nafsunya terhadap gadis itu terlampau berlebih-lebihan. Sehingga akhirnya ia sendiri terjerumus dalam kesulitan karenanya.”

“Tetapi akibatnya tidak hanya melibat diri Kuda Sempana. Tetapi padang ini akan menjadi daerah yang menakutkan kembali.”

“Mudah-mudahan tidak berlangsung terlalu lama. Aku akan mengadakan perondaan di daerah ini apabila Akuwu mengijinkan beberapa orang prajurit. Mungkin Witantra akan menaruh perhatian pula atas hantu Karautan ini.”

“Mudah-mudahan,“ desis Mahisa Agni.

Namun angan-angannya telah menjorok jauh meliputi rencana pembuatan bendungan ini. Kuda Sempana adalah seorang yang perkasa. Ia tidak akan dapat menjadi sedemikian kuatnya dengan tiba-tiba. Ia pasti mempunyai seorang guru, dan bahkan saudara seperguruan yang telah pernah dikenalnya dalam perjalanannya dari Lereng Gunung Semeru. Apakah mereka akan membiarkan kuda Sempana hidup dalam keadaannya itu, meskipun gurunya adalah seorang guru upahan? Apakah Kuda Sempana tidak dapat menjanjikan sesuatu kepada guru serta saudara-saudara seperguruannya untuk bantuan mereka kepadanya.

Yang pertama-tama akan mengalami kesulitan adalah dirinya dan rencana bendungannya. Kemudian apabila Kuda Sempana berhasil mengumpulkan murid-murid dari saudara-saudara seperguruannya, yang memakai cara yang sama dengan gurunya sendiri dalam mendapatkan ilmunya, maka Kuda Sempana tidak dapat diabaikan dalam-dalam tata pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung.

Mahisa Agni itu pun kemudian mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Ken Arok berkata, “Agni, aku akan kembali ke Tumapel. Sudah tentu aku akan menyampaikan apa yang kau ketahui tentang hantu Karautan ini kepada Akuwu Tunggul Ametung. Aku kemudian akan menjalankan perintahnya. Apakah aku akan mendapat perintah untuk menangkapnya, atau aku hanya sekedar menjadi penunjuk jalan bagi prajuritnya yang akan menangkap Kuda Sempana itu.”

“Bukankah kau berkepentingan langsung Ken Arok? Sebab nama hantu Karautan itu pasti akan menyangkut namamu.”

“Tak seorang pun yang tahu bahwa hantu Karautan itu pernah berganti.”

Mahisa Agni tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, meskipun senyumnya muram.

“Sudahlah,“ berkata Ken Arok, “pergilah ke Tumapel kalau kau ingin bertemu dengan adikmu. Mungkin Akuwu tidak akan berkeberatan.”

“Terima kasih,“ sahut Mahisa Agni. Namun hatinya berkata, “Tak akan ada artinya. Pertemuan yang demikian itu hanya akan menambah parah perasaanku.”

Ken Arok itu pun kemudian meloncat ke atas punggung kudanya, dan sambil menyentuh perut kudanya dengan tumitnya ia berkata, “Sampai bertemu Agni.“ Kepada ketiga kawan Mahisa Agni Ken Arok berkata sambil tertawa, “Jangan takut terhadap hantu Karautan. Hantu itu sekarang sudah jinak.”

Ketiga kawan Mahisa Agni pun menganggukkan kepalanya. Terdengar Sinung Sari berkata, “Selamat jalan. Mudah-mudahan kita dapat bertemu lagi.”

Ken Arok tertawa. Sementara itu kudanya sudah mulai bergerak maju menusuk keremangan malam. Mahisa Agni masih melihat anak muda yang gagah itu melambaikan tangannya, kemudian kudanya meluncur semakin cepat. Debu yang putih menghambur di belakang derap kaki kuda itu bergulung-gulung semakin lama semakin jauh.

Mahisa Agni masih berdiri di tempatnya. Baru ketika kuda itu telah semakin kecil dan semakin kabur, ia berpaling kepada ketiga kawan-kawannya. Katanya, “Itulah hantu Karautan yang sebenarnya. Tetapi ia tidak senang apabila hal itu diketahui oleh orang lain. Karena kalian telah terlanjur mengetahuinya, maka aku minta apa yang kalian ketahui itu harus kalian rahasiakan.”

Ketiga kawan Mahisa Agni itu mengangguk. Yang terdengar adalah desis Patalan, “Kalau demikian, benar kata orang, bahwa hantu Karautan sebenarnya adalah hantu yang tampan.”

“Tidak saja tampan, tetapi hantu itu sangat sakti pula. Namun kini hantu itu sudah tidak ada lagi. Apakah kau percaya kepadaku? Hantu itu kini benar-benar sudah menjadi seorang Pelayan Dalam di istana Tumapel.”

Ketiga kawan-kawannya itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi bagi mereka, siapa pun yang menjadi hantu, namun hati mereka tidak akan dapat tenteram. Meskipun hantu itu bernama Kuda Sempana. Betapa sempitnya pengetahuan mereka, namun mereka tahu pula, bahwa Kuda Sempana menyimpan dendam kepada Mahisa Agni, kepada Ken Dedes dan dendam itu akan dapat melimpah kepada seluruh penduduk Panawijen. Kuda Sempana itu kelak akan dapat merupakan bahaya bagi mereka, bagi orang-orang Panawijen yang sedang membuat bendungan.

Kalau Kuda Sempana itu datang seorang diri maka soalnya tidak akan terlalu sulit. Ternyata sampai saat ini Mahisa Agni masih dapat mengatasinya. Tetapi bagaimana kalau Kuda Sempana itu kemudian mendapat kawan dalam penumpahan dendamnya? Dalam keadaannya maka Kuda Sempana tidak akan memilih kawan. Mungkin para penjahat, para perompak dan para penyamun. Mungkin orang-orang jahat yang sedang menjadi buruan. Dan hati mereka, kawan-kawan Mahisa Agni itu, pasti akan menjadi semakin kecut apabila mereka mengetahui, apa yang sedang diperhitungkan oleh Mahisa Agni, yaitu kawan-kawan seperguruan Kuda Sempana beserta murid-muridnya dan bahkan gurunya pula.

Tetapi Mahisa Agni tidak mengatakannya kepada ketiga kawan-kawannya itu. Ia menyadari akibatnya apabila kawan-kawannya mengetahui tentang Kuda Sempana beserta perguruannya. Bahkan kemudan ia berkata,

“Nah. Sekarang kalian telah melihat sendiri, bahwa yang menamakan diri hantu Karautan itu tidak lebih dari Kuda Sempana. Karena itu jangan takut. Mudah-mudahan aku akan dapat mencegahnya apabila ia mencoba mengganggu pekerjaan kita.” Ketiga kawan-kawannya mengangguk. Tetapi tampaklah wajahnya tidak meyakinkan. Sehingga Mahisa Agni bertanya, “Bagaimana? Apakah masih ada yang kalian cemaskan?”

Kawan-kawannya menjadi ragu-ragu. Baru sejenak kemudian Sinung Sari berkata, “Bagaimana dengan Kuda Sempana itu?”

“Ia tidak berbahaya,” sahut Agni.

“Kalau ia seorang diri,“ sambung Sinung Sari.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun ia menjawab, “Aku juga tidak seorang diri. Bukankah aku akan melakukan pekerjaan yang berat itu bersama-sama seluruh rakyat Panawijen? Seandainya Kuda Sempana akan datang kembali bersama kawannya, maka aku pun akan siap menyambutnya bersama-sama kawan-kawanku. Anak-anak muda Panawijen yang lain, diantaranya kalian bertiga.”

Ketiga kawan Mahisa Agni itu terdiam. Mereka sebenarnya masih ingin menjelaskan bahwa mungkin Kuda Sempana mendapat kawan-kawan yang berbahaya. Sedang anak-anak muda Panawijen bukanlah orang-orang yang siap bertempur seperti Mahisa Agni. Tetapi mereka malu kepada diri mereka sendiri. Mereka malu, bahwa mereka sama sekali tidak mampu berbuat apapun dalam keadaan yang sangat berbahaya.

Dalam pada itu, maka merayaplah perasaan yang lain di dalam diri ketiga anak-anak muda itu. Tumbuhlah pertanyaan di dalam diri mereka sendiri, kenapa mereka sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk berbuat sesuatu? Apakah mereka masih juga akan tetap berdiam diri seandainya kelak datang Kuda Sempana bersama para penyamun, penjahat dan perampok mencelakai Mahisa Agni? Apakah mereka akan tetap berdiam diri sebagai penonton yang tidak mempunyai sangkut paut sama sekali?.

Mereka berempat kini duduk berdiam diri. Masing-masing terbenam dalam angan-angan yang berbeda-beda. Mahisa Agni dengan gambaran-gambaran tentang bendungan, Kuda Sempana, saudara-saudara seperguruannya, sedang ketiga kawannya sedang mencoba melihat ke diri mereka masing-masing. Namun terasa bahwa mereka kini menjadi sangat malu kepada diri mereka sendiri, kepada Mahisa Agni dan kepada Ken Arok. Juga kepada Kuda Sempana. Tiba-tiba menyalalah di dalam hati mereka, suatu tekad yang belum pernah dimilikinya sejak mereka menyadari diri mereka, sejak mereka masih kanak-kanak.

“Kita harus berbuat sesuatu apabila bahaya datang menimpa kita kembali. Kita tidak boleh menyerahkan diri kita kepada orang lain, kepada pertolongan yang belum pasti akan datang pada waktunya. Kita tidak boleh menggantungkan diri kepada kekuatan diluar diri kita sendiri. Diri pribadi kita, dan diri kita dalam satu kesatuan. Rakyat Panawijen.”

Angin malam masih berhembus mengusap tubuh mereka. Semakin lama semakin terasa, dingin malam menyentuh-nyentuh. Embun yang sejuk turun perlahan, hinggap di dedaunan dan pada batang-batang rumput kering. Di kejauhan terdengar suara burung kedasih melas asih, seperti ratapan biyung yang kehilangan anaknya. Bulu kuduk kawan-kawan Mahisa Agni meremang. Bunyi burung kedasih mempunyai kesan yang khusus. Terasa malam menjadi semakin muram.

Ketika mereka menyadari diri kembali, dan mereka melihat Mahisa Agni duduk merenungi bara api yang sudah semakin muram pula, sekali lagi perasaan malu hinggap di sudut hati mereka. Bunyi burung kedasih adalah bunyi yang dikenalnya sejak kecil. Dan burung itu tidak akan dapat mengucapkan bunyi yang lain dari pada bunyi itu. Bahkan jantung mereka pasti akan berhenti berdegup apabila mereka mengetahui, bahwa seekor burung kedasih bersiul dengan nada suara burung kutilang. Tetapi mereka terkejut ketika tiba-tiba saja mereka mendengar suara membelah sepi malam,

“Aku sudah mengantuk.”

Ketiga kawannya menarik nafas, “Hem,“ Patalan mengeluh, “kau mengejutkan kami Mahisa Agni.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya, kemudian sambil tersenyum ia menjawab, “Ah, kalian membuat bayangan-bayangan yang aneh di dalam hati kalian, sehingga kalian menjadi sangat mudah terkejut.”

Kawan-kawan-nya tidak menjawab. Mahisa Agni telah menebak dengan tepat. “Nah, sekarang marilah kita tidur.”

“Bersama-sama?” bertanya Jinan.

“Ya. Kenapa?”

“Bagaimana kalau ada bahaya yang mendatang selagi kita tidur?”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Bagus, marilah kita bergantian. Aku dan dua diantara kalian akan tidur dahulu. Siapa yang pertama bangun?”

“Berdua-dua,“ sahut Sinung Sari, “supaya ada kawan bercakap-cakap.”

“Baik,“ jawab Agni, “siapa yang tidur kemudian atau dahulu bersama aku.”

“Aku,“ jawab ketiganya hampir bersamaan.

Mahisa Agni menarik nafas panjang sekali. Ternyata mereka masih saja dikuasai oleh kecemasan. Karena itu maka katanya, “Jadi apakah kalian bertiga berjaga bersama aku dahulu, kemudian kalian bertiga berjaga lagi sesudah itu bersama aku pula? Sehingga dengan demikian kita semuanya tidak jadi beristirahat bergantian?”

Ketiga kawan Mahisa Agni menundukkan kepalanya, mereka masing-masing ingin mendapat giliran bersama Mahisa Agni. Namun mereka tertawa juga di dalam hati mendengar kata-kata Mahisa Agni itu. Tetapi tiba-tiba mereka mendengar Mahisa Agni itu berkata,

“Tidak perlu berjaga-jaga bergantian.”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar