“Kenapa?” bertanya Sinung Sari.
“Lihat, fajar telah membayang di langit. Sebentar lagi kita akan melihat matahari terbit.”
Ketiga kawan Mahisa Agni menarik nafas dalam. Ketika mereka hampir bersamaan mengangkat wajah mereka dan melihat warna semburat merah membayang di ujung timur, hati mereka tiba pula menjadi sejuk, seakan-akan mereka terbangun dari sebuah mimpi yang menakutkan.
“Hem,” desah Patalan, “kita telah dibebaskan dari malam yang mengerikan.”
Mahisa Agni tidak menjawab meskipun ia menjadi sedih melihat kenyataan itu. Kenyataan tentang kawan-kawannya dan anak-anak Panawijen pada umumnya. Namun yang dikatakannya adalah,
“Ya, kita telah melampaui malam yang akan sangat berkesan ini. Tetapi pekerjaan kita belum selesai. Kita masih harus berjalan menyusuri sungai ini.”
Dada ketiga kawan Mahisa Agni berdesir, “Kita meneruskan perjalanan?“ bertanya Sinung Sari.
“Apakah kita akan kembali tanpa hasil apapun,“ bertanya Mahisa Agni kembali.
Sinung Sari terdiam. Mereka memang pergi untuk mencari kemungkinan membuat bendungan. Bukan sekedar bertamasya dipadang Karautan. Namun hatinya masih juga dibayangi oleh peristiwa semalam, meskipun kini di sudut hatinya telah tumbuh keinginan untuk tidak sekedar menonton saja, apabila peristiwa itu terulang kembali atas Mahisa Agni. Namun mereka masih belum memiliki keberanian untuk itu.
Karena Sinung Sari tidak menjawab, maka Mahisa Agni meneruskan, “Kita adalah duta dari rakyat Panawijen. Duta yang harus dapat menyelesaikan pekerjaan kita. Bukan duta yang harus melamar gadis-gadis cantik, bukan duta untuk menyampaikan bulu bekti dan persembahan, tetapi kita adalah duta-duta yang akan menentukan hidup dan mati rakyat kita. Duta yang akan menjadi tempat bergantung bagi masa depan. Kalau kita yang muda-muda ini gagal melakukan tugas kita, maka kita semuanya akan tenggelam dalam kegelapan.”
Ketiga kawan-kawannya menundukkan kepalanya. Mereka dapat mengerti kata-kata itu. Mereka sependapat dengan Mahisa Agni, tetapi keadaan mereka sebelumnya telah terlampau banyak mempengaruhi sifat-sifat mereka, sehingga mereka tidak mendapatkan keseimbangan antara tekad mereka dan keberanian mereka. Sementara itu langit menjadi semakin lama semakin terang. Cahaya yang kemerah-merahan di Timur, semakin lama menjadi sesaat semakin jelas, dan kemudian matahari yang cerah mulai menampakkan dirinya di punggung bukit.
“Kalian lihat matahari,“ bertanya Mahisa Agni. Kembali ketiga kawannya menengadahkan wajahnya. Cahaya yang masih kemerah-merahan tercurah ke wajah-wajah mereka. “Sebentar lagi kita akan berjalan kembali. Kalau kalian masih ingin beristirahat, beristirahatlah sebentar. Mungkin kalian ingin makan atau minum lebih dahulu.”
Ketiga kawannya mengangguk. Kini tiba-tiba terasa perut mereka menjadi sangat lapar. Jinan segera mencoba mencari sisa-sisa bara yang masih ada di perapian, dihembus-hembusnya bara itu dan ditaruhkannya beberapa genggam rumput kering ke atasnya. Ketika kemudian api menyala kembali meskipun kecil, mereka meletakkan makanan yang mereka bawa ke atas api itu. Sesudah mereka selesai dengan makan, maka segera Mahisa Agni bersiap kembali untuk berangkat. Kawannya telah mengumpulkan alat-alat yang mereka bawa sebagai bekal di perjalanan. Bumbung-bumbung kecil, bahan-bahan makanan dan beberapa macam barang yang lain.
Ketika matahari kemudian merayap semakin tinggi, maka keempat orang itu kembali menempuh perjalanannya, dengan segan ketiga kawan Mahisa Agni menyeret kaki-kaki mereka sambil mengeluh di dalam hati. Tetapi apabila mereka teringat kepada harapan yang disertakan kepada mereka oleh rakyat Panawijen, maka hati mereka menjadi besar kembali.
Kini mereka berjalan menyusur sungai. Batu-batu padas menjorok di sana sini, sehingga sekali-sekali mereka harus berloncatan dari batu ke batu. Pohon-pohon perdu yang rimbun kadang-kadang menghalangi mereka dan dengan pedang-pedang mereka, mereka terpaksa menebasi ranting-ranting kecil dan bahan-bahan yang melintang bujur dihadapan mereka, dibeliti oleh tumbuh-tumbuhan yang merambat dan bahkan berduri.
“Tebing ini semakin tinggi,“ gumam Mahisa Agni.
“Ya,“ sahut kawannya, “perjalanan kita akan sia-sia”
“Belum tentu,“ jawab Agni, “mungkin di sebelah kita akan menemukan dasar sungai itu naik pula.”
Kawannya tidak menjawab. Mereka kini tinggal berjalan saja di belakang Mahisa Agni. Bahkan Jinan hampir-hampir telah menjadi berputus asa dan kehabisan tenaga untuk berjalan terus. Tetapi Mahisa Agni seakan-akan sama sekali tidak memperhatikan mereka itu. Ia berjalan terus, dan perhatiannya bulat-bulat tertuju kepada kemungkinan mendapat tempat untuk membuat bendungan.
Matahari semakin lama semakin tinggi. Panasnya seolah-olah menembus sampai ke tulang. Keringat keempat orang yang berjalan di bawah terik panas itu seakan-akan diperas dari dalam tubuhnya. Namun sama sekali tidak tampak kelesuan di wajah Mahisa Agni. Dengan tekad yang menyala sepanas api, Mahisa Agni berjalan terus. Meskipun dahinya kadang-kadang tampak berkerut-kerut apabila dilihatnya jarak antara bibir tebing dan dasar sungai menjadi semakin jauh. Tetapi ia masih memiliki harapan seakan-akan tak akan kunjung padam, meskipun kadang-kadang dirayapi keragu-raguan.
Mereka berjalan terus di bawah panas cahaya matahari. Jinan yang berjalan di ujung paling belakang sekali terdengar mengeluh. Patalan dan Sinung Sari masih juga berjalan dengan hati yang kosong dekat-dekat di belakang Mahisa Agni. Sekali-sekali Mahisa Agni berhenti, menjenguk sungai di sampingnya. Dari sela-sela rumput-rumput liar, batang-batang perdu dan ilalang, Mahisa Agni melihat air yang bening gemericik mengalir di antara batu-batu yang berserakan. Tiba-tiba ia terhenti. Dengan serta merta ia berkata kepada kawannya,
“Kau lihat, disini batu berserakan melimpah-limpah.”
Tetapi dengan muramnya Sinung Sari menjawab, “Tebing disini terlampau tinggi. Apakah kita dapat menaiki air setinggi ini?”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang pekerjaan itu hampir tidak mungkin dilakukan. Tetapi disini batu terlampau banyak, dan cukup besar-besar. Ada yang sebesar kerbau, ada yang sebesar kambing. Dan ada juga yang jauh lebih besar, namun hampir memenuhi dasar sungai itu, batu-batu sebesar kepala kucing.
“Tetapi tebing terlampau tinggi,“ gumam Mahisa Agni.
Sinung Sari menganggukkan kepalanya, “Ya. Terlampau tinggi dan curam.”
“Marilah kita berjalan terus. Mudahan batu-batu itu akan terdapat di sepanjang sungai ini.”
“Apakah kita akan berjalan lagi,“ sela Jinan.
“Ya,“ Mahisa Agni mengangguk.
Jinan mengeluh. Katanya, “Kita harus bermalam semalam lagi dipadang ini.”
“Tidak,“ jawab Agni, “kalau tempat itu sudah kita ketemukan kita segera kembali.”
“Tetapi jarak kembali itu akan kita tempuh lebih dari satu hari seperti kita datang.”
“Kita dapat berjalan terus. Kalau kita pulang, kita tidak perlu lagi melihat sungai itu. Meskipun betapa gelapnya, kita akan tetap dapat meneruskan perjalanan.”
“Kakiku akan patah,” sahut Jinan.
“Ya,“ sambung Patalan dan Sinung Sari hampir bersamaan, “kita akan lelah sekali.”
Mahisa Agni terdiam. Ia tidak dapat berkata apapun lagi. Meskipun perjalanan ini sama sekali tak berarti dibandingkan dengan perjalanan yang pernah dilakukan, baik bersama gurunya, maupun seorang diri, dan yang terakhir adalah perjalanannya ke sisi seberang Gunung Semeru, maka apa yang dilakukannya kali ini adalah sebuah tamasya yang tak berarti bagi sepasang kakinya, namun ia tidak dapat menyangkal, bahwa ketiga kawan-kawannya benar-benar telah kelelahan. Meskipun demikian sejenak kemudian ia berkata,
“Kita mencoba sedikit lagi. Kita berjalan beberapa saat, mungkin dekat di atas ini sungai menjadi semakin tinggi.” Ketiga kawannya saling berpandangan. Tetapi tidak seorang pun yang membantah. “Apakah kita akan beristirahat dulu?”
Ketiga kawan-kawannya masih diam. Mereka dihadapkan pada kebimbangan, kecemasan dan hampir keputus-asaan. Kalau mereka kini beristirahat, maka waktu yang akan dipergunakannya akan bertambah panjang. Dengan demikian, mereka mungkin akan bermalam dua malam lagi dipadang rumput ini sebelum mereka sampai ke Panawijen. Tetapi kalau mereka berjalan terus, kaki mereka seolah-olah benar-benar telah akan patah. Dalam kebimbangan itu terdengar Mahisa Agni berkata,
“Biarlah kita berjalan sebentar lagi. Kalau kita masih juga belum menemukan tempat itu, kita akan beristirahat.”
Kata-kata itu sama sekali bukanlah yang diharapkan oleh ketiga kawan-kawannya. Beristirahat sekarang atau nanti, bagi mereka akan berakibat sama. Memperpanjang perjalanan.
“Agni,“ berkata Sinung Sari, “apakah kita masih akan membuang-buang waktu, menyusuri sungai yang menjadi semakin dalam ini?”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Tak ada pilihan lain Sinung Sari. Kita harus berjalan terus sampai kita menemukan tempat itu.”
“Kita tidak akan berhasil,“ potong Patalan, “bukankah tempat ini menjadi semakin sulit bagi pembangunan sebuah bendungan. Mungkin bekas bendungan yang lama itu lebih baik daripada tempat ini.”
“Tidak,“ bantah Agni, “seandainya kita tidak menemukan tempat lain, maka tempat ini lebih baik dari bekas bendungan itu. Disini kita dapatkan batu berlimpah ruah. Kita tinggal membuat berunjung-berunjung bambu sebanyak yang dapat kita buat. Kita isi brujung itu dengan batu, dan kita susun bertimbun-timbun. Tetapi apa yang dapat kita lakukan di bekas bendungan itu. Kita harus membuat brunjung, kita isi dengan sampah dan dedaunan diantara batu-batu yang tidak terlampau banyak. Setiap kali kita masih harus menimbuni dengan tanah yang akan selalu hanyut dibawa air. Berapa banyak daunan dan tanah yang kita perlukan. Pepohonan seluruh padukuhan itu kita tebang semuanya, agaknya masih belum akan mencukupi. Setiap kali daun-daun itu membusuk, setiap kali itu pula kita harus menambahnya.”
Ketiga kawan Mahisa Agni terdiam. Memang pekerjaan itu pun tak mungkin dilakukannya. Tetapi untuk berjalan terus, mereka benar-benar telah kehilangan gairah.
“Atau kita kembali dan tidak lagi berpikir tentang bendungan?“ bertanya Mahisa Agni, “kita biarkan Panawijen menjadi kering, dan sawah-sawah kita menjadi kering pula tanpa membuat tanah persawahan yang baru?”
Ketiga kawan Mahisa Agni itu pun masih terbungkam. Pertanyaan Mahisa Agni itu benar-benar tidak dapat dijawabnya. Bahkan betapapun kecilnya, namun pertanyaan itu telah mempengaruhi mereka pula. Bendungan itu adalah harapan bagi seluruh rakyat Panawijen. Karena mereka tidak menjawab, maka Mahisa Agni kemudian berkata,
“Aku tahu bahwa kalian telah menjadi sangat lelah. Aku pun menjadi sangat lelah pula. Tetapi aku merasa bahwa seluruh rakyat Panawijen menitipkan harapan pada perjalanan kami ini. Karena itu aku akan berjalan terus. Apabila kalian merasa, bahwa kalian sudah tidak mungkin lagi meneruskan usaha ini, maka aku persilahkan kalian berjalan kembali. Aku akan berjalan kembali. Aku akan berjalan terus.”
Kawan-kawan Mahisa Agni itu terkejut mendengar kata-kata itu. Dengan serta merta Patalan menjawab, “Tidak Agni. Kami tidak akan kembali.”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Ia melihat kecemasan membayang di wajah ketiga kawan-kawannya itu, “Mereka tidak akan memilih,“ gumam Mahisa Agni di dalam hatinya, Ia tahu benar bahwa ketiga kawan-kawannya itu tidak akan berani menempuh perjalanan kembali tanpa dirinya.
Meskipun demikian ia masih bertanya, “Kenapa kalian tidak akan kembali? Bukankah kalian telah hampir tidak percaya lagi bahwa usaha ini akan berhasil?”
“Tidak. Bukan begitu. Kami masih mempunyai harapan yang besar untuk menemukan tempat yang kita cari,“ sahut Jinan dengan wajah yang pucat.
Mahisa Agni diam sesaat. Namun tiba-tiba ia berkata, “Kalian tidak berjalan terus karena keyakinan kalian bahwa usaha ini akan berhasil, tetapi kalian berjalan terus kalian tidak berani berjalan kembali.”
Serentak ketiga kawan Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Mereka pandangi wajah Mahisa Agni dengan tajamnya. Namun sesaat kemudian wajah-wajah itu tertunduk lesu. Tebakan itu tepat seperti sebuah cermin yang dihadapkan di muka wajah hati masing-masing. Wajah-wajah yang pucat dan ketakutan.
Mahisa Agni melihat ketiga kawannya itu tertunduk. Wajah mereka yang pucat menjadi semakin pucat dan suram. Tiba-tiba timbullah iba di hatinya. Katanya, “Sudahlah. Aku hanya ingin bergurau. Sekarang marilah kita beristirahat sejenak. Mudah-mudahan kita akan mendapatkan kesegaran kembali.”
Mereka, kawan-kawan Mahisa Agni tidak membantah. Ketika kemudian Mahisa Agni menjatuhkan dirinya di bawah pohon-pohon perdu di tepi tebing sungai, maka mereka pun duduk pula di sampingnya. Dengan tanpa gairah, mereka kemudian mencoba mengisi perut mereka dengan makanan yang mereka bawa dari padukuhan. Namun ketika mereka minum beberapa teguk, maka bumbung-bumbung mereka telah menjadi kering kembali.
“Kita perlu air,“ desis Mahisa Agni.
Ketiga kawannya mengangguk serentak, “Ya,“ sahut Sinung Sari, “aku haus sekali.”
Tetapi mereka menjadi sangat kecewa ketika mereka memperhatikan tebing sungai yang curam. Tebing yang mengeras karena batu padas yang basah.
“Tebing ini sangat curam dan licin,“ gumam Mahisa Agni.
Ketiga kawannya hanya dapat menganggukkan kepala mereka tanpa dapat memberikan pertimbangan apapun. Namun dalam keadaan yang demikian wajah-wajah mereka menjadi semakin putih. Seakan-akan darah mereka terhenti di leher mereka sebelum merayap ke wajah-wajah itu.
Mahisa Agni pun kemudian berdiri. Dipandanginya tebing yang curam dengan beberapa jenis perdu yang tumbuh hampir rapat. Tetapi Mahisa Agni tidak yakin, bahwa akar-akar perdu itu cukup kuat apabila ia mencoba menuruni tebing sambil berpegangan pada batangnya. Apabila ternyata akar perdu itu terlepas, maka ia pasti akan terlempar jatuh di atas batu-batu padas yang menjorok runcing-runcing di pinggir sungai itu. Tetapi apabila terpandang olehnya pantulan sinar matahari di atas air yang jernih itu, lehernya serasa terbakar karena kehausan.
“Hem,“ desahnya. Dan tiba-tiba ia berkata, “Marilah kita berjalan kembali. Mudahan kita segera mendapatkan tebing yang dapat aku turuni. Aku pun haus sekali.”
Mereka bertiga segera berdiri dan berjalan kembali tersuruk-suruk di belakang Mahisa Agni. Kini mereka bersama-sama kehausan di bawah terik sinar matahari. Namun tekad Mahisa Agni yang membaja telah menyeretnya untuk berjalan terus. Sekali-sekali Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya ketiga kawannya menjadi semakin lelah dan lemah. Jinan seolah-olah sudah tidak mampu untuk berjalan. Kakinya yang lemah itu diseretnya sambil mengeluh di dalam hati,
“Apakah aku akan mati dipadang rumput ini?”
Patalan dan Sinung Sari masih agak baik keadaannya dari pada Jinan. Tetapi matahari serasa membakar tubuhnya. Perasaan haus yang sangat telah menyerangnya, sehingga seakan-akan ludahnya menjadi kering dan lehernya menjadi lekat. Berkali-kali mereka menjilat-jilat bibir-bibir mereka. Tetapi bibir itu pun telah menjadi kering pula. Sedang di bawah kaki-kaki mereka, terdengar gemericik air yang bening.
“Agni,“ desis Patalan yang tidak dapat menahan diri, “aku haus sekali.”
Langkah Mahisa Agni terhenti. Sekali lagi ia memandangi bumbung kecil yang tersangkut diikat pinggangnya. Bumbung itu telah kosong, bahkan telah kering sampai ke dasarnya. Sekali ia menarik nafas. Kini disadarinya bahwa ia tidak akan dapat berjalan terus. Karena itu, sekali lagi dipandanginya tebing yang curam itu, apabila ia menemukan kemungkinan untuk merayap turun. Tetapi Mahisa Agni menjadi kecewa. Tebing itu ternyata terlalu curam, seakan-akan sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya untuk mendapatkan pancadan. Tetapi untuk berjalan tanpa air, agaknya benar-benar tidak mungkin bagi ketiga kawan-kawannya.
Sesaat Mahisa Agni berdiri mematung. Sementara itu ia masih saja mendengar kawan-kawannya berdesah. Ketika ia berpaling memandangi wajah-wajah itu, Mahisa Agni melihat, bahwa ketiga kawannya itu benar telah kehausan. Karena itu ia menjadi bingung.
“Bagaimana Agni,“ terdengar suara Sinung Sari serak, “apakah kau dapat mengambil air untuk kita?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam, “Tebing itu terlalu curam,“ desahnya.
“Lalu bagaimana?” desak Jinan. Anak itu kini telah duduk dengan lesunya di atas rerumputan kering.
“Berteduhlah di bawah perdu itu,“ berkata Mahisa Agni kepada kawan-kawannya.
“Kami tidak kepanasan,” jawab Patalan, “tetapi kami kehausan.”
“Dengan berteduh, maka badan kita akan merasa segar. Mungkin rasa haus itu pun akan berkurang.”
“Tidak. Kami perlu air.”
Mahisa Agni menjadi bertambah cemas. Ketiga anak-anak muda itu kini benar-benar menjadi seperti anak kecil yang sedang merengek minta minum kepada ayahnya. Mereka sama sekali bukan kawan yang baik untuk menghadapi kesulian dan mencoba mengatasinya. Namun Mahisa Agni tidak sampai hati untuk mengatakannya kepada mereka. Sebab Mahisa Agni mengetahui sebab dan pengaruh yang telah membentuk anak-anak muda Panawijen tidak mampu mengatasi kesulitan.
Kini Mahisa Agni tidak boleh hanya sekedar mencari kesalahan dan alasan-alasan untuk menghindarkan diri dari kewajibannya menyelamatkan kawan-kawannya itu. Kembali ia berpikir dan kembali ia merenungi tebing. Beberapa pepohonan tampak tumbuh melekat pada batu-batu padas namun ia tidak yakin, bahwa akar-akarnya mampu untuk menahan berat tubuhnya. Tiba-tiba Mahisa Agni mengangkat dadanya. Setelah berdiam diri sejenak, maka katanya lantang,
“Kalian mau menolong aku turun?”
“Tentu,” sahut mereka tanpa berpikir.
“Lepaslah kain panjangmu.”
Ketiga kawan-kawannya saling berpandangan. Tetapi mereka sudah sangat haus, sehingga mereka menjawab serentak, “Baik, adalah dengan demikian kau mendapatkan air. Apakah kami harus menukar air itu dengan kain kami?”
Dahi Mahisa Agni berkerut. Apalagi ketika ia mendengar Sinung Sari berkata, “Agni. Di rumah kami masih mempunyai kain yang lebih baik dari ini. Nanti aku akan menukarnya dengan yang baik itu.”
“Terima kasih,” sahut Agni. Betapa ia menjadi jengkel mendengar jawaban-jawaban itu. Tetapi sekali lagi disadarinya bahwa pikiran ketiga kawannya itu agaknya telah benar-benar terganggu oleh perasaan haus yang mencengkam mereka. “Aku memang memerlukan kain-kain itu,“ berkata Mahisa Agni. “Tetapi aku tidak akan menukarnya dengan air. Aku minta kalian menyambung-nyambung kain itu. Empat kain dengan yang aku pakai aku kira akan dapat menolong aku turun ke bawah di samping akar-akar perdu di sepanjang tebing itu. Tetapi jangan sayang kalau kain itu masih harus dibelah supaya panjangnya mencapai dasar.”
Sekali lagi ketiga kawan-kawannya saling berpandangan. Dan terdengar Mahisa Agni berkata pula, “Kalau kalian sayang akan kain itu, maka kalian tidak akan mendapatkan air, sebab aku tidak mempunyai cara lain untuk turun. Nanti apabila kita kembali ke padukuhan, biarlah kita memasuki rumah kita masing-masing dimalam hari supaya tidak terlihat oleh siapa pun bahwa kain kita sudah terbelah.”
Ketiga kawan Mahisa Agni itu pun segera menyetujui. Mereka sudah tidak tahan lagi menderita haus yang amat sangat. Sedang matahari di langit masih saja memancarkan panasnya, seakan-akan ingin membakar seluruh bola bumi. Segera mereka berempat melepaskan kain-kain panjang mereka. Kain itu pun kemudian disobek di tengah-tengah membujur, dan kemudian satu sama lain diikat dalam satu jalur yang panjang.
“Mudah-mudahan aku dapat sampai ke dasar sungai dan memanjat naik kembali lewat sambungan kain itu. Pegang ujungnya kuat-kuat. Kalau kalian bertiga gagal menahan berat badanku, dan aku terpelanting jatuh, maka kalian pun akan kehausan disini. Mungkin kalian akan mati pula seperti aku. Karena itu kalian bertiga harus mampu menahan berat badanku apabila kalian benar-benar ingin minum.”
Kata-kata itu merupakan ancaman yang sangat mereka takuti. Apabila mereka gagal menahan tubuh Mahisa Agni, mereka pasti akan mati kehausan, bukan mati terpelanting ke dalam jurang. Karena itu, maka mereka berjanji kepada diri sendiri bahwa mereka akan berbuat sebaik-baiknya, sehingga dengan demikian akan merupakan dorongan bagi mereka untuk mengerahkan sisa-sisa kekuatan mereka. Demikian besar nafsu mereka untuk mendapatkan air. Maka tenaga mereka pun seakan-akan menjadi bertambah-tambah kuatnya.
Mereka bertiga dengan hati-hati memegangi ujung dari kain yang bersambungan itu, sedang Mahisa Agni perlahan-lahan merayap turun. Kaki-kakinya yang kuat, mencoba mencari pancadan yang dapat memperingan berat tubuhnya di atas batu-batu yang menjorok dan pada pokok batang-batang perdu. Ternyata diantara batang-batang perdu itu ada juga yang cukup kuat untuk menahan berat badannya. Dengan sangat hati-hati akhirnya Mahisa Agni dengan selamat dapat mencapai dasar sungai itu. Dasar yang keras. Di antara batu-batu yang berserakan hampir memenuhi dasar sungai, maka di tepian, batu-batu padas yang runcing menjorok di sana sini.
Mahisa Agni menarik nafas panjang-panjang. Sekali ia menengadahkan kepalanya. Dilihatnya ketiga kawannya menelengkup di atas tebing melihatnya dengan penuh harapan. Ketiga kawan Mahisa Agni itu sama sekali tidak membantunya dalam kesulitan, bahkan seakan-akan mereka adalah momongan-momongan yang hanya dapat mengganggu saja. Tetapi mereka bertiga telah terlanjur dibawanya sampai ke tempat ini. Apabila terjadi sesuatu atas mereka, maka orang-orang Panawijen akan menjadi mudah berprasangka terhadapnya. Karena itu, maka ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan ketiga kawan-kawannya itu.
Kini Mahisa Agni berpaling memandangi arus sungai yang bening jernih. Suaranya gemericik diantara batu-batu yang berserakan besar kecil. Ketika Mahisa Agni memandang lurus ke depan, dilihatnya sebuah jalur jurang yang menganga panjang. Seolah-olah sebuah jalur perak yang putih diantara sepasang dinding baja yang tegak sebelah menyebelah. Ketika ia memandang jauh ke depan, tiba-tiba Mahisa Agni itu tertegun. Wajahnya menegang dan darahnya menjadi seolah-olah beku. Jauh dihadapannya, di ujung jalur sungai yang keputihan, dilihatnya sebuah dinding yang putih mengkilap.
Dengan sigapnya Mahisa Agni meloncat semakin menepi sungai itu. Bahkan kemudian ia menceburkan diri, dan berjalan ke tengah. Ia sama sekali tidak memperhatikan lagi celananya menjadi basah kuyup oleh arus air hampir setinggi perutnya. Ketiga kawannya yang melihat Mahisa Agni berjalan ke tengah sungai menjadi heran. Apakah yang dilakukannya di sana? Bahkan Patalan yang kehausan berteriak tidak sabar,
“Agni. Apakah kau menunggu aku mati?”
Mahisa Agni masih berdiri dengan tegangnya. Bahkan setelah ia bersentuhan dengan air ia menjadi lupa akan perasaan hausnya. Semula ia hanya ingin menahan diri untuk tidak tergesa-gesa meneguk air, supaya perutnya tidak menjadi sakit dan gembung. Namun kini bahkan ia tidak lagi mengingat perasaan hausnya itu.
“Agni,“ teriak Sinung Sari dan Jinan hampir bersama.
Mahisa Agni terkejut mendengar teriakan itu, seolah-olah ia sedang terbangun dari sebuah mimpi.
“Agni, cepat sebelum aku mati.”
Kini Agni berpaling kepada ketiga kawan-kawannya. Tetapi ia tidak segera mengisi bumbungnya. Dengan lincahnya ia meloncat ke tepian sambil berteriak, “Naik, naiklah menurut arus air.”
“He,“ sahut Patalan.
“Naiklah. Lihatlah beberapa ratus langkah di atas kita sepanjang sungai ini.”
“Apa,“ teriak Jinan, “maksudmu supaya aku berlari-lari dan mati karena leherku tersekat kering.”
“Tidak, cepat berlari beberapa ratus langkah.”
“Apakah kau gila Agni. Ada apa di atas jalur sungai itu?”
“Apakah kalian tidak melihat,“ sahut Agni seperti orang yang dilanda oleh kegelisahan, “pergilah cepat.” Kawan-kawannya pun menjadi gelisah dan heran. Bahkan mereka menjadi bingung. “He,“ teriak Agni, “apakah kalian tidak melihat?”
“Kami tidak melihat apa-apa selain sungai itu,” jawab kawan-kawannya.
“Dan tidak mendengar?”
“Tidak.”
Mahisa Agni terdiam sesaat. Dimiringkannya kepalanya dalam keasyikan mendengarkan sesuatu, “Aku mendengarnya meskipun lamat-lamat.”
“Kau mendengar apa?“ bertanya Sinung Sari.
“Pergilah menyusur sungai ini. Aku akan lewat di bawah.”
“Ya, tapi kemana dan kenapa?”
“Jeram. Apakah, kau tidak mendengar suara air itu terjun? He. Di atas kita ada jeram yang cukup tinggi. Tebing sungai di sebelah jeram itu pasti tidak akan terlalu tinggi. Marilah kita lihat apakah kita dapat membuat bendungan di atasnya.”
Kawan-kawannya yang kehausan itu pun tiba-tiba terpengaruh. Jeram? Kalau benar kata Mahisa Agni, maka mereka akan menemukan dasar sungai yang cukup dangkal, sehingga mereka akan dapat langsung terjun ke dalam air dan minum sepuas-puasnya. Karena itu, maka tiba-tiba kekuatan mereka serasa tumbuh kembali. Harapan untuk mendapatkan air sebanyak yang diinginkan, akan terpenuhi.
Tiba-tiba seperti disentakkan oleh tenaga ajaib mereka serentak berdiri dan berlari ke hulu. Kain panjang yang bersambung-sambung itu mereka tarik saja seperti ekor yang panjang sekali, yang kadang-kadang tersangkut pada batang perdu. Karena itu, maka kain-kain mereka menjadi tercabik-cabik oleh duri dan ranting-ranting. Bahkan sekali-sekali mereka tersentak dan hampir-hampir jatuh menelentang karena kain itu tertahan oleh sebuah sangkutan yang agak kuat. Namun betapapun juga mereka masih cukup sadar, bahwa kain itu harus tetap mereka seret bersama mereka.
Kini panas yang terik seolah-olah tidak terasa lagi. Mereka sedang digerakkan oleh tenaga ajaib yang demikian saja tumbuh dari desakan harapan yang kuat. Seakan-akan mereka telah digerakkan bukan oleh diri mereka sendiri. Namun mereka sama sekali tidak menyadarinya, bahwa kekuatan-kekuatan yang demikian itulah, yang lajim disebut kekuatan-kekuatan cadangan. Kekuatan-kekuatan yang bagi mereka yang terlatih dapat dimanfaatkan setiap saat dengan penuh kesadaran. Tetapi bagi mereka yang tidak memeliharanya dan bahkan tidak menyadarinya, kekuatan itu hanya akan timbul dalam saat-saat tertentu justru diluar kehendak wajar dan kesadaran.
“Lihat, fajar telah membayang di langit. Sebentar lagi kita akan melihat matahari terbit.”
Ketiga kawan Mahisa Agni menarik nafas dalam. Ketika mereka hampir bersamaan mengangkat wajah mereka dan melihat warna semburat merah membayang di ujung timur, hati mereka tiba pula menjadi sejuk, seakan-akan mereka terbangun dari sebuah mimpi yang menakutkan.
“Hem,” desah Patalan, “kita telah dibebaskan dari malam yang mengerikan.”
Mahisa Agni tidak menjawab meskipun ia menjadi sedih melihat kenyataan itu. Kenyataan tentang kawan-kawannya dan anak-anak Panawijen pada umumnya. Namun yang dikatakannya adalah,
“Ya, kita telah melampaui malam yang akan sangat berkesan ini. Tetapi pekerjaan kita belum selesai. Kita masih harus berjalan menyusuri sungai ini.”
Dada ketiga kawan Mahisa Agni berdesir, “Kita meneruskan perjalanan?“ bertanya Sinung Sari.
“Apakah kita akan kembali tanpa hasil apapun,“ bertanya Mahisa Agni kembali.
Sinung Sari terdiam. Mereka memang pergi untuk mencari kemungkinan membuat bendungan. Bukan sekedar bertamasya dipadang Karautan. Namun hatinya masih juga dibayangi oleh peristiwa semalam, meskipun kini di sudut hatinya telah tumbuh keinginan untuk tidak sekedar menonton saja, apabila peristiwa itu terulang kembali atas Mahisa Agni. Namun mereka masih belum memiliki keberanian untuk itu.
Karena Sinung Sari tidak menjawab, maka Mahisa Agni meneruskan, “Kita adalah duta dari rakyat Panawijen. Duta yang harus dapat menyelesaikan pekerjaan kita. Bukan duta yang harus melamar gadis-gadis cantik, bukan duta untuk menyampaikan bulu bekti dan persembahan, tetapi kita adalah duta-duta yang akan menentukan hidup dan mati rakyat kita. Duta yang akan menjadi tempat bergantung bagi masa depan. Kalau kita yang muda-muda ini gagal melakukan tugas kita, maka kita semuanya akan tenggelam dalam kegelapan.”
Ketiga kawan-kawannya menundukkan kepalanya. Mereka dapat mengerti kata-kata itu. Mereka sependapat dengan Mahisa Agni, tetapi keadaan mereka sebelumnya telah terlampau banyak mempengaruhi sifat-sifat mereka, sehingga mereka tidak mendapatkan keseimbangan antara tekad mereka dan keberanian mereka. Sementara itu langit menjadi semakin lama semakin terang. Cahaya yang kemerah-merahan di Timur, semakin lama menjadi sesaat semakin jelas, dan kemudian matahari yang cerah mulai menampakkan dirinya di punggung bukit.
“Kalian lihat matahari,“ bertanya Mahisa Agni. Kembali ketiga kawannya menengadahkan wajahnya. Cahaya yang masih kemerah-merahan tercurah ke wajah-wajah mereka. “Sebentar lagi kita akan berjalan kembali. Kalau kalian masih ingin beristirahat, beristirahatlah sebentar. Mungkin kalian ingin makan atau minum lebih dahulu.”
Ketiga kawannya mengangguk. Kini tiba-tiba terasa perut mereka menjadi sangat lapar. Jinan segera mencoba mencari sisa-sisa bara yang masih ada di perapian, dihembus-hembusnya bara itu dan ditaruhkannya beberapa genggam rumput kering ke atasnya. Ketika kemudian api menyala kembali meskipun kecil, mereka meletakkan makanan yang mereka bawa ke atas api itu. Sesudah mereka selesai dengan makan, maka segera Mahisa Agni bersiap kembali untuk berangkat. Kawannya telah mengumpulkan alat-alat yang mereka bawa sebagai bekal di perjalanan. Bumbung-bumbung kecil, bahan-bahan makanan dan beberapa macam barang yang lain.
Ketika matahari kemudian merayap semakin tinggi, maka keempat orang itu kembali menempuh perjalanannya, dengan segan ketiga kawan Mahisa Agni menyeret kaki-kaki mereka sambil mengeluh di dalam hati. Tetapi apabila mereka teringat kepada harapan yang disertakan kepada mereka oleh rakyat Panawijen, maka hati mereka menjadi besar kembali.
Kini mereka berjalan menyusur sungai. Batu-batu padas menjorok di sana sini, sehingga sekali-sekali mereka harus berloncatan dari batu ke batu. Pohon-pohon perdu yang rimbun kadang-kadang menghalangi mereka dan dengan pedang-pedang mereka, mereka terpaksa menebasi ranting-ranting kecil dan bahan-bahan yang melintang bujur dihadapan mereka, dibeliti oleh tumbuh-tumbuhan yang merambat dan bahkan berduri.
“Tebing ini semakin tinggi,“ gumam Mahisa Agni.
“Ya,“ sahut kawannya, “perjalanan kita akan sia-sia”
“Belum tentu,“ jawab Agni, “mungkin di sebelah kita akan menemukan dasar sungai itu naik pula.”
Kawannya tidak menjawab. Mereka kini tinggal berjalan saja di belakang Mahisa Agni. Bahkan Jinan hampir-hampir telah menjadi berputus asa dan kehabisan tenaga untuk berjalan terus. Tetapi Mahisa Agni seakan-akan sama sekali tidak memperhatikan mereka itu. Ia berjalan terus, dan perhatiannya bulat-bulat tertuju kepada kemungkinan mendapat tempat untuk membuat bendungan.
Matahari semakin lama semakin tinggi. Panasnya seolah-olah menembus sampai ke tulang. Keringat keempat orang yang berjalan di bawah terik panas itu seakan-akan diperas dari dalam tubuhnya. Namun sama sekali tidak tampak kelesuan di wajah Mahisa Agni. Dengan tekad yang menyala sepanas api, Mahisa Agni berjalan terus. Meskipun dahinya kadang-kadang tampak berkerut-kerut apabila dilihatnya jarak antara bibir tebing dan dasar sungai menjadi semakin jauh. Tetapi ia masih memiliki harapan seakan-akan tak akan kunjung padam, meskipun kadang-kadang dirayapi keragu-raguan.
Mereka berjalan terus di bawah panas cahaya matahari. Jinan yang berjalan di ujung paling belakang sekali terdengar mengeluh. Patalan dan Sinung Sari masih juga berjalan dengan hati yang kosong dekat-dekat di belakang Mahisa Agni. Sekali-sekali Mahisa Agni berhenti, menjenguk sungai di sampingnya. Dari sela-sela rumput-rumput liar, batang-batang perdu dan ilalang, Mahisa Agni melihat air yang bening gemericik mengalir di antara batu-batu yang berserakan. Tiba-tiba ia terhenti. Dengan serta merta ia berkata kepada kawannya,
“Kau lihat, disini batu berserakan melimpah-limpah.”
Tetapi dengan muramnya Sinung Sari menjawab, “Tebing disini terlampau tinggi. Apakah kita dapat menaiki air setinggi ini?”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang pekerjaan itu hampir tidak mungkin dilakukan. Tetapi disini batu terlampau banyak, dan cukup besar-besar. Ada yang sebesar kerbau, ada yang sebesar kambing. Dan ada juga yang jauh lebih besar, namun hampir memenuhi dasar sungai itu, batu-batu sebesar kepala kucing.
“Tetapi tebing terlampau tinggi,“ gumam Mahisa Agni.
Sinung Sari menganggukkan kepalanya, “Ya. Terlampau tinggi dan curam.”
“Marilah kita berjalan terus. Mudahan batu-batu itu akan terdapat di sepanjang sungai ini.”
“Apakah kita akan berjalan lagi,“ sela Jinan.
“Ya,“ Mahisa Agni mengangguk.
Jinan mengeluh. Katanya, “Kita harus bermalam semalam lagi dipadang ini.”
“Tidak,“ jawab Agni, “kalau tempat itu sudah kita ketemukan kita segera kembali.”
“Tetapi jarak kembali itu akan kita tempuh lebih dari satu hari seperti kita datang.”
“Kita dapat berjalan terus. Kalau kita pulang, kita tidak perlu lagi melihat sungai itu. Meskipun betapa gelapnya, kita akan tetap dapat meneruskan perjalanan.”
“Kakiku akan patah,” sahut Jinan.
“Ya,“ sambung Patalan dan Sinung Sari hampir bersamaan, “kita akan lelah sekali.”
Mahisa Agni terdiam. Ia tidak dapat berkata apapun lagi. Meskipun perjalanan ini sama sekali tak berarti dibandingkan dengan perjalanan yang pernah dilakukan, baik bersama gurunya, maupun seorang diri, dan yang terakhir adalah perjalanannya ke sisi seberang Gunung Semeru, maka apa yang dilakukannya kali ini adalah sebuah tamasya yang tak berarti bagi sepasang kakinya, namun ia tidak dapat menyangkal, bahwa ketiga kawan-kawannya benar-benar telah kelelahan. Meskipun demikian sejenak kemudian ia berkata,
“Kita mencoba sedikit lagi. Kita berjalan beberapa saat, mungkin dekat di atas ini sungai menjadi semakin tinggi.” Ketiga kawannya saling berpandangan. Tetapi tidak seorang pun yang membantah. “Apakah kita akan beristirahat dulu?”
Ketiga kawan-kawannya masih diam. Mereka dihadapkan pada kebimbangan, kecemasan dan hampir keputus-asaan. Kalau mereka kini beristirahat, maka waktu yang akan dipergunakannya akan bertambah panjang. Dengan demikian, mereka mungkin akan bermalam dua malam lagi dipadang rumput ini sebelum mereka sampai ke Panawijen. Tetapi kalau mereka berjalan terus, kaki mereka seolah-olah benar-benar telah akan patah. Dalam kebimbangan itu terdengar Mahisa Agni berkata,
“Biarlah kita berjalan sebentar lagi. Kalau kita masih juga belum menemukan tempat itu, kita akan beristirahat.”
Kata-kata itu sama sekali bukanlah yang diharapkan oleh ketiga kawan-kawannya. Beristirahat sekarang atau nanti, bagi mereka akan berakibat sama. Memperpanjang perjalanan.
“Agni,“ berkata Sinung Sari, “apakah kita masih akan membuang-buang waktu, menyusuri sungai yang menjadi semakin dalam ini?”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Tak ada pilihan lain Sinung Sari. Kita harus berjalan terus sampai kita menemukan tempat itu.”
“Kita tidak akan berhasil,“ potong Patalan, “bukankah tempat ini menjadi semakin sulit bagi pembangunan sebuah bendungan. Mungkin bekas bendungan yang lama itu lebih baik daripada tempat ini.”
“Tidak,“ bantah Agni, “seandainya kita tidak menemukan tempat lain, maka tempat ini lebih baik dari bekas bendungan itu. Disini kita dapatkan batu berlimpah ruah. Kita tinggal membuat berunjung-berunjung bambu sebanyak yang dapat kita buat. Kita isi brujung itu dengan batu, dan kita susun bertimbun-timbun. Tetapi apa yang dapat kita lakukan di bekas bendungan itu. Kita harus membuat brunjung, kita isi dengan sampah dan dedaunan diantara batu-batu yang tidak terlampau banyak. Setiap kali kita masih harus menimbuni dengan tanah yang akan selalu hanyut dibawa air. Berapa banyak daunan dan tanah yang kita perlukan. Pepohonan seluruh padukuhan itu kita tebang semuanya, agaknya masih belum akan mencukupi. Setiap kali daun-daun itu membusuk, setiap kali itu pula kita harus menambahnya.”
Ketiga kawan Mahisa Agni terdiam. Memang pekerjaan itu pun tak mungkin dilakukannya. Tetapi untuk berjalan terus, mereka benar-benar telah kehilangan gairah.
“Atau kita kembali dan tidak lagi berpikir tentang bendungan?“ bertanya Mahisa Agni, “kita biarkan Panawijen menjadi kering, dan sawah-sawah kita menjadi kering pula tanpa membuat tanah persawahan yang baru?”
Ketiga kawan Mahisa Agni itu pun masih terbungkam. Pertanyaan Mahisa Agni itu benar-benar tidak dapat dijawabnya. Bahkan betapapun kecilnya, namun pertanyaan itu telah mempengaruhi mereka pula. Bendungan itu adalah harapan bagi seluruh rakyat Panawijen. Karena mereka tidak menjawab, maka Mahisa Agni kemudian berkata,
“Aku tahu bahwa kalian telah menjadi sangat lelah. Aku pun menjadi sangat lelah pula. Tetapi aku merasa bahwa seluruh rakyat Panawijen menitipkan harapan pada perjalanan kami ini. Karena itu aku akan berjalan terus. Apabila kalian merasa, bahwa kalian sudah tidak mungkin lagi meneruskan usaha ini, maka aku persilahkan kalian berjalan kembali. Aku akan berjalan kembali. Aku akan berjalan terus.”
Kawan-kawan Mahisa Agni itu terkejut mendengar kata-kata itu. Dengan serta merta Patalan menjawab, “Tidak Agni. Kami tidak akan kembali.”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Ia melihat kecemasan membayang di wajah ketiga kawan-kawannya itu, “Mereka tidak akan memilih,“ gumam Mahisa Agni di dalam hatinya, Ia tahu benar bahwa ketiga kawan-kawannya itu tidak akan berani menempuh perjalanan kembali tanpa dirinya.
Meskipun demikian ia masih bertanya, “Kenapa kalian tidak akan kembali? Bukankah kalian telah hampir tidak percaya lagi bahwa usaha ini akan berhasil?”
“Tidak. Bukan begitu. Kami masih mempunyai harapan yang besar untuk menemukan tempat yang kita cari,“ sahut Jinan dengan wajah yang pucat.
Mahisa Agni diam sesaat. Namun tiba-tiba ia berkata, “Kalian tidak berjalan terus karena keyakinan kalian bahwa usaha ini akan berhasil, tetapi kalian berjalan terus kalian tidak berani berjalan kembali.”
Serentak ketiga kawan Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Mereka pandangi wajah Mahisa Agni dengan tajamnya. Namun sesaat kemudian wajah-wajah itu tertunduk lesu. Tebakan itu tepat seperti sebuah cermin yang dihadapkan di muka wajah hati masing-masing. Wajah-wajah yang pucat dan ketakutan.
Mahisa Agni melihat ketiga kawannya itu tertunduk. Wajah mereka yang pucat menjadi semakin pucat dan suram. Tiba-tiba timbullah iba di hatinya. Katanya, “Sudahlah. Aku hanya ingin bergurau. Sekarang marilah kita beristirahat sejenak. Mudah-mudahan kita akan mendapatkan kesegaran kembali.”
Mereka, kawan-kawan Mahisa Agni tidak membantah. Ketika kemudian Mahisa Agni menjatuhkan dirinya di bawah pohon-pohon perdu di tepi tebing sungai, maka mereka pun duduk pula di sampingnya. Dengan tanpa gairah, mereka kemudian mencoba mengisi perut mereka dengan makanan yang mereka bawa dari padukuhan. Namun ketika mereka minum beberapa teguk, maka bumbung-bumbung mereka telah menjadi kering kembali.
“Kita perlu air,“ desis Mahisa Agni.
Ketiga kawannya mengangguk serentak, “Ya,“ sahut Sinung Sari, “aku haus sekali.”
Tetapi mereka menjadi sangat kecewa ketika mereka memperhatikan tebing sungai yang curam. Tebing yang mengeras karena batu padas yang basah.
“Tebing ini sangat curam dan licin,“ gumam Mahisa Agni.
Ketiga kawannya hanya dapat menganggukkan kepala mereka tanpa dapat memberikan pertimbangan apapun. Namun dalam keadaan yang demikian wajah-wajah mereka menjadi semakin putih. Seakan-akan darah mereka terhenti di leher mereka sebelum merayap ke wajah-wajah itu.
Mahisa Agni pun kemudian berdiri. Dipandanginya tebing yang curam dengan beberapa jenis perdu yang tumbuh hampir rapat. Tetapi Mahisa Agni tidak yakin, bahwa akar-akar perdu itu cukup kuat apabila ia mencoba menuruni tebing sambil berpegangan pada batangnya. Apabila ternyata akar perdu itu terlepas, maka ia pasti akan terlempar jatuh di atas batu-batu padas yang menjorok runcing-runcing di pinggir sungai itu. Tetapi apabila terpandang olehnya pantulan sinar matahari di atas air yang jernih itu, lehernya serasa terbakar karena kehausan.
“Hem,“ desahnya. Dan tiba-tiba ia berkata, “Marilah kita berjalan kembali. Mudahan kita segera mendapatkan tebing yang dapat aku turuni. Aku pun haus sekali.”
Mereka bertiga segera berdiri dan berjalan kembali tersuruk-suruk di belakang Mahisa Agni. Kini mereka bersama-sama kehausan di bawah terik sinar matahari. Namun tekad Mahisa Agni yang membaja telah menyeretnya untuk berjalan terus. Sekali-sekali Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya ketiga kawannya menjadi semakin lelah dan lemah. Jinan seolah-olah sudah tidak mampu untuk berjalan. Kakinya yang lemah itu diseretnya sambil mengeluh di dalam hati,
“Apakah aku akan mati dipadang rumput ini?”
Patalan dan Sinung Sari masih agak baik keadaannya dari pada Jinan. Tetapi matahari serasa membakar tubuhnya. Perasaan haus yang sangat telah menyerangnya, sehingga seakan-akan ludahnya menjadi kering dan lehernya menjadi lekat. Berkali-kali mereka menjilat-jilat bibir-bibir mereka. Tetapi bibir itu pun telah menjadi kering pula. Sedang di bawah kaki-kaki mereka, terdengar gemericik air yang bening.
“Agni,“ desis Patalan yang tidak dapat menahan diri, “aku haus sekali.”
Langkah Mahisa Agni terhenti. Sekali lagi ia memandangi bumbung kecil yang tersangkut diikat pinggangnya. Bumbung itu telah kosong, bahkan telah kering sampai ke dasarnya. Sekali ia menarik nafas. Kini disadarinya bahwa ia tidak akan dapat berjalan terus. Karena itu, sekali lagi dipandanginya tebing yang curam itu, apabila ia menemukan kemungkinan untuk merayap turun. Tetapi Mahisa Agni menjadi kecewa. Tebing itu ternyata terlalu curam, seakan-akan sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya untuk mendapatkan pancadan. Tetapi untuk berjalan tanpa air, agaknya benar-benar tidak mungkin bagi ketiga kawan-kawannya.
Sesaat Mahisa Agni berdiri mematung. Sementara itu ia masih saja mendengar kawan-kawannya berdesah. Ketika ia berpaling memandangi wajah-wajah itu, Mahisa Agni melihat, bahwa ketiga kawannya itu benar telah kehausan. Karena itu ia menjadi bingung.
“Bagaimana Agni,“ terdengar suara Sinung Sari serak, “apakah kau dapat mengambil air untuk kita?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam, “Tebing itu terlalu curam,“ desahnya.
“Lalu bagaimana?” desak Jinan. Anak itu kini telah duduk dengan lesunya di atas rerumputan kering.
“Berteduhlah di bawah perdu itu,“ berkata Mahisa Agni kepada kawan-kawannya.
“Kami tidak kepanasan,” jawab Patalan, “tetapi kami kehausan.”
“Dengan berteduh, maka badan kita akan merasa segar. Mungkin rasa haus itu pun akan berkurang.”
“Tidak. Kami perlu air.”
Mahisa Agni menjadi bertambah cemas. Ketiga anak-anak muda itu kini benar-benar menjadi seperti anak kecil yang sedang merengek minta minum kepada ayahnya. Mereka sama sekali bukan kawan yang baik untuk menghadapi kesulian dan mencoba mengatasinya. Namun Mahisa Agni tidak sampai hati untuk mengatakannya kepada mereka. Sebab Mahisa Agni mengetahui sebab dan pengaruh yang telah membentuk anak-anak muda Panawijen tidak mampu mengatasi kesulitan.
Kini Mahisa Agni tidak boleh hanya sekedar mencari kesalahan dan alasan-alasan untuk menghindarkan diri dari kewajibannya menyelamatkan kawan-kawannya itu. Kembali ia berpikir dan kembali ia merenungi tebing. Beberapa pepohonan tampak tumbuh melekat pada batu-batu padas namun ia tidak yakin, bahwa akar-akarnya mampu untuk menahan berat tubuhnya. Tiba-tiba Mahisa Agni mengangkat dadanya. Setelah berdiam diri sejenak, maka katanya lantang,
“Kalian mau menolong aku turun?”
“Tentu,” sahut mereka tanpa berpikir.
“Lepaslah kain panjangmu.”
Ketiga kawan-kawannya saling berpandangan. Tetapi mereka sudah sangat haus, sehingga mereka menjawab serentak, “Baik, adalah dengan demikian kau mendapatkan air. Apakah kami harus menukar air itu dengan kain kami?”
Dahi Mahisa Agni berkerut. Apalagi ketika ia mendengar Sinung Sari berkata, “Agni. Di rumah kami masih mempunyai kain yang lebih baik dari ini. Nanti aku akan menukarnya dengan yang baik itu.”
“Terima kasih,” sahut Agni. Betapa ia menjadi jengkel mendengar jawaban-jawaban itu. Tetapi sekali lagi disadarinya bahwa pikiran ketiga kawannya itu agaknya telah benar-benar terganggu oleh perasaan haus yang mencengkam mereka. “Aku memang memerlukan kain-kain itu,“ berkata Mahisa Agni. “Tetapi aku tidak akan menukarnya dengan air. Aku minta kalian menyambung-nyambung kain itu. Empat kain dengan yang aku pakai aku kira akan dapat menolong aku turun ke bawah di samping akar-akar perdu di sepanjang tebing itu. Tetapi jangan sayang kalau kain itu masih harus dibelah supaya panjangnya mencapai dasar.”
Sekali lagi ketiga kawan-kawannya saling berpandangan. Dan terdengar Mahisa Agni berkata pula, “Kalau kalian sayang akan kain itu, maka kalian tidak akan mendapatkan air, sebab aku tidak mempunyai cara lain untuk turun. Nanti apabila kita kembali ke padukuhan, biarlah kita memasuki rumah kita masing-masing dimalam hari supaya tidak terlihat oleh siapa pun bahwa kain kita sudah terbelah.”
Ketiga kawan Mahisa Agni itu pun segera menyetujui. Mereka sudah tidak tahan lagi menderita haus yang amat sangat. Sedang matahari di langit masih saja memancarkan panasnya, seakan-akan ingin membakar seluruh bola bumi. Segera mereka berempat melepaskan kain-kain panjang mereka. Kain itu pun kemudian disobek di tengah-tengah membujur, dan kemudian satu sama lain diikat dalam satu jalur yang panjang.
“Mudah-mudahan aku dapat sampai ke dasar sungai dan memanjat naik kembali lewat sambungan kain itu. Pegang ujungnya kuat-kuat. Kalau kalian bertiga gagal menahan berat badanku, dan aku terpelanting jatuh, maka kalian pun akan kehausan disini. Mungkin kalian akan mati pula seperti aku. Karena itu kalian bertiga harus mampu menahan berat badanku apabila kalian benar-benar ingin minum.”
Kata-kata itu merupakan ancaman yang sangat mereka takuti. Apabila mereka gagal menahan tubuh Mahisa Agni, mereka pasti akan mati kehausan, bukan mati terpelanting ke dalam jurang. Karena itu, maka mereka berjanji kepada diri sendiri bahwa mereka akan berbuat sebaik-baiknya, sehingga dengan demikian akan merupakan dorongan bagi mereka untuk mengerahkan sisa-sisa kekuatan mereka. Demikian besar nafsu mereka untuk mendapatkan air. Maka tenaga mereka pun seakan-akan menjadi bertambah-tambah kuatnya.
Mereka bertiga dengan hati-hati memegangi ujung dari kain yang bersambungan itu, sedang Mahisa Agni perlahan-lahan merayap turun. Kaki-kakinya yang kuat, mencoba mencari pancadan yang dapat memperingan berat tubuhnya di atas batu-batu yang menjorok dan pada pokok batang-batang perdu. Ternyata diantara batang-batang perdu itu ada juga yang cukup kuat untuk menahan berat badannya. Dengan sangat hati-hati akhirnya Mahisa Agni dengan selamat dapat mencapai dasar sungai itu. Dasar yang keras. Di antara batu-batu yang berserakan hampir memenuhi dasar sungai, maka di tepian, batu-batu padas yang runcing menjorok di sana sini.
Mahisa Agni menarik nafas panjang-panjang. Sekali ia menengadahkan kepalanya. Dilihatnya ketiga kawannya menelengkup di atas tebing melihatnya dengan penuh harapan. Ketiga kawan Mahisa Agni itu sama sekali tidak membantunya dalam kesulitan, bahkan seakan-akan mereka adalah momongan-momongan yang hanya dapat mengganggu saja. Tetapi mereka bertiga telah terlanjur dibawanya sampai ke tempat ini. Apabila terjadi sesuatu atas mereka, maka orang-orang Panawijen akan menjadi mudah berprasangka terhadapnya. Karena itu, maka ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan ketiga kawan-kawannya itu.
Kini Mahisa Agni berpaling memandangi arus sungai yang bening jernih. Suaranya gemericik diantara batu-batu yang berserakan besar kecil. Ketika Mahisa Agni memandang lurus ke depan, dilihatnya sebuah jalur jurang yang menganga panjang. Seolah-olah sebuah jalur perak yang putih diantara sepasang dinding baja yang tegak sebelah menyebelah. Ketika ia memandang jauh ke depan, tiba-tiba Mahisa Agni itu tertegun. Wajahnya menegang dan darahnya menjadi seolah-olah beku. Jauh dihadapannya, di ujung jalur sungai yang keputihan, dilihatnya sebuah dinding yang putih mengkilap.
Dengan sigapnya Mahisa Agni meloncat semakin menepi sungai itu. Bahkan kemudian ia menceburkan diri, dan berjalan ke tengah. Ia sama sekali tidak memperhatikan lagi celananya menjadi basah kuyup oleh arus air hampir setinggi perutnya. Ketiga kawannya yang melihat Mahisa Agni berjalan ke tengah sungai menjadi heran. Apakah yang dilakukannya di sana? Bahkan Patalan yang kehausan berteriak tidak sabar,
“Agni. Apakah kau menunggu aku mati?”
Mahisa Agni masih berdiri dengan tegangnya. Bahkan setelah ia bersentuhan dengan air ia menjadi lupa akan perasaan hausnya. Semula ia hanya ingin menahan diri untuk tidak tergesa-gesa meneguk air, supaya perutnya tidak menjadi sakit dan gembung. Namun kini bahkan ia tidak lagi mengingat perasaan hausnya itu.
“Agni,“ teriak Sinung Sari dan Jinan hampir bersama.
Mahisa Agni terkejut mendengar teriakan itu, seolah-olah ia sedang terbangun dari sebuah mimpi.
“Agni, cepat sebelum aku mati.”
Kini Agni berpaling kepada ketiga kawan-kawannya. Tetapi ia tidak segera mengisi bumbungnya. Dengan lincahnya ia meloncat ke tepian sambil berteriak, “Naik, naiklah menurut arus air.”
“He,“ sahut Patalan.
“Naiklah. Lihatlah beberapa ratus langkah di atas kita sepanjang sungai ini.”
“Apa,“ teriak Jinan, “maksudmu supaya aku berlari-lari dan mati karena leherku tersekat kering.”
“Tidak, cepat berlari beberapa ratus langkah.”
“Apakah kau gila Agni. Ada apa di atas jalur sungai itu?”
“Apakah kalian tidak melihat,“ sahut Agni seperti orang yang dilanda oleh kegelisahan, “pergilah cepat.” Kawan-kawannya pun menjadi gelisah dan heran. Bahkan mereka menjadi bingung. “He,“ teriak Agni, “apakah kalian tidak melihat?”
“Kami tidak melihat apa-apa selain sungai itu,” jawab kawan-kawannya.
“Dan tidak mendengar?”
“Tidak.”
Mahisa Agni terdiam sesaat. Dimiringkannya kepalanya dalam keasyikan mendengarkan sesuatu, “Aku mendengarnya meskipun lamat-lamat.”
“Kau mendengar apa?“ bertanya Sinung Sari.
“Pergilah menyusur sungai ini. Aku akan lewat di bawah.”
“Ya, tapi kemana dan kenapa?”
“Jeram. Apakah, kau tidak mendengar suara air itu terjun? He. Di atas kita ada jeram yang cukup tinggi. Tebing sungai di sebelah jeram itu pasti tidak akan terlalu tinggi. Marilah kita lihat apakah kita dapat membuat bendungan di atasnya.”
Kawan-kawannya yang kehausan itu pun tiba-tiba terpengaruh. Jeram? Kalau benar kata Mahisa Agni, maka mereka akan menemukan dasar sungai yang cukup dangkal, sehingga mereka akan dapat langsung terjun ke dalam air dan minum sepuas-puasnya. Karena itu, maka tiba-tiba kekuatan mereka serasa tumbuh kembali. Harapan untuk mendapatkan air sebanyak yang diinginkan, akan terpenuhi.
Tiba-tiba seperti disentakkan oleh tenaga ajaib mereka serentak berdiri dan berlari ke hulu. Kain panjang yang bersambung-sambung itu mereka tarik saja seperti ekor yang panjang sekali, yang kadang-kadang tersangkut pada batang perdu. Karena itu, maka kain-kain mereka menjadi tercabik-cabik oleh duri dan ranting-ranting. Bahkan sekali-sekali mereka tersentak dan hampir-hampir jatuh menelentang karena kain itu tertahan oleh sebuah sangkutan yang agak kuat. Namun betapapun juga mereka masih cukup sadar, bahwa kain itu harus tetap mereka seret bersama mereka.
Kini panas yang terik seolah-olah tidak terasa lagi. Mereka sedang digerakkan oleh tenaga ajaib yang demikian saja tumbuh dari desakan harapan yang kuat. Seakan-akan mereka telah digerakkan bukan oleh diri mereka sendiri. Namun mereka sama sekali tidak menyadarinya, bahwa kekuatan-kekuatan yang demikian itulah, yang lajim disebut kekuatan-kekuatan cadangan. Kekuatan-kekuatan yang bagi mereka yang terlatih dapat dimanfaatkan setiap saat dengan penuh kesadaran. Tetapi bagi mereka yang tidak memeliharanya dan bahkan tidak menyadarinya, kekuatan itu hanya akan timbul dalam saat-saat tertentu justru diluar kehendak wajar dan kesadaran.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar