Demikian mereka bertiga berlari seperti sedang berpacu, berkejar-kejaran. Sedang jauh dibawah dinding tebing sungai itu Mahisa Agni pun berlari jauh lebih kencang dari mereka bertiga, sehingga Mahisa Agni yang pertama-tama sampai ke bawah jeram-jeram itu. Namun Mahisa Agni sama sekali tidak puas melihat jeram-jeram itu dari bawah. Tidak puas mendapat siraman air sejuk dingin yang gemercik jatuh di atas batu-batu. Yang telah memantulkan sinar matahari dalam tujuh warna seperti, warna pelangi. Ingatlah Mahisa Agni saat itu sedang terpancang pada bendungan. Karena itu, maka segera ia berusaha mencari kemungkinan untuk memanjat tebing yang kini tidak securam tebing-tebing di sepanjang yang pernah dilaluinya.
Meskipun demikian untuk memanjat tebing itu sama sekali bukan pekerjaan yang mudah. Mahisa Agni harus mendapat pancadan pada batu-batu padas yang menjorok tidak lebih dari tebal telapak kakinya. Sedangkan tangannya harus berpegangan pada batu-batu yang serupa atau pada akar-akar perdu. Dengan hati-hati Mahisa Agni merayap naik. Tubuhnya menjadi kotor oleh lumpur dan tanah yang hitam kemerah-merahan.
Tetapi Mahisa Agni pernah merayap lereng gunung Semeru. Merayap masuk ke dalam goa di lereng gunung itu. Meskipun apa yang dilakukan kali ini tidak lebih mudah dari memanjat dinding Gunung Semeru, namun tebing yang dihadapinya kali ini jauh lebih rendah dari lereng goa di kaki Gunung itu. Karena itu, meskipun tenaga Mahisa Agni yang lelah itu menurut ukuran kawan-kawannya, namun ia dapat melakukannya dengan baik dan cepat. Ketika ia sampai ke atas jeram-jeram itu, maka yang pertama dilihatnya adalah sebuah sungai yang mengalirkan air yang jernih. Tepian sungai itu, yang terdiri dari tanah-tanah padas, menanjak pada sebuah tebing sungai itu pula, di sisi Padukuhan Panawijen. Karena itu, maka yang pertama-tama meledak dari bibir Mahisa Agni adalah,
“Terpujilah Yang Maha Agung. Disini kita akan membangun bendungan itu.”
Sejenak terasa debar jantung Mahisa Agni seolah-olah berhenti. Betapa ia merasakan kurnia tiada taranya, karena ia telah dituntun untuk menemukan jeram itu. Dengan demikian, maka sungai di atas jeram itu, merupakan tempat yang tepat untuk membangun bendungan seperti yang diimpikannya.
“Hem,“ gumam Mahisa Agni kemudian, “ternyata apa yang dikatakan Empu Purwa itu tepat benar. Dipadang ini kita akan dapat membangun sebuah bendungan, sebuah saluran yang baik dan tanah persawahan menurut perencanaan yang baik pula. Apakah sebelumnya guru telah melihat daerah ini pula?”
Mahisa Agni terkejut ketika tiba-tiba ia mendengar suara parau di belakangnya, “Air. Air. Kita mendapatkan air.”
Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya ketika kawannya berlari tertatih-tatih. Sinung Sari masih menyeret kain panjang mereka yang sudah tercabik-cabik oleh duri dan ranting-ranting perdu. Namun ketika dilihatnya air sungai yang jernih itu, tiba-tiba kain itu dilepaskannya. Dengan penuh gairah dan nafsu ia meluncur bersama Jinan dan Patalan. Mata mereka seolah-olah menjadi liar dan lidah mereka menjilat-jilat bibir.
Mahisa Agni menjadi cemas melihat mereka itu. Seandainya mereka dibiarkannya, maka mereka pasti akan langsung menyurukkan kepala mereka ke dalam air karena perasaan harus yang menyekat leher. Dengan demikian, maka mungkin mereka akan mendapat bahaya karenanya. Air yang tiba-tiba saja mengalir lewat kerongkongan mereka tanpa diperhitungkan akan dapat mengganggu pernafasan mereka, dan kemudian adalah mungkin sekali mereka akan minum terlalu banyak.
Karena itu ketika Mahisa Agni melihat mereka semakin dekat maka segera ia berteriak, “Berhenti. Berhentilah sebentar.”
Ketiga anak-anak muda itu berpaling sesaat, namun segera mereka berlari semakin kencang.
“Berhenti,“ teriak Mahisa Agni sambil berlari di samping mereka.
Tetapi mereka tidak mendengar suara itu. Mereka berlari terus dan dengan mata yang liar memandangi aliran air yang gemericik. Bahkan jarak yang sudah semakin dekat itu seakan-akan tidak pernah dapat dicapainya.
“Berhenti,“ teriak Mahisa Agni sekali lagi.
Namun kali ini pun mereka seolah-olah sama sekali tak mendengarnya. Mahisa Agni menjadi semakin cemas. Beberapa langkah, ia berlari mendahului. Kini mereka telah sampai ke tebing sungai. Beberapa saat lagi mereka berloncatan turun ke tepian. Tetapi karena tubuh-tubuh mereka yang lemah, maka mereka bertiga jatuh berguling bersama-sama. Tetapi usaha mereka untuk segera mendapat air sama sekali tidak terpengaruh. Meskipun mereka kini terlentang di tepian, namun dengan penuh nafsu mereka merayap-rayap seperti ular menuju ke pinggir sungai. Luka-luka yang timbul pada tubuh mereka, sama sekali tak terasa.
“Jangan minum dengan menyurukkan kepala kalian ke dalam air.“ minta Mahisa Agni, “duduklah, dan ambillah air dengan tangan.”
Seruan itu sama sekali tidak mendapatkan perhatian mereka. Beberapa langkah lagi mereka akan dapat memasukkan mulut mereka langsung ke dalam air. Tiba-tiba Mahisa Agni meloncat maju dihadapan mereka, tepat di pinggir sungai. Kakinya membenam setinggi mata kaki di dalam air. Dengan serta merta dicabutnya pedangnya dan diacungkannya kepada ketiga kawan-kawannya yang hampir saja membenamkan wajah-wajah mereka.
Ketiga kawan-kawannya itu terkejut. Betapapun juga ketika mata mereka menatap tajam pedang Mahisa Agni, hati mereka berdebar-debar dan karena itu tanpa mereka sengaja, maka mereka pun berhenti tepat ketika setapak lagi mereka telah menyentuh air. Tetapi tajam pedang Agni itu pun hanya sejengkal saja dihadapan hidung mereka.
“Duduk,“ terdengar perintah Mahisa Agni.
Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu telah hampir kehilangan perasaan mereka. Namun dengan ujung pedang Mahisa Agni berhasil memaksa mereka untuk duduk.
“Nah, minumlah dengan cara yang baik supaya kalian tidak mati justru ketika kalian menemukan air.“ minta Agni, “ambillah air dengan kedua telapak tanganmu, dan minumlah air itu sedikit demi sedikit.”
Mahisa Agni kemudian melihat mereka bertiga dengan tergesa-gesa mengambil air di atas. telapak tangan masing-masing dan langsung dihisapnya. Sekali dua kali, namun mereka seakan-akan tidak menjadi puas. Tetapi ketika mereka mengerling, mereka masih melihat pedang Agni seolah-olah telah melekat di ujung hidung mereka.
“Cukup,“ bentak Agni sesaat kemudian.
Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu mendengar pula bentakan itu, tetapi leher mereka serasa masih saja kering. Karena itu maka mereka sama sekali tidak menghiraukannya seandainya Mahisa Agni tidak menggerakkan pedangnya sambil mengulangi,
“Cukup.”
Ketiganya terpaksa berhenti minum. Ditatapnya wajah Mahisa Agni dengan wajah yang memancarkan kekecewaan hati mereka. Bahkan dengan terbata-bata Sinung Sari bertanya,
“Apakah artinya ini Agni. Apakah kau benar-benar ingin melihat kami kehausan?”
“Bukankah kalian telah minum?” bertanya Agni.
“Hanya seteguk.”
“Tidak. Coba sekarang kalian tenangkan hati kalian. Cobalah menyadari keadaan. Apakah kalian masih terlalu haus?”
“Ya. Kami masih terlalu haus,“ sahut Patalan.
“Tetapi kalian telah minum dan telah membasahi kerongkongan kalian. Sekarang datang giliranku untuk minum.”
“Agni, air sungai ini tidak akan habis kita minum bersama-sama. Minumlah dan biarlah kami minum.”
“Tidak, sekarang akulah yang akan minum. Kalau kalian masih juga akan minum, maka aku bunuh kalian disini.”
Ketiga kawan Mahisa Agni menjadi kecewa. Sangat kecewa. Tiba-tiba timbullah berbagai pertanyaan di dalam hati mereka yang masih belum terlampau jernih. Apakah memang Mahisa Agni ingin membunuh mereka?. Kini mereka melihat bagaimana Mahisa Agni itu minum. Ia berlutut di pinggir sungai itu. Dengan tangannya ia mengambil air sungai yang melimpah-limpah itu, dan dihirupnya seteguk-seteguk. Tidak lebih dari tiga kali. Kemudian ia pun berhenti minum, dan berpaling kepada kawan-kawannya.
Jinan. Patalan dan Sinung Sari melihat cara Mahisa Agni itu minum perlahan-lahan dan tidak terlampau banyak meskipun tak ada yang mencegahnya. Tidak lebih dari yang mereka minum itu pula. Sehingga dengan demikian, timbullah berbagai pertanyaan dalam hati mereka.
“Apakah kalian masih haus?” bertanya Agni tiba-tiba. Ketiga kawan-kawannya mengangguk.
“Tunggulah sesaat. Nanti kalian akan dapat minum lagi sepuas-puasnya. Air ini tidak akan habis.”
“Kenapa nanti?”
“Supaya kalian tidak mati.”
Ketiga kawan-kawan Agni itu menarik nafas dalam-dalam. perlahan-lahan disadarinya ketergesa-gesaannya. Kalau Mahisa Agni tidak mencegahnya, mungkin perut mereka kini telah menjadi gembung. Atau mungkin air yang diteguknya akan mengalir tidak lewat jalan yang sewajarnya di dalam kerongkongan mereka karena masih belum siap untuk dialiri air sebanyak-banyaknya tetesan hampir melekat karena kekeringan. Kini mereka baru mengerti, apakah maksud Mahisa Agni sebenarnya. Dan karena itu maka terasa pula, kerongkongan mereka tidak lagi terlalu kering. Ketika mereka kemudian menjadi tenang, barulah mereka berkata,
“Terima kasih Agni. Kau telah mencegah kami, sehingga kami tidak mendapat bencana karena perasaan haus yang tak tertahankan.”
Mahisa Agni tersenyum. Terbayang di wajahnya sinar matanya yang cerah. Sambil mengangguk ia berkata, “Kalian telah kehilangan ketenangan dan kejernihan otak kalian karena perasaan haus itu. Tetapi kini kalian telah menyadarinya.”
“Ya,” jawab mereka serentak.
“Kini, kalian harus mengingat kepentingan kalian datang ke tempat ini. Bukan sekedar mencari minum. Tetapi ada yang lebih penting. Ternyata yang pertama-tama kalian ingat waktu kalian sampai ke tempat ini adalah air untuk minum. Bukan bentuk sungai ini.”
“He,“ ketiga kawan-kawannya tersentak mendengar keterangan itu. Tiba-tiba mereka dengan nanar memandang keadaan di sekelilingnya. Tebing sungai ini tidak terlampau dalam, bahkan cukup rendah. Karena itu maka terloncatlah dari mulut mereka. “Tebing ini cukup rendah. Kita akan dapat menaikkan airnya dengan mudah. Agni, disini kita dapat membuat bendungan itu.”
Mahisa Agni tersenyum kembali. Dengan puas ia berkata, “Nah, kenalilah tempat ini baik-baik. Bukan sekedar tempat untuk mendapatkan minum. Tebing ini memang cukup rendah, sehingga kalian yang meloncat terjun sama sekali tidak mengalami cedera, selain lecet-lecet di beberapa tempat pada tubuh kalian.”
Ketiga kawannya tersenyum pula. Serentak mereka berdiri. Memang kini mereka merasa bahwa tubuh-tubuh mereka menjadi pedih, namun kegembiraan mereka ternyata telah melonjak, sehingga mereka sama sekali tidak merasakannya.
“Agni,“ berkata Sinung Sari, “bukankah tempat ini amat baiknya?”
“Ya,” jawab Agni, “tebingnya rendah, dan di sekitar tempat ini cukup banyak bahan yang dapat kita pergunakan. Batu dan dedaunan, ranting-ranting kecil dan sebagainya. Kita akan dapat segera membangun bendungan itu disini.”
Penemuan itu ternyata telah melenyapkan segala perasaan sakit dan lelah. Mereka merasa bahwa tugas mereka berhasil. Menemukan tempat yang baik untuk membangun bendungan. Karena itu maka kini mereka dapat beristirahat dengan tenang, tanpa takut lagi akan kehausan. Sebab dihadapan mereka, air yang jernih mengalir melimpah-limpah. Namun dalam pada itu, timbul pulalah gangguan yang lain bagi ketiga kawan-kawan Mahisa Agni. Matahari ternyata semakin condong ke barat, dan bahkan menjadi terlalu rendah.
“Agni. Bagaimanakah dengan kita kini. Apakah kita akan segera kembali?“ bertanya Jinan.
“Apakah kalian tidak lelah?“ bertanya Agni.
Jinan terdiam. Ia memang lelah sekali. Tetapi perasaan cemas dan takut kembali merayap di hatinya.
“Kita bermalam disini,“ berkata Agni, “jangan takut. Bukankah hantu Karautan telah tidak ada lagi. Bukankah Kuda Sempana pun telah terusir?”
Ketiga kawan Mahisa Agni itu mengangguk-anggukkan kepala mereka, tetapi tampaklah bahwa wajah-wajah mereka sama sekali tidak meyakinkan kebenaran kata-kata Mahisa Agni.
Mahisa Agni pun menyadarinya. Tetapi ia tidak berkata-kata lagi. Dengan tenangnya ia membaringkan dirinya pada sisa-sisa sinar matahari yang telah menjadi semakin rendah untuk mengeringkan celananya yang basah kuyup dan kotor karena lumpur. Namun pada bibirnya membayang kepuasan hatinya bahwa usahanya selama dua hari ini, kini telah berhasil. Meskipun dengan susah payah dan berbagai kesulitan, tetapi apabila kemudian di tempat ini benar-benar dapat dibangun sebuah bendungan, maka manfaat dari jerih payahnya adalah berlipat-lipat. Mahisa Agni yang lelah tetapi mendapat kepuasan hati itu pun bahkan kemudian tertidur lelap. Meskipun celananya masih basah dan tubuhnya dikotori dengan butiran-butiran batu padas dan lumpur.
Ketiga kawan-kawannya bahkan menjadi sangat gelisah. Tetapi mereka tidak berani membangunkan Mahisa Agni. Selama matahari masih bersinar, mereka masih dapat menahan kecemasan mereka. Tetapi ketika cahaya kemerahan di ujung barat semakin lama menjadi semakin kelam, dan burung-burung liar telah berterbangan pulang ke sarang, maka mereka tidak dapat lagi menahan kegelisahan mereka. Meskipun tidak langsung, namun mereka pun mencoba membuat suara-suara yang akan dapat membangunkan Mahisa Agni. Ternyata usaha mereka itu pun berhasil. Mereka merasa tenteram ketika mereka melihat Mahisa Agni menggeliat dan kemudian bangkit duduk di samping mereka.
“Senja,“ desisnya.
“Ya. Senja hampir lampau,” jawab Sinung Sari.
“Alangkah segarnya tubuhku kini. Apakah kalian tidak ingin tidur?”
“Sebenarnya. Tetapi kami menjadi gelisah. Kami tidak akan dapat tidur bersama-sama.”
“Kalau demikian, apabila kalian inginkan, tidurlah. Aku akan berjaga-jaga setelah aku mendahului tidur nyenyak.”
Ketiganya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ketika mereka melihat Mahisa Agni berdiri, serentak mereka bertanya, “Kemana Agni?”
“Mencari rumput-rumput kering dan ranting?”
“Untuk apa?”
“Perapian.”
“Jangan,“ teriak mereka bersama-sama, “tempat kita akan segera diketahui orang. Mungkin Kuda Sempana yang datang membawa kawan-kawannya.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sependapat dengan mereka, meskipun hanya disimpannya di dalam hati, supaya kawannya itu tidak menjadi semakin cemas. Bahkan katanya,
“Hem. Kalian masih saja dibayangi oleh ketakutan.”
Ketiga kawan-kawannya tidak menjawab. Namun mereka merasa agak tenteram ketika mereka melihat Mahisa Agni seakan-akan tidak menjadi gelisah sama sekali meskipun senja menjadi semakin gelap.
Mahisa Agni pun kemudian duduk kembali. Tetapi ketika angin senja menyentuh tubuhnya terasa alangkah dinginnya. Dan tiba-tiba diingatnya kain panjangnya yang masih bersambung sambungan dengan kain kawan-kawannya. Karena itu, maka segera kembali ia berdiri.
“Kemana Agni,“ serentak kawan-kawannya pun bertanya kembali.
“Kain panjang kita,“ sahut Agni.
Ketiga kawan-kawannya tidak bertanya lagi. Mahisa Agni kemudian berjalan memungut kain panjangnya yang terbelah dan terikat satu sama lain. Dicobanya untuk mengurai ikatan itu. Tetapi ternyata kemudian bahwa kain itu telah hampir menjadi compang-camping. Meskipun demikian, dipakainya juga kain yang telah berlubang-lubang dan kotor itu untuk menutup badannya menahan dingin. Ketiga kawan-kawan nya pun berbuat serupa. Hanya karena itu, maka badan mereka menjadi gatal-gatal.
Meskipun kemudian Mahisa Agni tetap duduk berjaga-jaga, namun ketiga kawan-kawannya tidak segera dapat tertidur. Betapa perasaan lelah merayapi segenap tulangnya, namun perasaan cemas dan gelisah ternyata telah menindasnya. Sekali-sekali terasa angin yang sejuk menghanyutkan mereka sekejap-sekejap, tetapi segera mereka tergagap bangun. Seakan-akan sesuatu telah siap untuk menerkam mereka satu demi satu. Namun ketika terpandang oleh mereka dalam keremangan malam Mahisa Agni masih duduk memeluk kedua lututnya, maka mereka pun menarik nafas dalam-dalam.
Ujung malam itu semakin lama menjadi semakin dalam. Langit yang biru gelap terbentang di atas padang rumput yang luas bertaburkan bintang-bintang yang semakin lama seolah-olah menjadi semakin banyak. Sehelai-sehelai awan yang putih dihanyutkan oleh angin perlahan-lahan mengalir ke utara.
Hati kawan-kawan Mahisa Agni itu benar-benar tidak dapat tenteram. Dikejauhan kembali terdengar suara burung kedasih sayup-sayup melas asih. Seperti suara tangis biyung yang kehilangan anaknya tersayang. Sayup-sayup menyusup di hati diantara desir angin yang lembut. Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu mengeluh di dalam hati. Mereka belum pernah mengalami pekerjaan seberat ini. Bukan saja tenaga mereka yang terperas habis, tetapi juga perasaan mereka yang gelisah, cemas, takut dan segala macam perasaan yang mengerikan. Sekali-sekali mereka mencoba juga menghibur diri mereka. Di samping mereka masih ada Mahisa Agni. Tetapi agaknya kecemasan dan ketakutan mereka benar-benar telah memenuhi segenap rongga dada mereka.
Padang itu semakin lama menjadi semakin sunyi. Sehingga suara burung kedasih itu pun menjadi semakin jelas bergema memenuhi padang Karautan. Kadang-kadang perlahan-lahan, namun kadang-kadang menjadi semakin jelas. Tetapi tiba-tiba diantara keluh burung kedasih itu, terdengar suara yang lain. Lamat-lamat dalam irama yang seakan akan teratur. Semakin lama semakin jelas. Ketika suara itu telah mereka yakini, maka serentak terdengar ketiga kawan Agni itu berkata parau,
“Kuda. Derap kuda.”
Mahisa Agni pun kemudian mengangkat kepalanya. Sebenarnya telah didengarnya pula suara derap kuda itu. Namun ia masih saja berdiam diri untuk tidak mencemaskan hati kawan-kawannya. Tetapi kini kawan-kawannya itu telah mendengar sendiri. Bahkan mereka telah dapat menyebutnya, bahwa suara itu adalah suara derap kaki kuda. Karena itu, maka Mahisa Agni pun menjawab,
“Ya. Derap kaki kuda.”
“O,“ desah Patalan, “pasti Kuda Sempana datang bersama kawan-kawannya.”
Mahisa Agni mempertajam pendengarnya. Sesaat kemudian ia menjawab, “Pasti bukan. Suara itu hanya suara derap kaki seekor kuda.”
“Kenapa hanya seekor,“ bertanya Sinung Sari.
Mahisa Agni heran mendengar pertanyaan itu, “Kenapa?“ ulangnya, “ya kenapa?”
“Maksudku, apakah kau tahu benar bahwa suara itu suara derap kaki seekor kuda?“ Sinung Sari menjelaskan.
“Ah,” sahut Agni, “bukankah kalian dapat juga membedakan.”
Sinung Sari kemudian terdiam. Kawan-kawannya pun terdiam. Namun gelora di dalam dada mereka mulai bergolak kembali.
“Kali ini jangan memperbodoh diri,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “seandainya yang datang itu orang yang akan membawa bencana, jangan kau serahkan kepalamu untuk dipenggalnya. Kalau tidak ada jalan lain, maka kalian harus memilih, di penggal atau memenggal kepala orang itu. Bukankah kalian membawa pedang? Selama aku masih dapat melindungi kalian, aku akan mencobanya. Tetapi kalau tidak, bukan salahku kalau kalian mati dipadang rumput ini. Ayo. Tengadahkan wajahmu. Sambutlah setiap tantangan untuk diatasi. Jangan menyerah.”
Terasa kebenaran kata-kata Mahisa Agni itu. Sebuah getaran menyusup ke dalam hati mereka. Mereka pun sebenarnya ingin pula berbuat demikian. Tetapi mereka sama sekali belum pernah bertempur melawan apapun. Ada juga diantara mereka di masa kanak-kanaknya berkelahi satu sama lain. Bahkan kadang-kadang mereka pun sering melakukan permainan yang menyerupai perkelahian, binten, bantingan dan sebagainya. Tetapi sama sekali tidak berbahaya bagi keselamatan mereka.
Mahisa Agni melihat keragu-raguan itu, sehingga katanya, “Seterusnya terserah kepada kalian. Apakah kalian ingin mati, apakah kalian akan mencoba menghindarinya dengan sebuah usaha.” Sekali lagi sebuah getaran menyusup ke dalam hati mereka.
Mereka dihadapkan pada dua buah pilihan, Mati atau berusaha menyelamatkan diri. Derap kuda itu semakin lama menjadi semakin dekat. Namun Mahisa Agni yang jauh lebih berpengalaman dari ketiga kawan-kawannya segera dapat mengetahuinya, bahwa Kuda itu tidak berjalan terlalu cepat. Derap kakinya yang memukul batu-batu padas pun tidak terdengar terlalu keras meskipun kuda itu sudah menjadi semakin dekat.
“Kita bersembunyi,“ bisik Mahisa Agni kepada kawan-kawannya, “Tetapi itu bukan berarti bahwa kita adalah pengecut. Namun kita harus mengetahui lebih dahulu siapakah yang datang itu. Kalau tidak ada persoalan yang memaksa, kita akan dapat menghindari setiap persoalan yang tidak kita kehendaki.”
Sebelum Mahisa Agni berbuat sesuatu, ketiga kawan-kawannya telah mendahuluinya, menyurukkan diri mereka sendiri ke dalam semak-semak. Mereka mengumpat-umpat di dalam hati mereka, apabila pedang-pedang mereka ternyata malahan mengganggu, karena tangkai-tangkainya, dan kadang-kadang sarungnya menyangkut ranting-ranting kecil
Mahisa Agni menarik nafas. Tetapi ia tidak berkata sepatah katapun. Yang terakhir, ia sendiri berusaha menyembunyikan diri pula di balik-balik gerumbul kecil sambil berusaha mengawasi penunggang kuda yang sudah menjadi semakin dekat. Sesaat kemudian, seakan-akan muncul dari keremangan malam, sesosok tubuh duduk di atas seekor kuda yang besar. Semakin lama semakin dekat. Dan mata Mahisa Agni yang tajam, segera dapat melihat sebilah pedang tergantung di lambung penunggangnya.
Sebenarnya kuda itu tidak berjalan terlalu cepat. Bahkan sekali-sekali berhenti dan seakan-akan memang ada yang dicarinya. Dada Mahisa Agni berdesir ketika baru saja disadarinya, beberapa macam barang-barang milik kawannya tertinggal di tempat mereka beristirahat. Bumbung-bumbung kecil dan sebuah bungkusan bekal makanan.
“Hem,“ Mahisa Agni berdesah di dalam dadanya.
Sebenarnya ia ingin menghindari setiap persoalan dengan menyembunyikan dirinya. Tetapi kalau penunggang kuda itu melihat beberapa macam benda-benda yang berserakan itu, maka pasti orang itu menyangka bahwa setidak-tidaknya tempat ini merupakan tempat yang harus mendapat perhatian. Meskipun Mahisa Agni sama sekali tidak takut seandainya ia harus berhadapan dengan siapa pun yang mengganggu usahanya tetapi baginya, kemungkinan-kemungkinan yang demikian akan dihindirinya sejauh mungkin.
Mahisa Agni menggigit bibirnya ketika ia melihat kuda itu menjadi bertambah dekat. Dan apa yang dicemaskannya itu ternyata benar-benar terjadi. Ketika penunggang kuda itu melihat beberapa benda yang terserak-serak, maka segera ia menghentikan langkah kudanya. Dengan lincahnya ia meloncat turun, dan kemudian dengan saksama ia memperhatikan benda-benda yang berserakan itu.
Kini Mahisa Agni seakan-akan menahan nafasnya. Ia berada di balik sebuah gerumbul yang tidak terlalu dekat dengan orang yang baru datang itu. Apalagi daun-daun perdu di gerumbul itu selalu saja mengganggunya, apabila ia mencoba untuk melihat orang yang baru saja datang itu. Namun lamat-lamat disela-sela dedaunan, meskipun tidak jelas ia melihat orang itu membongkokkan badannya, memungut beberapa macam benda-benda yang terserak-serak itu.
Tetapi orang itu masih berdiam diri. Ketika kemudian ia berdiri tegak terdengar tarikan nafasnya. Sambil berjalan beberapa langkah, orang itu bergumam, “Pasti disini. Di sekitar tempat ini.”
Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Kata-kata itu hanya didengarnya lamat-lamat. Namun tiba-tiba terasa olehnya, bahwa ia pernah mengenal orang yang baru datang itu. Mahisa Agni kemudian melihat orang itu memperhatikan keadaan di sekitarnya. Sesaat orang itu berdiam diri. Dan kemudian terdengar ia tertawa. Dari dalam sebuah gerumbul ia mendengar dengus nafas berdesah semakin cepat.
“Ha,“ katanya, “di situ kalian bersembunyi.”
Jinan, Patalan dan Sinung Sari mendengar kata-kata itu. Darah mereka seakan-akan berhenti mengalir. Tetapi sesaat kemudian teringatlah mereka akan kata-kata Mahisa Agni, bahwa mereka jangan menyerahkan kepala mereka tanpa perlawanan. Namun, sangatlah berat tangan mereka untuk bergerak menarik pedang mereka itu.
“Kenapa kalian bersembunyi,“ terdengar orang itu bertanya sambil berjalan beberapa langkah maju.
Sedang nafas di dalam gerumbul itu menjadi semakin cepat memburu lewat lubang-lubang hidung mereka. Namun tiba-tiba orang itu terkejut. Selangkah ia turut, dan dengan tangkai ia memutar tubuhnya ketika ia mendengar suara di belakangnya,
“Disini aku. Bukan di situ.”
Suara itu adalah suara Mahisa Agni. Ketika ternyata orang itu mengetahui tempat persembunyian kawannya, ia tidak dapat langsung bersembunyi sambil berdiam diri. Mahisa Agni terpaksa menampilkan dirinya untuk melindungi ketiga kawannya. Tetapi Mahisa Agni lah yang kemudian terkejut mendengar orang itu menyebut namanya,
“Mahisa Agni.”
“Ya.” Orang itu berjalan mendekatinya. Semakin lama semakin dekat, “Kau telah mengenal namaku,“ bertanya Mahisa Agni.
“Ken Arok berkata kepadaku, bahwa kau berada di padang ini bersama ketiga kawan-kawanmu. Salah seorang yang berani menyatakan dirinya, pastilah hanya Mahisa Agni.”
Mahisa Agni mengawasi orang itu dengan saksama. Ketika orang itu menjadi semakin dekat, tiba-tiba terdengar Mahisa Agni berkata, “Oh, kau Mahendra. Kau mengejutkan kami disini.”
Mahendra tersenyum. Jawabnya, “Aku tidak sengaja. Tetapi Ken Arok telah berceritera kepadaku, bahwa kau berada dipadang Karautan bersama tiga orang yang aneh.”
“Di situlah mereka,“ sahut Mahisa Agni sambil menunjuk ke gerumbul tempat kawan-kawannya bersembunyi.
“Ya. Aku telah mendengar tarikan nafas mereka.”
“He, Jinan, Patalan dan Sinung Sari,” panggil Mahisa Agni, “Kemarilah. Yang datang adalah kawan kita sendiri.”
Meskipun demikian untuk memanjat tebing itu sama sekali bukan pekerjaan yang mudah. Mahisa Agni harus mendapat pancadan pada batu-batu padas yang menjorok tidak lebih dari tebal telapak kakinya. Sedangkan tangannya harus berpegangan pada batu-batu yang serupa atau pada akar-akar perdu. Dengan hati-hati Mahisa Agni merayap naik. Tubuhnya menjadi kotor oleh lumpur dan tanah yang hitam kemerah-merahan.
Tetapi Mahisa Agni pernah merayap lereng gunung Semeru. Merayap masuk ke dalam goa di lereng gunung itu. Meskipun apa yang dilakukan kali ini tidak lebih mudah dari memanjat dinding Gunung Semeru, namun tebing yang dihadapinya kali ini jauh lebih rendah dari lereng goa di kaki Gunung itu. Karena itu, meskipun tenaga Mahisa Agni yang lelah itu menurut ukuran kawan-kawannya, namun ia dapat melakukannya dengan baik dan cepat. Ketika ia sampai ke atas jeram-jeram itu, maka yang pertama dilihatnya adalah sebuah sungai yang mengalirkan air yang jernih. Tepian sungai itu, yang terdiri dari tanah-tanah padas, menanjak pada sebuah tebing sungai itu pula, di sisi Padukuhan Panawijen. Karena itu, maka yang pertama-tama meledak dari bibir Mahisa Agni adalah,
“Terpujilah Yang Maha Agung. Disini kita akan membangun bendungan itu.”
Sejenak terasa debar jantung Mahisa Agni seolah-olah berhenti. Betapa ia merasakan kurnia tiada taranya, karena ia telah dituntun untuk menemukan jeram itu. Dengan demikian, maka sungai di atas jeram itu, merupakan tempat yang tepat untuk membangun bendungan seperti yang diimpikannya.
“Hem,“ gumam Mahisa Agni kemudian, “ternyata apa yang dikatakan Empu Purwa itu tepat benar. Dipadang ini kita akan dapat membangun sebuah bendungan, sebuah saluran yang baik dan tanah persawahan menurut perencanaan yang baik pula. Apakah sebelumnya guru telah melihat daerah ini pula?”
Mahisa Agni terkejut ketika tiba-tiba ia mendengar suara parau di belakangnya, “Air. Air. Kita mendapatkan air.”
Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya ketika kawannya berlari tertatih-tatih. Sinung Sari masih menyeret kain panjang mereka yang sudah tercabik-cabik oleh duri dan ranting-ranting perdu. Namun ketika dilihatnya air sungai yang jernih itu, tiba-tiba kain itu dilepaskannya. Dengan penuh gairah dan nafsu ia meluncur bersama Jinan dan Patalan. Mata mereka seolah-olah menjadi liar dan lidah mereka menjilat-jilat bibir.
Mahisa Agni menjadi cemas melihat mereka itu. Seandainya mereka dibiarkannya, maka mereka pasti akan langsung menyurukkan kepala mereka ke dalam air karena perasaan harus yang menyekat leher. Dengan demikian, maka mungkin mereka akan mendapat bahaya karenanya. Air yang tiba-tiba saja mengalir lewat kerongkongan mereka tanpa diperhitungkan akan dapat mengganggu pernafasan mereka, dan kemudian adalah mungkin sekali mereka akan minum terlalu banyak.
Karena itu ketika Mahisa Agni melihat mereka semakin dekat maka segera ia berteriak, “Berhenti. Berhentilah sebentar.”
Ketiga anak-anak muda itu berpaling sesaat, namun segera mereka berlari semakin kencang.
“Berhenti,“ teriak Mahisa Agni sambil berlari di samping mereka.
Tetapi mereka tidak mendengar suara itu. Mereka berlari terus dan dengan mata yang liar memandangi aliran air yang gemericik. Bahkan jarak yang sudah semakin dekat itu seakan-akan tidak pernah dapat dicapainya.
“Berhenti,“ teriak Mahisa Agni sekali lagi.
Namun kali ini pun mereka seolah-olah sama sekali tak mendengarnya. Mahisa Agni menjadi semakin cemas. Beberapa langkah, ia berlari mendahului. Kini mereka telah sampai ke tebing sungai. Beberapa saat lagi mereka berloncatan turun ke tepian. Tetapi karena tubuh-tubuh mereka yang lemah, maka mereka bertiga jatuh berguling bersama-sama. Tetapi usaha mereka untuk segera mendapat air sama sekali tidak terpengaruh. Meskipun mereka kini terlentang di tepian, namun dengan penuh nafsu mereka merayap-rayap seperti ular menuju ke pinggir sungai. Luka-luka yang timbul pada tubuh mereka, sama sekali tak terasa.
“Jangan minum dengan menyurukkan kepala kalian ke dalam air.“ minta Mahisa Agni, “duduklah, dan ambillah air dengan tangan.”
Seruan itu sama sekali tidak mendapatkan perhatian mereka. Beberapa langkah lagi mereka akan dapat memasukkan mulut mereka langsung ke dalam air. Tiba-tiba Mahisa Agni meloncat maju dihadapan mereka, tepat di pinggir sungai. Kakinya membenam setinggi mata kaki di dalam air. Dengan serta merta dicabutnya pedangnya dan diacungkannya kepada ketiga kawan-kawannya yang hampir saja membenamkan wajah-wajah mereka.
Ketiga kawan-kawannya itu terkejut. Betapapun juga ketika mata mereka menatap tajam pedang Mahisa Agni, hati mereka berdebar-debar dan karena itu tanpa mereka sengaja, maka mereka pun berhenti tepat ketika setapak lagi mereka telah menyentuh air. Tetapi tajam pedang Agni itu pun hanya sejengkal saja dihadapan hidung mereka.
“Duduk,“ terdengar perintah Mahisa Agni.
Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu telah hampir kehilangan perasaan mereka. Namun dengan ujung pedang Mahisa Agni berhasil memaksa mereka untuk duduk.
“Nah, minumlah dengan cara yang baik supaya kalian tidak mati justru ketika kalian menemukan air.“ minta Agni, “ambillah air dengan kedua telapak tanganmu, dan minumlah air itu sedikit demi sedikit.”
Mahisa Agni kemudian melihat mereka bertiga dengan tergesa-gesa mengambil air di atas. telapak tangan masing-masing dan langsung dihisapnya. Sekali dua kali, namun mereka seakan-akan tidak menjadi puas. Tetapi ketika mereka mengerling, mereka masih melihat pedang Agni seolah-olah telah melekat di ujung hidung mereka.
“Cukup,“ bentak Agni sesaat kemudian.
Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu mendengar pula bentakan itu, tetapi leher mereka serasa masih saja kering. Karena itu maka mereka sama sekali tidak menghiraukannya seandainya Mahisa Agni tidak menggerakkan pedangnya sambil mengulangi,
“Cukup.”
Ketiganya terpaksa berhenti minum. Ditatapnya wajah Mahisa Agni dengan wajah yang memancarkan kekecewaan hati mereka. Bahkan dengan terbata-bata Sinung Sari bertanya,
“Apakah artinya ini Agni. Apakah kau benar-benar ingin melihat kami kehausan?”
“Bukankah kalian telah minum?” bertanya Agni.
“Hanya seteguk.”
“Tidak. Coba sekarang kalian tenangkan hati kalian. Cobalah menyadari keadaan. Apakah kalian masih terlalu haus?”
“Ya. Kami masih terlalu haus,“ sahut Patalan.
“Tetapi kalian telah minum dan telah membasahi kerongkongan kalian. Sekarang datang giliranku untuk minum.”
“Agni, air sungai ini tidak akan habis kita minum bersama-sama. Minumlah dan biarlah kami minum.”
“Tidak, sekarang akulah yang akan minum. Kalau kalian masih juga akan minum, maka aku bunuh kalian disini.”
Ketiga kawan Mahisa Agni menjadi kecewa. Sangat kecewa. Tiba-tiba timbullah berbagai pertanyaan di dalam hati mereka yang masih belum terlampau jernih. Apakah memang Mahisa Agni ingin membunuh mereka?. Kini mereka melihat bagaimana Mahisa Agni itu minum. Ia berlutut di pinggir sungai itu. Dengan tangannya ia mengambil air sungai yang melimpah-limpah itu, dan dihirupnya seteguk-seteguk. Tidak lebih dari tiga kali. Kemudian ia pun berhenti minum, dan berpaling kepada kawan-kawannya.
Jinan. Patalan dan Sinung Sari melihat cara Mahisa Agni itu minum perlahan-lahan dan tidak terlampau banyak meskipun tak ada yang mencegahnya. Tidak lebih dari yang mereka minum itu pula. Sehingga dengan demikian, timbullah berbagai pertanyaan dalam hati mereka.
“Apakah kalian masih haus?” bertanya Agni tiba-tiba. Ketiga kawan-kawannya mengangguk.
“Tunggulah sesaat. Nanti kalian akan dapat minum lagi sepuas-puasnya. Air ini tidak akan habis.”
“Kenapa nanti?”
“Supaya kalian tidak mati.”
Ketiga kawan-kawan Agni itu menarik nafas dalam-dalam. perlahan-lahan disadarinya ketergesa-gesaannya. Kalau Mahisa Agni tidak mencegahnya, mungkin perut mereka kini telah menjadi gembung. Atau mungkin air yang diteguknya akan mengalir tidak lewat jalan yang sewajarnya di dalam kerongkongan mereka karena masih belum siap untuk dialiri air sebanyak-banyaknya tetesan hampir melekat karena kekeringan. Kini mereka baru mengerti, apakah maksud Mahisa Agni sebenarnya. Dan karena itu maka terasa pula, kerongkongan mereka tidak lagi terlalu kering. Ketika mereka kemudian menjadi tenang, barulah mereka berkata,
“Terima kasih Agni. Kau telah mencegah kami, sehingga kami tidak mendapat bencana karena perasaan haus yang tak tertahankan.”
Mahisa Agni tersenyum. Terbayang di wajahnya sinar matanya yang cerah. Sambil mengangguk ia berkata, “Kalian telah kehilangan ketenangan dan kejernihan otak kalian karena perasaan haus itu. Tetapi kini kalian telah menyadarinya.”
“Ya,” jawab mereka serentak.
“Kini, kalian harus mengingat kepentingan kalian datang ke tempat ini. Bukan sekedar mencari minum. Tetapi ada yang lebih penting. Ternyata yang pertama-tama kalian ingat waktu kalian sampai ke tempat ini adalah air untuk minum. Bukan bentuk sungai ini.”
“He,“ ketiga kawan-kawannya tersentak mendengar keterangan itu. Tiba-tiba mereka dengan nanar memandang keadaan di sekelilingnya. Tebing sungai ini tidak terlampau dalam, bahkan cukup rendah. Karena itu maka terloncatlah dari mulut mereka. “Tebing ini cukup rendah. Kita akan dapat menaikkan airnya dengan mudah. Agni, disini kita dapat membuat bendungan itu.”
Mahisa Agni tersenyum kembali. Dengan puas ia berkata, “Nah, kenalilah tempat ini baik-baik. Bukan sekedar tempat untuk mendapatkan minum. Tebing ini memang cukup rendah, sehingga kalian yang meloncat terjun sama sekali tidak mengalami cedera, selain lecet-lecet di beberapa tempat pada tubuh kalian.”
Ketiga kawannya tersenyum pula. Serentak mereka berdiri. Memang kini mereka merasa bahwa tubuh-tubuh mereka menjadi pedih, namun kegembiraan mereka ternyata telah melonjak, sehingga mereka sama sekali tidak merasakannya.
“Agni,“ berkata Sinung Sari, “bukankah tempat ini amat baiknya?”
“Ya,” jawab Agni, “tebingnya rendah, dan di sekitar tempat ini cukup banyak bahan yang dapat kita pergunakan. Batu dan dedaunan, ranting-ranting kecil dan sebagainya. Kita akan dapat segera membangun bendungan itu disini.”
Penemuan itu ternyata telah melenyapkan segala perasaan sakit dan lelah. Mereka merasa bahwa tugas mereka berhasil. Menemukan tempat yang baik untuk membangun bendungan. Karena itu maka kini mereka dapat beristirahat dengan tenang, tanpa takut lagi akan kehausan. Sebab dihadapan mereka, air yang jernih mengalir melimpah-limpah. Namun dalam pada itu, timbul pulalah gangguan yang lain bagi ketiga kawan-kawan Mahisa Agni. Matahari ternyata semakin condong ke barat, dan bahkan menjadi terlalu rendah.
“Agni. Bagaimanakah dengan kita kini. Apakah kita akan segera kembali?“ bertanya Jinan.
“Apakah kalian tidak lelah?“ bertanya Agni.
Jinan terdiam. Ia memang lelah sekali. Tetapi perasaan cemas dan takut kembali merayap di hatinya.
“Kita bermalam disini,“ berkata Agni, “jangan takut. Bukankah hantu Karautan telah tidak ada lagi. Bukankah Kuda Sempana pun telah terusir?”
Ketiga kawan Mahisa Agni itu mengangguk-anggukkan kepala mereka, tetapi tampaklah bahwa wajah-wajah mereka sama sekali tidak meyakinkan kebenaran kata-kata Mahisa Agni.
Mahisa Agni pun menyadarinya. Tetapi ia tidak berkata-kata lagi. Dengan tenangnya ia membaringkan dirinya pada sisa-sisa sinar matahari yang telah menjadi semakin rendah untuk mengeringkan celananya yang basah kuyup dan kotor karena lumpur. Namun pada bibirnya membayang kepuasan hatinya bahwa usahanya selama dua hari ini, kini telah berhasil. Meskipun dengan susah payah dan berbagai kesulitan, tetapi apabila kemudian di tempat ini benar-benar dapat dibangun sebuah bendungan, maka manfaat dari jerih payahnya adalah berlipat-lipat. Mahisa Agni yang lelah tetapi mendapat kepuasan hati itu pun bahkan kemudian tertidur lelap. Meskipun celananya masih basah dan tubuhnya dikotori dengan butiran-butiran batu padas dan lumpur.
Ketiga kawan-kawannya bahkan menjadi sangat gelisah. Tetapi mereka tidak berani membangunkan Mahisa Agni. Selama matahari masih bersinar, mereka masih dapat menahan kecemasan mereka. Tetapi ketika cahaya kemerahan di ujung barat semakin lama menjadi semakin kelam, dan burung-burung liar telah berterbangan pulang ke sarang, maka mereka tidak dapat lagi menahan kegelisahan mereka. Meskipun tidak langsung, namun mereka pun mencoba membuat suara-suara yang akan dapat membangunkan Mahisa Agni. Ternyata usaha mereka itu pun berhasil. Mereka merasa tenteram ketika mereka melihat Mahisa Agni menggeliat dan kemudian bangkit duduk di samping mereka.
“Senja,“ desisnya.
“Ya. Senja hampir lampau,” jawab Sinung Sari.
“Alangkah segarnya tubuhku kini. Apakah kalian tidak ingin tidur?”
“Sebenarnya. Tetapi kami menjadi gelisah. Kami tidak akan dapat tidur bersama-sama.”
“Kalau demikian, apabila kalian inginkan, tidurlah. Aku akan berjaga-jaga setelah aku mendahului tidur nyenyak.”
Ketiganya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ketika mereka melihat Mahisa Agni berdiri, serentak mereka bertanya, “Kemana Agni?”
“Mencari rumput-rumput kering dan ranting?”
“Untuk apa?”
“Perapian.”
“Jangan,“ teriak mereka bersama-sama, “tempat kita akan segera diketahui orang. Mungkin Kuda Sempana yang datang membawa kawan-kawannya.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sependapat dengan mereka, meskipun hanya disimpannya di dalam hati, supaya kawannya itu tidak menjadi semakin cemas. Bahkan katanya,
“Hem. Kalian masih saja dibayangi oleh ketakutan.”
Ketiga kawan-kawannya tidak menjawab. Namun mereka merasa agak tenteram ketika mereka melihat Mahisa Agni seakan-akan tidak menjadi gelisah sama sekali meskipun senja menjadi semakin gelap.
Mahisa Agni pun kemudian duduk kembali. Tetapi ketika angin senja menyentuh tubuhnya terasa alangkah dinginnya. Dan tiba-tiba diingatnya kain panjangnya yang masih bersambung sambungan dengan kain kawan-kawannya. Karena itu, maka segera kembali ia berdiri.
“Kemana Agni,“ serentak kawan-kawannya pun bertanya kembali.
“Kain panjang kita,“ sahut Agni.
Ketiga kawan-kawannya tidak bertanya lagi. Mahisa Agni kemudian berjalan memungut kain panjangnya yang terbelah dan terikat satu sama lain. Dicobanya untuk mengurai ikatan itu. Tetapi ternyata kemudian bahwa kain itu telah hampir menjadi compang-camping. Meskipun demikian, dipakainya juga kain yang telah berlubang-lubang dan kotor itu untuk menutup badannya menahan dingin. Ketiga kawan-kawan nya pun berbuat serupa. Hanya karena itu, maka badan mereka menjadi gatal-gatal.
Meskipun kemudian Mahisa Agni tetap duduk berjaga-jaga, namun ketiga kawan-kawannya tidak segera dapat tertidur. Betapa perasaan lelah merayapi segenap tulangnya, namun perasaan cemas dan gelisah ternyata telah menindasnya. Sekali-sekali terasa angin yang sejuk menghanyutkan mereka sekejap-sekejap, tetapi segera mereka tergagap bangun. Seakan-akan sesuatu telah siap untuk menerkam mereka satu demi satu. Namun ketika terpandang oleh mereka dalam keremangan malam Mahisa Agni masih duduk memeluk kedua lututnya, maka mereka pun menarik nafas dalam-dalam.
Ujung malam itu semakin lama menjadi semakin dalam. Langit yang biru gelap terbentang di atas padang rumput yang luas bertaburkan bintang-bintang yang semakin lama seolah-olah menjadi semakin banyak. Sehelai-sehelai awan yang putih dihanyutkan oleh angin perlahan-lahan mengalir ke utara.
Hati kawan-kawan Mahisa Agni itu benar-benar tidak dapat tenteram. Dikejauhan kembali terdengar suara burung kedasih sayup-sayup melas asih. Seperti suara tangis biyung yang kehilangan anaknya tersayang. Sayup-sayup menyusup di hati diantara desir angin yang lembut. Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu mengeluh di dalam hati. Mereka belum pernah mengalami pekerjaan seberat ini. Bukan saja tenaga mereka yang terperas habis, tetapi juga perasaan mereka yang gelisah, cemas, takut dan segala macam perasaan yang mengerikan. Sekali-sekali mereka mencoba juga menghibur diri mereka. Di samping mereka masih ada Mahisa Agni. Tetapi agaknya kecemasan dan ketakutan mereka benar-benar telah memenuhi segenap rongga dada mereka.
Padang itu semakin lama menjadi semakin sunyi. Sehingga suara burung kedasih itu pun menjadi semakin jelas bergema memenuhi padang Karautan. Kadang-kadang perlahan-lahan, namun kadang-kadang menjadi semakin jelas. Tetapi tiba-tiba diantara keluh burung kedasih itu, terdengar suara yang lain. Lamat-lamat dalam irama yang seakan akan teratur. Semakin lama semakin jelas. Ketika suara itu telah mereka yakini, maka serentak terdengar ketiga kawan Agni itu berkata parau,
“Kuda. Derap kuda.”
Mahisa Agni pun kemudian mengangkat kepalanya. Sebenarnya telah didengarnya pula suara derap kuda itu. Namun ia masih saja berdiam diri untuk tidak mencemaskan hati kawan-kawannya. Tetapi kini kawan-kawannya itu telah mendengar sendiri. Bahkan mereka telah dapat menyebutnya, bahwa suara itu adalah suara derap kaki kuda. Karena itu, maka Mahisa Agni pun menjawab,
“Ya. Derap kaki kuda.”
“O,“ desah Patalan, “pasti Kuda Sempana datang bersama kawan-kawannya.”
Mahisa Agni mempertajam pendengarnya. Sesaat kemudian ia menjawab, “Pasti bukan. Suara itu hanya suara derap kaki seekor kuda.”
“Kenapa hanya seekor,“ bertanya Sinung Sari.
Mahisa Agni heran mendengar pertanyaan itu, “Kenapa?“ ulangnya, “ya kenapa?”
“Maksudku, apakah kau tahu benar bahwa suara itu suara derap kaki seekor kuda?“ Sinung Sari menjelaskan.
“Ah,” sahut Agni, “bukankah kalian dapat juga membedakan.”
Sinung Sari kemudian terdiam. Kawan-kawannya pun terdiam. Namun gelora di dalam dada mereka mulai bergolak kembali.
“Kali ini jangan memperbodoh diri,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “seandainya yang datang itu orang yang akan membawa bencana, jangan kau serahkan kepalamu untuk dipenggalnya. Kalau tidak ada jalan lain, maka kalian harus memilih, di penggal atau memenggal kepala orang itu. Bukankah kalian membawa pedang? Selama aku masih dapat melindungi kalian, aku akan mencobanya. Tetapi kalau tidak, bukan salahku kalau kalian mati dipadang rumput ini. Ayo. Tengadahkan wajahmu. Sambutlah setiap tantangan untuk diatasi. Jangan menyerah.”
Terasa kebenaran kata-kata Mahisa Agni itu. Sebuah getaran menyusup ke dalam hati mereka. Mereka pun sebenarnya ingin pula berbuat demikian. Tetapi mereka sama sekali belum pernah bertempur melawan apapun. Ada juga diantara mereka di masa kanak-kanaknya berkelahi satu sama lain. Bahkan kadang-kadang mereka pun sering melakukan permainan yang menyerupai perkelahian, binten, bantingan dan sebagainya. Tetapi sama sekali tidak berbahaya bagi keselamatan mereka.
Mahisa Agni melihat keragu-raguan itu, sehingga katanya, “Seterusnya terserah kepada kalian. Apakah kalian ingin mati, apakah kalian akan mencoba menghindarinya dengan sebuah usaha.” Sekali lagi sebuah getaran menyusup ke dalam hati mereka.
Mereka dihadapkan pada dua buah pilihan, Mati atau berusaha menyelamatkan diri. Derap kuda itu semakin lama menjadi semakin dekat. Namun Mahisa Agni yang jauh lebih berpengalaman dari ketiga kawan-kawannya segera dapat mengetahuinya, bahwa Kuda itu tidak berjalan terlalu cepat. Derap kakinya yang memukul batu-batu padas pun tidak terdengar terlalu keras meskipun kuda itu sudah menjadi semakin dekat.
“Kita bersembunyi,“ bisik Mahisa Agni kepada kawan-kawannya, “Tetapi itu bukan berarti bahwa kita adalah pengecut. Namun kita harus mengetahui lebih dahulu siapakah yang datang itu. Kalau tidak ada persoalan yang memaksa, kita akan dapat menghindari setiap persoalan yang tidak kita kehendaki.”
Sebelum Mahisa Agni berbuat sesuatu, ketiga kawan-kawannya telah mendahuluinya, menyurukkan diri mereka sendiri ke dalam semak-semak. Mereka mengumpat-umpat di dalam hati mereka, apabila pedang-pedang mereka ternyata malahan mengganggu, karena tangkai-tangkainya, dan kadang-kadang sarungnya menyangkut ranting-ranting kecil
Mahisa Agni menarik nafas. Tetapi ia tidak berkata sepatah katapun. Yang terakhir, ia sendiri berusaha menyembunyikan diri pula di balik-balik gerumbul kecil sambil berusaha mengawasi penunggang kuda yang sudah menjadi semakin dekat. Sesaat kemudian, seakan-akan muncul dari keremangan malam, sesosok tubuh duduk di atas seekor kuda yang besar. Semakin lama semakin dekat. Dan mata Mahisa Agni yang tajam, segera dapat melihat sebilah pedang tergantung di lambung penunggangnya.
Sebenarnya kuda itu tidak berjalan terlalu cepat. Bahkan sekali-sekali berhenti dan seakan-akan memang ada yang dicarinya. Dada Mahisa Agni berdesir ketika baru saja disadarinya, beberapa macam barang-barang milik kawannya tertinggal di tempat mereka beristirahat. Bumbung-bumbung kecil dan sebuah bungkusan bekal makanan.
“Hem,“ Mahisa Agni berdesah di dalam dadanya.
Sebenarnya ia ingin menghindari setiap persoalan dengan menyembunyikan dirinya. Tetapi kalau penunggang kuda itu melihat beberapa macam benda-benda yang berserakan itu, maka pasti orang itu menyangka bahwa setidak-tidaknya tempat ini merupakan tempat yang harus mendapat perhatian. Meskipun Mahisa Agni sama sekali tidak takut seandainya ia harus berhadapan dengan siapa pun yang mengganggu usahanya tetapi baginya, kemungkinan-kemungkinan yang demikian akan dihindirinya sejauh mungkin.
Mahisa Agni menggigit bibirnya ketika ia melihat kuda itu menjadi bertambah dekat. Dan apa yang dicemaskannya itu ternyata benar-benar terjadi. Ketika penunggang kuda itu melihat beberapa benda yang terserak-serak, maka segera ia menghentikan langkah kudanya. Dengan lincahnya ia meloncat turun, dan kemudian dengan saksama ia memperhatikan benda-benda yang berserakan itu.
Kini Mahisa Agni seakan-akan menahan nafasnya. Ia berada di balik sebuah gerumbul yang tidak terlalu dekat dengan orang yang baru datang itu. Apalagi daun-daun perdu di gerumbul itu selalu saja mengganggunya, apabila ia mencoba untuk melihat orang yang baru saja datang itu. Namun lamat-lamat disela-sela dedaunan, meskipun tidak jelas ia melihat orang itu membongkokkan badannya, memungut beberapa macam benda-benda yang terserak-serak itu.
Tetapi orang itu masih berdiam diri. Ketika kemudian ia berdiri tegak terdengar tarikan nafasnya. Sambil berjalan beberapa langkah, orang itu bergumam, “Pasti disini. Di sekitar tempat ini.”
Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Kata-kata itu hanya didengarnya lamat-lamat. Namun tiba-tiba terasa olehnya, bahwa ia pernah mengenal orang yang baru datang itu. Mahisa Agni kemudian melihat orang itu memperhatikan keadaan di sekitarnya. Sesaat orang itu berdiam diri. Dan kemudian terdengar ia tertawa. Dari dalam sebuah gerumbul ia mendengar dengus nafas berdesah semakin cepat.
“Ha,“ katanya, “di situ kalian bersembunyi.”
Jinan, Patalan dan Sinung Sari mendengar kata-kata itu. Darah mereka seakan-akan berhenti mengalir. Tetapi sesaat kemudian teringatlah mereka akan kata-kata Mahisa Agni, bahwa mereka jangan menyerahkan kepala mereka tanpa perlawanan. Namun, sangatlah berat tangan mereka untuk bergerak menarik pedang mereka itu.
“Kenapa kalian bersembunyi,“ terdengar orang itu bertanya sambil berjalan beberapa langkah maju.
Sedang nafas di dalam gerumbul itu menjadi semakin cepat memburu lewat lubang-lubang hidung mereka. Namun tiba-tiba orang itu terkejut. Selangkah ia turut, dan dengan tangkai ia memutar tubuhnya ketika ia mendengar suara di belakangnya,
“Disini aku. Bukan di situ.”
Suara itu adalah suara Mahisa Agni. Ketika ternyata orang itu mengetahui tempat persembunyian kawannya, ia tidak dapat langsung bersembunyi sambil berdiam diri. Mahisa Agni terpaksa menampilkan dirinya untuk melindungi ketiga kawannya. Tetapi Mahisa Agni lah yang kemudian terkejut mendengar orang itu menyebut namanya,
“Mahisa Agni.”
“Ya.” Orang itu berjalan mendekatinya. Semakin lama semakin dekat, “Kau telah mengenal namaku,“ bertanya Mahisa Agni.
“Ken Arok berkata kepadaku, bahwa kau berada di padang ini bersama ketiga kawan-kawanmu. Salah seorang yang berani menyatakan dirinya, pastilah hanya Mahisa Agni.”
Mahisa Agni mengawasi orang itu dengan saksama. Ketika orang itu menjadi semakin dekat, tiba-tiba terdengar Mahisa Agni berkata, “Oh, kau Mahendra. Kau mengejutkan kami disini.”
Mahendra tersenyum. Jawabnya, “Aku tidak sengaja. Tetapi Ken Arok telah berceritera kepadaku, bahwa kau berada dipadang Karautan bersama tiga orang yang aneh.”
“Di situlah mereka,“ sahut Mahisa Agni sambil menunjuk ke gerumbul tempat kawan-kawannya bersembunyi.
“Ya. Aku telah mendengar tarikan nafas mereka.”
“He, Jinan, Patalan dan Sinung Sari,” panggil Mahisa Agni, “Kemarilah. Yang datang adalah kawan kita sendiri.”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar