Kembali ketiga kawan Mahisa Agni itu tersuruk-suruk keluar dari tempat persembunyian mereka. Dengan agak malu-malu mereka berjalan mendekati.
“Inilah mereka,“ berkata Mahisa Agni memperkenalkan kawan-kawannya.
“Kenapa kalian bersembunyi?” bertanya Mahendra.
Ketiganya tunduk tersipu-sipu. Namun kemudian Sinung Sari menjawab, “Mahisa Agni menyuruh kami bersembunyi.”
“Oh,“ desis Mahendra sambil tersenyum, “benar begitu?”
Mahisa Agni pun tersenyum pula. jawabnya, “Ya. Akulah yang menyuruh mereka bersembunyi, meskipun sama sekali tidak mereka kehendaki, sebab aku ingin menghindari persoalan yang dapat timbul kemudian, seandainya yang datang bukan kawan sendiri. Persoalan yang mungkin tidak ada gunanya, selain hanya untuk memenuhi kesenangan mereka bertiga. Bukan begitu Sinung Sari?”
Seandainya terlihat oleh mereka, maka wajah Sinung Sari menjadi kemerah-merahan. Ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan Mahisa Agni itu, dan bahkan kepalanya menjadi semakin tunduk dalam-dalam. Mahisa Agni dan Mahendra tidak dapat menahan senyum mereka. Dari Ken Arok, Mahendra telah mendengar ceritera tentang ketiga kawan Mahisa Agni itu. Karena itu serba sedikit ia dapat mengetahui sifat-sifat mereka. Ketika Sinung Sari sama sekali tidak menjawab, dan bahkan dengan perasaan malu ia berkisar ke samping, maka berkatalah Mahisa Agni,
“Mari, Mahendra, duduklah.”
Mereka itu pun kemudian duduk melingkar di atas tanah yang berdebu. Di sana-sini rumput liar tumbuh dengan lebatnya. Sesaat malam menjadi hening, sehening padang yang tidak berpenghuni. Sayup-sayup di kejauhan masih terdengar suara burung kedasih menggetarkan sepi malam.
“Mahendra,“ terdengar suara Mahisa Agni kemudian, “apakah kau juga ingin menjadi hantu padang Karautan?”
Mahendra mengangkat wajahnya. Sekilas tampak senyumnya. menggerakkan bibirnya. “Sebetulnya,” sahutnya, “tetapi aku tidak tahan dingin, karena itu maksud itu aku urungkan.”
“Lalu apakah keperluanmu berada dipadang ini?” bertanya Mahisa Agni.
“Kakang Witantra menyuruhku datang kemari, setelah pagi-pagi tadi kami bertemu dengan Ken Arok.”
“Apa katanya?”
“Ken Arok melihat hantu padang Karautan saling berkelahi.” Keduanya tertawa pendek. Lalu Mahendra meneruskan, “Tetapi kakang Witantra tidak tertarik kepada hantu-hantu itu. Ia lebih tertarik pada ceritera Ken Arok yang lain”
“Ceritera yang manakah itu?”
“Mahisa Agni,“ berkata Mahendra dengan nada yang lain. Tampaknya kini ia mulai bersungguh-sungguh, “Apakah benar Ken Arok telah mengatakan kepadamu tentang adikmu itu?” Mahisa Agni mengangguk. “Bahwa Akuwu Tunggul Ametung menghendakinya?. Tetapi kenapa kau tidak mau menerimanya seandainya Akuwu itu akan datang kepadamu untuk mewakili ayah gadis itu.”
Mahisa Agni kini menggelengkan kepalanya. Perlahan-lahan ia menjawab, “Tidak, tidak perlu. Gadis itu dibawa dengan cara yang kasar. Biarlah cara itu dilakukan untuk seterusnya.”
“Tetapi yang melakukan itu adalah Kuda Sempana.”
“Bukankah Akuwu Tunggul Ametung bersamanya pada waktu itu?”
Mahendra terdiam sesaat. Jawaban Mahisa Agni itu dapat dimengertinya. Luka hatinya pada saat ia kehilangan adiknya ternyata terlampau parah, sehingga setiap sentuhan padanya, masih juga akan terasa betapa sakitnya. Mahisa Agni sendiri kemudian menundukkan kepalanya. Sakit di hatinya itu jauh lebih parah dari yang disangka oleh Mahendra. Meskipun demikian, sama sekali tidak terucapkan kepada siapapun juga. Yang dapat mengetahui, apa sebenarnya yang mencengkam jantungnya, hanyalah emban tua, pemomong Ken Dedes, yang tidak lain adalah ibunya sendiri dan gurunya yang tua, ayah Ken Dedes.
Sesaat mereka duduk berdiam diri. Gelap malam semakin lama menjadi semakin dekat dan bintang-gemintang di langit yang biru bertebaran dari ujung ke ujung. Terasa udara menjadi semakin dingin sampai menggigit tulang.
Dalam keheningan itu, kemudian terdengar Mahendra berkata, “Agni. Aku tahu betapa hatimu tersinggung karena sikap Kuda Sempana yang pada saat itu datang dalam lindungan Akuwu Tumapel. Tetapi menurut kakang Witantra, Akuwu Tunggul Ametung menjadi kecewa sedalam-dalamnya terhadap perbuatannya, dan bahkan atas nama Akuwu, kakang Witantra telah berhasil memisahkan Ken Dedes daripada Kuda Sempana. Bahkan kemudian, setelah Akuwu Tunggul Ametung mendengar bahwa Wiraprana telah terbunuh, jatuhlah perasaan ibanya yang tulus kepada Ken Dedes.”
Mahendra berhenti sesaat seolah-olah ia menunggu katanya itu menghunjam ke pusat jantung Mahisa Agni. Namun masih saja dilihatnya Mahisa Agni menunduk. Maka berkatalah ia seterusnya,
“Agni. Secara jujur aku katakan, bahwa aku pun kecewa melihat Ken Dedes akan menjadi seorang permaisuri, sebab bagiku belum ada seorang gadis yang lain yang mampu menyentuh hatiku. Namun adalah lebih baik baginya, bagi gadis itu sendiri, apabila ia akan dapat menemukan ketenteraman dan kebahagiaan sebagai permaisuri Akuwu Tunggul Ametung.”
“Hem,“ Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali, sedalam luka yang menusuk ke dalam jantungnya. Tetapi ia belum menjawab. Dibiarkannya Mahendra berkata terus,
“Agni, Akuwu telah menetapkan hari perkawinannya. Karena itu, atas namanya kakang Witantra mengharap kau akan dapat menerimanya, mewakili ayahmu menyerahkan Ken Dedes kepada Akuwu Tunggul Ametung.”
Mahendra menatap wajah Mahisa Agni dalam-dalam. Sesaat ia menunggu, apakah yang akan dikatakan oleh Mahisa Agni itu. Tetapi dadanya berdesir ketika ia melihat Mahisa Agni menggelengkan kepalanya,
“Tak ada gunanya Mahendra. Akuwu telah mengambil keputusan. Mungkin Ken Dedes telah menerima lamarannya pula. Karena itu, biarlah mereka memutuskan kehendak mereka sendiri. Mereka telah cukup dewasa.”
“Tetapi itu tidak lajim, Agni.”
“Sejak permulaan peristiwa itu sudah berjalan tidak sewajarnya.”
Kini Mahendra lah yang menarik nafas dalam-dalam. Agaknya pendirian Mahisa Agni telah tidak mungkin dapat dirubahnya. Meskipun demikian ia masih mencobanya,
“Agni. Witantra minta dengan sangat kau merubah pendirianmu. Sebab dengan demikian, Ken Dedes akan merasa kau lepaskan seorang diri. Mungkin ia merasa bahwa kau tidak merestuinya.” Mahendra menjadi semakin kecewa ketika ia melihat Mahisa Agni menggeleng sekali lagi. “Kau tetap pada pendirianmu Agni?”
“Maaf Mahendra. Aku tidak dapat menerima Tunggal Ametung. Pembicaraan telah berlangsung tanpa aku. Biarlah persoalan itu selesai tanpa aku pula.”
“Agni. Kau terlalu perasa.”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Perkataan Mahendra itu tepat menyentuh hatinya. Tetapi ia tidak kuasa untuk mengatasi perasaannya. Sehingga dengan demikian kembali ia berdiam diri sambil menundukkan kepalanya. Tetapi Mahendra dengan itu telah dapat mengetahui, bahwa Mahisa Agni benar-benar tidak dapat memaafkan Kuda Sempana dan Akuwu Tunggul Ametung. Bahkan demikian sakit hatinya, sehingga ia sama sekali tidak mengingat lagi kepentingan gadis yang disangka adiknya.
“Agni,“ berkata Mahendra kemudian, “Perkawinan itu akan berlangsung segera. Aku mengharap kau sempat mempertimbangkan keputusanmu, supaya adikmu tidak seolah-olah sehelai daun kering yang diterbangkan angin. Ia tidak dapat menolak keinginan Akuwu, tetapi ia merasa diasingkan dari keluarganya.”
Mahisa Agni terdiam. Kepalanya masih ditundukkannya. Namun ia masih tidak mampu mengatasi perasaan sendiri. Kembali mereka terlempar ke dalam suasana sunyi. Masing-masing terbenam dalam pikiran sendiri. Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni pun mendengar percakapan itu dengan pertanyaan yang membelit hati. Kenapa Mahisa Agni menolak bertemu dengan Akuwu? Bukankah suatu kurnia tiada taranya, gadis sedesanya dapat menjadi seorang Permaisuri, dan gadis itu adalah saudara Mahisa Agni, meskipun kawan-kawannya tahu bahwa gadis itu adalah saudara angkatnya, karena Agni menjadi murid Empu Purwa. Tetapi mereka sama sekali tidak mau mencampuri persoalan yang tidak diketahui benar ujung pangkalnya. Mereka takut kalau-kalau dengan demikian mereka berbuat kesalahan.
Dalam kesenyapan itu tiba-tiba Mahisa Agni berkata, “Ah, lupakanlah semua itu Mahendra. Marilah kita berbicara tentang hal yang lain.” Mahisa Agni itu berhenti sejenak. Tiba-tiba ia berdiri sambil berkata lantang, “Lihat, disini aku akan membuat bendungan. Bendungan itu akan mengaliri tanah padang rumput ini, sehingga padang ini akan menjadi tanah persawahan.”
Mahendra pun memandang ke arah sungai yang ditunjuk oleh Mahisa Agni. Namun ia tidak dapat melepaskah persoalannya dengan tiba-tiba. Ia masih dicengkam oleh perasaan yang aneh tentang sikap Mahisa Agni terhadap Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu meskipun ia memandangi arus air yang gemercik di sampingnya, namun ia tidak segera menjawab kata-kata Mahisa Agni. Yang terdengar kemudian adalah suara Mahisa Agni,
“Mahendra, apabila kami telah berhasil mengangkat air, dan menyalurkannya ke dalam parit-parit yang akan kita buat pula, maka tanah ini akan menjadi tanah subur. Tidak kalah suburnya dengan tanah-tanah persawahan di Panawijen yang sekarang menjadi kering. Bahkan apabila air nanti cukup banyak, kami akan menyalurkannya pula ke tanah-tanah yang sekarang menjadi kering di Panawijen,“ Mahisa Agni berhenti sebentar, kemudian katanya melanjutkan, “Tetapi jarak untuk itu terlalu jauh.”
Ketika Mahisa Agni kemudian berpaling memandangi wajah Mahendra, maka Mahendra itu mengangguk kosong. Katanya, “Ya. Mudah-mudahan.”
Mahisa Agni pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berkata lagi. Kini ia berjalan perlahan-lahan mendekati air yang mengalir tanpa ada henti-hentinya. Berpuluh-puluh tahun bahkan mungkin telah beratus-ratus tahun. Tetapi Mahisa Agni itu terkejut ketika Mahendra berkata kepadanya,
“Mahisa Agni. Jadi bagaimana jawabmu yang harus aku sampaikan kepada kakang Witantra?”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Tetapi ia masih berdiri di pinggiran sungai. Bahkan ujung kakinya telah menyentuh air yang gemercik di bawah kakinya, mencerminkan bayangan bintang-bintang di langit. Berkilat-kilat dan bergetar karena arusnya.
“Maaf. Aku minta maaf kepada kakak seperguruanmu itu. Aku minta maaf kepada Akuwu Tunggul Ametung. Akuwu itu tidak perlu datang kepadaku. Katakanlah kepada Witantra agar disampaikannya kepada Akuwu, bahwa segala sesuatu tergantung kepada Ken Dedes sendiri. Kalau ia menghendakinya, maka biarlah dilakukannya apa yang baik untuknya.”
“Hem,“ Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia bertanya, “Tetapi bagaimana sikapmu secara jujur? Apakah kau berkenan di hati atau sebaliknya?”
Dada Mahisa Agni berdesir mendengar pertanyaan itu. Kemudian jawabnya, “Aku tidak dapat memandang persoalan ini dengan sejujur hatiku. Persoalan ini sudah terlanjur masuk ke dalam keadaan yang tidak aku kehendaki.”
“Mungkin ada soal-soal yang dapat dibicarakan, dicari kemungkinan yang dapat memberimu kepuasan.”
Mahisa Agni itu tiba-tiba menggelengkan kepalanya. Tetapi kemudian terdengar giginya gemeretak. Tiba-tiba sekali lagi ia berkata lantang, “Mahendra. Jangan kau risaukan lagi persoalan itu. Lihat. Lihat arus sungai ini. Cukup besar dan cukup kuat untuk mengaliri padang ini. Bagaimana pendapatmu? Apakah kau melihat pula kemungkinan itu,” tiba-tiba suaranya menurun, “Maaf jangan kau singgung lagi tentang adikku itu. Biarlah ia menentukan jalannya sendiri. Aku akan selalu merestuinya. Tetapi bagaimana dengan rencanaku membuat bendungan disini?”
Sekali lagi Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Mahisa Agni itu benar-benar sudah tidak mau lagi diajaknya untuk membicarakan masalah adiknya dan Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu maka ia tidak mau bertanya lagi, sebab dengan demikian akan dapat menyinggung perasaan anak muda perasa itu. Bahkan Mahendra itu pun kemudian berdiri dan melangkah maju mendekati Mahisa Agni. diamat-amatinya sungai yang mengalir dalam gelap malam itu.
Mahendra itu terkejut ketika tanpa disangka-sangkanya Mahisa Agni menepuk punggungnya sambil berkata, “He, bagaimana? Bukankah tempat ini akan menjadi tempat yang sangat baik untuk membangun bendungan?”
Dengan serta merta, diluar sadarnya Mahendra menjawab, “Ya. Baik. Tempat ini baik sekali untuk membuat bendungan.”
Mahisa Agni tertawa masam. Ia sadar bahwa jawaban Mahendra itu demikian saja meluncur dari bibirnya. Tetapi Mahisa Agni tidak mendesaknya lagi. Ketika kemudian mereka terdiam sesaat, terdengar suara gemercik air itu menjadi semakin keras. Di bawah mereka, sayup-sayup terdengar gemerajak air jeram. Bahkan apabila angin mengalir semakin keras, maka suara jeram-jeram itu pun terbawa pula ke telinga Mahisa Agni, Mahendra, dan ketiga kawan-kawannya, semakin keras pula. Namun dalam pada itu, ternyata di dalam dada Mahisa Agni terdengar suara yang jauh lebih riuh lagi dari suara arus sungai itu dan bahkan lebih gemuruh dari suara gerojogan jeram-jeram di sebelah. Untuk menindas kegelisahannya tiba-tiba Mahisa Agni berkata.
“He, Mahendra, darimana kau tahu bahwa aku berada di tempat ini?”
Mahendra mengerutkan keningnya. Dengan segan ia menjawab pendek, “Dari Ken Arok.”
“Aku bertemu dengan Ken Arok tidak disini.”
“Kau menelusuri sungai ini,” sahut Mahendra, “aku pun berbuat demikian menurut petunjuk Ken Arok.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi suara di dalam dadanya masih saja berdesingan. Sehingga kembali ia mencoba melepaskan tekanan perasaan itu,
“Kenapa kau berjalan sendiri? Dimana saudara seperguruanmu yang nakal itu, Kebo Ijo?”
“Ia kini bekerja di istana.”
“He, apakah yang dikerjakannya?”
“Seperti kakang Witantra. Baru beberapa hari atas ajakan kakang Witantra, supaya ia tidak berkeliaran saja sepanjang jalan sambil mengganggu gadis-gadis.”
“Bagus. Itu lebih baik baginya,” sahut Mahisa Agni.
Tetapi Mahendra tidak berkata apa-apalagi, sehingga kembali suasana menjadi kaku dan sepi. Kembali suara air gemericik itu menyentuh-nyentuh sepinya malam. Namun tiba-tiba Mahisa Agni dan Mahendra mendengar suara yang lain-lain. Bukan suara gemericik air, dan bukan pula suara jeram-jeram di sebelah. Suara itu semakin lama menjadi semakin jelas … semakin jelas.
Sesaat Mahendra dan Mahisa Agni saling berpandangan. Hampir bersamaan pula mereka berpaling memandangi ketiga kawan Mahisa Agni yang duduk membeku memeluk lutut-lutut mereka. Bersamaan pula mereka segera mendapat kesimpulan, bahwa bukan mereka bertiga itulah yang sedang berbisik-bisik. Tetapi pasti orang lain. Karena itu, maka dengan matanya Mahisa Agni memberi isyarat kepada Mahendra, dan Mahendra pun segera menangkap maksudnya.
Tanpa berkata sepatah kata pun mereka kemudian berjalan kembali ke samping kawannya. Namun mereka tidak segera duduk bersama mereka, bahkan kemudian Mahisa Agni dan Mahendra itu pun berdiri berhadapan, sehingga mereka masing-masing dapat melihat, apa yang ada di belakang mereka sebelah menyebelah. Sejenak mereka tidak lagi mendengar apapun. Suara berbisik itu seakan-akan lenyap. Dengan demikian mereka mendapat kesimpulan, bahwa suara itu berada lebih dekat pada tempat mereka berdiri semula, atau orang-orang yang sedang berbisik-bisik itu kini telah berdiam diri.
Tetapi Mahisa Agni dan Mahendra tidak kehilangan kewaspadaan. Segera mereka mempertajam pendengaran mereka, untuk mencoba menangkap setiap suara yang betapa pun lemahnya, menyentuh telinga mereka. Dan sejenak kemudian kembali mereka mendengar suara itu perlahan-lahan. Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara tertawa yang menggetarkan udara malam.
Mahisa Agni dan Mahendra segera menyadari bahaya yang datang. Apalagi ketiga kawan-kawan Mahisa Agni. Tubuh mereka tiba-tiba menggigil seperti orang kedinginan. Namun mereka sama sekali tidak berani beranjak dari tempat mereka masing-masing, sebab mereka tidak melihat siapakah yang sedang tertawa menyakitkan telinga itu.
“Orang itukah yang bernama Mahisa Agni,“ terdengar suara dari balik-balik gerumbul di pinggir sungai.
“Ya,“ jawab suara yang lain.
“Bagus. Aku ingin melihatnya dari dekat,“ berkata suara yang pertama.
Mahisa Agni segera memutar tubuhnya menghadap ke arah suara itu. Mahendra pun kemudian melangkah maju, dan tanpa sesadarnya tangannya telah meraba hulu pedangnya. Sejenak kemudian mereka melihat tiga orang yang muncul dari balik gerumbul. Seorang tua bertongkat hampir sepanjang tubuhnya. Seorang lagi anak muda yang berpakaian seperti pakaian pelayan dalam namun dalam keadaan yang kusut, yang segera mereka kenal, Kuda Sempana. Sedang di sampingnya masih ada lagi seorang yang lain.
Dada Mahisa Agni berdesir. Dugaannya ternyata terjadi. Seperti yang dicemaskan oleh ketiga kawan-kawannya itu, Kuda Sempana datang dengan kawan-kawannya. Dalam pada itu terdengar Mahendra berbisik,
“Kuda Sempana. Aku mendengar pula dari Ken Arok. apa yang telah dilakukan dipadang ini.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Hatinya yang sedang risau itu tiba-tiba seperti terbakar melihat kedatangan Kuda Sempana kembali. Anak muda itu adalah sumber dari segala bencana yang menimpa gurunya, Ken Dedes dan dirinya sendiri. Bahkan akibatnya telah menimpa Panawijen pula, sehingga malam ini ia terpaksa berada dipadang Karautan. Karena itu, maka Mahisa Agni itu tiba-tiba menggeretakkan giginya.
Tiga orang yang datang itu pun semakin lama menjadi semakin dekat. Orang yang bertongkat hampir sepanjang tubuhnya itu ternyata seorang yang telah lanjut usia. Janggutnya tidak seberapa panjang, namun dalam kelam malam, Mahisa Agni dapat membedakannya, bahwa janggut itu telah mulai memutih. Tetapi Mahisa Agni lebih terkejut lagi ketika kemudian dilihatnya kawan Kuda Sempana yang seorang lagi. Ternyata orang itu pernah dikenalnya.
Orang itu adalah saudara seperguruan Kuda Sempana yang pernah bertempur dengannya di sebuah padukuhan di kaki Gunung Semeru. Pedukuhan Kajar. Dan orang itulah yang dahulu pernah dikenalnya dengan nama Bahu Reksa Kali Elo. Kini orang yang menyimpan dendam di hatinya itu datang kembali kepadanya. Dahulu orang itu pernah berkata kepadanya, bahwa ia pada suatu saat akan menebus kekalahannya. Kini ternyata orang itu benar-benar datang. Bukan seorang diri, namun bersama-sama dengan orang lain yang menyimpan dendam pula kepadanya, sebagaimana ia mendendamnya, Kuda Sempana.
Tanpa disadarinya Mahisa Agni berpaling. Dipandanginya wajah Mahendra yang tegang. Tangannya masih melekat di hulu pedangnya. Namun Mahisa Agni tidak dapat menangkap kata hati anak muda itu. Apakah yang kira-kira akan dilakukannya, seandainya ia terlibat dalam perkelahian yang seru dan bahkan ia harus melawan orang-orang yang datang itu sekaligus. Apalagi ketika kemudian Mahisa Agni mencoba menduga siapakah orang tua yang berjanggut putih jarang-jarang itu? Apakah orang itu guru mereka? Guru Kuda Sempana dan Bahu Reksa Kali Elo itu?.
Ketiga orang itu pun kemudian berhenti beberapa langkah dihadapan Mahisa Agni dan Mahendra. Mereka memandangi Mahisa Agni seperti memandangi hantu. Namun kemudian terdengar orang tua itu bertanya,
“Bukankah yang ini yang bernama Mahisa Agni itu?”
Kuda Sempana mengangguk. Jawabnya, “Ya. Itulah.”
Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali-sekali dipandanginya pula Mahendra, namun ia tidak berkata apapun, tentang anak muda itu. Yang kemudian berkata adalah Bahu Reksa Kali Elo. Suaranya terdengar parau diantara suara tertawanya yang menyakitkan hati,
“He, Mahisa Agni. Apakah kau masih ingat kepadaku?”
Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah itu tajam-tajam. Tiba-tiba ia menjadi muak melihat mukanya, karena itu maka sama sekali ia tidak bernafsu untuk menjawab pertanyaannya.
Karena Mahisa Agni masih saja berdiam diri, maka berkatalah orang itu pula, “Agni, jangan berpura-pura tidak mengenal aku lagi. Apakah kau takut aku membalas sakit hatiku saat itu?”
Warna merah menjalar ke wajah Mahisa Agni mendengar kata-kata orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu. Alangkah memuakkan. Apalagi ketika kemudian ia mendengar orang itu tertawa, “Ha. Kau sekarang menjadi pucat melihat kehadiranku disini? Tetapi sayang, semuanya sudah terlambat. Aku tidak dapat menarik diri lagi, sebab aku sudah bertekad untuk melepaskan dendamku.”
Gigi Mahisa Agni menjadi gemeretak karena kemarahan yang membakar dadanya. Namun justru karena itu, terasa mulutnya seakan-akan terbungkam. berjejal-jejal kata-kata yang akan diucapkan, namun tak sepatah kata pun yang dapat meloncat keluar selain suara gemeretak giginya. Yang menjawab kata-kata itu justru Mahendra. Anak itu menjadi muak juga melihat tampang orang yang berkata seenaknya seolah-olah ia sendiri orang laki-laki di kulit bumi ini.
“Jangan membual. Siapa kau?”
Orang itu berpaling. Ditatapnya wajah Mahendra. Kemudian masih sambil tertawa ia bertanya, “Siapa kau?”
Mahendra menggeram. Ia menjadi semakin tidak senang mendengar orang itu tidak menjawab pertanyaanya, malahan ia bertanya seperti kepada pelayannya. Karena itu maka Mahendra membentak,
“Jangan membadut. Jawab pertanyaanku, siapa kau?”
Orang itu mengerutkan keningnya. Sekali-sekali ia mengusap wajahnya yang kasar, “Kau ingin tahu namaku?“ katanya.
Mahendra tidak menjawab. Ditatapnya wajah itu tajam-tajam seakan-akan dari matanya memancar api yang langsung akan menjilat wajah itu. Orang itu berpaling kepada Kuda Sempana. Dengan kata-kata yang sangat menyakitkan hati ia berkata,
“Inikah cucurut yang bernama Ken Arok itu?”
Kuda Sempana menggeleng, “Bukan. Itu bukan Ken Arok.”
“O,“ orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu menganggukkan kepalanya. Bahkan orang tua yang bertongkat hampir sepanjang tubuhnya menganggukkan kepalanya pula, “Siapa orang ini? Apakah kau mengenalnya juga?”
“Namanya Mahendra,“ jawab Kuda Sempana.
“Nama yang bagus,“ sahut orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo. Kemudian kepada Mahendra ia bertanya, “Apakah kau saudara seperguruan Mahisa Agni?”
Mahendra itu pun kemudian menjadi sedemikian muaknya, sehingga ia tidak mau lagi menjawab pertanyaannya.
“He, apakah kau tidak mendengar?” Mahendra masih berdiam diri. “Kedua-duanya menjadi bisu,“ teriak orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo.
Namun baik Mahendra maupun Mahisa Agni sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Akhirnya orang yang bertongkat dan berjanggut putih, maju selangkah. Diamat-amatinya kedua anak muda itu dengan saksama. Kemudian katanya,
“Agaknya kalian telah saling mengenal. Kalian berdua dengan kedua anak ini. Tetapi baiklah aku memperkenalkan diriku, dan barangkali ada diantara kalian berdua yang belum mengenal salah seorang anak ini. Yang pertama adalah Kuda Sempana, agaknya kalian sudah mengenal. Sedang yang lain yang lebih tua ini bernama Cundaka. Tetapi ia lebih senang disebut Ki Bahu Reksa Kali Elo,“ orang tua itu berhenti sesaat. Sedang Mahisa Agni dan Mahendra masih berdiri dengan tegangnya.
Tanpa mereka sangka-sangka orang tua itu menunjuk kepada ketiga kawan Mahisa Agni yang benar-benar telah membeku, “kuda Sempana, itukah ketiga kawanmu yang kau katakan?”
“Ya,“ sahut Kuda Sempana.
Orang tua itu tertawa. Suaranya yang benar-benar menyakitkan telinga dan hati. “Pantas. Orang-orang yang demikian itulah yang malahan akan mati lebih dahulu. Orang-orang yang sangat memuakkan.”
Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni mendengar pula kata-kata itu. Dan sebelum sesuatu menyentuh tubuhnya, mereka sudah merasa, seakan-akan mereka telah benar-benar mati.
“Sekarang,“ berkata orang tua itu kepada Mahisa Agni dan Mahendra, “kalian pasti ingin mengenal aku bukan? Nah, sebut saja aku dengan nama Empu Sada. Ya, itulah namaku.”
Dada Mahisa Agni dan Mahendra menjadi berdebar-debar. Orang ini agaknya mempunyai kelebihan dari Kuda Sempana dan Cundaka yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo. Mungkin Kuda Sempana sengaja membawanya untuk melepaskan dendamnya kepada Mahisa Agni. Bahkan mungkin pula orang ini adalah gurunya. Dalam derap jantungnya yang semakin cepat, Mahisa Agni dan Mahendra mendengar orang itu berkata lebih lanjut,
“Ketahuilah, akulah guru kedua anak-anak ini.”
Darah Mahisa Agni dan Mahendra serasa berhenti mengalir mendengar penjelasan itu, meskipun mereka telah menyangka pula. Guru Kuda Sempana pasti bukan orang yang dapat disejajarkan dengan diri mereka. Karena itu, maka segera kecemasan merayap ke dalam jantung mereka. Apakah yang dapat mereka lakukan terhadap guru Kuda Sempana itu?. Namun Mahisa Agni dan Mahendra bukanlah laki-laki pengecut. Apapun yang akan dihadapinya, namun mereka tidak akan berlutut dan mohon belas kasihannya.
Kemudian terdengar orang itu berkata, “Nah Mahisa Agni, Kepadamulah kami berkepentingan. Anak ini, yang bernama Mahendra sama sekali tidak kami kenal. Namun karena ia hadir juga disini, maka ia akan mendapat bagian juga, meskipun tidak sebanyak Mahisa Agni.”
Kembali dada Mahisa Agni dan Mahendra berdesir. Namun kata-kata itu ternyata telah membulatkan tekad mereka, untuk menghadapi setiap kemungkinan dengan sikap jantan. Karena itu. justru pada saat-saat yang tegang Mahisa Agni menggeram,
“Hem. Ternyata Kuda Sempana dan Setan itu sama sekali tidak berani menyelesaikan persoalan mereka sendiri.”
Telinga Kuda Sempana dan Cundaka yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu seperti disengat api mendengar kata-kata Mahisa Agni. Karena itu, maka sambil mengumpat Cundaka menjawab.
“Demit busuk. Ayo, sekarang kau masih juga mencoba menyombongkan dirimu? Hari ini adalah hari terakhirmu. Celakalah kau bertemu aku dipadang Karautan.”
“Inilah mereka,“ berkata Mahisa Agni memperkenalkan kawan-kawannya.
“Kenapa kalian bersembunyi?” bertanya Mahendra.
Ketiganya tunduk tersipu-sipu. Namun kemudian Sinung Sari menjawab, “Mahisa Agni menyuruh kami bersembunyi.”
“Oh,“ desis Mahendra sambil tersenyum, “benar begitu?”
Mahisa Agni pun tersenyum pula. jawabnya, “Ya. Akulah yang menyuruh mereka bersembunyi, meskipun sama sekali tidak mereka kehendaki, sebab aku ingin menghindari persoalan yang dapat timbul kemudian, seandainya yang datang bukan kawan sendiri. Persoalan yang mungkin tidak ada gunanya, selain hanya untuk memenuhi kesenangan mereka bertiga. Bukan begitu Sinung Sari?”
Seandainya terlihat oleh mereka, maka wajah Sinung Sari menjadi kemerah-merahan. Ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan Mahisa Agni itu, dan bahkan kepalanya menjadi semakin tunduk dalam-dalam. Mahisa Agni dan Mahendra tidak dapat menahan senyum mereka. Dari Ken Arok, Mahendra telah mendengar ceritera tentang ketiga kawan Mahisa Agni itu. Karena itu serba sedikit ia dapat mengetahui sifat-sifat mereka. Ketika Sinung Sari sama sekali tidak menjawab, dan bahkan dengan perasaan malu ia berkisar ke samping, maka berkatalah Mahisa Agni,
“Mari, Mahendra, duduklah.”
Mereka itu pun kemudian duduk melingkar di atas tanah yang berdebu. Di sana-sini rumput liar tumbuh dengan lebatnya. Sesaat malam menjadi hening, sehening padang yang tidak berpenghuni. Sayup-sayup di kejauhan masih terdengar suara burung kedasih menggetarkan sepi malam.
“Mahendra,“ terdengar suara Mahisa Agni kemudian, “apakah kau juga ingin menjadi hantu padang Karautan?”
Mahendra mengangkat wajahnya. Sekilas tampak senyumnya. menggerakkan bibirnya. “Sebetulnya,” sahutnya, “tetapi aku tidak tahan dingin, karena itu maksud itu aku urungkan.”
“Lalu apakah keperluanmu berada dipadang ini?” bertanya Mahisa Agni.
“Kakang Witantra menyuruhku datang kemari, setelah pagi-pagi tadi kami bertemu dengan Ken Arok.”
“Apa katanya?”
“Ken Arok melihat hantu padang Karautan saling berkelahi.” Keduanya tertawa pendek. Lalu Mahendra meneruskan, “Tetapi kakang Witantra tidak tertarik kepada hantu-hantu itu. Ia lebih tertarik pada ceritera Ken Arok yang lain”
“Ceritera yang manakah itu?”
“Mahisa Agni,“ berkata Mahendra dengan nada yang lain. Tampaknya kini ia mulai bersungguh-sungguh, “Apakah benar Ken Arok telah mengatakan kepadamu tentang adikmu itu?” Mahisa Agni mengangguk. “Bahwa Akuwu Tunggul Ametung menghendakinya?. Tetapi kenapa kau tidak mau menerimanya seandainya Akuwu itu akan datang kepadamu untuk mewakili ayah gadis itu.”
Mahisa Agni kini menggelengkan kepalanya. Perlahan-lahan ia menjawab, “Tidak, tidak perlu. Gadis itu dibawa dengan cara yang kasar. Biarlah cara itu dilakukan untuk seterusnya.”
“Tetapi yang melakukan itu adalah Kuda Sempana.”
“Bukankah Akuwu Tunggul Ametung bersamanya pada waktu itu?”
Mahendra terdiam sesaat. Jawaban Mahisa Agni itu dapat dimengertinya. Luka hatinya pada saat ia kehilangan adiknya ternyata terlampau parah, sehingga setiap sentuhan padanya, masih juga akan terasa betapa sakitnya. Mahisa Agni sendiri kemudian menundukkan kepalanya. Sakit di hatinya itu jauh lebih parah dari yang disangka oleh Mahendra. Meskipun demikian, sama sekali tidak terucapkan kepada siapapun juga. Yang dapat mengetahui, apa sebenarnya yang mencengkam jantungnya, hanyalah emban tua, pemomong Ken Dedes, yang tidak lain adalah ibunya sendiri dan gurunya yang tua, ayah Ken Dedes.
Sesaat mereka duduk berdiam diri. Gelap malam semakin lama menjadi semakin dekat dan bintang-gemintang di langit yang biru bertebaran dari ujung ke ujung. Terasa udara menjadi semakin dingin sampai menggigit tulang.
Dalam keheningan itu, kemudian terdengar Mahendra berkata, “Agni. Aku tahu betapa hatimu tersinggung karena sikap Kuda Sempana yang pada saat itu datang dalam lindungan Akuwu Tumapel. Tetapi menurut kakang Witantra, Akuwu Tunggul Ametung menjadi kecewa sedalam-dalamnya terhadap perbuatannya, dan bahkan atas nama Akuwu, kakang Witantra telah berhasil memisahkan Ken Dedes daripada Kuda Sempana. Bahkan kemudian, setelah Akuwu Tunggul Ametung mendengar bahwa Wiraprana telah terbunuh, jatuhlah perasaan ibanya yang tulus kepada Ken Dedes.”
Mahendra berhenti sesaat seolah-olah ia menunggu katanya itu menghunjam ke pusat jantung Mahisa Agni. Namun masih saja dilihatnya Mahisa Agni menunduk. Maka berkatalah ia seterusnya,
“Agni. Secara jujur aku katakan, bahwa aku pun kecewa melihat Ken Dedes akan menjadi seorang permaisuri, sebab bagiku belum ada seorang gadis yang lain yang mampu menyentuh hatiku. Namun adalah lebih baik baginya, bagi gadis itu sendiri, apabila ia akan dapat menemukan ketenteraman dan kebahagiaan sebagai permaisuri Akuwu Tunggul Ametung.”
“Hem,“ Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali, sedalam luka yang menusuk ke dalam jantungnya. Tetapi ia belum menjawab. Dibiarkannya Mahendra berkata terus,
“Agni, Akuwu telah menetapkan hari perkawinannya. Karena itu, atas namanya kakang Witantra mengharap kau akan dapat menerimanya, mewakili ayahmu menyerahkan Ken Dedes kepada Akuwu Tunggul Ametung.”
Mahendra menatap wajah Mahisa Agni dalam-dalam. Sesaat ia menunggu, apakah yang akan dikatakan oleh Mahisa Agni itu. Tetapi dadanya berdesir ketika ia melihat Mahisa Agni menggelengkan kepalanya,
“Tak ada gunanya Mahendra. Akuwu telah mengambil keputusan. Mungkin Ken Dedes telah menerima lamarannya pula. Karena itu, biarlah mereka memutuskan kehendak mereka sendiri. Mereka telah cukup dewasa.”
“Tetapi itu tidak lajim, Agni.”
“Sejak permulaan peristiwa itu sudah berjalan tidak sewajarnya.”
Kini Mahendra lah yang menarik nafas dalam-dalam. Agaknya pendirian Mahisa Agni telah tidak mungkin dapat dirubahnya. Meskipun demikian ia masih mencobanya,
“Agni. Witantra minta dengan sangat kau merubah pendirianmu. Sebab dengan demikian, Ken Dedes akan merasa kau lepaskan seorang diri. Mungkin ia merasa bahwa kau tidak merestuinya.” Mahendra menjadi semakin kecewa ketika ia melihat Mahisa Agni menggeleng sekali lagi. “Kau tetap pada pendirianmu Agni?”
“Maaf Mahendra. Aku tidak dapat menerima Tunggal Ametung. Pembicaraan telah berlangsung tanpa aku. Biarlah persoalan itu selesai tanpa aku pula.”
“Agni. Kau terlalu perasa.”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Perkataan Mahendra itu tepat menyentuh hatinya. Tetapi ia tidak kuasa untuk mengatasi perasaannya. Sehingga dengan demikian kembali ia berdiam diri sambil menundukkan kepalanya. Tetapi Mahendra dengan itu telah dapat mengetahui, bahwa Mahisa Agni benar-benar tidak dapat memaafkan Kuda Sempana dan Akuwu Tunggul Ametung. Bahkan demikian sakit hatinya, sehingga ia sama sekali tidak mengingat lagi kepentingan gadis yang disangka adiknya.
“Agni,“ berkata Mahendra kemudian, “Perkawinan itu akan berlangsung segera. Aku mengharap kau sempat mempertimbangkan keputusanmu, supaya adikmu tidak seolah-olah sehelai daun kering yang diterbangkan angin. Ia tidak dapat menolak keinginan Akuwu, tetapi ia merasa diasingkan dari keluarganya.”
Mahisa Agni terdiam. Kepalanya masih ditundukkannya. Namun ia masih tidak mampu mengatasi perasaan sendiri. Kembali mereka terlempar ke dalam suasana sunyi. Masing-masing terbenam dalam pikiran sendiri. Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni pun mendengar percakapan itu dengan pertanyaan yang membelit hati. Kenapa Mahisa Agni menolak bertemu dengan Akuwu? Bukankah suatu kurnia tiada taranya, gadis sedesanya dapat menjadi seorang Permaisuri, dan gadis itu adalah saudara Mahisa Agni, meskipun kawan-kawannya tahu bahwa gadis itu adalah saudara angkatnya, karena Agni menjadi murid Empu Purwa. Tetapi mereka sama sekali tidak mau mencampuri persoalan yang tidak diketahui benar ujung pangkalnya. Mereka takut kalau-kalau dengan demikian mereka berbuat kesalahan.
Dalam kesenyapan itu tiba-tiba Mahisa Agni berkata, “Ah, lupakanlah semua itu Mahendra. Marilah kita berbicara tentang hal yang lain.” Mahisa Agni itu berhenti sejenak. Tiba-tiba ia berdiri sambil berkata lantang, “Lihat, disini aku akan membuat bendungan. Bendungan itu akan mengaliri tanah padang rumput ini, sehingga padang ini akan menjadi tanah persawahan.”
Mahendra pun memandang ke arah sungai yang ditunjuk oleh Mahisa Agni. Namun ia tidak dapat melepaskah persoalannya dengan tiba-tiba. Ia masih dicengkam oleh perasaan yang aneh tentang sikap Mahisa Agni terhadap Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu meskipun ia memandangi arus air yang gemercik di sampingnya, namun ia tidak segera menjawab kata-kata Mahisa Agni. Yang terdengar kemudian adalah suara Mahisa Agni,
“Mahendra, apabila kami telah berhasil mengangkat air, dan menyalurkannya ke dalam parit-parit yang akan kita buat pula, maka tanah ini akan menjadi tanah subur. Tidak kalah suburnya dengan tanah-tanah persawahan di Panawijen yang sekarang menjadi kering. Bahkan apabila air nanti cukup banyak, kami akan menyalurkannya pula ke tanah-tanah yang sekarang menjadi kering di Panawijen,“ Mahisa Agni berhenti sebentar, kemudian katanya melanjutkan, “Tetapi jarak untuk itu terlalu jauh.”
Ketika Mahisa Agni kemudian berpaling memandangi wajah Mahendra, maka Mahendra itu mengangguk kosong. Katanya, “Ya. Mudah-mudahan.”
Mahisa Agni pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berkata lagi. Kini ia berjalan perlahan-lahan mendekati air yang mengalir tanpa ada henti-hentinya. Berpuluh-puluh tahun bahkan mungkin telah beratus-ratus tahun. Tetapi Mahisa Agni itu terkejut ketika Mahendra berkata kepadanya,
“Mahisa Agni. Jadi bagaimana jawabmu yang harus aku sampaikan kepada kakang Witantra?”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Tetapi ia masih berdiri di pinggiran sungai. Bahkan ujung kakinya telah menyentuh air yang gemercik di bawah kakinya, mencerminkan bayangan bintang-bintang di langit. Berkilat-kilat dan bergetar karena arusnya.
“Maaf. Aku minta maaf kepada kakak seperguruanmu itu. Aku minta maaf kepada Akuwu Tunggul Ametung. Akuwu itu tidak perlu datang kepadaku. Katakanlah kepada Witantra agar disampaikannya kepada Akuwu, bahwa segala sesuatu tergantung kepada Ken Dedes sendiri. Kalau ia menghendakinya, maka biarlah dilakukannya apa yang baik untuknya.”
“Hem,“ Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia bertanya, “Tetapi bagaimana sikapmu secara jujur? Apakah kau berkenan di hati atau sebaliknya?”
Dada Mahisa Agni berdesir mendengar pertanyaan itu. Kemudian jawabnya, “Aku tidak dapat memandang persoalan ini dengan sejujur hatiku. Persoalan ini sudah terlanjur masuk ke dalam keadaan yang tidak aku kehendaki.”
“Mungkin ada soal-soal yang dapat dibicarakan, dicari kemungkinan yang dapat memberimu kepuasan.”
Mahisa Agni itu tiba-tiba menggelengkan kepalanya. Tetapi kemudian terdengar giginya gemeretak. Tiba-tiba sekali lagi ia berkata lantang, “Mahendra. Jangan kau risaukan lagi persoalan itu. Lihat. Lihat arus sungai ini. Cukup besar dan cukup kuat untuk mengaliri padang ini. Bagaimana pendapatmu? Apakah kau melihat pula kemungkinan itu,” tiba-tiba suaranya menurun, “Maaf jangan kau singgung lagi tentang adikku itu. Biarlah ia menentukan jalannya sendiri. Aku akan selalu merestuinya. Tetapi bagaimana dengan rencanaku membuat bendungan disini?”
Sekali lagi Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Mahisa Agni itu benar-benar sudah tidak mau lagi diajaknya untuk membicarakan masalah adiknya dan Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu maka ia tidak mau bertanya lagi, sebab dengan demikian akan dapat menyinggung perasaan anak muda perasa itu. Bahkan Mahendra itu pun kemudian berdiri dan melangkah maju mendekati Mahisa Agni. diamat-amatinya sungai yang mengalir dalam gelap malam itu.
Mahendra itu terkejut ketika tanpa disangka-sangkanya Mahisa Agni menepuk punggungnya sambil berkata, “He, bagaimana? Bukankah tempat ini akan menjadi tempat yang sangat baik untuk membangun bendungan?”
Dengan serta merta, diluar sadarnya Mahendra menjawab, “Ya. Baik. Tempat ini baik sekali untuk membuat bendungan.”
Mahisa Agni tertawa masam. Ia sadar bahwa jawaban Mahendra itu demikian saja meluncur dari bibirnya. Tetapi Mahisa Agni tidak mendesaknya lagi. Ketika kemudian mereka terdiam sesaat, terdengar suara gemercik air itu menjadi semakin keras. Di bawah mereka, sayup-sayup terdengar gemerajak air jeram. Bahkan apabila angin mengalir semakin keras, maka suara jeram-jeram itu pun terbawa pula ke telinga Mahisa Agni, Mahendra, dan ketiga kawan-kawannya, semakin keras pula. Namun dalam pada itu, ternyata di dalam dada Mahisa Agni terdengar suara yang jauh lebih riuh lagi dari suara arus sungai itu dan bahkan lebih gemuruh dari suara gerojogan jeram-jeram di sebelah. Untuk menindas kegelisahannya tiba-tiba Mahisa Agni berkata.
“He, Mahendra, darimana kau tahu bahwa aku berada di tempat ini?”
Mahendra mengerutkan keningnya. Dengan segan ia menjawab pendek, “Dari Ken Arok.”
“Aku bertemu dengan Ken Arok tidak disini.”
“Kau menelusuri sungai ini,” sahut Mahendra, “aku pun berbuat demikian menurut petunjuk Ken Arok.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi suara di dalam dadanya masih saja berdesingan. Sehingga kembali ia mencoba melepaskan tekanan perasaan itu,
“Kenapa kau berjalan sendiri? Dimana saudara seperguruanmu yang nakal itu, Kebo Ijo?”
“Ia kini bekerja di istana.”
“He, apakah yang dikerjakannya?”
“Seperti kakang Witantra. Baru beberapa hari atas ajakan kakang Witantra, supaya ia tidak berkeliaran saja sepanjang jalan sambil mengganggu gadis-gadis.”
“Bagus. Itu lebih baik baginya,” sahut Mahisa Agni.
Tetapi Mahendra tidak berkata apa-apalagi, sehingga kembali suasana menjadi kaku dan sepi. Kembali suara air gemericik itu menyentuh-nyentuh sepinya malam. Namun tiba-tiba Mahisa Agni dan Mahendra mendengar suara yang lain-lain. Bukan suara gemericik air, dan bukan pula suara jeram-jeram di sebelah. Suara itu semakin lama menjadi semakin jelas … semakin jelas.
Sesaat Mahendra dan Mahisa Agni saling berpandangan. Hampir bersamaan pula mereka berpaling memandangi ketiga kawan Mahisa Agni yang duduk membeku memeluk lutut-lutut mereka. Bersamaan pula mereka segera mendapat kesimpulan, bahwa bukan mereka bertiga itulah yang sedang berbisik-bisik. Tetapi pasti orang lain. Karena itu, maka dengan matanya Mahisa Agni memberi isyarat kepada Mahendra, dan Mahendra pun segera menangkap maksudnya.
Tanpa berkata sepatah kata pun mereka kemudian berjalan kembali ke samping kawannya. Namun mereka tidak segera duduk bersama mereka, bahkan kemudian Mahisa Agni dan Mahendra itu pun berdiri berhadapan, sehingga mereka masing-masing dapat melihat, apa yang ada di belakang mereka sebelah menyebelah. Sejenak mereka tidak lagi mendengar apapun. Suara berbisik itu seakan-akan lenyap. Dengan demikian mereka mendapat kesimpulan, bahwa suara itu berada lebih dekat pada tempat mereka berdiri semula, atau orang-orang yang sedang berbisik-bisik itu kini telah berdiam diri.
Tetapi Mahisa Agni dan Mahendra tidak kehilangan kewaspadaan. Segera mereka mempertajam pendengaran mereka, untuk mencoba menangkap setiap suara yang betapa pun lemahnya, menyentuh telinga mereka. Dan sejenak kemudian kembali mereka mendengar suara itu perlahan-lahan. Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara tertawa yang menggetarkan udara malam.
Mahisa Agni dan Mahendra segera menyadari bahaya yang datang. Apalagi ketiga kawan-kawan Mahisa Agni. Tubuh mereka tiba-tiba menggigil seperti orang kedinginan. Namun mereka sama sekali tidak berani beranjak dari tempat mereka masing-masing, sebab mereka tidak melihat siapakah yang sedang tertawa menyakitkan telinga itu.
“Orang itukah yang bernama Mahisa Agni,“ terdengar suara dari balik-balik gerumbul di pinggir sungai.
“Ya,“ jawab suara yang lain.
“Bagus. Aku ingin melihatnya dari dekat,“ berkata suara yang pertama.
Mahisa Agni segera memutar tubuhnya menghadap ke arah suara itu. Mahendra pun kemudian melangkah maju, dan tanpa sesadarnya tangannya telah meraba hulu pedangnya. Sejenak kemudian mereka melihat tiga orang yang muncul dari balik gerumbul. Seorang tua bertongkat hampir sepanjang tubuhnya. Seorang lagi anak muda yang berpakaian seperti pakaian pelayan dalam namun dalam keadaan yang kusut, yang segera mereka kenal, Kuda Sempana. Sedang di sampingnya masih ada lagi seorang yang lain.
Dada Mahisa Agni berdesir. Dugaannya ternyata terjadi. Seperti yang dicemaskan oleh ketiga kawan-kawannya itu, Kuda Sempana datang dengan kawan-kawannya. Dalam pada itu terdengar Mahendra berbisik,
“Kuda Sempana. Aku mendengar pula dari Ken Arok. apa yang telah dilakukan dipadang ini.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Hatinya yang sedang risau itu tiba-tiba seperti terbakar melihat kedatangan Kuda Sempana kembali. Anak muda itu adalah sumber dari segala bencana yang menimpa gurunya, Ken Dedes dan dirinya sendiri. Bahkan akibatnya telah menimpa Panawijen pula, sehingga malam ini ia terpaksa berada dipadang Karautan. Karena itu, maka Mahisa Agni itu tiba-tiba menggeretakkan giginya.
Tiga orang yang datang itu pun semakin lama menjadi semakin dekat. Orang yang bertongkat hampir sepanjang tubuhnya itu ternyata seorang yang telah lanjut usia. Janggutnya tidak seberapa panjang, namun dalam kelam malam, Mahisa Agni dapat membedakannya, bahwa janggut itu telah mulai memutih. Tetapi Mahisa Agni lebih terkejut lagi ketika kemudian dilihatnya kawan Kuda Sempana yang seorang lagi. Ternyata orang itu pernah dikenalnya.
Orang itu adalah saudara seperguruan Kuda Sempana yang pernah bertempur dengannya di sebuah padukuhan di kaki Gunung Semeru. Pedukuhan Kajar. Dan orang itulah yang dahulu pernah dikenalnya dengan nama Bahu Reksa Kali Elo. Kini orang yang menyimpan dendam di hatinya itu datang kembali kepadanya. Dahulu orang itu pernah berkata kepadanya, bahwa ia pada suatu saat akan menebus kekalahannya. Kini ternyata orang itu benar-benar datang. Bukan seorang diri, namun bersama-sama dengan orang lain yang menyimpan dendam pula kepadanya, sebagaimana ia mendendamnya, Kuda Sempana.
Tanpa disadarinya Mahisa Agni berpaling. Dipandanginya wajah Mahendra yang tegang. Tangannya masih melekat di hulu pedangnya. Namun Mahisa Agni tidak dapat menangkap kata hati anak muda itu. Apakah yang kira-kira akan dilakukannya, seandainya ia terlibat dalam perkelahian yang seru dan bahkan ia harus melawan orang-orang yang datang itu sekaligus. Apalagi ketika kemudian Mahisa Agni mencoba menduga siapakah orang tua yang berjanggut putih jarang-jarang itu? Apakah orang itu guru mereka? Guru Kuda Sempana dan Bahu Reksa Kali Elo itu?.
Ketiga orang itu pun kemudian berhenti beberapa langkah dihadapan Mahisa Agni dan Mahendra. Mereka memandangi Mahisa Agni seperti memandangi hantu. Namun kemudian terdengar orang tua itu bertanya,
“Bukankah yang ini yang bernama Mahisa Agni itu?”
Kuda Sempana mengangguk. Jawabnya, “Ya. Itulah.”
Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali-sekali dipandanginya pula Mahendra, namun ia tidak berkata apapun, tentang anak muda itu. Yang kemudian berkata adalah Bahu Reksa Kali Elo. Suaranya terdengar parau diantara suara tertawanya yang menyakitkan hati,
“He, Mahisa Agni. Apakah kau masih ingat kepadaku?”
Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah itu tajam-tajam. Tiba-tiba ia menjadi muak melihat mukanya, karena itu maka sama sekali ia tidak bernafsu untuk menjawab pertanyaannya.
Karena Mahisa Agni masih saja berdiam diri, maka berkatalah orang itu pula, “Agni, jangan berpura-pura tidak mengenal aku lagi. Apakah kau takut aku membalas sakit hatiku saat itu?”
Warna merah menjalar ke wajah Mahisa Agni mendengar kata-kata orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu. Alangkah memuakkan. Apalagi ketika kemudian ia mendengar orang itu tertawa, “Ha. Kau sekarang menjadi pucat melihat kehadiranku disini? Tetapi sayang, semuanya sudah terlambat. Aku tidak dapat menarik diri lagi, sebab aku sudah bertekad untuk melepaskan dendamku.”
Gigi Mahisa Agni menjadi gemeretak karena kemarahan yang membakar dadanya. Namun justru karena itu, terasa mulutnya seakan-akan terbungkam. berjejal-jejal kata-kata yang akan diucapkan, namun tak sepatah kata pun yang dapat meloncat keluar selain suara gemeretak giginya. Yang menjawab kata-kata itu justru Mahendra. Anak itu menjadi muak juga melihat tampang orang yang berkata seenaknya seolah-olah ia sendiri orang laki-laki di kulit bumi ini.
“Jangan membual. Siapa kau?”
Orang itu berpaling. Ditatapnya wajah Mahendra. Kemudian masih sambil tertawa ia bertanya, “Siapa kau?”
Mahendra menggeram. Ia menjadi semakin tidak senang mendengar orang itu tidak menjawab pertanyaanya, malahan ia bertanya seperti kepada pelayannya. Karena itu maka Mahendra membentak,
“Jangan membadut. Jawab pertanyaanku, siapa kau?”
Orang itu mengerutkan keningnya. Sekali-sekali ia mengusap wajahnya yang kasar, “Kau ingin tahu namaku?“ katanya.
Mahendra tidak menjawab. Ditatapnya wajah itu tajam-tajam seakan-akan dari matanya memancar api yang langsung akan menjilat wajah itu. Orang itu berpaling kepada Kuda Sempana. Dengan kata-kata yang sangat menyakitkan hati ia berkata,
“Inikah cucurut yang bernama Ken Arok itu?”
Kuda Sempana menggeleng, “Bukan. Itu bukan Ken Arok.”
“O,“ orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu menganggukkan kepalanya. Bahkan orang tua yang bertongkat hampir sepanjang tubuhnya menganggukkan kepalanya pula, “Siapa orang ini? Apakah kau mengenalnya juga?”
“Namanya Mahendra,“ jawab Kuda Sempana.
“Nama yang bagus,“ sahut orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo. Kemudian kepada Mahendra ia bertanya, “Apakah kau saudara seperguruan Mahisa Agni?”
Mahendra itu pun kemudian menjadi sedemikian muaknya, sehingga ia tidak mau lagi menjawab pertanyaannya.
“He, apakah kau tidak mendengar?” Mahendra masih berdiam diri. “Kedua-duanya menjadi bisu,“ teriak orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo.
Namun baik Mahendra maupun Mahisa Agni sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Akhirnya orang yang bertongkat dan berjanggut putih, maju selangkah. Diamat-amatinya kedua anak muda itu dengan saksama. Kemudian katanya,
“Agaknya kalian telah saling mengenal. Kalian berdua dengan kedua anak ini. Tetapi baiklah aku memperkenalkan diriku, dan barangkali ada diantara kalian berdua yang belum mengenal salah seorang anak ini. Yang pertama adalah Kuda Sempana, agaknya kalian sudah mengenal. Sedang yang lain yang lebih tua ini bernama Cundaka. Tetapi ia lebih senang disebut Ki Bahu Reksa Kali Elo,“ orang tua itu berhenti sesaat. Sedang Mahisa Agni dan Mahendra masih berdiri dengan tegangnya.
Tanpa mereka sangka-sangka orang tua itu menunjuk kepada ketiga kawan Mahisa Agni yang benar-benar telah membeku, “kuda Sempana, itukah ketiga kawanmu yang kau katakan?”
“Ya,“ sahut Kuda Sempana.
Orang tua itu tertawa. Suaranya yang benar-benar menyakitkan telinga dan hati. “Pantas. Orang-orang yang demikian itulah yang malahan akan mati lebih dahulu. Orang-orang yang sangat memuakkan.”
Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni mendengar pula kata-kata itu. Dan sebelum sesuatu menyentuh tubuhnya, mereka sudah merasa, seakan-akan mereka telah benar-benar mati.
“Sekarang,“ berkata orang tua itu kepada Mahisa Agni dan Mahendra, “kalian pasti ingin mengenal aku bukan? Nah, sebut saja aku dengan nama Empu Sada. Ya, itulah namaku.”
Dada Mahisa Agni dan Mahendra menjadi berdebar-debar. Orang ini agaknya mempunyai kelebihan dari Kuda Sempana dan Cundaka yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo. Mungkin Kuda Sempana sengaja membawanya untuk melepaskan dendamnya kepada Mahisa Agni. Bahkan mungkin pula orang ini adalah gurunya. Dalam derap jantungnya yang semakin cepat, Mahisa Agni dan Mahendra mendengar orang itu berkata lebih lanjut,
“Ketahuilah, akulah guru kedua anak-anak ini.”
Darah Mahisa Agni dan Mahendra serasa berhenti mengalir mendengar penjelasan itu, meskipun mereka telah menyangka pula. Guru Kuda Sempana pasti bukan orang yang dapat disejajarkan dengan diri mereka. Karena itu, maka segera kecemasan merayap ke dalam jantung mereka. Apakah yang dapat mereka lakukan terhadap guru Kuda Sempana itu?. Namun Mahisa Agni dan Mahendra bukanlah laki-laki pengecut. Apapun yang akan dihadapinya, namun mereka tidak akan berlutut dan mohon belas kasihannya.
Kemudian terdengar orang itu berkata, “Nah Mahisa Agni, Kepadamulah kami berkepentingan. Anak ini, yang bernama Mahendra sama sekali tidak kami kenal. Namun karena ia hadir juga disini, maka ia akan mendapat bagian juga, meskipun tidak sebanyak Mahisa Agni.”
Kembali dada Mahisa Agni dan Mahendra berdesir. Namun kata-kata itu ternyata telah membulatkan tekad mereka, untuk menghadapi setiap kemungkinan dengan sikap jantan. Karena itu. justru pada saat-saat yang tegang Mahisa Agni menggeram,
“Hem. Ternyata Kuda Sempana dan Setan itu sama sekali tidak berani menyelesaikan persoalan mereka sendiri.”
Telinga Kuda Sempana dan Cundaka yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu seperti disengat api mendengar kata-kata Mahisa Agni. Karena itu, maka sambil mengumpat Cundaka menjawab.
“Demit busuk. Ayo, sekarang kau masih juga mencoba menyombongkan dirimu? Hari ini adalah hari terakhirmu. Celakalah kau bertemu aku dipadang Karautan.”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar