MENU

Ads

Minggu, 22 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 070

“Jangan banyak bicara,“ potong Mahisa Agni, “apa maumu?”

Cundaka itu mengerutkan keningnya. Ia merasa bahwa ia pernah dikalahkan oleh Mahisa Agni. Sedang apa yang dicapainya selama ini, setelah ia berjanji untuk lain kesempatan bertemu kembali, hampir tidak ada sama sekali. Ia lebih senang berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain mencari apa saja yang dapat dimilikinya. Bahkan ia telah pula kembali ke Kajar mencari Pasik. Tetapi Pasik telah menghilang. Karena itulah maka dendamnya kepada Mahisa Agni menjadi semakin bertambah-tambah Seandainya Pasik masih ada padanya, maka ia akan dapat dipergunakannya untuk memungut bulu bekti di daerah kaki Gunung Semeru yang jauh itu. Sedang apabila ia sendiri harus pergi ke sana setiap kali, maka rasanya ia tidak akan sanggup. Untuk sesaat Cundaka itu berdiam diri. Ditatapnya wajah Mahisa Agni dan Mahendra berganti-ganti. Kemudian ia berpaling kepada Kuda Sempana seolah-olah ia ingin mendapat pertimbangannya.

Kuda Sempana itu pun mengumpat di dalam hatinya. Ia membawa saudara seperguruannya untuk melepaskan sakit hatinya atas Mahisa Agni itu, seperti juga Cundaka ingin melepaskan sakit hatinya. Namun tiba-tiba di tempat itu hadir pula Mahendra. Karena itu maka ia pun menjadi ragu-ragu. Namun diantara mereka, hadir pula guru mereka. Empu Sada. Apakah gurunya itu akan membiarkan mereka dalam kebimbangan?.

Ternyata Empu Sada itu pun tersinggung pula mendengar kata-kata Mahisa Agni. Meskipun ia tidak menganggap murid-muridnya sebagai saluran cita-citanya, bahkan murid-muridnya baginya tidak lebih dari sapi perahan untuk mendapatkan kekayaan, namun ketika ia langsung melihat dihadapannya, muridnya seakan-akan menjadi kecut, mau tidak mau harga diri perguruan Empu Sada pun tidak dapat membiarkannya. Sejenak kemudian ketika kedua muridnya seakan-akan terdiam membeku, maka terdengar ia berkata,

“Kuda Sempana dan Cundaka. Bagaimana dengan rencana kalian. Bukankah kalian berdua ingin mengikat Mahisa Agni dan menarik di belakang kuda kalian ke arah yang berlawanan?”

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar pertanyaan itu. “Gila,” geramnya di dalam dadanya. Bahkan Mahendra pun terdengar menggeretakkan giginya.

“Ya guru,“ jawab Kuda Sempana, tetapi jawaban itu sama sekali kurang meyakinkan.

“Kenapa kau sekarang menjadi ragu-ragu,“ bertanya gurunya, “apakah kau menjadi iba setelah kau melihat wajahnya yang pucat seperti mayat itu.”

“Tidak,“ sahut Cundaka lantang, “aku akan melakukan rencanaku. Bukan begitu Kuda Sempana?”

Kuda Sempana mengangguk. Tetapi ia cukup mengenal Mahendra. Dan apakah Mahendra akan tetap berdiam diri?.

“Nah, apakah yang kalian tunggu?” bertanya gurunya.

Kuda Sempana menggeram. Ditatapnya wajah Mahendra yang tegang setegang wajahnya sendiri. Tiba-tiba terdengar Mahendra itu berkata, “Kuda Sempana. Dendammu itulah yang kelak pasti akan menghancurkan dirimu sendiri. Agaknya kau tidak mau melihat kenyataan.”

“Tutup mulutmu Mahendra. Kau tidak bersangkut paut dengan urusanku.”

“Kau pasti telah pernah mendengar pula apa yang terjadi atasku. Aku hampir gila seperti kau pula ketika aku tidak berhasil mendapat gadis Panawijen itu. Tetapi kemudian aku menyadari keadaan. Aku melihat kenyataan. Karena itu aku tidak menjadi gila seperti kau.”

“Persetan dengan bicaramu. Kalau kau ingin selamat tinggalkan tempat ini.”

“Jangan mengancam. Tak ada gunanya. Aku sudah dapat mengukur sampai dimana kemampuanmu Kuda Sempana. Kau tidak mampu mengalahkan Witantra. Meskipun aku adik seperguruannya, namun aku pasti akan mampu pula melawan ajimu Kala Bama yang tidak berarti itu.”

Wajah Kuda Sempana menjadi merah padam mendengar tantangan Mahendra itu. Namun bukan saja Mahendra tetapi juga Cundaka merasa tersinggung karena anggapan yang menyakitkan hati atas Kala Bama, ilmu yang dibanggakan. Apalagi guru Kuda Sempana itu. Betapapun juga, ia adalah sumber dari ilmu itu. Ia adalah guru yang telah menurunkan ilmu itu, sehingga kata-kata Mahendra itu benar-benar menyinggung perasaannya.

Karena itu maka orang yang bertongkat hampir sepanjang tubuhnya itu maju selangkah. Ditatapnya wajah Mahendra baik-baik. Kemudian katanya sambil memiringkan kepalanya,

“He, anak muda. Apakah kau sadari kata-katamu. Kau menghina perguruanku.”

“Sebaiknya kau tidak usah mencampuri urusan ini,“ sahut Mahendra dengan beraninya. Sebab ia merasa bahwa ia sudah terjerumus dalam pertentangan yang mendalam dengan perguruan Empu Sada, karena ia telah terlanjur menghinakan ilmunya. Tetapi sebagai laki-laki Mahendra tidak juga beranjak surut.

Tiba-tiba guru Kuda Sempana yang bernama Empu Sada itu tertawa. Suara tertawanya benar-benar menyakitkan telinga. Katanya, “He, Kuda Sempana dan Cundaka. Biarlah aku turut dalam permainan ini. Semula aku hanya ingin melihat anak muda yang bernama Mahisa Agni itu, tetapi tiba-tiba aku ingin menangkap kelinci dipadang ini. Kini, teruskan rencanamu. Kau berdua harus dapat menangkap Mahisa Agni. Ikat ia dengan kedua kuda kalian dan paculah ke arah yang berbeda. Aku akan mengikat anak ini pada kudaku, nanti aku akan melihatnya terkelupas seperti pisang.“ Kembali terdengar suara tertawa menyakitkan hati berkepanjangan memenuhi padang Karautan itu.

Terasa dada Mahisa Agni dan Mahendra bergetar mendengar kata-kata itu. Menurut penilaian Mahisa Agni dan Mahendra, maka Empu Sada itu pasti tidak sekedar bergurau dan mengancam. Menilik sikap dan nada tertawanya, ia pasti akan dapat melakukannya seperti yang dikatakannya. Mahisa Agni itu pun kemudian menduga, bahwa mereka pasti telah menyembunyikan kuda mereka, atau sengaja mereka menuntun kuda-kuda mereka, sebelum mereka menemukan tempatnya. Tetapi ia tidak sempat berpikir tentang kuda. Ia kini harus bersikap menghadapi hantu-hantu yang melampaui kebiadaban hantu Karautan yang pernah menggemparkan seluruh Tumapel.

Yang terdengar kemudian adalah sisa-sisa nada tertawa Empu Sada. Kemudian katanya pula, “Sebenarnya aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu Mahendra, bahwa dengan mengikutimu, ternyata kau telah menunjukkan kepada kami, dimana Mahisa Agni bersembunyi. Nah, karena kau telah menghina perguruanku, maka sekarang aku terpaksa berbuat sesuatu atasmu. Karena itu, supaya aku tidak merubah rencanaku dengan rencana lain yang lebih dahsyat, marilah ikuti aku ke tempat kudaku aku tambatkan, sebelum aku mengikutimu dengan berjalan kaki. Sebab menurut perhitunganku, Agni yang mimpi membuat bendungan itu pasti akan tertarik perhatiannya pada jeram-jeram ini. Ternyata perhitunganku benar, sehingga aku tidak menyimpan kuda itu terlampau jauh.”

Sekali lagi Mahendra menggeram. Kata-kata itu benar-benar merupakan penghinaan baginya. Karena itu jawabnya lantang, “Jangan banyak bicara tikus tua. Kalau kau mau membunuh Mahendra, bunuhlah dengan cara yang kau sukai. Tetapi jangan mencoba menakut-nakuti aku dengan segala macam kata-kata yang bagiku tak akan berarti.”

Empu Sada mengerutkan keningnya. Tampaklah alisnya yang tebal bergerak-gerak. Sekali-sekali ia mengerling kepada Mahisa Agni, namun kemudian kembali ditatapnya wajah Mahendra,

“Huh, kau terlampau kasar. Seharusnya kau mati dengan cara lain.” Empu Sada itu kini sudah tidak tertawa lagi. Bahkan kemudian katanya kasar kepada kedua muridnya, “Ayo, apa yang kalian tunggu. Tangkap Mahisa Agni. Biarlah anak ini aku selesaikan.”

Kedua murid Empu Sada itu terkejut, dan dada Mahisa Agni pun berdesir. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Ia harus melawan dengan segenap kekuatan yang ada padanya. Untuk menghadapi kedua lawannya Mahisa Agni tidak boleh kehilangan waktu. Sebab kecuali mereka hadir pula guru mereka, Empu Sada yang pasti memiliki banyak kelebihan dari kedua muridnya. Sudah tentu ia tidak akan dapat membiarkan Mahendra mengalami bencana pula. Karena itu, maka tidak ada pertimbangan lain, dari pada segera membinasakan lawan-lawannya.

Demikianlah maka diam-diam Mahisa Agni memusatkan segenap kekuatan lahir dan batinnya. Tanpa bersikap disusunnya getaran-getaran di dalam dadanya. Dialirkannya segenap kekuatannya ke dalam telapak tangannya. Sementara itu ia mendengar Cundaka tertawa. Meskipun tidak setajam suara gurunya namun suara itu pun benar-benar telah menyakitkan hati Mahisa Agni.

“Kuda Sempana,“ berkata orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu, “kali ini jangan lepas lagi. Kita akan dapat melepaskan dendam kita sekehendak hati. Kalau anak itu telah kami ikat kaki dan tangannya, maka kita akan mendapatkan permainan yang mengasyikkan.”

Kuda Sempana menganggukkan kepalanya. Tetapi mulut pada wajahnya yang selalu gelap itu sama sekali tidak tertawa. Tersenyum pun tidak. Namun ialah yang mendekat lebih dahulu sambil bergeremang,

“Agni. Beberapa kali kau menggagalkan rencanaku untuk dapat memiliki Ken Dedes. Kalau bukan kau yang selalu menghalangi, maka aku tidak akan mengalami nasib sejelek sekarang ini. Aku tidak perlu menyangkutkan kepentinganku dengan Akuwu yang ternyata curang. Ternyata Akuwu sendiri mempunyai pamrih atas gadis itu. Nah, jangan menyesal sekarang. Sudah jauh terlambat. Terimalah nasibmu yang jelek sebagaimana nasibku sendiri.”

Mahisa Agni sama sekali tidak menjawab. Ketika dengan sudut matanya, ia memandangi wajah Mahendra, dilihatnya wajah anak muda itu menjadi tegang. Ternyata Mahendra sama sekali tidak memperhatikan dirinya sendiri dan Empu Sada. Perhatiannya sama sekali tercurah pada Mahisa Agni. Sekali lagi terdengar gigi Mahisa Agni gemeretak. Ketika ia melihat Kuda Sempana bergerak, maka dituntaskannya segenap getaran di dalam dadanya. Kini ia tinggal memerlukan dorongan untuk melepaskan puncak kekuatan yang tersimpan di dalam dirinya, sebab ia sudah tidak melihat kemungkinan lain. Dengan demikian ia mengharap segera dapat mengurangi satu lawannya untuk kemudian menghadapi lawan yang jauh lebih kuat dari padanya.

Meskipun sesaat Mahisa Agni menjadi bimbang untuk dengan tiba-tiba saja mempergunakan puncak ilmu pada gerak yang pertama, namun diamatinya perjuangannya yang akan menjadi jauh lebih berat dari setiap perjuangan yang pernah dilakukan. Melawan Empu Sada.

Kuda Sempana dan Cundaka pun kemudian berjalan semakin dekat. Kedua wajah itu bagaikan bumi dan langit. Kuda Sempana memandang Mahisa Agni dengan penuh dendam dan gejolak kemarahan, sedang orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu masih saja tertawa penuh hinaan. Namun keduanya bagaikan wajah-wajah hantu yang haus melihat maut. Tetapi tiba-tiba Kuda Sempana dan Cundaka tertegun. Sesaat mereka justru diam mematung. Baru kemudian disadarinya, bahwa bahaya maut justru telah mengancam mereka.

Dalam gerak yang cepat secepat tatit, mereka melihat Mahisa Agni menyilangkan kedua tangannya di muka dadanya. Hanya sesaat sebagai unsur daya penggerak dan pelontar kekuatannya. Sesaat kemudian, anak muda itu telah meloncat dengan dahsyatnya sambil mengayunkan tangannya dalam gerak pelepasan kekuatan puncaknya, Aji Gundala Sasra, mengarah kepala Kuda Sempana.

Bukan main terkejut Kuda Sempana dan Cundaka. Loncatan itu sedemikian cepatnya, sehingga sama sekali tak memberi mereka waktu untuk berbuat sesuatu. Apalagi Kuda Sempana, Ia melihat Mahisa Agni seolah-olah anak panah yang meluncur seperti tatit menyambarnya. Ia tidak dapat berbuat sesuatu untuk menyelamatkan dirinya. Tak ada waktu baginya untuk membangunkan kekuatan Aji Kala Bama untuk mengimbangi kekuatan Aji lawannya. Meskipun seandainya kekuatan kedua aji itu kurang seimbang, namun ia pasti tidak akan dapat dilumatkan oleh lawannya. Tetapi ia tidak mempunyai kesempatan itu. Satu-satunya usaha yang dapat dilakukan adalah mengelak dan meloncat jauh-jauh. Namun Mahisa Agni pasti akan memburunya, dan kemudian memukul tengkuknya sehingga tulang lehernya akan terpatahkan.

Meskipun demikian, Kuda Sempana masih juga berusaha. Dengan kecepatan yang mungkin dilakukan ia melontar ke samping, untuk mencoba menghindarkan diri dari sambaran maut di tangan Mahisa Agni. Mahisa Agni melihat gerak lawannya. Cepat ia menggeliatkan dan sekali lagi menyentuh tanah dengan kakinya, sehingga geraknya pun berubah arah. Ia benar-benar ingin membinasakan Kuda Sempana untuk segera dapat melakukan perlawanannya atas lawan-lawannya yang tinggal dan yang jauh lebih kuat dari dirinya sendiri meskipun berdua dengan Mahendra.

Kuda Sempana terkejut melihat perubahan sikap Mahisa Agni. Sekali lagi ia melihat maut menyambarnya. Karena itu, maka sekali lagi ia terpaksa menghindar. Kuda Sempana itu kemudian menjatuhkan dirinya dan berguling beberapa kali menjauhi Mahisa Agni.

Namun yang sama sekali tidak mereka sangka-sangka. Ketika sekali lagi Mahisa Agni menjejakkan kakinya di tanah dan melontarkan diri mengejar Kuda Sempana, ia melihat sebuah bayangan yang melontar cepat sekali dihadapannya. Demikian cepatnya sehingga Mahisa Agni tidak sempat menghentikan dirinya sendiri. Dalam keadaan yang demikian itulah, maka Mahisa Agni dengan menghentakkan giginya, menyambar bayangan itu dengan telapak tangannya. Telapak tangan yang telah dipenuhinya dengan kekuatan yang disebutnya Gundala Sasra.

Terjadilah suatu benturan yang dahsyat. Bayangan itu tergetar. Namun tetap tegak di tempatnya. Sedang Mahisa Agni sendiri terpental surut beberapa langkah. Terdengar tubuhnya terbanting jatuh di tanah. Dan terdengar pula ia mengeluh tertahan. Ternyata ayunan tangan Mahisa Agni itu telah membentur tubuh Empu Sada. Guru Kuda Sempana. Betapapun juga ia tidak dapat melihat muridnya dihancur lumatkan dihadapan hidungnya. Meskipun ia sekedar seorang guru upahan, yang mengajar muridnya bukan karena keyakinannya, namun hubungan yang telah terjalin sedemikian lamanya, antara dirinya dan muridnya itu, telah mendorongnya untuk mencoba menyelamatkannya.

Ketika ia melihat Mahisa Agni berdiri saja seperti patung melihat wajahnya yang tegang, melihat cahaya matanya yang bergetar dan dadanya yang menggelombang, maka Empu Sada yang sudah kenyang melihat hitam putihnya berbagai macam ilmu, segera menyadari bahaya yang sedang disusun oleh anak muda itu. Karena itu maka ia tidak melepaskan kesiagaan seandainya muridnya menjadi lengah. Dan ternyata hal itu terjadi. Muridnya hampir saja dapat dibinasakan oleh anak muda yang akan ditangkapnya, karena itu, maka ia tidak dapat membiarkannya. Segera ia meloncat memotong gerakan Mahisa Agni yang sedang mengejar Kuda Sempana yang mencoba menghindari lawannya sambil berguling-guling di tanah.

Benturan yang terjadi itulah yang kemudian telah melemparkan Mahisa Agni. Betapa dahsyat ilmunya, namun ia masih belum mampu melawan keteguhan ilmu Empu Sada. Meskipun Empu Sada tidak menyerangnya, namun benturan itu telah menghentakkan kekuatan Mahisa Agni sendiri, sehingga ia tidak mampu untuk menjaga keseimbangannya. Bahkan dadanya seakan-akan diketuk oleh suatu kekuatan yang dahsyat, sehingga terasa sesaat nafasnya menjadi sesak.

Mahendra melihat apa yang terjadi itu dengan getaran yang dahsyat di dadanya. Sesaat ia hanya dapat mengikuti peristiwa yang terjadi sedemikian cepatnya itu dengan matanya. Tubuhnya sendiri seolah-olah terpaku sehingga untuk sesaat ia tetap berdiri saja mematung. Baru kemudian setelah ia melihat Mahisa Agni berguling di tanah disadarinya apa yang terjadi. Ia melihat bahaya tidak saja mengancam Mahisa Agni, tetapi akan mengancam dirinya sendiri. Karena itu, maka segera ia bersiap menghadapi segala kemungkinan. Ia ingin berbuat seperti Mahisa Agni. Langsung menyiapkan ilmu puncak di tangannya, sehingga setiap waktu ia akan dapat mempergunakannya. Meskipun ilmu itu belum dikuasai sesempurnanya, namun ia sudah mampu mempergunakan untuk menjaga dirinya.

Tetapi apa yang dilihatnya telah menggetarkan dadanya. Ketika ia sedang mencoba menyusun ilmunya, tiba-tiba ia mendengar Empu Sada tertawa dengan nada yang tinggi menyakitkan hati. Namun yang lebih mencemaskannya, adalah, tiba-tiba saja orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo, yang melihat Mahisa Agni terbanting di tanah dan belum mampu bangkit berdiri, segera ingin mempergunakan kesempatan itu. Dengan cepatnya ia meloncat menyerang Mahisa Agni yang masih terbaring di tanah.

Mahendra tidak dapat membiarkannya terjadi, cepat ia mengambil sikap. Ia mengurungkan niatnya, untuk membangkitkan ilmunya, tetapi segera iapun meloncat secepat Cundaka meloncat. Langsung dengan kakinya ia melontarkan serangan ke arah lambung Bahu Reksa Kali Elo. Cundaka terkejut melihat kesiagaan Mahendra. Karena itu, segera ia menggeliat, dan mencoba menghindari serangan itu. Dengan sebuah hentakan di tanah. Cundaka berhasil melontarkan ke samping menghindari serangan Mahendra yang meluncur secepat kilat di sampingnya.

Demikian kaki Mahendra berjejak di atas tanah, cepat-cepat ia memutar tubuhnya siap untuk menghadapi setiap kemungkinan. Tetapi ternyata Cundaka belum menyusulnya dengan sebuah serangan balasan. Meskipun Mahendra melihat sikap orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu sebagai suatu sikap yang berbahaya, namun ia masih berada di tempatnya.

Ternyata gurunya, Empu Sada lah yang telah mencegahnya. Kini yang terdengar adalah suara tertawanya yang melengking menyakitkan telinga. Diantara suara tertawanya terdengar ia berkata,

“Hem, anak-anak muda yang perkasa. Meskipun kalian tidak berasal dari satu perguruan, namun kalian ternyata memiliki kemampuan yang cukup untuk saling bekerja bersama-sama.”

Mahendra tidak menjawab. Ia menarik nafas ketika ia melihat Mahisa Agni telah berdiri. Sekali-sekali dikibaskannya tangannya dan diaturnya pernafasannya. Agaknya Mahisa Agni telah berhasil mengurangi perasaan sakitnya dan perlahan-lahan kekuatan yang ada di dalam tubuhnya telah mampu untuk bangkit kembali.

Empu Sada itu masih tertawa, meskipun semakin lama semakin perlahan-lahan. Kemudian katanya pula, “Anak-anak muda, aku telah mengenal berbagai macam ilmu dari berbagai macam perguruan. Meskipun aku tidak bergaul dengan orang-orang sakti itu, namun sedikit-sedikit aku dapat mengenal nama mereka. Ternyata kalian adalah murid dari orang-orang sakti yang disegani. Namun nasib kalian agaknya memang kurang baik. Kalian telah melakukan pekerjaan yang berbahaya di tempat yang berbahaya. Karena itu untuk menghilangkan setiap usaha pembalasan dendam, maka kalian harus binasa. Kalau kalian masih hidup, maka kalian akan menyampaikan peristiwa ini kepada guru-guru kalian sehingga mereka pasti tidak akan tinggal diam. Nah, mudah-mudahan guru-guru kalian tidak bermimpi buruk di rumah malam ini.”

Kemudian kepada ketiga anak-anak muda kawan Mahisa Agni yang seakan-akan membeku orang tua bertongkat hampir panjang tubuhnya itu berkata, “Sayang. Kalian pun harus mati untuk melenyapkan saksi-saksi yang akan mungkin menyebar luaskan berita tentang peristiwa ini. Tetapi jangan takut, kalian akan mati dengan cara yang baik. Kalian akan ditusuk langsung di arah jantung, sehingga kalian tidak akan mengalami derita. Kematian yang demikian itulah yang dicari oleh hampir setiap orang. Mati tanpa menderita. Tetapi tidak demikian dengan Mahisa Agni dan Mahendra. Mereka akan mati dengan cara yang lain sebab mereka telah berani melawan Empu Sada dan murid-muridnya.”

Suasana segera meningkat semakin tegang. Kini Mahisa Agni telah hampir menguasai segenap kekuatannya kembali. Dengan gigi gemeretak ia berdiri tegak di atas kedua kakinya yang renggang. Beberapa langkah dari padanya, Mahendra pun telah siap untuk menghadapi segenap kemungkinan.

“Nah, Kuda Sempana dan Cundaka. Jangan kau dekati Mahisa Agni dalam kewajaran. Siapkan aji Kala Bama. Hantamkan kepadanya bersama-sama apabila seorang-seorang dari pada kalian belum dapat memadainya. Ia akan jatuh sekali lagi. Tetapi ia cukup tahan untuk tidak mati. Nah, kemudian kalian akan dapat menangkapnya dan menariknya di belakang kuda-kuda kalian selagi ia masih hidup. Sedang yang satu ini serahkan kepadaku. Bukankah kalian tidak berurusan dengan anak muda yang bersama Mahendra ini?”

Tak seorang pun yang menyahut kata-kata itu. Tetapi mereka kemudian segera memusatkan kekuatan lahir dan batin. tanpa berjanji, keempat anak muda itu telah membangunkan kekuatan puncaknya. Kuda Sempana dan Cundaka telah menyusun Aji Kala Bama, Mahendra dengan Aji Bajra Pati seperti yang dimiliki oleh Witantra dan Mahisa Agni telah memperbaharui kekuatannya dalam ilmunya, Aji Gundala Sasra.

Dalam ketegangan yang memuncak itu kembali terdengar suara tertawa Empu Sada sambil berkata, “Lucu. Aku melihat kelucuan disini. Kalian, keempat anak-anak muda, sedang membangkitkan ilmu kepercayaan masing-masing. Sebentar lagi kekuatan-kekuatan itu telah siap berbenturan. Namun apakah gunanya kau melawan Mahisa Agni? Dan apa pula gunanya kau mempersiapkan permainan yang buruk itu. Mahendra? Melihat sikapnya, aku menyangka bahwa kau sedang mempersiapkan kekuatan yang dinamai oleh penyusunnya, Aji Bajra Pati. Kau sudah melihat Gundala Sasra tak berarti apa-apa bagiku. Karena itu, lebih baik kalian menyerah. Kalian akan segera diikat dan ditarik di belakang kuda. Bukankah semakin cepat semakin baik?”

“Tutup mulutmu,“ bentak Mahendra tanpa mengenal takut, justru setelah ia menyadari, bahwa ia tidak akan dapat menghindar lagi dari bahaya maut, “Ayo, jangan banyak bicara. Kalau aku tak mampu membunuhmu, biarlah aku mati dipadang Karautan.”

Orang tua itu menarik nafas. Pandangan matanya kini menjadi semakin buas, seperti burung elang yang melihat anak ayam di plataran. “Hem,“ desahnya, “kau memang berani. Tetapi kau sedang membuat dirimu sendiri sengsara.”

“Kau hanya mampu berbicara,“ potong Mahendra. “tetapi kau tidak mampu berbuat apa-apa.”

Orang tua itu agaknya menjadi marah sekali. Sebelum Mahendra dapat berbuat sesuatu, tiba-tiba ia merasa sebuah tamparan di pipinya. Tamparan tangan orang tua bertongkat itu. Gerak itu sedemikian cepatnya sehingga Mahendra seakan-akan tidak lebih dari sebuah patung. Terasa pipi Mahendra disengat oleh perasaan pedih. Ia terhuyung-huyung beberapa langkah ke samping. Dengan sekuat tenaga ia mencoba menguasai keseimbangannya.

“Anak gila,“ terdengar suara Empu Sada berat parau, “Nah, kau lihat apa yang dapat aku lakukan. Meskipun kau tengah membangun aji yang kau bangga-banggakan namun kau tidak berdaya melawan sebuah pukulan yang sangat sederhana. Apa katamu sekarang?”

Mahendra menggeram. Namun ia masih menjawab, “persetan. Kau mulai dengan curang sebelum aku bersiap.”

Dada Empu Sada benar-benar terbakar oleh jawaban itu. karena itu maka katanya, “Aku memang tidak mempunyai banyak waktu.”

Dalam pada itu, Mahisa Agni yang telah bersiap dengan Aji Gundala Sasra itu pun tidak dapat tinggal diam. Sekali lagi ia mengerling ke arah Kuda Sempana yang sedang dengan asyiknya melihat gurunya yang sedang marah itu. Mahisa Agni masih tetap dalam pendiriannya, bahwa ia harus segera dapat mengurangi jumlah lawan-lawannya. Tetapi anak muda itu mengumpat di dalam hatinya ketika ia mendengar Empu Sada memperingatkan muridnya,

“Kuda Sempana jangan tidur. Sekali lagi kau akan diserang oleh Gundala Sasra. Jangan kau lawan seorang diri. Lawanlah bersama-sama. Kalian akan mendapatkan Mahisa Agni itu seperti seonggok sampah. Nah, kau akan dapat berbuat apa saja atasnya.”

Kini tidak ada jalan lain bagi Mahisa Agni daripada melawan kedua orang itu bersama-sama. Karena itu, maka segera Mahisa Agni mengambil sikap. Ia harus berusaha mendapatkan arah, yang memungkinkan ia melawan kedua lawannya itu satu demi satu. Karena itu, maka ia harus menjadi semakin berhati-hati.

Dalam pada itu Empu Sada pun telah melangkah maju mendekati Mahendra. Perlahan-lahan sekali, seperti seekor kucing sedang menakut-nakuti seekor tikus yang kecil. Namun dalam pada itu ia masih berkata kepada murid-muridnya,

“Hati-hatilah. Meskipun musuhmu itu hanya seorang, tetapi ia cerdik seperti demit.”

Mahisa Agni menggeram. Kedua lawannya selalu mendapat peringatan dari gurunya. Namun ia tidak dapat mengeluh saja di dalam hatinya. Ia harus menghadapi bahaya itu, dan ia harus melawan sekuat tenaga yang ada di dalam dirinya. Ia sama sekali tidak akan dapat minta bantuan kepada ketiga kawan-kawannya yang sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu. Dan Mahisa Agni pun sama sekali tidak menyesali mereka. Sebab apapun yang mereka lakukan sama sekali akan tak berarti.

Ketika Kuda Sempana dan orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu melangkah semakin dekat, serta keduanya kemudian mengambil jarak yang cukup untuk memecah perhatian Mahisa Agni, maka terdengar suara Cundaka menggeram,

“Mampus kau kerbau gila. Sebut nama ayah bundamu. Tataplah langit untuk yang terakhir kalinya sebelum kau memeluk bumi. Supaya kau tidak menyesal di dalam alam lain kelak.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Ia benar-benar telah bersiap menghadapi sepasang kekuatan Aji Kala Bama. Tetapi ketika kedua lawannya itu melangkah semakin dekat, terjadilah sesuatu yang sama sekali diluar perhitungan mereka. Tiba-tiba meluncurlah sebuah batu dari arah ketiga kawan-kawan Mahisa Agni yang duduk membeku. Demikian kerasnya dan langsung mengenai dada Cundaka sehingga terdengar orang itu mengaduh pendek.

“Gila,“ ia mengumpat keras-keras, “he, kelinci betina. Apakah kau akan ikut campur dalam persoalan ini sehingga kau akan ikut aku ikat di belakang kudaku?”

Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni benar-benar telah membeku sehingga mereka sama sekali tidak dapat menjawab. Bahkan tubuh mereka menjadi semakin gemetar dan tulang-tulang mereka seperti dilolosi.

“Kalau sekali lagi kalian berbuat gila, maka kalianlah yang akan mengalami nasib yang paling mengerikan.”

Tak ada jawaban sama sekali. Ketiganya masih saja duduk seperti patung batu. Diam kaku. Empu Sada pun melihat sesuatu terbang dari arah ketiga anak-anak muda itu. Ia mengetahui pula, bahwa salah seorang muridnya telah terkena lemparan batu. Namun ia tidak melihat salah seorang dari ketiga anak-anak muda yang ketakutan itu bergerak. Karena itu, timbullah kecurigaannya, sehingga ia berkata,

“He, Cundaka, apakah kau dapat dikenainya?”

“Ya guru, batu sebesar telur merpati. Tepat mengenai dadaku. Alangkah sakitnya.”

“Batu sebesar telur merpati dapat membuat kau kesakitan selagi kau mateg Aji Kala Bama?”

“Ya guru.”

“Setan,“ geram Empu Sada. Kemudian kepada ketiga anak muda itu ia berteriak, “He, apabila ada diantara kalian seorang yang sakti, yang mampu melempar tanpa menggerakkan tangan, bahkan mampu menyakiti muridku, kenapa kalian atau salah satu dari kalian berpura-pura takut? Sungguh tidak jujur. Ayo, kalau salah satu dari kalian ternyata mampu berbuat demikian, sebutlah namamu dan tampillah ke dalam arena.”

Ketiga anak-anak muda kawan Mahisa Agni itu mendengar kata-kata Empu Sada. Namun mereka sama sekali tidak mengerti maksudnya, sehingga justru dada mereka seolah-olah telah tersobek-sobek oleh pedang di lambung Kuda Sempana, atau berlubang ditusuk tongkat orang tua itu.

Tetapi Empu Sada masih saja berkata kepada mereka. “Ayo, jangan curang. Jangan menyerang sambil bersembunyi dalam selubung ketakutan. Kalau salah seorang dari kalian tidak ada yang mengaku, maka kalian bertigalah yang akan aku binasakan dengan cara yang tidak pernah dapat kalian bayangkan. Sebab aku akan dapat memotong setiap anggauta badanmu perlahan-lahan, dari yang paling tidak berbahaya dan yang terakhir adalah lehermu. Ayo cepat katakan.”

Tubuh-tubuh itu kini benar-benar telah menjadi lemas. Demikian takutnya, sehingga dengan tangan gemetar mereka menutupi wajah-wajah mereka sendiri. Bahkan Jinan sudah menangis seperti kanak-kanak yang ditinggalkan ibunya seorang diri digelapnya malam.

“Ha,“ berkata Empu Sada lantang, “kau pura-pura menangis? Mungkin kaulah yang telah melakukan keajaiban itu. Melempar sedemikian kerasnya tanpa menggerakkan tanganmu. Kini kau pura-pura menangis melolong-lolong. Apakah kau akan menyerang muridku dengan Aji yang dapat kau lontarkan lewat lolonganmu?”

Jinan menjadi semakin ketakutan. Karena itu maka tangisnya menjadi semakin pedih. Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak berbuat apa-apa, tetapi suaranya tersekat di kerongkongannya karena ketakutan yang mencengkam dadanya.

Empu Sada yang marah bukan buatan itu tidak sabar lagi. Selangkah ia mendekati ketiga anak-anak muda itu. Namun kini, bukan Cundaka yang akan terkena lemparan batu, tetapi batu itu mengarah kepada dirinya. Namun ia adalah seorang yang cukup sakti, sehingga ketika butiran batu itu menyambarnya, ia masih mampu memukulnya dengan tongkatnya. Namun ketika tongkatnya membentur batu kecil itu, Empu Sada terkejut dan mengumpat,

“He. Demit buruk. Siapa kau?”

Koleksi : Ki Ismoyo
Retype : Ki Raharga
Proofing : Ki Raharga
Recheck/Editing: Ki Sunda






OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar