PdLS-15
TERNYATA SENTUHAN batu kecil itu benar-benar tidak diduganya. Tenaga dorongnya telah mampu menggetarkan tongkatnya. Karena itu, maka dengan demikian segera Empu Sada mengetahui bahwa kekuatan orang yang melemparkan batu itu benar-benar kekuatan yang tidak dapat dianggap ringan. Kini ia telah dapat meyakini, bahwa sebenarnya memang bukan salah seorang anak-anak Panawijen itulah yang melemparkan batu itu. Ketika ia sedang menghadap kepada ketiga anak itu dan memandangi mereka, maka dilihatnya batu itu melontar dari gerumbul di belakang anak-anak yang membeku itu. Dengan demikian maka segera Empu Sada mengetahuinya, bahwa seseorang telah bersembunyi di balik gerumbul itu.
Empu Sada itu pun kini tidak mau melangkah maju lagi. Seseorang yang melampaui kekuatan kebanyakan orang sedang menunggunya. Mungkin suatu ketika orang yang bersembunyi itu tidak melemparnya dengan batu, tetapi suatu kali dapat terjadi orang itu melempar dengan sebilah pisau, atau dengan jarum-jarum baja yang runcing sebangsa paser yang kecil. Yang dapat dilakukan oleh orang tua itu kemudian adalah berteriak-teriak lantang,
“He, pengecut yang bersembunyi di balik gerumbul. Ayo keluarlah. Jangan menyerang sambil bersembunyi.”
Namun suaranya itu lepas saja tanpa ada yang menyahut. Gemanya mengelentang memukul tebing-tebing perbukitan dan menyelusur dinding sungai, mengatasi desir air terjun di bawah jeram-jeram. Sesaat Empu Sada itu terdiam. Dipandanginya gerumbul itu dengan tajamnya, seakan-akan sorot matanya ingin menembus rimbunnya daun-daun perdu di dalam alam yang semakin gelap. Tetapi ia tidak melihat sesuatu. Empu Sada sama sekali tidak dapat menangkap tanda-tanda yang menunjukkan kepadanya, siapa dan berapa orang yang bersembunyi di belakang gerumbul itu. Namun dengan demikian, menilik cara orang itu mengatur pernafasannya, cara orang itu sampai ke sana dan bersembunyi di sana tanpa diketahuinya, maka pasti orang itu bukan orang kebanyakan.
Agak di belakang Empu Sada sebelah menyebelah, berdiri keempat anak-anak muda dengan tegangnya. Mahisa Agni, Mahendra, Kuda Sempana dan Cundaka. Mereka terpaku di tempatnya seperti sebatang tonggak yang kokoh. Namun perhatian mereka pun sama sekali terampas oleh peristiwa yang mendebarkan itu. Lebih-lebih Kuda Sempana dan Cundaka. Mereka menyangka, bahkan hampir pasti, bahwa orang yang bersembunyi itu, akan berdiri di pihak Mahisa Agni dan Mahendra. Ternyata ia telah mencoba menghalangi Cundaka dan Empu Sada sendiri.
Meskipun demikian, kedua orang itu terlampau percaya kepada gurunya. Gurunya adalah seorang sakti yang pilih tanding. Seorang yang disegani oleh orang-orang sakti yang lain, sehingga tidak banyak diantara mereka yang sanggup bergaul, bersaing dan bertemu dalam ilmu dengan gurunya.
Sesaat padang rumput itu terbenam dalam suasana yang sunyi. Angin malam yang lembut mengalir mengusap tubuh-tubuh yang kaku tegang, menggetarkan dedaunan dan membuat suara yang sayu. Sekali-sekali suara jeram-jeram yang dihanyutkan oleh silirnya angin terdengar gemerasak beruntun susul menyusul. Namun kemudian semakin lama menjadi seolah-olah semakin jauh.
Empu Sada masih berdiri dengan tegangnya. Tongkatnya siap untuk menghadapi setiap kemungkinan, ia menyangka bahwa orang yang bersembunyi adalah seorang yang sakti. Namun tidak berani beradu dada dengannya, sehingga orang itu hanya dapat melawannya dari tempat yang tersembunyi. Kemarahan Empu Sada semakin lama menjadi semakin memuncak pula. Ia tidak sabar lagi menunggu keadaan berkembang semakin jelas. Karena itu, maka tiba-tiba ia berteriak,
“He, Kuda Sempana dan Cundaka. Jangan hiraukan kelinci yang bersembunyi di dalam semak-semak itu. Ayo, selesaikan pekerjaanmu, mengikat Mahisa Agni di belakang punggung kudamu. Biarlah orang ini berada di tempat persembunyiannya sampai kita meninggalkan tempat ini.”
Kuda Sempana dan orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu seolah-olah tersadar. Sekali mereka menghentakkan dirinya, maka kini mereka siap menghadapi lawannya. Mahisa Agni. Tetapi kembali mereka tertegun, karena tiba-tiba Mahendra berkata,
“Nah, Agni. Marilah kita melawan keduanya. Pilihlah olehmu, manakah yang lebih menarik perhatianmu satu diantara mereka.”
Mahisa Agni berpaling ke arah Mahendra sesaat. Cepat ia dapat menangkap maksudnya. Ia menganggukkan kepalanya dan berdesis di dalam hatinya,
“Mahendra cukup cerdik menanggapi keadaan.”
Namun dalam pada itu Empu Sada menggeretakkan giginya sambil berteriak, “He, Mahendra. Jangan turut campur. Biarlah mereka menyelesaikan persengketaan mereka sendiri.”
Sebelum Mahendra menjawab terdengar suara Mahisa Agni parau. “Dan kau biarkan Mahendra terlalu lama menunggu kau membunuhnya. Ia tidak cukup sabar. Biarlah salah seorang muridmu mewakilmu.
“Tidak,“ teriak Empu Sada, “aku sendiri akan membunuh Mahendra.”
“Silahkan,“ sahut Mahisa Agni pula, “tetapi agaknya kau lebih tertarik pada permainan baru itu.”
Sekali lagi Empu Sada menggeretakkan giginya. Kedua anak itu ternyata mampu mempergunakan kesempatan. Meskipun tak seorang pun diantara mereka yang mengetahui, siapakah yang berada di dalam semak-semak itu, tetapi mereka merasa bahwa orang yang berada di dalam semak-semak ini, tidak ingin melihat Mahisa Agni dan Mahendra mengalami nasib yang sangat buruk. Setidak-tidaknya orang itu ingin melihat persoalan ini berakhir dengan jujur. Tanpa ikut campurnya orang-orang luar seperti Empu Sada.
Meskipun demikian, Mahisa Agni dan Mahendra sendiri pun diliputi oleh kebimbangan dan keragu-raguan. Ia tidak tahu pasti, apa yang dikehendaki oleh orang yang bersembunyi itu. Yang dapat dilakukan kini hanyalah kemungkinan yang dapat menguntungkan saja dalam keadaan yang sangat berbahaya itu.
Sesaat Empu Sada berdiri termangu-mangu. Ingin ia segera meloncat mencekik Mahendra, namun sebagian perhatiannya terikat pada orang yang bersembunyi di dalam gerumbul itu. Kalau ia lengah, mungkin sebuah pisau dapat menembus lambungnya. Karena itu, yang terdengar kemudian orang tua itu mengutuk habis-habisan,
“Setan pengecut. Ayo keluarlah. Kalau tidak, maka aku segera akan membunuh Mahendra. Mungkin kau saudaranya atau gurunya sekali atau apa?”
Masih tak ada jawaban. Namun pertanyaan Empu Sada itu bahkan mengungkat dugaan Mahendra atas orang yang bersembunyi itu. Gurunya memang berada di Tumapel saat ini. Gurunya melihat kakak seperguruannya menyuruhnya pergi ke Padang Karautan. Gurunya mendengar pula, apa yang diceriterakan oleh Ken Arok kepada Witantra. Tetapi kembali Mahendra menghapus dugaannya itu. Gurunya tidak berkepentingan apa-apa dengan padang Karautan, dengan Mahisa Agni, Ken Dedes maupun Tunggul Ametung.
“Aku tidak peduli siapa yang bersembunyi itu,“ katanya di dalam hati, “tetapi aku akan mengucapkan terima kasih kepadanya seandainya aku masih tetap hidup dan dapat keluar dari padang ini, karena ia telah menyelamatkan aku dan Mahisa Agni.”
Namun kesenyapan padang itu kembali tersayat oleh suara Empu Sada, “Bagus. Kalau kau tidak menampakkan dirimu. Aku sudah kehabisan waktu. Tunggulah, aku akan memutar leher Mahendra sehingga ia tidak mampu lagi berbuat apa-apa. Aku ingin melihat tubuhnya terkelupas di belakang kudaku yang berlari kencang.”
Empu Sada itu pun dengan hati-hati melangkah surut. Ia ingin menjauhi gerumbul itu untuk kemudian meloncat mencekik Mahendra. Namun kembali ia mengumpat. Dengan sigapnya ia terpaksa menggerakkan tongkatnya memukul sebutir batu yang terbang ke arah dadanya.
“Gila. Gila.“ teriaknya, “ayo pengecut, jangan bersembunyi saja. Kalau kau tidak berani berhadapan muka dengan Empu Sada, jangan mengganggu. Pulang saja ke rumah. Ambil periuk, dan lebih baik menanak nasi daripada berada di medan.”
Empu Sada menunggu sesaat. Ia menjadi semakin gelisah ketika ia melihat Mahisa Agni ternyata telah mempersiapkan dirinya. Ia kini cukup yakin bahwa orang di gerumbul itu memang berusaha untuk mengikat Empu Sada, sehingga orang itu sama sekali tidak sempat mengganggu perkelahian anak-anak muda itu. Mahendra yang melihat Mahisa Agni bersiap, segera menyiapkan dirinya pula. Ia pun telah mendapat keyakinan seperti Mahisa Agni, sehingga dengan tenang, akan dihadapinya lawannya. Salah satu dari kedua murid Empu Sada itu.
Tetapi keduanya segera terganggu. Ternyata orang yang bersembunyi di dalam gerumbul itu tidak ingin bersembunyi terus. Sejenak kemudian terdengar suara tertawa lirih, dalam nada yang rendah.
“Hm,“ terdengar suara dari dalam gerumbul itu, “ternyata nyamuknya bukan main banyaknya, sehingga aku tidak betah tinggal di dalam gerumbul ini terlampau lama.”
Kembali terdengar gemeretak gigi Empu Sada. Ternyata orang itu sengaja menghinanya. Bukan karena dirinya, tetapi justru hanya karena digigit nyamuk, maka orang itu keluar dari persembunyiannya. Namun Empu Sada masih berdiam diri. Betapapun kemarahannya menyala di dalam dadanya, tetapi orang itu, yang bersembunyi di belakang gerumbul masih belum menampakkan diri, selain baru suaranya.
Bahkan kembali suara itu terdengar, “Bukan hanya nyamuk, tetapi semutnya pun banyak sekali. He Empu Sada, apakah kau membawa param untuk menghampiri gigitan semut ngangrang.”
“Gila, setan betina. Ayo jangan banyak bicara,“ bentak Empu Sada yang tidak dapat menahan kemarahannya, “ayo keluarlah dan marilah kita berhadapan sebagai orang-orang jantan.”
Kembali terdengar suara tertawa dalam nada yang rendah, “Jangan marah.“ terdengar jawaban, “baiklah aku keluar dari persembunyian ini.”
Sesaat kemudian Empu Sada membelalakkan matanya. Ia melihat daun-daun yang bergerak. Ternyata orang yang bersembunyi itu benar-benar akan meloncat keluar. Mahisa Agni, Mahendra, Kuda Sempana dan orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo, tertegun kaku. Pandangan mata mereka pun melekat pada daun-daun yang bergerak-gerak itu. Dengan hati yang berdebar-debar mereka menunggu, siapakah yang akan muncul dari dalamnya.
Tiba-tiba mereka melihat bayangan itu. Tidak meloncat dengan atau sigap melangkah dengan gagahnya. Tetapi bayangan itu perlahan-lahan menyibak dedaunan dan dengan langkah satu-satu maju menyusup diantara daun-daun dan ranting-ranting kecil.
Empu Sada benar-benar tidak sabar melihat orang itu. Dengan nada yang tinggi ia berteriak, “Cepat he siput tua. Aku tidak sabar menunggu kau merayap.”
“Jangan tergesa-gesa,“ sahut orang itu, “aku sudah tua, dan malam gelapnya bukan main.”
“Jangan mengada-ada. Kau mampu melemparkan batu sekeras itu. Kenapa kau tidak meloncat dan menepuk dada, inilah aku.”
“Tidak-tidak. Kalau aku menepuk dadaku sendiri aku akan terbatuk-batuk.”
“Kau benar-benar setan. Kau ingin mempengaruhi tanggapanku atasmu, supaya aku menjadi lengah. Pengecut,“ geram Empu Sada.
“Ia pun tidak. Bersiagalah, supaya kau tidak mati melawan aku. Tetapi jangan membentak-bentak. Biarlah aku berbuat sesuka hatiku.”
Dada Empu Sada serasa benar-benar telah menyala. Kini ia melihat bayangan itu telah melangkahkan kakinya, menerobos lembaran daun terakhir. Demikian orang itu tampak diluar gerumbul demikian terdengar Empu Sada berkata lantang,
“setan. Benar-benar Setan. Jadi kau yang telah mengganggu pekerjaanku. Kenapa tiba-tiba saja berada di tempat ini?”
Bukan saja Empu Sada yang terkejut melihat kehadiran orang itu, tetapi juga Mahisa Agni, Mahendra, Kuda Sempana dan Cundaka. Meskipun sebab dari kejutan itu berbeda-beda, namun sesaat mereka justru terpaku di tempatnya. Empu Sada terkejut karena tiba-tiba saja ia melihat orang yang sama sekali tak di sangkanya akan hadir di tempat itu. Sedang Mahisa Agni, Mahendra, Kuda Sempana dan Cundaka terkejut karena sama sekali belum pernah mengenal orang itu. Demikian orang itu ada diantara mereka, demikian orang itu telah memilih pihak. Orang itu sendiri berdiri sambil mengkibaskan pakaiannya. Sekali-sekali ia tersenyum dan kemudian katanya,
“Hm. Bukan main gatalnya. Nyamuk, semut dan segala macam serangga.”
“He Ki Sanak,” potong Empu Sada kemudian, “kenapa kau tiba-tiba saja berada di tempat ini?”
Orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Kebetulan saja aku berada di tempat ini. berhari-hari aku membayangi anak yang bernama Mahisa Agni. Aku mencarinya dan kini aku telah menemukannya.”
Dada Mahisa Agni berdesir mendengar jawaban itu. “Orang itu juga mencarinya. Siapa dan kenapa?”
Namun dalam pada itu terdengar Empu Sada berkata. “Untuk apa kau cari anak itu?”
“Seperti kau. Seperti apa yang akan kau lakukan atasnya.”
“He, apakah kau mempunyai kepentingan yang sedemikian penting dan menyangkut persoalan yang langsung menyinggung dirimu, sehingga kau berusaha merebutnya dari tangan muridku?”
“Ya,“ sahut orang itu, “lepaskan Mahisa Agni. Akulah yang akan menyelesaikannya.”
Mereka berdua sesaat berdiam diri. Empu Sada mengawasi orang itu dengan tajamnya. Namun sekali-sekali ia berpaling juga kepada Mahisa Agni dan kedua muridnya. Tetapi sesaat kemudian Empu Sada itu tertawa. Suaranya melengking tinggi menyakitkan telinga. Diantara suara tertawanya itu terdengar kata-katanya,
“Ha, Mahisa Agni. Nasibmu memang terlampau jelek. Agaknya kau sudah menyangka bahwa seseorang telah datang menolongmu. Tetapi keledai tua ini ternyata sedang mencarimu pula, karena kau telah berbuat dosa atasnya. Hem. Anak semuda kau ini telah mempunyai musuh di segala penjuru angin. Hanya orang-orang yang berwatak jail, suka mencampuri urusan orang lain seperti kau inilah, maka kau mempunyai musuh dimana-mana.”
“Nah, aku minta tinggalkan Mahisa Agni,“ berkata orang itu.
Namun sekali lagi terdengar Empu Sada tertawa, “Jangan mengigau. Aku tahu bahwa kau akan dapat melakukan apa saja yang kau kehendaki atasnya. Tetapi aku ingin memberi sekedar permintaan kepada kedua muridku. Mungkin kau ingin melihat permainan itu pula.”
“Permainan apa?”
“Apakah kau belum mendengar? Sejak tadi aku telah menyebut-nyebutnya.”
“Menariknya di belakang seekor kuda?”
“Ya.” Orang itu terdiam sesaat. Namun tiba-tiba ia menjawab, “Aku dapat juga melakukannya.”
Jawaban itu benar-benar menggetarkan dada Mahisa Agni. Ia belum pernah berbuat sesuatu atas orang itu. Ia belum pernah mempunyai persoalan apapun. Namun tiba-tiba orang itu datang membawa dendam kepada dirinya. Dada Mahisa Agni benar-benar digoncangkan oleh berbagai perasaan. Bingung, cemas dan beribu pertanyaan melingkar-lingkar. Ia sama sekali tidak mencemaska nasibnya kini. Ia sama sekali tidak gentar menghadapi apapun, apalagi setelah ia mendapat kesimpulan bahwa ia kini sedang menjelang harinya yang terakhir, namun ia merasa bingung dan cemas, bahwa ternyata ia telah menyalahi dan menumbuhkan dendam kepada orang lain atas dirinya tanpa disadarinya. Kalau demikian, maka alangkah rendah budinya. Alangkah bodohnya. Ia sama sekali tidak ingin membuat orang lain menjadi sakit hati, apalagi mendendamnya. Kini tiba-tiba ia berhadapan dengan orang semacam itu. Sakit hati dan mendendam.
Namun Mahisa Agni masih saja berdiam diri. Ia ingin mendengar apa saja yang akan dipercakapkan oleh Empu Sada. Mungkin dalam percakapan itu ia akan dapat menangkap, siapa dan apa saja yang menumbuhkan dendam itu kepadanya.
Kini yang terdengar adalah suara Empu Sada, “Aku ragu-ragu akan kata-katamu.”
“Kenapa?” sahut orang itu, “apakah kau ragu-ragu bahwa aku akan dapat menangkapnya hidup-hidup dan mengikatnya di belakang seekor kuda. Namun kini aku tidak sedang membawa kuda. Meskipun demikian kau tentu akan memberi kesempatan aku meminjam kudamu.”
“Tidak,“ sahut Empu Sada, “aku tidak ragu-ragu. Aku kenal kesaktianmu. Tetapi adalah bukan kebiasaanmu berbuat demikian. Selama ini kau selalu menentang tindakan-tindakan yang menyenangkan itu. Kau selalu menganggapnya sebagai suatu kebiadaban dan keganasan, sehingga kau menganggap orang-orang yang harus dijauhkan dari pergaulan. Nah, sekarang kau datang dan akan melakukan perbuatan yang serupa.”
“Khusus untuk anak itu,“ sahut orang itu.
Empu Sada tertawa terbahak-bahak, sehingga tongkatnya terguncang-guncang. Katanya, “Huh, ternyata sifatmu yang selama ini kau bangga-banggakan adalah hanya sekedar pulasan. Ternyata apabila kau sendiri langsung tersentuh perasaanmu, maka sifat-sifatmu yang asli itu terungkapkan. Kalau demikian, maka akulah yang lebih jujur dari padamu. Aku tidak pernah menyembunyikan segala macam sifat watak dan kesenanganku seperti kau. Dan lihat, muridku pun bukan hanya sekedar anak-anak Padesan. Kuda Sempana adalah seorang pelayan Dalam istana.”
“Jangan ribut,“ potong orang itu, “serahkan Mahisa Agni kepadaku.”
Empu Sada tidak segera menjawab. Sesaat ia masih dicengkam keraguan. Dikenalnya orang yang datang itu sebagai seorang yang selama ini menentang hampir segala perbuatannya. Meskipun mereka berdua berkawan sejak kecil, namun setelah mereka menempuh jalan hidup masing-masing, maka seakan-akan mereka berdua selalu bermusuhan meskipun tidak berterus terang.
Hampir setiap usaha Empu Sada bertentangan dengan selera orang itu. Sehingga setiap kali mereka pasti berselisih pendapat. Akhirnya mereka berdua dipisahkan oleh keadaan. Masing-masing menuruti jalannya sendiri-sendiri. Hanya kadang-kadang mereka masih bertemu dalam pertentangan pendirian. Semakin lama semakin tajam. Sehingga setelah mereka kemudian tumbuh menjadi orang-orang sakti menurut saluran ilmunya masing-masing yang diterima dari guru yang berbeda-beda, maka mereka hampir tidak ingin berjumpa kembali yang satu dengan yang lain. Mereka masih menghormati persahabatan masa kanak-kanak mereka, namun mereka saling membenci karena pandangan hidup mereka yang jauh berbeda, bahkan berlawanan. Tetapi pada suatu saat mereka harus berjumpa kembali. Dipadang rumput Karautan yang sepi.
Apabila Empu Sada mengenang segala peristiwa yang pernah terjadi dalam hubungannya dengan orang itu, maka ia yakin, bahwa orang itu datang untuk meneruskan usahanya, menghalang-halangi semua perbuatannya, yang dianggap oleh orang itu bertentangan dengan sendi-sendi kemanusiaan. Karena itu, akhirnya Empu Sada pun mampu menarik kesimpulan atas segala macam kata-kata orang yang baru datang itu.
Tiba-tiba padang rumput Karautan yang sepi itu tersayat oleh suara tertawa Empu Sada yang tinggi melengking. Semua orang yang mendengar suara itu terkejut. Hanya orang yang masih berdiri di muka gerumbul itu sajalah yang seakan-akan sama sekali tidak mendengar suara Empu Sada itu.
Lebih-lebih Mahisa Agni sendiri. Hatinya selama ini selalu terguncang-guncang oleh berbagai persoalan. Kini tiba-tiba ia menghadapi persoalan baru yang sama sekali tak dikenal ujung dan pangkalnya. Orang yang sama sekali belum dikenalnya, tiba-tiba merasa menyimpan dendam di dalam hatinya. Mahisa Agni yang merasakan keanehan itu masih juga berusaha memandangi wajah orang baru itu. Namun agaknya kepekatan malam telah mengaburkan pandangan matanya ia tidak berhasil mengenal wajah itu. Apalagi ia berdiri tidak begitu dekat. Namun betapapun ia mencoba mengingat-ingat bentuk tubuhnya, suaranya dan apa saja yang memungkinkan ia mengenalnya, tetapi usaha itu sia-sia. Malam gelap dan hati Mahisa Agni pun gelap. Dan kini suara tertawa Empu Sada itu benar-benar telah menyakitkan telinganya dan mengguncang-guncang isi dadanya.
Tetapi tiba-tiba suara tertawa itu surut dengan cepatnya ketika terdengar orang yang baru datang itu mendehem beberapa kali. Bahkan tiba-tiba orang itu menguap sambil berkata,
“Aku mengantuk sekali. Apakah malam ini telah terlampau dalam?”
Empu Sada mengerutkan keningnya. Suara tertawanya kini telah berhenti. Ditatapnya wajah orang yang baru datang itu dengan tajam. Lalu katanya,
“Hem, kau sangka aku termasuk anak-anak yang dapat kau kelabui. Apa hubunganmu dengan Mahisa Agni sehingga kau akan melepaskan dendammu kepadanya? Aku tahu apa yang akan kau lakukan atasnya. Sekali lagi kau akan menghalang-halangi maksudku.”
“He,“ orang itu seperti acuh tak acuh saja berkata, “apa begitu?”
“Gila,“ Empu Sada mengumpat, “kau masih saja gila sejak dahulu. Setelah umurmu melampaui pertengahan abad, kau masih saja berbicara tanpa ujung pangkal. Ayo, katakan yang sebenarnya.”
“Kau telah menyebutnya Empu.”
“Hmm, jadi benar dugaanku. Kau akan mencegah murid-muridku membuat permainan yang dapat menyenangkan hati mereka.”
Pembicaraan itu telah membuat Mahisa Agni menjadi pening karenanya. Ia sama sekali tidak mampu membuat tanggapan yang sebenarnya dari pembicaraan itu. Dan sampai sejauh itu, baik Empu Sada maupun orang yang baru datang itu sendiri belum pernah menyebut namanya. Karena itu, dalam kepepatan perasaan tiba-tiba terdengar Mahisa Agni berteriak,
“Kalian membicarakan tentang nasibku. Tetapi aku belum mengenal siapakah kau orang yang baru datang?”
Orang itu berpaling. Dipandanginya Mahisa Agni dari ujung kaki sampai ke ujung kepalanya. Kemudian terdengar ia berkata, “Mahisa Agni, apakah kau ingin mengenal aku?”
“Tentu. Meskipun aku tidak tahu maksudmu sebenarnya, apakah kau akan membunuh aku apakah kau akan berbuat apa saja, namun aku ingin tahu siapakah kau ini.”
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian kembali ia berpaling kepada Empu Sada sambil berkata, “Anak itu belum mengenal aku Empu.”
“Hem,“ geram Empu Sada, “apakah aku harus memperkenalkan Ki Sanak kepada anak itu?”
“Silahkan,” sahut orang itu.
“Sebutlah namamu sendiri. Kau yang datang mencampuri urusanku. Mustahil kalau kau belum mengenalnya Atau kalau demikian, aku menjadi semakin pasti, bahwa kau pasti hanya ingin menggagalkan maksudku. Lain tidak.”
Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya kepada Mahisa Agni, “Agni, aku kenal kepada gurumu meskipun tidak begitu rapat. Aku kenal guru anak yang bernama Mahendra itu, juga meskipun tidak begitu rapat. Tetapi hubunganku dengan kau Agni, jauh lebih rapat dari hubunganku dengan gurumu atau guru angger Mahendra.”
Mahisa Agni mendengarkan kata orang itu dengan terheran-heran. Hubungan apakah yang ada antara dirinya dan orang itu. Namun Mahisa Agni tidak bertanya. Dibiarkannya orang itu berkata terus.
“Sejak beberapa hari aku sengaja membayangimu Agni. Aku sudah mendengar kabar tentang gurumu yang beberapa hari yang lalu pergi meninggalkan Panawijen. Karena itu, aku harus menemuimu.”
Agni masih saja berdiri seperti patung. Dan ketika orang itu akan berkata terus terdengar Empu Sada memotong, “He, apakah yang sedang kau katakan itu? Rupa-rupanya kau sedang mengarang sebuah ceritera supaya kau mempunyai alasan untuk berbuat sesuatu.”
Orang itu tertawa, “Kau terlalu curiga kepadaku Empu.”
“Tentu aku mempunyai alasan untuk bercuriga. Selama ini kau selalu berusaha mencampuri urusan orang lain.”
“Tetapi kali ini bukan urusan orang lain, Mahisa Agni bagiku sama sekali bukan orang lain.”
“Omong kosong.”
Orang itu tertawa kembali. Suara lunak dalam nada yang rendah. Katanya kemudian, “Aku melihat kau malam kemarin bertempur melawan angger kuda Sempana yang menamakan dirinya hantu Karautan dan menyembunyikan wajahnya di belakang secarik kain. Sejak itu aku merasa bangga kepadamu Agni. Kau benar-benar mewarisi ketangkasan ayahmu dahulu.”
Dada Mahisa Agni berdesir. Orang itu menyebut-nyebut ayahnya yang telah meninggal. Dan didengarnya orang itu berkata, “Aku sangka bahwa aku tidak akan dapat bertemu dengan kau lagi Agni. Tetapi beberapa waktu yang lampau aku mendengar dari seseorang yang datang kepadaku atas suruhan ibumu, bahwa kau masih ada, dan kau berada di dalam asuhan Empu Purwa. Dan ternyata kau mencerminkan perguruan Panawijen dengan baiknya.”
“Jangan ngelantur,“ bentak Empu Sada yang kehilangan kesabaran, “perkenalkan dirimu. Lalu kau mau apa? Kalau kau mau berbuat sesuatu untuk anak itu, melindunginya misalnya. maka aku tidak mempunyai cara lain dari menyingkirkan kau Ki Sanak.”
“Aku minta waktu sesaat lagi,“ jawab orang itu. Kemudian kepada Mahisa Agni ia berkata, “Agni, kau mempunyai sebilah keris peninggalan ayahmu?”
Tanpa sesadarnya Mahisa Agni mengangguk. Keris peninggalan ayahnya buatan pamannya itu hampir tak pernah terpisah daripadanya apabila ia sedang melakukan tugas-tugas yang penting dan mungkin berbahaya. Meskipun ia membawa pedang, namun ia lebih tenang apabila kerisnya itu dibawanya pula. Keris yang baginya bukan sebagai senjata biasa. karena itulah maka keris itu justru jarang sekali atau bahkan tidak pernah dipergunakannya. Sebab ia tahu benar betapa tajam kekuatan yang tersimpan padanya. Setiap goresan, meskipun hanya seujung rambut akan dapat berarti maut.
Dalam pada itu terdengar orang itu berkata, “Apakah kau pernah mendengar baik dari ibumu atau dari orang lain bahwa keris peninggalan ayahmu itu dibuat oleh seseorang.” Mahisa Agni menganggukkan kepalanya.
“Siapakah yang membuatnya?”
“Paman,“ jawab Agni, “paman Empu Gandring.”
“Apakah kau pernah mengenal pamanmu itu?”
“Pernah,” sahut Agni demikian saja meluncur dari bibirnya.
Empu Sada itu pun kini tidak mau melangkah maju lagi. Seseorang yang melampaui kekuatan kebanyakan orang sedang menunggunya. Mungkin suatu ketika orang yang bersembunyi itu tidak melemparnya dengan batu, tetapi suatu kali dapat terjadi orang itu melempar dengan sebilah pisau, atau dengan jarum-jarum baja yang runcing sebangsa paser yang kecil. Yang dapat dilakukan oleh orang tua itu kemudian adalah berteriak-teriak lantang,
“He, pengecut yang bersembunyi di balik gerumbul. Ayo keluarlah. Jangan menyerang sambil bersembunyi.”
Namun suaranya itu lepas saja tanpa ada yang menyahut. Gemanya mengelentang memukul tebing-tebing perbukitan dan menyelusur dinding sungai, mengatasi desir air terjun di bawah jeram-jeram. Sesaat Empu Sada itu terdiam. Dipandanginya gerumbul itu dengan tajamnya, seakan-akan sorot matanya ingin menembus rimbunnya daun-daun perdu di dalam alam yang semakin gelap. Tetapi ia tidak melihat sesuatu. Empu Sada sama sekali tidak dapat menangkap tanda-tanda yang menunjukkan kepadanya, siapa dan berapa orang yang bersembunyi di belakang gerumbul itu. Namun dengan demikian, menilik cara orang itu mengatur pernafasannya, cara orang itu sampai ke sana dan bersembunyi di sana tanpa diketahuinya, maka pasti orang itu bukan orang kebanyakan.
Agak di belakang Empu Sada sebelah menyebelah, berdiri keempat anak-anak muda dengan tegangnya. Mahisa Agni, Mahendra, Kuda Sempana dan Cundaka. Mereka terpaku di tempatnya seperti sebatang tonggak yang kokoh. Namun perhatian mereka pun sama sekali terampas oleh peristiwa yang mendebarkan itu. Lebih-lebih Kuda Sempana dan Cundaka. Mereka menyangka, bahkan hampir pasti, bahwa orang yang bersembunyi itu, akan berdiri di pihak Mahisa Agni dan Mahendra. Ternyata ia telah mencoba menghalangi Cundaka dan Empu Sada sendiri.
Meskipun demikian, kedua orang itu terlampau percaya kepada gurunya. Gurunya adalah seorang sakti yang pilih tanding. Seorang yang disegani oleh orang-orang sakti yang lain, sehingga tidak banyak diantara mereka yang sanggup bergaul, bersaing dan bertemu dalam ilmu dengan gurunya.
Sesaat padang rumput itu terbenam dalam suasana yang sunyi. Angin malam yang lembut mengalir mengusap tubuh-tubuh yang kaku tegang, menggetarkan dedaunan dan membuat suara yang sayu. Sekali-sekali suara jeram-jeram yang dihanyutkan oleh silirnya angin terdengar gemerasak beruntun susul menyusul. Namun kemudian semakin lama menjadi seolah-olah semakin jauh.
Empu Sada masih berdiri dengan tegangnya. Tongkatnya siap untuk menghadapi setiap kemungkinan, ia menyangka bahwa orang yang bersembunyi adalah seorang yang sakti. Namun tidak berani beradu dada dengannya, sehingga orang itu hanya dapat melawannya dari tempat yang tersembunyi. Kemarahan Empu Sada semakin lama menjadi semakin memuncak pula. Ia tidak sabar lagi menunggu keadaan berkembang semakin jelas. Karena itu, maka tiba-tiba ia berteriak,
“He, Kuda Sempana dan Cundaka. Jangan hiraukan kelinci yang bersembunyi di dalam semak-semak itu. Ayo, selesaikan pekerjaanmu, mengikat Mahisa Agni di belakang punggung kudamu. Biarlah orang ini berada di tempat persembunyiannya sampai kita meninggalkan tempat ini.”
Kuda Sempana dan orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu seolah-olah tersadar. Sekali mereka menghentakkan dirinya, maka kini mereka siap menghadapi lawannya. Mahisa Agni. Tetapi kembali mereka tertegun, karena tiba-tiba Mahendra berkata,
“Nah, Agni. Marilah kita melawan keduanya. Pilihlah olehmu, manakah yang lebih menarik perhatianmu satu diantara mereka.”
Mahisa Agni berpaling ke arah Mahendra sesaat. Cepat ia dapat menangkap maksudnya. Ia menganggukkan kepalanya dan berdesis di dalam hatinya,
“Mahendra cukup cerdik menanggapi keadaan.”
Namun dalam pada itu Empu Sada menggeretakkan giginya sambil berteriak, “He, Mahendra. Jangan turut campur. Biarlah mereka menyelesaikan persengketaan mereka sendiri.”
Sebelum Mahendra menjawab terdengar suara Mahisa Agni parau. “Dan kau biarkan Mahendra terlalu lama menunggu kau membunuhnya. Ia tidak cukup sabar. Biarlah salah seorang muridmu mewakilmu.
“Tidak,“ teriak Empu Sada, “aku sendiri akan membunuh Mahendra.”
“Silahkan,“ sahut Mahisa Agni pula, “tetapi agaknya kau lebih tertarik pada permainan baru itu.”
Sekali lagi Empu Sada menggeretakkan giginya. Kedua anak itu ternyata mampu mempergunakan kesempatan. Meskipun tak seorang pun diantara mereka yang mengetahui, siapakah yang berada di dalam semak-semak itu, tetapi mereka merasa bahwa orang yang berada di dalam semak-semak ini, tidak ingin melihat Mahisa Agni dan Mahendra mengalami nasib yang sangat buruk. Setidak-tidaknya orang itu ingin melihat persoalan ini berakhir dengan jujur. Tanpa ikut campurnya orang-orang luar seperti Empu Sada.
Meskipun demikian, Mahisa Agni dan Mahendra sendiri pun diliputi oleh kebimbangan dan keragu-raguan. Ia tidak tahu pasti, apa yang dikehendaki oleh orang yang bersembunyi itu. Yang dapat dilakukan kini hanyalah kemungkinan yang dapat menguntungkan saja dalam keadaan yang sangat berbahaya itu.
Sesaat Empu Sada berdiri termangu-mangu. Ingin ia segera meloncat mencekik Mahendra, namun sebagian perhatiannya terikat pada orang yang bersembunyi di dalam gerumbul itu. Kalau ia lengah, mungkin sebuah pisau dapat menembus lambungnya. Karena itu, yang terdengar kemudian orang tua itu mengutuk habis-habisan,
“Setan pengecut. Ayo keluarlah. Kalau tidak, maka aku segera akan membunuh Mahendra. Mungkin kau saudaranya atau gurunya sekali atau apa?”
Masih tak ada jawaban. Namun pertanyaan Empu Sada itu bahkan mengungkat dugaan Mahendra atas orang yang bersembunyi itu. Gurunya memang berada di Tumapel saat ini. Gurunya melihat kakak seperguruannya menyuruhnya pergi ke Padang Karautan. Gurunya mendengar pula, apa yang diceriterakan oleh Ken Arok kepada Witantra. Tetapi kembali Mahendra menghapus dugaannya itu. Gurunya tidak berkepentingan apa-apa dengan padang Karautan, dengan Mahisa Agni, Ken Dedes maupun Tunggul Ametung.
“Aku tidak peduli siapa yang bersembunyi itu,“ katanya di dalam hati, “tetapi aku akan mengucapkan terima kasih kepadanya seandainya aku masih tetap hidup dan dapat keluar dari padang ini, karena ia telah menyelamatkan aku dan Mahisa Agni.”
Namun kesenyapan padang itu kembali tersayat oleh suara Empu Sada, “Bagus. Kalau kau tidak menampakkan dirimu. Aku sudah kehabisan waktu. Tunggulah, aku akan memutar leher Mahendra sehingga ia tidak mampu lagi berbuat apa-apa. Aku ingin melihat tubuhnya terkelupas di belakang kudaku yang berlari kencang.”
Empu Sada itu pun dengan hati-hati melangkah surut. Ia ingin menjauhi gerumbul itu untuk kemudian meloncat mencekik Mahendra. Namun kembali ia mengumpat. Dengan sigapnya ia terpaksa menggerakkan tongkatnya memukul sebutir batu yang terbang ke arah dadanya.
“Gila. Gila.“ teriaknya, “ayo pengecut, jangan bersembunyi saja. Kalau kau tidak berani berhadapan muka dengan Empu Sada, jangan mengganggu. Pulang saja ke rumah. Ambil periuk, dan lebih baik menanak nasi daripada berada di medan.”
Empu Sada menunggu sesaat. Ia menjadi semakin gelisah ketika ia melihat Mahisa Agni ternyata telah mempersiapkan dirinya. Ia kini cukup yakin bahwa orang di gerumbul itu memang berusaha untuk mengikat Empu Sada, sehingga orang itu sama sekali tidak sempat mengganggu perkelahian anak-anak muda itu. Mahendra yang melihat Mahisa Agni bersiap, segera menyiapkan dirinya pula. Ia pun telah mendapat keyakinan seperti Mahisa Agni, sehingga dengan tenang, akan dihadapinya lawannya. Salah satu dari kedua murid Empu Sada itu.
Tetapi keduanya segera terganggu. Ternyata orang yang bersembunyi di dalam gerumbul itu tidak ingin bersembunyi terus. Sejenak kemudian terdengar suara tertawa lirih, dalam nada yang rendah.
“Hm,“ terdengar suara dari dalam gerumbul itu, “ternyata nyamuknya bukan main banyaknya, sehingga aku tidak betah tinggal di dalam gerumbul ini terlampau lama.”
Kembali terdengar gemeretak gigi Empu Sada. Ternyata orang itu sengaja menghinanya. Bukan karena dirinya, tetapi justru hanya karena digigit nyamuk, maka orang itu keluar dari persembunyiannya. Namun Empu Sada masih berdiam diri. Betapapun kemarahannya menyala di dalam dadanya, tetapi orang itu, yang bersembunyi di belakang gerumbul masih belum menampakkan diri, selain baru suaranya.
Bahkan kembali suara itu terdengar, “Bukan hanya nyamuk, tetapi semutnya pun banyak sekali. He Empu Sada, apakah kau membawa param untuk menghampiri gigitan semut ngangrang.”
“Gila, setan betina. Ayo jangan banyak bicara,“ bentak Empu Sada yang tidak dapat menahan kemarahannya, “ayo keluarlah dan marilah kita berhadapan sebagai orang-orang jantan.”
Kembali terdengar suara tertawa dalam nada yang rendah, “Jangan marah.“ terdengar jawaban, “baiklah aku keluar dari persembunyian ini.”
Sesaat kemudian Empu Sada membelalakkan matanya. Ia melihat daun-daun yang bergerak. Ternyata orang yang bersembunyi itu benar-benar akan meloncat keluar. Mahisa Agni, Mahendra, Kuda Sempana dan orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo, tertegun kaku. Pandangan mata mereka pun melekat pada daun-daun yang bergerak-gerak itu. Dengan hati yang berdebar-debar mereka menunggu, siapakah yang akan muncul dari dalamnya.
Tiba-tiba mereka melihat bayangan itu. Tidak meloncat dengan atau sigap melangkah dengan gagahnya. Tetapi bayangan itu perlahan-lahan menyibak dedaunan dan dengan langkah satu-satu maju menyusup diantara daun-daun dan ranting-ranting kecil.
Empu Sada benar-benar tidak sabar melihat orang itu. Dengan nada yang tinggi ia berteriak, “Cepat he siput tua. Aku tidak sabar menunggu kau merayap.”
“Jangan tergesa-gesa,“ sahut orang itu, “aku sudah tua, dan malam gelapnya bukan main.”
“Jangan mengada-ada. Kau mampu melemparkan batu sekeras itu. Kenapa kau tidak meloncat dan menepuk dada, inilah aku.”
“Tidak-tidak. Kalau aku menepuk dadaku sendiri aku akan terbatuk-batuk.”
“Kau benar-benar setan. Kau ingin mempengaruhi tanggapanku atasmu, supaya aku menjadi lengah. Pengecut,“ geram Empu Sada.
“Ia pun tidak. Bersiagalah, supaya kau tidak mati melawan aku. Tetapi jangan membentak-bentak. Biarlah aku berbuat sesuka hatiku.”
Dada Empu Sada serasa benar-benar telah menyala. Kini ia melihat bayangan itu telah melangkahkan kakinya, menerobos lembaran daun terakhir. Demikian orang itu tampak diluar gerumbul demikian terdengar Empu Sada berkata lantang,
“setan. Benar-benar Setan. Jadi kau yang telah mengganggu pekerjaanku. Kenapa tiba-tiba saja berada di tempat ini?”
Bukan saja Empu Sada yang terkejut melihat kehadiran orang itu, tetapi juga Mahisa Agni, Mahendra, Kuda Sempana dan Cundaka. Meskipun sebab dari kejutan itu berbeda-beda, namun sesaat mereka justru terpaku di tempatnya. Empu Sada terkejut karena tiba-tiba saja ia melihat orang yang sama sekali tak di sangkanya akan hadir di tempat itu. Sedang Mahisa Agni, Mahendra, Kuda Sempana dan Cundaka terkejut karena sama sekali belum pernah mengenal orang itu. Demikian orang itu ada diantara mereka, demikian orang itu telah memilih pihak. Orang itu sendiri berdiri sambil mengkibaskan pakaiannya. Sekali-sekali ia tersenyum dan kemudian katanya,
“Hm. Bukan main gatalnya. Nyamuk, semut dan segala macam serangga.”
“He Ki Sanak,” potong Empu Sada kemudian, “kenapa kau tiba-tiba saja berada di tempat ini?”
Orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Kebetulan saja aku berada di tempat ini. berhari-hari aku membayangi anak yang bernama Mahisa Agni. Aku mencarinya dan kini aku telah menemukannya.”
Dada Mahisa Agni berdesir mendengar jawaban itu. “Orang itu juga mencarinya. Siapa dan kenapa?”
Namun dalam pada itu terdengar Empu Sada berkata. “Untuk apa kau cari anak itu?”
“Seperti kau. Seperti apa yang akan kau lakukan atasnya.”
“He, apakah kau mempunyai kepentingan yang sedemikian penting dan menyangkut persoalan yang langsung menyinggung dirimu, sehingga kau berusaha merebutnya dari tangan muridku?”
“Ya,“ sahut orang itu, “lepaskan Mahisa Agni. Akulah yang akan menyelesaikannya.”
Mereka berdua sesaat berdiam diri. Empu Sada mengawasi orang itu dengan tajamnya. Namun sekali-sekali ia berpaling juga kepada Mahisa Agni dan kedua muridnya. Tetapi sesaat kemudian Empu Sada itu tertawa. Suaranya melengking tinggi menyakitkan telinga. Diantara suara tertawanya itu terdengar kata-katanya,
“Ha, Mahisa Agni. Nasibmu memang terlampau jelek. Agaknya kau sudah menyangka bahwa seseorang telah datang menolongmu. Tetapi keledai tua ini ternyata sedang mencarimu pula, karena kau telah berbuat dosa atasnya. Hem. Anak semuda kau ini telah mempunyai musuh di segala penjuru angin. Hanya orang-orang yang berwatak jail, suka mencampuri urusan orang lain seperti kau inilah, maka kau mempunyai musuh dimana-mana.”
“Nah, aku minta tinggalkan Mahisa Agni,“ berkata orang itu.
Namun sekali lagi terdengar Empu Sada tertawa, “Jangan mengigau. Aku tahu bahwa kau akan dapat melakukan apa saja yang kau kehendaki atasnya. Tetapi aku ingin memberi sekedar permintaan kepada kedua muridku. Mungkin kau ingin melihat permainan itu pula.”
“Permainan apa?”
“Apakah kau belum mendengar? Sejak tadi aku telah menyebut-nyebutnya.”
“Menariknya di belakang seekor kuda?”
“Ya.” Orang itu terdiam sesaat. Namun tiba-tiba ia menjawab, “Aku dapat juga melakukannya.”
Jawaban itu benar-benar menggetarkan dada Mahisa Agni. Ia belum pernah berbuat sesuatu atas orang itu. Ia belum pernah mempunyai persoalan apapun. Namun tiba-tiba orang itu datang membawa dendam kepada dirinya. Dada Mahisa Agni benar-benar digoncangkan oleh berbagai perasaan. Bingung, cemas dan beribu pertanyaan melingkar-lingkar. Ia sama sekali tidak mencemaska nasibnya kini. Ia sama sekali tidak gentar menghadapi apapun, apalagi setelah ia mendapat kesimpulan bahwa ia kini sedang menjelang harinya yang terakhir, namun ia merasa bingung dan cemas, bahwa ternyata ia telah menyalahi dan menumbuhkan dendam kepada orang lain atas dirinya tanpa disadarinya. Kalau demikian, maka alangkah rendah budinya. Alangkah bodohnya. Ia sama sekali tidak ingin membuat orang lain menjadi sakit hati, apalagi mendendamnya. Kini tiba-tiba ia berhadapan dengan orang semacam itu. Sakit hati dan mendendam.
Namun Mahisa Agni masih saja berdiam diri. Ia ingin mendengar apa saja yang akan dipercakapkan oleh Empu Sada. Mungkin dalam percakapan itu ia akan dapat menangkap, siapa dan apa saja yang menumbuhkan dendam itu kepadanya.
Kini yang terdengar adalah suara Empu Sada, “Aku ragu-ragu akan kata-katamu.”
“Kenapa?” sahut orang itu, “apakah kau ragu-ragu bahwa aku akan dapat menangkapnya hidup-hidup dan mengikatnya di belakang seekor kuda. Namun kini aku tidak sedang membawa kuda. Meskipun demikian kau tentu akan memberi kesempatan aku meminjam kudamu.”
“Tidak,“ sahut Empu Sada, “aku tidak ragu-ragu. Aku kenal kesaktianmu. Tetapi adalah bukan kebiasaanmu berbuat demikian. Selama ini kau selalu menentang tindakan-tindakan yang menyenangkan itu. Kau selalu menganggapnya sebagai suatu kebiadaban dan keganasan, sehingga kau menganggap orang-orang yang harus dijauhkan dari pergaulan. Nah, sekarang kau datang dan akan melakukan perbuatan yang serupa.”
“Khusus untuk anak itu,“ sahut orang itu.
Empu Sada tertawa terbahak-bahak, sehingga tongkatnya terguncang-guncang. Katanya, “Huh, ternyata sifatmu yang selama ini kau bangga-banggakan adalah hanya sekedar pulasan. Ternyata apabila kau sendiri langsung tersentuh perasaanmu, maka sifat-sifatmu yang asli itu terungkapkan. Kalau demikian, maka akulah yang lebih jujur dari padamu. Aku tidak pernah menyembunyikan segala macam sifat watak dan kesenanganku seperti kau. Dan lihat, muridku pun bukan hanya sekedar anak-anak Padesan. Kuda Sempana adalah seorang pelayan Dalam istana.”
“Jangan ribut,“ potong orang itu, “serahkan Mahisa Agni kepadaku.”
Empu Sada tidak segera menjawab. Sesaat ia masih dicengkam keraguan. Dikenalnya orang yang datang itu sebagai seorang yang selama ini menentang hampir segala perbuatannya. Meskipun mereka berdua berkawan sejak kecil, namun setelah mereka menempuh jalan hidup masing-masing, maka seakan-akan mereka berdua selalu bermusuhan meskipun tidak berterus terang.
Hampir setiap usaha Empu Sada bertentangan dengan selera orang itu. Sehingga setiap kali mereka pasti berselisih pendapat. Akhirnya mereka berdua dipisahkan oleh keadaan. Masing-masing menuruti jalannya sendiri-sendiri. Hanya kadang-kadang mereka masih bertemu dalam pertentangan pendirian. Semakin lama semakin tajam. Sehingga setelah mereka kemudian tumbuh menjadi orang-orang sakti menurut saluran ilmunya masing-masing yang diterima dari guru yang berbeda-beda, maka mereka hampir tidak ingin berjumpa kembali yang satu dengan yang lain. Mereka masih menghormati persahabatan masa kanak-kanak mereka, namun mereka saling membenci karena pandangan hidup mereka yang jauh berbeda, bahkan berlawanan. Tetapi pada suatu saat mereka harus berjumpa kembali. Dipadang rumput Karautan yang sepi.
Apabila Empu Sada mengenang segala peristiwa yang pernah terjadi dalam hubungannya dengan orang itu, maka ia yakin, bahwa orang itu datang untuk meneruskan usahanya, menghalang-halangi semua perbuatannya, yang dianggap oleh orang itu bertentangan dengan sendi-sendi kemanusiaan. Karena itu, akhirnya Empu Sada pun mampu menarik kesimpulan atas segala macam kata-kata orang yang baru datang itu.
Tiba-tiba padang rumput Karautan yang sepi itu tersayat oleh suara tertawa Empu Sada yang tinggi melengking. Semua orang yang mendengar suara itu terkejut. Hanya orang yang masih berdiri di muka gerumbul itu sajalah yang seakan-akan sama sekali tidak mendengar suara Empu Sada itu.
Lebih-lebih Mahisa Agni sendiri. Hatinya selama ini selalu terguncang-guncang oleh berbagai persoalan. Kini tiba-tiba ia menghadapi persoalan baru yang sama sekali tak dikenal ujung dan pangkalnya. Orang yang sama sekali belum dikenalnya, tiba-tiba merasa menyimpan dendam di dalam hatinya. Mahisa Agni yang merasakan keanehan itu masih juga berusaha memandangi wajah orang baru itu. Namun agaknya kepekatan malam telah mengaburkan pandangan matanya ia tidak berhasil mengenal wajah itu. Apalagi ia berdiri tidak begitu dekat. Namun betapapun ia mencoba mengingat-ingat bentuk tubuhnya, suaranya dan apa saja yang memungkinkan ia mengenalnya, tetapi usaha itu sia-sia. Malam gelap dan hati Mahisa Agni pun gelap. Dan kini suara tertawa Empu Sada itu benar-benar telah menyakitkan telinganya dan mengguncang-guncang isi dadanya.
Tetapi tiba-tiba suara tertawa itu surut dengan cepatnya ketika terdengar orang yang baru datang itu mendehem beberapa kali. Bahkan tiba-tiba orang itu menguap sambil berkata,
“Aku mengantuk sekali. Apakah malam ini telah terlampau dalam?”
Empu Sada mengerutkan keningnya. Suara tertawanya kini telah berhenti. Ditatapnya wajah orang yang baru datang itu dengan tajam. Lalu katanya,
“Hem, kau sangka aku termasuk anak-anak yang dapat kau kelabui. Apa hubunganmu dengan Mahisa Agni sehingga kau akan melepaskan dendammu kepadanya? Aku tahu apa yang akan kau lakukan atasnya. Sekali lagi kau akan menghalang-halangi maksudku.”
“He,“ orang itu seperti acuh tak acuh saja berkata, “apa begitu?”
“Gila,“ Empu Sada mengumpat, “kau masih saja gila sejak dahulu. Setelah umurmu melampaui pertengahan abad, kau masih saja berbicara tanpa ujung pangkal. Ayo, katakan yang sebenarnya.”
“Kau telah menyebutnya Empu.”
“Hmm, jadi benar dugaanku. Kau akan mencegah murid-muridku membuat permainan yang dapat menyenangkan hati mereka.”
Pembicaraan itu telah membuat Mahisa Agni menjadi pening karenanya. Ia sama sekali tidak mampu membuat tanggapan yang sebenarnya dari pembicaraan itu. Dan sampai sejauh itu, baik Empu Sada maupun orang yang baru datang itu sendiri belum pernah menyebut namanya. Karena itu, dalam kepepatan perasaan tiba-tiba terdengar Mahisa Agni berteriak,
“Kalian membicarakan tentang nasibku. Tetapi aku belum mengenal siapakah kau orang yang baru datang?”
Orang itu berpaling. Dipandanginya Mahisa Agni dari ujung kaki sampai ke ujung kepalanya. Kemudian terdengar ia berkata, “Mahisa Agni, apakah kau ingin mengenal aku?”
“Tentu. Meskipun aku tidak tahu maksudmu sebenarnya, apakah kau akan membunuh aku apakah kau akan berbuat apa saja, namun aku ingin tahu siapakah kau ini.”
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian kembali ia berpaling kepada Empu Sada sambil berkata, “Anak itu belum mengenal aku Empu.”
“Hem,“ geram Empu Sada, “apakah aku harus memperkenalkan Ki Sanak kepada anak itu?”
“Silahkan,” sahut orang itu.
“Sebutlah namamu sendiri. Kau yang datang mencampuri urusanku. Mustahil kalau kau belum mengenalnya Atau kalau demikian, aku menjadi semakin pasti, bahwa kau pasti hanya ingin menggagalkan maksudku. Lain tidak.”
Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya kepada Mahisa Agni, “Agni, aku kenal kepada gurumu meskipun tidak begitu rapat. Aku kenal guru anak yang bernama Mahendra itu, juga meskipun tidak begitu rapat. Tetapi hubunganku dengan kau Agni, jauh lebih rapat dari hubunganku dengan gurumu atau guru angger Mahendra.”
Mahisa Agni mendengarkan kata orang itu dengan terheran-heran. Hubungan apakah yang ada antara dirinya dan orang itu. Namun Mahisa Agni tidak bertanya. Dibiarkannya orang itu berkata terus.
“Sejak beberapa hari aku sengaja membayangimu Agni. Aku sudah mendengar kabar tentang gurumu yang beberapa hari yang lalu pergi meninggalkan Panawijen. Karena itu, aku harus menemuimu.”
Agni masih saja berdiri seperti patung. Dan ketika orang itu akan berkata terus terdengar Empu Sada memotong, “He, apakah yang sedang kau katakan itu? Rupa-rupanya kau sedang mengarang sebuah ceritera supaya kau mempunyai alasan untuk berbuat sesuatu.”
Orang itu tertawa, “Kau terlalu curiga kepadaku Empu.”
“Tentu aku mempunyai alasan untuk bercuriga. Selama ini kau selalu berusaha mencampuri urusan orang lain.”
“Tetapi kali ini bukan urusan orang lain, Mahisa Agni bagiku sama sekali bukan orang lain.”
“Omong kosong.”
Orang itu tertawa kembali. Suara lunak dalam nada yang rendah. Katanya kemudian, “Aku melihat kau malam kemarin bertempur melawan angger kuda Sempana yang menamakan dirinya hantu Karautan dan menyembunyikan wajahnya di belakang secarik kain. Sejak itu aku merasa bangga kepadamu Agni. Kau benar-benar mewarisi ketangkasan ayahmu dahulu.”
Dada Mahisa Agni berdesir. Orang itu menyebut-nyebut ayahnya yang telah meninggal. Dan didengarnya orang itu berkata, “Aku sangka bahwa aku tidak akan dapat bertemu dengan kau lagi Agni. Tetapi beberapa waktu yang lampau aku mendengar dari seseorang yang datang kepadaku atas suruhan ibumu, bahwa kau masih ada, dan kau berada di dalam asuhan Empu Purwa. Dan ternyata kau mencerminkan perguruan Panawijen dengan baiknya.”
“Jangan ngelantur,“ bentak Empu Sada yang kehilangan kesabaran, “perkenalkan dirimu. Lalu kau mau apa? Kalau kau mau berbuat sesuatu untuk anak itu, melindunginya misalnya. maka aku tidak mempunyai cara lain dari menyingkirkan kau Ki Sanak.”
“Aku minta waktu sesaat lagi,“ jawab orang itu. Kemudian kepada Mahisa Agni ia berkata, “Agni, kau mempunyai sebilah keris peninggalan ayahmu?”
Tanpa sesadarnya Mahisa Agni mengangguk. Keris peninggalan ayahnya buatan pamannya itu hampir tak pernah terpisah daripadanya apabila ia sedang melakukan tugas-tugas yang penting dan mungkin berbahaya. Meskipun ia membawa pedang, namun ia lebih tenang apabila kerisnya itu dibawanya pula. Keris yang baginya bukan sebagai senjata biasa. karena itulah maka keris itu justru jarang sekali atau bahkan tidak pernah dipergunakannya. Sebab ia tahu benar betapa tajam kekuatan yang tersimpan padanya. Setiap goresan, meskipun hanya seujung rambut akan dapat berarti maut.
Dalam pada itu terdengar orang itu berkata, “Apakah kau pernah mendengar baik dari ibumu atau dari orang lain bahwa keris peninggalan ayahmu itu dibuat oleh seseorang.” Mahisa Agni menganggukkan kepalanya.
“Siapakah yang membuatnya?”
“Paman,“ jawab Agni, “paman Empu Gandring.”
“Apakah kau pernah mengenal pamanmu itu?”
“Pernah,” sahut Agni demikian saja meluncur dari bibirnya.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar