“Kapan?”
Mahisa Agni terdiam sesaat. Ia pernah mengenal pamannya dahulu. Dahulu, pada waktu ia masih kecil. Pamannya adalah seorang yang bertubuh gemuk, kekar dan berwajah bulat. Pamannya adalah seorang Empu yang riang. Namun itu sudah berlalu jauh di belakang, belasan tahun yang lampau.
Orang yang berdiri di dekat gerumbul itu tersenyum. Orang itu bertubuh kecil meskipun tidak pendek. Yang dengan mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata,
“Nah Agni. Akulah yang membuat keris itu.”
Dada Mahisa Agni tersentak mendengar pengakuan itu. Orang itu sama sekali tidak gemuk seperti pamannya. Karena itu maka dengan serta merta Agni berkata,
“Paman Empu Gandring bertubuh gemuk.”
Kini orang itu tertawa, “Umurku telah memanjat dari tahun ke tahun. Banyak pekerjaan yang harus aku lakukan. Banyak persoalan yang harus aku selesaikan. Ternyata aku semakin tua menjadi semakin kurus.”
Mata Mahisa Agni masih memancarkan keragu-raguan. Namun terdengar Empu Sada kemudian memutus pembicaraan mereka, “He, Ki Sanak. Apakah monyet ini kemanakanmu?”
“Ya,” sahut orang yang menyebut dirinya Empu Gandring itu, “ia adalah kemanakanku.”
“Setan,“ umpat Empu Sada, “kau bohong. Kau hanya mencari sebab untuk mencegah perbuatanku.”
“Kali ini tidak,“ sahut Empu Gandring, “meskipun aku akan mencegah perbuatanmu, tetapi bukan sekedar mencampuri persoalan orang lain. Tetapi Mahisa Agni adalah kemanakanku.”
Padang rumput Karautan itu sesaat tenggelam dalam keheningan yang tegang. Mahisa Agni berdiri tegak seperti patung memandangi orang yang berdiri di dekat gerumbul itu. Tiba-tiba terangkatlah kembali kenangannya yang lamat-lamat tentang pamannya. Ciri itu masih dirasakannya. Pamannya adalah seorang yang suka bergurau. Karena itu tiba-tiba ia berkata,
“Apakah paman ini paman Empu Gandring yang sebenarnya?”
Orang itu tertawa, “Apakah ada Empu Gandring yang lain?”
Mahisa Agni terdiam. Ditatapnya wajah orang itu dengan saksama, dan melonjaklah keharuan di dalam dadanya seakan-akan ia menemukan sesuatu yang hilang yang tak pernah disangkanya akan ditemukannya lagi. Beberapa saat yang lampau, hampir ia lari mencari pamannya ini untuk membantunya mendapatkan anak Gurunya. Tetapi maksud itu tak pernah dilakukannya. Dan kini tiba-tiba pamannya itu telah berdiri dihadapannya tanpa dicarinya. Karena itu terasa dada Mahisa Agni berguncang-guncang. Meskipun ia masih berdiri tegak seperti sebuah patung batu. keragu-raguan yang dahsyat telah melanda hatinya.
“Kau ragu-ragu,“ terdengar Empu Gandring itu bertanya, “baiklah. Kau sudah bertahun-tahun tidak melihat aku lagi. Adalah wajar kalau kau menjadi ragu-ragu. Tetapi itu tidak penting. Yang penting sekarang bagaimana caranya supaya kau tetap melakukan pekerjaan yang dipercayakan kepadamu oleh orang-orang Panawijen itu.”
“Jangan mengigau,“ potong Empu Sada, “aku sudah menyangka sejak aku melihat tampangmu, bahwa kau masih saja selalu menghalang-halangi aku. Jangan kau ganggu muridku yang sedang menemukan permainan yang baik sekali bagi mereka.”
“Tidak,” sahut Empu Gandring, “aku tidak akan mengganggu mereka.”
“Kalau begitu pergilah sebelum aku marah.”
“Baik,“ sahut orang itu pula, “marilah kita pergi. Sudah lama aku tidak bertemu dengan kau Empu. Aku sudah rindu. Rindu pada masa kanak-kanak yang tak akan kembali lagi di masa mendatang. Tetapi marilah kita pulang bersama-sama, sehingga dengan demikian kita akan dapat mengenang sebagian masa itu. Masa kanak-kanak yang manis.”
“Jangan mimpi. Aku bukan pemimpi seperti kau. Aku adalah seseorang yang melihat masa kini dan masa depan.”
“Tetapi masa lampau adalah kenangan yang menyenangkan. Apakah kau dapat menghapuskan masa-masa itu? Apakah kau dapat menghapus peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di masa-masa lampau? Bukankah masa-masa lampau itu yang menentukan keadaanmu sekarang?”
“Aku tidak peduli masa lampau. Sekarang pergi dari tempat ini. Tinggalkan kami. Tinggalkan anak muda yang kau katakan kemanakanmu itu.”
Orang tua itu menggeleng. Bahkan setapak ia maju sambil berkata, “Empu Sada. Aku pun bukan seorang pemimpi melulu. Aku juga ingin melihat masa depan yang baik bagiku dan bagi orang-orang yang bersangkut paut dengan darah keturunanku. Mahisa Agni adalah kemanakanku. Apakah aku harus membiarkannya kehilangan masa depannya. Empu Sada, aku sendiri mempunyai anak-anak di rumah. Aku pernah merasakan betapa cemasnya orang-orang tua yang anak-anaknya mengalami bahaya. Nah, bagaimana aku akan dapat membiarkan kau berbuat curang. Biarlah anak-anak muda menyelesaikan persoalan mereka sendiri.”
Empu Sada menggeram. Ia tidak menjawab perkataan-perkataan itu, tetapi ia pun melangkah maju. Kedua orang tua itu kini berdiri saling berhadapan. Empu Gandring kini sudah tidak tertawa-tawa lagi. Wajahnya kemudian menjadi bersungguh-sungguh.
“Jadi kau tetap pada pendirianmu?” bentak Empu Sada.
“Seperti apa yang akan kau lakukan. Kalau kau tetap dalam usahamu menciderai anak kemanakanku itu, maka aku tetap dalam usahaku menyelamatkannya.”
Wajah Empu Sada menjadi merah padam. Tetapi ketika ia berpaling memandang ke arah kedua muridnya, maka hatinya berdesir. Ia melihat kedua muridnya berhadapan dengan kedua anak-anak muda yang sudah siap untuk melawan mereka. Mahisa Agni dan Mahendra Karena itu hatinya menjadi berguncang. Sesaat ia menjadi ragu-ragu. Apakah kedua muridnya mampu melawan kedua anak muda itu?.
Dalam keragu-raguan itu terdengar Empu Gandring berkata, “Nah, apakah katamu Empu?”
Sejenak Empu Sada tidak menyahut. Timbullah kini pergolakan di dalam hatinya. Betapapun juga ia masih sempat memperhitungkan, apa yang sedang dihadapinya. Empu Gandring adalah seorang yang cukup sakti untuk mengimbanginya. Sedang Mahisa Agni sudah pasti dapat mengalahkan kuda Sempana. Apabila Mahendra dapat mengimbangi Cundaka maka keadaannya akan menjadi sulit. Mungkin salah seorang muridnya atau kedua-duanya akan terbunuh. Karena itu tiba-tiba Empu Sada itu tersenyum. Sambil menganggukkan kepalanya ia berkata,
“Hem. Sayang kau datang. Aku tidak sampai hati merusak kenanganmu yang manis itu. Aku tidak sampai hati mematahkan mimpimu yang menyenangkan. Seandainya bukan kau yang datang sambil merajuk tentang masa-masa lampau, maka hatiku sudah tidak akan dapat dilunakkan. Tetapi terhadapmu aku masih belum dapat melenyapkan perasaan belas kasihan. Sejak anak-anak kau seorang pemimpi dan perajuk. Karena itu, baiklah aku penuhi permintaanmu kali ini. Ingat hanya kali ini.”
Empu Gandring mengerutkan keningnya. Sebelum ia menjawab terdengar Empu Sada berkata, “Kuda Sempana, ternyata Mahisa Agni adalah kemanakan sahabatku. Karena itu, maafkanlah anak muda itu kali ini. Tetapi hanya kali ini.”
Kuda Sempana berdiri membeku di tempatnya. Tiba-tiba dari matanya memancar beribu-ribu pertanyaan yang bergolak di dalam dadanya. Namun akhirnya ia mengetahui pula maksud gurunya. Bahwa orang yang datang itu adalah orang yang cukup sakti pula, sehingga gurunya menganggap perlu untuk menunda maksudnya sampai di saat-saat yang lain.
Namun Mahisa Agni sama sekali tidak dapat mengertinya. Karena itu tiba-tiba ia berkata, “Apakah Kuda Sempana kali ini masih akan dilepaskan lagi?”
Empu Gandring mengerutkan keningnya. Ia pernah mendengar persoalan yang terjadi antara Mahisa Agni, Kuda Sempana, Ken Dedes dan bahkan sampai orang-orang lain dalam persoalan ini menurut ceritera seseorang. Tetapi ia tidak tahu dengan pasti, sebab Empu Gandring sendiri jarang-jarang meninggalkan kampung halamannya, Lulumbang, karena pekerjaannya yang terlampau banyak, membuat keris. Hanya karena dorongan keadaan yang sangat penting, untuk menemukan kemanakannya, kini ia meninggalkan rumah dan tugasnya. Sehingga karena itu, maka ia menjawab pertanyaan Mahisa Agni,
“Biarkan Kuda Sempana dibawa gurunya. Biarlah gurunya mengajarnya untuk berlaku sopan dan baik.”
Empu Sada menggeram mendengar sindiran Empu Gandring, namun Mahisa Agni tidak kalah kecewanya. Kuda Sempana baginya adalah penyebab dari segala macam bencana yang menimpa keluarga gurunya dan bahkan seluruh penduduk Panawijen. Mungkin orang yang menyebut dirinya Empu Gandring itu tidak merasakan, betapa ia menderita lahir dan batin karena anak muda yang bernama Kuda Sempana itu.
Tetapi Mahisa Agni pun masih mampu berpikir. Bahwa guru Kuda Sempana baginya adalah lawan yang tidak seimbang. Sedangkan Mahisa Agni merasa pula, bahwa ia tidak akan dapat memaksa Empu Gandring itu untuk bertempur apabila memang tak dikehendakinya. Karena itu, yang terdengar kemudian adalah gemeretak gigi Mahisa Agni. Terasa perasaannya melonjak-lonjak, seakan-akan ingin ia menerkam anak muda yang bernama Kuda Sempana itu. Namun nalarnya telah mencegahnya. Ternyata bukan saja Mahisa Agni yang dicengkam oleh kekecewaan. Bahkan Mahendra pun menjadi sangat kecewa pula. Namun seperti Mahisa Agni, ia menyadari kedudukannya. Menyadari kemampuannya.
“Hem,“ desahnya di dalam hati, “kalau saja guruku ada di tempat ini. Mungkin Kuda Sempana dan orang yang bernama Cundaka itu pasti sudah dapat kami lumpuhkan.”
Tetapi Empu Gandring ternyata berpendirian lain. Empu Gandring ingin melepaskan mereka, dan mengharap Empu Sada dapat memberi tuntunan kepada murid-muridnya untuk berlaku lebih baik.
“Sia-sia. Seperti guru dahulu berpendirian begitu,“ pikir Mahisa Agni. Tetapi sekali lagi ia hanya dapat menggeretakkan giginya. Ia tidak akan dapat memaksa Empu Gandring bertempur tanpa dikehendakinya sendiri.
Dalam pada itu terdengar Empu Sada berkata, “Jangan terlalu sombong. Murid-muridku sama sekali tidak perlu lagi mendapat ajaran tentang kesopanan dan kebaikan budi. Mereka adalah orang baik-baik. Mereka adalah seorang hamba istana Tumapel, dan seorang lagi adalah seorang pedagang keliling yang terhormat. Kaulah yang harus mengajari kemanakanmu itu untuk melihat dirinya. Ia tidak lebih dari anak padesan. Anak Panawijen.”
Empu Gandring tidak menjawab kata-kata itu, bahkan kemudian ia berkata, “Selamat malam Empu. Selamat beristirahat. Kalau Empu ingin meninggalkan tempat ini, segera kami persilahkan. Namun untuk seterusnya, ajarilah murid-murid Empu untuk tidak mengganggu Mahisa Agni.”
“Jangan gurui aku. Sudah aku katakan, lain kali kami tidak dapat memaafkan kalian lagi. Apabila Mahisa Agni masih kembali ke Padang Karautan, maka saat itu pula, akan kami ikat tubuhnya di belakang kuda-kuda kami.”
“Ah. Jangan berbicara seperti kepada anak-anak Empu. Aku sudah tahu, seperti kau tahu pula. Siapa Empu Sada, siapa Empu Gandring, siapa Empu Purwa dan siapa Panji Bojong Santi, guru angger Mahendra itu. Nah, apa katamu sekarang?”
Wajah Empu Sada menjadi merah padam mendengar Empu Gandring menyebut-nyebut nama beberapa orang sakti. Tiba-tiba orang tua itu menggeram keras sekali sambil menghentakkan tongkatnya di tanah. Katanya,
“Kau mengancam?”
Empu Gandring menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku sama sekali tidak mengancam. Aku hanya menyebutkan beberapa nama yang dapat terlibat dalam persoalan seterusnya, apabila kau tetap berbuat gila.”
Empu Sada tidak segera menjawab. Terasa darahnya seakan-akan mendidih di dalam jantungnya. Sementara itu, dada Mahendra berdesir mendengar Empu Gandring menyebut nama gurunya. Dengan serta merta ia bertanya,
“Apakah Empu mengenal guruku?”
Empu Gandring berpaling. Jawabnya, “Mustahil seseorang tidak mengenal Panji Bojong Santi. Apalagi orang tua sebaya aku dan Empu Sada.”
Mahendra menganggukkan kepalanya. Katanya, “Jadi Empu Gandring termasuk salah seorang sahabat guru?”
“Aku belum mengenal terlampau rapat. Tetapi sekali dua kali kami pernah bertemu. Seperti aku pernah bertemu dengan Empu Purwa meskipun baru satu kali. Namun meskipun belum, namanya pasti sudah dikenal oleh setiap orang-orang setua aku. Dan dari namanya itu pun aku akan dapat mengetahui, siapa-apa mereka itu.”
Mahendra kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi gembira ketika diketahuinya bahwa Empu Gandring pernah mengenal gurunya. Ia masih ingin mengatakan beberapa hal lagi, namun terdengar suara Empu Sada memecah ketegangan yang mencengkam hatinya sendiri,
“Baik. Baik. Kau telah menyebut beberapa nama. Kau sangka aku akan gentar menghadapi mereka semua. Kau, Empu Purwa dan Bojong Santi yang kurus kering itu Empu Gandring, kau pun pasti sudah mengenal nama-nama lain dari mereka. Kebo Sindet, Wong Sarimpat. Nah, apa katamu?”
Empu Gandring tersenyum. Katanya, “Ah. Apakah kau akan memaklumkan perang bersama orang-orang dengki itu? Sayang Empu. Meskipun kadang-kadang kau juga berbuat hal-hal yang aneh-aneh misalnya muridmu kau biarkan membuat permainan yang mengerikan, menarik seseorang di belakang seekor kuda, namun namamu masih jauh lebih terhormat daripada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.”
Terdengar kemudian Empu Sada tertawa. Suaranya melengking menyakitkan hati. Kemudian katanya, “Jangan gemetar mendengar nama-nama itu. Mereka adalah orang-orang bodoh yang dapat saja aku peralat. Meskipun mereka mempunyai kesaktian-kesaktian yang mengerikan, namun otak mereka adalah otak yang sangat tumpul. Kau tahu maksudku.”
Empu Gandring menganggukkan kepalanya, “Terserahlah kepadamu.”
“Bagus. Kalau kau berani menghadapinya, biarlah aku sekarang meninggalkan tempat ini.”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Pergilah. Tetapi pikirkan sekali lagi kalau kau akan mempergunakan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Mereka tidak sebodoh yang kau sangka.”
Mendengar kata-kata Empu Gandring itu, Empu Sada tertawa. Jawabnya, “Hem. Kau belum mengenal kedua orang itu baik-baik. Mungkin kau tidak dapat mempergunakannya seperti apa yang kau inginkan. Tetapi terhadapku, mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa.”
“Terserahlah kepadamu,“ sahut Empu Gandring, “tetapi bagaimana pun juga, aku tidak senang melihat kau mengganggu kemenakanku.”
Empu Sada tidak menjawab. Ia berpaling kepada kedua muridnya dan berkata, “Kali ini sahabatku, Empu Gandring, minta kau memaafkan kemanakannya. Nah, maafkanlah. Biarlah ia menikmati hari-hari yang akan datang, memandang matahari terbit dan terbenam. Tetapi apabila kesombongannya tidak juga berkurang, maka kesempatan itu tidak akan berlangsung lama.”
Mahisa Agni menggeram. Hampir saja ia berteriak, tetapi Empu Gandring mendahuluinya, “Biarkan Agni. Jangan kau dengarkan kata-katanya. Adalah wajar, apabila seseorang yang merasa ada kekurangan dalam dirinya, berusaha untuk menyembunyikannya, menutupinya dengan berbagai perbuatan dan perkataan yang justru berlebih-lebihan dan mentertawakan.”
Empu Sada berpaling. Wajahnya masih menyala. Tetapi yang terdengar hanyalah gemeretak giginya. Kuda Sempana bukanlah seorang penakut. Ia kadang-kadang tidak dapat melihat dan mendengar pertimbangan-pertimbangan, apabila maksudnya telah memanjat sampai kekepalanya. Tetapi kali ini gurunya telah memperingatkannya. Dan ia dapat mengerti sepenuhnya. Karena itu, betapa sakit hatinya mendengar sindiran-sindiran Empu Gandring yang tepat menusuk jantungnya, namun ia tidak membantah maksud gurunya.
Demikian pula orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo, yang disebut oleh gurunya sebagai seorang pedagang keliling. Namun ternyata ia lebih licik dari Kuda Sempana. Karena itu, demikian ia melihat gurunya berputar, cepat-cepat ia melangkah menjauhi Mahendra yang memandanginya seakan-akan hendak menelannya bulat-bulat.
Empu Gandring, Mahisa Agni dan Mahendra berdiri saja tegak di tempatnya ketika mereka melihat Empu Sada membawa kedua muridnya pergi. Mereka berjalan tergesa-gesa menghilang digelapnya malam. Namun sebelum mereka terlampau jauh terdengar Empu Sada berkata,
“Empu Gandring, kau pasti akan menyesal kelak, bahwa kau telah mencampuri urusan aku kami murid-muridku yang tersebar di banyak tempat akan membantu aku di samping Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Kalau kelak kau dengar rencanaku, maka kau akan jatuh pingsan karenanya.”
Empu Gandring tidak menjawab. Orang tua itu hanya sekedar tersenyum. Namun yang terdengar adalah suara Mahisa Agni, “Paman. Kalau benar paman Empu Gandring, mungkin paman belum mengenal Kuda Sempana sebaik-baiknya.”
Empu Gandring masih tersenyum. Jawabnya, “Biarkan saja Agni. Orang itu tidak akan berbuat apa-apa.”
“Telah terlampau banyak yang dilakukan Paman.”
Empu Gandring mengerutkan keningnya, “Apa saja? Tetapi percayalah itu semua hanyalah ungkapan kekecewaannya, bahwa ia gagal mendapat gadis yang dikehendaki. Apabila kemudian hatinya telah menjadi tenang, maka ia akan menemukan keseimbangan kembali, seperti angger Mahendra. Bukankah begitu?”
Mahendra menundukkan kepalanya. Terasa seperti api menyala di dadanya. Namun kemudian padam kembali. Ia telah bertekad untuk melupakan Ken Dedes, yang kini telah hampir menjadi seorang permaisuri.
Tetapi Mahisa Agni Kemudian menjawab, ”Kuda Sempana terlalu berkeras kepala.”
“Darahnya memang panas. Namun akan datang saatnya darah itu menjadi sejuk. Apalagi apabila ia menyadari keadaannya dan kenyataan.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tetapi ia ragu-ragu mendengar kata-kata itu. Apalagi diingatnya kata-kata Empu Sada, sehingga kemudian ia bertanya kembali, “Paman, apakah Empu Sada tidak akan benar membawa orang-orang yang bernama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat? Dan siapakah mereka berdua itu?”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. perlahan-lahan ia berjalan mendekati Mahisa Agni dan Mahendra, kemudian berpaling kepada ketiga kawan Mahisa Agni yang duduk lemah seperti tak bertulang.
“Hem. Kenapa kalian menjadi ketakutan?” Empu Gandring itu bertanya kepada mereka. Tetapi Jinan, Patalan dan Sinung Sari masih dikuasai oleh kebingungan yang sangat, sehingga mereka tidak segera dapat menjawab.
“Nah, tenangkan dahulu hatimu. Dua malam dipadang Karautan ini akan menjadi kenangan seumur hidupmu. Tetapi mudah-mudahan kalian dapat mempergunakannya sebagai pelajaran, bahwa menghadapi orang-orang seperti Empu Sada dan murid-muridnya apalagi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, kita tidak boleh mengharap belas kasihannya. Juga terhadap murid-murid mereka. Kita harus berbelas kasihan kepada diri sendiri dan melindunginya.”
Ketiga anak-anak muda itu masih belum dapat menjawab. Tetapi mereka mencoba mengangguk. Empu Gandring itu pun kemudian duduk pula diatasi rumput-rumput kering, “Duduklah,“ katanya mempersilahkan Mahisa Agni dan Mahendra.
Mahisa Agni dan Mahendra pun kemudian duduk pula. Terasa suasana yang aneh meliputi dada Mahisa Agni. Pamannya itu telah bertahun-tahun tak ditemuinya, dan kini ketika mereka bertemu, suasananya terasa tidak terlalu akrab, karena persoalan-persoalan yang melingkar-lingkar di dalam hati masing-masing. Meskipun demikian, hati Mahisa Agni merasa berkembang pula. Apabila kelak gurunya tak dapat dicarinya, maka ia menemukan tempat lain untuk mengadu apabila orang-orang yang berhati dengki seperti Empu Sada dan kawan-kawannya datang mengganggunya, mengganggu rencananya membangun bendungan, saluran-saluran air, dan tanah persawahan.
“Agni,“ terdengar Empu Gandring itu bertanya, “apakah ibumu sekarang berada di Tumapel?”
Mahisa Agni ragu-ragu untuk menjawab. Ibunya sedang berusaha untuk selalu menunggui Ken Dedes. Karena itu, sekali ia memandang Mahendra dengan sudut matanya, dan kemudian menundukkan kepalanya. Tetapi Mahendra sama sekali tidak mempedulikan pertanyaan itu. Yang sedang berkecamuk di dalam otaknya adalah orang-orang semacam Empu Sada, dan orang-orang lain yang disebut-sebut namanya Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.
“Aku akan mengatakannya kepada guru,“ berkata Mahendra di dalam hatinya, “mungkin guru telah mengenal mereka itu.”
Dalam pada itu Empu Gandring agaknya dapat menangkap perasaan Mahisa Agni. Agaknya anak muda itu belum bersedia diajak berbicara mengenai ibunya. Karena itu maka segera pembicaraannya dialihkannya katanya,
“Agni, apakah kau benar-benar akan membangun sebuah bendungan?”
“Ya paman,“ jawab Agni.
“Di tempat ini?”
“Ya paman.”
“Bagus. Tempat ini adalah tempat yang baik untuk membangun sebuah bendungan. Tebing sungai disini tidak begitu dalam.”
“Ya paman.”
“Kapan akan kau mulai rencanamu itu.”
“Secepatnya paman.”
“Bagus.“ Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya.
Terasa jawaban Mahisa Agni terlampau pendek-pendek. Dan terasa bahwa masih ada sesuatu yang tersangkut di dalam perasaan anak muda. itu. Karena itu maka Empu Gandring untuk sesaat berdiam diri. Dibiarkannya Mahisa Agni mendapat kesempatan mengatakan perasaannya. Ketika Empu Gandring kemudian berdiam diri sambil mengangguk-angguk maka bertanyalah Mahisa Agni,
“Paman. Apakah paman mengenal orang-orang yang bernama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.”
Empu Gandring mengerutkan keningnya. Terdengar ia berdesis, dan kemudian berkata, “Jangan hiraukan mereka.”
“Tetapi orang-orang itu akan dapat berbahaya bagi rencanaku membangun bendungan ini.”
“Jangan hiraukan yang lain-lain. Sekarang bagaimana dengan rencanamu? Apakah kau sudah membayangkan, dimana saluran air akan kau buat. Agni tanah ini akan dapat menjadi tanah yang subur apabila cukup mendapat air. Kalau kau berhasil menaikkan air dari sungai itu, maka daerah ini akan segera menjadi daerah yang sangat ramai.”
“Ya paman.”
Empu Gandring tersenyum. Kembali ia mendengar jawaban itu. Dan kembali Empu Gandring mendengar pertanyaan yang serupa, “Paman. Mereka pasti tidak akan membiarkan bendungan ini terwujud. Bukan karena mereka berkepentingan atas sungai dan padang Karautan, tetapi mereka hanya sekedar ingin menggagalkan usaha ini.”
“Mungkin,“ sahut Empu Gandring sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Pikiran kemanakannya itu memang bukan suatu gambaran yang dibuat-buat. Karena itu, ia kini tidak dapat menghindar lagi. Semula ia sama sekali tidak ingin berbicara tentang orang-orang yang mengerikan itu. Empu Gandring tidak ingin mempengaruhi rencana kemanakannya terganggu karena gambaran-gambaran yang mencemaskan yang belum pasti akan datang. Tetapi kemudian disadarinya bahwa kemanakannya bukanlah seorang penakut. Tetapi ia hanya ingin membuat perhitungan-perhitungan yang cermat dan melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Karena itu maka jawabnya kemudian,
“Kedua orang itu memang orang yang aneh. Tetapi jangan terlampau kau pikirkan. Mereka adalah orang-orang yang selalu menuruti keinginan sendiri. Mungkin Empu Sada dapat mempergunakan mereka. Tetapi mungkin tidak. Namun seandainya mungkin sekalipun, maka kedua orang itu bukan orang yang perlu terlampau dikagumi. Mereka masih belum melampaui Empu Sada sendiri. Belum dapat menyamai guru angger Mahendra Panji Bojong Santi dan belum dapat menyamai gurumu Empu Purwa.”
“Tetapi guru tidak ada disini paman.”
Empu Gandring tersenyum. Jawabnya, “Ia tidak pergi terlampau jauh. Bukankah gurumu mengetahui bahwa kau akan membuat bendungan disini?. Bukankah gurumu tahu bahwa kau berselisih dengan Kuda Sempana?”
“Ya.”
“Gurumu tahu, tahu dengan pasti, siapakah guru Kuda Sempana meskipun tidak pernah mengatakannya. Gurumu pasti telah memperhitungkan apa yang dapat terjadi dipadang Karautan ini. Bahkan aku menduga bahwa gurumu kali ini pun tidak melepaskan kau sendiri. Seandainya aku dapat menahan diri sekejap lagi di belakang gerumbul itu, mungkin gurumulah yang akan mencegah perbuatan Empu Sada.”
Dada Mahisa Agni berdebar-debar mendengar kata-kata pamannya. Tiba-tiba tanpa dikehendakinya sendiri, ia memandang berkeliling. Namun yang dilihatnya adalah takbir yang hitam mengelilinginya di atas padang rumput yang luas. Beberapa onggok gerumbul tampak tersembul dalam keremangan malam. Selebihnya adalah hitam pekat.
Empu Gandring tersenyum. Katanya, “Nah beristirahatlah. Sementara aku akan bersamamu Agni. Aku ingin melihat apa yang akan kau lakukan atas sungai dan padang ini.”
Sekali lagi dada Mahisa Agni mengembang. Ternyata tanpa dimintanya, pamannya bersedia tinggal beberapa lama diantara orang-orang Panawijen yang akan membuat bendungan untuk merubah padang Karautan menjadi tanah persawahan. Namun sebelum ia menjawab, pamannya tiba-tiba telah menjatuhkan dirinya, begitu saja tanpa alas, berbaring di atas rerumputan yang telah dibasahi oleh embun. Tetapi Mahisa Agni tidak mengusiknya. Dibiarkannya pamannya berbaring dan bahkan kemudian ia berkata kepada Mahendra,
“Berisirahatlah Mahendra.”
Mahendra mengangguk, jawabnya, “Aku ingin beristirahat. Tetapi besok aku harus sudah menghadap kakang Witantra kembali membawa jawabanmu Agni.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tiba-tiba angannya tentang bendungan itu tersentak bergeser kepada puteri gurunya, Ken Dedes yang kini berada di istana Tumapel. Tetapi Mahisa Agni tidak segera menjawab. Terasa jantungnya berdegupan. Matanya jauh terlempar ke dalam kelamnya malam, seakan-akan ingin menembus sampai ke ujung padang Karautan. Mahendra pun untuk sesaat berdiam diri. Tanpa sesadarnya pandangan matanya pun mengikuti arah pandangan Mahisa Agni. Jauh, menghunjam ke dalam kelam. Mahisa Agni berpaling ketika ia mendengar Jinan dan Patalan berdesah dan Sinung Sari terbatuk-batuk kecil.
“Tidurlah,“ berkata Mahisa Agni kepada mereka.
Mereka menganggukkan kepala mereka. Tetapi mereka tetap duduk membeku saling berdesak-desakan seperti orang yang kedinginan.
Mahisa Agni terdiam sesaat. Ia pernah mengenal pamannya dahulu. Dahulu, pada waktu ia masih kecil. Pamannya adalah seorang yang bertubuh gemuk, kekar dan berwajah bulat. Pamannya adalah seorang Empu yang riang. Namun itu sudah berlalu jauh di belakang, belasan tahun yang lampau.
Orang yang berdiri di dekat gerumbul itu tersenyum. Orang itu bertubuh kecil meskipun tidak pendek. Yang dengan mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata,
“Nah Agni. Akulah yang membuat keris itu.”
Dada Mahisa Agni tersentak mendengar pengakuan itu. Orang itu sama sekali tidak gemuk seperti pamannya. Karena itu maka dengan serta merta Agni berkata,
“Paman Empu Gandring bertubuh gemuk.”
Kini orang itu tertawa, “Umurku telah memanjat dari tahun ke tahun. Banyak pekerjaan yang harus aku lakukan. Banyak persoalan yang harus aku selesaikan. Ternyata aku semakin tua menjadi semakin kurus.”
Mata Mahisa Agni masih memancarkan keragu-raguan. Namun terdengar Empu Sada kemudian memutus pembicaraan mereka, “He, Ki Sanak. Apakah monyet ini kemanakanmu?”
“Ya,” sahut orang yang menyebut dirinya Empu Gandring itu, “ia adalah kemanakanku.”
“Setan,“ umpat Empu Sada, “kau bohong. Kau hanya mencari sebab untuk mencegah perbuatanku.”
“Kali ini tidak,“ sahut Empu Gandring, “meskipun aku akan mencegah perbuatanmu, tetapi bukan sekedar mencampuri persoalan orang lain. Tetapi Mahisa Agni adalah kemanakanku.”
Padang rumput Karautan itu sesaat tenggelam dalam keheningan yang tegang. Mahisa Agni berdiri tegak seperti patung memandangi orang yang berdiri di dekat gerumbul itu. Tiba-tiba terangkatlah kembali kenangannya yang lamat-lamat tentang pamannya. Ciri itu masih dirasakannya. Pamannya adalah seorang yang suka bergurau. Karena itu tiba-tiba ia berkata,
“Apakah paman ini paman Empu Gandring yang sebenarnya?”
Orang itu tertawa, “Apakah ada Empu Gandring yang lain?”
Mahisa Agni terdiam. Ditatapnya wajah orang itu dengan saksama, dan melonjaklah keharuan di dalam dadanya seakan-akan ia menemukan sesuatu yang hilang yang tak pernah disangkanya akan ditemukannya lagi. Beberapa saat yang lampau, hampir ia lari mencari pamannya ini untuk membantunya mendapatkan anak Gurunya. Tetapi maksud itu tak pernah dilakukannya. Dan kini tiba-tiba pamannya itu telah berdiri dihadapannya tanpa dicarinya. Karena itu terasa dada Mahisa Agni berguncang-guncang. Meskipun ia masih berdiri tegak seperti sebuah patung batu. keragu-raguan yang dahsyat telah melanda hatinya.
“Kau ragu-ragu,“ terdengar Empu Gandring itu bertanya, “baiklah. Kau sudah bertahun-tahun tidak melihat aku lagi. Adalah wajar kalau kau menjadi ragu-ragu. Tetapi itu tidak penting. Yang penting sekarang bagaimana caranya supaya kau tetap melakukan pekerjaan yang dipercayakan kepadamu oleh orang-orang Panawijen itu.”
“Jangan mengigau,“ potong Empu Sada, “aku sudah menyangka sejak aku melihat tampangmu, bahwa kau masih saja selalu menghalang-halangi aku. Jangan kau ganggu muridku yang sedang menemukan permainan yang baik sekali bagi mereka.”
“Tidak,” sahut Empu Gandring, “aku tidak akan mengganggu mereka.”
“Kalau begitu pergilah sebelum aku marah.”
“Baik,“ sahut orang itu pula, “marilah kita pergi. Sudah lama aku tidak bertemu dengan kau Empu. Aku sudah rindu. Rindu pada masa kanak-kanak yang tak akan kembali lagi di masa mendatang. Tetapi marilah kita pulang bersama-sama, sehingga dengan demikian kita akan dapat mengenang sebagian masa itu. Masa kanak-kanak yang manis.”
“Jangan mimpi. Aku bukan pemimpi seperti kau. Aku adalah seseorang yang melihat masa kini dan masa depan.”
“Tetapi masa lampau adalah kenangan yang menyenangkan. Apakah kau dapat menghapuskan masa-masa itu? Apakah kau dapat menghapus peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di masa-masa lampau? Bukankah masa-masa lampau itu yang menentukan keadaanmu sekarang?”
“Aku tidak peduli masa lampau. Sekarang pergi dari tempat ini. Tinggalkan kami. Tinggalkan anak muda yang kau katakan kemanakanmu itu.”
Orang tua itu menggeleng. Bahkan setapak ia maju sambil berkata, “Empu Sada. Aku pun bukan seorang pemimpi melulu. Aku juga ingin melihat masa depan yang baik bagiku dan bagi orang-orang yang bersangkut paut dengan darah keturunanku. Mahisa Agni adalah kemanakanku. Apakah aku harus membiarkannya kehilangan masa depannya. Empu Sada, aku sendiri mempunyai anak-anak di rumah. Aku pernah merasakan betapa cemasnya orang-orang tua yang anak-anaknya mengalami bahaya. Nah, bagaimana aku akan dapat membiarkan kau berbuat curang. Biarlah anak-anak muda menyelesaikan persoalan mereka sendiri.”
Empu Sada menggeram. Ia tidak menjawab perkataan-perkataan itu, tetapi ia pun melangkah maju. Kedua orang tua itu kini berdiri saling berhadapan. Empu Gandring kini sudah tidak tertawa-tawa lagi. Wajahnya kemudian menjadi bersungguh-sungguh.
“Jadi kau tetap pada pendirianmu?” bentak Empu Sada.
“Seperti apa yang akan kau lakukan. Kalau kau tetap dalam usahamu menciderai anak kemanakanku itu, maka aku tetap dalam usahaku menyelamatkannya.”
Wajah Empu Sada menjadi merah padam. Tetapi ketika ia berpaling memandang ke arah kedua muridnya, maka hatinya berdesir. Ia melihat kedua muridnya berhadapan dengan kedua anak-anak muda yang sudah siap untuk melawan mereka. Mahisa Agni dan Mahendra Karena itu hatinya menjadi berguncang. Sesaat ia menjadi ragu-ragu. Apakah kedua muridnya mampu melawan kedua anak muda itu?.
Dalam keragu-raguan itu terdengar Empu Gandring berkata, “Nah, apakah katamu Empu?”
Sejenak Empu Sada tidak menyahut. Timbullah kini pergolakan di dalam hatinya. Betapapun juga ia masih sempat memperhitungkan, apa yang sedang dihadapinya. Empu Gandring adalah seorang yang cukup sakti untuk mengimbanginya. Sedang Mahisa Agni sudah pasti dapat mengalahkan kuda Sempana. Apabila Mahendra dapat mengimbangi Cundaka maka keadaannya akan menjadi sulit. Mungkin salah seorang muridnya atau kedua-duanya akan terbunuh. Karena itu tiba-tiba Empu Sada itu tersenyum. Sambil menganggukkan kepalanya ia berkata,
“Hem. Sayang kau datang. Aku tidak sampai hati merusak kenanganmu yang manis itu. Aku tidak sampai hati mematahkan mimpimu yang menyenangkan. Seandainya bukan kau yang datang sambil merajuk tentang masa-masa lampau, maka hatiku sudah tidak akan dapat dilunakkan. Tetapi terhadapmu aku masih belum dapat melenyapkan perasaan belas kasihan. Sejak anak-anak kau seorang pemimpi dan perajuk. Karena itu, baiklah aku penuhi permintaanmu kali ini. Ingat hanya kali ini.”
Empu Gandring mengerutkan keningnya. Sebelum ia menjawab terdengar Empu Sada berkata, “Kuda Sempana, ternyata Mahisa Agni adalah kemanakan sahabatku. Karena itu, maafkanlah anak muda itu kali ini. Tetapi hanya kali ini.”
Kuda Sempana berdiri membeku di tempatnya. Tiba-tiba dari matanya memancar beribu-ribu pertanyaan yang bergolak di dalam dadanya. Namun akhirnya ia mengetahui pula maksud gurunya. Bahwa orang yang datang itu adalah orang yang cukup sakti pula, sehingga gurunya menganggap perlu untuk menunda maksudnya sampai di saat-saat yang lain.
Namun Mahisa Agni sama sekali tidak dapat mengertinya. Karena itu tiba-tiba ia berkata, “Apakah Kuda Sempana kali ini masih akan dilepaskan lagi?”
Empu Gandring mengerutkan keningnya. Ia pernah mendengar persoalan yang terjadi antara Mahisa Agni, Kuda Sempana, Ken Dedes dan bahkan sampai orang-orang lain dalam persoalan ini menurut ceritera seseorang. Tetapi ia tidak tahu dengan pasti, sebab Empu Gandring sendiri jarang-jarang meninggalkan kampung halamannya, Lulumbang, karena pekerjaannya yang terlampau banyak, membuat keris. Hanya karena dorongan keadaan yang sangat penting, untuk menemukan kemanakannya, kini ia meninggalkan rumah dan tugasnya. Sehingga karena itu, maka ia menjawab pertanyaan Mahisa Agni,
“Biarkan Kuda Sempana dibawa gurunya. Biarlah gurunya mengajarnya untuk berlaku sopan dan baik.”
Empu Sada menggeram mendengar sindiran Empu Gandring, namun Mahisa Agni tidak kalah kecewanya. Kuda Sempana baginya adalah penyebab dari segala macam bencana yang menimpa keluarga gurunya dan bahkan seluruh penduduk Panawijen. Mungkin orang yang menyebut dirinya Empu Gandring itu tidak merasakan, betapa ia menderita lahir dan batin karena anak muda yang bernama Kuda Sempana itu.
Tetapi Mahisa Agni pun masih mampu berpikir. Bahwa guru Kuda Sempana baginya adalah lawan yang tidak seimbang. Sedangkan Mahisa Agni merasa pula, bahwa ia tidak akan dapat memaksa Empu Gandring itu untuk bertempur apabila memang tak dikehendakinya. Karena itu, yang terdengar kemudian adalah gemeretak gigi Mahisa Agni. Terasa perasaannya melonjak-lonjak, seakan-akan ingin ia menerkam anak muda yang bernama Kuda Sempana itu. Namun nalarnya telah mencegahnya. Ternyata bukan saja Mahisa Agni yang dicengkam oleh kekecewaan. Bahkan Mahendra pun menjadi sangat kecewa pula. Namun seperti Mahisa Agni, ia menyadari kedudukannya. Menyadari kemampuannya.
“Hem,“ desahnya di dalam hati, “kalau saja guruku ada di tempat ini. Mungkin Kuda Sempana dan orang yang bernama Cundaka itu pasti sudah dapat kami lumpuhkan.”
Tetapi Empu Gandring ternyata berpendirian lain. Empu Gandring ingin melepaskan mereka, dan mengharap Empu Sada dapat memberi tuntunan kepada murid-muridnya untuk berlaku lebih baik.
“Sia-sia. Seperti guru dahulu berpendirian begitu,“ pikir Mahisa Agni. Tetapi sekali lagi ia hanya dapat menggeretakkan giginya. Ia tidak akan dapat memaksa Empu Gandring bertempur tanpa dikehendakinya sendiri.
Dalam pada itu terdengar Empu Sada berkata, “Jangan terlalu sombong. Murid-muridku sama sekali tidak perlu lagi mendapat ajaran tentang kesopanan dan kebaikan budi. Mereka adalah orang baik-baik. Mereka adalah seorang hamba istana Tumapel, dan seorang lagi adalah seorang pedagang keliling yang terhormat. Kaulah yang harus mengajari kemanakanmu itu untuk melihat dirinya. Ia tidak lebih dari anak padesan. Anak Panawijen.”
Empu Gandring tidak menjawab kata-kata itu, bahkan kemudian ia berkata, “Selamat malam Empu. Selamat beristirahat. Kalau Empu ingin meninggalkan tempat ini, segera kami persilahkan. Namun untuk seterusnya, ajarilah murid-murid Empu untuk tidak mengganggu Mahisa Agni.”
“Jangan gurui aku. Sudah aku katakan, lain kali kami tidak dapat memaafkan kalian lagi. Apabila Mahisa Agni masih kembali ke Padang Karautan, maka saat itu pula, akan kami ikat tubuhnya di belakang kuda-kuda kami.”
“Ah. Jangan berbicara seperti kepada anak-anak Empu. Aku sudah tahu, seperti kau tahu pula. Siapa Empu Sada, siapa Empu Gandring, siapa Empu Purwa dan siapa Panji Bojong Santi, guru angger Mahendra itu. Nah, apa katamu sekarang?”
Wajah Empu Sada menjadi merah padam mendengar Empu Gandring menyebut-nyebut nama beberapa orang sakti. Tiba-tiba orang tua itu menggeram keras sekali sambil menghentakkan tongkatnya di tanah. Katanya,
“Kau mengancam?”
Empu Gandring menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku sama sekali tidak mengancam. Aku hanya menyebutkan beberapa nama yang dapat terlibat dalam persoalan seterusnya, apabila kau tetap berbuat gila.”
Empu Sada tidak segera menjawab. Terasa darahnya seakan-akan mendidih di dalam jantungnya. Sementara itu, dada Mahendra berdesir mendengar Empu Gandring menyebut nama gurunya. Dengan serta merta ia bertanya,
“Apakah Empu mengenal guruku?”
Empu Gandring berpaling. Jawabnya, “Mustahil seseorang tidak mengenal Panji Bojong Santi. Apalagi orang tua sebaya aku dan Empu Sada.”
Mahendra menganggukkan kepalanya. Katanya, “Jadi Empu Gandring termasuk salah seorang sahabat guru?”
“Aku belum mengenal terlampau rapat. Tetapi sekali dua kali kami pernah bertemu. Seperti aku pernah bertemu dengan Empu Purwa meskipun baru satu kali. Namun meskipun belum, namanya pasti sudah dikenal oleh setiap orang-orang setua aku. Dan dari namanya itu pun aku akan dapat mengetahui, siapa-apa mereka itu.”
Mahendra kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi gembira ketika diketahuinya bahwa Empu Gandring pernah mengenal gurunya. Ia masih ingin mengatakan beberapa hal lagi, namun terdengar suara Empu Sada memecah ketegangan yang mencengkam hatinya sendiri,
“Baik. Baik. Kau telah menyebut beberapa nama. Kau sangka aku akan gentar menghadapi mereka semua. Kau, Empu Purwa dan Bojong Santi yang kurus kering itu Empu Gandring, kau pun pasti sudah mengenal nama-nama lain dari mereka. Kebo Sindet, Wong Sarimpat. Nah, apa katamu?”
Empu Gandring tersenyum. Katanya, “Ah. Apakah kau akan memaklumkan perang bersama orang-orang dengki itu? Sayang Empu. Meskipun kadang-kadang kau juga berbuat hal-hal yang aneh-aneh misalnya muridmu kau biarkan membuat permainan yang mengerikan, menarik seseorang di belakang seekor kuda, namun namamu masih jauh lebih terhormat daripada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.”
Terdengar kemudian Empu Sada tertawa. Suaranya melengking menyakitkan hati. Kemudian katanya, “Jangan gemetar mendengar nama-nama itu. Mereka adalah orang-orang bodoh yang dapat saja aku peralat. Meskipun mereka mempunyai kesaktian-kesaktian yang mengerikan, namun otak mereka adalah otak yang sangat tumpul. Kau tahu maksudku.”
Empu Gandring menganggukkan kepalanya, “Terserahlah kepadamu.”
“Bagus. Kalau kau berani menghadapinya, biarlah aku sekarang meninggalkan tempat ini.”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Pergilah. Tetapi pikirkan sekali lagi kalau kau akan mempergunakan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Mereka tidak sebodoh yang kau sangka.”
Mendengar kata-kata Empu Gandring itu, Empu Sada tertawa. Jawabnya, “Hem. Kau belum mengenal kedua orang itu baik-baik. Mungkin kau tidak dapat mempergunakannya seperti apa yang kau inginkan. Tetapi terhadapku, mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa.”
“Terserahlah kepadamu,“ sahut Empu Gandring, “tetapi bagaimana pun juga, aku tidak senang melihat kau mengganggu kemenakanku.”
Empu Sada tidak menjawab. Ia berpaling kepada kedua muridnya dan berkata, “Kali ini sahabatku, Empu Gandring, minta kau memaafkan kemanakannya. Nah, maafkanlah. Biarlah ia menikmati hari-hari yang akan datang, memandang matahari terbit dan terbenam. Tetapi apabila kesombongannya tidak juga berkurang, maka kesempatan itu tidak akan berlangsung lama.”
Mahisa Agni menggeram. Hampir saja ia berteriak, tetapi Empu Gandring mendahuluinya, “Biarkan Agni. Jangan kau dengarkan kata-katanya. Adalah wajar, apabila seseorang yang merasa ada kekurangan dalam dirinya, berusaha untuk menyembunyikannya, menutupinya dengan berbagai perbuatan dan perkataan yang justru berlebih-lebihan dan mentertawakan.”
Empu Sada berpaling. Wajahnya masih menyala. Tetapi yang terdengar hanyalah gemeretak giginya. Kuda Sempana bukanlah seorang penakut. Ia kadang-kadang tidak dapat melihat dan mendengar pertimbangan-pertimbangan, apabila maksudnya telah memanjat sampai kekepalanya. Tetapi kali ini gurunya telah memperingatkannya. Dan ia dapat mengerti sepenuhnya. Karena itu, betapa sakit hatinya mendengar sindiran-sindiran Empu Gandring yang tepat menusuk jantungnya, namun ia tidak membantah maksud gurunya.
Demikian pula orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo, yang disebut oleh gurunya sebagai seorang pedagang keliling. Namun ternyata ia lebih licik dari Kuda Sempana. Karena itu, demikian ia melihat gurunya berputar, cepat-cepat ia melangkah menjauhi Mahendra yang memandanginya seakan-akan hendak menelannya bulat-bulat.
Empu Gandring, Mahisa Agni dan Mahendra berdiri saja tegak di tempatnya ketika mereka melihat Empu Sada membawa kedua muridnya pergi. Mereka berjalan tergesa-gesa menghilang digelapnya malam. Namun sebelum mereka terlampau jauh terdengar Empu Sada berkata,
“Empu Gandring, kau pasti akan menyesal kelak, bahwa kau telah mencampuri urusan aku kami murid-muridku yang tersebar di banyak tempat akan membantu aku di samping Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Kalau kelak kau dengar rencanaku, maka kau akan jatuh pingsan karenanya.”
Empu Gandring tidak menjawab. Orang tua itu hanya sekedar tersenyum. Namun yang terdengar adalah suara Mahisa Agni, “Paman. Kalau benar paman Empu Gandring, mungkin paman belum mengenal Kuda Sempana sebaik-baiknya.”
Empu Gandring masih tersenyum. Jawabnya, “Biarkan saja Agni. Orang itu tidak akan berbuat apa-apa.”
“Telah terlampau banyak yang dilakukan Paman.”
Empu Gandring mengerutkan keningnya, “Apa saja? Tetapi percayalah itu semua hanyalah ungkapan kekecewaannya, bahwa ia gagal mendapat gadis yang dikehendaki. Apabila kemudian hatinya telah menjadi tenang, maka ia akan menemukan keseimbangan kembali, seperti angger Mahendra. Bukankah begitu?”
Mahendra menundukkan kepalanya. Terasa seperti api menyala di dadanya. Namun kemudian padam kembali. Ia telah bertekad untuk melupakan Ken Dedes, yang kini telah hampir menjadi seorang permaisuri.
Tetapi Mahisa Agni Kemudian menjawab, ”Kuda Sempana terlalu berkeras kepala.”
“Darahnya memang panas. Namun akan datang saatnya darah itu menjadi sejuk. Apalagi apabila ia menyadari keadaannya dan kenyataan.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tetapi ia ragu-ragu mendengar kata-kata itu. Apalagi diingatnya kata-kata Empu Sada, sehingga kemudian ia bertanya kembali, “Paman, apakah Empu Sada tidak akan benar membawa orang-orang yang bernama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat? Dan siapakah mereka berdua itu?”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. perlahan-lahan ia berjalan mendekati Mahisa Agni dan Mahendra, kemudian berpaling kepada ketiga kawan Mahisa Agni yang duduk lemah seperti tak bertulang.
“Hem. Kenapa kalian menjadi ketakutan?” Empu Gandring itu bertanya kepada mereka. Tetapi Jinan, Patalan dan Sinung Sari masih dikuasai oleh kebingungan yang sangat, sehingga mereka tidak segera dapat menjawab.
“Nah, tenangkan dahulu hatimu. Dua malam dipadang Karautan ini akan menjadi kenangan seumur hidupmu. Tetapi mudah-mudahan kalian dapat mempergunakannya sebagai pelajaran, bahwa menghadapi orang-orang seperti Empu Sada dan murid-muridnya apalagi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, kita tidak boleh mengharap belas kasihannya. Juga terhadap murid-murid mereka. Kita harus berbelas kasihan kepada diri sendiri dan melindunginya.”
Ketiga anak-anak muda itu masih belum dapat menjawab. Tetapi mereka mencoba mengangguk. Empu Gandring itu pun kemudian duduk pula diatasi rumput-rumput kering, “Duduklah,“ katanya mempersilahkan Mahisa Agni dan Mahendra.
Mahisa Agni dan Mahendra pun kemudian duduk pula. Terasa suasana yang aneh meliputi dada Mahisa Agni. Pamannya itu telah bertahun-tahun tak ditemuinya, dan kini ketika mereka bertemu, suasananya terasa tidak terlalu akrab, karena persoalan-persoalan yang melingkar-lingkar di dalam hati masing-masing. Meskipun demikian, hati Mahisa Agni merasa berkembang pula. Apabila kelak gurunya tak dapat dicarinya, maka ia menemukan tempat lain untuk mengadu apabila orang-orang yang berhati dengki seperti Empu Sada dan kawan-kawannya datang mengganggunya, mengganggu rencananya membangun bendungan, saluran-saluran air, dan tanah persawahan.
“Agni,“ terdengar Empu Gandring itu bertanya, “apakah ibumu sekarang berada di Tumapel?”
Mahisa Agni ragu-ragu untuk menjawab. Ibunya sedang berusaha untuk selalu menunggui Ken Dedes. Karena itu, sekali ia memandang Mahendra dengan sudut matanya, dan kemudian menundukkan kepalanya. Tetapi Mahendra sama sekali tidak mempedulikan pertanyaan itu. Yang sedang berkecamuk di dalam otaknya adalah orang-orang semacam Empu Sada, dan orang-orang lain yang disebut-sebut namanya Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.
“Aku akan mengatakannya kepada guru,“ berkata Mahendra di dalam hatinya, “mungkin guru telah mengenal mereka itu.”
Dalam pada itu Empu Gandring agaknya dapat menangkap perasaan Mahisa Agni. Agaknya anak muda itu belum bersedia diajak berbicara mengenai ibunya. Karena itu maka segera pembicaraannya dialihkannya katanya,
“Agni, apakah kau benar-benar akan membangun sebuah bendungan?”
“Ya paman,“ jawab Agni.
“Di tempat ini?”
“Ya paman.”
“Bagus. Tempat ini adalah tempat yang baik untuk membangun sebuah bendungan. Tebing sungai disini tidak begitu dalam.”
“Ya paman.”
“Kapan akan kau mulai rencanamu itu.”
“Secepatnya paman.”
“Bagus.“ Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya.
Terasa jawaban Mahisa Agni terlampau pendek-pendek. Dan terasa bahwa masih ada sesuatu yang tersangkut di dalam perasaan anak muda. itu. Karena itu maka Empu Gandring untuk sesaat berdiam diri. Dibiarkannya Mahisa Agni mendapat kesempatan mengatakan perasaannya. Ketika Empu Gandring kemudian berdiam diri sambil mengangguk-angguk maka bertanyalah Mahisa Agni,
“Paman. Apakah paman mengenal orang-orang yang bernama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.”
Empu Gandring mengerutkan keningnya. Terdengar ia berdesis, dan kemudian berkata, “Jangan hiraukan mereka.”
“Tetapi orang-orang itu akan dapat berbahaya bagi rencanaku membangun bendungan ini.”
“Jangan hiraukan yang lain-lain. Sekarang bagaimana dengan rencanamu? Apakah kau sudah membayangkan, dimana saluran air akan kau buat. Agni tanah ini akan dapat menjadi tanah yang subur apabila cukup mendapat air. Kalau kau berhasil menaikkan air dari sungai itu, maka daerah ini akan segera menjadi daerah yang sangat ramai.”
“Ya paman.”
Empu Gandring tersenyum. Kembali ia mendengar jawaban itu. Dan kembali Empu Gandring mendengar pertanyaan yang serupa, “Paman. Mereka pasti tidak akan membiarkan bendungan ini terwujud. Bukan karena mereka berkepentingan atas sungai dan padang Karautan, tetapi mereka hanya sekedar ingin menggagalkan usaha ini.”
“Mungkin,“ sahut Empu Gandring sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Pikiran kemanakannya itu memang bukan suatu gambaran yang dibuat-buat. Karena itu, ia kini tidak dapat menghindar lagi. Semula ia sama sekali tidak ingin berbicara tentang orang-orang yang mengerikan itu. Empu Gandring tidak ingin mempengaruhi rencana kemanakannya terganggu karena gambaran-gambaran yang mencemaskan yang belum pasti akan datang. Tetapi kemudian disadarinya bahwa kemanakannya bukanlah seorang penakut. Tetapi ia hanya ingin membuat perhitungan-perhitungan yang cermat dan melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Karena itu maka jawabnya kemudian,
“Kedua orang itu memang orang yang aneh. Tetapi jangan terlampau kau pikirkan. Mereka adalah orang-orang yang selalu menuruti keinginan sendiri. Mungkin Empu Sada dapat mempergunakan mereka. Tetapi mungkin tidak. Namun seandainya mungkin sekalipun, maka kedua orang itu bukan orang yang perlu terlampau dikagumi. Mereka masih belum melampaui Empu Sada sendiri. Belum dapat menyamai guru angger Mahendra Panji Bojong Santi dan belum dapat menyamai gurumu Empu Purwa.”
“Tetapi guru tidak ada disini paman.”
Empu Gandring tersenyum. Jawabnya, “Ia tidak pergi terlampau jauh. Bukankah gurumu mengetahui bahwa kau akan membuat bendungan disini?. Bukankah gurumu tahu bahwa kau berselisih dengan Kuda Sempana?”
“Ya.”
“Gurumu tahu, tahu dengan pasti, siapakah guru Kuda Sempana meskipun tidak pernah mengatakannya. Gurumu pasti telah memperhitungkan apa yang dapat terjadi dipadang Karautan ini. Bahkan aku menduga bahwa gurumu kali ini pun tidak melepaskan kau sendiri. Seandainya aku dapat menahan diri sekejap lagi di belakang gerumbul itu, mungkin gurumulah yang akan mencegah perbuatan Empu Sada.”
Dada Mahisa Agni berdebar-debar mendengar kata-kata pamannya. Tiba-tiba tanpa dikehendakinya sendiri, ia memandang berkeliling. Namun yang dilihatnya adalah takbir yang hitam mengelilinginya di atas padang rumput yang luas. Beberapa onggok gerumbul tampak tersembul dalam keremangan malam. Selebihnya adalah hitam pekat.
Empu Gandring tersenyum. Katanya, “Nah beristirahatlah. Sementara aku akan bersamamu Agni. Aku ingin melihat apa yang akan kau lakukan atas sungai dan padang ini.”
Sekali lagi dada Mahisa Agni mengembang. Ternyata tanpa dimintanya, pamannya bersedia tinggal beberapa lama diantara orang-orang Panawijen yang akan membuat bendungan untuk merubah padang Karautan menjadi tanah persawahan. Namun sebelum ia menjawab, pamannya tiba-tiba telah menjatuhkan dirinya, begitu saja tanpa alas, berbaring di atas rerumputan yang telah dibasahi oleh embun. Tetapi Mahisa Agni tidak mengusiknya. Dibiarkannya pamannya berbaring dan bahkan kemudian ia berkata kepada Mahendra,
“Berisirahatlah Mahendra.”
Mahendra mengangguk, jawabnya, “Aku ingin beristirahat. Tetapi besok aku harus sudah menghadap kakang Witantra kembali membawa jawabanmu Agni.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tiba-tiba angannya tentang bendungan itu tersentak bergeser kepada puteri gurunya, Ken Dedes yang kini berada di istana Tumapel. Tetapi Mahisa Agni tidak segera menjawab. Terasa jantungnya berdegupan. Matanya jauh terlempar ke dalam kelamnya malam, seakan-akan ingin menembus sampai ke ujung padang Karautan. Mahendra pun untuk sesaat berdiam diri. Tanpa sesadarnya pandangan matanya pun mengikuti arah pandangan Mahisa Agni. Jauh, menghunjam ke dalam kelam. Mahisa Agni berpaling ketika ia mendengar Jinan dan Patalan berdesah dan Sinung Sari terbatuk-batuk kecil.
“Tidurlah,“ berkata Mahisa Agni kepada mereka.
Mereka menganggukkan kepala mereka. Tetapi mereka tetap duduk membeku saling berdesak-desakan seperti orang yang kedinginan.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar