Sejenak kemudian kembali padang itu menjadi sepi. Kembali terdengar angin yang silir mengusap dedaunan, mendendangkan kidung yang ngelangut.
“Mahendra,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “sebaiknya kau sampaikan jawabku itu kepada Witantra. Aku mohon maaf kepada Akuwu, bahwa sebenarnya Akuwu tidak perlu datang menemui aku. Biarlah Ken Dedes membuat keputusannya sendiri.”
Mahendra menggigit bibirnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian ia berkata, “Apakah keputusanmu sudah bulat?”
“Ya.”
“Apakah kau sakit hati Agni? Apakah kau tidak dapat melupakan peristiwa yang menyakiti hatimu itu.”
Mahisa Agni terdiam. Dan Mahendra pun terdiam pula. Tetapi dalam pada itu Mahendra telah menemukan kesimpulan, bahwa Mahisa Agni tidak akan bersedia merubah keputusannya.
“Baiklah kalau demikian,“ berkata Mahendra di dalam hatinya, “besok akan aku sampaikan jawaban itu.”
Malam pun kemudian menjadi bertambah malam. Bahkan kemudian menjelang keakhirannya. Mahisa Agni dan Mahendra masih duduk sambil memeluk lutut mereka. Tetapi mereka tidak berbicara lagi. Mereka mencoba memejamkan mata mereka sambil meletakkan dahi mereka di atas lutut.
Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni pun kemudian mencoba membaringkan diri mereka masing-masing. Tetapi sekejap pun mereka tidak segera berhasil memejamkan mata mereka. Apabila mereka mencoba juga memejamkan mata mereka, tiba-tiba datanglah berbagai gambaran yang mengerikan mengganggu otak mereka. Seolah-olah berduyun-duyun hantu berdatangan dari segenap penjuru padang rumput Karautan.
Ketika Mahisa Agni mengangkat wajahnya ditatapnya bintang cemerlang di Tenggara, Panjer esuk. Bintang yang seakan-akan memberinya pertanda bahwa sebentar lagi, fajar akan memerah di ujung Timur. Dan fajar itu datang terlampau lambat. Seakan-akan Mahisa Agni tidak dapat menyabarkan diri lagi. Berbagai kejemuan telah melanda dinding jantungnya. Padang yang sepi. Bendungan dan saluran-saluran air yang terbayang di pelupuk matanya semuanya itu seakan-akan telah terbentang dihadapannya. Sawah yang hijau dan air gemericik di parit-parit, melingkari setiap pematang kotak demi kotak. Tetapi Mahisa Agni itu seakan-akan direnggut dari dunia yang penuh dengan harapan dan terdorong ke dalam lembah yang bernafaskan kecemasan dan kegelisahan.
“Persetan dengan Ken Dedes,“ ia mencoba menghentakkan dirinya di dalam hati, “betapa aku mencoba melindunginya, apabila ia telah bersetuju menjadi isteri Tunggul Ametung yang telah membantu melarikannya itu. Tak ada lagi hakku untuk turut mencampuri persoalannya. Ia bukan adikku, bukan sanak bukan kadang.”
Mahisa Agni itu terkejut ketika ia kemudian melihat Mahendra bangkit perlahan-lahan ia melangkah mencari kudanya sambil berkata, “Aku akan melepas pelana kudaku dan memandikannya. Sebentar lagi aku harus sudah kembali ke Tumapel.”
Mahisa Agni tidak menyahut. Dengan matanya ia mengikuti langkah anak muda itu berjalan kebelakang gerumbul. Kemudian terdengar ia bersiul memanggil kudanya, dan sesaat kemudian Mahendra telah menuntun kudanya menuju ke tepian sungai. Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ketika kemudian fajar yang ditunggunya membayang di langit dengan hamparan warna merah, anak muda itu menggeliat. Ketika ia berdiri ia melihat Mahendra telah datang kembali.
“Aku akan segera kembali ke Tumapel Agni,“ berkata Mahendra.
“Aku juga,“ sahut Agni, “pagi ini aku kembali ke Panawijen. Beberapa hari lagi aku harus sudah mulai dengan bendungan ini.”
“Mudah-mudahan kau berhasil,“ Mahendra bergumam seakan-akan diperuntukkannya kepada diri sendiri.
“Terima kasih.”
Ketika kemudian matahari melepaskan sinarnya menghampar di atas padang rumput itu, maka Mahendra segera minta diri kepada Mahisa Agni, kepada Empu Gandring yang sudah duduk bersila, kepada ketiga kawan-kawan Mahisa Agni yang sudah terbangun pula. Dengan sigapnya ia meloncat ke atas punggung kudanya, dan dengan sigapnya pula kudanya meloncat. Seperti anak panah kuda itu berlari. Kepulan debu yang putih berterbangan di belakang kuda itu. Bukan saja Mahendra, namun Mahisa Agni pun segera berkemas-kemas pula. Dengan berbagai gambaran di dalam dadanya. Mahisa Agni kemudian membawa ketiga kawan-kawannya itu kembali ke Panawijen bersama pamannya Empu Gandring.
Tak ada yang penting bagi Mahisa Agni beserta kawan-kawannya itu dalam perjalanan pulang. Mereka harus menginap satu malam lagi dipadang rumput itu. Tetapi bersama Empu Gandring dan Mahisa Agni ketiga kawan-kawannya tidak begitu ketakutan lagi. Hanya kadang-kadang mereka mengeluh karena terik matahari dan haus yang menyengat-nyengat leher mereka. Seperti yang telah mereka rencanakan, mereka memasuki Panawijen di malam hari, supaya tak seorang pun yang melihat, bagaimana pakaian mereka menjadi compang camping.
Namun pada pagi harinya, Panawijen seolah-olah telah menerima seseorang yang membawa harapan bagi mereka, bagi anak cucu mereka. Itulah sebabnya dengan penuh gairah mereka menyambut Mahisa Agni beserta kawan-kawannya di halaman rumah Ki Buyut Panawijen. Rakyat Panawijen menunggu keterangan Mahisa Agni tentang hasil perjalanannya. Mereka tidak dapat menunggu terlalu lama. Sawah-sawah mereka telah mulai mengering dan isi lumbung-lumbung mereka telah mulai menipis. Mereka harus segera menemukan tempat untuk meletakkan diri menghadapi masa-masa yang masih terlampau panjang. Anak cucu dan keturunan mereka. Alangkah besar dosa mereka, apabila mereka tidak sempat memberikan peninggalan bagi keturunan mereka di masa-masa datang.
Mungkin mereka masih dapat mengharap hasil sawah di musim-musim basah. Namun di musim kemarau, apabila mereka itu tidak mendapat air dari saluran-saluran, maka sawah-sawah mereka akan menjadi padang yang kering dan mati.
Pagi itu Mahisa Agni sudah bersedia memberikan beberapa keterangan menjadi perjalanannya kepada para tertua Panawijen. Dan bahkan para tetua Panawijen yang tidak sabar lagi, telah siap pula untuk melakukan apa saja yang menurut Mahisa Agni dianggap baik. Namun diluar pendapa rumah Ki Buyut Panawijen, di mana Mahisa Agni duduk diantara beberapa orang-orang tua, anak-anak muda sibuk mengerumuni Jinan, Patalan dan Sinung Sari. Seperti air banjir mereka bertiga berceritera berganti-ganti. Yang satu tidak mau kalah dahsyatnya dari yang lain.
“Sayang waktu itu pedangku tidak di tanganku,“ berkata Patalan kepada kawan-kawannya, “sehingga aku tidak dapat sempat membantu Mahisa Agni melawan hantu Karautan.”
Kawan-kawannya memandangi dengan penuh kekaguman. kemudian disusulnya oleh Jinan, “Sayang. Keduanya berkelahi terlampau kasar, sehingga aku tidak mendapat kesempatan untuk mengayunkan pedangku. Mereka saling berdesakan, saling dorong mendorong dengan senjata masing-masing dan berputaran seperti baling-baling. Aku takut apabila pedangku justru akan mengenai Agni sendiri.”
Anak-anak muda Panawijen menjadi semakin asyik mendengarkannya. Apalagi ketika Sinung Sari berkata, “Hem. Aku sengaja berdiam diri. Aku ingin melihat, apakah Mahisa Agni mampu melawan hantu Karautan. Hantu yang namanya ditakuti oleh semua orang di sekitarnya padang rumput ini. Tetapi ternyata hantu itu sama sekali tidak menakutkan. Aku biarkan Mahisa Agni bertempur sendiri sebab aku sudah dapat memperhitungkan, bahwa hantu itu tidak akan dapat mengalahkannya. Meskipun demikian, apabila keadaan memaksa aku pasti tidak akan sampai hati membiarkan Agni mengalami cidera.”
“Bukan main,“ desah anak-anak itu. Kemudian salah seorang dari mereka bertanya, “He, siapakah yang datang bersama kalian. Itu orang tua yang duduk di samping Mahisa Agni?”
“O, pamannya,“ jawab Sinung Sari, “orang itu adalah paman Mahisa Agni yang berjumpa saja di perjalanan. Orang itu sengaja akan meninjau kemanakannya disini.”
Anak-anak muda itu kembali mengangguk-angguk kepalanya. Mereka benar-benar terpesona oleh ceritera Jinan, Patalan dan Sinung Sari yang dengan penuh gairah menceriterakan pengalamannya. Bahkan kadang-kadang dengan dan kaki berselendangan, menirukan beberapa macam gerak yang dilihatnya.
“Sayang,“ berkata Sinung Sari, “Agni kurang lincah sedikit, sehingga sekali-sekali ia dapat dikenai lawannya. Ia telah berbuat beberapa kesalahan kecil yang dapat memperlambat penyelesaian perkelahian itu sehingga orang Tumapel itu datang.”
“Ah, hampir aku salah sangka,“ berkata Jinan, “untunglah aku belum mulai. Kalau orang Tumapel itu tidak segera memperkenalkan dirinya sebagai orang istana, mungkin kami pun sudah bertempur pula.”
Kawan-kawannya yang mengangguk-anggukkan kepalanya itu menjadi semakin kagum. Perjalanan itu ternyata merupakan perjalanan yang dahsyat. Ada diantaranya yang menjadi ngeri, namun ada yang kemudian berangan-angan,
“Ah, seandainya aku mendapat kesempatan turut dalam perjalanan itu. Aku akan melihat berbagai kejadian-kejadian yang dahsyat dan mengasyikkan.”
“Huh,“ potong Patalan, “kau akan mati ketakutan.”
Kawan-kawannya yang lain serentak tertawa. Dan anak muda yang berangan-angan itu tersenyum tersipu-sipu.
“Tetapi betapapun sulit perjalanan kami, namun kami telah berhasil menemukan tempat itu. Tempat yang tepat sekali untuk membangun sebuah bendungan, menaikkan air dan membuat saluran-saluran di tanah yang tidak terlampau keras. Tanah yang datar dan ditumbuhi rumput yang lebat. Tanah itu akan merupakan tanah yang subur. Kalian dapat mengambil tanah sekuat-kuat kalian dapat mengerjakannya. Dan bendungan itu segera akan kita bangun,“ berkata Sinung Sari dengan bersungguh-sungguh. Kembali anak-anak muda Panawijen itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka telah berjanji berbuat apa saja untuk kepentingan rakyat Panawijen.
Tetapi di pendapa pembicaraan antara Mahisa Agni, Empu Gandring dan orang-orang tua Panawijen berjalan lebih bersungguh-sungguh! Orang-orang tua itu mendengarkan penjelasan Mahisa Agni dengan penuh minat. Justru hanya tentang jeram-jeram, air terjun dan bendungan itu sendiri. Sama sekali tidak disentuh-sentuhnya mengenai hantu Karautan, Empu Sada yang akan dapat mengganggu kerja mereka dan orang-orang lain lagi. Bagi Mahisa Agni hal itu dianggap belum waktunya untuk menguraikannya. Sebab dengan demikian, hal-hal tersebut hanya akan dapat memperkecil hati orang-orang Panawijen yang pada dasarnya sudah tidak begitu tatag.
“Jadi kita buat bendungan itu di sana?” bertanya seseorang.
“Ya kaki,“ sahut Mahisa Agni, “tempat itu adalah satu-satunya yang aku ketemukan.”
“Kita harus mulai lagi,“ desahnya. “Kalau Empu Purwa tidak menjadi waringuten dan kehabisan akal, maka kita tidak akan bersusah payah membangun sebuah bendungan.”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Tetapi ia dapat mengerti bahwa orang-orang tua itu seharusnya sudah tinggal menikmati hari-hari tuanya saja. Karena itu Mahisa Agni tidak menjawab. Dibiarkannya orang tua itu menyesali gurunya. Betapapun hatinya merasa tersinggung namun ia mencoba menyimpan perasaan itu dalam-dalam di dalam dadanya.
“Sekarang kita harus mulai dari permulaan lagi,” berkata orang tua itu.
Tetapi seseorang yang duduk di belakang Ki Buyut Panawijen menjawab, “Sudahlah, biarlah yang sudah terjadi itu. Orang tua itu sudah-merasa bersalah. Dan ia sudah berusaha untuk menebus kesalahannya.”
“Huh,“ desah orang yang pertama, “itu hanya sekedar untuk memperkecil kesalahan.”
“Sama sekali tidak,“ berkata orang yang duduk di belakang Ki Buyut. “Orang itu sama sekali tidak mengingkari kesalahannya Tetapi kita harus merasa bersalah pula. Empu Purwa telah memberi kita bendungan, saluran-saluran air dan apa saja. Tetapi ketika anaknya mengalami bencana, kita tidak dapat menolongnya. Bahkan seakan-akan kita mencuci tangan kita, hanya karena kita takut menjadi sasaran kemarahan Kuda Sempana dan Akuwu waktu itu. Kemudian karena kekecewaan yang menghentakkan keseimbangannya, maka ia telah berbuat kesalahan itu. Mengambil bendungan itu kembali. Bendungan yang sudah diserahkan kepada kita.”
“Kenapa hal itu dilakukannya? Bukankah disadarinya bahwa dengan memecahkan bendungan itu, meskipun bendungan itu dibuatnya sendiri, akibatnya akan menimpa seluruh Rakyat Panawijen?”
“Ia adalah seorang manusia biasa. Manusia yang mempunyai sifat khilaf dan salah. Dan Empu Purwa tidak mengingkari kesalahannya. Tetapi terkutuklah Kuda Sempana, sumber dari segala bencana ini.”
“Sudahlah,“ potong Ki Buyut Panawijen, “jangan mengada-ada. Kita jangan selalu dicengkam oleh peristiwa-peristiwa yang telah lampau. Dengan demikian kita tidak akan dapat menghadapi hari depan kita. Kini, yang penting bagi kita adalah bendungan itu. Bendungan dan saluran-saluran air. Semua tenaga di padukuhan ini kita perlukan. Kalau kita masih saja menyalahkan, maka kita tidak akan dapat mulai. Nah. Siapa yang tidak ingin melihat bendungan itu kita bangun?” Semuanya terdiam. Semuanya menundukkan kepalanya.
Pendapa itu sesaat menjadi sepi. Mahisa Agni mencoba memandangi setiap wajah yang ada di sekitarnya. Namun wajah-wajah itu tunduk menusuk lantai. Betapa hatinya sendiri menjadi pedih mendengar seseorang tidak habis-habisnya mengumpati gurunya, namun ia masih dapat menahan diri. Yang penting bagi Mahisa Agni adalah, bagaimana bendungan itu harus terwujud. Bagaimana ia dapat mewujudkan sesuatu yang telah hilang karena gurunya yang sedang kehilangan keseimbangan berpikir. Bagaimana Mahisa Agni dapat melakukan petunjuk-petunjuk dari gurunya itu. Membangun bendungan dan saluran-saluran air.
Karena tidak seorang pun yang menjawab, maka Ki Buyut Panawijen itu berkata, “Nah, Kalau demikian, maka kita semuanya sependapat. Kita kerahkan semua tenaga, kekuatan dan apa saja yang kita miliki untuk membangun bendungan itu. Bendungan itu harus segera selesai sebelum kita akan mengalami paceklik yang panjang.”
Pendapa itu kembali menjadi sepi. Tetapi Mahisa Agni mendengar nafas yang memburu dari setiap dada mereka yang duduk melingkar di pendapa itu. Bahkan kemudian Mahisa Agni pun melihat beberapa orang diantara mereka mengangkat wajahnya. Dari wajah-wajah itu menyalala tekad mereka membangun bendungan, saluran-saluran air dan pesawahan baru. Arti daripada kerja itu bukan sekedar menyambung hidup mereka sendiri. Tetapi arti dari kerja itu adalah menentukan masa depan anak cucu mereka.
Pada hari itu pula, Panawijen mulai dihangatkan oleh rencana pembangunan yang akan menelan segenap tenaga, pikiran, tekad dan kemauan dari segenap penduduk Panawijen. Dari kakek-kakek sampai kepada anak-anak, seakan-akan serentak mengucapkan rencana itu di segenap kesempatan. Bahkan anak-anak gembala yang menunggui domba dan kambing di pangonan, telah menyusun lagu menurut irama mereka sendiri. Sebuah tembang, tentang bendungan dan parit-parit. Sawah yang hijau segar serta pedukuhan yang subur dan makmur. Rakyat yang sejahtera dan makmur. Rakyat sejahtera merata. Gemah-ripah kerta-raharja.
Mulailah segala persiapan diadakan. Alat, bahan-bahan, dan apa saja yang akan diperlukan nanti dalam pembangunan bendungan itu. Tetapi meskipun demikian ada juga diantara mereka yang menanggapinya dengan acuh tak acuh. Mereka yang masih saja merasa bahwa mereka tidak seharusnya bekerja berat untuk itu. Mereka ingin bahwa bendungan itu akan jadi dengan sendirinya. Sawah-sawah akan tercetak dipadang rumput Karautan tanpa dikerjakan oleh tangan. Mereka ingin kampung halaman mereka menjadi hijau subur tanpa meneteskan keringat. Dan mereka itu masih saja bermimpi pada saat guntur di langit bersabung dan gunung-gunung menggelegar menggetarkan bumi.
Berhari-hari persiapan dilakukan, berhari-hari Mahisa Agni memeras keringat bersama kawan-kawannya mempersiapkan segala perlengkapan yang dianggapnya perlu. Namun ia masih sempat tersenyum apabila ia mendengar Jinan, Patalan dan Sinung Sari berkata sambil menepuk dada,
“Kalau tidak ada aku, maka Panawijen akan menjadi kering kerontang. Akulah yang telah menemukan jeram-jeram itu bersama beberapa kawan yang mengikuti aku di belakang.”
Tetapi segera mereka mengerutkan leher mereka, apabila mereka melihat Mahisa Agni lewat sambil tertawa dihadapan mereka. Namun Jinan sempat juga berbisik kepada Agni,
“Agni, jangan kau katakan kepada mereka, bahwa aku hampir mati ketakutan dipadang Karautan.”
Dan menanggapi bisikan itu Mahisa Agni hanya dapat tersenyum kecil. Pada saat-saat yang demikian itu, pada saat-saat Panawijen tenggelam dalam kesibukan, maka jalan-jalan di padesan itu telah dikejutkan oleh derap kaki-kaki kuda. Beberapa orang-orang penunggang kuda, berdatangan ke padukuhan itu. Kepada seseorang, salah seorang penunggang kuda itu bertanya,
“Dimana rumah puteri Ken Dedes?”
Orang itu mengerutkan keningnya. “Puteri Ken Dedes,“ desisnya di dalam hati.
Orang yang ditanya itu menjadi heran. Ken Dedes, anak Empu Purwa itukah yang dimaksud dengan Puteri Ken Dedes. Karena itu untuk mendapat kepastian orang itu bertanya,
“Apakah yang tuan maksud itu, Ken Dedes puteri Empu Purwa?”
Penunggang kuda itu mengerutkan keningnya. Sesaat mereka saling berpandangan, dan kemudian terdengar salah seorang dari mereka menyahut, “Puteri Ken Dedes, adik dari anak muda yang bernama Mahisa Agni.”
“O,” orang Panawijen itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia tidak akan salah lagi. Ken Dedes yang dimaksud adalah anak Empu Purwa. Meskipun demikian ia menyahut, “Tetapi Ken Dedes kini tidak ada di rumahnya.”
“Ya, kami sudah tahu,“ sahut penunggang kuda itu, “justru kami adalah utusan dari tuan puteri itu.”
“O,“ orang Panawijen itu menjadi semakin tidak mengerti. Tetapi ia tidak berani bertanya terlampau banyak.
“Dimanakah rumah itu?” desak penunggang kuda itu, “dan apakah kakaknya berada di rumah?”
“Ya. Ya,“ sahut orang Panawijen itu tergagap, “tuan dapat menyusur jalan ini. Kemudian tuan akan menembus desa Panawijen. Di ujung yang lain dari jalan ini tuan akan menemukan sebuah padepokan. Itulah rumah Empu Purwa, ayah gadis itu.”
“Terima kasih,“ sahut orang-orang berkuda itu, yang sesaat kemudian telah memacu kudanya kembali menuju ke padepokan Empu Purwa.
Ketika kuda-kuda itu berderap di depan regol padepokan, beberapa orang cantrik yang dengan setia menunggui padepokan Empu Purwa menjadi sangat terkejut. Berkali-kali mereka dikejutkan, bahkan mengalami banyak peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan apabila mereka mendengar derap kuda berhenti di halaman. Kali ini pun derap kuda itu mengejutkau mereka. Karena itu segera mereka berlarian mengambil senjata, apa saja yang dapat dipegangnya. Mereka tidak mau menjadi barang-barang mati yang hanya dapat melihat peristiwa demi peristiwa berlangsung tanpa berbuat sesuatu. Mereka tidak mau berdiri saja dengan mulut ternganga seperti masa-masa yang lalu, yang ternyata telah membawa malapetaka bagi padepokan itu, bahkan bagi segenap padukuhan Panawijen.
Mahisa Agni yang sedang berada di belakang rumah pun mendengar derap kuda itu. Tidak hanya seekor, tetapi empat atau lima. Mahisa Agni itu pun kemudian tegak berdiri dengan wajah tengadah. Seperti para cantrik, maka ia pun bercuriga. Peristiwa demi peristiwa telah mengajarnya untuk setiap kali berhati-hati. Ketika ia melihat seorang cantrik dengan tergesa-gesa mengambil sebatang besi pengupas sahut kelapa, ia berkata,
“Siapakah yang berkuda itu?”
“Kami belum tahu.”
“Kenapa kau mengambil potongan besi itu?”
“Kami akan menghadapi segala kemungkinan dengan senjata. Tidak seperti masa-masa yang lampau.” Sahut cantrik itu.
Dada Mahisa Agni berdesir mendengar jawaban itu. Tetapi ia tahu benar, bahwa para cantrik itu sama sekali tidak mendapat didikan untuk berkelahi. Sehingga mereka hampir dapat dianggap tidak berarti, apabila mereka ingin membuat perlawanan, apalagi bagi mereka yang sudah masak dengan berbagai pengalaman. Namun, hati Mahisa Agni sendiri pun terpengaruh juga melihat para cantrik yang mencoba mendapatkan senjata. Ia sadar bahwa apabila ada bahaya, maka tak akan ada orang lain yang dapat membantunya, selain dirinya sendiri dan apabila dikehendaki, pamannya Empu Gandring yang berada di dalam rumah itu pula. Tetapi Mahisa Agni tidak ingin mengusik pamannya. Ia tidak ingin membuat kesan yang tidak menyenangkan baginya. Karena itu, maka Mahisa Agni berhasrat untuk menjumpai para penunggang kuda itu sendiri.
Meskipun demikian, tanpa disengaja Mahisa Agni itu berjalan lewat biliknya sendiri. Diraihnya sebilah keris di dalam glodok pakaiannya dan diselipkannya di punggungnya, Keris itu adalah keris buatan pamannya. Sebab sedapat mungkin, terjadi bahaya yang tidak diinginkannya. Dengan penuh kewaspadaan Mahisa Agni itu pun kemudian berjalan ke rumah depan. Dari pendapa ia sudah melihat beberapa orang berkuda diluar halaman. Namun menilik kesan yang ada pada mereka, mereka sama sekali bukan orang-orang yang pantas dicurigai. Kepada seorang cantrik Mahisa Agni menyuruhnya, mempersilahkan para penunggang kuda itu masuk ke halaman.
Sekali lagi Mahisa Agni mendapat kesan yang baik dari para penunggang kuda itu. Mereka tidak memasuki halaman di atas punggung kuda, tetapi segera mereka berloncatan turun, dan sambil menuntun kuda mereka, mereka berjalan ke pendapa. Menilik pakaian yang mereka kenakan, segera Mahisa Agni dapat mengenal, bahwa mereka adalah pasukan pengawal istana Tumapel. Anak buah dari Witantra. Apalagi ketika diantara mereka itu, dilihatnya seorang anak muda yang telah dikenalnya Kebo Ijo.
“Selamat bertemu kembali kakang Mahisa Agni,“ sapa Kebo Ijo sambil tertawa.
Mahisa Agni menganggukan kepalanya. Sambil tersenyum ia menyahut, “selamat adi. Marilah, naiklah ke pendapa.”
Dengan penuh hormat Mahisa Agni menerima mereka. Dipersilahkannya tamunya duduk di atas sehelai tikar pandan yang putih. Disapanya tamunya dengan segala tata cara. Namun dalam pembicaraan itu, Mahisa Agni menjadi sangat heran dan tidak mengerti, kenapa para prajurit itu menjadi sangat hormat kepadanya, kecuali Kebo Ijo. Bahkan agaknya terlampau berlebih-lebihan. Meskipun demikian Mahisa Agni segan untuk bertanya sebab-sebab itu.
Ketika Mahisa Agni selesai dengan pertanyaan-pertanyaan tata cara, maka sampailah para tamunya itu kepada persoalan yang dibawanya. Persoalan yang harus disampaikannya sebagai utusan Tuan Puteri Ken Dedes. Bakal Permaisuri Akuwu Tumapel. Dan Mahisa Agni masih saja terheran-heran melihat sikap para prajurit itu, selain Kebo Ijo yang tersenyum-tersenyum saja. Seorang yang paling tua diantara mereka berkata dengan takjimnya,
“Tuan muda Mahisa Agni. Kami adalah utusan dari Tuan Puteri Ken Dedes untuk menyampaikan pesan kepada tuan.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Dengan kaku ia menjawab, “Tuan, apakah pesan yang tuan bawa itu?”
“Tuan puteri telah mendengar laporan kakang Witantra kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung, bahwa tuan tidak ingin menerima Akuwu Tunggul Ametung sebagai wakil ayahanda.”
“Ya,“ sahut Mahisa Agni.
“Tuan Puteri menjadi sangat berduka atas keputusan tuan itu.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kata-kata itu langsung menyentuh hatinya, sehingga terasa sesuatu berdesir di dadanya. Tiba-tiba terbayanglah wajah gadis yang murung itu. Seperti pada saat ia melihat gadis itu menangis di sampingnya, di atas bale-bale bambu pada saat bulan sedang mengambang di langit. Pada saat-saat ia sedang dirisaukan pula oleh gadis itu. Terbayang di mata Mahisa Agni, betapa Ken Dedes menyampaikan perasaannya kepada seorang emban tua, pemomongnya. Betapa suara gadis itu seperti petir yang menyambar kepalanya, pada saat ia mendengar bahwa yang diharapkan olehnya adalah sebuah nama yang lain dari namanya. Nama itu adalah Wiraprana.
Kini Wiraprana itu telah terbunuh. Betapa mungkin ia akan mengalami peristiwa yang serupa untuk kedua kalinya. Bagaimana dapat menahan dirinya menerima Akuwu Tunggul Ametung yang datang untuk melamar adiknya itu. Adik yang telah pernah melukai hatinya. Dan luka itu kini seakan-akan menjadi kambuh kembali.
Karena Mahisa Agni masih berdiam diri, maka prajurit itu berkata, “Tuan, apakah tuan tidak menjadi iba dan belas-kasih mendengar bahwa Tuan Puteri itu menjadi berduka?” Mahisa Agni masih terdiam. kepalanya ditundukkannya dalam-dalam.
Dan prajurit itu berkata pula, “Apakah tuan tidak dapat merubah keputusan itu?”
Terasa dada Mahisa Agni seakan-akan bergolak. Kata-kata itu benar-benar telah menggerakkan hatinya. Tetapi apabila kemudian bayangan-bayangan yang aneh hilir mudik di kepalanya, maka kembali hatinya menjadi pedih. Dan sambil menggelengkan kepalanya ia berkata,
“Tidak tuan. Aku tidak akan merobah pendirianku. Ken Dedes kini telah cukup dewasa untuk menentukan pilihannya sendiri.”
“Tuan benar,“ sahut prajurit tertua itu, “tuan benar. Tuan Puteri telah menjatuhkan pilihan. Tuan Puteri memang telah menerima lamaran Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi Tuan Puteri tidak mau meninggalkan adat tata cara. Tuan adalah satu-satunya wakil bagi ayahanda yang menurut berita yang sampai di istana telah meninggalkan Padepokan.”
“Ya,“ sahut Mahisa Agni, “Empu Purwa telah meninggalkan padepokan justru karena ia kehilangan gadisnya. Justru ia kehilangan Ken Dedes itu.”
“Kalau Empu Purwa itu dapat diketemukan, ia akan mendapatkan puterinya itu kembali. Justru setelah Puterinya menerima anugerah.”
“Orang tua itu telah kehilangan segenap harapan. Empu Purwa menjadi sakit hati. karena gadisnya dilarikan orang. Bagaimana mungkin ia dapat menerima Akuwu itu menghadap seandainya ia masih berada di padepokan sekalipun?”
“Tetapi bukankah yang membawa Tuan Puteri pada saat itu adalah adi Kuda Sempana?”
“Bukankah Kuda Sempana mendapat perlindungan dari Akuwu Tunggul Ametung.”
“Akuwu kini telah menyesal.”
“Tetapi ia tidak mengembalikan gadis itu. Malahan gadis itu diambilnya sendiri.”
Prajurit itu mengerutkan keningnya. Terbayanglah keheranan yang memancar pada sepasang matanya. Ia tidak dapat mengerti kenapa Mahisa Agni menjadi kecewa, justru adiknya akan diangkat menjadi seorang permaisuri. Bahkan bukan itu saja. Telah tersebar desas-desus yang luas, bahwa Akuwu Tunggul Ametung telah berjanji untuk menyerahkan kekuasaan atas Tumapel kepada gadis Panawijen itu. Namun untuk sesaat prajurit itu berdiam diri. Ia menjadi bingung dan tidak mengerti apa yang harus dikatakannya lagi.
Tiba-tiba mereka yang sedang duduk termenung dalam angan-angan masing-masing itu dikejutkan oleh suara tertawa yang meledak diantara mereka. Ketika semuanya berpaling, mereka segera melihat, bahwa yang tertawa itu adalah Kebo Ijo.
“Mahisa Agni,“ katanya, “apakah kau masih tetap bersakit hati? Sayang, adikmu telah bermimpi untuk menjadi seorang permaisuri.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Prajurit yang tertua dan bahkan semuanya yang ada di pendapa itu pun menjadi heran, kenapa Kebo Ijo tiba-tiba saja tertawa.
“Mahendra,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “sebaiknya kau sampaikan jawabku itu kepada Witantra. Aku mohon maaf kepada Akuwu, bahwa sebenarnya Akuwu tidak perlu datang menemui aku. Biarlah Ken Dedes membuat keputusannya sendiri.”
Mahendra menggigit bibirnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian ia berkata, “Apakah keputusanmu sudah bulat?”
“Ya.”
“Apakah kau sakit hati Agni? Apakah kau tidak dapat melupakan peristiwa yang menyakiti hatimu itu.”
Mahisa Agni terdiam. Dan Mahendra pun terdiam pula. Tetapi dalam pada itu Mahendra telah menemukan kesimpulan, bahwa Mahisa Agni tidak akan bersedia merubah keputusannya.
“Baiklah kalau demikian,“ berkata Mahendra di dalam hatinya, “besok akan aku sampaikan jawaban itu.”
Malam pun kemudian menjadi bertambah malam. Bahkan kemudian menjelang keakhirannya. Mahisa Agni dan Mahendra masih duduk sambil memeluk lutut mereka. Tetapi mereka tidak berbicara lagi. Mereka mencoba memejamkan mata mereka sambil meletakkan dahi mereka di atas lutut.
Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni pun kemudian mencoba membaringkan diri mereka masing-masing. Tetapi sekejap pun mereka tidak segera berhasil memejamkan mata mereka. Apabila mereka mencoba juga memejamkan mata mereka, tiba-tiba datanglah berbagai gambaran yang mengerikan mengganggu otak mereka. Seolah-olah berduyun-duyun hantu berdatangan dari segenap penjuru padang rumput Karautan.
Ketika Mahisa Agni mengangkat wajahnya ditatapnya bintang cemerlang di Tenggara, Panjer esuk. Bintang yang seakan-akan memberinya pertanda bahwa sebentar lagi, fajar akan memerah di ujung Timur. Dan fajar itu datang terlampau lambat. Seakan-akan Mahisa Agni tidak dapat menyabarkan diri lagi. Berbagai kejemuan telah melanda dinding jantungnya. Padang yang sepi. Bendungan dan saluran-saluran air yang terbayang di pelupuk matanya semuanya itu seakan-akan telah terbentang dihadapannya. Sawah yang hijau dan air gemericik di parit-parit, melingkari setiap pematang kotak demi kotak. Tetapi Mahisa Agni itu seakan-akan direnggut dari dunia yang penuh dengan harapan dan terdorong ke dalam lembah yang bernafaskan kecemasan dan kegelisahan.
“Persetan dengan Ken Dedes,“ ia mencoba menghentakkan dirinya di dalam hati, “betapa aku mencoba melindunginya, apabila ia telah bersetuju menjadi isteri Tunggul Ametung yang telah membantu melarikannya itu. Tak ada lagi hakku untuk turut mencampuri persoalannya. Ia bukan adikku, bukan sanak bukan kadang.”
Mahisa Agni itu terkejut ketika ia kemudian melihat Mahendra bangkit perlahan-lahan ia melangkah mencari kudanya sambil berkata, “Aku akan melepas pelana kudaku dan memandikannya. Sebentar lagi aku harus sudah kembali ke Tumapel.”
Mahisa Agni tidak menyahut. Dengan matanya ia mengikuti langkah anak muda itu berjalan kebelakang gerumbul. Kemudian terdengar ia bersiul memanggil kudanya, dan sesaat kemudian Mahendra telah menuntun kudanya menuju ke tepian sungai. Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ketika kemudian fajar yang ditunggunya membayang di langit dengan hamparan warna merah, anak muda itu menggeliat. Ketika ia berdiri ia melihat Mahendra telah datang kembali.
“Aku akan segera kembali ke Tumapel Agni,“ berkata Mahendra.
“Aku juga,“ sahut Agni, “pagi ini aku kembali ke Panawijen. Beberapa hari lagi aku harus sudah mulai dengan bendungan ini.”
“Mudah-mudahan kau berhasil,“ Mahendra bergumam seakan-akan diperuntukkannya kepada diri sendiri.
“Terima kasih.”
Ketika kemudian matahari melepaskan sinarnya menghampar di atas padang rumput itu, maka Mahendra segera minta diri kepada Mahisa Agni, kepada Empu Gandring yang sudah duduk bersila, kepada ketiga kawan-kawan Mahisa Agni yang sudah terbangun pula. Dengan sigapnya ia meloncat ke atas punggung kudanya, dan dengan sigapnya pula kudanya meloncat. Seperti anak panah kuda itu berlari. Kepulan debu yang putih berterbangan di belakang kuda itu. Bukan saja Mahendra, namun Mahisa Agni pun segera berkemas-kemas pula. Dengan berbagai gambaran di dalam dadanya. Mahisa Agni kemudian membawa ketiga kawan-kawannya itu kembali ke Panawijen bersama pamannya Empu Gandring.
Tak ada yang penting bagi Mahisa Agni beserta kawan-kawannya itu dalam perjalanan pulang. Mereka harus menginap satu malam lagi dipadang rumput itu. Tetapi bersama Empu Gandring dan Mahisa Agni ketiga kawan-kawannya tidak begitu ketakutan lagi. Hanya kadang-kadang mereka mengeluh karena terik matahari dan haus yang menyengat-nyengat leher mereka. Seperti yang telah mereka rencanakan, mereka memasuki Panawijen di malam hari, supaya tak seorang pun yang melihat, bagaimana pakaian mereka menjadi compang camping.
Namun pada pagi harinya, Panawijen seolah-olah telah menerima seseorang yang membawa harapan bagi mereka, bagi anak cucu mereka. Itulah sebabnya dengan penuh gairah mereka menyambut Mahisa Agni beserta kawan-kawannya di halaman rumah Ki Buyut Panawijen. Rakyat Panawijen menunggu keterangan Mahisa Agni tentang hasil perjalanannya. Mereka tidak dapat menunggu terlalu lama. Sawah-sawah mereka telah mulai mengering dan isi lumbung-lumbung mereka telah mulai menipis. Mereka harus segera menemukan tempat untuk meletakkan diri menghadapi masa-masa yang masih terlampau panjang. Anak cucu dan keturunan mereka. Alangkah besar dosa mereka, apabila mereka tidak sempat memberikan peninggalan bagi keturunan mereka di masa-masa datang.
Mungkin mereka masih dapat mengharap hasil sawah di musim-musim basah. Namun di musim kemarau, apabila mereka itu tidak mendapat air dari saluran-saluran, maka sawah-sawah mereka akan menjadi padang yang kering dan mati.
Pagi itu Mahisa Agni sudah bersedia memberikan beberapa keterangan menjadi perjalanannya kepada para tertua Panawijen. Dan bahkan para tetua Panawijen yang tidak sabar lagi, telah siap pula untuk melakukan apa saja yang menurut Mahisa Agni dianggap baik. Namun diluar pendapa rumah Ki Buyut Panawijen, di mana Mahisa Agni duduk diantara beberapa orang-orang tua, anak-anak muda sibuk mengerumuni Jinan, Patalan dan Sinung Sari. Seperti air banjir mereka bertiga berceritera berganti-ganti. Yang satu tidak mau kalah dahsyatnya dari yang lain.
“Sayang waktu itu pedangku tidak di tanganku,“ berkata Patalan kepada kawan-kawannya, “sehingga aku tidak dapat sempat membantu Mahisa Agni melawan hantu Karautan.”
Kawan-kawannya memandangi dengan penuh kekaguman. kemudian disusulnya oleh Jinan, “Sayang. Keduanya berkelahi terlampau kasar, sehingga aku tidak mendapat kesempatan untuk mengayunkan pedangku. Mereka saling berdesakan, saling dorong mendorong dengan senjata masing-masing dan berputaran seperti baling-baling. Aku takut apabila pedangku justru akan mengenai Agni sendiri.”
Anak-anak muda Panawijen menjadi semakin asyik mendengarkannya. Apalagi ketika Sinung Sari berkata, “Hem. Aku sengaja berdiam diri. Aku ingin melihat, apakah Mahisa Agni mampu melawan hantu Karautan. Hantu yang namanya ditakuti oleh semua orang di sekitarnya padang rumput ini. Tetapi ternyata hantu itu sama sekali tidak menakutkan. Aku biarkan Mahisa Agni bertempur sendiri sebab aku sudah dapat memperhitungkan, bahwa hantu itu tidak akan dapat mengalahkannya. Meskipun demikian, apabila keadaan memaksa aku pasti tidak akan sampai hati membiarkan Agni mengalami cidera.”
“Bukan main,“ desah anak-anak itu. Kemudian salah seorang dari mereka bertanya, “He, siapakah yang datang bersama kalian. Itu orang tua yang duduk di samping Mahisa Agni?”
“O, pamannya,“ jawab Sinung Sari, “orang itu adalah paman Mahisa Agni yang berjumpa saja di perjalanan. Orang itu sengaja akan meninjau kemanakannya disini.”
Anak-anak muda itu kembali mengangguk-angguk kepalanya. Mereka benar-benar terpesona oleh ceritera Jinan, Patalan dan Sinung Sari yang dengan penuh gairah menceriterakan pengalamannya. Bahkan kadang-kadang dengan dan kaki berselendangan, menirukan beberapa macam gerak yang dilihatnya.
“Sayang,“ berkata Sinung Sari, “Agni kurang lincah sedikit, sehingga sekali-sekali ia dapat dikenai lawannya. Ia telah berbuat beberapa kesalahan kecil yang dapat memperlambat penyelesaian perkelahian itu sehingga orang Tumapel itu datang.”
“Ah, hampir aku salah sangka,“ berkata Jinan, “untunglah aku belum mulai. Kalau orang Tumapel itu tidak segera memperkenalkan dirinya sebagai orang istana, mungkin kami pun sudah bertempur pula.”
Kawan-kawannya yang mengangguk-anggukkan kepalanya itu menjadi semakin kagum. Perjalanan itu ternyata merupakan perjalanan yang dahsyat. Ada diantaranya yang menjadi ngeri, namun ada yang kemudian berangan-angan,
“Ah, seandainya aku mendapat kesempatan turut dalam perjalanan itu. Aku akan melihat berbagai kejadian-kejadian yang dahsyat dan mengasyikkan.”
“Huh,“ potong Patalan, “kau akan mati ketakutan.”
Kawan-kawannya yang lain serentak tertawa. Dan anak muda yang berangan-angan itu tersenyum tersipu-sipu.
“Tetapi betapapun sulit perjalanan kami, namun kami telah berhasil menemukan tempat itu. Tempat yang tepat sekali untuk membangun sebuah bendungan, menaikkan air dan membuat saluran-saluran di tanah yang tidak terlampau keras. Tanah yang datar dan ditumbuhi rumput yang lebat. Tanah itu akan merupakan tanah yang subur. Kalian dapat mengambil tanah sekuat-kuat kalian dapat mengerjakannya. Dan bendungan itu segera akan kita bangun,“ berkata Sinung Sari dengan bersungguh-sungguh. Kembali anak-anak muda Panawijen itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka telah berjanji berbuat apa saja untuk kepentingan rakyat Panawijen.
Tetapi di pendapa pembicaraan antara Mahisa Agni, Empu Gandring dan orang-orang tua Panawijen berjalan lebih bersungguh-sungguh! Orang-orang tua itu mendengarkan penjelasan Mahisa Agni dengan penuh minat. Justru hanya tentang jeram-jeram, air terjun dan bendungan itu sendiri. Sama sekali tidak disentuh-sentuhnya mengenai hantu Karautan, Empu Sada yang akan dapat mengganggu kerja mereka dan orang-orang lain lagi. Bagi Mahisa Agni hal itu dianggap belum waktunya untuk menguraikannya. Sebab dengan demikian, hal-hal tersebut hanya akan dapat memperkecil hati orang-orang Panawijen yang pada dasarnya sudah tidak begitu tatag.
“Jadi kita buat bendungan itu di sana?” bertanya seseorang.
“Ya kaki,“ sahut Mahisa Agni, “tempat itu adalah satu-satunya yang aku ketemukan.”
“Kita harus mulai lagi,“ desahnya. “Kalau Empu Purwa tidak menjadi waringuten dan kehabisan akal, maka kita tidak akan bersusah payah membangun sebuah bendungan.”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Tetapi ia dapat mengerti bahwa orang-orang tua itu seharusnya sudah tinggal menikmati hari-hari tuanya saja. Karena itu Mahisa Agni tidak menjawab. Dibiarkannya orang tua itu menyesali gurunya. Betapapun hatinya merasa tersinggung namun ia mencoba menyimpan perasaan itu dalam-dalam di dalam dadanya.
“Sekarang kita harus mulai dari permulaan lagi,” berkata orang tua itu.
Tetapi seseorang yang duduk di belakang Ki Buyut Panawijen menjawab, “Sudahlah, biarlah yang sudah terjadi itu. Orang tua itu sudah-merasa bersalah. Dan ia sudah berusaha untuk menebus kesalahannya.”
“Huh,“ desah orang yang pertama, “itu hanya sekedar untuk memperkecil kesalahan.”
“Sama sekali tidak,“ berkata orang yang duduk di belakang Ki Buyut. “Orang itu sama sekali tidak mengingkari kesalahannya Tetapi kita harus merasa bersalah pula. Empu Purwa telah memberi kita bendungan, saluran-saluran air dan apa saja. Tetapi ketika anaknya mengalami bencana, kita tidak dapat menolongnya. Bahkan seakan-akan kita mencuci tangan kita, hanya karena kita takut menjadi sasaran kemarahan Kuda Sempana dan Akuwu waktu itu. Kemudian karena kekecewaan yang menghentakkan keseimbangannya, maka ia telah berbuat kesalahan itu. Mengambil bendungan itu kembali. Bendungan yang sudah diserahkan kepada kita.”
“Kenapa hal itu dilakukannya? Bukankah disadarinya bahwa dengan memecahkan bendungan itu, meskipun bendungan itu dibuatnya sendiri, akibatnya akan menimpa seluruh Rakyat Panawijen?”
“Ia adalah seorang manusia biasa. Manusia yang mempunyai sifat khilaf dan salah. Dan Empu Purwa tidak mengingkari kesalahannya. Tetapi terkutuklah Kuda Sempana, sumber dari segala bencana ini.”
“Sudahlah,“ potong Ki Buyut Panawijen, “jangan mengada-ada. Kita jangan selalu dicengkam oleh peristiwa-peristiwa yang telah lampau. Dengan demikian kita tidak akan dapat menghadapi hari depan kita. Kini, yang penting bagi kita adalah bendungan itu. Bendungan dan saluran-saluran air. Semua tenaga di padukuhan ini kita perlukan. Kalau kita masih saja menyalahkan, maka kita tidak akan dapat mulai. Nah. Siapa yang tidak ingin melihat bendungan itu kita bangun?” Semuanya terdiam. Semuanya menundukkan kepalanya.
Pendapa itu sesaat menjadi sepi. Mahisa Agni mencoba memandangi setiap wajah yang ada di sekitarnya. Namun wajah-wajah itu tunduk menusuk lantai. Betapa hatinya sendiri menjadi pedih mendengar seseorang tidak habis-habisnya mengumpati gurunya, namun ia masih dapat menahan diri. Yang penting bagi Mahisa Agni adalah, bagaimana bendungan itu harus terwujud. Bagaimana ia dapat mewujudkan sesuatu yang telah hilang karena gurunya yang sedang kehilangan keseimbangan berpikir. Bagaimana Mahisa Agni dapat melakukan petunjuk-petunjuk dari gurunya itu. Membangun bendungan dan saluran-saluran air.
Karena tidak seorang pun yang menjawab, maka Ki Buyut Panawijen itu berkata, “Nah, Kalau demikian, maka kita semuanya sependapat. Kita kerahkan semua tenaga, kekuatan dan apa saja yang kita miliki untuk membangun bendungan itu. Bendungan itu harus segera selesai sebelum kita akan mengalami paceklik yang panjang.”
Pendapa itu kembali menjadi sepi. Tetapi Mahisa Agni mendengar nafas yang memburu dari setiap dada mereka yang duduk melingkar di pendapa itu. Bahkan kemudian Mahisa Agni pun melihat beberapa orang diantara mereka mengangkat wajahnya. Dari wajah-wajah itu menyalala tekad mereka membangun bendungan, saluran-saluran air dan pesawahan baru. Arti daripada kerja itu bukan sekedar menyambung hidup mereka sendiri. Tetapi arti dari kerja itu adalah menentukan masa depan anak cucu mereka.
Pada hari itu pula, Panawijen mulai dihangatkan oleh rencana pembangunan yang akan menelan segenap tenaga, pikiran, tekad dan kemauan dari segenap penduduk Panawijen. Dari kakek-kakek sampai kepada anak-anak, seakan-akan serentak mengucapkan rencana itu di segenap kesempatan. Bahkan anak-anak gembala yang menunggui domba dan kambing di pangonan, telah menyusun lagu menurut irama mereka sendiri. Sebuah tembang, tentang bendungan dan parit-parit. Sawah yang hijau segar serta pedukuhan yang subur dan makmur. Rakyat yang sejahtera dan makmur. Rakyat sejahtera merata. Gemah-ripah kerta-raharja.
Mulailah segala persiapan diadakan. Alat, bahan-bahan, dan apa saja yang akan diperlukan nanti dalam pembangunan bendungan itu. Tetapi meskipun demikian ada juga diantara mereka yang menanggapinya dengan acuh tak acuh. Mereka yang masih saja merasa bahwa mereka tidak seharusnya bekerja berat untuk itu. Mereka ingin bahwa bendungan itu akan jadi dengan sendirinya. Sawah-sawah akan tercetak dipadang rumput Karautan tanpa dikerjakan oleh tangan. Mereka ingin kampung halaman mereka menjadi hijau subur tanpa meneteskan keringat. Dan mereka itu masih saja bermimpi pada saat guntur di langit bersabung dan gunung-gunung menggelegar menggetarkan bumi.
Berhari-hari persiapan dilakukan, berhari-hari Mahisa Agni memeras keringat bersama kawan-kawannya mempersiapkan segala perlengkapan yang dianggapnya perlu. Namun ia masih sempat tersenyum apabila ia mendengar Jinan, Patalan dan Sinung Sari berkata sambil menepuk dada,
“Kalau tidak ada aku, maka Panawijen akan menjadi kering kerontang. Akulah yang telah menemukan jeram-jeram itu bersama beberapa kawan yang mengikuti aku di belakang.”
Tetapi segera mereka mengerutkan leher mereka, apabila mereka melihat Mahisa Agni lewat sambil tertawa dihadapan mereka. Namun Jinan sempat juga berbisik kepada Agni,
“Agni, jangan kau katakan kepada mereka, bahwa aku hampir mati ketakutan dipadang Karautan.”
Dan menanggapi bisikan itu Mahisa Agni hanya dapat tersenyum kecil. Pada saat-saat yang demikian itu, pada saat-saat Panawijen tenggelam dalam kesibukan, maka jalan-jalan di padesan itu telah dikejutkan oleh derap kaki-kaki kuda. Beberapa orang-orang penunggang kuda, berdatangan ke padukuhan itu. Kepada seseorang, salah seorang penunggang kuda itu bertanya,
“Dimana rumah puteri Ken Dedes?”
Orang itu mengerutkan keningnya. “Puteri Ken Dedes,“ desisnya di dalam hati.
Orang yang ditanya itu menjadi heran. Ken Dedes, anak Empu Purwa itukah yang dimaksud dengan Puteri Ken Dedes. Karena itu untuk mendapat kepastian orang itu bertanya,
“Apakah yang tuan maksud itu, Ken Dedes puteri Empu Purwa?”
Penunggang kuda itu mengerutkan keningnya. Sesaat mereka saling berpandangan, dan kemudian terdengar salah seorang dari mereka menyahut, “Puteri Ken Dedes, adik dari anak muda yang bernama Mahisa Agni.”
“O,” orang Panawijen itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia tidak akan salah lagi. Ken Dedes yang dimaksud adalah anak Empu Purwa. Meskipun demikian ia menyahut, “Tetapi Ken Dedes kini tidak ada di rumahnya.”
“Ya, kami sudah tahu,“ sahut penunggang kuda itu, “justru kami adalah utusan dari tuan puteri itu.”
“O,“ orang Panawijen itu menjadi semakin tidak mengerti. Tetapi ia tidak berani bertanya terlampau banyak.
“Dimanakah rumah itu?” desak penunggang kuda itu, “dan apakah kakaknya berada di rumah?”
“Ya. Ya,“ sahut orang Panawijen itu tergagap, “tuan dapat menyusur jalan ini. Kemudian tuan akan menembus desa Panawijen. Di ujung yang lain dari jalan ini tuan akan menemukan sebuah padepokan. Itulah rumah Empu Purwa, ayah gadis itu.”
“Terima kasih,“ sahut orang-orang berkuda itu, yang sesaat kemudian telah memacu kudanya kembali menuju ke padepokan Empu Purwa.
Ketika kuda-kuda itu berderap di depan regol padepokan, beberapa orang cantrik yang dengan setia menunggui padepokan Empu Purwa menjadi sangat terkejut. Berkali-kali mereka dikejutkan, bahkan mengalami banyak peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan apabila mereka mendengar derap kuda berhenti di halaman. Kali ini pun derap kuda itu mengejutkau mereka. Karena itu segera mereka berlarian mengambil senjata, apa saja yang dapat dipegangnya. Mereka tidak mau menjadi barang-barang mati yang hanya dapat melihat peristiwa demi peristiwa berlangsung tanpa berbuat sesuatu. Mereka tidak mau berdiri saja dengan mulut ternganga seperti masa-masa yang lalu, yang ternyata telah membawa malapetaka bagi padepokan itu, bahkan bagi segenap padukuhan Panawijen.
Mahisa Agni yang sedang berada di belakang rumah pun mendengar derap kuda itu. Tidak hanya seekor, tetapi empat atau lima. Mahisa Agni itu pun kemudian tegak berdiri dengan wajah tengadah. Seperti para cantrik, maka ia pun bercuriga. Peristiwa demi peristiwa telah mengajarnya untuk setiap kali berhati-hati. Ketika ia melihat seorang cantrik dengan tergesa-gesa mengambil sebatang besi pengupas sahut kelapa, ia berkata,
“Siapakah yang berkuda itu?”
“Kami belum tahu.”
“Kenapa kau mengambil potongan besi itu?”
“Kami akan menghadapi segala kemungkinan dengan senjata. Tidak seperti masa-masa yang lampau.” Sahut cantrik itu.
Dada Mahisa Agni berdesir mendengar jawaban itu. Tetapi ia tahu benar, bahwa para cantrik itu sama sekali tidak mendapat didikan untuk berkelahi. Sehingga mereka hampir dapat dianggap tidak berarti, apabila mereka ingin membuat perlawanan, apalagi bagi mereka yang sudah masak dengan berbagai pengalaman. Namun, hati Mahisa Agni sendiri pun terpengaruh juga melihat para cantrik yang mencoba mendapatkan senjata. Ia sadar bahwa apabila ada bahaya, maka tak akan ada orang lain yang dapat membantunya, selain dirinya sendiri dan apabila dikehendaki, pamannya Empu Gandring yang berada di dalam rumah itu pula. Tetapi Mahisa Agni tidak ingin mengusik pamannya. Ia tidak ingin membuat kesan yang tidak menyenangkan baginya. Karena itu, maka Mahisa Agni berhasrat untuk menjumpai para penunggang kuda itu sendiri.
Meskipun demikian, tanpa disengaja Mahisa Agni itu berjalan lewat biliknya sendiri. Diraihnya sebilah keris di dalam glodok pakaiannya dan diselipkannya di punggungnya, Keris itu adalah keris buatan pamannya. Sebab sedapat mungkin, terjadi bahaya yang tidak diinginkannya. Dengan penuh kewaspadaan Mahisa Agni itu pun kemudian berjalan ke rumah depan. Dari pendapa ia sudah melihat beberapa orang berkuda diluar halaman. Namun menilik kesan yang ada pada mereka, mereka sama sekali bukan orang-orang yang pantas dicurigai. Kepada seorang cantrik Mahisa Agni menyuruhnya, mempersilahkan para penunggang kuda itu masuk ke halaman.
Sekali lagi Mahisa Agni mendapat kesan yang baik dari para penunggang kuda itu. Mereka tidak memasuki halaman di atas punggung kuda, tetapi segera mereka berloncatan turun, dan sambil menuntun kuda mereka, mereka berjalan ke pendapa. Menilik pakaian yang mereka kenakan, segera Mahisa Agni dapat mengenal, bahwa mereka adalah pasukan pengawal istana Tumapel. Anak buah dari Witantra. Apalagi ketika diantara mereka itu, dilihatnya seorang anak muda yang telah dikenalnya Kebo Ijo.
“Selamat bertemu kembali kakang Mahisa Agni,“ sapa Kebo Ijo sambil tertawa.
Mahisa Agni menganggukan kepalanya. Sambil tersenyum ia menyahut, “selamat adi. Marilah, naiklah ke pendapa.”
Dengan penuh hormat Mahisa Agni menerima mereka. Dipersilahkannya tamunya duduk di atas sehelai tikar pandan yang putih. Disapanya tamunya dengan segala tata cara. Namun dalam pembicaraan itu, Mahisa Agni menjadi sangat heran dan tidak mengerti, kenapa para prajurit itu menjadi sangat hormat kepadanya, kecuali Kebo Ijo. Bahkan agaknya terlampau berlebih-lebihan. Meskipun demikian Mahisa Agni segan untuk bertanya sebab-sebab itu.
Ketika Mahisa Agni selesai dengan pertanyaan-pertanyaan tata cara, maka sampailah para tamunya itu kepada persoalan yang dibawanya. Persoalan yang harus disampaikannya sebagai utusan Tuan Puteri Ken Dedes. Bakal Permaisuri Akuwu Tumapel. Dan Mahisa Agni masih saja terheran-heran melihat sikap para prajurit itu, selain Kebo Ijo yang tersenyum-tersenyum saja. Seorang yang paling tua diantara mereka berkata dengan takjimnya,
“Tuan muda Mahisa Agni. Kami adalah utusan dari Tuan Puteri Ken Dedes untuk menyampaikan pesan kepada tuan.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Dengan kaku ia menjawab, “Tuan, apakah pesan yang tuan bawa itu?”
“Tuan puteri telah mendengar laporan kakang Witantra kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung, bahwa tuan tidak ingin menerima Akuwu Tunggul Ametung sebagai wakil ayahanda.”
“Ya,“ sahut Mahisa Agni.
“Tuan Puteri menjadi sangat berduka atas keputusan tuan itu.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kata-kata itu langsung menyentuh hatinya, sehingga terasa sesuatu berdesir di dadanya. Tiba-tiba terbayanglah wajah gadis yang murung itu. Seperti pada saat ia melihat gadis itu menangis di sampingnya, di atas bale-bale bambu pada saat bulan sedang mengambang di langit. Pada saat-saat ia sedang dirisaukan pula oleh gadis itu. Terbayang di mata Mahisa Agni, betapa Ken Dedes menyampaikan perasaannya kepada seorang emban tua, pemomongnya. Betapa suara gadis itu seperti petir yang menyambar kepalanya, pada saat ia mendengar bahwa yang diharapkan olehnya adalah sebuah nama yang lain dari namanya. Nama itu adalah Wiraprana.
Kini Wiraprana itu telah terbunuh. Betapa mungkin ia akan mengalami peristiwa yang serupa untuk kedua kalinya. Bagaimana dapat menahan dirinya menerima Akuwu Tunggul Ametung yang datang untuk melamar adiknya itu. Adik yang telah pernah melukai hatinya. Dan luka itu kini seakan-akan menjadi kambuh kembali.
Karena Mahisa Agni masih berdiam diri, maka prajurit itu berkata, “Tuan, apakah tuan tidak menjadi iba dan belas-kasih mendengar bahwa Tuan Puteri itu menjadi berduka?” Mahisa Agni masih terdiam. kepalanya ditundukkannya dalam-dalam.
Dan prajurit itu berkata pula, “Apakah tuan tidak dapat merubah keputusan itu?”
Terasa dada Mahisa Agni seakan-akan bergolak. Kata-kata itu benar-benar telah menggerakkan hatinya. Tetapi apabila kemudian bayangan-bayangan yang aneh hilir mudik di kepalanya, maka kembali hatinya menjadi pedih. Dan sambil menggelengkan kepalanya ia berkata,
“Tidak tuan. Aku tidak akan merobah pendirianku. Ken Dedes kini telah cukup dewasa untuk menentukan pilihannya sendiri.”
“Tuan benar,“ sahut prajurit tertua itu, “tuan benar. Tuan Puteri telah menjatuhkan pilihan. Tuan Puteri memang telah menerima lamaran Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi Tuan Puteri tidak mau meninggalkan adat tata cara. Tuan adalah satu-satunya wakil bagi ayahanda yang menurut berita yang sampai di istana telah meninggalkan Padepokan.”
“Ya,“ sahut Mahisa Agni, “Empu Purwa telah meninggalkan padepokan justru karena ia kehilangan gadisnya. Justru ia kehilangan Ken Dedes itu.”
“Kalau Empu Purwa itu dapat diketemukan, ia akan mendapatkan puterinya itu kembali. Justru setelah Puterinya menerima anugerah.”
“Orang tua itu telah kehilangan segenap harapan. Empu Purwa menjadi sakit hati. karena gadisnya dilarikan orang. Bagaimana mungkin ia dapat menerima Akuwu itu menghadap seandainya ia masih berada di padepokan sekalipun?”
“Tetapi bukankah yang membawa Tuan Puteri pada saat itu adalah adi Kuda Sempana?”
“Bukankah Kuda Sempana mendapat perlindungan dari Akuwu Tunggul Ametung.”
“Akuwu kini telah menyesal.”
“Tetapi ia tidak mengembalikan gadis itu. Malahan gadis itu diambilnya sendiri.”
Prajurit itu mengerutkan keningnya. Terbayanglah keheranan yang memancar pada sepasang matanya. Ia tidak dapat mengerti kenapa Mahisa Agni menjadi kecewa, justru adiknya akan diangkat menjadi seorang permaisuri. Bahkan bukan itu saja. Telah tersebar desas-desus yang luas, bahwa Akuwu Tunggul Ametung telah berjanji untuk menyerahkan kekuasaan atas Tumapel kepada gadis Panawijen itu. Namun untuk sesaat prajurit itu berdiam diri. Ia menjadi bingung dan tidak mengerti apa yang harus dikatakannya lagi.
Tiba-tiba mereka yang sedang duduk termenung dalam angan-angan masing-masing itu dikejutkan oleh suara tertawa yang meledak diantara mereka. Ketika semuanya berpaling, mereka segera melihat, bahwa yang tertawa itu adalah Kebo Ijo.
“Mahisa Agni,“ katanya, “apakah kau masih tetap bersakit hati? Sayang, adikmu telah bermimpi untuk menjadi seorang permaisuri.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Prajurit yang tertua dan bahkan semuanya yang ada di pendapa itu pun menjadi heran, kenapa Kebo Ijo tiba-tiba saja tertawa.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar