MENU

Ads

Senin, 23 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 074

Mahisa Agni tidak segera menyahut. Ditatapnya wajah Kebo Ijo itu dengan saksama. Namun anak muda itu masih saja tertawa sambil berkata, “Apakah sebenarnya yang kau kehendaki Agni. Adikmu telah diangkat menjadi permaisuri. Kau harus berterima kasih karenanya. Dan kau harus berterima kasih pula kepada Kuda Sempana. Kalau Kuda Sempana tidak menjadi gila, mata Akuwu Tunggul Ametung tidak akan pernah melihat adikmu itu.” Wajah Mahisa Agni tiba-tiba menjadi merah. Terasa nafasnya menjadi semakin cepat mengalir. Namun ia masih berdiam diri.

Prajurit yang tertua itulah kemudian yang berkata, “Sudahlah adi Kebo Ijo. Jangan berkata yang aneh-aneh. Sekarang baiklah aku menyampaikan pesan Tuan Puteri itu. Apabila tuan Mahisa Agni masih tetap pada pendiriannya itu, maka Tuan Puteri minta Tuan menghadap adik tuan itu ke istana.”

Tetapi warna merah di wajah Mahisa Agni masih saja membara. Kata-kata Kebo Ijo benar-benar telah menusuk jantungnya. Meskipun demikian, Mahisa Agni masih berusaha untuk menahan dirinya.

Dan prajurit yang tertua diantara mereka itu masih berkata terus, “Tuan. Sebaiknya tuan menaruh belas akan Tuan Puteri itu. Apabila tuan sudi datang, maka tuan Puteri akan merasa bahwa tuan telah merestuinya.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya yang gelisah. Perkataan prajurit itu memang dapat menyentuh perasaannya. Alangkah sedihnya Ken Dedes apabila ia menolak semua permintaannya itu. Namun kemudian penyakitnya kambuh kembali, sebuah goresan yang pedih di dalam dadanya, akibat segala macam peristiwa yang terjadi, sejak ia mendengar nama Wiraprana disebut, kemudian Kuda Sempana yang telah memeras segala tenaganya untuk mempertahankan gadis itu, bahkan hampir saja nyawanya sendiri melayang. Dan yang kemudian sekali gurunya telah meninggalkannya pula. Namun akhirnya gadis itu tanpa setahunya telah menerima lamaran Akuwu Tunggul Ametung. Dada Mahisa Agni menjadi pedih, sehingga terloncatlah jawabnya,

“Sayang tuan. aku tidak dapat datang menghadap gadis itu. Kalau ia memerlukan aku, biarlah ia datang kepadaku. Bukan aku yang harus menghadapnya.”

Dada prajurit itu berdesir. Tetapi ia berpaling ketika ia mendengar Kebo Ijo tertawa, “Adi Kebo Ijo,” katanya, “akulah yang diserahi pertanggungan jawab atas kalian, dan seluruh tugas ini.”

Dengan senyum yang menyakitkan hati Kebo Ijo menahan suara tertawanya. Kemudian ia berusaha untuk melepaskan perhatiannya atas pembicaraan itu. Dengan nanar ia memandang berkeliling. Kepada pepohonan, bunga-bunga dan rumput yang bertebaran di halaman. Namun daun-daun dan mahkota bunga tampak olehnya tidak begitu segar.

Prajurit itulah kemudian yang berkata kepada Mahisa Agni, “Tuan. Mungkin aku salah mengatakannya kepada tuan. Maksudku, Tuan Putri mengutus kami untuk menyampaikan kepada tuan, bahwa Tuan Puteri ingin bertemu dengan tuan. Ingin berbincang mengenai beberapa hal dan mungkin Tuan Puteri akan minta ijin kepada tuan, untuk menerima lamaran Akuwu Tunggul Ametung. Karena Tuan Puteri tidak dapat meninggalkan istana, maka apakah tuan sudi datang mengunjunginya.”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Sayang. Aku tidak dapat pergi ke Tumapel. Padukuhan ini. tidak dapat aku tinggalkan. Aku sekarang sedang terikat oleh suatu pekerjaan yang besar. Besar bagi padukuhan kami, meskipun hanya membuat sebuah bendungan. Sebab bendungan kami telah pecah beberapa waktu yang lampau.”

Prajurit itu menggigit bibirnya. Agaknya Mahisa Agni akan tetap pada pendiriannya. Karena itu ia menjadi ragu-ragu untuk berbuat sesuatu. Ia tidak mendapat kekuasaan untuk melakukan tugasnya dengan segala cara, menghadapkan Mahisa Agni ke Tumapel. Ia hanya mendapat tugas untuk menyampaikan pesan itu. Dan ternyata pesan itu telah ditolaknya. Namun prajurit itu masih mencoba untuk meyakinkan Mahisa Agni, bahwa sebaiknya ia datang, katanya,

“Tuan Kasihanilah adik tuan itu. Mungkin adik tuan ingin datang mengunjungi tuan, tetapi adik tuan sama sekali tidak mendapat kesempatan. Bukan karena adik tuan itu tidak ingin, apalagi tidak sudi, tetapi sebagai seorang puteri istana ia terikat pada beberapa ketentuan yang tidak dapat dilanggarnya.”

“Anak itu adalah anak Panawijen,“ sahut Mahisa Agni, “gadis padepokan yang berada di istana karena dilarikan orang. Ia sama sekali bukan seorang puteri yang wajar menerima berbagai tata-cara kebesaran sebelum ia benar-benar menjadi seorang permaisuri.”

Sekali lagi prajurit itu mengangguk-angguk sambil menggigit bibirnya. Kini seakan-akan semua jalan yang dapat ditempuhnya telah buntu. Ia benar-benar tidak dapat mengatasi kekerasan hati Mahisa Agni dengan kata-kata. Namun kembali mereka terkejut ketika tiba-tiba mereka melihat Kebo Ijo dengan serta merta meloncat berdiri dan berjalan turun dari pendapa. Dengan nada yang tinggi ia berkata,

“Kakang, aku tidak telaten. Jangan kau bujuk dengan rayuan cengeng anak manja itu. Kakang hanya tinggal menyampaikan pesan gadis Panawijen itu, kemudian apakah kakaknya akan memenuhi atau tidak, bukanlah urusan kita. Kita bukan budak-budak yang harus merendahkan diri, merajuk seperti jejaka yang sedang jatuh cinta.”

“Kebo Ijo.”

Teriakan itu benar-benar mengejutkan. Hampir bersamaan Mahisa Agni dan prajurit itu memotong kata-katanya. Hampir bersamaan pula mereka berdua serentak berdiri. Bahkan Mahisa Agni dan prajurit itu pun terkejut pula melihat sikap masing-masing menghadapi Kebo Ijo. Namun Kebo Ijo itu masih berdiri di bawah tangga pendapa dengan dada tengadah. Bahkan kemudian ia berkata,

“Tak ada gunanya membujuk Mahisa Agni yang keras kepala.”

Mahisa Agni kemudian tidak dapat menahan dirinya lagi. Tiba-tiba ia meloncat turun pula dari pendapa. Namun prajurit yang tertua itu meloncat pula secepat Mahisa Agni meloncat. Dengan penuh hormat, seperti pada saat ia datang dan berbicara, ia berkata kepada Mahisa Agni,

“Tuan. Aku adalah tetua rombongan kecil ini. Aku minta maaf atas perbuatan adi Kebo Ijo. Mudah-mudahan aku akan dapat mencegahnya lain kali.”



Tetapi belum lagi kata-kata itu berakhir, telah terdengar suara tertawa Kebo Ijo itu kembali. Betapa wajah prajurit tertua itu menjadi merah padam. Seakan-akan ia menerima tamparan langsung di wajahnya. Meskipun demikian ia menyadari, bahwa Kebo Ijo adalah adik seperguruan Witantra. Itu pulalah agaknya, yang menyebabkan anak muda itu menjadi keras kepala. Ia merasa bahwa di belakangnya berdiri seorang yang disegani. Baik oleh Mahisa Agni maupun oleh tetua rombongan prajurit itu.

Prajurit yang tertua itu pun kemudian menyadari, bahwa lebih baik baginya untuk segera meninggalkan halaman itu sebelum terjadi sesuatu. Ia telah mengenal sikap dan sifat Kebo Ijo meskipun belum begitu banyak, dan ia telah mendengar beberapa macam ceritera tentang anak muda kakak Ken Dedes itu. Prajurit itu telah mendengar pula ceritera tentang Mahisa Agni, ketika ia terpaksa berkelahi melawan Mahendra di Tumapel beberapa waktu yang lalu. Namun sebelum prajurit itu berkata sesuatu dilihatnya Kebo Ijo berjalan dengan senyum-senyum yang menyakitkan hati ke arah kudanya. Dengan satu loncatan yang cepat, anak muda itu telah berada di punggung kuda.

“Selamat tinggal sampai bertemu kembali Agni. Mudah-mudahan kau tidak terlalu murung menghayati kenyataan seharusnya kau menjadi gembira mendengar kabar tentang adikmu. Tetapi tiba-tiba kau malahan menjadi bersedih.”

“Cukup,“ bentak prajurit yang memimpin rombongan itu, “jangan mengigau terus adi Kebo Ijo.”

Kebo Ijo tertawa. Digerakkannya kendali kudanya, dan perlahan-lahan kudanya bergerak meninggalkan halaman rumah itu. Namun suara tertawanya masih saja terdengar menggeletar di halaman.

“Maaf, sekali lagi aku minta maaf atas segala tingkah lakunya,” minta prajurit itu.

Mahisa Agni berdesis. Seandainya prajurit itu tidak bersikap manis, maka Mahisa Agni sudah tidak dapat lagi menahan dirinya. Namun ketika sekali lagi prajurit itu minta maaf kepadanya, maka sadarlah Mahisa Agni, bahwa ia berhadapan dengan Kebo Ijo. Seharusnya ia telah mengenal sifat anak yang bengal itu. Maka dengan mengangguk-anggukkan kepalanya Agni menjawab,

“Baiklah tuan. Seharusnya aku tahu, bahwa demikian itulah sifat Kebo Ijo. Sejak aku mengalami singgungan perasaan yang kadang-kadang hampir tak tertahankan.”

“Ya,“ sahut prajurit itu, “mudah-mudahan setelah ia berada dalam lingkungan yang lebih luas, dalam lingkungan keprajuritan, sifat-sifatnya akan berkurang.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya, meskipun terasa degup jantungnya masih belum tenang kembali.

“Kini, kami akan mohon diri tuan,“ berkata prajurit itu, “aku akan menyampaikan segala jawaban tuan atas permintaan Tuan Puteri.”

“Baik,“ sahut Agni, “sampaikan kepadanya Aku sedang terlampau sibuk.”

Prajurit itu membungkuk hormat. Beberapa orang kawannya pun berbuat serupa, “Kami segera akan kembali.”

Ketika kuda-kuda para tamu itu berderap, dada Mahisa Agni pun serasa berderap sekeras derap kuda itu. Hampir ia berteriak memanggil mereka, dan menyatakan kesediaannya untuk pergi bersama mereka ke Tumapel menemui Ken Dedes. Namun tiba-tiba terdengar giginya gemeretak. Terdengar suaranya parau perlahan-lahan,

“Tidak. Aku tidak akan datang menemuinya. Aku tidak akan dapat merestui perkawinan itu. Guru sendiri telah berkata dalam kutuknya, bahwa matilah mereka dengan keris, yang ikut serta melarikan anaknya. Bukankah Tunggul Ametung termasuk pula diantaranya?” Namun Mahisa Agni segera memejamkan matanya ketika timbul pertanyaan dalam hatinya, “Apakah itu alasanmu satu-satunya?”

Mahisa Agni itu pun kemudian terkejut ketika terasa pundaknya tersentuh tangan. Ketika ia berpaling dilihatnya pamannya berdiri di belakangnya sambil tersenyum. Dada Mahisa Agni berdesir. Kemudian tatapan wajahnya tertunduk menghunjam disela-sela jari kakinya.

“Kenapa kau tidak pergi bersama mereka. Bukankah gadis itu puteri gurumu?” bertanya pamannya.

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Kepalanya masih tunduk dalam-dalam dan hatinya bergolak semakin cepat. Empu Gandring yang bijaksana melihat kerusuhan hati kemanakannya. Karena itu ia tidak mendesaknya. Bahkan kemudian ia berkata,

“Sudahlah Agni. Kalau kau sudah berketetapan hati tidak akan pergi baiklah. Tetapi perasaanmu jangan terbenam dalam keragu-raguan. Nah, sekarang bagaimana dengan bendunganmu?”

Seperti orang yang terbangun dari tidurnya, Mahisa Agni menengadahkan wajahnya. Tiba-tiba ia tersenyum dan menjawab, “Semua persiapan telah selesai paman.”

“Bagus,“ sahut pamannya, “lalu apa yang akan dikerjakan hari ini?”

“Brunjung harus mulai dibawa ke jeram-jeram itu,“ jawab Agni

“Bagus,” sahut pamannya, “apakah sudah kau sediakan gerobag-gerobag yang akan membawanya?”

“Sudah paman.”

“Mari, biarlah aku mempunyai pekerjaan disini, daripada hanya duduk termenung setiap hari. Apakah aku dapat turut membawa berunjung-berunjung itu?”

“Ah,“ Mahisa Agni berdesah, “sebaiknya paman tidak usah terlalu bersusah payah.”

“Jangan beranggapan bahwa aku seorang yang hanya pantas diberi makan dan minum saja Agni. Biarlah aku pergi bersama-sama membawa brunjung itu ke jeram-jeram dipadang Karautan.”

“Apabila paman kehendaki, aku akan mempersilahkan.”

“Dari mana berunjung-berunjung itu dibawa?”

“Dari rumah Ki Buyut, paman. Di sana semuanya telah siap, Ki Buyut sendiri akan membawa berunjung-berunjung itu ke sana. Tinggal menanti aku yang masih harus mempersiapkan beberapa pekerjaan disini.”

Empu Gandring mengerutkan keningnya, “Baik. Kalau kau belum sempat pergi, biarlah aku bersama mereka. Mungkin aku dapat membantu mereka.”

Mahisa Agni pun kemudian menyadari kata-kata itu. Ki Buyut belum menyadari bahaya yang akan dapat mengancam mereka, karena Mahisa Agni belum mengatakannya. Sedang apa yang didengar oleh Ki Buyut dari Jinan, Patalan dan Sinung Sari hanya dianggapnya sebagai sebuah lelucon yang dahsyat. Dan kini pamannya bersedia pergi bersama mereka. Karena itu Mahisa Agni merasa bahwa pamannya bersedia untuk melakukan sebagian dari pekerjaannya. Terutama melindungi orang yang sedang mengantarkan peralatan bagi bendungan yang akan mereka bangun.

Maka jawab Mahisa Agni, “Terima kasih paman. Apabila paman bersedia berangkat bersama dengan Ki Buyut, maka pekerjaan akan terbagi. Brunjung itu akan sampai di jeram-jeram itu, sementara aku sempat menyelesaikan beberapa pekerjaan disini. Dengan demikian kita tidak kehilangan waktu hanya untuk menunggu aku.”

Empu Gandring tersenyum, “Bukankah lebih baik begitu?”

Demikianlah maka pada hari itu juga Mahisa Agni segera mempersiapkan, berunjung-berunjung untuk dibawa ke Padang Karautan. Hampir semua gerobag yang ada di padukuhan itu dipakai oleh Ki Buyut Panawijen untuk mengangkut brunjung-brunjung dan berbagai macam peralatan yang lain. Kepada mereka Mahisa Agni berpesan, bahwa mereka harus menaruh banyak perhatian terhadap air, supaya mereka tidak kehausan di jalan.

Maka pada pagi harinya, berangkatlah iring-iringan gerobag dan sebagian orang-orang Panawijen, berjalan menuju ke padang rumput Karautan. Diantara mereka terdapat Ki Buyut Panawijen, Empu Gandring dan sebagai penunjuk jalan adalah Jinan, Patalan dan Sinung Sari. Hampir segenap penduduk Panawijen melepas iring-iringan itu dengan doa dan harapan, semoga mereka menemukan kembali kesuburan dan kesejahteraan seperti yang pernah dialami.

Sementara itu Mahisa Agni dan beberapa anak-anak muda yang lain masih sibuk menyiapkan patok-patok dan tali temali dari ijuk untuk bendungan itu pula. Mereka mengharap, bahwa apabila pekerjaan mereka itu telah siap, maka segera mereka akan dapat pergi menyusul gerobag-gerobag yang berjalan jauh lebih lambat dari berjalan kaki biasa. Apalagi Mahisa Agni dan kawan-kawannya kelak akan dapat menyusul mereka berkuda. Patok-patok bambu dan tali temali itu akan dapat dimasukkan ke dalam kreneng-kreneng yang besar dan digantungkan pada sisi-sisi kuda sebelah menyebelah.

Dengan demikian maka pekerjaan itu berjalan menurut tugas masing-masing. Dengan penuh kesungguhan dan harapan, rakyat Panawijen bekerja keras untuk kesejahteraan mereka dan anak cucu mereka. Kalau kemudian malam tiba, maka Mahisa Agni dengan kelelahan beristirahat di padepokan. Sebelum ia ingin tidur, maka ia selalu berbaring-baring di pendapa atau duduk di teritisan.

Betapa sepinya padepokan itu kini. Sekali-sekali Mahisa Agni masih juga sempat mengenangkan masa-masa lampaunya. Ketika ia masih menghayati padepokan ini dengan segenap penghuninya. Penghuni yang masing-masing mempunyai tempat tersendiri di dalam hatinya. Empu Purwa, gurunya yang telah menuntunnya dalam olah kanuragan dan olah kebatinan. Yang menuntunnya menanggapi kehadirannya di dunia namun juga menanggapi cinta kasih Penciptanya. Kemudian Ken Dedes, gadis yang aneh baginya. Dan seorang emban tua, ibunya.

Malam itu Mahisa Agni setelah membersihkan dirinya, berjalan-jalan di pekarangan rumahnya. Dicobanya untuk mengenal kembali setiap tanaman yang ada dipetamanan-petamanan. Bunga-bunga yang pernah ditanamnya dan rerumputan yang pernah dipeliharanya. Meskipun kini terkadang ia sama sekali tidak lagi tertuju kepada tanam-tanaman itu, namun para cantrik agaknya telah meneruskan pemeliharaan atas tanaman-tanaman itu, sehingga meskipun telah sekian lama tidak disentuhnya, namun tanaman-tanaman itu masih tetap terpelihara rapi.

Ketika ia melangkah terus, tiba-tiba ia tertegun. Dilihatnya sebuah bale-bale bambu di teritisan. Bale-bale yang dulu itu juga. Terasa dada Mahisa Agni berdesir. Bukan saja bale-bale bambu itu, tetapi dilihatnya pula sebatang seruling terselip pada dinding rumah.

“Hem,“ Mahisa Agni menarik nafas. Tanpa sesadarnya ia melangkah dan menjatuhkan dirinya dialas bale-bale itu. Terdengar suaranya berderak dan terdengar pula nafas Mahisa Agni terputus sesaat.

Namun kemudian anak muda itu menjulurkan tangannya, meraih serulingnya yang telah lama terselip di situ. Dengan hati yang tersentuh-sentuh oleh kepahitan perasaan, Mahisa Agni membersihkan serulingnya. Perlahan-lahan diangkatnya seruling itu dan dilekatkan ke mulutnya. Sesaat kemudian melontarkan sebuah lagu menelusur sepi malam. Menjerit tinggi diantara desir dedaunan yang digerakkan oleh angin malam yang lembut, seakan-akan ikut pula berlagu, mendendangkan sebuah kidung yang sedih.

Para cantrik yang masih duduk-duduk di belakang rumah terkejut mendengar suara seruling itu. Serentak mereka mengangkat wajah-wajah mereka, namun segera wajah-wajah itu tertunduk kembali. Lagu itu adalah lagu yang murung. Dan wajah-wajah para cantrik itu pun menjadi murung pula. Sedang di ruang samping, para endang yang sedang bergurau pun tiba-tiba berhenti. Seperti dikejutkan oleh suara hantu, mereka memasang telinga mereka tajam-tajam. Dan mereka pun mendengar suara seruling itu.

“Hem,“ desis seorang endang.

“Kenapa,“ bertanya yang lain.

“Lagu itu.”

“Kenapa?”

Endang itu tidak menjawab. Tetapi matanya menjadi sayu. Ia adalah endang yang selalu melayani Ken Dedes pada saat gadis itu masih berada di padepokan. Dan suara seruling itu telah menuntunnya ke dalam suatu kenangan atas gadis padepokan yang bernama Ken Dedes itu. Tetapi kawan-kawannya tidak sempat bertanya kenapa ia menjadi sedih. Bahkan kawan-kawannya pun segera menundukkan wajah-wajah mereka. Terasa sebuah kenangan yang pahit telah menyentuh-nyentuh hati mereka pula.

Tetapi tiba-tiba suara seruling itu menyentak berhenti, sehingga baik para cantrik maupun para endang menjadi bertanya-tanya di dalam hati. Namun mereka tidak tahu, bahwa Mahisa Agni yang sedang meniup seruling itu telah dikejutkan oleh suara langkah tergesa-gesa mendekatinya. Langkah itu masih belum terlalu dekat. Tetapi telinga Mahisa Agni yang tajam telah dapat mendengarnya. Langkah itu adalah langkah seseorang yang berjalan ke arahnya.

Namun demikian suara serulingnya berhenti, suara langkah itu pun berhenti pula. Betapapun Mahisa Agni memasang pendengarannya baik-baik, tetapi ia kini sudah tidak mendengar suara itu lagi. Hati anak muda itu pun menjadi berdebar-debar. Berbagai pertanyaan hinggap di dalam hatinya. Namun Mahisa Agni yang cukup terlatih itu merasakan bahwa langkah itu bukanlah langkah seseorang yang cukup mempunyai kecakapan untuk menyembunyikan suara langkahnya. Dengan demikian Mahisa Agni menjadi agak tenang. Mungkin langkah itu adalah langkah seorang cantrik atau seorang endang yang ingin mengintipnya dan bersembunyi di balik sudut rumah itu. Tetapi ketika Mahisa Agni itu berdiri dan berjalan menyusuri jalan-jalan dipetamanan, kembali ia terkejut. Didengarnya suara memanggilnya perlahan-lahan,

“Mahisa Agni.”

Agni berpaling. Dilihatnya sebuah bayangan di dalam gelap berjalan perlahan-lahan ke arahnya. Terasa dada Mahisa Agni berdesir melihat bayangan itu. Dan sekali lagi terdengar bayangan itu memanggilnya,

“Agni.”

“Ibu,“ desis Mahisa Agni sambil melangkah tergesa-gesa ke arah bayangan yang ternyata adalah ibunya.

“Ya,” sahut ibunya, “aku ibumu.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Terasa hatinya menjadi berdebar-debar. Ibunya memerlukan datang kepadanya. Pasti ada sesuatu yang penting.

“Marilah ibu,“ Agni mempersilahkan ibunya masuk ke dalam rumah. Tetapi ibunya menjawab, “Aku adalah seorang emban tua disini Agni.”

“Oh,“ desah Mahisa Agni, “lalu?”

“Bawalah aku ke pendapa. Aku datang bersama dengan dua orang prajurit Tumapel.”

“Kenapa ibu membawa prajurit-prajurit itu?”

“Aku tidak membawanya, tetapi kedua orang itu mendapat perintah untuk mengantarku.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kalau begitu marilah,“ ia mempersilahkan.

“Tidak sekarang Agni.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu maksud ibunya sehingga karena itu ia bertanya, “Kenapa ?”

Ibunya memandang wajah Mahisa Agni dengan lembut. Terasa sinar keibuan memancar dari sepasang mata yang redup diantara kerut kemerut wajah yang telah dijaluri oleh garis-garis umur.

“Marilah, duduklah disini sebentar Agni,“ minta ibunya.

Sebelum Mahisa Agni menjawab, terasa tangan ibunya menarik lengannya, dan dituntunnya ke bale-bale di teritisan.

“Duduklah Agni.”

Seperti anak yang baru pandai berjalan di dalam bimbingan ibunya, Mahisa Agni sama sekali tidak mengelak. Ketika kemudian Mahisa Agni terhenyak di atas bale-bale itu, maka ibunya pun segera duduk pula di sampingnya. Sejenak mereka masih saling berdiam diri. Ibunya sedang mencoba mengatur pernafasannya yang terengah-engah. Baru saja ia menempuh perjalanan yang terlalu jauh bagi seorang perempuan tua, meskipun di atas punggung kuda. Namun karena ia bukan seorang penunggang kuda yang baik, maka terasa seluruh badannya menjadi penat dan sakit. Jarak yang sama antara Tumapel dan Panawijen telah ditempuh dalam waktu dua kali bahkan tiga kali lipat, dari pada waktu yang diperlukan oleh mereka yang pandai berkuda dengan kecepatan yang sedang saja. Karena itulah maka perempuan tua itu datang terlampau malam di Panawijen.

Sedangkan Mahisa Agni, kini dirisaukan oleh berbagai dugaan atas kedatangan ibunya. Namun segera ia menghubungkan kedatangan ibunya itu dengan kedatangan serombongan prajurit beberapa hari yang lalu. Karena itu, maka hatinya menjadi berdebar-debar.

Baru sesaat kemudian terdengar ibunya berkata, “Agni. Aku sangat penat. Tetapi aku ingin segera mendengar beberapa persoalan dari mulutmu sendiri. Karena itu, biarlah kita bicarakan dahulu beberapa persoalan tanpa didengar oleh para prajurit yang mengantarkan aku itu, kemudian barulah aku dan prajurit-prajurit itu kau jamu sekedarnya. untuk menghilangkan haus dan lapar.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya, seperti sudah seharusnya saja ia berbuat demikian.

“Agni,“ berkata ibunya, “apakah beberapa hari yang lalu datang beberapa orang prajurit kemari?”

Kembali Mahisa Agni mengangguk. Debar di dadanya terasa semakin keras. “Apakah mereka minta kepadamu supaya kau pergi ke Tumapel?” Sekali lagi Mahisa Agni mengangguk. “Dan kau menolak.”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Pertanyaan itu sudah diduganya. Namun terasa bahwa pertanyaan itu menyulitkannya.

“Agni. Kenapa kau menolak? Dua persoalan telah diberikan kepadamu. Yang pertama, Akuwu Tunggul Ametung, seorang Akuwu telah bersedia datang kepadamu untuk mewakili gurumu, menerima lamarannya atas Ken Dedes, karena kau dianggap sebagai kakaknya, meskipun bukan kakak kandungnya. Bukankah Ken Dedes sudah tidak mempunyai keluarga seorang pun selain ayahnya itu? Yang kedua, karena kau menolak, maka Ken Dedes ingin menemuimu. Dan kau menolak pula. Apakah sebabnya Agni?”

Kini dada Mahisa Agni tidak lagi sekedar berdebar-debar. Tetapi terasa dada itu kini bergelora. Sebenarnya ia telah jemu mendengar pertanyaan-pertanyaan serupa itu. Sejak ia bertemu dengan Ken Arok dipadang Karautan, kemudian Mahendra yang menemuinya atas perintah Witantra, seterusnya beberapa orang prajurit datang lagi kepadanya atas perintah Ken Dedes. Dan kini, yang datang itu adalah ibunya. Karena itu maka terasa dada Mahisa Agni menjadi sesak karenanya. Sesak oleh berbagai persoalan yang diberati pula oleh persoalan yang serupa, namun kini ibunyalah yang membebankannya.

Justru karena itu, karena pertanyaan-pertanyaan yang terakhir itu meluncur dari mulut ibunya, maka terasa bahwa sentuhan-sentuhan pada dinding hatinya terasa menjadi semakin tajam. Mahisa Agni yang menundukkan kepalanya, tidak segera dapat menjawab. Nafasnya seakan-akan menjadi semakin cepat mengalir, namun jantungnya serasa akan berhenti berdetak.

“Agni,” desak ibunya, “kenapa kau tidak bersedia pergi ke Tumapel untuk menemui Ken Dedes? Gadis itu perlu kedatanganmu. Ia sampai kini, merasa bahwa hidupnya terlalu jauh terpencil dari keluarganya. Ketika ia mendengar bahwa ayahnya pergi dari Panawijen, ia menjadi pingsan. Satu-satunya harapan yang akan dapat menenteramkan hatinya adalah kau Agni. Kalau kau juga menolak, maka gadis itu akan berputus asa. Ia akan merasa hidupnya terlalu sepi. Sendiri dalam kesibukan hidup sehari-hari.”

Mahisa Agni masih menundukkan kepalanya. Kata-kata itu seperti mengetuk-ngetuk otaknya. Bahkan menusuk-nusuk seakan-akan sedang mengorek dinding otaknya untuk membuat sebuah lubang yang dalam. Alangkah sakitnya.

“Kau dengar Agni?”

Suara itu bagaikan derak gunung yang meledak, menggelegar di atas kepalanya. Mahisa Agni menjadi pening, perlahan-lahan ia mengangkat kepalanya. Tetapi ia tidak memandang wajah ibunya. Dilontarkannya pandangan matanya jauh-jauh menembus kelamnya malam, hinggap pada sinar-sinar delupak yang mengintip dari lubang-lubang dinding dapur.

“Bagaimana Agni?”

“Tidak,“ tiba-tiba suara Agni menyentak, sehingga ibunya terkejut.

“Jangan membentak,” sahut ibunya.

“Aku tidak akan pergi. Ia tidak akan menjadi kesepian. Gadis itu akan menjadi seorang permaisuri. Hidupnya akan dikelilingi oleh dayang-dayang dan emban. Semua kata-katanya akan terjadi, dan semua keinginannya akan terpenuhi. Apa gunanya aku lagi. Apa?”

“Agni,“ potong ibunya, “tetapi kau tidak memandang ke dalam hatinya. Kau hanya melihat tata lahiriahnya Agni.”

“Kalau hatinya merasa kesepian, kalau hatinya tidak tertimbuni oleh keinginan-keinginan lahiriah, maka apakah ia akan menerima lamaran Akuwu sebelum ia berbicara dengan siapa pun? Sebelum ia berbicara dengan ayahnya, atau dengan aku yang dianggap dapat mewakili ayahnya?”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar