“Agni,“ potong ibunya semakin keras. Sehingga suara Agni itu pun terputus pula. “Kau tidak dapat mengerti perasaan hati seorang perempuan. Ken Dedes sudah cukup mengalami derita batin yang hampir tak tertanggungkannya. Matinya Wiraprana, hilangnya Empu Purwa dan kini kau masih akan menyiksanya dengan berbagai tuntutan yang tak masuk akal. Apa yang dihadapi Ken Dedes saat itu bukanlah keadaan yang wajar. Tetapi ia tersekap dalam satu ruang yang sempit dengan himpitan perasaan yang tajam. Tiba-tiba ia melihat uluran tangan dari seorang laki-laki yang dianggapnya sangat baik kepadanya. Laki-laki yang telah membebaskannya dari Kuda Sempana yang sangat dibencinya. Laki-laki yang dapat memberinya harapan bagi masa-masa depannya sepeninggal Wiraprana. Laki-laki yang berusaha menghiburnya pada waktu hatinya sedang pedih. Apalagi Agni, Apalagi? Tetapi laki-laki itu tidak akan berbuat sekehendak hatinya dan liar. Ia masih ingat tata cara yang meskipun tidak sepenuhnya, tetapi sejauh-jauh yang dapat dilakukan. Ia bersedia datang kepadamu. Dan laki-laki itu adalah seorang Akuwu. Nah, apa katamu?”
“Sejak semula aku tidak mencampuri urusannya dengan Akuwu itu. Akuwu yang telah melarikannya, melindungi Kuda Sempana, merampas anak orang. Aku telah mencoba mempertahankannya, bahkan nyawaku hampir diambilnya. Kini, peristiwa itu sudah dilupakan. Kini mereka menemukan jalan sendiri yang akan membahagiakan, sedang luka di punggungku masih berbekas. Bahkan ayahnya sendiri, Empu Purwa telah mengutuknya. Betapa kecewa hati orang tua itu? Betapa? Betapa kecewa pula hatiku? Orang memandang setiap persoalan dari kepentingan sendiri.”
“Agni?“ potong ibunya.
Tetapi Mahisa Agni masih berkata terus, “Apa yang aku peroleh dari setiap usahaku mempertahankannya dari Kuda Sempana? Apakah yang aku lakukan tidak senilai apa yang dilakukan oleh Akuwu itu. Justru Akuwu yang melindungi perbuatan hina itu pula?”
“Agni, Apakah kau sedang menimbang jasa? He?“
Kini suara Agni benar-benar terpotong. Dan ibunya berkata terus, “Jadi kau ingin mendapatkan imbalan dari jasamu itu? Agni. Aku adalah seorang tua. Aku tahu apa yang tersimpan di dadamu. Ternyata kau sama sekali tidak ikhlas melepaskan Ken Dedes. Nah, katakanlah kepadaku Agni. Apakah kau masih menghendakinya. Apakah kau masih menyimpan keinginan dalam dadamu, bahwa suatu ketika kau sendiri akan mengawininya. Kalau benar-benar demikian, aku, ibumu akan sanggup memenuhi keinginan itu. Aku berkewajiban Agni. Kalau demikian, besok aku akan kembali ke Tumapel. Aku akan membunuh Tunggul Ametung. Kau tidak percaya? Aku yakin bahwa aku akan dapat melakukannya. Aku dapat meracuninya. Kalau Akuwu itu sudah terbunuh, kemana larinya gadis itu? Ia akan kembali ke padepokan ini, meskipun aku akan digantung karena pembunuhan itu. Nah, setelah ia berada di padepokan ini seorang diri, kau dapat berbuat apa saja atasnya. Kau dapat berbuat apa saja sekehendak hatimu. Tanpa memikirkan perasaan gadis itu. Tanpa menimbang apakah itu dapat membahagiakannya atau menghancurkannya.”
“Cukup. Cukup,” suara Agni menggelepar menggetarkan udara malam yang sepi.
Beberapa orang cantrik dan emban mendengar suara itu. Namun mereka tidak berani berbuat sesuatu. Mereka tidak tahu apa yang terjadi. Bahkan mereka menyangka bahwa Agni sedang marah kepada pembantu-pembantunya yang sedang menyiapkan bendungan.
Suara ibunya terputus karenanya. Sesaat malam dicengkam oleh kesepian yang menggelisahkan. Sepi, namun dada Mahisa Agni sedang dibelit oleh kegelisahan yang dahsyat. Yang terdengar kemudian adalah suara angin yang berdesir menyentuh dedaunan. Kelopak dan mahkota-mahkota bunga bergerak-gerak seperti sedang menggelengkan kepalanya melihat betapa Mahisa Agni menahan gelora di dadanya. Dengan serta merta anak muda itu berdiri. Tatapan matanya masih menyangkut dikejauhan, menembus gelapnya malam.
“Agni,“ bisik ibunya.
Tetapi Mahisa Agni tidak berpaling. Tetapi ia menjawab, “Ibu telah mengorek luka di hatiku.”
“Jadi apakah maksudmu sebenarnya?”
“Aku sudah tidak mempunyai sangkut paut lagi dengan Ken Dedes. Aku kini sedang sibuk dengan kewajibanku sendiri. Menyelesaikan bendungan itu atas perintah Empu Purwa untuk mengganti bendungan yang pecah. Aku tidak ada waktu untuk mengurusinya. Bagiku, rakyat Panawijen jauh lebih penting daripada Ken Dedes itu seorang diri.”
“Jangan mengada-ada Agni. Bendungan itu adalah pekerjaan yang memerlukan waktu. Sedang Ken Dedes hanya memerlukan kau tidak lebih dari sehari saja. Pagi-pagi kau dapat berangkat berkuda ke Tumapel untuk menemuinya, maka dimalam harinya kau sudah berada di Panawijen kembali.”
“Tak ada waktu.”
“Jangan menunggu Akuwu marah. Akuwu masih dapat menahan dirinya ketika ia mendengar bahwa utusan Ken Dedes kau tolak, karena Ken Dedes masih akan berusaha memanggilmu. Dan aku telah menyanggupkan diriku, karena aku adalah ibumu. Aku menyangka bahwa betapapun kecilnya, aku masih mempunyai pengaruh atas anakku. Tetapi ternyata aku keliru. Aku sama sekali sudah tidak memiliki apapun lagi. Dan itu adalah salahku, karena aku memisahkan kau sejak kanak-kanak. Adalah wajar kalau kau sekarang merasa, bahwa ibumu tidak berarti lagi bagimu.”
Kembali terasa dada Mahisa Agni itu bergelora. Betapa sakitnya ia mendengar kata-kata ibunya. Betapa pedihnya. Hampir-hampir ia berteriak untuk melepaskan perasaan yang menghimpit jantungnya. Tetapi Mahisa Agni itu terkejut ketika ia mendengar suara isak di belakangnya. Ketika ia berpaling, dilihatnya ibunya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dengan ujung kainnya, orang tua itu menyeka matanya yang basah.
Dada Mahisa Agni berdesir. Tanpa dikehendakinya sendiri, tiba-tiba ia terkenang kepada seorang perempuan tua yang menangisi anaknya yang hampir mati dibunuhnya. Perempuan tua itu adalah ibu Pasik. Meskipun perempuan itu pernah mengalami perlakuan yang kasar dari anaknya, namun ketika anaknya terluka, maka anak itu ditangisinya.
“Alangkah jauh bedanya. Kasih seorang ibu dibandingkan dengan kasih seorang anak,“ katanya di dalam hati. Dan kini ia melihat ibunya itu menangis. Menangis karena sikapnya yang kasar. Menangis karena ia menolak nasehatnya.
Sesaat Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Dikenangnya kembali apa saja yang diucapkan oleh ibunya. Dikatakannya bahwa ia tidak dapat mengerti perasaan seorang perempuan.
“Hem,“ Mahisa Agni berdesah di dalam hati, “kenapa hanya laki-laki saja yang harus mengerti perasaan perempuan. Kenapa tidak sebaliknya pula? Aku harus mencoba mengerti betapa hati Ken Dedes akan menjadi pedih apabila aku tidak memenuhi permintaannya. Tetapi kenapa Ken Dedes tidak mau mengerti, betapa hatiku lebih-lebih akan menjadi parah. Kalau aku datang lagi kepadanya.”
Tetapi ketika sekali lagi ia memandangi wajah ibunya yang tunduk, maka hatinya menjadi luluh. Tiba-tiba Mahisa Agni itu pun kembali menghenyakkan dirinya di samping ibunya. Dengan suara yang terpatah-patah ia berkata,
“Jangan menangis ibu.”
Ibunya menggelengkan kepalanya, “Tidak Agni. Aku mencoba untuk tidak menangis. Aku akan mencoba mengerti apa yang baru saja terjadi. Aku tidak menyalahkanmu.”
Sekali lagi dada Mahisa Agni berdesir. Kini ia tidak dapat lagi melawan perasaan seorang anak yang ingin mencoba berbakti kepada ibunya. Karena itu katanya, “Ibu, aku akan memenuhi permintaan ibu.”
Ibunya terkejut mendengar kata-kata itu. Tiba-tiba ia menengadahkan kepalanya sambil bertanya, “Bagaimana?”
“Aku akan pergi ke Tumapel, semata-mata karena permintaan ibu.”
“Agni. Jadi kau bersedia?” Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. “Oh,“ ibunya berdesah. Sekali lagi ia menundukkan dan terdengar ia berguman, “Aku tahu betapa hatimu seperti tergores sembilu. Namun Agni, pengorbanan akan bermanfaat bagi gadis yang malang itu.”
Mahisa Agni tidak menjawab. Kembali untuk sesaat keduanya saling berdiam diri. Kembali terdengar di telinga mereka suara angin yang berdesir menyentuh dedaunan. Baru sejenak kemudian terdengar ibu Mahisa Agni itu berkata,
“Agni, di pendapa ada tamu. Prajurit-prajurit dari Tumapel yang mengantarkan aku. Apakah kau akan menemui mereka?”
Keduanya pun kemudian melangkah ke Pendapa untuk menemui pengantar emban tua itu. Ketika Mahisa Agni telah sampai di pendapa dan bercakap-cakap dengan kedua prajurit itu, maka emban tua itu segera pergi kebelakang. Alangkah terperanjatnya para endang dan cantrik melihat kehadirannya. Beberapa endang memeluknya sambil menangis, dan yang lain lagi bertanya tidak ada henti-hentinya.
“Sekarang,“ berkata emban tua itu, “di pendapa ada tamu. Apakah kalian masih bersedia merebus air dan menanak nasi?”
“Tentu. Tentu,“ sahut para endang.
Dan segera mereka pun menyalakan api di dapur. Merebus air dan menanak nasi. Sementara itu, para endang dan cantrik masih saja sibuk dengan berbagai pertanyaan. Mereka ingin mendengar ceritera tentang Ken Dedes. Namun sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, ibu Mahisa Agni itu selalu saja dibayangi oleh perasaan sendiri,
“Alangkah kejamnya aku sebagai seorang ibu terhadap anak laki-lakiku. Aku telah menyiksa perasaannya dan aku telah menyakiti hatinya.”
Tetapi ibu Mahisa Agni itu pun tidak sampai hati melihat Ken Dedes merasa hidupnya menjadi terlampau pedih. Orang tua itu merasa sangat kasihan kepada Ken Dedes, yang telah kehilangan laki-laki tempat ia menggantungkan kasihnya, kemudian ayahnya telah meninggalkannya pula. Malam itu, emban tua pemomong Ken Dedes beserta dua orang prajurit pengantarnya bermalam di padepokan. Kedua prajurit itu merasa sangat heran, kenapa tiba-tiba saja Mahisa Agni bersedia pergi ke Tumapel. Prajurit itu telah mendengar ceritera kawan-kawannya, bahkan Kebo Ijo telah menyebarkan berita, bahwa Mahisa Agni sedang bermanja-manja, menolak permintaan Ken Dedes untuk menemuinya.
Tetapi kedua prajurit itu tidak mau berpening kepala memikirkan persoalan yang tak diketahuinya. Mereka hanya menyimpan keheranannya itu di dalam hatinya. Kemudian karena lelah mereka segera jatuh tertidur setelah mendapat jamuan makan dan minum. Pagi-pagi benar Mahisa Agni telah bangun. Ketika ayam jantan berkokok untuk yang terakhir kalinya, dengan tergesa-gesa Mahisa Agni menemui beberapa orang kawan-kawannya, ia minta ijin untuk dua hari meninggalkan Panawijen.
“Kau akan pergi kemana Agni?” bertanya salah seorang kawannya.
“Aku harus pergi ke Tumapel,“ jawab Agni.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa. Aku mempunyai keperluan keluarga yang cukup penting.”
“Tetapi kau akan segera kembali?”
“Tentu. Hanya dua hari satu malam.”
Kawan-kawannya tidak dapat mencegahnya. Dan pagi itu pula Mahisa Agni pergi ke Tumapel bersama ibunya dan kedua orang prajurit pengantarnya. Alangkah pepat hati Mahisa Agni di sepanjang jalan. Ketika terik matahari menyengat tubuhnya, terasa betapa panasnya. Tetapi panas matahari itu masih belum sepanas hati di dadanya.
Ibunya yang dapat mengerti sepenuhnya, betapa pedihnya hati anak laki-lakinya itu, hampir tidak berkata sepatah kata pun di sepanjang perjalanan. Kedua prajurit itu pun hampir berdiam diri pula. Hanya sekali-sekali ibu Mahisa Agni itu menawarkan minum atau makanan yang mereka bawa sebagai bekal di perjalanan. Namun setiap kali Mahisa Agni hanya menggelengkan kepalanya sambil menjawab,
“Terima kasih bibi.”
Tetapi berbeda dengan kedua prajurit yang mengantarkan itu. Dengan serta merta mereka memungut jenang alot yang disodorkan kepada mereka. Dua tiga potong sekaligus.
“Alangkah enaknya,“ gumam mereka.
“Jenang itu dibuat oleh para endang di padepokan,“ berkata emban tua itu.
“Kami tidak melihat para endang itu bibi,“ berkata salah seorang dari kedua prajurit itu.
“Mereka bersembunyi di belakang. Mereka malu menampakkan dirinya dihadapan para prajurit-prajurit muda yang tampan seperti kalian.”
Kedua prajurit itu tertawa. Namun mulut mereka masih saja bergerak-gerak mengunyah jenang alot dari Panawijen. Emban tua itu tersenyum pula, meskipun hanya bibirnya bukan hatinya. Sebab ketika ia memandang wajah Mahisa Agni dengan sudut matanya, dilihatnya wajah anak muda itu masih juga tegang. Sendau gurau itu sama sekali tidak dapat mempengaruhi kepahitan perasaannya. Karena itu emban tua itu tidak bergurau lagi. Kini bahkan ia ikut merasakan sedalamnya betapa risaunya hati anaknya.
Perjalanan itu terasa terlampau lambat bagi Mahisa Agni. Kalau ia pergi seorang diri, maka jarak yang telah ditempuhnya akan berlipat tiga empat kali dari jarak yang dilampauinya kini. Tetapi ia tidak dapat memacu kudanya. Ibunya bukanlah seorang penunggang kuda yang baik. Meskipun perjalanan itu terasa terlampau lambat, namun setapak demi setapak mereka maju juga. Tumapel menjadi semakin lama semakin dekat.
Dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar ketika kuda-kuda itu mulai menginjakkan kaki-kakinya di atas jalan-jalan kota. Gemeretakan kakinya di atas batu terasa seperti gemeretak jantung di dalam dada Mahisa Agni menghentak-hentak tiada hentinya. Betapa ramainya jalan-jalan kota itu, namun terasa di hati Mahisa Agni, alangkah sunyi hidupnya. Sekali-sekali ia berpaling ke arah perempuan tua yang duduk di atas punggung kuda berpegangan erat pada kendali. Sekali-sekali ia mencoba untuk memandangi rumah-rumah yang berserakan di pinggir jalan. Namun semuanya hampir tak menyentuh perasaannya yang kosong.
Ketika Mahisa Agni menengadahkan wajahnya, dilihatnya langit sudah menjadi suram. Matahari telah terlampau rendah untuk dapat menyentuh ujung pepohonan dengan sinarnya, meskipun tepi-tepi mega di langit masih juga diwarnai oleh cahayanya yang kemerah-merahan.
Dada Mahisa Agni berdentang semakin keras ketika di hadapannya kemudian terbentang tanah lapang yang luas. Alun-alun Tumapel. Di sisi Alun-alun itulah berdiri dengan megahnya istana Tumapel. Istana Tunggul Ametung. Dan di dalam istana itulah ia harus menjumpai Ken Dedes. Debar hati Mahisa Agni hampir tak dapat dikuasainya ketika mereka berhenti di samping regol alun-alun. Satu-satu mereka berloncatan turun untuk kemudian menuntun kuda mereka, memasuki regol halaman belakang istana Tumapel.
Seorang penjaga segera menyapa mereka, tetapi ketika mereka melihat kedua orang kawannya, maka mereka berempat pun segera dipersilahkan masuk. Mereka kemudian berhenti di regol dalam, halaman belakang istana. Prajurit itu pun kemudian berkata kepada Mahisa Agni,
“Tuan tunggu disini. Kami, beserta bibi emban, akan masuk untuk berusaha menghadap Akuwu, mohon ijin untuk tuan, sebelum tuan menemui Tuan puteri.”
Wajah Mahisa Agni segera menjadi merah. Tiba-tiba ia menyahut dengan tegangnya, “Aku datang bukan atas kehendakku sendiri. Kenapa aku harus menunggu ijin untuk itu?”
Kedua prajurit itu terkejut mendengar kata-kata itu sehingga mereka menjadi saling berpandangan. Namun emban tua itulah yang kemudian menjawab,
“Adalah menjadi adat disini, Agni. Adat istana, bahwa setiap orang pasti mendapat ijin dahulu untuk bertemu dengan keluarga Akuwu.”
“Aku tidak hendak bertemu dengan keluarga Akuwu. Tetapi Ken Dedes lah yang memanggil aku untuk menemuinya.”
“Ya. Demikianlah,“ sahut emban tua itu, “maksudku, untuk menemui orang-orang yang dianggap penting, kita memerlukan ijin lebih dahulu sesuai dengan tingkat orang yang ingin kita temui. Kadang-kadang ijin para penjaga sudah cukup kuat bagi kita, apabila kita ingin menemui keluarga kita yang tinggal di dalam istana apabila keluarga kita itu seorang pelayan atau seorang juru masak. Tetapi kita memerlukan ijin seorang pimpinan peronda dari pengawal istana apabila kita ingin menemui seorang pejabat kepujanggaan atau yang setingkat dengan itu. Kini meskipun atas panggilannya, namun kau ingin menemui seorang bakal permaisuri Akuwu, sehingga kau memerlukan ijin dari orang yang paling berkuasa di dalam istana ini. Orang itu adalah Akuwu Tunggul Ametung.”
“Bagaimana kalau aku tidak diijinkan masuk? Apakah dengan demikian aku masih tetap seorang yang tidak tahu perasaan perempuan? Apakah aku masih orang yang tidak mempunyai belas kasihan dan masih seorang yang dibakar oleh nafsunya sendiri?”
“Tidak, tidak Agni,“ jawab ibunya tergesa-gesa, “jangan berpikir terlampau jauh. Ijin bagimu seakan hanyalah suatu sikap resmi dari Akuwu, supaya kau tidak melanggar adat dan tata cara utama. Kedatanganmu sebenarnya memang sudah lama ditunggu.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Terasa sesuatu menekan perasaannya. Ia datang bukan atas kehendaknya, bahkan ia datang dengan perasaan yang sangat berat. Kini ia masih harus menunggu diluar regol dalam untuk menunggu ijin baginya. Alangkah kecil dirinya. Seolah-olah ia tidak lebih dari segumpal tanah liat yang tidak dapat menolak untuk dibentuk menjadi apapun juga. Ia harus datang, kemudian dengan rendah hati ia harus menunggu ijin masuk. Ia baru dapat masuk kalau ijin itu telah diberikan kepadanya dari orang yang turut berkepentingan atas kehadirannya.
“Mungkin Akuwu akan mempunyai banyak syarat untuk mengijinkan aku masuk,“ katanya di dalam hati, “mungkin aku harus melepaskan beberapa kepentingan rakyat Panawijen, atau mungkin banyak hal-hal yang tidak dapat aku penuhi,“ Mahisa Agni menggeretakkan giginya, kemudian suara di hatinya itu berkata lagi, “Kalau demikian, kalau banyak kesulitan yang aku hadapi, lebih baik aku kembali ke Panawijen.”
Mahisa Agni itu terkejut ketika ibunya, emban tua itu berkata, “Nah, Agni. Tunggulah disini. Jangan terlalu dipengaruhi oleh berbagai prasangka. Aku akan segera kembali.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya sambil menjawab singkat, “Silahkan. Aku akan menunggu. Tetapi tidak terlalu lama. Kalau aku nanti menjadi jemu menunggu, maka aku akan kembali ke Panawijen.”
Ibu Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak membantahnya, namun ia berkata, “Aku akan berusaha secepatnya kembali.”
Kemudian bersama kedua prajurit itu Ibu Mahisa Agni berjalan memasuki halaman, langsung ke serambi belakang. Meskipun tidak terucapkan, namun kedua orang prajurit kawan seperjalanan ibu Mahisa Agni itu, menjadi heran melihat sikap Mahisa Agni. Bagaimanakah sebenarnya yang terjadi atasnya? Tetapi kedua prajurit itu saling berdiam diri.
Di depan regol Mahisa Agni menunggu kedua orang prajurit beserta ibunya dengan gelisah. Sekali ia berdiri dan berjalan mondar mandir, namun kemudian ia menghenyakkan dirinya, duduk dialas batu kerikil yang berserak-serak di halaman. Ia berusaha untuk menenangkan hatinya. Namun justru semakin lama ia menunggu, maka debar jantungnya seakan-akan menjadi semakin cepat. Berkali-kali ia berdiri, dan mencoba melihat ke arah ibunya menghilang. Namun emban tua itu masih belum juga menampakkan dirinya. Bahkan semakin lama malam menjadi semakin gelap, sehingga karena itulah maka Mahisa Agni menjadi semakin gelisah karenanya.
“Terlalu,“ gumamnya kepada diri sendiri, “aku seakan-akan dijadikan barang mainan yang menyenangkan. Dipanggilnya aku ke Tumapel, kemudian dibiarkan aku disini menjadi makanan nyamuk. Hem.”
Di sana-sini Mahisa Agni kemudian melihat beberapa lampu telah dinyalakan. Di pinggir-pinggir halaman dan di regol. Sehingga karena itulah maka Mahisa Agni itu seakan-akan menjadi tidak dapat bersabar lagi. Tenaganya akan lebih bermanfaat apabila ia berada di Panawijen, membantu membuat tambang-tambang ijuk dan patok-patok bambu yang akan sangat berguna bagi bendungannya, daripada duduk sambil menggaruk-garuk punggungnya di depan regol istana Tumapel. Tiba-tiba kejemuan Mahisa Agni memuncak. Dengan serta merta ia meloncat berdiri dan berdesis,
“Lebih baik aku kembali ke Panawijen.”
Namun sebelum Mahisa Agni melangkah meninggalkan regol itu, tiba-tiba ia tertegun. Dilihatnya dua orang prajurit datang kepadanya.
“Hem,“ geram Mahisa Agni, “baru sekarang mereka datang sesudah membiarkan aku duduk disini hampir satu senja.”
Tetapi Mahisa Agni itu menjadi sangat kecewa. Ternyata bayangan dua orang prajurit yang mendekat itu, setelah menjadi semakin dekat, sama sekali bukan kedua prajurit kawan ibunya. Sehingga dengan demikian kejemuan Mahisa Agni kembali merayapi kepalanya. Ternyata kedua prajurit itu pun terkejut pula melihat Mahisa Agni berdiri di samping regol. Salah seorang daripadanya segera bertanya,
“Siapa kau?”
Mahisa Agni memandangi keduanya dengan saksama. “Hem,“ geramnya di dalam hati. Namun ia menjawab sambil mengangguk hormat, “Aku Mahisa Agni dari Panawijen.”
Kedua prajurit itu berhenti beberapa langkah dari Mahisa Agni. Dicobanya untuk mengenalnya di dalam keremangan malam.
“Nyalakan lampu itu,“ berkata salah seorang dari padanya.
Yang lain pun kemudian melangkah mendekati lampu yang tersangkut di regol. Agaknya mereka memang sedang bertugas menyalakan lampu-lampu. Dengan batu titikan dan dimik belerang, maka prajurit itu membuat api. Ketika lampu itu telah menyala, maka cahayanya yang kemerah-merahan langsung memancar dan jatuh di atas wajah-wajah ketiga laki-laki yang berdiri di depan regol itu.
“Hem,“ geram salah seorang dari kedua prajurit itu, “aku belum pernah mengenalmu.”
Mahisa Agni yang sedang dibakar oleh kejengkelannya terhadap kedua prajurit dan ibunya, menjawab, “Aku juga belum mengenalmu.”
Kedua prajurit itu saling berpandangan. Jawaban itu memang aneh bagi mereka, sehingga kemudian salah seorang dari kedua prajurit itu berkata, “Kenapa kau berada disini?”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Pertanyaan itu memang sudah diduganya. Maka jawabnya, “Aku menunggu disini, menunggu ijin untuk menemui Ken Dedes.”
“Ken Dedes, siapa?”
“Ken Dedes yang menurut pendengaranku akan di angkat menjadi Permaisuri Tunggul Ametung.”
“Tuanku Akuwu Tunggul Ametung maksudmu?”
“Ya. Akuwu Tunggul Ametung.”
Kembali kedua prajurit itu saling berpandangan. Mereka memang pernah mendengar dari para pemimpin mereka bahwa Akuwu akan mengambil seorang permaisuri. Dan permaisuri itu kini telah berada di dalam istana. Bahkan banyaklah yang mereka dengar desas-desus tentang puteri bakal permaisuri itu. Namun demikian, mereka tidak dapat mengerti bahwa seorang yang akan menemuinya datang seorang diri dan berdiri saja di muka regol halaman dalam. Kenapa ia menunggu di tempat itu?. Karena itu maka kedua prajurit itu pun bertanya pula.
“Apakah keperluanmu bertemu dengan puteri.”
“Aku tidak tahu. Bukan aku yang berkepentingan, tetapi Ken Dedes.”
Jawaban Mahisa Agni itu pun terdengar terlampau aneh bagi kedua prajurit itu. Apalagi Mahisa Agni yang sedang berhati pepat itu, tampaknya menjawab pertanyaan mereka dengan jawaban-jawaban yang tidak mereka mengerti, bahkan hampir seperti acuh tak acuh saja.
“Apakah kau salah seorang dari keluarganya?”
Mahisa Agni menjadi semakin jengkel mendengar pertanyaan-pertanyaan itu. Ia datang karena Ken Dedes memerlukannya. Kini ia terpaksa menunggu dan mendapat pertanyaan-pertanyaan yang sama sekali tak menyenangkannya. Dalam keadaan itu, Mahisa Agni benar-benar kehilangan kesabarannya. Ia dapat berlapang dada menghadapi lawan dalam perkelahian, namun menghadapi keadaan ini, dimana hatinya sendiri seakan-akan tersayat-sayat, maka sikapnya pun menjadi jauh berbeda dengan sikapnya sehari-hari.
“Apakah kau keluarganya?“ terdengar prajurit itu mendesak.
Mahisa Agni mengangguk, jawabnya, “Ya.”
“Apakah hubungan keluarga itu? Paman, kakak atau apa?”
“Kakak. Aku adalah kakaknya,” sahut Mahisa Agni.
Kedua prajurit itu mengerutkan keningnya. Mungkin anak ini memang kakaknya, sebab menurut pendengarannya Ken Dedes itu pun datang dari Panawijen. Tetapi mungkin juga bukan. Mungkin orang yang mengaku kakak calon permaisuri ini, sekedar orang yang ingin mendapat keuntungan saja dari padanya. Maka kembali terdengar pertanyaan prajurit itu,
“Apakah kau kakak kandungnya?”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia ragu-ragu untuk menjawab. Kalau pertanyaan itu diiakan, maka jangan-jangan Ken Dedes telah mengatakan, bahwa ia adalah anak tunggal Empu Purwa. Tetapi Mahisa Agni yang sedang dirisaukan oleh berbagai persoalan itu tidak mau berpening-pening kepala memikirkannya, maka jawabnya,
“Bukan, aku bukan kakak kandungnya. Aku adalah kakak angkatnya.”
Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi di dalam kepala mereka, merayaplah kecurigaan atas anak muda yang mengaku kakak bakal Permaisuri itu. Karena itu, maka salah seorang dari mereka berkata,
“Sebaiknya kau tidak menunggu disini. Mari, ikutlah kami ke gardu regol pertama.”
Mahisa Agni menjadi makin tidak senang. Katanya, “Aku telah melewati regol pertama itu.”
“Kenapa kau dapat masuk sebelum kau mendapatkan ijin? Kenapa baru disini kau menunggu ijin itu?”
“Aku tidak tahu. Aku datang berempat, dua orang prajurit, seorang emban tua dan aku.”
“Siapakah nama prajurit-prajurit itu?”
Kembali Mahisa Agni tidak dapat menjawab. Kemarin ia mendengar juga nama itu di sebut-sebut oleh sesama mereka. Tetapi sejak pertama, Agni sudah diliputi oleh kegelapan pikiran, maka ia sama sekali tak memperhatikan nama kedua prajurit itu.
“Siapa?” desak mereka.
Mahisa Agni menggeleng, “Aku tak tahu nama-nama mereka.”
“Hem,“ prajurit itu menarik nafas. Kemudian mereka berkata pula. “Marilah ikut aku ke gardu pertama.”
“Aku sudah melampauinya. Kuda-kuda kami berada di dalam regol di samping gardu itu.”
“Ikut kami,“ berkata prajurit itu pula, “nanti kami akan menyelesaikan ijin itu.”
“Bukan salahku aku berada disini. Kedua prajurit yang membawa aku seharusnya tahu, bahwa aku harus menunggu di regol pertama, tetapi kenapa mereka membawa aku kemari?”
Kedua prajurit itu menjadi ragu-ragu. Meskipun mereka bercuriga namun jawaban Mahisa Agni yang jujur itu hampir meyakinkan mereka. Namun kedua prajurit itu menjadi kurang senang atas sikap yang seolah-olah acuh tak acuh. Sebab mereka sama sekali tidak tahu, bahwa perasaan Mahisa Agni benar-benar dirisaukan oleh keadaan dirinya sendiri. Tetapi kedua prajurit yang sedang bertugas itu tidak dapat berbuat dalam kebimbangan. Bagi mereka lebih baik ditempuh jalan yang paling dapat dipertanggung jawabkan. Karena itu maka berkata salah seorang dari mereka,
“Aku terpaksa membawamu ke gardu pertama Ki Sanak. Aku sama sekali tidak berkeberatan atas kehadiranmu. Tetapi sebaiknya kau tidak membuat kami ragu-ragu.”
Barulah kini Mahisa Agni menyadari, bahwa ia berhadapan dengan dua orang yang sedang bertugas. Ia tidak dapat menyalahkan mereka, sebab apa yang dapat dikatakannya tentang dirinya sama sekali kurang meyakinkan kedua prajurit yang sedang bertugas itu. Apabila kemudian kejengkelan Mahisa Agni itu memuncak, maka kejengkelannya itu ditujukannya kepada kedua prajurit kawan seperjalanan ibunya. Seharusnya mereka tahu apa yang harus dilakukannya. Namun Mahisa Agni yang sedang sibuk dengan perasaannya sendiri itu tidak mau membuat persoalan-persoalan baru. Baginya lebih baik menghindarkan diri dari segala persoalan yang dapat menambah kesulitan-kesulitannya. Karena itulah maka kemudian Mahisa Agni berkata,
“Baik. Aku akan ikut dengan kalian. Tetapi aku tidak akan menunggu di gardu pertama. Aku sudah terlalu lama menunggu disini.”
“Lalu apa yang akan kau lakukan?”
“Lebih baik bagiku kembali ke Panawijen.”
“Bukan maksud kami mengusir kau Ki Sanak. Tetapi kami ingin meyakinkan diri kami sendiri, bahwa kau benar-benar berhak untuk masuk ke istana.”
“Terima kasih,“ jawab Agni, bahkan kemudian di tambahkannya, “aku terpaksa kembali ke Panawijen. Tolong sampaikan nanti kepada kedua prajurit dan emban tua yang datang bersama mereka itu, bahwa aku tidak sabar menunggu.”
Kedua prajurit itu saling berpandangan. Kemudian berkata salah seorang dari mereka, “Marilah ke gardu pertama.”
Mahisa Agni tidak menjawab. Ia berjalan saja di samping kedua prajurit yang sedang bertugas itu.
“Sejak semula aku tidak mencampuri urusannya dengan Akuwu itu. Akuwu yang telah melarikannya, melindungi Kuda Sempana, merampas anak orang. Aku telah mencoba mempertahankannya, bahkan nyawaku hampir diambilnya. Kini, peristiwa itu sudah dilupakan. Kini mereka menemukan jalan sendiri yang akan membahagiakan, sedang luka di punggungku masih berbekas. Bahkan ayahnya sendiri, Empu Purwa telah mengutuknya. Betapa kecewa hati orang tua itu? Betapa? Betapa kecewa pula hatiku? Orang memandang setiap persoalan dari kepentingan sendiri.”
“Agni?“ potong ibunya.
Tetapi Mahisa Agni masih berkata terus, “Apa yang aku peroleh dari setiap usahaku mempertahankannya dari Kuda Sempana? Apakah yang aku lakukan tidak senilai apa yang dilakukan oleh Akuwu itu. Justru Akuwu yang melindungi perbuatan hina itu pula?”
“Agni, Apakah kau sedang menimbang jasa? He?“
Kini suara Agni benar-benar terpotong. Dan ibunya berkata terus, “Jadi kau ingin mendapatkan imbalan dari jasamu itu? Agni. Aku adalah seorang tua. Aku tahu apa yang tersimpan di dadamu. Ternyata kau sama sekali tidak ikhlas melepaskan Ken Dedes. Nah, katakanlah kepadaku Agni. Apakah kau masih menghendakinya. Apakah kau masih menyimpan keinginan dalam dadamu, bahwa suatu ketika kau sendiri akan mengawininya. Kalau benar-benar demikian, aku, ibumu akan sanggup memenuhi keinginan itu. Aku berkewajiban Agni. Kalau demikian, besok aku akan kembali ke Tumapel. Aku akan membunuh Tunggul Ametung. Kau tidak percaya? Aku yakin bahwa aku akan dapat melakukannya. Aku dapat meracuninya. Kalau Akuwu itu sudah terbunuh, kemana larinya gadis itu? Ia akan kembali ke padepokan ini, meskipun aku akan digantung karena pembunuhan itu. Nah, setelah ia berada di padepokan ini seorang diri, kau dapat berbuat apa saja atasnya. Kau dapat berbuat apa saja sekehendak hatimu. Tanpa memikirkan perasaan gadis itu. Tanpa menimbang apakah itu dapat membahagiakannya atau menghancurkannya.”
“Cukup. Cukup,” suara Agni menggelepar menggetarkan udara malam yang sepi.
Beberapa orang cantrik dan emban mendengar suara itu. Namun mereka tidak berani berbuat sesuatu. Mereka tidak tahu apa yang terjadi. Bahkan mereka menyangka bahwa Agni sedang marah kepada pembantu-pembantunya yang sedang menyiapkan bendungan.
Suara ibunya terputus karenanya. Sesaat malam dicengkam oleh kesepian yang menggelisahkan. Sepi, namun dada Mahisa Agni sedang dibelit oleh kegelisahan yang dahsyat. Yang terdengar kemudian adalah suara angin yang berdesir menyentuh dedaunan. Kelopak dan mahkota-mahkota bunga bergerak-gerak seperti sedang menggelengkan kepalanya melihat betapa Mahisa Agni menahan gelora di dadanya. Dengan serta merta anak muda itu berdiri. Tatapan matanya masih menyangkut dikejauhan, menembus gelapnya malam.
“Agni,“ bisik ibunya.
Tetapi Mahisa Agni tidak berpaling. Tetapi ia menjawab, “Ibu telah mengorek luka di hatiku.”
“Jadi apakah maksudmu sebenarnya?”
“Aku sudah tidak mempunyai sangkut paut lagi dengan Ken Dedes. Aku kini sedang sibuk dengan kewajibanku sendiri. Menyelesaikan bendungan itu atas perintah Empu Purwa untuk mengganti bendungan yang pecah. Aku tidak ada waktu untuk mengurusinya. Bagiku, rakyat Panawijen jauh lebih penting daripada Ken Dedes itu seorang diri.”
“Jangan mengada-ada Agni. Bendungan itu adalah pekerjaan yang memerlukan waktu. Sedang Ken Dedes hanya memerlukan kau tidak lebih dari sehari saja. Pagi-pagi kau dapat berangkat berkuda ke Tumapel untuk menemuinya, maka dimalam harinya kau sudah berada di Panawijen kembali.”
“Tak ada waktu.”
“Jangan menunggu Akuwu marah. Akuwu masih dapat menahan dirinya ketika ia mendengar bahwa utusan Ken Dedes kau tolak, karena Ken Dedes masih akan berusaha memanggilmu. Dan aku telah menyanggupkan diriku, karena aku adalah ibumu. Aku menyangka bahwa betapapun kecilnya, aku masih mempunyai pengaruh atas anakku. Tetapi ternyata aku keliru. Aku sama sekali sudah tidak memiliki apapun lagi. Dan itu adalah salahku, karena aku memisahkan kau sejak kanak-kanak. Adalah wajar kalau kau sekarang merasa, bahwa ibumu tidak berarti lagi bagimu.”
Kembali terasa dada Mahisa Agni itu bergelora. Betapa sakitnya ia mendengar kata-kata ibunya. Betapa pedihnya. Hampir-hampir ia berteriak untuk melepaskan perasaan yang menghimpit jantungnya. Tetapi Mahisa Agni itu terkejut ketika ia mendengar suara isak di belakangnya. Ketika ia berpaling, dilihatnya ibunya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dengan ujung kainnya, orang tua itu menyeka matanya yang basah.
Dada Mahisa Agni berdesir. Tanpa dikehendakinya sendiri, tiba-tiba ia terkenang kepada seorang perempuan tua yang menangisi anaknya yang hampir mati dibunuhnya. Perempuan tua itu adalah ibu Pasik. Meskipun perempuan itu pernah mengalami perlakuan yang kasar dari anaknya, namun ketika anaknya terluka, maka anak itu ditangisinya.
“Alangkah jauh bedanya. Kasih seorang ibu dibandingkan dengan kasih seorang anak,“ katanya di dalam hati. Dan kini ia melihat ibunya itu menangis. Menangis karena sikapnya yang kasar. Menangis karena ia menolak nasehatnya.
Sesaat Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Dikenangnya kembali apa saja yang diucapkan oleh ibunya. Dikatakannya bahwa ia tidak dapat mengerti perasaan seorang perempuan.
“Hem,“ Mahisa Agni berdesah di dalam hati, “kenapa hanya laki-laki saja yang harus mengerti perasaan perempuan. Kenapa tidak sebaliknya pula? Aku harus mencoba mengerti betapa hati Ken Dedes akan menjadi pedih apabila aku tidak memenuhi permintaannya. Tetapi kenapa Ken Dedes tidak mau mengerti, betapa hatiku lebih-lebih akan menjadi parah. Kalau aku datang lagi kepadanya.”
Tetapi ketika sekali lagi ia memandangi wajah ibunya yang tunduk, maka hatinya menjadi luluh. Tiba-tiba Mahisa Agni itu pun kembali menghenyakkan dirinya di samping ibunya. Dengan suara yang terpatah-patah ia berkata,
“Jangan menangis ibu.”
Ibunya menggelengkan kepalanya, “Tidak Agni. Aku mencoba untuk tidak menangis. Aku akan mencoba mengerti apa yang baru saja terjadi. Aku tidak menyalahkanmu.”
Sekali lagi dada Mahisa Agni berdesir. Kini ia tidak dapat lagi melawan perasaan seorang anak yang ingin mencoba berbakti kepada ibunya. Karena itu katanya, “Ibu, aku akan memenuhi permintaan ibu.”
Ibunya terkejut mendengar kata-kata itu. Tiba-tiba ia menengadahkan kepalanya sambil bertanya, “Bagaimana?”
“Aku akan pergi ke Tumapel, semata-mata karena permintaan ibu.”
“Agni. Jadi kau bersedia?” Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. “Oh,“ ibunya berdesah. Sekali lagi ia menundukkan dan terdengar ia berguman, “Aku tahu betapa hatimu seperti tergores sembilu. Namun Agni, pengorbanan akan bermanfaat bagi gadis yang malang itu.”
Mahisa Agni tidak menjawab. Kembali untuk sesaat keduanya saling berdiam diri. Kembali terdengar di telinga mereka suara angin yang berdesir menyentuh dedaunan. Baru sejenak kemudian terdengar ibu Mahisa Agni itu berkata,
“Agni, di pendapa ada tamu. Prajurit-prajurit dari Tumapel yang mengantarkan aku. Apakah kau akan menemui mereka?”
Keduanya pun kemudian melangkah ke Pendapa untuk menemui pengantar emban tua itu. Ketika Mahisa Agni telah sampai di pendapa dan bercakap-cakap dengan kedua prajurit itu, maka emban tua itu segera pergi kebelakang. Alangkah terperanjatnya para endang dan cantrik melihat kehadirannya. Beberapa endang memeluknya sambil menangis, dan yang lain lagi bertanya tidak ada henti-hentinya.
“Sekarang,“ berkata emban tua itu, “di pendapa ada tamu. Apakah kalian masih bersedia merebus air dan menanak nasi?”
“Tentu. Tentu,“ sahut para endang.
Dan segera mereka pun menyalakan api di dapur. Merebus air dan menanak nasi. Sementara itu, para endang dan cantrik masih saja sibuk dengan berbagai pertanyaan. Mereka ingin mendengar ceritera tentang Ken Dedes. Namun sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, ibu Mahisa Agni itu selalu saja dibayangi oleh perasaan sendiri,
“Alangkah kejamnya aku sebagai seorang ibu terhadap anak laki-lakiku. Aku telah menyiksa perasaannya dan aku telah menyakiti hatinya.”
Tetapi ibu Mahisa Agni itu pun tidak sampai hati melihat Ken Dedes merasa hidupnya menjadi terlampau pedih. Orang tua itu merasa sangat kasihan kepada Ken Dedes, yang telah kehilangan laki-laki tempat ia menggantungkan kasihnya, kemudian ayahnya telah meninggalkannya pula. Malam itu, emban tua pemomong Ken Dedes beserta dua orang prajurit pengantarnya bermalam di padepokan. Kedua prajurit itu merasa sangat heran, kenapa tiba-tiba saja Mahisa Agni bersedia pergi ke Tumapel. Prajurit itu telah mendengar ceritera kawan-kawannya, bahkan Kebo Ijo telah menyebarkan berita, bahwa Mahisa Agni sedang bermanja-manja, menolak permintaan Ken Dedes untuk menemuinya.
Tetapi kedua prajurit itu tidak mau berpening kepala memikirkan persoalan yang tak diketahuinya. Mereka hanya menyimpan keheranannya itu di dalam hatinya. Kemudian karena lelah mereka segera jatuh tertidur setelah mendapat jamuan makan dan minum. Pagi-pagi benar Mahisa Agni telah bangun. Ketika ayam jantan berkokok untuk yang terakhir kalinya, dengan tergesa-gesa Mahisa Agni menemui beberapa orang kawan-kawannya, ia minta ijin untuk dua hari meninggalkan Panawijen.
“Kau akan pergi kemana Agni?” bertanya salah seorang kawannya.
“Aku harus pergi ke Tumapel,“ jawab Agni.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa. Aku mempunyai keperluan keluarga yang cukup penting.”
“Tetapi kau akan segera kembali?”
“Tentu. Hanya dua hari satu malam.”
Kawan-kawannya tidak dapat mencegahnya. Dan pagi itu pula Mahisa Agni pergi ke Tumapel bersama ibunya dan kedua orang prajurit pengantarnya. Alangkah pepat hati Mahisa Agni di sepanjang jalan. Ketika terik matahari menyengat tubuhnya, terasa betapa panasnya. Tetapi panas matahari itu masih belum sepanas hati di dadanya.
Ibunya yang dapat mengerti sepenuhnya, betapa pedihnya hati anak laki-lakinya itu, hampir tidak berkata sepatah kata pun di sepanjang perjalanan. Kedua prajurit itu pun hampir berdiam diri pula. Hanya sekali-sekali ibu Mahisa Agni itu menawarkan minum atau makanan yang mereka bawa sebagai bekal di perjalanan. Namun setiap kali Mahisa Agni hanya menggelengkan kepalanya sambil menjawab,
“Terima kasih bibi.”
Tetapi berbeda dengan kedua prajurit yang mengantarkan itu. Dengan serta merta mereka memungut jenang alot yang disodorkan kepada mereka. Dua tiga potong sekaligus.
“Alangkah enaknya,“ gumam mereka.
“Jenang itu dibuat oleh para endang di padepokan,“ berkata emban tua itu.
“Kami tidak melihat para endang itu bibi,“ berkata salah seorang dari kedua prajurit itu.
“Mereka bersembunyi di belakang. Mereka malu menampakkan dirinya dihadapan para prajurit-prajurit muda yang tampan seperti kalian.”
Kedua prajurit itu tertawa. Namun mulut mereka masih saja bergerak-gerak mengunyah jenang alot dari Panawijen. Emban tua itu tersenyum pula, meskipun hanya bibirnya bukan hatinya. Sebab ketika ia memandang wajah Mahisa Agni dengan sudut matanya, dilihatnya wajah anak muda itu masih juga tegang. Sendau gurau itu sama sekali tidak dapat mempengaruhi kepahitan perasaannya. Karena itu emban tua itu tidak bergurau lagi. Kini bahkan ia ikut merasakan sedalamnya betapa risaunya hati anaknya.
Perjalanan itu terasa terlampau lambat bagi Mahisa Agni. Kalau ia pergi seorang diri, maka jarak yang telah ditempuhnya akan berlipat tiga empat kali dari jarak yang dilampauinya kini. Tetapi ia tidak dapat memacu kudanya. Ibunya bukanlah seorang penunggang kuda yang baik. Meskipun perjalanan itu terasa terlampau lambat, namun setapak demi setapak mereka maju juga. Tumapel menjadi semakin lama semakin dekat.
Dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar ketika kuda-kuda itu mulai menginjakkan kaki-kakinya di atas jalan-jalan kota. Gemeretakan kakinya di atas batu terasa seperti gemeretak jantung di dalam dada Mahisa Agni menghentak-hentak tiada hentinya. Betapa ramainya jalan-jalan kota itu, namun terasa di hati Mahisa Agni, alangkah sunyi hidupnya. Sekali-sekali ia berpaling ke arah perempuan tua yang duduk di atas punggung kuda berpegangan erat pada kendali. Sekali-sekali ia mencoba untuk memandangi rumah-rumah yang berserakan di pinggir jalan. Namun semuanya hampir tak menyentuh perasaannya yang kosong.
Ketika Mahisa Agni menengadahkan wajahnya, dilihatnya langit sudah menjadi suram. Matahari telah terlampau rendah untuk dapat menyentuh ujung pepohonan dengan sinarnya, meskipun tepi-tepi mega di langit masih juga diwarnai oleh cahayanya yang kemerah-merahan.
Dada Mahisa Agni berdentang semakin keras ketika di hadapannya kemudian terbentang tanah lapang yang luas. Alun-alun Tumapel. Di sisi Alun-alun itulah berdiri dengan megahnya istana Tumapel. Istana Tunggul Ametung. Dan di dalam istana itulah ia harus menjumpai Ken Dedes. Debar hati Mahisa Agni hampir tak dapat dikuasainya ketika mereka berhenti di samping regol alun-alun. Satu-satu mereka berloncatan turun untuk kemudian menuntun kuda mereka, memasuki regol halaman belakang istana Tumapel.
Seorang penjaga segera menyapa mereka, tetapi ketika mereka melihat kedua orang kawannya, maka mereka berempat pun segera dipersilahkan masuk. Mereka kemudian berhenti di regol dalam, halaman belakang istana. Prajurit itu pun kemudian berkata kepada Mahisa Agni,
“Tuan tunggu disini. Kami, beserta bibi emban, akan masuk untuk berusaha menghadap Akuwu, mohon ijin untuk tuan, sebelum tuan menemui Tuan puteri.”
Wajah Mahisa Agni segera menjadi merah. Tiba-tiba ia menyahut dengan tegangnya, “Aku datang bukan atas kehendakku sendiri. Kenapa aku harus menunggu ijin untuk itu?”
Kedua prajurit itu terkejut mendengar kata-kata itu sehingga mereka menjadi saling berpandangan. Namun emban tua itulah yang kemudian menjawab,
“Adalah menjadi adat disini, Agni. Adat istana, bahwa setiap orang pasti mendapat ijin dahulu untuk bertemu dengan keluarga Akuwu.”
“Aku tidak hendak bertemu dengan keluarga Akuwu. Tetapi Ken Dedes lah yang memanggil aku untuk menemuinya.”
“Ya. Demikianlah,“ sahut emban tua itu, “maksudku, untuk menemui orang-orang yang dianggap penting, kita memerlukan ijin lebih dahulu sesuai dengan tingkat orang yang ingin kita temui. Kadang-kadang ijin para penjaga sudah cukup kuat bagi kita, apabila kita ingin menemui keluarga kita yang tinggal di dalam istana apabila keluarga kita itu seorang pelayan atau seorang juru masak. Tetapi kita memerlukan ijin seorang pimpinan peronda dari pengawal istana apabila kita ingin menemui seorang pejabat kepujanggaan atau yang setingkat dengan itu. Kini meskipun atas panggilannya, namun kau ingin menemui seorang bakal permaisuri Akuwu, sehingga kau memerlukan ijin dari orang yang paling berkuasa di dalam istana ini. Orang itu adalah Akuwu Tunggul Ametung.”
“Bagaimana kalau aku tidak diijinkan masuk? Apakah dengan demikian aku masih tetap seorang yang tidak tahu perasaan perempuan? Apakah aku masih orang yang tidak mempunyai belas kasihan dan masih seorang yang dibakar oleh nafsunya sendiri?”
“Tidak, tidak Agni,“ jawab ibunya tergesa-gesa, “jangan berpikir terlampau jauh. Ijin bagimu seakan hanyalah suatu sikap resmi dari Akuwu, supaya kau tidak melanggar adat dan tata cara utama. Kedatanganmu sebenarnya memang sudah lama ditunggu.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Terasa sesuatu menekan perasaannya. Ia datang bukan atas kehendaknya, bahkan ia datang dengan perasaan yang sangat berat. Kini ia masih harus menunggu diluar regol dalam untuk menunggu ijin baginya. Alangkah kecil dirinya. Seolah-olah ia tidak lebih dari segumpal tanah liat yang tidak dapat menolak untuk dibentuk menjadi apapun juga. Ia harus datang, kemudian dengan rendah hati ia harus menunggu ijin masuk. Ia baru dapat masuk kalau ijin itu telah diberikan kepadanya dari orang yang turut berkepentingan atas kehadirannya.
“Mungkin Akuwu akan mempunyai banyak syarat untuk mengijinkan aku masuk,“ katanya di dalam hati, “mungkin aku harus melepaskan beberapa kepentingan rakyat Panawijen, atau mungkin banyak hal-hal yang tidak dapat aku penuhi,“ Mahisa Agni menggeretakkan giginya, kemudian suara di hatinya itu berkata lagi, “Kalau demikian, kalau banyak kesulitan yang aku hadapi, lebih baik aku kembali ke Panawijen.”
Mahisa Agni itu terkejut ketika ibunya, emban tua itu berkata, “Nah, Agni. Tunggulah disini. Jangan terlalu dipengaruhi oleh berbagai prasangka. Aku akan segera kembali.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya sambil menjawab singkat, “Silahkan. Aku akan menunggu. Tetapi tidak terlalu lama. Kalau aku nanti menjadi jemu menunggu, maka aku akan kembali ke Panawijen.”
Ibu Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak membantahnya, namun ia berkata, “Aku akan berusaha secepatnya kembali.”
Kemudian bersama kedua prajurit itu Ibu Mahisa Agni berjalan memasuki halaman, langsung ke serambi belakang. Meskipun tidak terucapkan, namun kedua orang prajurit kawan seperjalanan ibu Mahisa Agni itu, menjadi heran melihat sikap Mahisa Agni. Bagaimanakah sebenarnya yang terjadi atasnya? Tetapi kedua prajurit itu saling berdiam diri.
Di depan regol Mahisa Agni menunggu kedua orang prajurit beserta ibunya dengan gelisah. Sekali ia berdiri dan berjalan mondar mandir, namun kemudian ia menghenyakkan dirinya, duduk dialas batu kerikil yang berserak-serak di halaman. Ia berusaha untuk menenangkan hatinya. Namun justru semakin lama ia menunggu, maka debar jantungnya seakan-akan menjadi semakin cepat. Berkali-kali ia berdiri, dan mencoba melihat ke arah ibunya menghilang. Namun emban tua itu masih belum juga menampakkan dirinya. Bahkan semakin lama malam menjadi semakin gelap, sehingga karena itulah maka Mahisa Agni menjadi semakin gelisah karenanya.
“Terlalu,“ gumamnya kepada diri sendiri, “aku seakan-akan dijadikan barang mainan yang menyenangkan. Dipanggilnya aku ke Tumapel, kemudian dibiarkan aku disini menjadi makanan nyamuk. Hem.”
Di sana-sini Mahisa Agni kemudian melihat beberapa lampu telah dinyalakan. Di pinggir-pinggir halaman dan di regol. Sehingga karena itulah maka Mahisa Agni itu seakan-akan menjadi tidak dapat bersabar lagi. Tenaganya akan lebih bermanfaat apabila ia berada di Panawijen, membantu membuat tambang-tambang ijuk dan patok-patok bambu yang akan sangat berguna bagi bendungannya, daripada duduk sambil menggaruk-garuk punggungnya di depan regol istana Tumapel. Tiba-tiba kejemuan Mahisa Agni memuncak. Dengan serta merta ia meloncat berdiri dan berdesis,
“Lebih baik aku kembali ke Panawijen.”
Namun sebelum Mahisa Agni melangkah meninggalkan regol itu, tiba-tiba ia tertegun. Dilihatnya dua orang prajurit datang kepadanya.
“Hem,“ geram Mahisa Agni, “baru sekarang mereka datang sesudah membiarkan aku duduk disini hampir satu senja.”
Tetapi Mahisa Agni itu menjadi sangat kecewa. Ternyata bayangan dua orang prajurit yang mendekat itu, setelah menjadi semakin dekat, sama sekali bukan kedua prajurit kawan ibunya. Sehingga dengan demikian kejemuan Mahisa Agni kembali merayapi kepalanya. Ternyata kedua prajurit itu pun terkejut pula melihat Mahisa Agni berdiri di samping regol. Salah seorang daripadanya segera bertanya,
“Siapa kau?”
Mahisa Agni memandangi keduanya dengan saksama. “Hem,“ geramnya di dalam hati. Namun ia menjawab sambil mengangguk hormat, “Aku Mahisa Agni dari Panawijen.”
Kedua prajurit itu berhenti beberapa langkah dari Mahisa Agni. Dicobanya untuk mengenalnya di dalam keremangan malam.
“Nyalakan lampu itu,“ berkata salah seorang dari padanya.
Yang lain pun kemudian melangkah mendekati lampu yang tersangkut di regol. Agaknya mereka memang sedang bertugas menyalakan lampu-lampu. Dengan batu titikan dan dimik belerang, maka prajurit itu membuat api. Ketika lampu itu telah menyala, maka cahayanya yang kemerah-merahan langsung memancar dan jatuh di atas wajah-wajah ketiga laki-laki yang berdiri di depan regol itu.
“Hem,“ geram salah seorang dari kedua prajurit itu, “aku belum pernah mengenalmu.”
Mahisa Agni yang sedang dibakar oleh kejengkelannya terhadap kedua prajurit dan ibunya, menjawab, “Aku juga belum mengenalmu.”
Kedua prajurit itu saling berpandangan. Jawaban itu memang aneh bagi mereka, sehingga kemudian salah seorang dari kedua prajurit itu berkata, “Kenapa kau berada disini?”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Pertanyaan itu memang sudah diduganya. Maka jawabnya, “Aku menunggu disini, menunggu ijin untuk menemui Ken Dedes.”
“Ken Dedes, siapa?”
“Ken Dedes yang menurut pendengaranku akan di angkat menjadi Permaisuri Tunggul Ametung.”
“Tuanku Akuwu Tunggul Ametung maksudmu?”
“Ya. Akuwu Tunggul Ametung.”
Kembali kedua prajurit itu saling berpandangan. Mereka memang pernah mendengar dari para pemimpin mereka bahwa Akuwu akan mengambil seorang permaisuri. Dan permaisuri itu kini telah berada di dalam istana. Bahkan banyaklah yang mereka dengar desas-desus tentang puteri bakal permaisuri itu. Namun demikian, mereka tidak dapat mengerti bahwa seorang yang akan menemuinya datang seorang diri dan berdiri saja di muka regol halaman dalam. Kenapa ia menunggu di tempat itu?. Karena itu maka kedua prajurit itu pun bertanya pula.
“Apakah keperluanmu bertemu dengan puteri.”
“Aku tidak tahu. Bukan aku yang berkepentingan, tetapi Ken Dedes.”
Jawaban Mahisa Agni itu pun terdengar terlampau aneh bagi kedua prajurit itu. Apalagi Mahisa Agni yang sedang berhati pepat itu, tampaknya menjawab pertanyaan mereka dengan jawaban-jawaban yang tidak mereka mengerti, bahkan hampir seperti acuh tak acuh saja.
“Apakah kau salah seorang dari keluarganya?”
Mahisa Agni menjadi semakin jengkel mendengar pertanyaan-pertanyaan itu. Ia datang karena Ken Dedes memerlukannya. Kini ia terpaksa menunggu dan mendapat pertanyaan-pertanyaan yang sama sekali tak menyenangkannya. Dalam keadaan itu, Mahisa Agni benar-benar kehilangan kesabarannya. Ia dapat berlapang dada menghadapi lawan dalam perkelahian, namun menghadapi keadaan ini, dimana hatinya sendiri seakan-akan tersayat-sayat, maka sikapnya pun menjadi jauh berbeda dengan sikapnya sehari-hari.
“Apakah kau keluarganya?“ terdengar prajurit itu mendesak.
Mahisa Agni mengangguk, jawabnya, “Ya.”
“Apakah hubungan keluarga itu? Paman, kakak atau apa?”
“Kakak. Aku adalah kakaknya,” sahut Mahisa Agni.
Kedua prajurit itu mengerutkan keningnya. Mungkin anak ini memang kakaknya, sebab menurut pendengarannya Ken Dedes itu pun datang dari Panawijen. Tetapi mungkin juga bukan. Mungkin orang yang mengaku kakak calon permaisuri ini, sekedar orang yang ingin mendapat keuntungan saja dari padanya. Maka kembali terdengar pertanyaan prajurit itu,
“Apakah kau kakak kandungnya?”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia ragu-ragu untuk menjawab. Kalau pertanyaan itu diiakan, maka jangan-jangan Ken Dedes telah mengatakan, bahwa ia adalah anak tunggal Empu Purwa. Tetapi Mahisa Agni yang sedang dirisaukan oleh berbagai persoalan itu tidak mau berpening-pening kepala memikirkannya, maka jawabnya,
“Bukan, aku bukan kakak kandungnya. Aku adalah kakak angkatnya.”
Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi di dalam kepala mereka, merayaplah kecurigaan atas anak muda yang mengaku kakak bakal Permaisuri itu. Karena itu, maka salah seorang dari mereka berkata,
“Sebaiknya kau tidak menunggu disini. Mari, ikutlah kami ke gardu regol pertama.”
Mahisa Agni menjadi makin tidak senang. Katanya, “Aku telah melewati regol pertama itu.”
“Kenapa kau dapat masuk sebelum kau mendapatkan ijin? Kenapa baru disini kau menunggu ijin itu?”
“Aku tidak tahu. Aku datang berempat, dua orang prajurit, seorang emban tua dan aku.”
“Siapakah nama prajurit-prajurit itu?”
Kembali Mahisa Agni tidak dapat menjawab. Kemarin ia mendengar juga nama itu di sebut-sebut oleh sesama mereka. Tetapi sejak pertama, Agni sudah diliputi oleh kegelapan pikiran, maka ia sama sekali tak memperhatikan nama kedua prajurit itu.
“Siapa?” desak mereka.
Mahisa Agni menggeleng, “Aku tak tahu nama-nama mereka.”
“Hem,“ prajurit itu menarik nafas. Kemudian mereka berkata pula. “Marilah ikut aku ke gardu pertama.”
“Aku sudah melampauinya. Kuda-kuda kami berada di dalam regol di samping gardu itu.”
“Ikut kami,“ berkata prajurit itu pula, “nanti kami akan menyelesaikan ijin itu.”
“Bukan salahku aku berada disini. Kedua prajurit yang membawa aku seharusnya tahu, bahwa aku harus menunggu di regol pertama, tetapi kenapa mereka membawa aku kemari?”
Kedua prajurit itu menjadi ragu-ragu. Meskipun mereka bercuriga namun jawaban Mahisa Agni yang jujur itu hampir meyakinkan mereka. Namun kedua prajurit itu menjadi kurang senang atas sikap yang seolah-olah acuh tak acuh. Sebab mereka sama sekali tidak tahu, bahwa perasaan Mahisa Agni benar-benar dirisaukan oleh keadaan dirinya sendiri. Tetapi kedua prajurit yang sedang bertugas itu tidak dapat berbuat dalam kebimbangan. Bagi mereka lebih baik ditempuh jalan yang paling dapat dipertanggung jawabkan. Karena itu maka berkata salah seorang dari mereka,
“Aku terpaksa membawamu ke gardu pertama Ki Sanak. Aku sama sekali tidak berkeberatan atas kehadiranmu. Tetapi sebaiknya kau tidak membuat kami ragu-ragu.”
Barulah kini Mahisa Agni menyadari, bahwa ia berhadapan dengan dua orang yang sedang bertugas. Ia tidak dapat menyalahkan mereka, sebab apa yang dapat dikatakannya tentang dirinya sama sekali kurang meyakinkan kedua prajurit yang sedang bertugas itu. Apabila kemudian kejengkelan Mahisa Agni itu memuncak, maka kejengkelannya itu ditujukannya kepada kedua prajurit kawan seperjalanan ibunya. Seharusnya mereka tahu apa yang harus dilakukannya. Namun Mahisa Agni yang sedang sibuk dengan perasaannya sendiri itu tidak mau membuat persoalan-persoalan baru. Baginya lebih baik menghindarkan diri dari segala persoalan yang dapat menambah kesulitan-kesulitannya. Karena itulah maka kemudian Mahisa Agni berkata,
“Baik. Aku akan ikut dengan kalian. Tetapi aku tidak akan menunggu di gardu pertama. Aku sudah terlalu lama menunggu disini.”
“Lalu apa yang akan kau lakukan?”
“Lebih baik bagiku kembali ke Panawijen.”
“Bukan maksud kami mengusir kau Ki Sanak. Tetapi kami ingin meyakinkan diri kami sendiri, bahwa kau benar-benar berhak untuk masuk ke istana.”
“Terima kasih,“ jawab Agni, bahkan kemudian di tambahkannya, “aku terpaksa kembali ke Panawijen. Tolong sampaikan nanti kepada kedua prajurit dan emban tua yang datang bersama mereka itu, bahwa aku tidak sabar menunggu.”
Kedua prajurit itu saling berpandangan. Kemudian berkata salah seorang dari mereka, “Marilah ke gardu pertama.”
Mahisa Agni tidak menjawab. Ia berjalan saja di samping kedua prajurit yang sedang bertugas itu.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar