PdLS-16
BARULAH DI GARDU pertama kedua prajurit itu dapat meyakinkan diri mereka. Dari pemimpin prajurit yang bertugas di regol, kedua prajurit itu mendapat beberapa penjelasan tentang kedatangan Mahisa Agni. Diberitahukannya pula bahwa Mahisa Agni datang bersama dua orang prajurit yang sudah mereka kenal dan yang mereka ketahui tugas-tugasnya pula.
“Maafkan kami,“ berkata kedua prajurit itu, “kami bertugas di dalam halaman istana sehingga kami tidak mengetahui kehadiran tuan. Apabila demikian, marilah tuan kami antarkan ke serambi belakang istana di samping regol itu tadi. Namun terpaksa tuan masih harus menunggu, sampai tuan mendapatkan ijin masuk ke istana. Hal itu adalah diluar wewenang kami.”
Tetapi Mahisa Agni sudah kehilangan kesabaran. Kegelisahan dan kerisauan perasaannya sudah demikian pepatnya. Apalagi Mahisa Agni sendiri tidak yakin apakah ia dapat berhadapan dengan Ken Dedes sebagai seorang kakak? Sehingga ia menjadi semakin jemu untuk menunggu di samping regol, di dekat pintu serambi belakang. Maka jawabnya,
“Aku sudah terlalu lama menunggu. Aku datang kemari bukan atas kehendakku, dan sekarang aku harus menunggu terlampau lama. Apabila nanti ada petugas lain yang melihat aku, pasti aku harus menjawab berbagai pertanyaan pula.”
“Mungkin tuan sudah tidak akan terlalu lama menunggu.”
“Aku sudah terlalu lama berdiri di samping regol di dekat serambi itu.”
“Mungkin Akuwu sedang bersantap, sehingga beberapa emban yang melayaninya tidak berani menyampaikan permohonan kedua prajurit itu. Mereka harus menunggu beberapa saat.”
“Aku sama sekali tidak memerlukan mereka,“ desis Mahisa Agni perlahan-lahan sehingga kedua prajurit itu tidak mendengarnya dengan jelas. Namun kemudian Agni itu berkata, “Aku akan kembali ke Panawijen. Tolong sampaikan kepada mereka, bahwa aku sudah kembali.”
“Tuan,“ berkata salah seorang dari kedua prajurit itu cemas, “kami minta maaf bahwa kami telah mengganggu tuan. Mungkin tuan kecewa atas perbuatan kami. Kami benar-benar tidak tahu siapakah tuan.”
“Tidak,“ sahut Agni, “aku tidak menyalahkan kalian. Kalian benar-benar sedang melakukan kewajiban kalian. Tetapi aku sudah jemu untuk menunggu.”
Kedua prajurit itu menjadi bingung. Para penjaga regol pun tidak tahu apa yang harus mereka lakukan terhadap Mahisa Agni. Mereka tidak mempunyai wewenang untuk mencegahnya, sebab mereka tidak tahu, sampai seberapa jauh kepentingan Mahisa Agni hadir di istana Tumapel. Namun kedua prajurit yang merasa menjadi penyebab langsung dari kejemuan Mahisa Agni itulah yang kini menjadi bertambah gelisah. Sehingga salah seorang dari mereka berkata,
“Apakah tuan ingin menunggu di regol ini. Tuan dapat duduk dengan tenang. Biarlah kami berdua saja yang menunggu di samping regol di dekat serambi belakang. Nanti kami akan memanggil tuan apabila ijin itu telah tuan dapatkan.”
Mahisa Agni menggeleng. Jawabnya, “Terima kasih. Aku akan pulang saja ke Panawijen.”
Ternyata prajurit-prajurit itu tidak lagi mampu mencegah, mereka tidak berani menahan Mahisa Agni dengan kekerasan, sebab mereka tidak mempunyai kekuasaan untuk itu. Sehingga mereka kemudian hanya dapat memandangi debu yang mengepul di belakang derap kuda Mahisa Agni. Sesaat kemudian, hilanglah ia di belakang tabir kegelapan malam.
Prajurit-prajurit itu menjadi gelisah. Mereka tidak tahu pasti, apakah mereka tidak bersalah karena melepaskan anak muda itu pulang. Namun apakah mereka dibenarkan seandainya mereka terpaksa menahan Mahisa Agni dengan kekerasan. Dalam serba ketidak tentuan itu, mereka kemudian melihat tiga bayangan berjalan tergesa-gesa ke regol pertama. Sepintas, para penjaga itu segera dapat mengenal, langkah kedua kawannya yang datang bersama Mahisa Agni sore tadi, beserta seorang emban tua.
Hati para penjaga dan kedua prajurit yang menyalakan lampu di regol tempat Mahisa Agni menunggu, menjadi berdebar-debar. Kedua prajurit itu merasa, seakan-akan merekalah yang menyebabkan Mahisa Agni itu kembali ke Panawijen. Kalau anak muda itu benar-benar diperlukan, maka mereka pasti akan mendapat marah dari Akuwu Tunggul Ametung.
“Sial benar kita kali ini,“ desis salah seorang daripada mereka, “kalau saja kita tidak bertugas menyalakan lampu-lampu sambil meronda keliling, kita tidak akan menemui soal yang menggelisahkan ini.”
Kawannya tidak menjawab. Tetapi debar jantungnya tidak kalah cepatnya dengan kawannya yang lain. Ketika ketiga orang, kedua prajurit dan emban tua telah sampai di regol pertama, maka dengan serta merta terdengar emban tua itu bertanya,
“Dimanakah Mahisa Agni? Apakah kalian melihatnya?”
Sesaat para penjaga regol itu saling berpandangan. Kemudian prajurit yang membawa Agni ke regol ini menjawab, “Aku melihat tuan Mahisa Agni itu. Kini ia telah kembali ke Panawijen.”
“He,“ suara itu meledak bersama-sama dari ketiga orang yang baru datang, “kenapa tidak kalian cegah?”
“Kami telah mencobanya,“ sahut pemimpin penjaga, “tetapi ia tetap pada pendiriannya. Menurut pesannya anak muda itu telah jemu menunggu.”
“Oh,“ desis emban tua itu sambil menekan dadanya. Nafasnya tiba-tiba menjadi semakin cepat mengalir, “Agni. Agni. Bukan main. Hati yang telah lapuk ini masih juga kau lukai. Oh, alangkah besar dosa yang aku tanggungkan,“ perempuan itu mengeluh. Namun keluhan di hatinya jauh lebih pedih dari yang diucapkannya, seolah-olah Agni sengaja menyakiti hatinya, “Hem,“ perempuan tua itu menarik nafas panjang, “Salahku,“ keluhnya di dalam hati, “anak itu tidak pernah merasakan betapa kasih sayang seorang ibu mengusap keningnya. Bagaimana ia kini harus mencintai ibunya? Apalagi mematuhi permintaannya? Bukan salah Mahisa Agni. Permintaanku terlalu berat, sedang aku belum pernah memberinya sesuatu.”
Sesaat regol itu menjadi sepi. Masing-masing tenggelam dalam angan-angannya. Namun wajah-wajah mereka kini benar-benar membayangkan kegelisahan hati. Sejenak kemudian emban tua itu berkata kepada kedua prajurit yang mengantarnya ke Panawijen,
“Bagaimana?”
“Terserah kepada bibi,“ sahut keduanya.
Sekali lagi emban tua itu mengeluh, katanya, “Apakah yang harus aku katakan kepada Tuanku Akuwu?”
Semuanya masih terbungkam. Dan semuanya masih juga berdebar-debar. Sementara itu terdengar emban itu berkata, “Akuwu sendiri telah menyambutnya di ruang dalam. Dengan tergesa-gesa beliau berkemas sehabis makan malam. Tetapi anak itu telah pergi.”
Yang mendengar keterangan itu menjadi semakin berdebar-debar. Demikian pentingnyakah anak muda itu sehingga Akuwu sendiri akan menyambutnya di ruang dalam?.
Karena itu maka salah seorang dari mereka berkata, “Bibi emban, apakah sebaiknya kami salah seorang atau dua orang pergi menyusulnya?”
Emban itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menggeleng sambil berkata, “Jangan.”
“Kenapa? Bukankah kami akan dapat membawanya kemari, menghadap Akuwu Tunggul Ametung.”
“Anak itu keras hati. Mungkin ia tidak akan bersedia kembali.”
“Kalau memang perlu sekali, kami akan mencoba memaksanya.”
Sekali lagi emban itu menggeleng. Emban yang sudah mengenal Mahisa Agni itu dengan baik berkata di dalam hatinya, “Jangankan satu atau dua orang. Empat orang penjaga bersama empat orang prajurit yang lain itu pun tak akan dapat memaksanya dengan kekerasan. Bahkan apabila kemudian Mahisa Agni menjadi marah dan menjadi gelap hati, maka ia akan dapat membuat cedera beberapa diantara para prajurit itu. Dengan demikian maka anak itu akan terjerumus ke dalam kesulitan yang lebih dalam.”
Namun yang terloncat dari mulutnya adalah, “Akulah yang bersalah. Aku memang membiarkan anak muda itu terlampau lama menunggu.”
“Lalu apakah yang akan bibi kerjakan?”
Emban itu terdiam sesaat. Namun sesaat itu telah ditemukannya sikap atas peristiwa kembalinya Mahisa Agni ke Panawijen.
“Biarlah aku mempertanggung jawabkannya,“ katanya di dalam hati.
Ternyata perempuan tua itu telah menimpakan semua kesalahan pada dirinya sendiri. Karena itu ia telah bertekad untuk melindungi anaknya. Satu-satunya anaknya. Lebih baik semua kesalahan dibebankan kepadanya dari pada harus menyentuh anaknya itu.
“Kita menghadap Akuwu,“ berkata emban itu kemudian.
“Tanpa Mahisa Agni?” bertanya kedua prajurit yang mengantarkannya ke Panawijen.
Perempuan itu menggeleng, “Mahisa Agni telah pergi.”
Kedua prajurit itu tidak menjawab. Mereka kemudian berjalan di belakang perempuan itu sambil menundukkan wajahnya. Mereka sudah membayangkan apa yang akan terjadi di ruang dalam. Akuwu adalah seorang yang aneh. Seorang yang dapat bertindak menurut kehendaknya sendiri. Hampir dalam sekejap Akuwu dapat berbuat hal-hal diluar dugaan. Karena itu, semakin berdebar-debar.
Sementara itu Akuwu ternyata telah memanggil Ken Dedes pula untuk datang ke ruang dalam. Akuwu itu menjadi sangat gembira ketika ia mendengar Mahisa Agni telah bersedia datang. Selain ia akan dapat bertemu dengan salah seorang keluarga Ken Dedes, sehingga jalan yang ditempuhnya tidak akan terasa terlampau kasar dan melanggar adat, juga Akuwu menganggap bahwa apabila Mahisa Agni bersedia, maka ia akan dapat memperkuat kesatuan pengawal istana di samping Witantra, setelah ia melihat sendiri, betapa anak muda itu mampu bertempur melawan Ken Arok dengan baik.
Sebagai seorang Akuwu maka kepentingannya dengan Mahisa Agni langsung tersangkut dengan kepentingan kedudukannya. Telah terbayangkan olehnya, bahwa di samping Witantra, pasukan pengawal istana akan diperkuat dengan Ken Arok yang akan dipindahkannya dari seorang pelayan dalam langsung ke dalam lingkungan keprajuritan, dan Mahisa Agni.
Dalam kesempatan inilah Akuwu akan memanfaatkan pertemuannya dengan Mahisa Agni. Yang pertama, dengan resmi minta supaya keluarga Ken Dedes tidak merasa tersinggung dengan caranya mengambil Ken Dedes, dalam hal ini akan dicobanya untuk menjelaskan, bahwa sebenarnya Akuwu Tunggul Ametung pada waktu itu terseret oleh ketamakan Kuda Sempana, dan yang kedua akan ditawarkan kepada Mahisa Agni sebuah kedudukan yang cukup baik di bawah pimpinan Witantra bersama-sama dengan Ken Arok, setelah Akuwu menerima Kebo Ijo masuk pula ke dalam lingkungau itu.
Sesaat kemudian Akuwu Tunggul Ametung lah yang menjadi gelisah menunggu di serambi di muka biliknya. Belum ada seorang pun yang datang kepadanya dan memberitahukan, bahwa Mahisa Agni telah menunggunya di ruang dalam, sekali Akuwu Tunggul Ametung itu berdiri, dan sesaat kemudian ia pun terhenyak duduk di atas sebuah tempat duduk yang rendah. Sekali-sekali dipandanginya pintu ke ruang di sebelah, namun belum juga seorang emban pun yang datang kepadanya.
“Gila,“ gumannya, “apakah aku dibiarkan jemu menunggu disini?”
Tetapi ketika teringat olehnya, gadis bakal permaisurinya, maka ia mencoba menekan perasaannya. Kembali ia duduk sambil membelai kumisnya, namun ia menjadi gelisah kembali, seperti nyala pelita minyak yang tergantung pada dinding papan tertiup angin yang silir.
“Heh,“ Akuwu itu mengeluh, “terlalu lama.”
Akhirnya Akuwu itu tidak sabar lagi. Hampir saja ia berteriak memanggil pelayannya yang duduk di atas tangga serambi, namun niatnya itu diurungkannya ketika ia mendengar beberapa langkah mendekatinya.
“Ha,“ Akuwu itu tersenyum, “agaknya anak muda itu telah datang dan menunggu aku di ruang dalam.”
Tunggul Ametung kemudian berdiri. Sekali lagi ia membelai kumisnya, lalu berjalan perlahan-lahan mendekati pintu. Tetapi ia menjadi terkejut ketika ia melihat, yang datang kepadanya, di serambi sebelah adalah emban tua, dua orang prajurit, dan yang lebih mengejutkan lagi, Ken Dedes beserta dengan mereka pula.
“He,“ teriak Akuwu kepada seorang pelayan yang mengantar mereka, “kenapa kalian datang kemari?” Pelayan itu menjadi bingung. “Kenapa,“ bentak Akuwu pula.
“Bibi dan tuanku puteri minta aku membawa kemari.”
Akuwu mengerutkan keningnya, kemudian katanya, “Masuk ke ruang dalam. Di sana aku akan menemui kalian.”
Dada emban tua itu menjadi semakin cepat bergetar. Namun Kembali ia membulatkan niatnya untuk memikul semua kesalahan di atas pundaknya. Karena itu maka segera, setelah mereka itu bersimpuh duduk di lantai diluar pintu menyembah sambil berkata,
“Ampun tuanku. Hamba ingin memberitahukan sesuatu ke bawah duli tuanku.”
Tunggul Ametung mengerinyitkan alisnya, “Apa?” ia bertanya.
“Tentang anak muda yang bernama Mahisa Agni.”
“Ke ruang dalam,“ berkata Akuwu lantang. Seandainya tidak ada Ken Dedes pada saat itu, pasti ia sudah berteriak keras sekali.
“Hamba tuanku, tetapi apa yang hamba katakan semula ternyata keliru.”
“He,“ kini Tanggul Ametung benar-benar berteriak sambil membelalakkan matanya, “apa yang keliru?”
Bagaimanapun juga maka hati emban tua itu pun berdebar-debar pula. Ketika ia mencoba memandang wajah Akuwu, maka segera ia menundukkan kepalanya. Dari sepasang matanya, seakan-akan memancar api yang menyala dari dadanya. Karena emban tua itu tidak segera menjawab, maka sekali lagi Akuwu itu membentak keras-keras,
“Apa yang keliru he, apa?”
“Ampun tuanku,“ emban tua itu menyembah. Dicobanya mengatur hatinya supaya ia mampu mengatakannya dengan jelas, “hamba bertiga telah benar-benar datang bersama Mahisa Agni ke istana ini.”
“Sudah kau katakan, sudah kau katakan,“ potong Akuwu Tunggul Ametung, “aku tidak menyangkal. Lalu kau katakan bahwa apa yang kau katakan itu keliru.”
Debar di dada emban tua itu menjadi semakin keras. Wajahnya yang tunduk menjadi semakin tunduk. Dengan nafas yang terengah-engah ia berkata, “Ampun tuanku. Sebenarnyalah demikian. Aku telah terlampau lama membiarkan anak itu menunggu diluar regol. Aku tidak berpesan supaya ia tetap menunggu hamba meskipun lama, sehingga anak itu kini telah kembali ke Panawijen.”
Wajah Akuwu Tunggul Ametung benar-benar telah membara. Dadanya seolah-olah pecah mendengar keterangan itu. Namun justru karena itu, maka Akuwu itu seperti terbungkam. Yang terdengar hanyalah gemeretak giginya beradu. Sesaat ruangan itu menjadi sunyi. Mereka saling berdiam diri dalam keadaan yang berbeda-beda. Akuwu terdiam justru karena kemarahan menghentak-hentak dadanya, sedang orang-orang yang lain menundukkan wajahnya karena ketakutan.
Tetapi emban tua itu, setelah kata-kata yang seakan-akan menyumbat kerongkongannya itu terloncat keluar, maka hatinya kini justru menjadi bertambah tenang, sehingga karena itu, sehingga ia dapat mempergunakan pikirannya kembali. Bagaimana ia dapat melepaskan Mahisa Agni dari kesalahan. Maka dengan penuh kesungguhan untuk kepentingan anaknya, emban tua itu berkata,
“Namun tuanku, bukan salah anak muda itu. Akulah yang salah berpesan kepadanya. Aku minta ia menunggu di regol, tetapi kalau aku terlalu lama tidak kembali, berarti ia tidak mendapat ijin untuk menghadap. Karena itu ia dapat pulang kembali ke Panawijen untuk lain kali menghadap kembali.”
Akuwu memandangi wajah emban tua yang tunduk itu dengan mata yang menyala-nyala. Betapa kemarahan menghentak-hentak dadanya sehingga seakan-akan dadanya itu akan meledak. Dengan gemetar Akuwu Tunggul Ametung berkata terpatah-patah justru karena kemarahannya,
“Jadi Mahisa Agni itu telah kembali?”
“Hamba tuanku?”
“Hanya karena terlalu lama menunggu?”
“Hamba tuanku.”
“Dan kesalahan itu terletak padamu, karena kau sengaja berpesan kepadanya supaya ia pulang saja kalau terlampau lama menunggu diluar.”
“Hamba tuanku.”
“Gila,“ teriak Akuwu, “kau sudah gila dan Mahisa Agni sudah gila pula. Kenapa ia tidak mau menunggu hanya selama aku makan? Akulah Akuwu Tumapel. Semua orang harus menuggu perintahku. Jangankan selama aku makan, sehari ia harus menunggu, seminggu, sebulan, bahkan aku dapat memaksanya menunggu bertahun-tahun dan selama hidupnya.”
Desir di dada emban tua itu menjadi semakin tajam. Tetapi tekadnya benar-benar telah bulat. Agni tidak bersalah.
“Kenapa anak itu tidak mau menunggu aku selesai makan, kenapa? Apakah disangkanya bahwa ia berhak memutuskan waktuku, apa saja yang sedang aku kerjakan? Itu adalah perbuatan gila. Aku tidak dapat memaafkannya lagi. Beberapa waktu yang lampau aku telah dihinakannya dengan menolak perintahku menghadap ke istana. Sekarang ia menghina aku lagi dengan cara lain.”
“Bukan salahnya tuanku,“ potong emban tua itu, “bukan salah Mahisa Agni. Hambalah yang salah. Pesan hambalah yang keliru. Hamba sangka Tuanku belum pasti dapat mengijinkan anak itu, sehingga hamba berpesan demikian.”
“Itu adalah sangkamu saja bukan?“ teriak Akuwu semakin keras, “tetapi ketika telingamu sudah mendengar, bahwa aku sedang bersantap, bukankah mulutmu dapat mengatakannya kepada anak muda itu supaya ia menunggu?”
“Hamba tuanku. Itulah kesalahan hamba.”
“Tutup mulutmu,“ teriak Akuwu itu pula, sehingga seolah-olah dinding-dinding ruangan itu turut bergetar. “sekali kau membuka mulutmu, aku sumbat mulutmu dengan tumitku.”
Emban tua itu terdiam. Ia tidak berani berkata sepatah kata pun lagi. Meskipun demikian ia masih tetap dalam tekadnya, melindungi anaknya dan mengambil segala kesalahan di pundaknya.
Kedua prajurit yang ikut menghadap saat itu, sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya. Wajah yang keras karena pekerjaan berat, terik matahari di siang hari dan tetesan embun dimalam hari, kini terhujam dalam-dalam. Debar dada mereka terasa menjadi semakin cepat dan keras, serasa jantung mereka akan pecah menahan arus darah mereka yang seolah-olah semakin kencang. Namun meskipun demikian, kedua prajurit itu tidak habisnya menjadi heran. Kenapa emban itu meletakkan kesalahan pada dirinya. Kedua prajurit itu melihat dan mendengar apa yang dipesankan oleh emban tua itu kepada Mahisa Agni. Kedua prajurit itu mendengar dengan telinganya bahwa Mahisa Agni memang telah mengancam sebelumnya, bahwa ia akan kembali ke Panawijen apabila ia harus terlalu lama menunggu diluar regol. Ternyata anak muda itu benar-benar kembali. Tetapi tiba-tiba emban itu membebankan kesalahan itu kepada dirinya.
Dalam pada itu terdengar kata-kata lantang dari Akuwu yang sedang marah itu, kali ini tidak terpatah-patah lagi, tetapi mengalir seperti banjir, “He, emban tua. Kalau bukan karena kesanggupanmu membawa anak itu kemari, maka aku pasti sudah memerintahkan menangkapnya dan membawa kemari dengan paksa. Aku dapat berbuat apa saja di Tumapel ini tanpa persetujuannya. Apalagi Ken Dedes telah menyatakan perasaan. Sebagai seorang gadis yang telah dewasa, ia bukan lagi sebuah golek kayu yang hanya dapat mendengarkan pendapat orang lain. Bahkan seandainya keluarganya tidak dapat membenarkan, aku dapat juga mempergunakan cara seperti yang dilakukan Kuda Sempana, melarikannya. Bahkan aku dapat mempergunakan kekuasaanku sebagai seorang Akuwu.
Tetapi aku mencoba mencari jalan lain. Jalan yang sebaik-baiknya. Jalan yang lumrah, yang dapat ditempuh tanpa menimbulkan geseran perasaan. Tetapi kemauanku yang baik itu telah dihinakannya. Dianggapnya aku terlampau lemah dan tidak sanggup berbuat lebih baik dari apa yang aku kerjakan. Dan sekarang aku tidak dapat memaafkannya lagi. Aku juga tidak dapat memaafkanmu. Kau juga telah menghinaku. Bahkan Kaulah sumber dari kesalahan itu setelah kau mencoba memperbaiki kesalahan Mahisa Agni.”
Emban tua itu tidak menjawab. Kepalanya menjadi semakin tunduk. Namun emban tua itu sama sekali sudah tidak gelisah lagi. Justru ia menjadi tenang. Ia bergembira karena sebagian terbesar kesalahan itu telah dituduhkan kepadanya, ialah sumber kesalahan itu. Setiap hukuman yang aku terima, adalah cara sebaiknya untuk mengurangi tali yang membelenggu diriku selama ini. Dengan demikian barulah aku seorang ibu bagi anakku itu. Seorang ibu yang dapat memberinya sesuatu, katanya di dalam hati, “bukankah selama ini aku belum pernah berbuat sesuatu atas anakku itu,“ kata-kata itu selalu berulang-ulang bergema di dalam dadanya. Kenangan masa lampaunya setiap saat tumbuh dan berkembang di dalam angan-angannya. Dan emban tua itu dengan demikian selalu dikejar oleh perasaan bersalah.
Akuwu yang marah itu seolah-olah menjadi kian marah Kata-katanya masih membanjir terus, “Kini, aku harus segera mengambil sikap. Baik kepadamu, he emban yang bodoh, mau pun kepada Mahisa Agni. Tetapi kaulah yang harus menerima hukuman yang terberat. Mahisa Agni telah bersedia datang, tetapi karena kebodohanmu maka anak itu pergi. Aku sudah tidak dapat memberimu kesempatan lagi.”
Tiba-tiba emban tua itu mengangkat wajahnya. Wajah yang sayu dipenuhi oleh berbagai derita hidup yang pernah dialaminya. Dengan tenang dipandanginya wajah Akuwu Tunggul Ametung yang bagaikan bara yang sedang menyala itu. Tetapi sesaat kemudian Akuwu Tunggul Ametung itu justru berpaling. Dengan serta merta ia berdiri dan melangkah beberapa langkah menjauhi orang-orang yang menghadapnya. Dengan gemetar Akuwu Tunggul Ametung berdiri membelakangi mereka.
Seandainya pada saat itu tidak ada Ken Dedes diantara mereka, maka tingkah laku Akuwu Tunggul Ametung pasti sudah tidak terkekang lagi. Mungkin ia berteriak-teriak memanggil beberapa orang prajurit dan memerintahkannya agar emban itu disekap dalam tahanan, atau mendapat hukuman-hukuman lain yang berat. Tetapi demikian besar pengaruh kehadiran Ken Dedes itu sehingga Akuwu Tunggul Ametung masih mencoba untuk menekan perasaannya meskipun dadanya serasa akan meledak.
Tiba-tiba sambil membelakangi mereka, Akuwu itu berkata dengan suara bergetar, “Aku tidak akan memerintahkan menangkap Mahisa Agni dan memaksanya membawa kemari. Aku sudah tidak memerlukannya lagi. Kalian berdua akan dibuang dari telatah Tumapel ke dalam hutan. Itu adalah hukuman yang paling ringan yang dapat aku berikan kepada kalian.”
Emban tua itu menyembah meskipun Akuwu Tunggul Ametung tidak melihatnya. Dengan tenang ia menjawab, “Hamba menyatakan terima kasih hamba tiada taranya atas kemurahan tuanku. Namun sebenarnyalah Mahisa Agni tidak bersalah. Biarlah hamba menerima hukuman hamba dua kali lipat ganda, asal tuanku sudi mempertimbangkan hukuman yang tuanku berikan kepada Mahisa Agni.”
“Tutup mulutmu,“ kembali Tunggul Ametung itu berteriak sambil memutar tubuhnya. Hampir saja ia meloncat dan menampar mulut perempuan yang berani menjawab kata-katanya, “akulah Akuwu Tumapel. Bukan kau. Akulah yang menentukan hukuman itu. Bukan kau. Kau dengar He?”
Emban tua itu tidak menjawab. Kini kembali wajahnya menghunjam ke tanah. Tetapi ia masih tetap dalam ketenangan. Akuwu yang marah menjadi kian marah. Tubuhnya bergetar seperti orang yang menggigil kedinginan. Wajah merah membara dan kakinya menghentak-hentak lantai.
“Besuk sebelum ayam jantan berkokok untuk yang terakhir kalinya, kalian harus sudah tidak berada di dalam wilayahku. Kalau aku masih melihat kalian di daerah ini, maka kalian akan mendapat hukuman mati. Kau dengar?”
Emban tua itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan demikian berarti malam ini ia harus meninggalkan Tumapel menuju ke Panawijen dan membawa Mahisa Agni meninggalkan Panawijen, sebab Panawijen pun masih termasuk daerah Tumapel. Dada emban tua itu menjadi berdebar-debar. Baginya hukuman itu sama sekali tidak terlalu berat. Ia dapat berada dimana saja. Tetapi anaknya adalah tunas yang menghadap ke hari depan yang panjang. Kecuali untuk dirinya sendiri lalu bagaimanakah dengan bendungan yang akan dibangun itu? Padang Karautan pun termasuk daerah Tumapel pula, sehingga Mahisa Agni pasti tidak akan dapat membangun bendungan di daerah itu.
Dalam pada itu terdengar perintah Akuwu itu kembali kepada kedua orang prajurit yang semula mengantarkan perempuan tua itu menjemput Mahisa Agni, “He kedua prajurit yang bodoh pula. Karena kau tersangkut pula dalam kebodohan ini, maka untuk menyingkirkan kedua orang yang menghina Akuwu Tunggul Ametung dari Tumapel ini adalah kuwajibanmu. Kuwajiban itu harus selesai sebelum ayam jantan berkokok menjelang fajar. Kalian harus sudah melaporkan pelaksanaan perintah ini sebelum tengah hari, kau dengar?”
Kedua prajurit itu menyembah sambil membungkuk dalam-dalam. Mereka sudah tahu benar sifat-sifat Akuwunya, sehingga mereka sama sekali tidak berani mengucapkan sepatah kata pun. Dalam keadaan yang demikian, maka mereka hanya dapat menyembah dan membungkuk dalam-dalam. Melakukan apa yang diperintahkan kepadanya dan melaporkan hasilnya. Kini mereka mendapat perintah untuk menyingkirkan emban tua itu bersama Mahisa Agni dari wilayah Tumapel. Untuk itu mereka harus menyembah dan siap melakukannya.
Ruangan itu sesaat menjadi sunyi. Tak seorang pun yang berani mengucapkan sepatah katapun. Semuanya menundukkan wajahnya dalam-dalam pula. Baru sejenak kemudian terdengar Akuwu itu membentak keras-keras,
“Ayo pergi. Apa yang kalian tunggu disini? Pergi dari halaman istana dan pergi dari Tumapel. Kalian orang yang tidak pantas tinggal di daerah kekuasaanku. Kalau kalian berada di Tumapel kembali, maka kalian adalah orang buruan.”
Emban yang telah bersedia menghadapi segala bentuk hukuman itu sama sekali tidak menjadi cemas tentang dirinya sendiri, tetapi yang digelisahkan adalah Mahisa Agni beserta rencana yang telah disiapkannya. Namun ia tidak sempat untuk berpikir saat itu. Sekali lagi ia mendengar Akuwu Tumapel membentak,
“Pergi, pergi sebelum aku memaksamu pergi.”
Emban tua itu menyembah kembali. Ketika kemudian ia berpaling kepada kedua prajurit yang bertugas menyingkirkannya, ia melihat kedua prajurit itu masih juga ragu-ragu. Meskipun demikian kedua prajurit itu pun menyembah sambil berkata,
“Hamba akan menjalankan perintah tuanku.”
“Maafkan kami,“ berkata kedua prajurit itu, “kami bertugas di dalam halaman istana sehingga kami tidak mengetahui kehadiran tuan. Apabila demikian, marilah tuan kami antarkan ke serambi belakang istana di samping regol itu tadi. Namun terpaksa tuan masih harus menunggu, sampai tuan mendapatkan ijin masuk ke istana. Hal itu adalah diluar wewenang kami.”
Tetapi Mahisa Agni sudah kehilangan kesabaran. Kegelisahan dan kerisauan perasaannya sudah demikian pepatnya. Apalagi Mahisa Agni sendiri tidak yakin apakah ia dapat berhadapan dengan Ken Dedes sebagai seorang kakak? Sehingga ia menjadi semakin jemu untuk menunggu di samping regol, di dekat pintu serambi belakang. Maka jawabnya,
“Aku sudah terlalu lama menunggu. Aku datang kemari bukan atas kehendakku, dan sekarang aku harus menunggu terlampau lama. Apabila nanti ada petugas lain yang melihat aku, pasti aku harus menjawab berbagai pertanyaan pula.”
“Mungkin tuan sudah tidak akan terlalu lama menunggu.”
“Aku sudah terlalu lama berdiri di samping regol di dekat serambi itu.”
“Mungkin Akuwu sedang bersantap, sehingga beberapa emban yang melayaninya tidak berani menyampaikan permohonan kedua prajurit itu. Mereka harus menunggu beberapa saat.”
“Aku sama sekali tidak memerlukan mereka,“ desis Mahisa Agni perlahan-lahan sehingga kedua prajurit itu tidak mendengarnya dengan jelas. Namun kemudian Agni itu berkata, “Aku akan kembali ke Panawijen. Tolong sampaikan kepada mereka, bahwa aku sudah kembali.”
“Tuan,“ berkata salah seorang dari kedua prajurit itu cemas, “kami minta maaf bahwa kami telah mengganggu tuan. Mungkin tuan kecewa atas perbuatan kami. Kami benar-benar tidak tahu siapakah tuan.”
“Tidak,“ sahut Agni, “aku tidak menyalahkan kalian. Kalian benar-benar sedang melakukan kewajiban kalian. Tetapi aku sudah jemu untuk menunggu.”
Kedua prajurit itu menjadi bingung. Para penjaga regol pun tidak tahu apa yang harus mereka lakukan terhadap Mahisa Agni. Mereka tidak mempunyai wewenang untuk mencegahnya, sebab mereka tidak tahu, sampai seberapa jauh kepentingan Mahisa Agni hadir di istana Tumapel. Namun kedua prajurit yang merasa menjadi penyebab langsung dari kejemuan Mahisa Agni itulah yang kini menjadi bertambah gelisah. Sehingga salah seorang dari mereka berkata,
“Apakah tuan ingin menunggu di regol ini. Tuan dapat duduk dengan tenang. Biarlah kami berdua saja yang menunggu di samping regol di dekat serambi belakang. Nanti kami akan memanggil tuan apabila ijin itu telah tuan dapatkan.”
Mahisa Agni menggeleng. Jawabnya, “Terima kasih. Aku akan pulang saja ke Panawijen.”
Ternyata prajurit-prajurit itu tidak lagi mampu mencegah, mereka tidak berani menahan Mahisa Agni dengan kekerasan, sebab mereka tidak mempunyai kekuasaan untuk itu. Sehingga mereka kemudian hanya dapat memandangi debu yang mengepul di belakang derap kuda Mahisa Agni. Sesaat kemudian, hilanglah ia di belakang tabir kegelapan malam.
Prajurit-prajurit itu menjadi gelisah. Mereka tidak tahu pasti, apakah mereka tidak bersalah karena melepaskan anak muda itu pulang. Namun apakah mereka dibenarkan seandainya mereka terpaksa menahan Mahisa Agni dengan kekerasan. Dalam serba ketidak tentuan itu, mereka kemudian melihat tiga bayangan berjalan tergesa-gesa ke regol pertama. Sepintas, para penjaga itu segera dapat mengenal, langkah kedua kawannya yang datang bersama Mahisa Agni sore tadi, beserta seorang emban tua.
Hati para penjaga dan kedua prajurit yang menyalakan lampu di regol tempat Mahisa Agni menunggu, menjadi berdebar-debar. Kedua prajurit itu merasa, seakan-akan merekalah yang menyebabkan Mahisa Agni itu kembali ke Panawijen. Kalau anak muda itu benar-benar diperlukan, maka mereka pasti akan mendapat marah dari Akuwu Tunggul Ametung.
“Sial benar kita kali ini,“ desis salah seorang daripada mereka, “kalau saja kita tidak bertugas menyalakan lampu-lampu sambil meronda keliling, kita tidak akan menemui soal yang menggelisahkan ini.”
Kawannya tidak menjawab. Tetapi debar jantungnya tidak kalah cepatnya dengan kawannya yang lain. Ketika ketiga orang, kedua prajurit dan emban tua telah sampai di regol pertama, maka dengan serta merta terdengar emban tua itu bertanya,
“Dimanakah Mahisa Agni? Apakah kalian melihatnya?”
Sesaat para penjaga regol itu saling berpandangan. Kemudian prajurit yang membawa Agni ke regol ini menjawab, “Aku melihat tuan Mahisa Agni itu. Kini ia telah kembali ke Panawijen.”
“He,“ suara itu meledak bersama-sama dari ketiga orang yang baru datang, “kenapa tidak kalian cegah?”
“Kami telah mencobanya,“ sahut pemimpin penjaga, “tetapi ia tetap pada pendiriannya. Menurut pesannya anak muda itu telah jemu menunggu.”
“Oh,“ desis emban tua itu sambil menekan dadanya. Nafasnya tiba-tiba menjadi semakin cepat mengalir, “Agni. Agni. Bukan main. Hati yang telah lapuk ini masih juga kau lukai. Oh, alangkah besar dosa yang aku tanggungkan,“ perempuan itu mengeluh. Namun keluhan di hatinya jauh lebih pedih dari yang diucapkannya, seolah-olah Agni sengaja menyakiti hatinya, “Hem,“ perempuan tua itu menarik nafas panjang, “Salahku,“ keluhnya di dalam hati, “anak itu tidak pernah merasakan betapa kasih sayang seorang ibu mengusap keningnya. Bagaimana ia kini harus mencintai ibunya? Apalagi mematuhi permintaannya? Bukan salah Mahisa Agni. Permintaanku terlalu berat, sedang aku belum pernah memberinya sesuatu.”
Sesaat regol itu menjadi sepi. Masing-masing tenggelam dalam angan-angannya. Namun wajah-wajah mereka kini benar-benar membayangkan kegelisahan hati. Sejenak kemudian emban tua itu berkata kepada kedua prajurit yang mengantarnya ke Panawijen,
“Bagaimana?”
“Terserah kepada bibi,“ sahut keduanya.
Sekali lagi emban tua itu mengeluh, katanya, “Apakah yang harus aku katakan kepada Tuanku Akuwu?”
Semuanya masih terbungkam. Dan semuanya masih juga berdebar-debar. Sementara itu terdengar emban itu berkata, “Akuwu sendiri telah menyambutnya di ruang dalam. Dengan tergesa-gesa beliau berkemas sehabis makan malam. Tetapi anak itu telah pergi.”
Yang mendengar keterangan itu menjadi semakin berdebar-debar. Demikian pentingnyakah anak muda itu sehingga Akuwu sendiri akan menyambutnya di ruang dalam?.
Karena itu maka salah seorang dari mereka berkata, “Bibi emban, apakah sebaiknya kami salah seorang atau dua orang pergi menyusulnya?”
Emban itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menggeleng sambil berkata, “Jangan.”
“Kenapa? Bukankah kami akan dapat membawanya kemari, menghadap Akuwu Tunggul Ametung.”
“Anak itu keras hati. Mungkin ia tidak akan bersedia kembali.”
“Kalau memang perlu sekali, kami akan mencoba memaksanya.”
Sekali lagi emban itu menggeleng. Emban yang sudah mengenal Mahisa Agni itu dengan baik berkata di dalam hatinya, “Jangankan satu atau dua orang. Empat orang penjaga bersama empat orang prajurit yang lain itu pun tak akan dapat memaksanya dengan kekerasan. Bahkan apabila kemudian Mahisa Agni menjadi marah dan menjadi gelap hati, maka ia akan dapat membuat cedera beberapa diantara para prajurit itu. Dengan demikian maka anak itu akan terjerumus ke dalam kesulitan yang lebih dalam.”
Namun yang terloncat dari mulutnya adalah, “Akulah yang bersalah. Aku memang membiarkan anak muda itu terlampau lama menunggu.”
“Lalu apakah yang akan bibi kerjakan?”
Emban itu terdiam sesaat. Namun sesaat itu telah ditemukannya sikap atas peristiwa kembalinya Mahisa Agni ke Panawijen.
“Biarlah aku mempertanggung jawabkannya,“ katanya di dalam hati.
Ternyata perempuan tua itu telah menimpakan semua kesalahan pada dirinya sendiri. Karena itu ia telah bertekad untuk melindungi anaknya. Satu-satunya anaknya. Lebih baik semua kesalahan dibebankan kepadanya dari pada harus menyentuh anaknya itu.
“Kita menghadap Akuwu,“ berkata emban itu kemudian.
“Tanpa Mahisa Agni?” bertanya kedua prajurit yang mengantarkannya ke Panawijen.
Perempuan itu menggeleng, “Mahisa Agni telah pergi.”
Kedua prajurit itu tidak menjawab. Mereka kemudian berjalan di belakang perempuan itu sambil menundukkan wajahnya. Mereka sudah membayangkan apa yang akan terjadi di ruang dalam. Akuwu adalah seorang yang aneh. Seorang yang dapat bertindak menurut kehendaknya sendiri. Hampir dalam sekejap Akuwu dapat berbuat hal-hal diluar dugaan. Karena itu, semakin berdebar-debar.
Sementara itu Akuwu ternyata telah memanggil Ken Dedes pula untuk datang ke ruang dalam. Akuwu itu menjadi sangat gembira ketika ia mendengar Mahisa Agni telah bersedia datang. Selain ia akan dapat bertemu dengan salah seorang keluarga Ken Dedes, sehingga jalan yang ditempuhnya tidak akan terasa terlampau kasar dan melanggar adat, juga Akuwu menganggap bahwa apabila Mahisa Agni bersedia, maka ia akan dapat memperkuat kesatuan pengawal istana di samping Witantra, setelah ia melihat sendiri, betapa anak muda itu mampu bertempur melawan Ken Arok dengan baik.
Sebagai seorang Akuwu maka kepentingannya dengan Mahisa Agni langsung tersangkut dengan kepentingan kedudukannya. Telah terbayangkan olehnya, bahwa di samping Witantra, pasukan pengawal istana akan diperkuat dengan Ken Arok yang akan dipindahkannya dari seorang pelayan dalam langsung ke dalam lingkungan keprajuritan, dan Mahisa Agni.
Dalam kesempatan inilah Akuwu akan memanfaatkan pertemuannya dengan Mahisa Agni. Yang pertama, dengan resmi minta supaya keluarga Ken Dedes tidak merasa tersinggung dengan caranya mengambil Ken Dedes, dalam hal ini akan dicobanya untuk menjelaskan, bahwa sebenarnya Akuwu Tunggul Ametung pada waktu itu terseret oleh ketamakan Kuda Sempana, dan yang kedua akan ditawarkan kepada Mahisa Agni sebuah kedudukan yang cukup baik di bawah pimpinan Witantra bersama-sama dengan Ken Arok, setelah Akuwu menerima Kebo Ijo masuk pula ke dalam lingkungau itu.
Sesaat kemudian Akuwu Tunggul Ametung lah yang menjadi gelisah menunggu di serambi di muka biliknya. Belum ada seorang pun yang datang kepadanya dan memberitahukan, bahwa Mahisa Agni telah menunggunya di ruang dalam, sekali Akuwu Tunggul Ametung itu berdiri, dan sesaat kemudian ia pun terhenyak duduk di atas sebuah tempat duduk yang rendah. Sekali-sekali dipandanginya pintu ke ruang di sebelah, namun belum juga seorang emban pun yang datang kepadanya.
“Gila,“ gumannya, “apakah aku dibiarkan jemu menunggu disini?”
Tetapi ketika teringat olehnya, gadis bakal permaisurinya, maka ia mencoba menekan perasaannya. Kembali ia duduk sambil membelai kumisnya, namun ia menjadi gelisah kembali, seperti nyala pelita minyak yang tergantung pada dinding papan tertiup angin yang silir.
“Heh,“ Akuwu itu mengeluh, “terlalu lama.”
Akhirnya Akuwu itu tidak sabar lagi. Hampir saja ia berteriak memanggil pelayannya yang duduk di atas tangga serambi, namun niatnya itu diurungkannya ketika ia mendengar beberapa langkah mendekatinya.
“Ha,“ Akuwu itu tersenyum, “agaknya anak muda itu telah datang dan menunggu aku di ruang dalam.”
Tunggul Ametung kemudian berdiri. Sekali lagi ia membelai kumisnya, lalu berjalan perlahan-lahan mendekati pintu. Tetapi ia menjadi terkejut ketika ia melihat, yang datang kepadanya, di serambi sebelah adalah emban tua, dua orang prajurit, dan yang lebih mengejutkan lagi, Ken Dedes beserta dengan mereka pula.
“He,“ teriak Akuwu kepada seorang pelayan yang mengantar mereka, “kenapa kalian datang kemari?” Pelayan itu menjadi bingung. “Kenapa,“ bentak Akuwu pula.
“Bibi dan tuanku puteri minta aku membawa kemari.”
Akuwu mengerutkan keningnya, kemudian katanya, “Masuk ke ruang dalam. Di sana aku akan menemui kalian.”
Dada emban tua itu menjadi semakin cepat bergetar. Namun Kembali ia membulatkan niatnya untuk memikul semua kesalahan di atas pundaknya. Karena itu maka segera, setelah mereka itu bersimpuh duduk di lantai diluar pintu menyembah sambil berkata,
“Ampun tuanku. Hamba ingin memberitahukan sesuatu ke bawah duli tuanku.”
Tunggul Ametung mengerinyitkan alisnya, “Apa?” ia bertanya.
“Tentang anak muda yang bernama Mahisa Agni.”
“Ke ruang dalam,“ berkata Akuwu lantang. Seandainya tidak ada Ken Dedes pada saat itu, pasti ia sudah berteriak keras sekali.
“Hamba tuanku, tetapi apa yang hamba katakan semula ternyata keliru.”
“He,“ kini Tanggul Ametung benar-benar berteriak sambil membelalakkan matanya, “apa yang keliru?”
Bagaimanapun juga maka hati emban tua itu pun berdebar-debar pula. Ketika ia mencoba memandang wajah Akuwu, maka segera ia menundukkan kepalanya. Dari sepasang matanya, seakan-akan memancar api yang menyala dari dadanya. Karena emban tua itu tidak segera menjawab, maka sekali lagi Akuwu itu membentak keras-keras,
“Apa yang keliru he, apa?”
“Ampun tuanku,“ emban tua itu menyembah. Dicobanya mengatur hatinya supaya ia mampu mengatakannya dengan jelas, “hamba bertiga telah benar-benar datang bersama Mahisa Agni ke istana ini.”
“Sudah kau katakan, sudah kau katakan,“ potong Akuwu Tunggul Ametung, “aku tidak menyangkal. Lalu kau katakan bahwa apa yang kau katakan itu keliru.”
Debar di dada emban tua itu menjadi semakin keras. Wajahnya yang tunduk menjadi semakin tunduk. Dengan nafas yang terengah-engah ia berkata, “Ampun tuanku. Sebenarnyalah demikian. Aku telah terlampau lama membiarkan anak itu menunggu diluar regol. Aku tidak berpesan supaya ia tetap menunggu hamba meskipun lama, sehingga anak itu kini telah kembali ke Panawijen.”
Wajah Akuwu Tunggul Ametung benar-benar telah membara. Dadanya seolah-olah pecah mendengar keterangan itu. Namun justru karena itu, maka Akuwu itu seperti terbungkam. Yang terdengar hanyalah gemeretak giginya beradu. Sesaat ruangan itu menjadi sunyi. Mereka saling berdiam diri dalam keadaan yang berbeda-beda. Akuwu terdiam justru karena kemarahan menghentak-hentak dadanya, sedang orang-orang yang lain menundukkan wajahnya karena ketakutan.
Tetapi emban tua itu, setelah kata-kata yang seakan-akan menyumbat kerongkongannya itu terloncat keluar, maka hatinya kini justru menjadi bertambah tenang, sehingga karena itu, sehingga ia dapat mempergunakan pikirannya kembali. Bagaimana ia dapat melepaskan Mahisa Agni dari kesalahan. Maka dengan penuh kesungguhan untuk kepentingan anaknya, emban tua itu berkata,
“Namun tuanku, bukan salah anak muda itu. Akulah yang salah berpesan kepadanya. Aku minta ia menunggu di regol, tetapi kalau aku terlalu lama tidak kembali, berarti ia tidak mendapat ijin untuk menghadap. Karena itu ia dapat pulang kembali ke Panawijen untuk lain kali menghadap kembali.”
Akuwu memandangi wajah emban tua yang tunduk itu dengan mata yang menyala-nyala. Betapa kemarahan menghentak-hentak dadanya sehingga seakan-akan dadanya itu akan meledak. Dengan gemetar Akuwu Tunggul Ametung berkata terpatah-patah justru karena kemarahannya,
“Jadi Mahisa Agni itu telah kembali?”
“Hamba tuanku?”
“Hanya karena terlalu lama menunggu?”
“Hamba tuanku.”
“Dan kesalahan itu terletak padamu, karena kau sengaja berpesan kepadanya supaya ia pulang saja kalau terlampau lama menunggu diluar.”
“Hamba tuanku.”
“Gila,“ teriak Akuwu, “kau sudah gila dan Mahisa Agni sudah gila pula. Kenapa ia tidak mau menunggu hanya selama aku makan? Akulah Akuwu Tumapel. Semua orang harus menuggu perintahku. Jangankan selama aku makan, sehari ia harus menunggu, seminggu, sebulan, bahkan aku dapat memaksanya menunggu bertahun-tahun dan selama hidupnya.”
Desir di dada emban tua itu menjadi semakin tajam. Tetapi tekadnya benar-benar telah bulat. Agni tidak bersalah.
“Kenapa anak itu tidak mau menunggu aku selesai makan, kenapa? Apakah disangkanya bahwa ia berhak memutuskan waktuku, apa saja yang sedang aku kerjakan? Itu adalah perbuatan gila. Aku tidak dapat memaafkannya lagi. Beberapa waktu yang lampau aku telah dihinakannya dengan menolak perintahku menghadap ke istana. Sekarang ia menghina aku lagi dengan cara lain.”
“Bukan salahnya tuanku,“ potong emban tua itu, “bukan salah Mahisa Agni. Hambalah yang salah. Pesan hambalah yang keliru. Hamba sangka Tuanku belum pasti dapat mengijinkan anak itu, sehingga hamba berpesan demikian.”
“Itu adalah sangkamu saja bukan?“ teriak Akuwu semakin keras, “tetapi ketika telingamu sudah mendengar, bahwa aku sedang bersantap, bukankah mulutmu dapat mengatakannya kepada anak muda itu supaya ia menunggu?”
“Hamba tuanku. Itulah kesalahan hamba.”
“Tutup mulutmu,“ teriak Akuwu itu pula, sehingga seolah-olah dinding-dinding ruangan itu turut bergetar. “sekali kau membuka mulutmu, aku sumbat mulutmu dengan tumitku.”
Emban tua itu terdiam. Ia tidak berani berkata sepatah kata pun lagi. Meskipun demikian ia masih tetap dalam tekadnya, melindungi anaknya dan mengambil segala kesalahan di pundaknya.
Kedua prajurit yang ikut menghadap saat itu, sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya. Wajah yang keras karena pekerjaan berat, terik matahari di siang hari dan tetesan embun dimalam hari, kini terhujam dalam-dalam. Debar dada mereka terasa menjadi semakin cepat dan keras, serasa jantung mereka akan pecah menahan arus darah mereka yang seolah-olah semakin kencang. Namun meskipun demikian, kedua prajurit itu tidak habisnya menjadi heran. Kenapa emban itu meletakkan kesalahan pada dirinya. Kedua prajurit itu melihat dan mendengar apa yang dipesankan oleh emban tua itu kepada Mahisa Agni. Kedua prajurit itu mendengar dengan telinganya bahwa Mahisa Agni memang telah mengancam sebelumnya, bahwa ia akan kembali ke Panawijen apabila ia harus terlalu lama menunggu diluar regol. Ternyata anak muda itu benar-benar kembali. Tetapi tiba-tiba emban itu membebankan kesalahan itu kepada dirinya.
Dalam pada itu terdengar kata-kata lantang dari Akuwu yang sedang marah itu, kali ini tidak terpatah-patah lagi, tetapi mengalir seperti banjir, “He, emban tua. Kalau bukan karena kesanggupanmu membawa anak itu kemari, maka aku pasti sudah memerintahkan menangkapnya dan membawa kemari dengan paksa. Aku dapat berbuat apa saja di Tumapel ini tanpa persetujuannya. Apalagi Ken Dedes telah menyatakan perasaan. Sebagai seorang gadis yang telah dewasa, ia bukan lagi sebuah golek kayu yang hanya dapat mendengarkan pendapat orang lain. Bahkan seandainya keluarganya tidak dapat membenarkan, aku dapat juga mempergunakan cara seperti yang dilakukan Kuda Sempana, melarikannya. Bahkan aku dapat mempergunakan kekuasaanku sebagai seorang Akuwu.
Tetapi aku mencoba mencari jalan lain. Jalan yang sebaik-baiknya. Jalan yang lumrah, yang dapat ditempuh tanpa menimbulkan geseran perasaan. Tetapi kemauanku yang baik itu telah dihinakannya. Dianggapnya aku terlampau lemah dan tidak sanggup berbuat lebih baik dari apa yang aku kerjakan. Dan sekarang aku tidak dapat memaafkannya lagi. Aku juga tidak dapat memaafkanmu. Kau juga telah menghinaku. Bahkan Kaulah sumber dari kesalahan itu setelah kau mencoba memperbaiki kesalahan Mahisa Agni.”
Emban tua itu tidak menjawab. Kepalanya menjadi semakin tunduk. Namun emban tua itu sama sekali sudah tidak gelisah lagi. Justru ia menjadi tenang. Ia bergembira karena sebagian terbesar kesalahan itu telah dituduhkan kepadanya, ialah sumber kesalahan itu. Setiap hukuman yang aku terima, adalah cara sebaiknya untuk mengurangi tali yang membelenggu diriku selama ini. Dengan demikian barulah aku seorang ibu bagi anakku itu. Seorang ibu yang dapat memberinya sesuatu, katanya di dalam hati, “bukankah selama ini aku belum pernah berbuat sesuatu atas anakku itu,“ kata-kata itu selalu berulang-ulang bergema di dalam dadanya. Kenangan masa lampaunya setiap saat tumbuh dan berkembang di dalam angan-angannya. Dan emban tua itu dengan demikian selalu dikejar oleh perasaan bersalah.
Akuwu yang marah itu seolah-olah menjadi kian marah Kata-katanya masih membanjir terus, “Kini, aku harus segera mengambil sikap. Baik kepadamu, he emban yang bodoh, mau pun kepada Mahisa Agni. Tetapi kaulah yang harus menerima hukuman yang terberat. Mahisa Agni telah bersedia datang, tetapi karena kebodohanmu maka anak itu pergi. Aku sudah tidak dapat memberimu kesempatan lagi.”
Tiba-tiba emban tua itu mengangkat wajahnya. Wajah yang sayu dipenuhi oleh berbagai derita hidup yang pernah dialaminya. Dengan tenang dipandanginya wajah Akuwu Tunggul Ametung yang bagaikan bara yang sedang menyala itu. Tetapi sesaat kemudian Akuwu Tunggul Ametung itu justru berpaling. Dengan serta merta ia berdiri dan melangkah beberapa langkah menjauhi orang-orang yang menghadapnya. Dengan gemetar Akuwu Tunggul Ametung berdiri membelakangi mereka.
Seandainya pada saat itu tidak ada Ken Dedes diantara mereka, maka tingkah laku Akuwu Tunggul Ametung pasti sudah tidak terkekang lagi. Mungkin ia berteriak-teriak memanggil beberapa orang prajurit dan memerintahkannya agar emban itu disekap dalam tahanan, atau mendapat hukuman-hukuman lain yang berat. Tetapi demikian besar pengaruh kehadiran Ken Dedes itu sehingga Akuwu Tunggul Ametung masih mencoba untuk menekan perasaannya meskipun dadanya serasa akan meledak.
Tiba-tiba sambil membelakangi mereka, Akuwu itu berkata dengan suara bergetar, “Aku tidak akan memerintahkan menangkap Mahisa Agni dan memaksanya membawa kemari. Aku sudah tidak memerlukannya lagi. Kalian berdua akan dibuang dari telatah Tumapel ke dalam hutan. Itu adalah hukuman yang paling ringan yang dapat aku berikan kepada kalian.”
Emban tua itu menyembah meskipun Akuwu Tunggul Ametung tidak melihatnya. Dengan tenang ia menjawab, “Hamba menyatakan terima kasih hamba tiada taranya atas kemurahan tuanku. Namun sebenarnyalah Mahisa Agni tidak bersalah. Biarlah hamba menerima hukuman hamba dua kali lipat ganda, asal tuanku sudi mempertimbangkan hukuman yang tuanku berikan kepada Mahisa Agni.”
“Tutup mulutmu,“ kembali Tunggul Ametung itu berteriak sambil memutar tubuhnya. Hampir saja ia meloncat dan menampar mulut perempuan yang berani menjawab kata-katanya, “akulah Akuwu Tumapel. Bukan kau. Akulah yang menentukan hukuman itu. Bukan kau. Kau dengar He?”
Emban tua itu tidak menjawab. Kini kembali wajahnya menghunjam ke tanah. Tetapi ia masih tetap dalam ketenangan. Akuwu yang marah menjadi kian marah. Tubuhnya bergetar seperti orang yang menggigil kedinginan. Wajah merah membara dan kakinya menghentak-hentak lantai.
“Besuk sebelum ayam jantan berkokok untuk yang terakhir kalinya, kalian harus sudah tidak berada di dalam wilayahku. Kalau aku masih melihat kalian di daerah ini, maka kalian akan mendapat hukuman mati. Kau dengar?”
Emban tua itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan demikian berarti malam ini ia harus meninggalkan Tumapel menuju ke Panawijen dan membawa Mahisa Agni meninggalkan Panawijen, sebab Panawijen pun masih termasuk daerah Tumapel. Dada emban tua itu menjadi berdebar-debar. Baginya hukuman itu sama sekali tidak terlalu berat. Ia dapat berada dimana saja. Tetapi anaknya adalah tunas yang menghadap ke hari depan yang panjang. Kecuali untuk dirinya sendiri lalu bagaimanakah dengan bendungan yang akan dibangun itu? Padang Karautan pun termasuk daerah Tumapel pula, sehingga Mahisa Agni pasti tidak akan dapat membangun bendungan di daerah itu.
Dalam pada itu terdengar perintah Akuwu itu kembali kepada kedua orang prajurit yang semula mengantarkan perempuan tua itu menjemput Mahisa Agni, “He kedua prajurit yang bodoh pula. Karena kau tersangkut pula dalam kebodohan ini, maka untuk menyingkirkan kedua orang yang menghina Akuwu Tunggul Ametung dari Tumapel ini adalah kuwajibanmu. Kuwajiban itu harus selesai sebelum ayam jantan berkokok menjelang fajar. Kalian harus sudah melaporkan pelaksanaan perintah ini sebelum tengah hari, kau dengar?”
Kedua prajurit itu menyembah sambil membungkuk dalam-dalam. Mereka sudah tahu benar sifat-sifat Akuwunya, sehingga mereka sama sekali tidak berani mengucapkan sepatah kata pun. Dalam keadaan yang demikian, maka mereka hanya dapat menyembah dan membungkuk dalam-dalam. Melakukan apa yang diperintahkan kepadanya dan melaporkan hasilnya. Kini mereka mendapat perintah untuk menyingkirkan emban tua itu bersama Mahisa Agni dari wilayah Tumapel. Untuk itu mereka harus menyembah dan siap melakukannya.
Ruangan itu sesaat menjadi sunyi. Tak seorang pun yang berani mengucapkan sepatah katapun. Semuanya menundukkan wajahnya dalam-dalam pula. Baru sejenak kemudian terdengar Akuwu itu membentak keras-keras,
“Ayo pergi. Apa yang kalian tunggu disini? Pergi dari halaman istana dan pergi dari Tumapel. Kalian orang yang tidak pantas tinggal di daerah kekuasaanku. Kalau kalian berada di Tumapel kembali, maka kalian adalah orang buruan.”
Emban yang telah bersedia menghadapi segala bentuk hukuman itu sama sekali tidak menjadi cemas tentang dirinya sendiri, tetapi yang digelisahkan adalah Mahisa Agni beserta rencana yang telah disiapkannya. Namun ia tidak sempat untuk berpikir saat itu. Sekali lagi ia mendengar Akuwu Tumapel membentak,
“Pergi, pergi sebelum aku memaksamu pergi.”
Emban tua itu menyembah kembali. Ketika kemudian ia berpaling kepada kedua prajurit yang bertugas menyingkirkannya, ia melihat kedua prajurit itu masih juga ragu-ragu. Meskipun demikian kedua prajurit itu pun menyembah sambil berkata,
“Hamba akan menjalankan perintah tuanku.”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar