MENU

Ads

Selasa, 24 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 077

Kemudian kepada emban tua, kedua prajurit itu berkata dengan bimbang, “Marilah bibi, aku harus menjalankan perintah tuanku Akuwu.”

Emban tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajahnya sama sekali tidak dibebani oleh perasaan takut, cemas dan pedih. Apa yang harus dilakukan itu dihadapinya dengan penuh ketabahan seorang yang telah mengendapkan hatinya. Tetapi ketika emban tua itu bergerak sambil berbisik kepada Ken Dedes,

“Sudahlah Nini. Tinggallah disini. Semoga kau bahagia untuk seterusnya.“

Maka gadis itu pun tak dapat menahan perasaannya. Emban itu adalah pemomongnya. Pemomongnya sejak ia masih kanak-kanak. Pemomongnya yang seakan-akan telah menggantikan ibunya yang hampir-hampir belum pernah dikenalnya. Emban itu adalah seorang perempuan tua yang sangat baik baginya. Yang mendukung pada saat ia masih seorang anak-anak, menyuapinya dan membelainya menjelang tidur. Melagukan tembang yang sejuk dan berceritera tentang burung podang yang berdendang di pupus pisang dalam ceritera Kiranya pada masa yang baru saja silam.

Kini ia melihat perempuan itu mendapat bencana karena usahanya untuk melapangkan jalannya menuju ke tempat yang tak pernah diimpikan di saat kanak-kanaknya, bahkan sampai saat terakhir sebelum ia berada di istana in pun, Ken Dedes tidak pernah membayangkan bahwa suatu ketika ia akan menjadi seorang permaisuri Akuwu Tumapel. Karena itulah maka betapa perasaannya tidak rela melihat embannya harus meninggalkan istana, bahkan meninggalkan Tumapel dalam buangan. Merantau dari satu tempat ke lain tempat. Berjalan terbongkok-bongkok karena umurnya yang telah menjadi semakin tua tanpa tempat untuk hinggap. Siang hari kepalanya akan dibakar oleh terik matahari, sedang di malam hari, kulitnya yang telah berkeriput akan digigit oleh dinginnya embun malam.

Ken Dedes yang dilanda oleh luapan keharuan itu tiba-tiba menangis sambil memeluk emban tua itu. Terdengarlah suaranya terbata-bata, “Bibi, aku ikut kau bibi. Tak ada tempat yang paling baik bagiku daripada kelembutan pelukanmu.”

“Jangan puteri,“ jawab emban itu cepat-cepat, “jangan. Kau telah menemukan tempat berpijak yang mantap. Ayahmu adalah seorang yang baik dan tekun dalam pengabdiannya kepada yang Maha Agung serta kepada sesama. Kini kurnia telah melimpah kepadanya, lewat puterinya yang tunggal.”

“Tidak. Tidak bibi. Aku tidak dapat hidup dalam kesepian. Aku tidak dapat terpisah dari orang-orang yang baik kepadaku. Bibi dan kakang Mahisa Agni. Kalau kalian berdua hidup dalam pembuangan, apakah aku dapat hidup tenteram di dalam istana ini.”

“Nini,“ potong emban tua itu, “jangan seperti kanak-kanak lagi. Kau sudah dewasa. Pandanglah ke depan. Hari-hari yang mendatang masih panjang.”

“Tidak bibi, tidak,“ Ken Dedes itu menangis semakin keras. Pelukannya pun menjadi semakin kuat.

Dalam pada itu Akuwu Tumapel yang sedang marah, berdiri tegak dihadapan mereka seperti patung. Betapa keras hatinya, sekeras batu akik, namun ketika ia melihat Ken Dedes menangis memeluk emban tua yang dianggapnya berdosa itu pun hatinya menjadi luluh. Sepanjang hidupnya, sejak ia menjadi Akuwu Tumapel, ia hanya bergaul dengan para prajurit dan para pimpinan pemerintahan. Berlatih dalam olah keprajuritan, jaya kawijayan dan kanuragan. Berbicara tentang Tumapel dan apabila ia jemu menghadapi suatu keadaan, maka segera ia membawa beberapa orangnya keluar istana, pergi berburu. Itulah sebabnya, maka Akuwu Tunggul Ametung jauh dari pengenalan watak seorang perempuan. Karena itu, ketika ia melihat seorang gadis menangis dihadapannya, maka ia menjadi bingung. Kemarahannya yang telah memuncak, tiba-tiba seperti dihanyutkan oleh arus air mata Ken Dedes.

Terdengar Tunggul Ametung itu menggeram perlahan-lahan. Gadis itu tidak boleh berduka. Gadis yang telah menjerat hatinya, bukan saja karena wajahnya dan tubuhnya, namun juga terasa seakan-akan gadis itu memiliki sesuatu yang dikurniakan oleh Yang Maha Agung. Ketika seakan-akan ia melihat sinar yang memancar dari jantung gadis itu telah terbersit di hatinya, gadis ini adalah gadis pilihan untuk melaksanakan sesuatu maksud dari Yang Maha Agung bagi tanah tempat kelahirannya.

Dalam kebingungan itu, Akuwu masih mendengar emban Ken Dedes itu berkata, “Nini, jangan dihanyutkan oleh perasaan kekanak-kanakan. Kau harus melihat kepentingan yang lebih besar. Kepentingan yang jauh lebih berharga dari perempuan tua ini.”

“Tidak, tidak,“ Ken Dedes masih menangis. Ia seakan-akan sudah tidak dapat mendengar apapun lagi. Hatinya meronta melihat peristiwa yang menggores perasaannya itu.

Emban tua itu pun menjadi bingung. Tangis momongannya telah menyentuh perasaan harunya pula. Ternyata gadis itu adalah gadis yang dapat menghargai sikap orang lain kepadanya. Menghargai apa yang pernah dilakukannya. Namun karena itu, maka ia pun terdiam pula. Bahkan terasa sesuatu memanasi kerongkongannya. Kembali ruangan itu menjadi sepi. Tangis Ken Dedes lah yang seolah-olah memenuhi ruangan. Tangis yang tulus, yang memancar dari dasar hatinya.

“Hem,“ sekali lagi terdengar Tunggul Ametung menggeram perlahan-lahan.

Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia tidak tahu, bagaimana ia harus menghibur Ken Dedes supaya ia tidak menangis lagi. Karena itu, yang dapat dilakukan adalah berjalan mondar mandir sambil berdesah berkali-kali.

Kedua prajurit yang duduk di belakang emban tua itu pun menjadi bingung. Sejak semula mereka telah ragu-ragu untuk melakukan perintah Akuwu. Mereka sama sekali tidak dapat mengerti, kenapa emban tua itu telah menyalahkan dirinya sendiri, dan bahkan dengan tabah dan tenang mendengarkan hukuman yang harus dijalankan. Apalagi kini ia melihat puteri bakal permaisuri Akuwu itu menangis memeluknya dan bahkan seolah-olah hukuman yang diberikan kepada perempuan tua itu harus diberikan kepada dirinya pula.

Orang-orang yang duduk di dalam ruangan itu, benar-benar telah dicengkam oleh kebingungan. Kebingungan menghadapi persoalan masing-masing. Persoalan yang berbeda-beda, namun mempunyai titik singgungan yang sama. Bahkan pelayan yang telah membawa mereka menghadap pun duduk dengan mulut ternganga sehingga ia menjadi kehilangan kesempatan untuk menanggapi peristiwa itu dengan kesadarannya.

Akuwu yang berjalan mondar-mandir masih saja berjalan mondar-mandir dengan gelisahnya. Sekali-sekali ia berhenti, berpaling memandangi Ken Dedes yang masih menangis, namun kemudian kembali ia menundukkan kepalanya sambil menarik nafas dalam-dalam. Persoalan yang dihadapi saat ini baginya terasa jauh lebih berat, dari pada ia harus menghadapi musuh yang datang dengan prajurit segelar sepapan.



Kesepian yang tegang, tangis Ken Dedes dan desah nafas perempuan itu, terasa sangat menyesakkan nafas Akuwu Tunggul Ametung. Bahkan kemudian kepalanya terasa menjadi pening, dan kemudian kehilangan akal untuk mengatasi keadaan. Tangis Ken Dedes lah yang semakin lama menjadi kian surut. Gadis itu kemudian mencoba menenangkan hatinya, ketika dengan lembut pemomongnya berkata,

“Jangan menangis putri. Kau bukan lagi seorang anak kecil yang hanya pandai menangis. Aku sekarang sudah tidak kuat lagi mendukungmu sambil berdendang kidung yang luruh supaya kau tertidur. Aku tidak lagi dapat membelai rambutmu sambil berceritera tentang seekor kancil yang cerdik. Ceritera untukmu kini harus sudah berbeda nini. Ceritera yang baik bagimu adalah ceritera tentang Arjuna dan Sumbadra. Dan aku tidak akan mampu menceriterakan kepadamu. Karena itu, jangan menangis. Angkatlah wajahmu. Pandang hari depan dengan penuh gairah untuk menyongsongnya.”

Tangis Ken Dedes kemudian benar-benar mereda. Gadis itu benar-benar mengangkat wajahnya. Tetapi ia tidak memandang hari depannya dalam lingkungan yang sempit. Peristiwa yang telah terjadi atasnya, benar-benar telah membentuknya menjadi dewasa. Karena itu tiba-tiba timbullah pikiran di dalam hatinya,

“Akulah yang akan menemui kakang Mahisa Agni.”

Pikiran itu kemudian membulat di dalam hatinya. Dengan tatag kemudian ia menyembah sambil berkata kepada Akuwu Tunggul Ametung, “Ampun tuanku, apakah hamba diperkenankan untuk menyampaikan perasaan hamba?”

Tunggul Ametung terkejut mendengar suara Ken Dedes. Gadis itu kini sudah tidak menangis lagi, meskipun sekali-sekali tangannya masih sibuk mengusap air matanya.

“Berkatalah,” sahut Tunggul Ametung sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kepalanya itu masih terasa pening. Gadis itu sudah tidak menangis dengan sendirinya, sebelum ia dapat berbuat sesuatu untuk menenangkannya.

“Tuanku, yang pertama-tama hamba mohon maaf bagi bibi emban dan kakang Mahisa Agni.”

Dahi Tunggul Ametung berkerut. Ia harus mempertimbangkan kembali keputusannya. Terasa dadanya bergetar. Untuk pertama kali ia mendapat tekanan dari seseorang dalam pertimbangannya untuk menjatuhkan hukuman. Meskipun pada saat ia mengucapkan hukuman terhadap emban tua serta Mahisa Agni telah memerlukan suatu perjuangan di dalam dadanya, supaya ia sedikit dapat mengendalikan dirinya, namun kini tekanan itu menjadi sangat sulit untuk dihindarkan. Hukuman yang sudah terlampau ringan itu masih harus di pertimbangkannya kembali.

Tetapi permohonan itu dilontarkan lewat mulut Ken Dedes. Apalagi permohonan ampun bagi seorang emban tua dan Mahisa Agni, bahkan apapun yang akan dimintanya, Akuwu itu pasti tidak akan kuasa menolaknya. Tetapi ia adalah seorang Akuwu Tumapel. Dihadapannya duduk bersimpuh beberapa orang dan dua orang prajurit. Karena itu, maka bagaimanapun juga, namun ia masih harus tetap mempertahankan kewibawaan seorang Akuwu.

Karena itu, maka untuk tidak melepaskan kekuasaan yang ada di tangannya, maka Akuwu itu berkata, “Kenapa kau mohon ampun untuk mereka itu Ken Dedes? Aku telah menjatuhkan hukuman atas mereka, karena mereka telah menghina Akuwu Tunggul Ametung. Apakah pertimbanganmu tentang itu?”

Sikap Ken Dedes pun kemudian benar-benar mengagumkan. Meskipun ia tetap dalam sikap yang sangat hormat, sambil menyembah ia berkata, “Tuanku, kesalahan yang mereka lakukan sama sekali tidak mereka sengaja. Mereka sama sekali tidak ingin menghina Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi keadaan telah mendorong mereka, sehingga mereka mengabaikan perintah dan keinginan Akuwu. Kesalahan yang demikian menurut pendapat hamba, bukanlah kesalahan yang harus mendapat hukuman. Tetapi kesalahan yang demikian, adalah kesalahan yang terjadi bukan atas kehendak mereka sendiri.”

“Tidak,“ sahut Akuwu Tunggul Ametung, “mereka tetap bersalah. Mahisa Agni telah menolak mewakili ayahmu dan telah menolak datang ke Tumapel beberapa waktu yang lampau. Bukankah itu suatu sikap yang menentang?”

“Tuanku,“ jawab Ken Dedes, “tuanku tidak dapat mengerti hubungan yang ada antara hamba dan kakang Mahisa Agni. Hamba adalah saudara muda, sehingga memang kurang pantaslah apabila hamba memanggil kakang Mahisa Agni. Menurut sopan santun keluarga, hambalah yang harus datang kepadanya.”

“Tetapi kedudukanmu dapat kau pergunakan sebagai alasan untuk memanggilnya. Kau adalah bakal permaisuri Tumapel.”

“Kedudukan itu datang kemudian. Tetapi susunan keluargaku itu sudah ada sejak aku lahir. Karena itu tuanku, hamba mohon ijin sekali untuk menemui kakang Mahisa Agni. Apabila hamba dapat bertemu, maka semuanya akan menjadi baik. Tidak ada sedikit pun geseran perasaan diantara kita. Hamba, kakang Mahisa Agni dan tuanku, sehingga tuanku tidak perlu mempergunakan cara yang lain yang seolah-olah tuanku mempergunakan kekuasaan tuanku untuk kepentingan ini.”

Sekali lagi Tunggul Ametung itu berpikir. Ia tidak dapat menolak permohonan itu, tetapi ia harus bijaksana untuk meluluskannya. Karena itulah maka Akuwu Tunggul Ametung, yang biasanya berbuat apa saja sesuka hatinya, bahkan selalu menuruti perasaannya yang meledak-ledak setiap saat, kini harus mempertimbangkan perbuatannya.

Akhirnya Akuwu itu pun menemukan jawaban pula, katanya, “Ken Dedes. Meskipun kau belum seorang permaisuri, namun kau sudah aku anggap memiliki kesempatan seperti seorang permaisuri. Seorang permaisuri dapat mengajukan beberapa permohonan yang akan dipertimbangkan oleh Akuwu. Kalau saat ini kau mohon aku mengampuni emban tua serta Mahisa Agni, maka aku pun akan melakukannya, namun aku mempunyai syarat untuk itu.”

Sekilas wajah Ken Dedes menjadi cerah mendengar keputusan Akuwu Tunggul Ametung. Kalau benar Akuwu mengampuni mereka, maka emban tua itu tidak akan pergi dari sisinya, dan Mahisa Agni pun tidak akan lenyap dari keluarganya. Namun sesaat kemudian kening Ken Dedes berkerut kembali. Akuwu memberikan pengampunan, namun Akuwu mempunyai syarat untuk itu. Tetapi Ken Dedes tidak bertanya, apakah syarat yang di kehendaki oleh Tunggul Ametung. Ia menunggu sampai Akuwu itu mengatakannya.

Ternyata sejenak kemudian Akuwu Tunggul Ametung menyambung kata-katanya, “Ken Dedes. Syarat itu sama sekali tidak berarti. Aku ampuni kesalahan emban tua itu beserta Mahisa Agni, apabila Mahisa Agni bersedia datang menyelesaikan segala persoalan ini dan segera kita dapat memasuki suatu dunia baru tanpa kerikil-kerikil tajam dan batu-batu yang dapat menjadi hambatan-hambatan kecil bagi perasaan kita.”

Mendengar syarat yang diajukan oleh Tunggul Ametung itu Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Ia telah mendengar dari pemomongnya apa yang sebenarnya terjadi. Syarat itu sebenarnya sama sekali tidak terlampau berat. Syarat yang tidak berlebih-lebihan, bahkan hanyalah sekedar pelengkap dari pengampunan yang diberikan oleh Tunggul Ametung karena ia telah terlanjur menjatuhkan putusan untuk menghukum emban tua dan Mahisa Agni.

Tetapi bagi Ken Dedes dan pemomongnya, syarat itu benar-benar telah membebani perasaan mereka. Emban tua itu merasa, bahwa baginya sama sekali sudah tidak ada jalan lagi untuk dapat membawa Mahisa Agni ke Tumapel. Tidak ada gunanya lagi apabila ia datang dan dengan pengaruh seorang ibu, minta Mahisa Agni datang ke Tumapel menyelesaikan persoalan yang masih menyangkut perasaan Akuwu Tunggul Ametung sebelum ia mengambil keputusan untuk mengambil cara lain, cara yang kasar, dan cara yang tidak terpuji. Tanpa dikehendakinya sendiri emban tua itu menggeleng lemah, sedang Ken Dedes menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Aku minta syarat itu dipenuhi, seperti aku mencoba memenuhi permohonan pengampunan itu.”

Sejenak mereka kemudian terdiam. Mereka mencoba untuk menemukan jawab atas persoalan yang membelit hati masing-masing. Dalam keheningan itu maka tiba-tiba Ken Dedes mengangkat wajahnya. Dengan takjimnya ia menyembah sambil berkata,

“Tuanku. Biarlah hamba mencoba untuk memenuhi syarat yang tuanku berikan. Hamba mohon ijin, untuk pergi ke Panawijen menemui kakang Mahisa Agni.”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Bukan maksudku supaya kau menemui Mahisa Agni. Pembicaraan itu tidak hanya sekedar memuaskan perasaanmu saja, tetapi aku juga ingin mendengar dan mendapat ketenteraman dari pembicaraan itu.”

“Maka hamba tuanku,” sembah Ken Dedes, “hamba ingin mencoba membawa kakang Mahisa Agni kemari.”

Sekali lagi Akuwu itu berpikir sejenak. Sebenarnya ia tidak rela untuk melepaskan Ken Dedes itu pergi. Ken Dedes baginya seakan-akan barang yang paling berharga di muka bumi, sehingga apabila ia kehilangan gadis itu, maka hidupnya pasti akan menjadi terlampau sunyi. Karena itu Akuwu Tunggul Ametung tidak segera menjawab. Sebenarnya ia sangat berkeberatan untuk mengijinkannya, tetapi sekali lagi ia tidak ingin menyakitkan hati gadis itu. Sehingga dengan demikian, Akuwu itu kembali dihadapkan pada keragu-raguan.

Namun Akuwu itu tidak dapat menduga, bahwa Ken Dedes sebenarnya telah membuat rencana sendiri pula untuk itu. Sejak Mahisa Agni menolak mewakili ayahnya untuk menemui Tunggul Ametung, hatinya telah merasa kecewa Apalagi kejadian-kejadian yang kemudian susul menyusul. Ken Dedes merasa bahwa Mahisa Agni marah kepadanya. Tetapi Ken Dedes tidak dapat meraba dengan tepat, alasan yang telah menahan Mahisa Agni untuk memenuhi permintaannya Ken Dedes hanya dapat menyangka, bahwa Mahisa Agni merasa bahwa ia telah melampauinya. Bahwa ia tidak minta pertimbangannya sebelum ia menerima lamaran Akuwu Tunggul Ametung. Ken Dedes kecewa atas sikap itu. Harga diri yang berlebihan. Seakan-akan Mahisa Agni lah yang berhak mengambil keputusan untuk menerima atau menolak lamaran Akuwu Tunggul Ametung sepeninggal ayahnya. Bahkan setelah Mahisa Agni sampai di dalam istana, ia masih juga merajuk. Meninggalkan istana hanya karena merasa terlampau lama menunggu.

Di dalam hati Ken Dedes itu tumbuh juga keinginannya untuk menunjukkan kedewasaannya kepada kakaknya. Ia ingin melepaskan kejengkelannya. Ia ingin menunjukkan bahwa ia memiliki juga sesuatu yang memberinya wewenang untuk mengambil keputusan bagi dirinya sendiri. Bahkan Ken Dedes itu ingin menunjukkan beberapa kelebihan yang dimilikinya kini. Kesempatan yang tak akan datang lagi sepanjang hidupnya. Kalau kakaknya marah kepadanya, karena ia seakan-akan hanya menuruti kehendaknya sendiri, maka ia akan menunjukkan unsur-unsur yang telah memaksanya untuk mengambil sikap.

Bagi Ken Dedes, Mahisa Agni dianggapnya masih saja mengenangkan sahabatnya Wiraprana. Ken Dedes merasa bahwa ia sama sekali tidak mengkhianati Wiraprana. Ia mencintai Wiraprana sedalam-dalamnya. Bahkan pada saat Wiraprana itu terbunuh, ia rela seandainya ia mati sama sekali. Tetapi ketika saat-saat itu telah berlalu, maka apakah ia masih juga harus selalu dibayangi oleh duka hatinya itu? Seandainya Wiraprana itu kini sedang pergi merantau, maka beberapa puluh tahun lagi ia akan menunggunya dengan setia. Bahkan sampai matinya sekalipun. Tetapi Wiraprana itu sudah tidak akan kembali. Tidak akan, sampai kapan pun. Namun ia harus mempunyai alasan yang cukup untuk memenuhi rencananya itu, dan Ken Dedes telah menemukan alasan itu.

Karena itu selagi Akuwu Tunggul Ametung berbimbang hati untuk mengambil keputusan atas permohonan Ken Dedes itu, tiba-tiba ia mendengar gadis itu berkata,

“Tuanku. Meskipun hamba akan mencoba untuk memanggil kakang Mahisa Agni, namun hamba mohon agar tuanku mengijinkan hamba datang ke Panawijen tidak sebagai seorang gadis padesan. Hamba mohon tuanku mengijinkan hamba datang ke Panawijen sebagai seorang calon permaisuri. Ada berbagai pertimbangan yang dapat hamba berikan. Diantaranya hamba takut kalau hamba akan bertemu dengan Kuda Sempana yang melarikan diri itu.”

Tiba-tiba Akuwu Tunggul Ametung berpaling, bahkan kemudian memutar tubuhnya menghadap gadis itu. Sesaat ia termenung, namun kemudian wajah Akuwu yang tegang itu mengendor.

Tunggul Ametung itu bahkan kemudian tersenyum, katanya, “Ken Dedes, apa yang kau minta itu justru telah ada di dalam kepalaku. Aku tidak ingin melepaskan kau sendiri, sedang aku tidak akan dapat mengantarmu ke Panawijen karena aku seorang Akuwu,“ Tunggul Ametung itu berhenti sejenak. Di dalam hatinya ia berkata untuk yang pertama kali, “Kalau aku bukan seorang Akuwu.” Namun ketika ia meneruskan berkatalah ia, “Ken Dedes, aku akan memenuhi permintaanmu. Kau akan datang ke Panawijen bukan saja sebagai seorang bakal permaisuri, tetapi kau akan datang sebagai seorang permaisuri. Prajurit pengawal akan mengantarmu di bawah pimpinan Witantra sendiri. Witantra akan membawa pasukannya seperti ia mengawal aku, dalam barisan kebesaran Tumapel.”

Dada Ken Dedes berdesir mendengar jawaban Akuwu itu atas permintaannya. Ternyata Akuwu memberikan lebih banyak dari yang diharapkan. Namun Ken Dedes menjadi berbesar hati karenanya. Ia ingin menebus kejengkelannya atas Mahisa Agni. Ia ingin menunjukkan kepada Mahisa Agni, apa yang dapat dicapainya, apa yang tersedia untuknya, sehingga Mahisa Agni akan menyadari, bahwa kesempatan ini memang tidak boleh dilewatkan. Kesempatan yang datang sepeninggal Wiraprana, bukan kesempatan yang memaksanya untuk berkhianat.

Karena itu maka Ken Dedes segera menyembah, “Ampun tuanku, apabila berkenan di hati tuanku, hamba mengucapkan beribu terima kasih untuk kemurahan tuanku.”

“Itu adalah hakmu Ken Dedes, hakmu sebagai seorang permaisuri.”

Ken Dedes tidak menjawab. Tetapi kini wajahnya kembali terhunjam ke lantai istana yang mengkilap. Ia menjadi sangat terharu atas kesempatan yang didapatnya kini. Namun karena itulah maka ia kembali terkenang kepada ayahnya. Katanya di dalam hati,

“Seandainya ayah masih ada di Panawijen. Ayah akan ikut serta menikmati kurnia yang besar ini. Tetapi ayah itu telah pergi, justru karena aku meninggalkannya, mendaki kesempatan yang diperuntukkan kepadaku ini.”

Tiba-tiba air mata gadis itu berlinang. Ketika air matanya tetes satu-satu, Akuwu Tunggul Ametung terkejut. Kenapa Ken Dedes itu tiba-tiba menangis lagi? Tetapi Akuwu itu sama sekali tidak dapat mengerti perasaan haru yang mencengkam hati Ken Dedes, sehingga karena itu, maka kembali Akuwu itu menjadi gelisah.

Tetapi bukan saja Akuwu Tunggul Ametung yang menjadi gelisah. Meskipun alasannya berbeda, namun emban tua pemomong Ken Dedes itu pun tidak kalah gelisahnya. Kalau benar Ken Dedes akan datang dengan upacara kebesaran seorang permaisuri, alangkah pedihnya hati Mahisa Agni.

“Kasian anak itu,“ desah ibu Mahisa Agni di dalam hatinya.

Tetapi ia tidak mempunyai alasan yang cukup untuk mencegah Ken Dedes yang akan mendapat pengawalan menurut upacara kebesaran. Apalagi alasan Ken Dedes benar-benar dapat diterima oleh Akuwu Tunggul Ametung. Kuda Sempana. Bahkan mungkin Akuwu telah memperhitungkan bahwa mungkin sekali Kuda Sempana telah bergabung dengan orang-orang yang tidak disukai, sehingga merupakan sekelompok kecil bencana yang dapat menghadang di tengah jalan.

Dengan demikian, maka emban tua itu hanya dapat menekan perasaannya. Alangkah mahalnya tebusan bagi pengampunan ini. Kalau ia bukan ibu Mahisa Agni, maka ia akan dengan senang hati mengikuti upacara kebesaran momongannya, dalam iringan yang megah, berjalan ke Panawijen. Tetapi ia tahu benar, bahwa di Panawijen sebuah hati akan terpecah-belah. Hati itu adalah hati anaknya.

Ken Dedes sama sekali tidak tahu, apa yang tersimpan rapat-rapat di dalam hati Mahisa Agni. Menurut keluhan gadis itu yang telah didengarnya, Ken Dedes menganggap bahwa Mahisa Agni terlampau tinggi hati. Hanya karena ia tidak diajak berbincang mengenai lamaran Akuwu, maka Mahisa Agni, sebagai seorang saudara tua, merasa tersinggung.

“Bukan sekedar itu,” teriak emban itu di dalam hatinya, “bukan sekedar karena ia tersinggung. Betapa Mahisa Agni merelakan dirinya sendiri terhempas ke tepi, tetapi ia adalah seorang anak muda. Anak muda, bukan anak yang turun dari langit, sehingga dapat menjadikan dirinya luar biasa dalam ketahanan tubuh dan perasaannya. Ia adalah anak yang dilahirkan oleh seorang ibu. Apalagi seorang ibu yang hina seperti aku ini.”

Namun kembali emban itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak mampu mencegah Ken Dedes menunjukan kesempatan yang telah memaksanya menerima lamaran Tunggul Ametung. Emban itu tahu benar bahwa Ken Dedes bermaksud mengatakan kepada Mahisa Agni, “Kakang, aku bukan orang gila yang dapat melepaskan kesempatan ini. Lihat, aku datang dengan upacara kebesaran. Aku harus menerima ini, dan kau pun harus berbangga atas kesempatan yang diperoleh oleh adikmu ini. Panawijen harus berbangga, karena pilihan Akuwu jatuh kepada gadis dari Padukuhan ini.”

Tetapi emban itu tidak berkata sepatah katapun. Yang kemudian didengarnya adalah kata-kata Ken Dedes parau, “Tuanku, Akuwu. Kalau tuanku telah berkenan, maka biarlah hamba segera akan berangkat untuk mencoba memenuhi keinginan tuanku. Hamba akan mencoba membawa kakang Mahisa Agni. Apabila hamba gagal, maka terserahlah kepada tuanku untuk melakukan apa yang baik untuk tuanku.”

“Kapan kau akan berangkat?” bertanya Tunggul Ametung.

“Secepatnya tuanku.”

“Baik. Besok aku akan mengadakan persiapan. Lusa kau sudah dapat pergi.”

“Terima kasih tuanku. Hamba akan melakukan perintah tuanku untuk seterusnya.”

Akuwu itu pun tersenyum pula. Ia telah melupakan segala persoalan-persoalan lain. Ia telah melupakan hukuman yang diucapkan. Ia telah melupakan Mahisa Agni yang pergi meninggalkan istana hanya karena terlampau lama menunggu. Kini ia hanya berpikir tentang kesempatan yang akan diberikannya kepada Ken Dedes besuk lusa. Demikianlah maka sejenak kemudian Ken Dedes, emban tua dan para prajurit itu pun bermohon diri dari hadapan Akuwu Tunggul Ametung, setelah tidak ada lagi yang harus mereka bicarakan. Akuwu telah menyanggupi Ken Dedes untuk menyiapkan pengawalan dalam waktu dua atau tiga hari. Namun secepat itu selesai, secepat itu pula Ken Dedes harus berangkat. Besok Akuwu akan memanggil Witantra dan mendengar pendapatnya. Seterusnya persiapan itu akan banyak tergantung pada Witantra itu sendiri.

Ketika ruangan itu telah sepi, Akuwu masih saja berjalan mondar mandir. Ia menjadi riang tanpa disadarinya. Meskipun Mahisa Agni tidak menghadapnya malam ini, tetapi ia senang bahwa Ken Dedes telah memajukan permohonan kepadanya. Permohonan tentang sesuatu yang segera dapat diberikannya. Bagi Akuwu Tunggul Ametung, hal itu telah merupakan suatu kepuasan tersendiri. Memberikan sesuatu kepada seorang gadis yang dicintainya.

“Apalagi permintaan-permintaan kecil itu Ken Dedes,“ katanya di dalam hati, “Tumapel ini adalah milikmu. Cahaya yang memancar dari pusat jantungmu adalah pertanda, bahwa kau seorang gadis yang akan mampu memberikan sesuatu kepada tanah ini.”

Tiba-tiba Akuwu itu berteriak memanggil pelayan yang menunggui pintu ruang itu. Dengan tergesa-gesa pelayan itu berjalan tersuruk-suruk, kemudian setelah ia melihat Akuwu di dalam biliknya, pelayan itu pun berjalan jongkok perlahan-lahan. Ketika ia sedang menyembah, ia hampir terloncat karena terkejut.

Didengarnya Akuwu itu membentaknya, “Cepat. Panggil Daksina. Bawa kemari kakawin Baratayuda.”

“Hamba tuanku,“ sembah pelayan itu sambil bergeser surut.

“Cepat,“ teriak Akuwu itu pula.

Pelayan itu pun cepat-cepat meninggalkan ruangan itu. Dengan berlari-lari kecil ia pergi ke halaman belakang mencari Daksina. Tetapi anak itu tidak berada di dalam rumahnya. Karena itu maka dengan gelisah pelayan itu bertanya kepada orang di rumahnya,

“Dimana Daksina?”

“Kenapa? Ia baru keluar.”

“Malam-malam begini?”

“Ya. Mungkin di gardu-gardu penjaga.”

“Apa kerjanya?”

“Berceritera. Ia terlampau banyak membaca sehingga kepalanya menjadi penuh Karena itu kadang-kadang ia memerlukan tempat penuangan ceritera-ceritera yang tersimpan di kepalanya.”

“Omong kosong,“ sahut pelayan itu, “Daksina tahu betul kalau para peronda sering membawa jenang alot atau ketan serundeng. Nah, untuk itu ia melayap ke gardu-gardu.”

“Mungkin. Tetapi apakah ada sesuatu yang penting.”

“Oh. Akuwu memanggilnya.“ orang serumah itu pun tiba-tiba menjadi pucat. Setiap kali Akuwu memerlukan anak itu harus ada. Meskipun demikian orang itu bertanya juga, “Malam-malam begini?”

“Ya.”

Orang itu segera menjadi gelisah, “Baiklah, aku akan mencarinya.”

“Aku juga harus mencarinya,“ berkata pelayan itu, “sebelum Akuwu menjadi marah.”

Keduanya segera pergi untuk mencari Daksina. Ternyata benar dugaan mereka, Daksina berada di gardu belakang, menunggui para peronda sambil ikut serta menghabiskan bekal mereka. Ketan serundeng. Tetapi para peronda itu senang juga apabila Daksina ada diantara mereka. Banyak sekali ceritera yang dapat disampaikannya kepada para peronda untuk mencegah kantuk.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar