MENU

Ads

Selasa, 24 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 078

Ketika ia mendengar bahwa Akuwu memanggilnya, segera ia berlari. Untunglah bahwa rontal kakawin Baratayuda berada di rumahnya sehingga ia tidak perlu mencarinya di bilik perpustakaan. Dengan tergesa-gesa ia membawa rontal itu menghadap ke bilik Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi alangkah kecewanya ketika ia sampai di muka bilik, dilihatnya Akuwu Tunggul Ametung sudah tertidur masih dalam pakaiannya. Bahkan pintunya pun masih juga terbuka.

Daksina menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi bingung. Kalau ia pergi, dan kemudian Akuwu itu terbangun, maka segera Akuwu itu akan teringat bahwa ia telah memerintahkan memanggilnya. Tetapi apakah kemudian ia harus menunggui Akuwu itu tidur? Bagaimana kalau Akuwu itu kemudian tidak terbangun lagi sampai pagi?. Tetapi kemudian Daksina tidak berani meninggalkan bilik itu. Dengan terkantuk-kantuk ia duduk di muka pintu. Bahkan kemudian anak itu pun tertidur pula sambil memeluk rontalnya.

Di bilik lain, di sentong tengen, Ken Dedes masih duduk berbincang dengan embannya. Ia kini sudah tidak dalam perawatan Nyai Puroni lagi. Perempuan yang banyak menyimpan perasaan iri terhadap gadis yang menurut pendapatnya sedang menyimpan wahyu di dalam tubuhnya.

“Bagaimana bibi, menurut pendapatmu,“ bertanya Ken Dedes kepada pemomongnya, “apakah kau tidak keberatan dengan rencanaku? Bukankah kau telah mengenal kakang Agni seperti mengenal aku?” Orang tua itu mengangguk. Tetapi wajahnya tampak menjadi semakin suram. “Apakah kau mempunyai pendapat lain?”

Emban itu tidak segera menjawab. Kalau ada cara lain, maka ia akan mengusulkannya. Tetapi ia tidak segera menemukan. Ia tidak dapat minta Ken Dedes pergi sendiri, atau dengan seorang dua orang prajurit. Akuwu pasti tidak akan melepaskannya. Sebab adalah masuk akal apabila Kuda Sempana yang mendendamnya itu dapat berbuat hal-hal diluar perhitungan apabila anak muda itu tahu, bahwa Ken Dedes sedang berada di Panawijen.

Meskipun demikian emban tua itu berkata, “Nini, apakah kau perlu datang dengan segala macam kehormatan dan kebesaran itu?”

“Ya bibi, itu adalah satu kebanggaan bagiku, bagi kakang Mahisa Agni dan bagi Panawijen. Dan kebanggaan ini harus membuka hati kakang Mahisa Agni bahwa ia telah salah sangka selama ini. Ia tidak mendalami maksud Akuwu yang sebenarnya atas aku dan keluargaku.”

Emban tua itu menundukkan wajahnya. Kembali ia menyalahkan diri sendiri, Kalau ia mempunyai pengaruh sebagai seorang ibu atas Mahisa Agni dan membawa Mahisa Agni menghadap Akuwu Tumapel, maka Mahisa Agni pasti tidak akan mengalami kepahitan yang lebih parah lagi. Tetapi semuanya itu berada diluar kemampuannya. Mahisa Agni telah berhasil dibawanya ke Tumapel, tetapi belum lagi Mahisa Agni menghadap, apalagi menghadap Akuwu, bertemu dengan Ken Dedes saja pun belum.

Dalam pada itu terdengar Ken Dedes berkata, “Bibi, apabila benar Akuwu akan memperkenankan permohonanku, maka kau akan ikut serta. Bukankah kau telah rindu pula kepada padukuhan itu?”

Dada emban tua itu berdesir. Meskipun sebelumnya ia sudah menduga, bahwa ia pasti akan diminta untuk mengantarkan Ken Dedes itu pula. Tetapi gambaran-gambaran tentang anaknya, tentang Mahisa Agni telah sangat mempengaruhinya. Apakah ia harus menyaksikan betapa hati anaknya seperti diiris dengan sembilu. Apakah ia harus menyaksikan Mahisa Agni semakin parah ketika ia melihat Ken Dedes datang kepadanya dengan kebesaran seorang permaisuri? Apabila Mahisa Agni itu benar-benar kakak kandung Ken Dedes, maka kemarahan Mahisa Agni pasti akan sangat terbatas. Mungkin dugaan Ken Dedes benar, bahwa Mahisa Agni marah karena tersinggung perasaannya sebagai seorang saudara tua. Tetapi Mahisa Agni tidak sekedar tersinggung perasaannya. Tidak sekedar karena tidak diajaknya berbincang mengenai lamaran Tunggul Ametung. Tidak.

Ketika emban tua itu tidak segera menjawab, maka Ken Dedes mendesaknya sekali lagi, “Bagaimana bibi, bukankah kau ingin juga melihat kampung halaman itu? Sungainya yang jernih, bendungan yang megung, sawah ladang yang hijau. Alangkah segarnya setelah aku sekian lama terkurung di dalam bilik yang sempit ini.”

Emban tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengar ia menjawab perlahan-lahan sambil menggeleng, “Tidak nini.”

“He,“ Ken Dedes benar-benar terkejut mendengar jawaban yang sama sekali tak disangka-sangka, “kau tidak ingin ikut ke Panawijen?”

Sekali lagi emban itu menjawab, “Tidak nini. Biarlah aku menunggumu disini.”

“Bibi,“ bertanya Ken Dedes dengan herannya, “kenapa bibi tidak ingin turut ke Panawijen?”

Emban tua itu tidak segera menjawab. Wajahnya yang suram tertunduk ke lantai. Alangkah berat hatinya mendengar pertanyaan itu. Sebenarnya ia tidak ingin terpisah dari momongannya. Momongan yang sejak kecil selalu dalam dukungannya. Sebenarnya sepotong hatinya ingin mengajaknya serta dalam satu arak-arakan yang meriah, mengunjungi kampung halaman yang sudah sejak bertahun-tahun didiaminya. Namun belahan hatinya yang lain menahannya. Ia tidak akan sampai hati menyaksikan anaknya, anaknya sendiri, meskipun tidak pernah dibelainya di saat-saat menjelang tidur, mengalami goncangan-goncangan perasaan.

Tetapi emban itu merasa, bahwa ia tidak akan dapat berdiam diri saja. Ia harus menjawab pertanyaan Ken Dedes, sehingga dengan ragu-ragu dijawabnya saja dengan alasan-alasan yang dicari-carinya,

“Nini, aku tidak dapat pergi ke Panawijen. Perjalanan itu akan memerlukan waktu. Aku akan terlampau lelah. Mungkin Nini akan mempergunakan tandu dalam perjalanan itu. Tetapi aku akan berjalan kaki. Aku sudah terlampau tua nini.”

“Tidak bibi,“ potong Ken Dedes, “apabila disediakan tandu untukku, maka bibi akan berada di dalam tandu itu pula.”

“Ah,“ sahut emban itu, “tandu itu akan terlampau berat.”



“Aku akan minta disediakan tandu yang lain.”

Emban itu menggeleng, “Tidak nini. Banyak yang memberati hatiku. Aku adalah seorang perempuan cengeng. Perempuan perasa. Mungkin aku tidak akan tahan lagi melihat padepokan yang sepi itu. Mungkin hatiku akan menjadi pedih.”

“Oh,“ Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Aku juga pasti akan mengalami perasaan semacam itu bibi. Tetapi marilah kita melihat kenyataan. Kepahitan hidup adalah sesuatu yang sama sekali tidak kita ingini. Tetapi apabila hal itu datang kepada kita sebagai suatu kenyataan, kita tidak akan dapat memejamkan mata kita. Kita tidak harus lari dari padanya, mencari kepuasan-kepuasan lain yang mungkin akan menjerumuskan kita kepada kesulitan-kesulitan baru. Padepokan yang kosong itu jangan menjadi hantu bagi kita bibi. Marilah kita lihat, apakah kita masih mungkin untuk mengisinya kembali, menyegarkannya seperti masa-masa lampau, setidaknya mendekati masa-masa itu?”

Emban tua itu mengangkat wajahnya Ketika terpandang olehnya wajah gadis momongannya itu, maka emban tua itu tertunduk kembali. Dalam sekilas, teraba oleh orang tua itu, bahwa Ken Dedes sebenarnya tidak sedang menasehatinya. Tetapi gadis itu lebih banyak berbicara kepada dirinya sendiri. Gadis itu sedang mencoba memperteguh perasaannya sebelum ia sendiri melihat Panawijen. Sebelum ia melihat Padepokan ayahnya yang kini telah hampir-hampir menjadi kosong. Emban itu tidak akan mengecewakan hati Ken Dedes atas nasehatnya yang lebih banyak diperuntukkan bagi diri gadis itu sendiri. Tetapi ia tidak dapat mempercayai dirinya, apakah hatinya yang telah lapuk karena umurnya itu masih akan mampu bertahan melihat hati yang terpecah belah.

Karena itu maka emban tua berkata, “Maafkan aku nini. Aku terpaksa tidak dapat ikut serta ke Panawijen. Mudah-mudahan lain kali aku akan pergi. Baru kemarin aku melihat padukuhan itu. Baru kemarin hatiku menjadi sedih. Apakah besok atau lusa aku akan melukai hati ini kembali? Nini, biarlah aku agak memperpanjang umurku dengan melepaskan diri dari setiap kemungkinan yang dapat mendukakan hati.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Emban tua itu agaknya benar-benar tidak ingin pergi ke Panawijen, sehingga karena itu, maka Ken Dedes tidak dapat memaksanya meskipun ia menjadi kecewa karenanya. Meskipun demikian Ken Dedes itu tidak habis-habisnya dikejar oleh pertanyaan-pertanyaan yang melingkar di dalam hatinya. Emban itu hampir tidak pernah menolak permintaannya. Tetapi tiba-tiba kini ia menolak ajakannya justru dalam kesempatan yang dapat dibanggakan,

“Apakah emban tua ini sependapat dengan kakang Mahisa Agni,“ pikir gadis itu. Tetapi ia tidak berani meyakinkan dirinya. Emban itu masih tetap terlampau baik kepadanya selama ini. “Mungkin emban itu berkata dengan jujur. Hatinya sedih melihat Panawijen yang sepi,“ berkata Ken Dedes pula di dalam hatinya. Bahkan kemudian ia sendiri menjadi ragu-ragu, “Jangan-jangan aku akan mengalami kesedihan seperti emban itu pula.”

Tetapi akhirnya Ken Dedes menemukan kemantapan, ia harus pergi. Bukan saja untuk meyakinkan Mahisa Agni bahwa sebenarnya maksud Tunggul Ametung cukup baik, tetapi juga untuk membebaskan Mahisa Agni dan emban tua itu dari hukuman Akuwu Tunggul Ametung.

Ternyata kemudian Akuwu Tunggul Ametung memenuhi janjinya. Akuwu Tumapel itu telah memerintahkan kepada Witantra untuk mempersiapkan sebuah pengawalan yang cukup kuat dan megah bagi Ken Dedes yang akan pergi sendiri ke Panawijen untuk berbagai keperluan. Akuwu pun menyadari, bahwa Ken Dedes bukan saja ingin bertemu dengan Mahisa Agni, tetapi juga karena Ken Dedes telah merindukan kampung halamannya.

Dua hari diperlukan oleh Witantra untuk mempersiapkan diri beserta pasukannya. Pasukan khusus pengawal Tunggul Ametung di bawah pimpinan Witantra sendiri. Di samping persiapan para prajurit, telah dipersiapkannya pula sebuah tandu yang megah. Tandu yang akan dipergunakan oleh Ken Dedes.

Pada hari yang ditentukan, maka semua persiapan itu pun telah selesai. Witantra sendiri melihat semuanya dengan cermat. Sejak para pelayan, yang akan memanggul tandu sampai para perwira prajurit yang akan menjadi paruh dari perjalanan ini.

Arak-arakan ini adalah arak-arakan yang terbesar yang pernah diadakan di Tumapel sejak ibunda Akuwu Tunggul Ametung meninggal dunia. Tumapel sejak itu tak pernah dimeriahkan dengan sebuah arakan-akan seperti ini. Sejak itu Akuwu seakan-akan hidup dalam kemurungan. Sekali-sekali Akuwu keluar juga dari istana. Tetapi tidak pernah dalam suatu bentuk arakan. Kalau Akuwu ingin menikmati udara diluar istana, maka Akuwu akan pergi berkuda dengan beberapa orang pengawal berburu ke hutan-hutan. Sekali-sekali Akuwu sering pula melihat-lihat kotanya, Tumapel, namun selalu dalam sikap seorang prajurit.

Kini sejak seorang gadis Panawijen tinggal di dalam istana, maka seakan-akan istana Tumapel menemukan kembali kesegarannya. Meskipun kebesaran Tumapel tidak pernah surut, namun kebesarannya selama ini seolah-olah menjadi kering. Kini, gadis Panawijen itu seperti embun yang menetes dimalam hari dan seperti gerimis yang jatuh di siang hari. Tumapel menjadi segar oleh kemeriahan. Tiga hari kemudian sejak Akuwu menjanjikan pengawalan itu kepada Ken Dedes, maka arak-arakan itu benar-benar telah terwujud. Di halaman dalam Akuwu Tunggul Ametung sendiri melepas arak-arakan itu.

Ken Dedes yang saat itu telah berada di dalam tandu menganggukkan kepalanya dalam-dalam sambil menyembah, “Hamba akan segera kembali tuanku.”

Akuwu tersenyum. Katanya, “Aku telah memerintahkan kepada Witantra. Mereka harus segera kembali. Dan kau pun akan terbawa kembali pula.”

Sekali lagi Ken Dedes menyembah, “Tentu tuanku.”

Akuwu menganggukkan kepalanya. Ternyata anak Panawijen itu benar-benar telah mempesonanya. Bahkan telah mempesona segenap rakyat Tumapel. Dalam pakaian yang indah, Ken Dedes benar-benar tampak bercahaya, seperti bintang pagi di tenggara. Tetapi hati Ken Dedes itu berdesir ketika ia melihat emban pemomongnya berdiri di samping tandunya. Dengan serta merta ia bertanya,

“Apakah kau benar-benar tidak dapat merubah pendirianmu bibi?”

Emban tua itu menarik nafas. Sambil menggeleng ia menjawab, “Maafkan tuan puteri.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Panggilan itu terasa janggal di telinganya apabila emban tua itulah yang mengucapkannya. Emban tua itu telah mengenalnya sejak kecil sebagai seorang gadis Padesan. Bagaimana mungkin kini ia harus memanggilnya tuan puteri. Tetapi Ken Dedes sendiri tidak berani menegurnya. Akuwu menghendaki panggilan itu bagi semua hamba Tumapel. Namun demikian pertanyaan yang melingkar-lingkar di dalam hati Ken Dedes masih belum dapat disingkirkannya. Apakah sebab yang sebenarnya emban itu tidak mau pergi bersamanya. Apakah ia berkata jujur, atau sekedar samudana.

Bahkan tiba-tiba Ken Dedes teringat kepada dukun tua yang merawatnya saat pertama kali ia masuk ke dalam istana ini. Jelas terbayang dan terungkapkan dalam kata dan perbuatan, dukun tua itu menjadi dengki atas kurnia yang diterimanya. Apakah emban tua itu menjadi dengki pula.

“Tidak. Tidak mungkin,“ terdengar suara di dalam dada Ken Dedes demikian tegasnya. Apalagi ketika kemudian ia melihat setitik-setitik air mata menetes dari mata yang cekung itu.

Ken Dedes menjadi terharu pula karenanya. Tetapi ia tidak pula dapat mengerti, apakah arti air mata itu?. Akhirnya arakan itu pun mulai bergerak. Emban tua, pemomong Ken Dedes, mencium momongannya pada punggung telapak tangannya. Terasa tangan itu menjadi basah.

“Selamat jalan tuan puteri. Hamba menunggu sampai tuanku kembali.”

Ken Dedes mengangguk. Tetapi ia tidak dapat menjawab dengan kata-kata, karena tenggorokannya terasa tersumbat karenanya. Ketika arak-arakan itu semakin lama menjadi semakin jauh, maka air mata emban tua itu pun mengalir semakin deras. Air mata yang menitikkan berbagai arti. Seperti bunga, maka air mata dapat berarti gembira, namun dapat pula berarti duka. Setitik air mata emban itu diperuntukkan bagi momongannya. Ia, emban tua itu, berbahagia dan berbangga karenanya. Sedang setitik lainnya diperuntukkannya bagi anaknya. Alangkah pedih hati anaknya itu.

Akhirnya, ketika pangkal dari arak-arakan itu telah hilang di balik regol halaman dalam, maka emban tua itu pun segera menyadari keadaannya. Ketika ia berpaling, ternyata Akuwu yang semula berdiri di atas tangga telah masuk pula ke dalam istana. Di sana-sini tinggal beberapa orang saja yang masih membenahi beberapa peralatan yang tinggal. Beberapa orang penjaga dilihatnya hilir mudik di muka regol halaman dalam itu.

Emban itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian perlahan-lahan ia berjalan sambil menundukkan wajahnya, pergi ke biliknya di halaman belakang. Disitulah ia telah mendapatkan sebuah bilik tersendiri, sejak ia mengikuti Ken Dedes di istana Tumapel. Dari muka bilik itu ia mendengar lamat-lamat suara Daksina berdendang. Ketika emban tua itu berpaling ke arah suara Daksina itu, dilihatnya anak itu duduk di bawah sebatang pohon kemuning. Di tangannya tergenggam sepotong kayu watu dan sebilah pisau yang tajam. Anak itu ternyata lagi membuat sebuah patung ukiran.

“Seorang anak muda periang,” desis emban tua itu. Dalam pada itu dikenangnya anaknya yang murung. Mahisa Agni bukan termasuk seorang anak muda periang seperti Daksina, meskipun bukan pula seorang pemurung. Namun tusukan perasaan yang dalam telah menjadikannya semakin kehilangan keriangannya.

“Pengaruh yang membentuknya menjadikannya demikian,” berkata emban itu di dalam hatinya, “Mahisa Agni berada di pengengeran sejak kanak-kanak. Ia harus selalu tekun belajar dan bekerja.”

Suara Daksina masih saja mengumandang di sela-sela gemersik dedaunan di pagi yang bening. Seperti siul burung yang riang menyambar hari yang baru, suara Daksina terdengar semakin lama semakin segar. Emban tua itu pun kemudian masuk ke dalam biliknya. Betapa ia mencoba menyenangkan hatinya dengan mendengarkan dendang Daksina, namun wajah orang tua itu pun masih juga disaput oleh kesuraman hatinya.

Sementara itu iring-iringan yang membawa Ken Dedes menuju ke Panawijen telah menyelusuri jalan-jalan kota. berbondong-bondong penduduk Tumapel, tua muda keluar dari rumah masing-masing. Mereka telah mendengar bahwa hari itu Ken Dedes, seorang gadis dari padepokan di Panawijen akan keluar dari istana dalam sebuah iring-iringan kebesaran. Gadis yang bakal menjadi permaisuri Tumapel itu akan pergi mengunjungi kampung halamannya, Panawijen.

Setiap mata yang memandang gadis yang berada di atas tandu itu menjadi terpesona. Alangkah cantiknya gadis itu. Sama sekali tidak berkesan pada wajah yang cerah itu, bahkan Ken Dedes adalah seorang gadis padesan. Wajah itu benar-benar membayangkan seorang yang sangat pantas untuk menjadi seorang permaisuri. Demikianlah maka setiap mulut telah bergumam memuji keserasian tubuh gadis yang berada di atas tandu itu. Betapa bahagianya seorang gadis yang memiliki kecantikan yang hampir sempurna itu. Adalah sudah sewajarnya apabila Akuwu Tunggul Ametung telah memilihnya untuk menjadi seorang permaisuri.

Apalagi kini gadis itu berada di dalam sebuah iringan kebesaran yang sudah cukup lama tidak dilihat oleh penduduk Tumapel. Sehingga dengan demikian, maka hampir setiap rumah menjadi kosong karena penghuninya berlari-lari ke pinggir jalan untuk melihat wajah bakal permaisuri Akuwunya.

Ken Dedes sendiri sama sekali tidak menyangka, bahwa ia akan mendapat sambutan yang sedemikian riuhnya dari penduduk Tumapel. Karena itu untuk beberapa saat ia menjadi bingung. Ketika para penduduk ingin memandangi wajahnya yang cerah itu, maka Ken Dedes malahan berusaha bersembunyi di balik tirai-tirai tandunya. Beberapa orang menjadi kecewa, namun beberapa orang lain yang sempat memandang wajah itu, memujinya tak kunjung habis.

Di muka sekali, di ujung iring-iringan itu, seorang yang tegap mendahului di atas punggung kuda bersama beberapa orang prajurit. Orang itu adalah pemimpin pasukan pengawal. Witantra. Di sampingnya adalah dua orang perwira bawahannya. Sedang di belakangnya berkuda seorang anak muda, namun ia tidak mengenakan pakaian keprajuritan meskipun di lambungnya tergantung sebilah pedang. Anak muda itu adalah Mahendra. Ia telah dibawa oleh kakak seperguruannya.

Tanpa sepengetahuan Akuwu dan Ken Dedes, Witantra telah mempunyai perhitungan tersendiri. Ia mengenal beberapa sifat Mahisa Agni yang keras. Karena itu ia mempunyai perhitungan, bahwa apabila Mahisa Agni tidak dapat diketemukan di Panawijen, ia pasti telah berada dipadang Karautan. Karena itu maka dibawanya Mahendra yang akan dapat menjadi penunjuk jalan menemui Mahisa Agni, dengan tidak usah mencari-cari.

Di belakang Mahendra, berkuda seorang prajurit muda. Wajahnya riang namun garis-garis mulutnya menunjukkan kepicikan perhitungannya. Prajurit itu adalah Kebo Ijo. Ia mendapat tugas pula dari Witantra, kakak seperguruannya untuk mengawal panji-panji Tumapel yang berada di muka tandu Ken Dedes dibawa oleh seorang prajurit pula. Ketika iring-iringan itu telah sampai ke batas kota, maka Kebo Ijo mempercepat jalan kudanya, mendekati Mahendra. Ketika ia telah berada di sampingnya, terdengar ia berbisik,

“Berapa lama kita berada di Panawijen?”

Mahendra menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak tahu.”

“Tiga hari atau sepasar?”

Sekali lagi Mahendra menggeleng, “Aku tidak tahu.”

“Dalam sepuluh hari ini aku harus berada di rumah,“ gumam Kebo Ijo.

“Kenapa?”

Kebo Ijo itu tertawa. Namun ketika Witantra berpaling kepadanya segera ia menundukkan wajahnya. Perlahan-lahan ia berkata kepada Mahendra, “Aku akan kawin kakang.”

“Oh,“ Mahendra terkejut. Tetapi ia pun tertawa pula. Sahutnya. “Kau berkata sebenarnya?”

Kebo Ijo mengangguk, “Ya. Sebenarnya aku akan kawin tengah bulan ini.” Mahendra menganggukkan kepalanya. Meskipun demikian agaknya ia masih meragukan kata-kata adik seperguruannya itu, sehingga Kebo Ijo merasa perlu untuk menegaskan, “Kakang Mahendra. Sebenarnya aku pun masih belum ingin untuk kawin. Tetapi beberapa orang keluargaku selalu saja mendesakku.”

Mahendra tertawa berkepanjangan. Dilihatnya wajah Kebo Ijo yang tersipu-sipu, “Kenapa kau akhirnya bersedia pula?” bertanya Mahendra.

“Ah,“ Kebo Ijo tersenyum, tetapi ia tidak menjawab.

“Gadis manakah yang akan kau ambil?” bertanya kakak seperguruannya.

“Tetangga sendiri. Masih ada sangkut paut kekeluargaan.”

“Siapa namanya?”

“Bukan Ken Dedes,“ jawab Kebo Ijo.

Keduanya tertawa, sehingga sekali lagi Witantra berpaling. Tetapi perwira itu tidak banyak menaruh perhatian atas percakapan kedua adik seperguruannya itu. Iring-iringan itu masih berjalan dengan tenangnya. Kini mereka telah meninggalkan kota Tumapel. Meskipun demikian, orang-orang yang tinggal di desa-desa di tepi jalan pun berjejal-jejal untuk menyaksikan arak-arakan yang megah itu. Bahkan dari desa-desa yang jauh sekalipun, apabila orang-orangnya mendengar berita tentang perjalanan bakal permaisuri itu, berbondong-bondong mereka pergi ke tepi-tepi jalan yang akan dilampaui oleh arak-arakan itu.

Matahari yang tergantung di langit, semakin lama merayap semakin tinggi pula. Sinarnya yang cerah berserakan di atas dataran sawah-sawah dan memantul di permukaan air. Namun terasa bagi para prajurit yang sedang berjalan dalam arak-arakan itu seperti serangga yang merayap di seluruh permukaan kulit punggungnya. Gatal.

Ken Dedes yang duduk di dalam tandu, memandangi sawah, ladang dan padesan dengan wajah yang segar. Pemandangan yang telah lama tidak dilihatnya Warna hijau segar yang memancarkan harapan pada hari-hari mendatang. Apabila padi yang menghijau di sawah itu telah bunting, maka berkembanglah hati para petani. Sebentar kemudian, maka hutan yang menghijau akan berganti warna seperti lembaran emas yang terbentang dari ujung ke ujung bumi. Apabila padi telah menguning, maka berdendanglah setiap hati, disertai dengan doa semoga mereka diperkenankan memetik buah dari jerih payah mereka.

Perjalanan itu terasa bagi Ken Dedes, alangkah lambatnya. Langkah-langkah kaki para prajurit yang berderap di atas tanah berdebu, seolah-olah langkah seorang anak-anak yang malas lagi belajar berjalan. Terlampau lambat. Tetapi Ken Dedes yang duduk di atas tandu tidak dapat mempercepat perjalanan itu. Ia hanya dapat mengikuti kecepatan para pemanggulnya. Namun ketika Ken Dedes sempat memandangi orang-orang yang mengangkat tandunya itu, timbullah rasa ibanya. Peluh telah membasahi segenap tubuh mereka. Sebentar-sebentar orang-orang yang memanggul tandu itu saling berganti. Namun meskipun demikian, tampak juga, bahwa mereka menjadi sangat letih karenanya.

Demikianlah maka perjalanan itu pun merambat setapak demi setapak. Di tengah hari mereka memerlukan beristirahat di pinggir-pinggir belukar. Para prajurit dan para pelayan bahkan semua orang di dalam iring-iringan itu memerlukan makan dan minum. Mereka masih harus berjalan dalam jarak yang cukup jauh.

Namun untuk seterusnya Witantra telah mengambil kebijaksanaan bahwa mereka tidak akan melintas padang Karautan. Mereka lebih baik berjalan lewat hutan Karautan. Di tengah-tengah padang itu nanti, panas matahari pasti akan membakar mereka. Apalagi padang itu terlampau panjang, sehingga mungkin mereka akan kehabisan air di tengah-tengah jalan. Tetapi apabila mereka menyusuri hutan, maka mereka akan menjadi sejuk. Apalagi hutan Karautan bukanlah hutan rimba belantara yang pepat padat. Hutan Karautan termasuk hutan yang agak jarang, sehingga merupakan hutan perburuan yang cukup baik.

Tetapi mereka tidak akan dapat sampai di Panawijen hari itu juga. Mereka pasti akan bermalam di perjalanan apabila mereka ingin tetap segar sampai di Panawijen besok. Sebab apabila mereka berjalan terus, maka mereka pasti akan kemalaman dan kelelahan. Apalagi mereka yang memanggul tandu meskipun bergantian.

Ken Dedes sama sekali tidak berkeberatan atas kebijaksanaan itu. Ia dapat mengerti, bahwa padang Karautan pasti akan sepanas bara di siang hari. Karena itu, maka perjalanan seterusnya, iring-iringan itu akan masuk menyusur jalan di dalam hutan Karautan.

Demikianlah ketika iring-iringan itu berjalan kembali, maka tidak beberapa lama, mulailah ujungnya menusuk masuk ke dalam hutan. Seperti seekor naga yang masuk ke dalam liangnya, maka semakin lama iring-iringan itu menjadi semakin dalam, sehingga kemudian ekornya pun lenyap ditelan rimbunnya dedaunan. Betapa lambatnya perjalanan itu, namun mereka pun semakin lama menjadi semakin dekat pula dengan Panawijen. Ketika matahari kemudian hinggap di punggung bukit di ujung Barat, maka mulailah para prajurit mencari tempat yang sebaik-baiknya untuk berkemah. Di tengah-tengah hutan yang tidak terlampau pepat, diantara batang-batang kayu yang besar, iring-iringan itu bermalam.

Apabila kemudian gelap malam mencengkam hutan itu, dibuatnya oleh para prajurit, beberapa onggok api yang menyala-nyala seperti obor-obor raksasa, menerangi tempat mereka bermalam. Witantra yang bertanggung jawab atas keselamatan Ken Dedes dan segenap iring-iringan itu, sekali-sekali berjalan pula mengitari perkemahan dengan Mahendra dan Kebo Ijo. Sekali-sekali mereka berkelakar untuk menghilangkan kejemuan mereka. Witantra yang mendengar bahwa Kebo Ijo akan segera kawin, tertawa pula berkepanjangan. Anak itu masih terlampau muda, dan baru saja ia bekerja di istana.

Tetapi tiba-tiba suara tertawa Witantra itu terhenti. Hampir bersamaan mereka bertiga mendengar desir dedaunan di sekitar mereka. Ketika mereka memandangi perkemahan, maka agaknya para prajurit masih tetap berada di tempat masing-masing. Sesaat mereka saling berpandangan. Tetapi Witantra tidak ingin membuat keributan diantara para prajuritnya, apalagi membuat Ken Dedes menjadi cemas. Karena itu maka katanya kepada Kebo Ijo,

“Kebo Ijo, kembalilah ke lingkungan para prajurit yang lain. Hati-hatilah. Tetapi jangan mengatakan sesuatu kepada mereka. Apabila terjadi sesuatu, beritahukan para perwira supaya mereka dapat mengambil tindakan. Aku akan melihat suara apakah yang terdengar itu bersama Mahendra.”

Kebo Ijo mengerutkan keningnya, jawabnya, “Biarlah aku ikut kakang Witantra. Sebaiknya kakang Mahendra saja yang kembali ke perkemahan.”

“Mahendra bukan seorang prajurit,“ sahut Witantra, “tetapi kau adalah salah seorang dari mereka, sehingga hubunganmu dengan mereka lebih baik daripada Mahendra.” Kebo Ijo tidak menjawab. Ia dapat mengerti kata-kata itu, apalagi ketika Witantra berkata, “Apalagi kau sedang menjelang hari perkawinanmu Kebo Ijo, jadi lebih baik kau tidak berbuat hal-hal yang berbahaya.”

Kebo Ijo tersenyum. Jawabnya, “Baiklah kalau itu perintah kakang.”

Witantra berkata pula, “Nah cepat kembalilah.”

Tetapi kembali mereka bertiga terkejut ketika terdengar suara di belakang mereka. Suara itu perlahan-lahan saja namun jelas, “He, apakah angger Kebo Ijo akan kawin?”

Telinga Witantra menjadi merah seperti tersentuh bara. Ia benar-benar merasa mendapat tantangan langsung dari suara itu. Demikian dekatnya suara itu daripadanya, sehingga semua pembicaraannya dapat didengar, tetapi ia sendiri bertiga tidak mengetahui kehadiran orang itu. Karena itu sekali lagi ia berkata kepada Kebo Ijo,

“Cepat kembali. Langsung sampaikan kepada Sidatta apa yang terjadi disini. Tetapi ingat, jangan menimbulkan kegelisahan. Hanya Sidatta yang boleh mengetahuinya. Ia harus mengambil alih pimpinan selama aku tidak ada.”

“Baik kakang,“ sahut Kebo Ijo.

Namun kembali Kebo Ijo itu tertegun. Kembali mereka mendengar suara tertawa dekat di belakang mereka. Betapa marahnya mereka bertiga, apalagi Kebo Ijo. Hampir saja ia meloncat ke arah suara itu, namun terdengar Witantra berkata,

“Cepat.”

Kebo Ijo menggeram. Tetapi ia segera pergi meninggalkan tempat itu karena perintah kakak seperguruannya sekaligus pimpinannya. Kini Witantra dan Mahendra berdiri berdua. Sejenak mereka saling berdiam diri memperhatikan setiap keadaan di sekitarnya. Perlahan-lahan Witantra memutar tubuhnya sambil bertanya lirih,

“Siapa kau?”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar