Yang terdengar adalah gemerisik dedaunan di dalam gerumbul di sampingnya.
“Siapa kau?” ulang Witantra. Yang terdengar adalah suara tertawa. Juga perlahan-lahan.
Ternyata Mahendra menjadi tidak bersabar karenanya. Tetapi ketika ia meloncat maju, terasa tangan kakaknya mencegahnya. “Jangan,” bisik Witantra.
Witantra adalah seorang yang telah jauh lebih banyak berpengalaman dari pada Mahendra. Karena itu maka segera ia mengetahui, bahwa orang yang tertawa itu bukan orang kebanyakan. Bahkan bukan pula orang yang sekedar memiliki keberanian. Mahendra pun sebenarnya menyadari pula, dengan siapa ia berhadapan. Tetapi darah mudanya ternyata masih terlampau cepat terbakar. Karena itu kadang-kadang ia kehilangan kewaspadaannya.
Suara tertawa itu masih saja terdengar. Bahkan kini suara itu berkata, “Hem, kau benar-benar anak yang berani Mahendra.”
“Kau mengenal aku?” desis Mahendra.
“Aku mengenal kalian bertiga. Witantra, Mahendra dan Kebo Ijo. Bukankah begitu?” Mahendra menggeram. Tetapi Witantra tertawa.
Mahendra menjadi heran melihat kakak seperguruannya itu tertawa. Tetapi ia tidak bertanya. Yang terdengar kemudian adalah kata-kata Witantra, “Tidak aneh apabila kau mengenal kami. Bukankah kau telah bersembunyi dan mengikuti kami sejak tadi? Dari percakapan kami kau tahu, siapa aku, siapa kedua adikku ini. Apakah itu termasuk kelebihan bagimu?”
“Hem, kau cerdik Witantra,“ sahut suara itu.
“Tidak. Itu persoalan yang terlampau sederhana.”
“Ternyata kau melampaui dugaanku,“ berkata suara itu, “kalau begitu biarlah aku pergi.”
“Tunggu,“ cegah Witantra, “aku ingin tahu, siapakah kau ini.”
“Tak ada gunanya.” Dan sesaat kemudian Witantra dan Mahendra mendengar suara daun tersibak. Cepat mereka maju. Namun suara itu pun menjadi semakin cepat menjauh pula.
“Jangan lari,“ desis Witantra.
Tetapi tak ada yang menyahut. Yang terdengar hanyalah suara ranting-ranting patah dan gemerisik dedaunan.
Mahendra yang hatinya sudah meluap-luap segera berlari. Tetapi kembali Witantra menahannya, “Jangan tergesa-gesa Mahendra.”
Mahendra menjadi kecewa, katanya, “Orang itu sudah semakin jauh.”
“Hati-hatilah.”
Mahendra mengangguk. Tetapi hampir-hampir ia tidak mampu menahan dirinya. Kini ia terpaksa maju bersama kakaknya. Tidak terlampau cepat, karena Witantra menyadari siapakah yang sedang dikejarnya itu. Orang itu adalah pasti orang yang cukup berilmu.
“Biarlah aku mencoba menangkapnya kakang.“ minta Mahendra.
Witantra menggeleng, jawabnya, “Kau belum tahu siapa orang itu. Hutan ini terlampau gelap. Sadarilah, bahwa orang itu hanya sekedar memancing kita menjauhi para prajurit yang sedang berjaga-jaga.”
Mahendra menarik nafas. Ia sadar akan ketergesa-gesaannya. Ternyata apa yang dikatakan kakak seperguruannya itu benar-benar masuk diakalnya. Karena itu pun kini Mahendra menjadi semakin berhati-hati pula. Setiap tapak ia maju, ia tidak kehilangan kewaspadaan. Orang yang dicarinya itu dapat saja tiba-tiba berada di sisinya atau bahkan di belakangnya. Namun setiap kali Mahendra mendengar desir dedaunan di depannya, maka dadanya pun berdesir pula.
Akhirnya Witantra menggamit Mahendra sekali lagi sambil berkata, “Kita sampai disini saja Mahendra. Ternyata orang itu tidak ingin menemui kita.”
Mahendra berpaling. Sambil mengerutkan keningnya ia berkata, “Tetapi pasti ada suatu maksud yang dikandungnya.”
“Ya. Dan maksud yang sesungguhnya aku tidak tahu. Karena itu, jangan pedulikan lagi orang itu.”
Ketika Mahendra akan menjawab, Witantra memberi isyarat dengan menggelengkan kepalanya. Mahendra menjadi ragu-ragu sejenak. Namun ia pun berdiam diri.
Perlahan-lahan kemudian mereka mendengar orang di dalam gerumbul itu berkata, “Kau benar-benar cerdik Witantra. Kau dapat mengetahui bahwa ada terkandung maksud di dalam hatiku.”
“Ah,“ Witantra kemudian tertawa kecil, “aku bukan anak-anak yang menari-nari karena sanjungan-sanjungan kecil. Aku tidak sebodoh yang kau sangka Ki Sanak. Kalau aku mengatakan bahwa kau pasti mempunyai maksud tertentu maka sama sekali tidak diperlukan suatu kecakapan khusus untuk itu. Setiap orang, bahkan anak-anak pun akan dapat mengatakan, kalau kau pasti mempunyai suatu maksud dengan mengintai rombonganku dan bahkan memancing kami berdua supaya kau dapat memisahkan kami dari rombonganku. Juga anak-anak akan dapat membuat perhitungan dengan itu. Dengan memisahkan aku dari rombonganku, maka ada dua kemungkinan yang kau kehendaki. Aku dan Mahendra, atau segenap rombongan yang lain. Atau kau sudah mempersiapkan dua gerombolan pula untuk menghadapi kami berdua dan rombongan yang lain.”
Terdengar orang yang bersembunyi itu tertawa, “Hebat. Hebat.”
“Tidak hebat. Bukan hal yang sulit ditebak. Yang sulit diketahui adalah maksudmu yang sebenarnya. Apakah maksud itu baik atau jahat. Itulah yang tidak kami ketahui.”
“Apakah kau tidak dapat merabanya Witantra.”
“Tentu tidak.”
“O,“ terdengar nada kecewa dari orang yang bersembunyi itu, “ternyata benar yang kau katakan. Otakmu tidak secerdas yang aku sangka.”
Mahendra sama sekali tidak telaten mendengar percakapan yang seakan tidak berpangkal tidak berujung itu. Dengan serta merta ia berteriak, “Aku tahu maksudmu yang sebenarnya. Kalau kau bermaksud baik, maka kau tidak akan melakukannya dengan bersembunyi. Ayo, tampakkan dirimu.”
Witantra mengerutkan keningnya. Adiknya masih terlampau muda sehingga amat sulit baginya untuk mengendalikan perasaannya. Yang dihadapinya kini bukan saja seorang yang berilmu, tetapi juga seorang yang licik. Namun ia tidak mencegah adiknya kali ini Asal adiknya itu tidak meloncat menyerang orang yang masih saja bersembunyi itu.
“Ternyata adikmu lebih cerdas dari padamu Witantra,” terdengar suara itu pula.
“Ya,“ sahut Witantra, “sebenarnya demikian.”
“Baik. Kalau demikian aku tidak akan bertemu kau lagi. Kau terlampau bodoh untuk diajak berbincang mengenai masalah-masalah yang terlampau penting.”
“Jangan banyak bicara,” potong Mahendra, “tunjukkanlah dirimu.”
“Tidak perlu. Aku akan pergi.”
“Kau tidak akan dapat melepaskan diri,“ sahut Mahendra.
Tetapi Mahendra menjadi heran ketika kakaknya, “Biarlah Mahendra. Biarlah orang itu pergi. Ia menganggap bahwa kita kurang mampu untuk diajaknya berbincang. ternyata orang itu mempunyai suatu keperluan khusus yang memerlukan kecerdasan otak. Sedang syarat itu tidak kita penuhi.”
“Apakah kita biarkan orang itu pergi?”
“Ya. Biar saja orang itu pergi.”
Tiba-tiba Mahendra dan Witantra mendengar orang yang bersembunyi itu menggeram. Katanya, “Ternyata dugaanku benar pula kali ini. Witantra, pemimpin pengawal istana dan Akuwu Tumapel bukan saja orang yang tumpul otaknya, tetapi juga seorang penakut.”
“Gila kau,” teriak Mahendra. Sekali lagi Mahendra siap untuk meloncat. Dan sekali lagi Witantra menahannya.
Bahkan Witantra itu berkata, “Maafkan aku Ki Sanak. Aku barangkali tidak dapat memenuhi harapanmu. Aku memang berotak tumpul dan seorang penakut pula. Karena itu aku tidak berani mengejarmu. Namun betapa aku seorang penakut, tetapi aku tidak bersembunyi seperti kau Ki Sanak.”
Sekali lagi terdengar orang itu menggeram, “Ayo, tangkap aku,” katanya.
Mahendra menggeretakkan giginya. Tetapi Witantra masih tersenyum. Katanya, “Aku tidak akan menangkapmu. Betapa otakku tumpul, namun aku masih mampu membuat perhitungan. Kau ingin memisahkan dan memecah kekuatan rombonganku dengan memisahkan kami berdua dari padanya. dalam jarak ini, aku masih dapat memanggil setiap orang yang aku perlukan. Sebaliknya aku masih akan dapat mendengar apa yang terjadi di dalam rombonganku.”
Mendengar kata-kata itu Mahendra menggigit bibinya. Sekali lagi ia menyadari, bahwa ternyata ia kurang mempertimbangkan berbagai masalah yang dihadapinya. Untunglah bahwa kakaknya dapat berpikir setenang itu.
“Witantra,” tiba-tiba terdengar suara di balik gerumbul itu, “sebenarnya bagiku tidak terlampau banyak bedanya. Apakah kau berada di situ, atau kau berada di tempat lain yang lebih jauh. Dengan sekali sentuh, kalian berdua pasti sudah tidak akan dapat berteriak memanggil siapapun. Jarak ini telah cukup memenuhi harapanku. Karena itu, bersiaplah untuk mati.”
Bagaimanapun juga keberanian kedua saudara seperguruan itu, namun hati mereka berdesir pula mendengar ancaman itu. Ancaman yang seakan-akan terlampau meyakinkan. karena itu, maka keduanya segera bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Sesaat kemudian mereka mendengar gemerisik di samping mereka. Serentak mereka berdua memutar diri menghadapi orang yang datang itu. Dalam keremangan malam, mereka melihat sesosok tubuh muncul dari balik dedaunan. Yang mula mereka lihat adalah kepalanya, baru kemudian segenap tubuhnya.
“Aku sekarang sudah berdiri disini,” desis orang itu, “nah, apakah kalian akan melawan?”
Dada Mahendra berdesir mendengar suaranya yang semakin jelas, melihat sikapnya dan bentuk tubuhnya. Dan yang meyakinkannya adalah bahwa orang itu membawa tongkat hampir sepanjang tubuhnya. Karena itu dengan serta merta ia bergumam,
“Empu Sada.”
Witantra terkejut pula mendengar nama itu. Ia pernah mendengar nama itu dari Mahendra. Dan ia tahu apa yang pernah dilakukan pula oleh orang itu. Karena itu, maka hatinya menjadi berdebar-debar.
Orang yang baru datang itu menganggukkan kepalanya. Katanya, “Kau masih mengenal aku Mahendra?”
Mahendra tidak menjawab. Tetapi tanpa dikehendakinya tangannya meraba hulu pedangnya.
“Kau memang anak muda yang berani dan keras kepala,“ katanya kepada Mahendra, “dan kakakmu itu adalah seorang perwira yang sabar, cerdas dan bertindak atas dasar perhitungan yang masak.”
“Jangan memuji Empu,” potong Witantra yang sudah bersiap-siap pula.
Ia tidak dapat berbuat lain daripada mempersiapkan diri menghadapi setiap kemungkinan. Banyak kemungkinan yang dapat terjadi. Empu Sada itu datang seorang diri, atau bersama-sama dengan kedua muridnya, Kuda Sempana dan orang yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo, atau malahan telah datang pula bersama dengan Empu Sada itu orang-orang yang disebutnya bernama Wong Sarimpat dan Kebo Sindet. Tetapi siapa pun yang datang, Witantra harus menghadapinya. Ia membawa beberapa orang prajurit pilihan. Mungkin mereka harus bertempur mati-matian menghadapi hantu-hantu itu.
Meskipun demikian kecemasan merambat pula di dalam hati Witantra. Bagaimana kalau lawan yang dihadapinya berada diluar kemampuan orang-orangnya. Witantra tidak mencemaskan dirinya sendiri. Bahkan dalam tugas ini, nyawanya menjadi taruhan. Tetapi bagaimana dengan Ken Dedes, bakal permaisuri Tunggul Ametung? Witantra tahu benar bahwa Empu Sada adalah guru Kuda Sempana. Witantra dapat menyangka bahwa Empu Sada telah berbuat karena tangis muridnya.
Dalam pada itu terdengar Empu Sada berkata, “Witantra, apakah kau masih akan memanggil satu dua orang lain untuk bersama-sama melawan aku? Kesempatan masih ada. Berteriaklah memanggil adikmu Kebo Ijo, atau perwira yang kau sebut namanya Sidatta, atau ada orang lain yang lebih sakti lagi? Atau barangkali kau akan berteriak memanggil segenap pasukanmu?”
Kejantanan kedua anak muda itu benar-benar tersinggung. Namun mereka harus memperhitungkan pula keadaan. Kini mereka tidak sekedar mempertahankan harga diri, tetapi mereka harus mempertanggung jawabkan bakal permaisuri raja itu. Karena itu maka mereka harus membuat pertimbangan-pertimbangan. Mungkin mereka harus mengorbankan harga diri mereka untuk kepentingan yang lebih besar. Harga diri dalam pengertian yang terlampau luas. Sebab di dalam pertempuran yang bukan perang tanding, maka tidak ada keharusan untuk melawan musuh seorang-seorang, meskipun untuk kepentingan apa yang disebut harga diri itu.
Namun Witantra masih harus juga mempunyai pertimbangan lain. Kalau ia memanggil beberapa orang yang cukup tangguh bersama dengan Kebo Ijo apakah itu tidak berarti memberi peluang kepada orang lain untuk mengambil Ken Dedes? Kuda Sempana bersama saudara-saudara seperguruannya misalnya? Karena itu sesaat Witantra menjadi ragu-ragu.
Dalam keragu-raguan itulah ia mendengar Empu Sada berkata, “Jangan mematung. Ambil sikap secepatnya sebelum aku menyobek lehermu dengan tongkatku ini.”
Witantra tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba ia menarik pedangnya. Mahendra yang berdiri di sampingnya, segera menarik pedangnya pula. Kini sepasang kakak beradik seperguruan itu telah bersiap menghadapi segenap kemungkinan.
Empu Sada yang masih tegak di depan gerumbul itu tertawa. Katanya, “Kalian memang anak muda yang gagah berani. Aku iri melihat ketangkasan, keberanian dan keteguhan hati kalian. Mungkin murid-muridku masih harus mendapat didikan khusus mengenai keteguhan hati. Aku menyesal bahwa aku memelihara muridku dengan acuh tak acuh sampai kini, asal mereka mencukupi keperluanku, kebutuhanku, bagiku sudah cukup. Sebagai imbangan aku memberi mereka beberapa jenis ilmu. Ternyata sekarang aku menyesal. Aku harus membentuk muridku seperti kalian ini.”
Witantra dan Mahendra masih tegak di tempatnya. Witantra sendiri yang sedang sibuk dengan berbagai pertimbangan, hampir-hampir tak mendengar kata-kata Empu Sada itu. Ia masih tetap ragu-ragu, apakah ia harus memanggil kawan-kawannya atau membiarkan mereka menjaga Ken Dedes dengan kekuatan sepenuhnya.
Dalam pada itu Witantra dan Mahendra melihat Empu Sada itu melangkah maju sambil berkata, “Kalian tidak memanggil seorang pun diantara anak buah Witantra. Baik, mari kita lihat, sampai dimana selisih kemampuanmu dengan murid-muridku.”
Sebelum Witantra menyahut, dilihatnya Empu Sada menjulurkan tongkatnya. Ujung tongkat itu bergetar dengan cepatnya. Di dalam gelap malam, maka mereka harus benar-benar memusatkan segenap kemampuan mereka untuk melawan tongkat Empu Sada itu. Witantra dan Mahendra adalah dua bersaudara dari satu perguruan. Karena itu, mereka segera dapat menyesuaikan dirinya. Ketika ternyata Empu Sada telah mulai, maka mereka pun berloncatan ke arah yang berlawanan. Pedang-pedang mereka segera bergerak dalam gerak ilmu pedang yang mereka terima dari guru mereka.
Sepasang anak-anak muda itu tidak membiarkan dirinya diserang, sehingga merekalah yang melancarkan serangan beruntun berganti-ganti. Tetapi lawannya adalah seorang guru yang namanya cukup dikenal, meskipun kurang sedap. Sehingga karena itu, maka serangan-serangan mereka berdua, seolah-olah tidak lebih dari suatu permainan yang menjemukan bagi Empu Sada. Tetapi kedua anak muda itu pun tidak terlampau mengecewakan. Sekali-sekali serangan mereka berbahaya juga, sehingga kadang-kadang Empu Sada pun terpaksa berloncatan ke samping.
Demikianlah, maka Witantra dan Mahendra bertempur berpasangan dengan serasi. Mereka dapat isi mengisi dan benar-benar menggabungkan kekuatan mereka dalam suatu kesatuan seolah-olah Empu Sada kini berhadapan dengan seorang lawan yang memiliki kemampuan dua kali lipat dari apabila harus dilawannya seorang demi seorang.
Namun Empu Sada itu masih juga sempat tertawa sambil berkata, “Huh, aku benar-benar iri melihat cara kalian bertempur. Serasi benar seperti otak kalian dihubungkan dengan satu perintah, sehingga gerak dari yang seorang merupakan rangkaian gerak dari yang lain.”
Witantra dan Mahendra sama sekali tidak menjawab. Tetapi mereka merasa bahwa Empu Sada belum benar-benar hendak menjatuhkan mereka. Mereka sadar, bahwa kini Empu Sada sedang mencoba menjajagi, sampai dimana kemampuan mereka berdua dibandingkan dengan murid-muridnya sendiri.
Sementara itu terdengar Empu Sada berkata pula, “Dimanakah saudara seperguruanmu yang satu lagi? Apabila kalian bertempur bertiga alangkah dahsyatnya. Mungkin kalian bertiga akan merupakan pasangan yang paling serasi yang pernah aku lihat.”
Witantra dan Mahendra masih tetap berdiam diri. Namun di dalam dada Witantra bergolaklah kebimbangan hatinya. Apakah ia harus memanggil beberapa orang untuk menemaninya bertempur, atau ia harus menghadapi setan itu berdua. Masing-masing mempunyai bahayanya sendiri-sendiri.
Dalam pada itu, Kebo Ijo telah menyampaikan pesan Witantra kepada perwira bawahannya, Sidatta. Perwira itu mengerutkan keningnya sambil bertanya perlahan-lahan,
“Dimana kakang Witantra sekarang?”
“Masih di tempatnya. Mungkin kakang Witantra ingin menangkap orang itu.”
“Bukankah itu cukup berbahaya? Orang itu mungkin sengaja memancing kakang Witantra untuk menjauhkannya dari rombongan ini.”
“Mungkin.”
“Kalau demikian, apakah kita perlu datang menolongnya?”
Kebo Ijo terdiam sejenak, otaknya pun tidak terlalu tumpul betapapun bengalnya anak itu. Karena itu maka ia pun bertanya kembali, “Apakah kita akan meninggalkan Ken Dedes itu bersama-sama?”
Sidatta terdiam. Tentu ia tidak dapat melepaskan prajurit ini tanpa pimpinan. Namun diantara mereka masih ada seorang lagi yang dapat diserahinya. Tetapi Sidatta kini menjadi ragu-ragu. Ketika ia menengadahkan wajahnya dan memandang berkeliling, dilihatnya hutan di sekitarnya terlampau sepi. Dilihatnya beberapa orang prajurit berbaring di tempat yang berserakan. Sedang beberapa orang yang lain, masih berjaga-jaga di tempat yang sudah ditentukan. Adalah lebih baik demikian daripada mereka berkumpul menjadi satu. Dalam keadaan yang demikian, maka apabila mereka harus menghadapi bahaya, maka kesempatan akan menjadi lebih banyak. Sementara itu Kebo Ijo pun menjadi gelisah pula. Witantra dan Mahendra tidak segera kembali membawa atau tidak membawa orang yang akan ditangkapnya itu.
Karena itu maka tiba-tiba ia berkata kepada Sidatta, “Aku akan melihat kakang Witantra dan Mahendra. Kenapa ia terlampau lama tidak juga kembali.”
“Lalu bagaimana menurut pertimbanganmu?” bertanya Sidatta, “apakah aku ikut serta pula?”
Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah perwira itu. Sebenarnya perwira itulah yang harus mengambil keputusan. Tetapi karena Kebo Ijo yang dianggapnya lebih mengetahui persoalannya, maka Sidatta merasa perlu mendengar pertimbangannya.
Sejenak kemudian Kebo Ijo itu menjawab, “Aku akan pergi sendiri lebih dahulu. Ken Dedes masih perlu mendapat pengawalan yang kuat.”
“Baiklah sahut Sidatta, tetapi hati-hatilah.”
Kebo Ijo pun kemudian melangkah pergi. Tidak tergesa-gesa, seakan-akan tidak ada suatu keperluan apapun, sehingga langkahnya tidak menimbulkan kesan apa-apa bagi para prajurit yang lain dan bagi Ken Dedes yang duduk di samping tandunya. Ketika Kebo Ijo telah menghilang di balik dedaunan, maka Sidatta pun berdiri pula dan berjalan mendekati perwira yang lain. Mereka bercakap-cakap sebentar. Kemudian kembali Sidatta meninggalkan kawannya. Tetapi Sidatta tidak kembali ke tempatnya, namun ia pergi menemui Ken Dedes. Katanya,
“Tuan Puteri, apakah tuan Puteri tidak ingin beristirahat? Mungkin tuan Puteri dapat berbaring melepaskan lelah, meskipun barangkali tempat ini sama sekali tidak menyenangkan bagi tuan Puteri.”
Ken Dedes mengangguk, katanya, “Aku belum mengantuk kakang Sidatta.”
Sidatta menganggukkan kepalanya, kemudian katanya, “Sebaiknya tuan puteri beristirahat sebaik-baiknya, supaya besok tidak terlampau lelah. Perjalanan ke Panawijen sebenarnya sudah tidak begitu jauh lagi. Sebelum matahari sepenggalah, kita besok pasti sudah sampai. Meskipun begitu, perjalanan yang sehari ini barangkali terlampau melelahkan.”
“Terima kasih,“ sahut Ken Dedes.
Tetapi Ken Dedes tidak segera berbaring atau bersandarkan diri pada tandunya. Ia masih saja duduk bersimpuh memandangi nyala perapian dihadapannya. Sidatta tidak mempersilahkannya lagi. Namun ia segera bergeser dan duduk tidak terlampau jauh dari gadis itu.
Di sisi yang lain tanpa setahu Ken Dedes, dan bahkan hampir tidak mendapat perhatian dari siapapun juga, perwira yang seorang lagi bergeser pula mendekati Ken Dedes. mereka berdua harus selalu berhati-hati menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Titik puncak dari pertanggungan-jawab mereka kali ini adalah bakal permaisuri Akuwu Tunggul Ametung itu.
Kebo Ijo yang telah hilang di balik dedaunan, segera meloncat dengan tangkasnya mencari kedua kakak seperguruannya. Dengan hati-hati dicarinya kembali jalan yang dilampauinya ketika ia meninggalkan kedua kakak seperguruannya. Tetapi ketika ia sampai ke tempat yang dicarinya, Witantra dan Mahendra telah tidak ada di tempat itu. Kebo Ijo menjadi ragu-ragu sejenak. Dipasangnya telinganya baik-baik, barangkali ia mendengar sesuatu. Dan ternyata ia memang mendengar sesuatu. Tidak terlampau jauh, karena itu segera ia meloncat ke arah suara itu.
Suara itu adalah suara batang-batang perdu yang terinjak kaki-kaki mereka yang sedang bertempur. Ranting-ranting yang patah dan kadang-kadang diselingi dentang senjata beradu. Pedang Witantra dan Mahendra, berbenturan dengan tongkat Empu Sada. Tongkat itu tampaknya terlampau kecil dan panjang, namun ternyata tongkat itu pun mempunyai kekuatan yang mengagumkan.
Ketika Kebo Ijo muncul di dekat perkelahian itu, terdengar suara Empu Sada tertawa. Katanya, “Nah, ternyata adikmu datang pula Witantra. Ayo, jadilah pasangan yang manis.”
Kebo Ijo menggeram. Sekali ia meloncat maju langsung menerkam Empu Sada dengan pedangnya. Kini Witantra bertempur bertiga dengan adik-adik seperguruannya. Kekuatan mereka pun bertambah pula dengan Kebo Ijo. Namun mereka bertiga hampir-hampir tidak berdaya menghadapi Empu Sada yang jauh terlampau sakti daripada mereka. Empu Sada adalah seorang guru yang setingkat dengan guru mereka sendiri.
Yang tertua dari mereka adalah Witantra kecuali tertua dalam perguruannya, umurnya pun tertua pula diantara mereka bertiga. Pengalamannya pun yang terbanyak pula. Sehingga otak daripada ketiga bersaudara seperguruan itu terletak padanya. Ialah yang mengambil sikap dari pasangan mereka bertiga, dan ialah yang mengatur serangan dan perlawanan mereka terhadap Empu Sada yang sakti itu. Dengan berbagai tanda Witantra berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya, memberikan perintah-perintah kepada kedua adik seperguruannya.
Empu Sada heran melihat kerapihan kerjasama diantara mereka. Ketiganya benar-benar murid yang sangat baik. Murid yang mempunyai ikatan yang cukup dalam berbagai segi. Bahkan saja dan segi ilmu mereka, Tetapi juga ikatan ketaatan yang muda terhadap yang lebih tua. Sehingga dengan demikian, maka mereka bertiga benar merupakan satu gabungan kekuatan yang dahsyat.
Meskipun demikian Empu Sada masih juga sempat tertawa sambil berkata, “Bukan main. Aku sudah menyangka, bahwa kalian bertiga akan merupakan kekuatan yang tangguh. Aku juga akan membuat murid-muridku menjadi sebaik kalian. Aku juga ingin melihat murid-muridku dapat bertempur berpasangan dengan rapi seperti murid Panji Bojong Santi ini. Alangkah baik cara Panji kurus itu mengajari muridnya.”
Witantra dan kedua adiknya sama sekali tidak menyahut. Mereka berusaha untuk memperketat serangan mereka terhadap lawannya. Namun usaha mereka itu seakan-akan sia-sia saja. Empu Sada setiap kali mampu melepaskan diri dari kepungan mereka. Setiap kali orang tua itu sudah berada di belakang mereka, menyerang dengan tongkatnya yang panjang.
Demikianlah pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Tetapi Empu Sada agaknya masih belum ingin mengakhiri pertempuran itu. Bahkan ia masih berkata,
“Witantra, kalau kau memanggil bawahanmu yang bernama Sidatta dan barangkali ada beberapa kawan lain yang cukup bernilai untuk bertempur, kau masih mempunyai kesempatan untuk melarikan dirimu, untuk menyelamatkan nyawamu. Nah, apakah kau tidak akan mencoba memanggilnya?”
Witantra menggeretakkan giginya. Kini semakin jelas baginya, bahwa Empu Sada berusaha untuk melepaskan Ken Dedes dari pengawasan yang baik. Mungkin Empu Sada saat itu datang bersama dengan Kuda Sempana dan murid-muridnya yang lain, namun mereka masih tetap bersembunyi. Apabila pengawasan atas Ken Dedes telah menjadi kian lemah, baru mereka akan berbuat sesuatu. Menculik gadis itu.
Karena itu Witantra pun segera menjawab, “Aku tidak akan mengumpankan orang lain untuk keselamatanku. Empu, jangan mencoba mengelabui kami. Aku tidak akan memanggil seorang pun lagi dari rombonganku meskipun nyawaku terancam. Bukankah dengan demikian muridmu akan mendapat kesempatan menculik gadis itu.”
Empu Sada tertawa. Jawabnya, “Ternyata otakmu tidak setumpul otak udang. Tetapi meskipun kau tidak memanggil orang-orangmu, maka akhir daripada ceritera ini akan sama saja. Kalian bertiga akan mati aku bunuh. Aku dan murid-muridku kemudian akan mengambil gadis itu. Bukankah sama saja? Karena itu lebih baik bagimu untuk mencoba menyelamatkan dirimu.”
Witantra sekali lagi menggeram. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan serangannya menjadi bertambah garang. Kini Witantra itu menyadari benar-benar, apakah yang sedang dihadapi. Karena itu, semuanya akan tergantung kepadanya, kepada kemampuannya melawan Empu Sada itu. Dengan demikian maka seakan-akan Witantra menjadi semakin tangguh. Kini ia semakin didorong oleh tekadnya. Tekad memeluk tugasnya dengan penuh tanggung jawab.
Melihat tandang Witantra, Empu Sada mengumpat di dalam hati. Perwira prajurit pengawal Akuwu itu benar-benar memiliki kemampuan jasmaniah yang luar biasa. Bukan saja Witantra, tetapi kedua saudaranya yang lain pun segera mengerahkan segenap kemampuan mereka. Mereka harus mencoba bertahan sejauh-jauh mungkin. Mereka tidak ingin gagal dalam tugasnya. Ken Dedes itu benar-benar telah dipercayakan kepada mereka oleh Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi kalau mereka tidak mampu melawan Empu Sada, maka berarti mereka gagal menjalankan tugas mereka. Karena itu, maka hanya mautlah yang dapat menghentikan perjuangan. mereka, melakukan tugas mereka dengan penuh tanggung jawab.
Witantra bertiga dengan kedua saudara seperguruannya itu pun kemudian menyerang Empu Sada seperti angin pusaran. Mereka berputaran dalam satu lingkaran mengelilingi orang tua itu. Setiap kali mereka melontarkan serangan berganti-ganti.
“Siapa kau?” ulang Witantra. Yang terdengar adalah suara tertawa. Juga perlahan-lahan.
Ternyata Mahendra menjadi tidak bersabar karenanya. Tetapi ketika ia meloncat maju, terasa tangan kakaknya mencegahnya. “Jangan,” bisik Witantra.
Witantra adalah seorang yang telah jauh lebih banyak berpengalaman dari pada Mahendra. Karena itu maka segera ia mengetahui, bahwa orang yang tertawa itu bukan orang kebanyakan. Bahkan bukan pula orang yang sekedar memiliki keberanian. Mahendra pun sebenarnya menyadari pula, dengan siapa ia berhadapan. Tetapi darah mudanya ternyata masih terlampau cepat terbakar. Karena itu kadang-kadang ia kehilangan kewaspadaannya.
Suara tertawa itu masih saja terdengar. Bahkan kini suara itu berkata, “Hem, kau benar-benar anak yang berani Mahendra.”
“Kau mengenal aku?” desis Mahendra.
“Aku mengenal kalian bertiga. Witantra, Mahendra dan Kebo Ijo. Bukankah begitu?” Mahendra menggeram. Tetapi Witantra tertawa.
Mahendra menjadi heran melihat kakak seperguruannya itu tertawa. Tetapi ia tidak bertanya. Yang terdengar kemudian adalah kata-kata Witantra, “Tidak aneh apabila kau mengenal kami. Bukankah kau telah bersembunyi dan mengikuti kami sejak tadi? Dari percakapan kami kau tahu, siapa aku, siapa kedua adikku ini. Apakah itu termasuk kelebihan bagimu?”
“Hem, kau cerdik Witantra,“ sahut suara itu.
“Tidak. Itu persoalan yang terlampau sederhana.”
“Ternyata kau melampaui dugaanku,“ berkata suara itu, “kalau begitu biarlah aku pergi.”
“Tunggu,“ cegah Witantra, “aku ingin tahu, siapakah kau ini.”
“Tak ada gunanya.” Dan sesaat kemudian Witantra dan Mahendra mendengar suara daun tersibak. Cepat mereka maju. Namun suara itu pun menjadi semakin cepat menjauh pula.
“Jangan lari,“ desis Witantra.
Tetapi tak ada yang menyahut. Yang terdengar hanyalah suara ranting-ranting patah dan gemerisik dedaunan.
Mahendra yang hatinya sudah meluap-luap segera berlari. Tetapi kembali Witantra menahannya, “Jangan tergesa-gesa Mahendra.”
Mahendra menjadi kecewa, katanya, “Orang itu sudah semakin jauh.”
“Hati-hatilah.”
Mahendra mengangguk. Tetapi hampir-hampir ia tidak mampu menahan dirinya. Kini ia terpaksa maju bersama kakaknya. Tidak terlampau cepat, karena Witantra menyadari siapakah yang sedang dikejarnya itu. Orang itu adalah pasti orang yang cukup berilmu.
“Biarlah aku mencoba menangkapnya kakang.“ minta Mahendra.
Witantra menggeleng, jawabnya, “Kau belum tahu siapa orang itu. Hutan ini terlampau gelap. Sadarilah, bahwa orang itu hanya sekedar memancing kita menjauhi para prajurit yang sedang berjaga-jaga.”
Mahendra menarik nafas. Ia sadar akan ketergesa-gesaannya. Ternyata apa yang dikatakan kakak seperguruannya itu benar-benar masuk diakalnya. Karena itu pun kini Mahendra menjadi semakin berhati-hati pula. Setiap tapak ia maju, ia tidak kehilangan kewaspadaan. Orang yang dicarinya itu dapat saja tiba-tiba berada di sisinya atau bahkan di belakangnya. Namun setiap kali Mahendra mendengar desir dedaunan di depannya, maka dadanya pun berdesir pula.
Akhirnya Witantra menggamit Mahendra sekali lagi sambil berkata, “Kita sampai disini saja Mahendra. Ternyata orang itu tidak ingin menemui kita.”
Mahendra berpaling. Sambil mengerutkan keningnya ia berkata, “Tetapi pasti ada suatu maksud yang dikandungnya.”
“Ya. Dan maksud yang sesungguhnya aku tidak tahu. Karena itu, jangan pedulikan lagi orang itu.”
Ketika Mahendra akan menjawab, Witantra memberi isyarat dengan menggelengkan kepalanya. Mahendra menjadi ragu-ragu sejenak. Namun ia pun berdiam diri.
Perlahan-lahan kemudian mereka mendengar orang di dalam gerumbul itu berkata, “Kau benar-benar cerdik Witantra. Kau dapat mengetahui bahwa ada terkandung maksud di dalam hatiku.”
“Ah,“ Witantra kemudian tertawa kecil, “aku bukan anak-anak yang menari-nari karena sanjungan-sanjungan kecil. Aku tidak sebodoh yang kau sangka Ki Sanak. Kalau aku mengatakan bahwa kau pasti mempunyai maksud tertentu maka sama sekali tidak diperlukan suatu kecakapan khusus untuk itu. Setiap orang, bahkan anak-anak pun akan dapat mengatakan, kalau kau pasti mempunyai suatu maksud dengan mengintai rombonganku dan bahkan memancing kami berdua supaya kau dapat memisahkan kami dari rombonganku. Juga anak-anak akan dapat membuat perhitungan dengan itu. Dengan memisahkan aku dari rombonganku, maka ada dua kemungkinan yang kau kehendaki. Aku dan Mahendra, atau segenap rombongan yang lain. Atau kau sudah mempersiapkan dua gerombolan pula untuk menghadapi kami berdua dan rombongan yang lain.”
Terdengar orang yang bersembunyi itu tertawa, “Hebat. Hebat.”
“Tidak hebat. Bukan hal yang sulit ditebak. Yang sulit diketahui adalah maksudmu yang sebenarnya. Apakah maksud itu baik atau jahat. Itulah yang tidak kami ketahui.”
“Apakah kau tidak dapat merabanya Witantra.”
“Tentu tidak.”
“O,“ terdengar nada kecewa dari orang yang bersembunyi itu, “ternyata benar yang kau katakan. Otakmu tidak secerdas yang aku sangka.”
Mahendra sama sekali tidak telaten mendengar percakapan yang seakan tidak berpangkal tidak berujung itu. Dengan serta merta ia berteriak, “Aku tahu maksudmu yang sebenarnya. Kalau kau bermaksud baik, maka kau tidak akan melakukannya dengan bersembunyi. Ayo, tampakkan dirimu.”
Witantra mengerutkan keningnya. Adiknya masih terlampau muda sehingga amat sulit baginya untuk mengendalikan perasaannya. Yang dihadapinya kini bukan saja seorang yang berilmu, tetapi juga seorang yang licik. Namun ia tidak mencegah adiknya kali ini Asal adiknya itu tidak meloncat menyerang orang yang masih saja bersembunyi itu.
“Ternyata adikmu lebih cerdas dari padamu Witantra,” terdengar suara itu pula.
“Ya,“ sahut Witantra, “sebenarnya demikian.”
“Baik. Kalau demikian aku tidak akan bertemu kau lagi. Kau terlampau bodoh untuk diajak berbincang mengenai masalah-masalah yang terlampau penting.”
“Jangan banyak bicara,” potong Mahendra, “tunjukkanlah dirimu.”
“Tidak perlu. Aku akan pergi.”
“Kau tidak akan dapat melepaskan diri,“ sahut Mahendra.
Tetapi Mahendra menjadi heran ketika kakaknya, “Biarlah Mahendra. Biarlah orang itu pergi. Ia menganggap bahwa kita kurang mampu untuk diajaknya berbincang. ternyata orang itu mempunyai suatu keperluan khusus yang memerlukan kecerdasan otak. Sedang syarat itu tidak kita penuhi.”
“Apakah kita biarkan orang itu pergi?”
“Ya. Biar saja orang itu pergi.”
Tiba-tiba Mahendra dan Witantra mendengar orang yang bersembunyi itu menggeram. Katanya, “Ternyata dugaanku benar pula kali ini. Witantra, pemimpin pengawal istana dan Akuwu Tumapel bukan saja orang yang tumpul otaknya, tetapi juga seorang penakut.”
“Gila kau,” teriak Mahendra. Sekali lagi Mahendra siap untuk meloncat. Dan sekali lagi Witantra menahannya.
Bahkan Witantra itu berkata, “Maafkan aku Ki Sanak. Aku barangkali tidak dapat memenuhi harapanmu. Aku memang berotak tumpul dan seorang penakut pula. Karena itu aku tidak berani mengejarmu. Namun betapa aku seorang penakut, tetapi aku tidak bersembunyi seperti kau Ki Sanak.”
Sekali lagi terdengar orang itu menggeram, “Ayo, tangkap aku,” katanya.
Mahendra menggeretakkan giginya. Tetapi Witantra masih tersenyum. Katanya, “Aku tidak akan menangkapmu. Betapa otakku tumpul, namun aku masih mampu membuat perhitungan. Kau ingin memisahkan dan memecah kekuatan rombonganku dengan memisahkan kami berdua dari padanya. dalam jarak ini, aku masih dapat memanggil setiap orang yang aku perlukan. Sebaliknya aku masih akan dapat mendengar apa yang terjadi di dalam rombonganku.”
Mendengar kata-kata itu Mahendra menggigit bibinya. Sekali lagi ia menyadari, bahwa ternyata ia kurang mempertimbangkan berbagai masalah yang dihadapinya. Untunglah bahwa kakaknya dapat berpikir setenang itu.
“Witantra,” tiba-tiba terdengar suara di balik gerumbul itu, “sebenarnya bagiku tidak terlampau banyak bedanya. Apakah kau berada di situ, atau kau berada di tempat lain yang lebih jauh. Dengan sekali sentuh, kalian berdua pasti sudah tidak akan dapat berteriak memanggil siapapun. Jarak ini telah cukup memenuhi harapanku. Karena itu, bersiaplah untuk mati.”
Bagaimanapun juga keberanian kedua saudara seperguruan itu, namun hati mereka berdesir pula mendengar ancaman itu. Ancaman yang seakan-akan terlampau meyakinkan. karena itu, maka keduanya segera bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Sesaat kemudian mereka mendengar gemerisik di samping mereka. Serentak mereka berdua memutar diri menghadapi orang yang datang itu. Dalam keremangan malam, mereka melihat sesosok tubuh muncul dari balik dedaunan. Yang mula mereka lihat adalah kepalanya, baru kemudian segenap tubuhnya.
“Aku sekarang sudah berdiri disini,” desis orang itu, “nah, apakah kalian akan melawan?”
Dada Mahendra berdesir mendengar suaranya yang semakin jelas, melihat sikapnya dan bentuk tubuhnya. Dan yang meyakinkannya adalah bahwa orang itu membawa tongkat hampir sepanjang tubuhnya. Karena itu dengan serta merta ia bergumam,
“Empu Sada.”
Witantra terkejut pula mendengar nama itu. Ia pernah mendengar nama itu dari Mahendra. Dan ia tahu apa yang pernah dilakukan pula oleh orang itu. Karena itu, maka hatinya menjadi berdebar-debar.
Orang yang baru datang itu menganggukkan kepalanya. Katanya, “Kau masih mengenal aku Mahendra?”
Mahendra tidak menjawab. Tetapi tanpa dikehendakinya tangannya meraba hulu pedangnya.
“Kau memang anak muda yang berani dan keras kepala,“ katanya kepada Mahendra, “dan kakakmu itu adalah seorang perwira yang sabar, cerdas dan bertindak atas dasar perhitungan yang masak.”
“Jangan memuji Empu,” potong Witantra yang sudah bersiap-siap pula.
Ia tidak dapat berbuat lain daripada mempersiapkan diri menghadapi setiap kemungkinan. Banyak kemungkinan yang dapat terjadi. Empu Sada itu datang seorang diri, atau bersama-sama dengan kedua muridnya, Kuda Sempana dan orang yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo, atau malahan telah datang pula bersama dengan Empu Sada itu orang-orang yang disebutnya bernama Wong Sarimpat dan Kebo Sindet. Tetapi siapa pun yang datang, Witantra harus menghadapinya. Ia membawa beberapa orang prajurit pilihan. Mungkin mereka harus bertempur mati-matian menghadapi hantu-hantu itu.
Meskipun demikian kecemasan merambat pula di dalam hati Witantra. Bagaimana kalau lawan yang dihadapinya berada diluar kemampuan orang-orangnya. Witantra tidak mencemaskan dirinya sendiri. Bahkan dalam tugas ini, nyawanya menjadi taruhan. Tetapi bagaimana dengan Ken Dedes, bakal permaisuri Tunggul Ametung? Witantra tahu benar bahwa Empu Sada adalah guru Kuda Sempana. Witantra dapat menyangka bahwa Empu Sada telah berbuat karena tangis muridnya.
Dalam pada itu terdengar Empu Sada berkata, “Witantra, apakah kau masih akan memanggil satu dua orang lain untuk bersama-sama melawan aku? Kesempatan masih ada. Berteriaklah memanggil adikmu Kebo Ijo, atau perwira yang kau sebut namanya Sidatta, atau ada orang lain yang lebih sakti lagi? Atau barangkali kau akan berteriak memanggil segenap pasukanmu?”
Kejantanan kedua anak muda itu benar-benar tersinggung. Namun mereka harus memperhitungkan pula keadaan. Kini mereka tidak sekedar mempertahankan harga diri, tetapi mereka harus mempertanggung jawabkan bakal permaisuri raja itu. Karena itu maka mereka harus membuat pertimbangan-pertimbangan. Mungkin mereka harus mengorbankan harga diri mereka untuk kepentingan yang lebih besar. Harga diri dalam pengertian yang terlampau luas. Sebab di dalam pertempuran yang bukan perang tanding, maka tidak ada keharusan untuk melawan musuh seorang-seorang, meskipun untuk kepentingan apa yang disebut harga diri itu.
Namun Witantra masih harus juga mempunyai pertimbangan lain. Kalau ia memanggil beberapa orang yang cukup tangguh bersama dengan Kebo Ijo apakah itu tidak berarti memberi peluang kepada orang lain untuk mengambil Ken Dedes? Kuda Sempana bersama saudara-saudara seperguruannya misalnya? Karena itu sesaat Witantra menjadi ragu-ragu.
Dalam keragu-raguan itulah ia mendengar Empu Sada berkata, “Jangan mematung. Ambil sikap secepatnya sebelum aku menyobek lehermu dengan tongkatku ini.”
Witantra tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba ia menarik pedangnya. Mahendra yang berdiri di sampingnya, segera menarik pedangnya pula. Kini sepasang kakak beradik seperguruan itu telah bersiap menghadapi segenap kemungkinan.
Empu Sada yang masih tegak di depan gerumbul itu tertawa. Katanya, “Kalian memang anak muda yang gagah berani. Aku iri melihat ketangkasan, keberanian dan keteguhan hati kalian. Mungkin murid-muridku masih harus mendapat didikan khusus mengenai keteguhan hati. Aku menyesal bahwa aku memelihara muridku dengan acuh tak acuh sampai kini, asal mereka mencukupi keperluanku, kebutuhanku, bagiku sudah cukup. Sebagai imbangan aku memberi mereka beberapa jenis ilmu. Ternyata sekarang aku menyesal. Aku harus membentuk muridku seperti kalian ini.”
Witantra dan Mahendra masih tegak di tempatnya. Witantra sendiri yang sedang sibuk dengan berbagai pertimbangan, hampir-hampir tak mendengar kata-kata Empu Sada itu. Ia masih tetap ragu-ragu, apakah ia harus memanggil kawan-kawannya atau membiarkan mereka menjaga Ken Dedes dengan kekuatan sepenuhnya.
Dalam pada itu Witantra dan Mahendra melihat Empu Sada itu melangkah maju sambil berkata, “Kalian tidak memanggil seorang pun diantara anak buah Witantra. Baik, mari kita lihat, sampai dimana selisih kemampuanmu dengan murid-muridku.”
Sebelum Witantra menyahut, dilihatnya Empu Sada menjulurkan tongkatnya. Ujung tongkat itu bergetar dengan cepatnya. Di dalam gelap malam, maka mereka harus benar-benar memusatkan segenap kemampuan mereka untuk melawan tongkat Empu Sada itu. Witantra dan Mahendra adalah dua bersaudara dari satu perguruan. Karena itu, mereka segera dapat menyesuaikan dirinya. Ketika ternyata Empu Sada telah mulai, maka mereka pun berloncatan ke arah yang berlawanan. Pedang-pedang mereka segera bergerak dalam gerak ilmu pedang yang mereka terima dari guru mereka.
Sepasang anak-anak muda itu tidak membiarkan dirinya diserang, sehingga merekalah yang melancarkan serangan beruntun berganti-ganti. Tetapi lawannya adalah seorang guru yang namanya cukup dikenal, meskipun kurang sedap. Sehingga karena itu, maka serangan-serangan mereka berdua, seolah-olah tidak lebih dari suatu permainan yang menjemukan bagi Empu Sada. Tetapi kedua anak muda itu pun tidak terlampau mengecewakan. Sekali-sekali serangan mereka berbahaya juga, sehingga kadang-kadang Empu Sada pun terpaksa berloncatan ke samping.
Demikianlah, maka Witantra dan Mahendra bertempur berpasangan dengan serasi. Mereka dapat isi mengisi dan benar-benar menggabungkan kekuatan mereka dalam suatu kesatuan seolah-olah Empu Sada kini berhadapan dengan seorang lawan yang memiliki kemampuan dua kali lipat dari apabila harus dilawannya seorang demi seorang.
Namun Empu Sada itu masih juga sempat tertawa sambil berkata, “Huh, aku benar-benar iri melihat cara kalian bertempur. Serasi benar seperti otak kalian dihubungkan dengan satu perintah, sehingga gerak dari yang seorang merupakan rangkaian gerak dari yang lain.”
Witantra dan Mahendra sama sekali tidak menjawab. Tetapi mereka merasa bahwa Empu Sada belum benar-benar hendak menjatuhkan mereka. Mereka sadar, bahwa kini Empu Sada sedang mencoba menjajagi, sampai dimana kemampuan mereka berdua dibandingkan dengan murid-muridnya sendiri.
Sementara itu terdengar Empu Sada berkata pula, “Dimanakah saudara seperguruanmu yang satu lagi? Apabila kalian bertempur bertiga alangkah dahsyatnya. Mungkin kalian bertiga akan merupakan pasangan yang paling serasi yang pernah aku lihat.”
Witantra dan Mahendra masih tetap berdiam diri. Namun di dalam dada Witantra bergolaklah kebimbangan hatinya. Apakah ia harus memanggil beberapa orang untuk menemaninya bertempur, atau ia harus menghadapi setan itu berdua. Masing-masing mempunyai bahayanya sendiri-sendiri.
Dalam pada itu, Kebo Ijo telah menyampaikan pesan Witantra kepada perwira bawahannya, Sidatta. Perwira itu mengerutkan keningnya sambil bertanya perlahan-lahan,
“Dimana kakang Witantra sekarang?”
“Masih di tempatnya. Mungkin kakang Witantra ingin menangkap orang itu.”
“Bukankah itu cukup berbahaya? Orang itu mungkin sengaja memancing kakang Witantra untuk menjauhkannya dari rombongan ini.”
“Mungkin.”
“Kalau demikian, apakah kita perlu datang menolongnya?”
Kebo Ijo terdiam sejenak, otaknya pun tidak terlalu tumpul betapapun bengalnya anak itu. Karena itu maka ia pun bertanya kembali, “Apakah kita akan meninggalkan Ken Dedes itu bersama-sama?”
Sidatta terdiam. Tentu ia tidak dapat melepaskan prajurit ini tanpa pimpinan. Namun diantara mereka masih ada seorang lagi yang dapat diserahinya. Tetapi Sidatta kini menjadi ragu-ragu. Ketika ia menengadahkan wajahnya dan memandang berkeliling, dilihatnya hutan di sekitarnya terlampau sepi. Dilihatnya beberapa orang prajurit berbaring di tempat yang berserakan. Sedang beberapa orang yang lain, masih berjaga-jaga di tempat yang sudah ditentukan. Adalah lebih baik demikian daripada mereka berkumpul menjadi satu. Dalam keadaan yang demikian, maka apabila mereka harus menghadapi bahaya, maka kesempatan akan menjadi lebih banyak. Sementara itu Kebo Ijo pun menjadi gelisah pula. Witantra dan Mahendra tidak segera kembali membawa atau tidak membawa orang yang akan ditangkapnya itu.
Karena itu maka tiba-tiba ia berkata kepada Sidatta, “Aku akan melihat kakang Witantra dan Mahendra. Kenapa ia terlampau lama tidak juga kembali.”
“Lalu bagaimana menurut pertimbanganmu?” bertanya Sidatta, “apakah aku ikut serta pula?”
Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah perwira itu. Sebenarnya perwira itulah yang harus mengambil keputusan. Tetapi karena Kebo Ijo yang dianggapnya lebih mengetahui persoalannya, maka Sidatta merasa perlu mendengar pertimbangannya.
Sejenak kemudian Kebo Ijo itu menjawab, “Aku akan pergi sendiri lebih dahulu. Ken Dedes masih perlu mendapat pengawalan yang kuat.”
“Baiklah sahut Sidatta, tetapi hati-hatilah.”
Kebo Ijo pun kemudian melangkah pergi. Tidak tergesa-gesa, seakan-akan tidak ada suatu keperluan apapun, sehingga langkahnya tidak menimbulkan kesan apa-apa bagi para prajurit yang lain dan bagi Ken Dedes yang duduk di samping tandunya. Ketika Kebo Ijo telah menghilang di balik dedaunan, maka Sidatta pun berdiri pula dan berjalan mendekati perwira yang lain. Mereka bercakap-cakap sebentar. Kemudian kembali Sidatta meninggalkan kawannya. Tetapi Sidatta tidak kembali ke tempatnya, namun ia pergi menemui Ken Dedes. Katanya,
“Tuan Puteri, apakah tuan Puteri tidak ingin beristirahat? Mungkin tuan Puteri dapat berbaring melepaskan lelah, meskipun barangkali tempat ini sama sekali tidak menyenangkan bagi tuan Puteri.”
Ken Dedes mengangguk, katanya, “Aku belum mengantuk kakang Sidatta.”
Sidatta menganggukkan kepalanya, kemudian katanya, “Sebaiknya tuan puteri beristirahat sebaik-baiknya, supaya besok tidak terlampau lelah. Perjalanan ke Panawijen sebenarnya sudah tidak begitu jauh lagi. Sebelum matahari sepenggalah, kita besok pasti sudah sampai. Meskipun begitu, perjalanan yang sehari ini barangkali terlampau melelahkan.”
“Terima kasih,“ sahut Ken Dedes.
Tetapi Ken Dedes tidak segera berbaring atau bersandarkan diri pada tandunya. Ia masih saja duduk bersimpuh memandangi nyala perapian dihadapannya. Sidatta tidak mempersilahkannya lagi. Namun ia segera bergeser dan duduk tidak terlampau jauh dari gadis itu.
Di sisi yang lain tanpa setahu Ken Dedes, dan bahkan hampir tidak mendapat perhatian dari siapapun juga, perwira yang seorang lagi bergeser pula mendekati Ken Dedes. mereka berdua harus selalu berhati-hati menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Titik puncak dari pertanggungan-jawab mereka kali ini adalah bakal permaisuri Akuwu Tunggul Ametung itu.
Kebo Ijo yang telah hilang di balik dedaunan, segera meloncat dengan tangkasnya mencari kedua kakak seperguruannya. Dengan hati-hati dicarinya kembali jalan yang dilampauinya ketika ia meninggalkan kedua kakak seperguruannya. Tetapi ketika ia sampai ke tempat yang dicarinya, Witantra dan Mahendra telah tidak ada di tempat itu. Kebo Ijo menjadi ragu-ragu sejenak. Dipasangnya telinganya baik-baik, barangkali ia mendengar sesuatu. Dan ternyata ia memang mendengar sesuatu. Tidak terlampau jauh, karena itu segera ia meloncat ke arah suara itu.
Suara itu adalah suara batang-batang perdu yang terinjak kaki-kaki mereka yang sedang bertempur. Ranting-ranting yang patah dan kadang-kadang diselingi dentang senjata beradu. Pedang Witantra dan Mahendra, berbenturan dengan tongkat Empu Sada. Tongkat itu tampaknya terlampau kecil dan panjang, namun ternyata tongkat itu pun mempunyai kekuatan yang mengagumkan.
Ketika Kebo Ijo muncul di dekat perkelahian itu, terdengar suara Empu Sada tertawa. Katanya, “Nah, ternyata adikmu datang pula Witantra. Ayo, jadilah pasangan yang manis.”
Kebo Ijo menggeram. Sekali ia meloncat maju langsung menerkam Empu Sada dengan pedangnya. Kini Witantra bertempur bertiga dengan adik-adik seperguruannya. Kekuatan mereka pun bertambah pula dengan Kebo Ijo. Namun mereka bertiga hampir-hampir tidak berdaya menghadapi Empu Sada yang jauh terlampau sakti daripada mereka. Empu Sada adalah seorang guru yang setingkat dengan guru mereka sendiri.
Yang tertua dari mereka adalah Witantra kecuali tertua dalam perguruannya, umurnya pun tertua pula diantara mereka bertiga. Pengalamannya pun yang terbanyak pula. Sehingga otak daripada ketiga bersaudara seperguruan itu terletak padanya. Ialah yang mengambil sikap dari pasangan mereka bertiga, dan ialah yang mengatur serangan dan perlawanan mereka terhadap Empu Sada yang sakti itu. Dengan berbagai tanda Witantra berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya, memberikan perintah-perintah kepada kedua adik seperguruannya.
Empu Sada heran melihat kerapihan kerjasama diantara mereka. Ketiganya benar-benar murid yang sangat baik. Murid yang mempunyai ikatan yang cukup dalam berbagai segi. Bahkan saja dan segi ilmu mereka, Tetapi juga ikatan ketaatan yang muda terhadap yang lebih tua. Sehingga dengan demikian, maka mereka bertiga benar merupakan satu gabungan kekuatan yang dahsyat.
Meskipun demikian Empu Sada masih juga sempat tertawa sambil berkata, “Bukan main. Aku sudah menyangka, bahwa kalian bertiga akan merupakan kekuatan yang tangguh. Aku juga akan membuat murid-muridku menjadi sebaik kalian. Aku juga ingin melihat murid-muridku dapat bertempur berpasangan dengan rapi seperti murid Panji Bojong Santi ini. Alangkah baik cara Panji kurus itu mengajari muridnya.”
Witantra dan kedua adiknya sama sekali tidak menyahut. Mereka berusaha untuk memperketat serangan mereka terhadap lawannya. Namun usaha mereka itu seakan-akan sia-sia saja. Empu Sada setiap kali mampu melepaskan diri dari kepungan mereka. Setiap kali orang tua itu sudah berada di belakang mereka, menyerang dengan tongkatnya yang panjang.
Demikianlah pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Tetapi Empu Sada agaknya masih belum ingin mengakhiri pertempuran itu. Bahkan ia masih berkata,
“Witantra, kalau kau memanggil bawahanmu yang bernama Sidatta dan barangkali ada beberapa kawan lain yang cukup bernilai untuk bertempur, kau masih mempunyai kesempatan untuk melarikan dirimu, untuk menyelamatkan nyawamu. Nah, apakah kau tidak akan mencoba memanggilnya?”
Witantra menggeretakkan giginya. Kini semakin jelas baginya, bahwa Empu Sada berusaha untuk melepaskan Ken Dedes dari pengawasan yang baik. Mungkin Empu Sada saat itu datang bersama dengan Kuda Sempana dan murid-muridnya yang lain, namun mereka masih tetap bersembunyi. Apabila pengawasan atas Ken Dedes telah menjadi kian lemah, baru mereka akan berbuat sesuatu. Menculik gadis itu.
Karena itu Witantra pun segera menjawab, “Aku tidak akan mengumpankan orang lain untuk keselamatanku. Empu, jangan mencoba mengelabui kami. Aku tidak akan memanggil seorang pun lagi dari rombonganku meskipun nyawaku terancam. Bukankah dengan demikian muridmu akan mendapat kesempatan menculik gadis itu.”
Empu Sada tertawa. Jawabnya, “Ternyata otakmu tidak setumpul otak udang. Tetapi meskipun kau tidak memanggil orang-orangmu, maka akhir daripada ceritera ini akan sama saja. Kalian bertiga akan mati aku bunuh. Aku dan murid-muridku kemudian akan mengambil gadis itu. Bukankah sama saja? Karena itu lebih baik bagimu untuk mencoba menyelamatkan dirimu.”
Witantra sekali lagi menggeram. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan serangannya menjadi bertambah garang. Kini Witantra itu menyadari benar-benar, apakah yang sedang dihadapi. Karena itu, semuanya akan tergantung kepadanya, kepada kemampuannya melawan Empu Sada itu. Dengan demikian maka seakan-akan Witantra menjadi semakin tangguh. Kini ia semakin didorong oleh tekadnya. Tekad memeluk tugasnya dengan penuh tanggung jawab.
Melihat tandang Witantra, Empu Sada mengumpat di dalam hati. Perwira prajurit pengawal Akuwu itu benar-benar memiliki kemampuan jasmaniah yang luar biasa. Bukan saja Witantra, tetapi kedua saudaranya yang lain pun segera mengerahkan segenap kemampuan mereka. Mereka harus mencoba bertahan sejauh-jauh mungkin. Mereka tidak ingin gagal dalam tugasnya. Ken Dedes itu benar-benar telah dipercayakan kepada mereka oleh Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi kalau mereka tidak mampu melawan Empu Sada, maka berarti mereka gagal menjalankan tugas mereka. Karena itu, maka hanya mautlah yang dapat menghentikan perjuangan. mereka, melakukan tugas mereka dengan penuh tanggung jawab.
Witantra bertiga dengan kedua saudara seperguruannya itu pun kemudian menyerang Empu Sada seperti angin pusaran. Mereka berputaran dalam satu lingkaran mengelilingi orang tua itu. Setiap kali mereka melontarkan serangan berganti-ganti.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar